Sand Time

Cast     : kim kibum aka key

Genre  : Life, Romace

author: Mikan

One shoot

SAND TIME

Dia lah yang kusuka selama ini, dialah yang aku idolakan sampai saat ini. Dia lah key, seorang idola saat ini. Dia satu universitas dengan ku, meski fakultas kami berbeda, namun sebisa mungkin aku bisa dapat memandang wajahnya. Aku sama saja dengan para shawol yang ada di universitas ini yaitu sangat senang ada anggota SHINee ada di kampus ini.

“lihat hari ini dia memakai baju berwarna pink lagi” kata temanku yang duduk di sampingku sambil membaca komik.

“ne seul ra, ara ara” jawabku semangat.

“yaaa hye eun, kau terlalu bersemangat” teriak seul ra di telingaku.

“kau sampai meremas tanganku babo” tambah seul ra kesakitan.

“aaaa mian-mian” hye eun melepas genggamannya.

“dan seperti biasa, para fans setianya membuntutinya, kau tidak ikut” seul ra tetap saja cuek.

“aniyo, seperti ini sudah cukup bagiku” padahal sebenarnya aku ingin sekali bisa dekat dengannya, tetapi itu tidak mungkin, karena aku juga cukup pemalu.

“aku mau ke toilet ya seul ra”

“cepat kembali”

“haaaah” aku bercermin di ruangan toilet wanita, aku memandang wajahku yang sedikit bulat, dengan rambut bob ku.

“benar-benar standart” gumamku.

Aku segera keluar dari toilet dan berjalan melewati koridor dan ditengah jalan aku bertemu dengan key!!omoooo dia sangat tampan.

Dia menuju kearah toilet aku akan keluar. Kami berhadapan ketika aku akan ke kanan dia juga ikut kekanan, ke kiri pun juga, akhirnya kami tertawa kecil.

“si si silahkan” aku mempersilakahkan key untuk jalan terlebih dulu, sedangkan aku tidak berani menatapnya, aku hanya tertunduk sambil merasakan degup jantungku yang tak terkendali.

“hihihihi, baiklah kamsahae” key tertawa dan segera melewatiku.

“SEUL RAAAA!!!” aku berlari dengan kencang kearah seulra yang kaget dan menatapku aneh.

“hoooy kau kenapa??jangan-janggan sudah melihat hantu??” Tanya seura bingung.

“memang aku minho?? Ani ani, aku berpapasan dengan key” aku dengan semangat menceritakan apa yang terjadi tadi saat berada di koridor toilet.

“ooooooooo, ternyata chukae” hanya itu saja reaksi yang dikeluarkan sahabatku yang gila ini, lalu dia melanjutkan membaca komiknya.

“haiiish kamu selalu saja, cuek”

“kalau suka buat apa di komentari, ke kantin yuk lapar nih” ajak seul ra.

“pikiranmu hanya makan saja” protesku. Aku masih terbayang-bayang suara key yang berterima kasih padaku

~~~~~

Satu minggu aku tidak melihat sosok key di penjuru kampus. Aku merasa tidak bersemangat, di acara reality show pun tidak ada dia. Dimana dia sekarang

“hye eun hye eun!!! kau pesan apa?” Tanya seul ra membuyarkan lamunanku

“sama sepertimu” jawabku sambil melanjutkan membalik-balik majalah lama di kantin itu.

“baiklah”

“kau tahu tidak kalau key kabarnya dia sedang menyelesaikan kasus yang sedang menimpanya” kata anak di sebelah ku dengan rambut buntut kudanya yang sedang bergosip tentang key. Aku dengan seksama mendengarkannya.

“haaaah kasus apa” teman satunya berteriak karena semangat.

“SSSTTT jangan keras-keras babo!!” kata si buntut kuda.

“begini, dia diduga menggunakan narkoba” lanjut si buntut kuda, itu membuatku kaget seperti tersambar petir.

“jinjja???” teman satunya kaget

“aku tahu dari orang dalam, sekarang masih belum di up oleh media, tapi sebentar lagi pasti tercium media, sment benar-benar menjaga ini”

“omooooo, key oppa” kedua orang itu begitu bersemangat bergosip, tetapi akau terlalu kaget mengetahui kabar gila ini.

“hye eun hye eun, kau melamun lagi” kata seulra membawa nampan berisi 2 makanan plus susu.

“oh mari kubantu” tapi sekarag aku sedang tidak ingin makan.

Aku hanya memandangi makanannya yang ada di meja.

“kenapa hanya dilihat, ayo makan” kata seura

“ani aku kenyang”

“kalau kenyang kenapa kau pesan, buat ku ya” aku hanya tersenyum kecil melihat nafsu makan seulra yang mirip kuli bangunan.

“silahkan”

~home~

Aku sangat kalut, aku benar-benar tidak menyangka key sampai seperti itu, media sudah mulai tau tentang ini, sekarang ini menjadi topic hangat yang diperbincangkan orang terutama shawol di seluruh dunia. Aku mencoba tidur sebisaku tetapi aku tidak bisa, padahal besok ada ujian.

Aku sangat gelisah menunggu penjelasan dari pihak sment.

Sekarang sudah jam 1 am. Tetapi aku masih belum bisa menutup mataku. Aku segera menuju ruang dapur dan mencari obat tidur, kutegak 4 sekaligus untuk bisa tenang dan bisa tidur tenang.

Dengan obat seperti itu aku bisa mulai tertidur.

