ADLIB DAY

~Ira Pov~

Ya ampun akhirnya impianku tercapai juga!!! Berkat orang dalam aku berhasil satu pesawat dengan SHINee dan apa kalian tahu? Kursiku tepat di belakang kursi Onew oppa! Tapi sayangnya aku tidak bisa dengan bebas bergerak, maksudku.. aku tidak sendiri. Liburan ini orang tuaku pergi berlibur dengan tanteku, dan mereka meninggalkan anak-anak mereka ini. Ya tuhann apa kau tahu? Adikku saja ada 3 orang, di tambah 2 orang adik sepupuku yang umurnya masih di bawah 3 tahun. Aku bisa gila! Adik pertamaku umurnya baru 5 tahun, kedua 4 tahun, ketiga, 2 tahun. Dan adik sepupuku yang pertama 3 tahun dan yang kedua… apa kau tahu??? Masih 1 tahun. Betapa repotnya aku menjaga anak yang umurnya saja berhitung. Lengkap dari umur 1 tahun sampai 5 tahun, bayangkan!!!

Padahal aku sudah menyusun rencana dengan matang, aku ingin sekali merekan SHINee selama perjalanan dari Singapore ke Korea ini. Pasti banyak tingkah-tingkah gila yang mereka lakukan, tapi karena anak-anak kecil yang aku bawa ini aku dengan sangat terpaksa dan kerepotan meladeni mereka. Bahkan 2 orang pramugari membantuku menjaga mereka.

“Kakak.. aku mau roti lagi.” Aku memberikan roti pesawatku. “Eun Ji mau minum?” adik sepupuku itu blaster Korea-Indo, walaupun Indonesia nya lebih bagus tapi dia tetap di haruskan bisa menggunakan bahasa Korea dengan baik oleh ayahnya. Umurnya memang baru 2 tahun, tapi dia sangat pintar berbicara, banyak kosa kata yang telah di miliki olehnya. Tubuhnya tinggi untuk ukuran anak umur 3 tahun, rambutnya panjang, lurus dan lembut, kulitnya kuning karena dia sudah 2 tahun tinggal di Indonesia. Dia begitu manis dan senang tersenyum, tapi… terkadang dia begitu menyebalkan. Jika sudah menginginkan sesuatu maka harus di turuti. Adik-adik ku laki-laki sedangkan adik sepupuku perempuan dan laki-laki.

“Ka Ira.. aku ke toilet yah.”

“Wika berani sendirian?” adik pertamaku ini sudah berfikir dengan dewasa, dia tidak manja seperti adik-adiknya. Aku tahu saat besar nanti wajahnya akan sangat tampan dan dia menjadi cowok yang baik hati. Dia adik yang paling imut dan tampan di banding adik-adikku yang lain. Namanya Hanwika Panca Handoko, panjang yah namanya?

“Berani.” Walaupun Wika berfikir dewasa tingkahnya tetap terlihat begitu imut, cara dia berjalan, bicara, tersenyum… hwuaaahhh.. sangat imut! Dia tidak cadel r, tapi r nya bulat. Dia bisa menyebutkan huruf r dengan berbagai cara dan bagus dalam bahasa apapun, cara ia menyebut huruf r bisa berubah-ubah setiap saat tergantung keinginannya.

“Ira unnie… aku mau permen.” Aku merogoh tasku dengan susah payah karena aku menggendong Choi Ji adik Eun Ji. Gawat!! Aku tidak punya permen.

“Mana unnie??”

“Tidak ada, tunggu sebentar.” Aku memanggil salah satu pramugari. “Maaf, apa kau punya permen?” aku tidak yakin aku berbicara dengan benar. 1 tahun belajar bahasa Korea tidak cukup bagiku, karena di samping bahasa Korea aku juga mempelajari bahasa Mandarin, German, French, English pasti dan Japan jadi aku sering tertukar kosa kata. JIka tidak mempelajari bahasa-bahasa itu maka aku akan kalap berbicara dengan keluarga-keluargaku. Termasuk adik-adiku, mereka berbicara dengan tiga bahasa. Inggris, Korea dan Indonesia.

“Ini, anda bisa mengambilnya di dalam sini.” Baru saja aku akan mengambil permen tersebut Eun Ji sudah merengek. “Shiro! Aku tidak mau permen yang itu! Aku mau permen yang kemarin.”

“Ini sama saja.. kau hanya bilang mau permen.”

“Tidak mauuu!!! Aku mau permen yang kemarin!!”

“Permen apa sih? Yang kemarin itu yang seperti apa?”

“Yang kemarin ituuuu!!!”

“Hush.. adik mu ini sudah tidur. Kalau sampai bangun aku akan menurunkanmu!” Eun Ji mengerutkan alis dan mengganti sasaran.

“Unnie pramugari! Aku mau permen yang kemarin!” bentak Eun Ji. “Maaf, tapi saya tidak tahu adik kecil mau permen yang mana.”

“Yang kemarin ituuu!!!”

“Hey Eun Ji! Jangan membentak orang yang lebih tua.”

“Tapi aku mau permen yang kemarin.”

“Ini juga permen adik kecil.”

“Aku tidak suka! Aku mau permen yang kemarin sekarang juga!”

“Eun Ji berisik!!” omel adik keduaku. Ahaha… dia cukup ganas memang, tapi dia hanya mulai galak jika di posisikan sebagai pembelaku. Jika Wika aku bilang yang paling tampan dan imut, tingkat ketampanannya setaraf dengan… Nick Carter saat masih kecil. Sedang adik keduaku yang bernama Viga, sangat imut seperti Yeogoon bayi yang di rawat SHINee di Hello Baby season 2.

“Adik kecil tidur saja dulu, nanti akan saya carikan permen yang kemarin itu.”

