{NC-17} Something More: Into The New World – Part 6

 Something More: Into The New World- Part 6

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (@chandrashinoda)

Main Cast        : Kim Kibum (Key), Kim Jonghyun, Kim Hyora

Support Cast    : Other SHINee member, Lee Soon Hee, Kim Min Young, Lee Hyeorin

Special Guest   : Kim Sera (female main cast di FF-nya Lia ‘Keylieon’)

Genre               : Family, Friendship, Life, Romance

Length              : Sequel

Rating               : NC-17+ (WARNING!)

Credit Song      : Secondhand Serenade - Something More

Disclaimer        : I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SM entertainment. I’m just the owner of the story.

Yang masih di bawah umur balik!!! Wushh… karena part setelah ini akan diprotect. Jangan main-main daripada nanti penasaran sampai dongkol!!! Hwehehehehe…

***

I lie awake again..

My bodies feeling paralysed..

I can’t remember when..

I didn’t live trough this disguise..

The words you said to me..

They couldn’t set me free..

I’m stuck here in this life..

I didn’t ask for..

.

Hyora POV

Sudah dua minggu aku menjadi penghuni bangsal pesakitan ini. Rasanya senang sekali mendengar perkataan dokter kalau aku sudah boleh pulang ke rumah. Aku benar-benar merindukan kehangatan dan kenyamanan rumah selama berada di sini.

Aku duduk dengan tenang di kursi rodaku, memperhatikan Jonghyun Oppa, Jinki Oppa, Taemin, dan Soon Hee Eonnie merapikan barang-barangku.

“Apa kau senang bisa pulang hari ini, Hyora-ya?” tanya Sera yang sejak tadi berdiri di sebelah kursi rodaku.

Ne,” jawabku setengah berbohong. Bagaimana tidak? Sudah dua minggu aku tak bertemu dengan Key Oppa, bagaimana kabarnya sekarang? Mianhae, Oppa. Ini sepenuhnya bukan keinginanku. Aku hanya malu memperlihatkan tubuhku yang cacat ini padanya, tak lebih. Aku dengar dia sudah diperbolehkan pulang lima hari yang lalu, kuharap kau baik-baik saja, Oppa.

“Merindukan Key Oppa?” tanya Sera tiba-tiba, seolah tahu apa yang barusan kupikirkan.

Aku tersenyum simpul, sengaja tak menjawab pertanyaannya. Aku menunduk, ada rasa aneh yang bergemuruh di dadaku. Aku tahu perasaaan apa itu, itu adalah perasaan rinduku padanya. Rasanya benar-benar menyesakkan.

Sera tersenyum datar. “Biarpun kau tak menjawab, aku tahu persis apa jawabanmu,” umpatnya yakin. “Sudahlah, tak apa. Ayo kita pulang, yang lainnya sudah berangkat ke dalam mobil,” ucapnya penuh semangat sambil mendorong kursi rodaku.

***

Author POV

 

09.00 PM, namja itu melirik jam tangannya. Ia berdiri di depan sebuah bangunan megah dengan tegang. Tangannya menggenggam sebuket bunga mawar merah. Ia membenahi kemejanya yang agak berantakan. Raut wajahnya terlihat keras, ia terlalu tegang untuk namja seumurannya. Sesekali suara riuh terdengar dari rumah itu, menandakan banyak yang sedang bertamu di dalamnya.  Perlahan kakinya melangkah mendekati pintu rumah itu. Beberapa kali dadanya naik turun dengan cepat, seperti mengendalikan udara di dalam paru-parunya yang terasa sesak.

“Minho-ya,” ia memanggil namja yang menemaninya. “Jika nanti aku terlalu lama, kau pulang saja duluan,”

Minho tersenyum simpul, mengerti dengan maksud sahabatnya itu. “Ne, arraseo,” ia hanya diam, membiarkan sahabatnya―Kibum―mendekat ke arah pintu.

Tok.. tok.. tok.. punggung telunjuk tangan kanannya mengetuk pintu dengan pelan. Ia menelan ludah, memaksakan ekspresi datar di raut wajahnya. Ia harus siap kali ini, harus siap dengan segala risiko yang telah menantinya.

Cklek.., daun pintu terbuka. Namja pemilik rumah itu menampakkan dirinya. Wajahnya tak berekspresi, bahkan terkesan terlalu dingin. “Ada apa, Kibum-ah?” tanyanya pada namja yang sedang berdiri kaku di hadapannya.

“Ehm, Jonghyun Hyung,” Kibum menormalkan suaranya yang sedikit bergetar. “Bolehkah kali ini aku bertemu dengan Hyora?”

 Jonghyun menatap kedua manik hitam Kibum lekat-lekat, mencari apa tujuan namja itu sebenarnya. Kekhawatiran dan rasa bersalah, itu yang mampu ditangkapnya. Ah, tidak! Ada rasa cinta dan ketulusan yang ikut terpancar dibaliknya. “Kenapa kau ingin menemuinya?”

Kibum menelan ludahnya. Pertanyaan Jonghyun terdengar menantang. Apakah namja itu sedang menguji kesetiaannya? “Mianhaeyo, Hyung. Aku sudah tahu apa yang menimpa Hyora. Itu semua akibat kecerobohanku. Kumohon, kali ini izinkan aku bertemu dengannya!”

Jonghyun melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia masih ragu dengan ucapan Kibum yang terdengar terlalu ringan. “Apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya?”

Deg, Kibum mengatupkan bibirnya. Apa yang akan dia lakukan? Otaknya tak berpikir sejauh itu. Ia menelan ludah lagi, mengolah otaknya untuk menemukan jawaban yang tepat. “Apapun yang dapat kulakukan agar bisa terus ada di sampingnya,”

Jonghyun mengangguk. Sorot matanya sedikit melunak. “Baik, kuizinkan kau menemuinya. Tapi, jangan salahkan aku jika dia menolak kedatanganmu!”

Ne,” jawab Kibum mantap lalu mengikuti Jonghyun masuk ke dalam disusul Minho yang masih sibuk mengunci mulut sejak tadi.

***

There must be something more..

Do we know what we’re fighting for?

Breathe in, breathe out..

Breathe in, breathe out..

And all this masks we wore..

We never knew what we had in store..

Breathe in, breathe out..

Breathe in, breathe out..

.

Kibum POV

 

Aku membuka pintu kamarnya perlahan. Angin dingin menerpa wajahku. Aura aneh terpancar begitu aku menginjakkan kaki di lantai kamarnya. Perasaanku bergemuruh lagi. Aku menyipitkan mataku merespon kilau lampu kamarnya. Kutatap sosoknya yang terduduk lesu di atas kursi roda sambil menatap ke luar jendela.

Annyeong, Hyora!” aku menyapanya selembut mungkin, sambil menutup kembali pintu kamarnya.

 Kulihat dia sedikit tersentak. Indra pendengarannya benar-benar telah mengenali nada suaraku dengan baik. Meski begitu, ia tetap tak berpaling dari tatapannya semula. Hanya raut wajahnya yang sedikit berubah menjadi agak tegang. “Kenapa kau datang, Key Oppa?” tanyanya berbisik.

Deg, pertanyaan itu sedikit menusuk. “Apakah aku tak boleh menjengukmu?” kupertahankan nada bicaraku yang lembut.