~~~~~~~

Cahaya matahari membuatku silau dan terpaksa terbangun. Aku mendapati diriku berada di dilantai sebuah kamar asing yang penuh dengan poster-poster.

“aneh” aku mulai terbangun dan terbelalak kaget melihat seorang namja tidur di sebuah ranjang.

“AAAAAAAAAAAA” aku berteriak spontan. Namja itu terbangun dengan enggan dan ketika melihatku dia juga terkaget.

“nuguseyeo?” Tanya namja itu sedikit curiga, mungkin aku dikira seorang pencuri. Namja itu tidak asing bagiku, aku mengamatinya dan tidak menghiraukan pertanyaannya dan tetap diam mengamati.

“kau key?” tanyaku.

“key?nugu??” key masih bingung

“kau key kan” aku masih bersikeras.

“aku kibum, kim kibum” dia terlihat tidak sabar.

“nuguseyeo!!!” dia berteriak padaku.

“kim hye eun, tapi kenapa kau aneh sekarang, kenapa kau tidak…tunggu sekarang tahun berapa?” aku ragu dengan yang kulihat. Dia key tapi bukan key yang sekarang.

“sekarang 2002, kau babo ya” kata key.

“hoeeeeeeeee, aku dimana” aku bingung dan mulai menangis Karena aku berada di 8 tahun yang lalu, tepatnya saat key berusia 11 tahun pantas saja dia terlihat imut sekali.

“ooooiiii noona, gwencana??haaaiiish mana aku tidak tahu siapa dia” si kibum terlihat bingung.

“kibumm, ada apa” seorang ahjuma tiba-tiba membuka pintu kamar. Aduh aku akan terlihat dan akan dilaporkan pada polisi.

“kenapa kau bicara sendiri, sudah lah cepat bersiap-siap untuk sekolah”

“ne omma”

“kau, kau tidak terlihat, kau hantu???” kibum mundur beberapa langkah

“ani, aku masih hidup” tetapi aku baru sadar ternyata aku melayang. Itu membuatku semakin menangis kencang.

“noona, sudah lah” kibum dengan takut menenangkanku.

“bagaimana tidak menangis, kau bahkan memanggilku noona, padahal kita seumuran”

“hah, jelas-jelas kau sudah tua” kata kibum.

“terserahlah, aku mencoba berjalan namuun tidak bisa, tubuhku terasa ringan dan dapat menembus apapun.

~~~~

“jadi noona dari masa depan” kata kibum bersemangat. Dan dia terlihat begitu menggemaskan. Sekarang kami sudah mulai akrab, karena aku sudah membantunya curang dalam ujian kali ini.

“ne, aku bukan noona” kataku sedikit marah.

“ehehehe, tapi kau terlihat lebih tua dari ku” dia tersenyum.

“yaah tak apalah kau panggil aku noona”

“kenapa kau bisa ke sini?” Tanya kibum penasaran

“molla” aku memandangi kibum kecil yang masih kecil dan lugu.

“ada apa dengan wajahku?”

“ani ani, aku hanya senang bisa bertemu chibi key” jelasku.

“key??siapa dia?”

“dia adalah orang yang kusukai” kataku jujur.

“berarti kau suka dengan orang yang mukanya mirip denganku donk” goda kibum.

“haiiish key jauh lebih dewasa” tetapi kaulah key itu kibum ah.

“nanti juga aku dewasa” kata kibum lugu.

“iya deh, sudahlah sudah malam, kau tidur sana” perintahku pada chibi key.

