I Call It Love

I Call It Love

Genre: G

Main Cast : Kim Jonghyun & Kim Kibum

Support Cast : SHINee

Summary : Just read and you’ll find out

“Tuan muda, anda sudah makan malam?” aku menoleh lalu tersenyum pada pelayan tersayangku. “Ne.” ia menutup pintu perlahan. “Apa anda membuat lagu lagi?”

“Hemm.. tidak, kali ini aku menulis sebuah kisah.” pelayanku mengangkat alisnya, pasti penasaran. “Boleh saya dengar cerita anda tuan muda?” aku bangkit dari kursiku lalu duduk di kasur. “Duduk lah, aku akan menceritakannya padamu.” Apa kalian mau mendengarnya juga? Kalau tidak ya sudah tidak usah baca (^.^) .. mudahkan?

Bagi yang mau tahu, mungkin kalian membutuhkan posisi yang nyaman untuk mendengarkan ceritaku dan beebrapa cemilan (^.^). Yang pasti kisah ini bukanlah kisah cinta antara si kaya dan si miskin ataupun si bintang sekolah dan murid baru. Ini kisah tentang bagaimana caraku memandang yang namanya cinta. Hem… agak panjang sih.

Kalian siap? Kalau begitu… ayo kembali ke beberapa tahun yang lalu!

&&&

“Tuan muda.” aku mengerang dan merenggangkan otot-ototoku. “Hari senin tanggal 3 tuan muda. Ini tahun ajaran baru.” aku menguap. “Setengah jam lagi di bawah.” aku memakai kaos kakiku. “Ne, tuan muda.” pintupun di tutup, aku berjalan mendekati lemari buku lalu memutarnya dan kini berubah menjadi lemari yang terisi frame foto.

“Pagi manis, apa kau sudah bangun? Sepertinya aku bangun lebih pagi dari kau.” gumam ku pada foto kekasihku, tidak lama ponselku berbunyi. “Oppa? Sudah bangun?” suara yang begitu imut langsung terdengar begitu aku menjawab panggilan tersebut. “Ne… aku bangun beberapa menit lebih cepat.”

“Bagus lah… sampai bertemu di tempat biasa. Salanghae.”

“Hemm.. nadoh.” panggilan berakhir, aku berjalan menyalakan speaker.

“YAAA!!! CEPAT BANGUN!! SUDAH JAM 8 PAGI!” aku bisa melihat tetangga kanan dan kiri ku langsung melompat kaget… ahahaha.

“BERCANDA!!!! CEPAT SANA MANDI! KITA AKAN TERLAMBAT!”

“YA! MICHOSO?!” bentak keduanya melalui jendela rumah mereka… ahahaha… jika tidak begitu mereka tidak akan bangun. “Jangan berfikir aku akan berhenti yah! Ahahahaha…” ucap ku lagi melalui speaker lalu buru-buru berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dan begitu aku selesai satu stel seragam sudah siap di atas kasur.

“YA! Jonghyun! Kembalikan seragamku!” aku terkekeh melihat tetangga kiriku sedang memanjat pohon dengan susah payah untuk masuk ke kamarku. “Mian… aku lupa.. ehehehe… tangkap!” aku melempar kemejanya tanpa tenaga sehingga kemejanya jatuh ke bawah, jujur ini sengaja sebagai pembalasan karena tidak pernah memanggilku hyung!

“KUBUNUH KAU! TUAN KAAAAAAAANNNGGG!!!” aku tahu kalau dia itu takut ke tinggian. “Kibum, rokmu melorot!” secara otomatis ia melihat kebawah, padahal jelas sekali kalau dia itu tidak menggunakan rok… dasar bodoh!

“Hwuaaaa!!!! Lihat nanti pembalasanku! TUAN KAAAANNNGGG!!!” aku terkekeh lagi. “Sampai jumpa di bawah Kibum. Itu pun kalau kau berhasil turun. Bye-bye!” aku menutup jendela pura-pura tidak mendengar tetanggaku Kibum yang masih menjerit memanggil namaku dan nama kepala pelayannya.

“Hey!!! Bagaimana bisa kau masuk kamarku?”

“Aha… kau belum lebih pintar dariku Jonghyun, dan aku tidak sebodoh dan sepolos Kibum. Sekarang, di mana kau sembunyikan boneka ayamku?” aku menunjuk lemari. “Sincayo? Kenapa aku ragu?” tetangga kanan ku malah berjalan ke arah yang berlawanan dengan jari telunjukku.

“Banyak belajar kalau mau menjahili ku Jonghyun. Sampai jumpa di bawah! Oh tunggu… aku lupa, Taemin kecil meminta topinya yang kau ambil.” dengan pasrah aku mengambil topi warna putih milik Taemin yang aku sembunyikan di bawah kasurku. “Jangan lupa! Bawa susu untuk ganti rugi, bye-bye!” Aku mengendus lalu berjalan keluar kamar menuju meja makan dia lantai satu.

“Baru tiba 1 jam yang lalu dan sekarang masih tidur di kamar.” aku mengibaskan tangan kananku, mulai muak dengan kedua orangtuaku. “Tidak apa-apa, aku maklum.” aku duduk di kursi memandangi berbagai makanan yang tersaji di depan mataku, tapi satu yang menarik perhatianku. Ikan salmon goreng, sederhana tapi ini lah makanan kesukaanku. Pasti ini buatan Dagi ahjumma, satu-satunya pelayan wanita di rumahku yang sangat mengerti aku.

