This Is For You

This is For You

 

Author: Shin Chaerin

Cast:  Choi Minho SHINee, Kim Youngmi (OCs)

Support Cast:  Kim Kibum SHINee, Shin Chaerin (author numpang jadi figuran)

Genre:  Mystery, Life, Psychology

Disclaimer:  Minho terserah deh milik siapa, tapi Kim Kibum is mine!! *disiram air panas*

Original Concept © Kanon Iguchi

Rating:  PG-15

Length:  Oneshot

Warning:  There are many silly typos in this ff. Be careful!

Summary:      

 

“Untung semua berjalan lancar ya!”

 

“Ya benar!”

“Sst..Ini rahasia kita berdua, lho!”

“Hihihi.”

***

Youngmi POV

 

“Di tahun ajaran baru ini, saya ingin memperkenalkan guru baru. Bla bla bla”, ujar kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Saat ini kami berada di aula sekolah. Sudah menjadi kebiasaan sekolah ini, setiap mengawali tahun ajaran baru, seluruh murid diharuskan berkumpul terlebih dahulu di hari pertama mereka masuk sekolah. Di saat ini lah para guru menyampaikan berbagai macam pengumuman atau pemberitahuan seputar sekolah dan peraturan-peraturan yang berlaku.

Seperti yang disampaikan Kepala sekolah, ada beberapa guru baru yang akan mengajar kami nantinya. Guru baru yang diperkenalkan oleh kepala sekolah tampak berbaris rapi di samping kepala sekolah yang sedang berpidato. Dalam beberapa detik saja, kedua guru baru tersebut menjadi pusat perhatian yeoja-yeoja di sekolah ini karena wajah mereka yang (teramat sangat) tampan.

“Eh Youngmi, yang sebelah kiri itu lumayan juga”, bisik Chaerin, sahabatku, yang tengah duduk di sampingku.

“Hmm, kayaknya dia tampang penggoda deh. Mending yang sebelah kanan, kelihatannya lebih serius”, sahutku.

“Kalau begitu kau yang sebelah kanan saja, aku yang sebelah kiri. Oke?”, kata Chaerin antusias.

“Ya, boleh juga. Hehehe.”

“Yang sebelah kanan dari hadapan kalian adalah Pak Choi Minho, lulusan Seoul International University tahun ini. Beliau akan mengajarkan pelajaran bahasa dan sastra untuk kelas 3. Sedangkan yang sebelah kiri dari hadapan kalian adalah Pak Kim Kibum, lulusan dari universitas bla bla bla.”

 

Demikianlah, permainan kami ini berawal.

***

Suatu hari aku dan Chaerin ada kelas tata boga. Kami isen-iseng membuat kue spesial untuk Pak Kim dan Pak Choi. Ini semua kami lakukan karena kekaguman kami pada beliau.

“Wah kuenya cantik sekali! Aku yakin pasti Pak Kim bakal suka!” seru Chaerin.

“Baunya juga harum. Pasti enak!”, timpalku.

“Kue itu mau kau berikan pada Pak Choi kan, Youngmi?”

“Ne.”

Kemudian..

“Wah, ini buatan kalian? Kelihatannya enak!” ujar Pak Choi. Setelah selesai membuat kue, kami sengaja mengantarkannya ke ruang guru pada jam istirahat. Beruntung tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Hanya ada Pak Kim dan Pak Choi.

“Iya, ini kami yang membuatnya. Silakan dicicipi~”

“Wah wah senang ya! Guru muda terkenal di kalangan para siswi”, celetuk wali kelas kami yang tiba-tiba datang. Wajar saja beliau bilang begitu, karena kenyataannya umur beliau sudah hampir setengah abad. Mendengar celetukan seperti itu, Pak Choi dan Pak Kim hanya nyengir saja.

“Hei, kamu tidak bawakan untuk Pak Heechul? Dia kan wali kelasmu”, bisik Pak Choi.

“Wah maafkan kami. Kami lupa!”, jawabku dan Chaerin serempak.

“Sudahlah. Oh ya, lain kali bikin lagi dan bawa ke ruang persiapan saja ya? Oke?!” kata Pak Kim. Kami berdua mengangguk mantap.

***

“Pak Kim Kibum itu.. pasti orangnya tak serius”, kataku pada Chaerin.

