The Silent Touch of Marriage – Part 1

The Silent Touch of Marriage

(Part 1)

 

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Beta-Reader: Tulasi Krisna Maharani

Main Cast:

Kim Hyora (covered by Jessica SNSD)

- Kim Jonghyun

- Kim Kibum (Key)

- Kim Yong Sang

Support cast:

- Other SHINee members

- Kim Hyunri

Length: Sequel

Genre: Family, Friendship, Romance

RatingPG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

Annyeong, Readers! Maaf aku telat nge-post part 1 FF ini. Tanggal 17 November kemarin aku ujian blok sel yang susahnya amit-amit, terus besoknya langsung pengumuman. Haduhh.. syukur deh lulus, hehehe *jadi curcol* maaf ya kalau lama nungguin FF ini. Kalau rada bingung, baca ulang aja teasernya. Untuk part selanjutnya aku usahain secepatnya deh *kalau bisa* coz selanjutnya blok kuliahku The Grand Design of Human Body yang lumayan muter otak tuh, *curcol ga penting lagi #plaakkk* so, sabar aja yah nunggunya.  Eitz, hampir lupa, di sini ada adegan agak hot, tapi rasanya belum masuk NC karena masih dalam batas wajar, jadi buat yang di bawah umur jangan terlalu diresapin yah bacanya.^^

***

Bukan janji ataupun kata-kata manis yang membuatku percaya

Ucapanmu hanya angin lalu

Kau terlalu rapuh untuk menentukan sifatmu

Mudah mengalir, namun meninggalkan jejak yang menyakitkan pada setiap insan yang kau singgahi

Kau bisa terbang kemanapun, namun tak ujung bergema dengan tingkah angkuhmu

Terlalu fanatik, bodoh, dan menyesatkan.

-Kim Jonghyun-

***

Jonghyun membuka mata perlahan. Sebuah gelitikan kecil merangsang sarafnya untuk melakukan sebuah respon. Kedua kelopak matanya masih terlalu enggan untuk terbuka, namun tawa kecil yang telah menantinya membuatnya tak punya pilihan. Dengan malas ia membuka matanya, menatap sosok kecil yang berjingkrak di sampingnya dengan senyum sedikit dipaksakan.

Appa, ayo bangun!” pemilik suara cempreng khas anak-anak itu masih belum menyerah membangunkan Jonghyun.

Ne, ne. Appa bangun.” Jonghyun meregangkan badannya sejenak. Tak ada lagi hal yang lebih menyenangkan dari ini―pagi yang disambut oleh tawa riang malaikat kecilnya. “Umma dimana, Yong Sang-ah?” Jonghyun sedikit heran menyadari istrinya tak berbaring di sebelahnya. Dengan pandangan yang masih belum fokus sempurna ia menyelidik ke seluruh ruangan.

Yong Sang menggeleng. Ia menekuk wajah bulatnya dan mengangkat kedua bahu mungilnya. “Mollayo, Appa.”

Jonghyun menghela nafas panjang, seolah ini bukanlah hal yang besar. Sejurus kemudian ekor matanya melirik ke arah jam dinding. “Pukul enam pagi,” gumamnya, “nah, ayo siap-siap, kau harus segera berangkat ke sekolah,”

Yong Sang mengangguk. Ia memamerkan sederet gigi susunya yang masih tersusun rapi.

Kajja, Appa!

***

Yong Sang mengaitkan kancing pakaian sekolahnya perlahan. Memasukkan bulatan-bulatan benda kecil itu ke lubangnya bukanlah hal yang mudah bagi bocah berusia 5 tahun sepertinya. Sesekali bibirnya mengkerut, sedikit kesal dengan pekerjaan itu. “Belajar mandiri itu susah. Huh!” ia mendengus kecil, membuat kedua kuncir rambutnya terlonjak ke depan.

“Ada apa, Yong Sang-ah?” sosok Jonghyun menyembul dari pintu. Kemeja lengan panjang beserta jas putih telah melekat dengan rapi di tubuhnya. Sebelah alisnya terangkat melihat putrinya yang susah payah memasang kacing bajunya.

Yong Sang menatap Jonghyun dengan bibir mengerucut. “Susah sekali, Appa!” gerutunya.

Jonghyun tertawa kecil. Ia mendekati putrinya lalu berjongkok. “Pelan-pelan saja,” Jonghyun meraih kancing baju Yong Sang. Jari-jari trampilnya mengaitkan benda bulat itu perlahan.

Yong Sang hanya tersenyum kecil sambil memandangi puncak kepala Jonghyun yang sedikit lebih rendah darinya. “Bantu aku mengikat tali sepatu juga, ya?”

