Love’s Way – Five Shining Star [2]

Author: Novi

Main cast : Member SHINee, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin

Bel pulang berbunyi, syukurlah. Akhirnya, aku sudah tidak sabar lagi mendengar cerita Rae Na. Kutarik tangan Rae Na yang masih membereskan buku. Kulihat Key kembali menatapku dengan tatapan yang lebih bersahabat kali ini bukan tatapan aneh jadi kuputuskan untuk tersenyum padanya dan sepertinya dia terkejut melihat reaksiku kali ini dan kembali menunjukan wajah anehnya. Tiba-tiba seseorang menabrakku dan berlari menghampiri Key.

“Yeobo ayo pulang…kenapa tadi kau pergi begitu saja……”cewek yang kalau tidak salah bernama Yu Ri langsung menggandeng Key dan menariknya.

Yeobo….aigooo…lucu sekali mendengarnya. Mereka pun akhirnya pergi.

Di depan gerbang sekolah,

Aku merasakan Hp ku bergetar dan kulihat ada sms masuk.

Mianhe Hye Jin, aku hari ini ada latihan paduan suara, tidak apa-apa kan kau pulang sediri? Jeongmal mianhe…Hyo Jin

Baguslah Hyo Jin tidak pulang bersamaku hari ini berarti ini kesempatan ku untuk menjelajah kota Seoul sendirian. Aku pulang bersama Rae Na dan ini kesempatanku untuk menagih janjinya padaku.

“Ok..kau harus menceritakan yang tadi selama perjalanan pulang….arasso?”

“Ya…baiklah…tenang saja…”

Di lapangan parkir aku melihat Taemin lagi, ya ampun kenapa aku begitu senang melihatnya. Dia bersama cowok yang tadi makan siang bersamanya. Sepertinya Rae Na mendapatiku memperhatikan Taemin terus dan langsung bertanya padaku.

“Hmmm…sepertinya kini beralih ke Taemin atau Minho?”

“Apa maksudmu? Aku tidak suka siapa-siapa baik itu Key atau Taemin atau siapa tadi?”

“Minho…cowok yang bersama Taemin itu…ketua klub basket…sangat tampan tapi dingin..padahal waktu SMP dia tidak seperti itu…”

Rae Na malah terus saja bercerita tentang Minho cowok yang tadi makan siang bersama Taemin dan cowok yang kulihat di bandara waktu itu. Minho itu namanya.

Taemin berbicara sebentar dengan Minho dan segera mengenakan helm dan menaiki motor sportnya yang berwarna biru. Wow, keren sekali dia dengan motor itu. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Apa sih yang aku pikirkan…

“Hey, ayo pulang…”

Rae Na menarik tanganku dan kami pun pulang bersama. Di jalan aku menagih janjiku padanya.

“Ayo cepat cerita…”

“Baiklah…”

Dia diam sejenak dan berdehem beberapa kali. Dasar Rae Na, membuat orang penasaran saja.

“Pertama Jin Ki Oppa…kau tahu siapa dia, dia adalah orang paling kaya di sekolah ini, ayahnya adalah seorang pengusaha toko daging diseluruh Korea, hampir semua toko daging di Korea adalah miliknya dan dia adalah anak tunggal jadi bisa kau bayangkan dia akan menjadi pewaris tunggal…di sekolah di termasuk murid berprestasi dan dia sama seperti Hyo Jin Unnie, ketua paduan suara cowok, suaranya sangat bagus loh…”

Aku mendengar Rae Na bercerita dengan seksama dan hanya mengangguk atau mengiyakan semua perkatannya.

“Nah, Taemin itu adalah sepupunya, dia sangat sangat sangat pintar…kau tahu dia selalu ada di kelas A sejak masih SMP dan kau tahu dia juara Olimpiade Kimia seluruh Korea Selatan itu didapatnya waktu kelas 10…sebenarnya dia bisa saja pindah sekolah keluar negeri…kudengar sudah banyak Universitas di luar negeri sana yang ingin menjadikannya mahasiswa tanpa tes tapi yang aku dengar dia Cuma mau ke Chung Ahn…aneh sekali…oh ya dia disini tinggal di rumah Jin Ki Oppa sebab ayah, ibu dan kakak laki-lakinya ada di Australia…kudengar ayahnya adalah seorang dosen dan kakaknya seorang dokter…selain pintar dia juga jago basket loh….dia termasuk salah satu anggota klub basket makanya dia dekat dengan Minho…dia termasuk incaran cewek-cewek di sekolah kita..hati-hati..”

“Siapa juga yang mengincar dia? Kau ada-ada saja…sudah lanjut…”

Rae Na kembali terdiam beberapa saat dan berdehem-dehem beberapa kali.

“Kalau Key, dia adalah orang paling popular di sekolah kita, tampan, berbakat, kaya…yah pokoknya idola cewek-cewek…tapi entahlah berapa banyak pacar yang di milikinya…tipe super playboy…kau tahu ayahnya adalah seorang pialang saham jadi apapun yang dia mau tinggal minta..dia juga salah satu anggota klub basket dan musik…itulah sebabnya aku bilang dia berbakat…dia bersama adiknya di klub basket itu…kau tahu Minho cowok yang tadi bersama Taemin…dia adalah kembarannya tapi untunglah kelakukannya tidak sama, Minho lebih baik dari dia, kurang lebihnya mereka berdua adalah idola cewek-cewek di sekolah kita…”

Aku terdiam, terlalu larut dalam mendengarkan cerita Rae Na. Sungguh pribadi yang sangat unik mereka.

“Sebenarnya masih ada satu orang lagi, tapi kurasa kau belum bertemu dia jadi nanti saja aku ceritakan…”

“Tidak…tidak cerita saja…siapa dia…”

“Baiklah…dia Kim Jonghyun…walaupun nama keluarga kami sama kami tidak bersaudara..begitu juga dengan Key dan Minho mereka juga bermarga Kim tapi kami tidak punya hubungan saudara….Jonghyun sebenarnya tidak banyak yang tahu tentang dia…yang kutahu dia tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya, kalau tidak salah dia seorang model…tapi kau tahu sifatnya kurang lebih sama seperti Key makanya dia dekat sekali dengan Key…tapi masih lebih baik Jonghyun…yah itulah mereka five shining star di sekolah kita…capek juga bercerita seperti ini…”

Unik sekali, mereka sungguh unik. Kenapa mereka tidak bergabung saja menjadi sebuah kelompok seperti sebuah drama korea yang pernah kutonton dulu dimana ada 4 cowok-cowok idola yang bergabung menjadi sebuah kelompok, memang sih lebih satu tapi kan tidak ada batasan untuk itu. Pikiranku mulai ngelantur. Habisnya mereka begitu sempurna sekali.

“Rae Na, Key itu namanya Kim Key?”

