The Pervert Nerd – Glasses 2

TITLE : The Pervert Nerd (Glasses 2)

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast :

Support Cast :

Length : Sequel

Genre : Romance, Angst, Sad, Humour, Friendship

Rating : PG – 16

THE PERVERT NERD


Seorin menghentikan langkahnya di depan pintu rumah dan berdiri dengan ragu. Haruskah ia masuk sekarang? Tapi ia juga tak ingin berlama-lama berdiri di halaman rumahnya dan kedinginan. Seorin mengepalkan tangannya diudara dan menyemangati dirinya sendiri lalu sedikit membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Tidak ada tanda-tanda Minho dilantai 1, itu membuatnya sedikit bernafas lega.

“Aku pulang.” Sapanya pelan, berharap mendengar jawaban dari Nyonya Lee. Suasana hening menyambutnya begitu ia menunggu balasan dari Nyonya Lee. Seorin tau apa yang sedang terjadi. Seperti biasa, kedua orangtuamu keluar sekedar untuk berjalan-jalan—dan meninggalkan pesan di pintu kulkas.

Kami akan pulang tengah malam. Buat makan malam untuk dirimu sendiri dan Minho, ara?

- Eomma & Appa

Seorin meremukkan kertas yang ditinggalkan oleh orangtuanya dan membuangnya ke tong sampah di samping kulkas. Seorin sama sekali tidak pernah merasa keberatan jika harus ditinggal seorang diri setiap kali orangtuanya kembali bersikap seperti remaja, tapi dengan kehadiran Minho di rumahnya, jelas Seorin tidak berharap orangtuanya akan sering berpergian dan meninggalkan dia bersama serigala bermuka dua yang siap menerkamnya kapan saja.

Seorin berjinjit menaiki anak tangga menuju lantai 2, berharap Minho masih asyik berada di kamarnya—atau dimanapun—selama ia tidak mengganggu Seorin. Sesampainya di depan pintu kamarnya, Seorin sedikit memiringkan badannya dan menatap pintu kamar Minho yang tertutup rapat. Jujur saja Seorin agak merasa ragu—dan menyesal—karena telah menyetujui syarat Minho tadi. Yang ada dibenaknya pagi itu adalah bagaimana caranya agar tidak akan ada teman sekolahnya yang tau Minho tinggal di rumahnya—untuk sementara waktu, makanya ia menyanggupi begitu saja persyaratan Minho. Tapi setelah ia memikirkannya dengan pikiran jernih dan berulang kali, ia mulai menyesalinya. Bagaimana jika seandainya Minho ingin mencari keuntungan dari dirinya?

“Apa yang sedang kau lakukan?” Suara Minho dari balik punggung Seorin membuatnya terlonjak kaget.

“OMO! Kau mengejutkanku!” teriak Seorin yang langsung berbalik dan mencari sosok Minho. Seorin langsung menundukkan kepalanya begitu melihat sosok Minho diujung lorong. Semburat merah menyebar diwajah Seorin, membuat Minho tertawa kecil. Minho baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk putih yang terbalut dipinggangnya. Minho melangkah mendekat sementara Seorin dengan cepat bergerak mundur, tapi justru membuat dia terperangkap antara pintu kamarnya yang masih tertutup dan tubuh Minho.

“Like what you see?” Goda Minho yang berbisik di telinga Seorin membuat detak jantung yeoja malang itu semakin tak karuan.

“A-ani …” Jawab Seorin dengan tergagap. Ia bisa mendengar desah nafas Minho ditelinganya, ia juga bisa merasakan dinginnya rambut Minho yang masih basah yang menyentuh permukaan pipinya.

“Apa kau bisa menyingkir sekarang?” Seorin mengerahkan seluruh keberaniannya, ia tidak ingin menjadi bulan-bulanan Minho lagi.

“Hmmm??” Gumam Minho tak jelas. Minho meraih pipi Seorin dan mengelusnya dengan pelan. Bibir Minho menyapu permukaan leher Seorin dengan lembut—sekedar mengecupnya, lalu naik ke garis rahang Seorin yang mengencang. Sentuhan ringan bibir Minho dikulit Seorin membuatnya merasa hampir gila. Ia kembali mengenang ciuman pertamanya yang direbut oleh Minho—yang tidak ingin diingat Seorin lagi. Seorin memajukan tangannya, bersiap mendorong tubuh Minho agar menjauh, dengan cepat Minho meraih tangan Seorin dan menghentikannya.

“Ingat apa yang kukatakan tentang bersikap manis padaku? Atau kau lebih suka kalau besok semua orang akan tau bahwa kita tinggal bersama?” Goda Minho dengan suara rendah yang semakin membuat Seorin menggila. Minho terkekeh pelan, lalu menyelesaikan permainannya dengan Seorin.

“Aku lapar, buatkan makan malam.” Pinta Minho sebelum menghilang dibalik pintu kamarnya.

“Tapi …”
”Bersikap manislah, Lee Seorin.” Potong Minho dengan cepat saat tau Seorin akan membantah perkataannya. Seorin menggerutu tak jelas dan menghentakkan kakinya disetiap anak tangga, membuat Minho kembali terkekeh dari dalam kamarnya.