Jonghyun menatap wajah Yong Sang. Anak itu tersenyum licik, merasa ini kesempatan yang cukup menguntungkan baginya. “Ne, appa mengerti.” Jonghyun tersenyum pasrah, mengiyakan permintaan putrinya.

Pintu depan terbuka ketika pekerjaan Jonghyun―mengikat tali sepatu Yong Sang hampir selesai. Sosok yang sejak tadi menghilang muncul di sana dengan keadaan basah sambil menjinjing sesuatu.

“Hyora?” kedua mata Jonghyun membulat. Heran dengan kemunculan Hyora yang tiba-tiba. “Darimana saja kau?”

Hyora mengerjapkan matanya. Tubuhnya bergetar, menahan sisa-sisa air hujan yang melekat di pakaiannya. “Mianhae, barusan aku pergi membeli makanan untuk kalian,”

Jonghyun menghela nafas pelan. “Dasar bodoh!” ia memakaikan sebuah handuk putih besar di punggung Hyora. “Kalau mau keluar katakan dulu,” ia mengusap puncak kepala Hyora. Perlahan senyum tersungging di bibirnya. “Sana bersihkan tubuhmu, kita sarapan sama-sama,”

Hyora membalas senyuman itu. Entah mengapa melihatnya tersenyum lembut seperti itu membuat hatinya terasa hangat. “Ne, Oppa,”

***

Hyora menatap bayangannya di cermin kamar mandi. Ia memandang kulit putih mulusnya yang hanya berlapis handuk. Garis-garis wajahnya terlihat letih dengan kedua bola mata yang tampak sayu. Ia tersenyum miris. Tubuh yang ia miliki sudah tak suci lagi. Mahkota yang selama ini dipertahankannya telah terenggut enam tahun lalu ketika usianya masih 18 tahun. Bukan untuk namja yang ia cintai ataupun pujaan hatinya. Ia telah memberikan semuanya pada sahabat terbaiknya.

~Flashback (@ First Night Jonghyun and Hyora)~

Hyora meringkuk di atas tempat tidurnya dengan kaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya kini. Nafasnya terdengar amat pelan, tanpa emosi. Bola matanya mulai bergerak, menatap punggung namja yang duduk di sudut tempat tidurnya, Kim Jonghyun.

Oppa, apa ini benar-benar kenyataan?” pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulutnya.

Jonghyun membalikkan tubuhnya. Ia menatap Hyora yang kembali tertunduk. Tetap dalam diam ia mendekat. Jemarinya bergerak, perlahan mengangkat ujung dagu Hyora, membuat yeoja itu menatapnya. “Mianhae,”

Hyora mengatupkan bibirnya. Maaf?  Apakah itu kata yang patut diucapkan saat ini? Telinganya tak ingin mendengar apapun. Ini semua terlihat konyol. Hanya dengan berdiri di pelaminan dan mengucapkan sumpah pernikahan kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.

Raut wajah Hyora mengeras. Ia mendesah pelan. Ingin menangis, namun keegoisannya melarang air matanya untuk jatuh. Pantaskah ia menangis sekarang?

“Aku tahu hatimu tak ada di sini sekarang,” Jonghyun bergumam, masih menatap wajah Hyora lekat.

Hyora menelan ludahnya. Apa gerangan yang akan diucapkan namja ini sekarang?

“Maaf telah membuatmu menderita dengan pernikahan ini,” sekali lagi Jonghyun bergumam, “Jika kau masih ingin mendengarku, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?”

Hyora mengangguk pelan, tak ada alasan untuk menolak.

“Kau mungkin tahu perasaanku padamu. Dan aku juga tahu perasaanmu padaku seperti apa,” Jonghyun menghela nafas pelan. “Meski hanya sepihak tolong izinkan aku melakukan kewajibanku layaknya seorang suami padamu. Meski hatimu bukan untukku, tolong izinkan aku untuk menjagamu, memperlakukanmu layaknya seorang yang harus kulindungi,”

Hyora tercekat. Tatapan Jonghyun meluluhkannya. Begitu tulus. Rasanya sangat jahat jika ia menelantarkan perasaan itu. Meski hatinya tak mencintai Jonghyun, namun namja itu bukanlah seorang yang sekedar merasuki hidupnya. Bukan sekedar kenalan ataupun teman, namun ia adalah sahabat yang memiliki arti terpenting dalam hidupnya.

Ne,” Hyora mengangguk pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Perlahan jemarinya bergerak mengusap lembut pipi Jonghyun.

