Please Don’t Go

JUDUL    : PLEASE DON’T GO
AUTHOR    : ariesty h.h / o-shin
PEMERAN    : ONEW SHINee, VICTORIA f(x), SHINDONG SUPER JUNIOR

author’s note: shin eun so disini adalah peran bikinan saya, disini ceritanya dia jadi pemeran pembantu (bukan pembokat). ga terlalu banyak peran sih, tapi cukup berperan juga ==a

annyeong! oshin disini! akhirnyaa bisa posting ff juga 😀 ini ff perdana bikinan saya, sebenernya ni judul sedikit gak nyambung sama jalan ceritanya.  jadi mangap kalo jelek ^^

Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah, senang sekali bisa kembali ke seoul setelah dua tahun lamanya aku bersama ibu menetap di Jepang. Kuhirup udara pagi yang terasa sejuk, segar sekali rasanya. Aku berjalan memasuki gerbang sekolah dengan bersemangat. Aku tersenyum pada semua guru dan siswa yang kulalui, mereka hanya melihatku dengan sebelah alis yang terangkat ke atas dan menatapku aneh. Tapi aku tidak peduli, sulit untukku menyembunyikan rasa bahagiaku sendiri.

Bel berbunyi, tanda pelajaran akan segera dimulai. Aku pun mempercepat langkahku dan segera memasuki kelas. Ruangan kelas sudah penuh dengan siswa yang duduk di bangku mereka masing-masing, dan di depan kelas berdiri seorang wanita yang kira-kira usianya sebaya dengan ibuku.

“Jeongmal mianhaeyeo, apa aku terlambat?” tanyaku sedikit ragu.

“Ah tidak, pelajaran belum dimulai. apakah kau murid baru dari Jepang itu? Silakan masuk dan perkenalkan dirimu” serunya sambil tersenyum padaku

“Ne, annyonghaseyo, joneun Victoria Song imnida. Aku murid pindahan dari smu Jepang. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua.” aku tersenyum dan membungkukkan badan

“Gamsahamnida Victoria, sekarang silahkan duduk dan kita segera mulai pelajaran” Kemudian aku berjalan sambil mencari-cari bangku yang kosong. Kuhampiri bangku itu, dan segera duduk mengingat pelajaran akan dimulai. Tak lama kemudian, aku merasa sesuatu yang aneh. Sepertinya ada seseorang di sebelahku yang memperhatikanku, kutengokkan kepalaku ke arah orang tersebut. Ia kaget dan spontan memalingkan wajah sambil gelagapan saat aku menatapnya. Terlintas dalam benakku, sepertinya aku tidak asing dengan wajah orang itu…

@@@

Tak terasa bel sudah kembali berbunyi, tanda waktunya untuk pulang. Lekas kumasukkan buku-buku yang berserakan di atas meja ke dalam tasku. Dan lagi, aku merasakan ada orang yang memperhatikanku. Makin lama semakin lekat, aku mulai merasa risih. Namun tiba-tiba seorang perempuan gemuk berambut bop berdiri di hadapanku, “Annyeong, namamu Victoria ya? Joneun Shin Eun So imnida, senang bisa berkenalan.” Sapanya sambil mengulurkan tangan dengan mukanya yang lucu.

“Annyeong Eun So, ya aku Victoria. Aku juga senang berkenalan denganmu. Kau lucu sekali.” Ucapku jujur, dan menyambut uluran tangannya

“Ah aku lucu? Memangnya aku badut?” bibirnya mengerucut

“Anniyo, bukan begitu maksudku.” jawabku cepat

“Hahaha tak apa, aku hanya bercanda. Mmm apa kau mau pulang? ayo kita pulang bersama, kebetulan aku sendiri nih.” Sekarang mukanya memelas, ekspresi wajahnya sangat menggemaskan, rasanya ingin sekali aku mencubit dan menciuminya (hahaa)

“Baiklah. Kebetulan aku juga sendiri”

“Kalau begitu ayo!” Eun So menarik tanganku hingga aku hampir terjatuh, tak kusangka tenaganya sebesar ini! Saat itu juga, aku melayangkan pandanganku ke seluruh sudut kelas, tapi tidak ada siapapun selain aku dan Eun So. Sepertinya orang itu sudah pulang. Aku masih menebak-nebak siapa sebenarnya orang itu. Dan kenapa dia memperhatikanku seperti itu??

