The Silent Touch of Marriage – Part 3

The Silent Touch of Marriage – Part 3

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Beta-Reader: Tulasi Krisna Maharani

Main Cast:

-Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))

-Kim Jonghyun

-Kim Kibum (Key)

-Kim Yong Sang

Support cast:

-Other SHINee members

-Kim Hyunri

Special Guest: Victoria Song (F(x)), Kim Taeyeon (SNSD)

Length: Sequel

Genre: Family, Friendship, Romance

Rating: PG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are Gods’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

Sebelumnya aku mau minta maaf nih. Part ini baru bisa dipublish sekarang, *dari dulu kerjaannya minta maaf terus ==’* Tapi bener deh, aku sibuk sama kuliah. Nggak apa yah kalau FF ini on-going monthly? * ;) rayu readers* #ditendang

Enjoy!

***

Pernahkah kau mengalami suatu perubahan?

Jika iya, aku ingin tahu bagaimana kau menyikapinya jika itu hanya sebuah kepalsuan!

Layaknya cahaya yang sirna dalam kegelapan?

Air yang menguap terpanggang rasa sakit?

Angin yang enggan berhembus tanpa aba-aba?

atau Bumi yang hancur dengan sekali guncangan?

Lalu, kau ingin tahu jawabanku?

Jawabanku, entahlah..

Yang kuinginkan hanyalah pergi dan kembali menjalani kehidupan dari seorang neonatus[1]

-Kim Jonghyun-

***

Jonghyun merapikan kerah bajunya. Ia menatap wajahnya di cermin dan tersenyum lebar. Pikirannya dipenuhi, ‘aku masih keren dan tampan.’ Ia melirik Hyora dan Yong Sang yang tengah duduk di ruang tamu. Keduanya terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

“Bagaimana, kalian sudah siap?” tanya Jonghyun sembari meraih tasnya di samping tempat tidur.

“Sudah, Oppa.” terdengar suara Hyora menjawab dengan nada sedikit keras.

Jonghyun bergegas ke ruang tamu. Langkahnya terlihat bersemangat. Bukan hal yang aneh lagi. Memang itulah kebiasaannya hampir setiap pagi. Ia menghampiri Yong Sang yang duduk manis di sofa setelah selesai melakukan pekerjaan yang paling dibencinya−mengikat tali sepatu.

“Bagaimana denganmu, Yong Sang-ah, ada barangmu yang terlupa?” tanya Jonghyun sambil menepuk pundak kecil putrinya.

“Aniyo, Appa.” Yong Sang menggeleng, ia memamerkan sederet gigi putih susunya. Sedetik kemudian ia berdiri dan memegang kedua tali ranselnya yang agak berat.

“Baik, kalau begitu, ayo berangkat!” seru Jonghyun, diiringi anggukan Hyora dan Yong Sang.

***

Hyora menghela nafas sejenak ketika menginjakkan kakinya di sekolah Yong Sang. Dadanya masih terasa sedikit sesak mengingat hal kemarin. Bola matanya begitu berat untuk melihat sekeliling. Entah karena malu atau cemas, ia lebih memilih untuk menunduk.

Samar-samar terdengar bisik-bisik ceria Jonghyun dan Yong Sang . Hyora masih enggan bergabung dengan mereka. Ia lebih memilih berjalan sambil menatap ujung sepatunya daripada bergabung dan melawan kecanggungan dirinya.

Langkah Hyora terhenti ketika sepasang kaki kecil menghalanginya. Kedua alisnya mengernyit. Ia mengangkat kepalanya perlahan, seolah bertanya ‘kenapa kau berdiri di hadapanku?’ Selang beberapa saat ekspresi wajahnya berubah. Yang kini berdiri di hadapannya seorang bocah laki-laki. Dan bocah itu tak asing lagi di matanya.

“Kau, Choi Minho, bukan?” tanya Hyora, sedikit ragu.

Ne. Annyeong haseyo!” Minho tersenyum, tak lupa menyapa Hyora sambil membungkuk hormat.

Annyeong haseyo!” Hyora membalasnya dengan anggukan kecil. Sekali lagi ia menatap kedua bola mata Minho lekat-lekat. Benarkah bocah ini yang bicara padanya kemarin? Astaga, darimana dia belajar merangkai kata-kata yang mungkin orang dewasa pun belum tentu bisa mengatakannya dengan benar?

