Who I Am? I Am an Eve – SPY 2

Title    : Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author    : ReeneReenePott

Maincast :
•    Key(NOT KIBUM OKAY!) <Eve>
•    Jessica <Eve>
•    Jung Yoogeun <Human>

Supporter cast : (tokoh masih bisa bertambah)
•    Hero(Kim Jaejoong) <Eve>
•    Ty(Kim Jong Hyun) <Eve>
•    Gyuri <Eve>
•    Madeleine <Elf>
•    Elias(Choi Minho) <Elf>
•    Claire <Elf>
•    Joon <Elf>
•    Kevin <Eve>
•    Tiffany <Eve>
•    Max(Shim Changmin) <Vampire>
•    G.O <Vampire>
•    Thunder <Vampire>
•    Nikky(Lee Taemin) <Vampire>
•    Chase(Lee Jinki) <Werewolf>
•    Ricky <Werewolf>
•    Minwoo <Werewolf>
•    Chansung <Werewolf>

Cameo :
•    Ashley <Wizard>
•    Oey <Dwarf>

Genre    : Fantasy, Romance, Thriller, Alternate Universe

Rating    : PG 13-15

Length    : Sequel

Backsound : Big Bang – Tell Me Good Bye, T-ARA – Cry Cry, IU – You & I, B.E.G – Cleansing Cream.

A/N : Mianhae spy ini keluarnya lama banget ><. Dan mulai sekarang, FF ini di post paling cepet tiap 2 minggu sekali, dan paling lama akan going monthly. Soalnya, ternyata setelah aku berhasil bikin plot sampe spy 4, ini FF bener-bener akan menguras pikiran karena ternyata, aku memang akan mencampur adukkan semua fantasy di sini! Dan itu perlu waktu dan feel yang pas buat bikin supaya gak mengecewakan @_@ So… happy reading deh!! ^o^

Spy 2

“Kau baru pulang, Jess? Bagaimana dosenmu?” tanya Gyuri sesampainya Jessica dari kampusnya. Jessica hanya menoleh sebentar, lalu melepaskan jaketnya dan menghempaskan dirinya di sofa.

“Dosenku hari ini menyebalkan, papernya semakin hari semakin banyak. Untung saja aku bisa menyelesaikannya,” jawabnya pelan sambil menatap ke langit-langit ruang tamu kastil itu.

“Aku heran pada Key, Jess. Ia sangat suka bila berada di dekatmu,” ujar Gyuri tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan. Jessica memejamkan matanya sejenak, lalu melirik ke arah Gyuri.

“Aku juga heran, Gyuri. Ia terkadang sangat manja padaku,”

“Noonaaaaaa~” sebuah suara menghentikan percakapan mereka berdua. Jessica sangat familier suara tersebut, ia menoleh dan tersenyum menyambut Eve kecil yang tengah berjalan cepat ke arahnya dengan anggun.

“Aigoo, Key, bagaimana keadaanmu?” tanya Jessica sambil berlutut di lantai dan terus memandang Key yang tersenyum.

“Hari ini aku memberi makan Pegasus. Noona bilang unicorn tidak suka dengan anak laki-laki, jadi aku minta tolong umma,” ceritanya semangat. Jessica memandangnya semakin dalam, dan senyumnya memudar seketika.

“Noona… Noona harus ke kamar dulu ya,” kata Jessica cepat lalu melewati Key kecil dan Gyuri yang memasang wajah bingung.

Jessica melangkah masuk ke dalam kamarnya dan duduk di ranjangnya. Pikirannya melayang kemana-mana, ketika ia mencoba meneliti wajah Key dengan seseorang. Ada kesamaan… Ya, ada kesamaan di antara mereka. Mengapa ini bisa terjadi?

__

Jessica merapatkan tubuhnya, sambil memandang ke sekelilingnya. Kini ia sedang berada di sebuah halte bis, dimana ia dan Yoogeun pernah berpisah sewaktu menuju ke rumah masing-masing.

Ia telah banyak berpikir, dan ia memang harus banyak berpikir. Berbagai macam hal memang harus dipertimbangkannya agar semuanya kembali berjalan normal.

“Menunggu lama?” sebuah suara menyapa dari balik punggung Jessica. Mengenali suara itu, Jessica berbalik dan tesenyum.

“Tidak juga,” jawabnya santai. Yoogeun menyamai posisinya hingga sejajar dengan Jessica, lalu menoleh menatapnya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya tiba-tiba yang membuat Jessica menoleh heran sambil tertawa.

“Tentu saja, aku akan selalu baik-baik saja. Kau?” tanya Jessica balik. Kali ini Yoogeun menunduk, dan mengusapkan tangannya ke tengkuknya.

“Sejujurnya, aku buruk,” balasnya pelan. Raut wajah Jessica berubah seketika.

“Wae?” ucapnya hati-hati. Yoogeun menoleh kepadanya sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

“Aku… Bermimpi. Tentang kau,” ujarnya jujur. Jessica terkesiap, tubuhnya menegang. Namun Yoogeun tidak menyadarinya, justru melanjutkan kalimatnya,”Dan aku takut sekali,”

“Itu hanya mimpi,” tanggapan Jessica membuat Yoogeun menoleh ke arahnya, memasang wajah bingung. “Itu hanyalah mimpi, ya kan? Tidak mungkin menjadi kenyataan,”

Yoogeun mendengus sambil mengulum senyum kecut. “Ya, hanya mimpi,” argumennya setuju.

