Harum Bunga

Title                 : Harum Bunga

Author             : Bella Jo

Main Cast        : Choi Minho, Yurika Lisa Lan (OC)

Support Cast   : Ririka Lisa Lan(OC)

Length             : Oneshot

Genre              : Romance, Supernatural, Sad

Rating                         : PG-15

Summary         : Apa kau mengikutiku karena kau menyukaiku?

              Kau mengejarku?

              Atau… kau mengekorku?

A.N                 : Cerita ini udah lama kubuat, waktu masih baru-baru belajar buat cerita. Semoga gak banyak typo dan readers sekalian pada suka. Oh, iya. Inspirasinya dari film Duelist starring Kang Dongwoon dan Ha Jiwon. Pada nonton filmnya, y~~ seru lho~~ *promosi*. Ok, check it out!

HARUM BUNGA

By. Bella Jo

 

 

 

Angin malam terasa dingin menusuk. Saat udara seperti ini, hal yang paling membuat nyaman adalah tidur di balik tumpukan lapisan selimut hangat. Itu pula yang ada di dalam pikiran seorang wanita paruh baya yang sedang membawa beberapa lapis selimut ke dalam sebuah ruangan bercat biru muda. Dia menatap sesosok gadis yang tengah tidur pulas di atas ranjang dengan tatapan hangat. Diselimutinya gadis itu dengan selimut-selimut yang dibawanya.

Tapi ada harum bunga yang mengganggu kenyamanan ruangan itu, bau ganjil yang seharusnya tidak ada di sana. Wanita itu berusaha memanjatkan doa dan menyapukannya ke seluruh penjuru ruangan dengan nafasnya. Dan bau itu pun hilang.

***

”Yurika, lebih baik kamu meminta ayahmu untuk membacakan doa di kamarmu sebelum kamu tidur,” saran wanita paruh baya tersebut pada anak gadisnya yang tengah asyik menggigit apel. Si gadis yang bernama Yurika itu pun menoleh, ”Memangnya kenapa, Ma? Ada yang aneh dengan kamarku?”

Wanita itu memandangnya, ”Apa kamu memakai parfum saat kamu tidur?” tanyanya hati-hati. Yurika tertawa, ”Mama ’kan tahu aku. Aku ’kan nggak suka pakai parfum, apa lagi waktu tidur!” cibirnya. Mamanya tampak semakin cemas, ”Kemarin ada harum bunga tercium di kamarmu., harum yang sangat pekat. Bau itu hilang saat Mama menyapukan doa ke penjuru kamarmu. Ini aneh sekali…”

”Hahahaha… Mama bercanda ’kan? Itu nggak mungkin! Yurika nggak percaya sama yang gituan!” tawanya sambil berlalu pergi meninggalkan ibunya. Yang ditinggalkan hanya menatapnya dengan lebih cemas lagi. ”Apa laki-laki itu akan muncul untuk anakku? Di generasi setelahku?” bisiknya.

***

Gadis itu bernama Yurika Lisa Lan, seorang gadis blasteran Indonesia-Jepang yang sekarang tinggal di Indonesia. Ibunya bernama Ririka Murasaki, wanita keturunan Jepang yang berasal dari keluarga terpandang. Di keluarga Murasaki, hanya lahir satu anak perempuan di antara sekian banyak anak dan ia  bertugas sebagai penerus sekaligus kepala keluarga. Dan hal itulah yang menjadi tanggungan Ririka Murasaki sekarang.

Di dalam keluarga itu, ada satu cerita kuno yang terus dibawa dan membayangi setiap kepala keluarga Murasaki. Namun Yurika sama sekali tidak mengetahui hal itu, termasuk tanggungannya kelak. Tapi kelihatannya cerita kuno itu akan berhenti pada Yurika, karena orang yang diceritakan di dalamnya tampak sangat tertarik pada gadis berambut gelombang itu.

***

Yurika berbaring sambil membalik-balik buku hariannya. Hari ini orang tuanya pergi ke luar kota dan meninggalkannya sendirian di rumah. Yurika bangkit dari pembaringannya lalu menatap lekat selembar foto yang ada disana. Foto seorang cowok dengan senyum manis tergaris di bibirnya. Yurika membalik foto itu dan mendapat tulisan ’Watashi no ai’, yang dalam bahasa Indonesia berarti ’Cintaku’. Air matanya mulai tergenang saat mengingat hal yang telah lalu.

“Maaf, Yurika. Tapi aku nggak mau pacaran untuk sekarang ini…”

Yurika menundukkan pandangannya, berusaha mengontrol dirinya yang serasa baru kehilangan hatinya. Dia menekan dadanya, menekan rasa sakit yang menjalar dari sana. Dia berusaha tenang, setidaknya di depan cowok itu, dan kembali mendongakkan kepalanya dengan senyum yang dipaksakan.

”Baiklah, nggak apa. Aku hanya mau mengatakannya, hanya untuk melegakan hatiku. Itu saja,” Yurika membalikkan badannya, ”Lebih baik aku kembali ke rumah sekarang. Orang tuaku pasti khawatir…”

Yurika berlari meninggalkan cowok itu tanpa berani memandangnya lagi. Dia berpikir kalau dia tak akan mampu membendung air matanya kembali saat memandang cowok itu lagi. Dia berlari terus dan perlahan berhenti saat nafasnya sudah terengah.

”Hahaha… ’maaf’, ya? Hahaha… ternyata kau menolakku, Dre… Hahaha… padahal aku memendam rasa ini bertahun-tahun… Haha… kau berhasil menghancurkanku sekarang…,” lirihnya..

 

Air mata Yurika menetes, namun cepat-cepat disekanya. Dirobeknya foto  itu dan dibakarnya di dalam asbak rokok. Yurika memandangnya  sendu,” Kau hanya masa laluku, tidak akan menjadi masa depanku. Kau dan aku tidak bersatu, setidaknya untuk saat ini…,” lirihnya. Yurika menunggu sampai api di asbak itu padam lalu kembali ke kamarnya. Ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat, ”No more about him!!”

