SHINee Hello Dongsaeng – Part 2

SHINee: Hello Dongsaeng~! (Part 1)

Title: SHINee: Hello Dongsaeng~!

Author : Cynthia a.k.a Han Ha Joon

Casts: Han Ha Joon, SHINee, KBS TV crews

Genre: Romantic, Family, Friendship, Humor

Rating: Err… PG-13 to PG-15? :/

Length: Series ~ 😀

Summary: SHINee got a new program where they have to take care of 13-going-to-14 girl named Han Ha Joon. Ha Joon was a fan to Minho, but silently Jonghyun loved her…

***

“Leader Onew.”

“Bling Bling Jonghyun.”

“Almighty Key.”

“Flaming charisma Minho.”

“Maknae Taemin.”

“Nggak usah dijelasin, aku udah tau,” kata Ha Joon sambil memandangi member SHINee satu per satu.

Tampan.

Oke, sangat tampan.

“Dan… kau?” tanya Jonghyun sambil menatap Ha Joon.

“Ha Joon… Han Ha Joon…”

“Nickname, please?” tanya Key, disusul senggolan lengan Minho.

“Emangnya dia artis? -__-“ kata Minho.

Wait. This is wrong. Detak jantung Ha Joon saat melihat Minho… Beda. Tidak, ini pasti salah.

“Err… Hime?” gumam Ha Joon.

“Hime!?” Key mengulang lagi.

“Hime… Princess?” ulang Ha Joon sekali lagi.

Semua member SHINee saling menatap, dan tak lama kemudian tertawa terbahak-bahak.

“BHAHAHAHA! Kau lebih pantas dipanggil ‘Little Girl Ha Joon’ atau ‘Childish Ha Joon’… Hahaha!!” kata sang leader disambut anggukan yang lain dan wajah cemberut Ha Joon.

“Aish! Terserahlah itu!” kata Ha Joon kesal lalu pergi ke kamarnya.

“Dia marah?” tanya Jonghyun.

“Nggak tau,” jawab Onew sambil menghentikan tawanya.

“Kamu sih hyung,” sang maknae mulai menyalahkan leader.

“Kok aku?” leadernya tak mau kalah.

“Haaaaah! Udah, malah jadi nyalah-nyalahin!” Minho mulai frustasi, lalu menyusul Ha Joon yang berlari ke kamarnya.

***

“Ponselku mana?” Ha Joon mengacak-acak seluruh kamarnya ketika Minho mengetuk pintu kamarnya.

“Siapa?” tanya Ha Joon sedikit emosi.

“Flaming charisma Minho,” jawab Minho halus.

“Nggak usah pakai embel-embel ‘Flaming charisma’ bisa?”

“Ini aku oppa-mu, Minho,” ralat Minho sekali lagi.

“Aku nggak kenal!”

“Tadi kan udah kenalan?”

“Anggap aja nggak terjadi!”

“Aku mau ngembaliin ponselmu…”

BRAAAK!!

Pintu dibuka dengan kasarnya.

“Mana? Mana ponselku?” tanya Ha Joon tidak sabar.

“Ini,” kata Minho sambil memegang ponsel Ha Joon di tangan kanannya.

“Kembalikan, apa saja yang sudah kalian liat tadi?” tanya Ha Joon sinis.

“Foto… Gambar… Sedikit SMS…”

“AAAAH!! DASAR NGGAK TAU SOPAN SANTUN!!!”

***

“Hai flaming charisma Minho, gimana itu anak?” tanya Jonghyun pada Minho.

“Manis, tapi kasar,” jawab Minho sekenanya.

“AKU TAU KALIAN BICARA APAAAA!!” teriak Ha Joon dari kamarnya.

“Oops~” kata Key sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Bling bling handsome Jonghyun pasti bisa!” kata Jonghyun percaya diri.

“Sejak kapan ada embel-embel ‘handsome’ nya?” tanya Taemin polos.

“Sejak ia tidak menemukan kaca yang mau memantulkan bayangan wajahnya,” sahut Key asal, disambut jitakan Jonghyun.

“Aku mau ngomong bentar,” kata Jonghyun sambil mengisyaratkan agar kamera PD tidak masuk.

***

“Annyeong haseyo…” ucap Jonghyun sambil membuka pintu kamar Ha Joon.

“Siapa suruh masuk?” sahut Ha Joon dingin.

“Princess Ha Joon…”

“Idih.”

“Tadi katanya mau dipanggil ‘Princess’?”

“Itu kan tadi.”

“Ya sudah, sekarang maunya dipanggil apa?”

“…Nggak tau.”

“Talking machine Han Ha Joon?”

“Nggak lucuuuu!”

“Haha lucu sekali caramu tertawa~ Gimana kalau smiling Ha Joon?”

Ha Joon mengernyitkan dahi. Tak cukup buruk.

“Gimana? Mau?” tanya Jonghyun.

“…Nggak.”

“Lah?”

“Aku bukan anak kecil bodoh yang mudah saja melupakan hal-hal penting begitu saja.”

Pinter juga nih anak, batin Jonghyun.

“Oke, oke. Kamu maunya gimana sekarang?” Jonghyun menahan emosinya.

“Hmm… Nggak tau…”

“Jalan-jalan?”

“Malam-malam begini? Ogah.”

“Sama SHINee Jonghyun ogah? Baru kali ini liat ada Shawol kayak kamu,” kata Jonghyun sambil tertawa kecil. Ha Joon mengernyitkan dahi.

“Ponselmu,” kata Jonghyun sambil melirik ke arah ponsel Ha Joon.

“Wow, ternyata bukan cuma Minho oppa yang liat, kau juga? How great,” omel Ha Joon lagi.

“Semuanya, kok…” Jonghyun menambahkan. Ha Joon menatap Jonghyun kesal, lalu melempar bantal ke arah Jonghyun

***

Ha Joon’s POV

Masuk ke rumah orang sembarangan, buka-buka ponsel orang tanpa ijin, menyebalkan! Aku tau mereka SHINee, aku juga termasuk SHINee World tapi kenapa pertemuan pertama menyebalkan seperti ini? 😥

Aku juga sedikit ‘kecewa’ melihat Minho yang sebenarnya… Ah! Menyebalkan! Hari ini buruk sekali…

“Ha Joon-ah?”