“Ayo tuan, anda siap?” aku membersihkan mulutku lalu meneguk susu dalam satu tegukan lalu air mineral. “Siap! Aku mau pakai roller blade saja.” pelayanku tersenyum lalu mengangguk, walaupun aku sudah punya pacar.. apa salahnya tebar pesona? Ahahaha…

“Minho ya!” panggilku pada tetangga kiriku setelah rumah Kibum. Seperti biasa dia sudah siap dengan papan skate nya, headset menutupi lubang telinga dan pengaman lengkap di siku, lutut dan kepala. “Hari ini ada latihan bola?” tanyaku sambil mencari lagu yang asik di ipod ku. “Ya, persiapan sebentar lagi ada pertandingan kan.” jawabnya sambil mengikat tali sepatu putihnya.

“Hyung… bisakah kau berhenti berteriak di kamarku? Aku penging tahu!”

“Maaf… tapi tidak bisa… ahahaha…”

“Hey kalian berdua! Menurutlah sedikit pada peraturan!” pasti tetangga kananku dan Taemin tetangga di sebelah rumah tetangga kananku. “Kali ini aku tidak akan membiarkan kalian berdua lolos! sepatu putih kalian ini akan ku sita!”

“Jinki hyung, sepatu itu juga di larang.” balas Minho dengan santai, kami langsung memandangi sepatu Jinki. Ya ya… dia menggunakan sepatu hitam putih tapi bukan sepatu hitam dari sekolah. “Kepala KM tidak becus!” ledekku.

“Tuan… tuan muda masih sibuk dengan kemeja putihnya jadi dia akan menyusul saja.” aku terkekeh, “Baiklah tuan Kang, sampai kan maafku pada tuan dan nyonya Kim yah. Tapi jangan sampaikan maafku pada Kibum. Kami berangkat!”

“Hyung… susu!”

“Tangkap!” layaknya kucing yang di lemparkan ikan, Taemin langsung terfokus pada sekotak susu yang aku lempar dan melupakan bahwa ia sedang di boncengi sepeda oleh Jinki.

“HEY! HEY! YAAA!!!!”

BRUKK

Kepuasan tersendiri saat berhasil menjahili Jinki, keduanya langsung jatuh tersungkur. “Taemin! Maafkan aku!” seruku sembari melambaikan tangan dan mengintil di belakang Minho yang beraksi di atas papan skate nya.

“Lihat saja! Kubunuh kau!” seru Jinki yang tiba-tiba sudah berada di belakangku dengan Taemin yang asik menyedot susunya melalui sedotan. “Coba saja kalau bisa!” aku langsung memperlebar langkah dan mengambil posisi di sebelah Minho.

“Hey! Jangan pegang-pegang!” perotes Minho karena aku bergelayut di lengannya. “Ehehehe… sekali saja Minho.” Minho memutar bola matanya lalu mempercepat laju skatenya membiarkan aku tetap bergelayut padanya.

Wah.. pagi ini aku menikmati perjalanan dari rumah ke sekolah, tidak perlu mengeluarkan energi banyak tapi aku sampai di sekolah lebih cepat. Tiba-tiba suara motor terdengar dari kejauhan, aku menoleh. Dan aku mendapati sepatu melayang di depan wajahku, buru-buru aku menunduk.

BUKK!

“Hwua! Minho mianhae!!!” seru orang yang mengendarai motor 250 cc itu, helm bagian depan dinaikan ke atas jadi wajahnya bisa terlihat. Ternyata Kibum… hahaha… tepat sasaran tapi target menghindar. Aku membantu Minho berdiri, berjuta *lebay* pasang mata menatap kami… maklumlah, anak-anak seperti kami berlima memang anak pentolan sekolah.

“Berhenti bersikap seperti anak kecil!” ujar Minho dingin sambil menepuk celana coklat mudanya yang sedikit kotor lalu ia melepas helmnya. “Kalian berdua…” Minho menatap kami dengan kesal dan berlalu bersama Jinki dan Taemin. “Ini semua gara-gara kau!” tudingku. “Enak saja!” elak Kibum.

“Hanjo!” seruku membuat Key reflek menoleh, secepat kilat aku kabur dari hadapan Kibum. “YA! YOU PERVERT!” Key menarik gas dan langsung mengejarku. Kami berdualah yang selalu membuat sekolah kami… Danggu High School, SMA swasta ternama di Seoul menjadi lebih ramai dan berwarna. Kami berlima bukanlah anak-anak satu geng atau sahabat-sahabat yang selalu berkumpul, kami hanya teman karena rumah kami berlima sederet dan orang tua kami sahabat sejak kecil.

Kami tidak begitu dekat kecuali aku dan Kibum, kami memang seperti anjing dan kucing atau bahkan air dan minyak. Tapi justru ini yang membuat kami lebih dekat, Jinki adalah tukang belajar. Minho pendiam walaupun ia selalu bermain bola bersamaku setiap sore, sedangkan Taemin hanya anak kecil.. ok, dia 2 tahun di bawahku. Terlalu kecil dan manja, walaupun aku sayang padanya tapi aku tidak mungkin mengajaknya nongkrong di luar. Bergaul dengan anak-anak nakal seperti teman-temanku, aku lebih senang Taemin menjadi anak rumahan sehingga aku bisa memantaunya setiap waktu.

