Angel Of The Death [1.2]

Angel of The Death [1 of 2]

Author : Minew

Main Cast : Anna (my imagination), Seonsangnim

Support Cast: Kyrstal,Sunni, Taeyeon, SHINee member

Length : Two  Shoot

Genre : Fantasy, friendship, Romance

Rating: General

Summary :

Tuhan…Kini matanya tertutup. Tidak. Ini belum berakhir. Masih berjalan. Aku terus mencari selama ini. Aku memang bukan seorang malaikat. Aku tidak pantas jadi malaikat yang suci dan bersih. Aku tidak bisa jadi malaikat yang tidak memiliki rasa cinta. Aku mencintainya. Benar-benar mencintainya.

 


****

Anna  POV…

Ketika aku bangun dari peristirahatanku aku tahu kalau aku bertemu dengan dunia yang baru. Bukan dunia yang sama dengan dunia yang aku tinggali sebelumnya. Tidak ada senyuman yang dapat ku berikan dengan tulus seperti saat aku berada di dunia ku dulu.

“Kau adalah orang terpilih.”

Menangispun tak dapat mengembalikan semuanya. Karena aku telah mendengar kata-kata itu. Seandainya aku masih bisa berlari riang seperti dulu. Andai saja tidak ada orang-orang yang menangis didunia ini. Aku pasti tidak harus ada disini.

Seandainya saja aku tahu bahwa aku akan menjadi seperti ini setelah mendengar perkataannya. Bukankah seharusnya aku berada di tempat yang sama dengan semua orang. Kenapa harus aku yang terpilih….

Aku ingin mati saja….

****

“Pagi…”

“Pagi…”

“Pagi, eh udah ngerjain pr?”

“Udah dong,”

“Pagi, kapan nih mau ke game center lagi?”

“Pagi.. terserah aja , lagi free

Orang-orang berlalu lalang di hadapanku. Senyum. Aku melihat itu di setiap wajah yang ku temui di depan gerbang ini. Semuanya tersenyum. Aku bahagia melihatnya. Dan aku akan tersenyum juga. Saat ini.

“Pagi..”

Aku terlonjak kaget ketika kurasakan seseorang menepuk pundakku. “Pa..pagi,” jawabku dengan sedikit gugup. Kenapa dia menyapaku? Bukankah seharusnya dia tidak mempedulikanku?

“Kenapa diam saja di situ? Cepat masuk ke kelas. Sebentar lagi bel.” Ucapnya sambil memperlihatkan senyum yang seharusnya tidak diberikannya padaku.

“N-ne..” aku menunduk dan berlari menuju kelasku. Kelas palsuku. Kelas yang  sebentar lagi akan menjadi kenangan.

Keberadaanku di bumi dan dunia ini hanya sebuah khayalan, hanya dengan menjentikkan jariku aku bisa membuat orang melupakan keberadaanku. Namun aku belum dan tidak akan pernah melakukannya, karena aku mengetahui bahwa ingatan yang telah ku hilangkan tidak akan pernah kembali lagi. Dan yang akan ku rasakan pada akhirnya hanya rasa sakit.

Apakah pikiran kalian sama denganku? Ingin memiliki kenangan bersama banyak orang, merasakan senyuman, tapi pada akhirnya orang-orang itu tidak akan menyapa dan mempedulikanku. Tidak mengenaliku. Karena aku ini semu. Pada awalnya semuanya masih dapat tersenyum, tapi pada akhirnya aku tahu kalau senyuman itu tidak aka nada lagi. Ketika aku terhapus dari ingatan mereka aku hanya menjadi udara dingin yang di benci orang-orang.

Tunggulah hanya beberapa jam lagi.

 

Suara itu melintas begitu saja di kepalaku. Ya. Nanti malam akan terhapus semuanya.

“Anna…”

“ya?” lagi-lagi orang ini. Orang yang tidak pernah jera untuk bicara denganku.

“Mau kemana?”

“Aku hanya ingin ke perpustakaan.” Tidak mempedulikan panggilannya aku terus saja berjalan. Aku bukan tipe pelajar yang membangkang gurunya, tapi aku merasa takut dekat dengan si seonsangnim satu ini.

“Ini masih jam pelajaran Anna.” Katanya lagi. Ia menarik sikutku dan memasang wajah marah−walaupun bagiku tampak seperti kelinci hutan aneh.

“Aku tahu.” Jawabku singkat.

“Kalau begitu ayo ke perpustakaan.” Katanya. Ia tersenyum sambil memperlihatkan gigi-giginya yang berkilau itu. Sudut bibirku tertarik sedikit karena senyumannya.

“Harusnya kau menyuruhku kembali ke kelas kan?”