~~~~~

2 hari sudah aku bersama dengan key masa kecil, dia sangat lucu dan penurut. Dia juga sangat suka warna pink. Tapi disitulah letak imutya si key.

“noona, bagaimana aku dimasa depan” pertanyaan itu langsung mengingatkan ku pada kasus yang menimpa kibum di masa depan.

“noona noona, ayo jawab!!” desak key.

“ah iya, kau Tanya apa?”

“aku dimasa depan” jawab key kesal.

“apa kau ingin jadi seorang idola?” Tanya ku.

“hemm kenapa kau Tanya itu?” kata key bingung.

“sudahlah jawab saja”

“aku tidak tahu, tapi aku ingin menjadi pusat perhatian. Tapi mungkin aku ingin jadi idola juga” dia senyum-senyum sendiri.

“jangan jadi idola” kataku tiba-tiba membuyarkan lamunan kibum.

“kenapa noona?”

“itu akan membuatmu menderita, karena masa depanmu akan hancur” kata ku semakin pelan.

“jebal” tambahku.

“noona…” kibum mendekatiku.

“aku keluar dulu” aku keluar dari kamar key untuk mencari udara segar.

Apa yang kulakukan, aku sangat egois karena menghalangi impian seorang yang kusukai.

Tetapi jika dia menjadi idola dia akan hancur juga.

Aku kembali kekamar kibum dan mendapatinya sedang tertidur.

“andai kau tahu masa depanmu seperti apa” bisikku sambil menatap kibum yang tertidur pulas. Aku tidak mau melihatmu hancur. Jadi tolong berubahlah jadi orang lain jangan jadi seorang idola.

“noona, kau menangis lagi” aku kaget ternyata dia belum tidur.

“gwencana” aku mengusap air mataku

“apa karena masa depanku?” aku hanya bisa tersenyum pahit.

“benarkan” Tanya kibum lagi.

“aku tidak mau, merampas impianmu, tapi berjanjilah, jangan terjerumus dengan pergaulan bebas, dan narkoba” aku memandangnya dengan dalam.

“aku tau kau pasti bingung dengan maksud ku” dan kibum mengangguk.

“sudahlah, jalani hidupmu apa adanya, tapi ingat kata-kataku, tetaplah menjadi kibum yang seperti ini jangan berubah” aku berusaha menyentuh wajah kecilnya tetapi hanya bisa tertembus.

“aku tau noona, aku akan ingat semua kata-kata noona”

“kamsahamnida”….

~~~~

Aku terbangun dan mendapati diriku berada di kamar yang berbeda lagi. Omma dan seulra sedang menatapku cemas.

“omma ada apa ini?” Tanya ku lemas.

“kau meminum obat tidur terlalu banyak dan mengalami over dosis” kata omma cemas.

Ternyata aku hanya bermimpi bertemu dengan chibi key. Sudah jelas itu mimpi, mana ada orang pergi ke masa lalu.

“seulra kau tahu key?” tanyaku.

“kau itu masih lemas sempat Tanya key, dia tetap tampan seperti biasa” kata seulra tersenyum.

“bukan itu maksudku, dia masih anggota SHINee dan tidak masuk penjara??”

“tentu saja masih dengan SHINee, dan buat apa harus masuk penjara diakan idola baik-baik” kata-kata seulra membuatku lega dan yakin tentang aku kembali ke 8 th yang lalu.

~~~~~

Aku sudah keluar dari rumah sakit, dan menjali aktivitas seperti biasa yaitu kuliah. Dan key juga ada di sana. Kami sering beradu pandang dan dia hanya tersenyum seperti biasa dia menyapa para fansnya. Itu membuatku cukup kecewa, karena dia tidak mengenaliku. Jelas saja 8 tahun yang lalu, diakan masih kecil.

Tapi aku senang dia tidak terlibat lagi dengan narkoba. Aku juga kembali ke keadaan semula. Dia tetap sangat tampan dan aku tetap menjadi pengagumnya saja.

Kali ini aku bertemu lagi dengan key saat aku meninggalkan toilet dan ia menuju toilet. ‘ini seperti pernah ku alami’

Tetapi kami tidak saling sapa karena aku terlalu malu. Dan kami hanya terdiam namun tiba-tiba

“noona…” key menyapa ku.