“Kau kenal Minho?” suara khas Jonghyun membuyarkan lamunan Hyora. Namja itu menatapnya polos.

“Err, iya, kemarin kami sempat bertemu,” jawab Hyora kikuk. Ia baru sadar kalau sejak tadi ia menahan nafasnya.

Seorang yeoja mendekat ke arah mereka. Ia tampak kerepotan dengan ponsel dan tas tangannya. Langkahnya terlihat agak terburu-buru. Wanita itu umma Minho. Meski tergesa-gesa, namun raut wajahnya tetap terkesan anggun. Sekilas ia terkejut ketika pandangannya beradu dengan Hyora.

“Ah, kau umma-nya Yong Sang? Neomu yeppeo!” sapanya spontan, namun terdengar ramah.

Gomawo,” Hyora tersenyum kecil.

Di tengah tingkah Hyora yang masih canggung, sikap Jonghyun yang terus memamerkan senyumnya, dan kelakuan Yong Sang yang lincah, bocah kecil yang mencuri perhatian Hyora−Minho, tengah memperhatikan mereka. Bagi bocah itu dibalik semua kesenjangan yang terjadi, ternyata mereka memiliki keharmonisan tersendiri. Mereka memiliki cara untuk menikmati hal istimewa meski itu mungkin tak bertahan lama.

“Kalian terlihat bahagia sekali hari ini,” Minho tiba-tiba menyela, menciptakan suasana sunyi diantara mereka.

Jonghyun mendekat, ia menyentuh puncak kepala Minho. “Tentu, ini hari yang spesial,” ucapnya.

Hyora kembali menatap Minho. Anak itu memamerkan senyum lebarnya pada Jonghyun. Bukan hanya perasaannya saja. Aura tubuh anak itu memang berbeda, positif, tenang, dan dewasa.

‘Siapa sebenarnya kau, Choi Minho?’ batin Hyora.

Minho meraih tangan Jonghyun. Ia menatap umma-nya lalu berkata, “Umma, hari ini umma ada acara, bukan? Aku ke kelas dengan Jonghyun Ahjussi dan Hyora Ahjumma saja, ya?”

“Boleh saja, tapi, jangan nakal, ya?” jawab Nyonya Choi, tak keberatan.

Ne, Umma,” balas Minho, tersenyum.

***

Hyora melebarkan kelopak matanya. Keadaan lorong yang agak gelap membuat bola matanya harus menangkap lebih banyak berkas cahaya. Ia masih berjalan dalam diam. Canda tawa antara Jonghyun, Minho, dan Yong Sang tak begitu masuk ke telinganya. Ia hanya sesekali tersenyum mendengar lawakan Jonghyun yang tampak begitu akrab dengan kedua malaikat kecil itu.

Hyora mendesah. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa tak percaya diri seperti ini. Terkesan sangat lucu jika seorang wanita dewasa tak punya nyali untuk berjalan diantara kumpulan bocah TK. Tapi, untuk dirinya, ia tak menganggap hal itu lucu melainkan karma atas kebodohannya.

Tak dipungkiri lagi ia kembali menjadi sorotan para bocah yang berlalu lalang di lorong itu. Kumpulan mata kecil itu memandangnya dengan sebuah emosi yang hampir sama satu sama lain. Bukan benci, takut, heran atau hal negatif lainnya. Tapi, tatapan itu adalah suatu kekaguman.

“Kenapa anak-anak melihat kita seperti itu? Apakah aku masih terlihat aneh?” tanya Hyora spontan. Entah pada siapa ia menujukan pertanyaannya.

“Itu karena ahjumma sangat cantik. Jonghyun Ahjussi juga tampan. Kalian terlihat serasi,” Minho menjawabnya polos sambil cekikikan.

Ya, kau ini, kecil-kecil sudah pandai menggombal!” Jonghyun menjitak kepala Minho.

“Aduh!” minho refleks memegang kepalanya. “Aniyo, aku serius!”

“Diamlah..,” Yong Sang rupanya terusik dengan perdebatan mereka. “Lihat, ada Victoria Seonsaengnim,” ia menunjuk gurunya yang baru saja keluar dari ruangannya.

Annyeong haseyo, Seonsaengnim!” Yong Sang menyapa Victoria.

Ne, annyeong haseyo!” balas Victoria ramah. Ia tersenyum manis pada kedua muridnya−Minho dan Yong Sang. “Bagaimana kabar kalian pagi ini?”

