Romeo + Juliette = Love…. or Pain?

Title : Romeo + Juliet = Love… or Pain?

Author : shineeisland

Casts : Shin Minho, Shin Jesun

Author’s note : Shin Minho maksudnya Choi Minho SHINee, tapi aku ganti marganya untuk keperluan cerita.

****

Sudah lama tak kulihat tatapan mata itu lagi…

Tatapan yang menatap tajam ke arahku…

Namun dapat kulihat di balik bola matanya…

Tersimpan sejuta kesedihan…

Dan juga kerinduan…

****

Hari ini aku kembali bekerja sebagai tukang kebun di sebuah rumah mewah milik bangsawan ternama. Dan sialnya, aku bertemu dengan gadis itu lagi…

Gadis itu adalah gadis yang telah banyak meracuni otakku, mencabik-cabik hatiku, hingga hatiku amat sangat sakit sampai ulu hati yang terdalam…

Gadis itu, yang telah membawaku ke jurang kematian, ke pondok kesialan, dan membawaku hingga menjadi seperti sekarang ini…

Aku yang menyedihkan, penuh dengan aura kesedihan, mata yang selalu sembab dan merah, badan yang lunglai, penyebab semua itu adalah dia.

Gadis itu, pada awalnya, ia sangat menyebalkan. Namun lambat laun, tumbuh cinta di antara kami. Cinta terlarang…

Entah mengapa aku bisa nekat mengajaknya kabur waktu itu. Dan bodohnya, ia mengiyakan. Alhasil, begitu kami tertangkap oleh orang istana, aku diusir dan dipenjarakan selama lima tahun di penjara bawah tanah istana.

Namun, entah ini sudah takdir Tuhan atau bukan, kini aku bertemu lagi dengannya, dan berhadapan dengannya. Entah ini kebetulan atau apa.

Perasaan senang tentu saja melanda hatiku, namun perasaan sedih lebih mendominasi. Pertemuan dengannya berarti cinta yang menyakitkan di antara kami akan segera dimulai lagi. Dari nol.

Aku berharap aku tak pernah lagi bertemu dengan gadis itu, namun aku tak kuasa melawan takdirku…

Gadis itu, gadis dengan hanbok biru muda bermotif bunga-bunga yang kini berada di hadapanku itu, tak lain adalah Shin Jesun, putri bangsawan terkaya di Korea Selatan.

****

Sonyeoga sonyeoneul manna apeun sarangi ije sijak dwae…

Girl meets boy and a painful love starts now…

Malhal su eomnun sarangun meariga dwae sarangi tto sijak dwae..

An unspeakable love becomes an echo and love starts again…

Aku membanting pintu kamar baruku saat ini. Aku tak menyangka bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis yang telah melukai hatiku…

Aku mulai berpikir negatif mengenai ini. Bagaimana kalau ibu Jesun, atau pelayan Jesun menyadari hal ini? Bagaimana kalau mereka mulai mengenali mukaku? Aku yakin aku pasti akan dipenjarakan lagi di penjara bawah tanah.

Aku sendiri pun tak tahu mengapa aku bisa bekerja kepada orang yang sama lagi seperti lima tahun yang lalu. Tetanggaku yang baik memberitahukan kepadaku kalau rumah bangsawan Korea sedang butuh seorang tukang kebun yang ahli untuk menangani bunga-bunga di taman mereka. Dan tanpa ragu, aku melamar pekerjaan itu dan diterima.

Entah ini takdir atau kebetulan atau apa, aku bisa bekerja di sini lagi. Awalnya aku tak mengenali rumah mereka, karena dulunya mereka tak tinggal di sini. Namun begitu aku melihat gadis itu lagi, aku mulai sadar perlahan, bahwa tak sepantasnya aku berada di sini.

Aku ingin sekali berhenti bekerja kepada tuan rumah ini. Namun, mustahil! Ini baru hari kedua sejak aku bekerja di sini. Lagipula, aku tak memiliki tempat tinggal. Jika bukan dari pekerjaanku, aku takkan bisa makan ataupun tinggal dengan layak seperti sekarang ini.

Segelas air dari atas meja kuteguk perlahan. Semoga hal ini bisa menenangkanku. Namun aku tak cukup tenang dengan hanya meneguk segelas air saja. Hal yang bisa menenangkanku hanyalah berkebun, merawat bunga-bunga di taman. Itu adalah hobiku sekaligus keahlianku satu-satunya.

