My Past Future – Part 3

Chapter 1

Main Cast : Yuna, Donghae, Onew

Support Cast : Gaeul, Jun, SHINee

“Ahnoyhaseoyo! Jo neun Haeya imnida. Mohon bantuannya.” Gadis berambut panjang, bertubuh langsing dan tinggi membungkuk di depan kelas. “Ayo semua beri salam!” perintah sang guru.

“Annyeonghaseoyo!” seru para murid serempak. “Chun cu, singkirkan barang-barangmu! Pindah ke kursi di sebelahmu!”

“Kenapa?! Aku tidak mau!” bantah Chun Li cuek. “Biar Haeya duduk di antaramu dan Donghae. Kalian berdua kalau tidak segera di pisahkan aku takut kalau kalian jadi tidak normal!”

“Apa-apaan itu!” elak Donghae. “Tidak mau! Aku mau tetap berada di sebelah Donghae ku yang tercinta.” Dengan cepat Donghae memukul kepala Chun Li dengan buku yang berada di mejanya.

“Cepat pindah! Atau kau akan ku jemur di luar!” dengan malas dan kesal Chun Li pindah satu kursi. “Nah Haeya, sekarang kau bisa duduk. Kalau kau membutuhkan bantuan kau bisa bertanya kepada Donghae atau ketua kelas. Jangan bertanya pada Chun cu atau kau akan tersesat.” Gadis tersebut tersenyum, manis sangat manis.

“Ahaha! Sangat tidak lucu!” sayang sekali Chun Li tidak melihat senyum tersebut. “Silahkan duduk.” Haeya membungkuk. “Terima kasih.” Begitu Haeya duduk di kursinya, para laki-laki langsung sibuk menggodanya. Tiba-tiba Donghae memukul kepala salah satu dari mereka.

“Ya Changmin! Dasar bocah gila! Tidak kah kau malu bersikap tolol di depan gadis baru?” Changmin mengusap kepalanya yang kesakitan. “Tapi dia cantik! Tidak kah kau tertarik padanya?” Donghae terdiam lalu berbalik menghadap ke jendela di sebelah kirinya. Haeya diam-diam memerhatikan wajah Donghae, apakah benar Donghae tidak tertarik padanya?

“Siapkan mata pelajaran pertama, aku keluar sekarang. Ingat! Hari ini ada kelas malam!” seluruh murid langusng berseru tidak terima. “Sudah-sudah diam! Kalau kalian ingin protes, protes lah pada kepala sekolah kalian.” Guru tersebut langsung keluar dari kelas. Beberapa wanita langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Haeya begitu juga dengan yang laki-laki. Sedangkan Chun Li lebih tertarik bersama Donghae, keduanya mengobrol menghadap ke jendela membelakangi Haeya dan yang lain.

“Apa menurutmu dia lumayan?” Donghae menatap Chun Li. “Jadi kau tertarik padanya?” Chun Li memanglingkan wajah. “Akui saja. Kalau kau mengakui itu lebih dulu dariku maka aku akan berusaha untuk tidak menyukainya karena aku tidak akan mengambil milik temanku sendiri.” Chun Li tersenyum kuda. “Kau temanku yang terbaik!”

“Terima kasih banyak!”

“Hey. Kau ingat ada apa minggu depan?”

“Ya.. ya.. mana mungkin aku lupa. Apa kau benar-benar akan membuat pesta besar?” Chun Li menggaruk kepalanya. “Bagimana yah? Sepertinya sih iya. Tapi yang pasti kau adalah orang pertama yang kuundang dan harus datang!” Donghae menggigit bibir atasnya.

“Siapa saja yang akan kau undang.” Chun Li berfikir sejenak. “Sepertinya aku ingin mengundang seluruh anak di angkatan kita dan mungkin beberapa teman adikku. Ah tidak.. hanya ada dua. Teman laki-laki dan teman perempuannya.” Donghae mengerutkan alis. “Adikmu memiliki teman perempuan? Aku pikir dia tidak begitu suka berteman dengan perempuan.”

“Tapi temannya yang satu ini berbeda. Dia memiliki pribadi yang baik, bahkan Gaeul sendiri bilang begitu. Senyumnya itu sangat mempesona, dia ramah, lucu, tapi dingin. Apa kau mengerti? Jadi saat kau belum benar-benar mengenalnya dia akan bersikap sangat dingin padamu, jika tidak dingin mungkin dia hanya akan mengirit kalimat di depanmu. Jarang berbicara, tatapan matanya juga dalam. Tapi setelah kau mengenalnya, dia sangat ramah… kau akan selalu merindukan senyumnya. Seolah-olah senyumnya sangat berharga sehingga kau akan melakukan apapun demi melihat senyum di wajahnya. Dia memang jarang tersenyum, tapi saat dia tersenyum… rasa kesalmu bisa langsung hilang dan bahkan jika kau kesal karena dia tidak pernah senyum rasa kesalmu akan terbalaskan dengan sangat puas.”

