I LOVE YOU

Author: Lana

Cast : Kim Jonghyun

Aku terus memandangi koran yang berada di tanganku, membaca headline berulang-ulang. Sudah satu minggu aku terus membaca headline surat kabar tersebut, dengan dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa. Dia… laki-laki yang berada di headline surat kabar nasional ini telah menghancurkan hidupku dengan mempertahankan hidupku.

Hubungan yang kami jalin selama 1 tahun berakhir begitu saja. Pernikahan terindah kami batal begitu saja, hanya sehari sebelum kami akan menikah dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kalaupun ia mengucapkan selamat tinggal aku tidak akan pernah mau melepaskannya. Laki-laki yang satu tahun lebih tua dariku, aku mencintainya luar dan dalam. Berteman 5 tahun, pacaran setahun dan setelah itu semestinya kami bisa menghabiskan sisa hidup kami bersama anak-anak kami.

Kim Jonghyun, laki-laki yang selalu melindungiku kapanpun di manapun. Seberapa sulit pun keadaannya, selama aku membutuhkannya ia akan datang. Tidak pernah aku berfikir bahwa ia akan meninggalkanku dengan cara seperti ini. menyakitkan… gadis mana yang tidak sakit jika kekasihnya pergi sehari sebelum hari pernikahan mereka. Aku benar-benar tidak bisa berhenti mengucapkan itu… pergi sehari sebelum hari pernikahan.

Sekarang yang bisa ku lakukan hanya menangis, menangis dan menangis. Menangisis kepergian kekasihku, laki-laki nomor satu dalam hatiku. Ingin rasanya aku bunuh diri, tapi aku masih terikat janji dengannya bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu.

~FLASHBACK~

-Yuna Pov-

“Yuna!!!” suara itu… sudah satu minggu aku tidak mendengar suara itu, aku benar-benar merindukannya. Mempersiapkan pesta pernikahan membuatku benar-benar sibuk, kami bahkan sampai tidak bisa bertemu.

“Ya Kim Jonghyun! Bukannya siap-siap! Besok kita kan menikah, apa yang kau lakukan di sini?!” aku memukul lengan Jonghyun. “Aww… sudah satu minggu tidak bertemu, kau tidak merindukanku?” ia merangkulku dengan genit. “Tidak akan! Untuk apa merindukanmu?!” aku menoyor kepalanya. “Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, kau tidak bisa berbuat seenaknya lagi!”

“Kalau begitu kita batal.”

“Hey! Ya ampun.. kenapa calon istriku seperti ini sih?! Sepertinya aku salah pilih gadis.” Aku mengerucutkan bibirku dan mengerutkan alis. “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan di sini?!”

“Oh iya.. bahkan aku jadi lupa apa yang sebenarnya ingin aku lakukan begitu melihat wajahmu. Kau tahu, wajahmu mengalihkan otakku… ahahahaha…”

“Stop gombal warming! Enekkkhhhh…!”

“Kalau begitu kembali ke tujuan awal. Kemarin aku jalan-jalan dan aku mendapatkan sebuah pondok kecil yang sangat bagus.. aku sudah bertanya-tanya dan kita bisa tinggal di sana. Tempatnya sangat asri, jadi sekarang aku ingin mengajakmu ke sana untuk melihat pondok tersebut.”

“Sincayo?” tanyaku dengan wajah sumringah, maklum.. kami sudah mencari kesana kemari tapi masih belum mendapatkan pondok kecil yang indah untuk kami tinggal nanti. “Ayo!” Jonghyun menarikku keluar toko. “Kenapa naik mobil? Itu hanya akan buang-buang waktu, lebih baik naik motor saja.”

“Baiklah, berarti ke rumahku dulu untuk mengambil motor.” Jujur sebenarnya alasanku memintanya naik motor adalah untuk mengenang masa kami bersahabat dulu. Kemana-mana ia selalu mengantar jemputku dengan motor sport nya yang besar itu. Terakhir kali kami naik motor saat kami sedang jalan-jalan ke taman, kami memarkir motor tidak di tempatnya karena sudah penuh. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang sepertinya tidak melihat kalau ada motor terparkir, dia parkir begitu saja. Alhasil motor Jonghyun jatuh dan helm ku rusak, Jonghyun menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk memperbaiki motornya.

Karena tidak sempat membeli helm baru untukku Jonghyun selalu melarangku untuk ikut dengannya naik motor, karena takut berbahaya. Tapi kali ini sepertinya kami berdua sama-sama merindukan masa-masa itu, dengan kecepatan tinggi melawan angin.

“Ya! Jonghyun-ni.. apa kita harus melalui jalan yang seperti ini untuk sampai ke pondok tersebut?” tanyaku setengah berteriak karena aku yakin sulit baginya mendengar suaraku. “Ne. karena itu aku suka pondok itu, kita akan merasa segar jika setiap hari melalui jalanan yang di penuhi pepohonan seperti ini.”

“Tapi menyeramkan, terlebih lagi ada jalaan menanjak yang cukup tinggi.. aku takut saat melalui turunannya.”