Aku penasaran mana mungkin nama aslinya Key itu kan bukan nama Korea.

“Bukan nama aslinya Kim Kibum…karena di sekolah kita ada dua nama Kim Kibum yang satu lagi itu adalah Sunbae kita jadi dia di panggil Key kurasa itu nama luarnya sebab dia pernah tinggal di luar negeri dulu…”

Aku sungguh sangat kaget begitu mengetahui nama aslinya adalah Kim Kibum…Kibum itu adalah nama cowok tidak sopan dan egois yang pernah menabrakku tanpa bilang minta maaf di hari pertama aku menginjakan kakiku di Seoul. Pantas wajahnya tidak asing lagi. Dasar cowok sombong! Lihat saja nanti!

Rae Na berhenti di persimpangan dan belok ke sebelah kiri, rumah kami memang berbeda jalur, aku di sebelah kanan sedang Rae Na di sebelah kiri, jadi kami berpisah disini.

“Annyeong Hye Jin…”

“Ne Annyeong Rae Na..,”

Dia melambaikan tanganku padanya dan dia membalas lambaian tanganku.

Aku tidak mau langsung pulang hari ini aku mau pergi berjalan-jalan dulu di kota ini sambil mencari tempat untuk bekerja part time. Kira-kira ada dimana ya?

Aku terus saja berjalan melewati pertokoaan yang padat dengan manusia. Banyak sekali orang disini, dan aku terus saja berjalan.

OMO, sepertinya aku tersesat, dimana ini? Aku tidak kenal jalan ini, kurasa tadi aku sudah berjalan disini kenapa kembali kesini. Aduh! Aku pasti hanya berputar-putar saja. Apa yang harus aku lakukan? Telepon Hyo Jin? Tidak, dia pasti akan langsung bilang pada ibu dan ibu pasti langsung sangat khawatir dan aku tidak bisa membayangkan saat ibu sudah mulai khawatir dia bisa kehilangan control. Lebih baik aku mencari sendiri jalan pulang. Aku yakin aku bisa.

Matahari sudah mulai menghilang tapi aku masih saja belum menemukan jalan pulang, dimana halte busnya. Aduh perutku lapar lagi!Makan apa ya?

Ah, aku melihat sebuah kedai ramyeon, ramyeon adalah mie, pasti  rasanya tidak aneh. Aku pun menuju ke kedai tersebut dan meminta semangkok ramyeon, kelihatannya enak. Untung aku membawa uang jadi aku masih bisa makan. Setelah kenyang makan aku bertanya pada si penjual dimana halte bis terdekat dan dia pun menunjukan jalannya padaku, segera aku berjalan menuju halte bus tersebut. Sesampainya disana aku bingung naik bus yang apa, aku lupa tempat rumah nenek dimana. Fiuhh!!!bodonhya aku, sekarang bagaimana caranya pulang. Aku terduduk di kursi halte bus dan menyandarkan kepalaku ke tiang. Mana Hp ku mati lagi! Aigoo!!!pasti mereka sudah mencariku!

Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di halte. Tidak mungkin, motor biru itu….Taemin!! Tidak mungkin! Buat apa dia disini!

Si pengendara motor itu membuka helmnya dan ternyata benar itu adalah Taemin. OMO!!

“Apa yang kau lakukan disini?”

Aku langsung refleks bertanya padanya, babo!kenapa aku langsung bertanya seperti itu.

“Aku mau pulang dan melihatmu di halte ini dengan wajah seperti itu…”

Dia tersenyum padaku, memangnya wajahku seperti apa.

“Memangnya wajahku seperti apa?”Pertanyaan babo Hye Jin.

“Seperti tersesat…mungkin..ah ya…kau tidak tersesat…baiklah aku pulang dulu…”

Dia beranjak pergi.

“Eh..tunggu…tunggu…iya aku tersesat…kau tahu jalan ke rumah Hyo Jin…aku tinggal disana….”

Dia kembali tersenyum dan sepertinya kini sedikit tertawa. Aku hanya bisa menundukan kepalaku malu rasanya mengakui bahwa aku tersesat. Ya ampun pasti dia berpikir aku begitu bodoh hingga tersesat.

“Ayo naik…kuantar kau…”

Apa! Dia ingin mengantarku pulang, ya ampun hari ini hari keberuntunganku yah walaupun awalanya agak sedikit tersesat. Tidak, aku tidak boleh menerima ajakannya, aku kan Cuma ingin Tanya arah saja bukan minta di antar.

“Ah..tidak usah…aku bisa pulang sendiri…beritahu aku saja nama tempatnya…nanti aku naik bis…”

“Dari sini rumahmu masih jauh…harus dua kali naik bis…aku heran kenapa kau bisa tersesat sampai sejauh ini…”

Dia tersenyum mengejek di akhir kalimatnya, memangnya ada yang salah dengan tersesat. Itu bisa terjadi pada semua orang dan dimana saja.

“Mianhe..aku Cuma bercanda…ayo naik…aku antar kau pulang…pasti Hyo Jin noona sudah cemas..cepat naik…”

Sepertinya dia tahu aku tidak suka dengan perkatannya tadi, seperti yang aku bilang aku adalah Open Book jadi gampang sekali menebakku, mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa dia tahu aku tersesat.Wajahku menunjukan kalau aku tersesat.

Aku pun segera naik ke motornya dan dia memberikan sebuah helm padaku dan segera kukenakan.

“Pegangangan…”

Aku memegang pinggangnya erat-erat dan kurasakan jantungku berdegup dengan kencang, ada apa denganku? Kenapa jadi seperti ini?

Hari sudah mulai gelap dan akhirnya kami sampai di depan rumahku. Ternyata aku memang tersesat sangat jauh. Butuh waktu cukup lama untuk sampai ke rumah untung saja aku diantar Taemin kalu tidak entahlah sampai jam berapa aku di rumah.

Hyo Jin langsung memelukku begitu aku masuk ke dalam rumah.

“Ya ampun, kami mencarimu kemana-mana…kami sangat mengkhawatirkanmu Hye Jin…”

“Mianhe…ibu mana?”

“Dia ada di dalam…kau sendirian?”

Taemin masuk ke dalam rumah dan membungkuk memberi salam pada Hyo Jin.

“Diantar Taemin..”lanjutku

“Gumawo Taemin…” Hyo Jin langsung mengucapkan terima kasih padanya.

Dia pun tersenyum dan memohon untuk pulang.

“Aku pulang dulu…” Taemin membungkuk dan segera beranjak pergi.

“Gumawo…”Kataku menghentikan langkah Taemin, dia berbalik dan tersenyum padaku.

“Lain kali hati-hati…annyeong…”

Dia pun menghilang di balik pintu.