Aku dengan kaget menoleh kearahnya, dan dia tersenyum sambil berkata

“aku selalu mengingat kata-katamu dan mengingatmu. Gomawo noona, ternyata kau masih tetap tidak berubah, bagiku kau sangat cantik”….

THE END

P.S: Maap onn.. signya belon jadi.. ekekekeke… maaaappp bener daaahh

BONUS BUAT HARI INIIIII XD

-Lana-

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

When Jonghyun Get Amnesia Part 3

By: Litha_Nisa/Lita_cs/ Lim Jin Ji

-Author POV-

~di Ruang Keluarga Setelah Dokter Memeriksa Kim Jonghyun~

“jadi bagainama dokter?” Tanya manajer SHINee tegang menunggu hasil yang akan dikatakan dokter yang dia panggil bersama jinki tadi tentang kondisi jonghyun.

4 member lainnyapun menunggu dengan cemas,berdoa agar yang mereka fikirkan tadi tidak terjadi.

“benar-benar” kata dokter sambil menggelengkan kepalanya. “dia benar-benar mengidap amnesia,saya sudah melakukan beberapa pemeriksaan,baik di tubuh maupun melalui percakapan. Benar-benar hilang ingatan. Walau luka di kepalanya tidak begitu serius, namun guncangan yang terjadi membuat memorinya agak terguncang.”

“lalu,bagaimana? Uri jonghyun apa bisa kembali lagi? Maksudku, ingatannya dok?” Tanya kibum dengan muka cemas. Terlihat sekali sisa-sisa tangisan di matanya yang sembab, masing bengkak, walau sudah dibawa tidur.

“ya,saya akan melakukan beberapa pemeriksaan lagi. Coba,kalau bisa dibawa ke rumah sakit. Saya tau kalian takut dan masih belum siap menjelaskan apa yang terjadi pada para fans, namun dia butuh pemeriksaan lebih lanjut. Kalau menurut saya, dia (jonghyun), ingatannya bisa kembali. Beberapa kejadian seseorang yang baik itu dipukul maupun terbentur dan mengakibatkan amnesia, ingatan mereka akan kembali. Kecuali jika sampai parah terbenturnya. Umm,amnesia sesaat ya, begitu.”

“baik, saya akan berusaha membawanya ke rumah sakit.” Kata manajer.

“bagus,kalau bisa sesegera mungkin,”

“lalu apa yang bisa kami lakukan dok,? Apa kami bisa membantu pemulihan ingatan jonghyunnie?” Tanya jinki beruntun.

“ya,keterlibatan orang-orang di sekitar juga membantu dia mengingat apa yang pernah terjadi dan mungkin akan mempercepat seluruh memorinya kembali lagi seutuhnya. Bantu dia mengingat mulai dari hal-hal yang kecil namun penting. Seperti namanya, tanggal lahir dari mana dia berasal. Keluarga juga berpengaruh dalam hal ini. Ingat itu!” kata dokter menjelaskan panjang lebar.

“baik,” jawab para member lainnya kompak.

“kenalkan diri kalian juga. Beritahu dia bahwa dia juga seorang entertainer. Buat dia terbiasa dengan dunia entertain. Karna kemungkinan perubahan sifat akan terjadi itu ada.”

“ maksud dokter?”

“ya, perubahan sikap dan tingkah laku,”

‘MWO? Jadi jonghyun hyung yang ceria, jail, dan PD itu bisa berubah jadi pendiam, baik dan pemalu?”

“yak,begitulah,”

“ANDWE!!!” teriak member SHINee bersamaan. Jinki mulai memegang pelipis kepalanya dengan tangan pertanda pusing. Minho mengacak-acak rambutnya pertanda stress *hehe*. Kibum mematung dengan mulut terbuka pertanda syok berat. Dan taemin menatap satu-satu para hyungnya itu dengan wajah innocent pertanda,,,

“hyung, aku gak ngerti,” ucap taemin polos. Semua menatap taemin unbelieveable.

“TAEMIN!!!!” teriak semua bersamaan.

“ kan tadi kamu yang tanya, ko masi gak ngerti?” Tanya minho siyook.

“owh,jadi nyung akan bener-bener berubah ya?” Tanya taemin kembali dengan aegyonya.

“yaa,taeminnie kau membuat kibum menangis lagi,” kata jinki lirih melihat salah satu membernya yang agak super sensitive itu kembali menagis.

“kenapa kibum hyung? Ko nangis? Kan malah bagus perubahannya.”Tanya taemin lagi dengan aegyonya (lagi) *capek dah, ni orang emang agak gimana gitu*.