Suara khas itu membangunkanku dari lamunanku. Bling bling Jonghyun SHINee.

“Jadi?” tawarnya sekali lagi.

“Jadi, tapi nggak mau kalau cuma berdua,” jawab Ha Joon.

“Berenam? Boleh, tapi nggak ada ngambek kayak tadi, arasseo?” kata Jonghyun.

“Ne, ne arasseo. Khaja! :D” jawabku sambil menunggingkan senyumanku, dan SHINee Jonghyun itu pun ikut tersenyum.

***

“Hoaaaahmm… Ngantuk aku. Ha Joon, bentar lagi udah mau tutup taman rianya, ayo pulang…” kata Key oppa padaku.

“Ah, sekali lagi aja! Aku mau boneka yang di sana,” rengekku sambil menunjuk-nunjuk boneka teddy bear besar yang terpampang di salah satu ‘counter’ permainan tembak-menembak.

“Ya ampun Ha Joon-ah, kamu udah dapet lollipop sama boneka teddy bear yang ini, masa mau lagi?” tanya Taemin oppa sambil menunjuk ke arah teddy bear coklat yang aku pegang.

“Ah, tapi aku mau yang lebih besar…” kataku sambil menarik-narik baju Taemin oppa.

“Ne, ne! Ayo kita kesana, tapi kalau nanti nggak dapet nggak apa-apa, ya?” ajak Minho oppa. Aku setuju, lalu dengan digenggam tangan Minho oppa di samping kiri dan Jonghyun oppa di samping kananku, kami berenam pergi ke sana.

“Dasar kau ini, tadinya cemberut dan mukamu mendung, tiba-tiba saja berubah jadi pelangi saat Jonghyun ajak ke sini,” ucap Key oppa padaku. Aku menjulurkan lidahku padanya seperti mengatakan: “Biarin! Weee :P”

Mungkin memang benar, aku si Childish Ha Joon O:)

***

Jonghyun’s POV

Dasar anak ini, banyak maunya. Tapi kalau sudah tersenyum manis juga 😛 Haha, hey Kim Jonghyun! Apa yang kau pikirikan? Dia ini anak kecil, dia masih sangat muda… Dasar otak laki-laki!

Minho selesai menembak, dan kami mendapatkan satu teddy bear besar berwarna putih dengan syal biru di lehernya, dan ia tertawa cukup senang. Aku merasakan detak jantungku dua kali lebih besar, tapi… Ah mana mungkin, kan?

“Ayo naik bianglala!” ajak Onew hyung dengan semangatnya, sementara Key langsung menghentikan langkahnya.

“Tidak, tidak akan pernah. Kau mau aku mati ketakutan, hyung?” tanya Key pada Onew. Oh iya, dia kan phobia ketinggian .__.

“Aku mau!!” teriak Taemin dan Ha Joon kompak. Dasar mereka ini, walaupun age gap mereka 3 tahun tetap saja masih seperti anak kecil.

“Aku juga mau, sih,” ungkapku akhirnya. 4 lawan 1 suara, kurang Minho.

“Aku… Aku mayoritas deh,” kata Minho. Sekarang raut muka Key amat sangat pucat.

“Nggak usah naik kalau takut, Key,” kataku pada Key. Dia menggeleng.

“Masa’ cuma sendirian aku nungguin kalian tertawa pada dongsaeng baru kita ini? Tidak akan, aku juga ikut deh!” katanya. Dasar kunci -_-

“Ayo~~! XD” ucap Ha Joon senang.

***

Author’s POV

“Ha Joon, ayo turun…” kata Jonghyun sambil menepuk pundak Ha Joon yang tengah tidur sambil memeluk bonekanya.

“Hmm…” jawab Ha Joon sekenanya.

“Mas, cepetan dong, mau tutup nih,” omel penjaga bianglala, sementara Key dan Taemin sibuk bawa barang-barang yang didapat di taman ria tersebut.

“Gendong Jong,” usul Onew. Jonghyun menatap hyung-nya tajam.

“Mau bikin skandal, hah?” tanya Jonghyun, masih menepuk pundak Ha Joon.

“Mas, cepetan dong!” omel penjaga bianglala lagi.

“Iya mas, maaf! Ini juga berusaha cepet,” kata Jonghyun. Karena tak ada pilihan lain, ia menggendong Ha Joon yang sedang tidur.

“Minho, bawa gih teddy bearnya dia!” perintah Jonghyun sambil menggendong Ha Joon di punggungnya.

“Eh? Aku?” tanya Minho pada Jonghyun.

“Iya, cepetan deh keburu dimarahin nanti,” kata Jonghyun, “ayo pulang! Khaja!”

Minho memungut teddy bear besar yang terjatuh itu, lalu menatap Jonghyun yang sedang menggendong Ha Joon.

Ini tidak mungkin, tapi Minho tau.

Ia cemburu.

To be continued 🙂

P.S : Hwuaaa.. mian mian mian… *bow 460 derajat* Beneran deh.. sebuah kesalahan teknis… harusnya ini FF udah keluar pas aku cek di LIBRARY belom ada.. terus aku cek di draft ternyata erorrrrr… hwueee… jadi timing nya gak jalan… miaaaannn… pada kelamaan gak nunggunya?? Maaf banget yah ^.^


-Lana-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^
Advertisements

LOVE’S WAY – IS IT LOVE [3.3]

Author: Novi

Main cast: Member SHINee, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin

Support Cast: Super Junior

IS IT LOVE – 3

Hye Jin POV

Aku masih terus saja menangis sambil berlari. Ah aku benci kenapa setiap aku marah selalu saja air mata ini turun. Aku bukan gadis lemah. Tiba-tiba aku menabrak seseorang, saat aku mendongakkan wajahku ternyata itu Taemin.

