Just You

JUZT YOU

Author: Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Main casts:

–          Park Young Mincha

–          Lee Jinki

–          Shim Changmin

Hari ini adalah hari pertama UAN. Rasanya aku masih belum siap menghadapi ujian ini. Fyuuuh, siap gag siap aku harus tetap berusaha. Mincha, hwaiting!!

~ ~ ~

Hai perkenalkan. Aku Park Young Mincha. Kalian bisa memanggilku Mincha. Saat ini aku duduk di kelas XII dan akan mengikuti ujian kelulusan. Nah, simak kisahku ini, ya..

~ ~ ~

Wah, untung saja bangkuku bukan yang barisan terdepan, bisa grogi kuadrat aku kalo dapat bangku di deret itu. Batinku setelah mengetahui bahwa aku akan menempati bangku ke tiga dari depan selama ujian berlangsung.

“Cha… Mincha…,” terdengar seseorang menyapaku. Aku pun menoleh ke arah si pemilik suara dan mendapati sahabatku telah berdiri di sampingku.

“Hmmm…. Ada apa?” tanyaku menjawab sapaannya.

“Kamu dicariin ama Jinki,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu ruang kelas ujian kami. Aku menengok ke arah yang dia tunjuk dan memang benar, di sana Jinki berdiri sambil menatapku. Aku menghela napas sejenak. Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju dirinya setelah mengucapkan terima kasih pada Rieka, sahabatku.

“Ya! Jinki~ah! Ada perlu apa denganku?” tanyaku dengan sebal karena seharusnya aku mengulang-ulang pelajaran sebelum bel masuk berbunyi.

“Cha, kamu mau nggak jadi pacarku?” tanyanya setelah menarikku menjauh dari kelasku. Aku menatapnya dengan tampang heran. Nih bocah apa-apaan, sih? Mau ujian gini masih ngelawak juga.

“Kamu nggak usah bercanda deh. Ini tuh mau ujian. Jangan bikin konsentrasiku buyar. Oke?” ucapku sambil beranjak meninggalkannya karena sebentar lagi ujian akan dimulai. Tapi baru selangkah, dia memegang lenganku, menahanku sejenak. “Aku serius, Cha!” tegasnya.

“Hmmm…. Akan kupikirkan. Kumohon sampai UAN dan UAS selesai, jangan hubungi aku. Jangan ganggu aku dulu,” ucapku sambil melepas tangannya dari lenganku dan beranjak menuju kelas.

“Gimana, Cha? Kamu terima apa, nggak?” tanya cowok yang duduk tepat di bangku sebelah bangkuku, yang tak lain dan tak bukan adalah Changmin, mantan pacarku yang kuputus satu bulan yang lalu. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik.

“Kalian sekongkol ya?” tuduhku. Baru saja Changmin akan menjawab, pengawas ujian memasuki ruangan. Kami segera mempersiapkan alat tulis.

***

Ah, laparnyaaa…. Untung saja tadi sempat membawa bekal. Kayak anak TK ya? Tapi ini kulakukan karena hari pertama ada 2 ujian. Jadi, daripada aku desak-desakan di kantin, lebih baik aku bawa bekal dong. Hehe… *curhat*

“Cha,” panggil Changmin yang tahu-tahu sudah duduk di bangku depanku dengan tubuh dihadapkan ke arahku. “Hmmm,” jawabku dengan mulut penuh makanan. Tiba-tiba, tangannya menyentuh daguku dan jarinya mengusap sudut kiri bibirku. Aku sedikit tersentak. Aku merasa seperti dialiri arus listrik.

“Kamu ini nggak berubah ya, selalu aja celemotan,” ujarnya sambil tertawa membuatku terpana. Aku jadi sedikit menyesal sudah memutuskannya. Tapi itu kan salahnya. Dia sudah selingkuh di belakangku.

“Oh, iya! Gimana? Kamu terima, nggak si Jinki itu?” tanyanya lagi.

“Masih kupikirkan,” jawabku malas. Jujur saja aku tidak suka topik ini.