Yurika kembali meraih buku hariannya. Tapi ada hal yang mengalihkan pikirannya, yaitu harum bunga yang pekat. Bulu roma gadis itu berdiri, tapi ia mengontrol dirinya dan menghalau pikiran-pikiran aneh yang berseliweran di kepalanya. ” Tidak ada hal-hal mistik di dunia ini!” imbaunya pada dirinya sendiri. Dan dia kembali meraih buku harian dan penanya.

Dua malam telah berlalu dan harum bunga yang pekat itu terus ada dan menghantui Yurika. Gadis itu berusaha cuek dan tetap berlaku seperti biasa. Tapi pikirannya semakin takut dan penasaran. Dia sudah tidak tahan lagi.

Yurika masuk ke kamarnya di mana bau itu terasa paling pekat. Dia menutup jendela dan menghidupkan lampu. Ditariknya nafas dalam-dalam dan dikumpulkannya keberaniannya. Dia duduk di atas ranjang dan menghadap dinding yang agak jauh di hadapannya.

”Aku tahu kau ada…,” ucapnya. Matanya melirik ke segala arah kamar itu. Dia berucap lagi, ”Muncullah di hadapanku, wahai pembawa harum bunga! Aku menunggu…”

Sama sekali tidak terjadi apa-apa. Yurika mulai kesal. Ia bangkit dengan tangan terkepal dan suara meninggi, ”Muncullah!!! Apa kau mengikutiku karena kau menyukaiku? Kau mengejarku? Atau kau membuntutiku?” pekiknya. Dia menarik nafas dalam-dalam, ”Tunjukkan rupamu karena aku pun menyukai harum bungamu!!” serunya.

Tiba-tiba waktu serasa terhenti bagi Yurika, seakan udara pun berhenti mengalir. Di hadapannya, tiba-tiba muncul sesosok manusia rupawan dengan pakaian hitam kebiruan yang terkesan kuno. Rambutnya hitam panjang, kulitnya putih dan pandangannya tampak sedih. Caranya mencercah ke tanah pun terlihat sangat halus, seakan angin pun ada dalam kuasanya. Yurika terpaku dengan tatapan kagetnya. Sementara sosok itu sudah berdiri dengan indah di hadapannya.

Yurika berusaha mengucapkan hal yang paling kuat dalam pikirannya, ”Si.. siapa kau? Apa… kau si pembawa harum bunga…?” gagapnya. Sosok lelaki itu tersenyum halus, ”Aku Choi Minho, Murasaki Yurika. Kita berjumpa lagi…,” jawabnya dengan suara berat. Harum bunga tercium semerbak dari dirinya.

Cinta seratus malam

Kasih seribu bulan

Kan kukejar dirimu selalu

Walau tubuh binasa dimakan waktu

”Choi… Minho? Ke.. kenapa kau bisa muncul tiba-tiba di sini?” gagap Yurika lagi. Tiba-tiba ia terhenyak, ”Kau… hantu?” tanyanya takut. Lelaki itu tersenyum misterius, ”Menurutmu? Apa ada orang zaman sekarang yang memakai baju sekuno ini? Tidak ada lagi lelaki berambut panjang selurus ini, bukan?”

Yurika melangkah mundur, takut. Lelaki itu malah melangkah maju dan meraih tangannya, ”Kau takut, Murasaki Yurika? Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Karena aku telah menunggu tiga ratus tahun lamanya untuk kembali menemuimu…”

***

Angin berhembus sepi menabrak dahan-dahan ranting yang saling bergesek bising. Hujan turun deras dengan langit gelap dan awan hitam. Cuaca tidak baik, hari semakin dingin menusuk-nusuk.

Yurika duduk di balik selimut hangatnya. Seharusnya ia sendirian malam ini, tapi lelaki bernama Choi Minho tidak membiarkan hal itu terjadi. Mereka saling duduk berhadapan di atas karpet bulu warna-warni di kamar Yurika. Gadis itu menatap si lelaki dengan tatapan ragu. Minho duduk bersila layaknya lelaki Korea. Tatapannya sayu, tunduk menatap karpet.

”Aku tidak percaya lelaki sepertimu adalah hantu. Kau seperti orang normal lainnya. Apa kau tadi membohongiku?” tanya Yurika menggebu-gebu. Minho mendongakkan kepalanya, menatap lurus mata gadis itu. Disunggingkannya segaris senyum yang sukses membuat wajah Yurika memerah tanpa sadar. ”Kenapa kau meragukanku, Nona? Apa aku telalu menarik perhatianmu?” tanyanya dengan suara berat, suara yang mempesona setiap pendengarnya.

Yurika diam tak berani menjawab. Yang Minho katakan memang benar, gadis itu tertarik dengan kemisteriusannya. Yurika mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencari cara mengalihkan pembicaraan.

Minho mengangkat cerek kecil yang ada di atas meja. Dituangkannya isi cerek itu ke dalam gelas kecil, lalu mengambil gelas itu dengan gerakan pelan, ”Ada tiga hal di dunia ini yang tidak bisa ditebak. Yang pertama, warna langit malam. Yang kedua, warna mata kucing dalam kegelapan. Dan yang ketiga…,” Minho menyodorkan gelas itu pada Yurika yang perlahan menerimanya, ”Yang ketiga asalah… wajah wanita setelah lama tidak bertemu…”

Yurika memandangnya tidak mengerti. Minho menatapnya dengan tatapan dalam dan sedih, ”Wajahmu tidak berubah. Dan aliran waktu membuatku semakin rindu untuk bertemu dan memelukmu…”

“Minho-yah, hubungan kita ini sudah tidak bisa dilanjutkan. Kalau saja Kaa-sama tahu hubungan kita ini, kita bisa mati!” panik seorang wanita sambil menggenggam erat tangan lelaki yang ada di hadapannya.