Jadi hanya Kibum yang pas bermain denganku, lagi pula rumahnya di sebelah kiriku. Kadang-kadang dia bisa menjadi orang yang lebih manja dari Taemin, sangat kekanak-kanakan tapi dia tetap sosok seseorang yang menyenangkan. Dia tidak punya banyak teman, lebih tepatnya tidak banyak orang yang menarik perhatiannya untuk di jadikan teman.

***

“Oppa, kamu masih gak mau publikasiin hubungan kita?” tanyanya lalu menggigit burger pemberianku. “Aku udah bilang kan, nanti pasti aku publikasiin. Tapi gak sekarang, lusa kamu harus masuk yah!”

“Aku pasti masuk, mana mungkin aku gak masuk kalau oppa masuk… ehehehe.” senyumnya benar-benar berhasil membuatku takluk. Senyum inilah yang berhasil membuat ku luluh sekitar 358 hari yang lalu, dan lusa… aku akan memberi tahu pada seluruh murid di sekolah ini bahwa gadis manis di sebelahku ini yang bernama Ga Yong adalah pacarku. Tepat di hari jadinya 1 tahun kami dan saat acara pementasan seni sekolah.

&&&

“Wah.. anda seperti orang yang sudah sangat berpengalaman tuan muda!”

“Ahahaha… tidak juga. Dari cerita-cerita Kibum aku banyak belajar apa yang di sukai oleh wanita dan apa yang tidak wanita sukai. Dia sering bercerita padaku, dan aku sering memberinya solusi… itu bahan pelajaranku sebenarnya.”

“Gadis yang menjadi kekasih anda adalah gadis yang beruntung.”

“Tidak juga… menurutku lebih beruntung lagi jika seorang gadis bisa mendapatkan Kibum. Maksudku… mendapatkan Kibum seutuhnya, bukan hanya popularitas, harta dan raga Kibum saja.”

“Hem… kenapa sekarang saya merasa kalau wanita itu mengincar popularitas yah tuan?”

“Ahahaha… tidak juga… makanya dengarkan dulu ceritaku sampai habis.. baru kau akan tahu akhir kisah ceritaku yang belum benar-benar berakhir ini.”

“Baiklah, maaf kan saya tuan.”

&&&

Aku berlatih sepanjang hari, memperbaiki cara bermainku dan terus memperbaiki lagu yang akan aku persembahkan untuk Ga Yong. Gadis pertama yang berhasil memikatku, membuatku menjadi pengagum rahasianya sejak kelas 1 di sekolah menengah.

Setiap pagi menjadi rutinitas melihat foto Ga Yong begitu bangun, bukan hal yang aneh lagi bagiku karena sebentar lagi hubungan kami satu tahun. Bukanlah waktu yang sebentar, dan setelah aku mengumumkan pada seluruh murid di sekolah maka penjagaanku pada Ga Yong harus lebih maksimal karena anak Ga Yong bukan anak popular. Aku takut dia akan di hajar oleh gadis-gadis sok popular yang memang selalu menindas gadis lain yang mendapatkan laki-laki popular.

“Ya Jonghyun!” aku menoleh terkejut, tiba-tiba Kibum sudah ada jendela rumahku. “Kau ini sedang apa sih? Kau kan bukan pacarku dan kita sedang tidak syuting film!” omelku tapi mengizinkan Kibum masuk. “Lagi pula siapa juga yang mau jadi pacarmu! Aku masih suka wanita!”

“Sangat suka!” aku menyeringai meledeknya, dasar playboy!

“Dengar-dengar! Aku ingin minta bantuanmu Jonghyun!”

“Hyung!”

“Hey.. berapa sih umurmu!”

“Kalau begitu pulang lah…” aku bersiap membuka jendela. “Baiklah.. kau tahukan aku ke sini dengan susah payah! Kau pikir gampang apa menyebrangi daratan melalui dahan pohon yang bisa patah kapanpun!”

“Kalau phobiamu kambuh aku yakin 100% pohon itu akan rubuh!” ledekku lalu kembali duduk di kursi depan grand piano putihku. “Ya ya… baiklah. Aku butuh bantuanmu… hyung! Puas?!”

“Wah… apakah aku menyuruhmu memanggilku hyung? Hebat sekali, aku di panggil hyung oleh Kibum.. hahahaha!”

“Aggghh!!! Apa sih maumu!” rengek Kibum kesal, lebih kekanak-kanakan dari pada Taemin. “Baiklah.. cepat katakan! Aku sibuk.”

“Ehem.. begini, lusa kan ada pertunjukan murid kelas 3. Sedangkan aku murid kelas 2, jadi aku tidak bisa tampil. Nah… aku ingin kau menggantikanku.” aku mengerutkan alis. “Jadi… kau buatkan aku lagu, besok aku ingin menyatakan cinta.”

“Menggantikan katamu?! Enak saja… jelas-jelas kau memintaku membuat lagu untukmu dan kau bilang itu menggantikan namanya?!”

“Baiklah-baiklah… aku minta kau perform untukku, bagaimana? Persembahkan lagu untukku dan…-“

“Hanjo?” wajah Kibum langsung bersemu merah. “Ngomong-ngomong, Hanjo itu siapa? Anak kelas berapa?”

“Ya tuhan Jonghyun!!! Kau! Errrggghh!!! Hanjo itu murid di kelasku! Kalau kau tidak tahu lalu kenapa tadi pagi kau menyerukan nama Hanjo?!”

“Karena kau bodoh! Aku kan pernah bilang kalau aku tidak tahu siapa Hanjo kenapa kau selalu percaya setiap kali aku menyebut namanya. Lagi pula…kenapa tidak kau saja yang membuat lagu? Kau bisa main piano kan?”