~ ~ ~

Di jalan

“Jadi kau murid pindahan dari smu Jepang? Tapi sepertinya kau fasih sekali berbahasa korea, bahkan aku yang lahir dan besar di sini saja sepertinya kalah.. uehehe…” ia menjulurkan lidahnya dengan mulut yang belepotan es krim coklat

“Aahaha dasar kau ini ada-ada saja. Ya, tapi sebenarnya aku lahir di sini dan hanya menetap dua tahun saja di Jepang. Jadi wajar saja kalau aku fasih menggunakan bahasa korea.” Jelasku

“Ah begitu, arasseo” balasnya dan lagi-lagi membuat ekspresi lucu di wajahnya yang bulat bapao XD

“Oya, boleh aku bertanya?” tanyaku tiba-tiba

“Ne, kau mau tanya apa?”

“Mmm apa kau tahu siapa nama pria yang duduk persis di sebelahku?” jawabku penasaran

“Ah Jinki maksudmu? Memangnya kenapa ha?” Eun So tidak kalah penasaran

“Jinki?” mataku terbelalak saat mendengar namanya

“Aish kenapa kau? Memangnya apa yang salah dengan Jinki?” ekspresi kagetku sepertinya membuat Eun So makin penasaran

“Eh? Tidak tidak! Nggg.. hanya saja na.. namanya mirip dengan… pamanku!” tukasku cepat

“Begitu ya? Kukira ada apa, hah kau ini!” bibirnya yang masih belepotan kini membentuk corn es krim

“hehehe…”

“Fiuh untung saja eun so tidak curiga padaku.” umpatku dalam hati.

&&&

Jinki P.O.V

Aku masih tidak percaya siapa yang kulihat barusan. Apa benar dia? Dia Victoria? Dan dia sekarang satu kelas lagi denganku, setelah menghilang tiga tahun lamanya. Aku sangat rindu melihat wajah dan senyumannya. Oh tuhan, terimakasih karena telah mengembalikannya di hadapanku. Aku benar-benar sulit untuk mempercayai ini, apakah wanita itu benar-benar Victoria Song? Gadis yang kukagumi semasa SMP-ku?  Wajahnya tidak berubah, masih cantik dan manis seperti dulu. Ah senang sekali rasanya dapat memperhatikannya dari dekat. Dan aku berada di sebelah gadis itu, yang hanya berjarak kurang satu meter dari tempatnya duduk? Tapi saat aku sedang memperhatikannya, tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahku. Aku terkaget, dan berusaha menghindari tatapan matanya. Jantungku berdetak cepat saat itu, aku gugup dan tidak tahu harus melakukan apa.

Sejak pertama kali aku melihatnya, aku jatuh cinta padanya. Mungkin terlalu cepat jika dikatakan cinta, lebih tepatnya aku begitu menyukai gadis itu. Tapi seketika itu, tiba-tiba saja ia menghilang bagaikan ditelan bumi. Berhari-hari ia tidak masuk sekolah, dan aku sama sekali tidak tahu kenapa. Aku khawatir, dan hanya bisa bertanya-tanya akan kepergiannya tanpa menemukan jawaban. Ke mana sebenarnya kau Victoria? Kumohon kembalilah, walaupun aku hanya bisa memperhatikanmu saja, aku cukup merasa bahagia. Satu hal yang kusesali sampai saat ini adalah aku belum sempat mengungkapkan perasaanku padanya.

Aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku. Tapi entah mengapa aku terlalu takut untuk berkata jujur, aku takut akan kenyataan yang harus kuhadapi. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk mengungkapkan semuanya. Terlalu sulit bagiku. Tapi sekarang, Victoria sudah kembali lagi. Mungkin ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padaku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan berusaha, tak akan kubiarkan Victoria pergi dan menimbulkan rasa penyesalan di hatiku lagi.