“Sebaiknya kamu terima aja, Cha! Dia itu suka ma kamu udah mulai setahun yang lalu, loh,” sarannya. Aku cukup kaget mendengar kenyataan itu, tapi aku masih ingin fokus pada ujian dulu, tidak mau memikirkan hal-hal lain di luar itu.

“Hehh, kamu itu nggak waras ya?!” teriak Rieka yang tiba-tiba saja sudah ada di dekat kami,”mana ada cowok yang nyaranin mantannya buat jadian ama cowok lain?! Gila kamu,” lanjutnya lagi.

“Terus maunya gimana? Aku tahu kalo aku tuh udah salah ama Mincha, karena itu, aku ingin dia mendapatkan cowok yang lebih baik dariku, dan kupikir Jinki tidak buruk,” ungkap Changmin.

“Ah, sudahlah jangan bahas ini lagi. Aku mau fokus ke ujian dulu,” sentakku menghentikan pertikaian mereka berdua.

***

Tanpa terasa dua minggu berlalu dengan tenang. Semua ujian sudah berakhir. Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Tiba-tiba dering ponsel mengagetkanku.

From: Lee Jinki

Cha, aku menagih jawaban atas pernyataanku 2 minggu yang lalu. Maukah kamu jadi pacarku?

To: Lee Jinki

Hmmm…. Baiklah. Aku mau jadi pacarmu. >,<

From: Lee Jinki

Kamu sekarang di rumah, kan?! Aku ke sana sekarang. Aku pengen ketemu.

To: Lee Jinki

Ya.

Sambil menunggu kedatangannya, aku pun berganti pakaian. Kukenakan celana jeans ketatku dipadukan dengan lengan pendek hijauku, kemudian kututupi dengan jaket bermotif keroppi kesukaanku. Rambutku kukuncir satu di satu sisi. Kepoles wajahku dengan bedak. Kutatap diriku di cermin. Sudah lama aku tidak berdandan seperti ini sejak aku putus dengan Changmin. Hhh, semoga pilihanku kali ini tepat. Tapi mengapa bayangan wajah Changmin terus menggema di pikiranku. Segera kutepis hal itu.

Aku segera berlari keluar saat mendengar klakson mobil yang menandakan bahwa Jinki, cowok yang telah resmi menjadi pacarku itu, telah datang. Tak lupa kuambil tasku yang berisi dompet beserta ponsel kemudian segera menemuinya.

“Wow, Cha! You’re very beautifull, today,” pujinya sambil menunjukkan senyumnya yang membuatnya semakin tampan. Kenapa aku nggak pernah memperhatikannya ya, ternyata dia setampan ini.

“Emank biasanya nggak ya?” tanyaku sambil merajuk.

“Di mataku kamu selalu cantik kok,” ujarnya merayu. Wah, sudah berani ngegombal dia.

“Ayo, akan kutunjukkan padamu tempat yang bagus,” ajaknya sambil memasangkan sabuk pengaman pada kursiku.

Sepanjangan perjalanan aku hanya diam, bingung akan membicarakan apa. Kulirik cowok di sampingku ini. Dia tampak serius memperhatikan jalan di depan.

Setelah beberapa menit, akhirnya Jinki menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan, yang menurutku indah sekali eksteriornya. Dia menggandengku, mengajakku memasuki bangunan itu yang ternyata adalah sebuah toko yang di dalamnya menjual berbagai macam boneka lucu serta ada café kecilnya juga. Wah, aku memandangi isi toko itu dengan takjub. Kudengar Jinki tertawa kecil melihatku seperti itu.

“Ayo, duduk di situ,” ucapnya sambil menunjuk ke salah satu sudut di café itu, kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku. Dapat kurasakan pipiku memanas.

Setelah memesan pada pelayan café tersebut, Jinki menggenggam tanganku sambil menatap wajahku lembut. Aku berusaha menghindari tatapannya saking gugupnya.