Aku melangkah keluar dan berjalan menuju taman. Kuambil sekarung besar pupuk dan kubawa ke bagian bunga-bunga. Taman istana ini begitu mewah, dengan berbagai macam bunga, mulai dari lily, mawar, anggrek, cosmos, rhododendron, tulip, daisy, fuchsia, bunga matahari, dan masih banyak lagi. Kurasa aku tak bisa menghitung semuanya satu persatu.

Kudatangi padang bunga matahari dan kuelus batangnya yang kini hampir setinggi badanku.

“Bagaikan matahari dan bunga matahari. Saling menatap setiap hari namun tak bisa saling memiliki…”

Aku menatap matahari yang kini sedang menyinari diriku dan bunga matahari di sebelahku.

“Kurasa akulah bunga mataharinya. Bunga matahari yang rapuh dan tak sanggup hidup bila tidak ada matahari. Bunga matahari terkadang hanya membuat matahari susah…” gumamku pelan sambil tersenyum simpul. Aku ingin segera melangkah ke depan ketika tiba-tiba kudengar sebuah suara dari belakangku.

“Kau salah. Akulah bunga mataharinya.”

Saat mendengar itu, aku kaget. Sontak aku langsung saja berbalik untuk melihat siapa yang mengatakan hal semacam itu. Dan orang yang memang sudah kuduga-duga, yang berkata itu adalah Jesun…

“Aku lebih cocok jadi bunga mataharinya. Bunga matahari yang rapuh saat matahari pergi meninggalkan dirinya…” kata Jesun. Matanya berkaca-kaca, seperti ingin menangis.

Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa.

“Tahukah kau sudah lima tahun aku menunggumu? Dan sekarang kau malah menghindariku. Tak tahukah kau betapa sakitnya hatiku?” kata Jesun lagi, dan kini sambil menangis. Aku ingin berkata padanya bahwa hatiku lebih sakit daripada hatinya, namun entah mengapa aku seakan bisu, tak bisa berbicara.

Aku melangkah pelan menuju Jesun yang masih menangis terisak dengan tangan menutupi wajahnya. Dengan canggung kupeluk dirinya.

“Maafkan aku, Jesun… Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu…”

“Oppa…” kata Jesun, masih sambil menangis. “Mengapa oppa lama sekali?” Tangis Jesun semakin keras. Namun kini bukan hanya Jesun saja yang menangis, tapi aku juga ikut-ikutan menitikkan air mata.

“Maaf, maafkan aku…” Aku mengeratkan pelukanku pada Jesun. Aku tahu semua ini terlarang, namun aku tak kuasa membendung perasaanku padanya.

Aku memeluknya semakin erat dan semakin erat, seakan berharap tubuh kami akan saling melekat, sehingga takkan ada yang sanggup memisahkan cinta yang tumbuh di antara kami berdua…

****

“Jesun, ayo pulang sekarang…”

“Aniyo, aku masih ingin bersama oppa…” Jesun menggelayutkan tangannya di lenganku. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah kanak-kanaknya itu.

“Tapi ini sudah sore. Aku juga sudah capek terus berjalan di hutan ini. Kalau kita tidak pulang sekarang, kita bisa tersesat…”

“Ani, aku masih ingin ke sana…”

“Ke mana lagi, hah?”

“Oppa sudah lupa ya?” Jesun mendongakkan kepalanya padaku. “Oppa sudah lupa kepada tempat rahasia kita dulu?”

Aku berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. Sejurus kemudian aku kembali teringat.

“Ah, aku tahu… tempat kunang-kunang itu ya?”

“Betul sekali, oppa! Ayo kita ke sana! Ayo!” Jesun menarik-narik lengan bajuku dengan kukunya yang panjang dan lentik. Aku takut kuku-kuku itu akan patah karenaku.

Akhirnya setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami sampai di tempat rahasia kami itu, tempat rahasia kami lima tahun yang lalu…

“Aish, belum ada kunang-kunangnya! Ottoke?” keluh Jesun begitu kami sampai di padang rumput luas di pinggir sungai itu.

“Kita tunggu saja dulu…” jawabku santai sambil merebahkan diri di padang rumput yang hijau dan lembut itu.