Ia tak menjawab. Bahkan tubuhnya belum bergerak dari posisi awalnya, tetap menatap kosong keluar jendela tanpa ekspresi, seolah sedang menggambarkan kilatan cakrawala yang membentang luas di luarsana. Kedua tangannya menelungkup rapi di atas pahanya. Tubuhnya yang masih terbalut pakaian pasien terlihat layu. Perlahan cairan bening luruh di pipinya. Mengalir dengan pelan di setiap lekuk pipinya hingga menetes dan membasahi pakaiannya.

Sosoknya itu terlihat begitu rapuh. Raut wajahnya belum bisa kusimpulkan. Emosi tertahan, hanya itu yang mampu kulihat.

Kuletakkan bunga mawar yang kubawa di atas meja lalu mendekat ke arahnya. Aku berjongkok di sisi kanan kursi rodanya. Kupandang wajah pucatnya dari samping. Bahkan saat aku telah ada di sampingnya, ia sama sekali tak mau menatapku.

“Sebegitu marahkah kau padaku?” tanyaku sambil menatap matanya yang tetap memandang jauh ke depan. “Yah, aku pantas mendapatkan ini. Aku tak tahu harus mengungkapkan rasa bersalahku seperti apa. Mianhae, Chagiya,”

Kulihat ujung bibirnya terangkat. Ia tersenyum hambar, kedua alisnya terangkat mengikuti gerak bibirnya. “Akulah yang seharusnya minta maaf, Oppa,” bisiknya serak. “Seandainya saat itu aku tak egois dan memikirkan diri sendiri, mungkin kecelakaan itu tak akan pernah terjadi. Mianhae, kau harus mengalami semua ini, menderita dan menerima amarah dari sanak saudaraku,”

Aku tertunduk. Kuraih jemarinya dan kugenggam erat. “Aku pantas mendapatkan semua itu. Aku telah menghancurkan mimpimu. Mianhae,” sekali lagi sesuatu bergemuruh di dalam dadaku, membuatku ingin memuntahkannya dalam teriakan.

Sekali lagi kulihat Hyora tersenyum. Ia menggerakkan kepalanya, mulai menatapku. Tatapannya itu penuh luka. Bibirnya sedikit terbuka, seperti ada yang ingin disampaikannya, namun selang sedetik ia mengatupkan kembali, menahan lagi emosinya.

Aku bingung, apa yang harus kulakukan sekarang? Kutarik nafas dalam-dalam, entah mengapa udara di dalam sini membuatku sesak. “Hyora, bolehkah aku melihat lukamu?” mendadak pertanyaan itu terlontar dari bibirku.

Kedua mata Hyora melebar. “Mwo?!” ia berbisik tak percaya. Sejurus kemudian dia menunduk. “Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu jijik, Oppa!” ucapnya getir.

Deg, aku terperanjat. Perasaan apa ini? Sekali lagi sesuatu bergemuruh di dalam dadaku. “Itu tak akan terjadi. Kumohon izinkan aku melihatnya!”

Hyora menatapku sendu. Air matanya luruh lagi. Sekali lagi kulihat emosi tertahan di wajahnya. Dengan agak ragu ia mengangguk kecil.

Aku bangkit dari posisiku. Kulingkarkan kedua lenganku di leher dan lututnya. Aku berusaha melakukannya selembut mungkin. Aku takut, satu kesalahan saja bisa menyakitinya lagi. Hyora mengerjapkan matanya. Aku tahu, dia tengah bersusah payah menahan rasa sakit di punggungnya.

Kuangkat tubuhnya dari atas kursi roda dengan hati-hati. Kududukkan dia di tepi tempat tidur. Kupegang kancing bajunya yang ada di perbatasan leher dan punggungnya. Tubuhnya sedikit bergetar. “Gwenchana?”

Hyora mengangguk. Tubuhnya mulai tenang, namun kulihat kedua tangannya meremas seprai yang menyelimuti tempat tidurnya.

Kulepaskan kancing baju di punggungnya dengan hati-hati. Melepaskan satu-persatu kancing itu dari kain yang menjepitnya. Aku menghela nafas pelan. Aku bersumpah, apapun yang akan kulihat, tak akan merubah perasaanku padanya.

 Deg, aku menelan ludah saat ia mulai menampakkan dirinya. Luka diagonal dengan tiga puluh jahitan. Mendadak lidahku kelu. Inikah luka akibat pecahan kaca itu? Aku tak menyangka akan seperti ini.

Luka itu mulai mengering. Lendir-lendir di sekitar jahitannya mengeras dan terlihat seperti karang. Darah yang membeku di sekitar jahitan itu mulai berubah warna menjadi keunguan. Beberapa lebam juga terlihat berwarna keunguan di sekitar lukanya. Lalu benang-benang yang tersulam di punggungnya terlihat mengaitkan kembali kulitnya yang terkoyak. Setiap lekukan benang-benang itu tersusun rapi  dan nyaris sempurna.

Benar-benar mengerikan. Akukah yang telah membuatnnya menderita seperti ini? Kukepalkan kedua tanganku. Masih dengan ekspresi terkejutku aku mengerang, rahangku mengeras, serta seluruh tubuhku mulai bergetar. Apa yang telah kulakukan padanya? Aku menggigit bibirku, membayangkan betapa besarnya dosa yang telah kulakukan. Aku telah menghancurkan mimpi dan cita-citanya. Kenapa aku bisa sekejam ini padanya, Tuhan?!

“Key Oppa,” kudengar suara lirih Hyora berbisik. Tubuhnya kembali bergetar. Ia menatapku, matanya semakin basah. “Mianhae, aku seperti ini sekarang,” ucapnya serak sambil berusaha tersenyum padaku. “Aku tak tak pantas lagi ada di sisimu,” setetes air mata luruh lagi di pipinya. “Aku gadis cacat sekarang. Tinggalkanlah aku, Oppa,”

Deg, hatiku mencelos. Emosi ini, ya.., emosi inilah yang ditahannya sejak tadi. Aku menelan ludahku yang kini terasa amat pahit. “Andwae, Hyora!” tolakku keras. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya setelah kuhancurkan hidupnya hingga seperti ini?

“Jangan membuat dirimu malu dengan bersanding dengan gadis cacat sepertiku!” ia mulai terisak. Wajahnya memerah menahan emosi. “Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku,” ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat.

Aku miris melihatnya seperti ini. Ia kembali menggeliat, meronta-ronta di dalam tangisnya yang memilukan. Cukup, Hyora! Aku tak sanggup melihatmu seperti ini!

Kuraih kedua tangannya yang masih menutupi wajahnya. Kutatap sepasang manik indahnya yang kini terlihat sayu. Rahang bawahnya masih bergetar menahan tangis. Perlahan kuhapus air mata yang membasahi pipinya. “Kumohon, jangan katakan itu lagi, Chagiya. You are my girl. Now and forever,” bisikku sambil mengecup jemarinya.

 Air matanya luruh lagi. Ia menunduk. “Anniyo, Oppa. Aku tak..,”

Belum selesai ia bicara, kubungkam bibirnya dengan bibirku. Aku tak ingin mendengarnya memberiku penolakan lagi.

