Something More: Last Available – Part 5

Something More: Last Available – part 5

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda  (@chandrashinoda)

Main Cast        : Kim Kibum (Key), Kim Jonghyun, Kim Hyora

Support Cast    : Other SHINee member, Lee Soon Hee

Special Guest   : Kim Sera (female main cast di FF-nya Lia ‘Keylieon’)

Genre               : Angst, Family, Friendship, Life, Romance

Length              : Sequel

Rating               : PG-15

Disclaimer        : I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SM entertainment. I’m just the owner of the story.

***

 

Author POV

Putih, warna itu yang menyeruak saat namja itu membuka matanya. Samar-samar bulatan-bulatan kilatan cahaya menyilaukan matanya, mengembalikan rohnya ke alam sadar manusia. Ia terdiam, seolah raganya menikmati apa yang kini dialaminya. Sepoi angin berhemus pelan menerpa wajahnya, namun ia tetap bergeming, seolah jiwanya terpencar entah ke mana.

Ia menarik nafas pelan, menghirup udara yang tersedia dalam selang oksigen yang tertancap di hidungnya. Ia mengerjapkan matanya. Apa yang ada di depannya mulai terlihat jelas. Indra penciumannya perlahan mulai bereaksi. Ada aroma lain yang terhirup begitu saja dan mendesak masuk ke dalam paru-parunya. Bau itu, bau kloroform. Bau khas yang dengan setia setia menemani para penghuni bangsal pesakitan.

Namja  itu masih terdiam. Kelopak matanya kembali terpejam. Setetes cairan bening mulai luruh di sudut matanya. Sebaris kebingungan menghantui pikirannya. Mengapa cairan itu bisa luruh dari sana?

Ia kembali membuka matanya. Rasa perih dan ngilu mulai menjalari tubuhnya. Kini ia meringis. Dengan susah payah ia menggerakkan kepalanya. Pandangannya mulai menjelajahi apa saja yang kini ada di sekelilingnya. Ia menghela nafas berat. Ia tahu betul itu ruangan apa. Ekor matanya melirik seorang namja yang kini tengah tertidur pulas di sampingnya. Apakah namja itu yang menjaganya selama ini?

Kini ia mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Sesekali matanya mengernyit menahan rasa ngilu di tubuhnya yang semakin menjadi-jadi.  Ia menumpukan telapak tangannya pada seprai putih yang mengalasi tubuhnya. Ia merintih, namun keeoisannya melarangnya untuk menyerah. Ia tetap berusaha bangkit meski kondisinya melarangnya untuk melakukan itu.

Omo, Key, apa yang kau lakukan?” namja yang dari tadi terlelap di sampingnya mendadak terbangun.

“Mi.. Min.. Minho-ya,” Kibum tersengal. “Ban.. Bantu a.. aku bangun,” ia memaksakan suara seraknya untuk keluar.

Aniyo, Key. Kau tak boleh bangun dulu. Kondisimu masih lemah!” Minho mencengkram tangan Kibum, mencegah namja itu meneruskan gerakan pemaksaan yang ia lakukan pada tubuhnya.

“Hhhh.. Hhh.. A.. Aku ha.. harus mencari Hyora, hhh.. hhh..,” Kibum menolak. Ia menepis tangan Minho yang mencengkram lengannya. “Bawa aku menemuinya, jebal!”

Ne, tapi tidak sekarang. Kau tak mungkin menemuinya dalam kondisi seperti ini,” Minho berusaha meyakinkan tingkah laku namja yang semakin keras kepala itu.

Kibum menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Pengelihatannya belum pulih dengan sempura, namun ia tak peduli, seakan itu bukanlah masalah yang akan menghalanginya untuk menemukan Hyora. “Kalau kau tak mau, biar aku yang akan mencarinya sendiri!” ia tetap bersikeras.

“Jangan, Key!” Minho kembali mencengkram lengan Kibum. “Kau belum boleh menemuinya. Hyora, di.. dia,” Minho menghentikan ucapannya. Hampir saja mulutnya kebablasan. Jika sepenggal kata lagi keluar dari mulutnya, ia tak tahu apa yang akan dilakukan Kibum setelah itu.

Kibum mengernyitkan alisnya. Rasa bungah mulai merasuki pikirannya. “Kenapa kau menghentikan ucapanmu, Minho-ya?” suaranya bergetar. “Apa yang terjadi pada Hyora? Cepat katakan!”

Minho menelan ludah. Ia menarik nafas pelan, berusaha mengendalikan emosinya. Ia menatap Kibum penuh harap. “Dia ada di tangan yang tepat, percayalah padaku,”

Kibum terdiam. Ia menahan nafasnya. Kedua manik hitamnya menatap Minho penuh tanda tanya. “Kau yakin?” lirihnya pelan.