“Haha, biar saja. Aku ‘kan cuma nge-fans. Soalnya kalau tidak ada yang aku sukai, aku jadi tidak semangat ke sekolah. Senior kita sudah pada lulus, sedangkan namja yang sekelas dengan kita masih kekanak-kanakan. Sementara guru-guru itu k’an sudah dewasa, jadi selain tidak merusak impian kita, mereka meladeni kita juga cuma sekedarnya. Lagipula bisa jadi penumbuh semangat belajar. Satu pekerjaan dapat dua keuntungan. Iya kan?” ujar Chaerin panjang lebar.

“Dasar kau ini. Tapi alasanmu boleh juga hehehe.”

Lama-lama hubungan kami semakin dekat dengan Pak Choi dan Pak Kim.

Saat pelajaran olahraga…

“Pak Choi! Ayo semangat! Kau pasti bisa!” teriakku. Chaerin juga tak kalah semangat mendukung Pak Kim.

“Lho, kalian berdua tidak mendukung kelas kalian sendiri?” tanya salah seorang guru yang juga ada disitu menyaksikan pertandingan. Saat ini, para namja di kelasku sedang bermain sepak bola. Sedangkan siswi perempuan yang lain diharuskan menjadi supporter. Namun daripada itu, para guru muda juga sedang ada pertandingan basket. Dan kami berdua sama sekali tidak mau melewatkan momen penting ini. Kuakui bahwa penampilan Pak Choi yang sedang bermain basket sungguh keren.

Saat festival budaya..

“Pak, ayo foto kenang-kenangan dong!” ujar Chaerin.

“Boleh juga.”

“Hei, Youngmi! Apa-apaan kau? Kenapa malah berdiri disitu?!” Chaerin menarik lenganku agar aku lebih dekat dengan Pak Choi.

“Gandengan skalian ya!” tambah Chaerin, ia terlihat bersemangat sekali. Aku jadi merasa tidak enak pada Pak Choi.

“Ayo pose! Jangan lupa senyum ya?”

“Iya, dasar kau ini cerewet sekali! >.<” sahutku.

“Baiklah. Hana, dul, set!”

KLIK

Saat pulang sekolah tanpa sengaja bertemu di tempat karaoke…

“Wah Pak guru, pulang sekolah minum-minum!” teriak Chaerin. Pak Kim dan Pak Choi yang memergoki kehadiran kami langsung gelagapan.

“Kenapa kalian bisa ada disini?!” ujar Pak Kim panik.

“Kami bersama teman… ingin melepas penat”, jawabku.

“Wah ini produk baru Wild Bitter yang sering ada di iklan tv itu, kan?!” celetuk Chaerin.

“Ng..ini, yah begitulah..tapi ini gratis, kok! Kami tidak beli, sungguh!” jawab Pak Kim.

“Lagipula, minum sedikit ‘kan tidak apa-apa. Kami ‘kan sudah dewasa”, ujar Pak Choi.

Melihat tampang Pak Choi dan Pak Kim yang panik, membuat kami berdua cekikikan. Akhirnya kami dibelikan es krim sebagai biaya tutup mulut.

“Wah kita beruntung! Mereka lucu ya?!” bisik Chaerin.

“Iya..hihihi.”

“Oh ya, jangan bilang pada Bu Taeyeon ya?!” kata Pak Choi.

“Tenang saja, kami janji!” sahutku. Bu Taeyeon adalah guru pembina kedisiplinan di sekolah kami, beliau adalah orang yang galak dan sangat cerewet.

Ternyata begini menyenangkan juga…

***

Semakin lama, aku pun mulai bisa mengerti kesenangannya…

“Pak… kali ini kami bawakan pudding!!” seruku.

“Wah, terima kasih!” ujar Pak Kim dan Pak Choi berbarengan. Kami berdua menikmati pudding bersama Pak Kim dan Pak Choi sambil mengobrol.

“Ahh, sebentar lagi liburan musim panas. Nggak seru nih, nggak bisa ketemu Bapak”, ujar Chaerin frustasi.

Hm, liburan musim panas ya..

“Pak, bagaimana kalau kita pergi ke pantai saja”, usulku.

“Hei, hei, siswa yang akan menghadapi ujian tak boleh memikirkan liburan musim panas!” kata Pak Kim.