”Hye Jin…kau kenapa?”tanyanya begitu melihat air mataku mengalir.

Dia menjulurkan tangannya berusaha untuk menghapus air mataku, tapi buru-buru aku menghapus air mataku dengan tanganku.

”Aku tidak apa-apa…permisi…”jawabku.

Aku melewatinya dan berlari kembali. Jangan menangis lagi!aku terus berlari menuju taman sekolah, disana sudah tidak banyak orang lagi karena memang murid-murid sudah banyak yang pulang. Aku terududuk di salah satu bangku dan menangis sejadi-jadinya. Kenapa dia melakukan itu padaku?dia pikir aku cewek murahan apa! Dasar cowok brengsek!aku benci kau!sangat benci!

Aku masih menangis dan air mataku masih mengalir sangat deras sampai aku sadar seseorang duduk disampingku. Aku kembali menyeka air mataku.

”Kau baik-baik saja Hye Jin…”tanya Taemin begitu melihatku.

”Ne…aku baik-baik saja…”tapi tetap saja air mata ini terus turun.

”Kau sedang ada masalah?”tanyanya lagi.

Kali ini aku hanya terdiam, aku tidak mungkin bercerita apa yang tadi terjadi padanya. Aku masih terus menangis sambil menunduk. Kemudian aku merasakan tangannya menyentuh wajahku dan mendongakkan wajahku lalu menghapus air mataku dengan jarinya. Dan aku benar-benar merasakan aliran listrik di seluruh tubuhku dan jantungku berdegup sangat kencang.

”Jangan menangis lagi…kau bisa ceritakan masalahmu..aku tidak akan menceritakannya pada siapa-siapa…”lanjutnya.

Tapi mianhe Taemin aku tidak mungkin cerita itu padamu.

”Atau kau mau meminjam bahuku untuk menangis…mungkin akan lebih baik untukmu…”tanyanya sambil tersenyum.

Ya, lebih baik aku menangis sejadi-jadinya agar aku lebih tenang. Aku pun menyenderkan kepalaku di bahunya dan menangis.

Lima belas menit kemudian tangisanku berhenti hanya senggukan saja yang masih keluar dan lama kelamaan akhirnya berhenti.

”Gumawo..”begitu aku tidak menyenderkan kepalaku di bahunya.

Dia pun hanya tersenyum.

”Kau mau pulang?”tanyanya.

”Ne…”jawabku

”Biar aku antar…”serunya menawarkan aku tumpangan.

”Andwe..aku bisa sendiri..”jawabku buru-buru.

”Anni..nanti kau tersesat lagi sepeti kemarin…”dia pun tersenyum jahil padaku.

Aku pun menurut saja dan berjalan di belakangya menuju lapangan parkir.

”Bukankah kau mau latihan basket?”. Tanyaku begitu aku ingat bahwa dia hari ini ada latihan basket, sebenarnya aku sempat mencari tahunya. Aigoo!aku sudah gila dengan dia!

”Ne..nanti aku kesini lagi setelah mengantarmu…”serunya.

Aku jadi semakin salah tingkah begitu tahu dia mau mengantaku pulang ke rumah padahal dia mau latihan basket. Saat sampai di lapangan parkir dan Taemin akan mengenakan helm nya sebuah suara memanggilnya dan ternyata itu Minho.

”Taemin-ah..kau mau kemana?”teriak Minho dari jauh.

”Nanti aku kembali lagi…15 menit hyung….”jawab Taemin.

Aku jadi merasa bersalah, apa nanti dia dimarahi ya? Tapi kulihat Minho tersenyum dan berlalu begitu saja.

”Ayo naik…”katanya begitu dia sudah mengenakan helm. Aku mengenakan helm yang dia berikan padaku dan memegang erat-erat pinggangnya.

”Mianhe…merepotkanmu…”Kataku begitu kami sampai di depan rumahku.

”Ah…andwe…masih belum mau cerita nieh?”tanyanya sambil mengambil helm dari tangaku.

Aku Cuma tersenyum.

”Ah…Ok…kalau ada masalah kau bisa cerita padaku mungkin aku bisa memberikan sedikit solusi…aku ini pendengar yang baik loh…”Dia tersenyum kembali.

”Gumawo..”seruku.

”Annyeong…”dia pun melambai dan segera berlalu.

”Ne annyeong…”seruku.

Aku pun berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mataku, rumah benar-benar kosong, ibu sedang pergi bekerja dan nenek sedang pergi. Aku sendirian di rumah. Hari ini sangat panas, aku bangkit dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Aku masih memikirkan kejadian tadi, nyaris saja dia menciumku. Ah, aku jadi ingat kejadian itu dan membuatku kesal lagi dengannya.

”Hufft” aku mendesah dan kemudian meneguk air dingin dari gelasku.

”Hye Jin…”kudengar Hyo Jin sudah pulang dan berjalan menuju kemari.

”Kau sudah pulang”sapaku.

Dia hanya mengangguk dan mengambil gelas di meja lalu mengambil air dari kulkas dan menuangnya lalu meminumnya.

”Capek sekali hari ini”serunya.

”Kau pulang sendiri?”tanyaku.

”Tidak….tadi aku diantar Jin Ki, kenapa?”tanyanya.

”Andwe…”jawabku.

Aku berjalan pergi meninggalkan dapur menuju ke kamarku kemudian merapihkan bukuku.

”Ada sesuatu?”tanya Hyo Jin berdiri di ambang pintu kamar.

Sudah kuduga pasti dia melihat perubahan di wajahku dan itu menandakan bahwa aku sedang ada masalah. Cerita apa tidak ya pada Hyo Jin tapi aku sudah menganggapnya kakak perempuanku sendiri, tidak ada yang kami rahasiakan. Mungkin lebih baik aku bercerita padanya.

Aku duduk di lantai kamar dan Hyo Jin mendekatiku dan ikut duduk di depanku.

”Aku sedang kesal dengan seseorang” ceritaku.

”Siapa?”tanyanya.

