5 Boys 5 Story – Onew [Part 2/2]

5 Boys 5 Stories

PART II : ONEW (Lucky – Jason Mraz)

Author : shineeisland a.k.a rana

Rating : T

Genre : Family, Romance

Length: Mini Drama Series

Casts : Lee Jinki, Lee Jieun

Disclaimer : I do not own SHINee’s members, they belong to themselves and their parents. I also do not own Lee Jieun, she belongs to herself. But I do own the story.

***

Boy I hear you in my dreams

I feel your whisper across the sea

I keep you with me in my heart

You make it easier when life gets hard

Lagi-lagi malam ini Jinki tak bisa tidur dengan tenang. Ia masih memikirkan kejadian di rumah lama tadi. Apa kalimatku tadi terlalu menusuk hati? Pikirnya.

Hey, tunggu! Kenapa aku peduli! Lagipula Jieun kan gadis yang tegar, tak mungkin ia sakit hati hanya karena perkataanku tadi…

Mungkin Jieun memang tidak sakit hati…

…tapi kenapa malah aku yang sakit hati?

Jinki segera menyadarkan diri dari lamunannya ketika didengarnya Jonghyun masuk ke ruangan dengan membawa sebuah gitar di tangannya.

“Jonghyunie, untuk apa kau bawa-bawa gitar ke kamar? Sana, bawa gitar itu keluar!” Jinki yang sedang tenang-tenangnya di dalam kamar tiba-tiba terusik karena Jonghyun mulai memainkan gitarnya di dalam kamar itu.

Huh, apa-apaan Jonghyun ini!

“Hey, hyung… kau dengar aku bernyanyi ya? Aku baru saja berlatih lagu ini. Katakan padaku kalau menurutmu ada bagian yang tidak enak, oke?” kata Jonghyun. Jinki ingin menyela, tapi Jonghyun terlanjur mulai dengan lagunya…

“Do you hear me, I’m talking to you

Across the water, across the deep blue

Ocean under the open sky

Oh my, baby I’m trying

Boy I hear you in my dreams

I feel your whisper across the sea

I keep you with me in my heart

You make it easier when life gets hard—“

“Tunggu, tunggu!” potong Jinki. “Sepertinya aku kenal lagu ini…”

“Tentu saja kau kenal, bodoh! Ini kan lagunya Jason Mraz yang judulnya Lucky itu!” balas Jonghyun kesal. “Sudah, sekarang, jangan memotong lagi!”

Jonghyun langsung mengancam Jinki, membuatnya tutup mulut. Dilanjutkannyalah konser kecil di kamar dorm mereka tadi, yang kali ini bintang utamanya adalah Jonghyun, dengan seorang penonton, yang tak lain adalah Jinki.

“I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Lucky we’re in love every way

Lucky to have stayed where we have stayed

Lucky to be coming home someday”

Deg! Mendadak jantung Jinki serasa ingin copot.

Mengapa dirinya? Apakah suara Jonghyun terlalu bagus?

Atau permainan gitarnya menakjubkan?

Atau ia…

…mulai sadar mengenai sesuatu?

Beruntungkah ia memiliki sahabat seperti Jieun…?

Apakah… apakah… ia mulai merasa kalau Jieun…

…bukan lagi sahabatnya?

Melainkan…

…orang yang ia sukai?

“Stop stop stop!” Jinki segera menyetop permainan gitar Jonghyun, disusul dengan pertanyaan bingung dari Jonghyun.

“Wae, hyung?”

“Permainanmu sudah terlalu bagus. Kau adalah maestro! Nah, sekarang kau keluar dari ruangan ini, dan tinggalkan aku sendirian! Permainanmu terlalu bagus, hingga kurasa kau tak pantas konser di kamar tidur—mungkin lebih baik kau ke Los Angeles. Dah, Jonghyun, daaah!” Jinki langsung menutup pintu kamar tidur begitu ia sudah menyeret Jonghyun keluar sepenuhnya. Dikuncinya pintu agar tidak ada yang masuk.

Jinki kembali merebahkan dirinya di kasur dan menatap langit-langit.

Dan lagi-lagi pikiran gila itu terlintas di pikirannya.

…apakah ia mulai menyukai Jieun?

Ah, tidak tidak. Jieun adalah sahabatnya. Sahabat sejatinya. Dan seseorang tak boleh jatuh cinta pada sahabat sendiri.

Tapi… apakah perasaan ini sudah begitu kuat hingga tak sanggup lagi ia bendung?

“Argh!!!” Jinki mengacak rambut coklatnya. Leader SHINee itu terlihat seperti orang depresi sekarang.

…apa aku benar-benar jatuh cinta padanya?

***

“Saya akan memberikan proyek gubah musik berpasangan pada kalian… Dan kali ini judul lagu yang akan diaransemen telah saya tentukan… Judulnya adalah Lucky, lagu yang dinyanyikan Jason Mraz, berduet dengan Colbie Caillat…” terang dosen mereka. Beberapa helaan nafas berat keluar dari beberapa mulut.

