DRABBLE BOX (4 FLUFF + 1 ANGST)

DRABBLE BOX!! (4 FLUFF + 1 ANGST)

Sedikit penjelasan, FF ini terdiri dari lima cerita singkat (drabble) yang saling tidak bersambung ceritanya. Tiap cerita hanya terdiri dari sekitar 400-an kata saja, jadi masing-masing cerita sangat-sangat singkat. Tapi, ceritanya gak saling berhubungan kok ^^ Semuanya benar-benar beda total… Dan cast-castnya boleh dianggap sebagai diri kalian sendiri ^^ Oke, kita mulai aja dengan drabble pertama…

Title: Supposed to be There.

Author: shineeisland a.k.a rana.

Rating: G.

Genre: Romance, Fluff.

Length: Drabble.

Language: Indonesian.

Casts: You (bayangkan ceweknya adalah dirimu) and Lee Jinki.

Disclaimer: I do not own any casts in here, they all belong to themselves, but I do own the story.

Summary: You need to read it, then you’ll know ^^

+++

Desember. Musim Salju. Malam. Dingin. Sendirian.

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku dengan cepat, sambil sesekali menghembusnya perlahan dengan nafas yang keluar dari mulutku. Cih, sudah kuduga. Ternyata nafasku sudah lebih parah dari temperatur kota Seoul hari ini.

Malam ini benar-benar dingin. Musim salju yang menyapa sejak sebulan lalu benar-benar ganas rupanya. Fuhhh, tapi… asal kau tahu saja. Hatiku lebih dingin dari ini, karena musim saljunya sudah datang sejak tiga tahun lalu.

Ya, sudah genap tiga tahun aku mencintainya. Mencintai bocah bernama Lee Jinki itu. Sungguh kenyataan yang pahit saat menyadari bahwa aku tak bisa menggapainya, padahal ia selalu ada di sampingku. Mengapa semuanya terasa begitu jauh bagiku?

Aku dan Jinki adalah sahabat dekat sejak kecil. Kami selalu bersama tanpa pernah terpisahkan. Kami juga saling melindungi satu sama lain. Dan sejak tiga tahun lalu, sesuatu yang lain tumbuh di hatiku. Ya, sesuatu itu adalah cinta. Aku benar-benar mencintainya, namun ia tak pernah peka terhadapku. Ia selalu mengurusi fans-fans gilanya yang membuntuti dia kemana-mana. Hhh, rasanya ia benar-benar terlalu jauh untuk digapai.

Kududukkan diriku di sebuah bangku taman yang sudah tua. Dingin. Bangku itu tak kalah dinginnya dengan suhu udara saat ini. Kurasa aku bisa mati membeku jika terus-terusan seperti ini. Namun memang itulah yang aku inginkan. Mati…

Tanpa kusadari, setetes cairan bening mulai mengalir menuruni pipiku, lalu disusul dengan bertetes-tetes cairan bening lainnya. Hhh, sedih. Ya, aku sedih. Sedih karena tak bisa mendapatkan Jinki seutuhnya.

“Mengapa aku harus menyukainya? Mengapa? Padahal aku tahu kalau dia takkan pernah jadi milikku…” kataku pada diriku sendiri. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku yang membiru. Menangisinya, lagi.

“Mengapa dia selalu ada di pikiranku, hah?! Mengapa aku tak bisa menghapusnya sama sekali?!” Aku kembali menyesali diriku dengan menggertakkan tanganku ke bangku taman yang terbuat dari besi itu. Sakit. Tapi aku tak peduli.

“Siapa yang menghantui pikiranmu?” Sebuah suara berat namun lembut menyahut dari belakang. Hhh, dasar pengganggu!

“Jinki!! Jinkilah orangnya!! Dia yang selalu menghantui pikiranku setiap detik, setiap menit, dan setiap jamnya!! Tanpa memedulikan kenyataan bahwa aku mati perlahan karena hal itu!!” Ups. Aku menutup mulutku. Tanpa sadar aku meneriakkan semuanya. Hhh, biarlah. Yang kubutuhkan saat ini memanglah pengakuan dari lubuk hati yang terdalam.

Aku kembali menutupi wajahku dengan telapak tangan. Bisa kurasakan lelaki itu menyentuh pundakku.

Bila kau tak bisa menghapus bayang-bayang seseorang dari kepalamu mungkin dia memang ditakdirkan untuk berada di situ…” ujarnya.

Aku tersentak dan membelalak. Kuputar kepalaku ke belakang.

