Happy Ending

Happy Ending

Author : Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Casts:

–         Onew

–         Jonghyun

–         Changmin

–         Sora

–         Mincha

–         Rie

Rating: PG-13

Membosankan! Temen-temen pada ke mana sih? Tega banget ninggalin aku sendirian. Laper, tapi males banget nih mau ke kantin. Aduuuh, kok nggak cepet bel sih? Huhuhu….

“Chaaaa…..,” terdengar sebuah suara memanggilku. Aku menoleh ke arahnya dengan wajah lesu. Begitu dia sudah duduk di sebelahku, dia mulai bercerita dengan ssangat heboh.

“Cha, Cha tahu nggak?!” ucapnya dengan antusias. Aku hanya menggeleng pelan sambil menatapnya malas.

“Yeee, aku kan emang belum selesai ngomong,” katanya kesal,”denger deh. Ternyata Onew suka sama kamu loooooh. Aku baru tau tadi,” lanjutnya menggebu.

“Terus kenapa?” tanyaku dengan tampang bodoh.

“Kamu mau nggak kubantuin biar makin deket ama dia?” tawarnya dengan heboh.

“Supaya apa? Nggak usah, Rie. Kamu tuh apa-apaan sih. Aku nggak minat,” tolakku dengan kepala di meja mencoba memejamkan mataku. Entah kenapa, hari ini rasanya aku nggak semangat melakukan apa pun.

“Kamu ini kenapa sih? Dia itu udah cakep, pinter, kaya lagi.” desak Rie setengah memaksa.

“Ambil gih sono! Kita tuh masih kelas 5 SD tauuuk ngapain ngurusin hal itu sih?” jawabku santai.

“Aissh, Mincha! Jangan bilang kamu masih mau nunggu Changmin. Pacar macam apa dia? Pindah tanpa memberitahumu,” Rie ngomel-ngomel nggak jelas.

“Changmin? Nggak, aku nggak pernah mikirin dia, nggak pernah nginget dia lagi. Nggak penting. Udah ah, aku pusing, aku mau pulang aja. Ntar tolong ijinin ke guru ya,” ujarku sambil mengambil tasku di laci meja lalu berjalan keluar kelas. Nggak kuhiraukan sahabatku, Rie Na, berteriak memanggilku.

Aku merebahkan badanku di atas ranjang kesayanganku begitu tiba di rumah. Rumah sepi, papa dan mama belum pulang. Terngiang kata-kata Rie Na di kelas tadi, ‘denger deh. Ternyata Onew suka sama kamu loooooh.’ Masa iya sih? Dia kan selalu jadi korban kami. Selalu kami kerjain, mana mungkin bisa suka sama aku. Ah, Rie ngimpi kali tuh. Udah ah, mending aku tidur aja sekarang.

“Cha, Mincha. Bangun, sayang! Udah sore, ada latihan nyanyi kan buat perpisahan?” aku langsung bangun dan segera melihat jam. Udah jam 3 sore, aku latihan jam setengah 5. Aku segera mandi setelah mengucapkan terima kasih pada mama yang entah pulang jam berapa tadi.

Jam 4, aku sudah siap dan pamit pada kedua orang tuaku untuk pergi ke sekolah. Biasalaaaah, latihan nyanyi buat acara perpisahan kakak kelas. Baru saja aku akan keluar rumah, telepon di kamarku berdering. Aku segera berlari masuk ke dalam kamar untuk mengangkatnya

‘Halo’ sapaku.

‘. . . .’

‘Halo’

‘. . . .’

‘Halo, ini siapa ya? Jangan main-main dong. Aku ada latihan nih. Aku buru-buru,’

‘Oh, gitu ya. Ya udah. Semangat ya,’

Tuuut….. sambungan diputus.

Siapa yaaa?? Kayaknya tadi suaranya agak aneh deh, kayak ditutup-tutupin apaa gitu. Ah biarin aja, orang aneh itu. Aku udah hampir telat nih.

“Minchaaaaaa……….,” kutolehkan kepalaku menuju arah suara.

“Rie Na! Jangan suka tereak-tereak kalo manggil aku. Dari jauh lagi. Bikin malu, kamu nih emang,” gerutuku sambil menjitak pelan kepalanya.

“Hehe… Oh, iya. Dia udah nelpon kamu belum?” tanyanya langsung. Aku mengernyit bingung.

“Dia? Dia siapa?”

“Diaaaa…. Onew,” jawab Rie sambil cengengesan. Hahh?? Setahuku yang tahu nomor telepon kamarku itu cuma Rie, Hyojin, Sora, dan beberapa sahabat dekatku yang sering maen ke rumah.

“Kamu yang ngasih nomorku ya?” tuduhku.

“Kasian tauk, Cha! Dia ampe mohon-mohon gitu ke aku,” belanya.

Berarti yang tadi telepon itu dia. Ya Tuhan! Apa-apan ini?

***

“Cha, ini ada titipan buat kamu,” kata Rie sambil menyerahkan secarik kertas padaku.