“Aku sangat senang kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu, Cha! Beberapa bulan yang lalu, saat aku tahu kamu jadian dengan Changmin, hatiku serasa tercabik-cabik. Tapi sekarang kamu sudah menjadi milikku. Hal itu membuatku sangat senang,” ucapnya lirih. Mendengar nama Changmin disebut, aku seperti tersengat.

Apakah keputusanku ini benar? Apa aku benar-benar menyukai Jinki? Aku seperti merasa hanya menjadikannya sebagai pelarianku saja. Sejenak aku bimbang. Namun akhirnya kuputuskan untuk menjalani status ini dahulu. Kalo emank nanti tidak cocok, ya lihat saja nanti. Kupasang senyum termanisku untuk memikatnya.

Setelah seharian kami menghabiskan waktu bersama, Jinki mengantarku pulang ke rumah. Ketika mobilnya sudah tak terlihat lagi, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Setelah mandi dan mengganti pakaianku dengan baby doll bergambar keroppi, aku beranjak naik ke ranjangku. Kupejamkan kedua mataku dan dalam sekejap aku sudah berlayar di alam mimpi.

***

Tanpa terasa hubunganku dengan Jinki sudah berusia seminggu. Kulihat kalender di dinding kamarku. Seminggu lagi adalah perpisahan sekolah. Dan kami akan berpisah karena kami memilih universitas yang berbeda. Kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami setelah perpisahan.

Malam ini, kami akan pergi berdua. Entah ke mana. Kutunggu Jinki di teras rumahku sambil mendengarkan lagu-lagu dari MP4 ku. Aku ikut bersenandung mengikuti irama yang terdengar sambil memejamkan mata mencoba meresapi makna lagu tersebut. Tiba-tiba kurasakan seseorang menepuk punggung tanganku. Kubuka mataku dan aku terperanjat melihat sosok yang berdiri di depanku ini.

“Changmin,” desisku.

“Cha, ternyata memang tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku,” ucapnya lirih,”aku menyesal telah menyakitimu dulu. Aku ingin kau kembali padaku.”

Entah mengapa aku merasa emosi mendengar kata-katanya.

“Kau… Semudah itukah kau memintaku kembali? Setelah sekian lama aku berusaha menerima kau sudah memilihnya daripada aku, agar kita bisa berbicara santai tanpa ada jarak walaupun sebenarnya kaulah yang membuat jarak itu sendiri!!” ucapku penuh tekanan di setiap kata, “dan sekarang, di saat aku menuruti saranmu untuk menerima cinta Jinki, kau malah memintaku memilihmu kembali? Kau pikir aku ini apa? Memangnya aku tidak punya perasaan?” lanjutku setengah menangis.

Kutepis tangannya yang berusaha memegang tanganku. Tepat pada saat itu, Jinki datang dan segera menarikku menjauh dari Changmin.

“Kamu mau nyakitin Mincha lagi, hahh?!” bentak Jinki pada Changmin.

“Aku nyesel pernah nyakitin dia. Aku bener-bener sayang sama dia,” jawabnya sambil melihatku yang tengah menunduk.

“Jangan cuma ngomong aja kamu.. Buktikan!” Jinki semakin emosi. Kusentuh lengannya.

“Ayo, kita berangkat aja sekarang. Ntar kemaleman. Percuma kamu ngeladenin dia,” ajakku. Jinki menggenggam tanganku, kemudian menarikku menuju mobilnya meninggalkan Changmin yang terpaku menatap kepergian kami.

***

Akhirnya perpisahan sekolah pun tiba. Aku sudah mengeriting rambutku yang lurus ini dihiasi dengan bando hijau kesukaanku. Aku mengenakan kemeja lengan pendek warna hijau dipadu dengan rok selutut berwarna senada. Tidak lupa aku mengenakan high heels-ku. Menambah pesonaku. Semua mata memandang ke arahku saat aku maju sebagai perwakilan siswi kelas XII untuk berpidato.

Setelah acara perpisahan usai, aku dan Jinki pergi ke sebuah bukit. Di sana, kami menikmati hari terakhir kami sebagai siswa SMA. Mulai besok kami sudah harus mempersiapkan diri menjadi mahasiswa.