“Tapi aku mau sekarang!”

“Eun Ji kamu diem!” omel Viga lagi. Eun Ji cemberut. “Maaf yah merepotkan anda.”

“Tidak apa-apa nona, jika anda butuh bantuan anda bisa panggil saya lagi.”

“Terima kasih banyak.”

“Sama-sama. Oh iya, sebaiknya anak anda yang paling kecil saya taruh di tempat peniduran bayi.”

“Terima kasih, tapi dia bukan anak saya… dia adik sepupu saya.” Aku melepaskan tas gendong Choi Ji dan memberikannya pada pramugari. Kini aku hanya perlu menidurkan 4 bocah ini.

“Kakak.. liat, aku bisa gambar sapi.” Aku menoleh pada secarik kertas yang di pegang Hiji adikku yang paling kecil. Rasanya aku ingin tertawa melihat gambar itu, aku pikir dia benar-benar menggambar sapi ternyata ia menggambar kucing.

“Ini bukan sapi tapi kucing. Liat.. yang namanya sapi kayak gini.” Aku menggambarkan sapi di atas kertas milik Hiji. Tiba-tiba Eun Ji yang masih kesal dengan Viga melempar sandal ke kursi depan.

“Omo Eun Ji!” jantungku berdegup keras, bagaimana ini… tidak lama sebuah kepala muncul di atas kursi di depanku. “Sorry, is it yours?” kerongkonganku serasa begitu kering mendengar suara Onew secara langsung.

“Yes, I’m so sorry… my sister little bit angry. I’m so sorry.”

“No, it’s okay. I’m fine… this.” Onew memberikan sandal itu padaku, keringat dingin mengucur di leherku. “Kau mau permen? Ini aku punya permen.” Onew tersenyum dengan senyuman khasnya sambil menyodorkan lollipop untuk Eun Ji. Ya tuhan.. senyum itu.. aku merasa meleleh.

“Komapseumnida.” Eun Ji menerima lollipop itu. “Tersenyumlah… jika orang lain tidak bisa memberikan apa yang kau mau, maka kau harus mencari cara sendiri untuk mendapatkan itu. Tapi dengan cara yang baik. Dan bicaralah dengan sopan dengan orang dewasa.” Onew kembali duduk, jika aku bisa berlari maka aku akan langsung berlari dan menjerit sepuasnya.

“Kakak. Aku minta minum.” Aku memberikan tempat minum pada Wika. Satu-satunya yang bisa aku lihat dari kursiku hanya Minho, Key dan Jonghyun. Minho asik membaca buku sedangkan Key dan Jonghyun sibuk mengobrol berdua. Mereka tidak berhenti mengobrol sejak baru duduk di kursi hingga sekarang, lalu nanti tiba-tiba mereka berdua saling memukul. Saling mendelik, lalu Minho yang akan melerai dan mereka akan kembali mengobrol lalu mereka akan mengulang kejadian tadi. Ckckck… keduanya benar-benar aneh.

Tapi kau harus lihat bagaimana wajah jonghyun dan Key saat sedang berkelahi,, ya ampun.. terlihat semakin imut. Dan kini aku mulai merasa ngantuk. “Wika.. kalau nanti kamu atau adik-adik kamu mau ngapa-ngapain bangunin kakak yah. Kamu yang paling besar jadi jagain mereka, ok?”

“Okay!” aku memasang headphone lalu mulai tidur.

&&&

Hari semakin malam, seluruh penumpang telah tertidur dengan lelap hingga sebuah suara membangunkan Taemin. Taemin berusaha membuka matanya karena suara anak kecil yang berusaha menahan tangis. Taemin berusaha memastikan apakah ia benar-benar mendengar suara anak kecil menangis atau hanya mimpi.

“Kakak… Kak Ira…” Taemin mengerjap, sepertinya salah satu dari anak-anak kecil yang sangat berisik sejak masuk ke dalam pesawat itu menangis. Sebenarnya Taemin berniat membiarkan anak itu membangunkan kakaknya tapi.. anak itu juga akan membangunkan penumpang lain jika Taemin tidak bangun dan menenangkan anak tersebut.

“Hey… ada apa?” mata anak tersebut sudah semakin merah, air matanya sudah membasahi pipi. Taemin membuka seatbelt anak tersebut dan menggendongnya. “Kenapa kau menangis?” anak tersebut menyodorkan jari kelingkingnya yang berdarah. “Ya ampun.. ap ayang kau lakukan? Kenapa tanganmu bisa berdarah begini?” buru-buru Taemin membangunkan hyung-hyung nya.

“Key hyung.. Bantu aku, Minho hyung.. ayo bangun.” Taemin dengan susah payah mengguncangkan tubuh Minho. “Eum.. wae? Taemin-ah?” Minho mengusap matanya, berusaha membuka mata. “Hyung, bantu aku.. apakah kita punya obat?”

“Obat? Mintalah pada Key. Memang kau kenapa?”

“Bukan aku hyung.. tapi anak ini, tangannya terluka.” Minho berusaha melihat dengan jelas. “Oh?! Siapa dia? Hey.. tanganmu kenapa?”

“Aku tidak tahu, yang penting sekarang kita membutuhkan obat!” Minho langsung membangunkan Key. “Ah!! Apa?!” erang Key kesal. “Aku membutuhkan obat! Cepat bangun!” dengan malas Key mengambil tasnya dan memberikan kotak obat. Lalu kembali tidur. Minho langsung mencari obat yang bica membantu.

