The Pervert Nerd – Glasses 8

TITLE : The Pervert Nerd – Glasses 8

Sub-Tittle : I’m Yours

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast :

  • Choi Minho
  • Yoo-moogeun as Lee Seorin

Support Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lana Carter’s Han Yuna

Other Cast :

  • Onew
  • Key
  • Lee Taemin
  • Fairuz Kim as Kim Rinhae
  • Minniemint as Park Minji
  • Ryeoshibum21 as Il Sora
  • B2ST

Length : Sequel

Genre : Romance, Angst, Sad, Humour, Friendship

Rating : PG – 16

I’M YOURS

 

Yuna menundukkan wajahnya dalam-dalam. Seorin sudah mengetahui tentang pertunangannya dengan Kim Jonghyun. Pasti sebentar lagi Sora akan tau dan Yuna berani jamin berita itu akan segera tersebar luas. Yuna belum siap, tidak akan pernah siap untuk menyandang status sebagai tunangan Kim Jonghyun.

Yuna mendongak saat seseorang tiba-tiba saja lewat di sampingnya. Yuna mendengus kesal. Kim Jonghyun berjalan melewatinya begitu saja bersama dengan seorang yeoja yang ia yakin adalah teman sekelasnya.

“Aigoo! Dia bertingkah seolah tidak terjadi sesuatu. Apa dia tidak tau kalau dia sudah membawa bencana untukku?” Rutuk Yuna meski Jonghyun tak sedikitpun menoleh padanya.

“Annyeong, Yuna-ya!” Sapa Sora yang langsung merangkul pundak Yuna. Yuna melirik ke arah Sora dan melihat Key berjalan disampingnya sambil menatap Yuna dan tersenyum tipis.

“Aku sudah dengar tentang kau dan Jonghyun.” Kekeh Sora.

Benar, kan? Sora pasti tertawa terbahak-bahak ketika mendengar berita itu. Yuna menghentakkan langkahnya dan berjalan dengan cepat. Sora menarik Key untuk menyusul Yuna.

“Yaaa, kenapa kau? Bukankah harusnya kau senang karena kau tidak hanya punya pacar, bahkan tunangan.” Ejek Sora. Yuna mendelik kesal dan memberengut, membuat Sora justru tertawa lebar.

“Sudahlah, jangan menertawakan temanmu terus.” Ujar Key datar.

“Uh, seperti kau tidak menertawakan Jonghyun saja.” Balas Sora sengit.
Yuna membiarkan Sora dan Key yang asyik berbincang berdua dan berjalan ke lokernya untuk mengambil barang-barangnya.

Yuna menoleh ke samping, melihat Jonghyun sedang berciuman dengan yeoja yang tadi berjalan dengannya. Yuna memutar bola matanya, merasa jijik dengan tingkah Jonghyun.

“Kau kenal dia?” Tanya yeoja itu saat melihat Jonghyun menatap ke arah Yuna. Jonghyun hanya menatap Yuna dengan datar, lalu tersenyum dan menggeleng.
”Tidak. Aku tidak kenal dia.” Jawab Jonghyun santai lalu merangkul yeoja itu dan pergi entah ke mana. Yuna menghembuskan nafas kesal.

“Bukankah itu Kim Jonghyun?” Tanya Sora yang akhirnya menyusul Yuna. Yuna tidak menjawab dan hanya membanting pintu lokernya dengan keras lalu melangkah pergi begitu saja.

“Aigoo, Jonghyun hyung memang tidak pernah bisa berubah.” Gerutu Key, ikut prihatin. Tapi tidak, Yuna sama sekali tidak merasa cemburu. Dia hanya kesal, kenapa diantara berjuta-juta laki-laki di dunia ini, dia justru harus bertunangan dengan Kim Jonghyun, laki-laki yang berada di deretan terbawa dalam daftar orang yang ingin ia kenal?

***

Yuna sibuk berkutat dengan tugas bahasanya sejak ia pulang sekolah dan baru menyelesaikannya sekarang. Yuna meregangkan tangannya ke udara dan menguap lebar. Ia selalu lupa waktu kalau sedang mengerjakan tugasnya.

“Waaah, rajin sekali kau.” Suara Jonghyun yang tiba-tiba saja terdengar membuat Yuna langsung menoleh ke belakang hingga nyaris terjatuh dari kursinya yang membuat Jonghyun tertawa senang.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Tanya Yuna sambil memelototi Jonghyun yang sekarang dengan santainya berbaring diatas tempat tidur Yuna. Jonghyun mengeluarkan hp nya dan mengotak-atik entah apa tanpa menatap Yuna.

“Eommonim yang menyuruhku bermain di kamarmu. Jadi apa yang harus kita mainkan?” Tanya Jonghyun cuek.

“Kenapa kau datang ke rumahku? Bukankah kau tidak mengenalku?” Tanya Yuna sinis. Jonghyun menurunkan hp dari pandangannya dan menatap Yuna sesaat lalu menyeringai.

“Kau cemburu karena kejadian di sekolah tadi? Aku hanya tidak mau mangsa-ku lari ketakutan kalau tau aku sudah bertunangan. Memangnya kau mau menggantikan dia menjadi mangsa-ku, huh?” Jonghyun mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada sikunya.

“Aku tidak akan cemburu padamu. Dan pergi dari rumah—kamar—ku sekarang juga.” Yuna menarik tangan Jonghyun dan bermaksud melemparnya keluar—kalau saja Yuna memang bisa. Jonghyun sama sekali bergeming di posisinya, diam-diam merasa geli dengan kekuatan Yuna yang tidak ada apa-apanya dibandingkan tenaganya sendiri. Sekali saja Jonghyun menarik Yuna, ia yakin yeoja itu akan terjatuh, dan Jonghyun memang melakukannya—menarik Yuna.

Yuna terkesiap pelan saat tubuhnya terjatuh ke depan. Yuna memejamkan matanya, bersiap menerima rasa sakit yang akan didapatkannya, tapi dia tidak merasakan sakit sama sekali. Yuna membuka matanya satu per satu dan melihat wajah Jonghyun yang sedang menyeringai lebar.