&&&

Victoria P.O.V

“Dasar Eun So! Katanya dia mau mengantarku ke toko buku, tapi ternyata dia meninggalkanku hanya karena ingin cepat pulang dan segera menyantap cemilan yang dibuat ibunya. Hooh! Dasaaar gembul!” gerutuku dalam hati

Aku berjalan sendiri menyusuri kelas-kelas yang sudah sepi. Tapi saat aku melewati ruang music, kudengar sekilas dentingan nada piano yang mengalun indah. Perlahan aku memasuki ruangan itu, sambil mencari sumber suara. Dan kutemukan seorang pria disana, pria itulah yang memainkan pianonya. Sepertinya pria itu sangat serius dan menghayati permainannya. Sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaanku.  Aku berdiri di tepi pintu ruangan sambil menikmati alunan music piano yang dimainkan dengan indahnya oleh pria itu. Aku tertegun saat ia selesai bermain, diiringi dengan suara dentingan piano yang perlahan tak lagi terdengar. Pria itu menoleh ke belakang, kemudian aku tersenyum dan bertepuk tangan

“Omo, permainan pianomu sangat indah. Sepertinya kau sudah mahir yah?” aku memujinya sambil bertepuk tangan

Tak kudengar jawaban darinya, ia hanya menatapku lekat sambil tersenyum tipis.

“Haloo, apa kau mendengarku?” tanyaku lagi dengan suara yang agak keras

“Ne, mianhae. Ngg… te…te..rimakasih sudah mm..memujiku. Se..sejak kapan kau ada di situ?” balasnya sembari menggaruk kepala. ia kelihatan gugup dan bingung

“Gwenchana, aku belum lama disini. Tadi kebetulan aku lewat ruang music dan mampir sebentar untuk mendengarkan permainan pianomu.” Aku tersenyum

“Ah? Begitu ya?” raut mukanya masih kelihatan bingung

“Wae?” tanyaku ikutan bingung

“Anniyo, ngg.. apa kau sendirian? Mau ku antar pulang?” ajaknya

“Ne, aku sendiri. Apa tidak merepotkan? Aigoo, aku baru ingat aku harus segera ke toko buku.” tiba-tiba saja aku teringat dan segera melihat jam tanganku. Jam 4 sore? Toko buku tutup jam setengah 5

“Mianhaeyo, aku duluan ya!” tanpa pikir panjang, aku melesat ke luar dan meninggalkannya sendiri di ruang musik

***

Jinki P.O.V

Apa aku bermimpi? Tadi itu… aku? Aku mengobrol dengannya? Ini adalah pertama kalinya. Tadi dia juga memuji permainan pianoku. Ah aku sangat senang sekali. Terima kasih Victoria.

~Victoria POV~

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku mengingat-ingat suara alunan piano yang dimainkan Jinki. Sekilas aku teringat, Jinki itu adalah teman smpku yang juga satu kelas denganku. Apa benar itu Jinki? Setahuku dulu, Jinki anak yang pendiam dan jarang bicara. Tapi saat dia memperhatikanku tempo lalu, aku hampir tidak mengenalinya. Ia kelihatan berbeda dan kelihatan lebih tampan dibandingkan dulu. Bahkan aku baru tahu kalau ia mahir bermain piano. Sepertinya ia juga cukup baik dan menyenangkan.  Semua hal yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

~Jinki POV~

Entah kenapa pagi ini aku sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Akupun bangun lebih awal dari biasanya, waktu yang kosong sebelum berangkat sekolah lebih banyak kugunakan untuk bercermin. Hei! Sejak kapan pria sepertiku senang bercermin? Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku bercermin. Aku baru menyadari kalau bercermin itu bisa membuat orang percaya diri. Semuanya mungkin memang terasa aneh, tapi di sisi lain aku juga sangat merasa senang. Apa mungkin karena kejadian kemarin di ruang music itu ya? Aku jadi ingin bisa lebih dekat dengan Victoria.