“Tapi kan cuma sehari saja.”

“Walaupun cuma sehari, tapi tetap saja tidak bisa.”

“Youngmi suka ngimpi nih! Ya sudah pasti tak mungkin kan?! Benar kan, Pak?” ujar Chaerin.

Dasar dia ini! Kenapa tidak memihakku sih!

“Kalau pendapat Pak Choi bagaimana? Ng… Pak?”

“Eh..iya…”

“Pak guru dari tadi bikin catatan… catatan apa?” tanya Chaerin bingung. Memang sedari tadi Pak Choi hanya diam saja dan sibuk menulis. Ia tampak serius sekali.

“Ng, ini… ‘kan mulai minggu depan masuk ke pembahasan novel karya Wataru Dezaki. Jadi, aku membuat rangkumannya”, ujar Pak Choi.

“Ng, Wataru Dezaki? Kalau tidak salah beliau sastrawan Jepang yang meninggal karena bunuh diri, ‘kan? Padahal karyanya merupakan karya best seller“, jelasku. Kebetulan aku pernah membaca profilnya disebuah blog yang tak sengaja ku akses.

“Ya, benar. Si manja yang tak bisa bunuh diri tanpa bantuan wanita”, celetuk Pak Kim.

Mendengar komentar Pak Kim yang seperti itu, raut wajah Pak Choi seketika berubah masam. “Kau tak akan mengerti ketulusan dia! Jadi jangan langsung menilai seenaknya saja!” kata Pak Choi kesal.

“Kau ini, begitu saja marah. Aku kan tidak serius! Memangnya kau ini penggemar beratnya?” Mendengar Pak Kim berbicara begitu, wajah Pak Choi memerah. Ia terlihat malu-malu.

“Ya… dia kan novelis hebat! Jadi sebaiknya kalian membaca karyanya juga ya? Oh ya, puddingnya enak, lain kali buatkan kami lagi ya…” Pak Kim mencoba mencairkan suasana.

“Ya terima kasih, pudding buatan kalian enak sekali”, kata Pak Choi memuji.

“Eh..i..iya lain kali saya bawakan lagi..”, jawabku gugup.

“Seandainya ada soal yang tidak kamu mengerti sehungan dengan ujian akhir, selama liburan musim panas ini kamu bisa tanya Bapak”, ujar Pak Choi ramah, disertai dengan senyumannya yang bisa membuat banyak yeoja meleleh seketika.

“I..iya. Oh iya Pak, tentang Wataru Dezaki… saya memang hanya membaca yang ada di buku pelajaran. Tapi, saya suka karya-karyanya…”, kataku.

“Benarkah? Syukurlah kalau kau suka…”

Lagi-lagi dia tersenyum… ahhh, aku senang sekali melihat senyumannya!

***

“Anak-anak, silakan buka buku halaman 63. Disitu ada dua prosa yang perlu kalian identifikasi unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Unsur intrinsik adalah…bla bla bla.”

Saat mengajarpun Pak Choi sangat tenang dan serius…

“Pak! Tolong kasih tahu batasan untuk bahan ujian, Pak!” ujiar salah seorang murid di kelasku.

“Kali ini tidak ada batasan untuk ujian akhir. Tampaknya pemahaman bacaan kalian kurang, jadi Bapak putuskan untuk memberikan soal ujian bukan dari buku pelajaran. Tetapi dari novel karya Wataru Dezaki”, jawab Pak Choi santai.

Mendengar keputusan Pak Choi, seisi kelas langsung ribut.

“Wataru Dezaki itu siapa ya?”

“Novelnya yang mana?”

“Aduh kenapa dari novel sih? Aku ‘kan tidak suka baca novel.”

“Wah tegaa!”

“Bla bla bla bla..”

Bagiku sih tidak masalah, kebetulan aku memang enyukai sastra. Hm, ngomong-ngomong Wataru Dezaki itu orangnya seperti apa ya? Katanya dia bunuh diri..

“Payah deh!” gerutu Chaerin.

“Kau kenapa?” tanyaku.

“Yaa kamu sih enak, jago pelajaran sastra.”

“Masalah novel itu ya?”

“Hhh, kau tahu kan kalau aku paling lemah pada pelajaran sastra”, keluhnya.