“Jinki?! O__O”

Sebuah senyuman menyambutku hangat.

FIN

Title: Just Kidding?

Author: shineeisland a.k.a rana.

Rating: G.

Genre: Romance, Fluff.

Length: Drabble.

Language: Indonesian.

Casts: You (bayangkan ceweknya adalah dirimu) and Kim Jonghyun.

Disclaimer: I do not own any casts in here, they all belong to themselves, but I do own the story.

Summary: You need to read it, then you’ll know ^^

+++

“Aku mau kok jadi pacarnya,” ujarku sambil melirik lelaki yang duduk di sebelahku.

“Hah, benarkah?”

“Iya, tapi nanti saat aku kena katarak dan tidak bisa membedakan mana yang ganteng dan mana yang seperti dia! Hahahaha,” Tawaku membahana di sudut kelas. Sunhee, sahabatku, juga tertawa tak kalah kencangnya. Lelaki di sebelahku itu hanya cemberut sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kau selalu saja mempermainkan aku!” protes Jonghyun, lelaki yang kumaksud. “Tapi masalahnya, kenapa selalu aku yang jadi sasaran? Kan bisa yang lain,” Jonghyun beranjak turun dari meja yang didudukinya, lalu berlari ke luar kelas. Aku dan Sunhee hanya bisa terdiam sambil menatap punggungnya dari belakang.

“Mungkin kali ini kau keterlaluan,” ujar Sunhee sambil mendesah.

“Tapi masak gitu aja dia marah sih? Kekanakan banget,” timpalku. Aku beranjak turun dari meja. “Sudahlah, aku ke kantin dulu ya,” Sesegera mungkin kulangkahkan kakiku untuk keluar dari ruang kelas ini. Sunhee yang masih duduk di bangkunya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku berlari ke kantin. Tidak seperti yang kuduga, kantin begitu sepi. Padahal biasanya jam istirahat begini, kantin akan ramai sekali. Pengunjungnya mulai dari anak kelas 1 sampai anak kelas 3.

Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Mataku tertumbuk pada sebuah kepala dengan rambut kuning norak bergradasi yang hanya ada satu di seluruh dunia. Memang itulah ciri khasnya, pikirku sambil mengendikkan bahu, lalu berlari menghampirinya. Mungkin Sunhee benar, terkadang aku keterlaluan menghinanya.

“Jonghyun-ah…” panggilku lemah. Ia tak menoleh dan hanya membuang muka. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Kau marah padaku?” tanyaku lagi. Ia masih diam. Pandangannya hanya tertuju ke jus alpukat yang diseruputnya perlahan.

Aku menunggu sepatah dua patah kata yang keluar dari mulutnya. Kugigit bibir bawahku. Apa aku memang benar-benar keterlaluan?

Jonghyun meminum jusnya hingga tetes terakhir, mendorong gelas jus itu perlahan, dan bangkit.

“There is a little truth behind every just-kidding. Ingat itu,”

Usai mengatakan itu, ia langsung pergi dan meninggalkanku yang masih mematung. Aku mengernyitkan dahiku, mencoba mencerna kata-katanya.

Ada sedikit kebenaran di setiap candaan? Berarti maksudnya… pasti di hatiku ada sedikit keinginan untuk jadi pacarnya walaupun kubilang padanya kalau aku hanya bercanda?

Oh. My. God. Benarkah itu?

Tanpa kusadari kedua pipiku memerah.

Yeah yeah yeah. There is a little truth behind every just-kidding.

FIN

Title: Yes, It’s You.

Author: shineeisland a.k.a rana.

Rating: G.

Genre: Romance, Fluff.

Length: Drabble.

Language: Indonesian.

Casts: Kang Hyerim (bayangkan dia adalah dirimu) and Choi Minho.

Disclaimer: I do not own any casts in here, they all belong to themselves, but I do own the story.

Summary: You need to read it, then you’ll know ^^

+++

“Minho-yah… ayo beritahu aku… ya ya ya?” Aku menggelayut di lengannya sambil menariknya pelan. Kami sedang berada di koridor sekolah saat ini. Ya, Minho adalah teman sekelas sekaligus teman sebangkuku. Dan belakang ini, kami menjadi dekat karena songsaengnim memindahkanku dari bangku paling belakang ke bangku paling depan; di sebelahnya.

Awalnya aku cukup terganggu untuk duduk di depan. Well, semua guru tahu aku adalah biang gosip sekolah, dan kerjaanku hanyalah ngobrol ngobrol dan ngobrol, karena itulah aku dipindahkan ke depan.