“Yaaa.. meski ku suruh kembali kau tidak akan kembali kan?” ia kini malah menarikku menuju perpustakaan.

“Jadi seonsangnim bisa membaca pikiran orang ya?” ucapku dengan polos.

“cih, mengejek ya.”

Ada kalanya aku merasa takut melihat orang ini. Wajahnya, senyumnya. Rasa takut apakah ini? Hanya beberapa jam lagi waktuku habis dan tidak akan ada lagi orang yang akan mengingat keberadaanku.

“Anna? Wajahmu seperti ingin menangis begitu. Aku tidak akan melakukan apapun kok. Jangan tatap aku dengan wajah sedih begitu dong.” Ia menepuk kepalaku dan duduk di sebuah kursi. Dekat jendela. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.

“Matahari pagi.” Gumamku pelan.

“Ne.. “ aish, ternyata guru ini mendengarnya.

“Besok kita lihat ini lagi ya. Jadi datang yang pagi, jangan siang-siang. Kan jadinya kita bisa ikut pelajaran juga.” Ia nyengir.

“Memangnya kau murid?! Huh..” ku alihkan pandanganku darinya dan memandang matahari pagi itu. Besok? Aku memang bisa melihatnya, tapi kau tidak akan mengingat keberadaanku lagi.

“haha.. ya..ya..tapi setidaknya kau harus bergabung dengan teman-temanmu.”

Aku ingin.

“Kau ingin selama satu setengah tahun kedepan menghabiskan masa sekolah menengahmu tanpa teman? Hanya menghabiskan hari dengan hampa seperti itu.”

Aku tidak mau.

“Jadi, bagaimana kalau kita berjanji?” tapi aku tetap mengacuhkannya dan terus memandang keluar jendela. “huh, aku ini gurumu. Ingat. Seon-sang-nim!”

Aku tertawa. “Ne, seon-sang-nim.”

“YA! Kau ini.” Ia menjitak kepalaku. Tapi tidak terasa sakit. Aku ingin tertawa seperti ini lebih banyak lagi. Apakah aku bisa berteman? Sepertinya itu begitu menyenangkan.

“Aku berjanji.” Jawabku pelan. Aku berjanji akan melakukan apapun agar kau tetap tersenyum seperti itu.

“Ya! Aku bahkan belum menyebutkan janji apa.” Teriak Seonsangnim disampingku. Ia mencak-mencak tidak karuan yang mengatakan aku murid bandel dan tidak mau menunggu gurunya selesai bicara.

“Apapun, aku berjanji apapun. Katakan saja, dan aku akan berjanji seperti apa yang kau inginkan.” Sambil bertolak dagu ku pandangi senyum-senyum orang-orang di luar sana. Mereka datang terlambat tapi tetap tersenyum dan tertawa riang bersama sahabatnya, sesuatu yang tak pernah ku miliki.

“Janji padaku, jangan membolos lagi. Mulailah berteman dan mencari sahabat-sahabat yang baik. Antarkan dirimu pada masa depan yang cerah.”

“Ne..”

Kurasakan tatapan sendu dari seonsangnim, ada apa dengannya. “Tahun ajaran baru waktu itu, aku melihatmu berjalan dengan gontai. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kepalamu. Tapi kau terus memegangi kepalamu seolah kepalamu akan,−“

“Hancur…” ucapku dengan lirih. Aku hanya memandang lurus ke dapan. Pada mentari yang semakin lama semakin naik. Yang menunjukkan aku akan kehilangan semuanya hanya dengan hitungan jam.

“Kau, berjanjilah padaku. Untuk terus menjadi Anna yang cantik, pintar dan berjanjilah untuk tersenyum.” Kini giliran aku yang dibuat bingung olehnya. Dan ia melakukan apa yang ku lakukan sebelumnya. Menatap mentari.

“Aku berjanji.” Kataku dengan mantap. Ku acungkan jadi kelingkingku. Ia berpaling ke arahku dan ikut mengacungkan jari kelingkingnya. “Kau juga punya janji padaku.”

“huh?” Wajah seonsangnim tampak bingung.

Aku senang melihat wajah bingungnya. “Berjanjilah tidak akan pergi, berjanjilah jangan mati sebelum aku mati.”

Ia tertawa, “Mana mungkin bisa begitu, kau ini benar-benar ya!”

“Janji dulu!” desisku.

“Aku berjanji.”

“Aku berjanji.” Seruku untuk membuatnya sadar kalau aku tidak bercanda. Ia terdiam.

Ku rasakan tangan seonsangnim berkaitan dengan jari kelingkingku. Aku mendapat sahabat pertamaku hari ini. Dan itu semakin menghancurkanku.

****

“Iya, dia tampan sekali ya.” Seru seorang yeoja di sampingku.