“Hm, kalau begitu Chaerin berusaha di pelajaran Bahasa Inggrisnya Pak Kim saja?” saranku.

“Tentu saja! Memang begitu niatku.”

“Eh, Youngmi..coba kamu cari tahu apa saja yang bakal keluar di ujian sastra nanti?!” bisik Chaerin.

“Tapi..”

“Ya!! Karya si Dezaki itu ‘kan banyak. Tidak mungkin kita membaca semua novelnya kan?”

“Benar juga..”

***

Hari ini aku sengaja menemui Pak Choi di ruang guru untuk menanyakan bahan ujian sastra. Siapa tahu Pak Choi mau memberikan kunci jawabannya. Aku tahu ini curang, tapi mau bagaimana lagi. Kalau dipikir-pikir Pak Choi memang tidak memberitahu kami novel mana yang harus kami baca.

“Ada apa? Apa ada pertanyaan?”

“Oh, itu, mengenai soal cerita Wataru Dezaki…”

“Saya tidak akan memberitahu seperti apa soalnya dan soalnya bisa diambil dari mana saja.”

Aduh… bagaimana ini?

“Be…begini, saya hanya bingung harus membaca yang mana karena karya dari Dezaki ‘kan banyak. Kira-kira novel apa yang Bapak rekomendasikan?”

“Hmm, apa ya… lebih baik novel yang gembira atau yang sedih?”

“Lho, Youngmi! Kenapa ada di ruang guru? Ada pelajaran yang tidak kau mengerti ya?” tegur Pak Kim yang tiba-tiba memasuki ruang guru.

“Pa..Pak Kim…”, jawabku terbata-bata.

Sekilas aku melihat Pak Choi membuka laci mejanya dan mengambil secarik kertas. Kemudian ia menulis sesuatu di kertas itu. Dengan tanpa sepengetahuan Pak Kim, Pak Choi memberikan kertas itu padaku.

“Lain kali tidak boleh masuk ruang guru ya? Kalau ketahuan Bu Taeyeon, kau bisa dimarahi”, ujar Pak Kim mengingatkan.

“Ah..iya, kalau begitu saya pamit.”

“Hati-hati, ya..”, ujar Pak Choi sambil tersenyum kearahku. Tanpa basa-basi, aku segera berlari sekuat tenaga menuju perpustakaan, tempat Chaerin berada. Oh ya, ngomong-ngomong, isi kertas ini apa ya?

Perjalanan ini akan berlangsung “abadi”

 

 

Apa maksudnya?

***

“Ugh! Dezaki empat kali bunuh diri. Pak Choi kok suka beginian, sih?” Chaerin menggerutu sambil membolak-balikan buku kumpulan cerpen dan novel karya Wataru Dezaki. Sudah kuduga, percuma saja memperlihatkannya pada Chaerin. Ia memang suka menggerutu.

“Habis, ceritanya romantis..”, jawabku asal.

“EHHHHH… Ada! Ada!”

“Apa?”

“Skenarionya. Nih, dibagian garis besarnya ‘Perjalanan menuju kebahagiaan yang tak terhingga’…” ujar Chaerin berseri-seri bak menemukan harta karun terpendam(?).

“Jadi, hanya perlu membaca bagian ini saja?” tanyaku.

“Mungkin..?”

“Kalau kita bisa dapat nilai yang lebih bagus nggak ya?”

“Mana aku tahu… Yang jelas kita sudah selangkah lebih maju dari teman-teman!”

“Tapi waktu aku mendapatkan ini, aku mengeluarkan keberanianku lho…”

“Aku tak mengira kamu benar-benar bertanya”, sahut Chaerin.

“Eh?”

“Youngmi, kamu tuh selalu menanggapi segalanya dengan serius ya… seperti saat kamu mengajak Pak Kim ke pantai waktu itu, kita berbicara mengenai laut kau langsung ingin ke laut, sampai-sampai Pak Kim kelihatan kebingungan mencari alasan untuk menolak.”

“Aku tidak bermaksud..”

“Bagaimanapun juga, kalau kencan dua pasangan itu sudah tak pantas lagi. Itu memalukan tahu? Seakan-akan kita adalah cewek gampangan yang mengajak pria dewasa kencan.”