Mulanya hal itu menjadi beban berat bagiku, namun lambat laun… rasanya aku mulai menikmatinya. Karena apa lagi kalau tidak karena ada Minho di sebelahku? ^^

Sayangnya, belum sempat aku menyatakan perasaan, baru-baru ini ada gosip baru yang tersebar. Choi Minho-ku suka terhadap seseorang yang masih belum jelas identitasnya. Hhh, siapa ya kira-kira yang disukai Minho? Apa Goo Hara adik kelas kami yang bagai boneka Prancis? Atau Krystal diva sekolah yang berada di kelas sebelah? Huff, hingga saat ini belum ada yang tahu.

“Tidak, tidak, dan tidak. Aku takkan memberitahukannya kepada siapapun,” jawab Minho. Ia memalingkan wajahnya lalu melanjutkan membaca komik Slam Dunk di tangannya. Aku menggembungkan pipiku. Kalau begini caranya, aku takkan pernah tahu siapa gadis yang akan jadi sainganku itu… Memang sih, sedikit sakit. Aku tahu jika aku mengetahuinya, hatiku pasti sakit sekali. Aku melakukan semua ini semata-mata hanya karena aku mau menutupi perasaanku padanya.

“Minho-yah… aku kan temanmu. Aku janji deh nggak bakalan bilang siapa-siapa? Ayolah, ceritakan padaku mengenai gadis yang kusukai… ya ya ya?” Kukeluarkan jurus puppy eyesku. Ia melirikku sesaat, lalu mendesah. Ditutupnya buku komik yang dipegangnya, lalu diletakkannya di pangkuannya.

“Baiklah kalau kau benar-benar ingin tahu,” ujarnya sambil menghela nafas. Aku menunjukkan ekspresi wajah berbinar dan penasaran. Yah, walaupun sebenarnya hati ini sakit sekali, tapi aku akan berusaha sekuat mungkin agar Minho bahagia. Aku akan membantunya mendapatkan gadis itu.

“Huruf depannya…” Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas. “Y…”

Aku berpikir sejenak. Y? Huruf depannya Y? Siapa ya yang namanya dimulai dari huruf Y? Berikan aku waktu untuk berpikir… Hmm.. Yoona anak kelas 11 D? Yeeun kakak kelas kami yang akan segera tamat? Atau jangan-jangan… Yuri sahabatku sendiri? Ah, aku benar-benar tidak punya ide lagi selain itu… Sepertinya yang ia maksud memang Yuri… Ditinjau dari sikap Yuri yang lembut dan feminin… Benar-benar tipe Minho… Hhh, yang penting, pastinya orang itu bukan aku karena namaku dimulai dengan huruf H.

“Ah, Y yang mana?” ujarku kesal, tentu saja dengan nada dibuat-buat. “Katakan namanya,” pintaku lagi. Minho memandang lurus ke depan, lalu tersenyum.

“You…”

“HAH? O__O”

FIN

Title: I Want That!

Author: shineeisland a.k.a rana.

Rating: G.

Genre: Romance, Fluff.

Length: Drabble.

Language: Indonesian.

Casts: You (bayangkan ceweknya adalah dirimu) and Lee Taemin.

Disclaimer: I do not own any casts in here, they all belong to themselves, but I do own the story.

Summary: You need to read it, then you’ll know ^^

+++

“Noona, kau terlambat setengah jam hari ini. Aku capek menunggu tahu!” kata lelaki kecil di depanku. Ya, dia adalah Taemin. Sejak sebulan lalu, aku resmi menjadi guru privat matematikanya. Dan hari ini adalah yang ketujuh kalinya aku terlambat datang ke rumahnya untuk mengajar. Yeah, aku bisa sedikit memaklumi perasaan Taemin, karena aku juga benci sekali menunggu.

Aku menghela nafas perlahan, lalu membungkuk. “Ah, mianhae, Taemin-ah… Sekarang, ayo kita mulai belajar,” Kudorong punggung Taemin untuk segera duduk di meja lesehan yang sudah disiapkan untuk tempat kami belajar. Taemin masih cemberut. Kuletakkan tas jinjingku di bawah meja, lalu mengeluarkan buku-buku pelajaran serta beberapa kertas berisi rumus-rumus matematika. Namun Taemin tak juga bergeming. Hhh, sulit betul mengurus bocah kecil ini…

“Kau kenapa Taemin-ah? Kau masih marah padaku, eh? Kau masih kesal?” tanyaku bertubi-tubi. Taemin hanya diam dan memalingkan wajahnya, ia menautkan kedua alisnya. Kali ini wajahnya benar-benar seperti frankeistein yang ada di film-film itu. Hahaha.