“Yoogeun-ah,” kata Jessica tiba-tiba setelah mereka terdiam sejenak, “Aku… Akan pergi,” lanjutnya.

“Maksudmu?” tanya Yoogeun bingung. Jessica menarik napas, lalu memalingkan padangannya dari Yoogeun.

“Aku… Akan pergi ke Paris. Meneruskan kuliahku,” tutur Jessica pelan. Yoogeun tampak terkejut, rahangnya mengeras. Namun ia berusaha untuk tetap menanggapi perkataan Jessica.

“Kapan kau berangkat?”

“Secepatnya,”

“Berapa lama?”

“Bertahun-tahun, aku tidak bisa memastikan itu,”

“Jadi ini pertemuan terakhir kita?” tanya Yoogeun pelan. Jessica menoleh menatapnya dan tesenyum.

“Kalau Tuhan mengijinkan, kita bisa bertemu lagi,” jawabnya tenang. Yoogeun menoleh dan menatap Jessica dalam.

“Mianhae,” dalam sekejap Yoogeun meraih tengkuk Jessica dan menyatukan bibir mereka. Ia menciumnya dalam dan lembut, membawa seluruh perasaannya terhadap gadis itu. Beberapa saat kemudian ia melepaskannya. “Bisa kau rasakan itu?” tanya Yoogeun lirih.

Jessica hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia bingung, haruskah ia marah, atau senang, atau sedih, atau tetawa. Jessica bingung menaggapinya, karena bibirnya seolah terkunci rapat sehingga ia hanya berdiri mematung.

“Apakah kau memiliki perasaan yang sama tehadapku?” tanya Yoogeun lagi. Jessica mengadah menatapnya, tanpa mengatakan apa-apa.

“Mianhae, Jung Yoogeun. Kuharap mulai dari hari ini, tolong kau lupakanlah aku,” akhirnya Jessica mengeluarkan suara setelah beberapa lama beradu pandang dengan Yoogeun.

__

Jessica terduduk termenung di tangga kampusnya. Kelas terakhirnya sebelum perpindahan akan dimulai 10 menit lagi, dan ia juga telah menyelasaikan tugas akhirnya.

Beberapa dosennya dengan senang hati merelakan perpindahan Jessica, karena ia temasuk mahasiswa pandai—ia seorang Eve, ingat?—dan tidak ada salahnya lebih memperdalamnya dengan lebih layak. Proses perpindahan data maupun nilai-nilainya berlangsung dengan baik, itu membuat Jessica maupun Hero—yang terlibat dibelakang—merasa sedikit lega.

Akhir-akhir ini ia memang banyak memikirkan hal-hal berat, masalah Yoogeun yang ternyata menjadi incaran seorang Eve lainnya yang entah sekarang Eve itu ada dimana, lalu masalah Key. Balita Eve itu tumbuh memang dengan sewajarnya, namun ada beberapa hal dalam dirinya yang membuat Jessica sangat terkejut.

Rahang, mata dan bibirnya menyerupai Kibum, meski yang lainnya belum terlihat. Tapi Jessica yakin, suatu saat Key akan menjadi seorang yang mirip dengan Kibum, dan itu membuatnya khawatir.

Khawatir akan jatuh cinta lagi.

Jessica tidak mengakui dirinya trauma akan jatuh cinta, namun ia berusaha menghindarinya. Cinta hanya akan membuat segalanya bertambah rumit, dan ia takut kehilangan lagi. Tidak untuk kedua kalinya.

“Sica-ah,” sapa seseorang sambil menepuk pelan bahu Jessica. Jessica menoleh tenang, lalu menatap lawan bicaranya itu.

“Ne?”

“Apakah benar kau akan pindah?” tanya temannya yang memiliki tinggi di atas rata-rata. Wajahnya ramah dengan rambut bob hitam membuat wajahnya semakin manis.

“Ne, waeyo?”

“Yah, kalau kau pindah siapa yang membantuku mengerjakan tugas?” cetusnya kalem dan sedikit kecewa. Jessica tergelak dan mengusap bahu temannya.

“Sooyoungie, kau harus bisa melakukannya tanpaku. Ne?” balasnya lembut. Sooyoung hanya merengut, lalu tersenyum dan mengangguk.

“Heuh. Memang berangkatnya kapan?” tanya Sooyoung sambil memainkan tali tasnya.

“Dua hari lagi,”

“Wah, cepat sekali…”

“Tentu saja, semakin cepat semakin baik,” balas Jessica mabil memamerkan giginya yang seputih senyum Pepsodent.

“Demi kebaikanmu, aku harap kau baik-baik saja di sana yah,” kata Sooyoung pada akhirnya. Jessica mengangguk dan

tesenyum.

“Gomawo Sooyoung-ah,”

“Ne, kkaja, sudah mulai pada masuk tuh,” ajaknya sambil mengamit lengan Jessica dan mengajaknya masuk kelas.