“Ya… aku juga buat lagu sih.. kalau gitu dengarkan yah, aku akan memainkannya. Awas!”

“Tidak tidak! Piano ini mahal!” Kibum terus mendorongku. “Aku sudah sering main piano, jadi dengarkan saja laguku!”

There’s only one thing to do

Three words for you

I Love You

“Tunggu! Berhenti! Itu sih bukan lagumu! Itu lagu Plain White T’s! Dasar tukang bohong!” aku mendorongnya menyingkir dari kursiku. “Makanya itu! Buatkan lagu untukku atau aku akan menghancurkan piano kesayanganmu ini!”

“Baiklah, baiklah… sekarang cepat pergi dari sini! Sampai jumpa!”

***

“Ga Yong! Kibum akan menyatakan cinta pada murid sekelasmu, kalian berdua sekelas kan?”

“Ne? Sincayo?! Kibum, sahabatmu sejak kecil itukan?” aku mengangguk dengan yakin. “Waaahhh… ini adalah sebuah berita yang sangat hebat. Kira-kira siapa yah gadis pilihannya.. apa oppa tahu?” tanya Ga Yong dengan mata berbinar-binar. “Ya aku tahu, tapi aku tidak bisa memberitahumu. Kalau aku memberitahumu ini bukan kejutan lagi, dan aku tidak mau Kibum menuduhku membocorkan rahasia.”

“Kalau gitu inisialnya saja.”

“H.”

“H? Ya ampun… ada 5 orang murid wanita yang inisialnya H.” ucapnya merajuk. “Ya sudah tunggu saja sampai besok. Aku akan bernyanyi untuknya di pentas seni nanti, tadinya Kibum minta tolong untuk di buatkan lagu. Tapi… tidak ada cukup waktu untuk membuat lagu, jadi aku memutuskan untuk memainkan lagu orang lain saja.”

“Wah.. kalau begitu aku pasti menyaksikan penampilan oppa! Pasti oppa sangat keren, aku tidak sabar untuk besok. Oh ya.. oppa hari ini harus membantu Jinki oppa yah?”

“Tenang saja.. aku tidak akan pulang sampai larut malam kok. Lagipula panggung ini di kerjakan banyak orang, berdoa saja supaya acaranya berhasil dengan sempurna. Dan tolong doakan agar besok tidak hujan, perasaan ku tidak bagus karena hari ini cuacanya mendung sekali.” bel masuk berbunyi, kami berdua buru-buru berpisah agar tidak ada yang melihat kami.

***

“HUJAN?! YA TUHAAAANNN!!! AKU SUDAH BERKERJA SUSAH PAYAH TAPI MALAH HUJAN?! YANG BENAR SAJA!” aku jadi merasa iba pada Jinki. Dia berkerja mati-matian sepanjang liburan, menyiapkan seluruh dana, dekorasi, jadwal, menyebar undangan, dan masih banyak lagi.

Menurut rencana acara ini akan di gelar outdoor karena ini acara umum, kami mengundang murid dari sekolah lain. Walaupun kadang-kadang aku ingin sekali membunuh Jinki tapi tetap saja dia adalah ketua terbaik merangkap murid terbaik di sekolah ini. Baik luar dan dalam, dia memiliki banyak talenta sayang tidak tertarik pada wanita… dia lebih tertarik pada nilai, karir dan hasil kerjanya.

“Kibum… kau ada di mana?” tanyaku langsung begitu Kibum menjawab panggilanku. “Di rumah lah! Memangnya ngapain hujan-hujan keluar rumah! Besok hari penting aku tidak boleh sakit!”

“Ehem.. begini, kami butuh bantuanmu.” huff… kalau aku tidak meminta bantuan Kibum sekarang bisa-bisa Jinki mati karena stress, dia masih terus guling-gulingan di lantai dengan kesal sedangkan murid lain hanya bisa memandanginya dengan oba dan beberapa kali menahannya. “Apa?”

“Kau ini kan orang kaya, tolong buatkan kami panggung.”

“Apa?! Enak saja! Jadi maksudmu aku harus membayar untuk panggung kalian?! Aku kan sudah menyumbang banyak.”

“Hey Kibum! Di sini hujan lebat, kami tidak bisa melakukan pembangunan panggung. Berhubung uangku tidak sebanyak uangmu, aku memutuskan sebagai imbalan membuat lagu untukmu aku menyuruhmu untuk melakukan sesuatu agar panggung bisa jadi dengan sempurna dan kalaupun besok hujan, acara bisa berjalan dengan lancar.”

“Apa?! Jadi kau menjilatku?!”

“Tidak.. siapa bilang.. lebih baik aku menjilat permen dari pada menjilatmu.” (XP)

“Ya! Aku serius!”

“Aku juga! Cepat lakukan sesuatu atau aku tidak akan membuatkanmu lagu!” aku langsung terkekeh, bocah yang satu ini… kaya raya tapi sangat bagus untuk menjadi budak.

“Ya! Jinki… tenang saja, sebentar lagi bantuan akan datang.” mendengar itu Jinki berhenti berguling-guling di lantai. “Jongmalyeo?!” aku tersenyum licik.

&&&

“Ya ampun tuan muda… jadi waktu itu…-“

“Ne? Wae?”

“Waktu sehari sebelum acara itu, tuan Kibum langsung berlari ke mari dan bilang pada saya kalau anda ingin menarik tabungan anda untuk membuat big roof di atas panggung sekolah anda. Jadi saya menurut dan menarik setengah tabungan anda.”

