Saranghae Nae Dongsaeng [1.2]

SARANGHAE NAE DONGSAENG!

1 of 2

Author: Boram.On yu

Main Cast:

  • Lee Jinki aka Onew
  • Lee Eunmi

Support Cast: find it by yourself yee :p

Length: Twoshots, drabble nih keknya

Genre: brother romance, angst.

Rating : NC, 17+

Annyong, boram.on yu’s second fanfic. Tetap masang jinki jadi main castnya, MVP sejati gituuuh *bangga ga jelas*. Sebenarnya author baru aja 17 tahun, trus udah bikin fanfic NC ginian. Hehe, mian dah. Pokoknya yang belum 17 tahun ke atas gak boleh, *sok banget*. Ok, tak usah berlama-lama,  Have a nice reading yaaa.

 

^ Eunmi side^

 “ Sudah berapa kali kau membaca komik itu?”

Aku menengadahkan kepalaku. Seorang lelaki bertubuh tirus berkacak pinggang menghadapku. Dia adalah Lee Jinki, kakak sulungku satu-satunya. Seorang oppa paling sibuk mengatur-atur kehidupanku. Kututup komik yang kubaca, lalu menyimpannya hati-hati di rak komikku.

Tanpa mempedulikan ucapan oppa, aku meninggalkannya di kamarku beralih ke ruang keluarga meraih remote tv.

“ Berani sekali kau mengacuhkanku! Dongsaeng macam apa kau ini?!”

Kembali ia mencak-mencak di sampingku. Tapi tak kuhiraukan, malah terus mengganti chanel tv. Hingga oppa sendiri sudah jengkel dengan sikapku, ia merebut remote di tanganku, lalu mematikannya. Baru saja ingin bangkit dari sofa, ia memegang kedua bahuku dengan keras, menyandarkannya di sandaran sofa, membuatku tak berkutik sama sekali. Kucoba untuk melepaskan cengkramannya, tapi tidak bisa. Akhirnya aku menyerah, aku hanya akan membuang tenagaku percuma untuk melawannya. Sementara itu, ia terus memajukan kepalanya hingga wajahnya hanya terpaut beberapa senti dariku. Kutatap garang ia.

“ Kenapa kau selalu menghindariku, hah?! “

Aku membuang muka. Kupikirkan kembali kata-katanya. Untuk apa kau menjauhinya, Eunmi?! Rasanya tersiksa sekali tiap kali mencoba tak mempedulikan kehadiran oppa di sampingku.

“ Lee Eunmi! Jawab pertanyaanku. “

Dengan malas, kutatap wajahnya.

“ Kau mau tahu kenapa?! Karena gara-gara kau, aku harus ikut ke sini. Meninggalkan sekolahku yang dulu, berusaha beradaptasi di sekolah baruku itu, dengan tanpa memiliki seorang pun teman. “

Terpaksa kukeluarkan unek-unekku. Dia memang harus tahu kekesalanku. Karena di DO dari kampus sebelumnya, aku harus pindah dari Seoul. Entah setan apa yang  merasukinya, hingga membuat oppa meninju seorang asisten dosen sampai masuk ke UGD. Oppa bahkan sempat masuk penjara hingga seminggu, sampai keluarga korban memaafkannya.

Sampai sekarang aku tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas aku sangat jengkel pada oppa. Membuatku harus kehilangan teman karibku, juga membuatku kehilangan kesempatan mendekati Choi Minho, model SMA yang paling diincar wanita di SMA ku dulu.

Perlahan cengkramannya melemah. Dalam sepersekian detik dagunya sudah disandarkan di bahuku kananku.

“ Mianhe… “ Katanya kemudian.

Aroma sampo oppa menyeruak indera penciumanku. Wangi. Kulingkarkan tanganku di lehernya.

“ Maaf juga sudah membentakmu oppa. “

Oppa ikut melingkarkan tangannya di  pinggangku. Sejurus kemudian ia memiringkan kepalanya, membuat bibirnya bersentuhan dengan leherku. Yang membuatku bingung, jantungku berdetak kencang diiringi tubuhku yang menegang saat ia menghembuskan napasnya di telingaku.

Kulepaskan pelukanku cepat saat kakak mulai cekikikan. Wajahnya yang putih memerah dengan tawanya yang menjadi-jadi.