Flashback

“Apaya yang harus kau lakukan? Pikirkanlah sendiri,” sahut Hero tenang. “Bukannya aku tidak memperdulikanmu, Jess, tapi ini masalahmu dan kau harus mempertanggung jawabkannya sendiri,”

“Hhh… Bagaimana kalau aku…”

“Jess, sebelum kau membuat keputusan sebaiknya kau mempikiran cara dan dampak panjangnya dulu,” potong Hero sekaligus koreksinya. Ia menemukan sesuatu yang aneh dalam pikiran Jessica.

Ya, Jessica baru saja memikirkan bahwa ia akan cepat-cepat memangsa Yoogeun. Dan Hero kurang setuju, karena Yoogeun belum menerima upahnya karena telah menyukai Jessica. Yah, walaupun ia tahu Jessica tidak menyukainya, tetap saja menurut Hero itu ide yang kurang bijaksana.

“Lalu aku harus melakukan apa? Apakah aku hanya menjalaninya seperti manusia? Membiarkan Yoogeun terus memelihara perasaan itu tanpa memangsanya? Bisa-bisa aku tidak mendapatkan mangsa lagi sampai akhir hidupnya!” seru Jessica, nyaring dan sinis.

“Kau mau dengan pasti akan memangsanya? Kau tahu, ‘memangsa’ berarti harus menyiksanya sedikit baru memakan jantungnya. Kalau langsung diambil jantungnya, akan susah karena pasti ia akan memberontak dulu,” perkataan Hero membuat Jessica tercenung.

“A… Aku…” kata-katanya terhenti, bahkan Hero bingung dengan pikiran Jessica yang dengan leluasa dibacanya. “Aku bingung. Aku mulai menyayanginya menganggapnya seperti adikku sendiri, tapi dia…” kata-katanya terputus lagi, seolah bingung bagaimana merangkai kata yang pas dengan maksudnya. “Aku harus bagaimana?”

“Kita lihat saja nanti. Yang pasti, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memangsanya. Kalau kau mau memangsanya, musnahkan perasaannya terlebih dahulu,”

“Kau gila Hero! Apakah aku harus membuat Dewi Arphodite untuk mengambil anugerahnya dari Yoogeun, hah?” cecarnya pelan, “Atau haruskah aku menyiksanya seperi yang kau lakukan dengan Kibum, hah?” Jessica berjengit sendiri ketika nama itu terucap secara spontan dari bibirnya.

“Dan dewa-dewi itu berbeda dunia dengan kita,”

“Aish… Bisa kah kau untuk tidak main-main? Dulu kau begitu tegas dan galak, kenapa sepertinya sekarang kau begitu santai ya?” omel Jessica bingung. Hero hanya mengangkat alisnya tinggi.

“Apa maksudmu aku keras dan galak? Aku sama seperti Eve lainnya, fleksibel…” sahutnya sambil memainkan intonasi di dalam suaranya, membuat Jessica memutarkan kedua matanya.

“Benar-benar deh…”

“Tapi… Yang kutahu, Aphrodite memang turun tangan soal takdirmu,” kata Hero tiba-tiba yang membuat Jessica tecengang. Namun sedetik kemudian tatapannya kembali datar.

“Ia sudah melibatkan diri sejak aku menemukan mangsa pertamaku,” desis Jessica pelan.

“Ah ya…” Hero serasa diingatkan kembali dengan kejadian beberapa bulan lalu, yang membuatnya harus melumpuhkan Jessica agar semuanya berjalan sesuai takdir. Sebuah senyuman samar terlukis di bibirnya.

“Apakah aku harus pindah?” kata Jessica tiba-tiba, membuat Hero menoleh kepadanya dan merenyit heran.

“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti. Ya, ia memang sempat–lebih tepatnya, hampir–membaca pikiran Jessica sebelum Eve itu menyatakannya sepersekian detik ketika rencana itu hinggap di kepalanya.

“Pindah, menyingkir dari lingkungan ini,” jelas Jessica dengan senyum sumringah. Hero memiringkan kepalanya ketika beberapa rencana disusun Jessica di dalam pikirannya.

“Meneruskan kuliah disana? Untuk menghindari Yoogeun dan Key?–tunggu!! Kau pikir si Key??” Hero menggantungkan kalimatnya begitu Jessica berusaha menutup pikirannya dengan tidak memikirkan apapun.

“Ck, itulah ideku. Memang aneh, ya, tapi bagaimana menurutmu?” sahut Jessica datar sambil mengangkat dagunya. Hero nampak berpikir sejenak, lalu menatap Jessica tajam sementara pikirannya mencoba membaca pikiran Jessica.

“Kalau itu idemu, yah, kurasa itu lebih baik daripada yang pertama,” komentar Hero singkat, “Dan kurasa kau harus menyingkir sejauh mungkin. Eropa, misalnya?”

“Aku bisa mengambil perpindahan pelajar, kan?” jawabnya cuek. Hero kembali memikirkan pikiran Jessica yang beberapa waktu lalu membuatnya sangat terkejut.

“Kau pikir Key mirip dengan Kibum, eoh?” cetusnya spontan. Jessica menegakkan punggungnya, dan memandang datar Hero.

“Ya,” jawabnya yakin dan menatap mata Hero. Hero memandangnya dalam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Aku tahu suatu saat kau akan bilang begitu,” katanya pelan. “Aku sempat merasa Key itu mirip dengan seseorang, dan…”

“Seseorang itu tenyata Kibum,” lanjut Jessica. Hero mengangguk lalu menautkan jari-jarinya.

