The Pervert Nerd – Glasses 5

TITLE : The Pervert Nerd (Glasses 4)

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast :

  • Choi Minho
  • Yoo-moogeun as Lee Seorin

Support Cast :

  • Key
  • Onew
  • Kim Jonghyun
  • Key
  • Lee Taemin
  • Ryeoshibum21 as Il Sora
  • Fairuz Kim as Kim Rinhae
  • Lana Carter’s Han Yuna
  • Minniemint as Park Minji
  • B2ST

Length : Sequel

Genre : Romance, Angst, Sad, Humour, Friendship

Rating : PG – 16

a/n ::

Mian, chapter ini paling lama nongol karena minggu kemarin author lagi banyak kerjaan~~
Happy reading =)

THE PERVERT NERD

 

Yuna membuka tirai kamarnya, berjalan keluar ke balkon kamar dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya. Yuna menunduk, melihat berbagai macam bunga dipekarangan rumahnya yang selalu dirawat dengan baik oleh tukang kebun keluarga Han. Yuna memicingkan matanya saat sebuah mobil lamborgini yang tidak ia kenali terparkir manis di depan rumahnya. Sedikit pertanyaan melayang-layang dibenaknya, tapi ia biarkan begitu saja. Yuna tersenyum pada dirinya sendiri, bersiap menyambut satu lagi hari yang menyenangkan.

Yuna mengambil seragam sekolahnya dan masuk ke dalam kamar mandi sekitar 20 menit. Yuna mengeringkan rambut panjangnya yang baru saja ia keramas dan menjalin seluruh rambutnya ke sisi sebelah kiri. Yuna memperhatikan bayangan dirinya dari pantulan cermin sekali lagi, merapikan dasi dan blazernya lalu mengambil tasnya dan berlari turun ke ruang makan setelah puas dengan penampilannya.

“Pagi appa!” Sapa Yuna dengan ceria dan langsung menghampiri Tuan Han yang sedang membaca koran di ruang makan. Tuan Han tertawa kecil melihat tingkah laku Yuna yang selalu membawa keceriaan di keluarga mereka.

“Sudah siap untuk sarapan?” Tanya Tuan Han pada Yuna yang sekarang memutari kursinya dan meneguk segelas susu dengan cepat lalu meraih sepotong sandwich dari atas meja dengan buru-buru.

“Aku hampir terlambat, appa. Aku akan sarapan di dalam mobil saja.” Pamit Yuna yang langsung berlari keluar sebelum Tuan Han sempat mengatakan sesuatu padanya.

“Eomma, aku be—“ Yuna membeku ditempatnya begitu ia melihat Nyonya Han tengah duduk di ruang keluarga dan asyik mengobrol bahkan tertawa bersama seorang namja.

Ekspresi wajah Yuna langsung berubah, wajah Yuna memberengut.

“Oh, Yuna. Kau sudah siap?” Nyonya Han menyadari kehadiran Yuna dan berdiri dari sofa bersamaan dengan Jonghyun yang memandang Yuna dengan ekspresi yang tidak bisa Yuna baca.

“Jonghyun datang untuk menjemputmu, cepatlah pergi ke sekolah.” Nyonya Han menghampiri Yuna dan mendorongnya ke arah Jonghyun yang dengan sigap menangkap Yuna sebelum mereka berdua terjatuh. Yuna memandang Jonghyun dengan tajam, membuat Jonghyun harus menahan senyumnya. Jelas sekali Yuna adalah orang yang berterus terang dan tidak menyembunyikan apapun, Jonghyun bisa melihatnya hanya dari ekspresi wajah Yuna yang sekarang benar-benar terlihat seperti sedang merutukinya.
Tetap saja, dia terlihat imut, batin Jonghyun

Yuna menghempaskan tangan Jonghyun, berdiri dengan tegap dan melangkah keluar dari rumah dengan setiap langkah yang ia hentakkan.

Jonghyun segera menyusul Yuna begitu ia mengucapkan salam pada Nyonya Han. Jonghyun berlari kecil, ingin membukakan pintu bagi Yuna, tapi Yuna sudah terlebih dulu membuka pintu untuk dirinya di kursi belakang.

Jonghyun menghela nafas pelan dan memutar bagian depan mobil untuk masuk ke kursi pengemudi. Jonghyun menatap bayangan Yuna yang sedang melihat keluar jendela melalui kaca.

“Aku bukan supirmu, jadi duduk di depan.” Pinta Jonghyun tanpa ada paksaan dalam suaranya. Yuna balas menatap Jonghyun sedetik lalu memalingkan wajahnya. Jonghyun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yuna.

Selama perjalanan ke sekolah, tidak ada suara dari Jonghyun dan Yuna yang terdengar kecuali lagu yang diputar oleh Jonghyun.

Jonghyun memarkirkan mobilnya begitu ia sampai di sekolah dan segera turun. Ia mendelik ke arah Yuna yang masih duduk di kursi belakang. Jonghyun membukakan pintu Yuna dan mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Yuna.

“Kau tidak mau turun, nona besar?” Tanya Jonghyun dengan nada mengejek diakhir kalimatnya.

“Tidak, aku akan turun setelah—“Yuna melirik jam tangannya dan melanjutkan “— 3 menit kau keluar. Aku tidak mau ada orang yang melihatku turun dari mobil bersamamu.” Jelas Yuna.

“Kau pikir aku datang ke rumahmu dan mengusulkan diriku sendiri untuk menjemputmu? Kalau bukan karena orangtuaku mengancam akan membekukan kartu kreditku, aku tidak akan sebaik itu.” Tukas Jonghyun dengan nada bosan, masih berdiri di hadapan Yuna dan menunggu Yuna untuk keluar dari mobil.

“Aissh!” Gerutu Jonghyun karena Yuna benar-benar tidak ingin keluar dari mobilnya sebelum Jonghyun masuk ke kelas terlebih dahulu. Jonghyun menarik tangan Yuna agak kuat, membuat yeoja itu agak kewalahan dan akhirnya keluar dari mobil Jonghyun.
”Berhentilah bertingkah aneh.” Gumam Jonghyun pelan. Jonghyun menundukkan kepalanya, mengambil tas Yuna yang masih berada di dalam mobil dan menyerahkannya pada Yuna.

