LOVE’S WAY – A NEW BEGINNING

A New Beginning

 

Author : Novi

Main Cast : Lee Taemin, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin

Support Cast : SHINee and Super Junior

Length :Sequel

Genre :Romance, Friendship

Rating : General

Disini POV nya Siwon semua ya ^^

Aku melihat Donghae di depan sebuah rumah, apa yang dia lakukan disitu? Hey, bukankah itu Hye Jin, kenapa dia ada di rumah itu? Pikirku. Begitu aku melintasi sebuah rumah tidak jauh dari apartemenku. Aku memelankan laju mobilku dan melihat ke arah mereka dengan seksama dan sepertinya Hye Jin merasa aku perhatikan, maka aku pun segera menjalankan mobilku lebih cepat. Aku masih bertanya-tanya kenpa Hye Jin ada di depan rumah itu. Sampai di tempat parkir aku berpikir untuk menanyakannya pada Donghae, aku yakin aku tidak salah liat, itu Hye Jin tapi yang aku bingung kenapa dia bisa ada di rumah itu.

Tanpa sadar aku malah termenung di mobilku, aku pun segera keluar dan berjalan menuju apartemenku. Baru sampai di depan lift aku bertemu Donghae yang sepertinya baru pulang, dia hanya menatapku sekilas dan langsung masuk ke dalam lift, aku pun mengikuti di belakangnya. Dia berdiri membelakangiku dan kami hanya terdiam. Apa dia masih marah padaku? Sudah lama sekali dia seperti ini, sejak kejadiaan waktu itu, sebenranya dia tidak mendiamkanku secara langsung tapi entah kenapa dia seperti berusaha menghindariku.

”Kau baru pulang?”tanyanya tiba-tiba.

Dan itu sempat membuatku terkejut. Tidak biasanya dia berbicara padaku lebih dulu, biasanya harus aku dulu yang bertanya baru dia akan menjawabnya.

”Ne..kau darimana?”kataku dan balik bertanya padanya.

Dia terdiam tidak menjawab pertanyaanku, yah mungkin dia tidak mau aku tahu urusannya. Maka kami pun kembali terdiam.

”Sampai kapan kau mau seperti ini Siwon?”tanyanya lagi.

Kali ini aku yang tidak bisa menjawab. Pertanyaan yang sama. Dan sampai sekarang pun aku tetap tidak tahu jawabannya, sebenarnya aku juga lelah seperti ini tapi entahlah aku masih bingung.

”Aku tahu tadi kau melihatku ada di depan sebuah rumah…”serunya lagi.

Apa dia sadar kalau tadi aku memperhatikannya. Aku hanya bisa tertunduk tidak tahu harus berkomentar apa.

”Itu rumah Hye Jin…dia pindah kesana…entahlah kenapa bisa kebetulan sekali dia pindah dekat dengan apartemenmu….sebaiknya kau pikirkan lagi keputusan apa yang akan kau ambil sebelum kau benar-benar pergi dan tidak akan melihat mereka lagi…”serunya lagi.

Dan lift pun berhenti di lantai apartemennya. Aku hanya bisa tertunduk tidak berani melihat wajahnya. Namun saat aku mendongakkan kepalaku untuk mengecek dia sudah keluar atau belum. Donghae berbalik dan tersenyum sekilas padaku. Kemudian pintu lift tertutup. Aku terus memikirkan perkataan Donghae tadi, ya aku tidak akan pernah melihat mereka lagi setelah ini karena aku akan pergi ke Jepang dan kemungkinan aku untuk kembali kesini sangat kecil karena niatku pergi ke Jepang adalah untuk memulai hidupku yang baru jauh dari orang-orang itu. Aku ingin melupakan semua masalahku. Namun jujur saat Donghae berkata seperti itu, ada sebuah perasaan muncul dalam hatiku. Aku tidak mau kehilangan mereka karena mereka satu-satunya keluargaku. Tak terasa pintu lift sudah terbuka karena sudah sampai di lantai apartemenku. Aku pun keluar dan menuju kamarku. Aku mencari kunci di saku celanaku dan membuka pintu. Aku pun berjalan langsung  masuk ke dalam kamarku dan merebahkan diriku di temnpat tidur menghadap ke langit-langit. Perkataan Donghae tadi kembali terngiang di telingaku. Aku memejamkan mataku berusaha menjernihkan pikiranku. Ya Tuhan apa selama ini aku sudah salah? Menjauhi mereka sedangkan mereka selalu berusaha mendekatiku? Apa aku begitu kejam pada mereka, satu-satunya keluargaku.