“Kau benar-benar akan pergi?” tanya Hero lagi yang di sambut anggukan dari Jessica. “Baiklah, kau mungkin bisa ke tempat temanku. Ada dua Eve dan tiga vampir, serta seorang Elf di perkumpulan itu. Mereka tinggal di Paris,” lanjut Hero yang membuat Jessica mendelik.

“Vampir? Astaga…”

“Vampir butuhnya darah manusia, bukan darah kita. Itu tidak akan berpengaruh,” sahut Hero ketika terlintas kekhawatiran di pikiran Jessica.

“Ck, lama-lama aku benci itu,”

“Apa?”

“Kemampuanmu membaca pikiran!” sembur Jessica. Hero mengembangkan cengirannya, lalu melangkah menuju kamarnya.

“Kurasa itulah kesepakatan kita. Kau tinggal mencari universitas di Paris dan mengurus perpindahan pelajarmu,” katanya sambil berbalik dan menoleh menatap Jessica. “Dan kau harus berburu selama di sana,”

Flashback End

“Pertama Madeleine, sekarang kau, hah kastil ini akan kosong melompong lama-lama,” dumel Elias kesal sambil meneguk air putihnya. Jessica meliriknya sejenak lalu memainkan jari-jarinya.

“Memangnya kenapa, eoh?? Kau takut kesepian?” balas Jessica ringan. Elias mengerucutkan bibirnya.

“Tidak juga,”

“Atau kau merindukannya? Hah, aku sudah menduga kau mulai memiliki perasaan tehadapnya,” sembur Jessica yang membuat Elias mendelik dan menoleh menatapnya cepat.

“Heii…”

“Aku sudah menduganya dari sikapmu itu, sudahlah kau itu terus terang saja padanya,” sahut Jessica lagi. Elias menerawang, pikirannya melayang entah kemana.

“Kalau ternyata jawabannya tidak seperti yang kuingkinkan?”

“Kau ini, kenapa langsung pesimis heuh? Sudahlah coba dulu,”

“Hahh… Memikirkannya seperti memikirkan ibuku,” gumamnya sambil mendesah pelan. Jessica merenyitkan keningnya.

“Hah? Memang ia mirip ibumu?”

“Bukan itu, maksudku, kalau memikirkannya aku tidak bisa berhenti merindukannya, seperti orang gila, sama kalau aku memikirkan ibuku,”

“Ia berlatih selama… 6 bulan hingga setahun?” sergah Jessica. Elias mendongak menatapnya, lalu mengangguk.

“Kalau saja aku bisa melatihnya,” desahnya sambil menerawang. Jessica meliriknya sinis.

“Kau tidak diberi kewenangan untuk itu,” cercanya. Tiba-tiba ekor mata Jessica menangkap sesosok tubuh kecil berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam dihujamkan kepada Elias.

“Ck,”

“Eh, Key?” sapa Jessica pada Key yang menyenderkan diri di ambang pintu. Key hanya meliriknya, lalu menatap Elias tajam lagi. “Wae?”

“Aniyo,” jawabnya singkat lalu ikut duduk di samping Jessica. “Noona, kau tidak pergi bersama umma?”

“Ani, noona mau istirahat di kastil,” sahut Jessica sambil berpikir. Sejak kapan Eve butuh istirahat? Kekuatan mereka dapat dipakai kapan saja tanpa kelelahan, kecuali pertarungan antara sesama Eve.

“Noona temani Key main kalau begitu,” cetus Key semangat. Jessica mendesah, lalu menatap Key dalam. Key juga ikut menatap Jessica dengan bingung.

“Key, kalau noona pergi, bagaimana?” tanya Jessica tenang.

“Noona mau kemana?”

“Noona harus ke Paris, dalam waktu yang lama,” jelas Jessica yang membuat Key terdiam. Dalam pikirannya, ia mengerti bahwa waktu yang lama menandakan bisa bertahun-tahun.

“Untuk apa?” tanya Key pelan. Jessica menatapnya dengan kening berkerut. Key jelas menunjukkan ekspresi tidak suka, tapi ia sama sekali tidak marah. Kenapa emosinya begitu terkontrol?

“Noona…” Jessica menghentikan ucapannya lalu menoleh menatap Elias. “Noona… Harus meneruskan kuliah disana,”

“Baiklah. Lakukan sesukamu, noona,” sahut Key singkat lalu berjalan kembali ke kamarnya.

“Waw, aku belum pernah menemui Eve yang emosinya seterkontrol itu,” ujar Elias sambil mengangkat bahunya. Jessica menatapnya lalu kembali menjatuhkan pandangannya ke atas meja di depannya.

“Ia mulai berkembang kepribadiannya,” sergah Jessica pelan.

“Oh,”

“Jadi, Elias, kusarankan untuk cepat-cepat menyatakan perasaan padanya atau…” Jessica berpikir sejenak, memilah berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

“Atau apa?”

“Atau Joon akan mendapatkannya,” balas Jessica asal yang membuat Elias mendelik.

“APA?”