Cha, mungkin kamu udah tau dari Rie kalo aku suka sama kamu.Maaf aku belum berani ngomong langsung ke kamu. Aku minder. Teman-temanmu banyak yang cowok. Bahkan sahabatmu yang cowok, Jonghyun, dia sangat dekat denganmu. Aku jadi nggak berani mau ndeketin kamu. Mungkin bagimu, aku memang pengecut. Tapi aku bingung, gimana caranya buat ngungkapin ke kamu perasaan ini.

(Onew)

“Cieeee, Mincha!” goda cewek di sebelahku ini. Tanpa menghiraukannya, aku berjalan menuju keranjang sampah di sudut kelas lalu ku buang surat itu setelah kuremas sebelumnya. Melihat itu, Rie langsung terdiam. Mungkin tidak menyangka aku akan melakukan hal itu.

***

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku tidak menyangka, dia, Onew, mengetahui hal itu. Dia memberiku kado sebuah notes kecil beserta 2 batang cokelat kesukaanku. Lewat Rie sebagai perantaranya, tentu saja. Mana berani dia bertemu langsung denganku. Huhh… Dasar anak kecil. Saat Rie tidak melihat, kubuang notes kecil itu ke keranjang sampah. Cokelatnya?? Tentu saja kubawa. Sayang kan, makanan dibuang-buang.. Hehehehe…. ^,^v

***

Beberapa hari setelah itu, saat aku baru saja meletakkan tasku di atas meja, Rie teriak dari depan pintu.

“CHA, DIA NITIPIN INI LAGI,” katanya sambil mengacungkan sebuah surat. Teman-teman yang lain penasaran apa isi kertas yang dibawa oleh Rie Na, langsung merebutnya dari tangan Rie sebelum aku sempat mengambilnya. Mereka membacanya keras-keras di depanku kemudian ikut-ikutan menggodaku. Tiba-tiba dari depan kelas terdengar suara-suara yang tak kalah ributnya. Dan ternyata mereka anak-anak dari kelas sebelah yang ribut memaksa Onew masuk ke dalam kelasku kemudian mereka, teman sekelasku dan teman sekelas Onew segera meninggalkan kami berdua di dalam kelas. Mereka mengunci kami di dalam dan menonton dari luar. Kulihat Onew bingung mencari jalan keluar, sedangkan aku santai saja di bangkuku seolah tidak terjadi apa-apa. Aku mengeluarkan bukuku, dan mulai menulis di atas lembaran putih itu. Merangkai kata demi kata. Ya, aku menulis agendaku untuk seminggu ini. Aku berusaha mengacuhkan Onew yang tetap kebingungan seperti itu. Surat darinya tergeletak di atas mejaku tanpa kucoba untuk membacanya.

“Mmmmmh, Cha! Gimana nih? Mereka nggak mau bukain pintu,” tanyanya panik.

“Terus kenapa? Ntar kalo ada guru juga pasti mereka buka kok,” jawabku tenang.

“Oh, iya, Cha! Kamu udah baca surat dariku?” tanyanya dengan wajah merah.

“Surat ini? Kenapa emang? Tadi anak-anak yang baca,” jawabku sambil mengangkat surat itu.

“Teruz jawabanmu apa, Cha?” tanyanya sambil menunduk malu.

Kuhampiri dia yang berdiri dekat pintu, lalu kusobek surat itu menjadi beberapa bagian tepat di depan wajahnya. Kemudian kubuang ke keranjang sampah dekat kakinya.

“Menurutmu, jawabanku apa?” tanyaku sambil tersenyum.

Brakk. Pintu terbuka dan teman-teman kami segera masuk ke dalam kelas. Aku menepuk pundaknya pelan, dan berkata, “keluarlah, bukankah tadi kamu bingung ingin keluar?”

Onew berlari keluar dari kelasku meninggalkan teman-temannya, sedangkan aku kembali ke bangkuku seolah tidak terjadi apa-apa.

“Cha! Apa-apaan kamu tadi itu?”

“Aku nggak nyangka, kamu bisa sekejam itu padanya,” kata teman-temanku dan masih banyak lagi lainnya.

“Terus menurut kalian, aku harus menerimanya? Kalian juga nggak bisa maksain aku dong! Lebih baik seperti ini, dia nggak akan menaruh harapan lagi. Aku emang bukan cewek yang pantes buat dia. Terus kalian mau apa?? Mau memusuhiku? Silakan!” ujarku dengan emosi.

“Cha, kamu boleh nolak dia. Tapi bukan gitu caranya. Kamu cukup bilang, ‘maaf aku nggak bisa’, begitu udah cukup, Cha. Nggak perlu sampai menyakitinya,” Rie mencoba menenangkanku.

“Wah, sayang sekali. Kamu tau sendiri aku bukan cewek seperti itu,” dengusku kesal.

***

“CHAAAA…..,” terdengar seseorang memanggilku sambil menggedor jendela kamarku.

“Hehh…. Jonghyun gila! Kamu mau mecahin jendela kamarku, hah?!” bentakku sambil membuka jendela. Kemudian cowok error satu itu melompat masuk ke dalam kamarku.