Gambaran saat Hye Jin menangis waktu di halte itu, wajah sendu Hye Jin ketika menatapku, wajah ceria Hye Jin ketika aku dan Donghae berjalan-jalan dengannya, wajah terkejutnya ketika aku mencium pipinya dan perasaan senang ketika dia membalasnya dengan mencium pipiku lagi, dan senyuman yang manis yang selalu dia berikan padaku setiap hari, ketika pertama kali bertemu dengannya. Aku benar-benar merasa benar-benar memiliki seorang adik perempuan,  Gambaran itu silih berganti dan kemudian berganti dengan wajah ibu ketika pertama kali bertemu denganku, ketika pertama kali aku merasakan sentuhan lembut tangan ibu kandungku ketika mengelus pipiku, wajah ibu ketika menangis di depanku saat menceritakan alasannya dan wajah kecewa ibu ketika aku bilang aku benci pada adikku. Semuanya kini silih berganti datang memenuhi pikiranku. Tanpa terasa air mataku turun. Aku pun bangun dan duduk di atas temapt tidurku sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku dan berusaha menahan suara tangisanku. Semakin lami air mataku semakin turun dengan deras sekali. Ya aku akui aku menyayangi mereka, aku tidak mau kehilangan mereka. Aku tidak mau melihat ibu dan Hye Jin menangis lagi. Ya Tuhan aku memang anak yang tidak berbakti pada orang tuanku, tidak sepantasnya aku membenci mereka, manusia pernah melakukan kesalahan, lagipula ibu sudah meminta maaf dan dia berusaha mencariku disini, ini juga bukan salah Hye Jin dia tidak tahu apa-apa, aku yang terlalu iri padanya. Aku sudah salah Tuhan, aku bersalah pada mereka. Aku semakin menahan tangisanku.

Aku harus fokus pada ujianku dulu, setelah itu baru aku pikirkan masalahku. Seruku pada diriku sendiri. Aku menatap cermin di depanku sambil memakai dasiku. Hari ini adalah hari pertama aku ujian akhir. Aku yakin aku bisa mengerjakannya. Aku pun berjalan mengambil tasku di atas meja dan bergegas keluar rumah. Di depan pintu aku mendapati Donghae sudah berdiri disana sambil tersenyum. Yah sejak kejadian kemarin aku merasa Donghae mulai kembali seperti biasa padaku, meskipu masih agak dingin terutama jika pembicaraan kami mulai mengarah pada hal itu. Oleh sebab itu sebisa mungkin aku menghindari pembicaraan itu dan sepertinya dia juga melakukan hal yang sama.

”Ayo berangkat bersama…naik mobilku saja…”serunya.

Aku pun hanya mengangguk dan berjalan disampingnya.

”Kau sudah siap hari ini Donghae?”tanyaku.

”Ah…tentu saja kau selalu siap…hari ini kan matematika dan kau adalah jagonya…”seruku sebelum dia menjawab dan dia hanya terkekeh.

”Seperti kau tidak jago saja Won…”serunya.

”Ya!memangnya aku mata uang korea selatan…enak sekali kau memanggilku Won…”seruku lagi.

”Mian…wonnie…”serunya dengan wajah sok di manis-manisin.

Aku pun hanya memukul bahunya perlahan dan kami pun tertawa bersama. Donghae kau memang sahabat terbaikku, kau selalu baik padaku dan kau terlihat sangat dewasa dengan nasehat-nasehatmu itu. Terimakasih, sekarang aku sudah bisa menjawab pertanyaan yang biasa kau ajukan itu.

Bel pulang berbunyi dan aku pun keluar kelas dengan penuh kelegaan, ya hari pertama ini bisa berjalan dengan baik. Aku mampu menyelesaikannya dengan baik. Aku menunggu Donghae yang memang berbeda ruangan denganku, aku menunggunya di depan gerbang karena aku akan pulang bersama dia sebab hari ini aku tidak membawa mobil. Saat aku sedang menunggu Donghae. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku.

”Oppa..”seru sebuah suara yang sangat ku kenal.

Aku menatapnya tidak percaya. Dia tersenyum tipis melihatku. Hye Jin kenapa dia disini. Dia berjalan menghampiriku dan mentodorkanku sesuatu.

”Mianhe…terserah mau Oppa buang atau tidak tapi aku mohon Oppa mau terima ini…ini dari ibu…”serunya dengan wajah tertunduk.

Aku melihatnya itu sepeti sebuah jimat. Aku pun mengambilnya dan memasukannya ke dalam saku celanaku.

”Gumawo…”serunya dan kemdudian dia langsung berbalik tanpa menatapku.

Aku begitu ingin mengejarnya dan mengucapka terima kasihku tapi entha kenapa lidahku begitu kelu. Aku hanya bisa mentapnya yang berjalan menjauhiku dan semakin lama semakin tidak terlihat. Aku kembali mengeluarkan barang yang tadi dia berikan. Benda yang di bungkus kain merah itu. Aku menatapnya lama. Ini dari ibuku. Aku begitu sakit sekali mengetahui bahwa ibuku begitu baik padaku.

”Ya!kenapa bengong…”seru sebuah suara dari dalam mobil.

Dia hanya menjulurkan kepalanya keluar.

”Kau dapat jimat dari siapa?”tanyanya begitu melihatku tadi menatap benda itu.

”Ah..anni…bukan apa-apa…aku hanya membelinya…”seruku.

”Ayo masuk…”seru Donghae lagi.

Aku pun segera masuk ke dalam mobil.

”Kau masih percaya hal begituan?”tanya Donghae lagi, begitu dia menyadari aku masih memegang benda itu.

”Ibuku juga memberikan  itu padaku…ini…”serunya lagi sambil menunjukan benda yang mirip seperti milikku dari kantong bajunya.

”Dia bilang ini agar aku lancar ujian…begitu katanya…padahal di sudah lama tinggal di luar negeri akan melupakan hal-hal beginian tapi tetap saja dia masih percaya hal seperti ini…”cerita Donghae.

Aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya.