__

“Baiklah Hero, aku mengerti. Memang aneh menerima seorang Eve perempuan lagi, tapi, baiklah. Tak usah khawatir,”

“Tolong ya, Kevin. Ini memang aneh tapi aku sungguh meminta bantuanmu. Ia Eve terlatih, kau bisa mengajaknya berburu bersama. Tapi…” Hero ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Pendengar di seberang menghela napas.

“Apakah ada masalah dengan keadaan kejiwaannya?”

“Tidak. Hanya saja… Sayapnya…”

“Menjadi sayap kelelawar. Aku bisa mengerti itu. Tiffany juga sama, sayapnya juga sudah berubah karena… Dia menerima lamaran mangsanya,”

“APA?? Itu… Itu konyol,”

“Kalau saling mencintai, itu sama sekali tidak konyol. Aku memang kurang cepat.” sesal suara di seberang.

“Itu sudah berlalu, Kev. Yang penting kau akan mendapat tambahan satu Eve dua hari lagi. Semoga ia tidak merepotkan,”

“Tidak akan merepotkan. Tenang saja,”

“Baiklah, sampai jumpa,”

“Sampai jumpa,” klik, telepon tertutup.

__

Ekor mata Yoogeun menangkap sesosok siluet ramping yang baru saja keluar dari toko buku. Ia menghentikan langkahnya, dan terus menatap sosok yang memunggunginya itu. Ia sangat yakin dengan rambut blonde bergelombang itu, ia juga sangat yangkin dengan postur tubuh itu. Ya, tidak salah lagi.

“Jessica, chamkkaman!!!!” seru Yoogeun sambil berusaha mengejar Jessica yang melangkah menjauh dengan cepat.

“Jessica!! Kita harus bicara!!” Jessica akhirnya mengalah memperlambat jalannya sehingga Yoogeun dapat mencengkeram tangannya.

“Bicara saja, aku tidak punya waktu,” sahut Jessica dingin.

“Kau kenapa sih?? Kau membuatku bingung!! Awalnya kau begitu ramah dan baik padaku. Kenapa sekarang kau dingin dan ketus begini hah?? KENAPA!?!?!” sembur Yoogeun dan langsung membuat Jessica tediam.

“Kau… Kau… Tak pantas mengetahuinya, Yoogeun. Lebih baik kau lupakan aku,” jawab Jessica sekenanya.

“Bagaimana bisa kau mengatakan itu hah!!??? Kau membuatku bingung Jessica!!! Kau mempermainkanku!!!” teriak Yoogeun lagi, membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh penasaran.

“Karena itu, lupakan aku!!” bentak Jessica yang membuat Yoogeun tediam.

“TAPI AKU  TAK  BISA  MELUPAKANMU!!!!!” seru Yoogeun sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica dan menatapnya tajam.

“Aku mohon lupakan aku. Itu lebih baik dari pada apapun,” sahut Jessica tenang dan menatap Yoogeun dalam.

“Bagaimana??” sembur Yoogeun keras. “Bagaimana caranya??”

“Aku yakin kau akan berusaha,” sahutnya pelan. Ia menyentakkan tangannya agar terlepas dari cengkeraman Yoogeun dan kembali berbalik dan melangkah cepat.

Yoogeun menatap punggung Jessica tajam dengan tangan yang terkepal erat. Seluruh emosinya bergemuruh di dalam dadanya, penuh dengan pertanyaan dan kemarahan yang memuncak.

__

I’m Lucky i’m in love with my best friend…

Lucky to have been where I have been…

Lucky to be come in home again…

Ohh…. Ooooohh….

Suasana di cafe itu sangat tenang, dengan aksen perpaduan berbagai macam warna cokelat membuat suasana terasa hangat. Sinar matahari yang menembus kaca-kaca besarnya membuat ruangan di cafe itu tidak memerlukan lampu lagi sebagai penerangan. Aroma lily of valley yang lembut memenuhi ruangan itu, sedangkan musik-musik country mengalun pelan, memanjakan gendang telinga serta membuat para pelanggan merasa rileks. Benar-benar tempat yang cocok untuk menenangkan diri.

Sebuah laptop Apple berwarna silver terbuka di atas sebuah meja, di samping secangkir kopi pahit dengan Website yang masih terbuka. Namja imut yang terduduk di depannya menatap kosong ke layar laptop itu sambil melipat tangannya di depan dada.

Sekejap kemudian, ia mengetikkan sebuah kata kunci ketika tampilan search Google muncul di depannya. ‘Unversitas Paris’ hanya itu kata kunci yang ada di pikirannya saat ini. Ia menekan tombol enter dan banyak hasil yang keluar (ya iyalah). Dan ketika ia semakin melihat ke bawah yang hasilnya makin ngawur, matanya menangkap tulisan ‘Vampir’ dibawah judul link. Ia mengkliknya, sehingga jendela web baru terbuka.

Ia tidak suka membaca hal seperti ini, apalagi mahkluk-mahkluk seperti itu hanya mitos, kan? Tidak nyata? Untuk apa ia memperdulikannya? Tapi karena penasaran juga, ia membaca situs itu.

Matanya membulat begitu membaca apa yang tertulis di website itu. Mulutnya menganga sementara otaknya berpikir keras apakah ini hanya bualan atau memang benar-benar ada. Sangat logis sekali, pikir Yoogeun. Ia mengarahkan kursornya ke bawah, dan mengklik salah satu sumber lainnya.
Eve.

