Love Me – Part 1

LOVE ME

Main Cast: Kim Kibum, Lee Jinki.
Support Cast: Shinee, Nichkhun 2PM, Super Junior, other artist
Author: Sharyne a.k.a Shaylee

Annyeong haseyo Chingu! Choneun Choi Cha Rin imnida. Umurku 18 Tahun, sekarang aku adalah mahasiswi baru di Konkuk University, Seoul. Pasti tau kan? Iya, Aku kuliah di kampus yang sama seperti Minho Shinee. Disini ia adalah sunbae-ku. Minho oppa sebenarnya adalah sachon-ku, tapi sshh.. Jangan bilang – bilang ya. Aku tidak mau dikejar – kejar oleh yeoja sekampus gara –gara ini ^^

~~~

Ting tong.. Ting tong..

Aku menekan bel sebuah rumah yang lumayan besar di pinggiran kota Seoul, menurut alamat kertas yang dikasih Bibi Han sih memang benar ini rumahnya. Rumah keluarga Choi.

Krek. Pintu dibuka, seorang wanita yang kira – kira berumur 50 tahunan tersenyum kearahku.

“Annyeong hasimnikka”

“Annyeong hasimnikka”

“Apakah kau Choi Cha Rin?” tanyanya masih tersenyum.

“Ne” jawabku.

“Silahkan masuk, Agassi. Nyonya telah menunggu didalam.”

Aku memasuki rumah itu, berjalan mengikuti orang yang membukakan pintu tadi.

“Jwesonghamnida Agassi, nama saya Gum Gan Hee. Saya kepala pelayan disini, jika ada yang perlu dibantu jangan sungkan untuk memanggil saya. Orang-orang disini biasa memanggil saya Bibi Gum” Aku tersenyum menjawabnya.

Kami berhenti disebuah ruangan, terlihat jelas kalau ini ruang tamu. Bibi Gum mempersilahkanku duduk disebuah sofa. Ia menyuruhku menunggu sebentar.

“Cha Rin-ah? Kau kah itu?” suara seorang wanita mengagetkanku. Aku berdiri dan berbalik badan, terlihat seorang wanita yang kira – kira umurnya akhir empat puluhan.

“Ne, Annyeong haseyo” aku membungkukkan badanku. Ia memelukku.

“Kau sudah besar ya sekarang.” Ia mengukur tinggiku dengan tanganya, “Ayo aku tunjukkan kamarmu. Setelah itu kita makan malam”

Ahjumma tadi adalah Nyonya Choi. Ia menikah dengan adik Appa-ku. Sekarang aku harus tinggal dirumahnya, yaa karena sekarang aku kuliah di Konkuk. Sebelumnya aku tinggal di Jakarta.

Aku mengikutinya berjalan keatas tangga, kemudian memasukki sebuah ruangan. Warnanya lavender, warna kesukaanku.

“Cha Rin-ah semoga kau suka dengan kamar ini. Aku sendiri yang men-design­-nya.”

“Ne. Aku menyukainya kok!”

“Oh ya Cha Rin-ah. Maukah kau memanggilku umma? Aku sangat ingin mempunyai anak perempuan. Saat aku tau kau akan tinggal disini aku senang sekali”

“Eh? Ne. Umma” jawabku. Ia memelukku lagi.

“Nah, kau akan kutinggalkan disini untuk bersiap – siap. Mandilah. Disini ada water heater jadi kau bisa mandi dengan air panas. Nanti Bibi Gum akan memanggilmu”

“Ne. Gamshahamnida umma”

Saat ‘umma’ keluar, aku mulai benar – benar memperhatikan keadaan kamar ini. Kamarnya lebih luas dari kamarku di Jakarta. Satu single bed putih beserta bedcover dan juga bantal guling. Rak buku berisikan ensiklopedi dipojok ruangan. Diseberangnya ada sebuah meja belajar putih lengkap dengan lampu dan kursinya. Ada meja rias yang terletak diantara rak buku dan jendela yang tertutup tirai.

Tak lama setelah aku mandi, terdengar beberapa kali ketukan dipintu kamarku. Ternyata itu Bibi Gum yang memberitahukanku bahwa makan malam sudah siap. Karena aku sudah lapar, aku ikut turun dan makan diruang makan dengan keluarga baruku.

Ternyata disana ada pamanku! Tuan Besar Choi, haha.

“Samchon! Nan neomu bogoshipeosso!” ujarku saat ia memeluku.

“Aaah.. Nado bogoshipeosso Cha Rin-ah. Ayo kita makan.”

“Hanya bertiga paman? Kemana Minho?”

“Sebentar lagi juga akan turun. Nah itu dia.”

Aku menoleh kebelakang. Minho? Choi Minho? Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut acak – acakan turun dari tangga lalu berjalan kearah kami. Ia melemparkan pandangan mencurigakan kearahku.

“Minho-ya, ini sepupumu dari Jakarta. Untuk sementara, ia akan tinggal disini sampai dapat apartemen yang bagus di kota.” Ujar Ajumma

“Sepupu?”

“Annyeong haseyo Minho-ssi” aku membungkukkan badan.

“Ne. Annyeong haseyo”

“Kalian ini formal sekali. Waktu kalian kecil, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Selalu ingin bersama. Mungkin karena lama tidak bertemu ya? Haha. Ayo makan!” ajak Sachon.

Kami semua duduk dimeja makan. “Cha Rin-ah. Ini semua umma yang masak loh!”

“MWO?!” Minho dan pamanku terbatuk. “UMMA?” ujar mereka kompak.

“Aish.. Kalian ini, aku ingin ia memanggilku umma. Berarti Cha Rin-ah, kau harus memanggil pamanmu itu appa, dan memanggil sepupumu itu oppa. Arraseo?”

“Eh? Ne. Arraseo umma”

~~~

“Oppa, hari ini kau akan menemaniku mencari apartemen kan hari ini?” tanyaku pada Minho yang sedang memakai sepatunya di ruang tamu.

“Ne. Tapi kau tidak keberatan kan kalau kuajak ke dorm ku sebentar?”

“Dorm?”

“Ne. Sebentar saja. Hanya ingin mengambil jadwal.”

“Jadwal?”

“Aish kau ini banyak sekali bertanya” ia tiba – tiba menarikku keluar rumah. “Tunggu disini, aku mau mengambil mobil dulu”

Setelah masuk kemobil, aku ingin sekali kembali bertanya kepadanya. Ah tapi nanti dia protes lagi karena aku terlalu banyak bertanya. Akhirnya kuurungkan niatku untuk bertanya. Dan kami terdiam sepanjang perjalanan.

“Kau mau turun atau tidak?” tanyanya setelah mematikan mesin mobil.

“Mau”

“Baiklah, ikuti aku. Jangan macam – macam. Jangan berbicara sebelum ditanya. Arraseo?”

Galak sekali dia ini, aku kan sepupunya! Walaupun aku ini lebih muda darinya, tapi kan.. “Arraseo?” ia bertanya lagi.

“Ne.. ne. Arraseo oppa”

“Satu lagi, kau boleh memanggilku oppa, tapi jangan disini”

Aku mengikutinya berjalan masuk kesebuah gedung, ia melambai kearah seorang resepsionis yang menyapanya. Kemudian kembali berjalan kearah lift.

“Kau masih ingat kan apa yang ku katakan tadi?” tanyanya di lift.

“Ya tentu. Tidak boleh macam – macam. Tidak boleh berbicara jika tidak ditanya. Tidak boleh memanggilmu oppa disini. Ya kan oppa?” aku dengan sengaja menambahkan kata oppa pada akhir kalimatku.

“Aish” tiba – tiba pintu lift terbuka. Ternyata kita sudah sampai di tujuan. Aku kembali mengikutinya berjalan entah kemana.

Bagaimana kalau ia berniat untuk menculikku? Ah. Kenapa aku bisa berfikiran sepert itu? Babo! Aku memukul – mukul kepalaku.

“Ya! Kau ini. Sudah kubilang jangan bertingkah aneh.”

“Maaf”

Ia berhenti disebuah pintu kamar. Lalu memencet bel nya.

“Nugu?” Terdengar suara dari interphone

“Taeminnie buka pintunya!” ujar Minho.

Pintu kemudian dibuka. Seseorang yang bernama Taemin tadi melihat kearahku.

“Hyung.. Ini..?” ia menatapku bingung.

“Ah namanya Cha Rin. Aku akan menemaninya mencari apartemen hari ini” jawab Minho. “Ayo masuk Cha Rin-ah, tidak akan ada yang berani berbuat macam – macam kepadamu.” Ia menarik tanganku masuk kedalam.

“Lee Taemin imnida” Taemin membungkukkan badan kepadaku.

“Choi Cha Rin imnida” ujarku membungkuk juga.

Taemin masih belum bisa mengalihkan matanya padaku. Minho berdeham, seketika itu Taemin dan aku salah tingkah. “Mana yang lain?” Tanya Minho sambil berjalan memasuki ruangan lain.

“Oh.Onew hyung sedang pergi dengan manajer hyung. Kibum hyung dan Jonghyun hyung ada didalam” jawab Taemin.

Aku melihat dua orang yang disebut Kibum dan Jonghyun itu sedang asyik menonton tv diruang tengah. Entah yang mana Jonghyun yang mana Kibum, aku bingung. Sama seperti Taemin, mereka terkejut melihat Minho membawa seorang yeoja ke dorm mereka.

“Minho-ya? Ini..?” Tanya salah satu dari mereka Kibum atau Jonghyun.

“Ah dia akan memperkenalkan dirinya kepada kalian, aku ingin mengambil jadwal dulu hyung” Minho meninggalkan ku diruangan itu dengan tiga orang namja yang menatap aneh kearahku. Aish! Awas kau Choi Min Ho!

“Ah.. Kau yeoja chingu nya Choi Minho ya?” Tanya seseorang yang mempunyai rambut berpotongan poni samping

“Mwo? Bukan, aku sepupunya” jawabku sambil tersenyum.

“Siapa namamu?” Tanya orang itu lagi.

“Choi Cha Rin imnida.” Jawabku.

“Wah, Minho tidak pernah bercerita tentang mu sebelumnya. Anjuseyo Cha Rin-ssi” orang itu menyuruhku duduk disebelah cowok yang mempunyai rambut sedikit jabrik yang di cat cokelat, kuning, dan entahlah itu.

“Maaf.. A..” aku menggantungkan kata – kata yang ingin kuucapkan, mengingat Minho oppa melarangku untuk berbicara jika tidak ditanya.

“Jangan sungkan” ujar cowok yang duduk disebelahku

“Aku belum tau nama kalian, jadi aku bingung ingin memanggil kalian apa” jawabku polos.

“MWO? Memangnya kau tidak tau kami?” Giliran Taemin yang bertanya.

Aku menggeleng pelan. “ Aku baru pindah dari Jakarta kemarin. Aku tidak tahu kalian, maaf”

“Minho hyung tidak pernah bercerita tentang kami?” Tanya Taemin lagi dan aku kembali menggeleng.

“Ya! Kenapa aku dengar namaku disebut – sebut?”  Minho tiba – tiba sudah ada diruangan tengah bersama kami.

“Cha Rin-ssi tidak tahu siapa kami hyung” jawab Taemin polos.

“Mwo? Cha Rin-ah, kau tidak tau siapa aku?” Minho yang bertanya kepadaku sekarang.

“Ya jelas aku tau kau itu Minho” aku menjawabnya ketus.

“Apakah kau tau Shinee?” Tanya Minho lagi.

“Molla”

~~~

Ternyata Minho tidak sejahat yang aku kira. Ia melarangku berkata dan bertingkah macam – macam hanya karena ia kira aku ini Shawol haha. Padahal aku bahkan tidak tahu apa itu Shinee sebelum mereka menjelaskannya padaku.

Aku tidak menyangka, sepupuku, Choi Minho, adalah seorang idola di negeri kelahiranku yang kutinggalkan sejak kecil. Aku memang berkebangsaan Korea, dan juga lahir di Seoul, tapi aku dibesarkan di Jakarta karena memang ibuku orang Indonesia. Sampai keadaan yang mengharuskan aku kembali ke Korea dan tinggal bersama pamanku.

Shinee, mereka sangat hangat. Kim Jonghyun si lead vocal, Kim Kibum a.k.a Key oppa sebagai umma-nya Shinee, Lee Taemin sebagai magnae, Choi Minho si Flaming Charisma, dan yang terakhir Onew si leader walaupun aku belum bertemu dengannya, tapi Key oppa sudah menunjukkan foto – foto koleksinya dengan Onew. Lucu kan mereka?

“Minho oppa. Jadi tidak menemaniku mencari apartemen?”

“Eh? Yaampun Cha Rin-ah aku lupa! Mianhe. Bagaimana kalau besok saja?” tanyanya.

“Tapi..”

“Besok saja Cha Rin Noona. Aku juga ingin ikut!” tiba – tiba Taemin datang dari dapur sambil membawa sebungkus keripik lalu duduk disebelah Minho oppa.

Aku melihat kearah Minho yang sekarang memasang muka memelasnya.”Baiklah”

“Satu lagi! Kita tunggu Onew hyung dan manajer pulang baru kau kuantar pulang ya?”

“Masih lama atau tidak?”

“Sebentar lagi kurasa” jawabnya.

Dua jam aku menunggu seseorang yang bernama Onew itu. Sekarang sudah hampir jam setengah sebelas malam, tapi belum juga pulang. Memangnya aku siapanya sih sampai harus ikut menunggu segala? Apakah Minho oppa tidak tahu bahwa aku sudah mengantuk ha?

“Hey bangun! Kalau kau ingin tidur, dikamar saja sana! Jangan disini, tidak bagus untuk punggungmu” Key oppa membangunkanku.

Aku membuka mataku, Key oppa sedang tersenyum kearahku.  Aku membalas senyumannya, “Ah tidak apa – apa oppa, disini saja”

~~~

“YA! Bangunlah Cha Rin-ah! Kau mau aku menemanimu mencari apartemen atau tidak? Jadwal kuliahmu mulai dua hari lagi” seseorang mengguncang – guncang badanku.

“Nanti dulu Mama. Aku masih mengantuk” dengan tidak sadar aku menjawab dengan bahasa Indonesia.

“Aish! Cha Rin-ah bangun! Kau sedang ada di Korea sekarang! Baiklah, jika kau belum siap dalam lima belas menit, aku akan meninggalkanmu!” kemudian terdengar suara seseorang membuka pintu dan menutupnya lagi.

Siapa itu tadi? Apartemen? Hmm.. MINHO OPPA?! ADUH CHA RIN BABO!

Aku bergegas bangun dari tempat tidurku dan langsung mandi, tak peduli bersih atau tidak yang penting terlihat segar dan wangi terlebih dahulu. Setelah itu aku berlari turun kebawah, menabrak beberapa pelayan dengan tidak sengaja. Aku berjalan ke garasi, mobil Minho sudah tidak ada disana, padahal kan ini belum lima belas menit, baru juga sepuluh menit lewat beberapa detik.

“Hey kau! Sedang apa disitu, ayo cepat masuk jika tidak ingin ditinggal! Kkaja!” teriak Minho oppa dari dalam mobil. Ternyata mobilnya sudah siap diluar rumah, bukan didalam garasi.

Aku segera masuk kedalam mobil hitam itu, entah mobil apa aku juga bingung. Dan sama seperti kemarin, selama diperjalanan tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Sampai aku memberanikan diri bertanya. “Kita mau mencari apartemen dimana oppa?” tanyaku.

“Bagaimana kalau kau tinggal di gedung yang sama dengan dorm-ku?”

“Bukankah itu mahal? Aku kan tidak punya uang banyak”

“Bukankah ayahku yang membiayaimu? Jadi kau tidak perlu berfikir tentang harga”

“Eh tapi kan tetap saja, aku merasa tidak enak dengan Samchon.”

Ia tidak menjawab dan kembali menyetir. Aku menutup mulutku sambil menguap.

“Kau mengantuk?” tanyanya

“Sedikit”

“Aneh. Padahal tadi malam kau tidur pulas sekali, bahkan saat kugendong kau tidak berkutik”

Aku terkejut mendengar perkataannya, “MWO? Kau menggendongku?”

“Ya. Apakah kau fikir jin yang memindahkanmu dari dorm Shinee kerumahku?”

Aku terdiam. Mimpi apa aku semalam? Seumur – umur aku hanya ingin digendong oleh namja chingu-ku atau dengan nampyeon ku di pernikahan nanti, eh malah digendong oleh sepupu yang dinginnya minta ampun seperti dia.

~~~

Kami berhenti didepan pintu kamar yang sama seperti kemarin, Minho kembali memencet belnya.

“Nugu ya?”

“Taeminnie bisakah kau lihat saja dari layar didalam? Dan tidak bertanya setiap aku datang?” jawab Minho dari luar.

Pintu terbuka. “Maaf hyung, aku kan hanya ingin memastikan kalau ini benar – benar Choi Minho dan.. Eh, Annyeong Cha Rin noona!” ia melihat kearahku membungkuk sedikit dan tersenyum.

“Annyeong Taemin-ah” aku membalas senyumannya dan membungkuk sedikit juga.

Aku kembali masuk keruangan tengah seperti kemarin, hanya saja sekarang diruangan ini sedang tidak ada siapa – siapa seperti kemarin. Tidak ada Key oppa dan Jonghyun oppa.

“Key oppa kemana Taemin-ah?” tanyaku.

“Key hyung dan Jonghyun hyung sedang ada jadwal, noona. Sedangkan mereka mengosongkan jadwalku karena aku ada ujian kenaikan kelas” jawabnya.

“Kalau dia? Kapan ada jadwalnya?” ujarku berbisik sambil menunjuk Minho yang sedang mengambil minum didapur.

“Sepertinya hari ini ada..”

“Cha Rin-ah. Kau tidak apa – apa kan kalau kutinggal disini?” Minho berjalan kearah kami.

“Eh. Waeyo?”

“Hari ini aku ada jadwal pengambilan gambar Dream Team, mungkin agak sore pulangnya. Appa dan Umma sudah pesan kau tidak boleh kutinggal dirumah sendirian”

“Disini saja noona. Aku akan menemanimu kok!” bujuk Taemin.

“Baiklah”

“Aku pergi dulu ya Cha Rin-ah. Kalau anak ini macam – macam telepon aku.”

Setelah Minho pergi, aku menemani Taemin belajar sastra inggris yang lumayan ku kuasai. Tak kusangka ia masih begitu polos untuk ukuran seorang bintang ternama. Ia bahkan menceritakan padaku tentang sikap teman – temannya disekolah yang selalu memojokkan dirinya hanya karena ia adalah seorang entertainer.

“Kita hanya berdua disini Taemin-ah?” tanyaku.

“Emm.. Kalau diruangan ini, iya. Kalau di dorm ini, bertiga.”

“Bertiga? Sama siapa? Sama setan ya?” Taemin sudah mulai menampakkan muka misteriusnya.

“TAEMIN-AH!” Aku memukulnya dengan bantal sofa.

“Hahahaha. Kau penakut ya noona? Bukan dengan hantu, dengan Onew hyung.” Jawabnya

“Aisshh. Kau ini jahat sekali Taemin-ah” aku memukulnya lagi dengan bantal tetapi lebih pelan.

“Taemin-ah dimana yang lain?”

Aku dan Taemin menoleh kesumber suara itu, ada seorang laki – laki dengan baru keluar kamar sambil menggaruk – garuk kepalanya. Apakah itu yang namanya Onew? Leader Shinee yang membuatku menunggu lama semalam?

“Key, Jonghyun dan Minho hyung kan sedang ada jadwal hyung” jawab Taemin.

Ia mengangguk kemudian tersenyum kearahku, “Ah, Annyeong Cha Rin-ah.”

“Eh? Annyeong.” Jawabku canggung.

“Lee Jinki imnida, tapi mereka memanggilku Onew.” Ia duduk di sebelah sofa yang aku dan Taemin duduki.

Aku masih bingung. Aku kan hanya tau namanya, bagaimana ia bisa tau aku? “Kau mengenalku?”

“Ya. Kau yang tertidur disini semalam kan?” tanyanya.

Mukaku memerah. “Saat aku pulang, aku melihat Minho sedang berusaha membangunkanmu yang sedang tertidur tapi kau tidak bangun” ia tersenyum.

Memalukan Cha Rin. Memalukan.

“Hyung, aku lapar.” Taemin menutup bukunya dan duduk disebelahku sambil memandang melas kearah hyung-nya.

“Mmm.. Bagaimana kalau kalian kutraktir makan saja di Apgujeong-Dong?” Usul Onew.

“Bukankah itu tempat untuk berbelanja?” tanyaku.

“Tidak hanya berbelanja kok. Banyak juga restoran dan yang lainnnya disana”

“Baiklah”

~~~

Akhirnya aku berjalan dari dorm Shinee menuju Apgujeong-Dong. Mereka menggunakan masker, sedangkan aku tidak. Taemin bilang dengan berjalan mereka lebih terlihat menyatu dengan orang lain daripada menggunakan mobil.

Menurut mereka, jarak dari dorm ke Apgujeong-Dong tidak jauh. Tapi bagiku? Itu sangat jauh. Apa mungkin itu karena aku tidak pernah berjalan jauh di Jakarta? Jakarta dengan Seoul kan berbeda sekali. Disini walaupun musim panas tapi masih terasa hawa dinginnya. Beda dengan Jakarta, yang mau musim hujan atau musim panas ya tetap saja panas. Makanya aku tidak mau berjalan terlalu jauh kalau di Jakarta.

Kukira restoran yang dimaksud Onew oppa adalah sebuah restoran besar. Ternyata restoran yang ia maksud adalah sebuah restoran sederhana yang kira – kira sudah lumayan tua dibangun disitu jika dilihat dari bentuk bangunannya dibandingkan dengan bangunan lain. Katanya makanan direstoran ini sudah terkenal sampai China.

“Annyeong haseyo, Eoso eosipsio” sapa seorang pelayan wanita saat kami masuk kedalam restoran itu.

Onew oppa dan Taemin membuka masker yang mereka pakai tadi. Sepertinya pelayan itu mengenali Onew oppa dari caranya menatap. “Annyeong Onew-ssi, Anjuseyo”

Pelayan itu menghampiri kami dan menanyakan tentang pesanan,

“Pesan yang seperti biasa Onew-ssi?”

“Ne, seperti biasa saja” jawabnya.

“Bagaimana denganmu, Agassi?” Tanya nya padaku masih dengan senyum yang sama.

Aku melemparkan pandangan bingung kearah Onew oppa dan Taemin. Aku kan belum pernah makan di restoran khas Korea. Waktu makan dirumah Minho saja aku hanya makan makanan yang bisa aku kenali, seperti mihun, soun, bihun dan paling – paling ayam.

“Kau duluan saja Taemin-ah”

Taemin membaca menu yang ada dihadapannya. “Uuh.. Aku mau sundubu saja” ia meletakkan menu itu kembali ditempat semula, “Kau mau pesan apa noona?” tanyanya padaku.

“Aku tidak tahu Taemin-ah. Apa yang enak menurutmu?”

“Kau pesan Japchae saja noona, kalau kau tidak suka, biar aku yang makan!” ujar Taemin bersemangat.

“Haish kau ini Taemin-ah” Onew oppa memukul kepala Taemin pelan.

“Hahaha. Ne, ne, aku pesan Japchae saja” jawabku kepada pelayan itu.

“Jumuneun keuroseumnikka? Itu saja?” Tanya pelayan itu.

“Ne, keuroseumnikka” jawab Onew

Setelah pelayan itu pergi, aku membaca menu dengan saksama. Tidak ada tulisan makanan ini terbuat dari apa, bahkan fotonya pun tidak ada. Hanya ada nama makanan dan daftar harganya.

“Kau mau pesan lagi Cha Rin –ah?” Tanya Onew oppa.

“Anio oppa, aku hanya bingung. Apa yang Taeminnie pesankan tadi.” Jawabku.

“Memangnya kau tidak pernah makan makanan Korea?”

“Pernah. Tapi belum pernah di restoran Korea”

“Japchae itu dangmeon yang dicampur dengan sayur dan daging sapi”

“Oh. Kau pesan apa oppa?”

“Aku pesan samgyetang, sup ayam. Tapi ini special”

“Spesial apanya hyung?” Taemin ikut nimbrung.

“Samgyetang untukku, ayamnya lebih banyak dan hanya daging ayam tanpa lemak dan kulit!” jawabnya bersemangat.

~~~

“Ini pesanannya. Kalau ada yang ingin dipesan lagi jangan sungkan untuk memanggilku.” Si Jung Kyo mengantarkan pesanan kami tadi keatas meja.

Dua buah mangkuk dan satu buah piring. Sup ayam, kemudian sup entah apa itu isinya karena banyak sekali, dan kemudian makananku, yang ternyata aku kenali! Ini kan Soun Goreng! Makanan favoritku dulu di Indonesia! Asik asik asik!

“Waeyo noona? Kau senang sekali melihat makananmu, tadi kau bingung ingin pesan apa.” Taemin mengambil mangkuk dan bersiap untuk makan.

“Soun soun!” ujarku kegirangan, Onew oppa tertawa melihat tingkahku.

“Hih, ternyata mereka benar – benar sepupu ya hyung walaupun tidak terlalu mirip, tapi tingkahnya sama – sama aneh”

Aku menyadari apa yang Taemin katakana tadi “Haish! Noona kau ini galak sekali!” Taemin meringis sambil memegangi lengannya yang kupukul tadi.

“Taemin-ah kau ini kan laki – laki masa dipukul seperti itu saja sudah kesakitan” ledek Onew oppa.

Mereka makan lahap sekali, apalagi Onew oppa. Napsu sekali memakan sup ayam yang ia pesan tadi. Taemin juga, pipinya makin terlihat imut saat mengunyah makanan penuh-penuh.

-True, true nae gamjeongeun gal gosi eobseo
Nege majchweo beoringeol neon jal aljanni
How to keep loving you? Naega jinjja nege jaralge idaero nal sseogyeo dujima-

Taemin tersedak mendengar suara ringtone handphone-ku.

“Yeoboseyo? Minho-ya?”

“Jigeum eodiseyo Cha Rin-ah?”

“Aku sedang makan di Apgujeong-Dong oppa, waeyo?”

“Ani. Aku menelepon ke dorm tapi tidak ada yang mengangkat.”

“Oh. Apakah pekerjaanmu sudah selesai?”

“Ajigeunyo. Mungkin dua jam lagi. Bisa aku berbicara dengan Onew hyung?”

“Ne. Jamkkanman”

Aku menyerahkan ponsel kearah Onew oppa yang mulutnya masih terisi penuh itu.

“Yeoboseyo? Ah? Ne. Ne. Aku akan menunggunya. Annyeong” Onew oppa mengembalikan ponselku.

“Waeyo hyung?” Tanya Taemin.

“Anio. Katanya Key mau kesini, tapi tidak bawa telepon, jadi kita harus menunggunya.”

“Oh. Eh noona! Kau tau Super Junior?” Tanya Taemin.

“Ya! Tentu aku tau! Aku kan elf!” jawabku.

“Kau ini aneh sekali noona, tau Super Junior tapi tidak tau Shinee”

Terdengar suara pintu restoran dibuka, aku menoleh kearah suara itu. Mendapati seorang lelaki yang kukenali. Jantungku berdebar kencang. Ia menoleh kearah kami. Tersenyum dan kemudian berjalan menghampiri kami. Lelaki itu…

TBC

Signature


This FF has written by Lana & Karlie, and claim by their signature

Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

Our Love Should Go On – Part 5

Our Love Should Go On

Cast:

Member SHINee

Ahn Neul Rin a.k.a Farissa

Han Ri Chan a.k.a Nyda han

Shin Hyun Young a.k.a Wonnie

Park Ri rin a.k.a Ri rin Wookie

Park Min Gi a.k.a Dessi

Park Sun Yi

“Hwaiittingg!!!. .Ri Chan cuman tiga kali lagi. . .kamu seperti ini. .!!! hhuuhh. .!! tappi ittu massih lama. KKkkyyyaaaa!!!Tuhan. .! kenapa mereka sekejam ini padakuu. .?? mungkin ini nasib menjadi seorang Dongsaeng yang selalu tertindas.”

Tubuhnya penuh dengan keringat karena memakai kostum Dora yang lumayan tebal ditambah kostum kepalanya yang sedikit berat.Hhhaaahh! Ri chan berpikir hidupnya sudah tamat ditangan Onie dan Dongsaengnya itu. Ri Chan berjalan pasrah sambil memegang asal balon udaranya, sampai dia merasa capek dan duduk diatas bangku pinggir taman.

Salah seorang anak yang sedang bermain tahu-tahu menghambur kearah Ri Chan dan menarik-narik kakinya.

“Apa kau seorang Dora. .?”. suara kecil keluar dari bibir mungilnya. Ri Chan mengangguk.

“Kalu begitu kau selalu bilang ‘berhasil..berhasil. .!horree. .!”. Ucapnya sambil lompat-lompat persis waktu Dora udah berhasil melewati segala rintangan yang sudah dilewatinya.

Ri Chan mengangguk lagi. “kalau begitu ayo lakukan. .!”.seru anak itu sambil terus menarik-narik tangannya.

“Anniiii. .! kau boleh mengambil semua balon ini tapi jangan suruh aku melakukan hal itu. .!!!”. ucap Ri Chan malas, dia benar-benar capek. Baru kali ini hari liburannya di pakai untuk hal yang bodoh seperti ini. Seharusnya sekarang dia sedang menonton drama terbaru di bioskop.

“Anii Doraa. .aku ingin melihatnya langsung, selama ini aku hanya bisa melihatmu di tv!” rengekan anak itu membuat Ri Chan diam sesaat dan akhirnya mengangguk pasrah.

“Baiklah tapi setelah ini kau jangan mendekatiku lagi! Arasseoo. .?”. RiChan bangun dari duduknya diikuti dengan anggukan semangat anak kecil itu.

“Berhasil. . .berhasil. .!! Hhhoorreeeeee. .!!!”. Ucap Ri Chan sambil lompat-lompat dengan wajah yang supper BT tapi tertutup dengan kostum Dora yang tersenyum manis.

“Kenapa kau begitu jelek saat melakukannya? Aku tidak akan nonton Dora lagi ah. .!”. Celetuk anak itu setelah Ri Chan selesai melakukan adegan lompat-lompat.

Kebeteannya semakin memuncak. .”Anak kecil Pabboooo. .!!! menyingkirlah kau dari sini atau akan ku makan kauu. .!!!!!”. Teriak Ri Chan yang membuat anak itu lari ketakutan dan para Umma yang sedang menunggui anaknya yang sedang bermain ditaman langsung mengajak anak-anak nya pulang karena takut anaknya dimakan oleh monster Dora. .hahhaaa. .tapi tidak dengan seorang cowok yang tidak jauh dari bangku tempat duduk Ri Chan, dia tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian melanjutkan sketsa yang sedang dibuatnya, sebuah sketsa Dora yang sedang meloncat. “Kenapa sebentar sekali, padahal aku belum selesai melukisnya!”. Gumam cowok itu. Ya! Cowok itu melukis Ri Chan yang lagi lompat-lompat ala Dora tanpa disadari oleh Ri Chan sendiri.

Sementara itu, di area bersepeda disepanjang tepi sungai Han yang tidak jauh dari taman, Jonghyun sedang berusaha keras untuk seromantis mungkin  pada Min GI, dia tidak ingin kalah dengan Dongsaeng dan Hyungnya.Jonghyun mengajak Min Gi bersepeda di sepanjang tepi sungai Han. Jonghyun didepan dan Min Gi dibonceng dibelakang.

“Pegangan Min Gi. .”.kata Jonghyun mengingatkan.

“Jangan khawatir! Aku tidak akan jatuh. .!”.

Tapi tiba-tiba saja sepeda itu oleng. Min Gi menjerit dan memeluk pinggang Jonghyun. Jonghyun terkekeh-kekeh.

“Kau sengaja ya. .?”. Jerit Min Gi kesal dan kemudian tangannya melayang ke kepala Jonghyun.

“Aiissshhh. .kau ini. !”Jonghyun mengusap-usap kepalanya dengan salah satu tangannya.

“Jonghyuunn. Tak biasanya kau mengajakku ke sungai Han. Waeyoo. .?”

“Aiissshh. .kenapa kau masih saja memanggil namaku. .? apa kau sudah lupa dengan pertanyaan Neul Rin di restoran waktu itu. .?”Tanya Jonghyun masih mengemudi.

“Apa kau juga pernah memanggilku Jaggiya seperti Oppa-oppa pada Dongsaeng dan Onie ku. .?”. kedua tangannya langsung menutup mulutnya yang keceplosan.Jonghyun tertawa mendengarnya.

“Jddii. .kau ingin ku panggil Jaggiya. .?”. Jonghyun menggoda.

Tak ada jawaban dari Min Gi, wajahnya masih merah menahan malu.

“Apa penting aku memanggilmu Jaggiya. .?, menurutku lebih penting memanggil namamu saja. Lagi pula namamu tak pernah dipanggil oleh orang yang paling menyayangimu selain aku. Iyaa. .kan. .?”. Jonghyun menengok ke belakang dengan senyum kemenangan.

“Apa penting juga aku memanggilmu dengan sebutan Oppa?Menurutku lebih penting memanggil namamu saja. Lagi pula namamu tak pernah dipanggil oleh orang yang paling menyayangimu selain aku. Iyaa. .kan. .?” Sindir Min Gi sambil memajukan kepalanya sehingga sejajar dengan Jonghyun yang kembali serius mengemudi.

“Aiiissshh. .kau inii. .!!! itukan kata-kataku! Kenapa kau mengcoppi paste

“Jonghyuuuunn. .awwwaaaasss. .”. Min Gi melotot sambil menunjuk tangannya kedepan. Jonghyun langsung menoleh ke depan. “gggguubbrraaaaagggg. .”. tapi naas sepeda mereka sudah menabrak bebas pagar pembatas.

“Kkkyyyaaaaaa. .Jonghyuunn Ppaaabbooooooo,!!! kalo lagi nyupir sepeda liat jalan hatti-hatti. .!!!” seru Min Gi yang terus meniup lututnya yang kena gesekkan aspal.

“kau yang Pabboo. .!! sudah tahu aku sedang mengemudi kau masih saja mengajakku ngobrol. .!!”. Ucap Jonghyuun tak kalah sengit.

Sudahlaah. .suddahlaah. .jangan bertengkar!. Kalian memang pasangan Pabo kok! Tak usah diperebutkan! Okkeh okkeh okkeh. .! *dibuang ke sungai Han sama Kang In+Min Gi*.

* * *

. ..Sekarang Sun Yi ada di toko buku sendirian.Para Dongsaengnya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Min Gi katanya ada janji dengan Jonghyun, Neul Rin menemani Donghaenya latihan Dance dengan Eun Hyuk, Ri Chan lagi ngejalanin hukumannya, Hyun Young pergi ke Everland theme park dengan Key tapi Hyun Young bilang sendirian saja pada Sun Yi, Ri rin sedang tidak ingin keluar rumah sedangkan Ah Seul lagi rebuatan Google dengan Heechul di warnet. Sun Yi mencoba memakai High Heels yang biasa dipakai oleh wanita dewasa. Tapi kakinya terasa mau patah karena sepatu yang haknya terlalu tinggi.

Sun Yi menuruni tangga dengan gontai. Ini semua gara-gara Teukki! Kenapa dia harus menggandeng perempuan itu! Kalau itu semua tidak pernah terjadi mungkin aku tidak akan berpikir kalau aku harus terlihat lebih dewasa dan tak kan pernah mau memakai sepatu ini, batin Sun Yi.

“ooougg. .aiiiggooo. .kyaaaa”.kata Sun Yi setengah teriak ketika akan terjatuh dari tangga. Sun Yi menutup matanya.

Tapi seseorang menangkapnya tepat waktu. Segera Sun Yi membuka matanya ddan. .aaaiiissshhh. . .apa Sun Yi sedang bermimpi Ini. .Onew. . orang yang selama ini dia cari.Onew juga tak kalah kaget melihat Sun Yi dihadapannya.

“Onew. .”. Sun Yi langsung memeluk nya. “bogoshipeo. ! !“. Lanjutnya masih dalam pelukan Onew.

“Gwenchanayo. .?”tanyanya gugup sambil berusaha melepaskan pelukan Sun Yi.

“Gwenchanaa. .”. Ucap Sun Yi pelan.

“Kenapa kamu memakai High heels. .? bukankah kamu tak pernah bisa memakainya?”

“ini. .karena kamu. .”

“Naega. .? waeyoo. .?”

“bukankah kamu menghindariku karena aku terlalu seperti anak kecil. .?”

“Apa maksudmu. .? aku tidak mengerti! Kita harus bicara. Khaza!”. Onew menarik tangan Sun Yi ke Café sebelah toko buku itu.

Sekarang mereka sedang duduk berhadapan.

“Onew, kenapa kau terus menghindariku. .?”. Sun Yi membuka suara.

“Kau sudah menjawab cinta Teukki Hyung. .?”

“darimana kamu tahu Teukki Hyung menembakku?’. Setahu Sun Yi, dia tidak pernah memberitahukan hal ini pada siapapun.

“Dari Hyung  sendiri. .”

“hhaah. .? kamu mengenal Teukki Oppa. .?”. Sun Yi melongo.

“Teukki Hyung kandungku jaggiya. .!”. Onew mencoba bersikap tenang.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku tentang ini. .?”

“Teuki Hyung selalu cerita tentangmu padaku, dia bilang dia suka seorang Yeoja bernama Park Sun Yi. Aku sempat kaget mendengarnya tapi aku tahan untuk bilang padanya kalau gadis yang dia suka adalah pacarku. Aku tidak mau merusak kebahagiaannya yang begitu yakin kalau kau juga menyukainya. Aku pikir aku harus membiarkanmu memilih antara aku atau Teukki Hyung.” Ucap Onew panjang lebar.

“Jadi, kamu tahu selama ini aku dekat dengan Teuki Oppa, dari Oppa sendiri?”. Onew mengangguk. “Terus, kenapa kamu seakan-akan menghindariku beberapa hari ini. . .?” lanjut Sun Yi.

“Karena kau belum menjawab cinta Hyung! aku takut karena aku, kau akan menolaknya . .! waktu hari Sabtu kemarin, aku hampir saja akan menghampirimu dan anak-anak yang lain saat di restoran dekat Menara Namsan tapi aku tidak mau merusak suasana, karena aku lihat kalian begitu tertawa dengan lepas ”

“Onew kenapa begini padaku? kau tahu?di balik tawaku itu, aku mengkhawatirkanmu! Jika Teuki Oppa memang suka padaku, kenapa dia sudah menggandeng perempuan lain? , perempuan itu teman kuliahnya.makanya aku memakai sepatu ini karena aku ingin terlihat dewasa!”

“Mwo. .? tapi Teukki Hyung tidak bilang apa-apa padaku. Oppa tidak tahu kalau dia sudah punya pacar. Mianhaeyoo. .jaggiya. .kalau aku tahu ini, aku tak kan pernah melepaskanmu! Nanti akan kumarahi dia!”. Tangan Onew memeluk tangan Sun Yi hangat dan Sun Yi pun memebalasnya dengan senyuman.

“Gwenchana Onew. . jangan memarahi Oppa, mungkin dia sadar kalau aku terlalu seperti anak kecil untuknya,”

“Gomawoo. .jaggi. .aku janji takkan melepaskanmu. .Youngwonhi. .!”. Dan kemudian bibir Teukki sekali lagi mendarat dikening Sun Yi. Hangatt. .

## ## ##

“Bbruukk. .”. Ri Chan tidak sengaja menabrak seseorang di koridor Sekolah, dia sibuk membalas sms dari Sun Yi yang tiba-tiba saja menyuruh para dongsaengnya berkumpul di Restoran menara Namsan.Beberapa lembar kertas terjatuh dari tangan sesorang itu.

“Mianhaeyoo. .aku tidak sengaja”. Ucap Ri Chan setelah membungkukkan badannya tanpa melihat wajah seseorang itu dan kemudian dengan sigap dia membantu membereskan kertas yang berserakan , matanya menangkap tiga lembar sketsa Dora dengan lembar ketiga berisi sketsa Dora yang sedang melompat. Ri Chan tertawa kecil.

“kkau sukka Do. . .”. Belum sempat ucapannya selesai, dia sudah terkejut ketika melihat orang yang ada dihadapannya sekarang. Seseorang yang dia lihat saat ngumpul bersama Onie dan Dongsaengnya di cafe. Seorang cowok imut yang lagi ngelukis ditaman kota. Sekarang, Ri Chan merasa seperti ada di adegan iklan nanas’b yang nggak tahu produk apa itu kayak parfum tapi bentuknya kayak deodoran yang pasti dibintangi ama Shinee pake iringan lagu Stand by me. Dan yang pernah aku lihat, Cowok yang ada di iklan itu mirip banget ma Namja yang ditubruk Ri Chan. “rraa. .”. lanjut Ri Chan tanpa melepaskan pandangannya pada seseorang itu.

“Waeyo. .?”. Tanyanya polos, dia membantu Ri Chan mengumpulkan lembaran kertasnya.

“Anii.Gwenchana . .sekali lagi mianhaeyo. .!”. Ri Chan berdiri dan membungkukkan badannya lagi, diikuti seseorang itu dengan lembaran kertas yang sudah terkumpul di tangannya.

“Gwenchana. .asal jangan diulang lagi”. Ucapnya sedikit galak dengan wajahnya yang datar melihat Ri Chan.

“Kenapa aku bisa suka sama dia saat dicafe?,tampang emang imutt  tapi kan gak harus suka sama Dora. .kekke!”gumam Ri Chan sambil senyum2 gaje.

“Dan kenapa aku harus menabrak seorang gadis yang mempunyai wajah mirip dengan sketsa yang aku buat.” Balasnya juga dengan bergumam,kemudian berlalu meninggalkan Ri Chan sendiri yang mendengar gumamannya itu. Ri Chan berpikir sejenak.

“Mwo? Maksudmu wajahku seperti Dora. .?”. Teriak Ri Chan. Seseorang itu berhenti berjalan dia menoleh kebelakang dan membalas Ri Chan dengan menjulurkan lidahnya.

“Aaaiiissh. . . . !! !”Ri Chan mendengus kesal.

TBC

By: Neul Rin

signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^