Minho duduk di tepi tempat tidur, mengeringkan rambutnya yang masih basah dan meneteskan air dingin.

Mengapa ia merasa sangat bahagia setiap kali melihat reaksi Seorin saat ia mempermainkannya? Yang lebih tak bisa ia mengerti adalah mengapa ia selalu merasa ketagihan untuk menyentuh Seorin?

Perasaan semacam itu sudah lama ia buang jauh-jauh. Tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya bahwa suata saat nanti ia akan kembali bisa merasakan perasaan itu. Satu-satunya orang yang bisa membuat dia merasakan perasaan tak karuan dan tak masuk akal itu hanyalah yeoja yang sudah meninggalkan sejak dua tahun yang lalu.

Ia menunggu agar yeoja itu kembali padanya. Ia bahkan rela merubah dirinya sendiri demi yeoja itu, tapi yeoja itu masih saja tak kembali.

Jadi, jika selama ini hanya yeoja itu yang bisa membuat jantung Minho meloncat-loncat tak karuan, bagaimana bisa sekarang Seorin membuat Minho kembali merasakan hal itu?
Minho menggeleng kepalanya pelan dan mencoba menyingkirkan pikiran-pikirannya yang mulai membuat ia sendiri pusing. Suara teriakan Seorin samar-samar terdengar dari lantai satu. Minho bangkit dari duduknya dan menyambar pakaian yang nyaman dan memakainya.

Seorin meletakkan panci yang ia gunakan untuk memasak diatas wastafel dan kembali ke meja makan. Minho menatap meja makan dengan mata terbelalak.

“Makan malam kita hanya ramen saja?” Tanya Minho sambil menunjuk dua mangkuk ramen yang tersaji. Seorin mengangguk cuek dan duduk di hadapan Minho. Minho menyendokkan kuah ramen ke dalam mulutnya tanpa ragu. Meski makan malam yang ia bayangkan sangat jauh dari yang bisa Seorin sajikan, ia tidak mengeluh karena baginya itu sama sekali bukan masalah besar. Belum sempat Minho menelan kuah ramen, ia langsung mengeluarkannya lagi. Seorin memelototinya, merasa kesal karena ia tidak menghargai masakannya—ramen yang ia buat dengan penuh perjuangan.

“Yaiks! Apa ini? Kenapa pahit sekali?” Minho menjulurkan lidahnya keluar dan menatap Seorin serta ramen dihadapannya secara bergantian. Seorin mengernyit dan mencicipi ramen miliknya sendiri. Reaksinya sama seperti yang diberikan Minho.

“Kenapa bisa pahit? Aku tidak memasukkan yang aneh-aneh kok.” Seorin balas menatap Minho yang menghela nafas dengan kesal.

***

Seorin dan Minho berjalan berdampingan dalam perjalanan pulang. Setelah memutuskan bahwa mereka tidak akan bisa memakan ramen itu sebagai makan malam dan Minho tidak bisa lagi mempercayakan Seorin untuk memasakkannya makanan, mereka keluar rumah dan makan jajangmyun di kedai dekat rumah. Seorin asyik menikmati pemandangan malam serta es krim cokelat yang ada di tangannya.

“Apa? Kenapa kau melihatku terus? Kau mau es krim ku?” Seorin menyodorkan es krim miliknya pada Minho. Minho memandang Seorin dan menggeleng dengan pelan.

“Aku hanya tidak habis pikir. Masakan eommonim sangat enak, tapi kau justru sebaliknya. Kau benar-benar payah” Ejek Minho. Minho memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan bernapas dalam-dalam. Seorin memiringkan kepalanya, menatap Minho yang lebih tinggi darinya dengan kesal. Ia memang tidak pandai memasak seperti Nyonya Lee, tapi apakah perlu Minho mengejeknya?

“Dan lagi…” Minho berjalan beberapa langkah di depan Seorin dan membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Seorin membuat langkahnya langsung terhenti. Minho dan Seorin berhenti tepat di depan restoran Seven Springs. Minho menundukkan tubuhnya dan mendekati Seorin.

“Aku tidak tertarik pada es krimmu..” Minho menyeringai pelan, lalu mengangkat dagu Seorin menggunakan jari telunjuknya dan menyapukan ibu jarinya di bibir Seorin yang dingin. “Aku lebih tertarik membayangkan kau menjilati sesuatu yang lain.” Minho mengerling nakal dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa peduli pada Seorin yang masih mencoba mencerna apa maksud kata-kata Minho.

“Sesuatu yang lain?” Seorin bergumam pada dirinya sendiri, masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan Minho. “Mungkinkah …” Wajah Seorin memerah membayangkan apa yang mungkin dimaksudkan oleh Minho tentang ‘sesuatu yang lain’.

“Yaaaa! Dasar mesum!!” teriak Seorin sekeras mungkin membuat wajahnya jauh lebih memerah lagi.

Sementara itu, di dalam restoran Seven Springs, ada dua orang yang mereka kenal tengah duduk bersama untuk makan malam.