Ketika senja tiba, kami pun pulang. Sebelum dia pulang, dia memelukku eraaaaat sekali. Setelah itu, dia melajukan kendaraannya menuju rumahnya. Satu jam kemudian, aku mengirim sebuah pesan untuk Jinki.

To: Lee Jinki

Maaf, bukan maksudku membuatmu sebagai pelarian. Aku benar-benar mencoba untuk mencintaimu. Tapi ternyata, itu tidak semudah yang kupikirkan. Aku tidak bisa dengan hubungan jarak jauh. Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja. Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dalam lagi karenaku. Maaf….

Setelah kutekan send, aku membenamkan kepalaku di bantal. Diam-diam air mataku mulai membasahi bantalku. Aku tidak tahan terus menyakiti hatinya. Selama bersamanya, yang ada di pikiranku hanyalah Changmin. Aku tahu aku jahat. Hanya mempermainkan perasaan Jinki. Tapi bukan inginku begitu. Aku sangat nyaman berada di sisinya, tapi bukan sebagai kekasih. Mungkin lebih tepat seperti seorang sahabat. Aku tidak mau terus memanfaatkannya untuk membantuku melupakan Changmin. Aku tidak tega dia terus tersakiti dengan tingkahku.

***

Sore ini, kuputuskan untuk berjakan-jalan di taman seorang diri, merenungi diri. Lelah berkeliling, aku pun duduk di salah satu kursi taman yang menghadap ke arah air mancur. Kutopang daguku dengan kedua tangan sambil menatap air mancur di depanku dengan tatapan kosong. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Aku segera tersadar dari lamunanku dan menemukan seorang cowok yang telah kulukai perasaannya telah duduk di sampingku.

“Nih, minum,” tawarnya sambil menyerahkan sekaleng orange juice dingin.

“Terima kasih,” jawabku kikuk mengambil minuman yang dia tawarkan padaku.

“Aku tidak pernah menganggapmu memperalatku,” ucapnya membuka pembicaraan,”aku tahu kamu masih belum bisa menghilangkan rasa sakit yang telah ditimbulkan olehnya. Aku terima kalo kamu emank ingin putus denganku. Aku tahu perasaan tak bisa dipaksakan.”

Tanpa sadar, air mataku mengalir mendengar perkataannya. Dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Aku menangis sesenggukan di dadanya.

“Maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyakitimu.  Tapi…..,” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Jinki meletakkan jari telunjuknya di bibirku.

“Sssstt,, sudahlah…. Aku tidak apa-apa. Aku tahu, kamu yang lebih tertekan atas kejadian ini,” katanya menenangkan sambil mengusap pipiku, menghapus air mata yang membasahi pipiku. *huwaaaah, seandainya beneraaaan!!!*

Kemudian, tiba-tiba saja wajah Jinki sudah berada sangat dekat di depan wajahku. Aku terkejut hingga tak sanggup memikirkan apa-apa lagi. Dalam hitungan detik kurasakan sesuatu yang lembut telah menyentuh bibirku, yang kusadari kemudian bahwa itu adalah bibir Jinki. Dia melumat bibirku dengan lembut. Setelah beberapa saat, dia menghentikan ciumannya dan memelukku dengan erat.

“Maaf, aku telah menciummu tanpa izin. Aku tidak akan pernah melupakanmu,” ucapnya kemudian melepas pelukannya,”baiklah. Sampai jumpa. Semoga lain waktu kita bisa bertemu tanpa ada rasa bersalah!”

Jinki pun beranjak meninggalkanku. Aku menatap punggungnya hingga dia hilang dari pandanganku. Setelah dia berkata begitu, justru aku semakin merasa bersalah. Hhh…. Aduh, kepalaku berat sekali. Apa karena kebanyakan menangis ya? Lebih baik aku segera pulang dan istirahat. Tapi, baru beberapa langkah aku meninggakan taman tersebut, aku merasa pandanganku gelap. Aku pun ambruk tak sadarkan diri.