“Tapi, sekarang masih jam 7 malam, sementara kunang-kunangnya baru akan muncul sekitar jam 9 malam…” Jesun mengerucutkan bibirnya.

“Aish, sudahlah, berbaringlah di sini dan tunggu saja kunang-kunangnya datang!”

Akhirnya Jesun menyerah dan ikut membaringkan dirinya di atas padang rumput sambil menunggu kunang-kunang dengan sabar. Namun, sepertinya ada keajaiban di antara kami. Kunang-kunang itu tiba sebelum waktunya.

“Sepertinya mereka tahu bahwa kita kembali setelah lima tahun tidak bermain di sini lagi…” ujar Jesun sambil matanya terus menatap ke langit, tempat di mana kunang-kunang itu beterbangan di mana-mana.

Aku hanya tersenyum kecil padanya, lalu kembali memandang langit malam itu. Indah sekali… dengan bintang bertaburan dan kunang-kunang yang beterbangan. Malam ini seakan sempurna untukku dan Jesun…

Kami terus saja berbaring dengan hening sambil terus menatap kunang-kunang itu tanpa bosan. Tanpa sadar, waktu telah menunjukkan pukul 10.

“Omona! Sudah jam 10 malam! Umma pasti marah!” Jesun segera bangkit dari tidurnya dan berdiri tegak. Aku juga ikut bangkit dengan santai.

“Ayo pulang sekarang…” ajakku sambil menggenggam tangan Jesun. Tangannya dingin sekali, sepertinya ia merasa sedikit ketakutan.

Aku terus menggenggam tangannya erat selama kami berjalan pulang. Namun, sepertinya kami tidak bergerak sedikit pun dari tempat semula? Sepertinya kami hanya berputar-putar di sini saja sedari tadi…

Jesun semakin menggenggam erat tanganku. Nampak jelas ia ketakutan. Tangannya dingin dan berkeringat.

Kami berjalan dan terus berjalan, namun tak juga menemukan jalan pulang. Sementara Jesun sudah terlihat capek sekali. Dan jujur saja, aku juga merasa capek.

“Oppa, sudahlah… Kita menginap di hutan saja untuk semalam ini…” kata Jesun dengan gemetar. Sepertinya ia sudah menggigil kedinginan.

“Baiklah…” Akhirnya aku mengiyakan permintaannya setelah berpikir lama. Kami duduk di bawah sebuah pohon yang rimbun itu. Jesun menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Ini, pakailah…” Aku melepas jaket tebalku dan menyelimutinya ke badan Jesun. Namun sepertinya Jesun tidak mendengar, ia sudah tidur.

Perlahan-lahan mataku pun mulai terasa berat. Kepalaku mulai tak bisa kutahan. Akhirnya aku pun turut tertidur dalam mimpi kami yang indah…

****

“Lihat itu! Lihat! Putri bangsawan tidur dengan tukang kebun istana yang baru!”

Sayup-sayup kudengar suara orang-orang. Rasanya suara mereka dekat sekali, seakan-akan mereka sedang berbicara di telingaku.

Aku pun membuka mata perlahan dan mulai mengumpulkan kesadaranku pelan-pelan. Jesun tampaknya juga sudah mulai terbangun, walau masih setengah sadar.

Saat aku sudah benar-benar terjaga, aku melihat banyak orang mengelilingi kami. Tunggu… ada apa ini?

“Dasar laki-laki keji! Apa yang kau lakukan dengan tuan putri semalam?” Seorang ibu-ibu yang sudah tua meneriakiku sambil menebas-nebaskan sapunya ke arahku. Beruntung aku bisa menghindari tebasan sapunya.

“Apa yang ter-“ Kata-kataku terputus ketika orang-orang yang lain mulai angkat bicara juga.

“Tukang kebun tak tahu diri! Kau tak tahu siapa orang yang tidur bersamamu semalam?”

“Tidur? Aku memang tidur di sini! Tapi aku tak melakukan apa-apa terhadapnya! Aku berani bersumpah!” Aku segera bangkit dari dudukku dan berdiri tegak. Keringat mengalir di pipiku.

“Bohong! Dasar pembohong!” Orang-orang mulai meneriakiku pembohong. Sementara aku hanya diam, tak tahu harus berkata apa di saat seperti ini.

Tiba-tiba Jesun bangkit dan bicara.

