I’m The Real HumanoDevil – Part 2

I’m The Real HumanoDevil – Part 2

Author: Lee Taehyunnie

Main cast:

SHINee Kim Jonghyun

SuJu Lee Sungmin

Gwiboon (Key Girl Ver.)

SuJu Kim Kibum

Support cast:

Other SHINee Members, f(x) member , SNSD members, SuJu Kim Heechul, SuJu Leeteuk, , SuJu Kyuhyun, BoA(Reporter),TVXQ Changmin(Cameraman), Jung Joori(KepSek), B2ST DooJoon(sonsaengnim), BigBang TOP & Taeyang(polisi)

Length: sequel

Genre: Mystery

Rating : PG-13

Thanks a lot for all readers! Well, if there’s silent readers too, it’s okay.

Author POV

Tak seperti biasanya, pagi ini SM High School tampak ramai – yang berbeda. Tak hanya siswa perempuan yang mengoceh tapi juga siswa laki-laki. Semua disebabkan oleh berita tadi pagi. Guru-guru mengatakan bahwa akan ada polisi yang datang memeriksa sekolah mereka. Sebenarnya bukan hanya sekolah mereka. Tapi juga YG High School, Cube High School, bahkan Starship High School karna ada rumor yang beredar kalau sekelompok siswa sekolah itu bentrok dengan siswa dari SM High School – yang tentu saja dicurigai oleh pihak kepolisian.

Jika di kelas lain siswa-siswi sibuk membicarakan kedatangan polisi itu, lain halnya dengan kelas XII A. Suasana kelas itu terasa mencekam. Semua mata menatap tajam pada Kim Jonghyun.

“Apa mungkin dia?” bisik Sunny menatap Jonghyun curiga.

“Bisa saja kan? Dari sikapnya saja sudah menunjukan kalau dia itu punya kelainan,” Jawab Hyoyeon masih sambil berbisik.

“Seharusnya dia sudah di D.O dari kemarin,” Sooyoung menimpali.

“Heh! Apa maksudmu bicara seperti itu pada hyung-ku??!” kepala Taemin tiba-tiba muncul dari jendela di samping Luna. Seketika yeoja-yeoja itu terdiam. Mengarahkan tatapan-tatapan kaget mereka pada namja berwajah imut yang punya mimpi ingin membuang aegyeo-nya jauh-jauh agar bisa dianggap manly ini. Yah, katakanlah siswa yang sok dewasa agar dianggap dewasa. Jangan marah, aku pun jauh lebih muda dari laki-laki ini(?).

Taemin menatap tajam pada ke-enam yeoja di hadapannya, ummm ralat, lima yeoja dan satu yang diragukan.

“Mian, oppa. Mereka tidak tahu kalau itu membuat oppa marah. Mereka tidak…”

“Diam, Sulli!” potong Taemin. Ia mengarahkan tatapannya kini ke arah yeojachingu-nya itu. Kali ini Amber yang marah.

“Kamu sudah meniru hyung-mu yang aneh itu ya?! Sulli kan hanya meminta maaf kenapa kau memarahinya?!” Amber menarik kerah Taemin, mengancam namja itu dengan kepalan tangannya.

“Cih, jangan kira aku tidak berani menghajarmu karena kau pakai rok!” Taemin tertawa meremehkan. Amber sudah ancang-ancang mengarahkan kepalan tangannya ke wajah siswa tahun pertama itu namun segera di tangkis oleh seseorang di belakang Taemin.

 “Mianhamnida, Amber-ssi. Taemin salah pakai sepatu jadi tingkah lakunya aneh. Sekali lagi maaf.” Ujar orang itu. Amber mengangguk.

“Hm, bukan salahmu, Onew hyung,” Amber melepaskan cengkeramannya pada kerah Taemin. Namja itu mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya setelah membelakangi kumpulan yeoja itu.

“Hyung!!! Bukankah hyung sendiri yang bilang kalau hyung tidak suka orang yang terlalu banyak ikut campur! Ish! Aku jadi tidak punya korban untuk pagi ini kan!!!” sungutnya. Onew terkekeh pelan dan mencubit pipi saeng kesayangannya itu.