Sampai di rumahku aku berjalan menuju dapur dan mangambil air minum di kulkas, lalu berjalan ke kamarku dan duduk di depan meja belajarku. Niatku adalah belajar sedikit unutk besok tapi entah kenapa aku malah termenung menatap jimat yang aku letakkan di atas meja belajarku itu. Perasaan bersalah semakin menghampiriku. Aku menghela nafas perlahan, lalu mengambil Hpku dan segera mengeti sms. Aku ingin bilang terima kasih pada Hye Jin an juga ibu. Namun begitu aku akan memencet tombol send, aku malah mengurungkan niatku. Aku kembali menaruh Hp ku di atas meja dan menelungkupkan wajahku ke meja belajarku.

”Ya!kau malah tidur!Wonnie bangun!”teriak seseorang di kupingku.

Aku langsung tersadar mendnegar suara yang sangat kencang itu dan mendapati Donghae berdiri di smapingku. Aku mengucek-ngucek mataku. Sepertinya aku tertidur tadi, kenapa aku tidak sadar ya? Aku pun mengacak-acak rambutku dan berusaha membuka mataku yang masih setengah terbuka. Tiba-tiba Donghae langsung menepuk pipiku dengan sangat kencang.

”Aishh…sakit tau!”seruku.

”Lagian tidur seperti orang mati…mana diatas meja…memangnya kau tidak sakit apa? Pintu tidak dikunci lagi…”serunya langsung tanpa berhenti.

Aku mengacak-acak rambutku lagi dan menguap beberapa kali.

”Oh….begitu ya…”seruku.

”Cih! Hanya begitu tanggapanmu…sudah bangun dan cuci muka…aku sudah membawakanmu makanan…kita makan malam bersama…”serunya.

Aku melihat dia keluar dari kamarku, aku pun berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukaku. Aku merasa badanku pegal-pegal sepertinya gara-gara aku tertidur di meja belajar tadi. Aku melihat jam di kamarku an langsung terkejut begitu melihat jam menunjukan pukul 7 malam. Aigoo, aku tidur sampai 3 jam. Pasti aku tidak akan bisa tidur malam ini. Aku berjalan menuju meja makan dan mendapati Donghae sudah menghidangkan makanan di atas meja. Rajin sekali dia, masih sempatnya memasak.

”Cepat makan nanti sup kentangmu keburu dingin…”serunya sambil duduk di salah satu meja dan mulai menyantap sup kentangnya. Aku pun menarik bangku dan duduk berhadapan dengannya lalu melahap sup kentangku.

”Untung rumahmu tidak kemalingan…kenapa kau bisa lupa mengunci rumahmu?”serunya lagi.

”Namnya juga lupa…ya tidak ingat lah…”jawabku sambil menyendok sup kentangku.

”Aishh…kau ini…babo sekali kenapa bisa lupa…”serunya lagi.

”Aigoo…sudahlah Donghae-ya…kau mengomel saja dari tadi seperti ahjumma-ahjumma saja…”seruku.

Dan dia menjitak kepalaku dengan sendoknya. Aku hanya bisa meringis kesakitan dan menatapnya kesal, dia hanya tertawa melihatku.

Aku tidak tahu apa benar jimat ini membawa pengaruh atau tidak tapi memang entah kenapa selama ujian ini aku bisa mengerjakannya dengan baik. Aishh apa aku mulai percaya hal begituan? Hari ini hari terkahir, akhirnya aku senang sekali ujianku sudah berakhir, kemarin aku sudah dapat surat dari Universitas yang aku inginkan di Jepang memberitahuku bahwa aku diterima. Dan aku sangat bersyukur sekali aku bisa diterima disana. Setelah perpisahan aku akan segera pergi ke Jepang. Saat mengingat itu entah kenapa aku menjadi sakit, aku kembali teringat pada Hye Jin dan ibu, aku belum bertemu dengan mereka. Aku harus minta maaf pada mereka. Pikirku.

”Ya!kenapa kau senang melamun akhir-akhir ini…apa dengan melamun kau mendapat jawaban dari soal-soal itu?”tanya Donghae dengan wajah polosnya.

Aku hanya menjitak kepalanya dan kulihat dia meringis sambil mengusap-usap kepalanya.

”Ya!sakit tau!”teriaknya.

Aku hanya tertawa melihatnya, kemudian aku pun merangkulnya sambil berjalan. Hari ini kami memang sepertinya ingin pergi berjalan-jaln untuk melepas kepenatan kami selama beberapa bulan ini karena disibukkan dengan persiapan ujian sehingga hari ini kami tidak membawa mobil.

”Ayo kita makan…aku yang traktir…”seruku.

Dia hanya tersenyum senang.

”Tapi dimana yang enak?”tanyaku.

”Aku tahu…ikut aku…”serunya lagi.

Aku mengiktuinya berjalan dan sampailah kami di sebuah toko. Aku terkejut dia mengajakku kesini, kenapa dia malah mengajakku kesini? Aku melihatnya dan dia hanya tersenyum sekilas. Kenapa dia membawaku ke tempat Hye Jin bekerja? Aku hanya bisa mengikutinya masuk, kalau aku pergi, aku tidak mau pasti nanti Donghae akan marah padaku. Tapi kulihat dari wajah Donghae dia kesini bukan untuk mengungkit masalah itu, mungkin dia benar-benar hanya ingin makan disini. Kami masuk dan langsung duduk di salah satu meja. Tak lama kemudian seorang pelayan wanita menghampiri kami. Aku sempat deg-degan takut kalau itu Hye Jin, syukurlah bukan Hye Jin, entah kenapa aku jadi takut bertemu dengannya.