“Baik, Seonsaengnim!” jawab Minho dan Yong Sang serentak.

Victoria beralih memandang Jonghyun. Namja itu tentu tidak asing lagi untuknya. “Selamat pagi, Jonghyun-ssi!”

Ne, selamat pagi juga, Victoria-ssi!” Jonghyun tersenyum. Aura bersahabat Victoria selalu membuatnya tenang menitipkan Yong Sang padanya.

Victoria beralih pada yeoja yang kira-kira berusia 2 tahun di bawahnya−Hyora. Sekilas ia terkejut. Entah mengapa wajah yang ditatapnya mengingatkan dia pada seseorang.

Annyeong haseyo, Kim Hyora imnida!” Hyora memperkenalkan dirinya. Ia tersenyum polos, tak menyadari kekagetan Victoria ketika menatapnya.

“Ah, ne, Victoria Song imnida!” Victoria sedikit tersentak, senyumnya berubah sedikit canggung. “Apakah anda ibu Yong Sang?”

Hyora mengangguk pelan.

“Kau sangat cantik. Persis seperti yang sering Yong Sang ceritakan padaku.” puji Victoria tulus.

Gomawo,” sekali lagi Hyora tersenyum.

“Sudah hampir jam masuk. Minho-ya, Yong Sang-ah, ayo masuk ke kelas!” Victoria meraih tangan keduanya. “Annyeonghi gyeseyo, Jonghyun-ssi, Hyora-ssi!” paparnya, sambil berlalu mengantar kedua bocah yang menjadi tanggung jawabnya.

 “Dia guru Yong Sang? Sopan dan ramah,” ucap Hyora, seolah iri dengan cara Victoria menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Ya, kalau tidak seperti itu, mana ada anak-anak yang mau dekat dengannya,” jelas Jonghyun enteng, namun itulah isi hatinya yang sesungguhnya. “Nah, ayo berangkat!”

***

Jonghyun menghentikan mobilnya sekitar 20 meter dari pintu perusahaan milik Kibum. Ia punya satu alasan yang cukup kuat untuk itu. Enggan bertemu dengan Kibum. Itu alasan yang masuk akal melihat posisinya sebagai suami Hyora. Membiarkan Hyora bekerja di sini mungkin sesuatu yang fatal. Namun ia tak bisa semata-mata melarang Hyora karena ia telah membuat suatu perjanjian dengan kedua orang tua Hyora sebelum menikah.

“Terima kasih sudah mengantarku, Oppa.” ucap Hyora sembari melepas sabuk pengamannya.

Jonghyun tak menjawab. Namja itu bahkan tak bergerak. Pandangannya fokus pada bulatan stir mobilnya.

Oppa, kau dengar aku?” tanya Hyora, memastikan Jonghyun tak sedang syok saat itu.

Jonghyun tersentak. Ia mengusap pelipisnya. “Ne, kau bilang apa tadi?”

Hyora tersenyum. “Terima kasih sudah mengantarku. Aku berangkat dulu, ya?’

Jonghyun mencegat pergelangan tangan Hyora, membuat yeoja itu urung membuka pintu.

“Ada apa, Oppa?” kedua alis Hyora mengernyit. Adakah sesuatu yang ia lupakan?

Hyora terdiam. Ya, sepertinya memang ada sesuatu yang dilupakannya. Ia tahu itu ketika kedua tangan Jonghyun berada di kedua pipinya dan mengunci gerak wajahnya.

‘Kali ini berbeda’. Entah darimana Hyora mendapat persepsi seperti itu. Selama 6 tahun ini ia tahu benar, mereka sama sekali tak punya sejarah maksimal dalam melakukan hubungan seksual. Dan ia sendiri tahu kekurangan itu disebabkan karena perasaannya yang belum menyetujui bahwa tubuhnya telah menjadi milik Jonghyun. Namun entah mengapa kali ini sikap Jonghyun membuat dadanya bergetar. Tatapan namja itu membuatnya kembali merasakan jiwa muda yang akan menghadapi ciuman pertamanya. Hanya terlintas dua kata, tajam dan menghanyutkan.

Hyora memejamkan matanya perlahan. Deruan nafas Jonghyun menerpa wajahnya. Hangat. Ia bisa merasakan jemari namja itu meremas rambutnya perlahan. Sensasi dingin bibir Jonghyun membuat kedua lutut Hyora lemas. Bak hantaman listrik Hyora sulit menahan desahannya ketika Jonghyun menggigit bibirnya. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya ia menggerakkan tangannya yang hampir setengah bergetar melingkar di leher Jonghyun. Ia pasrah dengan cumbuan Jonghyun. Lembut, dan ia bisa merasakan kasih sayang disetiap lumatan yang dilakukan suaminya.