“Bawa bekal apa hari ini? Aku bawa telur gulung bentuk hati lho. Sebentar lagi kan valentine, sedang latihan masak.”

“Masa valentine ngasih telur gulung sih, harusnya kan coklat.”

Aku tersenyum mendengar pembicaraan mereka. “Boleh aku bergabung?” ucapku. Ku rasakan senyum mereka menghilang dan di gantikan dengan tatapan tidak percaya.

“Kau ingin ikut bergabung?” Tanya salah satu di antara ketiganya.

“Ne, boleh?”

Mereka saling bertatapan, entah apa arti dari tatapan mereka itu. Apa memang sebaiknya aku tidak menanyakan hal aneh seperti tadi. Huft,,,,

“Boleh…” seru seorang yeoja.

“Kami seneng banget kalau kau mau gabung, sejak naik ke kelas dua aku tidak pernah melihatmu mengobrol dengan yang lain.”

“Ya, kami terkejut kau bertanya begitu. Aku senang sekali. Aku pingiinnnn banget membuatmu tertawa. Kau kan si peri es.” Ku tatap mata tiga yeoja di depanku, ada setitik air mata di tiap sudutnya. Apakah memang aku lebih baik berteman. Kalau begitu aku begitu bodoh mengabaikan seseorang yang bernama teman selama ini. Ya.. seandainya dari dulu aku mencari teman.

“Pulang sekolah kami mau pergi karaoke, mau ikut?”

“Ne..”

“Ngomong-ngomong kau tau nama kami tidak?”

Aku nyengir mendengar pertanyaannya. “Hehe…”

“Ihhh… parah banget. Kami kan teman sekelasmu. Kalau begitu ingat baik-baik. Namaku Krystal.”

“Aku Sunni.”

“Aku Taeyon. Awas kalau kau melupakan namaku lagi.”

“Ne.. jeongmal mianhe Krystal-ssi, Sunni-ssi, Taeyon-ssi.”

“Yaaaaaaa, kini kita berempat.” Teriak Sunni. “Ayo pulang sekolah kita karaoke terus makan bersama.”

“Yup, akan ku tunjukan bakat menyanyiku pada kalian.” Taeyon membuat replica mic dari tangannya sambil bergoyang-goyang.

“Eh, apa yang kau lakukan Anna?” Krystal memandangi tanganku yang memang dari tadi sedang memegang sesuatu. Kamera.

“YA! Kau memotret kami diam-diam ya?” kata Hye Mi.

“Ah, tidak. Kameranya mati kok. Belum sempat ku kembalikan ke loker tadi.” Jawabku asal. Aku ingin merekam semua tentang mereka. Hanya saja, aku tidak ingin mereka mengetahuinya. Ini kejutan yang menyedihkan.

“Aku belum pernah melihat kamera seperti  ini sebelumnya. Beli dimana?” Sunni mengambil kamera itu dari tanganku. Ketiganya berkerubung mengamati kamera itu. Kamera yang tidak di jual dimanapun.

“Lihat, tidak seperti kamera digital, ini tidak ada monitornya.”

“Ya, hanya ada lingkaran kaca yang kecil. Hey! Bagaimana cara menggunakannya?”

“Hanya aku yang bisa menggunakannya.” Aku tersenyum melihat wajah bingung ketiga yeoja itu. Ku letakkan kamera itu di atas meja dan kami kembali berbincang-bincang.

Kamera kehidupan.

“Anna!”

“Huh?”

“Aku senang bisa berteman denganmu. Kita bersahabat ya.” Krystal mengacungkan kelingkingnya seperti apa yang aku lakukan pada seonsangnim tadi. Ku kaitkan kelingkingku dengannya.

“Aku juga mauu… YA! Masa Krystal saja. Aku juga mau.”

“Aku mauu juga, ish, Anna masa sahabatan sama Krystal doang,  Aku dan Taeyon di lupakan.” Sunni merangkulku dari belakang dan ikut mengaitkan jari kelingkingnya. Begitu juga dengan Taeyon.

Kita bersahabat selamanya ya.

“Besok pagi kita janjian ya.”

“iya.. sampai jumpa.”

“dadah…”

“Bye…”

Selamat tinggal sahabatku. Aku menyayangi kalian.

****

Jemput dan bawa dia ke tempatnya. Malam ini pukul delapan.

Ya, pada akhirnya aku memang harus melakukannya. Aku harus menjemputnya. Meski aku tidak tahu siapa itu, tapi aku berdoa agar ia bisa tenang di tempat yang selayaknya. Hah, bahasaku. Apa sih. Setelah ini aku akan menghilang. Berganti dengan tugas yang lain. Dan di lupakan.

Gunakan sayapmu.

