Am I Lucky? Or It’s A Destiny?

Main Cast     : SHINee

Support Cast : Super Junior, 2PM

4 tahun sudah aku menjadi penggemar Super Junior, apakah mimpiku kelewatan? Apakah harapanku tidak akan pernah tercapai? Super Junior ke Indonesia. Hanya itu harapanku, berapapun harga tiketnya akan ku beli dengan jiwa dan ragaku. Ya tuhan, aku ingin sekali bertemu dengan para laki-laki impianku itu.
“Cuy! Melamun aja sih!” aku menoleh malas. “Kenapa sih? Dimana-mana anak sekolah tuh kalau udah waktu liburan pada girang semua. Jalan yuk pas liburan.” Kina merangkul leherku, sahabatku yang satu ini sangat tomboy tapi dia masih normal jadi aku biasa saja walaupun dia memelukku. “Enggak ah! Entar kalau mendadak Super Junior ke Indonesia gimana? Terus kalau dia minta gw jemput gimana?” Kina menatapku datar lalu memukul kepalaku (untungnya aku suka dengan Korea yang doyan mukul, kalau tidak mungkin aku akan langsung menendang Kina!) “Bodoh! Lagian kalaupun kita jalan juga paling kemana sih! Mal, bandung, puncak ya gak jauh-jauh. Terus kalaupun Suju ke sini pasti ada iklannya dan gak mungkin dia minta lo jemput! Kecuali lo mendadak buka jasa ojek di bandara terus mereka penasaran gimana rasanya naik motor. Kalau udah gitu ya tinggal terserah elo gimana bawa mereka yang 13 orang itu boncengan motor sama lo! Heehh patah-patah dah lo sono!”

“Ih gak nyante nih!” aku balik memukul Kina. “Tapi serius! Bonyok gw ngajakin lo jalan nih liburan.” Heemmm aku sedikit tertarik. “Emangnya gw mau di ajak jalan kemana?”  tanyaku penasaran. “Gak jadi deh, lo pasti nolak! Padahal bonyok gw rela-relain point nya di tuker buat ngajak kita jalan.” Aku meremas kerah seragam Kina. “Maaf.” Jawab Kina memelas. “Mau kemana?” desakku kemudian melepas kerahnya. “Ke Seoul, eh.. antara Seoul sama Incheon gitu deh.” Mataku terbelalak. “Bokis gila lo! Kina! Bokis!!!! Ahhhh…. Pilih nyawa atau jujur!” Aku menggoyangkan pundaknya dengan keras. “Ah gila lo! Pusing!” Kina menepis tanganku. “Cari mati lo!” wajahku memelas. “Ah… ya udah sih, tampangnya gak usah gitu juga kali mba! Resek lo!…-“ ia berhenti bicara sambil menatapku, “serius, berani sumpah demi nama apapun. Bonyok gw ngajakin kita jalan ke Korea, mau ikut gak?” mataku langsung berbinar-binar. “Iya-iya.. gak usah di jawab gw tahuku jawaban lo pasti iya.” Aku nyengir kuda saking girangnya. “Shin Gun!” seruku memanggil cowok bertubuh jangkuk dengan kulit kuning, rambut agak gondrong, mata yang penuh karisma dan senyum yang super mempeson bukan super junior tapinya.. =’((.