“MWO?! Kenapa kau baru bilang sekarang?!” (>w<)

“Maaf kan saya tuan, saya benar-benar tidak tahu. Karena kalian berdua sudah bersahabat sejak kecil jadi tuan muda Kibum saya anggap seperti anda sehingga saya akan langsung menurut dengan apapun yang ia minta.”

“Errrggghhh!!! Dasar! Bocah itu benar-benar cari mati! Pantas saja hasil tabunganku tidak sebanyak dugaanku!” (O.o)

“Maaf kan saya tuan… jadi, bagaimana kelanjutan ceritanya?”

&&&

15 menit kemudian beberapa mobil datang ke sekolah kami, membangun big roof dan memberikan makanan untuk kami semua. Wow… hebat! *oke.. saat itu aku berfikir hebat tapi sekarang! Ternyata itu semua dari uangku!*

“Hoy… apa orang suruhanku sudah tiba?”

“Ya ya sudah… sekarang kami semua sedang makan.”

“Setelah makan kalian bisa pulang, orang suruhanku yang akan mengerjakan semuanya. Oh… bilang pada yang lain mereka bisa pulang naik limo yang ku suruh untuk menjemput mereka dan mengantar mereka ke rumah masing-masing. Kau kan sudah pasti di jemput, pulang lah bersama Jinki hyung sebelum kalian kena flu.” hemm… sudah lumayan berubah, baik sekali.

Setelah makan kami berjalan keluar dan sebuah limo terparkir di depan gedung sekolah. Sepertinya aku mengenal limo itu… ah.. pasti punya Kibum, baik sekali dia. Aku menyuruh mereka untuk masuk ke limo itu sedangkan aku dan Jinki pulang bersama dengan mobilku.

&&&

“Tuan, tuan… itu.. limo nya… itu bukan milik tuan muda Kibum. Tapi itu milik anda juga, baru datang pagi-pagi. Saat kami ingin mengantar anda dengan limo anda menolak dan lebih memilih untuk berangkat seperti biasa. Lalu tuan Kibum datang dan bilang kalau tuan muda membutuhkan limo anda.”

“APA?! YA! KIM KIBUM!!!” seruku lalu hendak membuka jendelaku lebar-lebar. Tapi aku lihat di seberang sana Kibum sedang di hajar habis-habisan oleh kedua adiknya. Yang paling kecil menarik-narik rambutnya sedangkan yang lebih besar bergulat dengan Kibum. tapi jelas saja Kibum akan kalah karena rambutnya di tarik oleh adik kecilnya dan tiba-tiba saja kedua adiknya menggigit perut Kibum. Ahahahha… kalau begini aku tidak perlu balas dendam. (XD)

&&&

Besoknya sekitar 1 jam sebelum pentas seni di mulai aku berjalan menyusuri koridor lantai 4 khusus murid-murid kelas 2, dan sudah pasti.. aku menjadi pusat perhatian. Pertama, karena dasiku. Kedua, karena sepatuku. Dan ketiga, karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di lantai 4 setelah menjadi senior kelas 3.

“Oppa… ini untukmu.” aku menghentikan langkah, oppa?! Aku menoleh. Seorang gadis yang di kucir 2 menyodorkan kotak berwarna biru. “Gomawo.” aku mengambil kotak tersebut lalu tersenyum padanya, tiba-tiba saja dia lari masuk ke kelas. Aneh. aku kembali berjalan… ahh ini dia kelas Ga Yong!

Aku hendak menarik kenop pintu tapi aku urungkan karena aku melihat sesuatu… lebih tepatnya aku merasakan sesuatu yang tidak baik. Aku memberi sedikit celah agar bisa mengintip ke dalam.

“GA YONG !!!! KAU BERUNTUNG!!!” teriakan gadis-gadis itu nyaris membuatku terkejut. “SUDAH TERIMA SAJA KIBUM!!! LAGI PULA KAU TIDAK PUNYA PACAR!” yang lain berteriak lagi. Kibum?! Bukan kah Kibum mau menyatakan cinta pada gadis yang bernama Hanjo?? Kenapa malah pada Ga Yong?!

“Ehem… begini.. kalau kau menolakku makan cium pipiku. Tapi kalau kau menerima ku maka kau harus mencium bibirku. Bagaimana?”

“Tapi.. apa istimewanya aku?”

“Entahlah… hanya saja kau berhasil menarik perhatianku. Sekarang pilih… pipi atau bibir?” aku memicingkan mata. APA?! Bagaimana bisa Ga Yong dengan mudahnya mencium Kibum?! Bahkan dia tersenyum…

“SEMUANYA!! DENGAR BAIK-BAIK.. GA YONG ADALAH KEKASIHKU MULAI SEKARANG!”

&&&

“Ya ampun tuan muda… anda…-“

“Aku tidak mengalah. sebenarnya ceritanya masih panjang tapi aku singkat saja. Jadi setelah mendengar itu aku menghubungi ponsel Kibum dan memberinya selamat, aku bertanya kenapa dia menyatakan cinta pada Ga Yong padahal jelas sekali dia bilang ingin menyatakan cinta pada Hanjo. Dan ternyata Hanjo adalah panggilan khusus darinya, sangat mengecewakan juga melihat pacar kita memilih orang lain tepat di hari anniversary. Tapi apa boleh buat? Aku ingin menyalahkan Kibum tapi dia tidak bersalah, satu-satunya orang yang bisa aku salahkan hanya Ga Yong dan diriku sendiri. Biar bagaimanapun kalau memang Ga Yong itu jodohku atau bisa di bilang cinta sejatiku maka seharusnya dia tidak pergi begitu saja dan meninggalkanku. Dan untungnya aku masih bisa berfikir dengan akal sehat, Kibum jauh lebih setia di bandingkan Ga Yong.”