“ Kau jangan grogi begitu. Aku ini oppamu, jangan pernah berharap lebih Eunmi. “

Aku mencubit perutnya membuat ia meringis tapi tak menghentikan tawanya. Bisa kurasakan wajahku memanas. Kesal dengannya, aku segera bangkit. Tak lupa kuhentakkan kakiku pertanda amarahku yang memuncak.

Dengan langkah yang dipercepat kumasuki kamarku sambil membanting pintu. Tak lupa kukunci pintunya. Bisa kudengar ia mengetuk pintu berkali-kali, mendengar suaranya yang memelas meminta maaf padaku.

Biasanya aku akan membuka pintu untuknya, lalu memasang muka cemberut dengan bibir yang dimanyunkan sok seksi. Tapi kali ini tanganku melarang untuk membuka pintu itu. Bukan karena tak bisa memaafkannya, tapi tak lebih karena debaran jantungku yang tak karuan. Mungkin debaran ini karena aku terlalu lelah, oppa pasti juga sudah lelah karena ketukan di pintuku sudah hilang.

****

^ Jinki side^

Aish, Lee Jinki baboya. Bisa-bisanya aku melakukan skinship sedekat itu pada Eunmi. Kutarik-tarik rambutku tak karuan. Iblis macam apa aku ini hingga menciuminya seperti itu. Ia bahkan tak mau membukakan pintunya lagi padaku. Kusandarkan punggungku di pintu kamar Eunmi.

Eunmi, kami hanya tinggal berdua di rumah ini, mengingat eumma dan aboji selalu sibuk dengan perusahaan.  Mereka tetap tinggal di Seoul beralasan perusahaan.  Aku tau betapa Eunmi sangat mengharapkan kasih sayang dari eumma dan aboji, tapi aku juga tau dengan sikapnya yang selalu bisa tersenyum manis meskipun hatinya terluka.

Aku masih ingat di hari ulang tahunnya yang ke 4, betapa ia berusaha berdandan cantik dan terus duduk di beranda.  Aku mengerti keinginannya agar eumma dan aboji datang memberinya selamat ulang tahun padanya. Tapi mereka tak pernah peduli dengan usaha Eunmi. Mereka bahkan tak pernah memberinya ucapan selamat ulang tahun pada Eunmi hingga seminggu setelah hari ulang tahunnya.

Di luar dugaanku, Eunmi, dongsaengku yang cantik hanya tersenyum dan selalu berpura-pura tak terjadi apa-apa. Mulai saat itu, aku bertekad pada diriku sendiri untuk selalu menjaganya dan memberikan semua cinta yang kumiliki. Tapi sungguh di luar keinginanku, sikapku mulai overprotective padanya.

Yang lebih mengerikan, kurasa aku telah jatuh cinta pada adikku sendiri. Tak kubiarkan lelaki manapun selain diriku mendekatinya, terlebih menyentuhnya. Baru tadi aku melakukan skinship laknat itu pada adik kandungku. Entah apa yang akan kulakukan lebih jauh jika aku tak segera menahan perasaan menggebuku untuk menyentuhnya lebih jauh. Kuacak kembali rambutku. Tuhan, kenapa perasaan terkutuk ini bisa terjadi padaku?

****

^Eunmi side^

Sinar matahari yang menyusup masuk lewat jendela kamarku membuatku terbangun. Aku lupa menutup gorden kemarin. Kulihat jam di mejaku, 07.30 pagi. Musim panas yang indah. Kurasakan tubuhku mulai berkeringat. Aku bergegas mandi mengingat hari ini adalah hari minggu. Hari pertama di musim panas ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Aku akan menunaikan rutinitas mingguanku, bersepeda mengitari kota Gampyun bersama oppa.

Sebenarnya aku tak bersepeda. Aku hanya akan duduk berboncengan dengan oppa karena oppa sendiri melarangku memakai sepeda. Terakhir kali aku naik sepeda, aku tak melihat batu di depanku membuatku jatuh dan meninggalkan bekas luka kecil di lututku.  Sejak saat itu oppa melarangku naik sepeda. Terlalu protective memang. Tapi tidak tau mengapa aku tak pernah bisa menolak permintaan oppa.

