the-pervert-nerd

The Pervert Nerd – Glasses 10

TITLE : The Pervert Nerd – Glasses 10

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast :

  • Choi Minho
  • Yoo-moogeun as Lee Seorin

Support Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lana Carter’s Han Yuna
  • Onew
  • Key
  • Lee Taemin
  • Fairuz Kim as Kim Rinhae
  • Minniemint as Park Minji
  • Ryeoshibum21 as Il Sora
  • Son Dongwon
  • Lee Donghae
  • Krystal Jung

Length : Sequel

Genre : Romance, Sad, Humour, Friendship

Rating : PG – 16

Special Thanks To : Galih

THE PERVERT NERD

 

“Kau yakin kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat.” Yuna memerhatikan wajah Seorin dengan seksama. Sahabatnya jelas tidak terlihat baik-baik saja tapi masih mengangguk dan tersenyum untuk meyakinkan dirinya baik-baik saja.

“Minho ttaemune?” Tukas Sora. Seorin mengangkat wajahnya dari makan siang yang sedang ia santap bersama teman-temannya di kantin.

“Minho ttaemune aniya.” Elak Seorin. Sora mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Hanya orang bodoh saja yang akan mempercayai kata-kata Seorin. Sora dan Yuna kenal betul dengan segala gerak-gerik Seorin.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Kalian bertengkar?” Yuna bertanya dengan lembut. Seorin menatap kedua sahabatnya dengan ragu dan menggeleng. Seorin tidak berbohong, mereka memang tidak bertengkar.

“Aish, jinjja. Apa sekarang kau tidak mau menceritakan masalahmu pada kami? Key juga, kupaksa seperti apapun, dia tetap menolak untuk menceritakan tentang hubungan Krystal dan Minho padaku. Kau harusnya ceritakan pada kami, supaya kami tau apa yang sebenarnya terjadi dan bisa membantumu.” Omel Sora panjang lebar sambil mengacung-acungkan sumpitnya ke hadapan Seorin.

“Aku sudah selesai makan. Aku mau kembali ke kelas.” Seorin tersenyum tipis dan segara bangkit dari tempat duduknya.

“Aku juga.” Sahut Yuna yang mengikuti langkah Seorin.
”Tunggu! Aku ikut!!” Teriak Sora sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya untuk terakhir kali sebelum berlari mengejar Yuna dan Seorin yang sudah keluar dari kantin.

Sora merangkul pundak mereka berdua setelah berhasil menyamai langkah. Dua orang siswi yang berjalan di arah yang berlawanan melirik ke arah Seorin sekilas lalu berbisik cukup kuat.

“Kalau Minho oppa dan Krystal akan segera bertunangan, bukankah itu berarti tidak ada hubungan apapun lagi antara Seorin sunbae dan Minho oppa?” Bisik salah satu siswi.

“Mungkin saja. Awalnya aku keberatan sewaktu Minho oppa mengakui bahwa dia pacaran dengan Seorin sunbae. Tapi untunglah, dia akan segera bertunangan dengan Krystal.”

Sora mendelik kedua siswi itu dengan tajam. Hampir saja Sora menghampiri mereka dan menjambak rambut mereka sehelai demi sehelai kalau bukan karena Yuna menahannya. Yuna menarik ujung lengan baju Sora dan mengarahkan telunjuknya pada Seorin yang sudah berada beberapa langkah di depan mereka seolah dia tidak mendengar kata-kata barusan.

***

Seorin membuka kunci layar hp nya berkali-kali sambil mengemut lolipop kesukaannya. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Haruskah dia menghubungi Minho? Ia tidak akan siap jika mendapatkan penolakan dari Minho, tapi ia sungguh-sungguh ingin menghubungi namja itu.

“Kau pasti bisa.” Seorin menyemangati dirinya sendiri dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mengirimkan pesan singkat pada Minho.

To : Choi Minho

Mau makan bersama?

Seorin berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya untuk menghilangkan rasa gugupnya saat menunggu balasan dari Minho. Seorin melompat kecil saat hp nya berbunyi.

From : Choi Minho

Tentu. Di kedai jajangmyun di dekat rumahmu?

Seorin tersenyum lebar dan tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak melompat kegirangan. Sepertinya Minho tidak benar-benar berubah menjadi orang asing bagi Seorin.

***

To : Choi Minho

Mau makan bersama?

Minho tersenyum kecil melihat pesan dari Seorin. Apakah yeoja ini merindukannya sekarang? Sejauh yang mampu Minho ingat, ini kali pertama Seorin mengiriminya pesan. Tidak bisa ia pungkiri, ia merasa sangat senang.

“Oppa, waeyo? Mengapa kau tersenyum selebar itu?” Krystal meletakkan sebuah buku dan memicingkan matanya pada Minho.

Minho hanya melirik Krystal sekilas lalu menggelengkan kepalanya.

“Sudah kau temukan buku yang kau cari?” Tanya Minho sambil membalas pesan dari Seorin.

Krystal menggelengkan kepalanya dan menggembungkan pipinya. “Tidak, aku tidak bisa menemukan bukunya.”

“Kita bisa mencarinya lain kali, kan? Lebih baik kuantar kau pulang sekarang.” Ajak Minho, dengan agak bersemangat.

“Ah, menyebalkan. Mengapa harus ada makan malam keluarga segala? Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu bersama oppa.” Rengek Krystal yang masih tidak bisa terima. Berkat ide dari Dongwoon, orangtuanya setuju untuk mengadakan makan malam keluarga, hanya mereka berempat.

“Jangan begitu. Mereka sangat merindukanmu, itulah mengapa mereka mengadakan makan malam keluarga. Kaja, sebelum kau terlambat pulang dan Dongwoon menyalahkanku.” Minho terkekeh pelan.

Krystal bisa melihat perbedaan suasana hati Minho sejak dia mendapatkan pesan masuk di toko buku tadi. Minho terlihat lebih sumringah. Karena yeoja bernama Lee Seorin itukah? Krystal sangat tidak ingin meninggalkan Minho, tapi dia tidak bisa melewatkan makan malam keluarga ini atau Dongwoon akan mengamuk padanya.

Minho mengantar Krystal pulang dan langsung melesat ke tempat yang dijanjikannya bersama Seorin. Minho tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan ke sana. Sebentar lagi dia akan bisa melihat yeoja yang rasanya sudah sangat lama tidak ia temui.

Minho meminggirkan mobilnya dengan cepat saat ia melihat Seorin berdiri di depan kedai. Seorin mendekap tubuhnya sendiri dengan erat, sesekali mengusapkan telapak tangannya yang mulai membeku di lengannya sendiri. Minho berdecak pelan dan bergegas menghampiri Seorin.