”Tapi, Yurika, aku tidak bisa melepaskanmu! Selamanya takkan pernah!! Aku sudah menginkrarkan sumpahku padamu…,” balas si lelaki. Wanita itu menatapnya sedih dan jatuh terduduk. Lelaki itu ikut duduk di sampingnya. Wanita itu mulai menangis dan air matanya pun membasahi kimono birunya.

”Aku pun tidak ingin berpisah, Minho-yah… tapi aku pun tidak bisa membayangkan kematianmu… keluarga kita memang sudah begitu lama berpisahan dan takkan bisa bersatu…!!” isaknya. Lelaki itu memeluknya, berusaha menenangkannya. Dia menjawab, ”Aku juga tahu seberapa besar rasa benci di antara keluarga kita. Ditambah lagi dengan serangan tentara negeri kalian kapan lalu… Tapi, aku merasa itu tidak benar! Bagaimana pun aku ingin bersamamu…”

”Apa kau bisa bicara dengan Eomma-mu tentang hal ini? Kumohon, Minho…”

Aku akan berusaha bicara dengannya untuk menghentikan semua ini… tapi aku tidak menjamin semua akan selesai begitu saja…”

***

 

Murasaki Ririka tengah memotong sayuran di dapur saat anak gadisnya memasuki ruangan itu.wanita itu melirik sekilas dan kembali berkelut dengan ptongan sayuran yang ada di depannya. Yurika yang merasa tidak dihiraukan, memanggil wanita itu, ”Kaa-chan…” Kali in Ririka menoleh dan menghentikan aktivitasnya sejenak. Ditatapnya wajah Yurika dan bertanya, ”Ada apa? Yurika hanya memanggil ibu dengan sebutan itu saat ada hal penting yang mengganjal hatimu.”

Yurika tersenyum polos. Ibunya benar-benar bisa menebak pikirannya. Dia mengangkat sikunya ke atas meja dan menopang dagunya, ”Kaa-chan, apa ada suatu rahasia di keluarga kita?” tanyanya tanpa basa-basi. Murisaki Ririka kini tertegun. Ini dia pertanyaan yang sudah ia wanti-wanti keluar dari mulut Yurika. Wanita itu balik bertanya, ”Kenapa kau berpikir seperti itu, Yurika?”

Yurika mengangkat bahu lalu tangannya sibuk memainkan rambutnya, ”Entahlah, Kaa-chan. Hanya saja pikiran itu muncul tiba-tiba.” Yurika diam sejenak sementara ibunya belum mau menjawab pertanyaan tadi.

”Apa dulu ada wanita yang bernama Murasaki Yurika dalam keluarga kita?” tanya Yurika lagi. Ibunya semakin tertegun mendengarnya. Haruskah ia bercerita pada Yurika sekarang? Haruskah Yurika mengetahui rahasia besar keluaga sekarang? Murasaki Ririka masih bingung.

Yurika mengangkat bahunya dan bergegas pergi, ”Yah, tak apa kalau Kaa-chan tidak tahu. Aku hanya sedikit penasaran…”

”Yurika,” suara ibunya menghentikan langkahnya. Wanita itu menunduk bimbang, ”Sebenarnya…”

***

Yurika duduk di beranda depan rumahnya. Ibu dan ayahnya baru saja pergi ke Jepang. Untuk beberapa hari ini ia akan sendirian di rumahnya. Tapi ia yakin kalau dia tidak akan benar-benar sendiri. Lelaki pembawa harum bunga itu pasti menemaninya, setidaknya itu yang ada di dalam benak Yurika. Tapi rasa penasarannya terhadap lelaki itu sudah berganti rasa takut. Ia merasakan itu sejak mendengar cerita ibunya.

Namun, harum bunga yang entah sejak kapan mulai dikenalnya tercium. Bulu kuduk Yurika berdiri dan dia segera bangkit dari duduknya. Sore ini memang mendung dan tak ada seorang pun yang lewat di sekitar rumahnya. Rumah Yurika memang dikelilingi pagar kayu cokelat yang terpasang rapat dan rapi. Tapi gadis itu tidak mendengar langkah maupun suara berisik dari balik pagar rumahnya itu. Dia mulai merasa gawat. Seharusnya ia tidak sendirian di rumah sore ini karena sosok itu pasti akan muncul.

”Tapi aku sudah lama menantikan kesendirianmu itu, Nona,” terdengar suara berat lelaki yang disusul dengan munculnya sosok yang Yurika kenal. Lelaki itu muncul seakan datang dari guguran daun pepohonan yang ada di halaman rumah Yurika. Mata senduhnya menampilkan senyum yang sedih. Rambutnya yang tergerai dan  kulit putihnya membuat ia semakin terlihat rupawan. Yurika terkesima dan sama sekali tidak bergerak dari posisi berdirinya tadi. Matanya menatap lelaki itu dengan hati yang campur aduk, takut, kagum, terkesima, ingin tahu, dan… rindu? Kenapa Yurika merasakan suatu kerinduan yang besar sedang memeluk hatinya? Gadis itu semakin bingungdengan perasaannya sendiri. Tapi yang paling penting saat ini adalah menyadarkan dirinya terlebih dahulu. Ia harus bebas dari hipnotis pesona pria yang tepat berada di hadapannya.

Choi Minho tersenyum tipis saat melihat lengan Yurika yang bergetar takut. ”Bukankah sudah kukatakan aku tidak akan menyakitimu?” suara beratnya terdengar bersamaan dengan tangannya yang terangkat menyentuh lengan Yurika. Yurika melangkah mundur dan baru sadar tembok menghalangi langkahnya. Minho kembali tersenyum dan menahan tubuh gadis itu sepenuhnya ke arah tembok. Yurika tidak berani menatapnya dan terus membuang pandangan ke arah lain. Minho mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu, ”Yang kuinginkan hanya membawamu pergi bersamaku. Dan saat itu kupastikan kau akan benar-benar baik-baik saja.”