“Berhentilah memikirkan gengsi-mu. Kau tidak mau telat masuk ke kelas kan?” Tanya Jonghyun yang berhasil membuat Yuna akhirnya berjalan.

“Hei…” Panggil Yuna pelan. Tidak yakin Yuna sedang berbicara padanya, Jonghyun hanya menatap Yuna dari belakang.

“Yaaa, aku sedang berbicara denganmu.” Geram Yuna yang menoleh ke arah Jonghyun.

“Namaku bukan ‘hei’ atau ‘yaaaa’ “ Jawab Jonghyun santai. Yuna tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan kata-katanya.
”Apa kau tidak punya rencana untuk membatalkan pertunangan ini?” Tanya Yuna. Jonghyun mengedipkan matanya berkali dengan santai dan menggeleng.

“Kenapa aku harus memikirkan rencana untuk membatalkan pertunangan?” Jonghyun balik bertanya dengan polosnya.

“Kau mau menikah karena perjodohan?”
”Aku tidak peduli, selama yang kunikahi adalah wanita, aku oke saja.” Jonghyun mengangkat pundaknya membuat Yuna menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ada dipikiran Jonghyun.

“Hmm? Ada apa di sana?” Jonghyun melihat kerumunan orang di halaman sekolah. Karena penasaran, Yuna dan Jonghyun berjalan berdampingan ke sumber keramaian tanpa mereka sadari.

Mereka menembus keramaian dan melihat Seorin yang tengah menundukkan wajahnya, serta Sora dan Key yang juga datang di saat yang bersamaan dengan mereka.

***

“YAAAAA! NEO MICHEOSO!??” Teriak Seorin sambil menghempaskan tangan Minho yang dari tadi menggenggamnya dan menariknya hingga ke ruangan OSIS. Minho mengunci pintu dengan rapat dan membalikkan tubuhnya untuk menatap Seorin.

“Kau seharusnya berterima kasih karena aku menyelamatkanmu, benarkan?” Minho menaikkan sebelah alisnya.

“Mwo?? Kau baru saja membuatku mempunyai anti-fans! Tidak hanya segudang, tapi satu sekolah!” Seorin mendesah frustasi yang tanpa sadar menggigiti bibir bawahnya. Minho melangkah maju, membuat Seorin mengerutkan keningnya dan melangkah mundur. Seorin berhenti ketika ia sadar ia tidak bisa mundur lagi. Punggungnya menabrak pinggiran meja, Minho menyeringai pelan meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja di samping tubuh Seorin.

“You’re damn sexy, baby…” Ucap Minho dengan suara rendah yang menggoda. Tapi sayangnya Seorin tidak punya waktu terpesona oleh suara Minho disaat serius seperti ini. Seorin mendorong tubuh Minho menjauh dan mendelik padanya.

“Bisakah kau tidak bermain-main disaat seperti ini?” Seorin menahan suaranya agar tidak berteriak kencang. Minho tertawa pelan. Melihat Seorin yang frustasti justru membuat dia tergelitik.

“Lalu apa lagi yang bisak kita lakukan? Mereka memotret kita saat pulang kemarin. Jadi haruskah kukatakan kalau kita tinggal serumah? Tentu tidak, kan?” Minho melonggarkan simpul dasinya, melepaskan kacamatanya dan memainkannya ditangannya.

“Kau kan bisa bilang kalau yang difoto itu bukan kau? Atau kau bisa bilang kalau kita tidak sengaja bertemu di jalan?” Protes Seorin.

“Pffft, mereka tidak akan percaya. Hanya aku yang memiliki wajah setampan itu. Lagipula, apa itu, tidak sengaja bertemu di jalan? Itu alasan yang sangat klise. Drama tahun berapa yang kau tonton? Seharusnya kau menonton film-film yang lebih dewasa, seperti—“
”Ugh, berhenti berpikiran jorok!” Tukas Seorin saat ia melihat seringai di wajah Minho yang sangat khas saat ia memikir sesuatu yang menggelikan.

Minho kembali mendekati Seorin, memanjangkan kedua lengannya di pundak Seorin dengan malas lalu menatap lurus ke dalam mata Seorin.

“Tenanglah, aku akan menjagamu, i swear…” Ucap Minho setengah berbisik yang berhasil membuat Seorin agak tenang.

***

“Jadi—“ Yuna memandang Seorin dan Sora secara bergantian yang sengaja menghindari tatapannya sambil menyurup minuman dinginnya, “—penjelasan apa yang kalian siapkan untukku?”
Seorin dan Sora saling berpandangan, menunggu satu sama lain siapa yang akan menjelaskan lebih dulu. Seorin berpura-pura tidak tau dan menikmati es krim cokelatnya yang hampir meleleh. Sora menghela nafas pelan, menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Baiklah, akan kukatakan. Aku dan Key… Kami sekarang berpacaran. Tapi jangan tanya bagaimana, aku sendiri juga cukup bingung.” Ucap Sora dengan suara yang sangat pelan. Yuna melompat kecil ditempat duduknya.

“Chukkae! Aku tidak menyangka kalau kalian bisa bersama. Aku masih ingat saat Seorin berharap hubungan kalian membaik, tapi ini sangat baik! Aku tidak perlu khawatir tidak akan namja yang mau bersama dengan yeoja yang super galak sepertimu.” Yuna terkekeh pelan dan menepuk pundak Sora beberapa kali.

“Dan kau Lee Seorin? Apa penjelasanmu untukku?” Yuna memicingkan matanya, masih meletakkan telapak tangannya di pundak Sora. Seorin menggerak-gerakkan bola matanya dengan gelisah. Ia sendiri tidak tau apa yang sedang terjadi, semuanya terjadi dengan sangat tiba-tiba.

“Jangan menanyaiku terus, aku juga tidak mengerti. Semuanya terjadi begitu saja.” Erang Seorin geram, ia menusuk-nusukkan sendoknya ke dalam gelas es dihadapannya.