“Kau harusnya menunggu di dalam.” Omel Minho. Seorin tidak membalas kata-kata Minho, hanya menatapnya dengan takjub. Minho benar-benar menepati janjinya. Seorin sempat berpikir yang tidak-tidak, seperti Minho yang membatalkan janji begitu saja atau bahkan melupakan janji mereka. Untunglah, sepertinya Minho tidak benar-benar berubah seperti apa yang dibayangkan Seorin.

Minho menuangkan air hangat dan menyodorkannya pada Seorin setelah mereka masuk dan memesan makanan mereka.

“Hmm, bagaimana kabarmu?” Tanya Seorin. Mengapa ia menjadi canggung seperti ini? Bukankah biasanya ada banyak sekali hal yang bisa mereka bicarakan?

“Bagaimana bisa kau tidak tau kabarku, bukankah kau selalu memperhatikanku di sekolah?” Goda Minho. Seorin membelalakkan matanya dan memiringkan wajahnya. Minho menopang dagu dan terkekeh pelan tanpa sedetik pun pandangannya teralihkan dari wajah Seorin.
”Ayolah, akui saja. Kau selalu memperhatikanku, bukan?” Minho menyeringai kecil. Seorin mendengus, kehabisan kata-kata. Ini memang Minho yang ia kenal, namja yang tingkat percaya dirinya diatas rata-rata.

Seorin dan Minho mengucapkan terima kasih secara bersamaan setelah makanan yang mereka pesan disajikan.

“Waaah! Enak sekali!” Gumam Seorin di sela-sela mulutnya yang mengunyah mie dengan lahap.

“Lain kali akan kuajak kau ke tempat lain, jajangmyun mereka tidak kalah enak dari kedai ini.”
”Jinjja?”

“Hmm.” Minho bergumam pelan dan mengangguk. “Aku dan Krystal mencicipinya kemarin, dan aku yakin kau pasti akan suka.” Minho tak menyadari air muka Seorin yang berubah.

Seorin menghentikan kegiatannya dan menatap Minho dengan tidak percaya. Barusan Minho menyebut nama Krystal? Dihadapan Seorin? Seorin memberengutkan wajahnya lalu menyelesaikan makannya.

“Sudah selesai? Kuantar kau pulang.” Ujar Minho yang bersiap untuk berdiri.

“Tunggu!” Seorin menahan tangan Minho dan menggigiti bibirnya dengan ragu, “Bisakah kita berjalan kaki saja?”

Minho menaikkan alisnya. Bukankah lebih baik jika mereka mengendarai mobil? Tapi tetap saja Minho mengangguk menyetujui permintaan Seorin. Dengan begini, dia bisa berada di samping Seorin sedikit lebih lama lagi.

Minho dan Seorin berjalan berdampingan dengan langkah-langkah kecil. Mereka berdua tidak ingin berjalan terburu-buru karena itu berarti mereka harus segera berpisah.
”Krystal …” Ucap Minho pelan. Seorin menoleh ke arah Minho dengan cepat. Apakah Minho salah menyebutkan nama?

“Kau tidak mau tau apa yang terjadi antara aku dan Krystal dulu?” Lanjut Minho.

Seorin meluruskan pandangannya dengan cepat saat Minho menoleh ke arahnya.

“Dia adalah gadis pertama yang membuat jantungku berdebar begitu cepat. Dia adalah gadis pertama yang bisa merubahku. Dia adalah gadis yang sangat penting.” Lanjut Minho tanpa memedulikan kebisuan Seorin.

Seorin harus mengatupkan rahangnya dengan erat agar dia tidak berteriak dan memaki Minho saat ini juga.

“Oh, jinjja?” Balas Seorin sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Minho.

“Kau tau betapa leganya aku saat dia kembali? Kupikir dia tidak akan pernah kembali dan melihat perubahanku.” Minho tersenyum kecil yang membuat Seorin semakin sebal.

“Tapi—“
”Terima kasih sudah mengantarku pulang. Selamat malam.” Seorin memotong kata-kata Minho dan membungkukkan badannya setelah mereka sampai. Seorin langsung masuk ke dalam, menutup pintu rumahnya dengan agak keras tanpa menghiraukan Minho.

“Menyebalkan. Tidak bisakah sekali saja dia tidak menyebut nama itu?” Gerutu Seorin.

***

“Seorin-ah, ada tamu untukmu.” Panggil Nyonya Lee dari lantai satu. Seorin mengernyit. Siapa yang mengunjunginya diakhir pekan seperti ini? Minho kah?

Seorin yang sudah melupakan kekesalannya kemarin berlari agak tergesa-gesa.
”Oh, Donghae oppa.” Sapa Seorin saat dia melihat tamunya.

“Sepertinya kau tidak senang melihatku.” Tebak Donghae. Seorin mengangkat tangannya dan menggerakkannya dengan cepat.

“Tidak, bagaimana mungkin aku tidak senang melihat oppa. Tapi, apa yang membuat oppa datang?” Tanya Seorin heran.

“Sora menelponku semalam. Katanya mereka berencana untuk pergi ke Lotte World hari ini dan dia berbaik hati mengajakku untuk menemanimu. Jadi, bisa kita pergi sekarang?” Donghae menyodorkan tangannya ke arah Seorin yang terlihat sedang berpikir untuk menerima ajakan Donghae atau tidak. “Ayolah, aku sudah datang ke sini, kau tidak mungkin tega untuk menolakku, kan?” Donghae tersenyum manis.

“Baiklah, aku memang tidak bisa menolakmu, oppa.” Sahut Seorin pasrah. Donghae tertawa puas dan berpamitan pada Nyonya Lee sebelum mereka berangkat ke Lotte World.

Dari kejauhan, Seorin sudah bisa mengenali Yuna dan Sora serta pasangan mereka di gerbang. Ada juga Onew yang tidak sekalipun berhenti menatap Rinhae yang sedang berbicara padanya sementara Taemin dan Minji terlihat melompat kecil. Seorin juga bisa melihat Minho di sana, dan tentu saja Minho tidak sendirian. Siapa lagi yang bersamanya kalau bukan Krystal? Memangnya perekat apa yang sebenarnya dipakai Krystal hingga ia bisa terus menempeli Minho seperti itu?

“Ah, Seorin! Untunglah Donghae oppa benar-benar bersedia menemanimu!” Pekik Sora yang langsung meninggalkan Key untuk berlari ke arah Seorin.