Malam ini menjadi sebuah permulaan. Dengan perasaan bertepuk sebelah tangan keduanya telah mengikrarkan hubungan mereka. Lewat deruan nafas yang kian dalam, bibir mereka beradu, menyisakan keheningan.

Hyora merebah, setia membalas ciuman hangat Jonghyun. Kedua tangannya melingkar erat di leher namja itu. Ia benar-benar tak tahu apa yang sedang ia lakukan. Hatinya pasrah. Tak memberontak ketika Jonghyun melucuti satu-persatu pakaiannya. Ia tak mampu bicara, hanya cairan yang menetes di sudut matanya menggatikan semua kata-kata yang ingin diucapkannya.

Tetap dengan keegoisannya Hyora menatap tubuh polos Jonghyun yang bersimpuh dihadapannya. Tubuh kekar yang dipenuhi peluh itu mendekapnya erat. Hening sesaat. Hyora masih mengatupkan bibirnya, meredam tangisnya dari indera pendengaran Jonghyun.

“Jika kau tak siap kita hentikan saja,” tiba-tiba Jonghyun berbisik. Ia mengusap rambut Hyora lembut. “Jangan paksakan dirimu,”

Tubuh Hyora berhenti bergetar. Ia melepaskan pelukan jonghyun. “Andwae!” ia menggeleng.

Jonghyun mengernyitkan alisnya. “Wae?”

Hyora tersenyum tipis. “Tak ada alasan bagiku untuk tak siap. Menjalankan pernikahan ini adalah pilihanku juga, jadi kali ini pun adalah tugasku untuk melayanimu,”

Jonghyun masih terdiam, tak mengerti dengan jalan pikiran Hyora.

Hyora mengarahkan tangan Jonghyun ke tubuhnya. “Lakukanlah,”

Kembali ke dalam rasa yang tak menentu permaianan itu berlanjut. Hyora tak tahu apakah ini pantas atau tidak. Pikirannya tak dapat mencerna semua ini. Tak peduli apa akibat yang terjadi, seberapa besar dosa yang telah dilakukan, keduanya tetap tak bergeming, tetap melanjutkan semua ini sampai akhir meski dengan perasaan yang tak sempurna.

~Flashback end~

 

***

Umma, nanti mau makan malam malam di luar tidak?” Yong Sang membuka pembicaraan ketika bubur yang dilahapnya tinggal setengah mangkok.

Hyora tersenyum tipis, ia mengusap puncak kepala putrinya lembut. “Nanti umma usahakan. Semoga saja malam ini umma tidak sibuk,”

Yong Sang mengkerucutkan bibirnya. Ia mendesah pelan. “Selalu saja begitu. Memang sekretaris seperti umma sesibuk apa? Appa saja yang seorang dokter bisa meluangkan waktunya untukku.” cibirnya, membuat Hyora tercekat. Bocah berusia lima tahun itu seolah telah berubah menjadi remaja berusia lima belas tahun.

Hyora menatap Jonghyun sekilas. Namja itu tak merespon, tetap sibuk melahap buburnya seolah tak ingin ikut campur dalam pembicaraan ini. Hyora menghela naas pelan. Ia hafal sifat Jonghyun satu ini. Kau pasti berpikir aku lebih senang menghabiskan waktu dengan Key dibanding dengan kalian, Oppa, Hyora membatin.

Jonghyun bangkit dari tempat duduknya. Ia tersenyum tipis lalu menghampiri Yong Sang. “Sudahlah Jangan marah lagi. Kalau umma tidak sibuk, pasti dia akan ikut bergabung dengan kita nanti malam,”

Yong Sang mengangguk kecil. Ia mendesah lagi, masih terlihat belum memaafkan Hyora sepenuhnya.

Tit.. tit.. tit.. nada panggilan di ponsel Jonghyun memecah keheningan. “Ne, yeoboseyo?

“Dokter Kim,” terdengar suara perawat di ujung sana. “Pasien yang anda tangani kemarin―ibu hamil dengan plasenta previa totalis telah dilakukan pembukaan 8 cm dan berubah menjadi plasenta previa parsialis. Maaf, kami tidak melakukan penanganan dengan baik. Pasien belum terangsang untuk melahirkan, namun sejak lima belas menit lalu pasien telah mengalami perdarahan.”

Deg, Jonghyun terperanjat. Pasien itu, ia harus memastikan keadaannya sekarang. “Kemungkinan sinus uterusnya telah robek. Ini terlalu berbahaya jika melahirkan secara normal karena kemungkinan kepala bayi bisa menekan plasenta. Aku akan segera ke sana. Segera bawa pasien ke ruang operasi.  Kita akan segera melakukan seksio sesarea.” ia mematikan ponselnya dan bergegas menyambar kunci mobilnya. Saatnya ia bertindak cepat dan melakukan profesionalisme sebagai seorang obgyn.