***

Kaa-sama, bagaimana ini? Kurasa Choi Minho sudah menampakkan sosoknya dihadapan Yurika…,” desak Murasaki Ririka pada wanita tua yang ada di depannya. Yang ditanyai hanya menggeleng, ”Kaa-sama tidak tahu, Ririka. Mungkin memang inilah saatnya kehilangan penerus sah keluarga. Kita sudah terlalu lama menunggu…

Begitu pula laki-laki itu…,” lirih Murasaki Ririka. Dia mengenang cerita ibunya tentang Choi Minho dan berharap wanita yang selama ini ditunggu Minho bukanlah dirinya. Dia menundukkan pandangannya dan berusaha  mengilangkan bayangan kalau ia harus kehilangan putri kesayangnnya secepat ini.

Ini salah pendahulu kita… Kalau saja saat itu mereka tidak membunuh Murasaki Yurika-sama yang terdahulu, kita tidak perlu dikutuk Choi Minho. Setiap anak perempuan Murasaki tidak perlu bersusah maupun menderita...,” lirih Ririka lagi. Ibu yang ada di hadapan dirinya memandangnya dengan tatapan tegas, ”Itu hukum keluarga, Ririka. Dan sebagai anggota keluarga Murasaki, kau tidak boleh berkata seperti itu. Seppuku adalah penghormatan, bukan pembunuhan.”

Tapi, Kaa-sama…

Dari pada berleha-leha di sini, lebih baik kau pulang dan memperlakukan Yurika dengan baik, sebelum Choi Minho benar-benar mengambilnya darimu…,” ada jeda di perkataannya, ”..dan dari kami…”

***

”Yang kau cari itu sebenarnya bukan aku ’kan, Choi Minho-ssi? Kau pasti salah orang…,” ucap Yurika ragu dan masih takut. Dia baru saja berhasil melepaskan diri dari dekapan lelaki di hadapannya. Wajah gadis itu memerah dan nafasnya sesak tak karuan. Dia tak menyangka didekap sosok hantu Choi Minho dapat membuat dadanya bergemuruh kencang. Ia melayangkan pandangannya ke arah lain dan menyeka rambut bergelombangnya yang tergerai berantakan. Pasti tampangnya terlihat sangat kacau tadi. Lagi pula, tadi itu terlalu dekat!

Kali ini Minho sama sekali tidak tersenyum., wajah lelaki itu tampak sangat sedih dan kecewa. Tapi ia tahu Yurika tidak melihat wajah dan mata sendunya itu, sehingga ia memilih untuk bersuara, ”Saat kau jatuh cinta pada seseorang, pikiranmu akan fokus pada orang itu dan kau tidak akan menyadari kehadiran orang yang mencintaimu…,” lirihnya. Tapi Yurika dapat mendengar suara Minho dengan jelas. Gadis itu mendongakkan kepalanya menghadap lelaki itu,” Maksudmu…?”

Yurika dapat melihat ekspresi Minho saat itu, ekspresi yang mampu menyayat hati setiap orang yang melihatnya. Minho hanya menyebut satu nama yang mampu membuat Yurika semakin tidak karuan, ”Andre…”

”A… apa maksudmu, Minho-ssi?” gagapnya. Minho hanya diam di tempatnya. Rambut hitam panjang lelaki itu bergerak bebas ditiup angin petang. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya di langit barat. Pandangan Yurika terhalangi rambutnya yang menutup wajahnya karena tersapu angin. Perlahan sosok Choi Minho menghilang dibarengi dengan lenyapnya harum bunga.

“Percayalah, aku selalu melihat ke arahmu… hanya ke arahmu… Tak peduli kau Murisaki Yurika yang dulu maupun yang sekarang…,” bisik suara berat di telinga Yurika.

Yurika terkesiap. Ia tahu ia harus berhati-hati pada Choi Minho tapi ia tidak tahu lelaki itu akan menunjukkan niat yang begitu kuat. Satu sisi ia merasa terancam dan di sisi lain ia menjadi sangat tertarik. Kalau saja ibunya tidak menceritakan itu, kalau saja ia tidak tahu apa pun, seorang Yurika Lisa Lan akan mendekati lelaki itu dengan senang hati…

“Sebenarnya ada apa, kaa-chan?” Tanya Yurika yang berbalik dengan sangat penasaran. Ibunya tidak langsung menjawab. Otaknya masih sibuk menimang-nimang keputusannya.

”Kaa-chan…?” panggil Yurika lagi. Ibunya tersentak. ”sebenarnya ?” tuntut Yurika. Murisaki Ririka memutuskan untuk memberitahu satu rahasia pada anaknya, ”Ada satu hal yang harus kamu ketahui sebagai seorang anggota Murasaki.”

Ririka menarik kursi dan duduk. Yurika ikut duduk di seberang meja tersebut. Gadis itu tampak begitu penasaran dan tertarik. Ibunya menghela nafas panjang da mulai bercerita, ”Dulu keluarga Murasaki adalah keluarga yang terkenal sebagai tuan tanah yang terhormat dan disegani. Atas perintah kaisar, anggota Murasaki pindah ke daerah Hanyang, Korea selatan. Saat itu Jepang baru saja memulai penjajahan atas daerah-daerah Korea. Tapi misi dari kaisar gagal dilaksanakan anggota Murasaki dan semuanya berakhir dengan seppuku…”

Ririka menghentikan ceritanya dan menarik nafas, ”Karena itulah, anggota keluarga Murasaki pindah ke Korea dan akhirnya mereka tahu kalau penyebab kegagalan itu adalah kekuasaan dan kekuatan dari keluarga Choi. Akhirnya kedua keluarga saling bermusuhan dengan kebencian yang dalam.

”Tapi, seorang lelaki bernama Choi Minho menyelamatkan Murasaki Yurika yang hampir mati dalam suatu pertarungan. Keduanya adalah anak kepala keluarga masing-masing pada saat itu. Yurika merasa berhutang budi dan keduanya menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Tapi akhirnya hubungan terlarang itu ketahuan oleh orang tua Yurika-sama. Beliau diminta untuk melakukan seppuku dan dengan berat hati ia menerima hukum keluarga itu. Namun dia tidak langsung mati saat pisau menusuk dadanya, sehingga dua algojo keluarga Murasaki langsung menebasnya…”

Yurika merinding mendengar cerita ibunya. Dia tak menyangka kalau keluarganya punya hukum seberat itu. Mata ibunya tampak sangat sedih. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita paruh baya itu. ”Lalu?” desak Yurika. Ibunya kembali menghela nafas.