“Ini.. tutupi dulu dengan kapas.” Taemin menurut, Minho masih sibuk mencari obat. Begitu obatnya di temukan Minho langsung mengobati anak tersebut. “Hey.. tapi kau sakit apa Minho?” Tanya Key yang tiba-tiba terbangun. “Bukan aku..-“

“Omo! Gwiyopta!!! Imut sekali.. siapa anak ini?” Key mencubit pipi anak tersebut dengan gemas. “Hey! Aku sedang mengobati tangannya. Minggir lah dulu.” Key mengerucutkan bibirnya. “Lihat.. kau mau plester yang mana?” Minho menunjukan dua plester, dan anak tersebut menunjuk plester yang bergambar dino. “Wah.. kau suka dino rupanya.” Minho memasangkan plester itu dengan hati-hati.

“Siapa namamu?” anak tersebut menatap Key sambil memainkan baju Taemin. “Hiji.” Key langsung heboh mendengar cara Hiji menyebutkan namanya. “Imut sekali!!! Sini aku gendong!”

“Berapa umurmu?” Tanya Taemin. “Setsaryo(3 tahun)? Netsaryo (4 tahun)?” Tanya Minho sambil menunjukan 4 jarinya, Hiji menurunkan dua jari Minho. “Hey.. tidakkah dia seperti Yeogoon?” seru Taemin tiba-tiba. “Ah.. iya, kau benar. Empf.. aku merindukannya.” Sambung Minho sambil mengelus-elus kepala Hiji yang memandangi mereka dengan tatapan sedikit takut, aneh tapi nyaman.

“Kenapa kalian berisik?” Jonghyun mengerang. Tiba-tiba seseorang menarik baju Taemin. “Oppa, oppa… apa yang kalian lakukan dengan adik-ku?” Jonghyun yang sangat menyukai anak perempuan langsung terpikat dengan gadis cilik yang menghampiri mereka. “Hwuaaa… gwiyopta!!! Nommu yeobbo.” Jonghyun menggendong gadis cilik tersebut. “Siapa namamu?”

“Eun Ji.”

“Ya ampun.. kau imut sekali!! Berapa umurmu?”

“3 tahun.” Jonghyun mencubit pipi Eun Ji dengan gemas. “Lihat.. sangat cantik kan? Ya ampun.. ini alasan kenapa aku suka anak perempuan, mereka canti, lembut dan lucu… juga mereka tidak akan menendang ataupun menyeruduk bagian terpenting dalam hidupku.” Bagi yang suka nonton Hello Baby SHINee pasti tahu maksudnya apa >.<”

“Kalian di sini bersama siapa?” Tanya Minho. “Dengan unnie, Wika oppa da Viga oppa.” Jawab Eun Ji. “Kenapa kau tidak tidur? Apakah kau tidak mengantuk?” Tanya Jonghyun lagi sambil menyisir rambut Eun Ji dengan jarinya. “Shh… Hiji sudah tidur. Lihat.. betapa manisnya dia.” Key mencium pipi Hiji. “Coba.. aku juga ingin menggendongnya.” Minho menggendong Hiji dengan hati-hati.

“Ya ampun.. kenapa semua bayi itu imut?” Minho berusaha menahan diri untuk tidak mencubit Hiji. “Hyung.. aku masih mengantuk. Aku kembali ke kursiku yah! Selamat tidur.” Taemin kembali ke kursinya begitu juga dengan Jonghyun. “Eun Ji, apakah kau orang Korea?”

“Ne. Tapi umma orang Indonesia, jadi aku campuran.” Jonghyun mengusap kepala Eun Ji. “Pantas saja kau sangat cantik, jarang sekali ada gadis Korea murni yang cantik.” Jonghyun melirik jamnya. “Tidak terasa sudah jam 3 pagi, apakah kau pernah melihat matahari terbit?” Eun Ji menggeleng. “Bagaimana kalau kita menunggu matahari terbit bersama? Kau mau melihat matahari kan?” Eun Ji mengangguk semangat. “Kalau begitu sekarang kita bermain saja, nanti jam 5 aku akan membuka gorden-nya.”

&&&

~Ira pov~

Sepertinya dari sekian banyak penumpang yang turun aku adalah penumpang yang paling repot. Untuknya temanku bisa menjemputku di bandara, karena aku membutuhkan kereta bayi extra untuk mereka. Hanya Wika dan Choi Ji yang tidak di atas kereta bayi, karena Wika selalu ku gandeng sedangkan Choi Ji ku gendong.

“Lee Yu!!” aku berteriak memanggil seorang laki-laki bertubuh jangkuk yang membawa sebuah kereta bayi dengan 3 kursi. “Annyeong haesoyo!!” seru Lee begitu tiba di hadapan kami. “Halo anak-anak! Sekarang waktunya duduk di atas kereta.” Lee mengangkat Hiji dan mendudukkannya ke atas kereta, lalu Eun Ji dan Viga.

“Lama tidak bertemu. Apa kau merindukanku?” aku menipitkan mata. “Anio.. siapa bilang aku merindukanmu? Aku hanya tidak sabar ingin bertemu denganmu!” sebenarnya dia bukan benar-benar temanku, dia adalah mantan pacarku satu tahun yang lalu. Kami berpacaran selama 2 tahun dan berpisah karena kakak-ku dan kakaknya menikah. Orang tua kami meminta kami memilih, siapa yang mau menyatu. Karena kami berdua adik yang baik hati jadi kami merelakan hubungan kami untuk kakak-kakak kami.

“Wika!! Annyeong! Kau tumbuh dengan cepat, kini kau sangat tinggi dan tampan!” Lee mengusak rambut Wika. “Ayo kita pulang, kalian pasti lelah.” Lee mendorong kereta bayi dan kami berjalan keluar bandara. Orang-orang menatap kami seolah kami adalah pengedar narkoba. Jika benar mereka anak-anak ku memangnya aneh yah melihat sebuah keluarga dengan 5 anak?