“Apakah sebegitu menariknya?” Chun Li mengangguk dengan yakin. “Karena itu kau harus datang supaya bisa melihat gadis tersebut! Kalau tidak salah namanya Yuna. Sedangkan teman laki-lakinya, katanya sih dia teman Yuna sejak kecil makanya tidak bisa lepas dari Yuna.” Donghae mangut-mangut sambil berusaha membayangkan seperti apa Yuna itu.

&&&

“Yuna-ah! Kau harus tahu berita terbaru tentang Chun oppa!” Yuna melepas earphone nya. “Sabtu ini kami akan mengadakan pesta.. eum salah, tepatnya Chun oppa akan mengadakan pesta ulang tahunnya! Dia memperbolehkanku mengundangmu dan Jun. Dan kau tahu? Donghae oppa akan ada di sana juga!” Yuna mebelalak. “Geuraeyo? Aaa, kau pasti bercanda!”

“Aku tidak bohong! Kau harus datang bersamaku! Pestanya akan di adakan di rumahku. Temanya pesta topeng.”

“Tapi apa yang bisa ku kenakan?” Yuna menunduk sedih. “Tenang saja, hari ini kita bertiga mencari baju bersama. Aku yang akan traktir, bagaimana?” Yuna tersenyum girang. “Terima kasih!”

***

“Agassi, silahkan masuk ke mobil.” Sambut seseorang sambil membukakan pintu mobil. “Tunggu! Tidak, hari ini aku tidak langsung pulang. Aku dan Jun akan pergi mencari baju pesta untuk acara kakak Gaeul. Bilang itu pada umma, arayo?” Yuna kembali menutup pintu mobil. “Tapi Agassi! Anda memiliki sangat banyak gaun pesta, atau anda ingin model terbaru? Kami akan segera menghubungi designer. Saya mohon pulanglah, saya takut nyonya marah.”

“Tidak! Kau tidak mengerti… kau tahu? Aku hanya ingin menjadi manusia. Jika benar Gaeul adalah teman yang baik bagiku, maka aku akan tahu setelah aku melakukan beberapa tipuan. Pulang saja, mama tidak akan marah. Nanti aku akan menghubunginya, berikan ponselku. Jun ikut bersamaku jadi tidak perlu khawatir.” Yuna memasukkan ponselnya kedalam kantong seragamnya lalu pergi. “Agassi! Agassi!”– percuma memanggil, “Apa maksudnya ingin menjadi manusia? Apakah sekarang agassi bukan manusia?”

“Maaf menunggu lama! Aku hanya ingin mengambil ponsel.”

“Kalau begitu ayo jalan sekarang! Tapi apakah tidak apa-apa jalan kaki? Aku tidak punya kendaraan.” Ucap Gaeul. “Tidak apa-apa, aku juga tidak punya kendaraan. Ayo jalan kaki, kemana kita akan mencari?” aku merangkul Gaeul. “Di tempat yang murah tapi bagus, aku tidak punya cukup uang.” Kami berdua saling tersenyum. “Ayo!” Yuna menarik Jun lalu ketiganya berjalan bersama.

***

“Nona, bagaimana cara kita ke rumah Gaeul?” kepala pelayan yang berada di dekat mereka langsung berjalan mendekat. “Tadi kau sebut agassi apa?” Yuna menoleh. “Maaf kan saya, maksud saya agassi.” Jun membungkuk pada Yuna. “Tidak. Aku yang memintanya memanggilku nona. Nona dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang sama dengan agassi dalam bahasa korea.” Belas Yuna.

“Baiklah agassi, maaf atas kelancangan saya ini. Tapi apakah benar artinya sama?” ‘mana aku tahu, aku saja tidak tahu arti agassi yang sebenarnya.’ pikir Yuna dalam hati. “Ya, tentu saja. Kau boleh pergi sekarang.” Kepala pelayan tersebut membungkuk lalu pergi.

“Entahlah, aku juga bingung. Naik sepeda kira-kira bisa atau tidak?”

“Kenapa tidak naik mobil saja?”

“Tidak bisa! Aku berpura-pura sebagai orang yang biasa-biasa saja. Kalau di rumah ini ada mobil yang sangat jelek aku akan pakai ke rumah Gaeul.”