“Ah, pantas saja dia selalu mengomel kalau aku memuja Minho. Dia cemburu karena aku memuja pacarnya. Seharusnya kau ceritakan pada kami sejak awal, jadi kami akan berhenti memuja pacarmu itu.” Ejek Sora yang sudah lupa bahwa beberapa menit yang lalu ia juga menjadi ‘tersangka’ yang dimintai penjelasan.

“Sepertinya mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengan Minho. Aku tidak mau melihat Seorin cemburu padaku.” Timpal Yuna bersemangat. Seorin menghembuskan nafasnya dan menggelengkan kepalanya.

“Tunggu dulu! Jadi hanya aku saja yang tidak punya pacar?” Protes Yuna begitu menyadari sekarang kedua temannya tidak lagi jomblo.

“Kau bisa pacaran dengan Jonghyun kalau kau mau!” Usul Sora. Seorin mendelik, tertarik dengan topik pembicaraan yang sekarang tidak lagi mengarah padanya dan Minho.

“Mwo!?”
”Ne! Apa kau tidak lihat reaksinya sewaktu Key menjelek-jelekkan dia? Kim Jonghyun melirik ke arahmu!” Lanjut Sora hampir-hampir berteriak. Seorin bertanya tentang kebenarannya pada Yuna karena dia langsung ditarik paksa oleh Minho dan tidak melihat kejadian yang dimaksudku Sora. Yuna melipat kedua tangannya, memberengut kesal dan melakukan aksi tutup mulut.

Sora dan Seorin tertawa bersamaan, menepukkan kedua telapak tangan mereka diudara begitu mereka berhasil membuat Yuna kesal.

“Kupikir siapa, ternyata kau. Hai ladies.” Sapa Dongwoon sambil melambaikan tangannya dengan santai.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Seorin kaget karena tidak pernah menyangka ia akan bertemu dengan Dongwoon selain ketika Dongwoon menungguinya di depan sekolah. Dongwoon memutar bola matanya.

“Pfft, apa yang bisa kulakukan di toko es krim? Membeli pizza?” Tanya Dongwoon dengan nada mengejek.

“Yaaa, Dongwoon-ah, apa yang kau lakukan?” Kikwang menghampiri Dongwoon setelah ia mendapatkan es krim yang mereka inginkan. Kikwang menatap ketiga orang yeoja yang balas menatapnya dan tersenyum lebar.

“Kau tidak pernah bilang kalau kau mengenal wanita secantik mereka?” Tanya Kikwang pada Dongwoon meski matanya terus terarah pada Seorin.

“Jangan macam-macam, dia itu milik Minho.” Dongwoon memperingati.

“Huh? Jinja? Aku tidak pernah menyangka dia akan bisa melirik yeoja lain selain—hmpft!” Dongwoon membekap mulut Kikwang yang mengayunkan tangannya ke udara.

“Um, sampai jumpa lain kali. Kaja hyung.” Dongwoon menarik Kikwang keluar dari toko secepat mungkin diikuti pandangan dari Seorin.

“Siapa dia?” Bisik Sora.

“Hm, hanya seorang teman. Jangan dipedulikan.” Jawab Seorin cuek. Hp Yuna berdering cukup nyaring, membuat perhatian kedua sahabatnya langsung teralih padanya. Yuna menatapi nomor tidak dikenal yang masuk ke hpnya sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.

“Nuguseyo? Mwo!? Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri dan kau juga tidak perlu mengantarku ke sekolah lagi.” Ucap Yuna ketus lalu memutuskan saluran telpon.

“Nugu?”
”Hmmm, supirku.” Jawab Yuna setelah ia berpikir selama beberapa detik. Yuna melirik jam tangannya, berpamitan pada sahabatnya karena dia harus segera pulang. Tidak lama setelah Yuna pulang, Sora juga berpamitan karena Key akan datang ke rumahnya sebentar lagi. Seorin mendesah pelan. Sekarang hanya tinggal dia seorang diri dan dia merasa bosan. Seorin menghabiskan es krim nya dengan cepat, ingin segera pulang dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

“Keberatan kalau aku menemanimu?” Tanya sebuah suara yang membuat Seorin terlonjak kaget karena terlalu tiba-tiba. Seorin mendongakkan wajahnya, melihat Dongwoon duduk dihadapannya di tempat Yuna duduk sebelumnya. Seorin memiringkan kepalanya dengan sebelah alisnya terangkat, memandang Dongwoon dengan curiga.

“Kenapa kau kembali lagi?”

“Aku melihat teman-temanmu keluar. Jadi kupikir lebih baik aku menemanimu di sini.”
Seorin mengangkat pundaknya, tidak terlalu peduli toh sebentar lagi dia juga akan pulang. Dongwoon menumpukan tangannya diatas meja dan menopang dagunya sambil terus memperhatikan Seorin tanpa berkata apa-apa. Seorin yang semakin merasa risih atas pandangan yang diberikan Dongwoon mau tidak mau menatap namja itu.

“Apa?” Tanya Seorin kesal.

“Bukankah kau bilang kau dan Minho tidak berpacaran? Bagaimana bisa tiba-tiba kalian sudah berpacaran selama setahun, huh?” Tanya Dongwoon penasaran.

“Bagaimana kau bisa tau!?” Tanya Seorin kaget, mengalihkan seluruh perhatiannya pada Dongwoon. Dongwoon menyeringai lemah.

“Kau tau, SHINee juga agak terkenal di CUBE High School dan berita itu sudah tersebar sejak jam pelajaran pertama dari mulut ke mulut.”

Seorin bergidik ngeri, mungkin dia salah jika dia mengatakan dia akan memiliki satu sekolah penuh berisi anti fans karena pada kenyataannya anti fans yang akan dia miliki jauh lebih banyak dari perkiraannya.

“Uh, kurasa aku harus pulang sekarang..” Ucap Seorin akhirnya setelah ia menenangkan dirinya sendiri dan menyakinkan bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Dongwoon ikut berdiri dan berdiri menghalangi jalan Seorin.

“Aku rasa aku tidak bisa menemuimu lagi mulai sekarang. Aku tau bagaimana protektifnya Minho, jadi dia pasti tidak akan membiarkan kita bertemu lagi.” Kata Dongwoon pelan. Seorin mengangguk pelan, mengiyakan. Meski pun ia dan Minho tidak pacaran ataupun memiliki hubungan apapun, tapi ia masih ingat dengan peringatan Minho untuk tidak bertemu dengan Dongwoon lagi.