“Ahnoyhaseoyo.” Aku balas membungkuk pada Shin yang berdarah campuran Korea dan Indonesia, hidungnya sangat mancung tapi terlihat bagus di wajahnya. “Rencanamu, liburan ini mau kemana?” tanyaku lebih dulu. “Entahlah, masih berfikir.” Aku cengengesan berharap dia balik bertanya. “Ihhh lo beruda! Bisa gak sih kalau ngobrol tuh pake bahasa yang melenceng dari E.Y.D dikiiiittt ajeee! Capek gua dengernye, gak laki gak bini sama ajeh lo bedua.” Seru Kina tiba-tiba dengan logad betawi khasnya. – Dia  bukan orang betawi tapi dia memiliki keterampilan dalam berbicara dengan berbagai macam logad bahasa. Sosialisasinya sangat tinggi, temannya di mana-mana jelas saja dia berpengalaman mengobrol dengan anak manapun. – “Maaf, aku masih berusaha belajar bagaimana berbicara dengan bahasa yang lebih santai.” Jawab Shin dengan tenang. “Ih.. elo mah sewot aje!” aku membela Shin. Shin adalah anak baru di angkatan kami, dia masuk saat kami naik ke kelas 11. Kebetulan kami sekelas di kelas 11-IPA-B, jadi kami bisa lebih dekat satu sama lain. “Jadi.. kemana kau akan menghabiskan liburanmu?” aku kembali tersenyum mendengar pertanyaan Shin. “Aku dan Kina akan menghabiskan liburan bersama di… hahaha… di KO-RE-A!!” aku langsung girang sendiri. “Wah, kabar yang sangat baik, kalau begitu aku juga akan ke Korea. Jadi nanti kalian tidak perlu tinggal di hotel, kalian bisa tinggal di rumahku dan aku akan menunjukkan kepada kalian segala sesuatu yang paling bagus di Korea.” Wajahku bersemu. “Benarkah? Kina… apakah kita akan menginap di rumah Shin? Ayolah… ah.. mimpiku akan tercapai sebentar lagi!” aku memohon.
“Rumah lo cukup buat nampung bokap sama nyokap gw?”
“Tentu saja, kenapa tidak? Ke mana tepatnya kalian akan pergi?” “Gak tahu, tergantung bokap gw sama ini anak satu.” Kina menjitak kepalaku. “Ah.. sakit beneran tahu!” aku mengelus kepalaku. Tiba-tiba wali kelas kami masuk.. ck! Mengganggu saja!
***
“Halo! Lo udah di mana?” aku menjawab telepon ku dengan tangan kerepotan. “Iya-iya, ini gw lagi nurunin barang dari mobil. Shin udah sampe belom?” aku memasang earphone agar lebih mudah menjawab. “Belom! Tahu deh tuh anak udah di mana. Lo telepon gih sana! Cepet, gue udah mau masuk ke pemeriksaan nih.”
“Eh tunggu dong! Entar susah nyarinya kalau udah masuk duluan tungguin gw, gw lari nih!” kami berdua memutus panggilan. Aku berlari ke dalam dengan keranjang koperku, haduh! Kina ini menyebalkan sekali sih! “Kira! Jangan lari-lari, nanti kamu nabrak orang!” aku tahu pasti mama yang memanggilku, tapi karena panggilan itu aku jadi lengah dan tiba-tiba aku menabrak sesuatu. “Ya ampun! Maaf mas… saya gak sengaja.” Aku buru-buru membantu laki-laki itu berdiri. Tubuhnya tinggi jangkung seperti Shin, sunglasses nya terlempar, rambutnya persis seperti Shin. “Ya ampun!” aku jadi makin terkejut saat tahu kalau ternyata itu benar Shin. Hahahahaa… bisa-bisanya aku pangling melihat dia menggunakan baju bebas.