”Jajangmyeonnya dua ya..dan minumnya air putih saja…”seru Donghae pada pelayan itu.

Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling, mencari sosok itu, tapi aku tidak menemukannya, apa dia tidak masuk hari ini? Pikirku.

”Setiap hari saja kau mentraktirku Wonnie…oh ya jajangmyeon disini sangat enak sekali..sampai sekarang aku maish berusaha membuat jajangmyeon seenak ini…”seru Donghae.

”Pantas kau sering sekali memasak jajangmyeon…”seruku sambil tersenyum mengejek.

Dan dia hanya mendengus kesal. Tak lama kemudian pesanan kami datang. Aku hanya bisa terkaget-kaget begitu melihat siapa yang mengantarnya. Hye Jin. Kulihat dia juga seperti terkejut melihatku disini.

”Oppa…”serunya begitu dia sampai di depan meja kami.

Entah siapa yang dia panggil Oppa, aku atau Donghae. Apa dia masih menganggapku Oppanya?

”Hye Jin-ah…annnyeong…kami baru selesai ujian nieh…ayo kita makan bersama…”seru Donghae sambil tersenyum.

Sementara aku hanya bisa menatapnya. Donghae langsung menarik tangan Hye Jin untuk duduk dan kini kami saling berhadapan. Aku mencoba tersenyum padanya dan dia pun hanya tersenyum sekilas padaku. Kini kami bertiga hanya terdiam.

”Hye Jin-ah…kau datang kan nanti di perpisahan kami?”tanya Donghae sambil menyantap jajangmyeonnya, sementara yang aku lakukan hanya mengaduk jajangmyeonku.

”Ne…akan ada pentas drama disana sebagai persembahan dari hoobae untuk sunbaenya…”jelas Hye Jin.

Kemudian kami terdiam kembali, apalagi aku yang hanya dia sejak tadi, sesekali aku melihat Hye Jin, namun dia sama sekali tidak pernah melihatku. Jujur aku sakit melihatnya sama sekali tidak melihat ke arahku. Apa dia sangat membenciku karena aku menghindarinya?. Tanpa terasa aku malah terus menatapnya. Namun kemudian Hye Jin malah menatap ke arahku.

”Oppa…kenapa tidak dimakan?nanti dingin…”serunya sambil menatapku.

”Ah…ne…”jawabku sedikit terbata-bata

Maka aku pun mulai menyantap makananku. Meski Hye Jin bertanya padaku tapi aku bisa merasakan dia masih sedikit aneh. Sisa waktu makan itu hanya diisi, aku yang melihat Hye Jin mengobrol asyik dengan Donghae karena aku lebih memilih diam. Aku melihat Hye Jin sepertinya senang sekali bersama Donghae bahkan dia bisa tertawa lepas. Aku jadi cemburu dengan Donghae.

Hari ini adalah hari perpisahan kami, aku sudah sampai disekolah dan melihat seluruh aula sudah di sulap mejadi sangat meriah dengan berbagai hiasan. Rasanya sedih sekali harus meningglakan sekolah ini. Besok juga aku harus segera pergi ke Jepang karena ada beberapa hal yang harus aku urus. Ternyata 3 tahun berjalan begitu cepat. Aku pasti akan rindu sekali dengan Donghae, sahabat terbaikku ini. Dia memilih untuk melanjutkan sekolahnya di Seoul University dengan mengambil matematika. Dia memang sudah pasti masuk disitu bahkan sebelum dia kelas 3. otak temanku itu memang sangat encer. Kini kami akan berpisah, memang jarak Tokyo dan Seoul tidak jauh tapi tetap saja, aku tidak bisa lagi bertemu dengannya setiap hari dan menjadi kelinci percobaan untuk semua ekperimennya dengan makanan, meski semua makananannya terbukti enak. Aku suka sekali mejadi kelinci percobaannya karena aku bisa makan gratis setiap hari. Aku menatapnya yang sedang mengambil tanda lulus di depan panggung. Aku sudah selesai mengambilnya karena namaku memang lebih dulu darinya. Kulihat wajahnya sangat berseri-seri sekali, dia berjalan menghampiriku dan melakukan high five denganku, lalu kami tertawa bersama. Aishh, sejak SD sampai sekarang kami selalu bersama namun kali ini kami harus terpisah. Aku pasti akan merindukanmu Lee Donghae, seruku dalam hati. Setelah pembagian tanda lulus, acara berlanjut kepada persembahan dari para junior kami, yang pertama muncul adalah drama lalu dilanjutkan dengan menyanyi, yang sekarang ada di panggung adalah Kyuhyun dan Wookie memainkan piano mengiringi suara Kyuhyun. Aku mencari sosok Hye Jin di belakang panggung yang sedikit terlihat dari sini tapi aku tidak menemukannya. Hari ini aku akan bilang padanya, aku akan minta maaf padanya. Sebaiknya aku mencarinya sekarang. Aku beranjak dari tempat dudukku.

”Wonnie-ya…kau mau kemana?”tanya Donghae begitu melihatku berdiri.