Ya, aku akan terbang. Melakukan tugasku yang seharusnya. Tugas pertamaku. Sayap ini. Tidak ada yang dapat melihatnya. Begitu juga denganku. Tidak ada yang bisa merasakan kehadiranku.

“Kecelakaan. Kasihan sekali ya.” Suara seorang wanita mengiringi setiap ayunan sayapku.

“Padahal masih muda. Katanya dia seorang guru.”

Guru?

“Benar-benar mengerikan. Apakah dia mati?”

Perlahan kakiku menyentuh tanah. Ku sentuh jaket hitam yang melekat di tubuh namja yang tak berdaya itu. Wajahnya. Seperti apakah wajah tugas pertamaku ini.

Dia seorang guru. Mungkin ia baik seperti seonsangnim yang tersenyum padaku tadi pagi. Jam tujuh lewat limapuluh delapan menit.

Dia masih hidup.

“Kasihan, kau pasti ingin hidupkan? Aku akan memberikan senyumanku hanya untuk dirimu.”

Ia bergerak. Wajahnya berpaling ke arahku. Dia menatapku.

Aku bukan penyihirkan. Aku bukan pembunuh juga. Apa aku melakukan kesalahan. Kenapa? Apa hidupku yang sudah kering seperti ini harus mengalami hujan darah begini. Rasanya seperti di tusuk oleh ribuan jarum dalam satu detik ketika aku memandang wajahnya. Seonsangnim…

“Kenapa? Kau bodoh ya?! Sampai bisa tertabrak mobil seperti ini..” air ata turun dengan deras dari mataku. Kejam. Aku … aku akan mengambil nyawa siapapun kecuali orang ini. Kecuali orang yang telah tersenyum padaku.

“Tidak mungkin…”

Mata yang indah itu menatap ke arahku, seharusnya ia tak bisa melihatku bukan. Tapi kenapa aku berharap kalau ia melihatku. Agar ia tidak mati. Lihatlah aku.

“CEPAT BAWA DIA! CEPAT!” seru seseorang. Kemudian sebuah mobil bersuara dengung yang mencekik mendekatiku dan seonsangnim. Orang-orang lari dan membawanya pergi.

Hey… Bukankah kau berjanji untuk tidak mati. Sekarang apa? Kau mengingkarinya. Jadi apa aku harus tetap menjaga janjiku.

****

“KAU BODOH!”

“Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya…”

“MASA MENGAMBIL NYAWANYA SAJA SUSAH SEKALI SIH. KAU HANYA PERLU MENUNTUNNYA KAN?! ITU TUGASMU!”

“Aku minta maaf Ayah. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Ya, memang tidak akan terulang lagi. Tapi namja itu tetap harus mati. Ini menyalahi takdirnya.”

“Tapi ayah, aku tidak bisa… aku…”

“Jangan membuat dirimu menghilang Anna. Kau tidak ingin mati kan?”

“aku…”

“Kalau begitu lakukan tugasmu dengan baik. Dan jangan pernah menangis di depan siapapun apalagi orang yang akan kau bawa jiwanya.”

“Baik…”

****

“Katanya Seonsangnim kecelakaan. Bagaimana kondisinya ya…” Krystal menunjukkan wajah sedihnya di hadapanku. Tapi tidak menyapaku. Padahal aku lewat di hadapannya.

“Ya, tapi dia minggu depan sudah masuk lagi kok. Syukur deh. Aku sempat takut tidak bisa bertemu dengannya lagi. Dia guru favoritku sih.” Sunni duduk di meja yang tepat berada di sampingku. Tapi aku tidak di pedulikan oleh mereka.

“Kita besuk pak guru yak…”

“Ayo, nanti sore ya…”

Cukup. Aku lelah. Jadi mereka dan semua orang tetap tidak akan mengingat siapa aku. Karena batasnya sampai kemarin malam? Tapi aku…

 

“Aku akan memberikan ingatan itu pada mereka. Jadi lakukan dengan benar.”

“Lho? Anna. Sejak kapan kau disitu?” Mereka mengahampiriku.

“Sudah dengar kalau seonsangnim kecelakaan?” Tanya Taeyon kemudian duduk di atas mejaku.

“Ne.. tadi kan kalian membicarakan itu. Tega sekali tidak melihatku saat aku masuk.”

“Ehhh… Mian Anna, aku benar-benar tidak melihatmu. Pulang sekolah mau ikut menjenguk seonsangnim. Kurasa kau dekat dengannya.” Kata Kyrstal.

“Maaf, aku tidak bisa.”

“Yahhh. Ya sudah. Tapi kita pulang bersama ya. “ Krystal tersenyum begitu juga dengan Hye Mi dan Sunni. Sahabatku.

“Oke..”