Jonghyun melepaskan ciumannya. Ia takut tindakannya berubah liar dengan reaksi Hyora barusan. Bahkan tatapan mata yeoja itu masih terlihat menikmati perlakuannya.

Jonghyun memaksakan seulas senyum. Ia mengusap puncak kepala Hyora. “Maaf, aku menyita waktumu. Berangkatlah, hati-hati!”

Hyora tersenyum tipis. Ada beberapa kata yang ingin ia sampaikan, namun ditahannya. Ia tak berani mengatakannya semata karena ada perasaan lain yang  dirasakannya. Akhirnya hanya ucapan terima kasih yang ia ucapkan sebelum  berangkat ke tempat kerjanya.

***

Sosok kecil di ujung jalan membuat Jonghyun tersenyum dari balik kaca mobilnya. Ia memperlambat gas dan menekan pedal rem mobilnya dengan pelan.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya ketika menurunkan setengah kaca mobilnya. Yang ditanya berjingkrak pelan, memamerkan senyum ceria yang masih melekat di bibirnya.

Aniyo, Appa.” jawab Yong Sang. Nada suaranya bahkan masih terdengar bersemangat. Ia segera masuk dan duduk manis di samping Jonghyun.

Appa masih ada tugas hari ini, kau mau ikut apa ke rumah sakit?”

Rumah sakit bukan hal yang asing lagi untuk Yong Sang. Baginya rumah sakit sudah seperti rumah keduanya. Melihat darah, jarum suntik, dan jas putih yang menakutkan bagi sebagian besar anak adalah pengcualian untuknya. Kemungkinan pengaruh itu secara tak langsung telah ditanamkan Jonghyun pada psikisnya.

“Ne, aku ikut, Appa!”

***

Hyora fokus dengan setumpuk kertas di hadapannya. Ia memegangi pelipisnya. Sesekali pulpen di tangan kanannya mencoret tulisan-tulisan yang dianggapnya kurang tepat.

“Hyora, apa pekerjaanmu sudah selesai?” seseorang menghampiri meja Hyora. Sosok berjas hitam yang familiar baginya.

“Sedikit lagi, Manager Kim.” Hyora menanggapi pertanyaan Kibum sesopan mungkin meski isi otaknya sedang campur aduk.

“Oh, maaf. Bisa kau bawakan kopi ke ruanganku?” Kibum mencegat tangan Hyora sebagai tanda agar yeoja itu berhenti bekerja.

Hyora terdiam. Ia menatap Kibum bingung. Namja itu terlihat antusias, membuatnya menjadi salah tingkah. Lucunya, mengapa hanya membuat kopi saja menjadi susah begini?

Di sisi lain, Hyunri yang juga merupakan sekretaris Kibum mengernyitkan alisnya. Ia menatap Hyora, seolah yeoja itu benar-benar musuhnya. Ia kesal dengan sifat kekanak-kanakan managernya. Kenapa ia memaksa bawahan yang benar-benar sibuk untuk melakukan pekerjaan yang kurang penting sementara masih ada bawahan lain yang sama sekali tak memiliki kesibukan?”

Hyora cepat-cepat melepaskan tangannya. Entah apa yang membuatnya sadar kalau Hyunri juga berada di ruangan yang sama dengan mereka.

“Err, Maaf, Manager Kim. Aku masih berkonsentrasi pada laporan yang diberikan para pegawai baru. Kalau mau anda bisa meminta Hyunri untuk membawakannya.” papar Hyora, sedikit terdengar kikuk.

Kibum mendesah pelan, terdengar kecewa. Namun ia tak bisa semata-mata memaksa Hyora memenuhi keinginan pribadinya.

Akhirnya ia melirik Hyunri lalu berkata, “Ya sudah. Hyunri-ya, bisa kau bawakan kopi ke ruanganku?”

Ne, Manager Kim.” Hyunri mengangguk.

Tit.. tit.. tit.. ponsel Hyora berdering begitu Kibum keluar dari ruangannya.

Ne, yeoboseyo, Jinki Oppa?”