Minho mengangguk mantap. Ujung bibirnya terangkat. Namja jangkung itu tersenyum. “Ne, aku yakin,”

***

Jonghyun menelan ludah menatap sebuah amplop yang kini ada dalam genggamannya. Ia menarik nafas panjang. Dengan perlahan jari-jarinya mulai membuka perekat amplop itu. Secarik kertas putih. Hanya itu benda yang ada di dalam amplop itu. Dengan penuh harap ia membukanya, kertas putih tipis yang akan menentukan nasib yeodongsaeng-nya. Kedua bola matanya mulai bergerak seirama, meniti setiap kata di lembaran putih itu. Satu baris kalimat di pertengahan kertas itu membuat wajahnya memucat seketika. Hatinya mencelos. Ia terperangah ketika membaca hasil cek lab Hyora. Kedua tangannya bergetar menatap secarik kertas sederhana yang kini mulai diremasnya. “Andwae, ini tak mungkin!” lirihnya pahit.

Ekor matanya melirik tubuh yeoja yang kini terbaring di sampingnya. Yeoja itu nampak terlelap, tak terusik sedikitpun. Ia memang sempat sadar dan berbicara, namun tampaknya tenaganya belum pulih seutuhnya. Wajah pucatnya terlihat sayu. Kelopak matanya tertutup rapat. Rona pada dirinya seolah hilang, terenggut dan tertelan oleh aura kematian bangsal pesakitan.

Jonghyun menggenggam erat jemari yeoja itu. Cairan bening menggenangi kelopak matanya, namun cairain itu tetap diam di sana, seolah ia menjadi yang terakhir. “Hyora,” Jonghyun menyebut nama yeoja itu dengan nada serak. Apa yang baru saja dibacanya membuatnya jengah, jengah sekaligus takut.

“Jonghyun, maaf membuatmu menunggu lama,” seorang namja dan yeoja memasuki ruang perawatan Hyora. “Aku dan Sera baru saja kembali dari kantin. Kami membelikanmu makanan. Makanlah dulu, kau belum makan sejak kemarin, biar aku dan Sera yang menjaga Hyora,”

Gomawo, Jinki, Sera,” Jonghyun memaksakan seulas senyum di bibirnya. “Kalian taruh saja makanan itu di atas meja, aku masih kenyang,” ujarnya berbohong.

Sera yang merasakan keanehan dari tingkah laku Jonghyun mengernyitkan alisnya. Ia tertarik pada selembar kertas yang ada dalam genggaman tangan namja itu. “Apa itu, Oppa?”

Jonghyun menghela nafas berat menyadari apa yang ditanyakan Sera. “Ini hasil cek lab Hyora,”

Sera terdiam. Dengan agak ragu ia meraih kertas itu dari tangan Jonghyun. Ia mulai membacanya dengan seksama, mengintonasikan setiap kata yang tertera di kertas itu dengan sempurna. “Andwae, katakan ini bohong, Jonghyun Oppa!” yeoja itu terperangah, setetes air mata luruh di pipinya.

Jonghyun mengepalkan tangannya. “Seandainya bisa, akupun ingin tulisan itu bohong, Sera!”

Jinki mendekap Sera dalam pelukannya. Yeoja itu mulai terisak. Ia masih belum percaya dengan tulisan itu. Kenapa tulisan itu begitu kejam? Padahal ia hanya dibuat dengan secarik kertas murahan dan tinta biasa, tapi mengapa ia bisa menentukan nasib seseorang sesukanya?

***

Kibum melirik jam weker bulat yang ada di atas meja. Pukul 11.40 PM, hampir tengah malam. Ia terdiam, rasa sakit yang menjalari tubuhnya mulai berkurang, bahkan pengelihatannya juga mulai berangsur-angsur pulih. Ia menghela nafas panjang―menghirup udara sebanyak-banyaknya dari selang oksigen yang tertancap di hidungnya. Ekor matanya melirik seorang namja yang sejak tadi setia menjaganya, Choi Minho. Namja itu terlihat sibuk dengan buku biologinya.

“Minho-ya,” Kibum memanggil namja itu dengan suara serak.

Minho segera meletakkan buku biologinya begitu mendengar suara Kibum. “Ada ada, Key?”

Kibum tersenyum. “Gwenchana,” ucapnya lemah. “Kau belum makan seharian ini, pergilah ke kantin dan cari sesuatu, aku baik-baik saja. Jangan sampai kau sakit, sebentar lagi kita akan ujian,”

Minho mengernyitkan alisnya. Namja yang kini terbaring di depannya itu terlihat mengkhawatirkannya. “Aku baik-baik saja, gwenchana. Aku masih kenyang, lagipula tak baik jika aku meninggalkanmu sendirian di sini,”

“Jangan bohong,” Kibum melebarkan senyumannya. “Tubuhmu tak mengatakan hal yang sama dengan apa yang baru saja kau ucapkan. Wajahmu pucat, jangan memaksakan diri, otakmu tak akan bisa menyerap pelajaran dalam keadaan seperti ini,” paparnya sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

Minho balas tersenyum. “Baiklah kalau begitu, kutinggal sebentar, ya?” ucapnya lalu melangkah ke luar pintu.