“Kangeeeeen,” katanya sambil memelukku dengan erat.

“Kamu mau bunuh aku, ya??! Nggak bisa napas nih,” jeritku sambil mencoba melepaskan tangannya dari perutku.

“Hehehe…. Oh, ya, Cha! Denger-denger kamu nolak Onew ya? Sadis lagi nolaknya,” tanyanya penasaran.

“Tau darimana kamu?” selidikku heran.

“Yaelaaaaa, sekolah cuma sebelahan gitu, nggak mungkin lah aku nggak denger kabar menggemparkan seperti itu,” jawabnya sambil mengedipkan matanya berkali-kali.

“Udah deh nggak usah bahas itu lagi. Kalo kamu ke sini cuma mau ngomongin hal itu, mending pulang sekarang juga,” usirku.

“Santai dong. Kan tadi aku udah bilang, aku kangen sama adek kecilku ini,” ucapnya sambil memencet hidungku.

“Hehh… Cuma beda setahun juga, sok banget kamu bilang aku adek kecil,” aku merengut sebal.

Kulihat dia terkekeh geli melihat tingkahku yang seperti anak kecil.

“Wah, kayaknya adekku tersayang ini lagi bener-bener kesel ya! Ayo ikut aku! Mending kita jalan-jalan aja malam ini,” ajaknya. Aku berpikir sejenak sebelum mengiyakan ajakannya. Kudorong dia keluar dari kamarku karena aku mau ganti baju. Setengah jam kemudian aku keluar dari kamarku dan pamitan pada papa dan mamaku untuk pergi keluar bersama Jonghyun.

“Cha, kamu dandan habis-habisan ya karena mo keluar ma aku?” tuduhnya melihatku berpenampilan beda. Rambut panjangku kukepang dua di kanan-kiri atas.

“Cih, ngapain harus repot kalo mo pergi ama kamu? Aku kalo sekolah ya kadang kuiket gini, kamu aja yang nggak pernah tau,” aku nggak terima.

Tiba-tiba saja Jonghyun mencubit kedua pipiku gemas, kemudian menyuruhku untuk segera naik ke atas motornya. Sambil cemberut aku pun menuruti perintahnya. Begitu naik, aku melingkarkan tanganku di perutnya. Kemudian dia melajukan motornya dengan kecepatan yang gila-gilaan sih. Itu sebabnya kukepang rambutku agar tidak berantakan saat diterpa angin.

“Nah sudah sampaaaaii….,” ucapnya saat menghentikan motornya. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling tempat itu.

“Di mana nih?” tanyaku saat mengetahui kami berhenti di depan sebuah rumah, sambil turun dari motor sahabatku itu.

“Ini? Rumah temenku. Dia ulang tahun. Dan mengundang kami, anak satu kelas,” jawabnya lalu menggandeng tanganku.

“Yaaaa, berarti cowok semua dong! Sekolahmu kan sekolah khusus cowok, ntar aku cewek sendiri. Lagian, emang boleh aku ikut?” tanyaku lagi.

“Nggak apa. Kan ada aku. Boleh bawa temen kok. Ayo,” ajaknya lagi sambil menarik tanganku masuk ke dalam rumah tersebut.

Sepanjang mata memandang aku hanya melihat cowok, cowok, dan cowok. Kemudian seorang cowok yang ,mmmh, cukup tampan menghampiri kami berdua.

“Hey, Minho! Selamat ulang tahun, ya!” ucap Jonghyun pada cowok tersebut.

“Ah, terima kasih sudah mau datang,” balasnya dengan tersenyum,”Siapa cewek ini? Pacarmu?”

“Oh, iya, kenalkan ini Park Young Mincha, sahabatku dari kecil. Mincha, ini Choi Minho, teman sekelasku di sekolah,” ujar Jonghyun memperkenalkan kami. Aku dan Minho saling berjabat tangan, “salam kenal!”

Kulihat dia tampak heran melihat sikapku yang hanya mengatakan ‘salam kenal’ dan hanya tersenyum tanpa berkomentar lebih jauh lagi. Mungkin dia biasa bertemu dengan cewek-cewek yang mencoba mencari perhatian dengan bertanya macam-macam. Tapi aku masa bodoh sajalah, bukan urusanku. Yang penting kan aku masih membalas jabatan tangannya tadi.

“Ah, iya! Selamat ulang tahun, yaa…,” ucapku menyadari aku lupa mengatakannya sejak awal.

“Ya sudah, ayo, Cha kita pergi sekarang. Aku masih inget kebiasaanmu. Tiap abis nolak cowok, pasti lihat cowok sebanyak ini bisa bikin kamu stress,” ajak Jonghyun sambil mengalungkan tangan kirinya di leherku,”Minho, kami pergi dulu ya. Aku mau menenangkan tuan putri ini dulu,” pamitnya.

“Loh? Emang Mincha abis nolak siapa?” tanya Minho.

