Sunshine [1.2]

Title                 :           Sunshine [SJB & The Future side story] part 1

Author            :           Choi Minjin

Main Cast       :           Lee Taemin, Choi Jinri

Supporting cast :       Kim Kibum, Choi Minho, Choi Sooyoung, Kim Jonghyun

Genre              :           Life, family

Length                        :           Two shots

Rating             :           General

AN                   :           Masih ingatkah Sesangeul Jom Barabwa dan The Future? #Nggaaaak! -____-

Kalo nggak ingat atau belum baca, jangan gundah, risau, apalagi galau. Karena tersedia summary-nya di sini *tunjuk-tunjuk bawah* tapi kalo masih inget, itu summary bisa diskip aja. Woke?

Please leave your sanso gateun comment, gomawo ^^

 

Sesangeul Jom Barabwa summary :

Choi Minho, telah mengalami kebutaan akibat kecelakaan lalu lintas selama hampir lima tahun. Sejak menjadi buta, ia tidak memiliki semangat hidup bahkan mencoba bunuh diri sampai tiga kali. Suatu ketika, Minho menemani adiknya, Choi Jinri yang dirawat di rumah sakit karena patah tulang kaki. Di situlah ia bertemu Lee Jinki, seorang pasien rumah sakit yang sangat tertarik pada kepribadiannya.

Berkat Kim Kibum, sahabatnya yang juga seorang dokter mata di rumah sakit itu, Lee Jinki mendapat informasi tentang Minho. Ia mencoba untuk bicara pada Minho dan menasihatinya tentang indahnya kehidupan. Jinki pula lah yang memberinya harapan bahwa ia akan dapat melihat lagi. Setiap hari mereka duduk di atap rumah sakit, membicarakan banyak hal. Berkat Jinki, Minho sadar bahwa ia harusnya bersyukur karena masih banyak yang lebih tidak beruntung darinya.

Setelah Jinri pulang, Jinki bagai menghilang. Minho tidak pernah bertemu dengannya lagi. Ia pun kecewa, mengira Jinki mengingkari janji untuk selalu menemaninya. Suatu hari ia menerima telepon dari rumah sakit bahwa ada orang yang mendonorkan kornea untuknya.

Setelah operasi transplantasi kornea, Minho sangat ingin tahu siapa yang mendonorkan kornea untuknya. Namun Kibum tidak mau memberitahunya. Akhirnya ia mencari tahu sendiri di kantor dokter Jaejoong dan ternyata Jinki lah yang berpesan untuk mendonorkan kornea untuknya sesaat sebelum kematiannya karena kanker stadium akhir.

Minho selalu mengingat Jinki sebagai sahabatnya. Selamanya.

The Future summary :

Satu tahun dua minggu setelah kematian Jinki, Minho datang ke makamnya untuk berziarah. Namun di pusara Jinki, didapatinya seorang gadis yang memperkenalkan diri sebagai Choi Sooyoung. Entah kenapa Minho langsung tertarik pada gadis itu.

Ternyata Sooyoung adalah mantan pacar Jinki. Mereka berpisah satu tahun sebelum kematian Jinki. Sooyoung selalu merasa bersalah karena pernah menyakiti hati Jinki. Ia selalu menyesali masa lalu.

Setiap hari, seperti Minho dan Jinki dulu, Minho dan Sooyoung duduk di atap rumah sakit, membicarakan banyak hal. Minho selalu memberi semangat pada Sooyoung bahwa menyesali masa lalu adalah hal yang sia-sia dan bahwa memikirkan masa depan adalah hal yang lebih penting.

Namun kemudian Kibum memberitahu Minho bahwa Sooyoung ternyata seorang pecandu narkoba, bahwa Minho lebih baik menjauhinya. Sejak Minho tahu hal itu, Sooyoung tidak pernah menampakkan diri lagi. Ketika Minho menemuinya, Sooyoung menghindar dan berkata bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi dan bahwa ia masih mencintai Jinki sehingga tidak bisa menerima cinta Minho.