“Ne Annyeong…”

Entahlah dia masih mendengar atau tidak. Hyo Jin kembali memelukku dan membawaku menemui ibu dan nenek. Benar saja habis sudah aku dimarahi oleh ibu. Dia menceramahiku selama 2 jam dan mulai sekarang sampai aku benra-benar paham tempat ini aku tidak boleh pergi sendirian harus ada yang menemaniku. Setelah 2 jam menceramahiku akhirnya aku bisa mandi dan pergi ke kamarku. Aku pun mengerjakan PR-ku di temani Hyo Jin yang sedang membaca majalah.

“Bagaimana kau bisa diantar Taemin?”

“Aku bertemu dengan dia di halte…”

“Syukurlah kau bertemu dengan dia…dia anak yang baik..”

“Maksudmu?”

“Andwe..”

Hyo Jin tersenyum dan kembali asyik membaca majalahnya dan aku sudah mulai mengantuk, PR-ku pun sudah selesai semua. Kurapihkan meja belajarku dan beranjak menutup jendela.

“Sudah mau tidur?”

Hyo Jin mengagetkanku, ku kira dia sudah tertidur sambil membaca majalah ternyata dia masih bangun.

“Biasanya kau selalu paling akhir menutup jendela dan di tengah malam membukanya…kenapa sekarang bisa tidur cepat?”

“Tidak..tidak ada apa-apa…aku hanya mengantuk…”

Hyo Jin tahu kalau kemarin aku bangun di tengah malam dan membuka jendela untuk melihat bulan semoga dia tidak melihatku menangis malam itu.

“Apa karena senyum Taemin membuatmu lebih cepat tidur..”

“Bukan..”

Dia tertawa melihat mukaku merah menahan malu, apa-apaan Hyo Jin ini aku tidak suka Taemin. Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu…

“Sudahlah…kau menatap dia dengan tatapan yang berbeda…kau suka dia kan..”

“Tidak!!”

Aku langsung naik ke atas tempat tidurku dan menutup tubuhku dengan selimut. Pasti dia akan terus meledekku habis-habisan lebih baik aku pergi tidur saja.

“Hye Jin suka Taemin…”

Aku pura-pura tidak mendengarnya dan memejamkan mataku, masih kudengar suara Hyo Jin menahan tawanya melihat tingkahku sambil terus bergumam. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan sepertinya Hyo Jin keluar kamar. Aku membuka selimutku dan berbaring menatap langit-langit dan mengigat kejadian tadi saat bersamanya jantungku berdegup sangat kencang. Apa yang terjadi padaku?

Sebaiknya aku berangkat sendri hari ini, Hyo Jin pasti akan meledekku habis-habisan sepanjang perjalanan. Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal dan bergegas mandi lalu sarapan

”Buru-buru sekali? Hyo Jin baru mandi tuh….kau pergi sekolah bersamanya kan?”

”Annyi…hari ini aku harus buru-buru sampai di sekolah…”

Buru-buru kuhabiskan sarapanku dan bergegas mengambil tas ku dikamar.

”Jangan berusaha menghindariku…” Celetuk Hyo Jin dari ruang depan.

”Aku sudah siap…” Lanjutnya.

Ya ampun cepat sekali dia, padahal aku berniat pergi sekolah sendiri, pasti dia akan bertanya yang macam-macam selama di perjalanan. Aku memasang wajah cemberut dan berlutut memakai sepatuku dan berjalan mendahului Hyo Jin yang menahan tawanya.

”Kami pergi dulu…” Teriak Hyo Jin yang langsung berlari menghampiriku dan berjalan berdampingan.

”Ya…kau marah ya?”tanyanya.

Aku hanya diam dan terus berjalan tanpa menatap ke arahnya.

”Ok..mungkin kau mau di jemput oleh Taemin…”serunya.

Aku langsung menghentikan langkahku dan  berbalik menghadap kearahnya dan melihat Hyo Jin tertawa melihatku kemudian dia berlari menghindariku. Aku pun  mengejarnya dan jadilah kami berlari sampai di depan sekolah.

”Hyo Jin..mau sampai kapan kau berlari…”Teriakku dengan terengah-engah, melihat Hyo Jin sudah sampai di depan gerbang sekolah.

Aku masih terengah-engah karena berlari sampai ke sekolah, ini gara-gara Hyo Jin, lihat saja nanti di rumah. Kulihat Hyo Jin sudah menghilang diantara keumunan murid yang mulai memasuki gedung sekolah. Dia tidak akan bisa menghindariku nanti makan siang.

Hufft ini hari kedua ku bersekolah disini, yah pelan tapi pasti aku mulai dikenal oleh murid-murid disni karena mereka mulai menyapaku saat aku memasuki gedung sekolah, beberapa diantaranya adalah teman sekelasku yang meskipun aku belum tahu namanya tapi paling tidak aku mengenali wajah mereka. Saat aku mulai memasuki gedung sekolah kulihat Taemin baru turun dari motornya dan bodohnya aku malah berdiri di depan pintu masuk menatapnya. Dasar Babo! Kenapa aku ini, sudah masuk ke kelasmu!

Tiba-tiba seorang cewek menghampiri Taemin dan tersenyum padanya dan kulihat Taemin tersenyum padanya juga dan mereka pun terlihat asyik mengobrol. Aku pun langsung membalikan badanku dan berjalan masuk ke gedung sekolah, kenapa aku ini? Kenapa aku harus jadi seperti ini melihatnya bersama cewek lain? Aku kan baru kenal dia 2 hari yang lalu, kenapa aku jadi seperti ini terhadapnya? Aku berjalan sambil menundukan wajahku dan perasaanku sungguh kacau.

”Aihh..”

Aku meringis kesakitan karena seseorang menabrakku dan saat kulihat siapa orang yang menabrakku ternyata orang yang sama yang menabrakku di bandara, Kibum! Dan itu membuatku mejadi semakin kesal.

”Kalau jalan hati-hati dong!”

Bentaknya padaku. Enak saja siapa yang dia pikir tidak hati-hati. Dasar cowok kasar!

”Ya..Kau yang jalannya tidak lihat-lihat! Dasar cowok kasar! Sudah dua kali kau menabrakku tapi bukannya minta maaf kau malah membentakku. Dasar tidak tahu diri!”

Semua orang yang melihat kejadian tersebut terdiam dan memandang ke arah kami berdua. Dan kulihat wajah Kibum sudah merah karena marah.

”Oh jadi kau gadis yang tidak tahu sopan santun itu! Yang mau menojokku waktu itu! Huh dasar cewek kasar!”

”Kau harusnya ngaca siapa yang kau sebut kasar, cowok egois dan Babo!!” Teriakku.

Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menunjukan telunjuknya ke kepalaku.