“Yaaaa Il Sora, berhenti berteriak-teriak seolah kau sedang berada di hutan.” Key berkacak pinggang dan memicingkan matanya, “Dan jangan pergi begitu saja saat aku sedang berbicara denganmu.”

“Itu karena kau mengoceh tanpa henti. Aku lelah mendengar suaramu itu.” Balas Sora ketus.

Donghae dan Seorin tertawa bersamaan saat melihat pasangan itu berdebat.

Pemandangan itu tak luput dari pengawasan Minho. Mengapa Donghae selalu berada dimanapun Seorin berada akhir-akhir ini? Apakah akhirnya Donghae memutuskan untuk mengejar Seorin?

“Oppa.” Krystal mengguncang lengan Minho dengan pelan, “Kita juga harus masuk.” Krystal menunjuk ke arah 5 pasang lain yang sudah berjalan masuk. Minho mengangguk pelan tanpa mengalihkan perhatiannya dari satu pasangan tertentu.

Mereka menaiki beberapa wahana bersama-sama. Seorin mencoba sebisa mungkin untuk tidak menatap Minho. Untunglah Donghae orang yang sangat menyenangkan dan bisa mengalihkan perhatian Seorin.

Dia tidak bisa melihat Minho bersama Krystal. Dadanya terasa sesak dan ia kesulitan untuk bernafas. Mengapa hanya dia yang merasa seperti itu? Mengapa Seorin harus merasakannya padahal Minho baik-baik saja dan justru terlihat senang bersama Krystal?

“Hei, ayo naik bianglala!” Ajak Yuna. Jonghyun membeli tiket untuk mereka semua dan menyerahkannya pada petugas.

“Siapa yang akan naik lebih dulu?” Tanya Onew. Minji dan Taemin langsung mengacungkan jari mereka dan masuk ke bianglala.

“Selanjutnya?” Tanya Onew lagi sambil mengamati wajah mereka satu persatu, “Sebaiknya kau saja, Seorin.” Lanjut Onew. Seorin mengangguk dan masuk ke dalam bianglala. Belum sempat Seorin memutar tubuhnya, dia merasakan seseorang mendorongnya hingga menabrak pelan dinding bianglala. Seorin memutar tubuhnya dan terkesiap saat melihat Minho berada dihadapannya dengan kedua tangannya bertumpu disamping Seorin untuk menjaga keseimbangannya.

“Oopps! Maaf, aku tidak sengaja mendorongmu, Minho-ya.” Key menutupi mulutnya sendiri dan menahan tawanya agar tidak pecah. Yuna dan Sora saling berpandangan lalu mengangguk dan tersenyum kecil. Inilah tujuan utama mereka datang ke Lotte World. Mereka tidak bisa lagi melihat keadaan Minho dan Seorin yang seperti ini. Mereka butuh tempat dan waktu untuk berbicara, tapi agak kesulitan menemukannya karena Krsytal sepertinya berada disamping Minho 24 jam.

“Oppa…” Panggil Krystal pelan. Krystal melangkah maju tapi langsung dicegah oleh Donghae. Pintu bianglala Minho dan Seorin tertutup sementara pintu bianglala berikutnya terbuka.

“Kau bisa naik bersamaku, Krystal-ssi.” Ajak Donghae yang sejak awal memang sudah diberitaukan oleh Sora mengenai rencana mereka. Dan sepertinya hanya Minho, Seorin serta Krystal saja yang tidak tau apa-apa.

***

Seorin duduk dihadapan Minho dan menundukkan wajahnya. Wajah Minho yang tadinya berada begitu dekat dengannya masih saja berbekas dibenaknya. Bukankah Minho sudah sering melakukannya? Mengapa Seorin masih saja berdebar tidak karuan?

Minho melihat pemandangan diluar dengan tatapan bosan. Ada banyak hal yang dipikirkannya, dan semua itu adalah adegan kebersamaan Donghae dan Seorin sejak mereka sampai di Lotte World.

“Seorin-ah, apa kau dan Donghae-ssi berhubungan? Secara serius?” Tanya Minho yang sudah tidak bisa lagi menahan pertanyaan itu dibenaknya.
”Mwo? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
”Kau dan dia selalu bersama akhir-akhir ini.” Balas Minho singkat.
”Kalau begitu, apakah kau dan Krystal berpacaran? Karena kalian juga selalu bersama.” Seorin balik bertanya.
”Bisakah kau tidak mengungkit Krystal? Aku sedang membicarakan hubungan antara Donghae dan kau.” Desis Minho yang tidak mengerti mengapa Seorin justru balik bertanya. Seorin menggertakkan giginya dengan geram.

“Jangan menatapku seperti itu. Kau tidak berhak marah atas apapun yang terjadi antara aku dan Donghae oppa.”
”Tapi aku sudah bilang padamu berkali-kali, kalau aku tidak suka melihatmu bersama Lee Donghae.”

“Lalu apa pedulimu? Kau bukan siapa-siapaku, Choi Minho, jadi aku tidak perlu mendengarkan pendapatmu untuk bisa bergaul dengan siapaun. Kau tidak berhak mengaturku.” Dari mana keberanian yang Seorin dapatkan untuk berkata seperti itu? Rasanya benar-benar tidak seperti seorang Lee Seorin, tapi memang Seorin lah yang baru saja mengatakan hal itu.

Minho terdiam. Kata-kata Seorin mengenai Minho tepat sasaran.

“Bukankah yeoja yang membuat hidupmu merana kini telah kembali? Jadi untuk apa kau masih memperhatikan ‘mainan’ mu ini? Kau cukup membuangnya dan pergi.” Lanjut Seorin dengan tajam.

Tatapan Minho berubah sendu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Seorin. Minho senang sekali menjahili Seorin sejak awal karena hanya Seorin lah satu-satunya wanita yang bisa membuat dia ceria kembali—sejak kepergian Krystal. Memang awalnya bagi Minho, Seorin tidak lebih dari mainan. Tapi seiring berjalannya waktu, semua itu berubah. Tidak bisakah Seorin melihatnya?

Pintu bianglala kembali terbuka setelah mereka berputar satu lingkaran. Minho melangkah keluar dengan cepat tanpa memedulikan Seorin.

“Jika Krystal tidak kembali, apakah kau akan bersikap seperti ini padaku?” Tanya Seorin mantap. Minho memelankan langkahnya. Pertanyaan Seorin lagi-lagi menancap dihatinya.

Jika Krystal tidak kembali, mungkinkah dia akan merasakan ada dinding pembatas diantara dia dan Seorin seperti saat ini? Minho menggelengkan kepalanya dengan pelan, mengusir semua pikiran-pikirannya yang kacau. Ia tidak bisa berpikir jernah saat ini. Tidak ada gunanya Minho menjawab kalau jawaban yang akan diberikannya hanyalah luapan emosi belaka.