“Aku tak bermaksud begitu..”

“Bisa bahaya lho, orang seperti Youngmi itu lah yang nantinya suka membuat masalah. Lagipula Pak Choi juga sepertinya suka membuat masalah…”

“Hentikan! Kamu jangan menghina Pak Choi dong!!! Dia kan tidak tahu apa-apa!” pekikku.

“Kenapa membentakku?! Ya sudah, terserah kau sajalah!” Chaerin segera membereskan buku-bukunya dan meninggalkanku sendirian di perpustakaan.

***

Keesokan harinya aku bertemu dengan Chaerin, tapi tak kusangka ia akan mengacuhkanku. Di kelas, di kantin, di koridor, di perpustakaan, setiap aku menyapanya, ia langsung membuang muka. Aku harus bagaimana?

“Eh, Youngmi, kenapa berdiri di depan ruang guru? Apa ada pertanyaan?”

“Pak Choi…”

“Hm..baiklah, kita bicarakan di ruang rapat saja ya?”

Aku mengikuti setiap langkah Pak Choi menuju ruang rapat.

Cklek

 

“Nah, kalau disini tak akan ada yang masuk.”

“Iya.”

“Ada apa?”

“Chaerin, dia sama sekali tidak mau bicara dengan saya.”

“Kalian bertengkar?” Aku mengangguk. Tanpa sadar aku merasakan pipiku basah oleh air mata.

“Kenapa?”

“Soalnya… dia bicara jelek mengenai Bapak. Saya… tak bisa memaafkannya. Dan dia malah mengatakan terserah saya. Padahal mungkin saja Chaerin hanya bercanda seperti biasanya, tapi saya menganggapnya serius. Tapi kalau mengenai Pak guru, saya… hiks hiks…”

Aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku, semakin diingat aku jadi merasa semakin sedih. Saat aku masih sibuk menangis, aku dikagetkan oleh tangan Pak Choi yang secara tiba-tiba menyentuh bahuku. Lalu sedetik kemudian Pak Choi meraih wajahku dan menciumku.

Apa-apaan ini?!

“Ng..”

Tidak!

“Mmhh..”

Berhenti!

Aku terus meronta-ronta, namun cengkraman Pak Choi di lenganku begitu kuat. Sulit untuk dilepaskan.

 

BRAKK

Aku terjatuh dari kursiku. Dengan sekuat tenaga aku menggerakkan kakiku yang terasa kaku meninggalkan ruangan itu. Namun baru selangkah, Pak Choi segera menarik tubuhku dan mendekapku.

“Kumohon..lepaskan aku…”, ujarku dengan suaraku yang terdengar berat.

“Diam kau!!”

Lalu aku mendengar suara murid yang sedang mengobrol dan tertawa-tawa yang sepertinya melewati ruang rapat. Aku harus minta tolong!!

“Toloong..mmph-“

“Sst..Jangan ribut!!!” Pak Choi membekap mulutku dengan tangannya.

“Kenapa kau menolak? Kau menyukaiku kan?!”

“…”

“Dengar Youngmi, kejadian tadi kalau kamu ceritakan pada orang lain… kamu tidak akan bisa diterima di sekolah pilihanmu. Bahkan aku bisa membuatmu tidak lulus. Ingat itu baik-baik!”

Apa?

Dia… Dia bukan guru..

Dia hanya..

***

Chaerin POV

 

“Kim Sunhee.”

“Hadir.”

“Lee Sooyun.”

“Hadir, Pak!”

“Park Yuri.”

“Hadir.”

“Kim Youngmi.”

“Kim Youngmi? Kim Youngmi absen?”

Youngmi lagi-lagi tidak masuk sekolah. Sudah tiga hari ini dia tidak masuk sekolah. Apa dia sakit? Apa gara-gara aku? Apa sebaiknya nanti kujenguk saja ya?

***

Youngmi POV

 

Tok Tok Tok

 

“Youngmi, kalau kamu tak ada nafsu makan… ini sudah eomma buatkan bubur. Makanlah sedikit.”

Aku segera keluar kamarku. Walaupun tidak ada nafsu makan namun kupaksakan untuk mencoba memakan bubur buatan eomma. Aku mengambil sesendok bubur itu dan mengecapnya.