Segarnya, aku sudah mandi. Kurasakan tubuhku keroncongan. Aku memang tak makan semalam karena insiden marahku pada oppa.

Brukk.

Aku terhenyak melihat oppa yang jatuh tertidur di depanku saat kubuka pintu kamarku. Omo, jangan katakan oppa tidur semalaman di depan pintu kamarku. Kusibakkan rambutnya yang berjatuhan di dahinya tak beraturan dengan pelan, takut membangunkannya. Wajahnya yang tertidur sangat damai. Tampan, sangat tampan. Wajar saja jika ia punya banyak fans di kampusnya dulu.  Seulas senyum mengembang di pipiku. Pikiran aneh mulai menyelimutiku, seandainya saja ia bukan oppaku…

Kugeleng-gelengkan kepalaku cepat. Kenapa pikiran bodoh itu bisa terlintas di otakku. Kunaikkan lagi poninya yang jatuh kembali.

“ Sampai kapan aku harus meringkuk begini membiarkanmu menikmati ketampananku Eunmi ah. “

Aku terlonjak. Aku yang semula berjongkok, jatuh terduduk ke belakang mendengar ucapannya barusan. Matanya yang sipit terbuka dengan senyum lebarnya. Aku segera berdiri, tapi oppa segera menahan tanganku, membuatku tetap duduk.

“ Kau marah lagi? Kupikir ketampananku saat tidur bisa membuatmu berhenti marah. “

Ia kembali menutup matanya dengan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Kulepaskan genggaman tangannya lalu segera pergi ke ruang makan. Aku masih sangat lapar memang.

Kuambil wajan kecil untuk menggoreng telur mata sapi. Setelah menyelesaikan telurku, kutuangkan susu coklat ke gelasku.

“ Semarah itukah kau sampai tidak membuatkan oppamu ini sarapan? “

Aku tak mempedulikan ucapannya. Cacing di perutku sudah berdemo minta diisi.

“ Kau bahkan tak mau bicara denganku. “

Ia menarik kursi di sampingku. Bisa kulihat dari sudut mataku ia membaringkan kepalanya di atas meja makan memanyunkan bibirnya. Kupaksa diriku menahan senyum melihat tingkahnya yang kekanakan.

“ Aku akan membuatkannya untukmu. “

Ia tersenyum lebar. Senyum yang selalu bisa meruntuhkan marahku. Jinki oppa menengadahkan tangannya dengan matanya yang dikedipkan.

 “ Aku mau makananmu. “

 “ Menjijikkan. Kau bikin saja sendiri. “

Niatku membuatkannya makanan hilang begitu saja melihat sikap genitnya barusan. Apakah ia memperlakukan semua wanita seperti ini? Dasar lelaki genit. Kulihat ia menghela napas panjang kembali membaringkan kepalanya.

Tanpa pikir panjang kumasukkan roti isi telur setengah matangku ke mulutnya. Ia terdiam sebentar, lalu segera melahapnya penuh nafsu. Aku baru ingat, ia juga belum makan dari semalam.

****

^ Jinki side^

Hari ini aku kembali bersepeda dengan Eunmi. Ia memeluk pinggangku dengan sebelah tangannya. Tangan kirinya direntangkan meraih daun-daun yang tumbuh lebat. Sesekali aku melihat kebelakang, menikmati senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Kuhela napas panjang. Tak bisa kupingkiri, tubuh Eunmi yang makin berat membuat tenagaku terkuras.

“ Oppa capek? “

Aku menggeleng. Biar bagaimanapun aku ini pria, aku tak boleh terlihat lemah di depan wanita, meski itu adikku sendiri.

“ Oppa bohong. Oppa pasti sudah capek, sepedanya tidak bergerak dari tadi. “

Kurasakan Eunmi melepaskan pelukannya lalu melompat. Ia menahan tanganku membuatku menghentikan kayuhan sepedaku.

“ Apa saja yang kau makan sampai beratmu hampir melebihi ibu-ibu hamil. “

“ Sangtae oppa! Memang pernah kau membonceng ibu hamil?! “

Eunmi menghentakkan kakinya, kebiasaannya jika ia marah padaku.  Ia berdiri membelakangiku, melipat kedua tangannya di depan perutnya.