”Choi Minho mengetahui kematiannya dan mengamuk habis-habisan di kediaman keluarga Murasaki. Lelaki itu adalah pemain pedang terhebat di keluarga Choi dan dengan kemampuannya itu banyak anggota keluarga Murasaki yang terbunuh dalam serangannya itu.”

”Tapi itu tak berlangsung lama. Dia tertangkap dan akan dipenggal kepalanya. Tapi dia menatap kepala keluarga Murasaki saat itu dan tersenyum sinis. Dengan suara beratnya dia mengatakan kalau dia mengutuk semua keturunan Murasaki agar mengalami berbagai kesulitan hidup yang hebat. Dia akan mengambil reinkaarnasi Murasaki Yurika yang nantinya akan kembali lahir…”

”Padahal dalam tradisi keluarga, predikat kepala keluarga selalu diberikan pada anak perempuan sulung. Kalau itu sampai terjadi, klan Murasaki akan kehilangan penerus sahnya. Namun kutukannya menjadi kenyataan. Setiap penerus keluarga hanya dapat melahirkan seorang anak perempuan dan sisanya laki-laki. Sejak saat itu, ia selalu mengikuti perempuan keturunan Murasaki…”

Cerita ibunya terhenti, wanita paruh baya itu memandang Yurika, ”Dan selanjutnya adalah kamu, Yurika…” Wanita itu mulai terisak dan membuat anaknya bingung. Dengan suara bergetar menahan tangis dia berusaha meneruskan kalimatnya, ”Dia akan mengikutimu, Yurika. Berdoalah kamu bukan reikarnasi Murasaki Yurika-sama. Kalau benar itu dirimu, dia akan membawamu pergi bersamanya….”

Yurika semakin bingung kalau ia mengingat penjelasan ibunya. Apa perkataan ibunya saat itu memang benar? Dia masih tak percaya akan hal itu setiap kali ia mengingat Choi Minho. Lelaki itu tampak begitu lembut dan… romantis?

Demi tuhan, Yurika tidak bisa mempercayai pikirannya sendiri. Ia memang sudah bertemu Minho beberapa kali dan dia bisa menangkap satu kesan yang selalu dirasakannya saat berhadapan denagn lelaki rupawan itu, dia terpesona…

***

Yurika sudah bertemu Choi Minho beberapa kali sejak pertemuan sore itu. Sadar maupun tidak, Yurika benar-benar terpesona pada lelaki itu. Suara beratnya yang lembut, pandangan matanya yang sendu, rambut panjangnya yang tergerai lurus, dan senyumnya yang terkesan kesepian. Dan entah sejak kapan pula Yurika menjadi sangat merindukan kehadiran lelaki itu yang selalu terkesan tiba-tiba.

”Kau merindukanku, Nona?” tanya sebuah suara memcah hening yang disusul dengan munculnya sosok lelaki berpakaian Korea kuno. Yurika terkesiap dan hanya tersenyum kecil melihat kehadirannya itu. ”Mungkin…,” bisik yurika pelan.

”Aku tahu itu, makanya aku datang ke sini…,” ujar Choi Minho. Lelaki itu berjalan dengan lembut ke arah Yurika yang sedang duduk memeluk bantal di atas ranjang. ”Murasaki Yurika…,” gumamnya pelan. Tangan dinginnya menggapai pipi Yurika. Tapi gadis itu menghindar dan perlahan menggelengkan kepalanya. Senyum tipis tersungging di bibir gadis muda itu, ”Bukan… Aku Yurika Lisa Lan, bukan Murasaki Yurika…”

Choi Minho tersenyum lalu menjatuhkan dirinya di samping tubuh Yurika. Lelaki itu memandang langit-langit kamar Yurika yang berhiaskan cat bercahaya berbentuk bintang. Yurika memandangnya masih dengan tatapan terpesona. Minho balik menatapnya lalu dia berujar pelan, ”Jangan memandangku seperti itu… Kau sama sekali tidak berubah…”

”Aku bukan Murasaki Yurika yang itu…,” bisik Yurika lirih.

”Kau tetaplah dia, walau banyak hal yang berubah karena pengaruh waktu… Kau tahu, nama Lisa Lan-mu itu…”

”Ng?”

”Nama itu mengambil kata ’lila’ dan mengubahnya menjadi Lisa Lan. Lila atau ungu dalam bahasa Jepang adalah Murasaki…”

”Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?”

”Karena aku sudah mengenalmu begitu lama, tanpa sepengetahuanmu. Karena aku sudah begitu lama menantimu…”

”Kau yakin tidak salah orang?”

“Tentu.”

Yurika menarik nafas panjang lalu ikut berbaring di samping Choi Minho. Entah kenapa dia merasa rindu melakukan hal itu, seakan-akan dia sering melakukan hal itu dulu. Tapi dia tidak pernah bisa mengingat kapan dia pernah berbaring di samping seorang lelaki dengan perasaan senyaman itu.

”Kalau benar gadis itu memang aku, apa yang akan kau lakukan?” batin Yurika. Tapi Minho langsung menoleh ke arahnya dan gadis itu sadar kalau dia baru saja mengucapkan isi pikirannya. Minho tersenyum, ”Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu dan membawamu bersamaku…,” jawabnya, masih dengan suara memesona.

”Bukankah kita sama-sama mati waktu itu? Kenapa kau tidak mengejarku saat itu saja?” tanya Yurika lagi. Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari bibir dan pikirannya. Minho bangkit dari pembaringannya dan duduk dengan kepala menghadap langit-langit kamar. Cahaya bulan yang masuk dengan bebas ke kamar gelap itu membuat Yuirka seakan melihat sosok paling indah di hadapannya.