“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?” Ucap Dongwoon lagi. Dengan ragu-ragu Seorin mengangguk. Dongwoon tersenyum manis, maju satu langkah dan merangkul Seorin dalam dekapannya.

“Aku pasti akan merindukanmu..”Bisik Dongwoon agak keras. Dongwoon melepaskan pelukannya. Mengantar Seorin sampai ke depan pintu toko dan melihat Seorin melaju pergi dengan pasti. Dongwoon menyeringai begitu melihat Seorin tak terlihat lagi di ujung jalan. Dongwoon mengeluarkan tangannya yang dari tadi ia masukkan ke dalam saku celana bersamaan dengan hp yang ia genggam. Dongwoon memutar hp itu dengan santai di tangannya dan bersiul pelan lalu berjalan ke arah tempat teman-temannya berkumpul.

“Ke mana saja kau?” Tanya Junhyung yang memandang Dongwoon dengan curiga. Doojoon dan Hyunseung yang duduk disampingnya ikut menoleh ke arah Dongwoon sementara Yeosob dan Kikwang asyik berebut es krim dan tidak mempedulikan kedatangan si maknae.

“Kurasa keahlianku belum menghilang sedikit pun.” Cetus Dongwoon masih terus menatap hp yang ada ditangannya dan duduk dengan santai di samping Kikwang.
”Kau mencuri hp siapa?” Doojoong mendekati Dongwoon dan memukul kepalanya.

“Ouch! Jangan menatapku seperti itu, hyung! Aku hanya butuh hp ini untuk memancing Minho.” Dongwoon mengelus puncak kepalanya yang berdenyut pelan.

“Minho?” Ucap member B2ST lainnya secara bersamaan yang ditanggapi dengan anggukan polos dari Dongwoon.

***

Seorin membereskan buku-buku pelajarannya setelah Kim seonsaengnim selesai memberikan tugas dan keluar dari kelas setelah bel pulang berbunyi. Sora berlari kecil menghampiri Seorin dan berjongkok di depan mejanya, meletakkan kedua tangannya ditepi meja Seorin.

“Seorin-ah, ayo kita pergi nonton.”Ajak Sora.

“Boleh.” Jawab Seorin tanpa bertanya lebih lanjut. Sora tersenyum lebar dan memeluk Seorin dengan cepat membuat Seorin hampir tercekik. Seorin memperhatikan Sora yang kembali berlari ke mejanya dan memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Key mengatakan sesuatu pada Sora yang dijawab dengan disertai senyuman. Seorin tersenyum kecil pada dirinya sediri.

Benar-benar keajaiban, pikirnya. Siapa yang menyangka jika akhirnya Key dan Sora berakhir sebagai sepasang kekasih? Hanya dengan berharap mereka berhenti bertengkar saja rasanya sudah terlalu sulit bagi Seorin, tapi sekarang mereka justru menjadi bagian satu sama lain.

Seorin selesai memasukkan barang-barangnya ketika terdengar suara riuh dari teman-teman sekelasnya. Seorin menemukan sumber masalah yang membuat keributan tersebut berdiri di depan kelasnya, tersenyum manis pada Seorin dan melambaikan tangannya dengan pelan. Seorin memutar bola matanya. Bagaimana bisa ia lupa kalau sekarang ia juga punya ‘kekasih’?

“Apa yang kau lakukan di sini?” Seorin berbisik pelan begitu dia menghampiri Minho karena tidak ingin ada orang lain yang mendengar nada ketus dalam suaranya.

“Tentu saja untuk menemuimu, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?” Minho balik bertanya yang semakin membuat Seorin kesal.

“Aku tidak akan pulang bersama denganmu hari ini. Aku dan temanmu akan pergi nonton.”
”Sora tidak mengatakan padamu?”
”Mengatakan apa?”
”Aku lupa mengatakan kalau Minho juga akan ikut.” Sora tiba-tiba saja muncul di belakang Seorin.

“Mwo? Kenapa tidak kita bertiga saja?” Protes Seorin yang merasa tertipu. Entah bagaimana ia yakin Sora sengaja tidak mengatakan hal itu tadi, bukannya lupa.

“Tentu saja karena Sora ingin bersama denganku, duh. Ouch!” Ringis Key setelah Sora memukul kepalanya. Key memelototi Sora segera setelah Sora memukul kepalanya.

“Kurasa sebaiknya aku tidak jadi pergi saja.” Gumam Seorin ragu.

“Tidak bisa, kita juga harus berkencan kan?” Minho tersenyum semanis mungkin, menggenggam tangan Seorin meskipun Seorin sudah mencoba untuk melepaskannya.

Masih sambil bergandengan tangan, kedua pasangan itu keluar dari kelas dan menuju gerbang sekolah. Taemin melambaikan tangannya dengan bersemangat ke arah mereka. Onew, Jonghyun dan Rinhae yang juga berdiri di dekat Taemin menoleh ke arah lambaian Taemin.

“Aku agak tidak terbiasa melihat ada dua pasangan di kelompok kita.” Jonghyun terkekeh pelan sambil menutupi mulutnya.

“Tapi aku sudah terbiasa melihatmu berganti pasangan setiap satu hari sekali.” Key menyeringai puas setelah ia berhasil membuat wajah Jonghyun memberengut.

“Kalian mau ikut kami?” Ajak Minho pada ketiga member SHINee lainnya.

“Kalian mau berkencan dan menjadikan kami sebagai pengganggu?” Gerutu Taemin.

“Kau juga bisa mengajak yeojamu.” Usul Key yang melirik Minji yang sedang berjalan mendekati gerbang.

“Ah, benar juga!” Ucap Taemin dan langsung menghampiri Minji lalu memberikan tanda ‘oke’ setelah berbicara sebentar dengan Minji.

“Jadi?” Key melihat ke arah Onew dan Jonghyun yang belum memutuskan.

“Kurasa aku juga akan ikut.” Jonghyun mengangkat bahunya.

“Kim Rinhae-ssi, ikutlah dengan kami.” Ajak Onew pada Rinhae yang berdiri disampingnya. Semua pasang mata yang ada di sana menatap ke arah Rinhae, membuatnya jadi agak gugup.