“HUWA,,,,, TAEMINNIE,,,,,!!!!” histeris kibum.

“YAK! Kibum,, tenanglah,itu semua kan hanya kemungkinan. Belum tentu terjadi.” Kata minho menenangkan

“emang iyaya minho hyung? Aku malah seneng kalau jonghyun hyung berubah loch! Jinji pasti suka juga, kan ga ada yang ganggu dia lagi, hehe,” ucap taemin polos (lagi)*ampun dah.

Semua menatap taemin unbelieveable (lagi)*wih,di part ini taemin parah benget.dan,,,

“TAEMINNN!!!!!”””

-Jonghyun POV-

~Kamar Tidur SHINee~

Amnesia? Nugu?

Lelah juga ternyata tidur begitu lama. Siapa sih yang mereka bilang amnesia? Aku? Amnesia itu apa sih?

Aku mulai meregangkan tangan dan kepalaku yang terasa sangat berat dan pegal.

“keluar ah, sepertinya mereka sudah tidak ribut-ribut seperti tadi,”

Kubuka pintu kamar ini, kututup pintu lalu melihat sekeliling, tempat ini bagus juga. Lalu kupalingkan pandanganku kearah lain. Ke empat laki-laki yang tadi kulihat sedang duduk bersama seorang laki-laki yang umurnya lebih tua.

“ah,ya sudah, aku akan kembali ke kantor dan men-cancel beberapa acara kalian bersama jonghyun sebisaku, kalian jaga dia baik-baik ya!” kata lelaki tua itu. Aku bersembunyi di balik tembok,agar mereka tidak tau bahwa aku sudah bangun dan sedikit ‘menguping’ pembicaraan mereka. Yes! Akhirnya   lelaki jelek tua itu pergi juga, kekeke~

“baik manajer,” jawab mereka kompak. Lalu seseorang yang mereka panggil ‘manajer’ itu pergi kea rah pintu keluar ‘mungkin’, karna tidak terlihat dari sini. Bersama seorang yang berwajah pucat yang kutau dipanggil onew atau jinki itu? Tau ah.

“umm,key,jangan terlalu keras terhadap jinji-ah. Dia juga tidak sepenuhya salah. Sebaiknya kau minta maaf saja,” kata manajer itu sebelum dia keluar, karna belum ada bunyi pintu terdengar.

“tapi,” balas lelaki yang dipanggil key itu. Bukannya dia kibum ya?

“sudahlah kibum,” sela seseorang yang dari suaranya kukenal sebagai onew/jinki. Benarkan dia kibum,. Berarti disini semua punya nama panggilan dua ya?

“yaa, terserahmu saja kim ki bum,” kata manajer itu lagi lalu terdengar pintu tertutup.

Onew/jinki kembali ke tempat tiga lelaki lainnya duduk. Umm,semua terlihat dan terdengar jelas sekarang.

“kibum, aku,,,” ucap jinki/onew ragu memulai percakapan. “aku minta maaf, karma sudah memukulmu,” jinki/onew melanjutkan ucapannya yang terputus dengan sangat cepat. Tunggu, memukul? Jinki/onew memukul kibum,ah, key, ah, yak key/kibum itu? Kapan ya?

“hmm,” balas key/kibum dingin.

“seharusnya aku tidak gegabah. Aku sangat menyayanginya, dan tidak ingin dia dikatakan seperti itu, mianhae,” kata onew/jinki cepat membalas key/kibum lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya 90 derajat menghadap ke kibum/key.

“sudahlah hyung, aku mengerti maksudmu, kau disuruh manajer itu kan ? Lalu kau juga ingin agar aku meminta maaf ke jinji,. Tapi sayang aku tidak mau,noway!” balas kibum tidak mau kalah lalu berdiri dan bersiap pergi dari tempat itu.

“tidak,memang manajer menyuruhku, namun tidak dengan jinji. Mungkin memang benar yang kau katakana,.. tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Karma aku yakin kamu juga saying banget sama jii kan kim kibum? Sama seperti aku. Juga kau pasti merasa bersalah sama seperti perasaanku sama kamu ya, kan ?!” kata onew/jinki panjang lebar. Aku bener-bener ga ngerti. Ada apa sih? Jinji itu cewek chubby yang waktu itu yah?

“huh,jangan kira perasaan kita sama hyung! Aku sama sekali gak ada perasaan apa-apa. Argh,sudahlah aku mau tidur ajah,” kata kibum/key itu sama dinginnya dengan tadi.