***

“Hei semuaaa!! Sudah pagi.. cepat bangun!” itu pasti kakak-ku. Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka. “Ira bangun! Beliin kakak sarapan dong say.” Aku yang langsung terduduk karena pintu yang terbuka tiba-tiba langsung melempar bantal ke arah pintu. “Beli aja sendiri!”

“Ayo dong Ra.. gak jauh dari sini ada supermarket, di sana ada tempat ready to serve loh.”

“So?”

“Kamu bisa bikin hot chocolate, coklatnya dari Cadbury lagi! Yakin gak tertarik?” aku berdecak kesel.

“Resek nih bocah!” aku bangkit dari kasur dan berjalan keluar, begitu melewati Kak Indra aku memukul lengannya sekeras mungkin. “Ah! Sakit tahu!”

“Bodo!” aku menedang bagian belakang tempurung lutut Kak Indra, siapapun pasti akan langsung tersujud jika bagian itu di tendang. Aku masuk ke dalam kamar mandi, mencuci muka dan gigi.

“Bagi duit!” seru ku begitu keluar dari kamar mandi. “Nih.. jatah kamu 50.000 won. Ini yang 100.000 won buat beli sereal para anak-anak bayi, roti, pasta sana susu. Abisin buat beli semua itu.. yang banyak kalau perlu.”

“Emangnya aku pembokat apa?!” seruku lalu berjalan keluar.

“Ra.. kamu gak pakai..-“ aku tidak mendengar lagi apa yang di ucapkan Kak Indra karena aku sudah berada di luar. 5 langkah dari depan pintu jemariku membeku, cepat-cepat aku lari ke dalam lagi. Kak Indra sudah menertawakanku dengan puas. “Lagian sih… orang ngomong bukannya di dengerin malah main selonong pergi aja. Pakai tuh jaket, ini baru jam 6 pagi masih dingin banget.”

“Bukanya bilang dari tadiii!!!” aku memukuli Kak Indra dengan kesal. Lalu aku mengenakan jaket dan kembali keluar. Seingatku aku melewati super market saat baru datang.. di mana yah?? Aku terus berjalan menyusuri tortoar, berbagai toko ku lewati tapi tidak ada satupun yang sudah buka.

“Itu dia!!” aku berjalan lebih cepat karena semakin lama terasa semakin dingin. “Oseyo Oseoyo.” Aku menoleh pada penjaga kasir. “Annyeong haseoyo.” Aku sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. Penjaga kasir itu langsung menyalakan tv dan breaking news bisa kudengar dari ujung tempat ready to serve di supermarket ini. Sambil memasukan seluruh barang-barang yang di pesan ke dalam keranjang telingaku terus menyimak berita yang tersiar di tv.

“Hati-hati, airnya sangat panas.” Penjaga kasir mengingatkan sambil mengeluarkan barang-barangku dari keranjang dan menghitungnya satu persatu, aku tersenyum. Sambil menggenggam gelas coklat panas aku mengambil salah satu Koran yang di jajar.

“Apa kau mau membeli Koran itu juga?” aku menoleh, “ah.. tidak.” Aku membaca headline news Koran tersebut dan begitu aku membuka halaman kedua… apakah ini mimpi?! Ini gila! Bagai… bagaimana bisa?!

“Aku beli koran ini, masukkan dalam daftar.” Aku buru-buru memasukkan koran ke dalam kantung belanjaan dan membayar seluruh belanjaan. “Kamsaham..-“ sebelum penjaga toko itu mengucapkan kata terima kasih sampai habis aku sudah lebih dulu pergi. Dengan cepat aku berlari pulang dan buru-buru masuk ke dalam rumah sebelum kota ini ramai dengan ibu-ibu yang selalu bangun pagi.

“Ouy! Belanjaannya mana?” teriak Kak Indra dari ruang tv begitu melihatku berlari naik ke tangga. “Itu di depan pintu!” seruku. “Bocah dasar!” aku buru-buru menutup pintu kamar dan kembali membaca koran tersebut secara seksama. “Apa-apaan nih?!” aku membaca judul artikel tersebut.

“SALAH SEORANG MEMBER DARI SHINEE YAITU KEY BERCIUMAN DI DALAM PESAWAT.”

Aku mencari kalimat lain yang mencolok,

“SIAPAKAH GADIS INI? APAKAH BENAR YANG MEREKA GENDONG ADALAH BUAH HATI KEDUANYA?”

apakah seperti ini dunia entertainment korea? Brengsek!

&&&

“Kibum! Lihat!! Apa yang kau lakukan?!” seru Jonghyun begitu membaca halaman kedua dari sebuah koran terkenal Korea. “Apa?” Key berjalan mendekat dan mendapati foto dirinya dengan wajah tertutup kepala seorang gadis yang berdiri tepat di depannya, menggendong seorang bayi… posisi pengambilan foto, menimbulkan asumsi keduanya berciuman. Di tambah lagi judul artikel yang di tulis dengan huruf besar.

“Iegwum buya?!” seru Key lalu merampas koran yang sedang di baca Jonghyun. Sebagai gantinya, Jonghyun merampas coklat panas yang berada dalam genggaman tangan Key. “Daebak!!!” Key memukul meja dengan keras dan kesal. “Calm down. Bagaimana bisa ada artikel seperti ini? Apa yang kau lakukan di pesawat?”

“Mollaseo! Aku sendiri tidak tahu kapan dan dimana foto ini di ambil. Aku tidak ingat apa yang aku lakukan semalam.”

“Kalau kau tahu, foto ini tidak akan berhasil di ambil. Kameranya pasti akan segera kau banting dan paparazzi itu akan langsung babak belur begitu turun dari pesawat! Jadi tidak perlu kau bilang juga aku tahu bahwa kau tidak tahu foto ini di ambil.” Key berdecak kesal lalu mengacak-acak rambutnya. “Arghh!! Aku pasti di marahi oleh PD dan manager hyung, sekarang apa yang bisa aku lakukan?!”

