Selamat Tinggal; Mimpi Buruk

Title                       : Selamat Tinggal; Mimpi Buruk

Author                  : Lee Jongki

Main chars          : Kwon Yuri, Choi Minho

Support chars    : Choi Siwon, Choi Minseok

Length                  : 1740 words (one shot)

Genre                   : Angst, Romance

Rating                   : NC-17

Warning               : Character death

Disclaimer           : Karakter dalam cerita ini milik diri sendiri dan orangtua masing-masing.

A/N                        : This is my first story, so expect mistakes and typos. (^w^)

 

Saat pikirannya memutuskan untuk mengkhianatinya, memutar kenangan tentang seorang tertentu, ia merasa seperti seorang pecundang. Mereka dulu bahagia layaknya pasangan penuh kasih yang lain. Membuat momen-momen bahagia, meributkan hal kecil-kecil, saling melimpahkan cinta yang tidak pernah berakhir, dunia serasa milik berdua. Jika mereka punya kekuatan, mereka akan menghentikan waktu supaya mereka bisa bersama selamanya.

                “Yuri, apa yang kau suka dariku?” Minho bertanya sambil mengelus pipi Yuri.

                 Angin dingin bertiup melewati mereka. Tempat ini adalah tempat kesukaan mereka dimana mereka selalu pergi saat membutuhkan tempat untuk berduaaan. Minho tidak tahu bagaimana Yuri bisa menemukan tempat seperti ini karena tempat ini sepi sekali – terasing – dan sepanjang waktu hanya ada mereka berdua. Ia tidak pernah bertanya karena selain bisa berada di samping orang yang dicintainya, di tempat ini ia bisa bersantai melupakan semua beban pikiran. Hidup harus dinikmati selagi ia bisa.

                “Minho…” ia melihat ke bawah. Kepala Yuri berada di pangkuannya. Dengan lembut Minho mengelus rambut Yuri yang panjang dan indah. “Aku suka suaramu yang berasal dari telapak kaki itu.”

                Mata Minho yang besar makin membesar. Yuri tertawa pelan, “aku hanya bercanda. Aku suka semua tentangmu.” Yuri tersenyum hangat dan Minho tahu ia berkata jujur.

                “Apa yang paling kau suka tentangku?”

Sunyi selama beberapa saat sebelum Yuri menengadah memandang Minho dalam-dalam tepat di matanya. “Tidak ada. Semua tentangmu adalah kesempurnaan.”

Minho mengerutkan dahi tapi dengan cepat digantikan dengan senyuman. “Ah. Yul, kau selalu melebih-lebihkan.” Ia cemberut saat yang lain tertawa, membuat Yuri bangun dan menyandarkan kepala di bahu Minho. Wajah mereka sangat dekat sampai mereka bisa merasakan hangatnya nafas menyentuh kulit satu sama lain.

Yuri mencium hidungnya kemudian bibirnya yang masih ditarik ke luar. “Tidak. Aku benar-benar mencintaimu, kau tahu itu ‘kan?” Minho mengangguk dan tersenyum cerah.

”Tentu. Aku juga mencintaimu.” Minho menarik tubuh Yuri ke pelukannya, merangkulnya lebih erat ketika gadis itu menyelipkan tangan kecilnya ke sekeliling pinggangnya, takut momen bahagia seperti ini akan segera berakhir setelah ia melepas pelukannya.

                “Jagi, kau lihat pohon besar di sana?”

                Minho memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk Yuri. Ia mengangguk. Sebelah alis naik, kelihatan bingung.

“Ayo kita mengukir nama kita di situ. Maka pohon itu akan menjadi milik kita.” Dengan riang tangan Yuri bergerak di udara membentuk sebuah lingkaran besar. Minho tersenyum penuh kasih. Kadang-kadang kekasihnya bisa bersikap lebih kekanak-kanakan daripadanya. Meski begitu ia setuju dan membiarkan Yuri menariknya ke sebuah pohon besar.