“Lagi pula sepatuku tidak salah kan, hyung. Ini tren!” sambungnya. Jujur, aku belum pernah melihat teman satu sekolahku memakai sepatu kanan-hitam-kiri-putih seperti Taemin pada jam sekolah.

“Tidak di sekolah kau memakai sepatu yang beda kanan beda kiri seperti itu, Taemin. Siapa yang mengajarimu? Gwiboonnie?” Onew masih belum bisa membuang senyumnya. Taemin menggeleng membuat Onew menaikkan sebelah alisnya.

“Minho-hyung yang menyuruhku,” Jawabnya dengan wajah polos. Seorang siswa yang baru saja datang menjitak kepala Taemin.

“Ya!!! Kenapa aku? Kau pasti disuruh Gwiboon noona menuduhku kan?! Kau juga pasti akan diberi es krim kalau melakukannya, ya kan?! Ayo ngaku! Ayo ngaku!” tuding Minho. Ia mengacungkan telunjuknya bergantian pada dua orang, Taemin dan Gwiboon yang tertawa lepas di sampingnya.

“Aku tidak boleh tidak menuruti yeppo noona-ku, ya kan, noona?” Taemin membela diri sendiri. Gwiboon hanya mengangguk sambil terus memukuli punggung Minho.

“Kenapa jadi aku yang dibully??? Huft! Ah, hyung, tanganmu kenapa?” Tanya Minho pada Jonghyun mengalihkan pembicaraan. Jonghyun yang baru saja keluar dari kelas yang mengerikan itu menoleh ke arah Minho dan menggeleng pelan. Minho menatap hyung-nya seakan ada sesuatu yang salah dengan hyung-nya yang berisik itu.

“Kau seperti tidak tahu dia saja,” Gwiboon menyahut. Jonghyun menatap yeoja itu tajam.

“Ooops, mian~” Gwiboon berlindung di belakang punggung Minho. Sekumpulan namja yang tadinya berisik itu spontan diam tak bergeming. Jonghyun menghela nafas panjang sebelum seorang guru tiba-tiba saja datang dan meraih lengannya.

“Annyeong-haseyo, Leeteuk sonsaengnim,” Minho memberi salam pada guru itu, membuat langkahnya terhenti. Guru itu menoleh menatap Minho tanpa ekspresi yang berarti.

“Hm, annyeong-haseyo, Minho-ssi,”tanpa membuang waktu lagi guru itu berlalu meninggalkan mereka. Dari tempatnya berdiri Gwiboon hanya bisa melihat laki-laki itu pasrah pada guru yang terus menyeretnya.

Sesuatu memenuhi hati yeoja itu. Ada sebuah firasat yang mengatakan kalau saat kembali nanti Jonghyun tidak akan baik-baik saja, entah itu fisik atau psikisnya. Ia menyapu keringat di keningnya.

Diberitahukan bagi seluruh siswa SM Highschool agar berkumpul di lapangan sekarang juga. Sekali lagi diberitahukan bagi seluruh siswa SM High School agar berkumpul di lapangan sekarang juga. Terima kasih,” Gwiboon menghela nafas panjang. Apa Taeyeon sonsaengnim ingin menceramahi mereka soal English Day(*) yang tidak berjalan dengan baik Jumat minggu lalu?.

Sementara Gwiboon, Taemin, Minho dan Onew bergegas menuju lapangan sekolah, sepasang mata tampak mengawasi ke-empat orang itu.

(Ket: yang dipanggil hyung/laki-laki dan yang dipanggil namja di bagian ini adalah orang yang berbeda)*

Hhhh, sepertinya aku sudah melenceng jauh dari pokok cerita. Baiklah, mungkin namja yang baru saja keluar dari mini market ini bisa mengembalikan alur ceritaku. Ia menenteng bungkusan berisi beberapa kaleng soda, keripik singkong, lemon, selai dan roti tawar di tangan kanan sementara tangan kirinya menenteng satu kantong plastik sabun mandi, shampoo dan karbol.