“Kamu nggak tau kabar yang tadi siang, di sekolah? Sekolah sebelah…,” ingat Jonghyun. Rasanya ingin kubunuh aja nih bocah, seenaknya aja membongkar aibku. Kuinjak kuat-kuat kakinya membuatnya mengaduh.

“Oh, jadi dia cewek itu,” gumam Minho pelan.

“Aku pulang!” kataku sambil berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih merintih kesakitan.

Aku duduk bersandar di halte dekat rumah Minho. Memikirkan kejadian di sekolah tadi pagi. Apa iya, aku sekejam itu??  Ah, nggak! Biasa aja kan ya nolak kayak gitu? Dia kan harusnya tau sifatku seperti apa. Dia sendiri kan sering jadi korbanku. Pokoknya aku tuh preman banget lah kalo ke dia. Aneh. Bisa-bisanya dia suka sama aku.

“CHA!” teriak seseorang di dekat kupingku.

“Aaaaa…. Oi gila! Bisa budek aku kalo kamu teriak-teriak gitu,” bentakku sebal.

“Ayooo,” ajak Jonghyun sambil menarik tanganku.

“Ke mana?” tanyaku malas.

“Keliling-keliling aja naek motor. Oke?” tawarnya.

“Gimana kalo pulang aja? Aku pusing nih,” tolakku.

Akhirnya dia mengantarku sampai rumah bahkan sampai ke dalam kamarku. Benar-benar orang stress. Katanya untuk memastikan aku selamat ampe kamar apa nggak. Dasar gila.

Kurebahkan badanku di ranjang setelah mengganti pakaianku dengan piyama bergambar keroppi kesayanganku.

***

4 tahun kemudian…………

“Cha, lihat deh cowok yang pake seragam SMA itu.. Yang di atas motor gede itu loooh. Cakep ya!” kata Hyojin antusias. Aku melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Hyojin. Hah?? Ngapain dia ke sini? Emang sih tadi malem aku janji mau nemenin dia ke rumah temennya. Tapi nggak harus jemput ke sekolah juga, kan?! Hhhh….. tanpa sadar aku menghembuskan napas stress…

“Kamu kenapa, Cha?” tanya Hyojin dengan keras. Kurasa, dia pasti akan segera menghampiri kami begitu mendengar suara Hyojin.

“Cha, ayooo!” tuh kan bener.

“Hyo, aku duluan ya,” pamitku sambil naik ke atas motor Jonghyun gila ini.

“Kamu tuh harusnya cari pacar sana, biar nggak ngerepotin aku terus,” keluhku.

“Nggak mau ah, ntar kamu cemburu. Hahahaha….,” jawabnya asal. Saat dia mencoba melewati sebuah motor di depannya, aku seperti mengenal cewek yang dibonceng di motor itu. Ketika kami lewat di sisi motor tersebut, aku menyapa temanku itu.

“Soraaaa,” sapaku sambil melambai-lambaikan tanganku. Tapi saat kami sudah berada di depan motor tersebut, aku kaget. Ternyata yang memboncengnya adalah Onew. Kulihat dia tampak salah tingkah melihatku, sedangkan aku hanya tersenyum penuh arti.

“Oppa, nanti malam tolong anterin aku ke rumah temenku ya. Kami mau ngerjaen tugas kelompok,” pintaku. Jonghyun langsung menghentikan motornya. Dia langsung menoleh ke belakang.

“Tadi kamu manggil aku apa?” tanyanya takjub.

“Aku? Manggil kamu oppa. Napa? Nggak suka?” tanyaku balik.

“Waaaah, setelah sekian lama, akhirnya kamu mau manggil aku dengan sebutan oppa! Senangnyaaa,” ucapnya lebay.

“Loh? Ke rumah Minho? Kenapa tiap kamu mau ke sini selalu ngajak aku?” tanyaku bingung ketika Jonghyun menghentikan motornya dan mengajakku masuk. Tapi dia hanya cengengesan nggak jelas menjawab pertanyaanku.

“Oh, kalian sudah datang. Mari masuk,” ajaknya. Hah? Ada apaan sih ini sebenernya?

“Hari ini sepupu Minho datang, dan kita diundang untuk merayakan hari kembalinya dia ke sini,” jelas Jonghyun. Aku menganggukkan kepalaku walau tak mengerti.

Beberapa saat kemudian, seorang cowok menuruni tangga rumah itu, tapi belum sampai dia tiba di bawah, terdengar sebuah suara yang sangat kukenal mendesiskan namaku.

“Mincha?” refleks kami semua menoleh ke arah sumber suara dan betapa kagetnya aku saat melihat siapa yang muncul.

“Changmin?”

Kurasakan wajahku memucat.

“Loh? Kalian saling kenal?” tanya Minho bingung.

“Aa… Aku mau pulang. Ada kerja kelompok di rumah teman,” pamitku sambil berjalan ke arah pintu dengan tergesa. Tapi sebelum aku sempat membuka gagang pintu, Changmin telah berhasil mengejarku dan menahan tanganku. Aku berusaha melepaskan genggamannya dari tanganku.