Han Yuna, memandang salad yang ada dihadapannya dengan geram. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan mengalami hal ini—perjodohan. Yang benar saja, memangnya tahun berapa sekarang? Dan lagi, Yuna tak bisa berbuat apa-apa. Inilah nilai yang harus dibayar karena terlahir di keluarga terhormat. Pernikahan bisnis adalah hal yang lazim ditemui dan tak jarang mereka bahkan harus menikah diumur muda. Dikursi lain dihadapannya, Kim Jonghyun menyantap steak sapi miliknya dengan tatapan bosan sambil sesekali mengangguk saat orangtuanya mengatakan sesuatu.

Yuna membatin, dari berpuluh ribu namja di Seoul, kenapa ia justru harus ditunangkan dengan Kim Jonghyun—namja yang paling dibencinya?

Jangan tanyakan alasan mengapa Yuna begitu membenci Jonghyun karena hanya dengan membayangkan alasannya saja sudah membuat darah Yuna naik ke ubun-ubun.

“Yuna-ya, bagaimana menurutmu? Han Yuna?” Nyonya Han menyenggol lengan Yuna dari bawah meja dan menyadarkan Yuna dari lamunannya. Ia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Nyonya Han karena dari tadi ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan mereka—tidak tertarik dan sama sekali tidak ingin tau.

“Oh? Hmm, geure. Joahaessoyo..” Jawab  Yuna ragu. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah segera menyelesaikan makan malam ini dan kembali ke rumahnya. Dan ia tau, satu-satu cara adalah dengan menyenangkan hati orangtuanya.

Jonghyun mendongak, mengalihkan perhatiannya dari makanan yang sejak tadi ia santap ke arah Yuna. Jonghyun memicingkan matanya, seolah tidak mempercayai kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Yuna.

Yuna menyadari tatapan yang diberikan Jonghyun, tapi memilih untuk tidak mempedulikannya. Beberapa menit berlalu, dan Jonghyun masih saja memperhatikan dirinya, membuat Yuna risih dan balas menatap Jonghyun dengan kesal, memberikan peringatan padanya bahwa ia tak suka ditatap oleh Jonghyun.

“Baiklah, kalau begitu kami akan pulang lebih dulu. Yuna-ya, kau baik-baiklah dengan Jonghyun, ara?” Nyonya Han menepuk pundak Yuna pelan.

“Ne? Aku dan Kim Jonghyun?” Yuna balas bertanya.

“Ne, bukankah tadi kau sudah setuju. Geurom, uri kajja.” Nyonya Han menarik Tuan Han keluar dari ruangan, diikuti oleh orangtua Jonghyun. Yuna memukul keningnya dengan pelan. Jika ia tau itu yang ditanyakan oleh Nyonya Han tadi, bagaimana mungkin ia akan setuju. Jonghyun tertawa kecil dan menusuk-nusuk daging steaknya dengan santai. Yuna kembali memberikan tatapan maut padanya.

“Apa yang kau tertawakan?” Tanya Yuna kasar.

“Oww~! Begitukah caramu berbicara dengan tunanganmu? Tsk, pertama, kau harus memanggilku oppa—jelas karena aku setahun diatasmu. Dan kedua, kau harusnya bersikap lebih manis padaku—seperti ketika kau di sekolah.”

“Uh, pertama aku tidak mau meamanggilmu oppa—karena kau tak pantas. Kedua, aku tidak akan bersikap baik padamu—karena aku tidak menyukaimu.”

Jonghyun kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya yang berhasil membuat Yuna justru bertambah kesal. Jelas sekali kata-kata Yuna sudah merendahkannya, bukankah seharusnya Jonghyun marah? Tapi namja ini justru tertawa. Apakah otaknya rusak—atau dia tak punya sama sekali?
”Yeoja yang galak, aku suka itu—meski aku menyukai semua tipe yeoja. Apakah kau sudah selesai makan? Kuantar kau pulang.” Jonghyun meletakkan serbet diatas meja makan dan bangkit dari kursinya, tapi Yuna bergerak lebih cepat dan sudah berjalan tanpa menoleh ke belakang. Jonghyun menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis lalu berlari kecil untuk mengejar Yuna.

“Kenapa kau berjalan dulu? Memangnya kau tau di mana mobilku parkir?” Jonghyun menyeimbangi langkah Yuna dengan mudah.

“Apakah aku bilang bahwa aku akan menerima tumpanganmu?”

“Yaaaa, Han Yuna!” panggil Jonghyun geram. Karena Yuna tak juga memberikan reaksi, Jonghyun menarik tangan Yuna dengan keras dan langsung menggendongnya—bridal style.

“Omo! Apa yang kau lakukan?” Bisik Yuna sambil menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang yang ada di restoran. Jonghyun menyeringai puas dan merasa senang melihat Yuna terlihat panik.

“Bukankah sudah kubilang aku akan mengantarkanmu pulang?”
”Shireoyo! Turunkan aku sekarang!”
”Shireoyo~ Aku akan mengantarmu pulang~” Jonghyun mengucapkan kata-katanya sambil bersenandung pelan.

“Arayo! Turunkan aku sekarang.” Bisik Yuna lagi.