“Pernahkah kau bersikap tulus padaku sekali saja tanpa menggunakanku sebagai alat untuk melupakan Krystal?” Seorin melangkah keluar dari bianglala. Ia bisa melihat Taemin dan Minji yang mematung ditempat mereka berdiri, terlihat serba salah.

Minho memutar tubuhnya untuk menghadap Seorin dengan penuh amarah, “Berhenti membawa Krystal dalam percakapan ini!” Sentak Minho. Seorin terkesiap kaget saat Minho meninggikan suaranya, tapi menolak untuk menunjukkan rasa takutnya. Minho mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan, hal yang selalu terjadi setiap kali dia marah.

“Aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, jadi aku akan membuangmu sekarang. Kau puas??”

Minho membalikkan tubuhnya dengan cepat, kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Minho mengepalkan tangannya dengan erat saat airmatanya terancam tumpah. Mengapa hatinya terasa begitu sakit setelah dia mengatakan kalimatnya sendiri?

Taemin terkesiap pelan, sungguh-sungguh tidak menyangka Minho akan semarah itu. Terakhir kali Taemin melihat sisi emosional Minho adalah saat Krystal pergi. Mengapa sekarang Minho kembali bersikap emosional?

Terdengar bunyi berdebam pelan saat Seorin terjatuh dilantai. Lututnya yang sudah lemas sejak tadi tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tidak ada rasa sakit ditubuhnya saat ia terjatuh karena hatinya jauh lebih menderita atas jawaban Minho.

Onew dan Rinhae turun dari bianglala dan memandang Seorin dengan bingung. Seorin terisak pelan, bukannya berkurang, rasa sakitnya justru semakin bertambah. Donghae membelalakkan matanya dan berlari dengan cepat untuk menghampiri Seorin. Donghae mendekap Seorin dengan erat, meminjamkan dadanya untuk tempat Seorin bersandar saat ini.

***

Minho mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak bisa berkonstrasi dalam melakukan hal apapun dan semuanya karena Seorin. Minho pikir, setelah Seorin tidak menggubrisnya, semua akan kembali membaik. Minho pikir dia bisa kembali ke titik awal di mana tidak ada Seorin dalam kehidupannya, tapi mengapa ia tidak bisa?

Setiap kali Minho melihat Seorin dari kejauhan, dia ingin sekali memanggil Seorin. Setiap kali Seorin tersenyum pada orang lain, dia sangat berharap senyum itu diberikan untuknya. Setiap kali Donghae menjemputnya sepulang sekolah dan membuatnya tertawa, Minho selalu mengumpat kesal. Seharusnya dia yang berada di posisi Donghae saat ini. Ya, seharusnya…
Tapi sayangnya, kata-kata yang Minho ucapkan tidak bisa ia tarik kembali. Kata-kata itu sudah terlanjur menyakiti Seorin dan tidak akan pernah bisa ia tarik kembali.

Hatinya selalu berdenyut perih setiap kali dia harus berpapasan dengan Seorin di koridor tapi bertingkah seolah mereka tidak saling mengenal. Seorin bahkan enggan untuk sekedar melirik Minho. Dan itu semua adalah hasil dari perbuatan Minho sendiri.

Ada sebuah lubang yang menganga dihatinya. Lubang yang bahkan tidak akan pernah tertutupi dengan kehadiran Krystal sekalipun. Banyak penyesalan yang meliputi diri Minho. Tidak seharusnya dia begitu emosi waktu itu. Dan memang Minho lah yang selama ini bertingkah seperti orang brengsek, mempermainkan Seorin sesuka hatinya. Lalu ketika Krystal kembali, dengan seenaknya Minho mengesampingkan Seorin. Sungguh, tidak seharusnya dia seperti itu.

“Kau baik-baik saja?” Onew menepuk pundak Minho dan menyodorkan segelas air hangat. Di sinilah Minho sekarang, ditempat hyung yang bisa memberikan banyak masukan untuknya.

“Tidak.” Jawab Minho dengan jujur, “Aku benar-benar kacau sekarang.”

Onew tersenyum tipis, ikut merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Minho, “Jangan menyesali apapun, tidak akan ada yang berubah hanya karena kau menyesal.”

“Aku tau, tapi …” Minho menghentikan kata-katanya sendiri. Tidak tau malukah jika dia bilang dia ingin memiliki Seorin kembali?

“Jangan disesali, tapi perjuangkan lagi.”

“Tidak semudah itu hyung.” Minho mendesah pelan.

“Mengapa? Kau masih belum yakin siapa yang lebih kau cintai?” Onew memicingkan matanya.

“Bukan siapa yang lebih kucintai, karena wanita yang kucintai itu hanya satu. Seperti yang hyung katakan, ketika melihat Seorin terluka, aku justru lebih terluka darinya.” Ringis Minho.

“Nah, kalau begitu apalagi masalahnya?” Tanya Onew bingung.

“Itulah masalahnya hyung, aku sudah menyakitinya. Dia tidak akan memaafkanku, tidak akan pernah.”

“Kau bukan Seorin, jadi atas dasar apa kau begitu yakin dia tidak akan memaafkanmu? Seorin mungkin saja punya pemikiran yang lain, kan?” Desak Onew. Minho menatap Onew dengan sungguh-sungguh.

Benarkah itu?

***

Seorin duduk bersila diatas tempat tidurnya. Dia terus memaksa dirinya untuk tertawa dihadapan Yuna dan Sora, juga Donghae karena tidak ingin mereka khawatir. Tapi disaat sendirian seperti ini, Seorin tidak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan Minho.

Kata-kata Minho benar-benar memberikan luka yang sangat mendalam bagi Seorin, tapi mengapa dia masih saja memikirkan Minho? Seorin berharap bahwa apa yang terjadi di Lotte World waktu itu hanyalah mimpi belaka agar dia tidak perlu sesakit ini. Tapi kenyataan memang tidak pernah menyenangkan.

Seorin tidak menyangka bahwa dirinya, Lee Seorin, akan jatuh cinta pada Minho—namja bermuka dua yang selalu saja menggodanya. Dan Tuhan benar-benar kejam. Mengapa disaat Seorin baru saja menyadari perasaannya, Minho justru sudah menghilang dari pandangannya?

Seorin selalu menutup matanya setiap kali Minho dan Krystal muncul dihadapannya, tapi sampai kapan Seorin bisa melakukannya? Seorin tidak bisa terus menutup mata untuk selamanya.