”Aku mau ke toilet dulu…”seruku dan kemudian berjalan menuju pintu keluar.

Sebenarnya niatku keluar adalah untuk mencari Hye Jin, aku mencarinya di setiap koridor sekolah namun tidak menemukannya. Oh ya aku baru ingat, pasti dia ada disana. Aku pun segera bergegas menuju ke tempat favoritnya, aku yakin pasti dia ada disana.

Aku membuka pintu ruang teater perlahan, aku melihat seseorang berdiri menghadap jendela, aku tahu itu pasti dia. Aku pun berjalan menghampirinya. Baru aku berjalan sedikit, aku mendengarnya terisak. Apa dia menangis lagi?

”Hye Jin-ah…”seruku, aku sampai tidak percaya aku kembali menyapanya setelah sekian lama tidak pernah menyapanya.

Dia berbalik dan terkejut melihatku berdiri di depannya. Dia buru-buru menyeka air matanya. Aku pun berjalan mendekatinya dan langsung mendekapanya.

”Mianhe..jeongmal mianhe….aku tahu aku salah selama ini…aku sayang padamu dongsaeng…kau adalah dongsaengku dan aku adalah Oppamu…”seruku sambil mendekapnya erat-erat.

Aku bisa merasakan dia membenamkan wajahnya di dadaku dan menangis terisak.

”Mianhe….aku tidak membencimu…maafkan aku selama ini sudah melukai hatimu dan ibu…”seruku lagi.

Aku mengusap punggunya perlahan. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata coklat beningnya yang masih berkaca-kaca. Aku mengusap sisa air mata di pipinya.

”Oppa…”lirihnya.

Aku tersenyum mendengarnya memangilku Oppa.

”Mianhe…”seruku, aku kembali mengucapkan kata itu karena aku tidak tahu kata apa yang harus aku katakan, hanya itu, hanya maaf yang bisa kuucapkan, karena aku memang merasa sangat bersalah padanya dan juga ibu.

”Apa kau membenciku? Setelah perlakuanku padamu…”seruku lagi sambil menatap matanya lekat-lekat.

”Andwe…aku sayang Oppa…aku tidak pernah benci Oppa…ibu juga begitu…ibu sangat sayang pada Oppa…ibu tidak pernah membenci Oppa…”serunya lagi.

Aku kembali mendekapnya.

”Gumawo dongsaeng…aku memang sudah salah selama ini…kalian begitu mencintaiku…tapi aku malah seperti ini…mulai sekarang aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian…kalian adalah satu-satunya keluargaku…”seruku lagi.

Hye Jin hanya menatapku sambil tersenyum.

”Saranghae Oppa….”serunya.

”Nado saranghae dongsaeng…”seruku dan kembali memeluknya.

Mulai saat ini aku tidak akan pernah meninggalkan mereka, aku berjanji.

”Aku bangga padamu Siwon…”seru Donghae yang masuk ke dalam ruang teater.

Aku melihatnya menghampiri kami sambil tersenyum.

”Oppa…”seru Hye Jin sambil berlari ke arahnya dan memeluknya.

”Ternyata kau masih ingat Oppamu ini…”seru Donghae lalu terkekeh pelan.

”Chukkae…”seru Hye Jin kemudian melepas pelukannya.

Donghae berjalan menghampiriku dan menepuk bahuku sambil tersenyum. Hye Jin melihat kami yang berdiri berdampingan dan wajahnya langsung sedih.

”Waeyo?”tanya kami bersamaan.

Tiba-tiba Hye Jin malah tertawa. Kami jadi semakin bingung dengan tingkahnya. Aku menatapnya meminta penjelasan namun dia malah tetap tertawa.

”Aku rindu saat kita jalan-jalan bersama….entahlah aku jadi ingat saat itu Oppa…aku sedih kalian tidak akan bersamaku lagi…”serunya dengan wajah sendu.

Ya aku mengerti pasti tadi dia menangis karena dia akan kehilangan orang-orang yang dia sayangi. Kami pun berjalan mendekatinya dan langsung memeluknya.

”Oppa…aku tidak bisa nafas tau..lepas!”serunya karena kami memeluknya berdua.

Kami pun kemudian melepaskan pelukan kami dan mengecup pipinya dari kanan dan kiri. Namun kali ini dia tidak marah seperti dulu melainkan tersenyum manis sekali.

”Hye Jin-ah….aku kan masih disini…lagipula rumahmu dan apartemenku dekat jadi kita masih bisa sering bertemu…memangnya Oppamu ini yang akan ke Jepang…”seru Donghae.

”Makanya aku sedih karena Siwon Oppa tidak akan bisa bersamaku lagi…”seru Hye Jin.

”Mwo? Jadi kau tidak sedih tidak melihatku lagi…”seru Donghae sewot dan kulihat Hye Jin hanya terkekeh pelan.

”Aishh…aku punya Oppa yang sangat pencemburu…”serunya lalu menggamit tangan Donghae.

Hey, kenapa hanya Donghae, aku juga cemburu pada Donghae, kenapa dia bisa dekat sekali dengan dongsaengku itu, aku harus membalas dendam selama ini kan dia sering menghabiskan waktunya bersama dongsaengku. Kini giliranku.seruku dalam hati.

”Ya!masa Donghae saja…”seruku dengan memanyunkan bibirku.