Hyora berhenti bergerak. Ia tak melakukan perlawanan ataupun penolakan, hanya getaran tubuhnya yang masih terasa di indera perabaku. Kugenggam erat jemarinya, takkan kulepas. Aku tak peduli bagaimana kondisi tubuhnya sekarang. Yang kutahu, aku hanya ingin terus ada di sampingnya, hanya itu.

Ciuman ini mulai basah. Bukan karena salivaku ataupun saliva miliknya, melainkan air mata. Ya, dia masih menangis, menangis tanpa suara.

Kulepas ciumanku perlahan. Kutatap kedua matanya yang semakin sayu. Kugerakkan jemariku ke arah rambutnya. Kuusap perlahan, mengikuti lekuk tulang tengkoraknya. “Uljima, Chagiya,” kukecup punggung tangannya, berharap dia tak akan menolakku lagi.

Hyora belum bicara, bibirnya masih bergetar. Kusunggingkan senyum di bibirku. “Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. You are mine, Chagy,”

Hajiman, Oppa?” ia memaksakan suara seraknya keluar.

Saranghae,” bisikku lalu kembali mengecup bibir mungilnya.

Tetaplah seperti ini, Hyora. Jangan memberikan penolakan lagi. Mianhae, aku akan menyentuhmu sekarang. Kau milikku, jangan ingkari itu, dan jangan jadikan luka itu alasan untuk membuatku jauh darimu.

Kugigit bibirnya lembut. Meski pelan, bisa kudengar dia merintih. Kupegang kedua tulang pipinya. Ia sedikit membuka bibirnya akibat gigitanku. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, kukulum salivanya yang terasa agak kental setelah dia menangis. Meski Hyora masih pasif, namun bisa kurasakan salah satu tangannya telah mengalung di leherku.

Kualihkan bibirku ke leher jenjangnya. Wangi kloroform bangsal pesakitan masih melekat di tubuhnya. Bau yang benar-benar membuatku muak.

Kuhisap salah satu bagian lehernya. Kurasakan darahnya ikut terpicu mendekat ke arah bibirku. Mereka diam di sana, meninggalkan bekas kemerahan. Kugigit pelan bekas kissmark yang kubuat.

“Mmhh, Key Oppa,” Hyora merintih lagi.

Say my name, Baby,” ucapku lembut, membuat semburat merah muncul dari kedua pipinya.

Yah, kurasa ini yang kurindukan. Aku suka mendengar rintihannya yang menyebut namaku.

Mmhh, Key Oppa, sudah,” yeah, sekali lagi dia menyebut namaku.

Kuhentikan aktivitasku di lehernya. Kutatap lagi wajah pucatnya. Nafasnya mulai tak beraturan. Huh, aku pasti sudah membuatnya tersiksa lagi.

“Hyora, izinkan aku menyentuh lukamu,” bisikku di telinganya, dan sukses membuat kedua matanya membulat.

“Tapi, Oppa, aku tidak memakai..,”

“Ssstt!” Kutekan bibirnya dengan telunjukku. “Percayalah, aku tak akan berlaku kurang ajar. Aku hanya ingin turut merasakan penderitaanmu sekarang. Aku bersumpah!”

Hyora menatapku bingung. Ketakutan terlihat dari sorot matanya, namun bisa kurasakan dia berusaha membangun kepercayaan di balik semua itu. Dengan agak ragu ia mengangguk. “Baiklah,”

Aku menghela nafas sejenak. Kutarik perlahan kain biru yang melekat di tubuhnya. Lekuk tubuhnya mulai terlihat. Tulang selangkanya, lengannya, dan terakhir kedua gundukkan di dadanya. Dia tak mungkin memakai bra dalam keadaan seperti ini.

Hyora hanya menunduk ketika lekuk tubuhnya terlihat olehku, ia terlihat sangat malu. Aku menatap tubuhnya yang setengah telanjang itu dengan penuh arti. Aku terdiam, mencerna suatu keanehan yang menjalar di pikiranku. Aku benar-benar ingin menyentuhnya, tapi mengapa saat kulihat tubuhnya dalam keadaan nista seperti ini nafsuku sama sekali tak melunjak? Yang kurasakan hanya rasa haru dan bungah.

Apakah ini yang dinamakan keikhlasan? Aku merasa melihatnya dari sisi yang berbeda. Sebagai seorang wanita dan orang yang harus kulindungi. Apakah saat ini pikiranku telah berubah menjadi lebih dewasa? Entahlah, aku tak tahu.

Kubuka kancing kemejaku satu-persatu. Aku tak ingin membuatnya merasa perih jika pakaianku menyentuhnya.

Kedua mata Hyora semakin membulat. “Oppa, apa yang kau…,”

“Tenang dan percayalah padaku,” ucapku datar.

Kuposisikan tubuhku agar berada di belakang punggungnya. Kuselangkangkan kedua kakiku di antara pinggangnya. Ya, inilah posisi terbaik bagiku untuk mengurangi kepedihannya.

Kutatap luka diagonal di tubuh Hyora. Luka yang akan meninggalkan bekas permanen―luka yang akan membekas seumur hidupnya. Sekali lagi sesuatu seperti menusuk hatiku. Sakit, benar-benar sakit. Ini semua karena kelalaianku. Aku tak bisa menjaganya dengan baik. Aku memang namja bodoh. Bahkan menjaga yeoja chingu-ku saja aku gagal. Huh, baiklah, tak ada waktu untuk menyesal sekarang. Aku harus menebus dosaku, dengan menjadi namja yang akan mendampingi hidupnya.

Dengan agak ragu kuulurkan jemariku ke arah torehan lukanya. Kuelus perlahan, turut meresapi rasa sakit dan penderitaan yang telah diberikannya pada yeoja-ku.

Tubuh Hyora menegang. Bisa kudengar dia merintih lagi. Sentuhan ini pasti terasa seperti cambukan baginya. Kusandarkan daguku dipundaknya sambil tetap menjaga jarak agar tubuhku tak menyentuh lukanya. “Mianhae,” aku berbisik di telinganya. “Nan jeongmal saranghae,” sekali lagi aku berbisik sambil menggigit kecil cuping telinganya.

Hyora memutar kepalanya, ia berusaha menatapku. Aku tersenyum simpul, menahan sesuatu yang mulai membuat dadaku menjadi panas. Kuraih ujung dagunya, sekali lagi kukecup bibir mungilnya.

Rasa panas itu mulai mengalir ke kepalaku dan berhenti di dua tempat, di mata kanan dan mata kiriku.  Kulepas ciumanku ketika merasakan sesuatu mengalir turun dari kelopak mataku. Cairan itu luruh, menetes di ujung luka jahitan Hyora. Kali ini dia tak merintih. Kedua matanya terpejam, ia menggigit bibirnya. Perih, rasa itu pasti menjalar lagi dilukanya.

Kukecup pundaknya sekilas, lalu beralih turun ke arah lukanya. Hyora mengepalkan tangannya, tubuhnya mengejang. Ia terlihat menahan sentuhan bibirku yang terasa bagai sayatan di kulitnya.

Kukecup setiap inchi lukanya, mengikuti lekuk dan arahnya. Air mataku luruh lagi, luruh membasahi sayatan luka Hyora. Sesuatu mengalir di dalam diriku. Rasa iba, ah tidak! Rasa kasih sayang. Perasaan itu membuatku terlarut. Entah sejak kapan ini terjadi. Tak ada sedikitpun rasa jijik yang kurasakan. Aku tak peduli meski bekas obat-obatan yang masih tersisa di lukanya tertempel di bibirku. Aku tak peduli meski lendir-lendirnya menodai bibirku. Aku tak peduli semua itu, karena aku hanya berharap penderitaannya bisa berkurang.