Oh,gitu, jadi jinji itu adeknya/saudaranya onew gitu,trus key/kibum itu melakukan sesuatu ke si jinji itu sampai keterlaluan atau,, yah yang kaya gitu. Trus karma gak seneng sama sikap key/kibum ke jinji, si jinki/onew itu mukul key/kibum. Okelah, tapi, apa masalah intinya ya?!

Jonghyun POV end

-Author POV-

“hyung,kau itu apa-apaan sih?!” Tanya minho setengah berbisik sambil memelototi jinki.

“tenang minho,aku udah tau bakal gini. Tenang ajah, semua udah aku rencanakan. Aku kan leader kalian, aku ngerti banget sifat kalian. Makanya aku pasti bisa nge-lead kalian. Dan soal kibum, kamu tenang aja deh,” jawab jinki sambil tersenyum tenang dan menatap kibum yang berjalan memblakanginya.

“hyung,minho hyung, aku gak ngerti nih sama kata-kata jinki hyung barusan,” bisik taemin pelan pada hyung yang sedang duduk di sampingnya itu.

“sama, aku juga gak ngerti, tumben jinki hyung jadi gini, aneh,” jabab minho setengah berbisik juga sambil tetap menggelengkan kepala dan tetap menatap serius kearah jinki.

Taemin malah cemberut mendengar jawaban hyungnya itu, lalu menggelengkan kepala seraya berkata, “minho hyung, kau itu benar-benar bodoh. Pabo!” lalu menatap lurus kearah depan.

Minho langsung menoleh dengan jawaban dongsaengnya ini. Menatap unbelievable. Kalau aku benar-benar bodoh, kamu apa dong?! Fikir minho.

Di balik tembok jonghyun yang sedang berjongkok ria dan menghayal sendiri mulai sadar kibum mulai jalan mendekat ke arahnya.

Wah,gawat! Gimana nih,.

Lalu jonghyun berdiri dan bersiap berakting agar terlihat baru bangun. Namun terlambat saat dia mau berbalik untuk menyempurnakan aktingnya kibum sudah melihatnya duluan.

“JONGHYUN,” teriak kibum syokk,”apa yang kau lakukan? Kau sudah bangun? Sejak kapan kau disitu? Apa kau sedang menguping? Apa kau dengar semuanya?!” Tanya kibum beruntun.

Sekarang semua mata tertuju pada dua makhluk yang sama-sama sedang kaget ini. Dan yang diperhatikan dan diketahui telah menguping pembicaraan merekapun hanya bisa tersenyum seraya berkata “mian,”

Bagaimana reaksi mereka selanjutnya? Bagaimana perkembangan ingatan Kim Jonghyun? Keseharian mereka saat jonghyun mengidap *jiahh,* amnesia? Dan bagaimana kabar Lim Jin Ji yang di part ini gak nongol sama sekali? Saksikan di episode selanjutnya!

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Tochi – Part 3

Jinki pov

Siang ini, aku malas melakukan apapun. Aku hanya berdiam diri dikamar dan mendengarkan musik. Tapi baru dua lagu yang aku dengarkan aku sudah mendengar ketukan pintu.
“oppa!!!” ternyata Siyoung. Aku langsung mematikan Ipodku.
“boleh aku masuk?” tanyanya.
“ehm….silahkan” dia masuk kamarku dan berjalan kearahku.
“ada apa?” tanyaku setelah dia duduk disamping ranjangku.
“tidak ada apa-apa, hanya ingin ngobrol dengan oppa” jawabnya. “boleh Tanya sesuatu oppa?” sambungnya. Aku tau kalau dia kesini untuk mengintrogasiku bukan hanya sekedar ngobrol. “ya!!!” jawabku memperbolehkan dia bertanya.
“apa kekuatanku hanya akan muncul saat aku emosi saja?” tanyanya setengah ragu.
“tidak juga, kau hanya perlu belajar”
“kalau begitu ajarkan aku” pintanya.
“kau tidak perlu belajar dariku, kau hanya perlu yakin pada dirimu sendiri. Hanya….coba seimbangkan antara fikiran dan kekuatanmu. Pasti kau bisa mengontrol kekuatanmu” jelasku. Dia berfikir mencoba memahami apa yang aku katakan.
“kalau begitu apa jenis kekuatanku? Ehm….maksudku. apa aku termasuk api, cahaya, air, udara, suara seperti kalian?” tanyanya lagi. Aku hanya tertawa mendengarnya, ‘sepertinya dia mulai tertarik dengan kekuatannya’.
“aku akan jelaskan semua padamu biar kau tidak banyak Tanya seperti ini?” dia terliahat sangat ingin tahu.
“kau ini bukan Ksatria seperti kami, jadi kekuatanmu tidak sama dengan kami bahkan…. melebihi kami karena kau ini seorang Tochi kekuatanmu setara dengan Saihi fernrir yang bisa mengendalikan semua unsur didunia ini. Tapi bedanya kekuatanmu lebih mengarah pada kebaikan sedangkan Saihi Fenrir sebaliknya” jelasku panjang lebar. Aku bisa melihat ekspresi tidak faham diwajahnya.
“sudahlah……nanti kau akan mengerti sendiri. Sekarang ambilkan aku minuman
Aku sangat haus setelah menjelaskan banyak kepadamu” mencoba menghilangkan kebingungannya. “sudah cepat sana!!!!!” mendorongnya untuk berdiri.
“ih-oppa! Iya-ya akan aku buatkan. Tapi…….ada satu lagi”
“apa?”
“saat melawan Saihi Fenrir, apa yang harus kulakukan” tanyanya untuk yang kesekian kali.
“ehm………….kau hanya perlu bersinar!!!!!” ucapku semakin membuatnya binggung dan dia benar-benar pergi sekarang.