“Hhh,” desahku pelan. Benar-benar lelah saat ini. “Kau mau apa, Taemin-ah? Aku akan menuruti semua permintaanmu,”

Taemin segera menoleh ke arahku, nampaknya ia tergiur dengan tawaranku barusan.

“Baiklah. Aku mau sekarang kita jalan-jalan ke taman,”

“Ke taman?” Aku mengernyitkan dahi. “Ya sudah, baiklah baiklah… ayo pergi sekarang…”

Sesampainya di taman, Taemin hanya mengajakku duduk di bangku taman tanpa melakukan apa pun. Ia masih terlihat sedikit kesal. Hiiih, benar-benar deh! Apa sih maunya anak ini? Aku benar-benar tak tahan lagi menghadapi sikap moodynya itu.

Aku beranjak dari bangku, lalu berdiri tegak di hadapannya yang masih duduk. Kutarik nafasku.

“Baiklah, Taeminnie. Sekarang katakan padaku apa maumu. Kalau tidak, aku akan pulang,” ujarku kesal. Taemin masih membuang muka, tak berani menatap wajahku.

“Aku mau itu,” tunjuknya. Aku mengikuti arah jari tangannya.

“Kau mau es krim?” tanyaku.

“Bukan. Aku mau itu,” ujarnya lagi. Aku kembali memerhatikan arah jari tangannya dengan jelas.

“Kau mau main di taman bermain?”

“Bukan,” Kali ini nadanya terdengar kesal. “Aku. Mau. Itu.” Ia menunjuk dengan jelas. Aku kembali memperhatikannya seteliti mungkin.

…HAH?! Aku?! Ia menunjuk ke arahku!! Apa dia menginginkanku?!

“K—kau… menginginkanku?” tanyaku ragu. Ia melirik ke arahku dengan sudut matanya, lalu terbahak.

“Aku? Menginginkan kau? Bukan!!” timpalnya, masih sambil tertawa kecil. “Aku ingin itu!” Ia kembali menunjuk ke arahku, namun ia menunjuk lebih rendah. Ia menunjuk kalungku.

“Kalung ini…?”

“Ya,” jawabnya singkat. Aku termenung. Untuk apa dia meminta kalungku? Kalung ini kan hanya kalung murahan yang aku beli saat bazar, dan kalung ini adalah kalung couple. Liontinnya berbentuk hati yang terbelah dua, dan jika disatukan akan membentuk hati yang sempurna. Kalung ini sengaja kubeli untuk kuberikan pada belahan jiwaku nanti. Dan kini… Taemin meminta kalungku? Bagaimana ini!? Apa aku harus memberikannya?

“Aku ingin kalung yang akan kau berikan untuk belahan jiwamu, karena mulai hari ini aku adalah belahan jiwamu. Mengerti?”

Aku hanya bisa diam terpaku, lalu tersenyum.

“Mengerti,” jawabku akhirnya sambil memberikan pasangannya pada Taemin.

“Baguslah kalau noona mengerti,” Ia tersenyum sangat manis, lalu beranjak dan menggandeng tanganku erat.

FIN

Title: Oppa, Where are You?

Author: shineeisland a.k.a rana.

Rating: G.

Genre: Romance, Angst.

Length: Drabble.

Language: Indonesian.

Casts: You (bayangkan ceweknya adalah dirimu) and Kim Kibum.

Disclaimer: I do not own any casts in here, they all belong to themselves, but I do own the story.

Summary: You need to read it, then you’ll know ^^

A/N: Dari empat drabble lainnya, ini adalah satu-satunya drabble yang genrenya angst hohoho. Maafkan aku Kibum-ah… aku terpaksa karena kagak ada ide lagi selain ini hehehe.

+++

“Chagiya… aku ke toilet sebentar ya… kau tunggu di sini, jangan kemana-mana!”

“Iya, oppa… kau tenang saja!” Aku mengacungkan jempolku ke arahnya. Ia tersenyum manis, lalu pergi meninggalkanku di bangku taman kota ini. Aku kembali mengedarkan pandangku ke segala arah, mencoba menikmati pemandangan taman kota hari ini.