“Apakah sakit sekali?” aku memerhatikan kaki kirinya yang tadi tertabrak trolley ku. “Tidak apa-apa, tapi kacamata ku sepertinya pecah.” Mama yang sedari tadi mengejarku baru tiba di belakangku. “Hahhh kamu nih.. orang udah tua juga masih di suruh lari pula!” aku menyodorkan sebotol air mineral sambil cengengesan. “Siapa nih? Temen kamu?” aku baru ingat ada Shin. “Iya, namanya Shin Gun. Shin, ini mama ku… eh, umma.” Shin mengangguk tanda mengerti lalu membungkuk pada mama sebagai tanda hormat. “Wah, orang Korea ya? Atau Jepang?” aku menatap mama malu. “Korea ma. Liat mukanya dong, udah ah nanti telat lagi!” kami kembali berlari-lari menuju tempat di mana Kina dan keluarganya menunggu. Namaku dan nama Kina mirip yah? Hahaha… sebenarnya beda jauh. Kalau Kina itu Atakina Rizki sedangkan aku Allyana Sukira. Nama aku di kasih sama kakek, kebetulan kakek aku emang suka sama Jepang. Sebenernya Kina bisa aja di panggil Ata atau Rizki tapi dia lebih suka Kina soalnya nama Kina katanya jarang di Indonesia. Nurut aja deh…
“Woy! Bagus bener hidup lo!” seseorang secara tiba-tiba menjewer kupingku. “Gw nungguin dari tahun jabot baru dateng taun millennium! Pesawat delay gara-gara kita!”
“Lebay abis lo!” aku menarik tangan Kina dari kupingku. “Emak gua aja kagak pernah ngejewer gw, elo enak bener!” semburku. “Wah, ada tante rupanya!” Kina langsung salim dengan mama. “Halah.. sok manis! Sok sopan! Jangan terbuai ma! Sama demon in beast!” aku dan Kina saling melempar tatapan laser.. hahaha… kebanyakan nonton Korea nih! “Shin mana?” jangan bilang Kina juga pangling sama Shin. “Ahnoyhaseoyo!” mata Kina langsung terbelalak, tuh kan! Pasti dia gak sadar kalau cowok — cowok yang mengenakan kaos putih, vest hijau & kuning, jam kuning, celana krem plus sepatu putih – yang  berdiri di sebelah aku itu Shin.
“Ya ampun… ganteng pisan euy!” kkk…~~! “Saya gak jualan pisan atuh bu, di pasar banyak pisan tapi saya gak ke pasar pagi ini.” Kami berdua slaing bertatapan lalu tertawa licik. “Udah ah.. nanti telat! Cepat sana jalan, papa sama mama kamu mana?”
“Udah berangkat duluan tante.” Mama mengerutkan alisnya. “Kok gitu?”
“Iya tante.. mama sama papa ada urusan jadi berangkat duluan. Tante mau kemana?” Kina balik bertanya melihat koper yang di bawa mama. “Oh, tante mau dinas ke Lombok. Cuma 5 hari sih, tapi barangkali kamu mau nitip oleh-oleh?”
“Mau dong ma… bawain dede kalung!”
“Emang mama nawarin kamu? Kina mau nitip?” bibirku langsung keriting sambil memutar bola mataku. “Anak mama itu Kina atau Kira sih?” tanyaku kesal. “Maunya sih Kina aja, eh tapi dikasihnya Kira… ya udah terima aja deh.” Wah… parah nih! Nyokap apaan nih yang kayak begini?! “Bercanda de… ah kamu tuh bisa aja deh nanya nya.” Hidih! Nyokap gw gahoel yak, ngelawaknya kayak anak muda!
“Udah gih sana pada berangkat, nanti ketinggalan lagi. Mama juga udah mau jalan nih, hati-hati yah! Shin! Kamu kan laki-laki, jagain mereka yah.”
“Ne. Ajunma, Algesseoyo.” Jawab Shin lalu membungkuk. “Berangkat yah tante.” Kina menyalami mama lalu saling cipika-cipiki.. keke~. “Dah mama!” aku memeluk mama. “Hati-hati, awas! Banyak orang jahat di luar sana, baca peta kalau gak tahu jalan. Jangan jauh – jauh dari Shin!” – ckck.. – “Yoi mum!” kami akhirnya berpisah. Seperti biasa kita pasti akan melalui beberapa proses sebelum memasuki pesawat. Wah! Tidak di sangka kedua orang tua Kina memberikan kami tiket bisnis!! Waahhh… tapi aku tidak tahu dengan Shin karena dia membeli tiket sendiri.