****

^Author side^

 “  Apa marah menjadi hobi barumu? “

Senyum manis mengembang di bibir Eunmi, membuat wajah Jinki terasa memanas.

“ Oppa, kau sakit? Kenapa wajahmu merah begitu? “

Jinki tak bergeming. Ia masih menatap wajah Eunmi lama. Pandangan yang sulit diartikan bagi Eunmi. Berkali-kali Eunmi memanggil oppanya, tapi Jinki tetap diam. Tapi belaian tangan Jinki di pipi Eunmi membuat gadis itu bergidik ngeri. Dalam sepersekian detik, bibir Jinki telah bersatu dengan bibir Eunmi.

Eunmi diam. Sempat ia memejamkan matanya, merasakan sensasi dari ciuman Jinki yang makin lama makin dalam dan bahkan sempat membalasnya. Baru saja ia menautkan lidahnya dengan oppanya, kesadaran Eunmi cepat kembali. Eunmi mendorong tubuhnya ke belakang dengan cepat, membuat Jinki jatuh terduduk. Mereka, Eunmi dan Jinki, hanya saling memandang dengan mata yang membulat.

“ Mian. “

Hanya itu yang mampu diucapkan Jinki, meski dengan suara yang berat menahan perasaannya yang berkecamuk. Jinki segera bangkit, mengarahkan Eunmi naik ke sepedanya.

****

Malam yang sangat sepi. Malam-malam yang biasanya dihabiskan Eunmi dan Jinki *bahasanya wiiih* untuk saling bercanda, kini sudah tak ada lagi. Eunmi lebih banyak diam di kamarnya. Lebih banyak merenungi perlakuan oppa nya beberapa hari yang lalu. Jinki sendiri? Ia lebih sering keluar dari rumah, sekedar untuk menahan perasaannya yang memuncak saat ia melihat Eunmi. Takut akan berbuat hal-hal mengerikan nan terkutuk pada dongsaengnya.

“ Jinki ya… “

Seorang namja dengan postur tubuh yang lebih pendek, menepuk punggung Jinki. Jinki berbalik sebentar, lalu melepas tangan Jonghyun dari bahunya dengan kasar. Pendar cahaya yang berkedip tak beraturan ditambah dua botol gin yang diminumnya membuat Jinki sedikit pusing.

“ Kau menghilang begitu saja. Darimana saja kau selama ini? “

Jinki tak menggubris pertanyaan Jonghyun. Kembali ia meneguk gin langsung dari botolnya. Merasa  diacuhkan, Jonghyun merebut botol gin dari genggaman Jinki.

“ Jinki yaa. “

“ Diam! “

Jinki membentak Jonghyun, tapi yang dibentak cuek bebek. Jonghyun membelakangi Jinki, menikmati hentakan musik keras dari sang DJ. Matanya mengelilingi lantai dansa dengan liar, hingga ia akhirnya bertukar pandang dengan seorang yeoja dengan pakaian super mini. Jonghyun melambaikan tangannya pelan pada yeoja itu, membuat si yeoja segera menghampirinya.

“ Wah disini ada Jinki oppa. “

Jinki menatap tanpa ekspresi pada yeoja di depan Jonghyun, sahabat satu-satunya. Pakaian super ketat yang memperlihatkan kemolekan tubuh yeoja itu, rok super mini yang lebih cocok dipakai anak gadis 5 tahun *haha authornya lebe*. Tapi tak cukup mengundang perhatian Jinki, pikirannya hanya dipenuhi Eunmi seorang.

Yeoja itu melototkan matanya pada Jonghyun, saat namja itu memainkan rambut Kira. Jonghyun mendelik saat Kira menempelkan tubuhnya ke punggung Jinki. Tak seperti biasanya, Jinki tetap diam sambil menenggak gin botol ke limanya. Jonghyun sampai keheranan, sahabatnya ini benar-benar gila menghabiskan tiga botol gin dalam waktu yang sangat singkat.

Jinki mulai mengoceh. Jelas sekali ia sudah mabuk berat. Kira sendiri hanya tersenyum puas, setelah membuat Jinki menghabiskan botol ke delapannya. Jonghyun sudah pergi meninggalkan mereka, berdansa dengan beberapa gadis yang tak kalah seksinya dari Kira. Ia sendiri sudah mabuk, meski hanya meneguk sebotol gin yang tadi direbutnya dari Jinki.