“Maksud anda?”

“Aku sudah bersama dengan Kibum sejak ia lahir, dan dia belum pernah sekalipun meninggalkanku walau dalam keadaan apapun dia pasti ada. Yaaaa walaupun kami sering bertengkar tapi dalam sebuah hubungan juga butuh pertengkaran kan? Termasuk hubungan persahabatan. Itu adalah alasan kuat yang berhasil meredam amarahku, dan aku berhasil melupakan Ga Yong begitu saja. Kejadian itu memang membawa efek samping sih, sampai sekarang aku sulit percaya pada gadis-gadis di luar sana. Tapi setidaknya aku mendapat pelajaran dari semua itu, dan satu yang masih aku percaya. Aku tidak mengalah pada Kibum… tapi aku melepaskan Ga Yong karena dia tidak pantas aku jadikan pacar. Dan sementara ini cinta sejati sebenarnya yang aku miliki adalah keluarga ini dan Kibum. Menjijikan memang jika orang salah mengartikan, tap kau akan trharu saat tahu makna cinta sebenarnya antara aku dan Kibum. Cinta persahabatan yang sejati. Kita semua ada karena cinta kan? Cinta memang bukan segalanya tapi segalanya butuh cinta, samahalnya seperti uang (^.^).”

“Anda menangis?”

“Pertanyaa bagus… aku memang belum pernah menangis sekalipun semenjak noona dan dongsaeng meninggal, tapi jawabannya adalah ya… aku menangis. Menangis karena aku salah memilih pacar pertamaku, dan aku menangis karena aku menangisi hal itu.”

“Pasti menyakitkan sekali.”

“Tidak lebih menyakitkan saat menyaksikan noona tewas di hadapanku. (T.T)”

“Anda jadi menyanyikan lagunya?”

“Ya… pada akhirnya aku membawakan lagu orang lain, lagu Plain White T’s yang 1,2,3,4 dan lagu Leoniel Richie yang I Call It Love.”

“Tuan muda Kibum masih belum tahu tentang ini sampai sekarang?”

“Dia akan segera tahu… detik ini juga saat ia membaca kisah ku ini.” Dan aku yakin satu-satunya orang yang akan mengucapkan maaf adalah Kibum… tunggu saja sampai kalian melihat kata itu maka kalian juga akan tahu siapa Kibum dan siapa aku.

“Sampai sekarang masih tidak ada yang menarik perhatian anda?”

“Ada… satu… tidak cantik, tidak tinggi, tidak langsing, tidak kaya, dan lebih tepatnya aku tidak tahu seperti apa dia. Tapi dia berhasil menarik perhatianku sejak awal mengenalnya. Yang aku tahu aku selalu merasa senang saat bicara dengannya, dan terkadang terlalu senang sehingga sering gugup. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar telah jatuh pada sebuah kata. They call it, you call it, we call it and I call it LOVE.”

Dan di sini lah kisahku berakhir… kisah seorang laki-laki yang patah hati. Dan saat kisah ini berakhir aku akan menulis lagi suatu saat nanti, sebuah kisah seorang laki-laki yang berhasil menemukan cinta sejatinya. Nanti.. suatu saat nanti saat aku sudah bisa mengucapkan kata cinta dengan lantang di depan semua orang.

~Fin~

P.S: Maaf kalau aneh.. 2 jam jadi ^^, dan di angkat dari kisah nyata soalnya. Udah gitu ini pertama kalinya nulis, jadi kalau agak ngaco mohon maklum… *bow.. he he he

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
  • Opern page LIBRARY if you miss some FF ^^
Advertisements

The Name I Love – Part 3

The Name I Love


Main Cast : Onew


Tuhan aku bersumpah jika dalam hitungan ke-5 dia membalikkan badannya, maka aku akan memaafkan dia dan melupakan semuanya. ‘hana. . .dul. . .sam. . .sa. . daa seoot. …

Ingat, pertama kali aku melihatmu menghampiri diriku

Dan mencuri hatiku tanpa sepengetahuanku

Dan air mataku semakin deras keluar saat tubuhnya menghilang dari pandanganku.Sekarang, aedakajyeo? Sun Yiiii….. AaaAEEDOOKAJJYEooOO????.

Sesaat lamanya aku masih berdiri disini. Masih menunggu dia membalikkan badannya.Takut saat aku pergi dia tidak menemukanku disini. Setengah jam. .. . sattu jaamm. .dan akhirnya aku merasa lelah. Aku tersenyum pahit, kenapa bisa sebodoh ini? Aku yang marah padanya tapi kenapa takut akan kehilangan dia. .?.

****

Kkkkkyyyyaaaaaaaaa!!!!!

Aku memukul-mukul boneka Teddy bear super besarku dengan gaya seorang petinju professional sedang beraksi diatas ring. Sambil memasang wajah yang basah karena air mataku gak berhenti keluar, aku jadi makin panas memukul sampai tanganku agak nyeri karena kadang-kadang sasaranku terkena mata boneka yang lumayan keras. Tapi berhubung sedang kesal beraduk marah, aku sama sekali nggak peduli.

“Mati kammu DdduuuBBBBuuuu….!!!!” Teriakku kesal.