”Heh Babo! Kau tidak tahu siapa aku berani membentakku seperti itu! ”

Dia semakin sok saja, aku tidak peduli siapa dia. Kenapa sih masih ada cowok seperti dia di dunia, aku heran seperti apa pacarnya, ada apa cewek yang mau dengan cowok kasar seperti ini!

”Aku tidak peduli siapa kau…itu bukan urusanku!!”Aku semakin meninggikan suaraku. Dan sudah siap mengepalkan tanganku untuk menonjoknya, enak saja dia memanggilku Babo, belum pernah aku di panggil seperti itu seumur hidupku oleh siapapun.

Semua orang yang melihat kami hanya terdiam sambil menunggu kira-kira apa yang akan kami lakukan.

”Hye Jin apa yang kau lakukan?ayo pergi…jangan buat keributan…”

Kulihat Hyo Jin berlari dari jauh menghampiriku dan berdiri diantara aku dan Kibum.

”Kibum..”

Kulihat seorang cowok berlari dari juah menghampiri Kibum dan berusaha menariknya pergi. Hyo Jin pun menarikku pergi dan sebelum pergi aku sempat menjulurkan lidahku padanya. Lihat saja nanti.

”Awas Kau!jangan halangi aku Minho..”teriaknya.

”Sudahlah Kibum…”

Di Kelas suasana sangat panas, karena ada aku dan Key. Entahlah kenapa kami bisa sekelas seperti ini. Aku benar-benar muak melihat wajahnya, untung dia duduk di depan jadi aku tidak perlu melihat wajahnya itu. Aku berusaha berkonsentrasi terhadap pelajaranku tapi tampaknya aku tidak bisa, suasana di kelas ini sangat kikuk.

Ternyata pelajaran berjalan sangat cepat dan bel makan siang pun berbunyi.

”Hye Jin…”

Rae Na berbisik memanggilku, dan aku pun menoleh kebelakang.

”Wow…susananya sangat tegang…kenapa kau bisa bertengkar dengan dia? Kau tahu dia daritadi melihat ke arahmu dengan tatapan yang sangat menyeramkan…aku saja takut…”

Aku tahu itu, aku merasakannya dia menatapku dengan tatapan matanya yang sipit itu. Sudahlah lagipulan bukan 100% aku yang salah dalam masalah ini. Aku malas membicarakan hal ini.

”Ke kantin yuk?”Ajakku pada Rae Na.

Berlama-lama di kelas ini mungkin malah membuat suasana semakin tegang dan aku tidak bisa menjamin aku tidak akan berkelahi dengannya. Kulihat Kibum masih terduduk di bangkunya dan aku memalingkan wajahku begitu aku melewatinya.

Aku benar-benar tidak berselera makan, dari tadi aku hanya memisahkan bawang dari makananku dan tidak menyuapnya sekalipun.

”Ya…kau tidak mau makan?”

Hyo Jin yang daritadi melihatku tidak makan mulai bertanya.

”Tidak lapar..”kataku

Kemudian Hyo Jin mengambil makananku dan menyedoknya lalu menyuapkannya ke mulutku.

”Aissh…..aku bisa makan sendiri…” Kataku sambil menutup mulut dengan tanganku.

”Ya…makanlah…”serunya.

Aku pun dengan tidak berselera mulai menyendokkan makanan ke mulutku.

”Sudahlah Hyo Jin….kenapa harus marah-marah terus…”

Rae Na yang daritadi asyik dengan makannya mulai angkat bicara dan menasehatiku untuk melupakan kejadian tadi, aku sudah bercerita tentang masalahku dengan Key dan dia pikir aku bisa melupakannya begitu saja. Enak saja dia bilang kalau aku Babo, mana bisa aku terima, tidak ada yang pernah bilang seperti itu padaku sebelumnya. Awas kau Key! Aku tidak peduli walapun keluargamu pemilik terbesar saham di sekolah ini, aku tidak peduli, kau harus belajar sopan santun terhadap orang lain dan aku akan mengajarimu sopan santun. Cowok kasar!

”Aku duluan…”seruku pada mereka.

Aku berdiri dan beranjak dari mejaku, aku ingin mencari udara segar. Hyo Jin dan Rae Na hanya bisa menatapku dengan penuh kebingungan. Maka kuputuskan saja untuk berjalan-jalan kesekeliling sekolah . Kulihat banyak sekali murid-murid berkumpul di taman tapi saat kulihat apa yang membuat tempat itu begitu ramai, aku langsung mundur dan pergi dari tempat itu. Kenapa aku harus bertemu Key di tempat seperti itu. Hufft untunglah dia tidak melihatku kalau dia melihatku pasti suah terjadi perang dunia ke-3 antara aku dan dia. Aku melewati setiap koridor sekolah dan melihat banyak sekali murid-murid yang sedang mengobrol dan berlarian di lorong sekolah, aku pun menaiki tangga menuju ke atas, ke perpustakaan. Yah kesana lah lebih baik aku pergi, membaca buku pasti bisa menenangkanku.

Aku mulai melihat-lihat koleksi buku disini, ternyata lumayan lengkap juga. Tidak hanya yang berbahasa Korea tapi yang berbahasa Inggris pun ada, aku terus berjalan melewati rak-rak untuk mencari sebuah buku. Semoga ada. Baru sampai rak ke tiga aku menangkap sesosok cowok yang sudah tidak asing lagi dan begitu melihatnya jantungku langsung berdegup kencang. OMO!! Dia sedang membaca sebuah buku sambil berdiri dan jujur kuakui dia sangat tampan saat itu, dia begitu serius mungkin tidak melihat kehadiranku. Kenapa aku ini bukannya berjalan kembali aku malah menghampirinya. Tidak boleh, aku tidak boleh menghampirinya. Baru sampai setengah jalan aku membalikan tubuhku dan berjalan kembali.

”Hye Jin…”serunya.

Aku mendengar namaku disebut olehnya, aku pun berhenti dan berbalik menghadapnya dan tersenyum. Dia pun tersenyum dan menghampiriku.

”Apa yang kau lakukan disini?”Tanyanya begitu jarak kami sudah dekat.

”Aku sedang mencari buku…ah…tapi mungkin tidak ada…”jawabku.

”Buku apa yang kau cari? Mungkin aku bisa membantumu…”tanyanya lagi.

”Ah…annyong….tidak usah…sepertinya tidak ada…”jawabku.

”Koleksi disini cukup lengkap kurasa…memang apa bukunya?”tanyanya.

Aku pun mengucapkan judul buku yang kucari itu dan dia pun terseyum.

”Aku juga suka buku itu…baru kemarin aku selesai membacanya…sepertinya aku tahu tempatnya…ikut aku…”serunya dan dia mulai berjalan.