“Minho-ah,, ya Minho-ah!” panggil Jonghyun. “Ne?… iegwum buya?!” sekarang gantian Minho yang merampas Koran tersebut. Taemin yang baru keluar dari kamar mandi langsung menyalakan tv.

“Kabar terbaru dari salah satu bintang SM entertainment, Key member dari SHINee di kabarkan bercumbu di dalam pesawat sekitar pukul 1 pagi. Kami berhasil mendapatkan potongan video yang di ambil secara diam-diam.” Mendengar berita tersebut ketiganya buru-buru melompat ke sofa tempat Taemin duduk. Video yang di maksud di putar dan muncul lah Key dengan seorang gadis, sebenarnya video tersebut tidak benar-benar bisa membuktikan bahwa keduanya beanr-benar melakukan hal yang di maksud. Tapi di video itu jelas betul Key menggendong bayi dan memang ada seorang wanita.

Tiba-tiba bel berbunyi, mata Key mendelik dan jantungnya berdegub dengan kencang. “Bagaimana ini… manager hyung pasti marah besar!” Key merasa ingin menangis, tapi tidak mungkin! Dia harus terbiasa dan harus siap jika tiba-tiba muncul gossip seperti ini. Dan ia juga harus tahan banting mendengar omelan dari PD dan manager hyung.

&&&

“Kok bisa sih ada berita kayak gini?” Indra mengganti-ganti channel tv, berusaha mencari berita paling baru. “Mana aku tahu! Shit banget sih yang namanya paparazzi!” omel Ira sambil membanting koran ke lantai.

“Kamu yakin itu kami?”

“Yakin lah unnie! Sapa lagi kalau bukan aku, jelas banget itu baju yang aku pakai dan bayi yang di gendong Key itu Choi Ji. Kurang bukti apa lagi coba?!”

“Berhenti.. itu ada berita terbaru lagi!” Lee Yu melompat ke sebelah Indra dan menyaksikan berita di tv. “Gila!! Bentar lagu muka aku kepampang di tv! Tadi dari belakang, terus sekarang mukanya doang yang di buremin! Jangan bilang mereka bakalan munculin foto aku secara jelas!”

“Liat! Kayaknya besok foto kamu akan bener-bener terpampang kalau SM gak cepet-cepet beli berita itu.” Ira menjatuhkan diri ke atas sofa. “Argh!!! Pokoknya.. begitu foto aku bener-bener jelas, aku bakal langsung balik ke Jakarta.”

***

Benar saja, keesokan harinya media berhasil menarik perhatian public dengan di perjelasnya foto gadis misterius tersebut. Pada hari pertama berita ini menyebar public masih menanggapinya dengan biasa saja, namun setelah foto gadis tersebut di perjelas public menjadi tertarik untuk mencari tahu dan berita ini akan menjadi headline di setiap media cetak.

“Sekarang kita harus ngapain coba?!” dumal Indra sambil berdecak kesal. “Sesuai janji aku, ya aku  bakal balik ke Jakarta aja.”

“Hantwe!! Jebal… aku mohon jangan pergi Ira.” Potong Lee Yu cepat. “Tidak bisa.. aku benar-benar harus pergi dari sini agar masalah ini bisa mereda.”

“Pergi tidak akan menyelesaikan masalah, lagi pula tidak bisa secepat itu mengurus kembalimu ke Jakarta.”

“Unnie.. jika tidak begitu maka aku akan serasa di penjara. Belum lagi mereka bisa dengan mudah mencari tentang infoku di internet, memangnya aku tidak butuh keluar? Dan lagi.. tetangga sudah pernah melihat wajahku, mereka pasti akan tahu bahwa aku ada di sini.”

“Kau bisa pindah ke hotel untuk sementara, kau tinggal bersamaku. Bagaimana? Jika kau memang ingin keluar kau bisa menggunakan masker, berusaha terlihat bahwa kau menggunakan masker karena sedang sakit bukan menutupi wajah.”

“Aku mau kembali saja.”

“Ira…” Lee Yu mencengkram pergelangan tangan Ira, Ira menatap sekeliling. “Ah baiklah… ayo berkemas sekarang juga.”

&&&

“Sekarang apa yang bisa kita lakukan?!”

“PD.. ini bukan sepenuhnya salah Key, dia tidak tahu jika akan terjadi hal seperti ini.” Manager berusaha membela Key. “Tapi sudah aku ingatkan berkali-kali! Jaga sikap! Lihat! Begini kan jadinya! Lagi pula untuk apa kau melakukan hal tersebut?!”

“Aku sama sekali tidak menciumnya, kami tidak berciuman. Itu pasti di edit, lagi pula aku tidak mengenal siapa gadis itu!” elak Key berusaha tetap kuat. “Lalu untuk apa kau menggendong bayi itu? Jika kau tidak kenal maka menjauh! Siapa yang tahu kalau ternyata dia yang merencanakan semua ini?!”

“Aku tidak mendekatinya, aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi malam itu. Aku benar-benar mengantuk, aku bahkan tidak tahu bayi siapa yang aku gendong!” Key terus membela diri. “Sekarang semua sudah terjadi! Apa yang bisa kau lakukan untuk menjamin bahwa hal ini tidak akan menjatuhkan reputasi SHINee?”

“Sudahlah PD, saya mohon maaf untuk kejadian ini. Saya menjamin bahwa para Shawol akan tetap memberikan support kepada SHINee. Mereka tidak akan mundur hanya karena hal ini. Anda bisa percaya kepada saya.” Manager kembali membela Key. “Lalu apa yang akan kalian lakukan untuk menghindari sorotan media yang akan terus menerus meminta penjelasan dengan jutaan pertanyaan tidak bermutu itu?! Para anti-fans pasti akan memanfaatkan saat-saat seperti ini untuk menjatuhkan kita!”