“Kalian semua salah paham! Ia tidak melakukan apa-apa terhadapku! Ia… dia… dia adalah kakakku!”

Semua orang di sana terperangah. Sementara Jesun sudah pecah dalam tangisan. Dan aku hanya bisa menenangkannya.

Tiba-tiba terdengar suara terompet, dan secara otomatis orang-orang yang berkumpul di situ minggir ke sisi-sisi, seakan memberi jalan kepada seseorang. Namun, siapa ya? Orang itu pastilah orang terhormat.

Dan benar saja, ternyata orang itu tak lain adalah ibu Jesun, atau bisa juga kusebut sebagai ibuku.

“Ternyata kau lagi!” Ibu Jesun menunjukku dengan mata garang. “Sekarang kalian berdua ikut aku ke rumah! Ayo!” Ibu Jesun menarik Jesun dari pelukanku walaupun Jesun masih meronta-ronta. Sementara aku digiring oleh pengawal istana. Tanganku digenggam sangat erat, sampai-sampai tercetak lingkaran bekas genggaman di pergelangan tanganku.

Setelah kami sampai di rumah, ibu Jesun segera memintaku dan Jesun untuk masuk ke ruangannya. Sepertinya omongan kali ini akan lebih serius jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, di mana hukumanku adalah dipenjara selama lima tahun.

“SHIN MINHO!” Ibu menggebrak meja yang berada di depannya sehingga benda-benda di atasnya terlonjak. “Ternyata kau kembali lagi ke sini… apa kau belum kapok dengan hukuman yang telah kuberikan?” Ibu menatapku tajam, dan aku membalas tatapannya. Aku tak boleh takut, aku harus berani untuk mempertahankan perasaanku. Walau aku tahu perasaan ini salah dan menyimpang…

“Saya juga tidak tahu kalau saya bisa bertemu dengan Jesun lagi, nyonya…” jawabku mantap, walau suaraku menjadi lebih kecil dari biasanya.

“Kalau kau tahu bahwa kau bertemu dengannya lagi, mengapa tak kau jauhi saja ia? Mengapa kau malah mencari masalah lebih dalam lagi? Tidakkah kau sadar, Shin Minho? Dan kau juga, Shin Jesun! Tidakkah kalian sadar kalau kalian itu SAUDARA KANDUNG!” Ibu menekankan kata-kata ‘saudara kandung’ itu. Aku tahu kami ini saudara kandung, dan cinta di antara kami memang terlarang…

“Tapi aku mencintainya, umma! Aku mencintainya bukan sebagai kakak kandungku!” Tiba-tiba Jesun melangkah maju ke arah Ibu. Betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba Ibu menampar pipi Jesun dengan sangat keras. Bunyinya sama saja seperti saat kita menjatuhkan keramik ke lantai.

Jesun memegangi pipinya yang memerah. Ia menangis.

“Nyonya! Saya peringatkan tolong jangan sakiti Jesun! Ia tidak bersalah!” kataku kepada Ibu yang masih menatap tajam ke arah kami. Aku mengelus kepala Jesun untuk menenangkannya.

“Kau bilang kau ingin Jesun bahagia! Kau bilang kau tak ingin aku memukul Jesun! Namun mengapa kau tak juga pergi? Mengapa kau malah bertahan di sini? Keberadaanmu di sini tak bisa diterima!” Ibu kembali menggebrak meja dengan keras.

“Tak tahukah kalian kalau cinta kalian ini TERLARANG. Tidak ada saudara yang boleh jatuh cinta kepada saudara sendiri! Lebih-lebih kalian memiliki appa dan umma yang sama! Hal itu sangat konyol dan memalukan!”

Tidak ada saudara yang boleh jatuh cinta kepada saudara sendiri!

Kata-kata itu terus menerus terngiang di telingaku seakan alarm otakku.

Ya, memang tidak ada saudara yang boleh jatuh cinta kepada saudara sendiri…

Aku memang salah telah jatuh cinta kepada adik kandungku sendiri…

Aku salah…

Aku tahu cinta kami terlarang…

Namun aku tak bisa jauh dari Jesun…

Aku merasa aku adalah sebagian dari hatinya…

Yang akan terbelah dua jika kami dipisahkan…

Itu sama saja berarti aku bisa mati jika tak melihat Jesun barang sehari pun…

Sonyeoga sonyeoneul manna apeun sarangi ije sijak dwae…

Girl meets boy and a painful love starts now…

Malhal su eomnun sarangun meariga dwae sarangi tto sijak dwae..