“Aku tidak akan pergi dari rumahmu sebelum jam—“ Jonghyun menghentikan kata-katanya untuk melirik ke arah jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 7, “—10 malam.”
Yuna mengerutkan keningnya, “Memangnya untuk apa kau ke sini? Omo! Kau mau melakukan hal yang tidak-tidak padaku? Coba saja kalau kau berani, aku akan menendangmu!” Teriak Yuna. Jonghyun menutup telinganya sendiri lalu memutar tubuh Yuna dengan cepat, mengubah posisi yeoja itu menjadi dibawahnya.

“Hal yang tidak-tidak seperti apa, huh?” Goda Jonghyun. “Tenang saja, aku tidak tertarik pada anak kecil sepertimu. Aku hanya perlu berada di sini sampai jam 10 supaya orangtua ku tidak menutup kartu kreditku. Mereka bahkan mengancam akan memutuskan semua fasilitasku kalau aku tidak mengunjungimu setiap hari.”
”Mwo?? Jadi kau akan berada di rumahku setiap hari? Shireoyo!! Andwae!!” Teriak Yuna lebih keras lagi.

“Yaaaa, ssst.” Gumam Jonghyun. Jonghyun mendekap mulut Yuna saat yeoja itu akan berteriak lagi. “Kau membuat gendang telingaku sakit.” Gerutu Jonghyun yang tidak menyadari Yuna tengah menatapnya. Jonghyun akhirnya balas menatap Yuna. Ia melihat sepasang bola mata kecokelatan itu menatapnya dengan sorot yang tidak pernah bisa ia mengerti. Jelas sekali kalau yeoja ini berbeda dengan semua yeoja yang pernah ia permainkan. Jonghyun melepaskan tangannya dari mulut Yuna, lalu mengelus bibir Yuna menggunakan ibu jarinya. Jonghyun mendekatkan wajah mereka dengan matanya yang perlahan-lahan tertutup. Anehnya, Yuna sendiri tidak bisa bergerak. Ia terlalu takut jika Jonghyun bisa mendengar detak jantungnya yang tidak karuan saat ini.

“Yuna-ya, kenapa kau berteriak-ter—Ooops!” Nyonya Han muncul diambang pintu dan langsung menutup mulutnya sendiri dan tersenyum penuh arti saat melihat apa sedang dilakukan kedua orang itu.

Mata Yuna membelalak lebar. Yuna mendorong Jonghyun dengan cepat dan kuat hingga Jonghyun terduduk dilantai dengan suara berdebam yang keras.

“Ouccch!” Erang Jonghyun sambil memegang bokongnya yang kesakitan.

“E-eomma! Ini tidak seperti apa yang kau lihat.” Yuna meletakkan kedua tangannya ke depan dan menggerak-gerakkannya dengan cepat.

“Auw, seharusnya kalian bisa mengunci pintu lain kali.” Nyonya Han kembali tersenyum penuh arti dan mengedipkan sebelah matanya pada Yuna yang mendesah kesal. Nyonya Han menutup pintu dan keluar dari kamar Yuna tanpa mau mendengarkan penjelasan Yuna lagi.

Yuna menatap Jonghyun dengan tajam dan melemparkan bantal ke muka Jonghyun yang bisa menghindarinya dengan sempurna.

“Ini gara-gara kau!”

***

“Saengil chukkae, uri Seorin-ah!” Teriak Yuna dan Sora berbarengan begitu Seorin baru saja melangkah masuk ke kelasnya. Seorin mengerjap selama beberapa saat sebelum sadar bahwa ini adalah hari ulangtahunnya. Sora dan Yuna langsung menghujani Seorin dengan pelukan tanpa menunggu reaksi dari Seorin.
”Jadi, hadiah spesial apa yang kau berikan padanya?” Tanya Key pada Minho yang berdiri tepat dibelakang Seorin dan nyaris tidak terlihat oleh Sora dan Yuna.

“Benar, apa yang kau berikan pada Seorin?” Tanya Yuna penasaran. Minho hanya menggaruk-garuk tengkuknya, merasa serba salah untuk menjawab.

“Hmm, sebenarnya aku tidak memberikan apa-apa karena aku baru tau hari ini adalah hari ulang tahunnya satu menit yang lalu saat kalian memberikan ucapan padanya.” Jawab Minho akhirnya.
”Astaga, jadi tidak ada hadiah spesial?” Tuntut Sora yang masih belum yakin. Minho menganggukkan kepalanya dengan cepat.

“Sudahlah, aku juga tidak perlu hadiah, memangnya aku masih anak kecil?” Sergah Seorin.

“Bagaimana kalau malam ini kita buat pesta kecil-kecilan di rumah Seorin?” Usul Key. Sora langsung mengangguk dengan cepat.

“Benar! Kita bisa membuat hidangannya!” Ujar Sora dengan senang dan menepukkan tangannya dengan Key.

“Tidak, aku yang akan menyiapkan makanannya, khusus untuk Seorin.” Tukas Minho yang menatap Seorin dengan lembut membuat wajah yeoja itu agak memerah.

“Ide yang bagus. Pulang sekolah nanti kita bisa membeli bahan-bahannya bersama. Siapa saja yang akan ikut?” Tanya Yuna bersemangat.

***

Yuna mendesah pelan lalu melipat kedua tangannya dengan kembali mendesah.

“Kenapa aku harus bersama denganmu, lagi?” Tanya Yuna sinis.

“Memangnya kau pikir aku senang bersama denganmu lagi?” Balas Jonghyunt tak kalah sinis. Atas usul brilian dari Key yang luar biasa, mereka berpencar menjadi 5 pasang, yang menurut Key sangat tepat karena tiga pasang dari mereka adalah kekasih, sementara sepasang lainnya bertunangan dan sisa sepasang lagi tinggal menunggu waktu hingga mereka bisa bersama. Benar-benar brilian ide yang diberikan oleh Key.

“Hei!” Jonghyun menarik kerah seragam Taemin, membuat namja berambut blonde itu berjalan mundur.

“Ada apa hyung?” Tanya Taemin kesal.

“Ayo, kita tukar pasangan.” Tawar Jonghyun. Taemin mengernyit dan langsung memelototi Jonghyun.

“Maksud hyung, aku dengan hyung, atau hyung dengan Minji?” Tanya Taemin. Baru saja Jonghyun membuka mulutnya untuk menjawab Taemin langsung memotong kata-kata Jonghyun, “Tidak dan tidak. Aku tidak mau berbelanja bersama hyung dan aku tidak akan membiarkan hyung berduaan dengan Minji.”