“Tenanglah, saya akan mencari hotel yang aman. Dan untuk sementara Key bisa tinggal di sana.” PD menjatuhkan diri di atas kursi kerjanya. “Baiklah, tapi Key harus pindah malam ini juga! Sebelum media benar-benar mengawasi gerak-gerik Key.”

“Baiklah, terima kasih PD.”

“Ya.. kalian bisa pergi sekarang.”

***

“Apakah manager hyung yakin hotel itu aman?”

“Tenang saja, hotel itu benar-benar aman. Bahkan aku sudah meminta agar semua penjaga mengawasi sekeliling untuk menghindari paparazzi.” Key menguap untuk yang kesekian kalinya. Ini sudah pukul 12 tepat, dan satu detik lagi hari telah berganti.

“Tidurlah, jika sudah sampai aku akan membangunkanmu.” Tidak di sangka kalau ternyata hotel yang di tuju berada di luar Seoul. Perjalanan yang di tempuh mencapai 3 jam hingga keduanya benar-benar tiba di hotel tersebut.

“Key, kau bisa bangun sekarang. Jangan lupa tutupi wajahmu seperti saat kau ke Daegu.” Key menurut dengan mata sayup-sayup. “Ayo turun, bersikaplah biasa… jangan menarik perhatian orang.” Belum sempat mereka keluar sebuah mobil sedan mewah biru parkir di sebelah mobil mereka. “Tunggu, jangan keluar dulu.”

Dua orang keluar dari mobil tersebut, salah satunya memiliki gaya namun terlihat memaksa bagi Key. “Igh.. orang itu.. sedang sakit saja menggunakan gaya hip hop. Tidak ada hip hop menggunakan masker!” cela Key. “Dia perempuan!” Key menoleh. “Lalu? Sudah ayo turun!” Manager menahan Key. “Tunggu sebentar! Kan aku bilang tunggu!” setelah sekitar 10 menit menunggu barulah keduanya keluar dari mobil.

&&&

“Sincayo?”

“Ne, Hae Na-ssi.”

“Tapi kan kami sudah bilang agar tidak membukanya.”

“Jwesohamnida Ira-ssi, pengunjung tersebut memaksa. Jadi dengan sangat terpaksa kami melepas kamar tersebut.” Ira berdecak kesal, hingga sosok dua orang laki-laki muncul dari balik pintu hotel. Ira menatap dua orang tersebut dari kacamata frame hitamnya.

“Tuan itulah yang menyewa kamar tersebut. Mereka memaksa kami dan memberikan kami banyak uang agar bisa membuka kamar tersebut.” Mendengar itu Ira merasa ia harus membantai dua orang laki-laki itu habis-habisan. “Ira! Kalau kamu melakukan hal itu aku tidak akan mengampunimu!” cegat Hae Na. “Unnie!!” Ira menghentakkan kakinya dengan kesal.

“Baiklah, itu tidak apa-apa… kami akan langsung naik saja, tolong berikan 1 kasur tambahan.” Hae Na mengambil kunci dari resepsionis lalu menarik Ira ke dalam lift. “Michoso?! Kau ini sudah gila ya? Apa salah mereka? Kenapa kau ingin menghajar mereka?” Ira menutup telinganya pura-pura tidak mendengar.

***

“Haduh.. nasib gw!! Kasian banget sih!” Ira menyeruput coklat panasnya lalu kembali memainkan ponselnya di tengah dinginnya malam di pinggir kolam renang hotel. 3 minggu sudah berlalu sejak berita tersebut menyebar, namun berita tersebut tetap menjadi headline di setiap media. Apalagi sekarang Key menghilang, dan itu membuat sebuah pertanyaan besar.

“Sekarang apa yang bisa kita lakukan?!” Ira menoleh mencari dari mana suara itu berasal. “Ssstt.. kecilkan suaramu. Bagaimana jika ada orang lain yang mendengar?” dengan panik Ira bersembunyi ke tempat yang lebih gelap. “Tidak mungkin! Ini sudah jam 1 pagi, tidak ada yang masih terjaga.”

“Siapa yang tahu?”

“Sudahlah.. jangan pikirkan itu dulu hyung! Sekarang kita harus bagaimana? Tidak mungkin aku terus bersembunyi sedangkan SHINee sebentar lagi akan meluncurkan album.” Ternyata itu suara Key dan managernya. ‘Jadi Key kabur ke sini?’ pikir Ira, sehingga kini ia berniat menguping. “Sebenarnya ini terserah kau, kalau kau memang ingin muncul kau bisa muncul di public dan beritahu mereka yang sebenarnya terjadi itu seperti apa.”

“Kenapa gadis itu tidak muncul? Seharusnya dia ikut bertanggung jawab!” mendengar itu Ira merasa ia harus bertanggung jawab, maka ia memutuskan untuk bicara dengan keduany. “Tapi.. apa mungkin,, dia yang merencanakan ini semua?” duga manager.

“Tidak mungkin!” elak Key. “Tidak ada yang tahu Kibum. Tapi coba kau pikir… mana mungkin ada yang berhasil mendapat moment seperti itu, kalau pun kau tidak berciuman itu berarti kejadian tersebut tidak di sengaja. Bagaimana mungkin ada yang bisa mendapatkan moment seperti itu jika ia tidak tahu bahwa itu akan terjadi?”

“Benar kah begitu?”