“Jinja? Kau tidak akan kabur?” Jonghyun menatap Yuna dengan sebelah alisnya terangkat. Yuna mendesah pelan dan mengangguk pasrah. Melihat ketulusan—kepasrahan—Yuna, Jonghyun menurunkan Yuna perlahan-lahan.

“That’s my girl~” gumam Jonghyun pelan tapi cukup lantang untuk didengar Yuna. Jonghyun menurunkan tubuh Yuna dengan sangat berhati-hati hingga Yuna bisa menginjak lantai dengan kakinya sendiri.

“Aku bersumpah kau tidak akan selamat jika kau berani macam-macam.” Ancam Yuna sambil melipat kedua tangannya.

“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam malam ini. Karena masih akan ada malam-malam berikutnya.” Jonghyun mengerling pada Yuna dan merangkulkan lengan kirinya di pinggang Yuna, menghilangkan jarak diantara mereka. Yuna terkesiap pelan dan memelototi Jonghyun.

“Jangan sentuh aku.” Gumam Yuna dari sela-sela mulutnya yang terkatup rapat.

“Atau kau mau aku menggendongmu lagi?”
”Aisssh!” Gerutu Yuna sepanjang perjalanan mereka malam itu.

***

Seorin duduk dibangkunya dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan mendengus berkali-kali. Seorin terus menatap sekotak bekal makan siang yang sama persis seperti miliknya dengan kesal. Seorin menggigiti lolipop yang ada di dalam mulutnya untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Minho telah berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang mereka yang tinggal seatap untuk sementara waktu—dan tentunya Seorin harus membayar mahal untuk menutup mulutnya. Tapi kenapa pula Minho harus lupa membawa bekal makan siangnya? Seorin bisa saja pura-pura tidak tau dan membiarkan Minho makan di cafetaria—toh itu tak akan membunuhnya. Tapi—lagi-lagi—Seorin tak bisa berbuat apa-apa saat Nyonya Lee memaksanya untuk mengantarkan bekal milik Minho dengan alasan masakan rumah jauh lebih enak dan sehat. Dan tentu saja Seorin sudah melakukan segala cara agar Nyonya Lee melepaskannya kali ini. Ia sudah mengeluarkan aegyo-nya, merengek bahkan memohon tapi Nyonya Lee tetap saja tidak mempedulikannya. Dunianya benar-benar jungkir balik sejak kedatangan Minho ke rumahnya. Sudah pasti, hidupnya yang tenang berubah bagai di neraka. Tamu kehormatan orangtuanya telah ‘melecehkan’ nya disetiap kesempatan dan sekarang aegyo miliknya justru tidak mempan terhadap Nyonya Lee, padahal dalam keadaan normal Nyonya Lee selalu luluh terhadap aegyo anak semata wayangnya itu.

Seorin mendengus untuk kesekian kalinya dalam 5 menit itu.

“Ah! Lee Seorin, kau cukup mengantarkan bekal ini padanya secara diam-diam. Tak akan ada orang yang tau ataupun curiga, dan yang lebih penting lagi eomma tidak akan memarahiku.” Gumam Seorin tak karuan pada dirinya sendiri.

“Aku bilang, letakkan itu, Il Sora.” Seorin mengalihkan perhatiannya ke bagian belakang ruang kelasnya. Karena jam istirahat, banyak siswa yang masih keluyuran dan kelas agak sepi. Seorin melihat Key dan Sora saling berhadapan dan terlihat sedang ‘bertarung’ sengit.

Key berkacak pinggang dan memberikan tatapan laser yang sepertinya bisa menghancurkan orang yang ia tatap hingga berkeping-keping, tapi Sora justru terlihat baik-baik saja dan balas menatap Key tanpa rasa takut. Sora mengacungkan sebuah majalah fashion dihadapan Key dan menggoyang-goyangkannya.

Sora menyeringai pelan dan menyembunyikan majalah itu dibalik tubuhnya saat Key mencoba meraih kembali majalahnya yang entah sejak kapan diambil alih oleh Sora.

“Bagaimana menurutmu kalau kurobek majalah ini? Pasti saat kau membacanya kau akan selalu teringat padaku kan?” Sora memasang senyum manis yang jelas sekali terlihat palsu. Key mendengus pelan dan menangkap sesuatu yang menarik dari ekor matanya.

“Geurom, robek saja. Tapi jangan salahkan aku kalau aku membuang bukumu.” Key balas menyeringai penuh kemenangan. Key mengambil buku Sora dari atas meja nya dan mengikut apa yang dilakukan Sora padanya tadi—mengacungkannya di hadapan Sora dan melambai-lambaikannya.

“ANDWAE! Jangan coba-coba untuk berbuat sesuatu pada buku tugasku, Kim Kibum. Atau kau akan mati!” Sora terbelalak. Jangan sampai Key membuang bukunya. Itu adalah buku yang berisi tugas penting yang harus dikumpulkan setelah jam istirahat berakhir. Dan mereka sama-sama tau kalau tugas itu tidak dikumpul, berarti jam tambahan akan menunggu mereka.