Kemudian, Sooyoung mencoba bunuh diri. Minho memantapkan hati bahwa ia harus membantu Sooyoung memperbaiki hidupnya, sama seperti yang dulu Jinki lakukan padanya. Ia membawa Sooyoung ke tempat rehabilitasi narkoba terbaik se-Korea Selatan. Perlahan hati Sooyoung pun mulai terbuka untuk Minho.

Namun mereka harus berpisah selama beberapa waktu. Minho harus pergi ke Jepang untuk meneruskan pendidikannya. Meski begitu, dua tahun kemudian, Minho kembali. Ia melamar Sooyoung tepat di tahun ketiga kepergian Jinki, di depan pusara sahabatnya itu.

Kini mereka menatap ke depan. Masa lalu ada untuk dikenang, tapi jangan sampai disesali.

**************************************************************************

Choi Jinri menatap kagum pada calon kakak iparnya yang terlihat sangat cantik dengan baju pengantin. Berkali-kali ia tersenyum lebar sambil membantu memegangkan buket bunga sementara Choi Sooyoung masih duduk dengan gelisah.

“Eonni, jangan terlalu tegang. Kau cantik sekali, lho.”

Wajah Sooyoung masih saja tegang,”Jinri-ya… aku… mau buang air kecil. Bagaimana caranya melakukannya pakai gaun ini?”

Jinri memukul pelan dahinya sendiri,”Ya ampun, ternyata itu. Aduh, kenapa tidak dari tadi sih? Waktunya sudah sangat mepet.”

Sooyoung menarik nafas dalam-dalam,”Tidak apa-apa. Aku bisa menahannya. Huuuft… hwaiting!”ia mengepalkan tangan. Jinri menirunya,”Ung. Hwaiting!”

Waktunya tiba. Jinri menyerahkan buket bunga putih itu lalu ia melaksanakan tugasnya sebagai pengiring pengantin. Ia menyaksikan dengan terharu ketika pernikahan itu berlangsung. Ia merasa sangat bahagia, melihat wajah oppa tersayangnya yang begitu bersinar oleh kebahagiaan.

Setelah proses selesai, semua yang menyaksikan bertepuk tangan. Jinri yang duduk di baris depan, tiba-tiba merasa terganggu mendengar suara dari sampingnya.

“Huhuhuhu… selamat Minho Sooyoung… huhuhuhu… mengharukan sekaliiiii…”

Jinri menoleh perlahan. Kemudian dia menepuk dahinya keras-keras. Ternyata sejak tadi yang duduk di sampingnya adalah si dokter mata menyebalkan. Ia harus segera bangkit dan pergi sebelum si dokter mata menyadari keberadaannya.

“Jinri!”

Terlambat. Jinri memukul-mukul kepalanya sendiri, merasa bodoh. Ia menoleh, memaksakan senyum, lalu dengan suara semanis mungkin berkata,”Oh, Kibum oppa. Apa kabar?”

Kibum masih berusaha mengusap pipinya yang basah oleh air mata,”Aku lebih dari baik. Ya ampun, kehidupan mereka benar-benar mirip drama TV bukan? Happy ending. Huhuhuhu. Aku benar-benar terharu.”

Jinri memaksakan senyum lagi,”Ahahahaha. Benar sekali. Mengharukan. Iya. Benar.”ia berbalik, mencibir, lalu berbalik lagi, tersenyum lebar,”Jangan menangis, oppa. Harusnya kita semua bahagia sekarang.”

“Kau benar, Jinri.”Kibum memegang pundak Jinri,”Ayo kita rayakan hari bahagia ini. Nanti malam bagaimana kalau kita… minum?”

“Hah? Minum?”Jinri menyingkirkan tangan Kibum dari pundaknya,”Maaf, oppa. Tapi aku tidak minum soju.”

Dahi Kibum berkerut,”Soju? Siapa yang mengajakmu minum soju? Aku alergi soju, minum seteguk saja seluruh tubuhku gatal-gatal. Maksudku, nanti aku akan mentraktirmu minum jus. Bagaimana? Sekalian makan jjajangmyeon?”

“Oh, maaf oppa. Tapi… aku banyak tugas kuliah. Lain kali, mungkin?”Jinri melirik ke arah Minho dan Sooyoung yang sedang berfoto,”Aku mau foto dulu ya oppa.”dan ia pun langsung berlari menghampiri Minho.