                Yuri memandang sekeliling sebentar sebelum memungut sebuah batu. “Kurasa batu ini cukup tajam.” Ia mulai mengukir sesuatu dengan huruf besar diikuti sebentuk hati besar dibawahnya. Kemudian ia memberikan batu itu kepada Minho. “Giliranmu.”

Minho memandangnya dengan aneh. “Gaeguri? Aku kira tadi kau menuliskan NAMA kita.” Mata raksasa Minho seakan ingin meloncat keluar dari tempatnya.

Yuri menahan tawa melihat Minho yang seperti kodok. “Gampangnya karena kau mirip dengan kodok. Kodok yang paling kusayang.” Minho menyeringai mendengar jawaban itu dan mulai mengukir. Tangannya yang satu menutupi pandangan Yuri dari tulisannya.

Ketika ia sudah selesai Yuri merengek. “Yah.. Kenapa pudel?” Yuri cemberut. “Gampangnya karena kau mirip dengan anjing pudel. Pudel yang paling kusayang.” Tawanya pecah. Yuri ikut tertawa.

                “Aku suka tawamu.” Tawa Minho mereda, digantikan dengan senyum manis. Pipinya memerah.

“Yul… Jagi…” Jemarinya menggengam jemari Yuri. “Sekarang pohon ini sudah menjadi milik kita ‘kan?”

Yuri mengangguk. “Aku sedang berpikir kapan aku bisa melihatnya lagi. Maukah kau datang kemari sendiri untuk memastikan nama kita akan selalu ada?” Minho mendapatkan pandangan aneh dari Yuri.

                “Kenapa kau mengatakan hal itu? Kita bisa pergi bersama.”

                “Oh… Um… Bukan apa-apa.”

                “Kau aneh sekali.”

                “Aku tidak aneh. Percayalah.”

Yuri tidak menghiraukannya.

Hari berganti menjadi bulan. Saat itu adalah saat terakhir mereka mengunjungi tempat rahasia itu. Kali terakhir sebelum sebuah kenyataan pahit menodai hubungan mereka.

“Hei, kelihatannya kau mulai jatuh cinta dengan alien kodok itu.” Siwon menyeringai.

Yuri tergelak sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tentu saja tidak. Aku harus pandai berpura-pura kalau mau ia terpesona olehku.”

Siwon menepuk punggung Yuri, puas dengan jawabannya. “Bagus. Kau ingat batasnya minggu depan ‘kan?”

Yuri cuma mengangguk dan tersenyum genit. “Ya. Dan setelah itu aku akan mengakui semuanya.” Dengan itu, Siwon menarik Yuri mendekat sampai bibir mereka bersentuhan.

Waktu berlalu dan semuanya terlihat normal kecuali sebuah hati rapuh yang terluka. Yuri masih teringat hari di mana ia mengakui taruhannya dengan Siwon; taruhan yang menantangnya untuk menggoda Minho dengan segala cara dan membuatnya miliknya hanya untuk iseng belaka. Yuri tidak pernah benar-benar mencintai Minho karena Siwon adalah kekasihnya bahkan sebelum mereka bertemu. Ia mengira paling tidak akan dicaci atau ditampar. Minho tidak melakukan hal-hal itu. Ia cuma tersenyum sedih, berterimakasih kepada Yuri yang telah memberinya kenangan indah yang akan diingatnya sampai ke hela nafas terakhir. Cuma seperti itu, ia berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Yuri dengan lidah kelu, tenggelam dalam rasa bersalah.

Pada suatu waktu Yuri berjalan sendirian di keramaian kota. Dari sisi yang lain terlihat sebuah sosok yang dikenalnya. Waktu itu adalah kali pertama ia melihat Minho setelah pertemuan terakhir mereka beberapa bulan sebelumnya. Minho tidak berusaha untuk menghindar atau melarikan diri dari Yuri dan ia bertindak seolah-olah mereka adalah orang asing yang tidak pernah bertemu. Saat mereka berpapasan Yuri bisa melihat wajah yang biasanya cerah itu kehilangan sinarnya, wajahnya lebih pucat. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Minho sampai ia menerima sebuah panggilan telefon.