Di sekolah

Aku terus menatap ke arah pintu kelas sambil menunggu sosok itu datang. Namun tak kulihat tanda-tanda kedatangannya. Sekarang sudah jam 07.55, tapi kenapa gadis itu belum datang juga? Apa hari ini dia tidak masuk sekolah? Atau mungkin kejadian seperti dulu akan terulang kembali? Tidak! Aku tidak akan membiarkannya pergi lagi dari pandanganku.

“Hei Jinki! Kau melamun ya?” tiba-tiba suara Eun So membuyarkan pikiranku

“Eun So-ah kau membuatku kaget tahu!”

“Ooo, mianhae. Habisnya kuperhatikan daritadi kau terus-terusan melihat ke arah pintu dengan tatapan kosong, aku takut kalau kau kesurupan.” jawab gadis itu dengan polosnya

“Hahaa kau ini ada-ada saja! Tidak, aku tidak sedang melamun” kilahku

“Ha? Lalu kenapa?” aku bingung, apa aku jujur saja padanya ya?

“Mmh…”

“Ya! Kenapa? Bukannya mmh !”

“Apa kau tahu ke mana perginya Victoria? Kenapa sudah jam segini dia masih belum datang?” akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada Eun So

“ Ahh jadi dari tadi kau menunggu Victoria ya?” godanya dengan muka bulatnya

“Ngg, tidak! Aku hanya ingin tahu saja!”

“Hahaa.. baiklah aku percaya. Victoria hari ini tidak masuk karena sakit.” wajahnya masih kelihatan menggodaku

“Sakit? Dia sakit apa?” tanyaku khawatir

“Hanya demam saja kok, kenapa tiba-tiba wajahmu jadi khawatir begitu ha? Ahh, aku tahu, kau suka padanya ya? Kukira selama ini kau tidak normal hahaha…” kali ini wajahnya jadi kelihatan begitu mengesalkan.

“Mwo? Apa itu tadi maksudmu? Kau bilang aku tidak normal?” aku mulai naik darah menghadapi gadis ini.

“Omo, seram sekali mukamu marah begitu, aku kan hanya bercanda.” seketika raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. Seseram itukah mukaku tadi? Aku jadi sedikit merasa tidak enak padanya.

“Hehee, mianhaeyo chingu. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut. Aku hanya sedikit kesal mendengar ucapanmu tadi”

“Ahaa, yang tadi itu aku juga hanya bercanda kok, mianhae.” sepertinya raut muka Eun So sudah kembali seperti semula

“Ne, jadi Victoria dirawat dimana? Apakah kau mau menjenguknya bersamaku sepulang sekolah nanti?” ajakku sedikit ragu

“Dia hanya istirahat di rumahnya. Baiklah kalau begitu, kebetulan aku tahu alamat rumahnya.” aku lega mendengar jawabannya

“Ya, gamsahamnida!”

&&&

Pulang sekolah…

“Eun So ayo cepat naik !”

“Eh? Sejak kapan kau bawa motor ke sekolah?” tanya Eun So merasa aneh

“Mmh sejak hari ini. Ayolah cepat naik!” Jinki mulai tidak sabar

“Yaya aku naik sekarang! Tidak usah marah kan? Huh!” Eun So mulai menaiki motor sambil cemberut

“Yaa, habisnya kau mebuang-buang waktu saja tahu!” balas Jinki sedikit kesal

“Haiyya, ayo cepat berangkat” perintah Eun So pada Jinki

Mereka pun segera menuju ke rumah Victoria dengan menggunakan motor yang dikendarai oleh Jinki. Jinki mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Eun So, tapi tiba-tiba Eun So menyuruh Jinki untuk berhenti. Belum sampai di rumah Victoria rupanya, mereka berhenti tepat di depan sebuah toko kecil dengan ornament berwarna cokelat dan merah mawar yang kelihatan dari luar.