“ Oppa, kau mabuk. Mau kuantar pulang? “

Jinki sudah kehilangan kesadarannya. Ia pasrah saja saat tubuhnya ditarik keluar oleh Kira. Setelah menjelajahi seluruh kantong celana Jinki *authornya napsu sendiri pengen juga raba-raba jinki haha* Kira berhasil menemukan kunci mobil pria itu. Setelah mendudukkannya di kursi di sampingnya, Kira segera melajukan mobil porsche silver milik Jinki menembus gelapnya malam.

****

^Eunmi side^

Pukul 2 dini hari. Oppa masih belum pulang. Akhir-akhir ini oppa terlihat menghindariku. Ia bahkan tak pernah mengajakku bicara, juga tak pernah lagi makan bersamaku. Apa aku membuatnya marah dengan mendorongnya waktu itu? Dan aaah, lagi-lagi aku mengingat kejadian memalukan itu. Aaah, aku juga baru ingat kalau itu first kissku. Tanganku mengusap bibirku, sudut bibirku melengkung, membentuk senyum bahagia yang sama sekali tak kusadari.

Kueratkan jaketku menutupi badanku. Telepon Jinki oppa tak aktif, membuatku khawatir. Kuputuskan untuk duduk di ruang tamu menunggunya. Mataku terasa berat, tapi kucoba untuk bertahan.

Suara mobil yang masuk membangunkanku dari tidurku. Suara mobil oppa, aku hapal betul suara ini. Kuintip dari tirai jendela, seorang wanita berpakaian minim membopong oppa. Kubuka cepat pintu, pikiranku mulai dipenuhi hal yang tidak-tidak. Takut sesuatu terjadi pada oppa.

“ Oppa, oppa kenapa? “

Jinki oppa mengangkat kepalanya, menatapku lalu mendorongku dari depannya membuatku sedikit bergeser. Ia memeluk pinggang yeoja itu, dan saat ia berlalu di sampingku bau alkohol tercium jelas dari tubuhnya. Badanku menegang saat Jinki oppa membawa yeoja itu masuk ke dalam kamarnya.

Air mataku jatuh tak tertahankan. Desahan-desahan terdengar saat aku melewati kamar Jinki oppa. Kakiku bergetar hebat. Tapi tanganku bergerak membuka pintu oppa. Kulihat oppa sudah menindih yeoja itu, dengan kepalanya yang dibenamkan di leher yeoja itu. *sumpah aku gak kuat nulis ini!* yeoja itu melirik ke arahku tanpa menghentikan desahannya, ia bahkan mulai membuka kancing kemeja oppa satu persatu.

Air mataku makin tak terbendung, melihat tangan oppa yang kini menjelajahi seluruh tubuh yeoja itu, melepaskan seluruh bajunya hingga menyisakan pakaian dalam yeoja itu. Dengan kekuatanku yang tersisa, kulemparkan barang-barang yang terjangkau di tanganku ke arah oppa, bahkan sempat mengenai yeoja itu.

“ Nappeun namja! Babo oppa! Aku membencimu! “

Aku berteriak melampiaskan marahku. Lalu segera berlari menuju kamarku, melempar semua barang yang ada di kamarku ke seluruh arah.

Aaaaaargh! Aku kembali berteriak saat tanganku terisi pecahan cermin. Darah yang mengalir tak sebanding dengan sakit hatiku. Beginikah caramu oppa, menciumku untuk memberiku harapan palsu lalu bercinta dengan wanita lain di hadapanku? Kau jahat oppa. Kau jahat. Aku menangis lagi, menangis hingga akhirnya aku bisa tertidur.

****

^ Jinki side^

“ Nappeun namja! Babo oppa! Aku membencimu! “

Aku membuka mataku, mendengar teriakan Eunmi tadi. Kesadaranku kembali. Kulihat yeoja yang kini sudah setengah telanjang menatapku heran, ia mengelus tangannya di dadaku membuatku begidik. Aish, aku mengangkat tubuhku cepat. Aaaaaargh! Kudengar Eunmi berteriak, mengembalikan kesadaranku lagi.