“Bisakah aku bicara dengan Yuri?”

“Ya. Aku Yuri. Ini siapa ya?”

“Minseok, kakak Minho jika kau masih mengingatnya.”

Yuri terkejut mendengar nama itu. ia mencoba untuk tetap tenang sebelum membalas. “Aku masih ingat. Apa alasanmu meneleponku?”

Hening sesaat. Yuri tidak tahu kenapa jantungnya berdegup kencang. Yuri merasa gugup, seolah sesuatu telah terjadi.

“Um… Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya di telefon tapi bisakah kau datang ke rumah kami? Kali ini saja. Tolonglah.”

Yuri mengernyitkan dahi mendengar nada Minseok. “Kenapa? Jika ini menyangkut Minho, bisakah  aku…um…berbicara dengannya?” Yuri bersumpah ia bisa mendengar sedu-sedan Minseok.

 Sebelum ia bisa bertanya laki-laki itu memotong. “Tidak. Kau harus datang ke sini dulu. Minho menyuruhku untuk memberikan sesuatu padamu. Aku sangat berharap kau bisa datang.”

Yuri menyesal ia pergi ke rumah Minho hari itu hanya untuk disambut dengan kabar kematian Minho. Awalnya ia tidak percaya. Saat Minseok yang terisak menghampirinya dan anggota keluarga yang lain saling berpelukan dan kesedihan melingkupi ruangan ia tahu hal itu pasti benar. Ia tak tahu bagaimana menanggapi hal ini. Ia merasa sedih tapi tidak menangis; ia merasa hampa, kosong. Ketika Minseok memberitahunya bahwa Minho meninggal karena kanker yang dideritanya sejak setahun yang lalu. Yuri berjalan menuju foto besar Minho yang terletak di atas sebuah meja kecil. Jemarinya bergerak menelusuri permukaannya;  gaya rambutnya, bentuk mata dan hidungnya, semua sangat memikat. Tahu bahwa ia tidak akan lagi punya kesempatan untuk menyentuh orang tersebut, air mata Yuri menetes. Minho sedang tersenyum dengan indahnya di dalam foto sampai ia lupa betapa ia menderita sebelum ajal datang menjemputnya.

“Sebenarnya ini adalah hadiah yang ingin ia berikan kepadamu saat hari jadi kalian. Tapi yah, kau tahu sendiri.”

Yuri menerima sebuah kotak kecil berisi sepasang cincin pasangan dari perak serta gelang pasangan yang selalu dikenakan Minho; Yuri hanya pernah memakainya sekali. ia menundukkan kepala dan mengangguk, merasa malu dengan kesalahannya. Ia mengeluarkan cincin-cincin itu dari kotaknya.  Pada masing-masing cincin terdapat nama mereka. Betapa gembiranya Minho jika ia bisa memberikannya kepada Yuri namun dialah yang menghancurkan impiannya. Secarik kertas terlipat di dalam kotak. Yuri mengambil dan membacanya.

“Hei, seandainya kau sedang membaca surat ini itu berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Yuri-nuna, sekarang kita sudah bukan sepasang kekasih lagi, kurasa aku tidak berhak memanggilmu ‘jagi’ atau ‘Yul’ lagi. Kau mungkin benci nama itu. Aku tak tahu kalau kau menyadari hal ini tapi kau mengakui taruhanmu dua hari sebelum hari jadi kita yang pertama. Hari jadi yang kunanti-nanti dengan sabar tapi tak pernah berkesempatan merayakannya. Mungkin kau bahkan tidak ingat tanggal tolol itu karena kau dan aku, semua palsu ‘kan? Tolol, hmm… Seperti aku.