“Jadi kau tau kan bagaimana rasanya melihat benda berharga-mu berada dalam bahaya? Ayo barter. Kau kembalikan majalahku dan aku akan kembalikan buku tugasmu.” Key mengulurkan tangannya yang bebas, bersiap menerima kembali majalahnya. Sora memberengut. Padahal akhirnya ia bisa membuat Key—musuh bebuyutannya—panik, tapi Key justru membalikkan keadaan. Key tersenyum lebar, tau bahwa ia pasti berhasil menang kali ini.

“Geure. Ambillah majalah jelekmu ini. Dasar banci…” Cibir Sora dengan kesal. Sora menghentakkan majalah yang ia pegang diatas telapak tangan Key.

“Mwo? Kau bilang aku apa tadi?” Senyum diwajah Key menghilang seketika itu juga.

“Bukuku.” Sora mengulurkan tangannya ke depan dan meminta bukunya tanpa menyadari kemarahan diwajah Key. Key berjalan mendekati jendela dan langsung melempar buku tugas Sora dari lantai 4.

“YAAAA! KIM KIBUM!!” Sora berlari menghampiri Key dan mengintip melalui jendela, melihat bukunya yang sudah terjatuh ke lantai dasar.

“YAAAAA! Bukankah kau bilang barter? Bagaimana bisa kau menelan ludah mu sendiri!?” Omel Sora. Key menyeringai sinis dan menarik tangan Sora agar mendekat.

“Ini balasan karena kau mengatakanku banci. Lain kali kudengar kau mengatakan itu lagi padaku, akan kubuat kau merasakan betapa manly nya aku.”  Bisik Key. Key mendelik selama sedetik pada Sora lalu berlalu pergi.

“OMO! Tugasku!!!” Teriak Sora. Ia mengintip dari balik jendela sekali lagi sebelum akhirnya berlari dengan cepat ke lantai dasar.

Seorin hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dua orang itu. Yah, jika ada satu hari saja ia tidak mendengar suara teriakan dari Sora dan Key, itu berarti masalah besar. Seorin melirik jam tangannya dan terlonjak pelan. Jam istirahat hampir habis, dan kalau ia tidak cepat-cepat memberikan bekal milik Minho, mungkin saja jam pelajaran selanjutnya sudah dimulai. Seorin membuang tangkai lolipopnya ke tempat sampah dan berjalan keluar dari kelas dengan cepat.

“Urgh! Di mana aku harus mencarinya? Di kelasnya? Atau di ruang OSIS?” gumam Seorin pada dirinya tanpa henti-hentinya celingukan di sepanjang koridor.

“Seorin-ah, sedang apa kau? Mencari Sora? Tadi sepertinya aku melihat dia berlari turun sambil terus mengumpat nama Key. Mereka bertengkar lagi?” Yuna muncul dihadapan Seorin dan menatap ke arah tangga tempat ia melihat Sora berlari turun tadi.

“Oh, kau seperti tidak tau mereka saja. Oh ya, apa kau tau di mana Minho sekarang?”
”Minho? Choi Minho? Minho si ketua OSIS itu? Yang sekelas denganku?” Yuna memiringkan kepalanya dan menatap Seorin dengan tidak percaya. Tidak biasa-biasanya Seorin menyebutkan nama Minho, apalagi mencarinya.

“Biasanya dia diatap gedung sekolah.” Lanjut Yuna. Meski ia tidak tau ada apa, ia tetap harus membantu sahabatnya yang terlihat terburu-buru.

“Gomawo, Yuna-ya. Sepulang sekolah kita bertemu di toko es krim yang biasa ya.” Sahut Seorin sambil berlari kecil. Yuna menatap bayangan punggung Seorin hingga menghilang dibalik tangga.

“Ada yang aneh.” Yuna menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya kembali ke kelas.

Seorin sampai diatas gedung sekolah, tapi ia tidak melihat seorang pun yang ada di sana.

“Astaga! Ke mana lagi si mesum itu?” Omel Seorin. Ia sudah lelah karena harus berkeliling tak jelas dan masih saja tidak menemukan Minho.
”Kau sedang mencariku?” Suara Minho tiba-tiba saja terdengar. Seorin terlonjak pelan, kaget karena tidak tau dari mana sumber suara Minho. Seorin memutar tubuhnya dan memandang ke sekeliling, tapi masih saja tidak menemukan Minho.

Sebuah lengan melambai pelan dari balik tangga. Seorin berjalan mendekat secara perlahan dan melihat Minho tengah bersandar dibalik tangga, pantas saja ia tak bisa menemukannya. Minho yang memakai kacamata benar-benar terlihat seperti kutu buku—menurut Seorin, tapi siapa yang tau akan berubah jadi apa dia tanpa kaca matanya?
”Nih, bekal makan siangmu.” Seorin menyodorkan bekal yang dari tadi ia pegan tanpa melihat ke arah Minho. Minho menarik tangan Seorin dengan pelan tapi kuat, membuat Seorin terjatuh diatas tubuh Minho. Seorin memanatap Minho dengan matanya yang membesar sementara Minho tersenyum nakal. Minho melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di samping.

“Selamat makan…” Ucap Minho lalu mendekati Seorin, berusaha mengecup bibir Seorin.