”Orang yang sama seperti dulu…”jawabku.

”Aigoo Key lagi..memangnya kenapa lagi dengan dia?”tanya Hyo Jin lagi.

”Ya! Dasar cowok brengsek…tadi dia berusaha menicumku…”jelasku.

”Mwo?Mworago!”seru Hyo Jin sedikit terkejut.

”Ne…tadi sepulang sekolah…kutampar saja wajahnya saat itu…”terangku lagi.

Hyo Jin terdiam seperti berpikir.

”Dia pasti sengaja…dia pikir aku cewek murahan apa…seperti pacar-pacarnya…”aku melanjutkan ceritaku.

”Kau yakin dia melakukannya dengan sengaja?”tanya Hyo Jin penuh selidik.

”Tentu saja…diakan sangat membenciku…memangnya menurutmu?”jawabku dan malah balik bertanya.

Hyo Jin tersenyum beberapa saat.

”Andwe…”Lanjutnya.

Pasti Hyo Jin memikirkan hal yang aneh-aneh.

”Kupikir dia menyukaimu…habis entah kenapa aku merasa dia menyukaimu…makanya dia melakukan hal itu…mian…”seru Hyo Jin sambil tersenyum.

”Aissh! Jangan sampai dia menyukaiku…aku tidak mau disukai orang seperti itu…seandainya hanya ada satu cowok yang tersisa di dunia ini dan itu hanya dia…lebih baik aku sendiri…”seruku kesal.

Hyo Jin tertawa mendengar pertanyaanku.

”Tapi kalau Taemin bagaimana?”tanyanya.

Hyo Jin menatapku dengan pandangan jahil lalu tertawa terbahak-bahak.

”Aigoo..mukamu merah..”serunya sambil tersenyum kembali.

Apa maksudnya?mukaku tidak memerah. Hyo Jin mulai lagi. Kalau dia sudah mulai pasti susah memberhentikannya.

”Pasti senang ya tadi diantar olehnya…”Hyo Jin melanjutkan ledekannya.

Hey, darimana dia tau aku diantar olehnya. Dasar Hyo Jin!

”Darimana kau tahu aku diantar olehnya?”tanyaku.

Hyo Jin hanya tersenyum dan berjalan pergi keluar kamar.

”Rahasia…”serunya dan berlalu pergi.

”Ya!Hyo Jin-ah!”seruku.

Aku pun bangkit dan bergegas mengejarnya. Hyo Jin selalu seperti itu, kenapa sih dia begitu senang sekali mengejekku.

Taemin POV

Aku baru memarkirkan motorku begitu Minho Hyung menghampiriku.

”Mianhe hyung….telat 5 menit…”seruku padanya yang sudah berdiri di sampingku.

Pasti hyung marah padaku karena terlambat datang latihan tadi aku berjanji hanya 15 menit tapi aku telat 5 menit. Namun anehnya hyung menghampiriku dengan tersenyum. Aneh sekali dia.

”Andwe..kami baru saja mulai…ayo..”serunya mengajakku.

Hyung masih saja senyum-senyum melihatku. Ada yang anehkah padaku. Dia berjalan mendahuluiku.

”Jadi dia yeojachingumu?”tanya Minho tiba-tiba.

Yonjachingu?siapa? aku tidak punya yonjachingu. Hye Jin kah yang hyung maksud?

”Mworago?andwe…aku tidak punya yeojachingu…Hye Jin hanya teman…”aku mepercepat langkahku dan berjalan tepat disamping Minho Hyung.

”Kalian lucu sekali…kau menyukainya kan…”serunya.

”Itu pertanyaan atau pernyataan hyung?”aku mencoba tertawa mendengar perkataan Minho Hyung. Terkadang dia bertanya tapi seperti menyatakan.

”Ya..jangan mengalihkan pembicaraan….jujur saja kau menyukainya kan?”tanyanya lagi.

”Hyung ada-ada saja…aku mau ganti baju dulu…”

Aku bergegas menuju ruang ganti dan mengganti bajuku daripada nanti dia menanyakan hal yang semakin aneh saja. Apa aku menyukainya? Pertanyaan yang diajukan pada diriku tapi aku pun tidak bisa menjawabnya. Aku sendiri bingung apakah aku menyukainya atau tidak. Aigoo!

”Taemin-ah!!” Teriak Siwon Sunbae dari lapangan.

Aku pun beregegas masuk ke lapangan.

Key POV

Apa yang akan terjadi besok! Ahh! Kenapa aku ini? Dari tadi aku tidak bisa konsentrasi berlatih selalu saja ingat Hye Jin. Sudah dua kali aku ditegur oleh Changmin Sunbae, aku pun duduk d pinggir melihat yang lain berlatih. Aku termenung memikirkan kejadiaan tadi, apa yang akan Hye Jin pikir tentangku. Bekas tamparannya masih terasa perih. Dasar cewek bodoh!

”Hyung…tidak latihan?”

Taemin datang menghampiriku dan duduk disampingku.

”Andwe…masih capek…”jawabku asal.

”Ada apa hyung?tumben biasanya hyung yang paling semangat latihan…”serunya lagi.

”Anni..tidak apa-apa…ya taemin-ah…apa kau pernah jatuh cinta?”tanyaku padanya.

”Ya..belum..memangnya kenapa? Ah hyung bukannya kau sering jatuh cinta…”serun Taemin.

Ah Anak ini, dia malah tertawa. Sebegitu seringnyakah aku jatuh cinta.

”Mianhe hyung…hanya bercanda…habis pertanyaan hyung aneh sekali…”serunya lgi.

Memangnya aneh ya bertanya seperti itu. Ah aku menjadi gila sendiri dengan pikiranku. Apa yang terjadi padaku? Lebih baik aku latihan saja agar aku tidak selalu kepikiran cewek kasar itu.

”Ayo latihan lagi..”ajakku pada Taemin.

Satu jam sudah kami berlatih. Ahh capek sekali. Segera ku sambar tas ku dan berjalan pergi.