“ Keluar! “

“ Kenapa kau mengusirku hah?! Kau sendiri yang melakukan ini padaku?! “

“ Kubilang keluar! “

Yeoja itu, yeoja yang bahkan tak kukenal namanya memunguti pakaiannya yang berserakan lalu memakainya. Ia sempat memberiku dua kali tamparan panas, tapi rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa bersalahku pada Eunmi.

Aku menarik rambutku dengan kasar, segera aku berlari ke kamar Eunmi. Pintunya tak terkunci, kulihat kamarnya sangat berantakan dengan pecahan kaca dimana-mana. Yah, kamar Eunmi memang dipenuhi barang-barang berkaca *gak enak banget bahasanya*.

Aku segera berlari ke arah Eunmi yang tangannya sudah dipenuhi darah. Wajahnya sembap. Kuangkat tubuhnya terlebih dahulu ke kamar kosong di sebelah kamarnya. Tak lupa kuperban tangannya setelah membersihkan tangannya dari darah. Ia terisak dalam tidurnya. Karena kebodohanku, aku membuatnya terluka begini. Kubelai rambutnya memberinya ketenangan. Tanpa sadar, aku mencium dahinya.

Kau memang babo, Jinki. Nan baboyyosesjeol.

****

^author side^

Eunmi menatap perban di tangannya. Sudah langsung ia tebak Jinki lah yang melakukannya. Air matanya kembali menetes mengingat tingkah oppanya semalam. Sakit, belum pernah sebelumnya ia merasa sesakit ini.

Eunmi beranjak ke kamarnya yang kini telah rapi kembali. Ia tersenyum miris. Bau makanan segera tercium. Jinki menghidangkan beberapa makanan di atas meja makan. Setelah menutupnya dengan tudung, ia segera pergi ke kamarnya.

Eunmi menghampiri meja makan. Dubu kimchi kesukaannya tertata rapi di atas meja makan. Ia kembali menangis. Dalam isakannya, ia memakan makanan yang telah disediakan oppanya.

Di balik pintu, Jinki mengerang pelan. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal. Frame potonya saat ia dan Eunmi berlibur ke Jeiju ditatapnya. Senyum manis Eunmi, apakah ia bisa melihatnya lagi?

****

“ Eunmi yaa! “

Eunmi berbalik ke arah sumber suara yang didengarnya. Seorang namja bertubuh tinggi tegap sedikit berjalan tergesa ke arahnya. Ia memicingkan mata, mencoba mengenali sosok tampan yang kini berdiri dengan senyum lebar di depannya.

“ Kau sudah melupakan ku? “

“ Choi Minho ? “

Minho mengangguk dengan tidak melepaskan senyumnya. Choi Minho, cinta pertama Eunmi, yang dulu Eunmi bisa melihatnya dari jauh saja kini berdiri di depannya.

****

“ Aku sudah mendengarnya. Oppamu di DO dari kampusnya dan kau harus ikut dengannya. “

Minho menyesap jus alpukat nya. Eunmi hanya mengangguk, tanpa mengalihkan perhatiannya dari hot chocolate yang hanya diaduknya sedari tadi.

“ Tapi kenapa kau bisa tau aku ada di sini? “

Minho hanya tersenyum, kembali menyesap jusnya. Mereka diam dalam waktu yang lama. Minho sendiri sibuk meredamkan detak jantungnya yang selalu berdebar tiap kali melihat Eunmi.  Dan Eunmi menatap nanar hot chocolatenya. Ia tak pernah menyukai coklat. Minuman ini adalah minuman favorit Jinki. Cukup dengan melihat hot chocolate ini saja, rasa rindu Eunmi pada oppanya berkurang sedikit.

Setelah bergulat lama dengan pikirannya, akhirnya Minho memberanikan diri menggenggam tangan Eunmi, membuat Eunmi menatap wajah Minho dengan ekspresi bingung.

“ Bogoshippo, Eunmi ya. “

Eunmi tersentak. Tidak pernah ada di pikirannya seorang Choi Minho, namja yang selalu bersikap dingin pada yeoja bisa mengatakan itu padanya. Pikiran Eunmi teralih dari Jinki. Wajahnya sedikit memerah, membuat Minho tidak bisa menahan senyumnya.