“Tentu saja! Tapi kira-kira apa latar belakang gadis tersebut melakukan hal ini.” Ira berusaha tetap percaya Key idolanya tidak akan semudah itu menuduh orang sembarangan. “Uang.. mungkin kah karena uang?” keduanya diam sejenak. “Ya! Pasti uang.. dia ingin memeras kita. Kalaupun bukan karena uang dia pasti anti-fans… dia berniat menghancurkanku.” Habis sudah pembelaan yang di lakukan Ira dalam pikirannya, kini ia merasa kecewa pada dirinya dan juga Key. Kini keduanya malah menuduhnya dengan semangat menggebu-gebu membuatnya semakin kecewa.

Pada awalnya ia ingin membela dan membantu Key menyelesaikan masalah ini, tapi niat itu kini terpendam dalam-dalam. Dengan kecewa Ira meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kamar hotelnya.

***

Tidak di sangka ruangan tempat jumpa pers akan di adakan benar-benar penuh dengan wartawan dari berbagai media. Begitu pintu terbuka, blitz kamera saling berebut menyambar seorang gadis cantik dan anggun yang masuk ke dalam ruangan. Begitu gadis tersebut duduk di kursi seluruh penjaga berusaha menenangkan keadaan. Dan kini ruangan ini begitu sepi tanpa suara sedikitpun. Gadis tersebut menelan ludah sebelum akhirnya angkat biacara.

“Annyeong haseoyo, chun nun Ira imnida…-“ Ira berhenti sejenak lalu kembali berbicara. “Saya duduk di sini bukan untuk semakin mempersulit masalah tapi saya di sini ingin menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.” Jantung Ira berdegub sangat cepat melihat lampu kamera menyala menandakan bahwa seluruh warga Korea Selatan melihatnya berbicara. “Apa yang terjadi di pesawat bukanlah seperti yang anda semua pikirkan, saya dan Kim Kibum sama sekali tidak melakukan hal yang di sebut-sebut itu.” Ira berusaha rilex.

“Bayi itu bukanlah bayi Kibum, dia adalah adik sepupu saya. Saat itu, Key yang mendengar suara tangis bayi terbangun dan buru-buru menenangkan adik saya. Jika anda berada di sana, anda akan melihat betul dengan sangat jelas bahwa kepala kami tidak sedekat yang ada di foto tersebut.

Saya memang penggemar dari SHINee terutama Key, tapi tidak ada setitikpun rencana di otak saya untuk membuat gossip seperti ini dan memeras pihak yang bersangkutan. Saya tidak serendah itu untuk mencari uang, saya bukan orang kaya… tapi saya tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Mendengar kalimat bahwa saya ingin memeras pihak SM ataupun Key sendiri sangatlah sakit, sesakit rasanya di tinggalkan oleh ibu kandung.

Pada awalnya saya ingin segera menyelesaikan masalah ini, tapi saya berfikir mungkin masalah ini bisa reda dalam waktu 1 minggu. Tapi saya salah… 4 minggu sudah berita ini tetap menjadi headline. Bukannya saya menghindar tapi saya hanya tidak mau di anggap sebagai orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan tapi lagi-lagi saya salah. Saya pikir saya sudah melakukan hal yang benar, dengan begini tidak akan ada orang yang berasumsi buruk pada saya. Tapi kenyataannya, ada seseorang di sana yang justru menuduh saya sengaja melakukan ini untuk memeras pihak tersangkut dan menjatuhkan mereka.

Saya mohon maaf jika ternyata hal ini tanpa sengaja telah membuat pihak yang bersangkutan hancur dan merasa terperas. Tapi, demi ini.. demi membela diri dan menyelesaikan masalahini saya berusaha dengan susah payah membeli artikel-artikel dari orang yang mengambil foto kami di pesawat. Kalian bisa melihat dengan jelas foto ini… kami sama sekali tidak berciuman.” Ira menunjukkan beberapa lembar foto yang memperjelas apa yang ia lakukan dengan Key. Kini ruangan tersebut di ramaikan dengan blitz kamera, dan para wartawanpun mulai melemparkan berbagai pertanyaan.

“Ini… anda semua akan menjadi saksi bahwa mulai detik ini, masalah ini selesai dan saya tidak akan mau terlibat dengan masalah seperti ini lagi. Dan lagi.. tolong jaga mulut sebelum muncul anti-fans.” Ira merobek foto-foto tersebut hingga ke bagian terkecil dan melemparnya.

“Jumpa pers di tutup!” seru penjaga lalu melindungi Ira untuk keluar dari ruangan tersebut.

5 hari setelah acara jumpa pers

“Bisa kita bicara?”

“Apa aku mengenalmu?”

“Tidak.. tapi kumohon, luangkan sedikit waktumu.”

“Tidak bisa, aku sibuk. Aku harus berkemas.”

“Kumohon. Sangat sulit bagiku meluangkan waktu untuk bertemu denganmu.”

“Apakah kebutuhan dan keuntunganku bisa bertemu denganmu?”

“Ira! Aku sudah bicara baik-baik denganmu, kenapa kau kasar sekali denganku? Apakah kau marah?”

“Tidak, kenapa aku harus marah? Lagi pula memangnya aku pernah bicara denganmu? Kenapa kau kasar sekali terhadapku?” Ira hendak melangkah pergi namun tangan Key berhasil mencengkram lengannya lebih dulu. “Aku di sini untuk meminta maaf, bukan untuk memperpanjang masalah! Ku mohon dengarkan aku bicara!”

“Sejak tadi aku mendengarkan. Nyatanya aku menanggapimu.”

“Ira!” sentak Key sambil mencengkram kedua bahu Ira keras-keras. “Agh! Sakit!” pekik Ira. “Aku benar-benar tidak tahu saat itu kau berada di sekitar kami, bagaimana aku tahu kalau kau mendengarnya?”

“Kalaupun aku tidak di sana kau akan tetap berbicara begitu. Hanya saja jika aku tidak di sana aku tidak akan kecewa, sedangkan sekarang aku kecewa.”