“Katanya sebentar lagi ada festifal di sungai Han. Mau datang ke sana tidak? Anna ikut yaa…” Krystal mengamit tanganku.

“Sekalian kita beli kalung persahabatan. Biar kita punya kalung yang sama.”

“Ne. aku akan datang.” Tapi kalian tidak akan mengingatku lagi.

****

“wahhh… seonsangnim kau sudah sehat kembali.” Teriak seluruh siswa yang ada di kelasku.

“Yaaa, kalian jangan ribut seperti itu. Kepalaku jadi pusing.” Seru seonsangnim sambil tertawa. Pusing apanya. Buktinya dia masih bisa tertawa.

“Ah, iya PR kalian belum di kumpulkan selama seminggu ini. Ayo cepat kumpulkan. Jangan mengambil kesempatan ya.” Ucap seonsangnim dengan keras, tentu saja aku dapat melihat bibirnya yang menahan tawa.

“uuuu….” Mereka semua bersorak. Aku hanya tersenyum. Inilah kehidupan. Setidaknya aku masih bisa menikmatinya sampai nanti malam. Kehidupan yang hangat. Yang penuh senyuman.

“Nah, dan kau Anna.”

Aku tersentak ketika namaku di panggil. Dia tersenyum melihatku yang kaget. Dasar guru satu ini.

“Kau punya hutang merapikan buku perpustakaan sepulang sekolah denganku kan?” katanya dengan santai. Senyumnya tetap terjaga. Seolah ingin mengatakan pada dunia kalau ia baik-baik saja.

“a-apa? Kapan aku berjanji seperti…”

“YA! Kau ini, masa melupakanku begitu. Kejam nyaaaaa ~ ~ ~ “ Ia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil padaku.

“.…” AKu tidak bisa berkata apapun selain tersenyum.

Dia seorang seonsangnim yang hebat. Tersenyumlah terus seperti itu. Begitu lama aku mencoba untuk bisa tersenyum. Tapi sulit. Aku menginginkannya. Rasa ini, rasa yang seharusnya tidak ku miliki. Bodohnya aku. Aku akan menghilang selamanya kalau memiliki perasaan ini. Ahhh…

“Hei, ada apa dengan wajahmu.”

Seonsangnim menepuk kepalaku dengan buku yang di bawanya. “Kenapa kau akhir-akhir ini selalu sendu ketika melihatku? Ahhhh.. kau pasti kesal karena aku menyuruhmu macam-macam ya. Mianhe Anna-ssi.”

Seonsangnim kembali tersenyum. Apa yang harus ku lakukan. Aku tidak ingin  melakukannya. “Bukankah kau pernah berjanji tidak akan mati sebelum aku mati.”

“Ya… aku berjanji. Tapi semua itu ada di tangan takdir Tuhan.”

Takdir? Ya.. ini semua takdir. Tapi.. mohon jangan biarkan orang yang baik ini kehilangan hidupnya. Aku akan melakukan apapun. Aku mohon.

“Mau ku tunjukan tempat yang indah?”

Aku hanya diam saja. Ia menarik tanganku berjalan dan terus berjalan. Tapi hanya memutari perpustakaan tua ini tanpa pergi kemanapun. Berbelok belok di tiap raknya. Berulan-ulang.

“Tempat menarik ya? Huh..” sindirku. Orang ini benar-benar aneh.

“Sebentar lagi sampai kok.” Ia terkekeh sedikit tapi tetap menarik tanganku mengelilingi perpustakaan ini.

“Nah, satu..dua..tiga…” Ia membuka tirai dan menampakkan matahari merah yang sebentar lagi akan masuk ke dalam rumahnya. Cahaya yang indah. Berpendar-pendar .

“Indah…”

“Ya kan? Apa ku bilang.” Seonsangnim berdiri di sampingku. Menggenggam tanganku. Tersenyum pada mentari.

“Aku ingin melihat ini setiap hari bersama seonsangnim.” Ucapku lirih sambil menahan tangis. Andaikan saja waktu bisa berhenti dan membiarkanku selamanya disisi seonsangnim.

Apa yang harus ku lakukan. Hidup terasa begitu menyenangkan ketika aku sudah berada di ambang. Kehangatan yang ku rasakan sekarang. Semuanya semu. Tidak akan kurasakan di hari berikutnya. Ketika aku melihat matanya. Darah yang mengucur dari kepalanya. Tubuh yang tak bisa di gerakkan. Aku merasa sakit.

“Ah.. sudah hampir malam. Aku pulang duluan ya. Kau juga cepat pulang.” Seru seonsangnim. Ia menepuk pundakku kemudian pergi. Suara debaman pintu besar perpustakaan menggema dengan keras.

Aku, aku tidak bisa melakukan apapun. Mentarinya sudah tenggelam. Malam.