“Aaahhh, padahal aku masuk tempat itu tadi sore, tapi kenapa sekarang sudah malam?. Huft, pasti aku akan dimarahi lagi kali ini,” keluh namja itu.

Seseorang berdiri di gang kecil. Wajahnya tertutup daun jaket. Matanya menangkap namja itu melintas dan dengan cepat menyapanya akrab. namja itu menoleh dan tersenyum saat tahu siapa yang memanggilnya.

“Hyung, apa yang kau lakukan di sini? Mau mampir ke rumahku dulu?” tanya namja itu dengan nada tenang. Namun bingung merasuki pikirannya saat ia dapati laki-laki yang dipanggilnya hyung itu tertawa.

“Boleh juga. Tapi bagaimana kalau kita ke sana saja?” tunjuk laki-laki itu ke arah gerbang di ujung gang kecil dan gelap itu. Ia menaikkan alisnya mengikuti arah telunjuk hyung-nya.

“Tapi hyung…itu…bukankah berbahaya kalau kita ke sana? Semua orang tahu kalau di sana banyak orang-orang yang mengerikan. Hyung membunuh orang di tengah-tengah kerumunan pun tidak ada yang akan peduli,” Namja itu bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan orang-orang di tempat itu padanya tanpa otot sebesar Ade Rai.

Laki-laki yang di panggil hyung itu pun terkekeh, “Justru itu yang ku inginkan,” Bisiknya .

Tubuh namja itu tak menolak saat di tarik oleh hyung-nya. Entah setan apa yang merasukinya sekarang hingga ia berpikir bahwa bersama hyungnya ia akan baik-baik saja. Tanpa rasa curiga ia mengikuti kemana hyung-nya pergi. ‘malang nasibmu dongsaeng-ku sayang. Mengapa tidak kau dengar ucapanku tadi?’ laki-laki itu membatin.

Tempat itu hanya menyisakan siluet orang-orang di bawah cahaya redup yang temaram. Kedua laki-laki itu berjalan ke sebuah bangku panjang yang berada persis di depan kumpulan orang yang tengah berpesta minuman keras. Namja itu menggigiti bibir bawahnya selagi mencoba mencari sesuatu yang lebih menarik dan tidak berbahaya untuk dilihat. Namun nihil. Di sekitarnya hanya ada orang mabuk yang terkikik bersama perempuan dalam rangkulannya.

“Hyung, bisakah kita pulang? Ku pikir kau tidak akan betah seperti ini,” Pinta namja itu dengan nada memelas. Menurutmu apa hyung-nya akan menjawab? Ku rasa tidak. Laki-laki itu hanya diam di tempatnya.

 “Hyung, apa k-”

“Kau mau bermain denganku?” potong laki-laki itu. Matanya masih saja menatap lurus ke depan tanpa ada tanda-tanda akan mengalihkannya.

“Main? Apa?” tanya namja itu akhirnya. Ia dapati senyuman mengembang di wajah hyung-nya itu. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu sekarang namun yang ia tahu laki-laki itu menggerakkan bola matanya ke sudut garis matanya.

Tatapan hyungnya yang bak sepasang mata boneka mencekat nafasnya. Mata yang kosong namun sarat makna. Bisa kalian bayangkan?. Sebuah boneka yang hanya bisa tersenyum dan menatap lurus ke depan tiba-tiba melirikmu dengan matanya saat kau duduk disampingnya. Aku harap kalian pergi ketika itu terjadi. Tidak seperti yang namja ini lakukan.

Tangan laki-laki itu menggenggam sesuatu di dalam saku jaketnya. Jemarinya meraih kepala pemuda di hadapannya perlahan mendekatkan wajahnya. Gugup. Nafas hangat namja itu tak beraturan saat menampar wajah hyung-nya.

Saat dirasa cukup dekat, laki-laki itu berbisik, “Menjeritlah sekuat yang kau bisa. Aku yakin warna suaramu yang indah itu menjadikanmu dinner terbaikku.”