Suara gedoran pintu kamar menyadarkanku dari aksi brutalku terhadap boneka yang tidak punya dosa. Aku melempar bonekaku ke atas tumpukkan bantal dan guling, dan menghapus pipiku yang basah, lalu membuka pintu.

“Ri rin. . !”. aku berusaha menutup pintu lagi tapi Ri rin dapat mencegahnya.

“Tunggu dulu Sun Yii. .aku mau kasih tahu kamu sesuatu. .!”.

Aku teringat dengan omongan Minho tadi siang kalau Ri rin memang gak punya hubungannya dengan masalahku ini. Akhirnya aku membiarkannya masuk kedalam kamarku

“Ngapain  kesini?” tanyaku ketus.

“Kau masih marah denganku? Miianhaeyo Sun Yi. aku benar-benar gak tahu apa-apa”

“Nee. .nee. .aku tahu. Apa cuman ini yang ingin  kamu katakan?”

“Anniyyoo. .”. Ri rin menggelengkan kepalanya cepat.

“Laluu. .?”

“Onew masuk rumah sakit!

“Haah..?” aku merasakan hatiku sesak.

“Onew masuk rumah sakit. Tadi sore Minho menemukannya pingsan di belakang bangunan kelas kita dan kamu tau kenapa dia pingsan?’

“Aku tahu. Dia stress karena kebohongannya udah kebongkar!”kataku asal.Aku berusaha menutupi kegelisahanku.

“Annii Sun Yi, Minho bilang Onew punya penyakit gagal ginjal!. Dan itu udah lama.”

“Apa aku harus percaya dengan orang seperti Minho lagi?”. Tanyaku sinis.

Ri rin tersenyum kecut. “ Kamu pasti tahu Onew gak pernah ke kantin, kata kamu, dia sering bawa makanan yang gak ada rasanya, roti yang gak ada selainya. Itu   karena orang yang punya penyakit kayak gitu gak boleh makan sembarangan. Hampir setiap minggu dia gak sekolah dengan alasan ijin kan? Kamu tahu Sun Yi?, itu karena dia harus cek up ke rumah sakit.”.

Aku tidak bisa mengatakan apapun. Kenapa baru menyadarinya sekarang?

“Kau tahu ini semua dari Minho?”.

Ri rin mengangguk.”Dia memberitahukannya ditelpon tadi dan dia menyuruhmu untuk datang kerumah sakit sekarang”

“Tapi Onew sudah berbuat salah padaku”.

“Apa rasa sukamu padanya tidak bisa menghapus kesalahan Onew padamu?”

“Suka?. .”. Ri rin mengangguk lagi “Apa keliatan banget ya aku menyukai dia?”tanyaku polos.

“Nee. .dan dia juga menyukaimu. .”. Ri rin tersenyum manis.

“Anniyyooo. .jika dia menyukaiku dia tidak mungkin berbuat seperti apa yang telah dia lakukan padaku.”

“Percaya padaku! Minho sudah memberitahukan semuanya termasuk perasaan Onew padamu. Onew cuma ingin membuatmu bahagia, hanya saja caranya salah.”

“Sekarang, Aedokajyeoo. .?”. Lagi lagi kata-kata itu keluar dari mulutku.

“Sebaiknya, kamu kerumah sakit.”. Ri rin memelukku. “Onew menunggumu”. Bisiknya.

######

“ Odie Pasien yang bernama Lee jin ki?”

“Lee Jin Ki? Sebentar..” kata perawat sambil mengecek catatannya. “Lee Jin Ki ada di kamar VIP 154!”

“Kansahamnida”.kataku sambil membungkukkan badan. Aku langsung berlari cepat mencari kamar yang dikasih tahu perawat tadi.

Begitu sampai didepan pintu, aku bergegas membukanya dan masuk ke dalam. Di atas tempat tidur terlihat sosok Lee Jin Ki yang terbaring lemah. Ada selang kecil yang di masukkan ke tangan kirinya. Ada alat pemberi oksigen di hidungnya.Alat pendektesi jantung Onew ada disamping ranjang.

Donghae Ahjussi dan mungkin perempuan yang ada disampingnya Uma tiri Onew sekaligus Umma kandung Minho *(==”)* dengan wajah khawatir menunggu disamping tempat tidur. Mereka menoleh ke arahku yang datang secara tiba-tiba. Mungkin mereka tampak asing melihatku..

Begitu melihat Onew, Aku hanya bisa tertegun berdiri. Sekuat tenaga menahan shock yang menyerang segenap jiwa dan ragaku. Tidak percaya bisa seburuk ini.Aku berjongkok disampingnya dan tak henti-hentinya menatapnya. Kenapa bisa kayak gini?.

“””””

Dinginnya malam mengahadirkan sunyi yang begitu menakutkan. Di koridor Rumah sakit yang panjang dan terlihat sepi, aku dan Minho duduk berdampingan disebuah bangku panjang. Kalau saja Minho tidak bilang ingin menjelaskan semuanya, aku tidak mau bertemu dia lagi apalagi duduk-duduk seperti ini.

“ Walaupun Onew dongsaeng tiri aku, tapi aku kasihan tiap liat dia harus cuci darah. Kalo Umma lagi sibuk terpaksa aku yang harus nganterin dia ke rumah sakit tiap hari Minggu..”

“Terus gimana awalnya Onew menyuruhmu menjadi pacar aku?”