Aku pun mengikutinya melewati setiap rak-rak buku, aku melihat dia seperti kembali mengingat-ingat dimana menaruh buku itu. Dan selama melewati rak-rak itu aku tidak henti-hentinya menatap wajahnya. Ya ampun pasti aku sudah gila! Tak lama kemudian dia berhenti tepat di sebuah rak dan menjangkau buku yang paling atas kemudian tersenyum padaku.

”Ini dia…”serunya.

Dia menyodorkan buku itu padaku dan tanpa sadar tangannya menyentuh tanganku dan aku pun terlonjak kaget dan menjatuhkan buku itu.

”Mian…”Katanya kemudian mengambil buku itu dan memberikannya padaku.

Kali ini aku hati-hati sekali agar tidak menyentuh tangannya. Dia mengantarakanku ke tempat peminjaman buku dan setelah itu kami keluar dari perpustakaan. Kami hanya terdiam sambil berjalan menuruni anak tangga. Kenapa susananya jadi tidak enak begini.

”Gumawo untuk yang kemarin…”kataku membuka pembicaraan.

Aku mulai membuka pembicaran dengan mengucapkan terima kasih padanya sekali lagi karena telah menolongku kemarin.

”Tidak apa-apa…kebetulan aku sedang lewat…tadi ke sekolah tidak tersestkan?”katanya.

Dia bertanya seolah mengejekku dan aku pun mengerucutkan bibirku dan kulihat dia tertawa, tawanya sungguh menawan.

”Mianhe…aku Cuma bercanda….”

Kami pun akhirnya larut dalam obrolan kami tentang apa saja. Dia bercerita bahwa dia tidak mau tinggal di luar negeri karena dia terlalu mencintai Korea, oleh sebab itu dia tidak ikut keluarganya ke Australia, dia juga bercerita bahwa dia mengaggap keluarga Jin Ki Oppa sebagai keluarganya sendiri dan sangat senang bisa mempunyai seorang kakak laki-laki seperti Jin Ki Oppa. Dia juga bercerita tentang sekolah ini, tentang Seoul dan juga tentang Korea Selatan secara luas. Sementara itu aku menceritakan tentang kehidupanku di Amerika sebelum pindah kesini, aku juga bercerita bahwa aku pernah ke Korea sebelumnya saat aku masih SMP dan belajar bahasa Korea makanya sekarang aku fasih berbahasa Korea. Dia sangat baik dan ramah dan itu semakin membuatku kagum padanya. Ya ampun aku benar-benar sudah gila!

”Taeminn-ah…”

Seseorang memanggil Taemin begitu kami berjalan melewati lapangan basket. Taemin pun menghampirnya dan aku pun mengikutinya. Saat kulihat siapa yang memanggil Taemin aku kaget ternyata dia itu Minho, kembarannya Key.

”Hyung…kenalkan ini Choi Hye Jin…dia murid baru disini…”seru Taemin memperkenalkanku

Minho terlihat agak kaget juga melihatku namun buru-buru dia tersenyum.

”Annyeong…Minho-imnida…”Dia membungkukan badannya.

”Annyeong…Hye Jin-imnida…”Aku pun ikut membungkukan badanku dan tersenyum padanya.

Tiba-tiba seseorang memanggil Taemin dari jauh dan Taemin mohon diri untuk menghampirinya sebentar.

”Aku kesana dulu ya…”serunya.

Jadilah aku dan Minho ditinggal sendiri. Apa yang harus aku katakan? Aku bingung, dia tampaknya pendiam, dia hanya memainkan bola basket yang dia pegang dari tadi dan memantulkannya ke tanah. Begitu berulang-ulang. Sungguh aku tak percaya kalau Cowok yang sangat tinggi ini adalah kembarannya Key, memang wajah mereka tidak sama tapi kelakukan pun berbeda 180 derajat. Key adalah orang yang kasar sedangkan Minho dari pengamatanku sekilas kukira dia adalah orang yang pendiam dan sepertinya lembut. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku kalau jadi Minho pasti tidak tahan memiliki kakak seperti Key, pasti akan bertengkar terus.

”Kenapa kau melihatku…”tanyanya dingin.

Bukan pertanyaan tapi pernyataan, aku baru sadar sejak daritadi aku memperhatikannya terus dan buru-buru aku mengalihkan pandanganku.

”Mian..tidak apa-apa…ehmmm…kau sepertinya sangat pintar bermain basket?”tanyaku.

Dia tidak menjawab hanya mengangguk, benar-benar deh sangat pendiam, seperti es. Namun tiba-tiba di menyodorkan bola basket ke arahku.

”Mau mencoba bermain?”tanyanya.

Aku terlonjak kaget mendengar perkataanya, main basket? Aigoo! Memang sih di Amerika sana aku pernah menjadi anggota tim basket putri tapi itu dulu saat aku masih kelas 10 saat itu aku harus berhenti karena ibu melihat nilai-nilaiku turun sejak ikut main basket dan mulai saat itu aku tidak pernah lagi menyentuh bola basket. Tapi sepertinya asyik juga, aku sudah kangen sekali bermain basket sepertinya sudah lama sekali. Dulu aku sering bermain bersama…ah sudah lupakanlah…aku mengambil bola basket itu dan mendribble nya lalu masuk ke dalam lapangan dan yeah aku bisa memasukannya. Ternyata kemampuan basket ku masih belum hilang.

Minho melihatku dengan tatapan tidak percaya.

”Wow…aku tidak menyangka kau bisa bermain basket…”katanya.

Dia menghampiriku ke tengan lapangan sambil tersenyum. Menurutku itu kata terpanjang yang dia ucapkan hari ini.

”Aku pernah ikut basket waktu masih di Amerika…”jawabku.

Aku melemparkan bola itu kembali ke Minho dan Minho menagkapnya lalu memasukannya ke dalam ring. Kuakui gayanya sangat keren.

”Mianhe…atas perbuatan kakakku…”serunya tiba-tiba.

”Mwo?”tanyaku sedikit bingung.

Aku sedikit kaget mendengar dia berbicara seperti itu, lalu buru-buru menjawab.

”Ya..tidak apa-apa…”jawabku begitu aku mengerti arah pembicaraanya

Padahal sebenarnya dalam hatiku aku masih kesal dengannya tapi sudahlah ku bilang saja aku sudah melupakannya. Taemin kemudian menghampiri kami.

”Hye Jin…”

Kulihat Rae Na memanggilku dari jauh dan aku pun berjalan menghampirinya.

”Aku duluan…” Aku mohon diri dan tersenyum pada mereka berdua.

”Keren…”Minho tersenyum dan mengacungkan jempolnya padaku sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku Cuma tersenyum dan berlalu pergi kulihat wajah Taemin bingung melihat kami yang bisa akrab, mungkin dia berpikir aneh sekali orang seperti Minho yang sangat diam mampu akrab dengan orang baru hanya dalam sekejap. Yah dia tidak sependiam itu ternyata. Kulihat Taemin dan Minho main basket bersama, Taemin juga keren. Aku tersenyum sendiri.