“Hyora-ya, apakah Appa dan Umma sudah memberi kabar? Mereka akan datang malam ini ke rumahmu. Err, Taemin juga ikut,” terdengar suara Jinki di ujung sana.

Ne, apa yang kau katakan, Jinki Oppa?” Hyora yang masih fokus dengan pemeriksaannya kurang mendengarkan penjelasan Jinki.

Umma, appa, dan Taemin akan datang sore ini,” ucap Jinki sekali lagi.

“Oh, ne.”

“Maaf, aku tidak bisa ikut. Masih ada urusan di perushaan,” Jinki terdengar mendesah.

Gwenchana, Oppa. Lain kali saja,” Hyora tersenyum. Jinki yang lebih tua tiga tahun darinya masih terdengar seperti bocah 12 tahun.

Hyora menutup ponselnya. Kedua orang tuanya akan datang, itu artinya suasana rumah akan ramai dan menyenangkan sore ini.

Ya, Hyora!” bentakan Hyunri mengagetkan Hyora yang sesaat lalu masih bergelut dengan dunia khayalnya. Hyunri yang tengah membawa secangkir kopi beralaskan nampan kayu menatapnya tajam. Mata gadis itu menyipit, mengalamatkan kekesalannya pada Hyora.

“Sebaiknya berhenti mencari muka di depan Manager Kim. Ingat, kau itu ‘sudah berkeluarga!’” tegas Hyunri, diiringi penekanan nada pada kata sudah berkeluarga.

Penekanan nada itu langsung menusuk ke pendengaran Hyora yang sensitif. Ditambah lagi ia sama sekali tak pernah berniat untuk bersikap kurang ajar sebagai wanita yang telah menikah. “Jaga ucapanmu, Hyunri. aku tak serendah itu!”

***

Jonghyun dan Yong Sang sampai di depan poli yang dipenuhi mainan. Warna cat yang melapisi temboknya juga berbeda dengan poli yang lain. Lebih cerah dan dipenuhi gambar binatang yang lucu.

Kedatangan Jonghyun di poli itu mendapat sambutan hangat oleh teman sejawatnya, Kim Taeyeon.

“Nah, Yong Sang-ah, appa titipkan kau di poli anak. Dokter Taeyeon yang akan menjagamu,”

Ne, Appa,” Yong Sang mengangguk. Sosok Taeyeon sudah seperti seorang ahjumma baginya. Dokter spesialis anak itu ramah dan terbuka. Kepribadian yang agak tertutup seperti dirinya pun mudah dekat dengan Taeyeon.

“Nah, ayo kemari, Yong Sang-ah,” Taeyeon meraih tangan Yong Sang. Mengisyaratkan pada Jonghyun bahwa anak itu aman di tangannya.

“Aku titip Yong Sang.  Maaf merepotkan, Taeyeon-ah.” sejujurnya Jonghyun merasa sedikit tak enak. Dengan menitipkan Yong Sang rasanya menambah beban Taeyeon disela-sela tugasnya.

“Merepotkan apa? Justru dengan ada Yong Sang aku menjadi tidak kesepian di ruangan ini,” Taeyeon tertawa kecil. Jawaban yang ia berikan itu selalu membuat Jonghyun menarik pikirinnya tentang merepotkan Taeyeon.

Yong Sang duduk di samping Taeyeon. Kebetulan meja kerja Taeyeon cukup besar jadi cukup untuk mereka berdua. Yong Sang mengeluarkan sebuah buku gambar, mulai mengerjakan tugas yang diberikan Victoria−mewarnai bunga.

Tak lama setelah Yong Sang menyelesaikan setengah tugasnya seorang perawat masuk ke ruangan.

“Dokter Kim, pasien anak dengan keluhan asma yang dikirim kemarin  barusan mengalami serangan kemudian syncope,” jelas perawat itu, terdengar empati.

Taeyeon mengangguk. Pasien anak macam itu memang agak sulit di tangani. “Sebentar lagi aku kesana, kau boleh keluar.”

Ne,”

Taeyeon bangun dari tempat duduknya. Ia terlihat cukup tertantang dengan tugasnya kali ini. Ia menatap Yong Sang yang sama sekali tak terusik. “Yong Sang-ah, aku menjenguk pasienku dulu, ya? Kau tunggulah di sini sebentar.”

Yong Sang mengangguk. Senyumnya seolah menjawab, ‘pergilah, lakukan tugasmu. Aku akan baik-baik saja.’