Kibum tak melepaskan pandangannya dari namja itu, hingga sosoknya benar-benar menghilang dari pintu. Kini Kibum tersenyum. Ini saatnya dia melakukan rencana yang sudah disiapkannya sejak tadi. “Mianhae, Minho. Aku harus mencari Hyora sekarang,” lirihnya sambil menyeret tubuhnya bangkit dari tempat tidurnya.

Kibum POV

Dengan sekali gerakan kucabut infuse yang menancap di pergelangan tangan kananku. Aku mengerjapkan mata saat kakiku menyentuh lantai. Rasa pening kembali merambat di kepalaku. Nafasku sedikit tersengal, namun kupaksakan tubuhku untuk tetap bergerak.

Kutumpukan kedua telapak tanganku pada meja yang ada di sebelah tempat tidurku. Kuseret paksa kedua kakiku untuk bergerak. Berat dan melelahkan, namun rasa egoisku melarangku untuk menyerah. Aku harus menemukan Hyora sekarang. Dengan terhuyung-huyung kuraih gagang pintu. Kulirik lorong panjang yang ada di depaku. Meski pandanganku belum pulih benar, tapi bisa kupastikan lorong itu kosong. Tak ada satupun manusia yang lewat di sepanjang lorong itu. Hanya terlihat kilatan lampu remang-remang yang terpasang di dinding berlapis keramik putih di beberapa bagian lorong itu.

Kusandarkan kedua tanganku di dinding berlapis keramik dan mulai menyeret telapak kakiku yang tak beralas untuk berjalan. Kubungkukkan sedikit tubuhku. Mataku terasa sakit jika kupaksa menatap ke depan. Aku terus berjalan. Setiap langkah terasa berat, seakan kakiku menopang beban ribuan kilogram. Aku tak tahu ke mana tujuanku kali ini. Aku sama sekali tak tahu di mana Hyora dirawat. Walapun begitu, aku harus tetap mencarinya. Aku harus menemukannya dan memastikan kalau dia baik-baik saja.

Semakin lama berjalan membuat rasa pening di kepalaku semakin menjadi-jadi. Perban yang melilit di kepalaku juga membuatnya semakin terasa berat. Kurasakan sesuatu mulai mengalir di pipiku. Keringat, hanya dalam beberapa langkah cairan itu sudah mengalir dan memenuhi seperempat bagian wajahku.

Suasana hening lorong itu membuatku terhanyut. Suara decitan langkahku, itu satu-satunya sumber bunyi yang mampu kudengar. Ujung lorong ini sudah terlihat. Samar-samar kulihat seseorang duduk di depan sebuah ruang perawatan. Sosoknya tak terlalu jelas. Tapi aku yakin, dia seorang namja.

Sedikit lagi, aku akan sampai pada namja itu. Kurasa wajahnya familiar denganku. Sial, pengelihatanku semakin memburuk saja!

Kupaksa kakiku terus melangkah. Tinggal empat meter, maka aku akan sampai di tempat namja itu. Aku mengatur nafasku yang masih tersengal-sengal. Aku tidak boleh pingsan dulu. Aku harus menanyakan keadaan Hyora pada namja yang kini sudah ada di depanku, Jonghyun Hyung.

“Jong.. Jonghyun Hy.. Hyung,” aku berusaha memanggilnya meski dengan suara yang tersendat.

Meski tak jelas, bisa kurasakan Jonghyun Hyung kaget karena kehadiranku. “Kibum?!”

Aku berusaha tersenyum. Kuseret lagi kakiku ke arahnya, namun sial, sama sekali tak bergerak. Bergetar, ya.., kakiku bergetar. Bahkan tanganku tak kuat lagi untuk bertumpu di dinding. Pandanganku mulai gelap. Kurasakan pegangan tanganku di dinding mulai terlepas. Kakiku juga mulai lemas, tak kuat lagi menopang tubuhku.

“Kibum!” kudengar lagi suara Jonghyun Hyung. Ia berlari ke arahku. Dengan sigap kedua lengannya menahanku agar tak ambruk ke lantai. “Apa yang kau lakukan di sini, Bodoh?!”

Aku masih mengatur nafasku. Kutatap wajahnya yang terlihat khawatir. “Mi.. mian.. mianhae, Hyung,” lirihku tersengal. “Di.. di mana Hy.. Hyora?” tanyaku mulai meringis.