“Tidak… justru akan mengasyik kan! Seperti yang biasa kita lakukan dulu!” Jonghyun malah mempercepat laju motor, angin menerpa wajahku dengan kasar sehingga makin lama mataku terasa perih.

“Jonghyun! Pelankan laju motornya!!!” teriakku karena kini kami sudah menuruni jalanan. “Menyeramkan!!” teriakku lagi. “Tidak! Ini asik!”

“Jonghyun!! Pelan-pelan atau kau akan kubunuh!”

“Baiklah.. tapi katakana bahwa kau mencintaiku!”

“Agh!! Kau gila! Salanghaeyo!!! Sekarang pelankan laju motornya!”

“Panggil aku oppa! Seumur hidupku kau belum pernah memanggilku oppa!” aku memutar bola mataku. “Jonghyun-ni oppa! Salanghaeyo yeongwonhi! Pelankan laju motor atau kau benar-benar akan kubunuh!!!!”

“Dua lagi.. lepas helm ku dan pakai di kepalamu, lalu peluk aku se erat mungkin!”

“Untuk apa melepas helm mu?”

“Aku ingin merasakan angin sepertimu.. cepat lepas dan pakai saja!” Aku menurut, aku melepaskan helm Jonghyun, mengenakannya di kepalaku lalu memeluknya dengan erat. Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini, aku merindukan saat-saat seperti ini. aku berharap nanti saat kami sudah menjadi suami istri kami bisa naik motor bertiga.

***

Aku berusaha membuka mataku, hanya mimpi? Menyedihkan sekali… tapi kenapa terasa begitu nyata? Aku ingin bisa naik motor dengan Jonghyun.. ah tidak.. Jonghyun-ni oppa. Aku akan memanggilnya begitu jika ia memintaku lagi.

Tunggu! Ini bukan kamar ku! Ini juga bukan kamar Jonghyun!

Infus? Aku di rumah sakit? Sejak kapan?! “UMMMAAAA!!!” jeritku memanggil umma. “Oh.. Yuna, kau sudah sadar. Untung lah kau baik-baik saja nak.”

“Waeire umma?! Sejak kapan aku masuk rumah sakit? Memang aku sakit apa?”

“Sejak kemarin.”

“Ya tuhan! Ini tanggal berapa?!”

“Tanggal 24.”

“Hari ini kan harusnya aku menikah umma?!!! Kenapa aku malah ada di sini?! Umma kenapa malah menangis?! Aku harus telepon Jonghyun sekarang.” Aku berusaha mencari ponselku, tapi aku tidak tahu harus mencari di mana. “Yuna tenang! Tenang dulu!” aku mengerutkan alis, ada apa dengan ibuku ini?

“Kau tdak akan menikah dengan Jonghyun.” MWO?! Yang benar saja! Sudah tidak jama bercanda seperti ini! “Umma ini kenapa sih?!”

“Dengarkan aku! JONGHYUN SUDAH MATI!! DAN DIA HAMPIR SAJA MEMBAWAMU MATI BERSAMANYA!” apa… apa-apaan ini? aku tidak bisa bergerak. “Baca ini!” aku meraih surat kabar dari tangan ibuku, dan terlihat jelas di headline terdapat foto motor Jonghyun yang berwarna merah hancur menabrak dinding tebing.

TEWASNYA ARTIS MUDA KIM JONGHYUN KARENA MELINDUNGI KEKASIHNYA KIM YUNA

Kakiku terasa sangat lemas.. bagaimana bisa? Bagaimana bisa itu terakhir kali bagi ku memeluk Jonghyun, mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Bagaimana bisa itu menjadi yang pertama dan terakhir kali bagiku memanggil Jonghyun dengan sebutan oppa?

“AAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! JONGHYUN-NI OPPPAAA!!!!”

&&&

-Jonghyun Pov-

Aku tidak menyangka bahwa ternyata aku merindukan saat-saat seperti ini, mengendarai motor dengan memboncengi Yuna di belakangku. Aku tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun, aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak pertama kali bertemu dengannya bahwa aku akan selalu menjaganya, melindunginya.

“Ya! Jonghyun-ni.. apa kita harus melalui jalan yang seperti ini untuk sampai ke pondok tersebut?” tanya-nya setengah berteriak karena aku yakin ia tahu bahwa sulit bagiku mendengar suaranya. “Ne. karena itu aku suka pondok itu, kita akan merasa segar jika setiap hari melalui jalanan yang di penuhi pepohonan seperti ini.”

“Tapi menyeramkan, terlebih lagi ada jalaan menanjak yang cukup tinggi.. aku takut saat melalui turunannya.”

“Tidak… justru akan mengasyik kan! Seperti yang biasa kita lakukan dulu!” Aku mempercepat laju motor menaiki jalanan yang menanjak. Pasti sangat mengasyikan saat melalui jalanan yang menurun.

“Jonghyun! Pelankan laju motornya!!!” teriak Yuna karena kini kami sudah menuruni jalanan. “Menyeramkan!!” teriaknya lagi. Ok, aku akan memperlambat laju motor. Aku menarik rem… hey! Apa-apaan ini?! Ya tuhan… aku menginjak rem kaki, tapi juga tidak berfungsi. Oh tuhan! Aku berusaha tetap santai, bahkan menikmati. “Tidak! Ini asik!”