“Ugh!” seketika perasaan mual itu datang lagi. Aku segera berlari menuju wastafel dan berkumur berkali-kali.

Menjijikkan..!

Setiap kali mengecap sesuatu pasti rasa itu akan muncul. Ingatan bahwa orang itu telah menciumku selalu berkelebat dipikiranku setiap kali aku mengecap sesuatu dan membuatku mual, rasanya benar-benar menjijikkan.

Aku benar-benar mual…

Kalau begini mana bisa makan…

“Youngmi, ada temanmu datang menjenguk”, ujar eomma.

Lalu seorang gadis berseragam memasuki kamarku dengan ragu. “Chaerin-ah…”, sapaku.

“Maafkan aku Youngmi. Waktu itu aku mengacuhkanmu, itu bukan salahmu. Itu karena aku melihat Pak Kim jalan dengan seorang yeoja sambil bergandengan tangan. Karena itu, aku agak shock. Aku..”

“Bukan salah Chaerin, kok..”

“Eh, Youngmi, wajahmu pucat. Kau tidak apa-apa?”

“Aku..”

“Eh? Kenapa tiba-tiba menangis? Ada apa?”

“…”

“Hei, Youngmi, ada apa?”

“…”

“Youngmi?!”

***

Normal POV

 

“Pak..”

“Eh, Chaerin, ada apa? Murid dilarang masuk ke ruang guru ‘kan?”

“Tolong jenguk Youngmi, Pak! Youngmi ‘kan menyukai Bapak…”

“Oh ya?”

“Saya mohon… Bapak mau menyengguknya…”

“Kurasa saya tak berhak, lagipula saya ‘kan bukan wali kelasnya.”

“Youngmi mungkin saja bisa mati…”

“Kau ini ngomong apa?!”

“Benar, Pak! Kemarin saya menjenguknya. Katanya dia tak bisa makan apa-apa. Biar dipaksakan makan malah muntah. Wajahnya pucat pasi… hiks..hiks… maka dari itu…”

“Hhh.. baiklah. Kamu kembali saja ke kelas. Aku akan menjenguknya nanti.”

***

Youngmi POV

 

Ting Tong

 

Mendengar ada yang memencet bel rumahku, aku segera berlari untuk membukakan pintu.

Cklek

 

“Anda datang?” ujarku pada Pak Choi.

“Hm, iya. Kau sendirian?”

“Ne. Eomma sedang belanja.”

“Bapak dengar kamu sedang sakit?”

“Hari ini, saya sudah ke rumah sakit dua kali. Kata dokter tidak ada penyakit yang serius, kemungkinan sakit akibat psikologis. Kalau terus menerus tidak bisa makan, disuruh opname. Tadi juga diinfus, rasanya sakit sekali…”

“…”

“Pak?”

“Ng, ya?”

“Kita mati bersama, yuk.”

“Ehh..” Pak Choi tampak kebingungan.

“Saya tidak bisa makan sama sekali. Itu salah Bapak. Bapak yang salah… masa hanya saya yang harus mati? Itu tidak adil kan?”

“Ka..kau bicara apa?”

“Hm, bohong kok… tapi kalau Bapak mau cium saya sekali lagi, mungkin saya bisa sembuh…”, jawabku.

“Youngmi?”

“Kali ini tolong cium saya dengan lembut, ya Pak…”

Pak Choi terdiam beberapa saat, kemudian menghampiriku. Ia mulai mendekatkan wajahnya padaku lalu menciumku dengan lembut.

“Sekali lagi ya, Pak…”

Kami kembali berciuman. Perlahan-lahan aku mengambil pisau yang berada di atas meja yang terletak di sampingku. Dengan gerakan pasti, aku arahkan pisau itu ke leher Pak Choi. Seketika darah Pak Choi muncrat ke segala arah(?). Ia langsung jatuh tersungkur dibawah kakiku dengan bergelinang darah.

“Pak? Bapak senang kan? Karena Bapak bisa mati seperti Wataru Dezaki… penulis kesukaan Bapak…”

Dengan tersenyum puas kemudian kuarahkan mata pisau itu ke leherku sendiri.

***

Normal POV

 

HEADLINE NEWS: Guru SMP (23) Bunuh Diri Dengan Muridnya (15)

 

Ketidak warasan seorang sastrawan muda?