Ia tak menjawab. Raut wajahnya tertekan. Kurasakan cairan hangat menetes di pipiku. Apakah dia menangis?

Aku membuka mulutku lagi, namun suaraku tak keluar. Sesuatu seperti menyedot kesadaranku. Semakin lama tubuhku semakin mati rasa, hingga seluruhnya berubah menjadi gelap.

“Kibum!”

***

Hyora POV

Aku mengenali suara itu. Suara berat yang telah akrab dengan indera pendengaranku, Key Oppa. Kupejamkan lagi mataku, setetes cairan hangat keluar dari kelopak mataku. Benar-benar menyakitkan. Aku gagal mengikuti audisi itu. Bahkan karena keegoisanku hal ini sampai terjadi. Bagaimana keadaan Key Oppa  sekarang?

Kulirik meja yang ada di sebelahku. Tatapanku berhenti saat menemukan sebuah amplop yang bertuliskan ‘Hasil Cek Lab Kim Hyora’. Aku menelan ludahku. Apakah Jonghyun Oppa yang meletakkannya di sini?

Kuraih amplop putih itu. Kutumpukan kedua tanganku pada kasur pesakitanku. Aku tak bisa membacanya sambil tidur. Kuseret tubuhku, kupaksakan sendi-sendi di pinggangku untuk menekuk 90° agar aku bisa duduk. Entah kenapa punggungku terasa sangat nyeri, seperti ditusuk ribuan jarum. Aku merintih tanpa bersuara, aku tak ingin Jonghyun Oppa mendengarku, ia pasti tak akan mengizinkanku membaca hasil cek labku sendiri.

Kubuka amplop itu dengan tangan bergetar. Rasa gugup mulai menghantuiku. Aku menelan ludah saat menemukan secarik kertas yang sudah setengah teremas di dalam amplop itu. Kubuka lipatan kertas itu dengan perasaan tak menentu. Kutatap tulisan khas dokter yang tertera di sana. Dengan pelan kuintonasikan kata-kata yang tertulis di sana tanpa ada yang terlewat.

Deg, aku terperanjat. Hatiku mencelos. Tubuhku membeku, sedikitpun tak berani bergerak. Kurasakan keringat dingin mulai mengaliri pelipisku. Mulutku menganga, sementara bola mataku masih menyelami kata-kata di kertas itu dalam-dalam.

Bohong, tolong katakan ini bohong! “ANDWAE, JONGHYUN OPPA!!” aku menjerit sekeras-kerasnya.

Author POV


ANDWAE, JONGHYUN OPPA!!!!” Hyora menjerit sekeras-kerasnya.

“Hyora-ya, wae?” Jonghyun menggebrak pintu begitu mendengar teriakan yeoja itu. Ia terdiam menatap apa yang kini ada di dalam genggaman yeoja itu. “Kau membacanya, Hyora-ya?”

Hyora meringis. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Sesuatu yang berat baru saja menghantam dadanya. Benar-benar membuatnya terpukul. Ia meremas selimut yang menyelimutinya. “Kenapa bisa begini, Oppa? Aku cacat!”

Jonghyun merengkuh tubuh Hyora. Tubuh yeoja itu menggigil. Ia mengerang, meluapkan rasa sakit yang menusuk-nusuk sukmanya. Semuanya hancur sekarang, mimpinya, keinginanya, cita-citanya, semuanya. “Kumohon jangan seperti ini, Hyora!”

Hyora mencengkram lengan Jonghyun, melampiaskan semua sakit hatinya di dalam pelukan namja itu. Ia tak tahu, mengapa kenyataan bisa sekejam ini padanya? Ia memegang perutnya yang mulai melilit. Rasa sakit di dadanya itu mulai merambat ke kepalanya. Syaraf-syarafnya mulai menegang, membuat urat-urat di kepalanya menonjol keluar.

Keputusasaan merengkuh pikirannya, membungkam kesadaraannya untuk berpikir jernih. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya kecuali menangis. Kenyataan ini benar-benar menyakitkan. Terlalu menyiksa untuk gadis seusianya.

Oppa, aku gagal. Aku tak bisa lagi mencapai cita-citaku!” sekali lagi ia mengerang. “AKU CACAT, OPPA!”

“Kumohon jangan berkata seperti itu, Hyora!” Jonghyun semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Hyora. Ia mengecup puncak kepala yeoja itu. “Kalau kau ingin menangis, memangislah. Kau pantas melakukannya, menangislah sepuasnya!” bisiknya sambil meringis.

“Aku tak mau bertemu Key Oppa lagi, aku malu!” sekali lagi ia meremas kuat pakaian Jonghyun. Tangisannya semakin kencang dan mengiris hati.

Uljima, Hyora, uljima,” Jonghyun mengusap lembut rambut yeoja itu.