“Waktu itu aku gak sengaja liat dia lagi ngelamunin foto kamu..! awalnya dia gak mau cerita tentang kamu tapi akhirnya dia cerita juga, dia bilang kamu selalu nungguin aku di gerbang. Aku gak percaya ada orang yang ngefans segitunya ma aku……”.goda Minho.

“Aaaiiisssshh…itu ddduulluu! Dduuuulluu bangettt”kataku gak bisa terima.

“Nee nee.. miiaannhaeeyyoo ya Sun Yi”. Minho membungkukkan badannya.

“Nee.. aku maafin.   Minhoo. .apa benar Onew menyukaiku. .?”. Tanyaku dengan sedikit malu.

“Menurutku iya! Jika dia tidak menyukaimu dia gak bakalan melakukan semua itu.”

Aku termenung sesaat… apa benar dia menyukaiku?. Dia terlalu Pabo untuk menyembunyikan ini semua.

“Dongsaeeng…” Aku menoleh pada Minho.. baru kali ini dia memanggilku dongsaeng, umurku memang lebih muda satu tahun dari Minho. Dia mengacak rambutku lembut..

“Hwaiiting..!”. Ucapnya semangat

Aku hanya bisa tersenyum datar mendengarnya. Tadinya aku ingin menanyakan tentang hubungannya dengan Ri rin tapi sudahlah aku tidak mau merusak suasana yang sudah tenang ini.

+++++

Di Ruang inap, Aku merebahkan kepalaku di atas kasur Onew, air mataku pun mengalir perlahan. Ruangan ini hening, hanya suara monitor jantung yang terdengar naik turun…. Aku mencoba memejamkan mataku.. gelap. Apakah ini yang dirasakan Onew?…. ‘Nee. .Sun Yi. . aku berjanji setelah ini aku akan pergi untuk selamanya dari kehidupanmu’..Kata-kata Onew saat pertemuan terakhir kita di belakang sekolah terngiang-ngiang di telingaku. Bayangan dia memelukku.. mengusap rambutku.. tertawa bersama, diam bersama di belakang sekolah itu terasa nyata aku rasakan.

Dan semua buyar saat seseorang menepuk pundakku. Aku langsung terbangun dengan pipi yang basah. Mataku menangkap Umma kandung Minho yang sekarang aku tahu dia bernama Neul Rin Ahjuma *Hikss. .apa aku setua itu?* telah duduk disampingku. Dia tersenyum dan mengusap rambutku perlahan.

“Kau tidak pulang..? apa Umma dan Appamu tahu kau disini?”

“Nee Ahjuma. Mereka tahu aku sedang menengok temanku dan mereka mengijinkanku untuk menginap di rumah sakit.”

“Baguslah kalau begitu…kaukah yang bernama Park Sun Yi..?”

“Ne.. wae Ahjuma..?”tanyaku.

“Anii.. namamu sering disebut Jin ki kalau dia sedang curhat dengan Ahjuma…”

“Jeongmal..? Onew ternyata suka curhat juga…?”. Spontan aku menoleh melihat wajah Onew yang pucat pasi tertidur dengan selang-selang yang entah apa itu namanya.. senyumku berubah menjadi senyum yang mengiris. Andaikan kedua mata itu terbuka. Mungkin aku akan mengejeknya habis-habissan

Aku kembali menoleh pada Ahjuma karena dia menggenggam tanganku dengan erat.

“ Jin Ki memang anak yang tidak bisa mengungkapkan isi hatinya. Tapi sebenarnya dia anak yang periang apalagi kalau sudah membicarakan kamu. Dia pasti akan terus tersenyum. Ahjuma sering tertawa kalau Jin Ki menirukan tingkah kamu yang sedang sebal, marah, malu. Kami berdua tertawa bersama seakan Ahjuma juga sudah mengenalmu lama. Tapi jika dia sudah teringat dengan penyakitnya, dia selalu tiba-tiba menjadi seorang yang pendiam. Dan kata Donghae Ahjussi itu sudah berlangsung sejak Jin Ki masuk SMA karena pada saat itu kata Dokter umur Jin Ki takkan bertahan lama kecuali ada donor ginjal yang cocok, Jin Ki selalu putus asa karena Ummanya meninggal karena penyakit yang sama.” Ada gurat kesediahan di wajah Neul Rin ahjuma.

“Ahjuma.. apa Onew bisa sembuh…?”

“Wae..? Kenapa kamu bertanya begitu..?”

“Entahlah… aku merasa aku tidak mau Onew meninggalkanku.”

“kau menyukainya?”

“mmm..mm Nee…!”. Jawabku malu.

“Jin ki pasti senang mendengarnya..tapi entah sampai kapan mata itu tertutup”. Mata Ahjuma menatap Tubuh Onew kosong…

“Kenapa Ahjuma bilang begitu…? Bukankah Onew akan sembuh…?”

“Semoga saja kata-katamu ini benar.. tapi kata dokter…..”

“Dokter bilang apa Ahjuma…?”. Mulutku bergetar saat bicara.  Ketakutan seakan telah ada dibelakangku.

TBC…

By Ahn Neul Rin

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For Namja Shawol.. Don’t be shy or lazy to write a comment please
  • BUAT YANG PUNYA WORDPRESS… LIHAT DI PALING ATAS ADA BUTTON LIKE SAMA LAMBANG BINTANG… TOLONG DI KLIK KALAU KALIAN SUKA SAMA FF NYA ^.^.. SUPAYA AUTHORNYA TAHU SEBERAPA BANYAK YANG SUKA FF MEREKA.. GOMAWO