“Yong Sang, Hyora, aku berangkat lebih dulu. Salah seorang pasienku sedang dalam keadaan darurat.” Jonghyun bergegas. “Err, Hyora, tolong kau antar Yong Sang ke sekolah!” ucapnya lalu berlari ke mobilnya.

Ne, hati-hati, Oppa,” Hyora menatap punggung Jonghyun yang tengah berlari keluar. Dokter kandungan yang hebat, batinnya. Masih seperti enam tahun lalu, namja itu belum berubah. Lembut, pengertian, dan keras kepala.

“Yong Sang-ah, ayo, kita juga harus siap-siap,” Hyora mengambil tas tangannya, bersiap-siap menuju ke mobilnya.

Yong Sang bangkit dari kursinya tanpa bicara. Ia mengambil ransel bermotif bunga sakura di atas meja belajarnya. Hyora mengernyitkan alisnya. Ada apa dengan Yong Sang? Apakah anak itu sebegitu marahnya pada dirinya hanya karena tak bisa memastikan malam ini ia bisa ikut makan malam atau tidak? Bukankah itu hal biasa yang sering terjadi di keluarga mereka?

***

Hyora menyetir mobilnya dengan santai. Sesekali pandangannya tertuju pada Yong Sang yang duduk di sampingnya. Bocah itu masih diam, sibuk menatap ke luar jendela, menatap pelangi yang ditimbulkan hujan tadi.

“Nah, Yong Sang-ah, kita sudah sampai,” ucap Hyora ketika selesai memarkir mobilnya di depan gedung sekolah Hyora.

Ne, aku berangkat dulu, Umma!” Yong Sang mencium punggung tangan Hyora lalu bergegas membuka pintu.

“Tunggu, mau umma antar sampai ke kelas?” Hyora tersenyum, hendak membuka gagang pintu mobilnya.

Yong Sang menggeleng. “Tidak usah, aku berangkat dengan temanku saja,” jawabnya dengan ekspresi datar ketika Hyora menawarkan dirinya.

Yong Sang melangkah keluar mobil menuju sosok teman yang disebutnya barusan. “Annyeong, Minho-ya!”

Anak laki-laki yang disapa Yong Sang tersenyum lebar. “Annyeong, Yong Sang-ah!”

Annyeong, Ahjumma Choi!” Yong Sang menyapa wanita yang menemani Minho sambil membungkuk hormat.

Yang disapa tersenyum lembut, menampakan sisi keibuannya. “Annyeong, Yong Sang-ah!”

“Mana appa-mu, Yong Sang? Ah, aniyo. Mana orang yang mengantarmu, kurasa tadi kau datang bersama seorang wanita cantik, apa dia umma-mu?” tanya Minho, celingukan.

Yong Sang mengalihkan pandangannya. “Bukan siapa-siapa,” ucapnya penuh misteri. “Nah, ayo ke kelas, nanti seonsaengnim marah,”

Minho masih tak mengerti, namun ia mengiyakan saja dan mengikuti Hyora berjalan ke kelas.

Dari kejauhan Hyora masih menatap sosok Yong Sang. Dari balik kaca mobilnya ia menatap kepergian anak itu dengan perasaan sedikit menyesal. Ia baru sadar, ini adalah pertama kalinya ia mengantar putrinya ke sekolah.

***

Hyora melirik jam tangannya. Pukul 04.56 pm. Ia tersenyum tipis. Sebentar lagi jam kerjanya berakhir. “Tak ada salahnya mengabulkan keinginan Yong Sang kali ini,” gumamnya.

Hyora mengemas barang-barangnya, tak ingin terlambat pulang ke rumah. Merapikan berkas-berkas di atas mejanya dengan sedikit tergesa-gesa dan segera melangkah keluar ruangan. Namun, baru beberapa langkah, seseorang menghampirinya dari balik pintu, rekan kerjanya, Kim Hyunri.

“Sekretaris Kim, barusan aku mendapat kabar, hari ini perusahaan tetangga mengundang manajer Kim Kibum untuk makan malam, kita diminta untuk ikut serta,” ucap Hyunri datar, memandang Hyora yang terlihat kaget dengan ekspresi datar.

Mwo?!” Hyora sedikit bingung. “Kenapa mendadak sekali? Acara ini dilaksanakan dalam rangka apa?”

Hyunri mengangkat kedua bahunya. “Kurasa untuk mengembalikan keakraban. Kau tahu sendiri kan beberapa bulan terakhir ini perusahaan kita lebih unggul dalam pengiklanan dan penjualan produk dibanding perusahaan mereka?”