“Lepaskan aku, oppa!” pintaku dengan suara bergetar.

“Tidak akan. Sebelum kau mendengarkan penjelasanku,” katanya sambil menarikku dengan paksa menaiki tangga. Membuat orang-orang yang masih berada di tempat tadi semakin bingung dengan tontonan di depan mereka. Melihat aku ditarik oleh Changmin, Jonghyun langsung menyusul kami.

“Changmin! Apa-apaan sih kamu? Kamu mau nyakitin Mincha lagi?” bentaknya dengan menarik tanganku yang satu. Kulihat mereka saling menatap dengan pandangan-lepaskan-tangannya.

“Hikz.. Lepaskan tangankuuuu…. Tanganku sakiiiit..” rintihku membuat mereka berdua melepaskan tangan mereka.

“Maafkan aku,” ucap mereka berdua kompak.

“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Minho yang tiba-tiba sudah berada di dekat kami.

“Ada sedikit masalah antara kami berdua. Bolehkan Mincha kupinjam dulu? Aku ingin menjelaskan alasan kepindahanku beberapa tahun yang lalu padanya,” pintanya pada Jonghyun dan Minho.

“Tanyakan itu pada orangnya. Jangan minta ijin pada kami,” sentak Jonghyun karena masih kesal.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, oppa,” tolakku,”Jonghyun, ayo antar aku pulang.”

Changmin berusaha menahan kepergianku, tapi gagal karena Minho berhasil membujuknya. Akhirnya, aku dan Jonghyun meninggalkan rumah Minho.

“Oppa, ke rumah Sora dulu ya.. Masih inget kan? Aku ada perlu sebentar dengannya. Bolehkan?” pintaku yang hanya dijawab dengan anggukan.

“Cha, bukankah itu Onew?” tanya Jonghyun sambil menunjuk kea rah seorang cowok yang duduk di teras rumah Sora.

“Biarin aja, deh. Aku ada perlu yang amat sangat penting banget sama Sora. Tunggu dulu di sini ya oppa,” lalu aku segera berlari masuk ke dalam rumah Sora.

“Sora, Sora! Aku perlu ngomong bentar ama kamu. Bentaaaaar aja. Mau ya mau ya??” paksaku.

“Iya iya! Bentar ya Onew, kutinggal ke dalam dulu,”pinta Sora.

“Maaf ya Onew. Aku pinjam Sora dulu,” ucapku dengan wajah seolah tidak pernah ada apa-apa antara aku dan dia, lalu mengikuti Sora yang sudah masuk ke dalam.

“Sora, gawat! Tadi aku ketemu Changmin. Gimana nih aku belum siap mental buat dengerin penjelasan dia??” tanyaku panic.

“Aaaaah, Minchaaaa! Kukira beneran penting, ternyata cuma gara-gara itu! Dasar jeleeeek!” jerit Sora, “gimanapun juga dia pasti punya alasan pindah nggak pamit kamu. Kamu harus mau dengerin, entah itu menyakitkan atau nggak! Oke? Udah sana pulang!”

“Huweeee….. Sahabatku jahat bangeeet! Aku diusiiir.. Huweee….” Aku pura-pura menangis. “Hehehe… Ya udahlah, aku mau pulang dulu. Byeeee…. Selamat bersenang-senang!” godaku sambil berjalan keluar dari rumah Sora.

“Onew, aku titip Sora ya! Hehehe,” kataku kemudian berlari keluar pagar rumah itu.

“Kamu yakin nggak mau kutemenin dulu? Siapa tau kamu mau cerita?!” tanya Jonghyun saat aku akan masuk ke dalam rumah. Aku menganggukkan kepalaku berulang-ulang untuk meyakinkannya sebelum akhirnya dia benar-benar pulang ke rumahnya sendiri.

***

Hari ini Jonghyun nggak jemput aku. Aku nggak mau membebaninya terus. Tadi malam, setelah berdebat berjam-jam, akhirnya dia menurut untuk tidak menjemputku di sekolah. Aku ingin menyendiri dulu. Aku berjalan mengikuti ke mana kaki ini melangkah. Dan saat aku berhenti, kudapati diriku telah sampai di taman, tempat yang sering kukunjungi saat masih SD dulu bersama Changmin. Aissh, napa harus inget dia lagi sih? Napa dia harus balik lagi di saat aku udah mulai terbiasa tanpa dirinya.

Aku melangkah ke arah ayunan kemudian duduk di situ sambil mengenang masa lalu.

FLASHBACK-

“Hyaaaaa….. Oppaaaa! Jangan kuat-kuat dorongnya! Nanti Mincha jatuh,” teriakku saat dia mendorong ayunan ini dengan kencang. Jujur aku takut.

“Hahahaha……,” tawanya kemudian duduk di ayunan sebelahku menunggu ayunanku berhenti.

“Pusing,”keluhku memijit keningku. “Ah, Oppa jahat! Sudahlah, lebih baik aku pulang aja,” seruku sambil beranjak meninggalkannya.