Kim Kibum. Dia adalah lelaki yang baru saja memanggilku dengan kata ‘chagiya’. Yah, kami baru saja jadian seminggu lalu… dan… ahh, aku terlalu malu untuk mengatakannya >___<

Kibum oppa benar-benar orang yang romantis dan setia. Ia selalu tahu apa keinginanku. Ia selalu berada di sampingku saat aku membutuhkan. Aku benar-benar mencintainya… amat sangat mencintainya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika suatu saat ia pergi dan meninggalkanku…

Semenit… dua menit… lima menit… setengah jam… Kibum oppa belum juga kembali. Aku melirik jam tanganku, jam empat lewat sepuluh. Hhh, ke mana ya Kibum oppa? Kenapa dia lama sekali kembalinya? Apa jangan-jangan… dia menemui perempuan lain?

Aku segera menggeleng cepat.

Tidak tidak tidak. Kibum oppa tak mungkin selingkuh. Tapi… apa pun bisa terjadi kan?

Akhirnya kuputuskan untuk melanggar janjiku pada Kibum oppa tadi, untuk terus menunggunya di bangku taman itu. Aku mulai bosan dan khawatir.

Kulangkahkan kakiku ke arah toilet laki-laki yang letaknya di seberang taman. Sepertinya kosong, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Kibum oppa di sana. Berarti oppa sudah kembali sejak tadi… Hhh, aku jadi semakin curiga.

Kukeluarkan ponselku dari tas, mencoba menelpon Kibum oppa. Hhh, tidak diangkat. SMSnya juga tidak dibalas. Chagiya… kau di mana sih?

Aku kembali berjalan mengitari taman. Tempat ini mulai sepi seiring berjalannya waktu. Sekarang sudah pukul setengah lima dan aku belum juga menemukan Kibum oppa. Tanpa sadar, aku menangis. Apa Kibum oppa sudah tidak peduli padaku lagi hingga ia meninggalkanku seorang diri?

“Oppa… kau di mana…?” gumamku pada diriku sendiri. Tiba-tiba aku merasa tasku bergetar. Ponselku berbunyi, sebuah pesan singkat baru saja masuk.

From: Kibum oppa ^^

Aku akan selalu berada di hatimu, chagiya…

Hhh, SMS macam apa ini? Aku bertanya di mana Kibum oppa dan ia menjawab kalau dia ada di hatiku?

Aku menyeka air mataku perlahan, lalu mengangkat kepalaku.

BRAAAKK!!

Dan terjadi.

Kibum oppa ditabrak mobil, tepat di depan mataku.

Aku menangis lagi kali ini, tapi bukan karena aku tak bisa menemukannya, tapi justru karena aku menemukannya… terkapar di tengah jalan.

Yeah, aku takkan pernah menanyakan keberadaanmu lagi, oppa… karena aku tahu kau ada di mana… kau ada di hatiku… selamanya…

FIN

Nah, sekian drabble-drabble sederhana dari saya ^^ Kalau jelek mohon maklumi ya, soalnya ini pertama kalinya aku bikin drabble hehehe. Happy reading. Comments are sooo loved ^^

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
  • BUAT YANG PUNYA WORDPRESS… LIHAT DI PALING ATAS ADA BUTTON LIKE SAMA LAMBANG BINTANG… TOLONG DI KLIK KALAU KALIAN SUKA SAMA FF NYA ^.^.. SUPAYA AUTHORNYA TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUKA FF MEREKA.. GOMAWO

Last Gift

Title: Last Gift
Writer: Rafika Khansha
Cast: Choi Minho, Park Chanseung (OC), SHINee, SNSD, f(x)
Genre: Romance, Sad
Type: One shoot


I hated opening my eyes. Honestly, I didn’t believe it .

23.50.. waktunya hampir tiba. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya rileks. Berkata dalam hatiku “Aku bisa melakukannya!” Perlahan aku berjalan memasuki taman dihadapanku. Suasana sunyi serta udara malam yang dingin semakin terasa menusuk jantungku. Aku mendekap sebuah kotak yang kubawa, bukan sebuah kotak kecil namun tidak juga berukuran besar. Bisa dibilang ini sebuah ‘kado’, kado untuk seseorang yang..

“Chan-seung!” seseorang memanggilku ketika akhirnya kakiku sampai ditempat yang ku tuju. Waktunya semakin dekat.. aku mengangkat wajahku dan melihat seorang lelaki tersenyum kearahku. Aku menarik nafasku dalam-dalam lagi lalu membalas senyumannya. “Aku pikir kau akan telat beberapa jam..”