“Eun So-ah, kenapa kau menyuruhku untuk berhenti di sini? Kurasa ini bukan rumah Victoria?” Tanya Jinki bingung setelah melepaskan helmnya

“Aishh sudah jangan banyak tanya! Ayo cepat masuk!” ajak Eun So sembari menarik tangan Jinki

“Hyaa hei! Tunggu dulu! Apa kau tidak lihat aku masih di atas motor? Dasar baboo!” Jinki menahan badan dan motornya yang hampir jatuh tertarik oleh Eun So

“Mianhae, aku lupa. Hehehe…” jawabnya polos

“Sebenarnya kau bawa aku ke tempat apa sih?”

“Sekarang siapa yang babo ha? Masa kau tidak tahu? Ini toko cokelat!” jelas Eun So saat mereka mulai memasuki toko tersebut

“Hei! Enak saja! Apa kau lupa tujuan kita sebelumnya? Atau kau benar-benar babo ya?” ejek Jinki sambil tertawa kecil

“Sudahlah, ayo ku perkenalkan dengan kakakku!” tiba-tiba keluar seorang pria gemuk yang wajahnya mirip dengan eun so

“Annyeong, eun so kenapa kau tidak pulang ke rumah? Pria di belakangmu itu? pacarmu ya?” tanya pria itu menggoda dongsaengnya

“Ah oppa, ada-ada saja! Dia teman sekelasku.” Jelas Eun So yang kemudian mencubit oppa nya

“Ngg… annyeong haseyo. Joneun Lee Jinki imnida.” ucap jinki sambil membungkukkan badan.

“Oh Jinki annyeong. Joneun Shindong Hee imnida. Aku kakaknya Eun So.” balas Shindong ramah

”Sudah berkenalannya? Oppaa, bolehkah aku minta cokelat satu kotak lagi?” muka eun so memelas

“omo! Lagi? Tidak! Enak saja, minggu ini kau sudah menghabiskan lima kotak cokelat. Bisa-bisa tokoku bangkrut gara-gara kau” shindong melipat tangan dan memalingkan wajahnya dari eun so

“huaa ayolah oppa, aku janji ini yang terakhir. Ya oppa? Ayolaah aku janji” pinta eun so sambil merengek seperti anak TK yang minta dibelikan balon XD

“tidak akan! Kalau mau kau harus bayar dulu”

“he? Aku kan adikmu, masa aku harus bayar? Oppa pelit! Nanti kuadukan pada umma loh!” eun so mencoba untuk mengancam shindong. “mungkin saja dengan cara ini, oppa akhirnya mau memberikan satu kotak cokelat lagi” begitu pikirnya

“kalau tidak mau yasudah, adukan saja pada umma. weeee” tantangnya lalu menjulurkan lidah ke depan muka eun so

“hyaaa awas kau oppa!” kemudian eun so dan shindong kejar-kejaran (udeh kayak pelm india ==’)

Sementara itu, Jinki yang sedari tadi hanya menyaksikan kebodohan kakak-adik itu sekarang mencoba melihat-lihat isi toko tersebut. Tapi kini mata Jinki terpusat pada sebuah cokelat yang ada di dalam list kaca. Kemudian didekatinya cokelat itu. Cokelat yang berbentuk hati seperti kotak music dan di dalamnya terdapat boneka pria yang sedang memainkan piano dan sebuah boneka wanita di sampingnya. Sungguh cokelat yang paling indah yang pernah dilihatnya.

“umm, hyung! Boleh aku beli cokelat yang ini?” Jinki berusaha memanggil dengan suara yang agak keras. Dan acara kejar-kejaran itupun berakhir. Shindong menghampiri Jinki dan meninggalkan eun so yang sedang melancarkan aksinya.