“Baiklah, kita naik sepeda nona. Biar saya yang memboncengi anda.” Di tengah perjalanan saat sepeda Jun menikung di sebuah gang, sedang menunggu seorang supir dengan mobil sedannya yang tiba-tiba menyambut Yuna.

“Apakah anda Yuna-ssi?” Yuna mengangguk ragu. “Nona Gaeul meminta saya untuk membawa anda kerumah. Mohon anda dan Jun-ssi masuk ke dalam mobil, saya akan mengantar anda.” Dengan bingung keduanya menurut saja. Supir tersebut membawa mereka masuk ke sebuah pekarangan, sangat besar! Banyak mobil mewah terparkir di sana, dan banyak sekali para tamu dengan gaun-gaun mewah mereka, semuanya sudah menggunakan topeng.

“Yuna-ah!” sambut Gaeul begitu mobilnya berhenti di pintu belakang. “Rumahmu… sangat besar! Kenapa kau selalu bilang kalau kau tidak punya uang?” Yuna benar-benar terkejut melihat rumah Gaeul yang seperti istana. “Memang tidak punya.. itu uang ayah dan ibuku. Aku punya apa? Ayo masuk, kita harus mengganti gaun murahmu itu dengan gaun yang sudah kusiapkan untukmu. Jun juga! Bajumu sangat tidak cocok, maaf aku memilihkan yang jelek untuk kalian. Cepat masuk!”

&&&

~ Yuna Pov ~

Ya ampun! Ternyata aku tidak salah menerima dia sebagai sahabatku. Walaupun dia anak konglomerat Korea dia tetap bersikap biasa bahkan mengecohku. Aku yakin dari seluruh tamu yang datang pasti setengahnya tidak menyangka dengan rumah besar ini. Mereka benar-benar keluarga yang rendah hati, penampilan keluarganya selalu keren tapi tidak pernah menggunakan pakaian yang bermerek

.“Bagaimana? Apa kau suka dengan gaun yang kuberikan?” Aku menatap diriku sendiri di cermin. Jujur aku adalah orang yang sangat sulit dalam memilih baju, seleraku terlalu tinggi. Tapi tidak untuk gaun ini, aku merasa nyaman mengenakannya dan sepertinya ini di buat khusus. “Ya, aku suka.” Gaun ini berwarna putih dengan corak biru dengan lengan pundak kanan berbentuk bunga. Aku tahu ini pasti mahal, karena sangat bertema. “Jun.. apa kau sudah selesai?” Jun keluar dari kamar mandi begitu Gaeul memanggilnya. Ya tuhan! Aku baru sadar kalau pelayanku yang satu ini sangat tampan, sangat cool! Aduh Yuna sadar.. kau baru berumur 12 tahun! Tapi benar… Jun terlihat tinggi dan tampan.

“Wahhh!! Jun sempurna. Ini topeng kalian berdua dan sekarang kita turun! Acara akan segera di mulai, kakakku akan menjadi MC nya dan dia telah menyiapkan sebuah acara yang luar biasa! Kami bertiga turun melalui tangga belakang agar tidak menarik perhatian, lalu kami menyusup ke kerumunan dan bergabung dengan yang lain.

“Hey! Hey! Perhatian sebentar!” semua tamu yang mayoritas murid satu angkatan dengan Chun oppa langsung memerhatikan Chun oppa yang berdiri di panggung dengan kemeja biru-pink dan topeng peraknya.

“Terima kasih banyak karena kalian telah menghadiri pestaku dan berpakaian sesuai dengan tema. Aku sangat senang dengan kehadiran kalian semua di sini dan aku harap tidak ada yang tidak hadir. Karena sekarang aku akan memulai sebuah acara yang sangat menarik tapi di kecualikan untuk orang-orang yang sudah berpasangan. Tolong yang sudah memiliki kekasih menyingkir ke sebelah kiriku.” sekitar 4 pasang kekasih dari 500 tamu yang di undang menyingkir.

“Sekarang pelayanku akan mengambil arloji kalian untuk di pasangkan cinderamata, harap di berikan ke pelayanku. Cinderamata ini hanya di pasang bagi.. ah nanti saja aku beri tahu. Sekarang kalian semua harus berpencar, tidak boleh berkerumun dengan orang yang kalian kenal! Cepat berpencar, berjalan kemanapun!” Aku menuruti kata Chun oppa begitu juga dengan tamu lain, kami semua berjalan kemanapun kami bisa pergi. Lalu tiba-tiba saja lampu mati, aku tersentak kaget dan reflek menarik seseorang.