Jika diingatnya kembali, ada banyak kesempatan bagi Seorin untuk mempertahankan Minho tetap berada di sisinya.

Seorin tertawa sinis pada dirinya sendiri. Tidak, tidak ada kesempatan seperti itu. Bukankah Seorin hanyalah mainannya saja? Jadi kesempatan apa yang sedang dibicarakan Seorin?
Suara tawa Seorin berubah menjadi isakan tertahan saat tetes demi tetes airmatanya mulai turun. Mengapa rasanya begitu menyakitkan saat mengetahui orang yang disukainya tidak pernah melihat dia seperti dia melihatnya?

Nyonya Lee masuk ke kamar Seorin saat mendengar suara isakan dan sangat terkejut saat dilihatnya Seorin tengah menangis.

“Ada apa sayang?” Tanya Nyonya Lee yang langsung menghampiri Seorin dan memeluk putrinya. Tangis Seorin semakin menjadi. Kehangatan yang diberikan oleh Nyonya Lee membuat Seorin tak kuasa untuk menahan emosinya lebih lama. Seorin balas memeluk Nyonya Lee dengan erat, berharap kehangatan itu bisa melindungi Seorin selamanya.

“Ssh, meski eomma tidak tau apa yang terjadi, tapi semuanya pasti akan segera membaik.” Hibur Nyonya Lee. Seorin mengangguk pelan, memahami niat baik Nyonya Lee.

***

“Woah, ternyata kalian memang sangat serasi.” Puji seorang pria yang usianya berkisar pertengahan 50 pada Minho dan Krystal. Minho hanya tersenyum sopan pada rekan bisnis Tuan Choi. Minho tau bahwa pria itu hanya sedang menjilatnya saja, tapi dia tidak ingin merusak nama baik Tuan Choi dengan bersikap tidak sopan, tidak disaat hari baik ini sedang berlangsung.

Krystal hanya tersipu malu saat beberapa orang lainnya juga memuji mereka.

“Minho-ya.” Panggil sebuah suara. Baik Krystal maupun Minho berbalik untuk mengetahui siapa si pemilik suara.

“Oh, abeonim.” Sapa Minho saat Tuan Lee berdiri dihadapannya. Pandangan Minho teralih pada Seorin yang berdiri agak dibelakang Tuan Lee, menatap ke arah lain—ke manapun asal bukan ke arah Minho. Lagi, hatinya berdenyut perih.

Seorin tidak menyangka jika Nyonya Lee ternyata membawanya ke pesta ulangtahun Choi Corp. Kalau tau sejak awal, Seorin pasti akan menolak karena dia tau dia pasti akan bertemu dengan Minho—juga Krystal.

Tuan Lee bercakap-cakap dengan Minho sebentar lalu pergi untuk mengucapkan selamat pada Tuan Choi. Seorin bersikeras ingin mengikuti kedua orangtuanya saat mereka memaksa Seorin untuk tinggal dan mengobrol bersama Minho. Tidak ada yang bisa mereka obrolkan, hal itu justru akan membuat suasana diantara mereka semakin canggung.

Seorin berdiri seorang diri disudut ruangan pesta yang terletak di ballroom salah satu hotel bintang lima. Seorin terlihat sangat bosan, karena jelas tidak ada yang dia kenal di pesta ini.

Minho berada di sisi ruangan yang lain dari Seorin, tapi matanya tidak pernah berhenti memerhatikan Seorin, takut kalau yeoja itu akan menghilang.

“Oppa, kau tidak mendengarkan kata-kataku lagi.” Gerutu Krystal. Minho dari tadi terus berada disampingnya, tapi tidak sekalipun Minho memerhatikan Krystal. Minho menjulurkan kepalanya dibalik kerumunan para tamu saat Seorin berjalan keluar dari ruangan ballroom.

“Maaf, Krystal, aku harus pergi sebentar.”
”Tidak oppa, kau tidak harus pergi.” Krystal menahan tangan Minho. Ia tau apa yang mengganggu pikiran Minho belakangan ini, tapi lagi-lagi Krystal memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya. Dia tidak ingin kehilangan Minho, tidak bisa.

“Maafkan aku.” Ucap Minho memelas.

“Tidak. Bukankah selama ini oppa selalu menungguku? Ini tidak mungkin, oppa. Tidak mungkin.” Krystal menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rasa takut menjalarinya. Minho tak lagi menjadi miliknya. Dia telah kehilangan Minho yang menjadi alasannya kembali.

“Krystal-ah, aku juga tidak pernah berharap semuanya akan berubah menjadi serumit ini. Tapi mengertilah, untuk saat ini—dan seterusnya—aku tidak bisa kehilangan Seorin. Aku sudah menyakitinya cukup banyak. Meski tidak bisa dimaafkan olehnya, aku tetap harus menyembuhkan luka yang telah kuberikan. Bagiku Seorin adalah segalanya. Maafkan aku, Krystal.” Terlalu sulit bagi Minho untuk melihat wanita yang pernah berperan penting dalam hidupnya meneteskan airmata, tapi akan lebih sulit lagi bagi Minho jika Seorin tetap terluka seperti sekarang. Minho berjalan dengan perlahan hingga genggaman tangan Krystal terlepas. Minho menatap Krystal dengan tatapan menyesal, tapi toh Minho tetap harus mengejar Seorin.

***

Seorin menatap ke sekeliling koridor dengan bingung. Aneh, Seorin yakin tadi ia melihat toilet di lantai ini.

“Hai, nona. Apa kau sendirian?” Tanya seorang pria tua yang menatap Seorin dengan pandangan menjijikkan. Seorin mengernyit. Pria tua ini sedang menggodanya? Astaga, tidak ingatkah pria tua ini pada anak dan istri yang menunggunya di rumah?

Seorin mengabaikan pria itu dan terus berjalan, tapi pria itu tidak mau membiarkan Seorin begitu saja.

“Omo! Lepaskan aku!” Pekik Seorin saat pria itu menarik tangannya.

“Nona, tidak sopan jika kau pergi begitu saja saat orang yang lebih tua sedang berbicara denganmu.” Pria tua itu berdecak pelan.

“Yaaaa, ahjussi! Jangan sentuh wanitaku!” Suara Minho tiba-tiba saja terdengar.

“Satu lagi anak muda yang tidak punya sopan santun.” Cetusnya.

Minho mempercepat langkahnya dan menarik tangan pria itu dari Seorin.

“Ahjussi, pergilah sebelum aku mulai melakukan kekerasan.” Minho memperingati. Tapi pria itu tidak gentar dan justru mengangkat tangannya untuk memukul Minho. Dengan sigap Minho mencengkram tangan pria itu dan menghempaskannya ke lantai. Minho meremas kepalan tangannya dan menatap pria itu dengan tajam, dan kali ini pria itu lari dengan cepat.