Belum sedetik kalimat itu terucap, pemuda yang tengah diliputi kebingungan itu tersentak dengan benda tipis yang dingin menyentuh tengkuknya. Firasatnya mulai mengatakan kalau ini bukan pertanda baik. Ia mencengkeram celana jeansnya kuat menahan rasa gugup, takut dan paniknya.

Sementara itu, sebilah pisau lipat tengah menari-nari di sekitar perbatasan leher dan bahu pemuda itu. Matanya mengawasi setiap perubahan di wajah hyung-nya yang tampak tenang dan menikmati alunan nada semu dari gesekkan permukaan benda dingin itu. Semua benar-benar hening meskipun faktanya orang-orang di sekitar mereka begitu berisik.

Goresan kecil baru saja tercipta oleh mata pisau yang tajam. Ia mulai meronta ketika yakin bahwa yang terjadi selanjutnya akan benar-benar mengerikan.

Brak!

Tubuhnya tak kuasa mengelak saat pria yang dipanggilnya hyung itu tiba-tiba menjadi lebih kuat dari sebelumnya dan mendorongnya hingga terhempas ke tanah. Ia mencoba bangkit namun terhenti saat mata pisau hyungnya menyentuh pergelangan kakinya.

*

“Minho! Kenapa kau datang sendiri? Mana Taemin?” tanya Onew yang tengah bersandar di sofa ruang tamu. Pemuda yang baru saja membuka pintu itu menatap hyung-nya bingung. Tak lama Gwiboon datang dari dapur, menyembulkan kepalanya di ambang pintu.

“Jonghyun juga. Mana dia? Kau melihatnya?” Minho menggeleng cepat sebelum mengambil tempat di samping Onew.

“Kemana lagi anak itu?. Tadi aku ke apartementnya dia juga tidak ada.” kedua namja itu menaikkan bahu mereka menanggapi pertanyaan Gwiboon.

*

“S-sakit…ugh!” namja itu terus berusaha menyeret tubuhnya menjauh. Luka yang menganga lebar di sekeliling pinggangnya terus saja mengeluarkan darah. Belum lagi goresan memanjang yang tertoreh di pipi, punggung, dan kakinya terasa begitu menyiksa. Ah, dan putihnya tulang dengan lumuran cairan bening juga darah yang mengintip dari lubang di lengannya. Wow, itu adalah ‘Bintang Tamunya’.

“Aahhhh, kau punya lemon rupanya…” laki-laki itu menyeringai dan berhenti mengaduk-aduk kantong belanjaan maknae-nya. Kemudian memotong lemon itu menjadi dua, menjilatinya sebelum kembali menghadang saeng-nya.

“Owh, kasihan sekali~. Sini aku obati,” Ujar laki-laki itu dengan wajah iba yang dibuat-buat. Tanpa pikir panjang ia melumuri luka saeng-nya dengan air lemon di tangannya. Seketika namja itu menjerit merasakan lukanya yang semakin terasa perih. Kuku-kukunya menggaruk tanah hingga berdarah, tak tahan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

“Jangan menangis, sayang~. Kau hanya perlu mati agar keparat itu segera hilang dari hadapanku. Kau bisa kan membantuku untuk kali ini saja?” Laki-laki itu menyeka air mata yang keluar di matanya.

“Ya, begitu, tidurlah, saeng-ku yang baik. Aku tidak janji akan menghadiri pemakanmu besok. Apa? Kau masih mau bangun? Tidak, ini sudah malam. Hm? Mau lemon lagi?” Perlahan tangan laki-laki itu mengelus rambut saeng-nya lembut. Tak bisa di pungkiri bahwa meskipun ia menikmati jeritan dan rintihan juga bau anyir darah dari kedua ‘makan malamnya’, ia akui jika maknae-nya ini adalah teman yang begitu ia sayangi.

Hening merayapi malam di salah satu bagian Kota Seoul. Tak ada lagi rintihan dan jeritan namja itu. Hanya hiruk pikuk kota yang dapat kau dengar.