Jonghyun mendengus kesal sementara Taemin mengalihkan pandangannya pada Yuna yang berdiri di samping Jonghyun.

“Noona, berhati-hatilah dengan hyung satu ini.” Taemin tersenyum manis, mengeluarkan aegyo-nya yang bisa membuat hati para yeoja meleleh sebelum dia berlari kecil sambil mendorong troli untuk mengejar Minji yang sudah berada cukup jauh darinya.

“Kajja, kita harus membeli bahan-bahannya. Jangan sampai kau mengacaukan pesta ulang tahun Seorin.” Tukas Yuna pasrah.

“Mwo? Aku mengacaukan pestanya? Yaaa!”

Yuna mencari bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan daftar yang diberikan oleh Minho sambil mendorong trolinya tanpa memedulikan Jonghyun yang terus menggerutu tidak jelas.

“Huh, apa bedanya kedua tepung ini?” Yuna memegang dua kantong tepung dengan merek yang sama tapi warna yang berbeda. Yuna memiringkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya, terlalu fokus pada pikirannya sendiri dan tidak menyadari Jonghyun yang memicingkan matanya. Jonghyun melihat ke sekelilingnya, ada beberapa orang namja yang menatap Yuna sambil tersenyum—yang menurut Jonghyun—menjijikkan. Jonghyun mendengus sebelum sebuah pemikiran menghampirinya, dia menyeringai puas. Jonghyun mendekati Yuna, berdiri tepat di samping Yuna tanpa jarak sedikit pun.

“Ambil yang biru saja.” Ujar Jonghyun lalu mengambil tepung dari tangan Yuna dan meletakkannya di dalam troli.

“Mau beli apa lagi?” Tanya Jonghyun sambil mendorong troli disamping Yuna. Yuna bergumam pelan lalu menuju rak selanjutnya sambil sesekali melihat secarik kertas berisi bahan yang harus ia beli. Jonghyun menoleh ke belakang, melihat para namja yang tadi tertarik pada Yuna sekarang berwajah masam. Jonghyun tersenyum lebar dan mendorong trolinya dengan semangat.

***

“Aku yakin Minho dan Seorin bahkan belum pernah berciuman.” Tukas Sora seadanya saat mereka sedang menyulap ruang nonton Seorin menjadi ruangan pesta sederhana. Key menggeser sofa ke sudut ruangan dibantu oleh Onew agar tempat mereka duduk nanti jadi lebih luas.

“Tau dari mana? Jangan tertipu olehnya, Minho bahkan lebih liar dariku.” Sergah Jonghyun yang sedang menempelkan beberapa hiasan kertas di dinding.

“Pfft! Mana mungkin.” Ejek Yuna. Jonghyun memelototi Yuna yang dengan cueknya memalingkan wajahnya.

“Hei, di mana kue ulangtahunnya?” Tanya Minji setelah dia dan Taemin baru saja keluar untuk membuang sampah.

“Benar, kue ulangtahunnya!” Teriak Sora dan Yuna bersamaan.

“Biar aku yang membelinya. Kajja, Rinhae-ya.” Onew tersenyum manis pada Rinhae saat Rinhae menggenggam tangan Onew yang terulur padanya.

“Yaa, Yuna, bantu aku.” Pinta Jonghyun setelah melihat Yuna baru saja selesai dengan kegiatannya merapikan meja. Yuna menghampiri Jonghyun sambil menggerutu pelan. Yuna memegang hiasan kertas di sisi lain sementara Jonghyun menempelkan sisi lainnya di tempat ia berdiri.

“Kyaa!” Pekik Yuna yang membuat semua orang yang berada di ruang nonton langsung menghampirinya.

“Waeyo?” Tanya Jonghyun panik. Yuna menyodorkan tangannya dan semua orang hanya bisa memandangnya dengan alis berkerut. Tidak ada yang aneh.

“Lemnya mengenai tanganku.” Ujar Yuna pelan. Jonghyun menghela nafas, dipikirnya Yuna melukai dirinya tanpa sengaja.

“Cepat cuci tanganmu sebelum lemnya mengering.” Jonghyun menarik tangan Yuna ke dapur.

Sementara itu, Seorin terus memperhatikan Minho yang memasak dengan handal. Memang bukan kali pertamanya dia melihat Minho memasak—karena memang akhir-akhir ini Minho selalu datang untuk makan malam di rumahnya sekaligus memasak untuknya. Tapi malam ini rasanya berbeda. Minho merebuskan sup rumput laut untuknya, untuk hari ulangtahunnya. Minho menyodorkan sesendok kuah sup rumput laut pada Seorin setelah meniupnya hingga dingin.

“Eottheo?” Tanya Minho. Seorin mengecap lidahnya dan mengacungkan kedua jempolnya. Minho tersenyum puas lalu mematikan kompor.

“Maaf ya, aku tidak memberikan hadiah apapun padamu.” Minho bersandar di konter dapur dan memandang Seorin agak merasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Kau kan baru tau kalau hari ini ulangatahunku.” Seorin mengangkat pundaknya.

“Tapi kurasa aku punya hadiah untukmu. Kemarilah.” Minho menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan Seorin untuk mendekat. Minho menyeringai saat Seorin mendekatinya dengan penasaran. Dengan gerakan cepat, Minho mendekap Seorin dan menyapukan bibirnya dengan pelan tapi liar.

“Apa lemnya sudah mulai mengering?” Tanya Jonghyun sambil terus memperhatikan telapak tangan Yuna. Yuna menggerak-gerakkan telapak tangannya lalu tersenyum tipis.

“Sepertinya iya. OMO!!!” Teriak Yuna saat dia mendongak dan melihat Minho dan Seorin tengah berciuman mesra. Yuna bahkan bisa melihat lidah kedua orang itu saling beradu dari posisinya berdiri saat ini. Jonghyun membelalakkan matanya dan dengan cepat menutupi pandangan Yuna dengan tangannya.

“Yaaaaa! Lakukan di kamar!” Omel Jonghyun sambil menarik Yuna menuju wastafel melewati kedua orang itu. Seorin hanya bisa tertunduk malu sementara Minho hanya tersenyum polos.

“Jadi, sekarang kau percaya kan kalau dia lebih liar dariku?” Bisik Jonghyun yang menyalakan kran air untuk Yuna. Yuna memiringkan kepalanya, berpikir sesaat.

“Tidak. Sepertinya kalian sama saja.”
”Yaaaa!” Protes Jonghyun.