“Jangan marah dong!” pintanya sambil mengejarku.

“Beliin aku ice cream dulu,” sahutku. Mendengar ucapanku dia langsung menarik tanganku menuju penjual ice cream keliling dan membelikan ice cream coklat kesukaanku.

“Nih, jangan ngambek lagi ya,”pintanya sambil menyerahkan ice cream itu padaku.

Aku langsung menjilati ice cream itu dengan lahap seperti udah lama nggak ketemu. Hahaha….

“Aku juga mauuu,” katanya sambil berusaha merebut ice cream di tanganku. Tapi aku menahannya. Dan memandangnya dengan tatapan ini-milikku-jangan-minta.

“Ayolah, Cha!” paksanya.

“Tapi aku nggak bisa makan lagi nanti kalo udah oppa minta,” sahutku cemberut.

“Kenapa?” tanyanya bingung.

“Aku nggak bisa kalo udah bekas orang lain,” jawabku, “ya udah deh,nih! Aku pulang dulu ya! Mau main sama Jonghyun.” Kuserahkan ice itu padanya lalu berlari meninggalkannya. Belum jauh aku pergi, dia sudah menangkapku dari belakang.

“Cha, maafkan aku. Seandainya aku pergi jauh, aku pasti akan kembali untukmu. Dan aku tidak akan melupakanmu selama aku berada jauh darimu.” Setelah dia mengucapkan itu, dia mengacak rambutku yang pendek dengan sayang. *maaf author ngarep*

Beberapa hari setelah itu aku benar-benar tidak pernah bertemu dengannya.

End of Flashback-

Saat itu aku yang masih kelas 3 SD, belum mengerti arti kata-katanya itu. Sekarang setelah kupikir-pikir lagi, mungkin itu seperti kata-kata perpisahan darinya sebelum pergi. Tapi kan aku masih kecil, mana ngerti kata yang sulit seperti itu. Tanpa sadar air mataku tumpah membasahi pipiku. Aku menangis terisak hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri di depanku.

“Cha! Aku mohon beri kesempatan untukku menjelaskan semuanya,” seseorang berjongkok di hadapanku, lalu mengusap pipiku. Menyadari siapa yang berada di depanku kini membuatku terkejut. “Changmin oppa?” desisku lirih.

“Bicaralah,” aku mempersilakannya.

Dia pun mengatakan bahwa sebenarnya dia ingin menghubungiku selama di sana untuk meminta maaf padaku karena pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Tapi orang tuanya tidak mengizinkannya menelponku karena itu bisa membuatnya akan melarikan diri. Orang tuanya ingin dia menyelesaikan studinya sebelum bertemu kembali denganku. Dia sudah sering mencoba untuk menyuratiku, tapi orang tuanya selalu menghalanginya. Sampai akhirnya, berhubung dia sudah lulus tahun ini, dia memaksa orang tuanya agar diijinkan kembali ke sini untuk menemuiku sebelum dia disibukkan dengan kuliahnya.

“Hubungan kita belum berakhir kan Cha? Aku nggak mau kehilangan kamu! Tiap liburan kuliah aku akan sering-sering mengunjungimu,” ucapnya dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.

“Kau yang membuatku kehilanganmu, oppa,” kataku pelan sambil mengusap pipinya perlahan.

“Maafkan aku. Maafkan aku,” ucapnya berkali-kali sambil memelukku erat. Aku membalas pelukannya dengan erat juga.

“Oppa, aku harus pulang sekarang! Sampai jumpa,” pamitku sambil melepaskan pelukannya kemudian berjalan meninggalkan taman menuju rumah.

***

Kuhampiri teman-temanku yang sedang asyik berbincang di ruang tamu rumahku, menungguku keluar dari kamar. Tapi ketika aku udah sampai di dekat mereka, mereka langsung bungkam. Ada apa ini? Apakah mereka barusan membicarakanku? Aneh sekali tingkah mereka. Ah, biarlah. Bukan urusanku. Terserah mereka mau bicara apa.

“Hei, Mincha! Dengar-dengar Onew sekarang lagi deketin Sora. Apa kamu tidak apa-apa?” tanya salah seorang temanku dengan nada menyindir.

“Emang ada apa antara aku dan Onew? Terserah dia kan mau ndeketin siapa? Lagipula sepertinya mereka cocok kok,” jawabku enteng.

“Tapi kan dia dulu pernah ‘nembak’ kamu. Yaaa, meskipun kamu menolaknya dengan sadis gitu, apa kamu tidak ada persaan menyesal melihatnya mendekati sahabatmu?” desak temanku yang lain.

“Kalian ini apa-apaan sih? Kalo nggak tau apa-apa nggak usah ngotot gitu. Justru aku senang dia deket sama Sora. Mereka cocok,” aku jadi sewot.

“MINCHA!!” seseorang memasuki rumahku sambil berteriak-teriak. Siapa lagi kalo bukan si gila Jonghyun.