“Padahal aku senang sekali mendengar suaramu malam ini. Sayangnya, aku masih ingin bermain-main dengan yang lain. Tidak bisa melayanimu, uri…” belum sempat laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya segerombolan orang membuat kekacauan di tempat yang kacau itu. Ia berdiri setelah menyelasaikan beberapa kewajiban dan meninggalkan kertas kumal di bawah telapak korbannya.

Keesokan harinya…

“MWO!!!? Pembunuhan lagi???!!!!” jerit Gwiboon yang hampir saja tersedak susunya. Ia melompat dari bangku meja makan dan berlari ke arah TV yang berada di dapur. Matanya memelototi pembawa berita sebuah stasiun televisi.

“Jangan lebay…” sindir Jonghyun seraya melanjutkan acara sarapannya. Gwiboon tak bergeming. Hanya bergumam tidak jelas pada si pembawa berita yang asyik mengoceh tentang pembunuhan semalam.

Jonghyun yang tidak suka dirinya dikalahkan oleh sang pembawa berita segera mengambil tasnya juga tas Gwiboon dan menarik lengan yeoja itu. Gwiboon lantas menarik-narik tangannya mencoba melepaskan diri dari Jonghyun – dengan perhatian masih pada si pembawa berita.

“Hari ini Leeteuk sonsaengnim menyuruhku menemuinya di ruang konseling,”Jonghyun masih terus berusaha memaksa yeoja itu berangkat ke sekolah.

“Aaah…aah…” gumam Gwiboon sambil mengibaskan tangannya tanpa ekspresi. Ternyata hal ini semakin membuat Jonghyun kesal dan cemburu dengan si pembawa berita(?). Tak punya pilihan lain ia dengan cepat mematikan TV dan menggendong Gwiboon.

“Ish! Jjong!! Turunkan aku!!!!” pinta…tidak, perintah Gwiboon sambil terus meronta. Jonghyun menggeleng tanda tidak ingin melepaskan Gwiboon – yang tentunya akan kembali berdiri di depan televisi.

 “Aish, jinjja! Kau kemana semalam? Kenapa tidak datang atau mengirimiku pesan?”

“Kamu mau tau?” kepala Gwiboon mengangguk. Jonghyun tersenyum dan mulai menceritakan apa yang dilakukannya semalam.

“MWO!!! Benarkah? A-aku tidak percaya Kim Jonghyun melakukan itu!!!” jerit Gwiboon.

“Ya! Kalau tidak percaya ya sudah!” sungutnya.

Yoona mengayunkan kakinya di sebuah bangku taman sekolah. 10 menit lalu Kibum mengirimkan pesan pada Yoona untuk menunggunya. Pikiran yeoja itu dipenuhi dengan pertanyaan ‘apa yang ingin Kibum-ssi tanyakan?’.

Nyaris saja Yoona beranjak dari bangku itu hingga suara yang terdengar familiar memanggilnya, “Yoona ya!!!”.

Yeoja itu berbalik hanya untuk mendapati Kibum berlari ke arahnya. Sambil terengah-engah Kibum merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sesuatu. Ia tidak segera menunjukkan benda itu dan tetap menggenggamnya ditangan.

“Apa yang ingin kau tanyakan, oppa?” tanya Yoona seraya memperhatikan pakaian Kibum. “Wow, seragam detektif ya? Aigoo…oppa akan menang melawan Conan!” seru yeoja itu girang. Iya menarik-narik jaket Kibum.

“Berarti aku juga akan menang melawan L Lawliet karna aku lebih tampan darinya kan?” sombong Kibum. Ia rasakan tangan Yoona meninju lengannya keras.

“Ahaha, oppa. Kau tidak akan menang melawan L Lawliet~”

“Tidak perlu memukulku seperti itu kan. Ah, Yoona-ssi. Apa kau tau ini tulisan siapa?” Kibum memperlihatkan secarik kertas kumal yang berlumuran darah di tangannya. Yoona memicingkan matanya dan mendekat.