”Kau gila ya?” Tanya Rae Na begitu aku sampai di depannya.

”Tidak…ayo..”Jawabku kemudian merangkul Rae Na berjalan menuju kelas.

Hari ini aku sungguh senang selama istirahat aku bersama Taemin terus dan kami mengobrol bersama. Ah aku senang bisa menjadi temannya. Rasanya ingin aku bisa sekelas dengan Taemin tapi aku malah mendapat kelas dengan cowok kasar di dalamnya. Rasanya aku ingin buru-buru akhir pekan.

Taemin POV

”Hyung…tumben kau bisa akrab dengan orang secepat itu…seorang gadis lagi?”

Sambil menangkap bola basket yang dilempar olehnya. Kami memang seumuran tapi karena dia lahir beberapa bulan sebelum aku, jadi aku lebih suka memangilnya hyung. Hari ini hyung sangat aneh tidak biasanya dia dekat dengan seseorang yang baru di kenalnya apalagi itu seorang gadis dan Hye Jin tentunya.

”Annyong…memangnya kenapa?”Hyung menatapku dengan pandangan penuh tanya.

”Ah…Anni…hanya bertanya saja….”

Aku berjalan ke pingggir lapangan dan mengambil air minum yang ada di atas bangku di pinggir lapangan, kami baru saja bermain beberapa menit tapi rasanya sudah capek sekali, setiap istirahat aku dan hyung pasti bermain one on one dan walapun hanya bermain tetap saja akan terjadi persaingan sengit antara aku dan dia, apalagi hyung, dia adalah orang yang tidak mau kalah. Kali ini hyung yang menang dan tampaknya dia sangat senang sekali karena dalam minggu ini, ini pertama kalinya dia menang dariku. Aku langsung meminum sampai habis air mineral itu karena aku sangat haus. Hyung kemudian menghampiriku dan duduk disampingku.

”Ya…kali ini aku menang…nanti sore main lagi ya?”serunya tidak tampak lelah sedikitpun.

”Aigoo…hyung…kau tidak capek apa…”kataku.

Aku merentangkan kaki ku yang sangat pegal.

”Kau ingat hari ini kita ada latihan tau…jangan pulang lagi seperti kemarin…kita harus siap-siap untuk pertandingan bulan depan…” serunya sambil mengacak-acak rambutku.

”Aishh…kemarin kan aku ada keperluaan mendadak lagipula aku sudah bilang pada Key hyung dan Siwon Sunbae…”jawabku.

”Ya…pokoknya hari ini harus latihan!!”serunya lagi.

”Ara..”jawabku mengerti.

”Taemin-ah…kau menyukai gadis itu ya?” tanyanya tiba-tiba.

”Mwo??annyong…dia Cuma teman…”Aku sedikit kaget mendengar pertanyaan hyung dan buru-buru menjawab tidak. Karena memang bagiku Hye Jin hanya seorang teman. Kuakui dia cantik tapi aku tidak menyukainya.

”Lalu kenapa kau bertanya hal itu tadi? Kau cemburu ya?” Hyung tersenyum ke arahku.

”Annyi…hanya tumben saja hyung cepat dekat dengan orang lain…”aku memberi alasan atas pertanyaanku.

”Bilang saja kau cemburu…aku tidak akan mengambil gadismu…sampai jumpa saat latihan…”jawabnya.

Hyung berdiri dan mengacak-acak rambutku lagi dan berjalan pergi. Ah dasar hyung! Aku jadi teringat kejadian tadi saat tanganku tidak sengaja menyentuh tangannya, ada perasaan aneh yang terjadi saat itu. Dan kenapa harus selalu bertemu dengan dia tanpa sengaja?kenapa sejak pertama kali bertemu dengannya ada suatu perasaan ingin selalu membantu dan melindunginya. Apa yang terjadi? Hye Jin…kenapa aku selalu ingin berada di dekatnya…ahh, mungkin hanya perasaanku saja. Aku pun beranjak menuju kelasku.

Hye Jin POV

Aigoo, panasnya hari ini! Harus pulang berjalan lagi. Hufft. Hyo Jin mana sih? Lama sekali. Dia menyuruhku menunggu tapi sudah 10 menit aku berdiri di depan lokerku, kalau bukan karena hukuman ibu pasti sekarang aku sudah sampai di rumah dan bisa menghindari teriknya matahari ini, jujur aku tidak terlalu suka matahari, aku selalu berusaha menghindarinya bukan karena takut kulitku hitam tapi lebih kepada perasaan yang tidak nyaman melihat silaunya matahari.

15 menit, 20 menit. Ok kemana Hyo Jin. Dia sudah membuatku menunggu selama ini, dia bilang sebentar tapi ini lama sekali. Ku ambil HP dari sakuku dan mencari nomor Hyo Jin, kutunggu sampai di angkat tapi ternyata tidak di angkat juga. Aigoo apa yang dia lakukan. Sebaiknya aku cari saja pasti dia ada di ruang kesenian. Aku pun berjalan menuju ruang kesenian namun langkahku terhenti ketika melewati lapangan basket dan melihat banyak sekali orang disana, aku mengintip sedikit dari pintu dan melihat banyak sekali anggota klub basket yang sedang berkumpul mungkin mereka mau latihan. Aku mencari-cari wajah yang aku kenal. Ya ampun Hye Jin, kau benar-benar sudah gila!untuk apa kau mencarinya.

”Heh..cewek kasar minggir!”teriak seseorang.

Aku seperti kenal suara itu, aku pun ingin memastikan bahwa orang itu lah yang memanggilku. Dan benar ternyata dia.

”Mau apa lagi kau!” bentakku.

”Ngapain kau disini?!” tanyanya dengan pandangan sinis.

”Bukan urusanmu!”jawabku kasar.

”Aku sedang tidak ingin bertengkar..aku mau latihan…pergi sana!”serunya menyuruhku pergi.

”Dasar Babo!”teriakku padanya sambil berlalu pergi.

Dia berusaha menagkapku tapi Aku sudah pergi meninggalkan lapangan sambil menjulurkan lidahku padanya. Kulihat dia hanya bisa mentapku dari jauh.

Mana ruang keseniannya ya? Kurasa ada di sebelah sini tapi tidak ada. Aigo masa aku tersesat di sekolahku sendiri. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara memanggilku.

”Hye Jin…”

Aku pun menoleh dan mendapati Jin Ki Oppa bersama seorang cowok yang sepertinya aku mengenalinya, kalau tidak salah dia cowok aneh yang melambaikan tangannya padaku di kantin, cowok yang sering bersama dengan Key. Kenapa sih aku harus selalu bertemu dengan orang-orang yang ada hubungannya dengan cowok kasar itu. Tadi saudara kembarnya dan sekarang sepertinya BFF nya. Melihat dari gaya mereka.