”ne? Kau mau beli cokelatku? Tentu saja boleh. Ini gratis untukmu, sebagai promosi supaya kau jadi langgananku, hehehe” ia tersenyum licik

“Oppa! Apa-apaan kau ini? Kenapa untuk Jinki gratis? Giliranku disuruh membayar!” eun so cemberut kesal

”yah biarkan saja! Terserahku dong! Lagipula aku yakin dia tidak akan terus-terusan meminta cokelat tanpa mau bayar sepertimu!” balas shindong dengan tawa penuh kemenangan (evil laugh hahaa 3:) )

“iish oppa peliiiiiit! Jinki ayo kita pergi saja!” ajak eun so pada jinki yang daritadi hanya memandang kagum cokelatnya

“baiklah, ah gamsahamnida hyung!” Jinki tak lupa berterima kasih pada shindong

“cheomaneyo, lain kali datang lagi ya!” teriaknya pada eun so dan Jinki yang sudah keluar dari toko

Di jalan..

“ah Jinki stop! Kita sudah sampai” eun so menepuk bahu jinki, kemudian ia memberhentikan motor tepat di depan sebuah rumah

“jadi ini benar rumah Victoria?” tanya jinki untuk meyakinkan

“ya tentu saja, ayo cepat turun!” Kemudian eun so mengetuk pintu rumah itu, dan setelah beberapa detik lalu keluar seorang wanita yang kelihatannya sudah berumur.

“ annyeonghaseyo ahjumma, joneun Shin Eun So imnida dan ini Lee Jinki, kami teman sekelasnya Victoria. Kami ke sini ingin menjenguk Victoria. Apakah Victoria ada?” eun so sepertinya ahli dalam masalah ini, jinki hanya bisa tersenyum

“oh, kalian teman sekelas Victoria. Ya, dia ada di kamarnya. Silahkan masuk!” ajak wanita itu ramah

“gamsahamnida” jawab mereka berbarengan. Kemudian mereka memasuki kamar Victoria, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sekarang jinki berada di kamar gadis yang disukainya. Perasaannya mendadak jadi tak karuan. Lalu eun so mendekati Victoria yang sedang berbaring di ranjangnya, jinki mengekor di belakang.

“annyeong Victoria, aku dan Jinki ke sini ingin menjengukmu, boleh kan?” tanya eun so mengawali pembicaraan

“annyeong eun so, jinki. Terimakasih sudah mau menjengukku ya, padahal aku kan cuma demam” ia tertawa kecil

“cheomaneyo, aku khawatir sekali saat kau tidak masuk sekolah tadi. Apa kau baik saja?” akhirnya jinki memberanikan diri untuk bicara

“ya aku baik saja, terimakasih Jinki” ia tersenyum pada jinki

“nggg, justru seharusnya aku yang berterima kasih padamu” Balasnya tiba-tiba

“ha? Apa maksudmu?” tampaknya pernyataan jinki tadi membuatnya bingung

“ah? Eh? Ngg, terimakasih karena kau kembali lagi dan sudah mau mengenalku” jinki menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu

“apa maksudmu?” ia masih bingung

“sudah lupakan saja. Maaf victoria, aku harus segera pulang. Kau istirahat ya, kuharap kau cepat sembuh dan bisa masuk sekolah lagi besok” ia tersenyum pada victoria sebelum berlalu, sepertinya jinki benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan berpamitan pada ahjumma.

Jinki P.O.V

Kenapa aku menghindari pertanyaan Victoria tadi? Dan malah pamit pulang?  ah bodoh sekali! Kenapa tidak kukatakan saja? Ahh BABO! Kenapa aku selalu tidak berani untuk mengungkapkan perasaanku? Aku tidak ingin kehilangannya lagi, aku tidak ingin dia pergi lagi dari pandanganku. Aku menyayanginya lebih daripada diriku sendiri.

Di sekolah

“annyeong..!” aku menyapa semua yang ada di kelas. Hari ini aku sudah masuk sekolah seperti biasa.