“Berhenti! Jangan bergerak jangan lepaskan orang yang kalian pegang!” Aku pasti menuruti itu karena aku takut jika berada di tempat ramai tapi gelap, bahkan bagiku lebih menakutkan di banding berada di tempat sepi yang gelap. Aku sangat tidak nyaman berada di tempat ramai seperti pesta, paling-paling aku hanya bisa bertahan 1 jam. Aku merasakan seperti ada nafas di belakang tengkuk leherku, aku meremas lengan baju seseorang itu semakin kuat.

“Jangan bicara! Jangan mengeluarkan suara apapun! Jangan bertanya dan jangan menjawab!” apa-apaan sih ini! Bisa tidak sih lampunya segera di nyalakan?! 3 detik kemudian lampu menyala, dan mata kami semua spontan terasa silau. Tapi tidak ada yang melanggar perintah.

“Wah.. rupanya kita berhasil mendapatkan…..-” Chun oppa menghitung sesuatu. “Masih tetap pegang apa yang tadi kalian pegang dan jangan menoleh. Bagus! Kita mendapatkan 20 pasang! Sekarang kau boleh menoleh dan lihat siapa yang kalian pegang. Dan buka topeng kalian!”


Aku tersentak! Begitu aku membuka topeng dan melihat siapa yang kuremas lengan bajunya, dadaku berdegub kencang, kencang sekali. “Apakah kau baik-baik saja? Sepertinya tadi kau sangat ke takutan.” Aku berusaha mengeluarkan suara.

“Engh… ya aku b-baik, hanya saja tadi aku merasa takut.” dia laki-laki.. sangat tampan! Ya tuhan… whuaaa… dia tersenyum padaku!

“Mari kita tanya pasangan pertama. Apakah kalian ingin menjalin hubungan lebih lanjut?” Apa?! Gila! Pertanyaan seperti apa itu? “Bagus lah jika kau sudah lebih baik. sepertinya kita pernah bertemu?” aku menelan ludah. “Ah ya… kau anak SMP yang waktu itu hampir menabrakku kan?”

“Jweosohamnida sunbae.” aduh.. memalukan! “Salam kenal, aku Lee Donghae. Kau bisa memanggilku Donghae.” aku sudah tahu namamu… bagaimana tidak? Aku kan secret admire mu. “Ya, salam kenal, aku Yuna. Senang bisa mengenal sunbae.” ahahaaa.. sok formal!

“Tidak perlu menggunakan bahasa yang formal juga tidak apa-apa. Kita sama-sama remaja, gunakan bahasa sopan tapi tidak perlu yang formal.”

“Wah! Lihat! Adikku mendapat pasangan!”

“Oppa!!!!” aku tertawa kecil. Aku penasaran siapa yang menjadi pasangan Gaeul.. aku menjinjit berusaha mengintip di antara kepala-kepala manusia di depanku. APA?! Jun? Han Jun So?! APA?! Jun? Han Jun So?! APA?! Tidak bisa di percaya! APA?! Jun? Han Jun So?! Ya tuhan.. aku tidak bisa berhenti mengucapkan itu. Bagaimana bisa? Ahahah… tapi mereka cocok.

“Bagaimana? Mau melanjutkan hubungan atau tidak? Kalau kau mau melanjutkan aku akan mengabulkan satu permintaamu… tapi kalau tidak, jangan harap kau mendapatkan yang kau minta kemarin itu. Silahkan pilih!” Chun oppa tersenyum licik.

“Oppa!!!”

“Cepat! Kita tidak punya banyak waktu, ini pestaku bukan pestamu.” aku melihat Gaul berbisik pada Jun dan Jun hanya manggut-manggut saja. “Tapi kau harus janji! Awas kalau tidak! Aku akan menghancurkan pesta ini dan mebocorkan rahasiamu!”

“Jadi? Kau mau melanjutkan hubungan dengan Jun?” Gaeul menyipitkan mata.

“You think?!” Chun oppa tersenyum licik.

“Wah! Ada Donghae-ku yang tercinta rupanya! Jadi… bagaimana dengan gadis di sebelahmu? Wah.. kau Yuna?! Kenapa penampilanmu sangat berbeda?” aku bisa merasakan pipiku bersemu merah. “Cepat jawab! Kalau kau tidak mau lebih baik Yuna untuk-ku saja!” Donghae oppa diam sambil memandangi Chun oppa dalam-dalam. “Sebaiknya kita keluar.” Donghae oppa menarik lembut lenganku. Ya tuhan… aaaa… aku…aaa… beruntung!

“Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Aku mengerti. Sekarang pasangan selanjutnya!” aku tidak mendengar lagi apa yang di ucapkan Chun oppa karena sekarang aku sudah berada di taman belakang. Kami duduk di bangku yang menghadap kolam.

“Jadi kau yang bernama Yuna…”

“Donghae oppa mengenalku sebelumnya?” aku bingung kenapa tiba-tiba Donghae bicara begitu. “Tidak, tapi Li.. ah maksudku Chun Li pernah menceritakan tentang dirimu.” Aku menelan ludah. “Benarkah? Apakah Chun oppa menjelek-jelekkan aku di depan oppa?”

“Tidak, dia justru memujimu.”

“Ah.. apa benar?”

“Ya… mulai saat itu aku sering memperhatikanmu.” Tunggu… apa maksud dari semua ini? “Apakah menurutmu aneh jika menyukai orang yang perbedaan umurnya lebih jauh dari kita?” aku memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat.

“Entahlah, tapi bagiku tidak aneh. Aku brother complex, aku menyukai laki-laki yang lebih tua atau setidaknya dewasa. Mungkin oppa mengalami sister atau mother complex. Apa oppa punya adik atau kakak?” dia menggeleng.

“hemm.. biasanya anak tunggal atau anak terakhir mengalami brother atau sister complex. Atau bahkan ada yang mother complex. Umur bukan alasan, terserah apa kata orang.. yang menjalani diri kita sendiri bukan orang lain. Kalau mereka bilang aneh, ya sebenarnya merekalah yang aneh. Memang ada apa?”

“Entahlah.. aku merasakan sesuatu terhadap seseorang yang perbedaan umurnya jauh dan aku belum begitu mengenalnya.”

“Wah.. sulit juga.” padahal dalam hati aku meraung-raung karena ternyata oppa sudah tertarik pada gadis lain. “Bagaimana bisa gadis itu membuat oppa menyukainya, padahal belum saling kenal?” dia mendesah.

“Saat pertama dia muncul di sekolah, aku memerhatikan gayanya. Dia punya gaya, dan senyumnya ramah. Rambutnya panjang dan sepertinya halus, dia juga sangat cool. Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi karena aku tidak tahu dia siapa dan dia anak baru sepertinya. Tidak di sangka aku bertemu lagi dengannya, begitu aku mendengar suaranya saat bicara aku semakin terpesona entah bagaimana itu terjadi. Jika saja aku bisa bertemu dengannya sekali lagi maka aku akan langsung menyatakan perasaanku karena aku takut aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. Aku ingin dia jadi milikku, sehingga dia tidak bisa pergi dariku.” Ingin rasanya aku menangis.. tapi tangisan ini atas apa? Patah hati atau terharu?

“Apakah kau akan membantuku? Aku butuh latihan.” jangan menagis… jangan menangis… “Baiklah, kenapa tidak?” aku tahu senyumku sangat muram, seperti seorang saudagar kaya raya yang habis tertipu lalu anaknya terlindas kereta dan sekarang istrinya meminta izin untuk menikah lagi. Dia menarik napas panjang, berusaha rilex.

“Aku mungkin belum begitu mengenalmu dan kita belum saling mengenal satu sama lain. Tapi selama aku memperhatikanmu, aku tahu kau pantas dan baik untukku. Apakah kau mau menjadi milikku?” mataku semakin berkaca-kaca.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku tidak bisa menunggu lebih lama karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak tahu kapan bisa bertemu lagi denganmu.” Ya tuhan… senyumku semakin muram, apakah harus aku menggunakan topeng agar tidak ketahuan?

“Tapi tuhan mengizinkanku untuk bertemu lagi denganmu, dan di sinilah kita sekarang. Dan aku bilang aku akan menyatakan perasaanku pada gadis itu jika aku bertemu lagi, dan ya… sekarang aku menyatakan itu padamu. Apa kau mau menjadi milikku dan tetap bersamaku… Yuna?” Apaaa???!!!!

Will Be Continued

***

by: Lana

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
  • BUAT YANG PUNYA WORDPRESS… LIHAT DI PALING ATAS ADA BUTTON LIKE SAMA LAMBANG BINTANG… TOLONG DI KLIK KALAU KALIAN SUKA SAMA FF NYA ^.^.. SUPAYA AUTHORNYA TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUKA FF MEREKA.. GOMAWO


LOVE’S WAY – IS IT LOVE [3.1]

Author : Novi

Main Cast: Member SHINee, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin

Support Cast: Super Junior

IS IT LOVE – 1

Akhirnya akhir pekan juga, rasanya aku masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur setelah minggu yang sangat melelahkan. Aku masih bergelung dengan selimutku di tempat tidur sampai Hyo Jin membuka jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk dan mengenai mataku. Aishh….silau sekali.