“Jonghyun!! Pelan-pelan atau kau akan kubunuh!”

“Baiklah.. tapi katakan bahwa kau mencintaiku!”

“Agh!! Kau gila! Salanghaeyo!!! Sekarang pelankan laju motornya!”

“Panggil aku oppa! Seumur hidupku kau belum pernah memanggilku oppa!”

“Jonghyun-ni oppa! Salanghaeyo! Pelankan laju motor atau kau benar-benar akan kubunuh!!!!” kali ini air mataku mengalir begitu saja… apa yang harus aku lakukan? Kenapa ini harus jadi terakhir kalinya aku mendengar Yuna memanggilku oppa? Ini baru pertama kali aku mendengarnya. Apa aku harus memberitahunya kalau rem ini tidak berfungsi? Kalau motor ini menabrak maka Yuna yang akan tewas karena ia tidak mengenakan pengaman.

“Dua lagi.. lepas helm ku dan pakai di kepalamu, lalu peluk aku se erat mungkin!”

“Untuk apa melepas helm mu?”

“Aku ingin merasakan angin sepertimu.. cepat lepas dan pakai saja!” ia melepaskan hel yang ku kenakan, aku memastikan bahwa ia menggunakannya dengan benar dan kini dapat aku rasakan ia memelukku dengan erat. Tuhan… beri aku kekuatan untuk menghadapi ini, biarkan Yuna tetap hidup seperti gadis-gadis seumurannya. Biarkan ia melanjutkan karirnya sebagai seorang model. Biarkan gadis yang kucintai ini mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari ku.

Kini aku benar-benar tidak dapat mengendalikan motorku, berat sekali… tangan kananku menggenggam erat tangan Yuna, lalu aku memejamkan mata.

DUAR!

Agghh… menyakitkan… jelas sekali aku merasakan kepalaku membentur tembok kasar.

“Yuna! Yuna… kincanayo?” aku berusaha membangunkan Yuna, tapi sepertinya ia hanya pingsan. Aku harus mencari bantuan! Aku berusaha berjalan mencari rumah penduduk di sekitar sini, kepalaku terasa sangat pusing.

“Tuan.. tuan tunggu sebentar!” aku berusaha berlari. “Omo! Ada apa denganmu nak?” aku berusaha berdiri tegap. “Tolong panggilkan ambulans sekarang juga, kekasihku ada di sana… tolong aku.”

“Baiklah, aku akan berlari ke tempat telepon umum. Bertahanlah nak!” penduduk itu langsung berlari, sedangkan aku kembali ke tempat kami bertabrakan dengan tembok. “Yuna.. kau harus bertahan, untukku. Cintailah laki-laki yang lebih baik dariku!” aku berusaha mencari note kecil yang selalu Yuna bawa di dalam tasnya.

Hal terakhir yang bisa kulihat dan kudengar hanya suara ambulans dari kejauhan dan Yuna yang terbaring tidak sadarkan diri. “Meskipun kita tidak menjadi suami istri aku akan tetap memakaikanmu cincin ini.” percaya atau tidak tapi mataku sudah tidak bisa melihat apapun. Aku membaringkan tubuhku di sebelah Yuna dan menunggu sampai ajal benar-benar mencabut nyawaku.

“Yuna… I love you forever.”

&&&

~End Of Flashback~

Aku menggenggam erat secarik kertas di tanganku, kertas ini di temukan dalam genggaman tangan Jonghyun yang berlumuran darah. Apakah bisa aku mencintai orang yang lebih baik darimu? Karena bagiku tidak ada yang lebih baik darimu. Laki-laki penuh perhatian dan selalu melindungiku. Apakah bisa aku hidup sebagai gadis normal seperti dulu? Karena hanya kau yang bisa membuat hidupku terasa begitu normal. Apakah bisa aku kuat menghadapi hidup? Karena hanya kau yang bisa membuatku kuat.

Sampai sekarang aku masih belum bisa membuka kertas tersebut, ingin aku membaca isinya tapi aku tidak kuat. Tapi aku berusaha kuat dan membuka kertas tersebut perlahan, dan setets demi setetes air mataku mengalir. Aku tidak kuat membaca surat tersebut, jadi aku hanya membaca beberapa kata saja karena aku mengerti apa yang akan ia ucapkan.

Jika memang kau ingin aku bisa membuka lembaran hidup yang baru, Baiklah! Aku akan melupakanmu. Aku membuang kertas tersebut ke dalam tempat sampah dan berjalan keluar rumah, mencoba untuk memulai hidupku dari awal lagi.

***

Yuna,

Maafkan aku. Aku tidak menyangka bahwa pernikahan kita akan berakhir begitu saja. Bukan rencanaku mengendarai motor yang sudah rusak, aku juga sangat terkejut. Tapi aku berharap kau bisa menjalani hidupmu seperti dulu, dan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Bukalah lembaran baru…

Tapi kumohon… jangan lupakan aku….

P.S: I Love You

~FIN~

Mian geje… kekekeke…

75 thoughts on “I LOVE YOU”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s