“Yaaa! Apa yang kau lakukan?” Dengan cepat Seorin membekap mulut Minho sebelum bibir mereka bersentuhan.

Minho menyingkirkan tangan Seorin dan berbisik di bibir Seorin. “Bukankah kau adalah makan siangku?”

Seorin memutar bola matanya yang diikuti tawa dari Minho. Minho melepaskan Seorin dan membuka bekal makanannya. Ia mengamati masakan yang dibuat oleh Nyonya Lee sambil mengigit ujung sumpitnya.

“Bukan kau yang masak, kan?” Ejek Minho. Seorin tersenyum sinis dan bersiap untuk pergi, tapi pintu atap gedung sekolah terbuka dengan suara berdebam keras. Seorin kembali berjongkok di samping Minho.

Bagaimana kalau ada yang tau ia memberikan bekal makan siang pada Minho? Bagaimana kalau ada yang tau Minho dan dirinya tinggal serumah? Pikiran-pikiran itu terus menghantui Seorin. Minho mengintip dari balik tangga, diikuti Seorin  yang penasaran siapa yang naik ke atap gedung sekolah.

Taemin menarik tangan Minji dengan keras dan menghempaskannya dengan kasar.

“Awww! Apa kau tidak tau kalau itu sakit?” Minji memelototi Taemin dan mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.

Taemin meletakkan kedua tangannya dipinggang dan berdecak.

“Kenapa lagi kau ini?” Tanya Minji lagi meski Taemin masih belum menjawab pertanyaannya yang tadi.

“Bukankah sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak dekat-dekat dengan L. Joe? Dammit, apa bahkan sekarang kau tidak mendengarkan kata-kataku lagi!?” Bentak Taemin cukup keras meski tidak membuat Minji gentar sama sekali.
”Neo waeire? Dewasalah sedikit, Lee Taemin. Kami sama-sama pengurus kelas, jadi sudah pasti kalau kami akan lebih sering bersama untuk satu tahu ke depan.” Minji melipat kedua lengannya dengan sikap menantang. Jika semua orang takut pada Taemin yang sedang marah, maka Minji sedikitpun tidak merasakan ketakutan yang orang-orang itu rasakan.

“See? Inilah kenapa aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. That L. Joe guy is a big problem!!” Teriak Taemin lagi.

Minji menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan.
”Minggu lalu kau memarahiku karena Jonghyun oppa, beberapa hari yang lalu kau juga menarikku ke sini karena ada teman sekelas yang ingin memintaku membantunya mengerjakan soal matematika dan sekarang karena L. Joe. Apa kau tidak menyadarinya? Satu-satunya masalah di sini adalah kau, Tuan Lee Taemin yang terhormat.” Minji menatap Taemin dengan sinis dan berjalan melewati Taemin. Taemin menahan lengan Minji, kali ini sama sekali tidak menggunakan tenaga.

“We’re just a childhood friends. Stop act like you’re my boyfriend.” Ucap Minji lirih, lalu menghempaskan tangan Taemin. Minji menuruni tangga dengan cepat, meninggalkan Taemin yang mematung seorang diri.

“Fuck!!!” Taemin menendang udara kosong dihadapannya dan terus mengumpat.

“Kau tidak salah lihat, dia memang maknae kami yang imut.” Ucap Minho santai sambil memasukkan sesuap nasi terakhir ke dalam mulutnya saat melihat pandangan Seorin yang seolah tidak percaya.

“Maldo andwae. Kalau Sora melihat hal ini, mimpinya pasti hancur.” Seorin terkekeh pelan membayangkan wajah Sora jika tau maknae favoritnya ternyata tidak sepolos yang ia pikir.

“Hmm, bisa aku mendapatkan dessert ku sekarang?”

“Mwo? Dessert? Cih, kau pikir kau sedang berada di restoran, huh?”

“Ani, aku tau aku sedang berada di sekolah, dan sedang bersamamu.”

Minho merengkuh tengkuk Seorin dan menyatukan bibir mereka. Minho melumat bibir Seorin dengan perlahan, menikmati Seorin dan pemberontakkannya disaat yang bersamaan. Rasanya benar-benar menyenangkan baginya.

Seorin mengulurkan tangannya, berusaha menjauhkan Minho dan melepaskan diri. Tapi tenaganya tidak sebanding dengan Minho yang sedikitpun bergeming tanpa mengeluarkan tenaga.

“Mpfffh!” Seorin mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak terdengar jelas. Minho menghentikan ciumannya dan beralih ke telinga Seorin untuk berbisik.

“Ssst.. Kau tidak ingin Taemin tau apa yang sedang kita lakukan, kan?” Bisik Minho dengan suara rendah. Tangan kiri Minho bermain di telinga Seorin yang lain. Minho menyelipkan beberapa helai rambut Seorin di balik telinganya. Seorin menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah siap meledak saking merahnya.

Minho menggigit pelan telinga Seorin yang hanya bisa mencengkram lengan Minho lebih erat.

Sekali lagi Minho menyapukan bibirnya diatas bibir Seorin, kali ini hanya mengecupnya dengan lembut karena ia tidak ingin kehilangan kendali.