Annyeong! Senang bisa bicara dengan anda Kibum-ssi ^^…

Ah, bagaimana maha karyaku kali ini? Memukau? Ahahahaha! Neomu kamsahamnida~

Lain kali akan ku buatkan karya spesialku untukmu. Umm, mau yang seperti apa? Mati lemas kehabisan oksigen atau hipotermia dalam balok es? Whooa, pasti akan sangat menyenangkan! Jadi jangan cepat-cepat tangkap aku sebelum ku beri hadiah spesialku v(^.^)v. Bye bye~” Yoona tampak berpikir. Surat ini pasti dari si pembunuh semalam yang ternyata juga orang yang sudah membunuh Heechul. Kalimat dalam surat itu tampak sangat akrab. Ia mengabsen semua teman kelasnya beserta gaya penulisan mereka, baiklah, ini keahlian Yoona. Dan wajah serius Yoona berhasil membuat Kibum yakin kalau yeoja ini bisa membantunya

“Ne, umm…Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Im Yoona…ah, anni. Kim Heechul, Kim Hyoyeon, Kwon Yuri, Lee Jinki, Lee Sunkyu, Shin Donghee, Song Qian…”

 “Tunggu, ada yang ku lupakan….ummm, ah! Lee Hyukjae…Kim Jonghyun…L…eh!” seketika Yoona menutup mulutnya. Gaya tulisan pada surat itu dan siapa yang menulis seperti itu. Matanya melebar dan menggeleng cepat.

“A-astaga, oppa. A-aku tidak menyangka dia…dia…” ucap Yoona terbata, masih belum bisa mempercayai siapa penulis pesan itu.

“Kau tahu siapa? Yoona-ssi, katakan padaku!” belum sempat Yoona mengucapkan nama orang yang terbesit dalam pikirannya, bel sekolah berbunyi tanda istirahat berakhir. Dengan terpaksa Yoona berlari ke kelasnya karna dari kejauhan Kepala Sekolah Jung Joori memperhatikannya.

“Mian, Kibum oppa! Lain kali saja!” seru Yoona yang semakin menjauh. Kibum hanya bisa terdiam dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Satu menit kemudian ia menyerah dan berlalu dari tempat itu.

Enam namja  dan 3 yeoja baru saja kembali memasuki ruang konseling setelah dibebaskan selama jam istirahat. Jonghyun mengekor siswa lain di depannya yang bertubuh jauh lebih tinggi, dapat dipastikan dia adalah Jaejoong, siswa kelas XII D. Wajah siswa itu tampak bosan, sudah berkali-kali ia menghela nafas.

Entah bagaimana bisa ruang konseling ini terasa sangat panas. Jonghyun mulai merutuki AC yang tidak terasa dingin sama sekali. Ditambah lagi tatapan Leeteuk sonsaengnim dan beberapa polisi yang terus mengintimidasinya. Risih. Itulah kata yang terus terulang di dalam pikirannya. Tentu saja bukan hanya dia yang merasakan hal itu. Beberapa siswa lain yang juga ‘bermasalah’ pasti merasakan hal yang serupa.

“Kim Jonghyun, kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” tanya Leeteuk sonsaengnim mengulang pertanyaan yang sama pada siswa lainnya. Jonghyun mengangkat kepalanya sebelum sejurus kemudian ia mengangguk.

“Hm, karna pernah mengurung diri di toilet sekolah selama bimbingan konseling, melukai kepala sekolah, tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan, melakukan percobaan bunuh diri di laboratorium kimia, melukai siswa lain, menghancurkan empat tabung reaksi dan lima bejana juga satu mikroskop, dan karena semua itu aku di cap sebagai siswa yang mengidap penyakit jiwa setelah noona-ku meninggal. Aku tahu itu.” Suara Jonghyun tercekat saat mengatakan kata noona. Tenggorokan laki-laki itu mengering, digenggamnya erat-erat seragam putihnya.

“Kim Song Dam maksudmu?” guru itu meyakinkan. Jonghyun mengangguk cepat.

Jonghyun POV

Kim Song Dam. Sial! Apa yang orang ini ingin lakukan?!. Memprovokasiku?. Memaksaku mengaku bahwa akulah tersangka pembunuhan itu?. Cih, tidak akan.