Ternyata Kibum menyusulnya. Ia sekarang tampak memandangi wajah Minho,”Wah, Minho. Kau terlihat hebat sekali. Walaupun tidak setampan aku, tapi kuakui kau cukup tampan hari ini.”

“Kuanggap itu pujian, Kibum. Terima kasih. Terima kasih juga sudah datang.”

Jinri benar-benar merasa kesal,”Minho oppa, ayo kita berfoto. Kita bertiga. Kau, eonni, dan aku.”

“Ayo.”Sooyoung menyambutnya,”Kibum, kau ikut juga ya.”

“Boleh?”

“Tentu saja kau harus ikut.”sahut Minho.

Wajah Jinri benar-benar kusut.

Setelah berfoto –dengan wajah bahagia Minho Sooyoung, pose maksimal Kibum, dan wajah cemberut Jinri- mereka mulai berjalan menuju pelataran. Udara di luar dingin. Terang saja, ini bulan Desember.

“Ngomong-ngomong, aku ingin menanyakan ini dari tadi. Kenapa kalian menikah di musim dingin? Benar-benar pemilihan waktu yang aneh.”Kibum berkata dari sela-sela memakai mantelnya.

“Hari ini tepat dua tahun yang lalu, kami bertemu untuk pertama kalinya. Hari yang baik, kan?”

Jinri mengangguk-angguk mendengar perkataan oppa-nya,”Benar oppa. Itu romantis sekali. Maniiiis… sekali.”

“Tapi tetap saja, menikah di musim semi itu lebih indah. Udara hangat, bunga-bunga bermekaran, lalu pernikahannya diadakan di ruangan terbuka, di bawah rerindangan pohon-pohon sakura, di atas hamparan rumput hijau…”

“Di bawah hujan badai dan geledek yang menyambar.”sambung Jinri.

Kibum pura-pura tidak mendengar,”Kalau aku menikah nanti, aku pasti akan menikah di musim semi. Meresapi harumnya cinta di tengah hangatnya udara…”

“Memangnya ada yang mau menikah denganmu?”Jinri bergumam pelan sekali.

“Harum semerbak bunga-bunga… kehijauan yang menyejukkan mata…”

“Hei Kibum.”Sooyoung menepuk bahu Kibum yang tampaknya sejak tadi tidak didengarkan siapapun,”Bukankah itu… Taemin?”

Kibum memicingkan mata melihat ke arah yang ditunjuk Sooyoung,”Ah iya benar. Aku memberinya undangan ketika kau memintaku mengundang siapapun yang harus diundang. Ternyata sudah setahun ini Taemin tinggal di Seoul. Aku bertemu dengannya di rumah sakit kira-kira seminggu yang lalu waktu dia ingin mengurus surat keterangan sehat. Kupikir dia harusnya datang, jadi kuundang. Tidak kusangka dia benar-benar datang.”

Minho dan Jinri ikut memperhatikan namja yang dimaksud. Namja itu tinggi, agak kurus, memakai jas hitam semi formal yang cukup bagus. Ia terlihat sedang berdiri menunggu sesuatu di antara kerumunan orang yang sedang menunggu Minho dan Sooyoung menuruni tangga.

“Tapi ngomong-ngomong… Taemin itu siapa?”

Sooyoung dan Kibum menoleh serentak pada Minho dengan heran,”Kau tidak tahu?”

Minho dan Jinri menggeleng berbarengan.

Sooyoung dan Kibum berpandangan sesaat sebelum akhirnya Sooyoung berkata pelan,”Minho, Taemin itu… adiknya Jinki.”

“HAH?”mata Minho dua kali lipat lebih besar dari biasanya,”Jinki punya adik?”

“Kau tidak tahu? Bagaimana mungkin kau tidak tahu?”

Wajah Minho masam,”Dia tidak pernah memberitahuku. Kalau dipikir-pikir, aku ini tidak tahu apa-apa tentang Jinki. Tanggal lahirnya saja aku tahu darimu kan, Kibum. Sebenarnya aku ini dianggap apa sih?”