“Yuna!!!” Teriak Sora pada Yuna yang baru menampakkan dirinya. Key menggelengkan kepalanya melihat Sora yang berteriak kencang.

***

SHINee dan kelima yeoja itu masuk ke dalam ruangan bioskop yang sudah Key booking kemarin. Key langsung menarik tangan Sora agar duduk di kursi deretan terdepan, Taemin dan Minji duduk berjarak satu deret ke samping dari tempat Key duduk. Seorin melangkah lebih dulu, tidak mempedulikan Minho yang masih berjalan di belakangnya. Seorin menghampiri Yuna yang sudah duduk di belakang Sora tapi dengan cepat Minho menarik tangan Seorin dan memaksanya duduk di deretan paling belakang. Seorin mengernyit pada Minho.

“Apa? Kau mau meninggalkan kekasihmu dan duduk dengan Yuna? Benar-benar pacar yang baik.” Ejek Minho. Seorin melihat kedua tangannya, menghempaskan dirinya dengan malas. Minho melepaskan kacamata yang ia pakai, meletakkannya diatas meja dan duduk disamping Seorin dengan santai.

Onew dan Jonghyun saling bertatapan karena hanya merekalah yang belum duduk.

“Aku dan Rinhae akan duduk di belakang Taemin.” Ucap Onew duluan. Onew menoleh ke arah Rinhae, mengisyaratkan yeoja itu untuk mengikutinya dan duduk di tempat yang ia sebutkan tadi. Jonghyun mendengus pelan, dengan kesal duduk di samping Yuna. Yuna menatapnya, mengedipkan matanya beberapa kali.

“Kenapa kau duduk disampingku?”
”Lalu apa kita harus duduk sendiri-sendiri sementara mereka semua berpasangan?” Tanya Jonghyun yang masih merasa kesal.

Tidak lama setelah mereka menempatkan diri di posisi masing-masing, lampu bioskop mulai meredup dan mulai menayangkan film yang mereka tonton.

Key terus memandangi Sora setelah hampir 30 menit film itu dimulai.

“Apa?” Tanya Sora bingung.

“Seharusnya kau takut, berteriak dan memelukku!” Omel Key akhirnya.

“Kenapa aku harus takut dan berteriak kalau aku tau mereka itu hanya orang yang didandani seperti hantu?” Sora menunjukkan ke arah layar yang menayangkan film horor. “Dan kenapa juga aku harus memelukmu?”

Key memutar bola matanya, berpangku tangan dan menatap layar dengan wajah memberengut, “Benar-benar tidak romantis.” Gerutu Key cukup keras untuk mampu di dengar oleh Sora.

Onew masih terus menonton film tersebut tanpa sedikitpun merasa tertarik. Dia tidak terlalu suka pada film horor, menurutnya itu membosankan. Tapi karena ini kali pertamanya mereka nonton bersama sejak Key dan Minho mempunyai seorang pacar, Onew merelakan waktu berharganya yang bisa ia habiskan dengan membaca buku di rumah hanya untuk teman-temannya.

Onew menoleh ke arah Rinhae, ingin melihat reaksi yeoja itu saat melihat film horor. Tapi Rinhae justru memejamkan matanya. Onew agak mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Rinhae dengan lebih jelas lagi. Kepala Rinhae bergerak-gerak ke kiri dan kanan dengan lemah dan tak karuan. Sebelum kepala Rinhae sempat membentur sandaran kursi, Onew merengkuh wajah Rinhae, menyandarkannya di pundaknya sendiri.

Taemin mengambil sekotak popcorn ditangan Minji dan memindahkannya ke tangannya sendiri. Taemin mengambil beberapa butir popcorn, menyuapkannya kepada Minji yang masih terlihat fokus pada film. Taemin tertawa pelan, menyuapkan popcorn ke dalam mulutnya sendiri. Taemin kembali memperhatikan Minji, melihat mulut yeoja itu tak lagi sedang mengunyah, Taemin kembali menyuapkan popcorn padanya.

“Aku bisa makan sendiri. Kau seharusnya memperhatikan film nya.” Ucap Minji yang menoleh sekilas ke arah Taemin.

“Ani, aku hanya ingin memperhatikanmu saja.” Taemin tersenyum lebar hingga matanya terlihat segaris. Melihat senyum manis Taemin, Minji tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum juga. Minji mengambil segelas minuman soda dan menyodorkannya ke arah Taemin.

“Omo!” Yuna memekik tertahan begitu makhluk yang menyeramkan terlihat dilayar. Ia akan berteriak keras kalau saja ruangan mereka tidak terlalu sunyi. Yuna jelas tau kalau Sora dan Seorin tidak mungkin ketakutan hanya dengan menonton film horor seperti ini, sementara kedua yeoja lainnya—entahlah—dia tidak begitu mengenal mereka. Jadi Yuna tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang berteriak histeris.

Yuna menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil sesekali mengintip untuk melihat apakah adegan yang mengerikan telah berlalu atau tidak. Jonghyun beranjak sedikit dari tempat duduknya, semakin mendekatkan dirinya dengan Yuna. Jonghyun agak memutar tubuhnya hingga ia hampir menutupi Yuna menggunakan punggungnya. Yuna terkesiap pelan dan mendongak pada Jonghyun.

“Kau boleh bersembunyi di punggungku kalau kau takut.” Ucap Jonghyun dengan nada datar meskipun sebenarnya ia ingin tertawa karena melihat wajah Yuna yang justru terlihat lucu.

“Ti-tidak perlu..” Merasa canggung pada Jonghyun tiba-tiba saja yang bersikap baik, Yuna kembali menatap lurus ke depan tepat saat seorang wanita bersimbah darah muncul di layar.
”OMO!!” Tanap sadar Yuna membenamkan wajahnya di balik punggung Jonghyun.

“Wanita mengerikan itu sudah tidak ada lagi..” Ucap Jonghyun yang masih mencoba untuk tidak tertawa.

“J-Jinja?” Yuna bergerak dengan agak pelan, masih merasa takut kalau saja ada adegan mengerikan lainnya.