“Tidaklah Minho-sshi, mana mungkin aku terlambat dihari yang special ini..” aku mencoba mempertahankan senyumanku, sebuah senyuman munafik.

“Dasar kau..” kata Minho sambil mengacak-acak rambutku, aku melihat senyumannya semakin merekah. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa membuatmu dan melihatmu tersenyum, tersenyumlah selebar mungkin untukku sekarang Minho..

Ting Tong Ting Tong Ting Tong.. 00.00..

Jam besar dibelakang kami berbunyi, menandakan hari telah berganti. Kali ini senyumku benar-benar terpaksa, tapi aku melihat senyumannya benar-benar bahagia. Tidak bisa kupungkiri, badanku terasa lemas, Ok sedikit lagi..

“Saengil chukhae hamnida.. Saengil chukhae hamnida.. Saranghaneun naye Minho.. Saengil chukhae hamnida.” Aku melantunkan lagu itu pelan, Minho tampak terkejut dan senang. Ia mendekatkan dirinya padaku dan memelukku. Oh Tuhan, aku harus bisa menahan air mataku. Tubuhnya yang hangat seakan menyelimuti hatiku yang kedinginan.

“Gomawoh..” katanya berbisik ditelingaku, mengeratkan pelukannya. Aku terus berusaha menahan air mataku yang hampir tumpah.

Drrt… Drrrt.. Drrrt.. aku merasakan sebuah getaran dari tubuhnya.

“Tunggu sebentar ya.” katanya sambil melepaskan pelukannya, masih tersenyum. Aku mengangguk pelan, mempertahankan senyumanku. Ia mengambil handphone dari saku celananya.  Lalu menekan tombol hijau.

“MINHO!!!” koor teriakan beberapa orang ketika Minho mengangkat panggilan video itu. 4 orang lelaki tampak berebut menampakkan wajahnya kelayar, aku tersenyum geli melihatnya. “Saengil chukhae hamnida.. Saengil chukhae hamnida.. Saranghaneun oori Minho.. Saengil chukhae hamnida.”

“Aish.. kalian.. Bisa tidak santai sedikit?” dengus Minho bercanda.

“Tidaaaaaak..” koor keempat lelaki itu lagi, Minho tersenyum simpul-geli. “Hey, cepatlah kemari! Ajaklah Chan-seung juga, lihat apa yang sudah kami persiapkan untukmu!” ucap seseorang yang paling sipit diantara keempat lelaki tadi, men-close up wajahnya ke kamera.

Minho melirik kearahku, mimik wajahnya membentuk sebuah pertanyaan. Aku hanya mengangkat bahu sambil terus tersenyum. Hatiku rasanya miris, Minho menatap layar HP nya lagi. Sekarang benar-benar tampak keramaian disana.

“Ok.. Kami melaporkan kepada anda Choi Minho.. disini kami telah mempersiapkan sebuah pesta untuk anda.” Jonghyun, salah seorang dari keempat lelaki tadi berlagak layaknya seorang reporter. Aku tersenyum geli melihatnya, ya dia memang ssalah seorang yang selalu bisa membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya. “Apa yang sedang kau lakukan Mrs. Hyun?”

Kini tampak empat orang gadis dilayar, Seohyun, Yuri, Jessica, dan Krystal. Mereka tampak sedang sibuk oleh sesuatu. Aku melihat Minho tertawa senang, mendadak hatiku sakit.. Perih sekali rasanya.

“Kami sedang menghias kue ini..” jawab Seohyun, seperti biasa manis. “Minho, Chanseung.. kemarilah .. kue ini khusus untuk kalian..” katanya lagi sambil melambai kearah kami berdua. Aku mencoba tersenyum manis sekali padanya, semanis senyumannya padaku. Walaupun aku dalam hantiku terasa robek.

“Gomawoh, Seohyun sshi..” kata Minho seraya tersenyum manis sekali. Tuhaaan jangan biarkan aku menangis sekarang. Aku mohon..

“Kalian Mrs. Jung?” tanya Jonghyun berpaling kearah Jessica dan Krystal.

“Merapihkan ini..” jawab Krystal sambil menunjuk tumpukan kado didekatnya. “Oppa.. banyak kado untukmu, tetapi mungkin kado yang ada ditangan Chan-seung yang paling spesial hehe..” sambungnya, Minho melirik kearah kado yang aku bawa lalu tersenyum.