“Sudahlah oppa. Sebaiknya kalian bersiap turun. Mereka semua sudah menunggu. Aku akan turun duluan ya.”Jinri merapikan jas Minho lalu berlari menuruni tangga, bergabung bersama yang lain, ikut bersiap melemparkan bunga. Kibum masih setia mengikutinya.

Ketika tiba akhirnya Sooyoung akan melemparkan buket bunganya, Jinri bergabung bersama puluhan yeoja lain di belakangnya. Jinri sangat menyukai buket bunga itu. Maka dia harus mendapatkannya.

Sooyoung melemparkannya sekuat tenaga ke belakang. Bunga itu melayang, melayang, melayang jauh sekali ke belakang. Melewati sekumpulan yeoja yang menggapai-gapai, melewati beberapa halmeoni yang sibuk mengobrol, hingga akhirnya jatuh dengan sukses tepat di kedua tangan sang dokter mata, Kim Kibum.

Semua orang melongo, entah dengan perasaan apa.

Jinri menjejak-jejakkan kakinya kesal. Dari tadi si dokter mata cerewet itu terus saja mengganggu hidupnya. Ia berbalik dan tepat saat itu dilihatnya dengan jelas, Lee Taemin naik ke sebuah mobil hitam. Sebelum naik, ia bertemu pandang dengan Jinri. Pandangan itu…

Jinri ragu namja itu benar-benar adik Lee Jinki. Namja sipit yang dulu senantiasa tersenyum ceria dan hangat itu mana mungkin punya adik yang memiliki pandangan dingin menusuk seperti namja di depannya ini.

Dan Lee Taemin pun pergi.

~~~~~

Sudah sejak ia ikut Minho ke Jepang, Jinri tertarik belajar vokal. Ia suka menyanyi, tapi tidak benar-benar bagus. Karena itu sejak kembali ke Korea, ia memutuskan mengisi waktu luangnya dengan les vokal.

Guru vokalnya bernama Kim Jonghyun. Masih muda, mungkin seumuran Minho. Jinri cukup menyukai seonsaengnimnya ini karena kepribadiannya yang menarik. Ia ramah dan humoris. Dan suaranya sangat bagus, tentu saja.

Siang ini, bersama enam orang lain, Jinri menunggu Jonghyun seonsaengnim sambil mempelajari lirik lagu. Mungkin kalau ia cukup bagus, ia akan diikut sertakan ke tim paduan suara yang akan tampil di pertunjukan musikal tiga bulan lagi.

Tepat pukul 15.00, Kim Jonghyun memasuki ruangan. Jinri sibuk memasukkan laptopnya ke dalam tas sementara Jonghyun seonsaengnim berdiri di hadapan mereka,”Annyeong. Perkenalkan, ini asisten baruku. Dia pianis handal. Namanya Lee Taemin.”

Jinri membeku. Perlahan, ia mendongak lalu dilihatnya Lee Taemin, yang baru tiga hari dilihatnya di pernikahan itu sekarang berdiri di samping Jonghyun seonsaengnim.

Beberapa yeoja berbisik-bisik,”Wah, dia tampan ya. Persis seperti tipeku.”

Yang lain menimpali,”Tapi aku lebih suka Jonghyun seonsaengnim.”

“Tapi Taemin cute sekali!”

Jinri hanya mengerutkan dahi. Apanya yang menarik dari wajah masam Lee Taemin?

Bahkan ketika latihan dimulai, Jinri tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Taemin yang bermain piano. Permainan pianonya bagus, tapi ada yang janggal. Wajah Taemin tidak terlalu tampak bersahabat.

Sekali lagi Jinri ragu bahwa namja ini punya hubungan darah dengan Lee Jinki.

~~~~~

Senja di musim dingin, entah mengapa terasa berbeda. Namun hari ini bagi Jinri terasa semakin berbeda, karena di senja seperti ini, ia berjalan di trotoar, mengikuti Taemin.

Berkali-kali Jinri merutuki dirinya sendiri yang dianggapnya sudah gila. Tapi ia tidak dapat memungkiri bahwa dia memang penasaran. Dia ingin membuktikan sendiri bahwa Lee Taemin adalah benar adik Lee Jinki.

Jinri menarik nafas panjang, lalu ia berteriak,”Lee Taemin!”