“annyeong Victoria” eun so melambaikan tangan

“annyeong jinki” sapaku padanya sambil tersenyum saat hendak duduk di bangkuku dan kemudian berincang dengan eun so

“annyeong Victoria, syukurlah kelihatannya kau sudah sembuh” balas Jinki tersenyum

“haha iya, aku senang sekali bisa kembali ke sekolah” jawabku riang

“hey hey! Ngomong-ngomong kenapa kemarin kau mendadak pulang begitu ha? Seenaknya saja! Aku jadi pulang sendirian tahu!” eun so tiba-tiba menyerocos

“hehe, mianhaeyo. Kemarin itu aku ada urusan penting” jelas jinki menjawab omelan eun so

“tidak kumaafkan, kalau mau kau harus mentraktirku dulu!” eun so menjulurkan lidahnya seperti anak kecil

“yaya, baiklah. Tapi hanya beli permen saja ya!” jinki ikut-ikutan menjulurkan lidah, sepertinya dia tidak mau kalah dari eun so

“uh pelit sekali, masa cuma permen? Kalau begitu tidak kumaafkan!” eun so melipat tangannya kesal

“haha sudahlah, kalian ini!” aku tertawa melihat tingkah mereka

“dasar gembul! ya! Kau mau kutraktir apa?” jinki akhirnya mengalah juga

“ayo kita ke kantin!” bukannya menjawab, eun so malah menyeret jinki ke kantin. Alhasil aku ditinggal sendirian, dasar eun so 😀

Setelah mereka pergi, aku teringat pertanyaan eun so tadi kepada jinki. Kenapa ya kemarin jinki seperti itu? Dan apa maksud jinki mengatakan ‘terimakasih karena kau kembali lagi dan sudah mau mengenalku’ ? aku sama sekali tidak mengerti.

Di kantin

“umm chingu, bolehkah aku minta bantuanmu? Tanya jinki pada eun so yang sedang sibuk menghabiskan makanan yang dibelikannya

“bantuan? Bantuan apa?” eun so balas bertanya dengan mulut penuh makanan

“telan dulu makananmu! Muncrat tahu!”

“ya, bantuan apa?” tanya eun so setelah berhasil menelan semua makanan di mulutnya

“aku *blablablablablablablabla*…. Mau ya? Aku sangat butuh bantuanmu.” Jinki memohon dengan sungguh-sungguh pada eun so

“ha? Kau? Apa kau sungguh-sungguh? Kau bercanda ya?” eun so tampaknya tidak percaya

“ne, aku serius. Mana mungkin aku bercanda.” Jawab jinki yakin

“baiklah. Ahaa! Aku ada ide!” eun so menjentikkan jarinya

“ide apa?”

“jadi blablablabla nanti blablablablabla biar aku yang blablablabla” eun so menjelaskan idenya pada jinki.

—————————-

Esok harinya..

Handphoneku berdering, eun so memanggil

“yoboseo?”

“yobo, Victoria aku baru saja mendapat kabar, Jinki kecelakaan!” sontak aku kaget, dan tidak percaya dengan apa yang dikatannya

“kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang? Sekarang Jinki di mana?” tanyaku begitu khawatir

“Jinki sekarang ada di rumah sakit dekat sekolah”

“baiklah aku segera ke sana!” aku langsung mematikan telepon dan segera berangkat ke rumah sakit. bagaimana keadaan jinki? Tuhan, tolong lindungi dia.

Di rumah sakit..

Begitu tiba di rumah sakit, aku melihat eun so sudah ada di sana dengan wajah sedih.

“eun so! Di mana jinki? bagaimana keadaannya sekarang?” aku langsung menyemburi eun so dengan pertanyaan

“Victoria, kita terlambat. Tadi suster memberitahuku lima menit yang lalu, jinki.. dia sudah tiada” mataku terbelalak tak percaya dengan semua yang dikatakan eun so. Kurasakan mataku berair hingga benar-benar menangis. Semua ini pasti hanya mimpi.

“lalu di mana jinki sekarang? Aku ingin bertemu dengannya.” Aku benar-benar masih tidak percaya, tapi air mataku terus menetes seolah ini kenyataan

“Victoria, aku mengerti perasaanmu. Tapi jinki memang sudah tiada. tadi suster menitipkan sesuatu padaku, katanya ini pesan terakhir dari jinki untukmu” kemudian eun so memberikan sebuah kotak bewarna merah muda dan selembar kertas di atasnya. Aku membuka isi kotak itu, di dalamnya terdapat cokelat berbentuk hati yang berbentuk seperti kotak music dengan boneka kecil wanita dan pria yang sedang memainkan piano. Saat itu, aku ingat saat Jinki memainkan piano di ruang music. Suara piano, seiring dengan nada-nada yang terangkai menjadi alunan musik yang begitu indah dimainkan oleh Jinki. Tapi kenapa semuanya begitu singkat?