Aku bingung dan semakin terhanyut dalam perasaan ini. Kali pertama saat aku menyentuh tubuhnya sejauh ini. Nafsuku yang sama sekali tak terpancing membuatku bersyukur. Suatu kebanggaan untukku. Karena kini aku tahu, aku ikhlas membantunya. Ikhlas menopang penderitaannya. Aku akan menjadi pilarnya untuk bersandar. Aku akan membebaskanmu dari keputusasaan ini, Hyora. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Jadi biarkanlah perasaan kita ini menyatu, terlelap di dalam kondisi teragung di antara dua insan.

Air mataku menitik lagi di pertengahan lukanya. Kudengar Hyora merintih. Tangannya kembali meremas seprai. Apakah perasaan yang dirasakannya sekarang? Rintihan itu, rintihan kesakitan. Rintihan bernada pilu, namun dihiasi sedikit rasa haru.

Kuelus perlahan beberapa lebam  yang terdapan di sekitar lukanya, namun perhatianku tetap terfokus pada lukanya. Kukecup setiap bagiannya hingga berakhir di atas pinggang sebelah kanannya.

Kuangakat kembali kepalaku. Bisa kudengar Hyora masih terisak. Ia memutar tubuhnya menghadapku. Wajahnya basah oleh air mata, benar-benar membuatku miris. Perlahan jemarinya menyentuh pipiku. Mengusapnya pelahan, menghapus sisa-sisa air mataku yang sedikit membekas. Jemarinya mulai bergerak, ia menyentuh bibirku lalu menghapus sesuatu yang rasanya menempel disana.

Mianhae, Oppa. Aku menodai bibirmu,” lirihnya getir. Ia terlihat bingung, namun sedetik kemudian ia mendaratkan bibirnya di bibirku.

Aku sedikit terkejut, ini pertama kalinya di menciumku. Kuraih kedua tulang pipinya lalu mulai membalas ciumannya. Ciuman ini basah, basah karena air mataku dan air matanya. Ada kesan pahit dan anyir. Kurasa obat yang tersisa di punggungnya benar-benar menempel di bibirku.

Mianhae, Oppa,” bisiknya sekali lagi.

Gwenchana, Yeobo,” kukecup lembut keningnya. Kupangku tubuhnya yang masih bergetar lalu menenggelamkan kepalanya di dadaku.

Isakannya mulai menghilang. Kurasa tenaganya telah terkuras untuk menangis. “Ini sudah malam. Kau harus istirahat, Chagy,”

Hyora menatapku, kedua matanya sayu dan sembab. Ia mengagguk pelan dan mulai menelungkupkan badannya. Kubaringkan tubuhku di sampingnya. Kurebahkan kepalaku di punggungnya. “Mimpi yang indah, Chagy. Saranghae,”

Gomawoyo, Oppa. Nado saranghae,” bisiknya parau. “Jangan pergi, aku takut!” akhirnya dia mengucapkan kata-kata itu. Ketakutan akan ditinggalkan setelah aku melihat semuanya.

“Aku tak akan pergi,” ucapku lembut. Kuusap puncak kepalanya. Kupejamkan mataku. Bau kloroform, sekali lagi bau itu menyeruak masuk ke hidungku. Aku tak peduli, tetap kusandarkan kepalaku di punggungnya. Sesekali kusentuh dan kukecup torehan lukanya yang terkesan begitu nista.

Aku menghela nafas ringan. Entah kenapa perasaan ini begitu dalam, sampai-sampai aku sendiri takut untuk kehilangannya. Rasa yang menumbuhkan kedewasaan dan keikhlasan. Rasa ini membuatku sadar, sejak awal aku tak pernah mencintai tubuhnya, yang kucintai adalah hatinya.

***

The storm is rolling in..

The thunders loud it hurtd my ears..

I’m paying for my sins..

And its gonna rain for years and years..

I fooled everyone..

And now what will I become?

I have to start this over..

I have to start this over..

.

Author POV

 

Namja itu beranjak dari depan pintu kamar yeodongsaeng-nya. Ia menghela nafas pelan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, membungkusnya rapat-rapat. Kedua ujung bibirnya terangkat. Ia tersenyum, penuh misteri dan menyimpan banyak pesan. Kini kakinya mulai melangkah menjauh darisana. Ia harus menyampaikan hal ini pada tiga orang temannya yang ada di ruang tamu.

Ia menghenyakkan tubuhnya di atas sofa, melepaskan semua kejenuhan yang memenuhi pikirannya.

“Ternyata pilihanmu memang tak salah, Jonghyun Hyung,” ucap seorang namja yang tengah sibuk berkutat dengan PSP-nya.

Jonghyun melirik namja itu. “Tentu saja, Taemin-ah,” balasnya tersenyum penuh arti. Wajahnya yang terlihat letih, namun terselubung kebanggaan. “Dimana Soon Hee dan Sera?”

“Di halaman belakang. Mereka sedang mencari udara segar.” jawab Taemin santai tanpa beralih dari PSP-nya.

“Aku juga salut padamu,” Jinki yang sedang berkutat dengan laptopnya ikut berkomentar. “Namun aku sedikit heran, sebenarnya hatimu terbuat dari apa?” ia melirik ke arah Jonghyun. “Kau bisa sesabar itu menghadapi Kibum―namja yang telah melukai Hyora,”

Jonghyun menghela nafas, ia tersenyum simpul. “Aku tak sekuat itu, Jinki. Aku masih tertekan dengan peristiwa ini. Hanya saja sejak pertama kali bertemu dengan Kibum, aku tahu dia itu namja yang baik,” ucapnya dengan nada ringan. “Entah darimana aku mendapat kesimpulan itu. Yang aku tahu, mata anak itu memancarkan rasa egois yang tinggi, namun ada rasa tanggung jawab dan ketulusan yang menyertainya. Itulah yang membuatku percaya padanya. Dan ternyata terbukti, dia memang namja yang akan menggantikanku menjaga Hyora,”

Ya! Jangan bilang kalau kau baru saja merestui hubungan mereka!” Jinki menyenggol pundak Jonghyun.

“Ahahahaha!” guyonan Jinki membuat Jonghyun tertawa. “Kita lihat saja nanti,” umpatnya, kembali dengan senyumannya yang seakan sengaja menyimpan misteri. Ia kini melirik Minho yang daritadi tak terusik dengan buku biologinya. “Gomawo, sudah menjaga Kibum dengan baik selama di rumah sakit, Minho-ya!”

Minho tersenyum tipis. Image-nya yang cool terkesan polos. “Cheonmaneyo, Hyung,” ia membungkuk hormat, hanya dua kata itu yang terlontar dari bibirnya.

Sekali lagi Jonghyun tertawa. Namja jangkung itu―Sang Presiden Sekolah―Choi Minho―memang lucu dengan ekspresi innocent-nya.