Namja itu berhenti, lalu dengan wajah agak terganggu, menoleh pelan,”Ya?”

Jinri menghampirinya. Sekarang mereka berdiri berhadapan di pinggir jalan, dilatarbelakangi senja yang semakin menghitam,”Taemin-ssi, kau ingat aku?”

“Kau yang tadi kan? Kau salah satu murid Jonghyun hyungnim.”

“Tidak, maksudku bukan itu. Kita bertemu beberapa hari yang lalu di pernikahan kakakku.”

“Oh, pernikahan Sooyoung noona? Kau adik iparnya? Aku titip ucapan selamat kalau begitu. Ya sudah ya, aku pergi.”Taemin hanya tersenyum singkat tanpa ketulusan, lalu berjalan lagi.

Jinri menahannya,”Tu, tunggu. Aku mau tanya sesuatu. Sebentar saja.”

Wajah Taemin mengatakan ia sangat terganggu. Tapi ia berusaha keras tetap ramah,”Apa?”

“Benarkah kau adik Jinki oppa?”

Wajah Taemin berubah pucat, mendekati warna salju yang mulai turun. Langit sudah gelap, namun Jinri dapat melihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajah Taemin. Yang tadinya dingin dan datar, sekarang matanya mulai melebar,”Kau… apa hubunganmu…?”

“Oh, aku pernah mengenalnya sebelum dia meninggal. Kakakku yang menerima donor korneanya, kau tahu kan? Dia orang yang sangat baik dan hangat, iya kan? Aku benar-benar kaget waktu mendengar berita bahwa dia…”

“Aku tidak punya kakak.”

“Hah?”apa Jinri tidak salah dengar? Benarkah suara pelan itu berasal dari Taemin?

“Aku tidak punya kakak.”Taemin menggeleng lemah,”Aku tidak pernah punya kakak. Mungkin, mungkin kau salah orang. Aku harus pergi.”dan ia pun berlalu.

Jinri masih berdiri di trotoar, menatap bingung pada punggung Taemin yang menjauh. Dia tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti.

~~~~~

Tiga hari berselang, setelah kelas Jonghyun seonsaengnim selesai, Jinri kembali mengikuti Taemin menyusuri trotoar. Namja itu menyadarinya. Ia berbalik dengan wajah angker,”Kenapa kau mengikutiku?”

Jinri terkejut dirinya ketahuan,”A, aku tidak mengikutimu.”

“Pembohong.”

Jinri mengerucutkan bibir,”Kau yang pembohong. Aku sudah tanya Kibum oppa dan Sooyoung eonni. Kau memang adik kandung Lee Jinki. Apa sih tujuanmu mengingkarinya?”

Taemin berbalik lagi, bersiap pergi. Tetapi Jinri mengejar dan menarik lengannya,”Tunggu, Lee Taemin!”

“Kenapa sih kau suka sekali mencampuri urusan orang?”Taemin menepis tangan Jinri. Ia benar-benar tidak suka ditanya tentang hal itu. Ia tidak ingin mengingat hyungnya itu,”Itu kan bukan urusanmu. Kita tidak punya hubungan pertemanan secara langsung. Kau hanya pernah mengenal Jinki karena kebetulan ia mendonorkan kornea untuk kakakmu. Jadi tolong berhenti bersikap seakan-akan kita ini sudah akrab.”

Jinri tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran orang ini,”’Jinki’? Kau ini tidak sopan. Dia itu kakakmu!”

“Sudah kubilang aku tidak punya kakak! Kau ini tuli atau bodoh sih?”

“Bohong bohong bohong! Dasar adik tidak berbakti. Jinki oppa pasti sedih sekali punya adik sepertimu. Aku benar-benar kasihan padanya. Orang sebaik dia bagaimana mungkin punya adik sepertimu? Kalau bukan Sooyoung eonni sendiri yang memberitahuku, aku tidak akan percaya!”

Taemin perlahan mendorong bahu Jinri menjauh darinya,”Kaubilang dia pasti sedih punya adik sepertiku? Aku jauh lebih sedih! Aku benar-benar tidak beruntung menjadi adiknya. Kau tidak akan mengerti.”lalu ia berbalik, berjalan pergi.

“Yah! Lee Taemin! Dasar bodoh! Bodoh, bodoh, bodoh!”

“Terserah!”Taemin tetap berjalan pergi.