***

Kucoba membuka kedua mataku tapi entah mengapa rasanya berat sekali.setelah berhasil, aku mengerjapkan kelopak mataku berkali-kali, kemudian kuedarkan pandangan ke sekeliling. Mmmh, ini kamarku. Tapi siapa yang membawaku ke sini? Aduh, kepalaku nyeri sekali. Kuangkat tanganku untuk memijit keningku, tapi seperti ada yang menahan. Aku segera mengarahkan pandangan ke arah tanganku dan menemukan seorang cowok dengan kepala bersandar di sisi ranjangku, tertidur sambil menggenggam tanganku. Kucoba melepaskan genggamannya dari tanganku dan itu membuatnya terbangun.

Betapa terkejutnya aku, saat mengetahui bahwa cowok itu adalah….

“Changmin?” desisku tak percaya.

“Cha, kamu sudah sadar? Syukurlah! Tadi aku kaget ngelihat kamu pingsan di jalan. Langsung aja kubawa kamu ke rumahmu. Aku khawatir banget,” cerocosnya dengan tampang cemas.

“Oh, makasih!” jawabku singkat tanpa menatapnya.

“Cha, kumohon maafin aku! Aku benar-benar menyesal sudah menduakanmu,” ucapnya sambil menggenggam tanganku.

“Aku sudah maafin kamu dari dulu,” jawabku dingin.

“Ayolah, Cha! Aku yakin kamu masih mencintaiku. Jadi pacarku lagi, ya?” pintanya dengan PeDe tingkat tinggi.

“Buat apa? Untuk disakiti lagi? Nggak Min, cukup sekali itu kamu melukai hatiku,” tolakku dengan perasaan sesak. Sepertinya aku akan menangis lagi kali ini.

“Sudahlah, Cha! Beri dia satu kesempatan. Aku ikhlas kalo emank kamu mau kembali padanya. Lagipula kita sudah putus kan? Tidak usah merasa sungkan padaku,” ucap Jinki yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam kamarku.

Aku menundukkan kepalaku dan tetes demi tetes air jatuh membasahi pakaian yang kukenakan. “Kalian berdua tidak mengerti posisiku. Jangan memaksakan kehendak kalian. Jangan memojokkanku. Aku tidak akan kembali pada Changmin dan itu bukan karena aku merasa bersalah padamu, Jinki. Sekarang, bisa kalian tinggalkan aku sendiri? Aku ingin mendinginkan pikiranku,” ucapku pada mereka berdua. Mereka pun keluar dari kamarku dengan lesu.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………….,” jeritku histeris sambil membuang barang-barang yang ada di ranjangku. Kemudian kudengar derap langkah orang berlari menuju kamarku dan  membuka pintu kamarku dengan kasar. BRAAAK… Tampak wajah Changmin dan Jinki yang terlihat sangat cemas. Mereka terkejut melihat kamarku berantakan.

“Cha? Ada apa ini?” tanya Changmin sambil melangkah mendekatiku.

“huuu…huuu…huu… Aku bener-bener sakiiiit di sini…. Aku udah nyakitin perasaanku sendiri. Aku udah nyakitin kalian berdua yang sangat berarti buatku. Huwaaa…..” ucapku sambil terus menangis.

“Ssssshh, jangan menangis lagi…. Hatiku perih melihatmu menangis seperti ini. Aku yang salah. Sudahlah jangan kamu pikirkan lagi,” ujarnya sambil mengusap lembut punggungku seraya menarikku ke dalam pelukannya. Aku benar-benar merindukan hangat tubuhnya yang memelukku seperti ini. Aku pun balas memeluknya dan terus menangis.

“Changmin, baringkan Mincha di sini. Ranjangnya sudah kubereskan,” suruh Jinki.

Changmin pun mengangkatku, lalu membaringkanku di ranjangku. Tiba-tiba aku merasa lelah sekali, seolah semua beban yang menghimpitku telah lepas.

“Kalian selesaikan masalah kalian. Aku mau pulang,” pamit Jinki pada kami.