”Kibum tunggu aku…”Minho memanggilku dari jauh dan mengejarku.

”Lama sekali mandinya…”seruku padanya.

”Mianhe…”jawabnya cuek.

Hah punya adik seperti ini sungguh menyusahkan. Kenapa ayah selalu ingin kami pulang bersama, sejak kecil kami harus kemana-mana bersama. Aku dan Minho punya kepribadian yang sangat bertolak belakang mungkin jika hanya melihat saja tidak akan ada orang yang percaya bahwa aku dan Minho bersaudara bahkan kembar. Terkadang aku sedikit kesal dengan Minho karena terkadang ayah lebih senang dengannya bagaimana tidak jika Minho punya rasa kompetisi yang besar dan dia selalu berusaha untuk mendapatkan yang terbaik dari semua hal yang dia lakukan. Seperti saat ini ketua tim basket sekolah dan masuk kelas A. Apa yang tidak bisa dia lakukan?hampir semua hal dia bisa. Dulu aku sering iri dengannya tapi seiring bertambahnya umurku aku sudah tidak terlalu peduli lagi dengan hal itu. Biarlah Minho melakukan apa saja hal yang disukainya asal tidak mengangguku.

Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamarku dan menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, aku menggapai HP ku yang kuletakan di kantong tasku. Kulihat di layar ada 5 missed call dan 5 pesan masuk dan kesemuanya dari Yu Ri, ah mau apa cewek itu. Sudah berapa kali aku bilang aku tidak menyukainya dia terus saja mengejarku.. Sudahlah tidak usah di balas. Aku mengantuk, sebaiknya aku tidur sebentar.

Belum sempat aku tertidur Minho masuk ke kamarku.

”Kibum!”teriaknya padaku.

”Ya!tidak usah teriak bisa kan?aku belum tidur!ada apa?”seruku begitu Minho masuk dan berteriak memanggilku.

”Aku pinjam komputermu…komputerku error lagi…ada tugas yang harus aku kerjakan….”serunya.

”Ne….pakai saja…”jawabku tidak peduli.

Gara-gara tadi dikagetkan Minho aku tidak bisa tidur. Aku mengamatinya sedang mengetik di komputer, ku ambil ipod-ku dan kupakai headphonenya sambil tiduran di atas tempat tidur. Tapi tetap saja mataku tidak mau terpejam. Aku jadi mengigat kejadian tadi lagi. Aigoo!! Kenapa sih selalu cewek itu!apa benar aku menyukainya?pernyataan yang selama ini selalu berusaha ku tepis. Tapi setiap di dekatnya aku merasakan sesuatu, sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya meski dengan cewek lain. Apa jangan-jangan aku mencintainya. Andwe…tidak boleh…apa yang membuatku begitu tertarik padanya?tidak ada yang istimewa darinya hanya kelakuannya saja yang sangat kasar tapi kenapa.

”Minho…”seruku pada Minho yang duduk di depan komputer.

”Hemm…”Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.

”Apa kau pernah jatuh cinta?”tanyaku.

Minho berbalik dan menatapku dengan tatapan bingung.

”Kau sakit, Hah?”tanyanya.

”Aku serius”jawabku.

”Ah kau sedang jatuh cinta sekarang?dengan siapa lagi?”tanyanya lagi.

”Aishh memangnya aku begitu seringnya apa?”jawabku.

”Tanya saja pada dirimu sendiri…”Jawabnya cuek, dan kembali menghadap komputer

Meminta saran dengannya sama seperti berbicara dengan tembok tak ada hasilnya.

”Ya!aku kan sedang bicara denganmu”seruku padanya yang sudah kembali menatap layar komputer.

”OK..kau mau bicara apa lagi, pertanyaan seperti itu tidak perlu kujawab kau lebih mengerti…”jawabnya kembali menghadap ke arahku.

”Ne…aku sedang jatuh cinta tapi kali ini berbeda…aku benar-benar jatuh cinta…aku menyukai gadis itu…aku ingin memilikinya…”akuku.

”Sudahlah Kibum…jangan mempermainkan wanita lagi…”seru Minho.

”Kali ini aku benar-benar menyukainya, Minho..aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya pada siapapun baru kali ini dan hanya pada gadis itu…tapi kurasa dia membenciku…”jelasku.

”Tentu saja dia membencimu…lebih baik kau rubah dulu sikapmu…”dia kembali berbalik dan menghadap komputer.

”Ah sial! Bicara denganmu tidak memberikan solusi…”seruku sambil mendengus kesal.

Dasar punya adik seperti dia tidak menguntungkanku, masa dia hanya menjawab seperti itu. Kembali kurebahkan badanku di atas tempat tidur dengan headphone masih terpasang dan berusaha memejamkan mataku. Aku harus berubah…

-TBC-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^

Love You Forever – Part 4

Love You Forever

[part 04]

Casts:

-Lee Hyojin

-Kim Sora

-Young Mincha

-SHINee

No one POV~

Setelah mereka berperang dengan pikiran mereka sendiri, akhirnya mereka pun masuk ke alam mimpi mereka. Bosen nih, syutingnya Mincha ama Onew mulu’… Ganti peran yaaaa…. Oh, iya.. Hyojin aja, deh… Kasian tuh nggak ditampilin dari tadi. *diclurit*

***

Di kamarnya, Hyojin tampak tidak bisa tidur. Dia hanya membolak-balikkan tubuhnya yg gempal itu. *author dibantai Hyo* Dia heran, pada sikap Key. Tidak biasanya cowok itu tersulut emosinya. Emank sih, baru kali itu Hyo melihat Sora menangis. Tapi, aneh aja. Biasanya kan Sora ngerjaen Key terus, apa wajar kalo Key bisa semarah itu hanya gara2 melihat Sora menangis.

***

Hyojin POV~

Aaaaah! Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Kenapa nggak ada kabar sama sekali dari Key, siiih?! Aku kan khawatir ama Sora. Ugh! Mana di-SMS gag dibales2 dari tadi. Pokoknya besok mereka utang penjelasan padaku.