“Berisiiiiiiiiiiiiiiiik,” bentakku sambil menghampirinya, membuat teman-temanku menutup telinga mereka.

Baru saja aku akan menjewer telinganya, dia segera memelukku kuat-kuat.

“Kangeeeeen,” katanya melepaskan pelukannya dan mencubit kedua pipiku sampai merah. Apes banget aku punya sahabat cowok satu aja gilanya kayak gini.

“Aku nggak kangen sama kamu, sudah sana pulang!” usirku. Tapi dia malah lari masuk ke kamarku. Sebelum masuk, dia sempat menoleh ke arah teman-temanku. “Wah, ada anak-anak SMP! Hehehe…”

“Jangan harap aku akan mengenalkan mereka pada kakak kelas gila sepertimu! Dan juga ngapain masuk ke kamarku, hahh?! Disuruh pulang juga,” bentakku lagi.

“Aaaaa, Mincha jahat deh! Mentang-mentang udah baikan sama Changmin, aku nggak diperluin lagi,” ucapnya lebay.

Mendengar ucapannya, aku terkejut. Dari mana dia tau. Bukannya baru tadi siang aku baikan sama Oppa?? Aaaah… Buru-buru kudorong dia sampai masuk ke kamar bersamaku. Sebelum kututup pintu kamarku, aku berkata pada teman-temanku, “Sebentar ya! Ada urusan penting! Nikmatin aja dulu cemilannya sambil nunggu Sora juga oke?! Maaf! Pengganggu satu ini harus dibereskan dulu!” BRAKK…

“Jelaskan!” paksaku pada Jonghyun.

“Apaan?” tanyanya bloon.

“Iiiiih, kamu tau dari mana aku baikan ma dia?”tanyaku tajam.

“Tadi kan aku ke taman, siapa tau adek kecilku ini ada di sana. Terus pas kamu nangis, aku mau nyamperin tapi keduluan ama dia. Jadi ya aku liat dulu dari jauh kalo dia macem-macem kan bisa kuhajar langsung. Tapi ternyata nggak perlu,” jelasnya.

“Oppa, sister complexmu nggak lagi kumat kan? Sudah kubilang, kamu harus cari pacar biar nggak aku aja yang dipikirin. Aku udah gede. Bisa-bisa oppa dikira pacarku kalo sering nemenin aku,” keluhku.

“Mungkin kamu emang nggak pernah sadar, Cha! Sebenernya aku menyukaimu. Sebenernya aku sakit kalo kamu cerita tentang changmin. Tapi kamu cuma menganggapku sahabat, apa boleh buat,” penjelasannya membuatku terkejut.

“Jonghyun, maafkan aku. Aku bukan sahabat yang baik ya, sampai nggak pernah menyadari perasaanmu,” pintaku dengan sedih. Dia hanya mengusap kepalaku dengan lembut seperti biasa.

“Kamu ini! Gini-gini aku ni lebih tua dari kamu! Kenapa nggak mau manggil aku oppa? Menyebalkan!” ujarnya kesal.

“Salahmu! Kamu nggak bersikap layaknya seorang kakak, Cuma seperti teman. Udah dulu ya, tunggu di sini, aku mau ngerjain tugas dulu sama temen-temenku,” perintahku sambil berjalan meninggalkannya.

“Itu tadi siapa, Cha?” tanya teman-temanku begitu aku muncul di hadapan mereka.

“Tetangga sebelah rumahku, kelas 1 SMA. Ngerecoki sukanya,” jawabku asal.

“Hah? Siapa sih? Jonghyun ya, Cha?” tanya Sora yang rupanya sudah ada di tengah-tengah kami.

“Siapa lagi yang dari dulu sukanya muncul seenaknya di rumahku?!” tanyaku balik.

“Oi, adek kurang ajar! Aku denger semua perkataanmu dari sini,” teriak Jonghyun gila-gilaan.

“Ayo, cepet kita kerjakan tugas ini!” ajakku.

Setelah satu jam lamanya kami berpusing-pusing ria, akhirnya tugas selesai juga. Satu persatu mereka pulang ke rumah masing-masing. Tinggal Sora yang memang ingin main dulu di rumahku.

Kami berdua masuk ke dalam kamar dan mendapati Jonghyun tertidur di atas ranjangku dengan pulasnya. Hahaha… Kasiannya sampai ketiduran gitu. Aku dan Sora jongkok di sisi ranjang,  menatap wajah tidur Jonghyun. Hihihi…. Sepertinya dia merasa kalo kami pandangi terus-menerus.

“Hyaaa…. Kalian ini membuatku kaget saja,” jeritnya begitu membuka mata. Kami berdua tertawa melihat tingkahnya.

Kriiiiiing….

“Halo…”

“Cha, jalan yuk!”

“Sekarang Sora dan Jonghyun lagi di rumahku, oppa! Nggak mungkin aku ninggalin mereka berdua,” tolakku.

“Yaaaah, kok gitu sih? Padahal kan aku pengen pergi ama kamu.”

“Nanti malam aja deh, gimana?”

“Iya deh! Nanti malam kujemput ya!”