Jonghyun memejamkan matanya. Ia tersenyum lepas. Dadanya naik turun dengan teratur, membiarkan udara malam yang menyejukkan memenuhi paru-parunya. Hyora, sosok yeodongsaeng yang sangat disayanginya. Seperti yang kita tahu, ikatan persaudaraan tak akan mampu dipisah oleh permusuhan, cinta, maupun persahabatan. Memberikan yang terbaik Hyora adalah salah satu mimpinya, mimpi yang selalu membayang-bayangi otaknya. Dan kini mimpi itu telah mulai terwujud. Itu membuatnya kembali teringat pada satu baris kalimat yang terdapat di dalam buku yang pernah dibacanya, The Secret, ‘Apa yang kau inginkan, pikirkanlah!’

***

There must be something more..

Do we know what we’re fighting for?

Breathe in, breathe out..

Breathe in, breathe out..

And all this masks we wore..

We never knew what we had in store..

Breathe in, breathe out..

Breathe in, breathe out..

 

Kibum POV

Aku mengernyitkan mata saat secercah sinar terbayang-bayang di kelopak mataku. Kulirik dua jendela besar yang ada di seberang tempat tidur Hyora. Ya, sudah pagi.

Aku tersenyum, kulihat Hyora  masih terlelap di sampingku. Jendela, tunggu dulu! Tirai di jendela itu sudah terbuka. Aku menelan ludah, ekor mataku tertuju pada seorang namja yang sedang memegang sebuah buku di atas meja belajar Hyora. “Jonghyun Hyung, ba.. bagaimana kau bisa ada di sini?”

Jonghyun Hyung tersenyum, senyuman yang sudah sekian kali kulihat―penuh misteri. “Kalian tak mengunci pintu semalam,” ucapnya ringan. “Jadi aku ke sini untuk merapikan kamar Hyora. Berhubung sudah selesai, aku belajar saja di sini, udaranya segar,”

Mwo?!” aku tak percaya. Apakah sejak tadi dia memperhatikan caraku tidur dengan Hyora? Omo, aku bisa dibunuhnya kalau begini. Aku duduk dengan tergesa-gesa. Kuraih kemejaku dan segera kupakai untuk menutupi tubuhku yang telah dilihatnya dalam keadaan tak pantas ini. “Mianhaeyo, Hyung. A.. aku, ehm, a.. aku, aku belum melakukan itu dengan Hyora,” aish! Susah sekali rasanya untuk bicara normal. “A.. aku hanya..,”

“Hahahaha!” Jonghyun Hyung tertawa. Reaksinya membuatku semakin tak mengerti. “Tak usah gugup seperti itu. Aku tahu apa yang  kalian lakukan semalam,”

Mwo?!” sekali lagi aku terperanjat. “Ba.. bagaimana bisa?!”

Ia menunjuk telinganya. “Kau tahu kan, aku ini hobby menguping?” umpatnya sambil tersenyum nakal.

Aku menekuk wajahku. Rasanya dia ingin mengerjaiku lagi kali ini. Benar-benar membuatku dongkol.

Senyum di wajahnya mulai memudar. Ia bangkit dari kursinya, mulai melangkah ke arah pintu. Ia menatapku tajam, membuat jantungku berdebar menahan ketegangan yang mulai tercipta di otakku. “Ikut dengaku ke halaman belakang!” katanya tegas. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!”

Aku mengangguk. “Ne, Hyung.

Aku mengikutinya dari belakang. Aku tak berani berjalan di sampingnya. Entah apa yang membuatku takut, mungkin saja karena kharisma khas yang terpancar dari dirinya.

Kutatap punggungnya yang  membelakangiku. Dia menuruni anak tangga dengan tegap. Hentakan kakinya terlihat kuat, layaknya seorang namja pelindung. Dia, namja yang selalu mengujiku. Dan disaat yang bersamaan, dia sosok namja yang telah membuatku kagum. Kagum dengan sudut pandangnya setiap menghadapi sesuatu.

Ia berhenti di sudut kiri halaman rumahnya. Tempat di mana ada serangkaian tanaman kecil yang disukai Hyora, ilalang. Ia menghenyakkan pantatnya di tengah rumpun ilalang yang terawat itu. Ia melirikku sambil memberi isyarat kalau aku harus duduk di sampingnya.

“Apa yang ingin Hyung bicarakan denganku?” tanyaku setenang mungkin, berusaha menyiapkan mentalku untuk menerima segala sesuatu yang diucapkannya.

“Hanya tentang Hyora,” nada bicaranya terdengar sarat. Tangannya memetik beberapa bunga ilalang dan mulai merangkai semacam simpul. “Apa kau benar-benar ikhlas menerimanya? Bukan semata-mata hanya bertanggung jawab karena kau telah mencelakainya?”

Aku menghela nafas pelan. “Tentu saja,” ucapku mulai berpikir. “Aku telah mengetahui makna perasaanku padanya. Terdengar gombal memang, tapi perasaan ini benar-benar tulus. Cinta tak pernah menilai fisik maupun penampilan, ia tak memegahkan diri dan tak sombong. Aku mencoba menanam benih itu di dalam perasaanku terhadap Hyora,”

Jonghyun Hyung menepuk pundakku. “Ternyata memang benar, kaulah orang yang akan menerima jabatan itu,”

Aku mengernyitkan alisku. “Jabatan apa?”

Ia tetap tersenyum, masih larut di dalam misteri. “Jabatanku untuk menjaga Hyora,”

Kedua mataku membulat. Apakah dia benar-benar merestui hubunganku dengan Hyora? Omo! “Jin.. Jinccayo?!”

Ne, Key.” dia mengangguk. Senyumnya terlihat lepas. Pertama kalinya dia memanggilku dengan nama akrabku. “Ini,” dia menyerahkan ilalang yang sejak tadi dimainkannya. “Anggap saja hadiah dariku untuk kalian,”

Aku mengambil ilalang itu sambil menatapnya dengan alis terangkat. “Omo, i.. ini, sepasang cincin?!” pekikku semakin tak percaya. “Jangan katakan kau menyuruhku melamarnya sekarang!”

Jonghyun Hyung meninju pundakku. “Kalau kau tak mau sini kembalikan!”

Andwae!” tolakku keras. “Baiklah, aku akan melamarnya sekarang!” aku buru-buru bangkit dari tempat dudukku dengan sumringah, namun tidak dengan Jonghyun Hyung. Dia tetap dengan posisi awalnya. “Kau tak ikut, Hyung?”

Ani, aku ada janji dengan Soon Hee hari ini,”

Aku tersenyum nakal. “Mau melamarnya juga?”

Mwo?! Ya, awas kau, Key!” Jonghyun Hyung melempar kerikil ke arahku.

“Hahahaha, good luck, Hyung!” teriakku lalu berlari meninggalkannya yang masih menatapku dengan kesal.

***

I fooled everyone..

And now what will I become?

I have to start this over..

I have to start this over..

There must be something more..

Do we know what we’re fighting for?

Breathe in, breathe out..

Breathe in, breathe out..

And all this masks we wore..

We never knew what we had in store..

Breathe in, breathe out..

Breathe in, breathe out..

Hyora POV

 

Kulangkahkan kakiku ke arah kursi rodaku. Kuseret paksa kakiku untuk berjalan. Huh, luka sialan ini benar-benar perih. Kuraih pegangan kursi rodaku dengan tertatih-tatih. Kududukkan tubuhku dengan hati-hati. Kuusahakan untuk menghindarkan punggungku agar tak bersentuhan dengan sandaran kursi roda.