“Kau menelepon siapa?” Shin tersenyum sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku vest. “Tidak apa-apa, kau di bangku bisnis kan?” kami kembali berjalan. “Iya. Bagaimana denganmu? Kamu pesan tiket apa?” Shin tidak menjawabku, well.. baiklah aku tidak akan memaksa dia untuk menjawab. Shin meminta kami untuk menunggu sebentar jadi kami menurut, lagi pula cukup melelahkan mendorong trolley. Tidak lama seseorang datang dengan pakaian rapih, berjas hitam, kemeja putih, dasi, yaa baju formal lah. Keduanya berbicara dalam bahasa Korea. “Maaf, kita kehabisan tiket VIP. Tapi ada sisa tiket bisnis, jadi saya membelikan anda tiket bisnis.” Tiba-tiba Shin meminta tiketku dan mencocokkan nomer bangkunya. “Terima kasih banyak, apakah semuanya sudah di urus?” Shin mengembalikan tiketku. “Sudah, tuan. Kami menyiapkan limo yang terbaru.” Hanya kata limo yang bisa aku mengerti.. apakah kami akan di jemput naik limo? Waahhh…!! “Aku sudah bilang aku tidak ingin naik limo, mobil biasa juga sudah cukup!” nada bicara Shin terdengar biasa tapi aura ramahnya berubah, sepertinya ia sedang marah. “Jweosohamnida tuan, tapi saya tidak mendapat izin dari ayah anda. Kata Tuan Besar kalaupun anda tidak ingin naik limo anda harus naik van yang di siapkan tuan besar.” Shin mengendus.
“Baiklah. Ini, kau duduk di kelas VIP saja. Biar aku dan gadis-gadis ini duduk di bangku bisnis.” Apa?! Untuk kalimat yang satu ini sangat mengerti artinya! Aku mendelik melihat Shin memberikan tiket VIP nya pada orang tersebut. “Tapi tuan muda, saya benar-benar tidak bisa duduk di kelas VIP. Saya sangat tidak pantas, lagi pula saya tidak di izinkan jauh dari anda.” Shin bersandar lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras. “Ini perintah dariku, apa yang bisa kau perbuat? Terima ini dan siapkan barang-barangmu, aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku pergi!” Shin bangkit dan membereskan kopernya. “Shin Gun-ssi… gomapseumnida, congmal gomapseumnida.” Shin mengajak kami berdua untuk masuk ke pesawat. Aku masih belum berani bertanya tetan laki-laki tadi dan apa yang mereka bicarakan. Yang aku tahu hanya satu, Shin salah membeli tiket dan dia menukan tiket VIP nya dengan tiket bisnis demi kami.
“Wah, rupanya aku mendapat kursi tengah.” Ujar Shin begitu kami tiba di kursi kami. Kami duduk berdasarkan kursi yang kami dapat, Shin duduk di antara kami berdua. “Aduh.. capek-capek. Gw tidur yah guys!” Kina memasang bantal lehernya lalu mulai memejamkan mata dan membiarkan kami berdua saling berdiam diri. “Apakah kau ingin tahu siapa laki-laki tadi dan apa yang aku bicarakan?” bagaimana dia bisa tahu pikiranku. “Tidak usah mengelak, terbaca dari wajahmu kau takut bertanya. Saat kita turun nanti kau akan tahu jawabannya.” Aku menunduk. “Apa yang ingin kau lakukan di Korea?” Apa yang akan aku lakukan?
“Bertemu Super Junior, mungkin? Atau… aku penasaran dengan group baru yang namanya SHINee itu.”
“Baiklah, aku akan melakukan itu untuk mu.” Hah? ???? maksudnya??

What gonna happen after this? Keep reading…

By: Fanew

9 thoughts on “Am I Lucky? Or It’s A Destiny?”

  1. baru inget pernah baca ni ff…. hehe…. lupa comment tpy…. *digorok author*

    mana neeeeh lanjutannya??! *Author: apaan c lo? berisik!!*
    huweee…..

  2. Tak tahu awak…. ampe skarang authornya gak bisa di hubungin… mungkin lagi sibuk… gegegege

  3. we want more we want more we want more!! (demo ama authornya) huaaaa penasaran banget!! kalo sampe ni author gak nongol dalam kurun waktu 2×24 jam, awas aja!! hwehehehehe peace yak author

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s