”Kau sedang mencari Hyo Jin ya?” Tanya Jin Ki Oppa begitu sampai ke depanku.

”Ne…kau tahu dimana dia Oppa?”jawabku.

”Sebentar lagi dia selesai tadi ada rehearsal dulu untuk pertunjukan bulan depan..jadi agak sedikit lama…oh ya kenalkan ini Kim Jonghyun…”seru Jin Ki Oppa memperkenalkan temannya.

”Annyeong..Hye Jin-imnida”Aku membungkukan badan dan memperkenalkan diri.

”Annyeng…Jonghyun-imnida..”Balasnya.

Dia langsung mengedipkan matanya padaku dan aku mengernyit heran. Kulihat Jin Ki Oppa tertawa.

”Jangan menggodanya Jonghyun…kau bukan tipenya…”katanya menjelaskan pada temannya itu.

Jin Ki Oppa menyenggol tangan Jonghyun yang bersandar pada dinding dan itu membuatnya sedikit terpeleset, Jonghyunpun hanya tersenyum malu. Aku pun ikut tertawa melihat tingkah mereka.

”Kalau kau butuh bantuan panggil saja aku…”Jonghyun kembali bicara dengan tampang jahilnya.

”Ne…Ne…”Aku menjawab dengan tertawa ternyata cowok yang ku kira aneh itu lucu juga.

Kami pun mengobrol sebentar. Bersama Jin Ki Oppa dan Jonghyun yang dibicarakan hanya lelucon dan kami tertawa bersama. Dasar ternyata mereka adalah orang-orang yang konyol. Tak lama kemudian Hyo Jin muncul sambil berlari ke arahku.

”Mianhe…jeongmal mianhe…tadi aku ada latihan dulu…maaf membuatmu menunggu lama…”serunya meminta maaf.

”Tidak apa-apa kok…ada penghiburku disini…”Aku melirik ke arah Jin Ki Oppa dan Jonghyun dan kemudian tersenyum.

”Ayo pulang..”Ajak Hyo Jin.

”Annyeong…”Aku membunkukan badan dan berpamitan pada mereka.

”Josimhe!!” mereka melambaikan tangannya.

Kurasa aku mulai betah disini, kurasa tidak buruk juga disini. Malam itu aku sudah bisa tidur tepat waktu dan tidak terbangun lagi di tengah malam. Baguslah, aku dapat beradaptasi dengan cepat.

TBC

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
Advertisements

Our Love Should Go On – Part 2

“Miiaaann. .miaan. .Onie bukan maksud sama Onie kok. .!” Ri chan meringis, kemudian Ri chan menghampiri kedua Onienya itu. “Sudah ku bilang Onie jangan terlalu dekat dengan Teukki Oppa. .! apa Onie tidak sadar kalau Teukki oppa itu sudah Om Om .. . .?”. Ujarnya tanpa rem membuat Sun Yi dan Min Gi melotot tajam pada Ri chan .*miiaann. .bungkuk2 badan ssama Lani*

“Kyu hyun mu itu juga anak kuliahan kan . . ?”. sindir Min Gi.

“Nn. .nnee. .bener ssii. .tapi kan dia tidak satu angkatan sama Teukki”. Min Gi dan Sun Yi  bawa golok. “Miiaan. .miiaan. .Onie. .nee Kyu juga Om Om kok”. Ri Chan meringis takut golok itu menebas lehernya *saddis*  .’Tapi masih imutan Kyu’. Tambahnya dalam hati.

****

Di Café dekat taman Seoul.

Neul Rin duduk sambil meletakkan kepalanya di pundak Donghae, Ri rin sibuk suap suapan kimchi sama Minho. Sun yi terus ngelamunin Onew, Min gi ngucek-ngucek  es jeruk pake sedotan gara-gara digaringin gak ada Jonghyun yang bisa dia ajak berkelahi,katanya Jonghyun ijin gak hadir karena dia harus membantu Ummanya jaga warung *ckckck anak yang baik*. Ah seul sibuk dengan googlenya, buat nyari info terbaru tentang Cristian Ronaldo, untung Heechul oppa lagi sibuk ngerjain tugas kuliahnya. Kalau dia ada disini mungkin mereka bakal rebutan search Google, yang satu pengen info update tentang sepak bola, yang satunya lagi pengen update tentang perawatan wajah.Sedangkan Ri chan sibuk dengan matanya yang nangkap seorang cowok imut lagi sibuk menggambar sketsa ditaman.Ri Chan senyum-senyum gaje. .!. ‘Immutt! Tapi kenapa dia lebih cantik dariku?’ pikirnya.

Terakhir, Onie ke empatnya Neul Rin, Shin Hyun Young. Gadis yang menjadi pendiam sejak kekasihnya meninggalkannya untuk selama-lamanya, bernama Choi Siwon.Siwon satu angkatan dengan Donghae dan Kyuhyun yang sekarang baru masuk semester dua dikampusnya. Hyun Young kehilangan Siwon sudah hampir satu tahun. Kejadian itu masih terbayang dibenaknya. Kejadian disuatu siang yang menjadi saat terakhirnya mereka bertemu.

Pada saat itu, wajah Siwon pucat, tapi dia memaksa ingin jalan-jalan di Everland theme park, taman bermain dan festival bunga di seoul.

“Oppa. . kau sungguh tak apa-apa. . .?”tangannya mendarat dipipi Siwon.“Ne. .jaggi memangnya kenapa. .?”.Siwon membalas tangan Hyun Young.“Wajahmu terlihat pucat sekali. Apa kau sedang sakit. .?” Tanya Hyun Young cemas.

“Aaannii. .aku sungguh tak apa-apa. .kita jalan-jalan lagi! Khaza!!” Siwon menarik tangan Hyun Young.Tangan Siwon ditariknya kembali. “Aaanii oppa. .ayo kita pulang!”

“Waeyoo. . .?”

“entahlah. .tapi aku ingin pulang!!”

“baiklah! Tapi ini bukan gara-gara kau mengkhawatirkan oppa kan. .?”

“Aanii.”Hyun Young menggelengkan kepalanya. Tapi dibelakang tubuhnya Hyun Young ngegabungin jari tengah dan telunjuknya waktu berbicara tadi. Dan itu artinya dia berbohong.

“Baiklah kita pulang.. .!”ucap Siwon tersenyum.

Setelah mereka sudah berdiri didepan rumahnya Hyun Young. Tiba-tiba tatapan mata Siwon kabur dan kepalanya terasa sedikit pusing. Ia memejamkan matanya. Otot-otot wajahnya menegang.

“Oppa. . .Gwenchanayo?”. Tanya Hyun Young curiga.