“Jonghyun, mengakulah kalau sebenarnya kau yang telah membunuh dua orang teman kelasmu. Apa motifmu melakukan perbuatan itu pada mereka?” tanyanya dengan nada tegas. Aku menatapnya di garis atas mataku. Dia pikir wajahnya itu bisa membuatku takut?. Melihat Onew hyung marah, baru aku takut.

Aku masih diam. Tak berani menjawab sama sekali. Ah tidak, bukannya tidak berani. Hanya saja ini tidak ada gunanya. Jika aku mengaku, ia akan terus mengintrogasiku di tempat membosankan dan panas ini. Kalian tahu kan kalau aku tidak suka panas?. Pun jika aku mengelak. Dia tetap akan bersikeras kalau aku yang telah membunuh kedua orang tidak berguna itu.

Kim Song Dam noona, selamatkan aku dari tempat ini…

End Jonghyun POV

Yoona berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Ia mulai mengomel pada handphone-nya yang lowbat. Sekarang ia tidak mungkin bisa menghubungi Kibum untuk menjemputnya. Koridor kini benar-benar sepi. Hanya ada gema langkah kakinya yang dibawa hembusan angin.

Tiba di belokan ia menemukan deretan loker yang diterpa cahaya temaram. Matanya mulai mencari-cari loker 256 dengan penerangan minim. Sekelebat bayangan melintas cepat di perempatan koridor diikuti dengan bunyi hempasan pintu loker. Yoona hanya diam terpaku, takut akan ada suatu apa yang menerjangnya jika sepatunya menggesek lantai.

Detik berikutnya rintihan seseorang terdengar dari perempatan koridor itu. Takut-takut Yoona mengintip. Di sana berdiri sosok laki-laki dengan tinggi kira-kira 170 cm lebih. Sosok itu tengah memegangi kepalanya. Namun seketika sosok itu ambruk ke lantai.

Bingung. Yoona tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akal sehatnya memaksanya untuk berlari ke tempat itu dan menolong orang di sana. Namun rasa takut rupanya nyaris menguasai kedua kakinya yang enggan melangkah.

Kedua bola mata Yoona menangkap sosok itu menyeret tubuhnya perlahan.. Suara nafasnya yang tak beraturan membuat yeoja itu bergidik ngeri. ‘Apa orang ini mengetahui keberadaanku?’ batin Yoona.

Tangan sosok itu mulai meraba udara kosong di sekitarnya. Wajahnya nyaris tidak bisa di kenali. Hanya rambut coklat dan bentuk wajahnya saja yang diterpa cahaya lampu. Perlahan sosok itu semakin mendekat pada Yoona.

N-noona…akh,” gumamnya. Yoona mundur teratur. Ia menahan kakinya agar tidak menapak terlalu keras dan mengakibatkan sosok entah-apa-atau-siapa itu semakin menyadari eksistensinya.

Kini Yoona bisa mengenali siapa yang tengah berada beberapa meter di depannya saat sosok itu mengangkat kepalanya menghadap Yoona. Kim Jonghyun. Seragamnya basah dan kotor. Ada bercak darah di bahu kirinya. Matanya sembab entah mengapa. Jejak darah juga ia dapati di bibirnya.

“J-Jonghyun-ssi, g-gwenchana?” ucap Yoona terbata. Ia masih belum berani mendekati Jonghyun.

Tak ada jawaban dari bibirnya. Jonghyun berusaha menagatakan sesuatu namun kelihatannya sangat sulit. Tangan Jonghyun menunjuk-nunjuk ke arah tangga yang berada 100 meter dari tempat dimana Yoona berdiri sekarang. Ia seakan menyuruh Yoona pergi.

Mengindahkan peringatan Jonghyun, Yoona memilih berbalik menuju lokernya. Dengan cepat ia membuka kode dan mengemasi barang-barangnya.

Sayang, tangan dingin telah melingkar di pinggangnya. Kesal. Tangan itu mengotori seragamnya dengan darah. Yeoja itu meronta agar terlepas dari tangan itu.