”Kau langsung pergi ke akhirat saat itu. Sementara dendam mengikatku di dunia ini…,” dia memandang Yurika dengan sedih, ”…aku tidak bisa menggapaimu…”

“Tapi semua keinginannmu harus kau hentikan sekarang, Minho-ssi,” Yurika ikut bangkit dari duduknya, ”Kalaupun aku berhasil kau dapatkan, cinta dua dunia adalah dosa besar….”

Minho melangkah perlahan ke arah teras kamar Yurika. ”…Dosa, ya?” lirihnya. Dia berbalik dan tersenyum tipis ke arah gadis itu, ”…Mungkin… semua sudah terlambat. Dosaku sudah tertumpuk banyak…”

”Kau… takkan menyerah?” tanya Yurika lagi dan lelaki itu menggeleng pelan,” Takkan pernah.”

Yurika bangkit dari pembaringannya dan melangkah ke arah pintu. Dia berbalik dan menatap Choi Minho yang sedari tadi tidak berhenti menatapnya. Gadis itu memasang wajah sendu seakan ada rasa tidak rela di dalam hatinya.

”Aku takut, Minho…,” lirihnya. Minho tertegun mendengarnya, itu sama seperti suara yang sangat dikenalnya, suara yang selama tiga ratus tahun ini begitu dirindukannya. Itu suara Murasaki Yurika, bukan Yurika Lisa Lan. ”Minho-yah, aku benar-benar takut… Takut berkecimpung dosa bersamamu, takut kalau-kalau nantinya aku hanya menyakitimu, takut jika perbedaan kita hanya membuat kita saling terluka…”

”Yurika…,” Minho semakin tertegun mendengarnya. Lelaki itu bagai merasa deja vu. Semua kata-kata Yurika tadi, semua bagian kalimatnya sama persis dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Murasaki Yurika saat pertemuan terakhir mereka. Dan itu membuat Minho merasa sangat sakit, di depannya seakan terulang kembali kejadian yang telahlalu. Seakan memberi peringatan kalau lelaki itu akan  kembali kehilangan gadis yang berharga baginya.

”Minho…,” gumam Yurika lagi. Tapi Minho hanya tersenyum tipis dengan wajah yang seperti menahan tangis. Lalu pria itu hilang dimakan ribuan kelopak bunga yang entah dari mana datangnya.

***

Malam hampir larut, sinar bulan purnama terkhir untuk hitungan bulan ini memasuki celah-celah jendela dan pintu. Ruang tamu rumah keluarga Lisa Lan hanya diterangi cahaya putih Bulan. Sementara suasana rumah sangat sunyi karena hanyatinggalsatu penghuni di ruanga itu.

Yurika menghembuskan nafasnya ke cokelat hangat dalam dalam cangkir yang ia genggam. Malam itu cukup dingin dan gadis itu mulai menggigil. Anehnya ia hanya duduk di sofa tanpa menghidupkan lampu ruangan. Ia hanya membuka pintu depan, membiarkan cahaya Bulan dan angin malam bebas menyeruak masuk. Gadis itu memikirkan kedua orang tuanya yang mungkin akan pulang malam ini. Tapi sepertinya sang ayah akan pergi dulu mengurus bisnis sebelum sampai ke rumah.

Hal lain yang memenuhi pikiran yurika adalh seorang lelaki rupawan, Choi Minho, sudah beberapa jam ini lelaki itu tidak menampilkan sosok maupun membiarkan gadis itu mencium harum bunganya yang semerbak. Dia heran kenapa Minho selali dipenuhi harum bunga dan kadang muncul serta menghilang dengan ribuan kelopak bunga penghantar. Mungkinkah lelaki itu dulunya mati saat bunga sedang berguguran? Entahlah, gadis itu tidak tahu. Dan dia selalu lupa untuk bertanya.

Belum lama ia berfikir, harumbunga sudah kembali tercium. Sosok Minho muncul begitu saja tanpa angin dan kelopak bunga penghantarnya. Gadis itu sedikit terkejut, ia hampir menumpahkan isi cangkirnya. Minho teersenyum, ”kaget?”  Dan Yurika menatpnya sebal, ”Lain kali jangan begitu lagi!”

”Lain kali? Tidak ada ’lain kali…,” lirihnya. Yurika menatapnya bingung.

”Katakanlah, jika kau juga menyukaiku apa kau akan abadi?” tanya lelaki itu. Yurika semakin heran. Apa maksud Minho sebenarnya? Yurika benar-benar tidak mengerti. Tapi satu kalimat terlintas di benaknya dan terluncur begitu saja oleh lidahnaya, ”Tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika aku menyukaimu, kurasa… aku hanya akan tidak berbakat untuk mati.”

Yurika menutup mulutnya. Apa yang telah ia ucapkan? Entah kenapa ddanya terasa nyeri seakan ada yang menekan-nekannya. Apa sekarang gadis itu punya perasaan khusus pada Minho?

Minho menatapnya sambil tersenyum tipi, benar-benar tipis sampai tidak disadari Yurika. Sorot matanya terlihat aneh dan sulit untuk diartikan. ”Tidak berbakat untuk mati? Sama saja kita takkan bisa bersatu, bukan?” Lelaki itu membuang pandangannya ke arah lain,” Apa kau mau ikut bersamaku jika aku memintamu?” tanyanya lagi. Yurika hanya bisa menatapnya kali ini, ia tidak mampu menjawab. Pikiran gadis berambut panjang itu tidak bisa membayangkannya.

”Tak apa, kau tak perlu menjawab pertanyaanku itu…”

”Sebenarnya ada apa? Kau bertanya seakan kau akan pergi jauh… Bukankah kita baru saja saling mengenal?” tanya Yurika. Ada yang aneh dalamhati dan pikirannya saat ia mendengar pertanyaan-pertanyaan Minho tadi. Suara berat Minho membuatnya membayangkan hal yang secaratidak sadar ditolaknya untuk terjadi.