“Tentu saja hehe.. Kau ini..” kata Minho pada Krystal, tertawa. Sekali lagi, hatiku sakit. Rasanya aku ingin berteriak sekarang juga. Tetapi aku harus menahannya sampai waktunya tiba. Aku mencoba tersenyum lagi, senyuman yang benar-benar terpaksa.

“Minho Chanseung! Cepat kemari!!!” teriak Krystal dan Jessica kompak.

“Sudah.. sudah kita tinggalkan saja Jung bersaudara ini.” Jonghyun memenuhi layar sekarang. “Ok, kalau kau noona Kwon?”

“Sudah sekitar 15 balon aku tiup. Lihat saja bibirku membengkak begini..” jawab Yuri menunjuk arah bibirnya. Aku mendengar Minho tertawa lagi, Tuhan bolehkah aku menangis sekarang? “Tapi aku tidak keberatan untuk kalian..” Yuri menunjukku dan Minho, aku masih mempertahankan senyuman dan menahan air mataku.

“Dan sekian dulu laporan saya Kim Jonhyun dari TKP. Saya mohon pamit diri..” lawak Jonghyun lagi senyum tulus ku berkembang lagi.

“MINHO CHANSEUNG! KEMARI SECEPATNYAAAAA!” kini benar-benar tampak banyak orang dilayar sekitar 20 mungkin. Mereka melambai-lambai kearahku dan Minho. KLIK. Panggilan terputus.

Minho tersenyum lagi lalu memasukkan Hpnya kedalam saku celananya. Ia berpaling kearahku dan menarik tanganku. “Ayo.. Kita sudah ditunggu..”

“Sebentar..” kataku melepaskan genggamannya. Ia mengerenyitkan alisnya melihat sikapku, aku tersenyum simpul. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, sebentar saja..” aku berjalan kearah bangku taman yang tidak jauh dari tempat kami berdiri, Minho mengikutiku. Inilah saatnya..

“Kenapa?” tanya Minho ragu, ia tampak benar-benar heran melihat sikapku. Aku duduk dikursi panjang berwarna putih, ia mengikuti gerakanku.

Are these only my memories? Meeting you it was like a scene from a movie..

“Kau ingat kan? Tepat setahun yang lalu.. disini..” kataku, memulai akhir dari semua ini. Aku menatap mata Minho, mata yang sedari dulu aku kagumi. Mata besar yang indah, mata yang selalu membuatku meleleh ketika melihatnya.

“Ne..” Minho mengangguk pelan.

“Itu adalah malam terindah dalam hidupku..” lanjutku, tersenyum. “Awalnya aku hanya berniat mengucapkan dan memberi hadiah ulang tahun untuk seseorang yang aku suka dan kagumi, tetapi suatu keajaiban terjadi kepadaku..”

Minho menyimak perkataanku, tersirat kebahagiaan diwajahnya. “Apa yang selalu kumimpikan, benar-benar terjadi dalam hidupku.. Aku tidak bisa melukiskan apa yang kurasakan saat itu. Seakan-akan seluruh kebahagiaan di dunia ini adalah milikku.”

“Semakin lama aku semakin terlena akan kebahagiaan ini. Andai saja kau tau bagaimana perasaanku setiap hari setelah malam itu..” aku menarik nafasku dalam sebelum meneruskan kata-kataku. “Tetapi lama kelamaan bukan hanya kebahagiaan yang aku rasakan…”

“Minho sshi.. aku mungkin tidak padai berbohong, kau tau itu.. Satu tahun kita menjalani hubungan, awalnya aku selalu bahagia.. Namun belakangan ini aku sadar, bahwa ternyata aku benar-benar tidak pantas untuk seorang Choi Minho..” ucapku, tidak membiarkan Minho berbicara satu kata pun. “Kau begitu sempurna, banyak wanita memujamu, menginginkanmu menjadi miliknya. Dan aku merasa sangat beruntung mendapatkan apa yang mereka mau.”

“Kau ini bicara apa sih?” tanya Minho sambil tersenyum, aku rasa ia sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.

“Aku cemburu.. aku merasa bagai seorang kerdil diantara kumpulan orang-orang hebat. Yuri onnie, Seohyun onnie, Krystal mereka lebih cantik, berbakat. Aku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan mereka.Tapi kau memilihku, itu suatu yang lucu..” lanjutku, mengalihkan tatapanku dari matanya. Aku sudah tidak sanggup menatap matanya.