“Oh,” Hyora mengangguk. Ia tahu masalah itu. Ia terdiam sejenak. Apakah ini berarti ia tak bisa memenuhi keinginan Yong Sang lagi?

“Kenapa diam? Ayo bergegas!” hardikan Hyunri membuyarkan lamunan Hyora. Sekilas hardikan gadis itu terdengar agak sinis, terlihat tidak suka dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

“Kenapa kalian masih di sini? Ayo cepat ikut denganku!” sebuah suara berat menimpali ucapan mereka. Suara itu milik sang manajer, Kim Kibum atau yang akrab dipanggil Key.

Hyunri tersenyum menatap kehadiran namja itu sekaligus membungkuk hormat. Ia tak mengucapkan apapun dan segera menghampiri Kibum.

“Hyora, tolong matikan ponselmu,” Kibum tersenyum, terseksan dingin.

Ne?

“Kau tak mau dianggap tidak sopan dalam acara nanti, kan?” Kibum meraih ponsel Hyora, menekan tombol non aktif pada ponsel yeoja yang masih terdiam itu.

Hyora tertunduk, agak canggung menatap wajah Kibum. Tak berani membantah ataupun menolak. Tatapan tajam namja itu membuat dadanya bergemuruh. Ia masih belum tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang ia sadari hanyalah kakinya mulai melangkah mengikuti Kibum dan Hyunri yang telah berjalan mendahuluinya.

***

Jonghyun mengenggam stir mobilnya kuat-kuat. Ia mengatupkan bibirnya. Ponsel Hyora tak bisa dihubungi. Sepertinya hal itu akan terjadi lagi. Memang bukan hal biasa. Ini bukanlah pertama kalinya Hyora tak bisa bergabung dengannya. “Ternyata Key tetaplah yang nomor satu dihatimu!” gumamnya, tertekan. Entah kebetulan atau takdir, pasien yang berhasil ditanganinya dalam seksio sesarea memberikan balasan kecil berupa sekotak blackpapper chicken roast. Ini mungkin akan menjadi menu makan malamnya dengan Yong Sang.

Jonghyun menghela nafas panjang. Samar-samar sosok kecil tampak di ujung jalan, duduk termangu sambil menumpukan dagunya di kedua telapak tangannya. Gadis kecil itu terlihat lelah. Wajah bulatnya tertekuk dan terlihat bosan.

Jonghyun tersenyum tipis. Ia memarkir mobilnya tepat di depan gadis kecil itu. “Mianhae, Yong Sang-ah. Appa terlambat,” ia melangkah keluar mobil.

Yang disapa menatapnya dengan alis terangkat. “Ne, gwenchana, Appa.” Yong Sang tersenyum manis. “Mana umma?”

Jonghyun berjongkok. Ia memegang kedua pundak putrinya sambil menatap kedua bola matanya lekat. “Yong Sang-ah, sepertinya umma sedang sibuk hari ini. Kita makan berdua saja, ya?” tawarnya lembut, berusaha membuat Yong Sang tak kecewa.

Senyum di bibir Yong Sang memudar. Ia menunduk sejenak. Rasanya ingin menangis. Kenapa sang ibu sama sekali tak punya waktu untuknya? Yong Sang mengangkat kepalanya. Ia menatap Appa-nya yang masih mengenakan jas putihnya. Wajahnya terlihat letih. Entah seberapa lelah ia melakukan operasi tadi pagi. “Huh!” sejenak Yong Sang mendesah. Ia memaksa seulas senyum. “Ne, aku ingin makan blackpapper chicken roast!” ucapnya, berusaha terdengar semangat.

“Ini dia!” Jonghyun mengeluarkan bungkusan yang sejak tadi ia sembunyikan di dalam mobilnya.

“Wah, kapan appa membelinya?” Yong Sang terkejut. Wajah polosnya terlihat begitu kagum seolah Jonghyun baru saja melakukan sulap untuknya.

Jonghyun mengusap puncak kepala Yong Sang. “Pasien yang appa tangani tadi pagi yang memberikannya. Nah, ayo kita pulang dan pesta ayam!”

Yong Sang menggaet pergelangan tangan Jonghyun.”Wah, apa ahjumma itu melahirkan bayinya dengan selamat?”

Jonghyun tersenyum. “Tentu, dia melahirkan putri secantik kau,”

Yong Sang tertawa kecil. Sementara Jonghyun mulai menginjak pedal gas mobilnya dan melaju mengikuti jalan setapak.