“Kyaaaa… seonsangnim.” Teriak sebuah suara dari depan pintu perpustakaan. Aku terlonjak dan segera berlari keluar.

Seseorang mengangkat seonsangnim. Matanya tertutup. Bukan sekarang waktunya. Aku tidak mau melakukan ini. Terlalu kejam.

“Seonsangnim….”

“Aku baik-baik saja. Jangan menatapku begitu Anna.” Ia terbaring di ruang kesehatan.

“Aku tahu…” Tapi air mataku terus menitik.

“Pulanglah, aku baik-baik saja.” Tangan besarnya menepuk kepalaku. Terasa hangat. Aku ingin menyentuh tangan itu lebih dari ini. Aku ingin tangan itu menyentuhku lebih dari ini. Aku ingin memilikinya. Perasaan yang tidak pernah ada dalam diriku selama ini.

“Aku tahu….” Tanpa melihat seonsangnim lagi, aku pergi meninggalkannya. Seandainya ada cara agar ia tetap hidup. Tuhan, ini terlalu kejam…

****

“Anna. Ini kesempatan terakhirmu. Jika kau gagal jiwamu yang akan di angkat. Kau akan menghilang.”

“Ayah.. aku,-”

“JANGAN GAGAL, ANNA!!!”

“Ne…”

Aku tidak akan gagal.

****

Tuhan.. beri aku kekuatan. Kekuatan apapun. Aku butuh kekuatan itu. Untuk menjaga seonsangnim. Karena ia berjanji tidak akan mati sebelum aku mati. Agar aku bisa menyelamatkannya.

Kutatap ia yang sedang tidur. Wajahnya lembut. Tenang. Apa aku harus mengambilnya sekarang. Aku melayang di atasnya. Rambutku jatuh mengenai wajahnya.

“Seonsangnim….”

Matanya terbuka dan menatapku.

“Ternyata benar…kaulah orangnya.” Aku terbelalak. Kenapa?

“Waktu itu, aku melihatmu. Seharusnya kau mengambil nyawaku saat itu kan. Apa yang membuatmu gagal?” Ia menarik tanganku sehingga aku jatuh menimpa tubuhnya.

“Kali ini kau tidak akan gagal kan?” tanyanya. Ia merengkuh tubuhku. Hangat. Aku tidak ingin kehilangan kehangatan ini.

“Aku tidak akan gagal. Aku akan selalu melindungimu.” Seonsangnim tersenyum tapi matanya perlahan tertutup. Tidak..aku mohon jangan mati. Tepati janjimu!

Tuhan…Kini matanya tertutup. Air mataku menitik satu demi satu. Ku peluk seonsangnim. Tidak. Ini belum berakhir. Masih berjalan. Aku terus mencari selama ini. Aku memang bukan seorang malaikat. Aku tidak pantas jadi malaikat yang suci dan bersih. Aku tidak bisa jadi malaikat yang tidak memiliki rasa cinta. Aku mencintainya. Benar-benar mencintainya.

“Lee Jinki seonsangnim, aku mencintaimu.”

Sebuah cahaya terbang di sekelilingku. Dua orang malaikat bertudung putih dengan tongkat hitam di tangannya berjalan pelan ke arahku. Sayapnya menipis kemudian hilang.

“Sebagai ganti nyawa dari orang ini. Aku mengambil kehormatanmu sebagai malaikat. Kau akan musnah dari tempat tinggalmu. Kau tidak akan bisa kembali ke tempatmu semula. Kau akan hidup di dunia yang semu.”

“Tak apa, karena aku mencintainya.”

Kedua malaikat itu tertegun. Mereka mengangkat tongkatnya dan menghilang. Begitu juga denganku. Aku akan menghilang.

Tubuhku terasa ringan. Aku tak lagi dapat menyentuh Seonsangnim. Ia menutup matanya. Sebentar lagi, ia akan bangun. Aku berikan jiwaku. Hiduplah seperti apa yang kau janjikan.

Perlahan, tubuhku menghilang. Sayapku hancur menjadi bulu-bulu putih yang berterbangan. Meninggalkan pesan pada orang yang ku cintai, bahwa aku mencintainya.

Tetaplah hidup…

Jangan tinggalkan siapapun…

Jangan pergi…

Jangan mati…

Aku mencintaimu…

****

Author POV…

Tetaplah hidup…

Jinki membuka matanya. Bulu-bulu dari sayap Anna yang hancur berterbangan di atasnya.

Jangan tinggalkan siapapun…

Perlahan ia bangun. Matanya masih berkunang-kunang.

Jangan pergi…

Jangan mati…

Sebuah bulu jatuh tepat di depan matanya. Ia menyentuhnya namun tiba-tiba bulu itu menghilang.