Kubuka selembar kertas itu..

Annyeong Victoria, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Apakah kau masih ingat denganku? Aku adalah teman satu kelasmu waktu SMP. mungkin kau lupa, karena aku sama sekali tidak pernah bicara denganmu. Meskipun kita satu kelas, tapi tidak pernah sekalipun kita mengobrol bahkan lebih dari itu. satu hal yang menjadi pertanyaan besar bagiku. Kenapa saat itu kau pergi menghilang begitu saja? Aku sangat sedih saat kau pergi, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kepergianmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku Victoria. Aku menyesal karena aku belum sempat menyatakan perasaanku padamu. Aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan yang akan terjadi. Tapi tuhan memang maha adil, ia memberi kesempatan kedua untukku. Ia mengembalikanmu ke hadapanku. Dan lewat surat ini aku akan mengungkapkan semuanya.

Terimakasih Victoria, terimakasih karena kau sudah mau mengenalku, terimakasih karena kau telah memberi warna dalam hidupku. Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat menyayangimu. Saranghaeyo Victoria..  uri sarang yeongwonhi…

Kini air mata semakin mengalir membanjiri pipiku. Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, apa ini cinta? begitu manis namun terasa pahit di akhir kenyataannya? Saranghaeyo Jinki. sekarang aku tahu semuanya.

“saranghaeyo” tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang badanku, suara seorang pria. Lalu aku membalikkan badan

“jinki? kau ? apa ini benar-benar kau?” aku terkejut saat melihat sosok pria itu

“ya, ini aku” ia tersenyum padaku, kemudian aku mendekati dan memeluknya erat

“aku tidak akan pergi lagi darimu Jinki, tapi berjanjilah kau juga tidak akan pergi” ucapku di balik bahunya yang basah terkena air mataku

“aku janji, aku akan selalu di sampingmu Victoria. Dan aku akan terus menyayangimu selamanya” namun tiba-tiba aku teringat sesuatu, bukankah tadi eun so bilang Jinki kecelakaan dan meninggal? Lalu kenapa sekarang aku bersama dengan Jinki yang kelihatannya sehat tanpa cacat sedikitpun?

“Jinki, apa kau baik-baik saja? eun so bilang padaku kau kecelakaan” aku melepaskan pelukanku dan berusaha memastikan

“hahaha.. akhirnya rencanaku berhasil kan?” kemudian eun so muncul dan menghampiri kami

“hahah.. terimakasih eun so” aku tidak mengerti apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Rencana? Rencana apa?

“hey! Tunggu dulu! Sebenarnya ada apa ini? Apa yang kalian bicarakan sih?” tanyaku bingung

“ini semua rencanaku, aku berbohong soal kecelakaan itu padamu. Mianhaeyo Victoria. Kau jangan marah ya, hehehe” jelas eun so menjawab pertanyaanku

“ya Victoria, aku meminta bantuan eun so. Tanpa dia, mungkin kau tidak akan pernah tahu perasaanku yang sebenarnya kepadamu” ucap jinki menambahkan

“gwenchanayo, tentu saja aku tidak akan marah, terimakasih eun so. Aku sangat bahagia sekali mempunyai orang-orang yang sayang dan peduli padaku” air mataku menetes  lagi, namun kali ini air mata bahagia.

“cheomaneyo Victoria. Ah cokelatnya untukku saja ya!” eun so berusaha meraih kotak cokelat dari tanganku

“ heh enak saja! ini untuk Victoria, bukan untukmu! kalau mau beli saja sendiri!” jinki menghentikan usaha eun so untuk mengambil kotak cokelatku

“haiya! Pelit sekali kau! Aku kan sudah membantumu. Awas kau yaaaaaa!”

-THE END-

signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
Advertisements