“Banyak yang mengatakan.. ‘Minho menyukai Yuri.. oh bukan ia menyukai Seohyun.. tetapi Krystal cocok bila dipasangkan dengannya.. aku dengar mereka pernah berpacaran ya? Kira-kira siapa yang akan dipilihnya ya diantara mereka bertiga’ dan segalanya. Rasanya aku ingin menutup telinga ketika mendengarnya, ingin aku teriakkan kepada merea bahwa Choi Minho adalah milikku! Tetapi aku tahu itu tidak bisa..” aku mencoba menahan air mataku yang hampir menetes.

“Park Chan-seung, kau..”  Minho tampak terkejut dengan kata-kataku.

“Minho sshi.. Aku sangat menyayangimu..  Kau menyayangiku juga bukan?” tanyaku memotong kata-katanya, saat ini aku benar-benar tidak mau membiarkannya berbicara. Minho mengangguk. “Kalau begitu kita sudahi saja hubungan ini..”

Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Kata-kata yang sebenarnya tidak ingin aku ucapkan. Kata-kata yang membuatku gila beberapa waktu belakangan. Aku melihatnya terkejut. “Mwo?” tanya Minho tak percaya, mimik wajah gembiranya berubah menjadi mimik sendu.

“Aku ingin kau menemukan seseorang yang lebih pantas untukmu.. Bukan orang biasa sepertiku ini..” aku mengangkat wajahku, mencoba menatapnya sekali lagi. “Maaf.. aku hanya ingin yang terbaik untuk mu dan untuk kita..”

“Ini..” aku menyodorkan kado yang sedari tadi aku bawa, “Anggaplah itu pemberian terakhirku. Kado terakhir dipertemuan yang terakhir. Simpan atau buanglah, itu terserah kau..” aku meletakkan kotak itu dipangkuan Minho karna ia tidak bergeming sama sekali.

“Kau sedang tidak bercanda kan? Jangan mentang-mentang ini hari ulang tahunku kau bisa mengerjaiku seperti ini.. Sama sekali tidak lucu Park Chanseung..” katanya sambil tersenyum kecut, seakan menangkal semua yang terjadi.

“Tidak pernah aku seserius ini, Choi Minho..” aku mencoba tersenyum, “Ok, hanya itu yang ingin ku katakan.. Sekali lagi selamat ulang tahun Choi Minho, semoga kau mendapatkan segalanya yang terbaik untukmu..” aku berdiri dari dudukku, menggenggam tangan dingin Minho.  “Bye.. Minho.. oppa..”

I don’t know why, I can’t move on. I still can’t leave from this spot.

Ia masih tidak bergeming dari tempatnya, hanya menatapku tanpa kata-kata. Minho seakan tidak tahu harus melakukan apa. Aku melihat matanya berkaca-kaca, membuat hatiku semakin miris, “Sunnguh?” ucapnya pelan dan bergetar, aku mengangguk sambil terus tersenyum.

“Sekali lagi maaf..” ucapku lirih, melepaskan tangan Minho yang bergetar. Berbalik badan dan meninggalkannya yang hanya terdiam. Maafkan aku Minho, aku sebenarnya juga tidak ingin seperti ini. Tapi ini adalah keputusan terbaik.. Aku menyayangimu, lebih daripada yang kau tau. Aku hanya ingin kau bahagia..

“Haengbookhasaeyeo oppa! Hwaiting!” aku membalikkan badan seraya meneriakkan kata-kata itu. Minho terkejut. Air mata yang sedaritadi kutahan akhirnya tumpah juga seraya tawa palsuku. “Pilihlah yang terbaik untukmu! Yuri, Seohyun, atau Krystal.. ” kataku lagi lalu berbalik dan berlari meninggalkannya dengan airmataku.

——

The ring that I placed on your finger has coldly returned to my hand.
Along with my heart.. The last gift.. is heartbreak

Minho membuka kotak ditangannya, airmata tergenang mata indahnya. Ia menemukan sepucuk kertas dan barang-barang yang tidak asing baginya, foto-foto, kalung, sebuah cincin mutiara perak dan lainnya tersusun rapih didalam otak itu. Perlahan ia membaca kertas itu..

My heart really won’t let you go.. is this really the end? The thing called goodbye.

“Saengil chukhae hamnida.. Izinkan aku menitipkan segala kenangan dan kisah kita, dan biarkan aku menyimpan salah satu darinya..  Selamat tinggal Choi Minho, aku akan selalu menyayangimu dihatiku.. Kau adalah keajaiban dalam kehidupanku. Saranghamnida..”

-THE END-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please