Sirheo, Oppa. Sirheo!”

***

Secercah sinar menyilaukan mata namja itu. Ia mengeryit, berusaha mengurangi pantulan sinar-sinar itu menembus bola matanya. Ia memiringkan kepalanya, menatap namja yang masih tertidur pulas sambil memeluk sebuah buku sains di sampingnya, Choi Minho. Sekilas bibirnya menyunggingkan senyum. Ia menggerakkan tangannya yang masih lemah, menyentuh dan menepuk bahu namja itu. “Gomawo, Minho-ya!”

Minho terbangun akibat tepukan namja itu. Ia mengernyitkan alisnya, memamerkan wajah kusutnya. Ia tersenyum senang melihat Kibum yang bangun mendahuluinya. “Kau sudah bangun, Kibum-ah?”

Ne,” Kibum balas tersenyum. “Ya! Kau tak pergi ke sekolah hari ini?”

Aniyo, aku sudah izin absen untuk menjagamu selama kau dirawat di sini,” jawab Minho ringan.

Mwo?!” Kibum terperanjat. “Kau sudah gila, ya? Kita kan akan ujian, bagaimana kau meliburkan diri hanya untuk menjagaku di sini?”

“Hahaha,” Minho tertawa kecil. “Ya! Jangan sungkan begitu. Kalau bukan aku, memang siapa yang akan menjagamu? Orang tuamu kan sedang bertugas di luar negeri? Tenang saja, aku kan sahabatmu, jadi aku tak keberatan menjagamu di sini.”

Kibum tersenyum simpul. Ia meninju pundak sahabatnya itu sambil tertawa kecil. “Mianhae, aku merepotkanmu. Dan maaf juga untuk semalam, aku sudah membohongimu,”

Minho mengernyitkan alisnya. Kejadian semalam? Ya, benar. Kejadian yang membuatnya shock  dengan kelakuan sahabatnya itu. Ia menatap lekat-lekat wajah Kibum. Namja itu terlihat murung. Sorot matanya menginginkan sesuatu, sesuatu yang belum memenuhi keinginannya, bertemu dengan Hyora.

“Minho-ya, tolong antarkan aku menemui Hyora!” bisik Kibum tiba-tiba dan sukses membuat kedua kelopak Mata Minho melebar.

Minho menelan ludahnya. Ia benar-benar bingung kali ini. Haruskah dia mengabulkan keinginan sahabatnya itu kali ini?

Minho menggenggam erat ponselnya yang ada di sebelah buku pelajarannya. Ia ingat apa yang dikatakan Jonghyun semalam.

.

-Flashback-

 

Minho menghembuskan nafas berat setelah menidurkan Kibum yang barusan pingsan di depan ruang perawatan Hyora. Baru beberapa menit ia mengatur nafasnya, ponselnya berdering.

One new message

From: Jonghyun Hyung

Tolong kau jaga Kibum baik-baik. Kondisinya masih lemah. Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh seperti tadi. Jika besok dia ingin menemui Hyora, jangan kau izinkan.

To: Jonghyun Hyung

Ne, aku pasti akan menjaganya, Hyung. Kenapa dia tak boleh menemui Hyora, Hyung?

From: Jonghyun Hyung

Barusan Hyora membaca hasil cek labnya. Dia sangat terguncang. Dia tak ingin menemui Kibum dulu, jadi jangan kau biarkan Kibum datang kemari untuk sementara.

To: Jonghyun Hyung

Omo?! Hyora melakukan itu. Aku turut bersedih atas apa yang terjadi pada Hyora. Baik, aku akan menghalanginya untuk ke sana. Tapi, bagaimana jika dia tetap bersikeras?

From: Jonghyun Hyung

Ne, terima kasih atas pengertianmu. Bawa saja dia kemari, asalkan dia siap dengan risiko yang akan menghadapinya.

To: Jonghyun Hyung

Ne, aku mengerti.

-Flashback end-

 

Risiko, risiko yang akan dihadapi Kibum jika bersikeras datang ke sana. Minho menyelami kedua manik namja itu. Benar-benar penuh harap. Ia menghela nafas berat. “Sebaiknya jangan, Key!”

“Kumohon, izinkan aku!” Kibum meringis. “Aku benar-benar harus tahu bagaimana kondisinya,”

Minho menghela nafas lagi. Kali ini dia benar-benar tak tega melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu. “Baiklah, aku akan mengantarmu. Asalkan kau siap dengan semuar risiko yang telah menantimu,”

Kibum memiringkan kepalanya. Risiko apa? Dia tak mengerti, akan tetapi keinginannya untuk bertemu Hyora membuatnya harus menyanggupi itu. “Ne, aku siap!” jawabnya mantap.