“KYAAAA! Kau membohongiku.” Teriak Yuna lagi saat ia melihat ternyata wanita mengerikan itu masih muncul dilayar. Yuna membenamkan wajahnya di dada Jonghyun, mengenggam blazer Jonghyun dengan erat. Jonghyun tertawa pelan, tidak ingin menjadi pusat perhatian.

“Aigoo, mianhae..” Ucap Jonghyun pelan. Jonghyun merangkulkan lengannya di pundak Yuna dan menepuk-nepuknya dengan pelan untuk menenangkan Yuna.

“Seorin-ah…” Panggil Minho dengan pelan.

“Hmm?” Seorin hanya bergumam pelan, masih belum melepaskan pandangannya dari layar.

“Seorin-ah…”  Panggil Minho lagi.

“Wae?” Tanya Seorin yang mulai kesal.

Minho menggerakkan tangannya, menggenggam tangan Seorin yang sedang tidak melakukan apapun dengan erat.

“Yaaa—“ Seorin menoleh untuk mengomeli Minho, tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya. Minho mengecup bibir Seorin dengan cepat selama satu detik. Kedua mata Seorin membulat. Seorin menutupi mulutnya sendiri menggunakan punggung tangannya yang lain.

“Itu adalah hukuman karena kau tidak bersikap manis. Tidak seharusnya kau mengabaikanku.” Minho tersenyum polos, dengan pelan meremas tangan Seorin yang masih belum bisa berhenti memelototinya.

Seorin memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan saat ia merasa wajahnya memanas karena tatapan Minho yang lembut. Akhir-akhirnya Seorin sering salah tingkah karena perlakuan Minho padanya, dan karena Seorin sering memaki dirinya sendiri karena hal itu.

Sadarlah, dia hanya sedang mempermainkanku, batin Seorin meski hati kecilnya ingin mempercayai bahwa sikap Minho padanya tulus.

Minho mengambil hp nya yang berbunyi saat pesan masuk. Kedua alis Minho saling bertautan. Ia membaca pesan singkat itu berkali-kali hingga ia yakin benar ia tidak salah membacanya. Minho mendesah kasar dan mengacak rambut bagian belakangnya.

Lampu kembali menyala dan menerangi ruangan setelah film yang mereka tonton selesai.

“Kau masih bertemu dengan Son Dongwoon?” Tanya Minho tiba-tiba saat Seorin hendak bangkit. Seorin terdiam, bertanya-tanya mengapa Minho bertanya seperti itu. Mungkinkah Minho memang tau atau sekedar mencari informasi?

“Apa saja yang kalian lakukan hingga hp mu bisa ada ditempat dia?” Tuntut Minho kali ini dengan nada suara yang mengintimidasi. Key dan yang lainnya memperhatikan mereka dari tempat duduk mereka, tidak tau apa yang terjadi.

“Apa kau tidak punya mulut untuk menjawab pertanyaanku, Lee Seorin?” Tegas Minho sekali lagi, sengaja tidak meninggikan suaranya. Yang pertama, dia tidak ingin membuat Seorin takut. Dan yang kedua, dia tidak ingin teman-teman mereka menontonnya.

“Berhentilah marah-marah padaku. Aku memang bertemu dengan Dongwoon kemarin, tapi bukan karena disengaja. Dan aku tidak tau kenapa hp ku bisa ada padanya karena yang kutau hp ku sudah menghilang begitu saja kemarin.” Balas Seorin sengit. Minho mengatur nafasnya yang mulai memburu. Ia harus menenangkan dirinya sekarang juga kalau dia tidak ingin meledak.

“Jonghyun hyung, tolong antar dia pulang.” Pinta Minho yang melewati Jonghyun langsung ke pintu keluar.

***
Annyeong! Hp Seorin ada padaku, dia meninggalkannya kemarin. Bisa datang dan mengembalikan padanya? Kau tau harus ke mana untuk menemuiku – Dongwoon

Minho menghentikan langkahnya di sebuah tangga yang menuju ke ruang bawah tanah. Ia menggerakkan kakinya dengan ragu, kakinya terasa berat untuk digerakkan selama sesaat. Minho menelan air liur nya tersumbat ditenggorokan dan memantapkan langkahnya.

Tanpa perlu mengetuknya, Minho mendobrak masuk ke dalam ruangan bawah tanah tersebut. Dongwoon yang tengah duduk di satu-satunya sofa di ruangan itu mendongak, memang tidak mengharapkan Minho akan masuk dengan mengetuk lebih dulu.

“Berikan hp Seorin padaku.” Ucap Minho dingin. Dongwoon berdiri berhadapan dengan Minho, menyerahkan hp Seorin pada Minho dengan sukarela.

“Dan jangan temui dia lagi, sengaja ataupun tidak sengaja.” Tukas Minho dengan nada memerintah. Minho memutar tubuhnya, bersiap-siap untuk meninggalkan tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.

“Waeyo?” Tanya Dongwoon. Minho menghentikan langkahnya, menanti kata-kata selanjutnya dari Dongwoon.
”Kenapa kau masih membenciku padahal kau sudah menyukai yeoja lain?” Tanya Dongwoon lagi masih terpaku di tempatnya. Minho mengatupkan rahangnya dengan erat, menghentikan dirinya sendiri untuk menjawab pertanyaa Dongwoon dengan kasar.

“Sejujurnya, harus kuakui, aku lebih setuju jika kau bersama dengan Seorin.” Timpal Dongwoon.

“Shut up Dongwoon.” Kata-kata Minho meluncur dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.

“Geumanhae.. Ayo kita selesaikan semua kesalahpahaman kita.” Dongwoon melangkah maju, menyentuh pundak Minho dengan lembut. Minho memutar tubuhnya, melancarkan tinjuan ke pipi kiri Dongwoon yang terpental ke lantai.

“Berhentilah omong kosong! Tidak ada yang harus di selesaikan, semuanya sudah berakhir sejak dua tahun lalu!” Teriak Minho hingga membuat nafasnya tersengal-sengal. Dongwoon berdiri meski agak goyah, ia menyeka ujung bibirnya yang berdarah.