An unspeakable love becomes an echo and love starts again…

Dewa-dewi seakan membisikkan lagu-laguan kepadaku saat ini. Lagu-lagu yang menggambarkan kisah cintaku dan Jesun…

Jesun masih menangis di dekapanku. Dan ibu masih menatap kami sangar. Aku melepaskan genggaman Jesun di tanganku lalu melangkah maju ke arah ibu.

“Baiklah, nyonya. Saya memang hanyalah seorang pembuat onar di kerajaan bangsawan ini. Sejak saya lahir, saya memang tak diinginkan. Hingga saya besar pun, saya masih tak berguna. Saya tahu saya hanyalah benalu di sini. Dan hari ini saya akan pergi meninggalkan istana ini sekarang juga. Dan saya akan meninggalkan Korea Selatan juga.” Aku berkata mantap sambil melangkah meninggalkan ruangan. Ibu menatapku dengan senyum senang, sementara Jesun mencoba mengejarku, namun ibu menahannya.

Aku melangkah di sepanjang koridor rumah sambil terus berpikir.

Cinta tidak selamanya menyenangkan…

Bagiku, cinta hanya bisa menimbulkan sakit…

Sakit yang teramat sangat hingga rasanya seperti ingin mati saja…

Jesun, Jesun, dan Jesun.

Mengapa aku kembali bertemu dengannya?

Mengapa?

Apakah Tuhan dengan sengaja mempertemukanku dengannya agar aku merasakan kesakitan yang sama seperti lima tahun yang lalu lagi?

Jesun, Jesun, dan Jesun.

Gadis ini…

Gadis yang kucintai, namun juga yang kubenci…

Seandainya dia tak lahir di dunia…

Jesun, Jesun, dan Jesun.

Gadis ini hanya membuat susah hidupku saja!

****

Hari ini aku akan pergi meninggalkan Korea Selatan dan merantau ke Eropa. Sungguh jauh bukan? Ya, ini memang benua yang diusulkan ibu untukku, agar aku berada jauh dari Jesun.

Ibu sudah membiayai semua tiket-tiketku ke sana. Ibu juga menjamin kehidupanku di sana. Di sana, aku akan diperlakukan seperti pangeran.

Namun apa artinya seorang pangeran jika tidak ada putrinya?

Aku turun dari mobil milik ibu dan melangkah memasuki pintu masuk bandara. Namun sejurus kemudian kudengar teriakan seseorang yang sudah tak asing lagi di telingaku.

“Andwae!!! Oppa!!! Jangan pergi!!!” teriak orang itu. Aku berbalik, dan lagi-lagi yang kulihat adalah Jesun. Hah! Untuk apa Jesun mengejarku. Yang ada dia akan merasakan kerugiannya nanti. Namun ternyata hatiku berkata lain dengan otakku. Hati kecilku malah menyuruh tubuhku untuk berjalan mendekati dirinya yang masih berada di seberang jalan dan mendekapnya.

“Oppa…” Jesun menangis di dekapanku. “Oppa, jangan pergi…” Jesun masih menangis terisak-isak. Aku hanya bisa menatapnya nanar.

“Tidak apa, Jesun-ah… Biarkan aku pergi untuk sementara. Suatu saat nanti, aku akan kembali… Namun bukan sebagai orang yang kau cintai, aku akan datang sebagai kakak kandungmu… Kakak kandungmu yang mencintai dan menyayangimu sepenuh hati…” Perlahan-lahan air mataku menetes juga, membasahi rambut hitam Jesun.

Tiba-tiba seseorang menarikku dengan paksa dari dekapan Jesun. Jesun hanya bisa meraung-raung.

“Oppa! Andwae!! Andwae!!” Jesun mengejarku menyebrangi jalan itu. Namun, mungkin Dewi Fortuna tidak sedang berada di sampingku saat itu, sebuah bus bandara yang berukuran besar melaju kencang ke arah Jesun.

Tanpa ragu, aku segera melepas genggaman para pengawal-pengawal yang ditugaskan untuk mengantarku ke bandara. Aku segera lari dari sana dan mendekap Jesun erat di pelukanku.

Setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

****

(Jesun’s P.O.V)

Aku menyadari diriku berada di atas kasur putih di ruangan serba putih. Apa yang terjadi pada diriku? Dan… mana Minho oppa?

Aku segera terduduk di ranjang dan menyadari bahwa di sana hanya ada ummaku.

“Umma! Mana Minho oppa?” tanyaku panik. Perasaanku saat itu benar-benar buruk. Aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Maafkan umma, nak…” Tiba-tiba ibu mendekapku erat. “Maafkan umma karena selama ini umma tak pernah menganggap kau dan oppamu sebagai anak kandung umma…” Umma memelukku sambil menangis. Aku membalas pelukan umma.

“Sudahlah, tidak apa-apa umma. Itu memang salah kami karena menjalin cinta terlarang…” kataku. Namun sejurus kemudian mataku mulai jelalatan lagi mencari-cari Minho.

“Mana Minho oppa?”

“Minho? Dia… dia baik-baik saja…” kata umma seraya menghapus air matanya dengan lengan bajunya.

Aku terdiam. Apa Minho sudah… tiada? Ah, tidak. Tidak mungkin… Kalau Minho sudah tiada, aku pasti juga sudah meninggal sekarang, karena aku yakin betul kami punya ikatan batin yang kuat.

Umma masih memelukku erat. Namun saat itu pikiranku melayang kemana-mana, hanya memikirkan Minho seorang.

****

(setting waktu : 6 tahun kemudian)

Kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik pemerintah. Hingga sekarang, aku masih mengingat tragedi enam tahun lalu. Tragedi tragis yang menimpaku dan kakak kandungku sendiri…

Aku sedang membersihkan mejaku dari debu ketika seorang lelaki tinggi jangkung menghampiriku.

“Maaf, apakah saya mengenal anda?” tanyaku sopan padanya. Orang itu hanya tersenyum kecil. Lama aku memperhatikan wajahnya.Ternyata aku memang benar mengenalnya. Orang itu tak lain adalah Shin Minho, kakak kandungku sekaligus cinta pertamaku.

“Oppa…” Aku langsung memeluknya begitu aku sadar. “Kenapa lama sekali?”

“Maafkan aku, dongsaengku tersayang…” Minho membelai rambutku. Kini oppaku itu sudah tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada yang kuduga.

“Waktu itu… mengapa oppa bisa selamat?” tanyaku ragu-ragu. Minho tersenyum.

“Waktu itu aku hanya luka ringan, kau menderita luka yang lebih berat. Namun saat itu aku sengaja meminta umma untuk segera membawaku ke Eropa secepatnya sebelum kau sadar…”

“Tapi, kenapa oppa melakukan itu? Apa oppa ingin menghindariku?”

“Bukan, dongsaengku yang cantik. Oppa hanya ingin menepati janji oppa sesaat sebelum oppa akan berangkat ke Eropa. Oppa ingin kembali ke dekapanmu, sebagai seorang kakak… bukan sebagai seorang yang kau cintai…” Minho mengeratkan pelukannya padaku, aku pun membalasnya.

Kini kami bisa hidup bahagia sebagai seorang kakak dan adik yang akur.

Dan aku yakin aku takkan pernah merasakan sakit itu lagi.

Aku juga yakin aku takkan mendengar lagu itu lagi.

Lagu menyedihkan yang menggambarkan cintaku dengan Minho oppa dulu…

Sonyeoga sonyeoneul manna apeun sarangi ije sijak dwae…

Girl meets boy and a painful love starts now…

Malhal su eomnun sarangun meariga dwae sarangi tto sijak dwae..

An unspeakable love becomes an echo and love starts again…

~Fin~

Signature

This FF is ours. Please keep read our blog and keep support us.

40 thoughts on “Romeo + Juliette = Love…. or Pain?”

  1. Waaahhh… matahari dan bunga matahari.. wkwkwkwk.. romatezzz booo >.<'
    Hufff.. kok dari kemarin blog in isepi banget yah?? jarang ada yg komen
    Padahal biasanya.. woww.. bisa pada rebutan komen..
    berjuang terus yah SF3SI !!!