Kucoba memejamkan mata. Tapi tetap tidak bisa tidur. Ah, telpon Mincha aja deh. Kuambil ponselku, lalu mencari nama Mincha di kontakku.

Tuut.. tuut… kutunggu jawaban di seberang sana dengan sabar.

‘Halooo!’ akhirnya diangkat juga.

‘Cha? Kok lesu gitu sih suaramu?’

‘hah? Nggak! Aku cuma kepikiran Sora aja. Kamu ngapain jam segini telpon?’

‘Aku juga khawatir nih ama Sora. Tapi dari tadi Key nggak ada ngasih kabar ke aku.’

‘Ya di telpon dong, Hyo! Ck, kamu ini!’

‘Eh, iya juga ya! Hehe… ya udah deh! Aku telpon Key dulu! Dadah, Cha! Met bobok.’ Setelah itu langsung kuputuskan sambungan.

Kuketik dengan cepat nomor Key, kemudian kutekan tombol call. Setelah beberapa saat, akhirnya tersambung juga.

‘Halo, Key!’

‘Hmm, ya Hyo?! Ada apa jam segini telpon?’ kudengar nada kesal dari suaranya.

‘Ah! Maaf! Aku emank salah. Nggak lihat waktu.’ suaraku bergetar menahan sesak di dadaku.

‘Aissh, Hyo! Kau ini jangan nangis. Aku nggak mau orang yang kusayangi menangis. Apalagi gara2 ucapanku.’ ucap Key berusaha menenangkanku.

‘Aku tidak menangis. Memang aku yang salah. Tadinya aku ingin menanyakan keadaan Sora, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Maafkan aku.’ Setelah mengucapkan kata2 itu, aku segera mematikan ponselku dan melemparnya ke ranjang. Aku menumpukan kepalaku di meja belajarku. Tak kugubris ponselku yang terus bordering. Mungkin Key yang menelpon balik. Tapi aku enggan menanggapinya sekarang.

*sigh* Kenapa sih, dia egois gitu? Aku dari tadi siang SMS nggak dibales, ditelpon malah ngomel2 gitu. Lagian kan biasanya juga, jam segini kami masih telpon2an. Lama2 aku nggak kuat dengan sikapnya itu. Tanpa kusadari aku pun terlelap di tengah kemelut yang kurasakan.

Esoknya, saat aku terbangun, aku telah berada di ranjangku. Siapa yang memindahkanku? Bukannya semalam aku tertidur di meja ya? Di saat aku disibukkan oleh pertanyaan2 yang melintas di kepalaku, seseorang membuka pintu kamarku.

“Hyo, kamu sudah bangun?” tanya orang tersebut. Mataku terbelalak melihat sosok itu. “Key?” desisku tak percaya. Aku langsung menutupi wajahku dengan selimut. Tidaaak, tampangku saat ini pasti kucel. Kudengar suara langkah kaki mendekatiku. “Kenapa, sih? Kok ditutupin gitu?!” tanya kekasihku itu sambil berusaha menurunkan selimut yang menutupi wajahku. “Ya! Kamu ini ngapain pagi2 udah di sini?! Aku masih kucel gini! Malu tauk.” gerutuku kesal.

“Hahaha!! Sudahlah, cepat mandi sana! Aku tunggu di bawah.” ucapnya sambil mendorongku masuk ke kamar mandi, sebelum ia keluar dari kamarku.

Setelah selesai mandi dan berdandan, aku pun turun ke bawah. Kulihat Key duduk menunggu di ruang keluarga dan saat menyadari kehadiranku, ia menatapku dari atas sampai bawah. Kemudian ia menghampiriku dan menarik tanganku agar aku mengikutinya, tentu saja setelah berpamitan dengan orang tuaku. Aku hanya bisa pasrah dengan tindakannya kali ini.

Kami berhenti di depan rumahnya. Jujur baru kali ini aku ke rumahnya bersamanya. Biasanya sih, aku ke sini hanya untuk menemui Sora. Aku memandang heran ke arahnya. Kenapa membawaku ke sini? pikirku bingung.

Key lalu mengajakku masuk. Tapi kok sepi banget ya, ni rumah?? Kemudian dia membawaku memasuki sebuah kamar, yang kutahu itu adalah kamar Sora. Kulihat Sora masih terbaring lemas di ranjangnya. Kudekati Sora.

“Sora, kamu sakit apa, sih? Nggak biasanya kamu pingsan kayak kemarin. Ada apa? Cerita dooong…. “ berondongku yang segera mendapat jitakan lembut *emank ada, y?* dari Key. Aku langsung cemberut. Melihat itu, Sora seperti mendapat energi penuh. Ia segera bangkit, dan memukuli Key dengan buas *main2 tentunya*. Aku hanya bisa terbengong-bengong melihat Sora.

***

Key POV~

“Sora, kamu sakit apa, sih? Nggak biasanya kamu pingsan kayak kemarin. Ada apa? Cerita dooong…. “ berondong Hyo pada adikku yang masih terlihat sedikit pucat itu. Segera kujitak pelan kepala Hyo. Dapat kulihat wajahnya langsung cemberut. Wah gawat nih. Kesalahan melakukan itu di depan Sora. Kulirik Sora. Waduh langsung seger buger dia. Kulihat dia segera bangkit menghampiriku dan memukuliku dengan buas *main2 tentunya*. Aku hanya bisa merintih dipukuli seperti ini. Ck, apes banget deh punya adek kayak gini.

Akhirnya, Sora mengakhiri kekerasannya padaku. Dia segera memeluk Hyojin erat2. “Hyoooo,, Sora kangeeeen….” ucap adekku manja pada kekasihku itu. Aissh, kenapa kalo aku, pasti dianiaya. Kulihat Hyo mengusap-usap rambut Sora yang sebahu itu dengan sayang. “Hyo khawatir  kemarin Sora tiba-tiba nangis ampe pingsan gitu. Sora ada masalah apa? Cerita, ya, ke Hyo. Hyo bakal bantu sebisa Hyo.”