Bersentuhan dengan Seorin dan mencicipinya hanya membuat Minho selalu merasa tidak puas. Dan ia tidak ingin—belum ingin—merusak reputasi baiknya di sekolah.

“Terima kasih untuk dessertnya, aku mengharapkan sesuatu yang lebih lain kali.” Goda Minho. Minho menjilati bibir, lalu kembali mengenakan kacamatanya dan beranjak pergi.

“Hyung! Sejak kapan kau ada di sana?” Tanya Taemin bingung begitu Minho muncul ditempat yang sama dengannya.

“Kajja, kelas akan dimulai sebentar lagi.” Minho merangkul pundak Taemin dan menariknya turun sebelum Taemin bisa melihat kehadiran Seorin dibalik tangga.

Seorin masih terduduk ditempatnya. Ia ingin berdiri dan segera kembali ke kelas seperti yang dilakukan Taemin dan Minho, tapi kakinya terasa sangat lemas dan tidak bisa menumpu dirinya jika ia berdiri. Seorin meletakkan telapak tangannya di dadanya yang sekarang bergemuruh tak karuan. Detak jantungnya menggila hanya dengan mengingat kejadian tadi. Jelas-jelas Minho hanyalah namja mesum bermuka dua yang selalu mengganggunya. Tapi kenapa Seorin masih bisa berdebar-debar seperti itu setiap kali Minho mendekatinya?

Seorin menggerakkan telapak tangannya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat karena sentuhan Minho.

***

“Hah!”
”Hah!”

Seorin dan Yuna menghela nafas disaat yang bersamaan dan memerosotkan bahu mereka.

“Waeyo?” Tanya mereka bersamaan, lalu terkekeh.

“Yah, tidak salah kalau kita memang berteman.” Sahut Yuna.

Seorang pelayan datang mengantarkan dua gelas es krim pesanan mereka.

“Mana Sora kenapa dia tidak ikut?” Yuna menyendokkan es krim vanila ke dalam mulutnya.

“Dia ada jam tambahan gara-gara terlambat masuk ke kelas. Dan aku berani sumpah, sekarang dia pasti sedang merutuki Key.” Yuna mengangguk setuju. Jelas ia tau bagaimana sifat Sora. Dan mereka selalu heran kenapa Sora dan Key tidak pernah bisa akur meski ini adalah tahun kedua mereka dikelas yang sama, bahkan duduk di bangku yang bersebelahan pula.

“Oh iya, kenapa tadi kau mencari Minho? Hmm?”

“Ah, ani. Tidak ada apa-apa.” Elak Seorin. Yuna menatapnya dengan tidak percaya, tapi membiarkannya begitu saja. Toh ia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi antara Minho dan Seorin.

Setelah Yuna mengucapkan nama Minho, benak Seorin kembali dipenuhi oleh namja itu.  Seorin benci untuk memikirkannya, karena hanya akan membuat dia jadi tambah bingung. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Ia sungguh tidak mengerti kenapa ia merasa begitu nyaman berada di sekitar Minho, seharusnya ia tidak merasakan hal itu karena Minho adalah orang yang berbahaya. Minho bisa saja merengut keperawanannya—yang selalu membuat Seorin bergidik ngeri membayangkannya. Tidak mungkin perasaan yang ia rasakan adalah suka, apalagi cinta. Terlalu tidak masuk akal dan tidak bisa ia terima. Selama hidupnya ia mendengar dan melihat Choi Minho sebelum Minho tinggal di rumahnya ia selalu merasa kesal—entah mengapa. Tapi sejak Minho tinggal di rumahnya—tiga hari—ia justru merasakan hal yang lain. Perasaannya campur aduk saat ini, ia sebagai pemilik hati dan pikirannya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya dan ia tidak suka itu.

“Ugh, aku benci mengatakan ini, tapi aku harus pulang sekarang. Ada namja menyebalkan yang menunggu untuk kutendang jauh-jauh.” Yuna menatap layar hp nya sekilas lalu beralih pada Seorin.
”Ada apa denganmu? Aku tidak tau kau bisa mengatakan kata-kata seperti itu?” Seorin menaikkan sebelah alisnya. Yuna mengangkat bahunya dan keluar meninggalkan Seorin.

Setelah duduk seorang diri selama beberapa jam, Seorin memutuskan untuk pulang. Ia yakin orangtua pasti sedang keluar lagi dan ia tidak mau berduaan saja dengan Minho.

Langit sudah sangat gelap saat Seorin keluar dari toko es krim dan berjalan pulang. Meski masih ada kendaraan dan pejalan kaki yang lalu lalang, jalanan menjadi lebih sepi dari biasanya karena cuaca yang dingin. Seorin merapatkan jaketnya dan melindungi dirinya sendiri dari terpaan angin dingin. Sebuah lorong yang biasa ia lalui terlihat sangat gelap dari kejauhan. Seorin bergidik ngeri. Tidak pernah ia pulang selarut ini dan sejujurnya ia agak takut karena harus melewati lorong segelap itu. Tapi hanya itulah satu-satunya jalan untuk mencapai rumahnya.