~~~~~

Sooyoung sedang membaca majalah fashion di balkon ketika Jinri mendekatinya. Ia mendongak sebentar dari majalahnya untuk melihat wajah Jinri. Ia hapal ekspresi apa itu. Jinri pasti penasaran akan sesuatu,”Apa, Jinri?”

“Eonni, si Lee Taemin itu… kenapa sih dia selalu mengingkari bahwa dia punya kakak? Selain itu, kemarin dia bilang dia sedih menjadi adik Jinki oppa. Apa dari dulu dia memang seperti itu?”

Sooyoung menutup majalahnya. Jinri memandang heran ekspresi sedih di wajah itu,”Eonni?”

“Jinri-ya…”Sooyoung menatap wajah Jinri,”Taemin memang tidak dekat dengan Jinki, kakaknya sendiri. Dulu, aku saja sangat jarang melihatnya bersama Jinki apalagi bertemu dengannya. Tapi aku tahu satu hal. Aku tahu bahwa Taemin… dia membenci kakaknya.”

“Kenapa?”Jinri benar-benar heran. Orang lain saja begitu menyukai Jinki yang sangat baik, tapi adiknya sendiri malah membencinya?

“Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi dulu Jinki pernah memberitahuku dengan sedih bahwa dia selalu merasa bersalah pada Taemin. Dia bilang, memang salahnyalah Taemin jadi membencinya.”

Jinri masih dalam rasa ingin tahu. Itu memang sifatnya dari kecil dan ia tidak dapat menghindarinya,”Eonni, aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang adik membenci kakaknya seperti itu. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku membenci Minho oppa. Hidup macam apa seperti itu?”

Sooyoung membelai lembut kepala Jinri,”Kalau kau begitu ingin tahu, mungkin kau bisa tanya Kibum. Lagipula Taemin cukup menghormati Kibum karena dulu Kibum adalah seonbae-nya di kelas musik selama bertahun-tahun. Kemarin saja dia mau datang ke pernikahan karena Kibum yang mengundangnya, kan?”