Jinki segera melirik sesosok gadis di sebelahnya.

Jangan, jangan sampai aku berpasangan dengannya >.<

“Yak, Jinki-sshi akan berpasangan dengan Jieun-sshi…”

Gubrak! Dunia Jinki serasa jungkir balik. Baru saja ia berdoa-doa dalam hati agar tidak sekelompok dengan Jieun, eh malah sekarang ia langsung diminta sekelompok dengan Jieun.

Pulang kuliah ini Jieun langsung mengajaknya memulai proyeknya. Tentu saja, mengaransemen musik itu cukup sulit! Apalagi Jinki tak terlalu mengerti dengan yang namanya mengaransemen dengan bantuan komputer itu. Diam-diam ia lega juga bisa sekelompok dengan Jieun yang cukup mahir di bidang itu.

Jieun terus saja menatap monitor. Dan Jinki terus saja menatap gadis yang sedang menatap monitor.

“Jinki-ah… hey, Jinki! Woii! LEE JINKI!” Jieun berteriak di ruangan kecil itu. Jinki yang mendengar suara nyaring Jieun langsung buyar dari lamunannya.

“Hah? Apa? Ada apa? Ada kebakaran ya? Huaaaa~ >.<” Jinki baru saja ingin beranjak dari bangkunya saat Jieun langsung menarik lengannya untuk menyuruhnya duduk.

“Dasar bodoh, tidak ada kebakaran atau apa, tahu!” omel Jieun. Jinki, yang masih tidak terlalu ‘connect’ saat itu, masih tidak mengerti. Matanya lagi-lagi terpaku pada Jieun.

“Dasar Jinki… kau mulai lagi… mengapa sih kau terus-terusan menatapku seperti itu?” Jieun mulai marah. Namun sepertinya ‘loading’ di otak Jinki saat itu sedang tidak bekerja. Akibatnya semua video yang sedang didownload gagal, game online error. Mungkin karena ia tak menggunakan layanan internet speedy (?).

Jieun mendengus kesal, dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Sementara Jinki masih saja memandangi Jieun.

Jadi ini rasanya jatuh cinta, huh?

Indah, bukan?

Ya, indah sekali…

Kalau begitu, katakan padanya…

Katakan—KATAKAN APA??!! GILA!!

Jinki langsung tersentak dari lamunannya begitu bayangan itu terlintas di pikirannya. Katakan? Maksudnya… menyatakan cinta?

Tidak, tidak, Jinki.

Mustahil.

Tapi tunggu…

…Mustahil?

Apa iya?

***

Esoknya leader SHINee itu tak masuk kuliah.

Eits, tunggu dulu. Bukan karena Jinki membolos, tapi hari ini memang hari Minggu! Siapa pula yang pergi kuliah hari Minggu? (Logat Medan mode : ON)

Hari ini Jinki berniat mendatangi apartemen Jieun. Untuk apa? Untuk apa lagi kalau bukan untuk… menyatakan perasaan, mungkin? Hehehe.

Di tangannya kini sudah tergenggam sebuket dedaunan—tunggu… de-DEDAUNAN?!

Ya, dedaunan. Jinki sudah tahu betul Jieun benci sekali dengan yang namanya bunga. Ia kan alergi bunga. Lagipula, sewaktu kecil Jieun pernah bilang kalau ia lebih suka daun kol. Selain bentuknya lucu bergelombang, daunnya juga bisa dimakan (?).

Dengan mantap Jinki melangkah masuk ke dalam lift apartemen Jieun. Batinnya bergejolak saat ini. Di antara gugup, malu, dan senang. Jinki-ah… tenangkan dirimu! Batinnya sambil mengelus dadanya saat lift yang dinaikinya sudah mencapai lantai 22, lantai yang ia tuju.

Jinki melangkah melewati lorong panjang apartemen itu. Namun betapa kagetnya ia ketika ia tiba di depan apartemen Jieun.

Sebuket bunga (ralat : sebuket DAUN, maksudnya) yang tadi digenggamnya jatuh ke lantai. Ia langsung bersembunyi di balik dinding salah satu lorong, dan mencoba mendengar pembicaraan antara Jieun… dan seorang lelaki di hadapannya.

“Jieun-sshi, aku suka padamu. Would you be my girl?” Lelaki yang berdiri di hadapan Jieun itu menjulurkan sebuket bunga mawar putih.

Hey hey hey! Apa-apaan bunga mawar putih itu! Aku yakin Jieun pasti langsung bersin!

Jinki menunggu Jieun bersin. Namun bersin itu tak kunjung keluar.

Dasar! Tahu begitu, aku tak perlu bawa daun kol bodoh ini!

Jinki langsung meninggalkan lorong itu diam-diam. Dibiarkannya daun kol itu berserakan di karpet lorong. Dengan tergesa-gesa dituruninya tangga—ia tak mau naik lift karena lama. Begitu sampai di lantai dasar ia langsung melangkah cepat keluar dari apartemen.