“ Nado, Minho ssi. “

“ Yaa, aku lebih tua darimu. Panggil aku oppa. “

“ Ne, Min… maksudku, oppa. “

Minho kembali tersenyum. Matanya tak lepas dari wajah Eunmi yang semain memerah. Melihat mata Eunmi yang bulat, hidung mancungnya, bibirnya yang kemerahan persis dengan bibir Jinki. Benar-benar membuat Minho gila.

****

Eunmi masih setengah tidak percaya. Ia kini sudah menjadi yeojachingu seorang Choi Minho selama delapan bulan lebih. Minho bahkan memasuki kampus yang sama dengan Jinki. Setiap hari, Minho akan bertugas sebagai supir Eunmi *haha*, mengantar jemput yeoja kesayangannya ke sekolahnya.

“ Kau mau minum apa oppa? “

“ Tak usah repot. “

“ Bilang saja kalu minumanku tak enak. “

Eunmi membanting tubuhnya ke sofa. Bibirnya dimanyun-manyunkan kesal. Minuman yang dibuatnya memang tak pernah normal. Sirup yang pertama kali dibuatnya terlalu manis, jus alpukatnya pahit. Tapi ia heran, kenapa Minho bisa menghabiskan semua minumannya tanpa berkomentar lebih lanjut.

“ Yeobo… “

Minho membaringkan kepalanya di paha Eunmi, membuat badan Eunmi sedikit menegang. Mendengar suara Minho yang tiap kali memanggilnya yeobo cukup memberikan sensasi yang luar biasa bagi Eunmi.

Saat Eunmi sedang mengelus rambut Minho, tiba-tiba Minho mengangkat tubuhnya. Ia segera membungkukkan badannya pada Jinki yang baru datang.

“ Annyonghaseyo, Choi Minho imnida. Kau sudah pulang? “

Jinki mengangguk pelan. Tentu saja ia mengenal namja yang digilai hampir seluruh siswi sma dulu. Minho juga masuk ke dalam ekskul basket yang sama dengannya. Ia juga tahu Eunmi adalah salah satu dari siswi itu, dari wajah Eunmi yang selalu memerah saat Minho menyapanya.

Jinki melirik ke arah Eunmi yang matanya tiba-tiba beralih ke arah meja. Lama ia menatap adik kesayangannya, menghilangkan rindu yang dipendamnya selama ini. Minho berdehem begitu menyadari suasana mencekam atara hubungan adik-kakak itu.

****

^Jinki side^

            Aku menghantam kaca di kamarku, membuat beberapa serpihan kaca, menempel di punggung tanganku. Aku tidak tahu berapa jumlah kaca yang kupecahkan sesudah melihat Eunmi dan Minho bermesraan. Skinship mereka, bukan kali pertama aku melihatnya begitu. Delapan bulan mereka pacaran, tak pernah sehari pun aku absen melihat Minho mengantar jemput Eunmi yang kini sudah kelas 3 SMA. Tanganku kembali mengeluarkan darah.

            Aku menangis, bukan karena rasa sakit dari pecahan kaca itu. Seluruh badanku ngilu, kepalaku ikut berdenyut keras. Praktek lapanganku benar-benar menguras tenaga. Kucabut pecahan kaca itu dari tanganku sebelum akhirnya kurebahkan tubuhku ke atas tempat tidur.

Kuangkat tubuhku, tapi tetap tak bisa. Seluruh tubuhku kaku. Belum lagi perih perutku yang makin lama makin menjadi. Kugigit bantalku menahan semua rasa sakit ini. Bahkan untuk meraih handphone ku yang berdering tak bisa kulakukan. Bisa kudengar dentuman ponselku yang jatuh hingga akhirnya yang kulihat hanya gelap.

****

^Jonghyun side^

Kusetir mobilku membabi buta ke arah Gangnam. Erangan Jinki yang kudengar dari telepon tadi membuatku benar-benar khawatir. Beberapa bulan terakhir ini, ia tak pernah absen dari PUB semalam pun. Bahkan dari praktek lapangan yang kulakukan bersamanya kemarin, ia memang sedikit pucat.