Aku mencintaimu…

“Anna?”

****

“Eh, Lee seonsangnim sudah datang.” Seru Krystal. Sunni dan Taeyon ikut tersenyum pada Jinki. Tapi Jinki hanya membalasnya dengan senyuman sedih.

“Huh? Ada apa dengan dia?” kata Sunni dengan bingung.

“Nanti kita jadi ke festifal di sungai Han kan?” Tanya Taeyon. Ia memembuka lokernya dan meletakkan beberapa buku.

“Ne, eh… tunggu. Kau merasa ada yang aneh tidak sih?” Sunni terdiam sebentar sebelum membuka lokernya. Begitu juga dengan Krystal. Tangannya tergerak untuk membuka loker.

“Apa ini?” seru ketiganya bersamaan.

“Kau juga dapat?” Taeyon meraih sebuah kotak yang ada di dalam lokernya. Krystal dan Sunni juga melakukan hal yang sama. Ketiganya berpandangan dan menatap kotak itu. Secara bersamaan ketiganya membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah kalung.

“Wow.. kalung.” Teriak Sunni.

“Aku juga dapat. Seperti apa kalungmu?” Tanya Krystal pada Sunni. Sedangkan Taeyon tampak sedang berpikir sambil memandangi apa yang ada di dalam kotaknya itu. “Kok ada yang memberikan kita kalung ya?”

“Ehhh.. kalung kita bertiga sama.” Sunni dan Krystal menyamakan kalung ketiganya.

“Kalung persahabatan.” Gumam Taeyon.

“Ya, kalung persahabatan. Sebelumnya kita pernah berjanji akan membeli kalung seperti ini kan di festival sungai Han?” Kata Sunni dengan ceria.

Tapi Taeyon terdiam, “Apa kalian tidak merasa ada yang kurang?”

“Huh?” kini Sunni ikut berpikir. Sedangkan Krystal tak mengeluarkan kata-kata apapun.

Taeyon memandangi kedua temannya yang sedang berpikir. Ada yang kurang.

“Krystal, apa kau merasakannya?” Tanya Taeyon. Krystal tetap diam dan hanya mengangguk.

“Ada yang hilang. Aku tidak tahu siapa. Tapi seharusnya bukan bertiga. Aku tidak tahu berapa. Yang jelas seharusnya ada sesuatu. Tapi ia hilang.” Taeyon bingung sendiri dengan apa yang ia rasakan. Ia berlari menuju kelasnya. Berpikir bahwa apa yang dicarinya ada disana.

Krystal juga ikut berlari. Siapapun itu, aku merasa kalau ia penting baginya. Sunni menunduk di tempatnya. Dan bergumam, “Aku merasa ingin menangis. Hey Krystal! Taeyon! Tunggu aku!”

Sesampainya di kelas nafas mereka tidak karuan. Kelas masih sepi. Tidak ada seorangpun. Ketiganya tertegun melihat ada sesuatu di atas meja.

“Meja siapa ini?” Tanya Sunni. “Setahuku tidak ada yang duduk disini.” Tapi pernyataannya itu menusuk hatinya sendiri .

“Siapa yang duduk disini? Cepat lihat di absen!” seru Krystal pada Sunni. Sunni pun lari ke depan kelas melihat denah tempat duduk. Tapi denahnya tempat meja tersebut berada kosong.

“Tidak mungkin. Tidak ada namanya.” Kata Sunni.

Hye Mi semakin terhenyak. “Ini sebuah video.”

Ketiganya berpandangan dan langsung lari menuju perpustakaan. Menyalakan computer dan menyetel video itu. Dari tempat duduk kenangannya, Jinki melihat ketiga muridnya tergesa-gesa dengan apa yang mereka lakukan di computer.

Tak lama, sebuah suara keluar dari pengeras suara tersebut.

 “Kami seneng banget kalau kau mau gabung, sejak naik ke kelas dua aku tidak pernah melihatmu mengobrol dengan yang lain.”

“Ya, kami terkejut kau bertanya begitu. Aku senang sekali. Aku pingiinnnn banget membuatmu tertawa. Kau kan si peri es.”

“Pulang sekolah kami mau pergi karaoke, mau ikut?”

 “Ngomong-ngomong kau tau nama kami tidak?”

 “Ihhh… parah banget. Kami kan teman sekelasmu. Kalau begitu ingat baik-baik. Namaku Krystal.”

“Aku Sunni.”

“Aku Taeyon. awas kalau kau melupakan namaku lagi.”

“Yaaaaaaa, kini kita berempat.”

“Ayo pulang sekolah kita karaoke terus makan bersama.”

“Yup, akan ku tunjukan bakat menyanyiku pada kalian.”