Minho diam, dia tak mau memandang Yurika. Kelakuannya itu membuat keadaan semakin membingungkan. Yurika bangkit dari duduknyadengan tidak sabar, ”Minho, ka…”

”Malaikat pengantar baru saja menemuiku,” potong Minho tiba-tiba.otomatis Yurika menghentikan perkataannnya. ” Jika aku tidak dihantarnya malam ini juga, aku tidak akan pernah bisa renkarnasi lagi…”

”Ke… kenapa?”

”Aku sudah berkali-kali memungkiri panggilannya dan ini yang terakhir untukku,” Minho kembali menatap Yurika,” Kau, gadis manusia, kau bisa membuatku sadar akan satu hal. Tidak semua hal bisa kita dapatkan, walau kita terus mendendam,” Minho tersenyum tulus, ”Sepertinya aku harus merelakanmu kali ini…”

”Minho…”

Jari telunjuk Minho yang lembut membuat Yurika kembali menghentikan perkataannya. Dengan tiba-tiba Minho memeluk gadis itu erat, sangat erat. “Kau mengajariku sesuatu. Ada hal di dunia ini yang tidak bisa kita dapatkan dan kita harus mengikhlaskannya. Dan di sinilah aku, memelukmu dan menguatkan hati untuk melepaskanmu….” Dia terus memeluknya seakan tidak mau melepaskannya. Minho berbisik di telinga Yurika, ”Setidaknya, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya, Yurika…”

Yurika tidak bergerak, dia kaget. Minho memeluknya dengan begitu erat seakan melepas semua rindu yang telah an akan ada. Perlahan Yurika mulai membalas pelukan itu, tapi Minho langsung melepasnya. Keduanya tidak sadar akan kehadiran orang lain yang tengah meliahat mereka.

Minho tersenyum manis, ”Kau tahu, ini seperti pelukan pertama dan terakhirku dengan Murasaki Yurika. Membuatku jadi merasa rindu…”

”Minho-yah…”

”Berbahagialah…,” bisik Minho dan sosoknya menghilang dalam kumpulan ribuan kelopak bunga. Yurika masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Lelaki itu… pergi?

“…Aku mencintaimu…”

DEG

Bisikan itu, bisikan yang terdengar sedih dan lelah itu. Entah kenapa hati Yurika begitu tersayat dan memksa matanya ubtuk kembali berusaha mencari sosok Choi Minho di tengah guguran ribuan kelopak bunga itu. Terlalu sebentar, pertemua mereka terlalu sebentar. Rasa ingin berada di sisi Minho tiba-tiba membuncah dalam hatinya. Namun di tengah rasa itu pula tubuh Yurika terasa lemas. Bahkan kedua lututnya tak lagi mampu menopang berat badannya.

***

Murasaki Ririka memasuki pekarangan rumahnya dengan setengah berlari. Dia sudah meninggalkan Yurika sendirian selama dua hari ini. Dan dia takut takkan bisa lagi bertemu dengan putri tunggalnya itu karena kebodohan da kepanikannya dua hari lalu. Dia takut, takut kalau Choi Minho benar-benar muncul selama dia pergi. Tapi langkahnya terhenti saat memasuki beranda rumahnya.

Demi Tuhan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Seluruh penjuru rumah dipenuhi harum bunga yang sangat pekat. Murasaki Ririka dapat melihat sesosok laki-laki sedang memeluk erat anak perempuannya. Wanita paruh baya itu hendak berteriak, tapi tubuhnya kaku dan suaranya tidak sanggup ia keluarkan. Kini ia hanya mampu melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Perlahan sosok lelaki yang tampak berbalut pakaian Korea kuno itu melepas pelukannya dan menjauhi sosok Yurika yang tak bergerak dan hanya bisa memandang nanar. Ririka tidak dapat mendengar pembicaraan singkatkedua orang yang kelihatannya sangat saling kehilanga itu. Tak berapa lama sosok lelaki asing tadi menghilang dan hanya meninggalkan ribuan kelopak bunga yang bertebaran.

Satu… dua… tiga…

Murasaki Ririka berhasil mengendalikan dirinya kembali. Ia segera berlari menghampiri sosok anaknya yang belum bergerak dari posisi semula. ” Yurika, katakan pada Mama apa yang sebenarnya telah terjadi?!” desaknya sambil mengguncang tubuh Yurika. Tapi mata gadis itu menampakkan kalau ia masih belum sadar sepenuhnya. Ririka kembali menanyakan pertanyaan yang sama sambil terus mengguncang Yurika dengan lebih keras.

TES…

Wanita itu terkejut. Sebutir lelehan air mata baru saja keluar dari kelopak mata Yurika dan menetes ke tangannya. Gadis itu berbisik, ”… Dia pergi…”

”Apa maksudmu, nak?” desak Ririka lagi. Kali ini suara Yurika terdengar lebih jelas, ”… Dia pergi… dan takkan pernah kembali…”

Tangis Yurika semakin menjadi. Ia baru sadar kalau dia benar-benar terpesona dengan lelaki itu selama as mengenalnya. Dan dia baru sadar kalau dia jatuh cinta padanya. Hatinya sakit, perih. Dia tidak bisa merasa apa-apa lagi.