”Kau ini menganggu saja!”seru Donghae.

Kemudian Hye Jin juga menggamit lenganku dan tersenyum.

”Saranghe Oppa…aku senang punya Oppa seperti kalian….jangan lupakan aku…”serunya.

Dan kami pun akhirnya tertawa bersama. Ya Tuhan aku berjanji akan selalu menjaga dongsaengku ini. Aku sangat menyayanginya. Kini tinggal menemui ibuku. Aku harus minta maaf padanya sebelum aku pergi ke Jepang besok.

Aku sudah mempersiapakan semuanya. Baju-baju sudah aku packing ke dalam koper, aku siap berangkat besok. Donghae dan Hye Jin membantuku berkemas. Mereka membantu memasukan berbagai keperluanku.

”Oppa jangan lupa bawa jaket yang banyak…..kudengar disana sangat dingin…nanti kalau Oppa sakit bagaimana?”serunya sambil terus memasukan jaket yang ada di lemariku ke dalam koper. Banyak sekali. Semnetara Donghae aku mendengar dia sedang sibuk di dapur, memasak.

”Nah, sudah semua!”seru Hye Jin senang begitu dia telah selesai memasukan semua barang-barangku.

”Apa mau aku periksa lagi?”tanya Hye Jin.

Aku segera menggeleng, jangan-jangan dia nanti menambahkan yang lain-lain lagi, ini saja sudah banyak sekali. Dia merebahkan badannya di atas kasurku. Aku pun duduk di tepi tempat tidurku dan menatapnya yang sedang menatap langit-langit.

”Aku ingin bertemu ibu…”seruku.

Dan Hye Jin langsung bangkit dari tidurnya dan menatapku senang. Dia kemudian langsung memelukku.

”Oppa…ibu pasti senang sekali…aku sungguh bahagia hari ini…”serunya lagi.

Wajahnya begitu bahagia hari ini. Aku pun mengacak-acak rambutnya lembut.

”Oh ya…kau sudah berpacaran ya dengan Taemin?”tanyaku tiba-tiba dan itu membuat mukanya memerah karena malu.

”Aishh…dongsaengku ini sudah dewasa rupanya…”seruku lagi sambil mencubit pipinya gemas.

”Taemin…anak yang baik kok..tapi kalau dia jahat padamu…kau harus bilang aku…aku akan selalu menjaga dongsaengku ini….”seruku.

”Oppa…tenang saja….Taemin…baik padaku…”serunya dengan senyuman.

”Arasso…oh ya kau memanggilnya apa…jagi?jagiya?yeobo?”tanyaku dan itu semakin membuat mukanya memerah dan dia pun langsung memanyunkan bibirnya.

”Oppa!”serunya sambil memukulkan bantal padaku namuan aku bisa menghindar, dia pun terus mengejarku dengan membawa bantal itu dan berusaa memukulku, aku pun berlari menuju dapur.

”Aishh…kalian ini…masakanku hampir jadi…jangan menganggu sana…”seru Donghae lagi.

Aku bersembunyi di belakang Donghae dan Hye Jin berusaha menggapaiku tapi aku menjadikan badan Donghae sebagai tamengku. Donghae sepertinya sangat marah karena itu.

”Hye Jin!Wonnie!jangan di dapur!”teriaknya lagi dan kini dia sudah sangat marah maka kami pun akhirnya berjalan keluar dari dapur dan melanjutkan permainan kejar-kejaran kami lagi, sampai Donghae memanggil kami untuk makan.

Aku melihat Hye Jin malah tertidur di sofa sementara Donghae masih serius menonton film yang tadi kami pinjam. Aku mendekatinya yang sedang tertidur dan mengelus pipinya. Aishh, kenapa aku baru bertemu denganmu sekarang? Kenapa tidak dari dulu aku tahu aku punya dongsaeng sepertimu. Aku pun mencium keningnya dan menyenderkan kepalanya di dadaku.

”Dia tidur?”tanya Donghae, kukira dia tidak memperhatikan karena asyik menonton film.

”Ne…”jawabku.

”Kau beruntung punya dongsaeng seperti dia…”seru Donghae kini dia tidak menatap ke arah tv lagi melainkan serius menatapku.

Ya aku tahu seharusnya Donghae punya adik perempuan juga, namun adiknya meninggal saat dia masih kecil. Dia memang sangat ingin sekali punya adik, makanya dia senang sekali Hye Jin menganggapnya kakak.

”Kau mau bertemu ibumu hari ini?”tanya Donghae lagi.

Kali ini aku hanya bisa menjawab dengan anggukan saja.

”Apa ibuku mau memaafkanku?”tanyaku.

Ya itu yang aku takutkan, aku takut ibu tidak mau menerimaku. Aku merasa sangat bersalah padanya.

”Kurasa tidak…ahjumma adalah seorang ibu yang baik menurutku…dia juga sangat sayang padamu…hah aku iri sekali padamu Wonnie..kau punya ibu dan adik yang sangat baik dan sayang padamu…sedangkan aku…aku tinggal sendiri…ibu dan ayahku selalu di luar negeri dan adik..aku tidak punya….”ceritanya panjang lebar.

Baru kali ini aku melihat Donghae seperti itu, wajahnya sangat sedih.

”Donghae-ya…memangnya kau tidak menganggapku sebagai saudaramu…lalu Hye Jin dan ibuku yang sering kau panggil umma itu..”seruku.