“Eh, apa yang kau lakukan Anna?”

“YA! Kau memotret kami diam-diam ya?”

 “Aku senang bisa berteman denganmu. Kita bersahabat ya.”

“Aku juga mauu… YA! Masa Krystal saja. Aku juga mau.”

“Aku mauu juga, ish, Anna masa sahabatan sama Krystal doang,  Aku dan Taeyon di lupakan.”

“Katanya sebentar lagi ada festifal di sungai Han. Mau datang ke sana tidak? Anna ikut yaa…”

“Sekalian kita beli kalung persahabatan. Biar kita punya kalung yang sama.”

Ketiganya terdiam menatap video tersebut. “Siapa yang merekamnya? Kapan kita bicara begitu?” Tanya Sunni. Entah apa yang ada dalam video itu, tapi melihatnya membuat matanya menitikkan air mata.

“Dia… tidak ada disana.. terhapus…” Taeyon menangis tanpa suara. Ketiganya tidak mengerti kenapa mereka merasa begitu bodoh karena telah melupakan seseorang yang penting.

“Aku merindukan seseorang. Aku merasakan kepedihan saat kehilangannya.” Taeyon berucap lirih dalam sesenggukan tangisnya. Ia mengulang-ulang video tersebut. Mencari bagian yang bisa memberinya jawaban atas rasa sakit ini.

“Aku merasa kehilangan seseorang.” Krystal merangkul dua temannya itu.

Taeyon terdiam sejenak. Memperbesarkan volume speaker pada satu bagian.

 

“Katanya sebentar lagi ada festifal di sungai Han. Mau datang ke sana tidak? Anna ikut yaa…”

“Siapa itu Anna?”

END OF CHAPTER 1

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

51 thoughts on “Angel Of The Death [1.2]”

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA KEREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN SUMPAH DEH KEREN BANGET INIIIIII :’))))

    Chapter 2 cepetaaaan!!! muahahahahahah :*

    1. THANNNNNNNKKKSSSSSS
      Mmm.. aku lupa nulis, aku terinspirasi dari komik Fallen Angel, cuma di Fallen Angel itu sama-sama siswa, hehe…
      thanks lagi ah, haha.. sabar menunggu ya cingu ^^

  2. AAAHHHHHHH……….!!!!!!!!!!!! Keereeennn……..!!!!!!

    Lanjut thor, lanjut…!!!! Suka banget ama ff kayak gini…!!!! XDD

    1. pasti pasti pasti… ehehe, suka sama authornya aja deh *ehh???
      Gomawo commentnya.. chuuu.. lanjutannya harap sabaaaarrrr menunggu, karena ngantri -_- peace-v

  3. Wuaaaaa seru banget seru banget seru bangeeeettt
    Pas “lee jinki sonsaengnim, aku mencintaimu” wadooohh JLLLEPPP langsung
    Anna nya terus gimana tuh?
    Lanjuuuuuutt!! :D

  4. kerennn … nyesek bgt … huwaaa jinki ..
    anna… ngak bisa ngomong apa2 … tadi ada typo hyemi .. heheh dy siapa ??
    top .. di tunggu chapter selanjutnya … ^^

    1. hehe iya, tadinya ada cast Hyemi, tapi pas mau bikin posternya, nyari gambar yang cocok susah, jadi aku ganti, hehe… peace, gomawo commentnya ya^^

  5. ceritanya kyk scheduler gitu ya… hahahha inget 49days…

    keren author… bener dugaan sy, dr awal udh nebak2 klo songsaengnim itu jinki… kkkkkk

    lanjut lanjut… 2 part aja ya?

    1. yup..yup.. kamu hebat, kayak scheduler yang di 49days, *baru inget, aku tersinspirasinya dari komik fallen angel…
      kyaaa… kayaknya kita punya ikatan batin ya, kok ketebak sih.. ^_~
      Iya 2 part aja, kepanjangan nanti aku takut nggak bertanggung jawab nerusinnya (?)

        1. Nggak tiap hari, cuma tugas pertama dia itu malem itu dan setelah tugas pertamanya dia di pindah ke tugas lainnya, nah, berhubung tugasnya gagal.. jadiii…. ummm… ribet yah ternyata FF ku -__-
          Kenapa dia kudu jadi murid? Suka suka aku dong, haha #lupakan
          Sip, sabar menunggu yaaa.. gomawo

  6. Jadi ceritanya si Anna malaikat pencabut nyawa , trus baru bertugas pertama kali . Appa anna raja yah ? Trus kenapa onew bisa liat si anna,apa karna udh mendekati ajalnya jd bisa liat :)
    y udah lah author yeopo daripada saya nyampah , sya tunggu part 2 nya . #melayang

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s