“Kau yang tak pernah mencoba untuk mendengarkan penjelasanku sekalipun! Aku tidak pernah menghalangi kalian berdua!!” Teriak Dongwoon begitu Minho kembali melangkah keluar ruangan.

“Hari itu, aku juga baru diberitaukan tentang kepergiannya ke Paris. Aku mengejarnya ke bandara, aku mencoba untuk menahannya tapi kau datang disaat yang bersamaan dan justru mengira aku sedang mengantarnya pergi!” Teriak Dongwoon di tempatnya berdiri sekarang. Minho memperlambat langkahnya sebelum akhirnya ia kembali berhenti.

“Apa yang membuatmu berpikir aku tega untuk menghancurkan kebahagiaan kalian? Dan asal kau tau Choi Minho, kata-katanya waktu itu hanyalah kebohongan belaka. Aku tau itu hanyalah alasannya agar kau melepaskan dia, membiarkan dia pergi ke Paris untuk menemui orang yang benar-benar ia cintai. Sadarlah Choi Minho, bagaimanapun aku menyayanginya, aku harus mengatakan padamu untuk melupakan yeoja seperti dia. Yeoja yang pergi dan tidak pernah memberikan kabar apapun pada keluarganya tidak pantas untuk membuatmu menderita seperti ini. Jadi kumohon, lupakan dia… Lupakan adikku yang tak akan pernah membalas perasaanmu.” Dongwoon berbisik pelan diakhir kalimatnya.

Minho menutup matanya, menahan semua rasa perih dihatinya.

***

“Ne eomma.” Seorin memutuskan saluran telpon setelah orangtuanya memberitaukan mereka berdua akan pergi ke pulau jeju selama 3 hari 2 malam untuk menghabiskan akhir pekan mereka di sana. Seorin memang tidak terkejut. Orangtuanya bahkan pernah berlibur keluar negeri selama seminggu dan meninggalkan seorang diri. Harus Seorin akui, ia senang karena hubungan orangtuanya yang masih bisa dibilang sangat mesra mengingat umur mereka sekarang. Seorin baru saja akan kembali ke kamarnya saat ia mendengar bel rumahnya yang ditekan berkali-kali dengan tidak sabaran.

“Nuguseyo?” Tanya Seorin sambil membuka pintu.

“Omo!” Seorin segera menangkap tubuh Minho yang hampir ambruk. Seorin mengendus pelan, tubuh Minho dipenuhi bau alkohol yang menyengat. Seorin menutup hidungnya dan membantu Minho untuk berbaring disofa karena dia tidak akan bisa mengangkut Minho sendirian ke lantai 2.

Minho bergumam tidak jelas, terkadang terkekeh pelan.

“Aish! Apa yang harus kulakukan?” Seorin meremas tengkuknya, tidak tau apa yang harus ia lakukan karena ia tidak pernah menangani orang mabuk sebelumnya.

“Minho-ya, kau bisa berdiri? Aku akan membantumu ke kamar, eottheo?”  Tawar Seorin duduk bersila di lantai di samping Minho.

Minho membuka matanya perlahan, menatap langit-langit ruang nonton yang berwarna putih terang.

“Kenapa kita harus jatuh cinta kalau ternyata itu sangat menyakitkan?” Gumam Minho nyaris tak terdengar.

“Ne?”

Minho mengangkat tangan kanannya, meletakkannya diatas matanya yang terpejam dan menghalangi sinar lampu yang masih mampu menyeruak masuk ke penglihatannya.

“Aku terus mengira-ngira, harus berapa lama lagi aku menunggu hingga akhirnya dia bisa kembali.” Ucap Minho di selal-sela helaan nafasnya yang berat.

“Aku tidak bisa bersama denganmu oppa. Setiap menit, setiap detik yang kulalui bersamamu, aku hanya bisa merasakan kekhawatiran tentang oppa ataupun tentang masa depanku sendiri. Kalau oppa memang ingin aku berada disisimu, berubah lah menjadi orang yang lebih baik. Hentikan sikap ugal-ugalanmu, pikirkan tentang masa depan yang bisa oppa janjikan untukku. Sebelum saat itu tiba, aku tidak bisa bersama denganmu oppa. Mianhae..”

Kata-kata itu kembali menghantam ingatannya sejak Dongwoon mengungkitnya.

“Tapi akhirnya aku sadar. Dia tidak akan pernah kembali. Seberapa banyak pun aku berubah demi dia, selama apa pun aku menunggu, dia tetap tidak akan kembali karena dia tidak pernah bisa melihat perubahanku. Dia menutup mata dan telinganya, menolak untuk menyadari perubahanku. Tapi aku masih dengan bodohnya berharap ada sebuah keajaiban yang datang…” Minho terisak pelan. Hatinya yang terluka kembali terasa perih. Ia pikir ia sudah tidak bisa merasakan lagi rasa sakit itu, tapi ternyata luka yang ia miliki lebih dalam daripada yang mampu ia bayangkan hingga kembali membuatnya menderita.

Seorin bisa melihat airmata Minho yang mengalir turun dari balik punggung tangannya. Ada semacam rasa sesak yang menyelimutinya. Ia merasa tubuhnya terikat dengan kencang, membuat ia tak mampu bernapas dan bergerak bebas. Ia merasa ikut sedih dengan apapun itu yang membuat Minho hingga terlihat lemah seperti ini meski sesungguhnya ia tidak terlalu mengerti apa yang Minho katakan.

***

Minho membuka matanya perlahan dan mengerang pelan. Kepalanya terasa berputar-putar begitu ia mencoba untuk bangun.

“Damn! Seharusnya aku tidak minum sebanyak itu kemarin.” Oceh Minho pada dirinya sendiri. Minho duduk di tempat tidurnya, memegangi kepalanya yang masih berdenyut kencang.

“Lupakan adikku yang tak akan pernah membalas perasaanmu.”

Ucapan Dongwoon kemarin malam membekas di pikirannya lagi dan lagi. Minho menghela nafas pelan, mengingat kata-kata anehnya yang ia ucapkan di depan Seorin. Minho membenamkan wajahnya diatas bantal dan mengerang.