“Jonghyun hyung! Cepatlah bergabung, jangan berduaan terus!” Teriak Taemin dari ruang nonton.

***

“Kudengar Taejun akan menyatakan perasaannya pada Yuna hari ini. Bagaimana menurutmu?”
”Menurutku mereka cocok. Bukankah Taejun dan Yuna sama-sama anggota OSIS? Mereka terlihat serasi.”

Jonghyun berpapasan dengan dua orang siswi yang asyik bergosip. Jonghyun mendengus. Ternyata ada juga orang yang menyukai Yuna, huh?

“Hyung, kenapa kau? Raut wajahmu jelek sekali.” Tegur Taemin. Jonghyun hanya terus berjalan tanpa mempedulikan sapaan dari maknae mereka. Pikirannya terlalu terfokus pada Yuna dan namja bernama Taejun yang disebut-sebut oleh para siswi tadi.

Masih dengan raut wajah yang sama, Jonghyun berjalan tanpa sadar hingga kakinya mengarah ke halaman sekolah. Di sana, ia melihat Yuna bersama dengan seorang namja, Taejun kah?

“Han Yuna-ssi, would you be my girlfriend?” Tanya namja itu tanpa mempedulikan aksinya yang menjadi pusat perhatian. Jonghyun mendengus kesal. Kenapa namja itu berani sekali menyatakan perasaannya pada tunangannya? Oh ya, bagaimana dia bisa lupa kalau seisi sekolah belum tau tentang hal itu. Haruskah Jonghyun melakukan sesuatu untuk membuat seisi sekolah tau tentang hubungan mereka?

Jonghyun tertawa pada dirinya sendiri. Apa gunanya? Hanya untuk membuat namja itu menjauh dari Yuna, haruskah Jonghyun memberitaukan semua yeoja kalau dia sekarang sudah terikat? Jonghyun menggelengkan kepalanya sendiri, jelas itu tidak mungkin.

“Ne? Hmm.. Aku…” Yuna menarik nafas dalam-dalam. Pernyataan yang tiba-tiba ini benar-benar membuatnya salah tingkah. “Taejun-ssi, kurasa aku—“

Jonghyun memutar tumitnya dengan cepat. Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah bilang kalau dia tidak akan peduli? Tapi kenapa sekarang dia justru berjalan ke arah Yuna? Jonghyun menarik tangan Yuna dan dengan cepat dan menempelkan bibir mereka hingga membuat Yuna terbelalak. Jonghyun menjauhkan dirinya dan menyeringai kecil lalu membalikkan tubuhnya menghadap Taejun yang juga memiliki ekspresi wajah yang sama dengan Yuna.

“Sorry, but this girl is mine.” Jonghyun merangkul pundak Yuna tanpa mempedulikan tatapan maut dari si yeoja itu sendiri. Taejun menundukkan wajahnya lalu berjalan pergi dengan pundaknya yang merosot turun.

“Yaaaa, micheoso?” Omel Yuna setelah dia menyadari apa yang telah terjadi. Apa yang baru saja Jonghyun lakukan? Astaga, dia baru saja mencuri ciuman pertamanya.

Jonghyun hanya tersenyum polos lalu meletakkan kedua tangannya dipundak Yuna.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh menerima pernyataan cinta dari siapapun.” Tukas Jonghyun seenaknya.

“Mwo? Sejak awal aku tidak bermaksud untuk menerima pernyataan cintanya!” Omel Yuna lagi.

***

“Kamsahamnida.” Ucap Yuna sambil membungkukkan badannya begitu dia keluar dari gedung kursusnya. Jonghyun yang sejak awal menyandar dengan malas di mobilnya segera meluruskan tubuhnya dan tersenyum manis pada Yuna yang memberengut.
”Sedang apa kau di sini?” Tanya Yuna tanpa berusaha untuk menutupi ketidaksenangan dari nada suaranya.

“Untuk menjemputmu, apalagi memangnya?” Jawab Jonghyun polos.

‘Tidak perlu, terima kasih.” Dengus Yuna. Yuna berjalan melewati Jonghyun begitu saja. Ia masih ingat dengan rasa kesalnya yang seolah tidak pernah habis jika menyangkut Jonghyun. Bagaimana bisa Jonghyun seenaknya saja memberitaukan status pertunangan mereka setelah dengan susah payah Yuna menutup mulut Sora? Dan sekarang setiap kali dia berkeliaran di sekolahnya sendiri, para yeoja akan menatapnya dengan sinis. Yah, nasibnya tidak seberuntung Seorin ataupun Sora yang hubungannya—meskipun sulit—tapi tetap diterima.

Tapi kalau menyangkut Kim Jonghyun, namja MILIK seluruh yeoja, siapa yang tidak akan merasa iri dan kesal karena sekarang namja itu terikat pada seorang yeoja saja? Dan bisa kalian bayangkan seberapa bencinya mereka pada yeoja yang beruntung itu?

“Yaaa, tidak sopan kalau kau meninggalkan orang yang datang untuk menjemputmu begitu saja.” Jonghyun berlari kecil dan dengan mudah mengejar langkah Yuna.

“Kenapa kau masih mengikutiku? Pulang sana, aku tidak mau diantar dengan namja sepertimu.” Tukas Yuna.
”Sikap seperti apa itu? Kau seharusnya bersikap lebih baik pada tunanganmu ini.” Jonghyun menyeringai yang justru membuat Yuna semakin ingin memukul namja satu ini. Yuna melipat kedua tangannya, memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan lalu berjalan dengan cepat, sebisa mungkin tidak ingin menggubris Jonghyun.

“Hati-hati!” Teriak Jonghyun yang menyadarkan Yuna dari lamunannya. Jonghyun menarik tubuh Yuna dengan cepat hingga yeoja itu harus bergeser beberapa langkah. Yuna mengerjapkan matanya selama sesaat, masih belum mengerti benar apa yang terjadi. Barulah ia sadar sebuah mobil putih hampir saja menyerempetnya.

“Tsk, kau tidak terluka, bukan?” Jonghyun memutar-mutar tubuh Yuna untuk memastikan tidak ada segores pun luka yang di tubuh Yuna.

“Pabo! Jangan melamun saat kau senang berjalan.” Omel Jonghyun tidak karuan. Yuna hanya mengangguk pelan lalu kembali berjalan. Jonghyun memutari Yuna, berjalan disisi luar Yuna untuk berjaga-jaga agar yeoja itu tak melamun lagi membuatnya hampir diserempet.