Trek.

“Siapa yang telpon? Changmin?” aku menjawab pertanyaan Sora dengan anggukan dan wajahku yang berseri-seri.

“Berarti nanti malam kamu mau pergi sama dia? Aaa… padahal aku mau mengajakmu jalan-jalan juga. Uh menyebalkan!” kulihat Jonghyun menggerutu sebal.

“ Hahaha… Mereka kan sudah 6 tahun nggak bertemu, Oppa! Biarin aja deh!” bujuk Sora membuat Jonghyun menatapnya penuh harap.

“Maaf, Oppa! Aku juga nggak bisa! Aku ada janji dengan pacarku,” tolak Sora.

“Onew, ya? Kenapa adek-adekku pada punya pacar? Kan aku jadi sendirian,” omelnya.

“Makanya cari pacar,” kataku dan Sora bersamaan.

“Temenmu yang kemarin itu kayaknya boleh juga, Cha! Kenalin dong,” pinta si gila itu.

“Siapa? Hyojin? Dia udah punya pacar. Kibum. Kakak kelasmu,” tolakku.

“Huweeee…….., awas ya kalian!” ancamnya.

***

Ya, begitulah. Akhirnya Onew jadian sama Sora tanpa Sora tahu kalo dia pernah mengalami penolakan yang sadis dariku. Aku tetep sama Changmin oppa. Jonghyun? Masih suka ngerecoki aku dan Sora. Dia nggak mau punya pacar dulu katanya. Takut nggak boleh main sama kami lagi. Alasan macam apa itu? Tapi ya begitulah kenyataannya.

THE END

Hahahaha….. miaaaan, ffQ makin hari makin gaje ajah… kkkk…..

Comment… comment…. Comment… saya butuh comment anda….

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

18 thoughts on “Happy Ending”

  1. hohohoh dari judul prasaan prnh aca
    eh bnr…
    pas kbwhnya ktahuan di blog mincha unnie…
    kekekekeke
    *gapen yah*
    tp critanya bgus kok unn
    happy end lgi
    tp bwt jonghyun kyknya ga happy end…. ckckckckc

  2. yah .. jonghyun oppanya kasian .. sini oppa , sama aku aja .. wkwk ..

    kok , aku ngerasa si jonghyun nt perasaan sukanya ga begitu gede yak ? cz , dia cuma ngungkapin perasaan sukanya bentar , uda gitu balik kayak biasa lagi .

    gimana kalo gini , eun . jadi , kan si jonghyun nt kagak punya pasangan tuh , eun bikin ff lagi , khusus jonghyun , tapi , masih ada hubungannya sama ff ini *ngerti gak?* cz, kan ni judulnya “happy ending”.. kalo , ga mau juga ga papa , aku ga maksa . ini cuma usulku aja .

    setelah aku pikir-pikir , PANJANG AMAT NI KOMEN ..

    1. mmm…. Kan c jonghyun cuma sekedar kasi tau mincha ajah, dy ga ngotot cz udh tau mincha balikan ama changmin… n dy ga mau hubungannya ama mincha jdy renggang.. jdy lgs biasa lgy sikapx…

      mmm…. kalo unn udah ada waktu luang ya… abz ospek insyaallah unn bikin yang jonghyun ver.
      Gomawo atas sarannya…. >,<d

    1. sebenerx c kejadian aslinya lebih sadis dari ni ff… cuma berhubung saiia pake ank2 SHINee,, dikurangi sedikit kadar kesadisannya…. *apaan coba?*
      Gomawo udh baca….. ^,^

  3. wah…………………..

    like it like it……………..

    Onew………………………. aku suka waktu dia ngirimin surat”
    kesan yang dhy tangkep sweet bukan’a pengecut hehehe

    bikin yg sweet story kya gni lagi……………….

    1. emank asyik…. hehehe…. ngalamin sendiri soalnya…. enak punya sahabat cowok tuh… mereka bakal bener2 jagain kita… nggak bakal macem2, meskipun suka jahil… tapi nggak bakal ampe nyakitin kita… seru deeh pokoknya…. mau ngerasain??

  4. waahhhh mincha brani2nya nolak my onew, sadis bgt lg caranya ckckck*plakplakplak*…..
    eun dah tau pst akhirnya balik lg am changmin….
    hmmm jonghyun jg kmu tolak ckckck…..

    tp ff’ny keren koq hehe….
    buat lg yah*mincha: cpe tau!!……….*

    1. ah… kurang sadis tuh onn…. yg asli lebih sadis dari itu…. *PLAKK*
      Aq kan udh ada Changmin, masa mo kuterima jg c si Jonghyun??

      Hhaa…. aq puasa dulu bikin ff onn…. nunggu selesai ospek bulan agustus besok baru bikin lgy… kkkk….
      miaaaan…..

  5. haha fluff banget ini..
    endingnya akhirnya si mincha sama changmin..
    kenapa gak sama onew aja?? *author: suka-suka gue* XD
    tapi kasian onew ditolaknya sadis -_-

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s