***

Kibum menatap ruangan perawatan itu dari jauh. Masih sama dengan tadi malam, sepi. Hanya terlihat seorang namja yang duduk di depan pintunya dengan memasang mimik tegang.

Kibum memasang ekspresi sesantai mungkin. Ia mencengkram kedua pegangan kursi rodanya dengan kuat, berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menemui namja itu.

“Jonghyun Hyung,” Kibum memanggil namja itu dengan nada gusar.

Jonghyun menatap kedatangan Kibum dan Minho dengan ekspresi datar, seakaan tak memiliki emosi sama sekali. “Ada apa, Kibum-ah, Minho-ya?”

Kibum menghela nafas pelan. Ia menatap Jonghyun lekat-lekat, menyelami apa yang sedang ada di dalam pikiran namja itu. “Bolehkah aku melihat kehadiran Hyora?”

Jonghyun terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari Kibum. “Ani, mianhae, Kibum. Kau tak boleh melihat keadaannya,”

Kibum mengernyitkan alisnya. “Waeyo, Hyung?”

Jonghyun terdiam, ia tak menjawab lagi. Rahangnya mulai mengeras. Dadanya naik turun dengan agak cepat. Beberapa kali ia menghela nafas berat.

Kibum mengerti ekspresi namja itu. Ekspresi kemarahan dan kekecewaan. Ia tahu persis Jonghyun kecewa padanya. Kecewa karena telah menepis benang yang selama ini menghubungkan Hyora dengan cita-citanya.

Kibum mencengkram pegangan kursi rodanya. Perlahan kakinya bergerak turun. Ia meringis, menahan sakit di tubuhnya yang membuatnya sulit untuk bergerak. Minho yang menyaksikan kelakuan Kibum tetap diam. Ia tak berani mencampuri masalah yang bukan menjadi urusannya.

Dengan sekali hentakan lutut Kibum mencapai lantai. Ia kembali meringis, menahan rasa nyeri di tubuhnya yang kembali menjalar. “Hhh.. Hhh.. Kumohon, Hyung, beri aku kesempatan untuk bicara padanya!” kini ia berlutut, tepat di hadapan Jonghyun.

Jonghyun menatap namja itu penuh arti, namun ekspresi wajahnya masih tetap dingin. Dia tetap diam, seolah kata-kata yang dilontarkan Kibum bukanlah hal penting yang perlu ia jawab.

“Kenapa kau diam, Hyung?!” Kibum meminta kepastian. Ia mulai tak sabar melihat Jonghyun yang tetap mengunci rapat mulutnya. “Aku tahu kau marah, aku tahu kau kecewa padaku, Hyung. Mianhae, mianhae, jeongmal! Aku tak bisa menjalankan tugasku dengan baik. Aku gagal menjaga Hyora sesuai permintaanmu,” sesalnya, “tapi, tolonglah, izinkan aku melihat keadaannya!”

Jonghyun mengepalkan tangannya. dadanya mulai bergemuruh. Emosi yang daritadi ditahannya mulai naik ke kepalanya. “Hyora tak ada di sini!” sergahnya dengan nada sedikit ketus.

Hyung, kumohon!” suara Kibum mulai bergetar, namja itu tengah menahan tangisnya. “Tolong jangan membenciku seperti ini. Kau boleh melampiaskan kemarahanmu padaku, tapi tolong izinkan aku bertemu dengannya!”

“Hyora sedang tak di sini!” nada ketus terlontar lagi dari bibir Jonghyun. “Kembalilah ke kamarmu. Jika kau membantah, aku tak akan segan-segan…,”

Andwae, Hyung!” Kibum tetap bersikukuh. Ia tetap berlutut di hadapan Jonghyun dengan sisa-sisa tenaganya. “Lampiaskan saja kemarahanmu sekarang, namun jangan larang aku untuk bertemu dengannya,”

Jonghyun menggeram. “Jangan membuatku semakin emosi, Kim Kibum!”

Hyung, kumohon!” kali ini Kibum sedikit mengeraskan volume suaranya.

Andwae!” Jonghyun kembali menolak keras permintaan itu,

Hyung!”

BUKK..!!

Pukulan keras akhirnya mendarat di rahang Kibum. Namja itu tersungkur. Tubuhnya kini menggeliat di lantai. Ia menatap Jonghyun yang masih setengah membungkuk dengan nafas tersengal-sengal. “Hyora tak ingin menemuimu, Kibum!” bisiknya dengan tatapan nanar. “Dia tak ada di sini!” Brakk.. Jonghyun membuka pintu ruang perawatan Hyora. Ruangan itu kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan Hyora di sana. “Kau lihat? Dia sedang tak di sini, jadi kembalilah ke kamarmu. Jangan mencari masalah lagi!” umpatnya lalu pergi meninggalkan Kibum yang masih menatap kosong ke ruang perawatan Hyora.