“Gwaenchana?” Minho berputar menghadap Seorin. Seorin hanya balas menatap Minho tanpa menjawab. Minho tau, Seorin masih sangat terluka pada kata-katanya waktu itu. Dan untuk itulah dia memberanikan dirinya untuk menemui Seorin. Seorin memalingkan wajahnya dan menghirup nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin menatap Minho karena itu hanya membuatnya semakin menggila.

Minho bergumam pelan lalu menarik Seorin memasuki lift yang berada beberapa langkah dari tempat mereka berdiri sekarang.

Seorin meronta pelan, tapi sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari Minho. Setelah pintu lift tertutup, Minho membuka mulutnya. “Seorin-ah, aku—“

BAAAAAM!

Tiba-tiba saja lift berguncang pelan dan menimbulkan suara-suara gaduh. Refleks, Minho menarik Seorin ke dalam pelukannya, melingkarkan tangannya di kepala Seorin untuk melindungi yeoja itu. Minho melihat ke sekeliling, tapi tidak tau apa yang terjadi. Setelah suara-suara dan guncangan berhenti, lampu lift padam. Seorin memekik kencang saat penerangan di dalam lift menghilang.

Minho melepaskan Seorin setelah yakin tidak ada guncangan lagi. Minho menekan semua tombol lift, tapi tidak ada yang berfungsi. Sinyal hp pun tidak ada.

“Kita terjebak di sini sampai ada orang yang menyadari kita menghilang.” Ucap Minho pelan, entah didengar oleh Seorin atau tidak.

Seorin menghela nafas, memerosotkan tubuhnya sambil memeluk lutut dan bersandar di dinding lift. Minho mengikuti Seorin, duduk tepat di sampingnya.

Seorin memandang lurus ke depan. Meski kegelapan nyaris membuat Seorin tidak bisa melihat wajah Minho, tapi ia masih merasakan kehadirannya yang begitu dekat.

“Maaf…” Bisik Minho pelan. Seorin melirik sekilas, tapi buru-buru memandang lurus.

“Tentang waktu itu. Aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu, aku hanya… Aku hanya terlalu emosi.” Minho merasa malu pada dirinya sendiri. Karena egonya-lah dia menyakiti orang lain. Tidak, bukan orang lain, tapi orang yang sangat berharga baginya. Masih pantaskah dia mendapatkan kata maaf? Masih sudikah Seorin memberikan kata maaf?

Tubuh Seorin menegang. Berapa banyak usaha yang dilakukannya untuk melupakan kejadian itu? Seberapa sering dia tersenyum ramah pada orang-orang disekitarnya untuk meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja? Berapa banyak hal yang ia tertawakan dengan berlebihan untuk mengusir rasa sakitnya?

Terlalu banyak hal yang dia lakukan untuk melupakan kejadian itu, dan semua usaha itu membuatnya lelah. Lalu sekarang, Minho duduk di sampingnya, mengingatkan dia lagi pada kejadian itu. Bukankah itu berarti semua usaha Seorin sia-sia saja?

“Seorin-ah, kumohon maafkan aku..” Ucap Minho lirih. Apa yang harus dilakukannya agar Seorin bersedia menjawabnya? Tidak, Minho tidak berharap banyak dengan menginginkan Seorin segera memaafkannya. Setidaknya untuk saat ini, Minho hanya ingin mendengar suara Seorin, suara yang sangat dirindukannya.

“Minho-ssi..” Seorin akhirnya bersuara. Minho menoleh dengan cepat. “Tidak ada yang terjadi diantara kita, bukan? Jadi mengapa kau terus meminta maaf?” Tukas Seorin dingin.

“Mengapa kau menganggap tidak ada yang terjadi pada kita? Kau seharusnya marah padaku, tapi kau malah memilih untuk bersikap dingin seperti ini.” Minho mendesah geram. Seorin yang berada dihadapannya berbeda jauh dengan Seorin yang ia kenal. Dan itu semua adalah akibat perbuatannya.

“Minho-ssi, tidak ada yang ingin kubahas denganmu.” Tukas Seorin masih menggunakan nada yang sama dinginnya.

“Ah, aku mengerti sekarang. Bukankah bagimu, aku juga hanya sekedar alat untuk melupakan Donghae? Dan setelah Donghae kembali, kau juga ingin mencampakkanku?” Cemooh Minho yang berhasil membuat darah Seroin mendidih.
”Mwo? Yaaa, Choi Minho! Jelas-jelas orang yang melakukan kesalahan adalah kau, mengapa kau justru menumpahkan kesalahanmu pada orang lain? Kau memang brengsek!” Seorin meluapkan emosinya. Sudah cukup. Rasa sakit yang diberikan oleh Minho sudah lebih dari cukup untuk membuat Seorin membenci Minho, perlukah dia menambahkan alasan lain bagi Seorin untuk benar-benar membencinya?

Seorin terisak pelan tanpa ia sadari dan merutuk dirinya sendiri. Mengapa ia begitu cengeng? Tidak cukupkah dia telah menangis beberapa hari ini? Mengapa dia harus menangis lagi dihadapan Minho?

Minho menarik tangan Seorin dengan cepat dan mendekapnya erat.

“Lepaskan aku!! Aku benci padamu, Choi Minho!!.” Teriak Seorin disela-sela tangisnya. Minho tidak berkata apa-apa dan membiarkan Seorin memukuli tubuhnya hingga Seorin puas sambil terus memaki Minho.

Inilah yang diinginkannya. Daripada Seorin diam, Minho lebih suka jika Seorin berteriak histeris dan memukulnya seperti ini. Ia yakin Seorin akan merasa jauh lebih baik.
”Maafkan, aku Seorin-ah.” Minho meminta maaf untuk kesekian kalinya. Meski ia tau itu tidak cukup, tapi hanya dari kata-kata itulah dia bisa menunjukkan ketulusannya pada Seorin. Tubuh Seorin masih berguncang karena tangisnya, tapi dia tak lagi memukul Minho.

“Aku menyesalinya. Aku menyesal karena telah memperlakukanmu dengan sangat buruk sejak kepulangan Krystal. Tapi kau juga harus mengerti. Aku menunggu Krystal sekian lama, dan saat dia kembali aku nyaris melupakan segala hal. Dia adalah wanita yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Dia memiliki arti tersendiri bagiku. Aku tidak bisa begitu saja melupakan Krystal.” Bisik Minho lirih. Seorin mendorong tubuh Minho, mencoba untuk melepaskan dirinya dari pelukan Minho. Minho mengencangkan pelukannya, tidak membiarkan Seorin menjauh darinya—tidak akan pernah lagi.