Jinri menegakkan badannya. Mendengar kata ‘Kibum’, tiba-tiba saja ia menjadi kesal,”Kim Kibum? Apa tidak ada orang lain?”

~~~~~

Taemin memandang putihnya salju di tempat aneh ini, sebuah tempat terbuka di atap rumah sakit. Kenapa Kibum hyung menyuruhnya datang kemari? Orang itu sejak dulu memang tidak berubah, tetap aneh.

Taemin berdiri dekat tepian yang tidak berpagar. Agak berbahaya memang, tapi pemandangan indah di depannya sangat memesona, begitu mendamaikan. Seoul Tower dan bukit Namsannya terlihat jelas, luar biasa. Bahkan meski jalan-jalan terlihat putih karena salju, tapi putih itu begitu indah.

“Indah, bukan?”

Taemin tersentak, terkejut bukan karena suara itu datang begitu tiba-tiba, melainkan karena suara itu suara yeoja. Sesaat, pikirnya Kibum hyung sudah merubah suaranya. Tetapi kemudian disadarinya, Choi Jinri berdiri tepat di sebelahnya.

“Tahukah kau, Minho oppa pernah mencoba bunuh diri dengan melompat dari sini. Untungnya ada petugas kebersihan yang melihat dan mencegahnya. Selain itu, di tempat inilah Jinki oppa mengubah hidup Minho oppa. Karena itulah tempat ini begitu istimewa.”

“Bukan urusanku.”Taemin hendak berbalik, tetapi tanpa terduga, Jinri dengan kuat menahan tangannya.

“Lee Taemin, kenapa sih kau begitu membenci kakakmu? Aku tahu ini bukan urusanku, tapi… entah kenapa aku tidak bisa menghindarinya. Aku… selalu terbayang wajahnya, wajah Jinki oppa.”

Taemin diam membeku. Seluruh inderanya membeku, hatinya membeku.

“Aku selalu teringat saat itu. Saat Jinki oppa memasuki kamar tempatku dirawat, bertahun-tahun lalu. Aku selalu ingin menangis mengingat bahwa orang sebaik dia harus pergi begitu cepat. Bahwa ia begitu baiknya memberi kehidupan baru pada Minho oppa.”

“Dia begitu baik, ya?”suara Taemin mulai terdengar lagi, agak mengagetkan Jinri,”Dia orang yang disayang banyak orang. Semua… semua orang menyukainya. Ia seorang teman yang baik bagi siapapun, benar kan? Tapi sejak aku dilahirkan sampai detik ini, aku tidak pernah merasa punya seorang kakak. Aku justru seperti seorang kakak yang harus selalu mengalah pada adiknya.”

Sekarang Taemin mendudukkan dirinya di tepian, dengan kaki menjulur ke bawah. Jinri mengikutinya, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terucap dari mulutnya.

“Jinki selalu sakit-sakitan sejak kecil. Eomma dan appa selalu sibuk mengurusnya. Dan hebatnya, Jinki sangat pintar, baik, penurut, berprestasi, tidak seperti adiknya yang selalu biasa-biasa saja. Semua orang begitu menyayanginya sampai-sampai mereka tidak ingat bahwa Lee Jinki memiliki seorang adik yang butuh perhatian juga. Appa tidak pernah mengantarku ke sekolah, tidak pernah membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, tidak pernah menyelimutiku sebelum tidur. Dia melakukan itu semua hanya untuk Jinki.”

Jinri termangu. Otaknya buntu.

“Mereka hanya sibuk berpergian mengantar Jinki berobat kemana-mana, mencari obat, semua untuk Jinki. Apalagi, ketika Jinki didiagnosa menderita kanker, mereka meninggalkanku begitu saja di rumah agar mereka dapat mengurus Jinki di sini. Setelah anak emas mereka itu mati, mereka tetap saja memikirkannya tanpa henti. Mereka memandangi foto Lee Jinki siang malam sampai-sampai tidak menyadari bahwa aku pergi ke Seoul untuk melanjutkan hidupku sendiri.”

Angin berhembus cukup kencang. Nuansa dingin dan suram itu terasa begitu menyesakkan, entah dari mana. Taemin menyelesaikan ceritanya dengan pelan,”Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya, Choi Jinri. Aku begitu membencinya, karena dia lahir sebagai kakakku. Karena keberadaannya membuatku tak terlihat. Karena ia memonopoli semua hal di dunia ini. Dan aku bahkan tidak benar-benar menangis ketika dia meninggal.”

Jinri tersenyum, senyum sinis,”Wah, kehidupan yang tragis. Kau ini benar-benar orang paling sial di dunia, begitu? Coba kita pikirkan sesuatu. Coba kaubayangkan bagaimana rasanya menjadi kakakmu.”

Taemin diam, tidak begitu peduli. Telinganya sudah tuli akan segala macam kotbah dan nasihat.

“Sekitar delapan tahun yang lalu, Minho oppa mengalami kecelakaan yang membuatnya buta. Dia berubah, seperti bukan dirinya. Dia depresi, mencoba bunuh diri beberapa kali. Semua orang, appa, eomma, mencurahkan seluruh perhatian padanya. Mereka tidak memperhatikan aku. Aku melakukan semua hal sendiri. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, sambil sekolah dan belajar sementara eomma sibuk dengan oppa. Dan kau tahu, kenapa mereka begitu?”

Taemin hanya mendengus.

“Karena mereka percaya aku cukup sanggup untuk mengerjakan semua itu sendiri. Karena mereka percaya aku mandiri dan aku akan mengerti bahwa oppa memang lebih membutuhkan mereka daripada aku. Aku sangat menyayangi oppa. Aku begitu sakit, membayangkan seperti apa yang dirasakannya. Seberapa gelapnya itu? Seberapa frustasinya itu?”

Taemin mulai berdiri. Tanpa sepatah kata pun ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Dan sekarang coba kau bayangkan bagaimana sakit yang diderita kakakmu, Lee Taemin! Kaupikir dia sendirikah yang ingin menjadi sakit dan lemah? Kaupikir, dia sendirikah yang memohon untuk diberi banyak perhatian karena penyakitnya? Kaupikir dia tidak menderita?”

“Diam, Choi Jinri. Kau tidak akan pernah mengerti. Aku lahir seperti ini, dengan rasa benci pada kakak kandungku sendiri, Lee Jinki. Kau puas telah mendengar semuanya? Selanjutnya jangan ganggu aku lagi!”

Blam.

Pintu biru itu menutup, meninggalkan kesunyian.