    1. Iya nih.. dari kemaren sepi banget..
      aku nya juga kebetulan lagi sibuk promo blog ini di SFI.. hufff.. capeknya..
      Aku jadi rada males buat buka blog ini gara2 yg komen sedikit.. hikss…

  2. Nemuin lgy ff kayak gini…. T_T

    cinta terlarang antara sodara sekandung…. ckckck…..

    tpy baru kali ini aq baca yg endingx bisa berubah. Biasax tu kakak-adik bunuh diri, klo nggak y minggat dari rumah… keren.. keren bisa bikin akhir seperti ini… lain dari yg lain… *mincha sok tau*

      1. Dulu udah punya siiiiy….. Tapi lupa passwordx…. jdy y trpaksa bikin akun email baru lgy…. T_T

        Nggak tahu niy,, inet dry kemarin error teruz…. jdy agak susah ngirimnya…..

        udah deeeh,, bulan depan aja onnie kirim….

  3. Hwee
    trnyata ending.a beda..bnr2 bs nglupain cinta.a
    gyaaa tp g bayangin kl jadian ma oppa.a sendiri *soal.a q jg punya oppa bnr2 g bs bayangin*
    jd salut ma ending.a

  4. Arghhh.. to much unn.. jadi gak bisa reply lagi.. ehehehehe..
    What?!!!! Onew say whattttt??????
    Errrgggghhhh PANASSSSSS!!!!!!

    ONEW! COME HERE!!! STAY NEAR AT ME! STAY AWAY FROM MINCHA UNNIEEEEEE!!! KYAAAA !!!!!

    1. hahaha….
      huahahahaha…..
      hwakakakakakakakakkk…..

      aq suka taeminn…. tpy aq nggak mau mbrondong…. aq ga mau ama yang lebih mudaaa…. huwee….

      harap dimaklumi… gila kumat…. bentar lgy SNMPTN… otak saiia panas….

      *Onew: gw maunya ama Mincha… Lo masi kecil banget tauk, Lana~ah!*

      1. Uggghhhh!!! Jahat!!!!! Onew sekarang kamu gitu yaaaa OK?!!!! Aku balik ke Suju aja lagi! Huh!
        “Suju: Sini… sama aku aja!!!!* *Hadoehhh.. bingung milih satu di antara 12 minus Kibum, Kangin tapi plus Henry, Zhoumi*

        hahaha… sayangnya unnie… SF3SI bikin FF bersama dan aku sama Onew.. wakakakakaka… *sebenernya sih aku udah gak mau sama kamu oppa! >.<* *Onew: Lana.. jangan ngambek..

        TUNGGUUUU!!!! INI FF ORANG UNNIE… KOK KITA KUMAT LAGI SIH???!!!!!

        Mian yah SHINeeIsland.. miaaaaannnnnn

  5. Hikz. . .Hikz. . . .critanya bikin q nangis,wah minhonya bijak bgt,akhrnya mau nrima kenyataan klo mereka kakak adek,tpi mau dah pnya oppa kaya minho tpi jngan ah nanti ga bisa pacaran*plaak*

  6. Baru baca…
    Sedih banget…
    Aku pkr cinta terlarang orang miskin sm orang kaya,ternyata cinta terlarang kakak adik ya ..
    Kalo minho gak jd sm jesun, minho sm aku ajja ^dilempar batu^

  7. Lah..piye..kalo satu darah ga boleh jatuh cinta minho..jesun..

    Udah sini minho sama aku aja! Hakakak

    Sweet plus nice ceritanya..tp agak bingung ya..knp dua orang kakak adik itu bsa jatuh cinta..*garuk2 kepala*

    But overall it’s nice ^^b

  8. Suka ama istilah “Matahari dan Bunga Matahari”nya,, uluh2, sweet bget,,…
    Bagus deh, akhirnya mreka bisa mnjalani hidup lyaknya kakak adik yg normal..:)

  9. Plokk..plokk..plokk.. Kasih applause yg bnyk dah,, pas wkt perumpamaan aku suka bngt.. Tpat menggambarkan seseorang yg rapuh.. Haha~ tp terakhirnya gk nyangka kalau mereka adek-kakak,, minho oppa ma aku aja ya,, gk perlu mikir aku ini saeng oppa atau bkan ..haha~

  10. aigoo. Froggie! annyeong, aku new Reader in here^^ *sebenarnya udah lama, baru punya akun wordpress* bangapseumnida!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s