Minho mendekati Kibum, meraih lengan namja itu dan membantunya untuk bangkit. “Gwanchana, Key?”

Gwenchana,” bisik Kibum dengan nada lirih. Ia memaksakan dirinya untuk bangkit. Kedua bola matanya masih mencari-cari kebenaran di balik semua ini. Ia bingung, benar-benar bingung.

“Biarkan aku di sini sebentar,” Kibum menahan lengan Minho. Ia tetap duduk di atas lantai. Ia menyandarkan punggungnya di depan pintu, kedua lutunnya menekuk ke arah perutnya, sementara kedua tangannya kembali terkepal. “Kenapa aku tak boleh menemuinya, Minho?!” lirihnya pahit. “Aku memang bersalah, tapi haruskah aku dihukum seberat ini?”

Minho berjongkok. Ia menepuk pundak sahabatnya itu. “Tenanglah, Key!”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang?!” Kibum meringis. “Aku takut perkataan Jonghyun Hyung  barusan adalah perintah agar aku meninggalkan Hyora,” kini ia mengerang. Tangan kirinya menghantam lantai dengan kuat. “Di perpustakaan, aku pernah menyentuh Hyora di sana. Aku telah menyentuhnya, Minho-ya!” Kibum menekankan ucapannya. “Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya setelah melakukan semua itu? Aku tak sebejat itu!”

Minho menghela nafas berat. Tangannya kembali menepuk-nepuk pundak Kibum, berusaha menenangkannya.

“Aku memang ceroboh!”

Kini Kibum menghantam pintu yang ada di balik punggungnya. Air mata yang sedari tadi di tahannya mulai luruh di pipinya. “Aku benci pada diriku sendiri! Namja macam apa yang tega meninggalkan yeoja chingu-nya setelah menyentuh dan melukainya seperti ini?” ia mengerang frustasi. “Aku tak serendah itu!”

“Aku tahu, Key!” ucap Minho lembut. “Aku tahu, harga dirimu itu tinggi!”

Kibum meringis lagi. Air matanya kembali jatuh. “Apa kau tahu, apa yang membuat Jonghyun Hyung melarangku menemui Hyora? Aku yakin kau pasti tahu, Minho. Apa yang sebenarnya terjadi pada Hyora?”

Minho menelan ludahnya. Haruskah ia mengatakan bagaimana keadaan Hyora yang sesungguhnya. Ia menatap Kibum lekat-lekat. Pandangan namja itu begitu tajam. Meski egois, namun sinarnya memancarkan ketulusan. “Hyora mendapatkan luka serius di punggungnya.   Luka diagonal dengan tiga puluh jahitan. Dan luka itu, luka permanen. Luka yang akan membekas seumur hidupnya,”

Kibum membeku. Ia tak mengeluarkan respon. Hanya air mata yang kembali menetes dari kelopak matanya.

***

“Kau masih di sini, Hyora?” Jonghyun menghampiri yeoja yang duduk membelakanginya halaman belakang rumah sakit.

Ne,” Hyora menjawab lemah tanpa memalingkan pandangannya.

Jonghyun mendekati yeoja itu. Ia menumpukan tangannya pada salah satu pegangan kursi roda yang tengah diduduki Hyora. “Kenapa kau sendiri? Mana Soon Hee dan Taemin? bukankah mereka yang menemanimu di sini?”

Hyora tersenyum kecil. “Aku tak sendiri, barusan ada dua orang pasien yang menemaniku di sini. Soon Hee Eonnie sedang ke kantin membeli makanan, sedangkan Taemin, dia sudah berangkat  ke sekolah.”

“Oh,” Jonghyun bergumam sambil menatap lurus ke depan. “Dua orang pasien? Siapa mereka?”

“Bukan siapa-siapa, hanya seorang yeoja dan seorang anak kecil―pasien yang sudah lama menjalani perawatan di bangsal pesakitan ini,” sekali lagi Hyora menjawab dengan nada lemah. Ia mengembangkan senyumnya, berusaha menutupi luka yang terpancar dari sorot matanya. “Kurasa aku belajar banyak dari mereka,” lirihnya, sedikit terdengar bersemangat. “Oppa, bolehkah aku bertanya?”

Jonghyun tersenyum. Ia menatap Hyora, menyelami apa yang ada dalam pikiran yeoja itu. “Tanyakanlah,”

Hyora menghembuskan nafas sejenak. Kedua matanya mengerjap, seakan mempersiapkan mental untuk apa yang akan didengarnya. “Kenapa penyesalan itu selalu datang terlambat?”