***

Jonghyun mengecup puncak kepala Yong Sang. Gadis kecil itu telah jauh memasuki alam mimpi. Ia memeluk boneka Mickey Mouse-nya erat-erat. Sesekali bibirnya tersenyum, seolah tengah bermimpi indah. Jonghyun mengusap puncak kepala putrinya. Ia tertawa kecil. “Sungguh menggemaskan,” gumamnya.

Tok, tok, tok, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Jonghyun. Dengan malas ia melangkah keluar. Ia tahu benar siapa yang tengah berada di luar dan mengetuk pintu itu―yang mungkin juga sedang gugup atau bingung menentukan sikap.

Jonghyun membuka gagang pintu. Benar saja, Hyora tengah berdiri di depan pintu itu dalam keadaan setengah canggung. “Oppa, mianhae, aku terlambat pulang,”

Jonghyun mengangguk, tak menunjukkan ekspresi apapun. “Ne, gwenchana. Masuklah!” ucapnya datar lalu meninggalkan Hyora yang masih terheran-heran di depan pintu.

Hyora mengunci pintu terburu-buru. Ia bergegas menyusul Jonghyun ke ruang tamu. “Apa kau marah, Oppa?”

Jonghyun menghentikan langkahnya. Ia terdiam, tetap memunggungi Hyora. Marah? Oh, tentu saja. Suami macam apa yang tak akan marah jika istrinya membatalkan janji tanpa kabar? Namun dalam rumah tangganya ia sama sekali tak ingin membesar-besarkan hal ini. kemarahan seperti ini hampir tiap hari ia rasakan. Dan bahkan sekarang ia tak ingat lagi bagaimana caranya marah untuk hal seperti ini.

Jonghyun menghembuskan nafas panjang, melepaskan penat yang memenuhi dadanya. Ia melirik ke belakang, sekilas menatap mata Hyora. “Tak ada alasan untuk itu. Kau rapat atau ada urusan penting lagi barusan?”

Hyora mengangguk. “Ne, perusahaan tetangga mengundang kami untuk makan malam,” jawabnya setengah berbisik. Ia tahu, ada kekecewaan pada nada bicara Jonghyun.

“Oh, begitu,” tanggap Jonghyun pendek, tetap dengan ekspresi wajah datar. ”Wajahmu pucat, istirahatlah,”

“Tunggu dulu. Mana Yong Sang?”

Kali ini Jonghyun berbalik. Kedua alisnya mengkerut. “Sudah tidur. Wae?”

Hyora mengatupkan bibirnya. “Apa dia marah?”

Jonghyun tersenyum tipis. Sekilas kedua matanya mengerjap, terkesan sinis. “Jangan pikirkan hal yang tidak penting istirahat saja,” ujarnya, kembali membelakngi Hyora lalu melangkah.

Langkah itu, ah tidak. Kenapa Jonghyun melangkah ke kamar Yong Sang? “Tunggu, kenapa kau masuk ke kamar Yong Sang?”

“Mau menemaninya tidur. Wae?”

Aish! Perkataan macam apa itu? Jika kau marah katakan saja. Jangan menghindariku seperti ini, batin Hyora. Ia mencegat pergelangan tangan Jonghyun. “Kumohon, temani aku!”

Jonghyun tersentak. Ia menatap Hyora tak mengerti. Kenapa yeoja ini? Kenapa manja dan terlihat konyol begini? “Ya! Ada apa denganmu?”

Hyora membenamkan wajahnya di lengan Jonghyun. “Mianhae, mianhae, jebal!” suaranya berubah serak.

Ya, kenapa menangis?!” Jonghyun memegang pundak Hyora, memaksa yeoja itu menatapnya.

Hyora menggeleng. Entah enggan atau tak tahu harus berkata apa. Yang ia tahu hanya dirinya seolah terlihat seperti orang bodoh. Lalu Jonghyun, namja itu kini terlihat seperti tempat pelampiasan kebodohannya.

Jonghyun mengerang. Kini ia menjadi serba salah. Ia mendesah berkali-kali. Merasa tak bisa melakukan apa-apa ia akhirnya menarik Hyora ke pelukannya. “Uljima, yeobo,”

Dekapan ini terasa hangat. Hyora menikmatinya sedemikian rupa. Membiarkan dirinya menangis sepuasnya meski pelukan ini hanyalah dari seorang yang hingga saat ini tetap dianggapnya sahabat. “Mianhae,”

*TBC*

Gimana, aneh ya? Maaf deh kalau part satunya rada-rada nggak nyambung dan ngawur. Waktu luangku yang sedikit ngebuat aku jadi susah nyari waktu untuk nerusin FF ini. Aku tahu kok, pasti banyak miss di FF ini. Maaf aja bagi kalian yang kurang puas atau kurang suka. Mudah-mudahan part selanjutnya bisa lebih baik dan lebih jelas. Jangan lupa komen ya, chingu. Gomawo ^^

©2011 SF3SI, Chandra.