Siwon memijit keningnya. “Gwenchana jaggi. .mungkin aku cuman kelelahan”. Siwon berusaha tersenyum.

“Kalau begitu istirahatlah dulu dirumahku sampai kau benar-benar sehat, aku tidak mau oppa mengendarai mobil dengan keadaan seperti ini!!”. Hyun Young semakin cemas melihat Siwon yang wajahnya semakin pucat.

“Apa kau sebegitu khawatirnya dengan Oppamu ini?” Siwon mengacak rambut Hyun Young lembut.

“Entahlah. .rasanya tidak mau Oppa pergi. .!!”

“Kalau oppa pergi, jaga dirimu baik-baik jaggi. .”

“bukankah Oppa yang akan menjagaku. .?”. Ucap Hyun Young berusaha tenang di tengah ketakutan yang dia sendiri tidak tahu kenapa. Siwon menatap Hyun Young dalam-dalam, kemudian memeluknya. “Saranghaeyo!”. Ucap Siwon pelan semakin mendekap Hyun Young erat-erat. “Na do saranghaeyo. .Oppa!” balas Hyun Young. Siwon melepaskan pelukannya dan beranjak pergi meninggalkan rumah Hyun Young .

“Oppa. .!”

Siwon memutar tubuhnya. Hyun Young merasa berat membiarkan Oppanya pergi. “Nee. .?”. Siwon menatap Hyun beberapa saat sebelum melambai dan meninggalkan Hyun yang masih berdiri ditempatnya sambil memandangi kepergian Siwon dengan tatapan khawatir.

Satu jam kemudian telepon rumah Hyun berdering keras. Ada rasa gugup saat mengangkatnya. Setelah mendengar sesuatu dari orang yang meneleponnya. Hyun mendekap gagang telepon didadanya. Tidak percaya dengan apa yang didengar. Ingin sekali dia berteriak memanggil oppanya, tapi lidahnya terasa kelu, air matalah yang menjawab semuanya. Siwon meninggal karena kecelakaan setelah mengantar Hyun pulang. Saat mengendarai mobil, sakit kepala Siwon semakin parah. Dia tidak bisa mengemudi mobilnya dengan baik. Mobil Siwon menghindari Truk yang berlawanan arah tapi naas, mobilnya menabrak pohon. Ada rasa penyesalan dihati Hyun Young. Kenapa dia tidak berusaha keras untuk mencegah Siwon pergi.

“Onie. .Oniee!”. Tangan neul Rin melambai lambai didepan mata Hyun.

“Nnn nee. .!” Hyun Young sadar dari lamunannya..

“Hyun apa kau tidak apa-apa?”. Tanya Ri rin cemas.

“Aannii. .Onnie. .!”

Sesaat suasana hening. Mereka tahu Hyun sedang berbohong, dia sedang teringat kembali dengan Siwon.

“Hheehh. .kok pada bengong ssii. .! kita kan mau diskusi tentang hukuman buat Ri Chan!”. Min Gi buka suara.

“Dasar Onie kejjam. .! ngebet banget sih pengen ngasih hukuman buat dongsaengnya!”.  Rin Can melotott kejjam pada Min Gi

“Siapa suruh pacaran sama Om Om! Boongan lagi!. .kekkeekke. .kke”. Min Gi terkekeh kekeh sampai dia sadar Onie dan Dongsaengnya termasuk dengan Oppa2nya yang sudah tahu masalah Sun Yi menoleh khawatir kepadanya.

Min Gi langsung diam. Dia melirik Sun Yi yang sudah mengepalkan kedua tangannya. Ri Chan dan Neul rin menjulurkan lidahnya.

“Onie. .miiiaaannnhaeeyoo.”. .Min Gi memelas.

“Sudah. .kenapa kau harus meminta maaf. .? aku kan tidak pernah berpacaran dengan Teukki Oppa. .”. Sun Yi mengelak, kali ini wajahnya semakin merah.

“Onie. . . .emang siapa yang bilang kalau kau berpacaran dengan Teukki oppa.?”. Ujar Neul Rin dengan wajah innocentnya disambut dengan tawa meledak Onie dan dongsaengnya.

“A a akk akkuu cuman . . .asal bicara saja!!!!!”. Jawab Sun Yi gelagapan dengan wajah yang sudah berwarna merah ati. “Suddaah! Cepet kita putusin hukuman apa yang bakalan Ri Chan terima!”. Lanjut Sun Yi berusaha mengalihkan pembicaraan.

Semua Nampak serius berpikir, Ri Chan cemberut melihat semuanya itu. Dongsaeng yang malang!bahkan Neul Rin yang satu komplotan dengannya saja asyik berdiskusi dengan Donghae dan Min Gi. “Dasar Onie Durhaka!”. Gumamnya dalam hati.

“Yaaa! Akku punya idde!”. Celetuk Yesung memecahkan Keheningan yang terjadi.

“eolteokhae????”. Tanya Min gi antusias.

“DORAA!”. Mata Donghae berbinar-binar seakan bangga dengan idenya itu.

“Maksudnya?”. Ri Rin tidak mengerti dan bertukar pandangan dengan Minho. Minho menaikan bahunya, isyarat tidak tahu.

“Kalian tahu badut Dora yang ada di taman kota Seoul. .? kita hokum Ri Chan menjadi badut itu selama 6 hari ”

Mereka teringat dengan badut Dora yang ada setiap hari Sabtu dan minggu di taman kota, yang berarti Ri Chan harus menahan malunya selama tiga minggu. Badut itu selalu memberikan balon gratis pada anak-anak yang sedang bermain di taman,dengan tujuan taman kota akan selalu ramai dengan anak-anak kecil.

“Kyaaaa. . .!!!! Oppa. .kenapa kau bisa punya ide seperti itu? Kau terinspirasi dari mana?”. Ri Chan tidak bisa terima dengan hukuman yang akan dia terima.

“Aku terinspirasii darii. . .”. Donghae melirik nakal pada jagiyanya, Neul Rin yang mempunyai poni pagar dan gaya rambut di bob, ditambah pipinya yang tembem emang menghasilkan khayalan kalau dia seperti Dora. *Nyebbelin terpaksa aku yang dikorbanin kayak Dora. Padahal nggak mirip sama sekali. Hikss. .nangis dalam pelukan Donghae*

Mereka semua menoleh pada Sung Ni dan melihat style rambutnya dalam-dalam. Sung ni menyadari apa yang terjadi, “OOoooppppaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” teriak Neul Rin sambil nyambak-nyambak rambut Donghae gaje diikuti tawa meledak mereka.

TBC. .

Miian ya. .part ini member SHInee.a blum adda. .^_____^

Created by: Neul Rin

Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^ (SHINee Toplist)
  • Open page Talk Talk Talk if you want to talk out of topic