__

“Hai, Jessica,” sapa Hero begitu Jessica melangkah keluar dari kamarnya.

“Ya?”

“Tiket pesawatmu sudah kau pegang?”

“Ya, tadi Gyuri yang memberikannya padaku,” jawab Jessica tenang. “Err.. Hero, kenapa aku harus menggunakan pesawat? Bukankah berlari lebih efektif?” tanyanya lagi. Hero menatapnya dan tesenyum.

“Agar kau telihat ‘normal’,” sahut Hero singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju taman, meninggalkan Jessica yang tengah menautkan alisnya.

Sambil menghembuskan napas, Jessica mengangkat bahunya lalu mulai menggerakkan kakinya ke hutan belakang, ingin menenangkan pikirannya yang benar-benar kelelahan.

Langkahnya perlahan menelusuri koridor tua kastil itu, lalu ke depan gerbang besar yang akan membawanya ke luar kastil, dimana Madeleine pernah mengajaknya dulu. Ia tidak bisa menggunakan sihir, memang, tapi tenyata gerbang itu tidak di kunci, jadi Jessica hanya mendorong salah satu daun pintunya hingga terbuka lebar.

Ia mendesah pelan begitu angin semilir mengenai tubuhnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya, hanya saja kali ini ia menghentikannya di padang rumput sempit itu. Sambil memilih tempat dimana bunga-bunga tumbuh, lalu ia duduk sambil memeluk kedua lututnya. Pandangannya kosong, entah kemana.

Tiba-tiba sebuah cahaya putih tertangkap indra penglihatannya. Ia agak ragu dengan itu, namun ia yakin bahwa cahaya itu menyerupai sesosok yang pernah dikenalnya. Ya, karena ia merasa familier dengan siluet itu.

Jessica menyipitkan matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Siluet itu menoleh menatapnya, sebuah senyuman muncul di bibirnya. Wajahnya terlihat sangat jelas sekarang. Jessica membulatkan matanya dan berdiri.

“Kibum…” gumam Jessica ketika siluet itu mendekat padanya. Hanya 3 langkah. Setelah itu ia berbalik pergi.”Kibum!! Tunggu!” seru Jessica dan ikut menyusulnya memasuki hutan. Siluet itu makin cepat berjalan, dan tiba-tiba menghilang.

Tidak, tidak mungkin kalau itu sebuah ilusi. Jessica yakin ia benar-benar melihatnya, sebelum menghilang entah kemana di dalam hutan. Dengan sedikit kecewa, Jessica kembali menuju padang rumput dan kembali duduk memeluk lutut.

“Aku merindukanmu, Kibum,” katanya pelan.

__

Yoogeun terbaring di atas ranjangnya. Raut wajahnya menunjukkan betapa frustasi dirinya. Ia berharap, sangat berharap. Itu bukan kenyataan. Karena kenyataan itu lebih pahit dirasanya, dan sungguh, ia tak mau itu. Pandangannya jauh menerawang ke langit-langit kamarnya, ingin mengosongkan pikirannya sejenak dari semua kenyataan yang ternyata membuatnya semakin kalut.

“Aku tidak percaya ini,” desahnya kesal sambil mengacak rambutnya. Ia mengubah posisinya dari berbaring menjadi terduduk, sambil menautkan jari-jarinya.

“Dia membohongiku…” ujarnya lagi. “Apa artinya aku di matanya? Hewan rendahan kah?”

Ia kembali mendengus marah dan kembali berbaring. Jujur, ia kecewa. Ia memang tidak seratus persen percaya pada bualan aneh yang ditulis di website itu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya 50 persen percaya dengan artikel itu.

Bila dipikir secara logika, menurut Yoogeun semuanya masuk akal. Satu, cara berjalan Jessica. Yoogeun menyukainya. Anggun dan luwes. Lalu cara Jessica menanggapi amarahnya. Ia sangat tenang. Dan wajahnya, yah, ia sangat cantik. Semua mahkluk sialan itu–yang ditulis dalam artikel itu–memiliki wajah kalau tidak sangat cantik berarti sangat tampan. Lalu mimpinya. Itulah kunci yang akhirnya membuatnya sedikit tidak-sadar menjadi setengah percaya terhadap mitos itu.

Dan di ambang kebingungannya, hanya satu pertanyaannya, yang ia yakini akan menjadi kunci semua jawaban. Apakah Jessica adalah seorang Eve?

__

Orang-orang berlalu-lalang dengan tatapan yang fokus dan terkendali, memenuhi gate salah satu penerbangan internasional di Incheon International Airport. Namun beberapa sosok tubuh tinggi tampak santai, cenderung kalem dengan situasi seperti itu.

Kini Jessica sudah siap. Ia mengenakan jins, tank top putih dan jaket biru, serta rambut blonde panjangnya sudah diikat rapi. Sebuah tas kecil terselempang di punggungnya, sementara salah satu tangannya memegang kerekan(??) koper besar bermerek Louis Vuitton. Sepasang stiletto berwarna biru tua menyempurnakan kaki jenjangnya.

“Kau sudah siap?” tanya Hero yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Jessica menghembuskan napas.