This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

183 thoughts on “The Silent Touch of Marriage – Part 1

  1. Keren banget, enak bacanya soalnya bahasanya bagus dan mudah dimengerti. Aku penasaran sama hubungan Hyora sama Key, apakah punya kenangan masa lalu?

    Ah, pokoknya daebak, ditunggu lanjutannya. Author, fighting!!!

  2. hyora y kok gt bgt sih,,,, kyk ibu yg ngak bertanggung jwb n nyese krn punya anak kan kasian yong sang y….. hyora y malah ma key walaupun tau dia ngak cinta ms jjong tp sikap y ke anak y keterlaluan…..
    pa sebener y yong sang tau hyora punya hubungan ma key jd dia begitu k hyora…..
    Lanjut…….

  3. Nyesss jlepp. Nyesek bangeeeettt! Jong nya ituuuuu :’(
    Emangnya sesibuk apa hyora sampe baru inget itu pertama kalinya dia nganter Yongsan?
    Weuuhh jongnyaaaa sabar luar biasa. Penasaran deh, hyora sama jong udah 6 tahun nikah, tapi hyora nya belum ada cinta sama jong? Terus kenapa mau nikah……? Pasti ada sesuatu(?) Nih
    Terus kenapa juga tuh sama Key, kok posesif banget kesannya -__-
    Btw aku ngefly mulu deh kalo tokoh jong ciptaannya chandra eon wkwk. Lembut sabar gitu gituu aaaaa \(‾̴̴͡͡▿‾̴̴͡͡)/. Terus bahasanyaaa… Wah inisih udah terlalu daebaakkkkk!! terus disini tokohnya jadi dokter. Ngebayangin jong pake jas dokter aaaaaaaaaaaaaaa x_x kkkkk

    Lanjut ya eooonnn!!! :D:D

    • ada sesuatu pastinya.. hehehehe
      hahaha iya nih.. kalau aku nyiptain tokoh jjong pasti keputer 180 derajat dehh… wkwkwkwkwk
      iya nih.. kenapa juga aku buat jjong jadi dokter yah??? hahahaha

      oke makasih.. tungguin aja yah lanjutannya

  4. ga tau knp, ak ngebayangin kalo yongsang itu anak kecil yg ada di oh my lady XD
    bagus kok ceritanya. jadi penasaran gmn rumah tangga jjong-ra bisa bertahan. buruan dilanjut yah thor..

  5. thor… keren ko.
    lanjut ya thor jngan lama2…

    … penasaran nasim rumah tangga mereka..
    trutama kisah na hyora ma key dulu mreka gmana…

    lanjut thor ya…

  6. udah baca pas baru keluar, tapi dihape… mian bary sekarang komen-_-
    waaaah chand-unnie!!!
    karya karya unnie apa sih yang gak bagus cobaaaaa???? ini bagus banget eonn…..!!! bangetbangetbanget………………
    huaaaaaaaaaaaaaaaaa feelnya dapet banget…! sakitnya jonghyun, galaunya hyora, kecewanya yongsang, ngerti banget gimana perasaan mereka,,,,,, T_T
    penasaran banget sama next chapt nyaaaaaaaa,
    jangan lama lama yaaa eon……… hehe <3
    fighting!!!!

  7. kasian jonghyun :( yongsang juga:(
    jjong sabar banget
    aku rada lupa nih sama teasernya…..
    ditunggu lanjutannya ya unnie :))

  8. ayoo lanjut!!!!
    aku makin kasian sama Jjong, apalagi Yongsang juga! Hyoraa- kenapa gitu sih? mendingan Jjong kasih ke aku aja, hehe (plak)
    jangan lupa dilanjut ya Unnie~
    nice part! :D

  9. huaaaaaa.. aku panggil chandra eonni yah?
    huaaaaaaa… kok eonni jago banget sih, bikin cerita yang ngenes.. ayo.. lanjutin.. bagus banget..
    aku selalu kagum sama kemampuan otak eonni untuk ngeuarin ide-ide yang wuah banget… hehehehe
    dan gaya bahasanya itu.. bagus banget :D
    ga sabar eon…. huehehehehe

  10. author ini bagus deh ceritanya
    bener bener ganteng banget kali ya kalo jonghyun jd dr obgyn

    author dokter ya?

    thor ditunggu lanjitannya ya

    gomawo

  11. Satu lagi ff yg bikin miris.. Ah aku ngerti kok perasaan Hyora, tapi aku juga kasian sm abang jjong,, masa udah bertahun2 b’rumah tangga punya anak lagi, ga ada perkembangan sih diantara mereka . Itu Jjong yg terlalu baik ato Hyora’y yg ga nyadar2 sm perasaan’y. Aduh nyesek dh.. T.T
    Dtunggu next’y !!