“Cha, aku mau bilang. Kita diterima di satu universitas yang sama, hanya beda jurusan. Aku ada rumah dekat universitas itu, kalo kamu mau, kita bisa tinggal bersama di rumah itu,” tawarnya. Aku melotot mendengar ajakannya. Emank dia kira aku cewek apaan.

“Aissh, Cha. Bukan gitu maksudku. Kita tinggal bersama tapi di kamar yang berbeda tentunya. Daripada kamu bingung-bingung cari kontrakan,” ralatnya seolah mengerti yang ada di pikiranku. Aku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Hmmm, baiklah akan kupikirkan,” jawabku lemah.

“Oh, iya Cha! Aku butuh kepastian darimu saat ini juga,” ujarnya tiba-tiba dengan wajah serius. “Kamu mau ya, jadi pacarku lagi? Aku janji nggak akan selingkuh lagi,” pintanya membuat wajahku memanas. Baru saja aku akan menjawab, ponselku berbunyi. Segera saja kuangkat telpon itu.

‘Cha, kamu harus balikan sama Changmin. Kalo nggak, aku bakalan marah sama kamu. Aku hanya merelakanmu padanya. Aku nggak mau denger berita kamu jadian sama cowok lain.’

Dan sambungan langsung dimatikan oleh si penelpon yang ternyata itu Jinki.

Aku menoleh kepada Changmin.

“Maaf, Min, aku belum bisa,” ucapku.

“Ternyata begitu. Baiklah, aku tahu kamu memang belum bisa memaafkanku. Aku pulang dulu, ya. Kutunggu persetujuanmu untuk tinggal bersamaku besok,” ujarnya pelan sambil beranjak meninggalkan ranjangku.

Saat dia akan membuka pintu kamarku, aku segera turun dari ranjangku dan memeluknya dari belakang.

“Aku belum selesai ngomong tau’. Aku belum bisa melepaskanmu. Aku belum sanggup kehilangan dirimu lagi. Maaf aku belum bisa. Maaf aku egois,” cerocosku langsung.

Mendengar kata-kataku, dia segera membalikkan badan dan menatapku tajam.

“Kamu serius, Cha?” kuanggukkan kepalaku. “Jadi.. kita?? Balikan? Beneran? Yippie… Aku janji bakal jagain kamu, Cha! Aku nggak bakal bikin kamu nangis lagi,” seru Changmin senang sambil mencubit kedua pipiku.

“Aaaa, Changmin! Sakit tauuuu’….,” jeritku sambil mencoba melepas kedua tangannya dari pipiku yang sudah memerah akibat cubitannya.

Kemudian dia mengusap pipiku yang sudah bengkak ini sambil cengar-cengir gaje.

“Aku pulang dulu, ya! Sekarang kamu istirahat aja. Besok aku ke sini lagi. Anterin ampe depan dong!” ujarnya sambil menggandeng tanganku.

Sesampainya di teras rumahku, dia mencium puncak kepalaku serta pipiku kemudian mengecup bibirku sekilas. Setelah itu dia berlari pulang.

***

“Hyaaaa… Changmin! Itu jatah makanan buat sebulan tauuuu’,” teriakku histeris melihatnya memasak untuk yang ke 20 kalinya dalam satu hari ini.

“Tapi aku masih lapaaaar,” jawabnya dengan wajah memelas.

“Tapi kan, besok mau makan apa kita, kalo bahan-bahannya kamu habisin untuk makan hari ini? Perutmu terbuat dari karet, ya?!” gerutuku sebal.

“Ya, nanti malam kita belanja. Uangnya ada, kok!” jawabnya santai semakin membuatku gondok.

Beginilah hari-hariku dengannya sekarang. Penuh dengan keributan-keributan kecil. Kami kadang masih bertemu denggan Jinki. Dia sudah menemukan tambatan hatinya. Gadis yang menarik, cocok untuk Jinki.