Jonghyun tersenyum tipis. Pertanyaan itu, pertanyaan biasa yang umumnya ditanyakan saat seseorang putus asa. “Itu memang hukum alam yang tak bisa diganggu gugat,” ucapnya ringan. “Penyesalan memang selalu datang diakhir, saat dimana kau menyadari sesuatu bahwa itu tak seharusnya kau pikirkan, ucapkan, ataupun kau lakukan,” tuturnya sambil menyelami kedua mata Hyora yang mulai membulat. “Ibarat seorang siswa yang menempuh pendidikan. Tak mungkin kita akan menghadapi ujian akhir di awal. Pasti dimulai dari belajar biasa, dan setelah itu baru kita akan menghadapi ujian,”

Hyora mengangguk, mulai mengerti dengan pesan yang disampaikan Jonghyun. “Jika kita telah menyadari penyesalan itu, bisakah kita merubahnya?”

Sekali lagi Jonghyun tersenyum. Pertanyaan kedua yang bisa dia tebak. “Bisa!” ujarnya yakin. “Seperti banyak yang dikatakan artis di dalam drama, kita tak mungkin bisa memperbaiki kesalahan tanpa melakukan kesalahan terlebih dahulu,” nada bicaranya terdengar ringan, namun jauh. “Jika kau terlanjur menyesal, jangan pernah menyerah! Tuhan pasti akan memberikan kita kesempatan kedua untuk merubahnya, asalkan kita punya kemauan, keinginan, dan berusaha untuk merubahnya,” Jonghyun menatap Hyora lekat-lekat. Tangannya menyentuh puncak kepala yeoja itu. “Ketahuilah, segala sesuatu akan terjadi jika kau menjadikannya!”

Hyora terdiam. Sesuatu yang panas seperti mengalirinya setelah mendengar penjelasan Jonghyun. Apakah itu harapan atau semangat baru? “Oppa, bolehkah aku mengikuti jejakmu?”

Kedua mata Jonghyun melebar. “Maksudnya?”

“Barusan Soon Hee Eonnie menawarkan sesuatu padaku. Dia bilang aku masih bisa menjadi seorang model dengan cara operasi plastik,” ujar Hyora sedatar mungkin. “Sayang, aku tak berminat. Egois memang, tapi aku tak ingin hidup bukan sebagai diriku sendiri. Biarlah luka ini tetap membekas, lagipula setelah sekian hari dirawat di sini aku mendapat banyak pelajaran,” Kini bibirnya menyunggingkan senyum manis, senyum yang begitu ikhlas. “Jadi, bolehkah aku mengikuti jejakmu?”

Jonghyun tersenyum lembut. Suatu kebanggaan melihat yeodongsaeng-nya telah menemukan harapan baru. “Tentu saja,”

TBC

Nb: mau ngomong apa yahhh??? *geplakkk* mungkin ada beberapa di antara kalian yang pernah baca pertanyaan tentang penyesalan dibagian dialog Jonghyun dan Hyora. Yah, kedua pertanyaan itu memang aku kutip dari FF-nya Ditia It Was Tormented. karena rasanya aku nemu jawaban yang pas buat pertanyaan itu dengan bantuan temanku Tulasi, jadi aku masukin pertanyaan itu ke FF ini, yah tentunya atas izin Ditia juga, hwehehehehe…

eh iya, mian part ini kepanjangan. Mian juga kalau membosankan.  Seperti yang kalian tahu, FF Chandra emang gak pernah daebak. (TT^TT)

Ok, jadi kalau kalian masih minat baca, jangan lupa komen yah… kritik dan saran semua aku terima… ok???

©2011 SF3SI, Chandra.

This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

120 thoughts on “Something More: Last Available – Part 5

  1. Hwasahahahahaha….
    Syukurlah kalau kamu puas sama jawaBanNya…
    Hwehehehe..
    .
    Iya niH..
    Namamu ngeeksis…
    Hihihi..
    .
    Waduh.. Jangan nangis doNk..
    Hwehehe..
    GoMawo, Ditia..

  2. onnie mianhae, saeng bener2 gak tw klo blom komen..

    kasian hyora onnie kena kaca mobil, jadi berbekas.. ;TT
    key oppa and hyora onnie sabar yg sabar..

    lanjut ke next part..

  3. hoaaaaaaaaaaaaaaaa sedih ini… mata saya berair tp g menetes (?)

    kata2nya dapet bgt deh..

    keren author..

    lanjut deh aku baca ya… hihihii

  4. Sediiih, liat key sma hyora.. Sama-sama tersiksa.. Aku suka ucapan Jonghyun oppa, sangat bermakna.. :) knpa hyora mau mengikuti jejak jonghyun oppa?? Sangaat penasaran.. Lanjut ke part selanjutnya..

  5. Wah. Kasian banget hyora nya T.T
    Tp bagus banget dianya berpikiran positif, jd ga terpuruk terus ^^
    Bagus koq FFnya.
    Fighting ya author ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s