Yuna mengusap-usap tengkuknya yang mulai membeku, agak menyesali kenapa dia bisa melupakan syal nya di loker sekolah. Jonghyun mendelik ke arah Yuna, menimbang-nimbang perlukah dia berbaik hati padanya? Tapi untuk apa? Bukankah Yuna selalu ketus padanya? Lagipula, kalau dia memberikan syalnya pada Yuna, bukankah dia sendiri yang akan kedinginan? Bukan salah Jonghyun kalau Yuna menolak untuk menumpang mobilnya yang hangat dan justru membuat mereka berdua membeku di sepanjang jalanan seperti sekarang.

Jonghyun mendelik ke arah Yuna sekali lagi, lalu mendengus kesal. Jonghyun melepaskan lilitan syalnya dan dengan meletakkannya di leher Yuna tanpa menoleh. Yuna mendongak ke arah Jonghyun dengan cepat saat dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh lehernya.

“Pakailah.” Gumam Jonghyun tidak jelas. Yuna menatap Jonghyun dengan ragu. Sikap keras kepalanya membuat dia ingin sekali mengembalikan syal Jonghyun, tapi rasa dingin ternyata bisa mengalahkan sikap keras kepalanya kali ini.

Setelah berjalan selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah Yuna. Jonghyun mengantar Yuna hingga tepat ke depan pintu utama.

“Kamsahamnida.” Yuna berterima kasih dengan tulus sembari mengembalikan syal milik Jonghyun yang benar-benar membuatnya merasa hangat sepanjang jalan. Jonghyun mengambil syalnya yang diulurkan Yuna dan bergeming ditempatnya, membuat Yuna ikut bergeming.

“Hmm, kau mau masuk dan menghangatkan tubuhmu sebentar?” Tanya Yuna akhirnya setelah keheningan yang mencekam mereka. Jonghyun buru-buru melangkah masuk ke dalam mendekap lengannya dengan erat.

“Huh, dingin sekali.” Gerutu Jonghyun setelah dia duduk di ruang tamu Yuna. Yuna tersenyum kecil, ternyata laki-laki ini tidak seburuk yang ia duga.

“Apa kau juga akan menawariku secangkir cokelat hangat?” Tanya Jonghyun yang terlihat memelas. Yuna mengangguk dan berjalan ke dapur diikuti oleh Jonghyun. Sementara Yuna sibuk menyiapkan cokelat hangatnya, Jonghyun mengeluarkan hp nya untuk menghubungi supirnya.
”Ahjussi, pergilah ke xxx untuk mengambil mobilku dan jemput aku di rumah Yuna.” Pesan Jonghyun dengan cepat pada supirnya di seberang saluran telpon.

***

Jonghyun berjalan dengan santai ke meja bartender tempat Key berada sekarang. Jonghyun mengikuti arah pandangan Key setelah dia duduk. Tatapan tajam dari Key serasa bisa mencabik-cabik kulit siapapun yang sedang ia lihat. Jonghyun tergelak saat tau Taemin yang sedang berada dilantai dansa lah yang mendapat tatapan itu. Taemin tengah menari dengan liar sementara beberapa yeoja yang berada di sekitarnya mulai mengerumuninya.

“Kenapa lagi dengan maknae itu?” Tanya Jonghyun santai sambil menyesap minumannya.
”Menurutmu karena apa? Sudah pasti karena Minji. Kenapa dua bocah itu tidak hidup dengan damai saja? Jelas-jelas Taemin masih—sangat—mencintainya, kenapa waktu itu dia memutuskan Minji? Kurasa terkadang aku tidak bisa mengerti jalan pikiran Taemin.” Key menggelengkan kepalanya dengan pelan.

“Well, tidak semua orang punya pemikiran yang lurus sepertimu, Key.” Ejek Jonghyun. Jonghyun kembali meneguk minumannya beberapa kali sebelum dia memutuskan untuk bergabung dengan Taemin di lantai dansa.

“Key.” Panggil Sora. Kejengkelan di wajah Key langsung menghilang begitu dia melihat Sora.

“Kupikir kau tidak jadi datang.” Ucap Key dengan penuh kelegaan.

“Maaf, tadi aku harus menyeret Yuna untuk menemaniku dulu.” Sora menempatkan dirinya di tempat yang diduduki oleh Jonghyun tadi.
”Ternyata kedua orang itu benar-benar berjodoh.” Key tertawa kecil dan mengedikkan kepalanya ke arah Jonghyun yang sedang menari santai. Sora membuka mulutnya dan membentuk huruf O.

“Kurasa kita bisa meninggalkan mereka berdua dengan tenang.” Lanjut Key. Sora mengangkat pundaknya.

“Aku tidak terlalu yakin. Memangnya Yuna akan aman dengan Jonghyun? Apakah Jonghyun mabuk?” Tanya Sora bertubi-tubi karena mengkhawatirkan keselamatan temannya.

“Tenang saja, Jonghyun hyung tidak akan mabuk meskipun dia menghabiskan seluruh persediaan alkohol di bar ku.” Cemooh Key.

Jonghyun tidak repot-repot menyapa Taemin karena dari gerak-geriknya, Jonghyun tau benar kalau Taemin sudah benar-benar mabuk dan tidak akan mengenalinya.

Jonghyun menggerakkan tubuhnya dengan santai untuk menghilang semua rasa lelahnya sementara mata bergerak dengan lincah mencari mangsanya untuk malam ini. Apa artinya dia datang ke bar jika tidak bersenang-senang, huh?

Jonghyun sedikit memiringkan kepalanya, dari kerumunan orang-orang di lantai dansa, dia bisa melihat sosok Yuna. Apakah dia sedang bermimpi? Jonghyun mengucek matanya dengan cepat dan kembali menatap lurus ke depan. Benar, Han Yuna lah yang sedang dilihat oleh kedua matanya saat ini. Jonghyun tersenyum lebar—tanpa ia sadari—lalu melambai dengan riang untuk menarik perhatian Yuna.

Yuna menoleh saat ia melihat sesuatu dilantai dansa yang sangat ramai. Ia melihat Jonghyun tengah melambai padanya dan tersenyum—sangat memesona—seperti orang bodoh. Yuna menatap Jonghyun dengan tatapan kesal yang sengaja ia buat padahal sekarang dia sedang menahan dirinya sendiri untuk tidak tersenyum pada namja bodoh itu.