“Tentu saja, sudah berapa kali aku naik pesawat,” sahutnya kalem. Ia mengecek tiketnya, dan mencocokkannya ke jadwal penerbangan internasional yang terpampang di depannya.

“Take care,” ucap Elias ketika Jessica hendak berbalik memasuki gate penerbangannya.

“Always,” balas Jessica yakin sambil tersenyum. Tiba-tiba dentang bel pertanda pesawat sudah mulai ‘open gate’ berbunyi. Jessica menghembuskan napasnya sejenak lalu menatap Elias dan Hero bergantian. “Aku pergi,”

“Ya… Hati-hati dengan Max,” sahut Hero sambil melambaikan tangannya cuek, membuat Jessica menghentikan langkahnya.

“Apa?”

“Hahahaha… Tidak kok, sudah sana pergi, nanti kau ketinggalan pesawat,” katanya lagi sambil mendorong punggung Jessica. Jessica melengos sebal.

“Ck, bye…”

__

Knock

Kncok

Cklek…

“Bonjour…” sebuah suara menyapa Jessica setelah beberapa detik ia mengetuk pintu sebuah rumah besar, hampir sama dengan kastil kecill tuanya di Korea, dengan nuansa klasik yang lebih kental. Jessica memasang senyum manisnya ketika seseorang munsul dari balik pintu.

“Bonjour,” balas Jessica tenang. Mahkluk di depannya tersenyum, manis sekali, pikir Jessica.

“Kau pasti Jessica,” sahutnya. Jessica mengangguk dan tersenyum. “Ayo masuk. Semua sudah menunggumu,”

“Terimakasih,”

“Sudahlah, tidak usah sungkan,” sahutnya ceria. “Oh ya, aku Tiffany. Senang bertemu denganmu,”

“Senang juga berkenalan denganmu,” balas Jessica tenang. Ia melangkah masuk mengikuti Tiffany, menuju ke sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang tamu, atau semacamnya.

“Selamat datang, Jessica,” sesosok mahkluk pria tersenyum padanya. Rambutnya pirang agak keputihan, dan senyumnya menawan. Dia Eve, sepertinya, pikir Jessica.

“Terimakasih,”

“Aku Kevin, yah, tingkatanku sama seperti Hero. Ini Max, Thunder, dan G.O. Mereka vampire,” jelas Eve bernama Kevin itu sambil menunjuk mahkluk yang sedang duduk di sofa, bersender di dinding, dan seorang lagi yang melambaikan tangannya. Jessica tersenyum tipis menanggapinya. “Dan masih ada satu Elf lagi, namanya adalah Pearl, namun ia harus pergi dalam beberapa hari,”

“Bonjour, aku Jessica, senang berkenalan dengan kalian,”

“Akhirnya ada seorang wanita lagi, bukankah begitu, Max?” tanya vampire yang seingat Jessica bernama G.O dengan seringaian lebar.

“Hey, tidak usah tegang begitu, kami jinak kok,” sahut Thunder yang di sambut jitakan dari Tiffany.

“Hush, kalian ini suka sekali menggoda wanita. Untung saja aku sudah kebal,”

“Kan dirimu sudah profesional, Tiff, hahahaha…” balas Max dengan tawa nyaring. Jessica hanya meringis mendapati suasanya baru yang sedikit ‘ngehebring’ itu.

“Lah, bukankah Tiff sudah berperan sebagai ibu di sini?” lanjut Kevin usil. Tiffany semakin mendelik.

“Hahaha… Wajahmu lucu Tiff,” sahut Thunder sambil memegangi perutnya yang mulai sakit karena tertawa.

“Ck, Jessica, aku antarkan kau ke kamarmu,” kata Tiffany sambil mengajak Jessica ke salah satu ruangan, meninggalkan keempat pria yang saling bercanda satu sama lain. “Kuharap kau suka ini ya…”

Tiffany membuka pintu sebuah ruangan dengan pelan. Ia memasukkan koper Jessica, dan membiarkan Jessica untuk melihat-lihat kamarnya. Kamar itu sangat nyaman, dengan warna nuansa coklat muda dan lampu tidur yang agak redup, membuat Jessica merasakan ketenangan di situ.

“Terimakasih Tiff,”

“Wah, kau mulai memanggilku Tiff,”

“Yang lain memanggilmu seperti itu,” balas Jessica yang membuat Tiffany mengibaskan tangannya.

“Baiklah, terserah kau. Kuharap kau suka dengan ruangan ini, oke?”

“Tentu saja. Aku malah sangat menyukainya,” jawabnya sumeringah. Tiffany tersenyum.

“Istirahatlah, oke?”

“Sekali lagi, terimakasih,”

To Be Continued…

Ottheyo? Aku hanya berharap kalian nyambung dengan ceritanya hueeee TT.TT  Spy ini kurasa bener-bener GATOT dan sangat membosankan. Dan untuk selanjutnya, beberapa cast yang ada di Twilight dan Harry Potter akan kupakai sebagian. But, who are they? It’s still a secret!!