~ ~ ~ ~ ~ ~

THE END

Miaaaan, ni ff rada gaje.. oneshoot pertamaku…

Comment yaaaa………

28 thoughts on “Just You”

  1. Waaaaaaaa…..
    Punya mincha.. Punya mincha.. Punya mincha.. Punya mincha… Keereeeeeeeeeeeeennnn….
    Apa lagi waktu mincha lagi sakit terus suami2 ku pada datang…
    Mauuuuuuuuuuu…
    Ya ampuun, pengeeeen bgd hidup sesempurna ini…
    Si mincha bikin ngiri ajeh..
    ^^
    Oia min, komen aye gini:
    Kan mincha udeh balikan lagi tuh sama changmin..
    Apa tak sebaiknya LEE JINKI DIPASANGKAN SAMA SAYA SAJA?
    Kan kasian dia kgak ade pasangan nya..?
    ^^
    Hihihihi..

    1. apa maksud Anda dengan mengatakan suami2 Anda mendatangi saiia??
      huwaaaa…… ini ff teraneh yang pernah aku bikin……

      tapi makasih deh udah suka…. hehehe…. *Wiga: kagak jelas lu!!*

      mmmh….
      Lanaaaa….. se7 nggak kalo Onyu d pasangkan dengan Wiga oen??

  2. Eh, aye baru ngeh pas baca kalimat terakhirnya..
    “jinki sudah menemukan tambatan hatinya, gadis yg menarik yg cocok untuknya”

    WAAAAAAAAAA….
    Bener kann?
    Itu PASTI AYE..
    Hiihhi..
    ^^

  3. lho lho lho
    q pikir ma onew eh kq ma changmin??

    onew ma sp tuh??
    good2 ada uan jg trnyata uas pun ada.
    wow jd brasa ke 3 bulan lalu wkt brjuang hidup hadepin uan..kekeke~

  4. @ Wiga oen: enak aje nyuruh2…. bulan juli baru q nulis2 lgy…. hhaaa….. mami saiia dateng bulan ini… n saiia ga boleh bikin2 cerita kyak gt cbeum cmua urusanq beres…. miaaaan…
    @ mikan jr: nggak rela saiiaaaa….. kkkk….
    @ han ri chan: hehe….

    akhirnya istirahat jugaaaaaak….

  5. kocak! changmin makan 20x sehari emang dasar dia perut karet wkwkwk (dijotos changmin) dalem banget arti ini ff wkwk (apadeh)

  6. eun udah bca ff ini d blog kmu mincha ke ke ke~
    tp gak komen, jd komen dsini aje yak….

    ff’ny keren ….
    hiks…ksian ntu si onew, buat dunk sekuel’ny, kan dsitu onew udh menemukan tmbatan hati’ny, dan org’ny itu eun*plak*……….. jd onew di psangin am eun wkwk*spe lo*…

  7. waaaah dua-duanya bias ku :p haha
    kirain akhirnya mincha bakal milih jinki yg tulus suka sama dia,
    eh taunya sama changmin…. gapapa deh hehe
    seruuuuuuw :3 aku suka hehe

  8. @ pippay: oooo… lam knal jg… sering2 mampir k blog ini yaaaa….. ^^*promosi*

    @ fika: aduuh….. gmn y?? mincha kan cinta mati ama changmin…. hahaha…. *gila kumat*

  9. Wow wow kereeen~ so sweet bgt onewnya~
    Tapi kerasanya changmin kyk yg lebih pnting charanya daripada onew. Aduh maaf malah ngekritik.. m(_._)m. Tapi keren kok, biasanya kan kebanyakan bikin ff berakhir bersama anggota SHINeenya. Berani beda! Keren! Nice ff!
    -newcomer tapi ngomen sepanjang ini =.=”-

  10. weheheheheheheehhe 🙂

    Happy Ending ^^

    Onew-ku memang baik ya, ngerelain Mincha, coba ada aku di situ>>>> hehehehe kidding

    Like it ^^b

  11. kasian jinki. ckckck. sini sini. oppa sm aku ajaa *ditarik key* #digampar istri2nya onew# wkwkwk. ceritanya bagusss. aku kira minchanya bakal jadi sm jinki. taunya kaga. huhu

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s