***

“Kau mengajariku sesuatu. Ada hal di dunia ini yang tidak bisa dapatkan dan kita harus mengikhlaskannya…”

 

 

 

_FINISH_

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

About these ads

28 thoughts on “Harum Bunga”

    1. gomawo, Yongie… udah lama g smpet main dsini ternyata nih cerita udh dipost… hehehe..

      yups, tunggu aja cerita selanjutny~~~ *kedip2 genit*

  1. gak rela akhirnya bngenes sumpeh thoorr lanjut lah lanjut #plak
    cuz ada-kata-kata
    (Jika) aku tidak dihantarnya malam ini juga, aku tidak akan pernah bisa renkarnasi lagi…
    nah itu kan kalo minhonya masih beduannn ma si yurika, tapi toh dia mencampakan yurika gtu aja dan pergi bersama malaikattt jadi dia masih bisa reinkarnasiii yeeeee gantung loh thor gantung

    1. kekekek… emangnya chingu mau author tanggung jawab gimana? sini deh air matanya author tampung pake ember…#plaaaakkk

      ehm..lanjut gak yaaa. abisnya kalo dilanjut kayaknya bakal agak krik krik. kan kalo Minho nya reinkarnasi, umurnya ama Yurika jadi beda banget, dong. tapi kalo ada ilham-ilham nyasar buat ide lanjutanny sih bakal author lanjut… #tapi gak janji, lho~~

      btw, thanks udah baca n comment, chingu~~

    1. kekekek… kalo bersatu terus kan g asyik. iy, g? #reader:nggaaaaaak#
      makanya krn itu pesanny yah ga semua hal itu bs didapatkan d dunia ini walau mati-matian pengen ngedapetin hal itu

      gomawo udah baca n comment, Rose-ssi

  2. Beuh, quotes-nya ngena banget!

    Jjang! Aku suka ceritanya, kukira endingnya Minho bakal ngebawa Yurika pergi tapi ternyata…. Ah, nggak terlintas sama sekali itu endingnya di kepalaku ‘-‘

    Daebak, keep writing!

    1. hiiii… kalo dibawa Minho brrt Yurika ikt k alam sana, dong? masa sih g terbayang? kekekek….

      gomawo udh baca n comment, chingu! tunggu cerita yg selanjutnya, y~~

    1. bneran, nih? author jadi serasa terbang ke langit ke-tujuh, deh… hehehehe #lebaytingkatdewa

      ini mmg udh lamaaaaa kali dibuat dan disesuaikan untuk jadi FF SHINee. kalo yg ‘udh biasa bikin cerita’ sih bisa liat library untuk karya Bella Jo yg lain. kekekek… #promosi lagi

      btw, gomawo udh baca n comment Gabby-ssi~~

  3. begitu selesai baca ff ini aku spontan bilang ‘WoW’ seperti ff nya yang emang WoW banget wkwkwkwkwkwkwk kereeeeeeennnnnn sumpaaaaahhh, bikin merinding wkwkwkwkwkw

    1. ‘WoW’?
      hihihi… author msh g ngerti arti kata wow-nya, niih.
      bikin merinding? iy, dong. abisnya author bikin nih FF jg krn tiba2 dkamar kcium harum bunga yg bikin merinding disko gmn gitu, makanya jadi cerita ini

      gomawo udh baca n comment, chingu~~

  4. Daebak eonnie lanjutin pls :( klo minho reinkarnasi jauh si umurnya, gimana kalo yurikanya di bikin mati juga biar umurnya sama ? wkwk #plakk

    1. serius pengen minta lanjut, nih?
      kalo Yurika mati kan jadi ceritanya tragis sangat. kasian atuh mereka berdua. lagi pula kalo Yurikanya mati kan pesan ceritanya ga dapet….

      tenang aja, kalo ada ilham untuk bikin lanjutan yang oke punya tentu ini bakal lanjut

      gomawo dah baca n comment, Debbie-ssi~~

  5. menyedihkan dan lagi-lagi aku nggak bisa ngeluarin air mata. ini cerita dua bangsa dan dicampur lagi indo. cerita ada zaman dlu-dlu gtu. ini cerita kok kayak cerita mirip cerita mana gtu, dikit. tapi tetep bedalah, thor. keren!
    maaf baru koment. belakangan ini waktu luang sangatlah mepet. ditunggu karya lain bella!

    1. lho, menyedihkan kok malah g bisa ngeluarin air mata? #authorfailed
      mmg udh byk cerita yg bawa2 zaman dulu n skrg. agk mirip Romeo n Juliet, y? hehe… tapi ini asli dari pikiranku, lho…. ga sempet terpikir cerita lainny
      ga papa, Hana-ssi. semua juga lagi pada siibuk kayaknya. lagi pula Hana-ssi salah satu yang paling rajin komen di tiap karyaku, kok~~ *aku ingat, lhooo*

      gomawo udh baca n komen, Hana~~

  6. Ceritanya mengharukan..
    Ga kebayang minho gantengnya kayak apa ya di cerita ini, soalnya dia kayaknya perfect bgt haha^^
    Sequelnya dong author^^ buat sequel dimana ada reinkarnasinya minho di dunia, trs ketemu lagi sm yurika dan mrka bisa bersatu.
    Ditunggu karya selanjutnya, thanks^^

    1. #sodorin tissue
      hihihihi… author juga ngebayangin Minho super duper ganteng berkharisma mempesona cetar membahana #plaaak di sini.
      sequel? ditampung dulu, y~~ kalo mereka jadian di akhir kn gak asyik. hehehehe… #Devil’s laugh

      gamsahamnida, Annisancoot-ssi. tunggu aja yg selanjutny, tinggal dipost sama admin, semoga suka

      thanks for reading and comment^^

  7. Wuaaaaa daebak. Emang kalau memendam dendam ga akan pernah damai dan beres ngahah #apaini
    Duuh kesian si Minho. Harusnya kalo waktu dia mati mau ikut malaikat pengantar dia bisa reinkarnasi, jadi kalo dua-duanya reinkarnasi terus ketemu bisa lovey dovey-an lagi (?) Ahh pabo nih si Mino (?)
    Kereen aku suka. Keep writing yah :D

    1. iy, dong. dendam itu gak baik buat jiwa raga #plaaak
      kalo Minho ikut malaikat pengantar dari awal kan cerita ini jadi gak ada. hehehe…
      gomawo, Rene-ssi. aku juga nunggu lanjutan SPY-nya, lho~~

      thanks for reading and comment~~

  8. setuju sama comment2 diatas… mending Yurikanya dibikin mati, trs di masa selanjutnya reinkarnasi dari Yurika sama Minho ketemu, tapi bukan karna ikatan keluarga, mungkin yang lain… pokonya dibikin beda lah, dibikin teenager life gitu loh… #sotoy tapi keren tauu…. aku sukaa… sedih ngena gimana gituuu

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s