Mianhae for typo, alur gaje dan ketidaknyambungan. Gomawoo yang udah baca. Komen, kritik dan saran aku terima dengan tangan terbuka!!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

26 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 2

  1. Akhirnyaaaaaa, Keluar Jugaaa,, Ini dia FF fantasy yang aku tungguuu,,hehehe

    Yah biarpun Hewan Fantasynya yg Keluar cuma Pegasus sama Unicorn tp GPP,, Part ini lebih Ke penjelasan ttg ‘sesuatu’,,hehehe

    Jadi,, Yoogeun udd tahu klo Jess itu Eve,, uhh cara tahunya bener-bener Bella banget,, gara-gara mimpi sama baca website (yg novel version loh ya)hehehe

    Key semakin mirip Kibum,, jadi Jess masih belum bisa lupa sama Kibum,, ohh,, poor Jess,,hahaha

    G.O. Thunder,, huwaaaahhhh,,, nunggu Onew sama Taem Taem kapan muncul reen?? Masih lama kah???hehe

    ayo semangat reen,, mau dua minggu atau satu bulan,, aku pasti nunggu kok,, wait for twilight N Harpot cast-nya,,, :P

    • hehehe.. tenang say… masih buanyak yang belom keluar.. hehehehe….
      Iyah, aku pikir kenapa gak lewat inet aja, toh bella juga begunu #plakkk XDD
      Onew ama Taem.. NEXT PART MUNCUNYA YEY!!! #plakkgubrakkk

      Tenang, tapi maap yah.. mungkin agak sedikit kurang hari harapan hehehe…
      gomawoooo.. *hug* XDD

  2. tiara_jinki says:

    wuih.
    daebak author :D
    four thumbs for u :)
    huah….kira2 gmna yah klnjutannya yah?
    Yoogeun mulai mencium ada yg tdk beres pada Jessica.
    ngambil cast dari twilight sama harry potter?
    edward cullen? jacob? voldemort? atau siapa?
    ahh… aku penasran bgt XD
    di tnggu klnjutnnya thor! ^^

    • Hehehe.. itu rahasia.. XDDD
      Yepp.. dan semakin hari… Jess semakin jauh dari dia muehehehehe #plakkk
      Yepp.. tapi aku gak ngambil main castnya. cuma minor cast doang. aku kasih clue deh.
      twilight : yang disebut sebagai vampir bangsawan. siapa mereka??
      harpott : kru yang melaksanakan KBM di Hogwarts. huahahahaha.. buanyak banget ini mah XDD

      sippp…. gomawo yah!!!! XDD

    • well, sebenernya soal poster itu aku lagi mesen.. ==” tapi memang antrinya lama, jadi.. sebagai gantinya aku kasih trailernya yah di nextspy?? okee??
      gomawoooooo… XDD

  3. min2me says:

    lagi tenang-tenang baca….
    ada kalimat ‘senyum pepsodent’…
    *ketawa…
    baca lagi…
    ada kalimat ‘menarik kerekan’…
    *ketawa lagi….
    ada-ada aja pilihan kalimatnya…
    hehheehehe…

    ngga sabar ngeliat key makin mirip kibum!!
    tpi, rada susah ngebayangin yoogeun gede…
    q malah reflek ngebayangin minho…
    lha entar mukanya kayak elias dong?
    hehehehe…

    ditunggu lanjutannya!!

  4. akhirnya ini FF yang paling kutunggu keluar^^
    walaupun agak ga ngerti.. hhe

    keren bgt nih..
    kali2 bikin FF KeySica lagi ya,,
    lagi demam KeySica Shipper nih!! hhaa #plakk.. abaikan..

    daebak ya^^ lanjutannya jangan lama2..

  5. qL^^ says:

    reeen, aku nunggu2 ini udah lama bangeeet.
    sangat seruuuu.

    akhirnya jess ngerasa ada sesuatu ya sama key? bahkan hero juga? tapi karena mereka sama2 eve, hero-nya gak apa2 ya?
    itu ituu, enak banget jess tinggalnya bareng anak2 mblaq, huhu

    euum, kira2 bkal ada veela gak ya di part depan? hehe
    i’lll wait for next part!!
    fighting reen :)

    • emang lama banget ini mah.. sampe jamuran di hape *upsss*
      yeppp…… heronya sih gak papa, dia ga mau campur tangan lagi, huehehehe #plakkk
      enak banget malah, hueheheheheehehe..
      Veela??? well, KAU MEMEBERIKAN INSPIRASI BUATKU!! hehehehehe….
      sipp..
      gomawo yahh.. XDDDD

  6. dubudays says:

    Waaa keren kookk! Cerita fantasy itu selalu punya kemenarikan tersendiri buat aku, dan aku suka fantasy :D hehehe
    Sebenernya rada susah ngebayangin Yoogeun gede wkwkw tapi gapapalaahh
    Yoogeun mulai tau kalo Jess itu eve? Hayolooo… Tapi Jess nya udh pergi ke Paris :\
    Ayo ayoo dilanjut yaaaa :D

  7. mahdaaa says:

    Aaaah baru bs komen skrg, aku suka bnget sm cerita fantasy kyknya menarik bnget gtu. Tp agak susah juga ngebayangin yoogeun yg imut lucu itu jd anak SMA. Tp overall crtnya enak bnget dbaca.
    Wah yoogeun udah mulai curiga klo jess itu eve. Sbaiknya komen ini dsudahi dulu, aku mau trbng ke next partnya #Wuuusssh ^^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s