Pihak sekolah memberikan beberapa kesaksian sebagai berikut..bla bla bla..

Siswi yang beinisial Y (15) berprestasi baik di sekolah…

Terdapat memo “Perjalanan ini akan berlangsung abadi”, di dalam amplop yang diletakkan di atas mejanya. Diduga sebagai surat peninggalan.

 

***

Cklek

“Youngmi-ah, annyeong!”

“Ne, annyeong! Masuklah.”

“Ini aku besuk, kubawakan buah-buahan kesukaanmu.”

“Gomawo…”

“Ada es krim juga lho. Kau suka es krim kan..?”

“Iya, mm..enak..!”

“Bagaimana keadaanmu? Apa lehermu masih sakit?”

“Sedikit… tapi bagiku ini bukan masalah. Karena dengan begini…baru aku bisa makan apa saja…”

“Kalau begitu makanlah yang banyak… hehehe.”

“Untung semua berjalan lancar ya!”

“Ya benar!”

“Sst..Ini rahasia kita berdua, lho!”

“Hihihi.”

THE END

 

 

 

Ini benar-benar Oneshot terpanjang yang pernah saya buat -__-

Btw, saya minta maap ama flamers semuanyaa…karena di ff ini saya membuat abang minho  tercinta jadi guru cabul hahaha *dibakar*

Mohon di-RCL ya? ^__~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
About these ads

24 thoughts on “This Is For You

  1. Keren euy ceritanya. .
    Malkey sukaaaa ~
    Berarti sg minho itu trobsesi bgt ama penulis kesukaannya ya ? Tapi kok gk trlalu keliatan gt, tiba” aja si minho maen nyium youngmi. .
    Ini kayaknya otak malkey yg eror. .wkwk loading lama. .

  2. wah, kupikir awalnya ini cerita kisah cinta biasa antara guru dengan murid..
    ternyata ada ide lain yg membuat cerita ini menjadi menarik.. :)
    awalnya sih gak kliatan banget ya kalo FF ini ada unsur psiko nya..
    eh menuju akhir, sudah dapat gagasan di otakku bahwa, “Wah, cewe ini psiko nih.”
    hehe, dialog” di dalam cerita ini sangat pintar dalam diksi kata-kata nya..
    memang meski banyak dialog nya, tetapi itu tidak mengurangi rasa menarik untuk membaca cerita ini..
    tapi aku bisa kasih dua jempol untuk diksi” yg mendukung ide unik ini.. :)
    tanda baca nya juga lumayan pas peletakannya..
    akan tetapi, menurutku, kekurangan dari cerita ini adalah terlalu banyak dialog, sehingga berasa seakan ini seperti naskah drama film..
    tapi gpp, bagus kok.. :)

    nice story, keep writing.. :)

  3. Haduh, ko aku ga ngerti cerita’y ya??? heuu…
    jd’y minho sm youngmi nya mati?
    trus itu yg paling bawah dialog syp sm syp???

    huhu… T.T maaf ya thor, saya bkn reader yg baik, masa cerita bagus gtu ga bisa ngerti… heuheuu…

  4. “Kita mati bersama, yuk.” — enteng bgt ya ngomingnya.. kkkkk

    setuju sama komen yg kedua… awal2 bc gak berasa psikologisnya.gtu.. tp pas diakhir.. beuuuhhh

    nah nah.. tuh yg ending youngminya msh hidup??? :o

  5. Bagus! Aku suka! :D
    Aku paling suka sama ff yang ada unsur bunuh membunuh. Walau cuma dikit, tapi aku tetep menikmati bacanya XDD
    Penulisannya bagus, bahasanya mudah dipahami. Tapi menurutku kebanyakan dialog, agak aneh pas baca dialog terus. Hehe…

    Tapi tapi… aku bingung pas dialog terakhir.
    Itu Minho sama Youngmi udah mati kan?
    Nah, trus dialog yang paling bawah itu apa maksudnya? Mungkinkah mereka berdua pura-pura mati? Atau itu dialog pas mereka di surga *maaf, omongan agak ngaco -,-*

    Itu aja sih yang aku bingungin. Yang lain semuanya bagus, menurutku. :)
    Nice ff! Ditunggu karya selanjutnya :D

  6. Jadi youngmi chaerin bkin kepalsuan? =.=” gitu ya youngmiiii??? *jewer #plak

    AAAAA~ kenapa Minho jadi… ARRGH -….-” #duagh

    ceritanya bagus unnie! Bahasanya tertata rapi, alurnya enak dibaca (stabil) dan pembawaannya bagus. Aku suka karyamu unn! Kekkee. Keep writing!