Kudobrak pintu depan rumahnya begitu saja. Meski bahuku sakit telah menghantam pintu kayu jati itu beberapa kali, tak mengurungkan niatku untuk segera berlari ke kamarnya. Betapa kagetnya aku melihat Jinki yang terbaring lemas di atas tempat tidur sudah seperti mayat hidup dengan setengah tubuhnya menjuntai ke lantai. Belum lagi tangannya yang penuh dengan darah yang mengering. Tanpa berpikir panjang, kuangkat tubuhnya yang sedikit lebih berat dariku menuju mobilku.

****

Aku terhenyak mendengar penjelasan dokter barusan. Jinki mengalami kanker hati. Lebih banyak disebabkan oleh minuman keras *author ngasal aja*. Aku menjadi sahabat Jinki saat SD. Tentu saja aku tahu Jinki akan menjadikan gin sebagai pelampiasannya  sejak ia SMP saat ia mengalami stress.

Pertama kali kulihat ia sedepresi itu, saat Eunmi adiknya tak mau berbicara padanya selama beberapa hari. Aku tahu, betapa Jinki sangat menyayangi adiknya dari apapun. Bahkan rela di DO dari kampus yang telah menjadi incarannya sejak SMP, saat ia tahu seorang mahasiswa ingin melakukan rape pada Eunmi saat adiknya itu tertidur menunggunya di hall kampus, ia langsung menghajarnya tanpa ampun.

Kulangkahkan kakiku gontai ke arah kamar Jinki, mengambil semua data yang dibutuhkan Jinki untuk operasinya nanti.

Kini kulihat Eunmi yang tengah berhadapan dengan seorang namja. Ah, aku kenal namja itu. Choi Minho, rekan sebasket Jinki dulu. Aku bisa melihat mereka berciuman. Seketika emosiku memuncak.

“ Apa begini kelakuanmu tiap hari, Eunmi ya? “

 Eunmi sedikit gugup menatapku. Ia menundukkan kepalanya, sambil merapikan rambutnya yang tadi diacak Minho.

“ Kau siapa? “

Minho memicingkan matanya, mencoba mengintimidasiku. Aku hanya menyeringai, lalu kembali melanjutkan langkahku ke arah kamar Jinki.

“ Oppa? Kenapa Jonghyun oppa membawa barang-barang Jinki oppa? “

“ Apa kau masih peduli pada oppamu? Kenapa kau tidak bersenang-senang saja dengan namjamu ini? “

 continued

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

32 thoughts on “Saranghae Nae Dongsaeng [1.2]”

  1. Ohhh,, Jadi ini part 1 nya,, kemarin yg keluar part 2 nya duluan ya????

    Aduhhh,, ampun deh,,, Jinki oppa napeeun,,, masa suka sama adeknya,,, sedarah lagii,,, wuahh,, Forbidden Love ini namanya,wkwkwkw

    Mana suka Minum-minum gitu lagi,,, Hiiiyyyy serrem,,,,

    Serru-serru ceritanya,,, :P
    Good job ya Tho!!

  2. mantep… itu kmr eunmi lantainya dr kaca jg gak? haghaghag
    Jinki mengalami kanker hati. Lebih banyak disebabkan oleh minuman keras… gak ngaco kok thor.. minum monuman keras jg bs menyebabkan kanker hati… sirosis… hihihihi

    lanjut thor… pnsrn…

  3. Ealah complicated love…
    Poor Jinki, patah hati ampe mbuk”n gt sich mending ma aku aja yukz (plak
    Hoho NC’y kurang akh ding (reader yadong *gruk” kpla breng Jongho

  4. suka sama ceritanya…
    tapi kenapa harus Onew Oppa yang meninggal??

    #hiks…hiks…

  5. Untung Jinki aslinya anak tunggal…
    Jd gak mgkn brother complex…
    Aku kesian liat Jinki-Eunmi…
    Mrk slg suka walupn sedarah…
    tragis… tp tuh, Jinki kenker hati…
    Naas bener nasibmu dsini, yeobo….

    Aku suka FFnya, berasa feelnya…
    gak sabar baca Part 2…
    lagsung meluncur, yah…

  6. cinta k2k adek kandung??????seru banget ini cerita….parahnya mereka saling cinta…..hohohohohohoho….ini krn terlalu protect sm adek jdnya begini……benar2 keren ini cerita…..mau lanjut baca dulu…..jjang

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s