”Bangun cepat!!!kau mau jalan-jalan tidak?”teriaknya.

Jalan-jalan? Jalan-jalan kemana?malasnya, untuk apa jalan-jalan aku hanya ingin di rumah saja minggu ini, aku masih mengantuk. Minggu kemarin sudah pergi masa sekarang pergi lagi.

Kurasakan seseorang menarik selimutku.

”Hyo Jin…aku ngantuk…”Aku berteriak kesal dengan mata masih menutup.

”Kau tidak mau bangun juga…Taemin tidak suka gadis yang bangunnya telat…”

Hyo Jin tidak bosan-bosannya kah dia meledekku sejak kemarin, aku bangun dan langsung melemparnya dengan bantalku tapi ternyata dia bisa menghindar dan hilang di balik pintu.

”Cepat mandi sana…”Teriak Hyo Jin dari luar kamar.

Kenapa sepupuku yang satu itu tidak henti-hentinya mengejekku, apalagi sejak dia tahu kalau aku diantar oleh Taemin kemarin , sebenarnya kejadian itu juga tidak disengaja, masalahnya saat itu aku pulang sekolah sendiri, Hyo Jin ada latihan sedangkan Rae Na tidak masuk sekolah. Tiba-tiba di depan gerbang sekolah dia menghampiriku dan mengajakku pulang bersama, dia bilang dia disuruh Hyo Jin karena Hyo Jin takut aku akan tersesat lagi seperti waktu itu. Namun Hyo Jin menjadikannya bahan ledekan sepanjang hari itu sampai sekarang. Sepertinya Hyo Jin sengaja melakukan itu padaku.

Hari ini aku terpaksa mengikuti kemauan Hyo Jin mengantarnya jalan-jalan ke taman, sebenarnya aku malas tapi ibu juga memintaku untuk menemani Hyo Jin. Jadilah aku disini bersamanya di sebuah taman di tengah kota, taman kesukaannya begitu kata Hyo Jin waktu itu. Kami duduk di sebuah bangku dekat air mancur. Seperti biasa aku membawa kameraku, aku memang sangat tertarik pada fotografi semenjak aku masih di Amerika dan sejak pindah kesini aku semakin senang dengan fotografi, aku selalu membawa kameraku kemana-mana karena objek foto disini lebih indah daripada di Amerika. Aku terus saja mengarahkan kameraku ke setiap objek yang menurutku bagus tanpa mengiharaukan Hyo Jin yang sedang bercerita, entahlah apa, sepertinya tentang pergelaran seninya, atau tentang Jin Ki Oppa, atau drama…aku tidak tahu, aku hanya menggapinya dengan jawaban ”Ya” atau ”Hmm” dan sepertinya itu membuat Hyo Jin kesal dan mulai berhenti bicara dan tiba-tiba saja mengambil kameraku.

”Ya!!” teriakku.

”Kau tidak mendengarkanku bicara…”serunya.

”Aku mendengarmu…kembalikan kameraku…”seruku.

”Ayo jalan lagi…”ajaknya.

Dasar Hyo Jin, selalu mendominasi. Kami berjalan lagi sementara kameraku di tahannya dia kembali bercerita dan terpaksa aku harus menanggapinya.

”Aku haus kita cari minum dulu ya..”serunya setelah berbicara panjang lebar.

Bagaimana dia tidak haus kalau sedari tadi dia hanya berbicara saja. Kami pun mencari toko yang menjual minuman.

”Taemin-ah..”teriak Hyo Jin.

Hyo Jin berteriak ke seberang jalan, disitu ada seorang cowok yang duduk di atas sepedanya dan itu adalah Taemin. Aigoo di akhir pekan ini aku harus bertemu juga dengannya. Aku yakin Hyo Jin akan menarikku untuk menghampirinya. Dan benar saja dia sudah menarikku sampai ke depan Taemin.

”Noona..Hye Jin…..”seru Taemin begitu kami sampai di depannya.

Taemin tampak sedikit terkejut melihat aku dan Hyo Jin. Seperti biasa dia selalu tampak tampan walau hanya mengenakan T-Shirt yang dilapisi jaket putih.

”Kalian sedang apa?”tanyanya.

”Kami sedang beralan-jalan disini…Oh ya rumah Jin Ki di dekat sini kan?”tanya Hyo Jin.

”Ne…aku kesini dengan Hyung…dia sedang membeli makanan kucingnya di dalam…”Jawab Taemin.