    *PS : pengen nyekek si youngmi jadinya, pdhal td aku kasian sm dia o.O

  7. Maksudnya Youngmi berhasil diselamatkan dari bunuh diri itu? Nggak disangka-sangka Minho dari kesan pertama Youngmi yang kalem, ternyata mesum juga. Tapi Youngmi nggak dituntut apa-apa sudah bunuh Minho?
    Nice story.

  8. ada komik yg critanya persis bgini,sampai akhir critanya sama,tp komiknya udah lama banget
    memang inspirasi dari itu yaa?

  9. Mantaap! Idenya keren! Gak ketebak!
    Kukira tadi endingnya bakalan pacaran atau apa gitu.. Soalnya ratenya kan beda.. Tapi pas dipikir2 lg, genrenya gak ada romancenya. Ternyataa…
    Keren deeh..

  10. aku udah baca beberapa ffnya chaerin ssi, tapi baru sekarang aku komen.. maaf ya
    seperti biasa, ceritanya bagus, menegangkan, penuh misteri, dan unik :D walaupun ada beberapa typo..
    tapi aku agak nggak mudeng pas bagian akhirnya, berarti youngmi belum meninggal? trus dia ngomong sama siapa?

  11. Aku mbayanginnya ngeri :3 Serem yakin, feelnya dapet. DAEBAK!! ^^d Chaerin eon, ditunggu karya lainnya ya? Aku suka FF mysteri xD

  12. Kereeen, karakternya aku rasa juga cocok, Minho jadi cabul :3 #FlamersdemodidepanRumahTazkia.
    Kereen, ini aja udah bagus kok, tingkatin lagi ya! ^O^9

  13. jadi itu youngmi dendam sama minho? terus youngmi ngebunuh minho dan dia selamat dari bunuh dirinya?. keren. aku suka ff yg dendam dendaman

  14. author…
    yang t’akhir2 itu maksudnya gimana ya???? nggak ngerti deh…
    Menong eh Minho metongkan? trus Youngmi juga metong kan? lha jadi yg t’akhir itu gimana? cuma sandiwara ya?

    #DiHajarAuthorGara2KebanyakanNanya

  15. aku benar-benar menghela nafass…
    ngak sadar bakal gini akhirnya …
    tapi pas chaerin meminta minho berkunjung aku aneh, bukannya youngmi ngak bisa makan gara2 minho, kenapa minho di minta ke rumah youngmi …
    pas dateng .. ehh bener … psiko nih org ..
    ckckck minho juga nih apa sih yg ada di pikirannya dia, murid lagi nangis malah di gituin .. ckckck
    ayo..ayoo ff mu yang lainnya aku tunggu .. ^^
    good ff … gomawo ..^^

  16. Wueh, endingnya mengejutkan! O.o
    Aku pikir Minho yang bakal bunuh muridnya, soalnya Minho yang ngasih memo. Tapi ternyata Youngmi, hehe *sok tau sih*

    Eng.
    Nggak tau mau ngomong apa nih, huehe :3
    Cakep, pokoknya keren deh! Jempol buat Author b^o^d
    Aku tunggu FF selanjutnya :-D

  17. omoo, sadis banget ._.
    oo, jadi ini maksutnya si youngmi-nya itu sinting gara-gara minho? terus si youngmi dendam gitu? *sok tau, berisik* #ditendang
    ceritanya bagus kok thoor, typo-nya juga nggak banyak, tapi adegan darahnya.. eng, gimana gitu #merinding #digorokauthor

    • Oia ya? kalo boleh tau, judul komiknya apa? soalnya penasaran itu sama terakhirnya. Itu tuh akal2an mereka berdua, apa emang si cewe ada sekongkol sama yang lain?
      kalo g salah, ak udh baca beberapa ff nya author chaerin, kebanyakan emang saduran dari komik/novel2 nya R.L Stine gitu.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s