Yuri-nuna, apa kau tahu seberapa sakit kau melukaiku? Rasanya sakit sekali. Aku selalu merasa sakit karena kanker yang kuderita, tapi sakit yang kau tambah, terlalu banyak. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Setiap malam aku menangis sampai aku kehabisan air mata. Apa yang kulakukan di masa lalu yang membuatku patut menerima semua ini? Apapun itu, aku..aku masih mencintaimu dan akan selalu begitu. Sejujurnya aku ingin memberitahumu tentang penyakitku ini di hari kita mengukir nama kita di pohon tapi aku tak mau merusak saat-saat bahagia yang kita alami di sana. Oh tentang pohon itu, aku tak pernah punya kesempatan untuk melihatnya sejak terakhir kali kita ke sana. Aku..aku hanya berharap kau tidak pergi dan menghapus nama kita. Paling tidak berikan harapan untukku bahwa kau benar-benar serius saat kau bilang kau mencintaiku dulu. Aku masih dapat berharap walaupun itu menyedihkan, ‘kan?

Apa sekarang kau mengerti mengapa aku menyuruhmu untuk datang ke taman itu sendirian? Ya, karena aku tidak akan bisa melakukannya lagi. Tempat rahasia kita, kukira tidak berarti lagi untukmu, mungkin sejak awal tidak pernah berarti. Tapi aku akan tetap menghargai tempat itu seperti aku menghargai hubungan kita yang singkat ini. Yuri-nuna, jangan pernah mengatakan kau mencintai seseorang kalau kau tidak bersungguh-sungguh. Bahkan setelah apa yang kau lakukan padaku, aku ingin berterimakasih lagi karena kau telah memberiku sesuatu yang berarti untuk dikenang dalam hidupku yang pendek, kenangan kita. Apa aku mengoceh terlalu banyak? Hehe aku tak tahu kalau kau akan menyempatkan diri untuk membaca surat ini. Aku rasa sudah cukup. Sebenarnya aku masih punya banyak hal untuk diucapkan tapi sudah waktuku untuk pergi. Selamat tinggal, pudelku yang paling kusayang.”

Alm. Choi Minho

                                (09/12/1991-20/01/2011)

                Yuri menutup kelopak matanya kuat-kuat. Tetesan-tetesan hangat sebening kristal mengalir menuruni wajahnya, mencerminkan perasaan hati yang sebenarnya. Ia merasakan penyesalan dan rasa bersalah yang amat besar melandanya sampai ia menggenggam kain di dadanya, dimana jantungnya berada, di situ rasa sakit terasa menusuk. Kilas balik kenangan masa lalu mulai berhenti di dalam kepalanya, namun rasa sakit di dadanya masih di sana, dan tak akan pernah hilang. Menyedihkan sekali bagaimana ia menyadari sebenarnya ia mencintai Minho setelah ia tidak lagi berada di dunia kejam yang diciptakan Yuri dan ia tidak punya kesempatan untuk meminta maaf meskipun Minho bilang ia tidak pernah marah padanya.

                Pikirannya kembali ke surat itu dan ia menangis lebih keras saat Minho menuliskan ‘alm.’ di depan namanya serta tanggal lahir diikuti tanggal kematiannya, seolah ia sudah tahu kapan ia akan mati. Yuri selalu berharap ini adalah sebuah mimpi buruk. ia cuma harus bangun agar bisa bebas dari kekacauan ini. Sebuah air mata terlepas dari matanya yang merah saat ia memikirkannya.

                Kapan mimpi buruk mulai menjadi begitu nyata? Tapi kemudian kenyataan menghantamnya dengan keras.

                Mimpi buruk ini sebenarnya adalah kenyataan.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

122 thoughts on “Selamat Tinggal; Mimpi Buruk

  1. anneyong, db imnida ^^,
    aku reader baru thor. ceritanya baguus, aku suka, cuman rasanya aku pernah baca dimana gitu, ff ini pernah publish sebelumnya ya?

  2. ya ampun…sedih banget…minho oppa ‘y baik…banget…meskipun yuri unnie udah nyakitin dia…minho oppa tetap maafin…dan akhrnya…yuri unnie jatuh cinta sama minho….tapi ini bisa dijadikan teladan…agar jangan menerima pertaruhan yg tdk akan memberikan manfaat sama sekali untuk kita…apapun….bagus ff nya thor….daebakk….keep writing ya thor…fighting!!*kalo boleh nulisnya soal minho oppa aja…kkkkk….fangirl gila kumat….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s