Taemin menunjuk sebuah toko makanan hewan di belakangnya. Tak lama kemudian Jin Ki Oppa keluar dan juga terkejut melihat kami.

”Hyo Jin…”serunya hanya pada Hyo Jin.huh.

Hanya Hyo Jin, aku agak sedikit curiga dengan sikap dia ke Hyo Jin. Ini kesempatanku untuk membalasnya. Hyo Jin lihat saja aku pasti tidak salah tebak. Kami pun mengobrol sebentar dan kemudian mereka pergi.

”Annyeong…”seru mereka berdua.

”Ne Annyeong…”Kami melambaikan tangan ke arah mereka.

Sangat lucu melihat mereka naik sepeda berdua, dimana Jin Ki Oppa yang dibonceng, lucu sekali.

”Ayo jalan lagi…”ajak Hyo Jin.

”Ne…yeojachingu Jin Ki Oppa…”seruku padanya.

”Mwo?”tanyanya.

Kulihat wajah Hyo Jin yang terkejut mendengar ucapanku dan dia bersiap memulku, aku pun langsung mengindar dan berlari menjauhinya.

***

”Kau sudah selesai mengerjakan PR-mu?”tanya Hyo Jin.

”Ne..” Jawabku sambil merapihkan buku-buku ku ke dalam tas.

Hyo Jin masih sibuk membaca bukunya, dia bilang besok dia ada ulangan jadi dia masih belajar. Aku pun naik ke atas kasurku dan menatap langit-langit

”Hmm…Hyo Jin…menurutmu aku ikut kegiatan apa ya disekolah?”tanyaku padanya yang masih sibuk dengan bukunya.

”Terserah saja…memangnya kau mau apa?”Jawab Hyo Jin tanpa memalingkan wajahnya dari buku.

”Kemarin aku lihat papan pengumuman tentang klub drama…aku sedikit tertarik…bagaimana menurutmu?”tanyaku lagi.

Hyo Jin lama tidak menjawab ku kira dia tertidur di mejanya.

”Boleh..itu bagus…kau pernah ikut klub drama sebelumnya?”tanyanya.

”Ne…waktu di Amerika…”jawabku singkat.

Lama dia tidak bicara lagi lalu kemudian.

”Tapi kau harus hati-hati banyak orang aneh disana…”serunya tiba-tiba.

”Maksudmu?”tanyaku yang merasa sedikit aneh dengan pernyataannya itu.

Apa maksudnya dengan orang aneh, kurasa klub drama itu mengasyikan, aku suka akting.

”Kau tahu Heechul, Eunhyuk dan Donghae…tiga serangkai pemilik klub drama…mereka setingkat denganku jadi aku tahu mereka seperti apa…”terang Hyo Jin.

”Aneh seperti apa?”tanyaku lagi.

”Kau akan lihat sendiri nanti…tapi tenang saja mereka baik kok…kalau ada apa-apa bilang saja padaku…”serunya sambil terus menatap buku.

”Ne…”jawabku masih heran tapi kuurungkan niatku untuk bertanya lagi akan kulihat sendiri seaneh apa yang disebutkan Hyo Jin.

Aku memejamkan mataku dan akhirnya tertidur.

***

Aku masuk ke kelas dan menaruh tasku ke atas meja dan melihat sekeliling mencari Rae Na, apa dia belum masuk ya? Tapi tadi malam dia sms kalau hari ini dia akan masuk, mungkin belum datang. Hari ini aku datang sangat awal dan baru beberapa murid saja yang sampai di kelas. Aku sedang merapihkan dasiku begitu kulihat seorang cowok masuk ke dalam kelas. Tumben dia datang sepagi ini biasanya saat bel berbunyi dia baru sampai di depan kelas. Aku memalingkan wajahku begitu dia menyadari aku melihat ke arahnya. Sudah seminggu ini kami tidak bertengkar, biasanya setiap kami bertemu pasti akan keluar kata-kata kasar dari mulut kami, sepertinya dia menghindari konfrontasi denganku seminggu ini dan aku pun melakukan hal yang sama, lebih baik aku menghindarinya. Kemudian dia duduk dikursinya dan mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Tak lama kemudian Rae Na datang dengan berteriak-teriak.

”Hye Jin…Ya ampun aku kangen sekali denganmu…”seru Rae Na langsung menghampiriku.

Dia langsung memelukku dengan erat dan membuatku tidak bisa bernafas.

”Rae Na..kau membuatku tak bisa bernafas tau..”serunya.