Namun, betapa malangnya ia. Pintu apartemen itu adalah pintu putar (itu lho, pintu yang muter itu, nanti kita lewat di salah satu sisinya dari dalam, terus keluar ke bagian luar). Saking kalang kabut dan marahnya, ia berjalan lebih cepat dari kecepatan pintu putar itu dan BUKK!! Kepalanya membentur keras kaca pintu itu.

Setelah itu, kepalanya serasa dikelilingi kunang-kunang, dan semuanya gelap seketika.

***

Jinki, dasar kau pria bodoh! Pria gadungan!

Enak saja kau bicara seperti itu! Siapa kau?

Ah, tak penting. Sekarang, ayo, katakan padanya!

Dia sudah punya pacar, bodoh!

Kau belum tahu yang sebenarnya terjadi!

DEG! Mendadak Jinki bangkit dan membuka matanya secara tiba-tiba.

“Jinki hyung! Jinki hyung! Kau tidak apa-apa?” Sebuah suara yang tak asing lagi di telinganya menyahutnya. Jinki mengumpulkan kesadarannya perlahan.

“Taemin? Minho? Jonghyun? Key? Apa yang ter—“ Kata-kata Jinki terpotong ketika Key langsung angkat bicara.

“Kau tertabrak kaca pintu putar di apartemen Jieun, dan kau pingsan selama dua jam!” Nada bicara Key terdengar kesal. Jinki yang masih tidak loading (lagi), masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, ketika mendadak dilihatnya seseorang masuk ke dalam ruangannya.

“Ji-ji… Jieun? K-kau… Lee Jieun?” kata Jinki. Gadis yang memasuki ruangan itu tadi mendekati ranjang Jinki, dan tersenyum.

“Ini aku, Lee Jieun… sahabatmu yang lama… sama persis seperti sahabatmu yang lama…” katanya.

Jinki tersentak. Tercengang. Matanya membelalak.

Ia tak bisa mengerti situasi yang terjadi.

Jieun… Jieun…

…memotong rambutnya yang panjang jadi pendek seperti dulu?

“Jieun! Apa yang kau lakukan pada rambutmu!” Jinki terlihat sedikit marah melihat perubahan pada Jieun. Kini Jieun tidak mengenakan rok lagi, melainkan ia mengenakan jeans. Ia juga tidak pakai kemeja, melainkan kaus. Jieun… kembali sama persis seperti dulu…

Jieun duduk perlahan di tepi ranjang Jinki. Matanya berkaca-kaca.

“Aku melakukan semua ini… demi kau, Jinki babo…”

“Tapi… kenapa?”

“Kau lupa kau pernah bilang kalau… kau lebih suka diriku yang dulu?”

Jinki terdiam terpaku. Ternyata itu alasannya? HUH! GILA!!

“Jieun bodoh!!!” jerit Jinki, mengagetkan seisi ruang rumah sakit itu. “Dasar kau wanita terbodoh yang pernah aku temui!”

Jinki terlihat sangat kesal. Sementara Jieun kebingungan, ia tak tahu apa yang sebenarnya Jinki inginkan.

“Mengapa kau potong rambutmu? Padahal aku… padahal aku… aku suka pada rambut panjangmu…” kata Jinki ragu-ragu sekaligus gugup.

Pipi Jieun memerah.

“Dan… bagaimana tentang laki-laki yang bersamamu saat itu? Dia pacarmu kan?” tanya Jinki sinis. Jieun menunduk dalam.

“Bukan, babo! Dia memang suka padaku, tapi aku tidak suka padanya! Ia kutolak!” jawab Jieun sedikit marah. Ia capek menjelaskan pada Jinki kalau ia tidak punya hubungan apapun dengan lelaki tadi.

“Jadi… siapa yang kau sukai?”

Glek. Jieun menelan ludah.

Yang kusukai itu kau, Lee Jinki… kata Jieun dalam hati.

Sejurus kemudian, Jinki berkata sesuatu.

“Jieun-ah… Would you be mine?”

Gadis teman lama Jinki yang kini berambut pendek itu tidak berkata apa pun kecuali anggukan disertai senyuman malu-malu.

***

I’m lucky I’m in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Lucky we’re in love every way

Lucky to have stayed where we have stayed

Lucky to be coming home someday

Jinki, hidupmu sempurna sekarang…

Yeah, aku tahu itu.

Akhirnya kau tahu satu hal.

Huh? Apa itu?

Ternyata jatuh cinta pada sahabat sendiri bukanlah mustahil…

FIN

P.S: BERHUBUNG BANYAK YANG UDAH BACA, KISAH-KISAH SELANJUTNYA GAK BAKAL DI LANJUTIN ^.^. MAKASIH !


Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
  • BUAT YANG PUNYA WORDPRESS… LIHAT DI PALING ATAS ADA BUTTON LIKE SAMA LAMBANG BINTANG… TOLONG DI KLIK KALAU KALIAN SUKA SAMA FF NYA ^.^.. SUPAYA AUTHORNYA TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUKA FF MEREKA.. GOMAWO