Pintu kamarku terbuka perlahan. Seorang namja yang sosoknya sangat familiar masuk dengan hati-hati ke kamarku, Key Oppa.

Aku memiringkan kepalaku, menatapnya agak heran. “Kau masih di sini, Oppa?”

Key Oppa tersenyum lembut. Ia mendekatiku dengan hati-hati. “Tentu saja, aku kan sudah berjanji untuk menemanimu di sini, Hyora,” jawabnya ringan.

Aku menunduk. Kurasakan kedua pipiku memanas. Omo, berarti Key Oppa benar-benar semalaman menemaniku di sini. Aku tersenyum simpul, bingung harus memberikan reaksi seperti apa. “Oppa barusan kemana?”

“Hanya menemani Jonghyun Hyung sebentar,” ucapnya ringan. Raut wajahnya benar-benar tenang saat mengatakan itu. Aku rasa tak ada yang mengganjal diantara mereka.

“Oh,” hanya itu respon yang aku berikan. Huh, aku masih gugup jika mengingat kejadian semalam. Aku memalingkan kursi rodaku ke arah jendela. Aku menatap lepas keluar jendela, berusaha menghindari tatapannya.

Meski tak melihatnya, aku bisa mendengar suara langkah kakinya. Dia mendekat ke arahku. Yah, dugaanku tepat. Selang beberapa detik dia telah berada di sebelah kanan kursi rodaku. Ia setengah berlutut, membuat tubuhnya sejajar dengan tubuhku. Bola matanya mengikuti gerak pandangku dan berhenti tepat di tempat yang sedang kuperhatikan―kumpulan awan. Ia menghela nafas yang entah mengapa terdengar berat di telingaku. “Mianhae,” kata itu, kembali kata itu terlontar dari bibirnya.

Aku tersenyum, kuhempaskan sesak di dadaku lewat sepoi angin yang samar-samar menerpa wajahku. “Gwencaha, Oppa. Jangan ucapkan maaf lagi, tak ada yang harus disalahkan atas semua ini,” bisikku. Kuraih jemarinya dan kugenggam erat. Kutatap kedua maniknya seakan penuh dengan tanda tanya. “Jangan terlalu terlarut dengan peristiwa itu. Lagipula aku mulai berusaha melupakannya,”

“Bagaimana mungkin bisa, Chagiya?” raut wajahnya terlihat semakin bingung.

“Mungkin, karena aku ingin menjalani hidup yang baru mulai sekarang,” ucapku datar. “Semua orang tahu, dengan tubuh seperti ini aku tak akan bisa menggapai cita-citaku sebagai seorang model. Jadi, aku tak akan memaksakan diri untuk itu. Bukan berarti aku menyerah. Tidak, itu sama sekali tak ada di dalam kamusku. Seperti kata orang bijak, banyak jalan menuju roma. Aku telah menarik kesimpulan, banyak jalan untuk menjadi orang sukses meski itu harus mengorbankan salah satu diantara mimpi terbaikmu. Meski menyakitkan atau terdengar memaksa, aku yakin aku masih bisa merubahnya.”

“Hyora,” Key Oppa menatapku sumringah.

“Tuhan tahu yang terbaik untukku. Mungkin ini adalah kesempatan kedua yang Ia berikan. Kesempatan yang harus aku perjuangkan,”

“Kesempatan yang kau maksud?”

Aku menatap Key Oppa lekat-lekat. “Aku akan mengikuti jejak Jonghyun Oppa,”

-Flashback-

Annyeong haseyo!” sebuah suara kecil menyapaku. Aku melirik ke sumber suara itu. Anak kecil, kira-kira berusia 9 atau 10 tahun.

Kuusunggingkan senyum seadanya di bibirku. “Annyeong!” aku balas menyapanya seramah mungkin. Kuamati lekuk tubuh anak itu. Kurus dan pucat, namun entah mengapa auranya sangat ceria. “Siapa namamu, Gadis kecil?”

“Lee Hyeorin!” serunya bersemangat, sambil memamerkan sederet gigi putihnya. “Eonnie siapa?”

“Kim Hyora,” ucapku sambil berusaha tersenyum semanis mungkin. “Hyeorin, kenapa di sini sendirian? Di mana appa dan umma-mu?”

Dia terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi murung. Tangan kecilnya mulai bergerak. Ia menunjuk ke suatu tempat. Awah, ah bukan! Langit. Yah, tempat itulah yang ditunjuknya.

Aku tahu maksud anak itu. Aku terlalu tahu. Rasanya air mataku ingin jatuh setelah mengetahuinya. Kutatap lagi wajah tirusnya. Aku sedikit kaget setelah melihat dia kembali tersenyum. Manis dan lepas. “Tak apa, tadi malam aku bermimpi, Umma bilang, beliau akan menjemputku sebentar lagi. Bogoshipo, Umma, Appa,” ia melakukan gerakan kecil, memeluk tubuhnya sendiri seolah sedang memeluk orang yang ingin dipeluknya.

Aku makin miris melihat anak ini. Apakah benar mimpi itu akan menjadi pertanda baginya?

Hyeorin menghentikan kegiatan berpura-pura memeluk Umma-nya. Ia meringis, tangannya meremas dada bagian kirinya. “Hyora Eonnie, sa.. sakit!” rintihnya tersengal-sengal.

Aku menggerakkan kursi rodaku ke arahnya. Omo, apa yang terjadi pada anak ini? Kuseret paksa tubuhku untuk menjangkaunya. Kutahan ngilu yang menjalari tubuhku untuk menopang tubuhnya. “Ya! Kau kenapa, Hyeorin-ah?!” tanyaku mulai panik.

Ia tak menjawab. Bibirnya terus mengeluarkan rintihan.

“Hyeorin!” beberapa orang menghampiriku dan Hyeorin. Mereka terlihat panik.

“Sakit, ahjussi,” rintihnya pada seorang laki-laki yang kini ikut menopang tubuhnya.

“Bertahanlah, Sayang!” ucap ahjussi itu, lalu mengangkat tubuh mungil Hyeorin. “Mianhae, agassi, dia telah menyusahkanmu,” paparnya semakin panik. “Aku harus membawanya ke ruang isolasi sekarang. Mianhae!” lirihnya lalu pergi meninggalkanku.

Aku terduduk di lantai. Mulutku menganga. Entah bagaimana aku harus menyimpulkan semua ini. Nyata sekaligus mengerikan.

Gwenchanayo, Chingu?” sebuah suara lembut menyapaku dari arah belakang.

Dia seorang yeoja. Aku tak menjawab, masih sibuk dengan sport jantungku. Dia tersenyum, kedua tangannya meraih tubuhku dan membantuku kembali ke atas kursi rodaku. “Anak itu, apa yang terjadi dengannya?” aku melontarkan pertanyaan bodoh pada yeoja itu.

“Serangan. Anak itu menderita lemah jantung, sama seperti kedua orang tuanya,” ucap yeoja itu ringan. “Naneun Kim Min Young imnida. Kau siapa?”

“Kim Hyora imnida,” jawabku lemah. Seperti sambaran petir rasanya mendengar penyakit anak itu.