Tapi wajah Yuna benar-benar berubah kesal saat tiba-tiba saja dan entah muncul dari mana, dua orang wanita seksi mendekat Jonghyun. Masing-masing dari mereka menempeli Jonghyun dan meliuk-liukkan tubuh mereka. Benar-benar menjijikkan. Dan yang membuat Yuna lebih jijik adalah karena Jonghyun terlihat menikmatinya. Jonghyun menyeringai lebar, ikut menggerakkan tubuhnya untuk menyeimbangi gerakan kedua yeoja itu.
”Apa-apaan dia? Waktu itu dia mengusir Taejun-ssi dan sekarang dia justru bermain dengan yeoja lain?” Gerutu Yuna pada dirinya sendiri. Kekesalannya semakin bertambah saat Jonghyun melihat ke arahnya, tanpa ekspresi bersalah dan justru menyeringai?

Yuna menghela nafasnya dengan kuat. Sudah cukup. Yuna beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi.

Kerutan di kening Jonghyun terbentuk dengan sangat cepat sejak detik pertama Yuna beranjak dari tempat duduknya. Jonghyun mendorong kedua orang wanita itu dan berlari mengejar Yuna sebelum Yuna menghilang dari pandangannya.
”Kau mau ke mana?” Tanya Jonghyun setelah dia menahan pergelangan tangan Yuna.

“Apa pedulimu? Urusi saja para wanitamu itu.” Sergah Yuna. Kenapa setiap kali berada di dekat Jonghyun, Yuna selalu punya keinginan untuk bertindak kasar?

Jonghyun memicingkan matanya, “Apa kesenangan yang kau dapat kalau kau datang ke bar dan tidak bermain?”

Yuna memalingkan wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja Jonghyun memikirkan sesuatu dan membuat dia tersenyum lebar.

“Kau tidak suka karena aku bermain dengan mereka?” Yuna menoleh ke arah Jonghyun, “Kau tidak suka karena mereka menyentuhku?” Yuna membulatkan matanya lebar-lebar, “Kau tidak suka karena aku mengabaikanmu?” Yuna menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Harusnya kau bilang kalau kau cemburu.” Kekeh Jonghyun.

“Ce-cemburu? Aniya! Aku tidak cemburu!” Sergah Yuna secepat yang ia bisa.

“Pfft! Akui saja kalau kau memang cemburu. Itu hal yang wajar kok. Tapi aku ke sini untuk bersenang-senang, jadi mana mungkin aku tidak menari di sana? Atau …” Jonghyun menatap menyeringai aneh yang membuat Yuna yakin ada hal aneh yang sedang dipikirkannya. Belum sempat Yuna bereaksi, Jonghyun menarik tangan Yuna dan mendorongnya ke tengah-tengah lantai dansa.
”Apa yang kau lakukan!?” Teriak Yuna dengan panik.
”Kalau kau tidak suka aku menari dengan mereka, maka temani aku menari.” Jawab Jonghyun enteng.

“Mwo? Ta—tapi aku…”
”Aku akan mengajarimu, jangan panik.” Kata Jonghyun saat ia merasakan kepanikan yang melanda Yuna. Jonghyun mendaratkan kedua tangannya di pinggang ramping Yuna, memaksanya untuk bergerak mengikuti gerakan Jonghyun. Yuna terus menundukkan kepalanya, tidak berani memandang langsung ke bola mata Jonghyun. Yuna bisa merasakan hembusan nafas Jonghyun yang hangat dilehernya, entah apa yang sedang dilakukan Jonghyun.

“Han Yuna…” Bisik Jonghyun agak serak.

“N—ne?” Yuna menjawabnya dengan gugup. Fakta bahwa saat ini tubuh mereka saling menempel sama sekali tidak membantunya untuk santai.
”Tatap aku…” Bisik Jonghyun lagi masih terdengar serak. Yuna mendongakkan wajahnya dengan takut-takut. Sepasang tunangan itu menghentikan gerakan mereka dan membeku saat mereka saling bertatapan. Yuna tidak tau apa yang terjadi, tapi dia berani bersumpah kalau wajah Jonghyun semakin mendekat ke arahnya. Yuna memundurkan kepalanya perlahan. Tatapan Jonghyun dari bibir Yuna teralih kembali ke mata Yuna yang memancarkan kebingungan. Yuna tidak lagi bergerak menjauh saat mata mereka kembali bertemu. Yuna melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam sorot mata Jonghyun, kelembutan.

Dan dalam satu detik, Jonghyun langsung melumat bibir Yuna. Yuna memejamkan matanya. Jantungnya berdetak tak karuan. Dibandingkan dengan ciuman pertamanya yang dicuri Jonghyun di sekolah, ciuman kali ini terasa jauh berbeda. Jika ciuman pertamanya tidak begitu meninggalkan kesan mendalam—kecuali kekesalannya pada Jonghyun, kali ini Yuna merasakan sesuatu. Ia bisa merasakan ada berjuta-juta warna yang meledak dalam pikirannya. Dan memang, tidak perlu diragukan lagi bagaimana rasanya saat Jonghyun melumat bibir Yuna dengan ahli. Jonghyun menggerakkan tangannya turun dan naik di punggung Yuna, ia merasa nyaman saat melakukannya.

“J—jongh—hmpfft!” Yuna membuka mulutnya untuk memprotes kelakuan tangan Jonghyun, tapi Jonghyun justru memanfaatkan kesempatan untuk menyelipkan lidahnya.

Jonghyun merasakan jantungnya berdebar dengan sangat cepat saat ia menyentuh lidah Yuna. Jelas ini bukan kali pertama Jonghyun melakukan french kiss, bahkan dia sudah sering melakukan yang lebih. Tapi baru sekarang ia berdebar karena sebuah ciuman. Jonghyun tersenyum disela-sela ciumannya, perasaan seperti ini ternyata tidak buruk juga.

***

“Yuna sudah berangkat ke sekolah?” Ulang Jonghyun saat seorang pelayan memberitaukannya bahwa Yuna sudah pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Apa yang membuatnya pergi ke sekolah secepat itu? Dengan perasaan kecewa, Jonghyun mengendarai mobilnya ke sekolah. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Yuna lagi karena kemarin setelah dia dan Yuna selesai berciuman, Sora tiba-tiba saja datang dan mengajak Yuna pulang bahkan sebelum Jonghyun sempat berkata apa-apa. Rupanya Sora masih tidak bisa membiarkan Yuna berduaan saja dengan serigala.