Dan dia hanya bisa nyengir mendengar perkataanku.

”Ne…aku punya keluarga seperti kalian…”serunya lagi kini dengan wajah penuh semangat. Memang aneh sekali dia.

”Apa ini sudah pagi?”seru Hye Jin yang sudah terbangun.

”Belum Hye Jin-ah…”seruku sambil mengelus kepalanya.

Dia duduk dengan mata yang masih setengah terbuka.

”Aku kira kau mau tidur disini terus menemani Oppamu…”seruku.

”Aku mau pulang ah…”serunya masih dengan mata setengah terbuka.

Jangan-jangan dia belum sadar lagi bicara seperti tadi.

”Oh ya…aku pulang juga…besok kau berangkat jam berapa?”seru Donghae sambil beranjak berdiri.

”Jam 9…”jawabku.

”Ne..arasso…aku akan datang mengatar sahabatku tercinta…”serunya lagi sambil tersenyum dan berjalan keluar.

”Annyeong Donghae Oppa…”seru Hye jin.

”Sepertinya dia masih mengigau…”seru Donghae.

Aku pun hanya mengangguk dan mengantar Donghae sampai pintu, saat aku kembali ke dalam untuk melihat Hye Jin lagi, ternyata dia sudah memakai jaketnya. Aku kira dia tadi masih mengigau.

”Loh Donghae Oppa mana?”tanyanya.

Aishh, sepertinya Hye Jin memang mengigau tadi, buktinya dia tidak sadar kalau Donghae sudah pulang.

”Dia sudah pulang…ayo aku antar…”seruku lalu menarik tangannya berjalan keluar.

Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Hye Jin malah terkekeh di sampingku.

”Oppa…bukan mau pergi melamar gadis…hanya bertemu ibu Oppa sendiri…kenapa seperti itu?”tanya Hye Jin.

Dan aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Hye Jin masuk duluan ke dalam rumah dan aku mengikutinya di belakang. Hye Jin membuka pintu dan mendapati ibu sudah berada di depan pintu. Aku pun keluar dari belakang Hye Jin dan berusaha tersenyum.

”Siwon-ah…”seru ibuku.

”Umma…”seruku.

Sedikit canggung memanggilnya ibu tapi dia adalah ibuku, kenapa aku malah canggung? Dia seperti terkejut mendengar aku memanggilnya umma.

”Masuklah…”seru ibu lagi menyuruhku masuk.

Hye Jin langsung menarik tanganku sambil tersenyum, bisa kulihat ibu tampak bingung melihat wajah Hye Jin yang berseri-seri sementara aku masih bingung apa yang harus aku katakan. Hye Jin langsung menuju kamarnya sementara Ibu membawaku ke ruang tv dan duduk disana, aku jadi bingung harus memulai darimana.

”Siwon-ah..kau mau ke Jepang besok?”tanya ibuku.

Sebegitu tahukah dia tentangku, Ya Tuhan aku semakin merasa bersalah padanya. Batinku.

”Ne..umma…”jawabku sambil menunduk.

”Semoga kau bisa berhasil….belajarlah dengan benar…”serunya lagi.

Kali ini aku sudah tidak sanggup lagi, aku pun menghampirinya dan langsung memeluknya. Aku merasa ibuku sedikit terkejut melihatku langsung memeluknya, namun dia tetap mengelus lembut punggungku.

”Mianhamnida umma…aku anak yang tidak berbakti…mianhamnida…”seruku dan tanpa terasa air mataku malah turun.

Ibu melepaskan pelukannya dan mentapku dalam-dalam, kini matanya juga mengeluarkan air mata sama sepertiku.

”Siwon-ah…kau tidak salah..ibu yang salah…mianhe…”seru ibu.

Ibu kemudian kembali memelukku.

”Aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan pernah meninggalkan umma dan Hye Jin…”seruku dalam pelukan ibuku.

Ya, aku sudah berjanji pada diriku, sepulangnya aku dari Jepang nanti aku akan selalu bersama mereka dan akan menjaga mereka. Aku akan menebus kesalahanku selama ini. Aku akan menjadi anak yang berbakti. Janjiku dalam hati.

Aku sudah siap meninggalkan Seoul menuju Tokyo untuk melanjutkan pendidikanku. Sebelum pergi aku sempat menelpon ayah dan ibu angkatku untuk mengucapakn rasa terima kasihku selama ini dan meminta maaf atas sikapku selama ini. Mereka juga merasa sedih dan sekaligus senang begitu mendengar aku sudah bisa menerima ibuku dan adikku dan mereka mendoakan yang terbaik untukku, ya bagaimanapun juga mereka sudah menjagaku selama ini. Ternyata aku memang sudah banyak melakukan kesalah selama ini, untunglah mereka semua mau memaafkanku.

”Aku akan pergi bersama ahjumma dan Hye Jin…”seru Donghae yang menghampiriku saat aku hendak keluar dari apartemenku.

Apartemenku akan kosong, padahal aku sudah bilang agar ibu dan Hye Jin pindah kesini saja namun ibu tidak mau dia lebih memilih tinggal disana saja, ya sudah tidak apa-apa, Donghae bernjanji untuk merawatnya. Baik sekali sahabatku itu.

”Ne…aku duluan ya…”seruku dan berjalan masuk ke dalam lift.