Kutatap yeoja yang kini berdiri di sebelahku. Wajahnya tak kalah pucat dibandingkan Hyeorin. Tubuhnya bahkan jauh lebih kurus dibandingkan denganku.

“Kau terlihat begitu tertekan,” ucapnya tiba-tiba. “Lalu punggungmu itu, kurasa di sanalah penyebab kekesalan itu. Apa kau baru saja kehilangan mimpimu?”

Deg, aku terperanjat. Mendadak kedua mataku yang menatapnya menjadi membelalak. “Kenapa kau tahu?”

Min Young tersenyum. Wajah pucatnya terlihat begitu damai. “Kau adalah orang kesekian yang pernah kutemui dalam keadaan seperti itu selama tiga tahun menjadi penghuni bangsal pesakitan ini,” paparnya sederhana. “Mimpi itu pasti sangat berharga bagimu,” lirihnya lembut. “Jangan berkecil hati. Masih banyak jalan lain yang bisa kau tempuh. Kau itu termasuk orang yang beruntung,”

“Beruntung?” aku tak mengerti dengan maksudnya.

“Beruntung karena Tuhan memberimu peluang ke jalan yang menurut-Nya lebih pantas kau tempuh,”

Aku terperangah. Kedua mataku membulat. Entah mengapa yeoja ini terlihat begitu tenang. Seakan hal ini bukanlah masalah yang harus dipanjanglebarkan. “Boleh aku tahu, apa penyakit yang kau derita?”

“Kanker hati,” jawabnya cepat. Jawaban singkat yang sukses membuat hatiku mencelos. Mudah sekali dia mengatakan hal itu. “Sudah, ya? Aku harus kembali ke ruanganku nanti umma marah. Annyeonghi, Hyora-ssi!” teriaknya lalu pergi meninggalkanku.

Aku terdiam, duduk membeku di atas kursi rodaku. Perasaanku bergemuruh, meratapi dua orang yang baru saja memberi secuil jalan padaku.  Aku menghela nafas pelan. Ternyata aku memang orang yang beruntung.

-Flashback end-

 

“Seperti itulah, Oppa.” jelasku lirih. “Aku jauh lebih beruntung dibandingkan mereka. Mereka telah memberiku pengalaman dan pelajaran. Jika memang begitu, maka sekarang giliranku untuk memberikan harapan pada orang-orang seperti mereka.” ucapku yakin. “Aku akan mengikuti jejak Jonghyun Oppa. Jejak yang sama dengan Umma dan Appa. Aku akan menjadi seorang dokter!”

Key Oppa meremas tanganku. Pandangannya terlihat sangat lembut. “Jika memang begitu, wujudkanlah mimpimu itu. Aku akan mendukungmu,”

Aku tersenyum. Ia meraih jari manisku. Dengan perlahan ia memakaikan cincin ilalang di di sana. “Ini hadiah dari Jonghyun Hyung,” ucapnya. “Dia telah memberikan kepercayaannya padaku, Chagy. Bersediakah kau?”

Aku tersenyum. Mataku terasa panas. Huh, kenapa aku bisa jadi secengeng ini?

Kuraih satu lagi cincin yang ada di telapak tangannya. Kupasangkan cincin itu di jari manisnya. “Tentu saja, aku tak akan pernah menolaknya,”

Tentu saja, aku tak akan pernah menolak lamaran malaikat penjaga yang ikhlas menerima kekuranganku. Dan kali ini aku juga tak akan menolak saat ia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku. Hanya kunikmati dan membiarkan diriku terhanyut dan tenggelam di dalam kehangatannya.

TBC

P.S: Ok, aku cut sampai di sini yah. Karena part selanjutnya adalah part akhir, dan ratingnya NC 21. Eh iya, part terakhir yang full version sama yang SKIP version baru akan aku kerjain setelah tanggal 5 juni. Aku mau fokus ke SNMPTN dan PMDK dulu. Jadi, aku hiatus sampai tanggal itu. Sama sekali gak bisa OL. Mianhae, yah… doakan aku semoga sukses di SNMPTN dan PMDK ya… *bow*

©2011 SF3SI, Chandra.

This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

149 thoughts on “{NC-17} Something More: Into The New World – Part 6”

  1. nice ff eon…
    nanti diSKIP version.a ada hasil lab.a juga kan kalo ada,aku baca skip.a aja deh,,DAEBAK onnie ^^~
    hwaiting ya semoga succes bwt SNMPTN & PMDK nya

  2. Oh my keya you’re so sweet kekeke~nice ff eon…
    nanti diSKIP version.a ada hasil lab.a juga kan kalo ada,aku baca skip.a aja deh,,DAEBAK onnie ^^~
    hwaiting ya semoga succes bwt SNMPTN & PMDK nya

  3. ohh begitu. *manggut 2 bareng Minho*

    Eng…soalnya setauku prosedur standar klo nerima pasien (px) kyk hyora..itu..
    Jadi klo ada pasie yg luka terbuka besar kyk hyora gitu, wkt di ugd pasti udah dilakukan …pemeriksaan dong. Selain oksigen, infus, tanda2 vital dll, kita jg cek darah /. Cek hb (buat liat kurang darah ato gak), leukosit, led, hitung jenis (liat infeksi), trombosit, golongan darah (barangkali perlu ditransfusi), dll (panjang bgt klo mo dijabarin).
    Udah gt kita pasti ksih obat : analgetik buat hilangin sakit, antibiotik utk mencegah sakit dll.
    Selanjutnya pas dlm perawatan, kita liat kondisi pasie gimana. Ada tanda2 ato kecurigaan ke anemia? Baru kita periksa labnya. Ada tanda2 ato kecurigaan ke arah infeksi? Baru kita periksa labnya.
    Jadi..lab itu cuma pemeriksaan tambahan aja. Kita liat gejala2 pasien, baru kita periksa lab-nya.

    So…nyambung dgn cerita author kondisi Hyora emangnya gmn?

    Oke..kita lewatkan aja kondisi Hyora (karena hasil cek labnya entar author bahas di part 7 kan? mian, saya baru tau kalo itu bakal dibahas di part 7. hehe). jd Anggap dia memang kritis jd perlu dicek lab, nah pertanyaannya emang ada apa di labnya itu?, ada tulisan apa di kertas lab itu ampe Jonghyun jadi lemas gitu? Hbnya emang gmn? Dia ada tanda2 infeksi gitu?

    penasaaraaan >..<
    penasaran bangettt..!

    Trus soal diagnosa dokter,eng..kita gak sekaku itu kok. Biasanya memang dokter menjelaskan kondisi pasien ke keluarganya. Dan selama pasien dirawat 5 hari, dokter bs aja 10x menjelaskan kondisi pasien ke keluarganya ato ke pasien sendiri. Ndak masalah :)

    tapi ternyata di sini belum terlalu jelas ya cek labnya? bakal dijelasin di part 7 ^_^?
    aq tunggu part 7 nya.

    jgn marah yaa sama aq author. aq beneran ga bermaksud apa2. aq salah satu fans author Chandra Shinoda. jd mohon jangan marah sama aq T_T. maksud koment cuma saling berbagi tahu. biar nyocok2in gitu maksudnya. dan kalo aq bawel, aq minta maaf -___-. aq emang orangnya selalu pengen tau dan penasaran. hehe.maaf yah author.

    oh ya author, ntar part 7 kalo mw baca yg di protect prosedur minta passwordnya gimana ya?