~~~~~

Jinri melangkah gontai menuruni setiap anak tangga. Bahkan di lift ia bersandar dengan lemah di dinding, tidak memedulikan tatapan tiga orang lain yang menatapnya geli. Mungkin dia terlihat seperti orang mabuk yang tanpa sadar berjalan-jalan sendirian di rumah sakit.

Di lantai dasar, begitu keluar lift, ia berjalan santai. Sesekali diliriknya kanan kiri, waspada kalau-kalau ia bertemu Kim Kibum. Bisa gawat kalau ia bertemu dengannya. Mungkin Jinri baru akan pulang tengah malam karena Kibum terus mengajaknya bicara tidak jelas.

Perhatiannya teralih ketika beberapa perawat dengan buru-buru mendorong sebuah tempat tidur lewat di depannya. Jinri melihat sekilas orang yang didorong itu, dan ia terkesiap.

Itu Lee Taemin. Dengan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya.

Tapi… tapi baru beberapa menit yang lalu ia melihatnya masih baik-baik saja. Apa yang terjadi?

“Jinri!”

Jinri menoleh, mendapati Kim Kibum dengan rambut acak-acakan, tampak panik menghampirinya,”Jinri, Taemin tertabrak mobil ketika buru-buru menyeberang jalan. Temanku melihatnya langsung. Katanya dia terlihat buru-buru lari begitu menerima telepon.”

Jinri melirik jam tangannya,”Oh iya. Sekarang jadwal kelasnya Jonghyun seonsaengnim. Pasti dia buru-buru karena Jonghyun seonsaengnim menyuruhnya cepat datang. Ya ampun…”

“Baiklah. Sekarang aku akan menghubungi orang tuanya. Kau tunggui dia ya. Mungkin perlu juga kaukabari Sooyoung dan Minho.”

Jinri mengangguk lalu Kibum bergegas pergi. Kemudian Jinri berlari secepat mungkin menuju UGD, pasti Taemin ada di sana. Jantungnya berdegup kencang. Ia khawatir. Benar-benar khawatir.

Lee Taemin, kau harus baik-baik saja. Kumohon…

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

About these ads

23 thoughts on “Sunshine [1.2]

  1. kibum.. lol… dy bnrn dokter gak sih ceritanya? lol… dokter lebay ya.. wakakakak

    taemin.. hiks hiks hiks…
    lanjutkan…

  2. Menyentuh ceritanya… Satu kebaikan berujung pada kebaikan2 yang lain begitu seterusnya… ditunggu lanjutannya, thor^^d

  3. Author!….smpah kren bgt nih ff dr crita yg prtma smpe yg ini bner2 bkin hti aku ngenes T-T, ohiya thor klo bsa part slnjutnya jgn lma2 ku pnsaran tingkat dewa nih, kekeke XD

  4. Taemin-Sulli, couple fav.ku..
    kenapa yaaah, saya gak dapat feelnya si taemin jahat gitu, soalnya mukanya kan asli polos bangeeet! tapi serius, itu ngenes banget si taemin ih!
    sebenarnya gak terlalu suka sama twoshot, tapi fic ini benar-benar keren, okelah part 2 akan kunantikan
    what?! sesangeul itu ada Jinkinya? Astaga, saya melewatkan satu itu. oke, saya capcus ke fic satu itu yaaaah. pokoknya, keren kerenlaaah~

  5. TaeMin Kasihan sekali dirimu.
    JinKi baru mucul udah langsung meninggal.
    Tatapan TaeMin kebayang banget, Dingin, tajam dan Keren.
    Lanjutin segera author

  6. Pingback: Agar Busana Muslim Tak Terkesan Berlebihan « MENEMBUS CAHAYA

  7. Pingback: Cerita Senja di Pantai Oesapa « Aklahat

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s