Di lain pihak Yong Sang memiliki sebuah tanda tanya besar setelah kepergian Taeyeon. Ia baru saja mendapatkan istilah medis baru lagi. “Apa itu syncope?”

***

Hyora melirik jam tangannya. Hampir pukul enam sore. Sekitar lima belas menit berlalu semenjak ia berdiri di depan perusahaan menunggu jemputan.

“Astaga, tanganku rasanya mau patah,” keluhnya, melihat ibu jari dan telunjuknya yang memerah akibat terlalu banyak menulis.

Kibum dan Hyunri yang baru selesai dengan urusan mereka di dalam ikut bergabung dengan Hyora. Sebenarnya bukan mereka, tapi hanya Kibum. Hyunri ikut semata-mata tidak ingin melihat tingkah Hyora yang ia anggap berlebihan di depan Kibum.

“Ada apa denganmu, Hyora?” tanya Kibum melihat Hyora berdiri dengan bahasa tubuh yang terlihat gelisah.

Aniyo, tanganku hanya pegal sedikit,” jawab Hyora pendek. Ia sadar ada Hyunri bersama mereka.

“Kau terlihat lelah, mau kuantar pulang?” tawar Kibum, terdengar simpati.

Aniyo, Key.” Hyora menggeleng pelan. Ia memanggil Kibum dengan nama kecilnya. Meski hubungan mereka manager dan sekretaris, namun diluar mereka tetaplah sahabat kecil. “Jonghyun Oppa dan Yong Sang akan menjemputku,”

Kibum mengernyitkan alisnya, terdengar ragu mendengar Jonghyun akan menjemput Hyora. “Kau yakin dia tidak akan terlambat?”

“Dia selalu tepat waktu,” aku Hyora. Kata terlambat memang salah satu pantangan Jonghyun dalam menjalankan profesinya.

Kibum tak yakin. Ia menggenggam tangan Hyora. “Ikutlah denganku,”

Jonghyun memarkir mobilnya dengan tergesa-gesa setelah melihat adengan antara Kibum dan Hyora. Itu berhasil membuatnya naik darah. Tanpa memperhatikan Yong Sang yang kebingungan di dalam mobil ia bergegas keluar dan langsung menghampiri ketiga makhluk yang bertingkah bak anak kecil di depan perusahaan itu.

“Jangan paksa dia, Kim Kibum!” bentakan Jonghyun sukses membuat Kibum dan Hyora mematung.

Kibum tak bicara. Ia balas menatap tajam kedua mata Jonghyun yang menatapnya nanar. Nafasnya menderu, ingin bicara namun seolah tertahan.

Jonghyun bertindak lebih dulu. Ia mencengkram tangan Kibum yang menggenggam tangan Hyora. “Ya! Kim Kibum, lepaskan tanganmu dari istriku!” pekiknya.

“Kenapa kau berteriak seperti itu? Seharusnya kau tahu istrimu sedang lelah. Suami macam apa kau?” Kibum tak mau kalah. Ia menghempaskan tangan Jonghyun yang mencengkram tangannya. Kedua tangannya terkepal. Ia baru saja diremehkan oleh orang yang selama ini ia anggap merebut perasaan Hyora secara paksa.

“Jaga ucapanmu, kalau tidak tanganku yang akan membuatmu bungkam!” ancam Jonghyun. Namja itu hampir meledak.

“Dasar emosian! Aku heran, bagaimana pasienmu bisa hidup setelah diobati dokter serampangan sepertimu!” Kibum mencibir, mencari-cari kesalahan yang diperbuat Jonghyun saat ini.

“Bahkan aku sendiri lebih heran. Perusahaanmu selalu mendapat sindiran. Pantas saja, managernya sendiri yang menyukai sekretaris yang sudah bersuami,” Jonghyun membalas cibiran itu datar. Ia berhasil mengendalikan sedikit emosinya.

“Hentikan keributan kalian, ini di depan perusahaan! Hyunri, bawa Key pergi dari sini!” tak ada pilihan. Hyora terpaksa mengeluarkan teriakan yang mungkin merusak pita suaranya. Melihat dua pria dewasa adu mulut dan saling menjelekkan benar-benar menjijikkan baginya. Bahkan laki-laki yang baru berumur 15 tahun mungkin bisa menghadapi permasalahan lebih waras dibanding mereka.