Minho menyambar pakaian bersih dari lemarinya dan langsung ke kamar mandi. Tidak ingin berlama-lama membiarkan pikirannya kosong dan justru melayang-layang tidak jelas, Minho segera menyelesaikan mandinya dan mengeringkan rambutnya yang masih sangat basah.

Minho menoleh ke arah kalender yang diletakkan diatas meja. Untuk tanggal hari ini terlingkari dengan spidol berwarna merah dan ada catatan tentang kepergian orangtua Seorin ke pulau Jeju. Minho menyeringai pada dirinya.

Ia harus memiliki sesuatu untuk dikerjakan kalau dia tidak mau gila oleh pikirannya sendiri. Minho meletakkan handuknya dan berlari kecil menuruni tangga, ia bisa mencium aroma sup sapi setelah ia mencapai anak tangga terakhir. Minho menutup matanya dan menghirup aroma tersebut dalam-dalam. Minho memiringkan kepalanya, mengintip ke dapur untuk melihat apa yang sedang Seorin lakukan. Minho berjalan dengan sangat pelan—nyaris tak bersuara—untuk mendekati Seorin yang membelakanginya dan sepertinya sedang memanaskan sup karena Minho yakin Seorin tidak akan bisa membuat sup sewangi itu kecuali Nyonya Lee.

Minho melingkarkan kedua lengan kokohnya ditubuh mungil Seorin dan mendaratkan dagunya di pundak Seorin, membuat yeoja itu terlonjak kaget karena tidak menyadari kehadiran Minho.

“Morning babe~” Sapa Minho dengan ceria.

“Yaaa! Lepaskan!” Seorin mencoba untuk melepaskan pelukan Minho, tapi Minho justru semakin mengencangkan pelukannya dan agak menarik Seorin agak ke belakang.

“Apa sarapan kita pagi ini, hmm?” Gumam Minho yang mengecup leher Seorin dengan lembut, beranjak naik hingga ke bagian belakang telinga Seorin. Tubuh Seorin menegang, nafasnya memburu dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk memejamkan matanya menerima perlakuan Minho.

“Mi-minho.. Hen-hentikan … “ Ucapan Seorin terputus-putus, ia tidak bisa berpikir jernih saat Minho mulai bertingkah seperti ini. Minho terkekeh pelan, melepaskan Seorin yang masih mencoba menenangkan detak jantungnya. Minho memutari meja makan, duduk ditempat yang biasa ia duduki dan melipat kedua tangannya diatas meja sambil terus memperhatikan punggung Seorin yang masih sibuk—sengaja menyibukkan dirinya—dengan sup yang baru saja ia panaskan. Seorin meletakkan semangkuk sup dihadapan Minho dan untuknya sendiri setelah ia dengan bersusah payah membuat dirinya terlihat biasa saja. Seorin melirik Minho dari sudut matanya. Minho terlihat sedang asyik memakan sarapannya dan terlihat ‘normal’ mengingat tadi Minho sempat menggodanya. Seorin bertanya-tanya, apakah yang terjadi semalam adalah mimpi?

Tapi Seorin yakin benar ia mendengar semua keluhan Minho. Ia juga melihat Minho meneteskan airmata. Minho mendongak, menggigiti ujung sumpitnya, balas menatap Seorin yang tidak menyadari tatapan Minho.

Minho melambaikan tangannya dihadapan Seorin, menarik Seorin kembali ke alam sadarnya.

“Huh?” Tanya Seorin bingung.

“Tsk, harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau melamun?” Minho kembali melanjutkan makannya meski masih terus menatap Seorin.

“Kemarin malam waktu kau mabuk …” Seorin terlihat ragu, tapi ia membuka mulutnya dan sekarang justru menggantungkan kalimatnya.

“Ah, apa kemarin malam aku menyusahkanmu? Atau mengatakan hal-hal yang aneh?” Minho pura-pura tidak mengingat kejadian semalam. Ia tidak ingin Seorin bertanya tentang kejadian itu. Minho bisa saja mengakui kejadian semalam, tetap tutup mulut jika Seorin menanyakan kenapa ia bisa se-emosional itu. Tapi ia yakin Seorin akan memberengutkan wajahnya jika Minho tidak menceritakannya. Dan lagi, Minho tidak ingin Seorin tau tentang wanita di masa lalunya. Dia tidak tau kenapa. Tapi dia hanya tidak ingin Seorin tau. Bahkan kalau bisa, segala sesuatu tentang masa lalunya yang mengerikan jangan sampai diketahui Seorin sedikitpun.

“Ani. Kau tidak mengatakan hal-hal yang aneh.” Seorin menggelengkan kepalanya. Ia sedikit kecewa karena Minho tidak ingat, tapi toh apa yang akan dilakukannya kalau Minho mengingatnya? Dia kan tidak bisa begitu saja bertanya tentang masa lalu Minho mengingat tidak ada hubungan apapun diantara mereka. Lagipula Seorin tidak ingin membuat Minho jadi besar kepala dan mengejeknya lagi.

TO BE CONTINUE …

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


About these ads

210 thoughts on “The Pervert Nerd – Glasses 5

  1. Komen2ku yg dulu g ad yg masuk yaa -_- okesipp komen lg…

    “Seharusnya kau takut, berteriak dan memelukku!” Omel Key akhirnya. ngakak guling2 xD key sora emg cocok..mrk jd couple favoritku dsini..
    Taemin Minji..sweet bgt yaa :D knp jg hrs putus sihh ckckk..
    Ihh dasar si minho mudus bgt sengaja milih duduk divelakang biar bisa nyium seorin xD

    Klo minho msh suka sama yeoja masa lalunya..trs seorin gmna? alasan dia suka nyium seorin apa coba heungg -_-

  2. Keren keren keren.
    Ceritanya makin bagus, yaampun baru nemu fic sebagus ini, jalan ceritanya ngalir gitu aja, alami(?) /loh/
    ;A; pokoknya keren deh
    Sweet banget waktu mereka di bioskop auwhh Key-sora, tetem-minji, jjong-yuna, onyu-rinhae, mino-seorin, so swit bingit /okeh gue lebay/
    Lah jadi dulunya minho itu pacaran sama adek dongwoon, okei masalalunya minho yang bikin minho jadi dingin sma dongwoon.
    Okedeh lanjut baca ajah~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s