“Tapi mengapa ketika aku mengatakan kata-kata yang sangat kejam padamu, aku justru ikut merasa terluka? Bahkan lebih buruk dari itu. Aku selalu tidak suka melihat kau tersenyum ramah pada orang lain, padahal kau mengabaikanku di sekolah. Aku tidak suka melihat Donghae yang membuatmu tertawa, karena seharusnya aku juga bisa melakukan hal yang sama untukmu.” Ungkap Minho jujur.

“Mungkin ini terlambat, tapi aku tetap ingin mengatakannya padamu.” Minho menarik tubuh Seorin agak menjauh darinya. Meski cahaya di dalam lift sangat buruk, samar-samar Minho masih melihat wajah Seorin yang basah oleh airmata. Minho menatap kedua bola mata Seorin yang juga balas menatapnya. Masih ada sorot kemarahan dan luka di mata Seorin yang ditangkap dengan jelas oleh pandangan Minho.

“I love you, Lee Seorin, so much.” Aku Minho dengan suara lembut.

“Berhenti mempermainkanku… Apa tidak cukup kau melukaiku?” Air mata Seorin kembali tumpah. Perasaannya tidak karuan. Apakah ini mimpi? Apakah Minho sedang membohonginya? Mengapa Seorin tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar? Bukankah hal ini terlalu indah untuk dijadikan sebagai kenyataan?

“Aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kau memang tidak bisa mempercayaiku. Tapi aku serius. Bahkan aku tidak pernah mengatakan kata-kata itu pada Krystal. Hanya untukmu, aku mengatakannya hanya untukmu seorang.”

Untuk kali pertamanya, Seorin melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Minho. Bisakah dia mempercayai Minho? bisakah dia mempercayai orang yang telah menyakitinya begitu dalam?

“Would you be my one and only girl, Lee Seorin?” Minho meraih tangan Seorin dan mengecup dengan lembut, membuat Seorin lagi-lagi terpana.

“Bukankah kau menyukai Krystal?” Tanya Seorin ragu.

“Tidak lagi. Semua yang kurasakan padanya sudah berubah karena kau.” Minho tersenyum manis dan mengusapkan ibu jarinya di pipi Seorin yang masih berlinang airmata.

“Bisakah aku mempercayaimu?”
Minho tersenyum tipis dan mengangguk, “Aku berjanji, tidak, aku bersumpah tidak akan membuatmu menangis lagi. Selamanya. Jadi, bersediakah kau mempercayaiku?” Minho menatap Seorin dengan cemas. Tidak ada jaminan bahwa Seorin akan memberinya kesempatan, yang bisa Minho lakukan saat ini hanyalah berharap sebanyak yang ia mampu.

Senyum di wajah Minho merekah dan pundaknya terasa ringan setelah Seorin mengangguk pelan. Minho mendekatkan wajah mereka, berbisik “Saranghae” tepat dibibir Seorin sebelum melumatnya dengan lembut.

Inilah yang memang ia inginkan, berada di sisi Seorin, menjadi miliknya seorang. Mungkin apa yang ia rasakan pada Krystal dulu memang lah cinta, tapi jelas cinta yang ia rasakan pada Seorin jauh berbeda dengan cinta yang ia rasakan untuk Krystal.

“Apakah ada orang di dalam!!!?” Teriak seseorang dari luar lift yang membuat Minho dan Seorin menghentikan ciuman mereka.

“Ya, ada orang di dalam!!” Minho balas berteriak. Minho kembali menatap Seorin yang menundukkan wajahnya dengan malu. Minho kembali tersenyum. Ternyata memang Seorin lah yang bisa membuatnya seperti ini, bukan Krystal.

***

Krystal berayun pelan di taman dekat rumahnya. Kata-kata Minho terus terngiang dan membuatnya ingin menangis. Mengapa dia selalu melakukan hal yang membuatnya menyesal?

Saat di Paris dulu, dia hidup dengan sangat bahagia bersama kekasihnya yang selalu memanjakan dia layaknya putri. Tapi akhirnya Krystal merasakan ada yang kurang dari kebahagiaan itu. Dia menyesal telah meninggalkan Minho dan menyakitinya. Setelah membuat keputusan yang tidak mudah dengan meninggalkan kekasihnya untuk kembali pada Minho, semua justru berakhir dengan tragis. Seharusnya dia tidak melakukan hal ini. Sekarang ia menyesal telah kembali ke Seoul. Tidak hanya karena dia telah kehilangan dua orang yang berarti baginya—Minho dan mantan kekasihnya, tapi juga karena dia telah bersikap egois. Seharusnya sejak awal Krystal bisa melepaskan Minho saat dia tau Minho dan Seorin berpacaran. Mengapa Krystal justru bersikap keras kepala dan mencoba peruntungannya?

Sekarang dia seorang diri. Tidak ada lagi kekasih yang selalu melindunginya, tidak ada juga Minho yang selalu memerhatikannya.

“Apa yang kau lakukan seorang diri semalam ini?” Tanya sebuah suara. Krystal mendongak dan nyaris terjatuh dari ayunan yang ia duduki saat melihat sosok Donghae menjulang dihadapannya. Donghae duduk di ayunan di sebelah Krystal dan memasukkan tangannya ke dalam saku blazernya dengan santai.

“Tidak baik jika seorang wanita berada di luar rumah semalam ini.” Donghae mengalihkan pandangannya dari wajah Krystal ke gaun yang dikenakannya, “Apalagi menggunakan gaun seperti itu.”

Krystal hanya menunduk, menatap kakinya yang menendang batu-batu kerikil kecil lalu menghela nafas.

Donghae menggelengkan kepalanya dan bangkit dari ayunan. Donghae berjalan ke belakang Krystal, melepaskan blazer putih miliknya dan meletakkannya di pundak Krystal.

“Pulang lah sebelum malam semakin larut.” Donghae maju beberapa langkah meninggalkan Krystal. Krystal menyentuh blazer Donghae yang membuatnya merasa hangat dan berdiri dari ayunan.

“Oppa…” Panggil Krystal pelan. Donghae menghentikan langkahnya. Sebuah sebutan yang sudah lama tidak ia dengar dari suara ini.

“Mengapa kau tidak bertanya apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menertawakan aku yang terlihat sangat konyol karena berharap Minho masih menyukaiku?” Tanya Krystal bingung. Donghae menarik nafas dalam-dalam lalu berbalik.