“Tenang, Yoona-ssi. Aku hanya ingin kau menemaniku di rumah, itu saja. Wanna spend the night with me?” bisik namja itu. Yoona menggeleng cepat sambil terus berusaha melepaskan diri. Namun semua itu sia-sia karna kemudian ia merasakan jarum menembus lapisan kulitnya dan mengalirkan cairan ke dalamnya. Yoona dan sosok itu perlahan menghilang ditelan gelap koridor yang seakan tak berujung.

Entah sudah berapa kali Kibum mengacak rambutnya. Semua data siswa ditangannya benar-benar membuat kepalanya terasa sakit. Baru beberapa menit yang lalu Doojoon sonsaengnim datang ke rumahnya untuk menyerahkan data siswa mencurigakan di Cube High School. “Sebenarnya siapa yang membunuhnya???” tanyanya pada diri sendiri. Menurut kalian…apa kalian tahu siapa tersangkanya? Ahhh, juga yang ‘menculik’ Yoona?.

TBC

*English Day : hari dimana seluruh warga sekolah diharuskan menggunakan bahasa Inggris. Disekolah saya English Day dilaksanakan hari Jumat ^^

Curcol: tuh kan bener! Part 2nya jadi ngaco *pundung*. Ada yang ngerasa bagian dalam part ini ga’ berguna?

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

24 thoughts on “I’m The Real HumanoDevil – Part 2”

  1. Setelh menunggu sekian lama #halah
    akhirnya keluar juga ff ini :D
    itu sbnrnya siapa sih pembunuhnya?
    Bikin penasaran aja nih..
    Ahhh…gak sabar buat part selanjutnya
    next part jgn lama2 yah ;)

  2. KYAAAAAAAAAAAA kereeeennnnnnn#reader heboh
    omgomgomgomgomg jjong keren banget!! Love jongboon couple<3<3(transformasi dari jongkey)!!

    Thor.. Bener2 deh ya.. Keren banget inih.. Next partnya cepatyaaa

    kayaknya nggak jjong yg mbunuh..#moga2
    author!!! 화이팅!!!

    1. hyunnie juga!!! kyaaaaa!!!!!
      kekeke, jangan harap Jjong ga’ ngebunuh orang di ff-nya hyunnie…bwahahaha!*stress*
      neomu kamsahamnida^^

  3. Lanjutin thor lanjutkan!!!!! *semangat tahun ’45″
    Asyik banget ceritanya.

    Terus juga ringan banget untuk di baca!!! Kaya softnews.

    Ok deh thor, lanjutkan ya!!! Hwaiting!!!
    Ditunggu yg selanjutnya ya :) :D

  4. kalo semuany blg bkn jong yg bunuh….bisa aja dia yg jd pmbnuhnya.
    tapi g psti jg sich…mknya jd pnsaran bgt nich baca part slnjutnya….
    mdh2an bkn jong..(firasat g enak nich…)

  5. annyeyong… maaf baru komen disini,
    yang part1 aku baru bacaaa, jadi disini aja sekalian, hehe

    waw! kereeeen! bahasanya keren! gampang dimengerti!!
    tapi agak gimana sama karakter jonghyun disini!! huaaaaaaaaa takut
    plis banget yak, jangan jadikan jonghyun pembunuh disini-__-
    99.99999999% dipart ini kaya ngasih tau jonghyun pembunuhnya, 1%nya lagi bisa orang lain, tapi ya ceritanya mengarah ke jonghyun yang ngelakuin, eh tapi bisa aja buat ngibulin readers(?) eh tapi kayanya jonghyun yang bunuh, eh tapikan bisa aja authornya ngebuat jonghyun diposisi pembunuh padahal bukan jonghyun yangg bunuh *loh* apalah!!! abaikan! abaikan readers yang galau satu ini!!!!

    suka banget sama cerita misteri gini…
    ngajakin readersnya buat maen tebaktebakkan… hahahahaaaaa
    great story thoor!!! i’ll wait the next story, please don’t be lateee >////<
    author Lee Taehyunnie…….
    Fighting!!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s