Suasana hati Jonghyun yang semula sangat baik perlahan-lahan menurun karena dia tidak bisa menemui Yuna sepanjang hari ini. Ke mana saja Yuna? Jonghyun tau sekolah mereka memang luas, tapi dia tidak percaya di sekolahnya yang luas itu dia tidak bisa berpapasan dengan Yuna sama sekali, apalagi setelah dia mengelilingi setiap sudut sekolah untuk mencari Yuna.
”Hyung, kenapa wajahmu kusut sekali?” Tanya Taemin saat mereka berkumpul di rumah Onew sepulang sekolah.
”Benar hyung, air mukamu terlihat jelek sejak pagi.” Timpal Minho tanpa menatapnya.

“Bukankah semalam kau bersenang-senang dengan tunanganmu, huh?” Ejek Key.

“Jangan ungkit tentang dia lagi, kau semakin membuatku sebal.” Jonghyun menatap Key dengan tajam. Onew mendongak dan langsung menghampiri Rinhae yang terlihat akan keluar.

“Mau ke mana?” Tanya Onew pada Rinhae.

“Aku mau membeli sesuatu di supermarket. Dan kau tidak perlu menemaniku.” Tambah Rinhae dengan cepat karena dia tau Onew pasti akan menawarkan diri untuk menemaninya.
”Ugh!” Jonghyun mengerang membuat semua orang menatapnya, “Bisakah kalian tidak pacaran di depanku?”

Onew tersenyum tipis, mengucapkan sesuatu pada Rinhae dengan sangat pelan lalu mengalihkan pandangannya ke Jonghyun setelah sosok Rinhae menghilang dari pandangan mereka, “Kalau begitu kau tidak perlu datang ke rumahku.” Tukas Onew singkat. Jonghyun memutar bola matanya. Kenapa semua orang terlihat sangat menikmati kisah asmara mereka? Sementara Jonghyun? Harus merasa kalut karena tidak bisa bertemu dengan Yuna seharian ini.

“AH!” Teriak Jonghyun, sekali lagi membuat dia menjadi pusat perhatian kali ini diikuti dengan raut sebal dari Key dan Taemin.
”Key! Bukankah Yuna dan Sora selalu ke suatu tempat sepulang sekolah? Kau tau di mana?” Jonghyun melompat turun dari sofa yang didudukinya dan menghampiri Key secepat kilat, hampir saja membuat jantung Key copot.

***

“Apa? Kenapa?” Sora menghentikan kata-katanya dalam jeda yang cukup lama lalu mengiyakan dan memutuskan saluran telponnya.
”Ada apa?” Tanya Yuna penasaran.

“Tidak ada apa-apa. Hmm, Yuna-ya, aku ke toilet dulu ya.” Sora berjalan agak canggung setelah Yuna mengiyakan. Tunggu dulu! Kenapa Sora membawa tas nya? Dan kenapa Sora berjalan ke pintu toko, bukannya ke arah toilet? Yuna mengerutkan keningnya.

Jonghyun masuk ke dalam toko es krim dan dengan cepat bisa melihat Yuna yang membelalak padanya.

“Ah, kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Jonghyun berbohong dengan lancar. Padahal dia sengaja meminta Key untuk menyuruh Sora pergi agar dia bisa berduaan dengan Yuna.
”Oh, aku baru saja mau pergi.” Yuna mengambil tasnya dengan cepat dan berdiri, tapi Jonghyun menarik tangan Yuna dan membuat yeoja itu duduk kembali. Yuna menelan air liurnya saat Jonghyun menatapnya dengan kesal.
”Kau sedang menghindariku?” Tanya Jonghyun tanpa basa-basi lagi.

“Ti—tidak.” Kilah Yuna meski tidak terlalu meyakinkan.
”Apa lagi yang kulakukan hingga membuatmu marah?” Suara Jonghyun terdengar meninggi, ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya dan agak membuat Yuna takut.
”Aku tidak marah padamu. Aku juga tidak menghindarimu, jadi boleh aku pergi sekarang?”

Jonghyun menarik nafas dalam-dalam, “Tidak perlu, aku yang akan pergi.” Kata-kata Jonghyun terdengar sangat dingin. Jonghyun mendorong kursinya dengan kasar dan keluar dari toko,diam-diam mengumpat kesal.

Yuna memerosotkan tubuhnya setelah Jonghyun keluar dari toko. Dia tidak bermaksud untuk membuat Jonghyun marah. Yuna hanya tidak tau harus bersikap bagaimana setelah kejadian kemarin. Untung saja Sora datang dan menariknya pulang kemarin, kalau tidak apa yang harus dilakukannya setelah Jonghyun menciumnya? Yuna mengambil tasnya dan keluar dari toko dengan kepala tertunduk.
”Aku tau kau sedang menghindariku, tapi aku tidak tau alasannya, jadi katakanlah padaku.” Ucap Jonghyun secara tiba-tiba yang membuat Yuna terlonjak kaget.

“Kupikir kau sudah pergi!” Yuna mengarahkan jari telunjuknya pada Jonghyun yang berdiri di samping pintu toko.

“Memang. Tapi aku kembali lagi karena aku masih tidak bisa menerima sikapmu padaku.” Gumam Jonghyun dengan cepat. “Jadi, apa yang membuatmu menjauhiku?”

“Hmm, aku… aku…” Yuna menggerak-gerakkan matanya dengan cepat. Ia memikirkan berbagai macam alasan, tapi tidak ada yang rasional.
”Aku tau. Karena kau masih membenciku?” Terka Jonghyun. Tidak mendapatkan jawaban apapun dari Yuna membuat Jonghyun merasa terkaannya benar. “Jadi begitu, di matamu, aku tetaplah seorang namja brengsek? Baiklah, aku mengerti. Selamat tinggal, Han Yuna-ssi.” Jonghyun melambaikan tangannya dan segera membalikkan badannya.

“Tunggu! Aku tidak membencimu!” Aku Yuna dengan cepat. Yuna menarik ujung kemeja Jonghyun, menahan agar Jonghyun tidak pergi lebih jauh lagi. “Aku hanya.. aku hanya…”

Jonghyun mengacak rambutnya dengan gusar. Ia kembali menghadap Yuna dengan tatapan frustasi. “Kau tidak membenciku, tapi kau juga menghindariku. Kau benar-benar membuatku tidak mengerti.”