“Terserah! Kau berhak marah padaku, tapi tidak sepenuhnya salahku! Kau tidak mengerti dunia entertainment. Aku di tekan dari berbagai sisi, berjuta-juta orang memberi asumsi, berjuta-juta orang menyalahkanku. Jika kau ada di posisiku pikiranmu akan lebih kacau dari pikiranku.”

“Tidak hanya kau yang tertekan dengan foto itu! Pasalnya wajahku terpampang! Apa kata-kata orang di sekitarku jika melihat foto itu? Apa kata sahabat ku yang juga menyukai SHINee? Apakah kau pikir aku tidak menanggung malu?”

“Ya aku tahu. Tapi malam itu pikiranku benar-benar kacau, dan aku akhirnya setuju dengan ucapan manager. Kalimat-kalimat itu tidak benar-benar keluar dari hatiku, percayalah padaku! Kau adalah orang pertama yang membuatku memohon maaf seperti ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan, aku mohon percayalah dan maafkan aku.” Tiba-tiba saja air mata Ira mengalir. “Kau tidak tahu betapa sakitnya di tuduh seperti itu, untungnya kau belum mengucapkan itu di depan public. Jika kau sudah mengatakannya lebih dulu maka kaulah penyebab aku mati.”

“Percayalah padaku, tidak sedikitpun terlintas di pikiranku untuk mengucapkan itu di depan public. Berhari-hari aku memikirkan hal ini dan aku sadar akulah yang salah, dan aku berterima kasih padamu karena tetap menjaga namaku. Apakah sekarang kau memaafkan ku?”

“Entahlah.. aku masih belum bisa berfikir jernih.” Key melepaskan cengkraman di pundak Ira perlahan. “Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud mengucapkan itu untuk menyakiti hatimu atau merendahkanmu.”

“Tidak apa-apa.. lagi pula itu sudah berlalu. Aku akan mencoba melupakan itu, lagipula itu sepele. Walaupun luka yang di buat oleh lidah sulit di lupakan tapi aku akan mencoba. Aku benar-benar tidak menyangka hari seperti itu akan terjadi.”

Epilog

Key mengerjapkan mata, berusaha sadar dan mendengarkan suara apa yang ia dengar. Key mengerang lalu bangkit dari duduknya, berusaha berjalan mendekati sumber suara.

“Omoo… bayi yang sangat lucu. Hey kenapa menangis?” Key menggendong bayi yang menangis tersebut. Key menyanyikan lagu yang sering di nyanyikan para ibu untuk menghibur anaknya yang menangis di suasana hari natal. “Apa kau mau mencari ibumu? Ayo kita cari bersama.” Key menggendong bayi tersebut keluar dari ruang peniduran bayi. Seorang gadis dengan earphone tergantung di lehernya berpapasan tepat di depan Key.

“Choi Ji… ada apa?”

“Tadi aku dengar dia menangis, jadi aku menggendongnya. Takut mengganggu penumpang lain.”

“Terima kasih banyak Key… maaf telah merepotkanmu, biarkan aku menggendongnya. Saat Ira akan menggendong Choi Ji dalam pelukannya, tangan Choi Ji tetap pada Key.

“Hey… gelangnya tersangkut di bajuku. Tenang, aku coba melepaskannya.” Key berusaha melepaskan gelang Choi Ji dari bajunya dengan hati-hati. “Sulit kah? Ini gendong Choi Ji, biar aku yang melakukannya.” Kali ini Ira yang mencoba.

“Berhasil! Wah..!!! maaf yah merepotkan.”

“Sama-sama.”

The End

Sorry ya kalo kesannya agak maksa ato buru-bur.. ^^ hehe~~

By: MyKey

22 thoughts on “ADLIB DAY

  1. Br baca…SERU ! Pst repot bgt ya ngurus 5 bocah sekaligus…
    SHINee penyayang bgt yah sm anak kecil…^
    sukses ya Lana onnie…
    “komen ga jelas”

  2. Yaa ampun MIAN aku baru baca ini FF >.<
    padahal udah lama jadi reader -.- bow…

    sekarang lagi ingin baca ff,, jadi aku bacain ff yang 1shot aja dari yang Old *hehe :D*

    keren banget FFnya suka🙂

    ingin deh kaya ira,, punyasodara yang keturunan korea *envy* hehehehe😛

  3. UAAAAAAAAA ENAK NYEEEE JADI IRA KYAAAAAAA MAU DOOONK!!!! *koment ga penting* MIAN BARU KOMENT UNNIE >,< NICE FF BANGEEEEET *apaan bahasa gue????*

  4. Gila.. gak nyangka ada juga yang mau baca FF jelek ini *CRIES*
    Iya iya jelek kok tenang aja aku juga mengakui. Maaf ya bikin waktu kalian terbuang untuk baca FF abal ini😀
    Terima kasih sudah mau komen *kisshug

  5. ff ni d buat thn 2010, aku br bc tahun 2012.. hahaha.. telat banget..
    ff nya keren, aku suka..
    brharap ad sekuelnya, lnjutin kisah Ira-Key..

  6. Aku pernah janji bakalan baca ff mu kan? Ok, sekarang waktunya nepetin ini.
    senyum gaje pas baca nasihatnya abang jinki, apalagi bayangin dia senyum depan mata. Flying gimana gituh😀
    tapi endingnya gantung, serius, aku masih mau lanjutannya.
    dan ada satu lagi, warna fontnya. serius, warnanya cerah amat. Mataku aja sampe ngedip berkali”.

  7. Udah dua FF bikinan lana yg udah aku baca , dan dua2 nya keren !!
    Gak sabar buat baca ff lainnya…
    Singkat tapi gak terkesan buru2 atau kecepetan .

    Daebakk !!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s