End of Jinki pov

Hyosoo pov

Aku berjalan kedapur untuk membuat mie ramen, entah kenapa aku lagi ingin makan itu sekarang. Tapi aku tidak sengaja melihat Siyoung masuk kekamar Jinki. Aku membiarkannya begitu saja dengan segala fikiran buruk dikepalaku.
Aku memulai untuk memasak tapi fikiranku melayang entah kemana. Aku memotong cabe untuk penyedap, onion dan beberapa sayuran. Fikiranku masih menerawang bahkan aku tidak memperhatikan apa yang aku potong.
~kemarin dengan Kibum,Tadi pulang sekolah dngan Minho, dan baru saja dengan Jinki~ aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menyadarkanku ‘apa yang sudah aku fikirkan. Apapun itu, bukanlah urusanku’ dan sekarang aku merasakan tanganku yang aku potong sendiri.
“auch!” ujarku kesakitan dan tiba-tiba seseorang memegang jariku itu, meletakkan kemulutnya. Menghisap pelan darah dijariku itu. Aku hanya melihatnya terpaku tidak kusangka ternyata kibum yang melakukan itu. ‘aduh jantungku berdetak kencang lagi’ setelah dia melepaskan jariku dia mengambil kotak P3K yang ada didapur. Dan membalut lukaku dengan hati-hati. Dia memperhatikanku yang hanya diam.
“mianhae! Aku sudah lancang” kali ini aku tidak bisa membiarkan diriku tetap diam.
“ah-tidak, justru seharusnya aku yang berterima kasih…
Gomawo!!!!” ucapku. Dia tersenyum dan melihat apa yang aku lakukan tadi, dia meihat potongan-potongan sayur yang berantakan dan air yang sudah mendidih serta sebungkus mie ramen disamping kompor.
“mau kubantu?” tawarnya.’apa yang harus kujawab’
“ahh~ tidak perlu nanti merepotkan” jawabku kikuk. Dia langsung melanjutkan memasak mie ramenku yang tadi sempat terhenti. Dia terlihat ahli dalam hal ini, bahkan sekarang terlihat aku yang membantunya memasak.

End of Hyosoo pov

Your pov.