“Aku tidak akan menertawakanmu. Kau berjuang untuk orang yang kau cintai, jadi kenapa aku harus menertawakanmu?” Donghae balik bertanya.

“Karena aku telah kehilangan segalanya. Minho oppa… Dan juga kau..” Ucap Krystal lirih. Tak bisa dipungkiri, hati Donghae terasa sakit melihat wanita yang pernah menjadi miliknya terlihat sangat menyedihkan. Tapi inilah hidup, tidak semua hal akan berlangsung tanpa masalah.

“Aku tau kau adalah wanita yang tegar.” Balas Donghae sedatar mungkin. Krystal mengerjapkan matanya berkali-kali saat pandangannya mulai memudar. Sekelilingnya berputar dengan cepat sebelum ia kehilangan kesadarannya.

“JUNG SOOJUNG!!” Teriak Donghae saat melihat tubuh Krystal nyaris terhempas ke tanah sebelum Donghae berlari dengan cepat dan meraihnya.

Donghae mengantar Krystal kembali ke rumahnya lalu meletakkan tubuh rapuh wanita itu diatas tempat tidurnya yang ditunjukkan oleh Dongwoon.

Donghae mengelus wajah Krystal dan menatapnya selama beberapa detik sebelum beranjak keluar.

“Permintaanku mungkin terdengar egois, tapi tidak bisakah kau menjaga Krystal kami?” Tanya Dongwoon begitu Donghae keluar dari kamar Krystal.

“Aku tau, kau lah pria misterius yang membuat Krystal pergi ke Paris. Jika hubungan kalian sempat goyah karena pihak luar, tidak bisakah kalian mencoba sekali lagi?” Lanjut Dongwoon saat Donghae menatapnya dengan bingung.
”Excuse me?” Donghae memicingkan matanya, meragukan arti dibalik kata-kata Dongwoon.

“Bukankah kau dan Krystal goyah karena orang lain? Dan bukankah sekarang orang lain itu sudah bersama-sama? Kenapa kalian tidak mencoba lagi dari awal?”

Donghae tertawa lemah dan menyisir rambut cokelatnya menggunakan jari tangan.

“Aku tidak bisa memulai semuanya dari awal lagi bersama Krystal. Bukan karena aku tidak mencintainya lagi. Justru karena aku masih sangat mencintainya, aku tidak bisa muncul dihadapannya. Lebih baik Krystal melupakan masa lalunya—tentang aku maupun Minho, karena dia pasti akan lebih terluka jika harus mengingat masa lalunya.” Donghae menoleh sekilas ke arah kamar Krystal yang sekarang sudah tertutup rapat. “Uri Soojungie, geunyeoreul dolbodajusibsio (tolong jaga dia).” Donghae menundukkan kepalanya dan keluar dari kediaman Son.

Dongwoon menghela nafas pelan. Meski ia masih marah atas sikap egois Krystal, tapi Krystal tetaplah yeodongsaeng yang sangat berharga baginya. Dan sekarang, Dongwoon harus mempersiapkan dirinya untuk menghibur Krystal.

TO BE CONTINUE . . .

 

a/n ::. Ah, glasses 10 selesai =D

kkkk, harusnya glasses 10 ini part nya TaeMinji, tapi ternyata konflik untuk MinSeo Couple nya gak cukup disatu part, jadi aku buat dua part~

Jadi cerita Taemin baru bisa nongol di part selanjutnya *mian*

Dan, gak terasa, udah akhir bulan lagi T^T
Lagi-lagi harus berhadapan dengan laporan bulanan.. Jadi next part bakal lama lagi *sorry again*

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

126 thoughts on “The Pervert Nerd – Glasses 10”

  1. jadi ikut kebawa perasaan,
    jadi ngeh ternyata donghae-krystal itu ternyata pernah pacaran =o=”
    tetep fighting yuu! :D

  2. KEREN! MANTAP! Yuyu Eonie emang author favoriteku! Semua ceritanya keren semua dan aku suka! Ayo cepet lanjutin ceritanya! Dan buat cerita yang lebih rame dan menarik! FIGHTING Eonnie! :)

  3. omooo..
    Ternyata cowoknya krystal itu si donge??wahh,, ga nyangka..

    Cieee,, si mino akhirnya ngaku sama seorin..
    Selamat yaaaa.hehehe
    chingu,, critanya bagus,,

  4. hanah | amelee | Shana OnwJjong Luphporepher | iseul | SoniaCutezz | myminho | gretty | b>DheaTaemintzFishies | tiararait | shinee’s juliette | ara | mrs.onew | adhyra10 | NMS15 이 혜진 | Kim Ni Sha | LeeShin91 | Hikma
    gomawoyo^^

  5. Part ini dan part sebelumnya bikin nyesek!!!
    Aaaaaa… Minho minta dibantai banget deh, untung dia sadar sebelum semakin melukai hati Seorin >,<

    Author-nim, ini ff nya daebak banget!!! Kereeen~ aku hampir nangis bacanya :")

  6. Suka banget sama part ini..banyak banget kejutan-kejutan didalammya yang bikin perasaan jadi campur aduk..
    Ooww..ternyata orang yang dimaksud donghae oppa itu Krystal..
    Haha..Author kau memang benar2 hebar mempermainkan jalan pikiran readers..
    Ck! :D

  7. Suka banget sama part ini..banyak banget kejutan-kejutan didalammya yang bikin perasaan jadi campur aduk..
    Ooww..ternyata orang yang dimaksud donghae oppa itu Krystal..
    Haha..Author kau memang benar2 hebar mempermainkan emosi dan jalan pikiran readers..
    Ck! :D

  8. Daebak..bner2 mainin emosi..
    biarpun baca u/ yg k2 kalinya ttp aj kebawa emosi..
    Syukur dehh akhirnya minho sadar..td sempet emosi jg ken kata2nya minho ke seorin..it nusuk bgt lohh, perutku smpe ngilu bacanya xD
    Nahh karma berlaku..slh sendiri.. g prnh puas sihh..dl ninggalin minho demi donghae, trs ninggalin donghae demi minho..tp dpet ap sekarang? g dpet apa2 kn? heungg mian tp u/ saat ini sy sama sekali g kasian sama krystal..biar tahu rasa dia #sadis xD

  9. Omo! Omo! Dugaan gue bener kan, kalo soojung sama hae pernah punya hubungan == pernah sama-sama di paris kan, jadi itu gue bisa nebak :3
    Yaaaaaa di dalem lift gelap-gelapan aihhhh romantis sekaleh minoooo >///<
    Ah keren bingit storynya, sumveh :))))
    Lanjutbaca

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s