Tampak wajah Sora menatapku sebelum akhirnya dia menceritakan semua kejadian yang menimpanya, yang selama ini selalu ia sembunyikan dari siapa pun. Yaah, kecuali aku. Sora selalu menceritakan semua masalahnya padaku. Kuperhatikan wajah Hyo yang tampak serius mendengarkan curhat-an Sora. Jarang-jarang aku bisa memperhatikan dengan seksama wajah kekasihku ini. Tanpa kusadari wajahku memerah, menyadari hal ini. Lee Hyojin, gadis yang telah kupacari selama beberapa bulan ini *bini2 Key pada bawa parang nih, hati2 Hyo*, kalau diperhatikan ternyata wajahnya menggemaskan, imut, manis gimanaaa getoh. Pipinya tembem. Aku merasa sedikit menyesal selalu menjahilinya selama ini. Perlahan aku keluar dari kamar ini, memberikan waktu pada Sora untuk menumpahkan semua beban di hatinya.

***

Hyojin POV~

Setelah mendengarkan cerita Sora, aku pun terdiam. Kucoba merangkai kata2 yang tepat untuk menanggapi curhatannya.

“Mungkin saat itu Minho sedang khilaf. Cobalah beri ia kesempatan untuk menjelaskan semuanya,” ucapku perlahan. Sora menatap tajam ke arahku. Aduh, gawat. Kayaknya salah ngomong deh. Duuuuh, Mincha mana siiii?? Cuma dia yang bisa ngertiin Sora, selain Key tentunya.

“Aduuuh,, Sora! Maksud Hyo tuh, nggak ampe sentuhan kok. Cuma dengerin penjelasannya dia aja! Kalo perlu, Hyo siap nemenin kok. Kalo masih kurang masih ada Key, atau masih mo ditambah Mincha ama Onew?!” ujarku panik. Melihatku panik, Sora tertawa keras. “Hahahaha!! Hyo lucu! Aku nggak mungkinlah marah ma kamu. Kecuali kamu nyakitin Key.” kata Sora sambil menahan tawa. Kupeluk erat2 tubuh Sora. *Hyooo,, Mincha juga mau peluk Soraaa….*

“Mana mungkin aku nyakitin Key… Aku cinta banget ma dia..” balasku pelan tanpa menyadari bahwa orang yang kami bicarakan mendengar semua pembicaraan kami.

Tiba-tiba aku tersentak. Sesuatu telah menutupi kedua mataku. Kemudian terdengar sebuah suara yang sangat kuhapal, membimbingku untuk mengikutinya. Tumben Sora diam, biasanya dia akan sangat brutal kalo aku dijahili oleh kakaknya. Apa yang sebenarnya telah mereka rencanakan? Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja menuruti kemauannya.

Setelah lebih kurang 10 menit aku berjalan dengan mata tertutup, akhirnya Key melepaskan tangannya yang ia gunakan untuk menutup mataku tadi. Segera saja aku berbalik menghadapnya untuk mendamprat dirinya. Aku sudah tidak tahan dengan semua yang dia lakukan padaku selama ini. Tapi jujur, aku memang tidak bisa lepas darinya. Aku amat sangat mencintainya. *bini2 Key bawa parang.*

“Apa lagi yang kau rencanakan kali ini, hah? Kau selalu menjahiliku. Kau tidak tau kan, aku sampai berpikir bahwa kau tidak mencintaiku. Jangan buat aku semakin mencintaimu, kalau kau tidak punya perasaan yang sama denganku.” Hhh…. Akhirnya yang selama ini kupendam bisa kukeluarkan juga. Tapi aku jadi tidak berani menatap wajahnya.

Kukira, Key akan meninggalkanku setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulutku ini. Tapi ternyata dia malah membalikkan tubuhku memunggungi dirinya, kemudian dia mengangkat daguku dengan tangannya dari belakangku. Dan saat aku melihat ke arah yang Key tunjuk, aku hanya bisa terdiam. Aku tak percaya dia bisa membuat kejutan seperti ini.

Kutolehkan wajahku hingga aku menatap matanya, meminta penjelasan atas semua ini. Namun bukannya cepat menjawab, dia malah seperti berusaha menghindari tatapanku, dengan wajah yang memerah. *salting getoh ceritanya*

Kulihat lagi taman dekat sekolahku yang kini dipenuhi dengan balon-balon berbentuk hati berwarna pink, warna kesukaanku. *bener nggak, Hyo? Lupa aku* Serta sebuah meja di tengah2 kumpulan balon hati tersebut, dengan sebuah cake besar di atasnya. Ini sebenarnya ada apa, sih? Ada perayaan apa? batinku bingung. Tiba-tiba, kurasakan sesuatu telah melingkar di leherku. Ternyata sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang ketika dibuka berisi foto Key bersama diriku. Aku memandang Key dengan bingung.

“Happy birthday, my sweetheart!” ucap Key pelan, lalu mengecup keningku. Aku seperti tersengat mendengar hal itu. Segera kupeluk dirinya. “Thank’s…” Perlahan air mataku mulai jatuh. Dapat kurasakan tangan Key mengusap lembut punggungku. “Kok nangis? Aku merasa sakit melihatmu menangis. Bukankah semalaman tadi kamu udah nangis?” ucap Key dengan penuh kelembutan. “Maaf,, selama ini aku selalu jahilin kamu. Aku nggak tau caranya menarik perhatianmu. Kamu pacarku, tapi kamu kadang lebih mentingin Mincha daripada aku, pacar kamu. Ssst,, biarkan aku menjawab semua pernyataanmu tadi. Kamu diam aja dulu,”katanya saat aku akan mengatakan maaf. “Mungkin aku emang aneh bisa cemburu ama Mincha karena itu aku selalu menjahilimu supaya kamu melihatku. Supaya kamu menyadari bahwa aku selalu ingin berada di sisimu. Ternyata caraku itu memang salah. Maafin aku, ya! Semalaman aku diomelin ama Sora gara2 sering jahilin kamu. Hehehe…”

Segera kuraba dahinya sambil bertanya dengan panik, “Kamu nggak lagi sakit, kan Key? Masih waras kan? Apa tadi pagi kejedot sesuatu gitu?” Sepintas kulihat wajah Key cemberut, tapi aku pura2 nggak tau aja. Tiba2 kedua pipiku terasa panas karena cubitannya. Aku langsung menjerit sekeras-kerasnya. “KEY, SAKIT TAUUUK!!”

“Abisnya,, udah aku beraniin ngomong serius gitu, kamunya malah nggak percaya.” ucapnya merajuk. Aissh, apa-apaan itu?! Akhirnya, kuberjalan meninggalkannya menuju cake besar yang daritadi lumayan menggoda imanku. *Kan Hyo emang gembul* *Author ditendang Hyo*

***

Key POV~

Kulihat Hyo berjalan meninggalkanku menuju cake besar tersebut. Setengah berlari, kukejar Hyo. Setibanya kami di tengah2 balon2 hati yang bertebaran itu, Hyo tersenyum ke arahku dan berkata, “Terima kasih, kamu udah inget ulang tahunku. Padahal aku aja nggak inget.” Aku terpana melihat senyumannya. Baru kusadari, kekasihku ini mempunyai senyum yang sangat menawan. Segera kupeluk ia dari belakang. Kuletakkan daguku di pundaknya. Dapat kurasakan tubuhnya bergidik. Makin kueratkan pelukanku di perutnya. Seolah tak ada hari esok.

“Key, se..sak!” ucapnya sambil berusaha melepaskan kedua tanganku dari pinggangnya. Aku pun segera melonggarkan pelukanku sambil mencium puncak kepalanya.

“Key?? Ayo pulang! Aku khawatir pada Sora! Lagipula tingkahmu hari ini sangat aneh. Aku jadi sedikit takut padamu.” ucapnya tiba2, mengagetkanku.

“Aissh, iya ya.. Aku lupa Sora masih belum sehat. Ayo ke rumahku dulu. Nanti kuantar pulang.” ajakku sambil menggenggam tangan Hyojin dan menariknya agar mengikutiku.

Sesampainya di rumah, aku segera mengajak Hyojin ke kamar sora. Saat kubuka kamarnya, tampak Sora yang tengah tidur. Kami dekati dia. Tiba2, dia mengigau. “Jangan dekati aku lagi… Aku nggak mau kamu terluka karenaku. Minho pasti akan memukuli cowok2 yang dekat denganku.” ucapnya lirih dengan suara bergetar menahan tangis.

Aku menatap Sora dengan sayang. Ya Tuhan, kirimkanlah seorang malaikatmu agar adikku ini bisa terlepas dari ‘ketakutan’ itu.

***

Hyojin POV~

Hari ini sikapnya aneh sekali. Nggak biasanya Key seperti itu. Walaupun hari ulang tahunku pun, biasanya dia cuek. Huaaahh, makin dipikir makin bingung aku. Kupandangi wajah Sora yang sudah tampak lebih tenang. Sepertinya demamnya sudah turun. Kuraba keningnya, sudah tidak sepanas tadi. Sora harus kubiarkan beristirahat. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 7 malam. Aku harus pulang.

“Key!” panggilku. Dia menoleh kaget. “Sudah malam, aku mau pulang.” pamitku.

“Sora sudah tidur?” tanyanya.

“Sudah. Demamnya juga sudah turun. Ayo, antar aku pulang!” ucapku sambil menarik tangannya.

“Iya.. Iya..” jawabnya sambil beranjak dari duduknya.

Kami berjalan dalam diam memikirkan berbagai hal dalam otak kami. Tak berapa lama kemudian, kami pun sampai di depan rumahku.

“Mau mampir dulu, apa langsung pulang?” tanyaku.

“Mampir. Aku mau minta maaf sama orang tuamu karena mengembalikanmu malam-malam begini.” jawab Key. *haha… nggak nyangka bisa bikin karakter Key jadi kayak gini!*

“Ayo, masuk!” suruhku sambil membuka pintu, “Ma! Pa! Nih, Key mau ketemu!”

“Ya! Dasar kau ini! Nggak sopan teriak2!” jawab Mamaku dari ruang keluarga.

“Maaf, tante, Hyojin baru saya kembalikan. Tadi Sora demam lagi,” pinta Key.

Cih, dasar bermuka dua. Kenapa kalo sama aku jahil banget?! Hhh…

“Oh, ya? Sora demam? Cepat sembuh, ya!” kata mama.

“Iya, tante.. Kamsahamnida!” jawab Key.

“Ayo, makan bareng. Tante, udah masak banyak tadi. Kirain Sora diajak juga, ternyata lagi sakit toh.” ajak mama pada Key. “Pokoknya kalo kamu nggak mau, kamu nggak boleh main ke sini lagi,” ancam Mama mengetahui Key akan menolak.

Kami berempat makan sambil berbincang tentang segala hal. Tiba-tiba pembicaraan kami diputus oleh dering telepon di rumahku. Mama buru-buru mengangkat telepon itu. Begitu kembali ke ruang makan, wajah beliau tampak sendu.

“Ada apa, Ma?” tanya Papa. Bukannya menjawab, mama malah menghambur ke arah papa dan menangis tersedu-sedu.

TBC…

Mampet ampe di sini. Bingung mo lanjut kayak gimana ceritanya… buat hyo,, ayo, request… kisahmu ama Key mo digimanain… Kalo nggak,, otak author lgy psikophat niy… Ntar kalo ampe terjadi hal2 yang diinginkan author gimana??

P.S: Hwuaaaa… kumaha iye teh… *aduh ngomong apa lagi gw.* salah saia ini.. hwueeee… harusnya ff ini udah di publish tapi WP kacau.. maafkan sayaaaaa bagia yang lupa ceritanya buka page Library yah… saya mohon maaaaafffff… *bow 600 derajat* *lebay!*

-Lana-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^