Seorin mempercepat langkahnya, berharap ia segera keluar dari lorong itu dan kembali ke jalan raya. Dua orang namja yang terlihat agak mabuk berdiri di tengah-tengah lorong semakin membuat Seorin bergidik ngeri. Seorin menundukkan wajahnya, berharap namja itu terlalu mabuk untuk menyadari kehadirannya.

Salah seorang dari namja itu berhenti tepat dihadapan Seorin dan menatap Seorin dalam-dalam. Seorin tersentak pelan dan menghentikan langkahnya karena terkejut. Saat Seorin hendak kembali melangkah, pria yang lain menarik tangannya dengan paksa.

“Mau bermain dengan kami?”

Seorin bisa mencium aroma alkohol yang begitu menyengat dari mulut namja itu dan aroma itu mengocok perutnya, membuatnya mual.

“Tsk, aku tidak tau kalau ada yeoja sepertimu di sekitar sini. Ayolah, main bersama kami..” Namja yang menarik tangan Seorin mulai mendekat dan mneyentuh pipi Seorin. Tubuh Seorin bergetar pelan karena rasa takut.

“A-ani! Lepaskan aku!!” teriak Seorin berharap akan ada orang yang mendengarnya dan menolongnya. Tapi sepertinya semua orang terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri hingga tak mendengar suara Seorin dari balik remang-remang cahaya. Hampir saja Seorin ingin menangis membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya ketika ia mendengar suara yang—sudah familiar—di telinganya.

“Lepaskan dia..” Minho muncul dengan kedua tangannya terselip dibalik saku celana denim ketatnya. Seorin menghembuskan nafas lega. Ia tidak tau apakah Minho akan bisa menolongnya atau tidak, tapi hanya dengan melihat Minho di hadapannya sekarang sudah mampu membuat ia merasa aman.

“Kupikir siapa, ternyata dua orang pencundang dari Cube High School. Yang Yoseob dan Son Dongwoon.” Ejek Minho sambil menyeringai.

“Mwo? Kau bilang kami apa?” Tanya Yoseob. Yoseob menghempaskan lengan Seorin dengan kasar, membuat Seorin hampir saja terjatuh jika Dongwoon tidak segera menangkap tubuhnya. Yoseob melangkah maju, mengepalkan tangannya dan melayangkan ke arah Minho. Namun karena pengaruh alkohol yang telah mengambil alih 90 persen dirinya, Yoseob bahkan tidak bisa melihat dengan tepat di mana Minho berada hingga akhirnya Yoseob hanya bisa meninju udara kosong dihadapannya dan kehilangan keseimbangan. Minho segera berbalik, mencengkeram kerah baju Yoseob dan melayangkan beberapa tinjunya yang menghantam wajah Yoseob.

Dongwoon melepaskan Seorin dan segera menghampiri Minho. Dongwoon menahan lengan Minho, membuat Minho menghentikan tinjunya.

“Hentikan. Kami tidak melakukan apapun pada temanmu, jadi kau juga harus berhenti memukul Yoseob hyung.” Ucap Dongwoon dengan tenang. Minho menatapnya dengan penuh amarah selama beberapa detik sebelum Minho menghempaskan tangan Dongwoon dan melepaskan Yoseob yang sekarang sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya karena pengaruh alkohol dan pukulan Minho. Dongwoon merangkulkan lengan Yoseob dilehernya, membantu Yoseob berdiri. Dongwoon memperhatikan Minho yang menghampiri Seorin tanpa berkedip.

“Gwaenchana?” Tanya Minho dingin. Seorin mengangguk pelan, masih terlalu takut dengan apa yang terjadi tadi. Minho mengulurkan tangannya pada Seorin dan membantu Seorin berdiri.

“Berhenti menatapku dengan pandangan menjijikkan milikmu..” Cerca Minho saat melewati tempat Dongwoon berdiri.

“Kupikir itu semua sudah berakhir, bukankah sudah dua tahun berlalu? Dan kau masih memikirkan orang itu sampai saat ini? Sadarlah, dia tidak seperti yang kau lihat. Kepergiaannya justru lebih baik untukmu.” Dongwoon mengucapkan kata-katanya dengan tenang, sama sekali tidak takut kalau Minho akan memukulnya.

Minho mengatupkan rahangnya dengan erat. Kalau saja ia tidak menggenggam tangan Seorin saat ini, ia pasti sudah berbalik dan menghajar Dongwoon karena kata-katanya. Minho memilih untuk berpura-pura tidak mendengar  dan terus berjalan.

“Aku merindukan Choi Minho yang dulu ku kenal ..” Bisik Dongwoon lirih setelah Minho semakin menjauh darinya.

To Be Continue …


a/n :: waaah~ Part 2 selesai !!

meskipun kemarin part 2 nya sempet ke hapus =.=” yang akhirnya terpaksa harus aku ketik ulang, akhirnya sekarang selesai =DD

So, how about this chapter??
Yaaay! Dongwoon dan Yoseob muncul sebagai cameo =P

Ada apa ya antara Minho & Dongwoon dulu???

Masih akan ada bb & gb (moga-moga) yang lain yang bakal muncul di part2 selanjutnya^^

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

183 thoughts on “The Pervert Nerd – Glasses 2

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s