Hyunri yang sejak tadi hanya berstatus sebagai penonton seolah sadar dengan teriakan Hyora. Ia spontan menarik lengan Kibum. Ia sendiri tak mengerti apa yang kini ada di dalam pikirannya. Yang ia tahu ia harus membawa Kibum pergi jauh dari tempat itu.

Sesaat sebelum pergi Kibum melirik ke arah mobil Jonghyun. Sekilas pandangannya beradu dengan sepasang mata kecil. Tatapan yang tajam dan bahkan mungkin tatapan itu lebih berbahaya dibanding tatapan Jonghyun.

***

Suasana mobil mendadak sepi setelah kejadian di depan perusahaan Kibum barusan. Jonghyun fokus dengan pekerjaannya−menyetir, Hyora sibuk merangkai kata unuk diucapkan pada Jonghyun. Sementara Yong Sang bungkam. Melihat pertengkaran Jonghyun dan Kibum membuatnya diam seribu bahasa, gelisah sekaligus takut.

“Maaf untuk yang tadi, Oppa.” ucap Hyora pelan, memecah keheningan diantara mereka.

“Jelaskan saja nanti. Aku sedang menyetir!” jawab Jonghyun singkat. Nada bicaranya terdengar datar, namun raut wajahnya bertolak belakang sama sekali dengan irama suaranya.

“Komohon jangan tunjukan emosimu, orang tuaku sudah menunggu di depan rumah kita,” jelas Hyora akhirnya, berusaha meyakinkan agar Jonghyun mengendalikan amarahnya dan bisa bersikap biasa saja nanti.

Jonghyun tak menjawab. Haruskah ia membohongi perasaannya dengan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa? ‘Ya’ atau ‘tidak’ tak ada jawaban yang benar-benar absolut. Isi otaknya hanya ‘entahlah’ dan ‘entahlah’.

Semua kini mulai menuju ambang ketidakpastian. Hanya keriuhan suara mesin dan decitan ban mobil yang membawa ketiga makhluk itu berjalan melintasi permainan licik di tengah hiruk pikuk kota Seoul.

***

TBC


[1] masa pertama kehidupan bayi di luar rahim 0-28 hari.

Gimana? Part ini nggak kependekan, kan? Maaf ya kalau masih ada typo. Beta-readerku juga rada sibuk, jadi ngeditnya cepet. Ada yang mau tahu nih kenapa cuplikan part selanjutnya nggak aku cantumin? *reader: kagak!*

Kalian tebak-tebak dulu deh, hehe. Aku sengaja cantumin misteri di part Victoria, Minho, alasan kerja Hyora, dan syncope. *reader: udah dibilang gak penasaran jawab juga!* *aku: biarin, yeee!* #ditendang

Tunggu part selanjutnya bulan depan, ya! :D

©2011 SF3SI, Chandra.




This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

152 thoughts on “The Silent Touch of Marriage – Part 3

  1. Sam Hee Gi says:

    penasaran sama part berikutnya ~~
    kurang puas nih haha
    key oppa ih bikin naik darah aja..
    semoga hyora sama jonghyun gak berantem deh yaa
    kasian yong sang kan ..
    authoor fighting!

  2. mochicken says:

    akhirnya diupdate juga~ nice part!
    iya nih, ada banyak hal yg bikin penasaran. syncope itu penyakit apa? siapa yg sakit itu? minho kah? kenapa minho dewasa bgt? dll
    buruan dipost kelanjutannya, thor.. hehe

  3. hyora mau dikissu jjong..*senang* ahahha
    jjong dikasih wanita penggoda (?) gitu biar hyora juga cemburu, kasihan cuma jjong yang tersiksa cemburu sama key, =D
    hyora kayanya cinta sama jjong tapi belum sadar yakk,

    ditunggu lanjutannya, heehe..

    • ehh?? wanita penggoda???
      wkwkwk ada-ada aja nih..

      tapi aku rada bosen liat karakter jjong yg plaboy, jadi di sini aku coba buat dia setia.. biar tau rasa diselingkuhin itu gimana *ditendang jjong!!*

  4. Umul says:

    Wouu,, isi yg bagus..
    Ada istilah2 yg gk aku tau, krna emg aku bkan mhsiswa kdkteran, hehe..
    Bsakah nanti dijelasin thor? Itung2 nambah ilmu medis :D
    tata bhasanya, slalu aku suka..
    Tpi bsa lbih panjang gak thor? Hehe, gk puas bacanya *mianhe*
    ditunggu slanjutnya :D