”Mianhe…habis aku kangen sekali sudah 3 hari kita tidak bertemu karena flu ini…”katanya.

Aku segera beranjak dari tempat dudukku begitu dia bilang kemarin dia tidak masuk karena sakit flu. Dan menyilangkan tangan di depan wajahku untuk memperingatinya agar tidak mendekat denganku.

”Aigoo…Hye Jin aku sudah sembuh..masa kau tidak mau dekat-dekat denganku…” Rae Na mendekatiku sambil mengerucutkan bibirnya.

Aku tertawa melihat perubahan wajah Rae Na dan sekarang dia sedang cemberut, sangat jelek.

”Aku Cuma bercanda kok…”seruku sambil tersenyum.

Dia tersenyum sedikit dan kemudian tertawa, akhirnya kami tertawa bersama. Kulihat cowok itu diam saja, biasanya dia akan mengomel tidak karuan jika aku dan Rae Na sudah mulai tertawa dan dia selalu bilang berisik. Tumben sekali dia hanya diam memandangi buku di depannya. Aisshh kenapa aku harus peduli padanya!!

Tak lama kemudian Park Sonsaengnim datang dan pelajaran matematika pun dimulai. Sejak tadi Rae Na terus saja menusuk-nusukkan pensilnya ke punggungku, ada apa sih? Tidak tahu apa kalau Park Sonsaengnim itu sangat galak, apalagi pada murid yang ketahuan mengobrol di jamnya bisa-bisa langsung dikeluarkan dari kelas, Rae Na mau apa sih?tiba-tiba secarik kertas sampai di mejaku kubuka pelan-pelan dan ternyata itu dari Rae Na.

”Aku belum mengerjakan PR yang dia berikan kemarin..aku lupa..aku boleh lihat bukumu..”

Ya ampun Rae Na, untung saja hari ini Sonsaengnim tidak berjalan kesekeliling kelas untuk melihat PR kami, hari ini dia hanya menyuruh kami maju satu persatu ke depan mengerjakan PR tersebut. Kusodorkan bukuku ke meja Rae Na pelan-pelan takut ketahuan.

”Hye Jin..maju ke depan kerjakan soal nomor 2…”seru Park Sonsaengnim

Aku tersentak kaget dan menjatuhkan bukuku, ya ampun aku belum mengerjakan soal nomor 2 begitu aku mengambil bukuku yang jatuh dan melihat jawabanku, ternyata aku lupa mengisi soal nomor 2, gawat! Pasti aku akan ditegur karena tidak mengerjakan PR.

”Ayo cepat!”Perintah Sonsaengnim lagi.

Aku pun berjalan dengan gugup ke depan membawa buku catatanku, aduh apa yang harus aku tulis, namun belum sampai ke depan ada sebuah buku yang disodorkan padaku dari meja sesorang yang aku pikir tidak akan pernah melakukan hal ini.

”Pakai bukuku…aku sudah meyelesaikannya…”serunya padaku.

Key memberikan bukunya padaku, sungguh sangat tidak masuk akal. Apakah aku bermimpi kenapa dia mau menolongku? Hari ini dia sungguh sangat aneh. Aku sedikit ragu untuk mengambil bukunya tapi mumpung Park Sonsaengnim sedang menghadap ke papan tulis maka aku pun langsung mengambil buku itu dari tangannya dan menuliskan jawaban nomor 2 di papan tulis, saat kembali ke tempat duduk aku tidak sempat mengembalikan buku Key karena Sonsaengnim terus memperhatikanku sampai duduk, jadi aku menyimpan buku itu untuk sementara.

Key POV

Kenapa denganku? Kenapa aku mau memberikannya bukuku? Aduh ada yang tidak beres dengan otakku. Dia kan musuhku, cewek kasar itu tapi. Aisshh…apa yang terjadi padaku?aku berusaha untuk menepis pikiran bahwa jangan-jangan aku menyukainya. Tidak-tidak dia bukan tipeku. Cewek kasar itu bukan tipeku. Entahlah dari awal aku bertemu dia disekolah ini aku seperti merasa aneh jika aku di dekatnya dan kenapa seeprtinya aku tidak bisa untuk tidak memandanginya walaupun sekali saja, sudah seminggu ini aku berusaha untuk menjauhinya, pertama karena semakin aku sering bertengkar dengan dia perasaan itu seperti semakin nyata dan yang kedua aku sudah lelah bertengkar terus dengan cewek itu,membuang-buang waktuku saja.

-TBC-

P.S: NOVI ONNIE… KALAU BINGUNG KENAPA PENDEK BACA EMAIL DARI AKU YA ^^

-Lana-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please