“Berhentilah bertanya ini dan itu padaku, karena aku sendiri juga tidak mengerti.” Erang Yuna. Wajah Yuna merona merah saat ia kembali mengingat ciuman mereka semalam. Jonghyun menyeringai pelan dengan apa yang ada dipikirannya saat ini.
”Jangan katakan kalau kau…” Jonghyun melangkah maju sementara Yuna membelalakkan matanya dan berjalan mundur. Yuna menoleh ke samping sekilas saat punggungnya menabrak dinding toko. Seringaian Jonghyun bertambah lebar. Jonghyun meletakkan kedua tangannya di sisi Yuna dan melangkah maju sedekat mungkin.

“Kau menyukaiku?” Tanya Jonghyun langsung. Wajah Yuna semakin memerah. Yuna mengerjapkan matanya dengan cepat, tidak menyangka dengan pertanyaan yang tak terduga dari Jonghyun. Apakah dia menyukai Jonghyun? Tidak. Dia hanya selalu berdebar setiap kali berada di dekat Jonghyun—seperti sekarang. Yuna selalu mengulang kejadian-kejadian yang mereka alami di benaknya tanpa ia sadari dan tersenyum pada dirinya sendiri. Terkadang Yuna akan merasa tidak sabar untuk menunggu matahari kembali terbit agar dia bisa segera ke sekolah dan melihat Jonghyun. Apakah dia mencintainya? Tidak, Yuna hanya tidak suka setiap kali Jonghyun dikerumuni para gadis yang jelas sekali tergila-gila padanya. Astaga, apakah dia mencintai orang yang paling ingin ia benci?

“Ti-tidak. Aku tidak menyukaimu.” Elak Yuna.

“Jangan berbohong padaku.” Bisik Jonghyun lembut. Tidak ada lagi kemarahan dalam dirinya. Hanya dengan pemikiran bahwa Yuna menyukainya saja sudah bisa menaikkan kembali suasana hatinya.

“Baiklah, kau tidak perlu menyukaiku, karena aku sudah menyukaimu dan tidak akan membiarkanmu pergi.” Ucap Jonghyun tidak sabar. Ia tau seberapa keras kepalanya tunangan yang ada dihadapannya itu. Jonghyun tersenyum lembut, “Kupikir, jatuh cinta adalah hal yang mustahil—meskipun teman-temanku sedang jatuh cinta akhir-akhir ini. Cinta bagiku hanyalah hal yang konyol. Kenapa sesuatu yang tidak berbentuk seperti itu bisa menjungkirbalikkan dunia setiap orang? Tapi ternyata, cinta itu benar-benar ada. Meskipun kau tidak menyukaiku, I’m still in love with you. I’m yours, now and forever.”

Jonghyun mengecup bibir Yuna tanpa menunggu kata-kata dari Yuna, karena melalui ciuman ini dia bisa mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Yuna bisa merasakan Jonghyun tersenyum tipis saat ia membalas ciuman Jonghyun.

Mungkin ini terdengar gila, tapi Yuna juga memiliki pemikiran yang sama dengan Jonghyun.

***

“Apa kau lihat bagaimana wajah ahjumma tadi? Itu benar-benar lucu!” Junhyung tertawa sambil memegangi perutnya mengingat kejadian yang baru saja mereka alami saat makan siang tadi.

“Harusnya tadi kita memotret ekspresi ahjumma itu!” Timpal Doojoon.
”Berhentilah menertawakan ahjumma itu, hyung.” Dongwoon tertawa kecil, dia sendiri tidak bisa memungkiri bahwa kejadian itu memang lucu, tapi tidak seharusnya mereka masih menertawakan ahjumma itu sampai sekarang.

“Baiklah, baiklah, sampai jumpa besok.” Junhyung menyeka ujung matanya yang mulai berair dan membelok di ujung jalan bersama Doojoon sementara Dongwoon terus melangkah lurus menuju rumahnya. Langkah Dongwoon melambat dan terhenti saat ia melihat seseorang yang berdiri di depan pintu rumahnya.

“Dongwoon oppa..” Panggil orang itu.
”Oppa, kau tidak lupa padaku kan? Apa kau tidak merindukanku?” Tanya orang itu agak merasa kecewa karena Dongwoon tidak menyambutnya dengan senyuman.
”Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Dongwoon yang menghiraukan pertanyaan yeoja itu. Yeoja itu tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
”Apa lagi yang bisa kulakukan di sini? Tentu saja aku kembali ke rumahku sendiri. Oppa, kau tidak senang yeodongsaeng kesayanganmu ini telah kembali?”

“Kau sudah menemui Minho?” Lagi-lagi Dongwoon menghiraukan pertanyaan adiknya.  Senyuman di wajah yeoja itu menipis saat nama Minho disebut.
”Aku akan menemuinya nanti. Aku juga sangat merindukannya.”
”Kau tidak bisa datang dan pergi sesuka hatimu! Kau pergi begitu saja setelah mengacaukan kehidupan Minho dan sekarang kau kembali setelah Minho berhasil memungut puing-puing kehancuran yang kau sebabkan!? Kau sangat egois!” Sentak Dongwoon. Dongwoon melangkah masuk ke dalam rumah dan melewati adiknya begitu saja.

TO BE CONTINUE . . .

a/n ::: Mian menunggu lama^^

tapi part ini lebih panjang kan???

Hayo, siapa yeodongsaengnya Dongwoon? *Sengaja belum aku kasih namanya*

More drama at glasses 9 =DD

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

Tagged: , , ,

191 thoughts on “The Pervert Nerd – Glasses 8

  1. taurusgirls November 15, 2013 at 5:59 PM Reply

    Hihi kisah jjong-yuna bikin senyam senyum masa xD

    Nahh..akhirnya dia balik..konflik nya mulai nihhh..
    Lanjut dulu…

  2. Wida Wu November 17, 2013 at 12:32 PM Reply

    AUWHHH JJONG SAMA YUNA JADIAN HURAYYY /?/ CO CWIT AH JJONG
    Nahloh adeknya dongwoon dateng lagi, gimana nih minho. Lanjutbaca

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,286 other followers

%d bloggers like this: