I’M IN LOVE WITH HIS TWIN BROTHER

I’M IN LOVE WITH HIS TWIN BROTHER

AUTHOR       : DHY a.k.a DINAR

MAIN CAST : Onew & Jiyeon

A/N : ini hayalanku yang gak mungkin terjadi, beneran dech, penasaran kenapa???? Kalau ya Harus baca donk ^^

Sudah hampir setahun sejak jinki meninggalkanku, tapi entah kenapa aku masih tidak bisa melupakannya, harusnya aku membencinya, karna jinki meninggalkanku begitu saja, kau berpikir aku bodoh, sebenarnya aku berpikir hal yang sama, tapi mau diapakan lagi, I love him, he is my soul.

~ ~ ~

“jiyeon, ayo bangun” minho terus menggoncang tubuh jiyeon

“oppa, 5 mins”

“kau selalu bicara seperti itu, aku sudah mengenalmu, ayo cepat bangun” minho menarik tangan jiyeon sampai ia duduk.

“oppa, sekali ini saja”

“tidak, kau harus bangun” minho mendorong jiyeon ke kamar mandi “sudah cepat mandi, apa kau mau aku memandikanmu”

“tidak usah aku bisa mandi sendiri”

Setelah hampir 1 jam jiyeon mandi akhirnya  dia turun dari kamar.

“pagi oppa” ucap jiyeon sambil mengambil roti dari piring minho.

“hey, itukan rotiku, kembalikan !!!” ucap minho

“minho kaukan bisa membuat roti lapisnya lagi”

“umma, kenapa kau selalu membela jiyeon, akukan anakmu” ucap minho

“oppa, asal kau tahu, bibi lebih menyayangiku, merrong~~~”

“kau… awas kau kubalas nanti”

“sudah-sudah jangan bertengkar, ow ya jiyeon semalam ummamu menelepon, katanya uang yang kau minta sudah ditransper” jiyeon hanya mengangguk tanda mengerti “ow ya untuk apa kau meminta uang pada ummamu???”

“tidak untuk apa-apa, hanya aku mau membeli keperluanku saja”

“kamu kan bisa minta ke bibi”

“umma, kalau begitu aku minta uang sekarang” ucap minho

“minho bukankah baru 2 hari yang lalu, umma mentransper uang ke rekeningmmu”

“uangnya sudah aku pakai untuk membeli bola basket”

“memangnya oppa membeli berapa bola basket??? Bukannya bola basket oppa sudah banyak” ucap jiyeon

“aku membeli bola basket yang harganya mahal sekali, jadi uangnya sudah habis”

“minho, umma tahu kamu berbohong, sudah sana berangkat kesekolah, nanti kalian terlambat”

~ ~ ~

Jiyeon POV

“oppa, boleh ya aku ikut di motormu” aku merajuk pada kakak sepupuku itu.

“memangnya kau tidak dijemput pacarmu???” tanya minho

“oppa, memangnya kau lupa, jinki kan sedang pergi, mana bisa dia menjemputku”

“jiyeon, aku sudah bilang, lupakan jinki dari cari pacar baru, dia sudah mencampakanmu”

“oppa jinki tidak mencampakanku, dia hanya pergi sebentar”

“sebentar katamu, ini sudah hampir satu tahun, apa dia mengabarimu??? Tidakkan”

“oppa, kalau kau tidak mau aku menumpang dimotormu, aku bisa pergi kesekolah sendiri” ucapku mengabaykan apa yang dikatakan minho.

Aku pun memilih untuk berjalan kaki, sebenarnya jarak sekolah kerumah minho lumayan jauh, tapi karna aku kesal makanya aku berjalan kaki. Aku sadar dengan apa yang dikatakan minho oppa, tapi aku sudah bilang, aku sangat mencintai jinki.

Flasback

Hari ini aku berkunjung ke salah satu panti asuhan bersama minho, ini hari ulang tahunku yang ke 17, dan aku ingin berbagi kebahagian dengan anak-anak dipanti asuhan ini. Saat aku memasuki sebuah ruangan aku melihat, seorang lelaki seusiaku sedang bernyanyi sambil bermain piano didepan anak-anak, entah kenapa senyumnya begitu indah.

“hei, kenapa kau melamun???” tanya minho

“tidak, aku tidak melamun”

“ya sudah, ruangan untuk merayakan pestamu sudah siap”

Akupun melangkah mengikuti minho, tetapi pandanganku masih tertuju pada lelaki dengan sinyuman indah itu.

~ ~ ~

suatu hari saat aku pulang sekolah, tiba-tiba turun hujan, aku berlari kesalah satu halte dekat sekolah untuk berlindung, tapi nampaknya aku telat karena halte itu sudah penuh, karna tidak ada pilihan aku pun berlindung di halte itu, aku merasa air hujan membasahi bahu kiriku, aku mencoba untuk bergeser tapi tidak bisa, akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan bahu kiriku basah oleh air hujan. Tapi tiba-tiba aku merasa air hujan itu berhenti menetes di bahuku padahal hujan turun semakin deras.

“aneh” ucapku kemudian melihat kearah atas. Aku melihat seorang lelaki melindungiku dari tetesan hujan dengan jas seragam  sekolahnya. Seragamnya sama dengan seragam minho.

“hujannya cukup deras ya” ucap dia ramah. Aku kaget saat melihat bahwa dia adalah lelaki bersenyum indah yang kulihat dipanti asuhan.

“aku jinki, namamu siapa???”

“aku???”

“ya, namamu siapa???” tanya dia lagi

“aku jiyeon”

“ow ya itu supirku sudah datang, kalu kau mau menunggu bus, pasti datangnya akan lama, mau aku antar” tawar jinki

“hmm???”

“aku bisa mengantarmu pulang kalau kau mau” jelasnya “kau tidak perlu takut, aku bukan orang jahat lagi pula kitakan tidak hanya berdua”

Akhirnya aku menerima ajakan jinki.

Setelah kejadian itu aku dan jinki dekat, jinki akhirnya tahu kalau aku sudah menyukainya sejak pertama aku melihatnya di panti asuhan. Dia juga sudah tahu aku adalah sepupu minho yang ternyata satu sekolah dengannya, kami memutuskan untuk kencan hingga suatu hari jinki pergi entah kemana.

End of flasback

“jiyeong”

Aku kaget saat sadar bahwa minho dari tadi megikutiku.

“oppa kenapa kau mengikutiku??” tanyaku heran

“aku minta maaf, jangan marah ya”

“aku tidak marah, sungguh” ucapku dengan senyuman

“benar????”

“ne”

“kalau  begitu aku akan mengantarmu”

“baiklah” ucapku sambil naik kemotor minho, minho membawa motor dengan kecepatan standar, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju sangat cepat dan tiba-tiba berhenti didepan motor minho karna lampu merah.

“aish, siapa sich pengendara mobil ini” ucap minho karena kesal, minho pun memberhentikan motornya tepat disamping mobil itu.

“kau lihat, jiyeong yang membawa mobil itu adalah bajingan” ucap minho, aku heran kenapa minho tiba-tiba berkata kasar. Karna penasaran aku mengarahkan pandanganku kemobil itu, samar-samar aku melihat lelaki itu sedang berciuman dengan wanita yang duduk disebelahnya, aku juga melihat dua orang laki-laki yang duduk dibangku belakang tertawa-tawa menyaksikan adegan itu.

“opa iiitu jinki”suaraku bergetar, hatiku sakit, aku benar-benar yakin kalau itu jinki

“jiyeong??? Kau baik-baik saja” tanya minho hawatir saat kami sudah sampai dipintu gerbang sekolahku. “itu pasti bukan jinki, jinki bukan orang seperti itu, walaupun dia sudah meninggalkanmu”

Entah minho oppa ingin menenangkanku atau malah membuatku bertambah sakit.

~ ~ ~

“jiyeon, kau baik-baik saja??”

“aku baik-baik saja, kau kan tahu aku siapa jiyeon” ucapku pada yumi sahabatku

“aku tahu kau bohong”

Tak lama mr. han datang dengan seorang murid laki-laki.

“anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru yang baru pindah dari londen, oyo onew silahkan masuk”

Lelaki yang disebut onew itupun masuk ke kelas, aku sangat kaget saat melihat siapa dia, dia jinki pacarku, itu yang ada dipikiranku tentunya.

“hai, aku onew, ini pertama kalinya aku menetap cukup lama di korea”

Aku yakin itu jinki, tapi kenapa dia berbeda sangat berbeda,  dari cara berpakaian, cara bicara, penampilannya. Tiba-tiba onew mengarahkan pandangannya padaku dia tersenyum, senyuman itu indah tapi tidak semanis jinki, senyumannya lebih terlihat menggoda sampai semua siswi yang ada dikelas ini berteriak.

~ ~ ~

Saat istirahat, aku memutuskan untuk tetap di kelas, berharap kalau jinki mengenaliku, ow tidak dia bukan jinki tapi onew. Aku kesal karena sekarang dia sedang tertawa-tawa dengan siswi-siswi yang keganjenan.

“bisa kita bicara???” pintaku pada onew dengan ketus

“wow, hei cantik, harusnya kau bersikap manis kalau ingin berbicara denganku” aku kesal dengan sikapnya itu, aku pun menarik tangannya ke lantai paling atas gedung sekolah.

“hei, kau kenapa???”

“harusnya aku yang bertanya kau kenapa???” tanyaku kasar

“hi girl calm down” ucapnya dengan tingkah menyebalkannya

“kau menyuruhku untuk tenang, apa kau pikir aku bisa tenang melihatmu dengan gadis-gadis itu” sekarang suaraku sudah bergetar

“hi, ayolah kau bisa berbagi dengan mereka” ucapnya.

“aku tidak mau membagi pacar dengan orang lain, aku tahu kau jinki, kenapa kau meninggalkanku, asal kau tahu aku masih menyayangimu, aku tak peduli kau pergi berapa lama, tapi tetaplah jadi jinki yang kukenal, jangan bersikap aneh seperti ini, aku mohoon” aku tidak kuat untuk menahan air mataku, aku terduduk lemas, air mataku terus mengalir. Tapi tiba-tiba aku merasa seseorang memelukku.

“aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan” aku hanya menangis mendengar kata-kata itu. Kemudian onew mendekatkan wajahnya kewajahku.

“onew……” teriak seorang wanita yang tiba-tiba datang.

Onew langsung berdiri. “cerol, aku bisa jelaskan semua ini” ucapnya pada gadis yang sepertinya adalah pacar onew dia gadis yang kulihat dimobil onew tadi pagi dia seniorku.

Gadis itu tidak mendengarkan onew, kemudian meninggalkan kami berdua.

“sudah jangan hiraukan dia, biasa kita teruskan apa yang tadi tertunda”

PLAKK

Aku menampar onew.

“apa ini yang kau berikan padaku, setelah membuat pacarku meninggalkanku” ucapnya sambil tersenyum.

“sekarang aku sadar bahwa kau bukan jinki, jinki orang yang lembut dan menghargai wanita, tidak sepertimu” ucapku kemudian meninggalkan onew

End of Jiyeon POV

Author POV

“kau tahu, ayahku tidak pernah mengajariku untuk menghargai wanita” ucap onew dengan senyuman sinis.

Sudah seminggu semenjak kejadian diatas gedung itu. Jiyeong juga tidak pernah menyapa onew.

“pagi” ucap jiyeon ramah

“hei, kenapa kau sudah rapi jam segini???” tanya minho heran

“memangnya tidak boleh ya oppa”

“aku hanya heran”

“oppa kau dapat salam dari yumi, katanya kau tampan” ucapku sambil meninggalkan minho.

~ ~ ~

Di sekolah, pagi ini masih sepi hanya beberapa orang saja yang sudah datang. Tiba-tiba cerol datang menghampiriku, ya dia adalah pacar onew.

“hi, jadi namamu jiyeon??” tanya cerol sinis

“ea, memang kenapa???”

“aku tidak suka, kau menggoda pacarku”

“aku tidak mengodanya”

Cerol kesal kemudian mengambil tas jiyeon dan mengeluarkan semua isinya “ini apa????” tanyanya sambil menunjukan sebuah foto.

“dia pacarku, kembalikan” ucap jiyeon

“pacarmu kau bilang, dia pacarku” ucap cerol kemudian  merobek-robek foto itu dan pergi meninggalkan jiyeon,

Jiyeon kemudian mengambil robekan foto jinki, tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja. Saat tiba-tiba langkah kaki mendekat pada jiyeon.

“jiyeon, apa yang sedang kau lakukan???”

Jiyeon tidak menjawab dia terus mencoba menyatukan robekan foto jinki.

“G” ucap onew kemudian dia duduk disebelah jiyeon yang masih menangis memandangi robekan foto jinki. Tiba-tiba onew menggenggam bahu jiyeong dan menghadapkan jiyeon ke arahnya.

“siapa laki-laki itu???” nada suara onew terdengar serius.

“itu bukan urusanmu”

“sekarang itu menjadi urusanku, jawab aku siapa dia???” tanya onew lagi. Jiyeon tidak sempat menjawab karena bel masuk telah berbunyi. Onew kemudian memasukan semua barang-barang jiyeon ke tasnya termasuk robekan foto jinki. Kemudian onew menarik tangan jiyeon keluar kelas dan memaksa jiyeon masuk ke mobil jinki.

“mau kemana kita???”

onew tidak menjawab, dia hanya menyetir mobilnya, setelah satu jam onew memarkirkan mobilnya di pantai.

“keluar” onew menarik tangan jiyeon

“lepaskan tanganku, tanganku sakit”

Onew melepaskan genggamannya tepat dipinggir pantai.

“lelaki yang ada di foto itu G kan???” tanyanya

“dia jinki pacarku”

“ya mungkin nama koreanya jinki, aku tidak tahu, tapi sepertinya pacarmu adalah G, dia adik kembarku” jelas onew (Author: aku pake G diambil dari kata JI kaya namanya G-dragon, mav ya aku ngayal keterlaluan hehehe).

“apa kau bilang? Jinki tidak pernah menceritakan apa-apa”

“dulu aku dan G tinggal di London, setelah orang tua kami bercerai, jinki dibawa umma pindah ke korea, sedangkan aku menetap dengan appa, makanya aku tidak tahu cara menghargai wanita, seperti yang kau katakan” ucap onew sambil memandang jauh kedepan.

“maaf, lalu dimana jinki sekarang??” tanya jiyeon

“G, dia, dia sudah meninggal satu tahun yang lalu saat akan mengunjungiku”

“MMMeninggal??? Kau pasti bohong, kau bohongkan??” tanya jiyeon sambil memukul-mukul dada onew. Onew memeluk jiyeon kali ini tulus. “kau boleh meminjam bahuku untuk menangis, tapi kenapa kau menagis??? Bukannya kau sudah punya pacar baru???” tanya onew. “apa maksud pertanyaanmu???”

“aku pernah melihatmu bersama pria, kita berpapasan dilampu merah, dihari pertama aku masuk ke sekolah” jelas onew

“dia bukan pacarku, dia minho kakak sepupuku, aku juga melihatmu sedang ber….” Belum sempat jiyeong melanjutkan ucapannya onew sudah menutup mulut jiyeon. “jangan bahas itu, oke” ucapnya

“kenapa, memang benarkan kau sedang….”

“ijinkan aku menjagamu”

“APA????” tanya jiyeon kaget

“aku ingin menjagamu, aku tahu aku tidak bisa menggantikan G, karena kami berbeda”

“entah kenapa kesedihanku sedikit terobati mendengar kata-kata onew, dia mungkin bukan jinki, tapi aku yakin dia punya sisi baik yang selama ini dia tutupi” ucap jiyeon dalam hati.

“aku juga tidak bilang kau sama dengan jinki”

“kau….”

“tapi aku rasa sebenarnya kau juga punya hati yang baik seperti jinki” ucap jiyeon sambil menyentuh dada sebelah kiri onew.

“jadi?????” tanya onew

“apa???”

“ sebenarnya aku sudah menyukaimu dari pertama kali aku melihatmu dilampu merah”

“lalu???” tanyaku

“sebenarnya kau mau tidak sih jadi pacarku???” tanya onew kesal, sepertinya sisi buruknya sudah mulai tibul lagi.

“kau memang benar-benar beda dengan jinki” ucap jiyeon kemudian berlari meningalkan onew yang masih duduk diatas pasir.

“hei maksud kata-katamu apa sich???” tanya onew sambil mengejar jiyeon

“selesaikan dulu maslahmu dengan cerol” teriak jiyeon pada onew yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“baik, aku pasti menyelesaikannya, dan satu hal lagi aku akan membuat kau mengatakan I’M IN LOVE WITH HIS TWIN BROTHER”

~ ~ ~

Satu tahun kemudian.

Jiyeon POV

Sedikit demi sedikit onew sudah bisa merubah sifat buruknya, walau pun kadang-kadang sifat itu muncul, malam ini aku sedang berada di pantai tempat kami pertama kali berbicara dari hati ke hati.

“jiyeon, apa aku sudah membuatmu bisa mengatakannya?” tanya onew penuh harap. Dia selalu saja menanyakan. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku melihat onew tertunduk dia memandangi pasir.

“apa selama ini aku tidak bisa membuatmu mengatakannya?”

Aku hanya mengangguk “tapi aku bisa mengatakan satu hal” ucapku kemudian bangkit dari dudukku.

“apa???” tanya onew penasaran

“I’M IN LOVE WITH JINKI TWIN BROTHER” teriakku

“dia G, bukan jinki” sepertinya onew belum sadar dengan ucapanku

“I’M IN LOVE WITH G TWIN BROTHER” teriaku lagi

“nah yang itu baru benar, eh apa yang kau katakan???” tanya Onew yang sekarang sudah berdiri disampingku. “kau jatuh cinta dengan saudara kembar G?? itu aku kan???” tanya onew, dia terlihat seperti anak kecil saat menanyakan itu, “jawab aku? Itu akukan??”

Aku hanya mengangguk. “benarkah??? AAAAAAAAAAAAAAAAAAA” tiba-tiba onew berteriak dan memelukku dengan erat.

“O O ONEW aaaku tidak bisa bernafas”

The End


Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^^

LOVE’S WAY – TALK TO YOU [1.2]

TALK TO YOU

[1.2]

Author: Novi

Main Cast : Lee Taemin & Kim Kibum

Support Cast : SHINee & Super Junior

Hye Jin POV

Sudah 2 bulan aku tinggal disini dan sedikit demi sedikit aku sudah mampu beradaptasi. Aku senang banyak orang di sekelilingku yang membantuku untuk dapat betah tinggal disini. Hyo Jin adalah yang terbaik, dia adalah sahabatku yang paling baik. Hari ini Hyo Jin mengajakku untuk membeli Hanbok, baju tradisional khas Korea

”Yang ini saja?”katanya sambil menyodorkan sebuah hanbok warna biru dan putih.

Aku mengambilnya dan mengamatinya sebentar. Bentuknya aneh, aku pernah melihatnya dulu waktu liburan kesini tapi apa seperti ini yang kulihat dulu ya. Bagaimana cara memakainya?Aku jadi ingat minggu di klub drama, seluruh anggota klub menertawakanku karena tidak tahu mana yang namanya hanbok, saat itu kami sedang mendiskusikan pementasan yang akan diadakan bulan depan dimana temanya adalah Korea jaman dulu dan mereka menyuruhku mengambil hanbok  tapi aku salah mengambil dan mereka menertawakanku. Sejak saat itu, Heechul Sunbae, Eunhyuk Sunbae dan Donghae Oppa mengajariku budaya korea dari awal. Sedikit aneh belajar bersama mereka, banyak yang tidak masuk akal, dan saat kutanya pada Hyo Jin, dia hanya tertawa dan bilang bahwa aku di tipu oleh mereka. Mulai detik itu aku berhenti belajar dari mereka dan sepertinya mereka merasa bersalah telah menipuku dan mulai saat itu mereka tidak berani lagi mempermainkanku.

”Aku suka yang itu…”tunjukku ke salah satu hanbok yang berwarna merah dan kuning.

”Baiklah…yang itu juga bagus…”sahut Hyo Jin sambil berjalan mengambilnya.

”Yang ini saja?”tanya pelayan toko itu.

”Ne..”jawabku.

Aku mengelurakan sisa tabungan terakhirku yang aku bawa dari Amerika. Hufft sepertinya aku harus buru-buru mencari kerja part time, aku tidak mau merepotkan ibu. Bekerja sebagai pelayan di sebuah toko tentu tidak cukup jika aku ingin membeli barang-barang kebutuhanku. Untung hukumanku sudah dicabut sekarang aku sudah boleh pergi sendirian tidak perlu dengan Hyo Jin lagi. Mungkin aku akan mencari waktu yang tepat jangan sampai ada yang tahu aku kerja part time.

”Mau makan dulu atau langsung pulang?”Tanya Hyo Jin begitu kami keluar dari toko.

”Uangku habis…”jawabku.

Memang uangku sudah habis ternyata habok itu cukup mahal kalau bukan karena ada festival disekolah mungkin aku tidak akan membelinya karena sebenarnya aku menabung untuk membeli sebuah kamera yang sangat aku inginkan tapi sekarang aku harus menabung dari awal lagi.

”Aku yang traktir…”

Hyo Jin langsung menarik tanganku dan membawaku mencari restaurant. Di jalan kami berpapasan dengan Key, sejak kejadiaan itu kami tidak pernah saling berbicara kecuali hal-hal penting seperti di sekolah selebihnya tidak pernah bahkan aku lupa aku sekelas dengannya saking tidak pernahnya kami berbicara. Dia hanya tersenyum tipis dan berlalu.

”Sombong sekali dia…”kata Hyo Jin.

”Ya..”jawabku asal.

”Kau masih kesal padanya?”Tanya Hyo Jin begitu kami sampai di salah satu restaurant.

”Anio…aku sudah melupakan kejadian itu kok…”Jawabku.

”Tapi kenapa kalian masih seperti itu….diam-diaman…”Tanyanya lagi.

”Ah tidak juga…ayo makan..”seruku begitu makanan yang kami pesan sudah sampai.

Aku malas harus membahas hal itu, sebenarnya kejadian itu sudah berlalu 2 bulan yang lalu dan aku pun telah melupakannya bahkan besok harinya pun aku sudah biasa- sebenarnya masih kesal-tapi dia yang malah aneh sejak kejadian itu dia terus menghindariku dan tidak mau bicara denganku. Aneh sekali harusnyakan aku yang menjauhinya bukan dia yang menjauhiku. Sudahlah aku tidak peduli, bukan aku yang salah. Aku melahap kimchi ku dengan semangat karena kimchi adalah makan korea kesukaanku.

”Pelan-pelan..”

Hyo Jin menasehatiku yang makan terburu-buru. Setelah menghabiskan makanan kami pun pulang naik bis. Aku duduk di dekat jendela sementara Hyo Jin sibuk beretelepon entahlah dengan siapa. Tiba-tiba hp-ku berbunyi dan sebuah nomor yang tidak ku kenal masuk. Siapa ini?

”Yoeboseo…”seruku.

”Pardon me…”

Aku kaget mendengar siapa yang menjawab itu suara yang ku kenal, itu ayah. Buru-buru aku tutup teleponnya, aku tidak mau berbicara dengan ayah. Aku ingin melupakannya, aku begitu membencinya karena dia telah menyakiti ibu dan aku. Kenapa dia harus menghubungiku lagi, padahal waktu di Amerika tidak pernah sekalipun dia menghubungiku. Aku memasukan HP ku ke dalam tas dengan kasar.

”Ada apa Hye Jin?”tanya Hyo Jin begitu melihatku memasukan Hpku dengan kasar ke dalam tas.

”Andwe..”Jawabku lalu mengalihkan pandanganku ke luar bis.

Kenapa ayah bisa tahu nomor baruku?

Key POV

Kenapa aku bisa bertemu dengannya di tempat itu? Padahal sudah sebulan ini aku menghindarinya. Aku sudah tidak pernah bicara lagi dengannya selama ini.Sepertinya dia masih marah padaku buktinya dia tidak membalas senyumku. Sudah sebulan ini aku berusaha untuk melupakannya tapi bukannya lupa aku malah semakin menyukainya. Aku selalu ingin tahu apa yang dia kerjakan meski dengan sembunyi-sembunyi.

”Keya….daritadi kau termenung terus?”tanya Yu Ri .

”Andwe..”Jawabku.

Hye Jin POV

”Wah kau cantik sekali Hye Jin…”puji Hyo Jin begitu aku memakai hanbok yang tadi aku beli.

”Kau cantik sekali seperti ibumu…”puji nenek.

Cantik darimana?aku merasa aneh sekali memakai baju ini. Hyo Jin menarikku ke kamar dan menyuruhku melihat cermin.

”Benar kan kau cantik sekali…”sru Hyo Jin.

Aku memperhatikan diriku di cermin. Hmm, tidak buruk juga tapi tetap saja aku merasa risih memakainya karena membuatku susah berjalan.

”Jadi begitulah cara memakainya…aku tidak sabar melihatmu memakainya pada saat festival…”Lanjut Hyo Jin sambil membetulkan ikatannya.

”Ah…aku tidak mau datang…aku akan berpura-pura sakit saja…aku merasa aneh memakai ini…”

Hyo Jin terkekeh melihatku mengeluh mengenai hanbok ini. Hah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku memakai ini ke sekolah. Pasti sangat aneh. Aku mendesah perlahan.

”Kau harus datang…Taemin pasti akan kagum padamu…”

Dia mulai lagi, selalu saja setiap ada kesempatan pasti dia akan meledekku. Kenapa sih Hyo Jin ini, aku kan hanya berteman dengannya. Lagipula dia tidak mungkin menyukaiku. Aku jadi ingat kejadian minggu kemarin disekolah, waktu itu aku pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang aku pinjam, sampai disana aku melihat Taemin sedang membaca buku, aku berniat menghampirinya tapi tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampirinya gadis yang dulu menghampirinya di tempat parkir kemudian duduk disampingnya dan mereka pun tertawa bersama.

”Hufft…”aku jadi sedih lagi mengingati itu.

”Kenapa?”tanya Hyo Jin yang melihatku cemberut.

”Andwe…”Jawabku sambil melepaskan hanbok itu.

Pagi itu aku sampai di sekolah sangat pagi, begitu aku masuk ke dalam aku hanya melihat satu orang disana yaitu Key. Dia sedang duduk di kursinya sambil membaca buku. Sebaiknya aku masuk perlahan-lahan agar dia tidak mengetahuinya, sepertinya dia sedang asyik dengan buku yang dibacanya. Aku merasa semakin sulit berkomunikasi dengannya sejak saat itu, makanya aku takut kalau dia melihatku masuk apa yang harus aku lakukan?menyapanya?ya ampun kapan terakhir kali aku menyapanya?pasti akan sangat aneh jika aku langsung menyapanya setelah begitu lama tidak pernah berbicara. Aku berjalan perlahan-lahan menuju mejaku, untunglah mejaku berada di belakang jadi aku berjalan di sisi kelas menuju mejaku. Sial, aku malah kepentok meja. Auww, sakit! Key berhenti membaca buku dan melihat ke arahku. Apa yang harus aku lakukan?menyapanya?aku berusaha tersenyum(senyum yang dipaksakan lebih tepatnya karena kakiku sangat sakit). Key menghampiriku.

”Kau tidak apa-apa?”tanyanya.

”Ne…aku tidak apa-apa…”jawabku mencoba tersenyum namun aku masih meringis sedikit karena kakiku benar-benar sakit.

Dia mengalihkan pandangannya ke kakiku, OMO kakiku berdarah. Aduh aku tidak kuat melihat darah!jangan sampai aku pingsan disini. Aduh kepalaku mulai pusing.Tiba-tiba Key menarik tanganku. Apa yang akan dia lakukan? Aku berusaha menolaknya tapi dia malah terus berusaha menarik tanganku dan membantuku berjalan sampai mejaku.

”Tunggu disini…”katanya sambil berjalan keluar kelas.

Aduh darahnya mengalir!aku tidak sanggup melihatnya. Apa aku akan pingsan, aduh memalukan sekali kalau aku pingsan disini. Aku menutup mataku. Tiba-tiba aku merasakan lukaku di sentuh oleh kapas dingin.

”Auu!”teriakku.

”Sakit?”tanyanya.

Aku mengangguk perlahan. Ternyata Key sedang mengobati lukaku. Aku mengamatinya mengobati lukaku, terkadang aku meringis jika dia mengusapkan alkohol ke lukaku.Aku tidak percaya ternyata di balik kekasarannya , dia bisa juga berbuat baik.

”Ternyata cewek yang kukira kasar ini takut dengan darah?”

Dia tersenyum sambil terus mengobati lukaku. Hah, kukira dia tulus mengobatiku ternyata dia berniat mengejekku juga, pikiran ku salah mengatakan dia baik.

”Ya!kalau tidak mau mengobati tidak usah mengejekku segala!”seruku.

Dia tertawa sebentar dan kemudian diam.Dia menempelkan plester di lukaku.

”Mianhe…”katanya.

Apa maksudnya?aku jadi ikut terdiam dan suasananya mulai tidak enak.

”Mianhe…untuk semua yang sudah aku lakukan padamu…”lanjutnya.

Aku mendesah dan mulai berbicara.

”Ne…tidak apa-apa…aku sudah melupakannya…lagipula aku capek harus terus-terusan bertengkar denganmu…”

”Ne…gumawo…setidaknya aku sudah minta maaf padamu…”lanjutnya sambil merapihkan obat-obatan yang tadi dia bawa.

Dia berdiri dan mengacak-acak rambutku sambil berkata.

”Hati-hati nanti lukanya berdarah lagi…aku tidak akan membantumu kalau kau pingsan…”

Dia berlalu sambil tertawa. Dasar sudah aku maafkan masih saja seperti itu.

”Ya! Kau selalu saja seperti itu!Hei!” Seruku sambil berdiri dan berusaha mengejarnya kembali namun karena kakiku masih sakit aku malah kehilangan keseimbanganku dan akan terjatuh, aduh berdarah lagi deh!

Namun sebuah tangan menahanku terjatuh.

”Sudah kubilang hati-hati”katanya.

Key membantuku berdiri dan tersenyum sebelum keluar kelas.

Hari ini aku harus kumpul klub drama dan juga ada rapat siswa, ini gara-gara seluruh kelasku tidak ada yang mau pergi sehingga aku dipaksa oleh mereka untuk menghadirinya sebagai perwakilan kelas. Hah kalau bukan hari ini klub drama juga kumpul aku tidak akan menghadiri rapat itu. Bel pelajaran terakhir berbunyi.

”Hah!”

”Sabar ya…”Rae Na menghampiriku dan mencubit pipiku.

”Ah kau ini…kenapa aku yang harus ikutan sih?”seruku.

”Kan sekalian yeobo…aku pergi dulu ya…annyeong…”kembali dia mencubit pipiku dan berlalu pergi.

Aku masih terduduk di mejaku sambil memanyunkan mulutku. Masih tidak rela aku harus ikut rapat itu, waktu di Amerika aku selalu berusaha menghindari mengikuti kegiatan seperti itu, membuang waktuku saja. Aigoo!

”Jelek sekali kau?”seru Key sambil menoleh ke arahku.

”Ya!apa kau!”seruku pada Key.

Masih sempat-sempatnya saja dia meledekku, kulihat dia sedang merapihkan bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Kemudian berlalu tanpa mengucapkan sesuatu. Namun tiba-tiba di kembali dan menyembulkan wajahnya di pintu.

”Jangan manyun terus…jelek tau!” Dia tertawa dan berlalu pergi.

Dasar Key!lihat saja kau nanti, kalau bukan karena kau sudah baik mau mengobati kakiku aku tidak akan marah kau ejek untuk hari ini tapi lihat saja kalau besok dia masih seperti itu. Dengan malas aku mengambil bukuku dan memasukannya ke dalam tas, kemudian bangkit menuju ruang rapat dengan malas…malas sekali.

Namun ternyata ini hari keberuntunganku, aku melihat Taemin ikut rapat ini. How lucky i am! Dia keluar dari kelasnya dan melihatku kemudian menyapaku.

”Hye Jin-ah…”Serunya begitu melihatku.

Aku pun menghampirinya dan berjalan bersamanya menuju ke tempat rapat. Disana sudah ada banyak perwakilan dari murid-murid kelas lain, kali ini kami akan membahas mengenai festival budaya yang akan diadakan 2 minggu lagi dan apa yang akan setiap kelas tampilkan. Siwon Sunbae dan Kibum Sunbae sudah ada disana dan saat itu mataku beradu pandang dengan Siwon Sunbae dan perasaan itu muncul lagi, mata itu mirip…mirip..mirip siapa ya? Aku seperti mengenalnya. Kenapa setiap melihat dia aku merasa sudah sangat dekat sekali dengannya padahal aku baru mengenalnya disini dan juga kami tidak pernah berbicara sedikit pun tapi kenapa aku merasa sangat mengenalnya. Dia tersenyum kembali, senyum itu mengingatkanku pada seseorang tapi siapa ya?aku duduk disamping Taemin dan rapat pun dimulai.

Aku tidak terlalu serius mendengarkan rapat aku benar-benar terpaku pada sosok Siwon Sunbae bukan karena aku menyukainya tapi entahlah aku pun tidak mengerti kenapa perasaanku seperti ini setiap melihatnya. Dia terus saja berbicara mengenai hal-hal apa saja yang harus kami siapkan untuk festival nanti dan aku terus saja berpikir mengingat-ingat dia mirip siapa. Tak lama kemudian Kibum Sunbae menggantikan Siwon Sunbae untuk berbicara dan kali ini aku benar-benar tidak mendengarkannya, aku benar-benar terpaku pada sosok Siwon Sunbae yang duduk di pojok ruangan dan masih berkutat dengan pikiranku mengenai mirip siapa dia. Aku melihat kesekelilingku dan mendapati banyak perwakilan kelas yang tidak mendengarkan rapat tapi malah memperhatikan Siwon Sunbae terutama yang perempuan.

Mungkin itu yang disebut Siwon Virus seperti yang diceritakan Heechul sunbae dan Eunhyuk sunbae waktu itu. Menurut mereka hampir semua gadis di sekolah ini tergabung dalam Siwon Fans Club, mereka bercerita panjang lebar sambil mempraktekan gaya Siwon sunbae menghipnotis gadis-gadis begitu kata mereka dan saat itu aku hanya bisa tertawa habis mereka sangat lucu tidak cocok sekali memerankan Siwon sunbae. Sejam berlalu dan rapat pun akhirnya selesai, dengan hasil setiap kelas harus menyiapkan stand dimana harus berbau budaya korea entah makanan ataupun kerajinan tangan. Hanya itu isi rapat yang aku dengarkan selebihnya aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

”Terima kasih kalian sudah mau datang…”Siwon Sunbae menutup rapat dan tersenyum pada semua orang disana bisa kulihat semuanya sangat terpesona dengan senyumannya. Ckckck.

Kuakui Siwon sunbae memang tampan tapi entah kenapa aku lebih suka Kibum sunbae yah walaupun dia aneh seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya tapi aku lebih suka dia dibanding Siwon sunbae.

”Mau pulang?” tanya Taemin begitu kami keluar dari ruang rapat.

”Tidak…aku harus kumpul klub drama dulu…”Jawabku.

”Arasso..”serunya.

”Taemin-ah…hari ini latihan basket?”tanyaku, sebenarnya aku tahu hari ini dia latihan basket, aku hanya ingin mengobrol lebih lama dengan dia. Sepertinya sudah lama sekali kami tidak mrngobrol, akhir-akhir ini aku jarang sekali melihat dia.

”Ne…aku duluan ya…”Jawabnya sambil tersenyum dan berlalu sambil melambaikan tangan.

Aku pun membalas senyumannya, senyuman yang selalu membuat jantungku berdegup dengan kencang. Senyum yang selalu aku suka.

”Kau terlambat 2 menit” seru seseorang yang aku yakin itu siapa, begitu aku masuk ke ruang teater.

Heechul sunbae dan Eunhyuk sunba sudah menghadangku di depan pintu. Mereka mulai lagi.

”Mian sunbae…tadi ada rapat dulu…”jawabku sambil berusaha masuk melewati hadangan mereka.

”Kau harus dihukum dulu karena telat..”seru Eunhyuk sunbae.

Ya ampun mereka ini tidak habis-habisnya mengerjaiku terus. Lalu sebuah suara penolongku datang. Ya aku menyebutnya penolongku, dia adalah Donghae Oppa.

”Kalian ini terus saja menggoda dia…..kita sedang diskusi tentang apa yang akan kita tampilkan nanti kalian malah bercanda…cepat kemari!” teriak Dongahe Oppa dari dalam.

Dan mereka pun menurut, aku masuk dan berjalan di belakang mereka dan melambaikan tangan tanda ucapan terima kasih pada Donghae Oppa.

”Gumawo Oppa…”ucapku sambil tersenyum dan duduk di samping Dongahe Oppa.

Memang aku yang paling telat kulihat semua anggota sudah datang begitu juga Yu Ri, ya ampun dia sangat aneh, dia kembali menatapku dengan tatapan anehnya, sebenarnya tatapan benci. Kenapa sih dia selalu melihatku dengan tatapan seperti itu, dari pertama aku masuk klub ini dia sudah seperti itu. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap ke arah yang lain.

”Bagaimana? Kita akan menampilkan apa?”.Tanya Donghae Oppa kepada semuanya.

”Drama yang berbau jama dulu saja..”usul Heechul sunbae.

”Kau siap membuatnya?”. tanya Dongahe Oppa dengan tatapan sedikit ragu.

”Tenang saja…kau bisa mengandalkanku, yo man!”jawab Heecchul sunbae dengan gayanya yang biasa,ala hip hop.

”Baiklah…jadi bagaimana, kalian setuju..”tanya Donghae Oppa lagi.

”Ne…”jawab kami bersamaan.

Sebenarnya aku bingung tapi ikut saja lah.

”Mau pulang Hye Jin?”tanya Donghae Oppa menghampiriku yang sedang mengambil tas.

”Ne Oppa…”jawabku.

”Aishh! Kenapa sih Cuma Donghae saja yang dipanggil Oppa?”Eunhyuk Sunbae datang menghampiri kami dengan memanyunkan mulutnya dan dia sungguh terlihat sangat lucu. Aku tidak tahan untuk tidak tertawa.

”Sunbae…kau lucu sekali?”seruku padanya.

”Habisnya kau suka sekali memanggil dia Oppa!”kata Enhyuk Sunbae lagi masih dengan mulut manyunnya.

”Tentu saja aku kan lebih ganteng daripada kamu…”jawab Donghae Oppa.

Aku benar-benar ingin tertawa melihat tingkah mereka. Alasan kenapa aku memanggilnya Donghae Oppa karena memang aku menganggapnya Oppa yang sangat ingin aku miliki. Dia sangat baik sekali terutama dalam menghindari Heechul sunbae dan Eunhyuk sunbae yang selalu menggodaku, dialah penolongku dan juga dia penolongku dalam hal pelajaran. Dia sangat membantuku dalam belajar terutama matematika yang memang aku agak lemah disana, habis Hyo Jin setiap kali aku tanya PR-ku pasti menolak membantu.

Seperti saat itu, awal aku mulai memanggilnya Oppa. Waktu itu aku belum mengerjakan PR matematika, maka pagi-pagi sekali aku pergi ke ruang teater karena tempat itulah yang paling tenang dan enak untuk belajar, tak menyangka ternyata disana sudah ada Donghae Oppa. Dia tersenyum padaku, aku berpikir tumben sekali dia tidak menggodaku biasanya jika bersama dua orang sunbae aneh itu pasti deh aku selalu menjadi bahan ledekan mereka.

Aku menaruh tas ku dan mengeluarkan bukuku dan mengerjakannya tapi karena memang aku tidak bisa aku hanya mencoret-coret bukuku, tanpa sadar Donghae Oppa sudah mendekatiku dan melihat bukuku, lalu tertawa, dia bilang itu kan soal yang mudah masa aku tidak bisa. Tentu saja mudah baginya dia kan sudah kelas 3. saat itu aku benar-benar kesal padanya, namun tiba-tiba dia mengambil kertas dan menuliskan jawabannya di kertas itu lalu menyerahkannya padaku. Dia tersenyum dan bilang kalau ada kesulitan aku bisa meminta bantuannya.

Sejak saat itu jika ada pelajaran yang sulit aku selalu datang lebih awal dan bertemu dengannya di gedung teater dan dia akan mengajariku, dia juga mulai tidak pernah menggodaku lagi bersama dua sunbae aneh itu. Nah, karena itu aku memanggilnya Oppa karena aku menganggapnya kakakku. Waktu pertama kali aku memanggilnya Oppa dia sangat terkejut dan malah tertawa tapi aku bilang aku tidak punya kakak laki-laki dan aku ingin dia menjadi kakak laki-lakiku, akhirnya dia mau juga. Begitulah kenapa aku memanggilnya dengan sebutan Oppa.

”Dasar Pinokio!”sahut Eunhyuk sunbae.

Aku baru ingat, buku PR-ku masih ku taruh di atas meja di ruang ganti di sebelah ruang teater. Aku pun bergegas menuju kesana dan mengambil bukuku. Namun saat hendak kembali mengambil tas, aku dihadang oleh Yu Ri, sepertinya dia berniat mencari masalah, dilihat dari tatapan matanya. Aku pura-puta tidak melihatnya dan berjalan pergi tapi…

TBC

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^


I Don’t Mean To (Let’s Not edited) – [1.2]

Tittle               : I Don’t Mean To (tadi ada kekurangan POV ternyata, dan setelah lengkap sepertinya judul ini lumayan cocok.. kekeke)

Author           : Wiga

Rating             : PG 15

Cast                  : Lee Jinki, Kim Kibum, Park Nada

Annyeong.. kali ini saya mengeluarkan ff geje yang terbaru.. untuk yang berusia dibawah 15 tahun bacanya harus didampingi orang tua ya.. hehehe…

Oia, berhubung saya tidak bisa menemukan judul yang pas untuk ff ini, maukah para reader setia SF3SI memberi masukan tentang judul yang tepat untuk ff ini??

Hihihii…. Gomawo.. Happi reading.. ^^

KIBUM POV:

“Jagia.. Kenalkan ini Kibum.. teman ku..”

Gadis itu..

matanya terlihat sembab seperti habis menangis dan saat tersenyum seperti agak dipaksakan. padahal jika tersenyum dia cukup manis dimataku.

“ Annyeong haseyo, My name is Kim Kibum.. Nice to meet you” aku menyapanya.

“Annyeong, I’m Park Nada.. Nice to meet you too Kibum ssi” ucapnya pelan sambil menunduk, matanya menghindari tatapanku.

“ Kibum,  Nada ini pacarku.. manis kan?? hehe.. Jagia, ini Kibum teman SMP ku yang pernah ku ceritakan padamu.. dia baru kembali dari amerika..” kata Lee Jinki sahabatku, ia berusaha mencairkan suasana.

aku melihatnya tersenyum, entah kenapa dadaku bergetar.

*************

Seminggu kemudian aku melihat Nada sedang berjalan disebuah pertokoan, karena penasaran aku menghampirinya,

“ Hiii Nada…!!! Still remember me??” aku menyapanya

“ Ohh.. Hii.. Kibum ssi”  dia menjawab pelan.

“ kamu sedang apa disini..? Jinki mana??”

“ ooh, aku sedang mencari sesuatu Kibum ssi..” jawabnya, aku baru sadar kalau ia mempunyai mata yang sangat indah.

“ Heeyy, Just call me Kibum, OK.. jangan gunakan ssi kepadaku, itu terlalu formal.. By the way kamu sedang mencari apa ??” kini aku tidak bisa melepaskan tatapan ku dari matanya.

“ Kado untuk Jinki Oppa, minggu depan ia berulang tahun..” jawabnya.

“ oohh. cool.. aku juga ingin mencari sesuatu disini, kau mau menemaniku??”

tentu saja aku berbohong.. aku hanya ingin berlama-lama dengan nya, ku lihat ia menunduk, agak ragu, namun akhirnya ia mengangguk.

Walaupun singkat, berjalan bersamanya sungguh menyenangkan,ia banyak tertawa saat menceritakan tentang Jinki, saat aku menyadari beberapa kali saat ia menyebut nama Jinki, matanya selalu berbinar.

Tidak.. Aku tidak boleh menyukainya!! Ia pacar sahabatku!!

**************

Hari ini aku mencoba menelpon Nada, aku mendapatkan no tlpnya dari Jinki, tentu saja. Aku heran Jinki dengan mudah memberikan no tlp pacar nya kepadaku tanpa bertanya macam-macam.

“ Annyeong Haseyo..” terdengar suara lembut yang menjawab panggilanku

“ Annyeong.. May I speak with Nada??”

“ Yes This is Nada’s speaking..”

“ Haay Nada…!!!! it’s Me Kibum…”

Hampir 15 menit aku mengobrol dengan nya, suaranya ketika ditelepon begitu… aaahhhh.. aku tidak bisa menggambarkannya, yang aku tahu aku merasa sangat senang setelah mendengar suaranya.

***************

Malam ini aku tidak bisa tidur, dan aku bosan dirumah, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman. aku melihat sosok yang tidak asing dimataku,

Nada…. Ia menangis sendirian..

Haruskah aku menghampiri nya??

Yaa.. Kurasa aku harus menghampirinya.

“ Nada….” aku menepuk lembut bahunya dan menyapanya pelan.

“ Kibum Oppa..” ia terlihat terkejut, lalu cepat-cepat menghapus air matanya, dan menunduk.

Segera aku duduk disampingnya.

“ Kamu tidak apa-apa Nada?? Mengapa kamu menangis?” tanya ku.

“ Tidak apa-apa oppa..mataku kemasukkan debu jadi terlihat seperti menangis ,oppa..” jawabnya perlahan, namun wajahnya masih menunduk.

“ Jinki mana??” aku bertanya padanya

dia menunduk, agak lama terdiam namun akhirnya menjawab.

“ Mmmm, aku tak tau oppa, aku mmmm… aku tak tau..”

“ Kamu sendirian?? Malam-malam begini??”

Dia tidak menjawab, hanya menunduk, kulihat tangan nya sedikit bergetar,

Segera ku lepaskan jaketku dan langsung ku selimuti punggungnya.

“ Oppa..”

“ Jangan menolak, aku tak ingin kamu sakit.. kamu masih tak mau cerita kepadaku, mengapa kau menangis, Nada??”  aku kembali bertanya kepadanya, Namun ia hanya terus menunduk.

aku tidak memaksanya untuk bercerita, karena aku tidak mau ikut campur tentang masalahnya.

Aku duduk menemaninya sebentar, lalu ia berkata bahwa dia ingin pulang. aku menawarkan untuk mengantarkan nya sampai rumah, namun ia menolaknya.

********************

Dirumah, aku terus memikirkan nya.. aku berusaha mengalihkan pikiranku darinya, namun tetap tidak bisa, aku sadar, aku menyukainya, aku menyukai pacar sahabatku sendiri.. AAIISSSSHHH.. jika sudah begini apa yang harus ku lakukan??

harus kah aku memilih??

Persahabatan ku dengan jinki, atau memperjuangkan cintaku dengan Nada.?

God, Please help me..

Aku tergoda untuk menelponnya, menanyakan keadaanya.

“ Annyeong haseyo..”

“ Annyeong.. Ini aku Kibum..”

“ Oh.. Kibum oppa.. ada apa??”

“ mmmm, tidak apa-apa, kamu belum tidur ??”

“ Oh, sebentar lagi oppa, ini juga sudah mengantuk..” Dia menjawab jujur

“ mmm, tadi kenapa menangis, Nada…” aku mengulur waktu, aku sungguh masih ingin mendengar suaranya.

“ Gwencana.. aku hanya kelilipan oppa,” setelah itu ku dengar ia menguap.

“ OOhh.. Ok.. Kamu benar-benar sudah mau tidur ?” tanya ku kemudian

“ iya oppa.. mianhae..”

“ OK.. Gwencana.. Good Nite Nada..”

********************

Seminggu ini, sepertinya Nada menghindari ku, ia tidak pernah mengangkat tlp ku, dan jika aku sms ia tidak pernah membalasnya. ahh.. dia benar-benar membuatku serba salah.

*********************

Hari ini aku ingin membeli sesuatu untuk ummaku, karena lusa ia berulang tahun. aku memutuskan untuk mencarinya di mall tempat dulu aku berbelanja dengan Nada.

Entah karena kebetulan, ataukah ini rencana Tuhan, tiba-tiba ada seorang gadis menabrakku.

ternyata Nada, ia menangis.. Wajah nya merah dan basah karena air mata.

“ Mianhae..” katanya cepat tanpa memandangku, kemudian ia berlari ke arah pintu keluar.

refleks aku mengejarnya, aku menahan tangan nya..

“ NADAA… TUNGGU!! Heeyy…. Kamu kenapa..??”

ia terkejut saat menyadari ku memegang lengan nya.

“ Kamu kenapa.. Mengapa kamu menangis ??” tanya ku kepadanya.

Namun ia hanya menunduk dan menggeleng. ia terlihat sangat cantik dengan wajah memerah seperti ini.

“ Siapa yang membuatmu menangis..?” aku bertanya sekali lagi kepadanya.

lagi-lagi ia hanya menggeleng pelan, namun kini air matanya tumpah.

tanpa bertanya padanya, aku segera merangkulnya dan membanya ke mobil ku.

“Kenapa kau menangis??” tanya ku setelah berada di dalam mobil.

kulihat ia menunduk, bibirnya bergetar, ia berusaha mengucapkan sesuatu namun sepertinya ditahannya.

“ aku ,,,” hanya itu yang dapat ia katakan, kemudian ia mulai menangis, bahunya bergetar.

Oh Tuhaann.. ingin sekali aku memeluknya, menenangkannya.. hatiku sakit, saat melihatnya menangis seperti ini.

“ Nada…” hanya itu yang terucap dari bibirku.

Perlahan tangan ku menggenggamnya,,

“ Jangan menangis.. semua akan baik-baik saja..” kata ku pelan..

*********************

Aku benar-benar penasaran, apa yang terjadi pada Nada, mengapa ia menangis seperti itu, aku sudah bertanya padanya, namun ia tidak menjawab.. ia hanya menggelengkan kepalanya.

Semakin aku mendesaknya, semakin ia tak mau berbicara.

Karena Jinki kah ia menangis?? atau karena sesuatu yang lain..

Ya Tuhaaann.. mengapa hanya Nada yang ada di kepalaku saat ini..

Nada.. Nada.. Nada..

Aku mencintainya..

Aku mencintainya dari pertama kali aku melihatnya, aku tau ini salah, karena bagaimana pun juga ia adalah pacar sahabatku, namun perasaan ku ini tak bisa ku kendalikan,

Ku tetapkan untuk menyampaikan perasaan ku padanya.

*********************

Hari ini jinki mengajakku untuk battle PS dirumahnya, namun begitu aku ke rumahnya jinki tak ada disana, adik nya Lee Taemin bilang jika ia ke rumah Nada, mungkin Jinki ingin battle di rumah pacarnya, segera aku meluncur ke rumah Nada.

Sesampainya dirumah Nada, kulihat mobil Jinki ada di depan rumahnya, segera ku parkir mobilku dibelakang mobil Jinki.

ketika aku mengetuk pintu, kudengar samar-samar Nada berteriak.

“ Jangaaan Oppaa….”

“ Toloooonng “

Segera aku berlari masuk kedalam rumahnya, namun sial.. pintu rumahnya terkunci..

“ Kumohon Jangaaaann….” terdengar teriakan nya lagi.

Ya Tuhan..! apa yang terjadi di dalam?? mengapa Nada menangis dan berteriak?? aku sangat khawatir ia kenapa-kenapa.

Aku berusaha membuka paksa pintunya, kutendang sekuat tenaga.. aku menggunakan seluruh tubuh ku untuk mendobraknya..

BRAAAKKKK….

Akhirnya pintu berhasil terbuka, kulihat Nada tergeletak di lantai dan Jinki berada diatasnya , tangan Jinki memegang kedua tangan Nada, berusaha mencium nya sedangkan Nada menangis dan memberontak.

Tanpa berpikir panjang aku segera berlari ke arah mereka.

Kutarik Jinki, dan dengan sekuat tenaga aku melayangkan tinjuku ke rahangnya,

“BBUUKKK”

Aku tidak bisa menahan emosiku melihat Nada diperlakukan seperti itu, sekali lagi aku melayangkan tinjuku kearahnya.

“ APA YANG KAU LAKUKAN, BASTARD!! “ teriak ku kencang.

namun Jinki hanya menunduk, ia bahkan tidak melawanku, aku memukulnya lagi, kali ini ke arah perutnya.

“ BUUUKK”

Aku meraih kerah bajunya, dan ku tarik Jinki ke arah ku.

“ DENGAR!! AKU BERSUMPAH!! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH MU JIKA SESUATU TERJADI PADANYA, LEE JINKI “

aku tak tau apa yang terjadi dengan ku sampai aku berteriak seperti itu pada sahabatku, kemudian aku menariknya keluar dari rumah Nada, dan saat Jinki keluar, aku segera mengunci pintunya.

aku berjalan perlahan ke sudut ruangan, kulihat Nada menangis disana. ia duduk dan kedua tangan nya menutupi wajahnya.

aku berlutut disebelahnya dan memeluknya erat. tubuhnya bergetar hebat, aku mengelus kepalanya, berusaha untuk menenangkannya.

“ Nada.. jangan menangis.” bisikku perlahan ditelinganya.

Namun ia terus menangis…

“ Jinki sudah pergi..” bisikku lagi, sambil mengeratkan pelukan ku.

Yaaa.. Tuhan.. mengapa hati ku sakit sekali…

aku tak bisa melihatnya menangis seperti ini.. apapun akan kulakukan, agar dia tidak menangis..

“ Nada.. Kumohon, jangan menangis, ..” aku mendekatkan wajahku kepadanya, dia hanya menggeleng perlahan.

aku mencoba untuk melepaskan tangan yang menutupi mukanya, awalnya dia bergeming, namun setelah ku bisikkan bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya ia melepaskan tangan yang menutupi wajahnya.

“ Oppa….” ia berbisik.

“ aku takut..”

aku tak tau harus berkata apa-apa lagi..aku memeluknya, menyandarkan kepalanya di dada ku, dan mengusap lembut bahunya.

tak lama kemudian ia tertidur dipelukan ku.

****************

aku membaringkan nya di sofa, wajahnya merah dan sembab karena terlalu lama menangis.

Mengapa Jinki tega memperlakukan Nada seperti ini??

Apa yang ada di otaknya?

Harusnya Ia melindunginya, bukan membuatnya menangis..

aku tak tahan lagi, aku harus segera mencari Jinki,

aku akan membuat perhitungan dengan nya!!!!

****************

NADA POV :

Hari ini aku diajak pacarku, Lee Jinki, untuk menjemput teman nya yang baru pulang dari Amerika, kulihat Jinki oppa agak pucat, kupegang dahinya “ Oppa.. wajahmu pucat sekali..” . Namun ia menepis tangan ku kasar .

“ Yaa!! Lepaskan tanganmu!! aku malu dilihat orang!!” ia membentakku.

“ Oppa.. mengapa kau membentakku seperti itu??” aku berkata pelan, aku sungguh terkejut ia berkata sekasar itu padaku, padahal selama 3 tahun kita berpacaran, tak pernah sekalipun ia membentakku..

“ Oppa, aku ke toilet dulu..” aku berlari ke arah toilet, karena aku tak bisa lagi menahan air mataku, Aku berharap Jinki oppa akan mengejarku. Namun ternyata tidak.

Aku menangis di toilet, hatiku sungguh sakit.

Sekitar 10 menitan, aku keluar dari toilet, kulihat Jinki oppa berjalan kearahku bersama seseorang yang tidak ku kenal.

“Jagia.. Kenalkan ini Kibum.. teman ku..” kata Jinki oppa kepadaku, bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.

“ Annyeong haseyo My name is Kim Kibum.. Nice to meet you”.

“ Annyeong, I’m Nada.. Nice to meet you too Kibum ssi” ucapku pelan.

****************

Minggu depan Jinki Oppa berulang tahun, aku berencana untuk memberinya kejutan kecil. Aku berkeliling di suatu mall untuk mencari Jam tangan. Jam tangan Casio model terbaru, memang jam itu sangat mahal, dan aku harus menguras hampir seluruh tabunganku hanya untuk membeli jam tangan ini. T_T.

“ Hiii Nada…!!! Still remember me??” Terdengar suara orang memanggilku

“ Ohh.. Hii.. Kibum ssi”  Ternyata KimKibum teman nya Jinki Oppa.

“ kamu sedang apa disini..? Jinki mana??” Tanyanya.

“ ooh, aku sedang mencari sesuatu Kibum ssi..” aku menjawabnya,

“ Heeyy, Just call me Kibum, OK.. jangan gunakan ssi kepadaku, itu terlalu formal.. By the way kamu sedang mencari apa ??” Katanya Ramah

“ Kado untuk Jinki Oppa, minggu depan ia berulang tahun..” aku menjelaskan.

“ oohh. cool.. aku juga ingin mencari sesuatu disini, kau mau menemaniku??”

Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku ingin sendirian saat ini, namun aku tak bisa menolak permintaan Kibum oppa, karena Kibum oppa, adalah sahabat Jinki oppa..

Namun akhirnya aku menganggukan kepala ku tanda setuju,

Sejujurnya aku sangat risih berjalan dengan nya, karena aku belum pernah berjalan berdua dengan laki-laki selain Jinki oppa..

****************

Hari yang kutunggu-tunggu tiba juga,

Aku berencana membuat strawberry chesse cake kesukaaan Jinki oppa. Pagi-pagi sekali aku berbelanja ke supermarket, mencari buah strawberry segar. setelah mendapatkan semua bahan-bahan yang ku butuhkan, aku cepat-cepat pulang ke rumah.

“ Ooohh.. Sudah jam 11 siang.. “ aku menggerutu, waktuku tak banyak.

aku segera mencuci tangan dan mulai membuat chesse cake.

Aku mengocok telur, gula, susu, vanilla, dalam satu wadah dengan mikser, setelah mengembang, kutambahkan mentega cair, chesse cream dan terigu yang sudah ku ayak.

kutuangkan ke loyang berbentuk hati, setelah itu ku masukkan kedalam oven yang telah ku set 170° selama 45 menit.

Tak terasa sudah jam 2 siang, kini aku mulai untuk menghias cake tersebut, aku mengoleskan banyak whipped cream di seluruh bagian cake, karena aku tau jinki oppa sangat suka cake yang banyak creamnya. kemudian kutata potongan strawberry segar diatasnya, tak lupa ku oleskan selai keseluruh permukaan strawberry agar mengkilap.

“ Perfect” seruku mantap

From : PARK NADA

To : DE_LIEFSTE

“ Dear, Jinki Oppa..

Sudah 1 minggu kita tak bertemu,

Apa kau merindukan ku Oppa..??

=)

Oppa, kutunggu kau di taman, tempat kita biasa bertemu,

Jam 5 sore, jangan telat ya..

I Miss You..

^^”

Aku dengan cepat mengetikkan sms nya, kemudian aku bergegas mandi.

****************

Jam 5 kurang 30 menit, aku sudah sampai di taman, kotak pink yang berisi cake kuletakkan di sebelahku, sedangkan jam tangan casio masih tersimpan di tasku.

aku sengaja memakai baju terusan warna ungu yang ku kenakan sewaktu kencan pertamaku dengan jinki oppa.

sudah jam 5 pas, aku merapikan rambutku dan tak lupa tersenyum, pasti sebentar lagi jinki oppa datang.

5 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, 3 jam..

Tak terasa sekarang sudah jam 10 malam dan aku masih disini, sendirian menunggu jinki oppa, kulihat handphone ku tak ada satu pun pesan dari nya, ku tlp handphonenya, namun tidak aktif, ku tlp rumahnya adiknya Lee Taemin bilang ia pergi dari jam setengah 5 sore.

Perasaanku campur aduk, kesal, marah sedih, khawatir, takut, bingung, semua bercampur jadi satu, aku menutup kedua wajahku dengan telapak tangan dan mulai menangis.

Aku harus bagaimana?? God.. Please help me..

“ Nada..”

seseorang menepuk bahu ku lembut, aku sunguh berharap yang datang adalah jinki oppa, namun ternyata aku salah, yang datang adalah Kibum oppa.

*****************

Saat kubuka mataku ku lihat jinki oppa duduk di samping tempat tidurku.

“ Kau sudah bangun Nada..”  Katanya pelan.

“ Jinki oppa..” aku terkejut, melihat ia ada disampingku, aku berusaha duduk, namun kepalaku berat sekali.

“ Sudah.. Kamu tidur saja,, jangan dipaksakan duduk jika tak bisa..” kata Jinki oppa menahan ku agar aku tidak bangun.

“ kenapa oppa ada disini..” bisikku.

“ Umma mu menelpon, katanya kau sakit, sampai jam 3 sore belum bangun-bangun, ia bertanya padaku kemarin kita habis dari mana, mengapa kau pulang nya sangat larut..”

“ Memang sekarang jam berapa oppa..?” aku bertanya padanya.

“ jam 5 sore” ia menjawab singkat.

Entah ini perasaan ku saja atau memang benar kurasa sikap jinki oppa terhadapku sangat berbeda sekarang, sepertinya ia sangat dingin.

5 bulan lalu saat aku sakit seperti ini, Jinki oppa kelihatan sangat khawatir, sebentar-sebentar dia menanyakan keadaanku, apakah aku lapar? apakah aku haus? apakah aku pusing? atau apapun tentang keadaan ku.

tak terasa air mataku menetes.

“ Mengapa kau menangis Nada?” tanya nya, tangan kanan nya mengusap air mataku.

“ Oppa.. aku menunggu mu sampai jam sepuluh malam, mengapa kau tidak datang??” aku berkata sambil terisak.

Perlahan Jinki oppa mengelus kepalaku,

“ Mianhae, aku ketiduran dari sore, aku terbangun jam 9 malam  kemudian membaca sms mu, kupikir jam segitu pasti kau sudah pulang”

aku terdiam, mengapa berbeda sekali dengan apa yang taemin katakan? taemin bilang dari jam setengah 5 jinki oppa pergi, namun sekarang jinki oppa bilang, ia ketiduran.

Yaa Tuhaann.. siapa yang harus ku percaya..?

“ Mengapa kau tidak menelponku saat kau membaca sms dari ku oppa..” aku bertanya padanya.

sesaat ia terdiam.

“ Aku lupa.. Mianhae..” katanya pelan.

“ Kau percaya padaku kan Nada..?” ia melanjutkan.

aku mengangguk, ya.. bagaimanapun juga ia pacarku, aku harus percaya padanya..

******************

Hari ini aku sangat bosan dirumah, tak ada yang bisa ku kerjakan, iseng-iseng aku menelpon ke rumah Jinki oppa, aku ingin mengajaknya keluar jalan-jalan.

“ Annyeong haseyo..” terdengar suara imut Taemin.

“ Annyeong Taemin, Ini Nada Nuna.. Jinki oppa ada??” kata ku

“ Nada Nuna.. Bukan kah hyung pergi dengan mu, Nuna?? barusan ia pergi dengan mobilnya, katanya akan menjemputmu, kalau tidak salah dengar kalian akan pergi ke mall kan??” jelas Taemin panjang lebar.

otak ku berpikir keras, jinki pergi?? tapi tadi malam saat ia menelponku ia berkata bahwa hari ini dia tidak kemana-mana.

“ Nuna, kau masih disana..?” tanya taemin kemudian

“ Ohh yaa, yaa Taeminie.. Nuna lupa hari ini nuna ada janji dengan hyung mu.. ok Nuna tutup ya tlpnya.. daaaaa teminie…”

aku buru-buru mengganti baju rumahku dengan celana jeans, dan kemeja kotak2 merah favoriteku, berlari ke arah halte bus.

*****************

Sampai di mall, aku hanya berputar-putar sambil mencari-cari sosok Jinki oppa.

Tak ku temukan dimana pun. aku sangat lelah berputar-putar, ku langkah kan kaki ku menuju toko buku, ku lihat seseorang yang mirip jinki oppa dari belakang, ia menghampiri seorang wanita dan merangkulnya.

aku sungguh penasaran, ku dekati mereka, kira-kira tiga langkah dibelakangnya aku berucap. “ Jinki Oppa..”

Mereka berdua membalikkan badan, dalam hati aku terus berharap kalau itu bukan jinki oppa.

“ Nada..” jinki oppa terlihat kaget dan buru-buru melepaskan rangkulan nya dari wanita itu.

“ Jagia, siapa dia??” Wanita itu berkata manja sambil tersenyum kepadaku.

Aku tidak tahan lagi, aku segera berbalik, dan berlari, aku tak perduli orang-orang melihatku menangis.

Yaaa Tuhaan.. Hati ku sungguh sakit, Jinki oppa bahkan tidak mengejarku untuk memberikan penjelasan.

BRRUKKK..

Aku menabrak seseorang, Namun pikiran ku begitu kacau, aku meminta maaf  tanpa melihat kearahnya.

“ NADAA… TUNGGU!! Heeyy…. Kamu kenapa..??”

aku mendengar seseorang memanggil namaku, namun itu bukan suara Jinki oppa.

Kemudian ada yang memegang kuat lengan ku, ternyata Kibum oppa.

Ia merangkulku, dan membawaku ke mobilnya, disana ia menenangkan ku.

dan akhirnya mengantarku pulang.

****************

Sudah seminggu ini aku tidak bertemu jinki oppa, tidak mengangkat tlpnya atau pun membalas sms nya. entah bagaimana hubungan kita selanjutnya, aku tak tau..

hari ini umma, dan appa ku pergi menengok nenekku yang sedang sakit, mungkin mereka menginap disana, karena rumah nenekku jauh sekali,, seharian ini aku hanya tidur-tiduran disofa dan menonton tivi,,

Ring.. Ding..Dong..

terdengar bunyi dering sms di hp ku. dengan malas aku membacanya.

From: ..DE_LIEFSTE..

To: PARK NADA

“ Nada, aku sudah di depan.

Buka pintunya,

Kita harus bicara”

Jinki oppa di depan rumah?? aku buru-buru terbangun, benarkah jinki oppa ada di depan rumahku, rasanya aku tak percaya.

“ TOK.. TOK.. TOK..”

Perlahan aku menuju ke pintu, dan membukakan nya.

“ Nada..”

Yaa.. Tuhan.. ingin sekali aku memeluknya erat, aku sungguh sangat merindukannya.

“ Ada apa oppa..” aku berkata pelan sambil mempersilahkan dia masuk.

Jinki oppa masuk dan kemudian menutup pintu.

“ Aku ingin kita putus, Nada” katanya pelan.

lututku terasa lemas mendengar kata-kata itu dari mulutnya.

“ Ke Kenapa oppa..” aku berusaha bicara.

“Karena ku rasa, aku sudah mmm.. maksudku, kita sudah tak ada kecocokan lagi” katanya enteng.

Sebegitu gampangnya kah dia mengucap kata putus?? apakah dia tidak berpikir bagaimana perasaan ku saat dia bilang ini semua?? Yaa Tuhan.. Aku mau Jinki Oppa yang dulu, bukan Jinki oppa yang seperti ini..

“ Itukah sebabnya sebulan ini kau menghindariku oppa, kau sering mematikan hp mu, jarang  membalas smsku, kau tak datang ke taman saat aku bilang aku menunggumu, bahkan kau tidak pernah memanggilku jagia lagi..” aku terisak mengatakan semuanya.

“ Dimana salah ku oppa..” aku menutup kedua wajahku dengan tangan ku.

Kurasakan jinki oppa memelukku, namun aku menolaknya.

“ Nada..” ia berbisik ditelingaku.

aku mendorong tubuhnya, namun pelukan nya begitu erat.

“ Nada.. Kau mencintaiku kan..??” bisiknya ditelingaku, bibirnya mulai mengarah ke bibirku.

“ Oppa lepaskan!!” Jeritku sambil mendorong tubuhnya.

ketika pelukannya terlepas, aku segera berlari kearah pintu, Namun ia meraihku lebih cepat, dengan satu tangan nya ia menarikku ke arahnya, dan tangan yang satunya lagi mengunci pintunya.

“ Oppa.. Lepas!!!! Oppa mau apa??” aku dengan sekuat tenaga berontak namun tenaganya lebih kuat.

“ TOLONGG…” aku berteriak sambil menangis, aku sangat ketakutan,

Yaa tuhann, tolong aku!!

Kurasakan seseorang menarik Jinki oppa, aku tak tau siapa dia, aku segera merangkak ke sudut ruangan, aku benar-benar sangat takut, lutut ku gemetar, aku menutupi kedua wajahku dengan tangan, dan menangis sepuasnya.

Tak lama kemudian, ada seseorang yang datang dan memelukku,

“ Nada.. jangan menangis.” bisiknya  perlahan.

Aku mengenal suaranya, itu suara Kibum oppa.

Namun aku tak bisa mengendalikan emosi ku, aku takut, aku kecewa, aku marah, aku ingin mati saja rasanya.

“ Jinki sudah pergi..” bisiknya lembut, kurasakan pelukan nya begitu hangat.

“ Nada.. Kumohon, jangan menangis.

aku merasakan tangannya memegang kedua tangan ku dan berusaha menariknya dari wajahku, namun aku bertahan, aku tak ingin saat aku membuka kedua mataku, bukan Kibum oppa yang kulihat, melainkan jinki oppa. aku sungguh takut..

“ ssssttt… Ini aku, Kibum.. Jangan takut Nada.. Semuanya pasti akan baik-baik saja” katanya lembut.

Perlahan aku melepaskan tangan dari wajahku, kulihat kibum oppa didepanku.

“ Oppa…. Aku takut…” Hanya itu yang bisa ku katakan.

Aku hanya bisa menangis dipelukan nya, aku tau mungkin memang jinki oppa bukan yang terbaik untukku..

*********************

JINKI POV

“ Brain Cancer??”

aku tidak percaya saat aku mengetahui aku menderita kanker otak stadium akhir. Leluconkah ini??

dan puncaknya saat dokter mengatakan umurku kurang dari 4 bulan..

Bagaimana aku memberitahukan ini pada keluargaku??

Dan yang lebih parah lagi,, bagaimana aku harus memberitahukan hal ini pada orang yang paling penting didalam hidupku, yang selama 3 tahun ini selalu mendampingiku.

Yaaa.. Tuhan.. aku tidak bisa membayangkan nya,,

Ia pasti akan menangis saat mengetahui penyakitku, menangis saat mengetahui hidupku sangat singkat, menangis ketika aku pergi , menangis di pemakamanku, dan terus menangis saat dia merindukan aku..

Tidak..

Aku tidak bisa melihatnya menangis karenaku.. bagaimana mungkin aku membuat orang yang kusayangi menangis.

Sudah kupikirkan baik-baik..

aku harus membuatnya membenciku,,

aku harus membuatnya meninggalkan ku..

*****************

Hari ini temanku Kibum, pulang dari amerika. aku dan pacarku menjemputnya di bandara.

“ Oppa.. wajahmu pucat sekali..” katanya sambil memegang dahiku, dia kelihatan sangat khawatir.

“ Yaa!! Lepaskan tanganmu!! aku malu dilihat orang!!” aku membentaknya dengan sengaja.

“ Oppa.. mengapa kau membentakku seperti itu??” dia menatapku, matanya berkaca-kaca.

aku tidak sanggup melihat air mata di matanya, aku mengalihkan pandangan ku darinya.

“ Sudah lah!! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!!” kembali aku berkata ketus.

dia menatapku tajam, kemudian berkata “ Oppa, aku ke toilet dulu..” setelah itu dia langsung berlari ke arah toilet.

aku tahu, ia menangis disana…

hati ku sakit karena aku membuatnya menangis…

namun semua ini harus ku lakukan,,

Mianhae..

Tak lama kemudian, kulihat Kibum datang.

“ Hey Whats Up!!!” sapanya sambil meninju bahuku.

“ Yaaa!! Jangan mentang-mentang kau lama di amerika sekarang kau lupa bahasa korea..” gerutu ku.

“ HAHAHAHA…” ia tertawa.

Kulihat pacarku keluar dari toilet,

“ Kibum, kukenalkan kau pada pacarku. Kajja..” aku menariknya ke arah pacarku.

“Jagia.. Kenalkan ini Kibum.. teman ku..” kataku kepadanya, bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.

“ Annyeong haseyo My name is Kim Kibum.. Nice to meet you”.

“ Annyeong, I’m Park Nada.. Nice to meet you too Kibum ssi” ucapnya pelan..

*****************

Akhir-akhir ini rasa sakit dikepalaku sering muncul..

AAAAAGGGGRRRRHHHH…. rasanya sungguh menyiksaku.

dokter sudah menyuruhku untuk mengikuti kemoterapy, namun aku menolaknya. Kemoterapy hanya membuat keadaanku lebih menyedihkan dari pada ini. dan jika aku menjalani kemoterapy, pasti keluargaku dan Nada lambat laun akan tau kalau aku mengidap brain cancer..

sudah seminggu ini aku tidak bertemu Nada, aku sengaja menghindar dariinya, aku tidak mengangkat tlpnya, dan juga tidak membalas sms nya.

sungguh sangat berat bagi ku melakukan ini semua,

Ring.. Ding.. Dong..

Terdengar nada sms dari hp ku..

From : DE_LIEFSTE

To : LEE JINKI

“ Dear, Jinki Oppa..

Sudah 1 minggu kita tak bertemu,

Apa kau merindukan ku Oppa..??

=)

Oppa, kutunggu kau di taman, tempat kita biasa bertemu,

Jam 5 sore, jangan telat ya..

I Miss You..

Mengapa tiba-tiba Nada mendadak ingin bertemu denganku?? aku bingung, apa yang harus ku lakukan? Namun akhirnya kupaksakan diri untuk pergi.

Aku berangkat dari rumah jam setengah lima sore, sengaja tak ku gunakan mobilku, karena tak mungkin aku menyetir mobil dalam kondisi seperti ini.

*************

Jam 5 lewat 10 aku sampai di taman, sengaja aku tidak lewat gerbang depan, melainkan lewat gerbang belakang.

Kulihat dia duduk di bangku taman seorang diri, ia mengenakan baju terusan ungu yang dulu dipakainya pada kencan pertama. Ya tuhan, harus kah aku mendatanginya sekarang??

Aku putuskan untuk tetap disini, aku tidak boleh menghampirinya, ia harus membenci ku..

30 menit berlalu, ia masih sabar menunggu ku..

1 jam berlalu.. Ia belum beranjak dari tempat duduknya..

2 jam berlalu..

Mengapa kau masih disana Nada??

3 Jam..

Cepatlah pulang..!!!!

4 Jam..

Yaa Tuhan, aku tak tega melihatnya.. ia masih menungguku di bangku itu, dan sekarang ia mengatupkan kedua tangan di wajahnya, pertanda kalau ia menangis. kurasakan sakit di hati ku.. aku membuatnya menangis lagi..  tapi aku tak punya pilihan, hanya ini yang bisa kulakukan.

sampai kini, jam 10 malam, ia masih menungguku..

Sebegitu jahatnya kah aku??

aku tak bisa menyakitinya lebih dalam lagi, ku langkah kan kaki ku kearah Nada, Namun tiba-tiba aku melihat ada seorang pria yang menghampiri nya.

Kim Kibum!!!

Mengapa dia ada disini?? Nada kah yang menyuruhnya datang ke taman ini.

Pikiranku mulai kacau karena cemburu.

aku teringat seminggu yang lalu Kibum meminta no tlp Nada kepadaku, aku tak curiga terhadapnya karena ia sahabatku, maka ku berikan no tlp Nada padanya.

Kulihat Kibum mulai berbicara padanya, kemudian memakaikan jaketnya di punggung Nada. tangan ku gemetar menahan marah.

Harusnya aku yang berada disamping Nada saat ini!!

Haruskah ku datangi mereka berdua??

Tak lama kemudian ku lihat Nada dan Kibum berdiri, mungkin mereka akan pulang bersama. Namun dugaan ku salah, Mereka berpisah di gerbang utama, Nada berjalan kearah rumahnya, dan kibum berjalan kearah yang berlawanan.

Kulangkah kan kaki ku gontai menuju bangku panjang yang barusan di duduki Nada,

Apa ini?? Kotak besar berwarna pink.. Apakah Nada sengaja meninggalkan kotak ini disini?? kubuka tutup kotak itu perlahan-lahan.

Sebuah cake berbentuk hati, dengan limpahan buah strawberry favorite ku.. ada kartu kecil diatasnya.

Happy birthday oppa..

wish you all the best

I love you and I will never stop  loving you.

Saranghae..

Dan sebuah ada sebuah foto diriku bersama Nada di taman ini, yang diambil saat kencan pertama kami, 3 tahun lalu, tepat dihari ulang tahun ku..

aku tersenyum, aku mencolek sedikit creamnya, dan kumakan satu strawberry yang paling besar. Rasanya sungguh manis. Kurasakan air mata ku jatuh.

Apa yang terjadi dengan ku?? Aku laki-laki, tak sepantasnya aku menangis..

Namun entah mengapa air mata ini terus jatuh..

*****************

Ring.. Ding..Dong..

terdengar bunyi sms dari hp ku, aku segera membacanya.

From : Lee Hyeo Jun

To : LEE JINKI

“ OPPA!!!!!!!! KAMU DIMANA???

AKU SUDAH HAMPIR BERJAMUR

MENUNGGUMU!!!

DALAM 1 JAM JIKA KAU TIDAK

SAMPAI DI MALL, KAU AKAN TAU AKIBATNYA!!”

Ya Tuhan!!! aku hampir lupa!!! Hari ini aku ada janji dengan sepupuku yang baru datang dari Indonesia, aku janjian dengan nya di Mall.

aku mengambil jaketku dan kunci mobilku, dan segera berlari ke luar.

Ku dengar Taemin berteriak “ Hyung, mau kemana”

“ Mall.” Jawabku singkat.

“ Dengan Nada Nuna??” katanya lagi.

“ Ya” kataku menggumam.

“ Aku nitip komik Yakitake Japan terbaru ya hyung!!” teriaknya.

“ Ya”

Segera ku kemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju arah mall.

***************

“ YAAA!!! Mengapa kau lama sekali Jinki!!!” kulihat mukanya cemberut.

“ Mianhae, aku lupa.. EH!! tadi kau panggil aku apa?? coba aku mau dengar lagi” aku menjitak kepalanya.

“ AWW..SAKIT!! awas ya!! ku adukan ke appa mu!!” dia berkata mengancamku.

“ Kau ini.. tidak berubah sama sekali..kau harusnya memanggilku oppa, bagaimana pun juga aku lebih tua dari mu walaupun hanya beberapa bulan” gerutuku pelan.

namun dia hanya memakan ice creamnya.

“ Yaaa!! Kau dengar aku tidak!!” sekali lagi aku menjitak kepalanya,

“ OK!! OK!! OK!! aku panggil kau oppa, Puas!! dasar gila hormat!!” dia menjulurkan lidahnya.

aku memaksanya untuk masuk ke toko buku, untuk membeli komik titipan taemin.

“ Hyeo Jun” kataku.

“ Iya, Jagia..” katanya manja.

“ APA?? “ Aku menjitak kepalanya lagi.

“ YAAA!!! mengapa kau hobi sekali menjitak kepalaku, Jinki!! “ Hyeo Jun berteriak keras.

“ Kau panggil aku apa tadi?? Jagia??? Andwae.. Hanya Nada yang boleh memanggilku seperti itu!!” Bentakku keras.

“ Nada siapa?? HaaaHHaaa Jagia mu yaaa??” Katanya meledeku.

“ Kau ini..” aku merangkulnya.

“Jinki Oppa..” terdengar suara yang sangat ku kenal memanggilku dari belakang.

“ Nada.. “ Aku sangat terkejut melihatnya ada disini, segera ku lepaskan tangan ku dari Hyeo Jun.

“ Jagia, siapa dia” kudengar  Hyeo jun berkata. AHH!! mengapa dia malah memperkeruh suasana.

Tiba-tiba nada berbalik dan berlari. ingin sekali aku mengejarnya namun entah mengapa kaki ku seperti tertancap di lantai, aku tak bisa melangkah.

“ OOYYY!!! siapa dia!!” Hyeo jun berteriak kepadaku.

“ Dia Nada, Jagia ku.” kataku pelan.

“ YA tuhaannn, pasti dia salah paham. Jinki!! kenapa kau tak kejar!! Cepat kejar..!! Jelaskan padanya kalo aku ini sepupumu!! “ teriak hyeo jun tak sabar.

akhirnya aku berlari mengejarnya, kuarah kan mataku kesekitar mall ini..

Itu dia!! dia menuju ke pintu ke luar!!

Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat..

Nada dan Kibum???

Aku melihat Nada menangis di pelukan Kibum, lalu Kibum membawanya menuju parkiran mobil.

Kebetulankah ini?? atau memang disengaja?? mengapa Nada dan Kibum

berjalan bersama??

Seribu satu pertanyaan terus menggema di kepalaku.

**************

Malamnya.. sakit dikepalaku kambuh lagi..  aku sudah minum 9 macam obat yang dokter berikan kepadaku untuk mengurangi rasa sakitnya.

ku lihat hp ku bergetar.

==> KIM KIBUM calling..

Dengan malas, ku angkat hp ku.

“ YAA!!Brother whats up” seru kibum

“ Hay Kibum.. ada apa?? tumben malam-malam begini menelpon ku” kata ku berusaha santai.

“ Kau ada masalah dengan Nada?”

“ anni.. kenapa..??”

“ sebenarnya bukan hak ku untuk ikut campur urusan kalian berdua,,, tapi aku merasa..

mmm… Apa kau tak tau akhir-akhir ini Nada sering menangis??”

“ Anni..” aku menjaga suara ku agar tetap terdengar biasa.

“ Seminggu yang lalu kulihat Nada sendirian di taman, jam sepuluh malam, ia menangis..

dan hari ini, aku tidak sengaja bertabrakan dengan nya di mall, dan dia menangis..

Jika kau ada masalah, dengan nya tolong diselesaikan, jangan membuatnya menangis”

aku tak mendengarkan suara Kibum lagi, kulihat darah menetes dari hidungku dan seketika pandanganku gelap.

***********

aku merasakan dingin nya lantai saat aku terbangun, kulihat jam sudah jam sepuluh pagi.

aku berusaha mengingat apa yang kibum katakan tadi malam.

Dadaku kembali sakit, mungkin kah Kibum menyukai Nada??

Mengapa ia sangat perhatian dengan Nada??

Sadar kah Kibum, kalau Nada itu pacarku??

Air mataku kembali jatuh, aku tau waktu ku tak banyak..

Sebentar lagi pasti aku akan mati,

*************

Semuanya harus berakhir hari ini.

Aku mengemudikan mobilku kerumah Nada,

sampai disana ku kirimkan sms agar dia membuka pintu.

ia tampak sangat kurus dan pucat, padahal baru seminggu kita tidak bertemu.

aku menahan sakit yang mulai menjadi-jadi dikepalaku.

“ Aku ingin kita putus, Nada” aku berkata pelan.

“ Ke Kenapa oppa..”

“Karena ku rasa, aku sudah mmm.. maksudku, kita sudah tak ada kecocokan lagi” Yaa Tuhan, aku tak kuat menahan rasa sakit ini.

Kulihat matanya mulai berkaca-kaca,

“ Itukah sebabnya sebulan ini kau menghindariku oppa, kau sering mematikan hp mu, jarang  membalas smsku, kau tak datang ke taman saat aku bilang aku menunggumu, bahkan kau tidak pernah memanggilku jagia lagi..” Dia terisak mengatakan semua itu.

“ Dimana salah ku oppa..” Ya Tuhan entah sudah berapa kali aku membuatnya menangis.

Jagia.. Mianhae..

Mianhae..

Aku berjanji, ini terakhir kalinya kamu menangis.. setelah ini berakhir, kupastikan tak ada lagi air mata dimatamu.

aku mengabaikan rasa sakit dikepalaku, aku memeluknya erat, sangat erat.

“ Nada..” aku berbisik ditelinganya.

“ Nada.. Kau mencintaiku kan..??”  bibirku mulai mengarah ke bibirnya.

“ Oppa lepaskan!!” Jeritnya sambil mendorong tubuhku.

Dia berlari kearah pintu, segera aku meraihnya kembali dia berada di dalam pelukanku, kini kurasakan badanya gemetar ketakutan, ia menangis dan mulai berteriak-teriak

“ Oppa.. Lepas!!!! Oppa mau apa??”

“ TOLONGG…”

Ya tuhann, sungguh menyakitkan bagiku melihatnya ketakutan seperti ini.. aku bisa gila!! aku bisa gila!! aku tak kuat lagi, aku merasakan rasa sakit luar biasa dikepalaku,,

Tiba-tiba kurasakan seseorang menarikku,

“BBUUKKK”

aku merasa nyeri yang amat sangat di rahang ku.

“ APA YANG KAU LAKUKAN, BASTARD!! “.

“ BUUUKK”

Saat ku membuka kedua mataku, kulihat Kibum bersiap-siap untuk meninjuku lagi, kali ini perut ku adalah sasarannya.

“ DENGAR!! AKU BERSUMPAH!! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH MU JIKA SESUATU TERJADI PADANYA, LEE JINKI “

ia menyeretku keluar rumah Nada, dan seketika itu juga menutup pintunya.

*************

Aku mengendarai mobilku kearah taman..

Sesampainya disana, aku duduk di bangku panjang tempat nada menungguku.

aku menangis sepuas-puasnya disana,

************

TBC

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

SHINee Hello Dongsaeng – Part 3

SHINee: Hello Dongsaeng~! (Part 3)

Author : Cynthia a.k.a Han Ha Joon

Title: SHINee: Hello Dongsaeng~!

Casts: Han Ha Joon, SHINee, KBS TV crews

Genre: Romantic, Family, Friendship, Humor

Rating: Err… PG-13 to PG-15? :/

Length: Series ~ 😀

Summary: SHINee got a new program where they have to take care of 13-going-to-14 girl named Han Ha Joon. Ha Joon was a fan to Minho, but silently Jonghyun loved her…

***

“Ha Joon, bangun! Kita udah sampai,” kata Key sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ha Joon yang tertidur pulas di jok belakang.

“Ng?” Ha Joon mulai membuka matanya, menatap sekeliling lalu berusaha keluar dari mobil.

“Kapan kita pulang? Bukannya tadi kita di bianglala?” tanya Ha Joon pada anak-anak SHINee.

“Whoaaa, Nona Ha Joon kau lupa? Tadi kamu ketiduran di bianglala dan akibatnya aku harus menggendongmu di punggungku,” kata Jonghyun sambil menunjuk punggungnya.

“Hehe, sekali-kali dong :3” kata Ha Joon sambil memukul punggung Jonghyun.

“Mana kamu berat lagi,” tambah Jonghyun.

“Biarin! :P” elak Ha Joon.

“Buruan ah masuk rumah, dingin!” sela Taemin. Ha Joon merogoh sakunya, lalu mulai mencari kunci dan membuka pintunya.

“Welcome back,” gumam Key.

“Aku ngantuk~” kata Onew pada dirinya sendiri. Ha Joon melepas sepatunya, lalu masuk ke dalam kamarnya.

“Hei, hei!” sela Key sambil menahan Ha Joon masuk.

“Ne, ne… Apa?” tanya Ha Joon sambil terkantuk-kantuk.

“Kami tidur di mana?” tanya Key.

“Ter… hoaaaahhm… Terserah…”

“Terserah gimana? Masa’ kami tidur di ruang keluarga?”

“Kamar eomma ada di lantai dua… Pake itu aja oppa…”

“Double bed?”

“Iya~”

“Double bed maksimal cuma bisa bertiga, dua lainnya gimana?”

“Cukup-cukupin nggak bisa?”

“Pabo! Emangnya kami sarden apa?”

“Kamar di rumah ini cuma 2, kamarku sama kamarnya eomma ._.”

“Berarti 2 masuk kamarmu?”

“WAAAAAAH! Aku kan perempuan oppa, masa’ di kamarku (=3=) Yang bener aja! ><”

“Kamu tega biarin oppamu kedinginan di ruang keluarga?”

“…”

Key tersenyum di dalam hati, rencananya berhasil.

“Ne, ne… dua orang tidur di kamarku…” kata Ha Joon pasrah. Key tersenyum bahagia (?)

“TAPI…!” lanjut Ha Joon, “aku tidurnya di pojok kanan, mereka pojok kiri! Dan nggak boleh ada shirtless moment, apapun itu!”

Key mengangguk senang, lalu berteriak-teriak, “TAEMINHO!!”

Ha Joon terperanjat, bias SHINee-nya akan tidur SEKAMAR dengannya. Oke, mungkin bersama dengan Taemin, tapi tetap saja hatinya berdebar tidak karuan. Cool Minho, handsome Minho…

“Ha Joon? Halo~?” panggil Taemin sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Ha Joon yang tengah melamun.

“Eh, ya? Ada apa?” Ha Joon tersadar dari lamunannya.

“Dasar,” kata Taemin sambil tersenyum dan mengucek-ucek rambutnya, “jangan melamun!”

“Ne, oppa~” jawab Ha Joon lalu pergi ke kamarnya.

***

“Oppadeul keluar dulu~~” kata Ha Joon sambil mendorong Taemin dan Minho keluar saat mereka sedang menggelar futon (futon: kayak kasur yang digelar di bawah, nggak tau bahasa Koreanya apa :P)

“He? Wae yo?” tanya Minho.

“Aku mau ganti baju~~! Aku mau ganti piyama, kalian keluar dong!” protes Ha Joon, lalu Taemin tertawa kecil.

“Apa ketawa-ketawa?” tanya Ha Joon ketus.

“Ani, ani… Nggak keluar juga nggak apa-apa kok!” kata Taemin. *author dibunuh fans Taemin*

“Taemin!! Kamu itu masih kecil, ya ampun… Pasti ini ulah Jonghyun hyung, sadar Taem!” kata Minho pada Taemin. Taemin langsung berhenti tertawa. *sekali lagi, author dibunuh fans Jonghyun*

“Buruan keluar oppa…”

“Bentar, ini selimutnya…”

“Aaah, ppali!”

“Ne, ne! Ayo Taem!” ajak Minho sambil menggeret Taemin keluar.

***

Ha Joon’s POV

Satu domba…

Dua domba…

Tiga domba…

Empat domba…

Lima…

Lima Minho oppa…

Enam Minho oppa…

HEEEEH?!

Aku bangun dari posisiku tidur, lalu aku menggelengkan kepalaku keras. Tadinya iya—yang kuhitung domba—tapi tiba-tiba Minho oppa datang menggantikan posisi domba itu (>.<;). Aku merasa pipiku memanas, lalu aku melirik sebelah.

Taemin oppa dan Minho oppa tertidur, sangat pulas.

Aku mulai memperhatikan wajah Minho oppa… Matanya, bibirnya, hidungnya… Hembusan nafasnya…

Tuhan, mengapa Kau ciptakan makhluk setampan dia? (>////<;)

Setelah kupikir-pikir lucu juga wajahnya kalau tidur… polos. Seperti malaikat. Hehehe.

Aku berdiri dari futon tempat aku tidur, lalu pergi ke dapur untuk mencari minum. Tenggorokanku rasanya kering sekali. Baru saja aku mengambil gelasku, tiba-tiba aku mendengar suara aneh…

Dari arah belakang.

Ottohke? Ottohke? Bulu kudukku merinding, dan kakiku rasanya beku. Aku ingin mencoba lari, tapi tak bisa. Eomma~ Kenapa tak pernah bilang kita ‘pelihara’ hantu?

“Woy,” sapa seseorang dari belakangku sambil memegang pundakku.

“Aaaaaaah!” teriakku sambil menutup mukaku, lalu menghentak-hentakkan kakiku di lantai.

“Pergi! Pergi, aku nggak enak rasanya! Aaah! Jangan culik aku, aku anak baik kok hantu… Apapun kau, maafkan aku! Dan sekali lagi, rasaku nggak enak! Aku juga belum menikah… AAAH! Jangan bawa aku…!” seruku panik, masih sambil menutup mukaku.

“BHAHAHAHAHA!!”

Suara khas itu. Jonghyun oppa.

Aku memalingkan wajahku, dan benar saja. Oppa unikku yang satu itu masih tertawa sambil memegang perutnya dan sesekali menghapus air mata yang keluar karena tertawanya. Uuh, mengesalkan. (=3=)

“Oppa…!”

“BHAHAHAHA!!”

“Jonghyun oppa~~~!!” rengekku sekali lagi.

“BHAHAHA… Aduh! Aaaaww! Aduh!” katanya mengaduh kesakitan setelah kupukul lengannya.

“Nakal! Jahil! Oppa jahat!” kataku sambil terus memukul lengannya.

“Aaaa, mianhae, mianhae… Tadi aku mau masak mi instan, eh ketemu kamu… Aduh, duh! Sakit, hentikan!”

***

“Fuuuhh…”

Aku menyuapkan mi instan ke dalam mulutku, sambil menonton TV bersama Jonghyun oppa yang sudah membuatkan mi instan untuk kami berdua.

“Dasar putri ngambek,” gumamnya padaku. Aku menatapnya tajam.

“Nggak lucu! Aku tadi kaget beneran,” elakku. Ia menatapku, lalu tertawa kecil.

“Pertama kali punya dongsaeng cewek~ Ribet ya,” katanya. Aku diam, melahap mi instanku.

“Ya, terserah oppa saja,” ucapku sambil terus melahap mi instanku.

“Sudah gendut, tidak cantik, penakut, bawel, gampang marah…”

Aku tetap melahap mi instanku.

“…Makannya banyak lagi! Liat aja besok, pasti nambah 2 kilo.”

Aku menghentikan makanku.

“Beneran, oppa? Makan tengah malem sekali nambahnya 2 kilo?” tanyaku serius. Ia menganggukkan kepalanya mantap.

“Iya, aku serius!”

“Aaaah, kenapa tak bilang dari tadi?” protesku kesal.

“Kamu kan yang tadi merengek lapar? Jadi aku buatkan saja,” katanya singkat.

Mwo ya!?

“Ini… buat oppa saja. Buang juga nggak apa-apa… Aku udah kenyang! Dah oppa, selamat malam! Daaah!” ucapku lalu lari ke dalam kamarku.

Kyaaa~! Naik 2 kilo? Tidaaaaaak! (><;)

***

Jonghyun’s POV

Aku terus memegangi perutku yang sakit karena menahan ketawa. Sungguh, anak itu polos sekali… Dia gampang dibodohi! Masa iya semalam bisa 2 kilo… Hahahaha! Menipu anak kecil itu memang asyik 😛

“Ya, hyung…”

Aku menghentikan tawaku, lalu menoleh ke belakang.

Minho.

“Heh, bocah bermata besar! Tidur sana!” ucapku padanya sambil mulai melahap mi instanku.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanyanya to the point. Dasar anak ini.

“Ani, ani… kau mau tau saja,” jawabku santai.

“Apa itu… 2 kilo dalam semalem, hyung? (=.=’)” tanyanya lagi.

“Uhuk! Kau… menguping?” tanyaku balik.

“Tidak sengaja mendengar…”

“Sama saja, pabo!” kataku.

“Hyung… Naksir dongsaeng sendiri?”

TBC 😀

***

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

Love Letter

Love Letter


Main Cast : Lee Jinki a.k.a Onew

Support : SHINee

Author : Shaylee

Siapa bilang seorang idola tidak bisa jatuh cinta pada fans-nya? Tentu saja bisa. Buktinya saja aku, Lee Jinki, leader Shinee, boyband asal korea, yang jatuh cinta pada fansnya sendiri. Gila bukan? Padahal masih banyak artis atau girlband yang lebih cantik dari wanita itu, tapi entah mengapa aku tidak bisa berpaling darinya.

~~~

Pagi itu aku terbangun dengan teriakan Key dari pintu, kenapa sih orang itu sering sekali berteriak? Aku pun berjalan terhuyung – huyung ke meja makan. Ternyata Jonghyun, Minho, dan Taemin juga sudah duduk disitu sedang makan. Hanya aku saja yang baru bangun.

Aku meneguk susu yang sudah Key buatkan untukku, tinggal menunggu sarapanku matang dibuat olehnya. Aku membaca jadwal manggung Shinee hari ini, hanya ada siaran di Sukira bersama Leeteuk dan Eunhyuk hyung. Kemudian baru besok kami akan tampil di Music Bank.

“Ya Dubu! Cepatlah habiskan makananmu, kau ini leader tapi lelet sekali, habis itu cepat mandi jika tidak ingin terlambat!” Key kembali berteriak.

“Haish! Kau ini! Tenggorokan mu itu terbuat dari apa? Suka sekali berteriak” aku membalasnya.

Ia hanya membalasku dengan cengiran. Setelah aku menyelesaikan makanku dan segera mandi, kami semua berangkat ke Sukira. Sampai disana, kami diberi script masing – masing. Isinya tentang apa saja yang akan dibahas hari ini, juga ada part dimana kami bernyanyi live dan hanya diiringi permainan gitar.

“Kau mau kemana hyung?” Tanya Taemin saat aku berjalan hendak keluar dari studio.

“Aku ingin ke toilet Taemin-ah. Kau mau ikut bersamaku?” ledekku.

“Aniyo hyung, kau ajak saja Jonghyun hyung. Aku masih normal” ia tersenyum dengan rambut jamurnya. “Aduh! Sakit hyung” ternyata Jonghyun yang mendengar ucapan Taemin tadi menjitak kepala Taemin.

Ckckck, mimpi apa aku dulu bisa jadi leader boyband seperti ini? Lucu sekali. Ada yang suka berteriak – teriak seperti ibu – ibu, ada yang suka jahil dan sensitive, ada yang masih lugu dan suka meledek orang, ada juga yang sangat ‘berkharisma’ tapi kadang jika sedang menonton olahraga, seperti tidak punya charisma. Tapi itu semua yang kusayang dari semua dongsaengku. Mereka mempunyai jati diri dan latar belakang yang berbeda, tapi masih bisa kompak dalam satu grup.

Karena tidak sadar melamun, aku menabrak seseorang. Seorang gadis sepertinya kalau mendengar rintihannya saat ia tertabrak olehku. “Mianhe. Jeongmal mianhe” aku membantunya berdiri.

Kurasakan tatapan keterkejutan dari matanya saat melihatku. Kurasa ia bukan orang korea dari matanya yang besar dan kulitnya yang kuning, bukan putih pucat. Ia menutup mulutnya saat melihatku. Kemudian membungkuk dan mengucapkan kata maaf. “No, I’m sorry. I’m the one who didn’t pay attention.”

Ia meninggalkanku dan menghilang dibalik tembok. Entah mengapa aku suka melihat matanya yang berwarna cokelat madu. Apakakah ia menggunakan lensa kontak? Entahlah. Lagian apa juga urusanku ia menggunakan lensa kontak atau tidak. Aku kembali melanjutkan misiku untuk pergi ke toilet.

Setelah aku kembali dari toilet ternyata siaran sudah hampir mau dimulai, hanya tinggal menunggu iklan selesai diputar. Aku duduk diantara Minho dan Key. Si dua kepribadian berbeda, tapi saat bertemu Yoogeun, jangan ditanya.

“Sekarang kami akan membacakan pertanyaan dari para pendengar yang dikirimkan kesini” ujar Leeteuk hyung.

“Pertanyaan pertama, dari lovetaeminho ‘Taemin oppa, jangan mau kalah dari Minho oppa soal tinggi! Aku tidak peduli bagaimana keadaanmu, aku akan selalu mendukung kalian! Fighting!’ wah sepertinya itu bukan pertanyaan ya? Hahaha tidak apalah. Taemin-ssi, ayo jawabanmu” ujar Eunhyuk hyung.

“Wah siapapun itu, Terima kasih banyak sudah mendukung kami. Tenang saja, masa pertumbuhanku masih lebih lama dibanding Minho hyung yang mungkin setahun lagi sudah tidak bisa meninggi” jawab Taemin dan disambut tawa dari yang lainnya, termasuk aku.

Lalu datang pertanyaan dan pernyataan yang lain, sampai ada satu pertanyaan yang dibuat untukku. “ Hmm, ini buat Onew-ssi” Leeteuk hyung membaca layar computer dibawahnya dengan seksama, “ ‘Onew oppa,  apakah menurutmu bisa seorang idola sepertimu jatuh cinta kepada seorang fans?’ “

Aku bingung ingin menjawabnya, sebelumnya aku belum pernah membayangkan seorang idola berpacaran dengan fansnya, tapi itu bisa saja kan? “Menurutku bisa saja. Apa yang tidak bisa di dunia ini kan? Lagipula idola dan fans kan sama – sama manusia. Kecuali kau mengidolakan kucing.” Jawabku.

Semua terdiam. Melihat kearahku. Kemudian menertawakanku, bukan menertawakan leluconku. Ya, ini yang mereka sebut dengan Onew sangtae, atau Onew condition.

~~~

Kami semua berjalan keluar studio menuju mobil yang biasa kami gunakan. Ternyata ada banyak Shawol yang menunggu kami diluar gedung. Kemudian, aku melihatnya. Aku melihat wanita yang tidak sengaja kutabrak tadi. Ia menunduk malu sambil kembali menutup mulutnya. Kenapa dia selalu menutup mulutnya?

Aku bersandar di kursi mobil, melepas lelah dengan mencoba tertidur. Menjadi seorang idola sedikit mengganggu istirahatku. Tapi sudahlah, rasa kantukku pasti hilang saat melihat Shawol bersorak senang melihat Shinee perform diatas panggung. Aku kembali membuka mataku yang sudah setengah terpejam saat seseorang menepuk bahuku dari belakang. Ternyata manager hyung.

“Waeyo hyung?” tanyaku.

“Ini, ada surat untukmu. Tadi ada seorang yeoja yang hampir menangis ingin memberimu surat ini. Ia bahkan sampai memohon – mohon padaku dan menjelaskan bahwa itu bukan surat teroris atau ancaman.” Ia menyerahkan sebuah amplop putih.

Lee Jinki. Begitu tulisnya di bagian depan amplop. Aku mencium amplop itu, tidak ada baunya. Bukankah biasanya seorang yeoja jika mengirim surat cinta menggunakan parfum pada amplopnya? Aku mulai membaca. Eh? Bukan orang Korea ya? Dia menuliskan surat itu dengan bahasa inggris.

Annyeong Jinki oppa.

Sorry, I can’t speak Korean. So, Can I write it in English? I hope I can. I know you will understand what I wrote, right? ^^

I want to tell you something. Maybe you’ve heard these words before from your other fans. But this is the first time for me. To tell you this is not easy. That’s why I sent this through a letter.

Two months ago, I’m not a fan of Shinee. I only knew Shinee from the soundtrack that you sang. Until one time, my friend downloaded a song called ‘One Year Later’. I didn’t knew who sang that song, because it is only written the title of the song.

First time I listened to that song, I felt something different. When I heard the man voice, my heart can’t stop beating faster. And I realized that’s kind of unusual. I started to found out who sang that song in the internet. His name is Lee Jinki or people used to call him Onew.

I never felt something like this before. I don’t know what it is. I don’t know if this love is a love from a fan to an idol, or love from a girl to a boy that she love. But I do know that this feel is for you. Lee Jinki, the leader of Shinee.

Sincerely, your admirer.

Aku masih menatap surat yang kupegang tadi. Kau salah, belum ada yang mengatakan seperti ini sebelumnya. Mungkin sebelumnya banyak yang bilang ia suka padaku, aku ini imut, aku ini tampan, aku ini pria idamannya, ia ingin aku menjadi kekasihnya. Tapi tidak ada yang mengatakan bahwa ia mencintaku sebagai laki – laki, bukan sebagai idola. Siapa wanita ini? Eh tunggu, ini benar wanita kan?

“Surat apa itu hyung?” tiba-tiba Taemin merebut kertas yang aku pegang tadi.

“Eh Taemin-ah kembalikan!” aku mencoba merebut kembali kertas itu, tetapi Minho telah menahan tanganku.

“Sudahlah hyung, kami sudah biasa membaca surat dari fans bersama-sama kan?” ujarnya.

Mereka berempat membacanya berbarengan, sementara aku hanya bisa memikirkan kata – katanya tadi. Ia menggunakan bahasa inggris dan tidak bisa berbahasa Korea. Berarti dia dari mana? Luar Korea? China? Bukan. Biasanya fans China menuliskan suratnya ya dengan bahasa China juga.

“Ini surat dari fans ya hyung?” Taemin mengembalikan surat yang ia baca tadi.

“Sepertinya begitu”

“Berbeda ya” gumamnya.

~~~

Setelah sampai di dorm, hari sudah mulai gelap. Manager hyung menyuruh kami untuk beristirahat karena besok sudah harus tampil di MuBank. Aku merebahkan diriku dikasur sambil memperhatikan dongsaengku yang sudah terlelap tidur. Kemudian aku tiba – tiba teringat dengan gadis yang kutabrak tadi sewaktu berjalan ke toilet di sukira. Gadis yang dari bentuk mukanya tidak terlihat seperti orang Korea.

Aku memimpikan gadis itu malam ini, ia menggunakan dress putih gading selutut, menangis di bangku taman sendirian. Satu tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menutup mulutnya menahan tangis. Saat aku mencoba medekatinya, ia sudah terlanjur pergi. Aku menghampiri bangku yang ia duduki tadi, ada sepucuk surat. Lee Jinki. Tertulis seperti itu, surat yang sama seperti surat yang aku terima tadi sore.

“Hyuuuuuung! Banguuun!” Taemin memukul-mukul tanganku. “Hyuung, bangun dooong!” ia mengeluarkan jurus anak – anak nya.

“Aih Taemin-ah, kau ini kan sudah besar!” aku terpaksa terbangun karena Taemin tidak berhenti memukulkan tangannya di lenganku.

“Hyung, buatkan aku makanan dong hyung. Kibum hyung sudah pergi duluan tadi pagi dengan Minho dan Jonghyun hyung. Kau kan tau aku hanya bisa masak ramen hyung” ia mulai menggunakan wajah imutnya sebagai senjata. Rasanya aku ingin sekali mencubit pipinya sampai ia tidak bisa berbicara lagi huh.

Setelah aku mencuci muka dan menggosok gigiku, aku membuatkan dua mangkuk japchae plus ayam untuk Taemin dan aku.

“Hyung, tadi ini ada surat buatmu” Taemin menyerahkan surat kepadaku.

“Dari siapa?” tanyaku.

“Dari yeoja. Tadi pagi aku ingin membuang sesuatu diluar, kemudian ada seorang yeoja datang menghampiriku. Kukira ia ingin minta tanda tangan dan foto bersama di pagi-pagi buta, eh ternyata ia ingin menyerahkan surat. Dan sialnya surat itu bukan buatku, padahal yeojanya cantik” gerutu Taemin.

“Jjinca? Yeoja cantik?” tanyaku sambil mulai makan Japchae yang aku buat.

Taemin menganggukkan kepalanya sambil terus mengunyah.

Aku kembali membaca surat yang tadi Taemin berikan kepadaku.

Annyeong Jinki oppa,

I finally met you yesterday. I was too nervous to look into your beautiful eyes. I hope today I can see you again. I will come to MuBank today, I want to hear my favorite voice. I really hope Shinee will win the award. And if so, will you promise me not to cry? I hate to see you cry, because it would make me cry too. Fighting!

Sicerely, your admirer.

Gadis ini. Aku akan mencarinya di Music Bank nanti. Harus. Aku harus tau siapa dia sebenarnya. Gadis yang membuatku penasaran selama beberapa hari belakangan ini.

~~~

Aku sungguh terkejut saat mengetahui lagu baru kami, Juliette berhasil menang sebagai lagu terpopuler sehari setelah comeback kami. Entah apa yang aku rasakan sekarang, rasanya aku ingin menangis, ingin teriak, tertawa, aku juga ingin sekali memeluk para Shawol.

Kulihat Joghyun sudah tidak bisa menguasai dirinya. Ia sudah menangis meraung – raung karena shock. Key juga menangis. Kulihat Taemin dan Minho yang tidak menangis, tapi tidak berhenti mengumbar senyum sambil sesekali mencoba menenangkan Jonghyun.

Pembawa acara menyuruhku untuk speech kepada semua penonton. Aku mengatakan aku sungguh berterimakasih kepada semua orang yang telah membantu dan mendukung Shinee selama ini. Juga kepada Shawol yang selalu mendukung dan mencintai kami. Aku sudah menganggap Shawol sebagai bagian dari karir dan hidupku. Tidak akan ada Shinee jika tidak ada Shawol.

Saat aku masih menyampaikan speech ku, aku tidak bisa menahan tangisku. Akhirnya akupun menangis. Kemudian aku melihatnya. Gadis itu mengenakan dress putih gading persis seperti mimpiku semalam, dan gadis itu menangis sekarang. Mataku dan matanya bertatapan. Aku membaca gerak bibirnya, “Uljima”

~~~

Kami semua berpelukan di backstage. Beberapa artis juga ikut datang dan menyelamati kami atas kemenangan tadi. Jonghyun sudah bisa menenangkan diri walaupun matanya masih sembab dan sesekali kembali menangis.

Aku melihat gadis itu sedang berjalan gontai saat aku keluar dari ruang ganti. Menyandarkan badannya ke tembok. Ia sedang menangis rupanya. Ia memegang sebuah amplop. Yang kupercaya adalah amplop untukku. Aku mencoba menghampirinya. Saat ia sadar aku menghampirinya, ia segera menutup mukanya dan berbalik badan.

Aku menahan lengan gadis itu dan membalikkan badannya. Ia menengadahkan kepala dan menoleh kearahku. Aku tersenyum, ia membalas senyumanku dengan lemah.

Why are you crying?” tanyaku.

Didn’t you read my letter?” ia balik bertanya.

“Are you crying because of me?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku, tetapi ia menyodorkan sebuah amplop.

Aku membuka dan mulai membaca surat itu.

Annyeong Jinki oppa

In this letter I will express my true feelings to you, because this could be my last letter.

Now I’ve been realized that I love you as a man. Maybe you will think I’m kind of weird, but this is what I feel to you. I love you since the first time I hear your voice. I love you more since the first time I met you. Saranghaeyo Lee Jinki

Sincerely, your admirer

Aku memasukan surat itu kembali kedalam amplop, dan sekarang aku sedang menatap gadis itu. Ia masih tidak berani menatapku.

“Look at me..” ia menatap mataku, “Maybe this seems weirder, but I love you too since the first time I accidentally hit you. And I also love you more since you started sending letters to me”

Ia menatapku tak percaya. Aku memeluknya sekarang, dan pelan-pelan ia membalas pelukanku.

“Would you be my girl?” tanyaku.

“I do”

Signature

This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^^


Rainbow – Part 6

RAINBOW

Author: Wiga

saat nada tertidur di rumah sakit:

“ hyung, lihat hp mu ada berapa miscall…….?” kata kibum sambil mengutak atik hp nya.

onew dan minho segera mengecek hp nya masing-masing.

“ ada 27 miscall, seluruhnya dari jonghyun..” kata onew

“ punya ku ada 29 miscall, dari yui..” sambung minho

“ punya ku ada 21 miscall dari taemin..” susul kibum.

“ tampak nya mereka mengkhawatirkan kita..” kata onew

“ kibum, apa tak sebaiknya kau dan minho pulang, biar aku yang menunggu nada disini..” lanjutnya lagi.

kibum mengangguk,

“ aku juga ingin menjaganya hyung, nada seperti ini gara-gara aku..” kata minho.

“ kibum kau pulang saja, bawa motor ku..” lanjutnya sambil melemparkan kunci motor nya ke arah kibum.

“ beritahu aku hyung, jika terjadi apa apa dengan nada” kata kibum sambil memakai jaketnya dan bersiap untuk pergi.

“ aku masih ingin mendengar keterangan dari mu minho……….” onew memulai percakapan tak la0ma setelah kibum pergi.

“ keterangan apa hyung..” minho masih belum mengerti.

“ mengapa ini semua terjadi..”

“ tapi aku benar-benar tidak tau, hyung,,,”

“ ceritakan yang kamu ketahui, apapun itu…” kata onew lemah.

minho menghela nafasnya sebentar, kemudian ia mulai bercerita.

“ nama nya Jessica.. sudah dua bulan ini dia mendekatiku terus, menelpon, sms, atau mencoba mendekatiku pada waktu istirahat.

tapi aku tidak suka padanya, aku hanya semakin risih jika ia terus-terusan mendekati ku.

sampai akhirnya minggu lalu, ia menyatakan cinta nya padaku..

aku menolaknya, tentu saja.. aku tidak mencintai nya.. dan ku bilang padanya aku sudah mencintai orang lain…”

“ dan orang lain itu adalah nada..?” Tanya onew

“ aku tak tau kenapa dia berpikir seperti itu..” minho mengelak.

onew hanya terdiam dan mengamati nada, ia berpikir mungkin minho menyukai nada karena sikapnya terhadap nada sangat baik, berbeda dengan sikapnya terhadap yui atau gadis lain yang selalu dingin.

“ sakiiit,,, tolong hentikan,,, sakit..” terdengar suara parau nada.

segera minho dan onew menghampirinya.

onew berdiri di sisi kanan nada, sedangkan minho di sisi kirinya..

“ dya menangis, hyung….” kata minho sambil mengusap air mata nada.

“ tangan nya bergetar, mungkin ia mengigau.. apa perlu kita panggil dokter??” onew mulai panik. tangannya menggenggam erat tangan nada.

**********************

nada membuka matanya perlahan, ia merasa pandangan nya berputar, sekujur tubuhnya terasa sakit. ia merasakan  ada yang menggenggam tangan nya.

nada menoleh ke kiri, ternyata minho sedang tertidur disampingnya, tangan minho menggenggam tangan nya.

nada menoleh ke kanan, onew pun sedang tertidur sambil memegang tangan kanan nada.

“ nada… kau sudah bangun rupanya….” minho terbangun.

nada hanya bisa mengangguk.

tak lama kemudian onew juga terbangun,

“ bagaimana keadaanmu nada??” Tanya onew

nada menggeleng sambil tersenyum.

onew melihat jam tangan nya, “ sudah jam 5 subuh…” gumam nya.

“oppa.. aku ingin pulang..” kata nada parau.

“ yaaa… tapi kita harus menunggu keputusan dari dokter..” kata onew lemah.

tak lama kemudian dokter datang, dan memberi izin kepada nada untuk pulang.

********************

nada beristirahat selama 3 hari di dorm nya. kini memar diwajah nya sudah mulai menghilang dan luka lebamm ditubuh nya berangsur-angsur membaik.

nada ingin masuk kuliah hari ini namun semua teman nya melarang dengan alasan kondisi nada masih lemah,

“ aku benar sudah gak apa-apa, yui..”  kata nada pelan sambil membereskan bukunya,

“ tidak nada!! kamu masih harus istirahat!! lihat, wajah mu masih pucat, dan luka dibibirmu juga belum kering..” kata yui menghawatirkan teman nya.

“ tapi aku sungguh sangat bosan dirumah yui..”

nada cemberut, ia keluar kamar nya dan menuju ke dapur,

“ Yaaa!!! nada!!! sedang apa kamu disini??” teriak kibum

“ aku hanya ingin membantu oppa..” gumam nada sambil menuju dish washer untuk mencuci piring.

“ NO.. NO… Nada!! kamu istirahat saja, ini biar taemin yang mengerjakan,, TAEEMINNIIEE!!!!!” teriak kibum memanggil taemin.

nada menghela nafas nya. ia melihat sekeliling rumah nya, tampak nya ruang tamu belum disapu, nada segera mengambil sapu,

“ YAAAAA!!!!!! NADA!!! apa yang kamu lakukan!!!!!!!!!!” teriak jonghyun.

“ a a a AKu hanya ingin menyapu oppaa..” kata nada pelan,

“ Jangan!!! biar aku saja,,,” jonghyun segera merebut sapu dari tangan nada.

nada terdiam, tak ada yang bisa ia lakukan, ia akhirnya berjalan ke teras dorm nya, merasakan udara pagi yang sangat menyegarkan.

tak lama kemudian onew datang menghampirinya.

“ nada…”

“ oppaa..”

“ mengapa cemberut? luka mu masih sakit?? Tanya onew.

“ Anni oppa… aku hanya bingung tidak ada yang bisa aku kerjakan..’’ gumam nada pelan.

“ mereka hanya khawatir dengan mu nada, mukamu masih pucat..” onew menerangkan sambil memandang muka nada.

nada terdiam menunduk,

“ aku hanya bosan…” bisik nya perlahan.

onew tersenyum.

“ hari ini aku tidak ada kelas, ku temani kau seharian dirumah.” kata onew sambil mengacak-acak rambut nada.

“ oppa.. anniiyo..” nada tersenyum mencoba merapikan rambutnya.

onew tertawa dan terus mengacak-acak rambut nada

dari dalam dorm tampak minho mengamati mereka.

setelah semua pergi ke kampus, onew duduk disebelah nada yang sedang menonton televisi,

“ nada…” Kata onew.

namun nada sepertinya tidak mendengar, pandangan nya serius ke layar tv menonton berita infotaiment. onew memandangi nada, lalu tersenyum.

mata nya mencari-cari remot tv, akhirnya ia menemukan nya di dekat kaki nada,

pelan pelan ia mengambilnya. ia memandangi nada lagi dan segera mematikan tv.

“ oppaa… mengapa kau matikan??” protes nada pelan.

onew diam saja, ia menyembunyikan remot tv ke bawah kursinya.

“ opppaaaaaaaaaaaaaa” pinta nada merajuk, namun onew hanya memandang nada dan tertawa.

“ya sudah.. aku ke kamar saja…” kata nada segera berdiri.

“ tunggu….. nada…” tiba-tiba onew memegang tangan nada.

“ mmmmm… ada yang ingin ku tunjukkan..” kata onew berdiri sambil berjalan ke arah piano di sudut dormnya.

ia menggandeng nada,

“ duduk disebelahku..” pinta onew

nada duduk disebelah onew, kemudian onew melepaskan tangan nada dan membuka kap piano.

onew menghela nafas sebentar,

“ ini lagu buat nada….” kata onew

ia meletak kan jari-jari nya diatas tutstuts piano dan mulai menekan nya satu persatu.

nada mengamati gerakkan tangan onew dan mendengarkan dentingan piano dengan seksama.

nada tersenyum, kemudian tertawa saat ia tau lagu yang onew main kan.

“twinkle.. twinkle.. little star..” onew bernyanyi sambil menatap nada, dan nada pun tertawa karena merasa terhibur dengan permainan piano onew.

setelah onew selesai memainkan lagu itu, onew tersenyum memandang nada dan berkata

“ kau tau nada… kau sangat cantik bila sedang tertawa..”

lalu ia melanjutkan menekan tuts piano dan mulai bernyanyi..

“soni siryeowa.. sarange giyeoki chagapge dagawa aryeo onda..

ijaeneun deoisang neoreul bujunghago sipji aneun nareul algo itjiman…”

nada terdiam memandang onew, ia mendengarkan liriknya bait demi bait, memperhatikan cara onew menekan tuts tuts piano, cara onew menghayati lagu nya sampai terkadang ia memejamkan mata, nada melihat onew sedemikian dalamnya, berharap permainan pianonya tidak akan berakhir.

“ naega saranghaetdeon geu ireum bulleoboryeo nagalsurok neomu meoleojyeotdeon……….”

onew menyanyikan bait terakhir lagu itu dan menutupnya dengan satu denting tuts terakhir.
ia tersenyum lalu memandang nada, terlihat nada terpaku sedang memperhatikan dirinya.

bahkan ketika kedua mata mereka bertautan pun, nada masih memperhatikan dirinya,

onew pun memandang kedua mata nada berharap nada tau apa yang ia rasakan,,

tak lama kemudian nada melepaskan pandangan nya dan menunduk.

“ itu tadi sangat bagus oppa…” kata nada pelan

“ gomawo nada…” onew tersenyum.

*******************

Saat itu di kampus,

minho berada di kelasnya, dosennya tidak masuk, sebagian teman nya sudah keluar kelas, entah ke kantin atau pun pulang.

minho mencoret-coret bukunya sambil melamun.

entah mengapa kejadian tadi pagi sangat mengusik dirinya. bayangan onew dan nada yang sedang bercanda sangat menjengkelkan bagi minho.

ia bertanya-tanya apakah onew menyukai nada..

ia berusaha menggali ingatannya tentang onew dari pertama kali bertemu.

>Saat mereka duduk di bis, sekilas ia melihat onew memandang nada yang tengah tertidur.

> “ ok saya dan nada akan berbelanja, ada yang mau ikut??” sewaktu sampai di dorm onew hanya mengajak nada untuk berbelanja.

> sewaktu nada makan, pandangan onew hanya tertuju pada nada.

> onew sengaja tidak membawa mobilnya dan malam nya ia pulang bersama nada.

> onew menjemput nada dari tempat kerjanya.

> onew terus memandang nada ketika kibum bertanya apakah ia dan nada pulang bersama.

> onew memasak bersama nada dan saat makan ia mengambil duduk selalu disamping nada.

> onew sangat panik ketika membaca hp nya yang memperlihatkan nada sedang terikat, dan bersikeras ingin mengikuti minho

> onew orang yang pertama berlari ke arah nada dan melindungi nada  dengan tubuhnya ketika jesica menginjak-injak nada.

> “sebaiknya kau (kibum) dan minho pulang, biar aku yang menjaga nada disini” kata onew sewaktu dirumah sakit.

bagaikan potongan puzzle, minho terus menyusun sedikit demi sedikit ingatan tentang onew dikepalanya,  ia bisa menyimpulkan onew menyukai nada.

“ aiiiiissshhhhh… kenapa aku ini ??? bukan urusan ku onew hyung menyukai siapa..PABBO!!!” minho mengumpat sendiri sambil menggaruk garuk kepalanya,

saat minho melihat bukunya ia terkejut, ia tidak sadar jika dari tadi ia menuliskan sebuah nama yang ia ulangi puluhan kali.

PARK NADA..

ia sadar, hanya ada satu nama yang akhir-akhir ini berdengung dikepalanya, hanya ada satu nama yang setiap malam menghiasi mimpinya.

minho terdiam cukup lama, mata nya tak lepas dari coretan-coretan kecilnya, harusnya ia sadar lebih awal, karena dari awal bertemu, nada adalah satu-satunya perempuan yang tidak pernah ia kasari sebelumnya.

hati nya dilemma.

sementara itu dirumah, onew dan nada bermain PS, karena nada tidak begitu suka game, maka ia kalah terus menerus dari onew, yang hampir setiap hari bermain game dengan minho ataupun dengan taemin.

“ kau mau lanjut nada.. ini sudah ketiga belas kali nya kau kalah..” tantang onew.

“ annii oppaaa.. percuma, aku ga bisa menang lawan oppa..” kata nada sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.

“ kalau begitu kamu lihat caraku main, nanti pelajari triknya.. “ kata onew sambil melanjutkan bermain ps.

“ iya oppa..”  kata nada sambil menguap.

ia tidak terlalu memperhatikan onew bermain ps karena ia merasa sudah mulai mengantuk.

tak lama kemudian ia terlelap.

“ yaa.. nada.. kau lihat itu barusan…” kata onew sambil menoleh kearah nada,

nada sudah lelap tertidur.

onew memperhatikan nada sebentar, kemudian ia meletakan stick ps nya dan perlahan mendekatkan duduk nya kearah nada,

yang ia lakukan hanya memandangi seluruh bagian wajah nada, entah mengapa timbul keinginan yang sangat besar untuk menyentuh wajah nada.

onew semakin mendekatkan wajahnya ke wajah nada, dengan jarinya ia mengusap pipi nada,

matanya, kemudian bibirnya,,

nada bergerak sedikit, kepalanya terjatuh di bahu onew.

onew terdiam sesaat.

hati nya bergetar hebat saat kepala nada jatuh di pundaknya.

onew menahan nafasnya, tangan nya bergerak pelan merangkul pundak nada.

ia berharap nada tidak terbangun.

onew menikmati setiap detiknya bersama nada.

ia menunduk, memandang nada.

ia semakin mendekatkan bibirnya ke wajah nada, perlahan-lahan ia mengarahkan bibirnya ke bibir nada.

******************

TO BE CONTINUE

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

Our Love Should Go On – Part 4

Our Love Should Go On

Cast:

Member SHINee

Ahn Neul Rin a.k.a Farissa

Han Ri Chan a.k.a Nyda han

Shin Hyun Young a.k.a Wonnie

Park Ri rin a.k.a Ri rin Wookie

Park Min Gi a.k.a Dessi

Park Sun Yi

Mmmhh. .pagi yang indah apalagi hari ini hari Sabtu!. Selain libur dari sekolah, taman kota pasti ramai dengan anak kecil. Tapi sepertinya tidak untuk Ri Chan! Hhaa. . massi ingetkan hukuman yang akan dia terima. Sekarang mereka udah stand by di TKP.

“Apa benaar, aku harus melakukan ini. .?”. Ri Chan terus menatap baju Dora yang sedang dia pakai.

“Neee. .jaggiyaa. .Hwaiting ya. .!”. Goda Neul Rin. “Kita menunggumu di restoran sana. .”. Donghae menunjuk salah satu restoran yang ada dilantai bawah menara Namsan, diikuti anggukan dari para Dongsaeng dan Onie-onie serta Oppa-oppanya tentunya.

“Neeeee. .!”. Ri Chan membalikkan badan, dan berjalan dengan gontai karena harus memakai kepala Dora yang besar. “Onie-Onie yang menyebalkan”. Gumamnya sambil berlalu.

Mereka duduk setelah memesan makanan yang telah dipesan, mereka memilih restoran di menara namsan, agar bisa mengawasi dongsaengnya itu, kalau-kalau dia nekad kabur.

“Eh dimana Onew mu Sun Yi sudah lama aku tidak melihatnya. . .?”. Ujar Heechul membuka suara sambil sibuk menatap wajahnya di cermin, sesekali dia membetulkan rambutnya yang sekarang sengaja dipanjangin,dan bertanya pada cermin’sekarang siapa yang lebih cantik?aku atau Ah Seul?’

“Oppa. .kenapa gak nanya langsung sama pacarnya.”. Neul Rin lirik-lirik gaje pada Sun Yi.

“Sun Yi dimana pacarmu? “. Tanya Heechul. “Ne, Apa kalian sudah putus. .?”. Jonghyun ikut ikutan nanya. Min Gi melotot pada Jonghyun dan diam-diam menyubit pahanya,karena pasti Min Gi yang kena semprotan dari Sun Yi.

“Aku tidak tahu! Mungkin sedang sibuk”. Sun Yi berusaha menutupi kecemasannya pada Onew, beberapa hari ini dia merasa kehilangan Onew, hapenya tidak aktif, menelepon ke rumahnya, Ahjuma selalu mengatakan bahwa Onew sedang tak ada dirumah. Apa Onew menghindariku?, batin Sun Yi.

Tak lama pesanan datang diikuti Donghae yang sebelumnya ijin dulu untuk membeli sesuatu.

“Apa yang kamu sembunyikan dibelakang badanmu Oppa. . .?”. Neul Rin mencari tahu apa yang disembunyikan Oppanya itu.

“Tttaaarrrrrraaaaaa. . .”. Donghae membawa seikat bunga mawar pink dari belakang tubuhnya.

“Kkkyyaaaaa. .Oppaa. . .gomawwoooo!!!”. Neul Rin langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Donghae.

“dassaaar pasangan yang aneh. .tiap tanggal jadian pasti seperti ini!”. Celetuk Min Gi.

Neul Rin melepaskan pelukannya. .”Bukan aneh tapi romantis!dassar kau sirrikk. .! tidak pernah diginiin ma Jonghyun ya. . .?”. goda Neul Rin berujung dengan juluran lidah.

Jonghyun cuman bisa memasang wajah Innocentnya. Tiba-tiba dia juga ikutan memeluk Donghae. . “Aaaaiiggooo Hyuung. .! cukhae yaa . .moga langgeng ma Neul Rin”. Jonghyun terus menepuk-nepuk  pundak Donghae keras. Neul Rin yang tidak bisa terima pacarnya diperlakukan seperti itu, langsung mendorong Jonghyun. .

“Kkkkyyyaaaaa Jonghyun Paboo!! Donghae oppa bisa kesakitan kalau terus kau pukul!” Neul Rin mengusap-usap pundak Donghae. Donghae cuman bisa garuk kepala gaje.

“Aaaaiiissssshh. .kau sungguh tak sopan! Meskipun kita hanya berbeda satu tahun tapi kau harus memanggilku Oppa!”. Ucap Jonghyun agak ngotot.

“Waeyoo. .? Min GI Onie pacarmu saja tidak memanggilmu Oppa. .?”

Min Gi cuman bisa nyengir-nyengir kuda. “Min Gi kenapa kau tidak memanggilku Oppa?”.tanya Jonghyun dengan wajah yang butuh dikasihani.

“Pletttaakk. .!”. Min Gi menjitak kepala Jonghyun. “Ri rin Onie dan Sun Yi Onie juga tidak memanggil Minho dan Onew pake sebutan Oppaa??”, Cerocos Min gi

Jonghyun garuk-garuk kepala “Tapi aku ingin disebut Oppa” Puppy Eyes Jonghyun keluar dia narik-narik ujung baju Min Gi.

Min Gi manyun.Neul rin menatap puas. Dongahae mengalengkan tangannya ke leher Neul Rin.Heechul berhenti bertanya pada cermin.Ah Seul bengong gaje.Hyun menatap pasrah. Sun Yi geleng-geleng kepala. . . . .Keheningan terjadi.

“Nggak kepedesan makan pake sambal sebanyak itu?”. Minho yang nggak ngikutin kejadian, nyantai-nyantai aja sama Ri rin suap-suappan pizza yang baru di pesan tadi.

“Anii.”

“Nggak ngerasa bibirmu panas?”

“Anniyo”

Minho melepaskan potongan Pizza ditangannya, kemudian “Padahal ceremotan sambal kayak gini” Ucapnya sambil membersihkan bagian pinggir bibir Ri rin.

Ri rin tersenyum malu, “Kotor ya?”. Ucap Ri rin sambil membersihkannya lagi.

“Ya! Minho dan Ri rin Onie memang pasangan yang sudah ditakdirkan untuk berjodoh !!!”. Min Gi mencoba mengalihkan keadaan dengan menjual Onienya sendiri. Semuanya menatap mereka.

Minho dan Ri rin yang tidak tahu apa-apa, mereka saling menukar pandang dan malu-malu gaje.

Donghae dan Neul Rin juga saling menukar pandang. Mereka tentu gak setuju sama apa yang dikatakan Min Gi tadi. Jodoh apanya? Sekarang,Minho bisa-bisanya seromantis itu dengan Ri rin Onie, apa dia sudah lupa dengan wanita yang dia rangkul kemarin?, tanya Neul Rin dalam hati.

“Ri rin Onie. .apa kau bisa menemaniku ke toilet?”. Tanya Neul Rin ragu-ragu.

“Ne. .khaza!”. Ucapanya sambil tersenyum.

Tak jauh dari tempat mereka makan, seorang pria tersenyum melihat tingkah dongsaeng dan Hyungnya. Kakinya akan berjalan kearah mereka, tapi pikirannya menahannya untuk melakukan hal itu.

“Aku merindukanmu jaggiya. .mianhaeyo!”gumamnya sambil berlalu.

Sementara itu didepan toilet wanita, Neul Rin berusaha mencari kata-kata yang pas untuk bisa memberi tahu Ri rin tentang kejadian kemarin.

“Onie. .sebentar. .! aku ingin bicara sesuatu pada Onie. .!”. Langkah Ri rin yang akan masuk ke toilet terhenti.

“Ne. .! tapi apa sebaiknya kamu masuk dulu? Katanya kamu kebelet?”

“Anii. .aku bohong. .!”

“Maksudmu. .?”

“Setelah mendengar apa yang nanti aku katakan, Onie boleh nangis sepuasnya, mau mukul-mukul tembok boleh, Onie juga bisa teriak sepuasnya didalam toilet itu. Mau jambak-jambak rambut juga boleh! Asal jangan rambutku yang dijambak ya. .dan satu lagi. .! Onie gak boleh bunuh diri. .!”.

“haaah. .? memangnya apa yang ingin kamu katakan?.” Ri rin semakin heran dengan apa yang dongsaengnya katakan tadi.

Neul Rin menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan. “Okkeh. .! kemarin sepulang sekolah saat aku sedang makan dengan Donghae Oppa, aku melihat Minho!”. Neul Rin mulai bercerita dengan gaya sok penting.

“Cuma itu saja. .?”

“Minho jalan sama cewek lain,”. Ucap Neul Rin melotot tajam. Ri rin Onie pasti langsung nangis!,serunya dalam hati. Tapi Ri rin diam saja.

“Bukan saudaranya, Onie!”. Neul Rin tetap bercerita heboh, “Minho merangkul cewek itu”

“Ehm. .”.respon kecil Ri rin yang nggak sepantasnya jadi respon seseorang yang baru mendengar pacarnya selingkuh.

“Kok Onie  nggak marah? Atau nangis gitu. .? aku tahu Onie nggak mau nyusahin aku tapi aku juga merasakan apa yang Onie rasakan kok!”

“Nggak perlu! Onie sudah tahu kok!”

“Haaaahh. .?”. Neul Rin melongo mendengarnya.”Kok Onie diem aja ngeliat Minho kayak gitu?”

“Emang Onie harus ngapain. .?”

“Marah kek, nangis kek, atau minta putus! Aku tahu Onie orangnya baik tapi ini udah kelewatan”. Kata Neul Rin berapi-api.

“Dongsaeng. .gomawo untuk perhatiannya. ,! Tapi. . .”

“Onie sudah berapa lama tahu tentang ini. .?”.

“Sekitar dua minggu yang lalu”, cerita Ri rin “Onie melihat Minho jalan sama perempuan itu”

“Terus Onie diem aja?”

“Nggak Neul Rin. .Onie menghampiri mereka”

“Terus Minho bilang apa. .?”

“Minho Cuma diam.”

“Emang waktu itu, Onie bilang apa. .?”

“Sekedar bilang Anyeoong. Perempuan itu nggak tahu aku sama Minho pacaran, dia ngiranya kita temenan biasa.”

“Sampai sekarang?”

“Mungkin. .”jawabnya dengan pandangan kosong.

“Kenapa Onie nggak minta putus. .?”

“Karena aku percaya pada akhirnya Minho akan kemabali padaku.”

“Kenapa Onie bisa sepercaya itu. .?”

“Minho bilang dia masih sayang sama aku. Sayang banget! Dan dia minta Onie waktu untuk mengakhiri hubungan mereka pelan-pelan.”

“Dan Onie percaya. .?”

“Apa kamu percaya dengan Donghae oppa. .?”. Neul Rin mengangguk pasti. “Persis kaya kamu percaya dengan Donghae.”

“Gimana kalau Minho ternyata pada akhirnya memilih perempuan itu. .?”

“Aku yakin Minho nggak akan seperti itu! Neul Rin. .janji padaku. .jangan kasih tahu semua ini pada siapapun! Termasuk pada Minho. Arasseoo?”.

“Nee Onie. Arasseo.”. Ucap Neul Rin pasrah.

Neul Rin tidak tahu Onienya itu tak setegar yang dia kira. Ri rin juga manusia yang bisa sakit hati. Dia harus menahan air matanya didepan Dongsaeng dan Onie-onienya seperti yang dia lakukan didepan Neul Rin sekarang. Tapi saat di kamarnya, dia akan menumpahkan semua air matanya, dan rasa sakit yang dia tahan dalam hati lembutnya.

**************************

Dikampus

“Ri Chan kenapa kamu ada disini .,?” Tanya Sun Yi heran

“Tadi aku menemani Neul Rin Onie menemui Donghae oppa disini tapi sekarang aku ditinggal sendiri!”. Seru Ri Chan polos

“Apa kamu melihat Teukki Oppa?”

“Wae. .? kenapa Onie bertanya padaku. .?”

“kan Teukki Oppa juga dikampus ini dan sekampus dengan Kyu Hyunmu itu. mungkin saja tadi kamu habis bertemu dengan Kyu Hyun Oppa”Ucap Sun Yi sinis.

“Terus kenapa Onie mencari Teukki Oppa? Apa Onie juga mau ikut-ikuttan punya pacar  Om-om. .?”. Ri Chan tak kalah sinis.

“MwwwOoo!!! Apa kamu ingin hukumanmu itu diperpanjang?”

“Kkkyyyaaaaaa!! Anii. .annii! kemarin saja aku hampir mati kepanasan! Aku tadi liat Teukki Oppa di parkiran dekat gerbang, mungkin dia mau pulang.”

Sun Yi langsung berlari kea rah gerbang untuk melihat Teukki, berharap dia belum pulang. Ri Chan yang punya penyakit selalu pengen tahu ikut lari mengikuti Onienya itu.

Sun Yi menyimpan air mata yang berusaha dia tahan agar tidak jatuh. Teukki sedang menggandeng seorang cewek berambut hitam lurus dengan tank top biru dan rok mini pink, dari penampilannya perempuan itu mahasiswi dikampus ini juga. Sun Yi Cuma bisa memandang mereka setajam-tajamnya.

“Udah onie. .”. Ri Chan merangkul Sun Yi.

Sun Yi Cuma diam, tidak melepaskan pandangannya kearah mereka. Baru saja dia akan mengatakan pada Teukki kalau dia akan memberikan sedikit kesempatan padanya, karena Sun Yi berpikir kalau Onew  tak akan menunggunya, mungkin Onew berubah pikiran dan berusaha menghindarinya. Tapi apa yang dia lihat, baru kemarin Teukki mengatakan Cinta padanya, tapi sekarang dia sudah menggandeng cewek yang seumuran dengannya.

“Mungkin Dongsaengnya yang baru masuk kuliah.”. Ri Chan berusaha menenangkan.

“Teukki Oppa cuma punya Dongsaeng Namja! Dia gak punya adik perempuan!”. Sun Yi tetap melihat Teukki.

“Kita pulang yuk. .!”ajak Ri Chan.

TBC.

By:Neul Rin

signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

I Can’t Dead – Part 4

I CANT DEAD

Hahahaha udah sampe part 4 aja >< senangnya hatiku, gomawo buat yang udah mau baca FF budukan ini (?) happy reading chingu

Main cast : Geunho, Yoona, Minho, Key

Other cast : Jonghyun, Taemin, Onew

~ ~ ~ ~ ~

“ibuuuuuu” teriakku sembari memeluk perempuan yang masih sangat cantik

“Geunho, ibu kangen sekali denganmu” aku makin mempererat pelukanku “bagaimana kabarmu?” kutatap wajahnya yang putih nan cantik. Aku mengangguk tanda baik baik saja “sabar ya nak, pasti kau bisa kembali ke Lovetophya dan terbebas dari kutukan Amandeus”

“tenang saja bu, aku percaya kok” aku tersenyum

~ ~ ~ ~ ~

Ah, mimpi itu! Ya aku pasti bisa kembali ke Lovetophya. Di atap sekolah, Key tak kunjung muncul. Aku memutuskan untuk menunggunya

“Geunhoooooo” teriak seseorang. Kali ini dia lagi -,-

“sudah kubilang jangan keluar pagi pagi dan jangan menampakan dirimu saat aku disekolah”

“maaf tapi ini karna ada kabar baik untukmu” dia tersenyum senyum sendiri “dewa dewi Lovetophya telah berhasil menemukan cara mengembalikanmu ke sana dan membebaskanmu dari kutukan Amandeus”

“apa?” sontak aku langsung berdiri “bagaimana caranya?”

“kau harus memusnahkan tongkat Amandeus yang berada di gunung Jiri. Tapi mendapatkan tongkat itu sangatlah tidak mudah. Kau harus mendaki gunung itu lalu melewati hutan dll, ah pokoknya ribet deh” Minho jadi pusing sendiri

“aku akan berusaha, besok aku akan berangkat. Minho temani aku ya” pintaku

“tentu saja, itu sudah tugasku”

“aku ikut” sahut seseorang yang kupikir adalah Taemin. Tapi sayangnya bukan. Minho langsung menghilang dari hadapanku “sudahlah Minho, kau tak perlu menghilang, aku sudah mendengar semua perkataanmu tadi” sesaat kemudian Minho muncul lagi. Aku tak bisa berkata apa apa.

“ya sudahlah Geunho, biarkan Key tahu siapa kamu dan aku sebenarnya” kutatap keduanya bergantian. Ya pada akhirnya aku mengalah dan menceritakan semua tentang diriku, kutukan itu, Minho, Lovetophya, dll. Seiring bel masuk yang berbunyi, selesailah ceritaku.

“aku akan ikut denganmu besok” kata Key sebelum masuk kelas

“gomawo” aku melangkah perlahan masuk kelas. Sebelum guru datang, aku sempat berfikir, ternyata aku benar benar jatuh cinta sama Key. Tapi sebentar lagi aku akan berpisah dengannya. Apa iya aku harus menyatakan perasaanku duluan? Ah tidak mungkin, aku tidak cantik mana mungkin Key mau menerimaku. Tapi apa benar kata Minho kalo Key suka padaku juga? aaaaaa

~ ~ ~ ~ ~

“besok berangkat jam berapa? Aku akan mengantarmu kesana” kata Key sembari mengambil tasnya dari loker.

“gimana kalo hari sabtu aja? Besok kita masih sekolah, kapan mau perginya? Abis pulang sekolah? Bisa bisa nginep! kalo hari sabtu kan kita libur terus bisa nginep sampe hari minggu” aku menengadahkan kepalaku ke atas

“oh yasudah, akan kujemput hari sabtu jam 7 ok?” ku anggukan kepalaku

“annyeong Key oppa” sapa segerombol cewe yang sepertinya adik kelas

“ah~ annyeong” kulihat Key gelagapan. Cewe cewe itu berlalu pergi. Apa mereka suka Key? Kepalaku yang semula kuangkat, sekarang kutundukan……

“wahwah, ternyata kau popular” aku berusaha tersenyum “sebentar lagi pasti kau akan menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah”

“ah aniyo!” bantah Key “ah yasudahlah… aku udah dijemput tuh adikmu udah nunggu”

“nanti malem kau mau kerumahku lagi?”

“hm lihat nanti ya, aku ada pr soalnya hehe, hei gimana kalo kita belajar bersama?” usulnya. Wah ide yang sangat bagus. Perlahan senyumku mengembang

“kutunggu jam 7 dirumahku ok” setelah Key mengangguk setuju, aku langsung bergegas menuju adikku yang sudah menunggu di tempat sepeda

“lama sekali kau!” protes Yoona. Aku cuma nyengir. Mulai kukayuh sepedaku tercinta menuju rumah.

~ ~ ~ ~ ~

~Writer P.O.V~

Seorang cowo melangkah masuk ke sebuah rumah besar. Lalu seorang cewe dan anak kecil menyambut kedatangannya dengan gembira. Suasana rumah malam ini terasa hangat. Ketiga anak itu melangkah naik kelantai 2 dan mulai belajar. Ya, mereka nampak serius sekali. Tapi diselah sela keseriusan mereka, Geunho dan Key saling lirik lirikan dan tersenyum malu. Tanpa sengaja tangan Key menyentuh tangan Geunho

“ah, mianhae” pekik Key. Wajah Geunho berubah merah, Key menyadari hal itu

“gwaencahana” didalam hatinya, Geunho menjerit sejadi jadinya. Tangan yang halus menyentuhnya barusan dan untuk pertama kalinya. Apalagi, itu tangan Key.

~ ~ ~ ~ ~

~Geunho P.O.V~

Aku dan Yoona mengantar Key sampai depan rumah. Setelah berdadahan ria aku masuk kedalam.

“umma, lusa aku akan menginap dirumah temanku sampai hari minggu. Boleh ya aku pergi?” maaf umma, aku harus bebohong.

“dimana?”

“Gyeongsang, boleh ya umma”

“yasudah, tapi kau harus jaga dirimu ok” aku berjingkrak jingkrakan lalu berlari ke kamar. Maaf umma aku harus berbohong, maaf.

~ ~ ~ ~ ~

Hari ini aku, Key, dan Minho pergi ke gunung Jiri. Tak kusangka kalo Key itu bisa nyetir mobil, ya tentu saja dia nyetir mobil dari Daegu ke Gyeongsang. Perjalanan cukup jauh maka dari itu kami santai supaya ga terlalu capek. Terus si Minho, dia menyamar jadi manusia yang cukup menarik perhatian orang orang sekitar.

“hei berapa lama lagi kita sampai? Ternyata jadi manusia itu ribet ya kalo aku tinggal menghilang dan semenit kemudian sudah sampai disana ckck” Minho geleng geleng, aku yang duduk dibelakangnya, memukul kepalanya. Minho memelototi ku sampai sampai matanya ingin keluar.

“ahaha, udah jangan berantem napa. Hm kira kira setengah jam lagi” Key sibuk memencet layar GPS mobilnya.

“MINHOOOOO” pekik seseorang yang membuat kami semua terlonjak kaget. Untungnya ga nabrak.

“ah Taemin, kau itu bodoh! ga liat apa ada orang nyetir? Kalo nabrak gimana?” omel Minho pada si imut Taemin. Taemin langsung cemberut

“loh? Dia siapa? kau kok jadi manusia, Minho? Kau kan ga boleh terlihat oleh manusia yang lain” kata Taemin bertubi tubi. Sepertinya Key ikutan heran dengan kedatangan Taemin. Ia melirik kearah jok belakang terus

“gpp, aku udah mengatur semuanya. Key kenalin ini Taemin, dan Taemin ini Key” keduanya tersenyum “sekarang sana kau pulang, kalo ga, kau ga akan ku ajari lagi main winning eleven” mendengar perkataan Minho, Taemin langsung menghilang “dasar bocah”

Kami langsung masuk ke Taman Nasional Gunung Jiri dan mulai menjelajahi gunung ini. Taman Nasional ini adalah yang terbesar di Korea dan merupakan pemandangan terbaik di Korea. Sekarang adalah musim semi. Di Gunung Jiri bermekaran bunga Royal Azaela. Aku ga boleh terlarut dengan keindahan ini, aku harus serius mencari tongkat itu.

Kalo ada Minho semuanya pasti beres. Dari mulai peralatan mendaki, tenda sampai makanan, dia kan punya sihir hahaha.

“kita harus ngumpet, kalo ga kita bakal ketauan sama penjaga yang keliling disini. Kalian akan kubuat ga terlihat oleh orang2” TRING (musik yang kayak di tipi tipi itu loh) tak ada rasanya ==’ ya kami bermalam disini, lebih tepatnya disebuah gua. Minho udah nyiapin semuanya tentu saja aku dan mereka tidurnya misah. Ditendaku, aku ga bisa tidur. Guling sana guling sini jadi sapi guling akhirnya aku keluar tenda dan menjelajahi gua itu. Gelap, lembab, baunya ga enak. Aku melihat sebuah benda bersinar dilangit langit gua, aku tak tau apa itu. Kucoba raih tapi ga sampe. Saking penasarannya, aku meraih sebatang kayu. Yap! Akhirnya kudapatkan benda bersinar itu. Aku teringat sesuatu segera aku membangunkan Minho dan Key

“yaaaaaa! Bangun!! Aku menemukannya!!” kuguncang guncangkan tubuh keduanya. Key bangun dari tidurnya dan menatap heran sesuatu yang kupegang

“kau ingin mincing dengan kayu itu? Besok aja deh aku ngantuk” ternyata otaknya belom bekerja 100%

“baboooooo! Ini tongkat yang kita cari!!!!!” Minho langsung terlonjak bangun

“kau menemukannya dimana?” kedua mata bulatnya menatap tajam kearahku

“di gua ini”

“kalo gitu kita harus cepat cepat pergi. Geunho sini tongkatnya biar aku yang pegang, kau bawa hp dan apapun barang yang penting bagimu, kau juga Key, cepaaaaaatt!!!!” teriak Minho. Rasa penasaran yang besar masih menyelimutiku. Tapi tak ada waktu untuk bertanya, Minho udah terlihat panik. Kami bertiga berhasil keluar gua itu “terlambat!” sahut Minho tiba tiba sambil menatap ke langit yang gelap.

~TBC~

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

PLAYLIST

Playlist

Title: Playlist

Author: ulaai aka. ulaaifuhfun

Characters: SHINee members, other figures and the OCs (+ me as OC hehe, find me out!)

Genre: Friendship

Rating: T

Disclaimer: They are not mine, I only have the plot. Songs credits to SHINee, Jacko, Hey! Say! BEST, and me.

A/N: This is my first fanfic here! Comments are highly appreciated. And sorry if this story is too long… well it’s kinda ordinary for me to write and read this long of stories, but maybe you not… This spend a week for write it and 14 pages in Microsoft Word, so if you read it I will be glad… This is also a birthday present for me whose turn into 14 this 21 June… Well, enough blabbing! Off to the story! 😀

***

Tik. Tik. Tik.

Rintik-rintik hujan mulai membasahi jendela utama rumah asrama SHINee. Membuat suasana sedikit gaduh karena tetesan-tetesannya semakin menderas—tapi toh itu tidak begitu berarti. Ruang makan merangkap ruang dapur terlihat begitu sepi, padahal biasanya ada seseorang—siapapun itu—yang berada di sana. Entah mengambil makanan atau mengambil sebotol susu dari kulkas. Ruang tengah pun juga sama heningnya. Padahal biasanya Minho atau Taemin senang sekali bermain Winning Eleven di situ—tapi entah kenapa, sepertinya hari ini mereka tidak begitu bersemangat. Ada apa dengan mereka?

“Hari ini kita tidak ada pekerjaan,” ucap Onew sesaat setelah menerima telepon dari manajer mereka pagi ini. “Yoonduk-hyung bilang kita akan menghadiri dua acara reality show dan tiga acara music performance serta siaran radio selama tiga hari ke depan, jadi kita disuruh istirahat dulu. Begitu katanya.”

Jeongmal? Beneran?” Sang Maknae membelalakkan matanya. “Wow, akhirnya, ada juga hari di mana aku bisa bebas!”

“Aku mau mengunjungi ibuku,” Key bersuara. “Kami sudah dua bulan tak bertemu, rasanya kangen sekali.”

Minho berpikir sejenak. “Bagaimana denganku, ya… Kurasa aku akan menemui sahabatku waktu masih di sekolah menengah dulu. Tempatnya agak jauh, jadi mungkin aku akan pulang agak terlambat.”

“Jangan terlalu malam,” kata Onew. “Kita harus tidur cepat, karena besok kita harus bekerja lagi. Terutama untukmu, Minho,” Minho mengangguk, “Key juga. Taemin, kau tidak ada rencana keluar?”

Taemin mengangkat bahu. “Sepertinya tidak. Aku main laptop saja.”

“Jonghyun?”

Key rupanya menyadari bahwa ada seseorang yang sama sekali tidak bersuara sedari tadi—Jonghyun. Sang pemuda bersuara bling-bling itu bahkan sudah bungkam mulut sejak dirinya bangun tadi pagi. “Kau hari ini mau ngapain?”

“Err… mendengarkan musik dari iPod,” sahut Jonghyun sekenanya. Ia tidak terlalu peduli dengan rencana di hari bebas ini. Key manggut-manggut.

“Baiklah. Sampai jumpa nanti, ya, kita akan tetap makan malam bersama. Hari ini yang membuat makan malam adalah Key, jadi kau jangan terlambat, oke?”—Key mengiyakan—“Kalau begitu, selamat menjalani aktivitas kalian masing-masing. Annyeong!” Onew menutup pertemuan kecil mereka pagi ini.

“Annyeong!!”

***

Hujan semakin menderas.

Jonghyun menatap keadaan di luar lewat jendela, kemudian berdecak sebal. Yang benar saja! Mimpi buruk baginya, menghabiskan satu hari sendirian tanpa teman-temannya. Onew bahkan tak bisa diandalkan di saat-saat seperti ini, ia bahkan lebih memilih tidur. Taemin? Ia lebih memilih berselancar di internet dan mencari video dance terbaru ketimbang ngobrol dengannya. Ah, menyebalkan!

Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ia merenung sejenak. Selintas bayangan muncul di kepalanya. Apa ia harus…? Sepertinya memang tidak ada pilihan lain.

Jadi, ia berjalan memasuki kamar, bermaksud mengambil iPod kesayangannya. Melewati Taemin yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya—Jonghyun tak mau ambil pusing memikirkan apa yang sedang ia lakukan dengan barang berbentuk persegi itu. Ia bahkan tak menyapanya sama sekali. Taemin pun cuma mendongak, tersenyum singkat, dan mengangguk. Jonghyun memandangnya sesaat, kemudian pergi meninggalkan kamar dengan menenteng iPod mungil yang sebentar lagi akan menemaninya itu.

“Apa aku harus play random saja, ya…” gumam Jonghyun sambil mengempaskan tubuh di sofa ruang tengah yang empuk. Setelah beberapa kali menekan tombol navigasi iPodnya, Jonghyun meraih kabel earphone yang terjuntai dan memasangkannya di telinga.

Nunan neomu yeppeoso

Namjadeuri kaman an dwo

Heundeullineun geunyuhui mam sashil algo isseo

Eh? Alis Jonghyun terangkat sedikit. Lagu ini?

***

Rumah Sakit Buk Hon Ah.

“Nomor 301… nomor 301…” Sesosok lelaki berjaket tebal warna hitam tampak sesekali melongokkan kepalanya kanan-kiri. Ia yakin ia sudah memasuki koridor yang benar, tetapi kenapa masih belum ketemu juga?

“Err… suster,” sosok itu menghentikan seorang suster yang lewat di dekatnya. Suster itu terkejut—kemudian dengan pandangan sedikit berbinar ia bertanya, “Ada apa?”

“Kamar nomor 301 ada di sebelah mana ya?”

Suster itu terdiam sejenak, mengingat-ingat. “Anda tinggal lurus, dari pojok situ, anda belok kiri. Cari pintu yang ada pot tanaman di depannya.”

“Oh…” si lelaki bergumam pelan, “Gamsahamnida, suster. Terima kasih.” Suster itu cuma tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah-langkah lebar sosok itu berjalan menuju ke ujung lorong. Setelah si lelaki sudah jauh dari dirinya, suster itu memekik dalam hati, “Aku ketemu anggota SHINee!

Sosok itu—Kim Kibum—akhirnya tiba di depan pintu ruang nomor 301. Diketuknya pintu tiga kali, sampai akhirnya sebuah suara menyahut dari dalam. “Masuk saja. Tidak dikunci.”

***

Tok! Tok! Tok!

“Astaga!” Han Myungdo buru-buru melempar remote TV dari tangannya, sehingga benda itu nyaris saja terpental. Suara komentator pertandingan baseball sejenak hilang dari kepalanya. Bagaimana bisa ia lupa kalau ada teman lamanya yang berkunjung hari ini? Dengan gerakan cepat, ia mengambil kunci di atas meja, kemudian bergegas menuju pintu depan dan membukanya.

“Ya ampun, Minho,” ujar Myungdo begitu melihat sosok yang tengah berdiri di depan pintunya dengan jaket biru yang basah karena hujan. “Telepon dulu kek kalau sudah mau sampai sini. Lihat, akhirnya kau jadi kehujanan, kan!” serunya. “Kalau kau telepon, aku bisa menjemputmu di stasiun dan membawakanmu payung. Kau benar-benar tidak berubah, ya.”

“Daripada menceramahiku terus seperti itu, bukankah lebih baik kalau kau langsung menyilakanku masuk? Di luar dingin.” Sahut Minho kalem.

Myungdo tersentak sesaat, “Ah, ya. Ayo masuk.” Dibukanya pintu coklat itu dan tubuhnya sedikit digeser ke kanan, memberi jalan Minho untuk lewat. Lima detik kemudian pintu itu ditutup. Myungdo membalikkan badannya, “Memang kau tidak bawa ponsel?”

“Bawa.”

“Lalu kenapa kau tidak telepon?”

“Malas.”

Myungdo mengangkat bahu. Kakinya melangkah ke sebuah pintu di pojok ruangan. Ia membuka pintunya dan mengeluarkan sebuah handuk dan kaos dari situ. “Ini, pakailah. Jangan sungkan.”

“Tidak usah,” Minho menolak.

“Ayolah,” desak Myungdo, “Atau kau akan kuusir dari sini.”

Akhirnya Minho menerimanya. Dibukanya jaket dan dilepaskannya kaos yang menutupi tubuhnya, dan diambillah handuk dari Myungdo itu. Sambil mengusapkan benda lembut berwarna putih itu ke seluruh badannya, Minho bersuara, “Kudengar kau kuliah di Jepang, ya?”

Myungdo mengangguk. Ia membuka pintu kulkas dan mengeluarkan seteko air dingin dari situ. “Di Todai. Tokyo Daigaku—alias Universitas Tokyo.”

“Baguskah universitas itu?”

“Itu universitas paling bergengsi di sana,” sahut Myungdo, sedikit bangga. “Sekarang aku sedang libur, makanya pulang kembali ke sini. Akhir-akhir ini aku suka sama kartun buatan sana, lho.”

“Kartun?” gumam Minho pelan, teringat jejeran komik Slam Dunk di rumah asramanya. “Seperti apa?”

Myungdo menutup pintu kulkas dan menyorongkan segelas penuh air dingin ke hadapan Minho. “One Piece, Naruto, tapi yang paling aku suka adalah Bleach. Oh ya, di sana ternyata juga banyak boyband seperti di Korea, lho. Meskipun terlihat kecewekan, aku suka salah satu boyband di sana. Mereka punya dua subgroup. Lagu mereka banyak yang bagus lho, dan aku sedang suka salah satu lagu mereka. Mau dengar?”

Minho tak punya pilihan lain.

***

Taemin mengganti posisi duduknya. Tadinya ia duduk bersila di atas kasur—tapi sekarang ia duduk berselonjor dengan punggung tersandar dan memangku laptopnya di paha. Ia sedang pusing sekarang. Bukannya apa-apa, tapi… hei, bukankah sangat sulit untuk mengerjakan tugas sekolah di saat pikiranmu sedang kacau begini?

Eternal maknae dari SHINee itu menghela napas—sambil menatap jejeran soal trigonometri yang terpampang jelas di layar laptopnya. Sumpah dari segala sumpah: ia benar-benar tidak mengerti! Demi apa sih memangnya ia harus berurusan dengan segala tetek bengek sin-cos-tan ini? Pekerjaannya sekarang saja sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal berbau trigonometri!

Sekelebat ide muncul di pikirannya. Apa ia tanya pada Jonghyun saja, ya? Hyung-nya yang satu itu pasti mengerti. Ia kan sudah lulus beberapa tahun yang lalu, dan hari ini pun dia longgar. Tapi kemudian sebuah bayangan melintas kilat—sikap Jonghyun yang sama sekali cuek tadi. Waktu mengambil iPod, gila—tersenyum saja tidak! Ada apa sih dengannya? Kenapa ia tiba-tiba saja jadi cuek dan dingin?

Saat ia sudah mau beranjak dari ranjangnya itulah, ponselnya berdering.

***

Ruang tengah asrama SHINee.

Lagu Nuna Neomu Yeppeo masih berkumandang di telinga Jonghyun. Membawanya pada memori lama, sebuah rasa yang begitu asing untuknya hari ini—sekaligus membawa perasaannya yang memang sensitif ke dalam kenangan masa lalu yang begitu menyenangkan.

And I think I’m gonna hate it girl

Ggeuchi daga oneun geol

Gaseumi marhaejunda nuga mworado

“Nuna neomu yeppeo…” gumam Jonghyun. Lagu ini serta-merta membawanya pada dua tahun yang lalu—saat mereka pertama kali debut. Ia masih belum asing akan rasanya: kebahagiaan sewaktu namanya diumumkan lulus seleksi, mendapat partner kerja baru, rekaman lagu, syuting music video untuk yang pertama kalinya… tiba-tiba rasanya ia sangat kangen pada keempat temannya yang heboh itu.

Onew, sang leader. Sang manusia lemah-lembut bak tahu—ondubu, yang sangat terkenal akan kejayusan dan ‘Onew Condition’-nya. Yang paling tua sekaligus yang paling bertanggung jawab diantara mereka berlima, tapi juga paling kocak. Ia juga seseorang yang sangat profesional, mau mencoba segalanya yang baru, mau berbuat salah. Ia rela bangun pagi-pagi untuk mengantar Taemin ke sekolah. Mau diajak jadi teman diskusinya Minho. Mau repot-repot mendengarkan curhatan Jonghyun. Dan yang terpenting, ia adalah appa-nya SHINee—di mana seseorang memberi respek dan hormat kepadanya, seseorang yang bermultitalenta tinggi. Ah, kenapa juga harus menggerutu kalau leader-nya itu memang memilih untuk tidur? Bukan salahnya juga, kan… mungkin ia kelelahan karena jadwalnya yang lebih padat ketimbang member-member lain.

Sementara itu, lagu masih terus berlanjut.

Nunan neomu yeppeo

Geu geunyeoreul boneun naneun michyeo

Ha hajiman ijen ichyeo

Replay, replay, replay

Key, sang Almighty. Mungkin Key-lah—dari keempat member SHINee lain—yang paling akrab dengannya. Key yang selalu gila dan kocak. Key yang kalau tertawa pasti kencang tiada tara—mengalahkan telak Jonghyun sang tukang huru-hara. Umma—ibu—SHINee karena paling cerewet, tapi meskipun begitu juga penuh dengan perhatian dan jago masak. Key yang senang main ‘suami-istri’ dengan Jonghyun, Key yang suka main bisik-bisik sok asyik dengan Minho, Key yang setia menyetrika seragam sekolah Taemin, dan Key yang juga suka membuat Jonghyun tertawa kalau lagi duet gila bareng Onew. Key yang… takut akan ketinggian. Jonghyun tersenyum waktu mengingat hal ini—betapa saat bungee jumping di salah satu acara televisi dulu si pengagum fashion ini masih sempat-sempatnya pakai acara tutup muka segala. Key yang begitu dekat dengannya.

Chouki nae mameul halkwiu

Ah apeseo ijen mameul gochyeo

Da dagaol ibyeoleh nan

Replay, replay, replay

Minho, si flaming-charisma. Kharisma yang berkobar, kata Minho dulu waktu pertama kali Jonghyun menanyakan artinya. Minho—mungkin—adalah makhluk terkalem diantara kelima personel SHINee yang kadang-kadang kalau lagi parah ketawanya suka dilerai sama cowok satu ini. Yep, si Pelerai—julukan nonverbal yang pantas diberikan kepada Minho meski mungkin tak semua orang menyadarinya. Juga member yang paling tinggi—Jonghyun ingat ia pernah krisis identitas gara-gara tingginya yang tidak sepadan dengan rekan kerjanya itu. Bayangkan, 10 senti! Tetapi Minho tak pernah sombong, meski kenyataannya begitu banyak orang yang memuji wajahnya yang ‘katanya’ Onew mirip karakter manga. Dan yang paling melekat dalam benaknya tentang Minho adalah ketika si pendiam itu berkata, “Aku nggak suka hantu. Tapi aku benar-benar ingin lihat…” yang menurut Jonghyun merupakan pengakuan paling aneh sepanjang hidupnya.

Nunan naul M.V.P

Burohumeh ppodeuthaeji

Neulshisunjibjung geunyeowa hamkke itneun nan so cool

Jebal i soneul nohji maljadeon

Naui dajimeun

Eoneu sunganbootuh gujishingeol ara

Taemin, sang maknae. Mengingat nama ini Jonghyun jadi sedikit bersalah sudah bersikap ketus tadi waktu ia ke kamar mengambil iPod. Taemin adalah member termuda—yang ini hukum alam—dari kelima personel SHINee. Dan mungkin juga yang paling imut-imut. Yang ini semua anggota, kecuali Taemin tentu saja, sangat setuju: anak itu cantik sekali dan cewek banget! Merupakan lead dance SHINee, yang selalu berada di tengah formasi ketika bagian refrain sebuah lagu. Taemin sang Pangeran Musim-Semi, yang senyumnya selalu menghangatkan. Taemin yang masih menjunjung Onew sebagai Hyung-nya—berbeda sekali dengan dirinya dan Key yang masih suka cari ribut. Taemin yang klop sama Minho kalau tiga hyung-nya yang lain sudah sibuk dengan dunia gila mereka. Taemin yang bahkan sudah Jonghyun anggap sebagai adik sendiri.

Tiba-tiba dirinya merasa sangat kangen. Sangaaaat rindu.

Ia ingin bertemu dan berkumpul dengan semua anggota SHINee—dan kembali tertawa bersama mereka.

***

Kamar 301, Rumah Sakit Buk Hon Ah.

“Oh, kau, Kibum,” seorang wanita berseragam perawat menoleh, dan tersenyum. “Kau rupanya betul-betul datang.”

Key mengiyakan. Dilihatnya keadaan sekeliling—mainan di mana-mana. Anak-anak kecil yang berkeliaran. Bau khas bayi. “Ampun deh, Ibu masih menerima tawaran jadi pengasuh anak dadakan lagi?”

Nyonya Kim—ibu dari seorang personel SHINee, Kim Kibum—hanya tersenyum lebar. “Nggak apa-apa, kan. Ibu juga suka anak-anak, kok. Kau juga suka, kan? Ibu pernah melihat acara televisimu yang judulnya… apa tuh… yang ada anak kecilnya?” Key menyahut, “Hello Baby, Bu.”

Wanita berambut pendek bergelombang itu mengangguk. “Iya, itu. Ibu tidak terlalu mahir berbahasa Inggris. Kibum, maukah kamu memegang daftar ini sebentar? Sepertinya mereka sudah bosan main sendirian. Mungkin mereka mau bernyanyi sedikit, ataupun menari… kau mau ikut?”

Key menerima kertas daftar yang terulur, “Aku mau. Tapi aku akan mengajarkan lagu Ring Ding Dong dan dance-nya, bukan lagu anak-anak macam Matahari Terbenam, Jalan-Jalan ke Hutan, ataupun Permen Kapas,” ujarnya.

Ibunya mendengus main-main. “Sudah, kamu lihat dari sini saja,” lalu sepersekian detik berikutnya, ia tersenyum. Ibunya mendekati anak-anak ‘asuh’-nya itu dan berkata, “Ayo anak-anak, berkumpul di sini, kita menyanyi bersama.”

“Nyanyi apa Bibi?” salah seorang anak yang ada di situ, dengan gaya cadel, bertanya. “Kita akan menyanyi lagu berjudul… ‘Teman’. Kalian belum tahu? Ayo Bibi ajarkan.”

Aku punya banyak teman

Yang selalu bermain denganku

Membuat hari menjadi menyenangkan

Kami saling menyayangi

Waktu tidak terasa

Hari sudah beranjak sore, hei

Ayo kita pulang segera

Esok bertemu lagi

Nyonya Kim mengulang lagu itu beberapa kali. Key yang mendengarnya langsung tercenung—dan entah kenapa, ia jadi teringat anggota SHINee yang lain. Baru disadarinya ia tadi bahkan belum berpamitan pada semuanya saat akan meninggalkan rumah.

Aku punya banyak teman

Yang selalu bermain denganku

SHINee, seru Key dalam hati. Ia tidak hanya bermain dengan SHINee. Ia juga bekerja dengan mereka. Bagaimanapun, mereka partner kerja. Tapi ia juga tertawa, bercerita, dan sedih bersama dengan SHINee. Ia jadi ingat, saat dirinya pertamakali didebut dua tahun yang lalu, ia merasa ia memiliki sebuah oase baru selain keluarganya: teman-teman barunya.

Membuat hari menjadi menyenangkan

Kami saling menyayangi

Key larut dalam pemikirannya tentang SHINee. Saking seriusnya, tak terasa lbunya sudah ada di sampingnya. “Ada apa, Kibum?”

Key tersentak. “Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya teringat pada teman-temanku.”

“Grupmu itu?” Ibunya menebak. Key mengangguk. “Lagu tadi benar-benar menyindir. Aku tahu sih itu ciptaan Ibu sendiri—“ Ibunya terkekeh, “—tapi tetap saja itu menyindir.”

Ibunya manggut-manggut. “Hmm… Kibum…” Key menoleh, “Apa kau menyayangi… kawan-kawan rekan kerjamu?”

Pemuda yang menggunakan skinny warna gelap itu jelas mengangguk. “Tentu saja, Ibu!”

Ibunya memandang anak-anak kecil yang sekarang sibuk mengulang lagu ciptaannya itu dengan raut gembira meskipun masih tertatih-tatih, “Kalau begitu baguslah. Kau tidak ingin berlama-lama di sini tentunya, kan?”

Kekagetan jelas terpampang pada wajah Key. “Ibu…”

Nyonya Kim tersenyum. “Pergilah.”

Key tak butuh waktu lama sampai akhirnya ia menyadari maksud dari ibunya dan mengangguk.

***

Sebuah kamar di rumah mungil di suatu sudut kota Seoul.

“Judulnya Score. Cocok sekali untukmu, deh,” Myungdo masih tak hentinya berpromosi tentang lagu Jepang yang katanya bagus itu. “Karena kau tak bisa berbahasa Jepang fasih, kuberikan terjemahannya padamu, ya.”

Minho cuma memandangnya tanpa suara ketika ia menerima kertas yang disodorkan Myungdo kepadanya. “Kuputar, ya, lagunya.”

Hey! Say! BEST – Score

Arigatou nagareru itsutsu no melody boku ni wa mieru yo

(Terima kasih, ini adalah cara bagaimana aku melihat alunan melodi dari kita berlima)

Narabi atta onputachi ga mie hari ai nagara

(Notasi musik yang mengalir diantara kita, baik saat kita sedang bersaing satu sama lain)

Shinjiteru itsutsu no melody boku ni wa mieru yo

(Aku percaya pada adanya melodi diantara kita berlima, itulah yang aku lihat)

Tabiji to iu sen ni notte

(Tiap jalur yang ada di sepanjang perjalanan)

Mada mienai asu ni ima wo utao

(Aku akan bernyanyi sekarang, menganggap seakan-akan hari esok takkan ada lagi)

Minho tercenung.

Hey! B BROTHER   Bokura to tomo ni michi no tobira wo hirako

(Hei! B BROTHER Kita membuka pintu yang sama sekali asing untuk kita)

E EASY GOING kiraku ni kinaga sou STEP AND JUMP

(E EASY GOING Kita selalu bersabar dan optimis, STEP AND JUMP)

S SMILE Tagai no egao no kagayaki wo nahatte

(S SMILE Bertukar senyum, membuat kita bersinar)

T TIME Mahou janai kono shunkan jinsei ichiban no BES

(T TIME Ini bukan sihir, ini adalah momen terbaik dari BEST)

Kenapa ia mendadak jadi ingat teman-temannya? SHINee.  Lagu ini—sialan, Myungdo ini mau menyindir atau bagaimana sih—jelas-jelas SHINee itu ada lima! Dan kata ‘bersinar’ dalam salah satu baris benar-benar mengingatkannya tentang SHINee. Jelas saja, kan!

Me no mae no gohonsen

(Saat pertama kali bertemu)

Awasaru koto wa nai kedo

(Kita mungkin tidak merasa cocok)

Itsudemo tonaride boku mo kanaderu yo

(Setiap kali kita merasa dekat, bermain bersama)

Aruiteku rizumu ya tsuyosa wa chigau kedo

(Kekuatan dan ritme yang kita punya ketika kita melangkah sangatlah berbeda)

Narabu tabi umareru kizuna no harmony

(Tetapi mereka bersatu, membentuk sebuah harmoni)

“Myungdo,” panggil Minho. Myungdo yang sedang sibuk ber-lip sync ria cuma bisa menoleh. “Ada apa?”

“Kau mau menyindirku, ya?”

Alis Myungdo tertarik ke atas. “Apa maksudnya?”

Minho memutar bola matanya. “Lagu ini. SHINee. Dan kata-kata ‘berlima’ itu…”

“Lho, aku benar-benar tidak bermaksud, kok.” Myungdo berkilah, “Memang personel yang nyanyi lagu ini ada lima orang, sama seperti SHINee.”

Minho mengangkat bahu. “Aku bisa pulang sekarang?”

Myungdo menatapnya heran.

***

Ponselnya berbunyi. Ia sedikit termenung mendengar ringtone lagunya. Taemin bukan tipe pengangkat ponsel yang cepat, ia lebih suka mendengarkan dulu bunyi ringtonenya. Ia hapal sekali bunyi lagu ini—You’re not Alone, oleh Michael Jackson.

You are not alone

I am here with you

Though we’re far apart

You’re always in my heart

You are not alone

Kenapa ia mendadak jadi mengingat SHINee?

Taemin bukan tipikal orang yang suka bermellow-ria, tapi ia juga bukan orang yang terlalu dingin. Ia sudah lama kok memakai ringtone ini, sungguh, tapi kenapa perasaannya baru ‘ngeh’ sekarang ya? Apa gara-gara hujan? Biasanya kan orang-orang sering mendadak sensitif kalau lagi hujan, tapi dia…? Masa, sih?

Akhirnya Taemin menggelengkan kepalanya, mencoba tak peduli, dan mengangkat telepon.

“Halo?”

“Taemin-ah!” seru suara di ujung sana. “Ini Seul Hee.”

“Seul Hee…” Taemin menggumam, “Teman sekelas, kan?”

Yang di seberang sepertinya kesal. “Iya, babo! Aku tahu kau itu sibuk dengan seluruh tetek-bengek artis dan lain sebagainya itu, tapi jangan sampai kau jadi antisosial, dong.”

“Iya,” Taemin mengiyakan, “Ada apa, Seul-Hee?”

“Tugas matematika yang diberikan sama Buncha-songsaenim sudah kau kerjakan?”

Mendengar nama yang disebut teman sekelasnya itu, sontak Taemin berdecak. “Ini sedang kukerjakan. Aku nyaris mengumpat sedari tadi, tahu. Kau bisa mengerjakan soal nomor lima?”

“Soal nomor lima…” diam sejenak, “…hehe. Maaf, aku juga nggak bisa. Kau tahu jawaban soal nomor satu?”

“Soal nomor satu?” ulang Taemin sambil men-scroll berkas soal di layar laptopnya. “Oh. Aku tadi juga hampir kejebak di situ. Coba saja diakarkan dahulu sebelum ke langkah akhir.”

“Oh! Omona… kau benar!” suara Seul Hee terdengar girang sekali. “Terima kasih, Taemin-ah. Aku akan mencoba menelepon berkeliling, siapa tahu mereka punya jawaban soal nomor lima. Nanti kalau sudah ketemu kau akan kukirimkan pesan singkat. Oke?”

Taemin mengangguk, lupa bahwa Seul Hee takkan bisa melihatnya. “Ngomong-ngomong, Oppa-oppa di mana semuanya? Kenapa kau tak minta bantuan mereka saja? Mereka kan sudah lulus. Malah katanya Onew-oppa sangat pintar.”

Sang dance genius dari SHINee itu terdiam sejenak. “Mereka… sedang tak bisa diganggu,” Seul Hee merasakan adanya tarikan napas dari lawan bicaranya, “Beberapa dari mereka sedang pergi. Ada juga yang tidak pergi, tapi sepertinya mereka sedang ingin tak diganggu.”

“Mereka benar-benar mengatakannya?”

“Maksudmu?”

“Mereka benar-benar mengatakan kalau mereka memang sedang ingin tidak diganggu?”

Ucapan Seul Hee entah kenapa membuat Taemin sedikit tercekat. “Tidak.”

“Lalu kenapa kau menganggapnya demikian? Bisa saja kan, mereka ingin diganggu tetapi malu mengatakannya. Setelah aku menutup telepon ini, panggillah salah satu Hyung-mu dan minta tolonglah kepada mereka.”

Taemin tercenung. “Kau… mungkin benar.”

“Kalau begitu aku sudahan dulu, ya. Nanti ku-SMS lagi.”

“…Ya.”

***

Lagu di iPod Jonghyun sudah berganti beberapakali. Setelah lagu Nunan Neomu Yeppeo selesai, ternyata sang iPod memilih lagu Twins milik Super Junior untuk diputarkan selanjutnya, kemudian lagu DBSK yang ia kurang hapal judulnya dan Baby Baby dari SNSD. Jonghyun masih ada di posisi yang sama: duduk di sofa dengan kaki terangkat dan kepala yang sepenuhnya tersender. Matanya terpejam. Pikirannya masih penuh dengan rasa kangen akan member SHINee yang lain—sebuah rasa yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

Jonghyun menaikkan alisnya ketika pintu kamar terbuka. Matanya terbelalak melihat siapa yang keluar sepersekian detik setelahnya: Taemin. Laki-laki yang sudah ia anggap adik sendiri itu tampak membawa laptop di tangan kanannya, berjalan menuju arahnya. Ternyata ia memang menuju ke arahnya; ia bahkan duduk di sebelah Jonghyun.

“Hei, kau—“ “—JONGHYUN-HYUNG, TOLONG AJARKAN AKU MATEMATIKA!!” Taemin menyerahkan laptopnya dengan kepala tertunduk, persis seperti orang yang minta ampun. “Materinya trigonometri. Susah sekali…”

Jonghyun menatap sosok di depannya lekat-lekat. “Kau bercanda? Ampun deh, trigonometri itu materi yang paling tak kusukai waktu sekolah menengah dulu. Hahaha, kau mau kuajarkan yang mana?”

“Nomor lima,” sahut Taemin cepat-cepat. “Hyung, aku mau minta maaf…”

“Kalau yang ini sih… hah?” Jonghyun menghentikan kalimatnya, menaikkan alis. “Kenapa?”

Taemin menundukkan kepala. “Mianhae. Jeongmal mianhae. Maaf tadi aku terlalu dingin padamu waktu kau masuk kamar tadi, Hyung.”

Jonghyun bengong… “Kau bercanda?”—Taemin masih menundukkan kepala—“Tentu saja. Aku juga minta maaf tadi sudah bersikap cuek. Aku hari ini lagi bad mood.”

Akhirnya Taemin mengangkat kepalanya dan tersenyum, yang dibalas Jonghyun dengan cara yang sama. “Ayo mulai. Jadi pertama, kamu sudah tahu kan kalau kita pakai yang tan? Nah, yang harus kau lakukan pertamakali adalah…”

***

Key melangkahkan kakinya—agak cepat. Kalau ia berlari, dalam waktu lima menit ia sudah bisa sampai stasiun, tapi ia tak mau. Ia memilih berjalan cepat untuk melihat kanan-kiri, siapa tahu ada pasar swalayan yang bisa ia kunjungi untuk membeli beberapa keperluan sebagai bahan makan malam. Ketika ia menemukan bangunan yang dimaksud, dengan cepat ia masuk ke dalamnya dan membeli sekerat roti tawar, selai, dan beberapa bahan lain yang sekiranya tidak ada di rumah.

“Beberapa belas menit lagi…” gumam Key sambil menenteng sekeresek bahan makanan dan masuk ke dalam kereta.

***

Minho berdiri di atas kereta, mencoba menyamarkan diri dengan menarik hoodie yang ia kenakan agar menutupi kepalanya. Di kedua telinganya tersemat sebuah plug kabel alias earphone yang tersambung ke sebuah iPod klasik warna keabuan di sakunya. Jika kau dapat mendengar dengan jelas lagu yang ia dengarkan, kau akan mengerti bahwa ia sedang mendengarkan lagu berjudul Score—yang tadinya diperdengarkan Han Myungdo.

Namida de maega mienai toki wa

Gyuttotsu nai da te wo hanasanai yo

(Saat-saat sebelum adanya tangisan tidak akan terlihat. Menggenggam tangan yang menghubungkan kita… aku tidak akan melepaskannya)

Minho menghela napas. Satu stasiun lagi dan ia akan turun.

Saa, kagayaku egao kara umareru melody

Yoko wo mireba itsudemo BEST na nakama ga iru

Yume wo tsuyoku egaku tabi ni kirameku memory

Kibou to iu sen ni notte

Mada mienai mirai ni ima wo sakebou

(Sekarang, sebuah melodi yang datang dari senyum gembira kita… Ketika aku menyadarinya, teman-teman BEST akan selalu ada. Waktu telah melukiskan banyak kenangan dan mimpi-mimpi yang berkilauan… Itulah ‘harapan’, jalur yang kita lalui… Aku akan menangis, menganggap seakan-akan masa depan takkan ada lagi…)

Ding-ding.

Sebuah suara perempuan terdengar, menyatakan bahwa stasiun tujuannya sudah dekat. Akhirnya kereta berhenti, dan Minho pun keluar dengan langkah bergegas.

***

Key memicingkan mata saat hendak memasukkan kunci ke dalam gembok pagar. Sesosok lelaki bertubuh tinggi, memakai kaos warna biru laut yang dilapisi dengan hoodie warna biru gelap, dan sebuah skinny hitam dengan sneakers putih tampak berlari mendekatinya. Rambutnya yang ikal hasil salon, matanya yang lebar dan senyumnya yang merekah membuatnya yakin siapa sosok ini sebenarnya—

“Kau baru datang?” tanya Minho, menghentikan larinya. Key mengangguk. “Uh-uh. Kau juga? Bukannya katamu kau akan terlambat pulang? Kalau aku sih…” dirinya mengangkat sekeresek penuh bahan makanan yang ia beli tadi di perjalanan menuju stasiun. Minho menggeleng. “Kau tahu, entah kenapa aku merasa harus pulang cepat,” ia terdiam sejenak, “…Kangen.”

Key tersenyum penuh arti. “Should we go on, then?

Minho mengangguk pasti.

***

Jonghyun mendengar sebuah ketukan di jendela. Taemin menoleh. Mereka masih berkutat dengan tugas matematika ‘sialan’ itu rupanya.

“Kami pulaaang…” Key dan Minho muncul dari balik pintu, lengkap dengan senyum. Jonghyun dan Taemin berpandangan—kemudian tersenyum. “Selamat dataaaaaang!”

“Kalian barengan pulangnya?” tanya Jonghyun sambil membuka keresek yang dibawa Key. “Ah, rupanya hari ini kita akan makan miyeok guk—sup rumput laut—ya… kalau tidak salah makanan ini buat mengembalikan stamina kan?”

Key mengangguk. “Ne, besok kan kita bakal kerja terus, jadi… kita harus mengembalikan energi kita sebelum besok.” Taemin manggut-manggut. “Terus, kita besok juga bawa roti ke kantor… lumayan buat isi tenaga, karena karbohidratnya sama dengan nasi meskipun kemasannya lebih ringan.”

Terdengar suara pintu terbuka. Jonghyun, Taemin, Key, dan Minho menoleh.

“Hei… kalian sudah pulang?”

Empat senyum menyambut ucapannya itu. “Sudah, Onew-hyung.”

***

“Kalian tahu, tadi aku mimpi tentang kita berlima, lho.”

“Oh ya? Ngomong-ngomong, bagaimana masakanku?”

“Tugas dari sekolahku tadi susah sekali, lho. Untung Jonghyun-hyung membantu.”

“Jonghyun-hyung? Hahahahahaha.”

Jonghyun tersenyum… ia tersenyum. Rasanya begitu bahagia melihat keempat rekannya duduk di meja makan, bersama dengan dirinya, saling bercanda dan tertawa. Hujan masih turun di luar. Tadi sempat mereda, namun rupanya langit masih ingin bermain-main dengan air. Tapi ia kini tidak memermasalahkan hal itu lagi… ia tidak peduli…

Salah satu harta karunnya yang berharga,

Karena ia memiliki teman-temannya di sini….

“Tanpa hujan, langit takkan menghasilkan pelangi.”

***

OWARI : FINITO : END

***

End at 22:38 PM according to my laptop. 🙂 Thank you so much for reading it till the end. Sorry for my terrible translation!! I’ll see you again in the next fic~ Annyeong!! 😀

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

My Past Future – Part 4

Chapter : 1

Main Cast     : Donghae, Yuna, onew

Support Cast : Gaeul, Jun, SHINee, Super Junior

~Donghae Pov~

Apa benar gadis yang di bicarakan Li seistimewa itu? Itu pertanyaan yang sejak tadi terlintas di benakku. Bel pulang berbunyi, kami semua merapihkan barang-barang.

“Apakah kau penasaran dengan gadis itu?” aku menoleh mendengar pertanyaan Li.

“Tidak. Biasa saja.”

“Jangan berbohong. Aku sudah mengenalmu semenjak kelas 1 SD, aku sudah tahu ciri – cirimu jika pensaran, berbohong atau yang lain. Bercerminlah dan bilang kalau kau tampan maka kau akan tahu wajahmu saat berbohong.” Aku mencibir hendak mencolok matanya tapi aku memutuskan untuk terus berjalan dalam diam.

Seperti biasa, Chun Li tidak pernah berjalan dalam diam, ada saja yang ia lakukan sambil berjalan bersamaku. Entah menyapa orang, menendang orang, bermain dengan basketnya dan yang lain.. tapi lebih sering dia berjalan sambil mengerjai orang lain. Bagiku sudah sangat biasa berjalan dengan teriakan gadis-gadis mengomeli Chun Li karena mengintip rok mereka.

Li tidak bermaksud apapun, hanya saja tangannya memang jahil. Tiada hari tanpa kejahilannya, kalau tidak ada yang marah dan memanggil nama Chun Li bukan Soanhwa High School namanya.

“Gaeul!” telingaku langsung penging mendengar teriakan lantang Li yang memanggil adiknya itu. Li berlari mendekati adiknya, sedangkan aku di tinggal begitu saja… lagi-lagi, seperti biasa — Tiba-tiba langkahku terhenti begitu melihat seorang gadis dengan rambut panjangnya yang di ikat ekor kuda berada di belakang Gaeul. Lengan kirinya di perban, dan tepat di belakangnya berdiri seorang laki-laki memegang dua buah sepeda yang tadi pagi menabrakku. Tapi sepertinya gadis yang tadi pagi tidak menggunakan kacamata. Rambut gadis yang tadi pagi juga tidak di ikat, dan lagi tidak terlihat seculun itu.

Apakah dia yang bernama Yuna? Atau gadis yang tadi pagi bertemu denganku? Mereka berdua satu orang atau berbeda? Tapi dari ciri-ciri yang di sebut Li tadi, sepertinya Yuna tidak seperti ini.

&&&

~ Yuna Pov ~

“Annyeong haseoyo Chun Li oppa.” Aku membungkuk tanpa tersenyum. Sekolah adalah panggung drama bagiku. “Yuna-ah, aku akan memperkenalkanmu kepada temanku. Sebentar yah..” Chun Li menoleh kebelakangnya, dan sepertinya ia terkejut. “Ah sial… sepertinya dia tersesat… ahahahah! Maaf tidak lucu. Aku pikir dia harus cepat pulang, sayang sekali!”

“Sudah lah.. memangnya kau siapa? Sembarangan mengenalkan Yuna pada orang lain? Yun, Jun.. aku pulang duluan yah!” Jun tersenyum. “Sampai jumpa!” ucap kami berdua bersamaan. “Apa kau lapar?” aku mengambil sepedaku dari tangan Jun.

“Tidak nona, tapi jika nona ingin makan saya akan ikut menemani.” Aku naik ke atas sepeda bersiap mengendarainya. “Baiklah, kalau begitu ayo makan!” kami berdua berkendara menjauhi sekolah dan mencari kedai di sekitar sekolah.

“Sepertinya restoran itu bagus.”

“Aku tidak ingin makan di restoran. Aku ingin makan di kedai kecil biasa.” Lalu aku memilih sebuah kedai yang tidak begitu ramai dan kami masuk ke dalamnya.

“Eoseo Oseoyo.” Sapa bibi pemilik kedai. “Annyeong haseoyo ajuma! Aku pesan sundubu 2, kimchi 2, miyeok-muchim 1 dan bulgogi. Minumnya apapun asal tidak berakohol. Tolong ya ajuma.”

“Baiklah.. segera aku antarkan!”

“Kenapa kau langsung memesan?” tanyaku begitu kami duduk di kursi. “Karena di kedai seperti ini tidak akan ada daftar menu, kita harus langsung memesan. Aku yakin nona tidak tahu apa yang harus di pesan, jadi aku pesankan makanan yang biasa di beli orang dan sudah sangat terkenal di luar Korea seperti kimchi dan bulgogi.” Aku menurut saja, dari pada salah. Tidak lama bibi pemilik kedai datang dengan pesanan Jun. Salah satu dari pesanan tersebut berbau pedas dan langsung menusuk hidung dan kerongkonganku.

“Emmph!”

“Ada apa? Pedas ya?” Tanya Jun. “Menurutmu?!” aku membuka kacamatku karena berembun terkena asap yang mengepul. “Maaf, aku lupa bilang agar tidak terlalu pedas. Ahjumma… apakah kimchi ini pedas? Apa sundubu nya sangat pedas?”

“Tidak, tenang saja.” Aku mendesah, aku harus mencoba. “Silahkan di coba nona.” Aku menyendok kuah sundubu lalu menyeruputnya tanpa suara.

“Emh! Ya tuhan!” Jun langsung menyodorkan air mineral di dalam sebuah gelas kepadaku. Dengan cepat aku mengambil minum tersebut dan meneguknya. Sial!!! Airnya panas! Aku berusaha tidak menyemburkannya keluar dan langsung menelannya.

“Nona, ada apa?” aku menutupi wajahku dengan tangan. “Ini, seka air matamu.” Aku mengambil tisu yang Jun berikan… apa yang orang lakukan jika lidahnya kepanasan atau kepedasan.. melet! Aku menutupi lidahku dengan tangan.

“Kau keterlaluan! Sangat pedas tahu!” aku mengipas-kipas mulut dengan tangan kananku. “Sangat pedas kah?” Tanya bibi. “Ah.. tidak juga.” Aku berbohong. “Hisap ini… setidaknya sedikit membantu.” Aku menurut demi menghilangkan rasa pedas. “Apa benar sangat pedas?” Ujar Jun sedikit meledek lalu menyendok sundubu, tiba-tiba saja ia tersedak. Matanya berkaca-kaca, dengan cepat ia meneguk minumnya. Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak! Aku ingat waktu itu dia pernah bilang bahwa dia sangat suka memakan makanan pedas ala Korea, dan sekarang… dia merasa kepedasan.

“Tidak pedas kok.” Ledek ku sambil menyumpit kimchi. Kali ini aku yang tersedak, sumpah! Kimchinya sangat pedas.. tapi tidak pedas di lidah, pedasnya di kerongkongan… sakit sekali. “Sepertinya kita sama-sama tidak bisa memakan-makanan ini.” Ucap Jun sambil terus mendesah kepedasan. “Bagaimana jika aku menantangmu? Kalau aku bisa menghabiskan kimchi dan sundubu-ku maka kau harus berteriak Yuna cantik 5 kali di lapangan sekolah besok dan memanggilku Yuna di rumah. Bagaimana?!”

“Tidak.. saya tidak bisa melakukan itu!”

“Harus! Sebaliknya, kalau aku kalah maka aku akan menuruti 2 permintaanmu. Oh ya! Plus cabai hijau ini.. karena satu paket!”

“Tapi nona…”

“Di mulai dari sekarang…!” aku mulai menyendok sundubu lalu memasukan kimchi ke mulutku. Dengan susah payah aku menahan pedas, demi sebuah kemenangan! Sedangkan Jun.. dengan mata yang berkaca-kaca dia berusaha memakan kimchi dengan cabai. Orang gila!

Hwuaaaa!!! Pedas… aku meneguk air di gelasku dan semakin merasa pedas. Air mataku menetes, begitu juga dengan Jun. Aduhhh gawat! Aku tidak kuat lagi! Kami berdua saling berpandangan dan tanpa di sadari kami mendesah dengan senada… tiba-tiba air mata kami jatuh bersamaan, dan akhirnya kami saling menertawakan. Aku tertawa karena baru pertama kali melihat Jun meneteskan air mata, sedangkan dia tertawa karena wajah pucatku berubah merah semerah tomat.

“Siapa yang akan mengangkat bendera putih duluan?” Tanya Jun. “Baiklah, baiklah… aku akui, tantangan ini berakhir.. kita seri! Hwuaaah sangat pedas.”

“Apakah nona akan baik-baik saja? Aku dengar nona alergi makanan pedas.” Ya tuhan! Aku baru ingat… “Ah? Itu…” aku mulai merasakan kulitku memanas… oh tidak, ottoekeh?!

“Sudahlah, ayo pulang… aku akan bayar makanan ini, kau keluar duluan saja.” Aku bangkit dari duduk ku, menuju bibi pemilik kios.

“Ajuma… totalnya berapa?”

“300 ribu won saja.”

“Wah.. mahal sekali… beri aku diskon, ayolah! Aku akan sering-sering kemari dan mengajak teman-temanku. Bagaimana?” 300 ribu won? Murah sekali! Biasanya aku makan melebihi 500 dollar amerika.. oh tidak, aku hanya berlebihan saja. “Haa… dasar anak muda. Baiklah, aku beri diskon tapi hanya hari ini saja. Kebetulan aku sedang baik.”

“Ahjumma baik sekali, cantik pula!” rayuku sambil membayar dan tersenyum licik. “Singkirkan senyum itu! Aigoo.. Sudah sana, kasihan teman laki-laki mu menunggu di luar terlalu lama.”

“Baiklah, tapi aku butuh toilet.”

“Masuk saja ke dalam.” Aku masuk mencari di mana toiletnya berada. Dapat! Aku langsung masuk dan bercermin, aku tidak menyangka kalau aku seculun ini di sekolah. Aku menggerai rambutku dan merapihkan ponny.

“Nona! Kenapa lama sekali? Sangat dingin berdiri di luar begini!” sembur Jun begitu aku keluar dari kedai. “Maaf aku habis dari toilet. Ayo pulang!” lalu kami berkendara sepeda pulang. Sesuai dugaanku, terlambat 5 menit saja aku pasti di serang dengan ribuan pertanyaan. Aku hanya berharap mereka tidak memerhatikan kulitku yang mulai memerah ini, aku tidak tahu harus jawab apa. Yang aku takutkan Jun adalah sasaran mereka, maka aku harus membela Jun.

“Agassi kenapa hari ini pulang terlambat?”

“Aku hanya pergi makan saja. Aku yang memaksa Jun, jangan salahkan dia!”

“Tapi agassi, koki telah membuat salad untuk anda.”

“Bosan! Aku mau makan makanan Korea, jadi aku mencari kedai untuk makan.” Para pelayan itu terus mengikutiku. “Tapi agassi, anda tidak boleh makan sembarangan.” Aku tiba di depan kamarku.

“Aku lelah! Pergi dan jangan omeli Jun atau kalian di pecat!” aku masuk ke kamar masih dengan berpura-pura bahwa aku baik-baik sajas. Begitu pintu kamar aku tutup dan ku kunci aku langsung berlari mencari obat alergiku di dalam lemari obat. Tidak ada! Eoddeokhae?! Ponsel! Dimana ponselku?

“Ma! Obat anti-allergy aku mana?”

“Anti yang mana? Debu atau pedas?”

“Yang pedas.”

“Ini mama baru aja tebus obatnya. Kenapa?” aku mendesah. “Tidak apa-apa. Hanya kaget karena tidak ada di lemari obat. Obatnya sudah rusak?”

“Iya, kan sudah lama. Jadi mama minta yang baru.”

“Ne. Arayo, annyeong.” Dengan pasrah aku membaringkan tubuh di atas kasur, menanti kapan alergi ini akan benar-benar menyerangku dan membuatku menangis kesakitan. Kau tahu.. memiliki alergi terhadap sesuatu itu sangat menyakitkan. Ada yang bilang jika kita optimis dan memiliki stamina yang bagus maka alergi itu akan hilang saat kita memaksakan itu. Tapi larangan di rumahku yang membuatku belum pernah sekalipun memakan makanan pedas setelah di diagnosa memiliki alergi pedas.

&&&

“Agassi! Agassi!” kepala pelayan terus mengetuk pintu kamar Yuna. “Lebih baik kita dobrak pintunya, mungkin saja sesuatu telah terjadi dengan agassi.” Usul manager. Tanpa pikir panjang semua mendobrak pintu. Benar saja, Yuna dengan kemeja putih panjang sekolahnya tergeletak tidak berdaya di lantai. Tapi sepertinya Yuna sempat mengganti baju karena rok sekolahnya kini telah berganti dengan celana satin putih.

Tubuh putihnya kini memerah, bibir pinknya pun lebih merah dari biasanya dan sangat kering bahkan di sudut bibirnya terdapat darah. “Cepat angkat agassi!” dengan panik 3 orang pelayan mengangkat Yuna dan membaringkannya di atas kasur. Jun cepat-cepat menghubungi dokter pribadi Yuna dan ibunya.

***

“Yuna! Ada apa denganmu?” Tanya Gaeul begitu melihat Yuna datang dengan masker hitam bertuliskan BSB di bagian tengah merekat menutupi mulut dan hidung Yuna. “Kau juga tidak pakai kacamata dan tumben sekali kau menggerai rambutmu.” Yuna terbatuk lalu menggerutu dalam hati, ‘sial! Kenapa aku bisa lupa menggunakan properti-ku di atas panggung drama!’

“Hey Yuna! Kemana kau dua hari yang lalu? Tidak masuk sekolah dan tidak memberi kabar. Jun juga tidak tahu kau kemana. Dan sekarang kau masuk dengan masker Backstreet Boys dan urakan begini. Ada apa dengan mata mu? Pasti kau kurang tidur!”

“Santai saja… ada sedikit masalah tiga hari yang lalu, dan sepertinya itu yang membuatku tidak masuk sekolah.” Sejujurnya Yuna baru bangun pagi ini tepat pukul 4 pagi setelah 3 hari terpejam di atas pembaringan tanpa gerakan sedikitpun. Bel masuk berbunyi, semua murid masuk ke dalam kelas di susul 5 menit kemudian wali kelas masuk.

“Apa kau tahu Yuna?”

“Aku harap tidak.” Celetuk Yuna dan langsung di sambut dengan jitakan dari Gaeul. “Apa kau masih ingat kakak-ku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang?”

“Tidak.” Jawab Yuna singkat, “maaf, bercanda. Memang siapa?”

“Kau pasti sangat terkejut.. sangat girang dan kau akan merasa seperti di surga!”

“Cepat katakan! Siapa?”

“Donghae oppa!” mata Yuna membelalak lalu keduanya menjerit kegirangan. Yuna lupa bahwa ia tidak bisa membuka mulutnya terlalu lebar akibat luka yang ia dapat karena memakan makanan pedas. Dan debu telah memperparah keadaan bibir Yuna, karena itulah sekarang Yuna harus menutupi mulutnya dengan masker.

“Ada apa?” Tanya Gaeul begitu melihat Yuna meringis. “Tidak apa-apa, hanya agak sakit saja.” Jun masih dengan cueknya makan tanpa perduli dengan topic pembicaraan keduanya. “Hey! Ngomong-ngomong, bagaimana caramu memakan makan siangmu jika kau menutupi mulutmu dengan masker.

“Oh iya, aku lupa!” Yuna membuka maskernya. “Ya tuhan! Ada apa dengan bibirmu?”

“Kenapa? Apakah berdarah?”

“Tidak. Tapi bibirmu bagus sekali… warnanya merah!”

“Hwuah! Aku pikir ada apa!”

“Tapi di sudutnya memang ada luka, apakah kau berkelahi?”

“Tentu saja tidak! Ini alergi. Aku nekat makan makanan pedas bahkan cabai hijau! Yaaa begini lah akibatnya. Tapi ini sudah lebih baik dari yang kemarin, lukanya tidak begitu basah. Jadi aku sudah boleh makan sekarang.”

“Ckckck… ada-ada saja yah yang namanya penyakit itu!”

&&&

~Donghae Pov~

Aku berjalan dengan sedikit kesal. Enak sekali Li memintaku menjemput adiknya, sedangkan dia malah asik mendekati Haeya! Dia bilang akan memperkenalkan Yuna padaku, apa-apaan itu!

BRUKK

Ya tuhan! Tadi pagi aku ketumpahan makanan Sang Yun, lalu tersiram air dari kran yang bocor lalu sekarang apa lagi?! Apakah aku benar-benar sedang sial hari ini? Di minta menjemput adik teman dan sekarang anak SMP ini terjatuh di depanku lalu es krimnya terlempar dan medarat di jasku. Arghhh… ada apa sih dengan hari ini???!!!!

Sialnya sama seperti penyanyi yang saat sedang manggung kakinya di tarik oleh fans hingga ia jatuh dari panggung yang tingginya 2 meter. Lalu kakinya patah, saat berjalan ke pinggir dengan pengawalnya lampu panggung jatuh menimpanya dan di kabarkan hari itu juga ibunya meninggal. Lalu penyanyi tersebut terserang gagal jantung dan mati di tempat. *naas abis -_-“*

“Maaf kan aku sunbae, sungguh aku tidak sengaja.” Aku mendesah antara kesal, marah dan tidak tega. Ada apa dengan gadis itu? Kenapa ia menggunakan masker?

“Baiklah, tidak apa-apa. Kau boleh pergi.” Ia membungkuk lalu berjalan pergi.

“Hey! Tunggu!” aku membaca name tag biru yang ada di tanganku. Gadis itu kembali berbalik ke arahku. Sekali lagi aku membaca name tag itu, dan memandangi wajahnya.

Dia?

Will Be Continued

***


P.S: Ada yang gak ngerti? Pasti ada… gini.. jadi MPF itu alur maju sama mundur.. kadang-kadang maju kadang-kadang mundur. Kayak seolah-olah Flash back tapi gak perlu di cantumin kata Flashback kalian juga pasti ngerti. Ya kan???

Makasih udah baca.. tolong komennya ^.^

Signature


This FF has written by Lana & Karlie, and claim by their signature

Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^