  5. OH YEAAAAAHH~~~
    Hahahah aku ngebut baca tiga part. Girang banget begitu baca part satu langsung di sebut OBGYN !!! YAAAIIYYY~
    Efek gak bisa menyalurkan cita-cita jadi obgyn, aku jadi cuma bisa baca cerita atau nonton yang tokohnya seorang obgyn kekeke~

    Baca ini, aku jadi serasa nonton obgyn doctors nya si Song Joong Ki
    kayhahahahah~ cuma versi lain.
    Perbendaharaan medis ku nambah lagi nih hahahha~ *efek anak IPS*

    Btw, dari part satu sampe part tiga.. eeemmmm~ apa ya komentarku ._.a
    Beberapa kali liat typo. Teruuusss…. aku tahu ya Minho ceritanya berkarakter dewasa kayak aslinya. tapiiii… kayaknya agak too much aja kali ya? Pas aku baca, aku kayak ‘Lah? Ini ceritanya Hyora lagi ngomong sama bocah apa sepanteran?’
    Sedewasa-dewsanya anak kecil ada batas juga kali ya? ._.a kecuali dia semacem indigo yg emang punya gift gitu

    Terus, reaksi Hyora ke Minho. Normalnya nih, denger ucapan anak kecil, biasanya orang dewasa gak langsung masuk ke hati. Dipikir dulu gitu kali ya… jadi mereka gak keliatan lemah di depan anak kecil. :D

    Udah deh segitu aja komennya hahaha.. gak mau sok bisa atau sok komentar, FF ku aja abal sih tata bahasanya XD

    • ehh??
      mau jadi Obgyn, Lan???
      Sabarr.. masih banyak kok yang bisa dicari sebagai anak IPS ^^

      hehehe.. syukur deh kalau ilmumu bisa nambah ^^

      Typo, iya deh.. kebiasaan burukku itu.. ngeditnya serampangan T.T
      Kalau masalah Minho sabar Dulu.. kemarin kan aku udah bocorin, Side story bagian Minho bakalan out sebelum TSTM part 4,,,, tungguin yah,, ntar ketahuan kok reaksi Hyora yang nggak wajar itu.

      oke deh, makasih komennya ^^

  6. akhirnya aku baca lagi fanfic ini, serasa udah lama, makasih masih bisa ngetik buat readers yaaa~
    keren banget! Jjong bener-bener protektif ya?
    nah loh, Hyora ama Key nanti bakal gimana ya? A-yo chingu lanjutin fanficnya yaaa~
    nice ff~

  7. panda says:

    penasaran knp victoria agak terkejut ngeliat hyora…
    penasaran juga, jjong kan dokter kandungan, brarti dia yang nanganin proses persalinan istrinya dong..
    bagus nii

  8. “Kalian tebak-
    tebak dulu deh,
    hehe. Aku
    sengaja
    cantumin misteri
    di part Victoria,
    Minho, alasan
    kerja Hyora, dan
    syncope.”

    oohh jd ada misterinya tohh.. hhmm yg bkin gw pnsaran cm victoria sm krja hyora.. klo minho sm syncopeblabala itu, gak kpikiran trnyata ada misterinya jg. *PLakk, lemot* hehe.

    Lanjuuutttt mau loncat ke part 4 ^^

  9. kim eunri says:

    suasana tegang,suasana tegang!
    woy key,nape lu masih nyempil aja di kluarga kim,bikin tu kluarga jdi ambrukadul lagi.

    melaju k part 4.

  10. WidyaJ says:

    Aaarggg, penasaran gilaaa….
    Msh belum trlalu jelas kaitan semuanyaa…. Seruuu. Hahaa #plakkkk
    Lanjutttt…

  11. WidyaJ says:

    Aaarggg, penasaran gilaaa….
    Msh belum trlalu jelas kaitan semuanyaa…. Seruuu. Hahaa #plakkkk
    Lanjutttt… ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~

  12. fafa_lee says:

    Kasian Yong Sang anak sekecil itu harus menonton sesuatu yang tak seharusnya-pertengkaran orang dewasa-….. Daebak!!! Semakin membuat penasaran… next>>…

  13. Hyonie says:

    Astaga key, sadarlah dia istri orang. Dan hyora sadarlah Jonghyun oppa sangat mencintaimu.
    Yong Sang semangat yaa. Keluargamu pasti bahagia (˘-˘)ง

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s