  12. Pingback: In The Library « Chandra's Zone

  13. kyaaaa keren ffnya,rame lagi.aku suka sama jalan ceritanya bahasanya juga :D
    kasian banget yong sang pasti dia pengen banget dapet perhatian dari hyora,apalagi waktu hyora nganterin yong sang sekolah,sampe ditanyai itu siapanya yong sang.aku masih penasaran apa hubungan hyora sam key.chapter 2 udah ada :D langsung kesana

  14. unnie sedihh masaaaa :’( jjong kasian,, tapi ga bisa nyalahin hyora juga sih,,
    tapi jjongnya so sweet~~~ *apasih* dari pada hyora ga mau mending buat saya ajadeh jjongnya *ditimpuk* *kaburr ke next part*

  15. Hyoraaaa eonni jahat sekali ..
    kasian yong sang serasa gak punya umma =((
    key oppa #lempar sendal #ditabok author
    next part hyoranya sadar gak yaa?
    cepet-cepet sadar deh ya keburu direbut tuh jjong oppa~

  16. hyora, sbnrny apa yg dy rasa?!
    Jjong, sabar sabar..
    Kasian anaknya..
    Aku mau lanjut bacanya dlu.. Hehe
    oyaa, aku suka teks prtamanya, kata2ny bagus, pnuh makna :D

  17. jonghyun.. apakah kau memang spt itu di kehidupan nyata??
    baca ini jdi pgn nangis garuk2 aspal
    dapet banget sedihnya
    nyaman banget sama kalimat2 yang dibuat author

  18. hello chan ^^ *sksd* :)
    waah maap yak baru nongol en ngasih komennya skrang *chandra: telat bngt loh* kkeke
    suka deh sm Jong dsni. dewasa en cool bngt. biasanya pan Jong tengil petakilan gitu. hahaha..
    hhmm jahat jg yah hyora, ngegantungin perasaan Jong ampe 6tn.. daebak pernikahan mreka bertahan selama itu..
    tp ntr diceritain gak knp mreka hrs nikah? apa krna sahabat kcil, kluarga deket doang?..

    oke dehh mau ngeluncur ke part2 deh.. bakal maraton aye bacanya. hehehe

  19. waaaah feelnya dpet bnged.
    bener2 daebak,buat ff bgus di waktu yg smpit…daebak.
    wlopun ada sdikit typo sih,,,kkk.

    langsung ngacir k part 2.

  20. (˘̩̩̩^˘̩̩̩ƪ) kasihan sekali jonghyun… :(
    Tapi msh belum mengerti knp mrka b’2 bs menikah?
    Ckckkc, harus cpt baca ini,,,blussshhh. Lanjut part 2

  21. Bagus banget ceritanya T..T Jongie ampe gag bisa marah lagi karena uda gag tau bagaiman caranya…. Key seenaknya ajja matiin hp orang aish~~… Next>>>

  22. Annyeong aku reader baru.. Hwaaa Hyora jahat banget,, padahal udah 6 thn nikah sama Jonghyun, tp masih nganggep dia sahabatnya.. Kan kasiaan :(

  23. Knp? Knp? Knp? Knp hyora jd ibu yg gak bertanggung jawab?
    Yong Sang kasihan bgt. Jonghyun oppa juga (˘̩̩̩.˘̩ƪ)
    6 tahun nikah, punya anak, suami yg lebut dan sayang, gak bisakh dia cinta sama jonghyun?
    Sama aku aja deh jonghyunnya #abaikan

  24. Keren banget ceritanya. Bahasa yang dignakan tersusun rapih, sehingga ketika aku baca ff ini seakan baca novel best seller.

  25. wah ff nya sedih ya????
    aq gx bca prviewnya thor maaf y….
    hehehe
    menurutku ffnya bagus alurnya bagus gx berantakan and bahasanya juga cukup mudah dipahami walaupun ada istilah2 yang kurang dipahami… good thor…

  26. Suka banget sama karakter jjong dimari >< penyabar, istrinya agak nyebelin /eh/ kesian Yongsang-nya, nyesek pas scene Hyora nganterin Yongsang sekolah, trus Yongsangnya kaya yg dingin gitu sama hyora, ga ngakuin hyora lagi ;;;; sumpah nyesek kalo jadi yongsang

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s