    1. HaduhH… BALik lagi dEh..
      .
      Eon…
      Kalau yang Itu namanya pemeriksaAn fisik… Aku juga tahu..
      .
      Kalau dicek lab darah lengkap, nanti semua akan keluar, termasuk ada kemungkinan infEksi..
      Karena kita perlu nunggu waktu tentang masa inkubasi bAkteri yg kemungkinan menyerang luka semacam itu..
      .
      Ya, memang untUk ke keluarga dokter akan memberi tahu. Tapi untuk ke pasien harus dipertimbangkan matang2 tentang fisik, psikis, dan mental. Dan jangan lupa.. Dokter itu punya sumpah untuk merahasiakan penyakit pasiennya!
      .
      Mudah2an dEh nanti aku jelasinNya lengkap. Karena aku akan jelasin dari segi ilmu kedokteran umum dan gak terlalu terPerinci.
      .
      Iya… Aku gak marah kok. . Tadi aku udah ceritain koMen2 kita ini ke temenku… Alhasil dia ngakkak..
      Ckckckckck..
      Dia tau aku anak kedokteran, jadi aneh nanggApinnya..
      .
      Minta PW?
      Nanti aku jelasin di SKIP vers. Biar admin yg ngurus, dan yg pasti yg dpt PW udah 21 thn ke atas..

  4. akhirnya jonghyun nyetujuin hbgn hyora sm key ^^ chukae~
    hyora’y lgsg dilamar nih! hehe xp

    oya author chandra, trnyata baru mo kuliah ya. aku pggil saeng aja ya. soal’y aq lebih tua dr kamu. hehe.

    ngmg2 minta pw’y nanti gmna cara’y? aku gatau O.O
    bs kirim via email aja ga? ke email aku : ymauliddini@ymail.com

    gomawo x)
    dilanjut ya!
    hwaiting buat PMDK+SNMPTN’y x)

    1. Hahahaha…
      Jadi pingin dilamar juga niH.. Hehehe..
      .
      Ok dEh, Eonnie..
      .
      Nanti aku jelasin cAranya di skip vers..
      .
      GoMawo doanya..

  5. salut ama key!!! seneng deh pas baca kalo ternyata masih ada cowok yang mau tanggung jawab kayak key! jadi pengen jadi hyora.. hihihihihi… itu ntar yang ke 7 nya di protect ya?? minta pw gimana atuh caranya?

    1. Hahaha..
      Kayaknya beneran susah nyari cowok kayak gitu jaman sekarang
      .
      Nanti di skip verSion aku kasiH tau cAranya..
      GoMAwo..

  6. terharu bgt baca part ini .
    Key tulus, ikhlas nerima hyora yg cacat . So sweet, bikin iri aja .
    Pasti happy ending kan ?
    Aku mau full version nya ya thor . Kkkk :)

  7. waaah salut sama key,,dy ssetia bgt,,jarang” ada cwo kya gtu..kekeke~~
    wah author klo part selanjutny di diprotectaku bagi PWnya ya,tenang saya sudah 20 kok brarti sudah cukup umur kan..hehehehe~~
    tolong kirim ke email aku ya yg full versionny author yg baik :)
    bungongtanmaa@yahoo.co.id
    gumawo :)

  8. it.s so touching.. hiks
    sedih bgt.. perasaan Key sm Hyora dah ga di raguin lg.. bener2 mengharukan.. aku tunggu Skip versionnya aja ya,, umur ku bru 18 soal’y..hhe

  9. it.s so touching.. hiks
    perasaan Key sm Hyora dah ga di raguin lg.. bener2 mengharukan.. aku tunggu Skip versionnya aja ya,, umur ku bru 18 yo soal’y..hhe

  10. Uwaaaaaaa ><
    Key, Key, Key!
    Akhir akhir ini saya jadi seneng banget sama member shinee yang satu ini :)
    Jonghyuuuuunn.. gomawoyoo buat restunyaaaaa *peluk bang Jjong*

    Siip eon.. Nah.. berhubung sekarng udah lebih dari tanggal itu, ayo lanjutin.. skip ver-nya aku tunggu :)

  11. Adminn… Aq udh 17 (18 malah taon ini) aq mw nanya nih ntr klo bagian end nya di protect kn hrus msukin password y.. Nah passwordnya itu isinya apa?? apa aq hrus log-in dl disni ato gmna?? Thanks

  12. sumpah pusing liat koment tentang kedokteran tu, maklum ya aku bukan anak kedokteran kalo bisa nanti pas d jelasin y kata2 y ngak yg sulit buat orang awam kyk aku. . . .
    Walaupun rat. Nc-17 tp ngak da kepikiran yadong sama sekali, malah TERHARU n TERHANYUT sama kata2 key, part ini bener2 DAEBAK! Apalagi jjong image y jd berwibawa n b’tanggung jwb gt KEREN. . . .
    Lanjut

    1. iya… nanti aku bahas dari segi umum aja kok…
      pasti ngerti hehehe…

      syukurlah kalau suka…
      hehehe..
      gomawo yah..

    1. nanti minta PW di admin yah… bukan aku yang ngurusin PW..
      nanti di skip vers aku jelasin cara minta PWnya..

  13. Semangat Hyora yang mau jadi dokter, semangat juga buat author, mudah2an SNMPTN atau PMDK nya hasilnya memuaskan dan bisa kuliah di PTN yang dicita-citakan…
    Ntar mau PW nya yaaa…buat di skip version, hehe

    1. makasih udah komen…

      makasih juga doanya…

      iya… nanti di skip vers aku kasih cara minta PWnya…

  14. ya ampuun,,,kata-katanya bikin merinding ajjah chingu,,,bru ngudeng mksd hyora ngktn jejak jong itu kalo si hyora mau jd dkter,,hehehehe
    Key oppa bener2 keren,,,love you key oppa

  15. keren juga ya klo bayangin jonghyun jd kk.. apalagi pas ngeinterogasi key… hihihiii
    ada kerennya ada lucunya juga….

    hiks hiks.. author…. sediiiihhhhhhhhhhhhhh….

    itu.. mantap.. pendeskripsiannya jelas bgt… cnthnya:
    Luka itu mulai mengering. Lendir-lendir di sekitar jahitannya mengeras dan terlihat seperti karang. Darah yang membeku di sekitar jahitan itu mulai berubah warna menjadi keunguan. Beberapa lebam juga terlihat berwarna keunguan di sekitar lukanya. Lalu benang-benang yang tersulam di punggungnya terlihat mengaitkan kembali kulitnya yang terkoyak. Setiap lekukan benang-benang itu tersusun rapi dan nyaris sempurna.

    tp btw.. diagonal itu aku agak lupa gimana.. /plakkk maklum udh beberapa tahun g nyentuh matematika… haahahhahaha #abaikan

    aduh itu cerita anak kecil di RS itu… beneran nangis ini….. TT____TT

  16. Waaaah, Daebaak!!! Sangaaaat menyentuh skaliii.. Daaan aku masih bingung sma Jonghyun oppa.. Hehe.. Tambah penasaran, go to next part..
    Ohya, boleh minta password.. Klo boleh tolong kirim ke sini : aisha_afudi@yahoo.co.id Gomawo!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s