Sekarang aku lega, meski harus meningglakan mereka berdua tapi setidaknya aku sudah memperbaiki kesalahnku dan aku percaya Donghae pasti akan menjaga mereka berdua.

Aku menunggu di ruang tunggu dengan banyak koper disamingku, aku menatap jam terus daritadi, aku menunggu Umma, Hye Jin dan Donghae, kemana mereka? Kenapa lama sekali.

”Wonnie-ah…”seru sebuah suara yang sudah ku kenal, karena hanya dia yang memanggilku Woonie. Disampingnya Hye Jin dan ibuku.  Mereka bertiga kemudian menghampiriku.

Begitu sampai Donghae langsung memelukku, aku pasti akan sangat merindukanmu Donghae-ya. Sahabat terbaikku.

”Donghae-ya…aku pasti akan sangat merindukanmu…”seruku.

”Aku juga…pokoknya kalau kau libur jangan lupa pulang…”serunya.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu aku beralih pada Hye Jin dan memeluknya.

”Hye Jin-ah…jangan lupa telepon Oppamu ini…oh ya ingat kalau ada apa-apa kau harus beritahu Oppa…arachi?”seruku.

”Ne…”serunya sambil mengangguk dan tersenyum manis sekali.

Lalu aku memeluk ibuku. Rasanya berat meninggalakn mereka, karena aku baru benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu, ibu kandungku sendiri.

”Berhati-hatilah disana…belajar yang rajin…”seru ibu sambil mengelus kepalaku.

Ibu sudah mulai menangis. Aku jadi ingin menangis tapi harus kutahan, agar mereka tidak semakin sedih. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

”Donghae-ya…jaga adikku dan ibuku ya….aku mentipkannya padamu…”pesanku pada Donghae.

”Ne…ne…tenang saja ahjumma sudah ku anggap ibuku sendiri dan Hye Jin dia adalah dongsaengku…”jawabnya sambil merangku Hye Jin.

Inilah saat aku pergi, berat sekali memang tapi aku harus melakukannya, demi cita-citaku. Aku berjalan meninggalkan mereka. Jujur aku ingin menangis tapi harus kutahan. Seruku dalam hati. Namun baru beberapa langkah berjalan. Hye Jin langsung memanggilku.

”Oppa…”serunya sambil berlari padaku dan langsung memelukku.

Kini dia menangis sejadi-jadinya. Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya.

”Hye Jin-ah…jangan menangis…aku pasti pulang kok…aku janji jika libur aku akan pulang…aku masing ingat janjiku kan? kalau aku ke korea lagi, kaulah orang pertama yang akan aku temui…arasso?”seruku sambil mengusap air mata di pipinya dan kemudian mengecup keningnya.

”Saranghae…”seruku lagi.

”Nado saranghae Oppa…”serunya masih menangis.

”Jangan menangis lagi…aku mau kau melepasku dengan senyuman termanismu…”seruku.

Dan dia pun menurut, dia tersenyum padaku dengan senyuman termanisnya, senyuman yang akan selalu menjadi pengobat rinduku disana nanti. Aku pun berbalik dan melangkahkan kakiku. Selamat tinggal Seoul.

TBC

 

©2010 SF3SI, Novi.

This post/FF has written by Novi, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

 

qtl { position: absolute; border: 1px solid #cccccc; -moz-border-radius: 5px; opacity: 0.2; line-height: 100%; z-index: 999; direction: ltr; } qtl:hover,qtl.open { opacity: 1; } qtl,qtlbar { height: 22px; } qtlbar { display: block; width: 100%; background-color: #cccccc; cursor: move; } qtlbar img { border: 0; padding: 3px; height: 16px; width: 16px; cursor: pointer; } qtlbar img:hover { background-color: #aaaaff; } qtl>iframe { border: 0; height: 0; width: 0; } qtl.open { height: auto; } qtl.open>iframe { height: 200px; width: 300px; }

About these ads

31 thoughts on “LOVE’S WAY – A NEW BEGINNING

  1. nangiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiissssssssssssssssssssssssssssssssssssss !!!!!!!!!!!!!

    aaahh ..
    napa gg jdi brangkat ajaa siihh wonnie-ny ??
    hikz ..
    kan baru satu hari akurnya ..
    huwaaa ..

    daebaak pokony maahhh !! b^^d

  2. uwaahh..
    seru bangett!!
    Si Donghae udh kayak si key aja deh, mirip ibu-ibu. heheh…
    SERUUU! LANJUT LANJUT!!
    LIKE ya??! Sikk.. (??)

  3. Sediiiiiihhh ;_____;

    Tapi akhirnya siwon mau ngakuin hyejin sama eomma nya, horeeeee ^^

    Gak ada taemin-hyejin yak disini? O.o waowaowao, next part adagak? Hehe, kangen momen taemin-hyejin deh keke

    Lanjut authoor! Bagusbagusbaguuuus

  4. AHHHHH SO SWEET =3=
    Hye Jin-ahhh akhirnya kau memiliki Siwon Oppa seutuhnya *ngelap ingus* :”D
    Keputusan Siwon emang tepat hihihi~
    Aku pasti akan merindukan Donghae Oppa ㅠ_ㅠ hiks…hiks

    KYAAAAA~~~~~!!!!
    Next Part Next Part :”D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s