Aku masih tidak mengerti apa yang dijelaskan Jinki oppa, tapi sepertinya aku harus berusaha keras untuk mengendalikan kekuatanku. ‘menyeimbangkan antara fikiran dan kekuatan’ tapi…..apa maksudnya dengan ‘kau hanya perlu bersianar’ ah….aku bener-bener pusing gara-gara ini. Kenapa dulu dia datang padaku, kenapa tidak membunuh bayi yang lain, dan kenapa ummaku menyelamatkanku? ‘ummaku’ kenapa aku tidak kefikiran ini. Demi ummaku, aku akan mengalahkan Saihi Fenrir itu. Aku akhirnya pergi setelah lama terdiam didepan pintu kamar Jinki.
‘ahh~Jinki oppa kenapa harus aku yang memebuatkannya minuman?’ fikirku dalam perjalanan ke dapur. Untung kamarnya ada dilantai bawah, jadi tidak perlu repot naik turun.
Aku hendak masuk kedapur, tapi tidak jadi. Karena melihat Kibum dan Unnieku. Mereka lagi asyik memasak. Aku tidak mau mengganggu mereka, aku urungkan niatku untuk buat minuman ‘masa bodoh dengan Jinki oppa’.
Aku kembali kekamarku. Tapi saat melewati kamar Minho aku malah kefikiran dia. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku sampai membuatku penasaran dengan apa yang dilakukan minho didalam kamar. Aku berniat mengintipnya dari lubang kunci yang ada dipintu. Aku membungkukkan badanku untuk melihat.
“apa yang kau lakuakan?” Tanya sebuah suara diatas kepalaku yang sangat kukenal. Aku menengok keatas untuk memastikan ‘aduh! Aku mati gaya, mau taruh dimana mukaku?’ aku mengembalikan posisiku menjadi berdiri.
“ehm…..ehm….aku tadi lihat kupu-kupu dipintu!” jawabku cepat setelah berfikir mencari alasan.
“mana?” tanyanya meragukanku. “dasar penguntit” singgungnya. ‘aish~aku ketahuan’.
“aku bukan penguntit” teriakku di mukanya dan berlari masuk kamarku yang memang disamping kamarnya. Membanting pintuku keras-keras.
Aku merosotkan tubuhku, menghela nafas lega. ‘untung aku bisa menghindar’

End of Your pov

Minho pov

“dasar gadis aneh” gumamku didepan pintu. Aku malah tidak jadi keluar dan masuk lagi kekamar. Dan sekarang berbaring di ranjang, memegangi bibirku. Teringat kejadian saat pulang sekolah ‘apa yang sudah aku lakukan tadi pasti membuatnya salah paham, pasti dia mengharap sesuatu yang lebih sekarang’ tapi aku malah terbayang wajahnya dan tanpa aku sadari sebuah senyuman simpul tersemat dibirku.

End of Minho pov

*****

Malam harinya,

Hyosoo pov

Sungguh aku tidak bisa tidur malam ini, wajah Kibum selalu terlintas dianganku. Gelisah tak tentu samapi memejamkan matapun aku tak bisa. Aku akhirnya menyalakan lampu meja kamarku. Bangkit dan duduk di kursi samping ranjangku, aku menopang dagu dan terbawa lamunan. Aku terfikirkan sesuatu ‘surat’ hanya itu yang bisa mengurangi beban fikiranku.
Aku mengambil selembar kertas surat dan tentunya alat tulis. Mencoba menuliskan sedikit perasaanku disana. Kata demi katapun kutulis mengalir begitu saja dikertas itu. Dan saat akan mengakhirinya, aku ragu untuk menulis namaku. Aku menimbang-nimbang, ‘kalau dia tahu perasaanku? Bagaimana dengan persaanya terhadapku? Bukankah dia waktu itu bersama Siyoung. Nanti aku malah membuatnya tidak enak denganku. Dan aku juga harus menghargai persaan Siyoung, kalau memang benar mereka ada hubungan’
Akhirnya aku hanya bisa menulis

Penggemarmu
Mie Ramen

Yang terfikirkan diotakku hanya itu. Aku melipatnya perlahan dan memasukkannya kedalam amplop berwarna merah muda / pink.
Aku mersa beban dihatiku mulai berkuarang. Tersenyum memandangi surat itu di meja dan perlahan mulai tidur.

End of Hyo soo pov

Kibum pov

Hari ini aku berangkat sekolah lebih awal, tidak bersama yang lain karena kemarin bukuku yang kupinjam diperpus tertinggal di bangku sekolah. Aku harus menemukannya sebelum ada orang lain yang menemukannya, atau aku akan didenda oleh pihak perpus.
“kenapa aku kemarin bisa lupa sich?” keluhku sepanjang jalan di bus.
Saat tiba disekolahan, ternyata masih sepi hanya ada beberapa murit. Aku menghela nafas lega ‘semoga tidak ada yang menemukannya’.
Aku berlari dari halaman depan sekolah sampai menuju kelasku. Saat mau masuk kelas aku melihat Hyosoo disamping bangkuku, dengan cepat aku menyembunyikan diriku ingin tahu apa yang dia lakukan disitu. Aku mengintipnya dari jendela. Dia meletakkan sebuah amplop berwarna merah muda di bangkuku, kemudian dia beranjak pergi. Karena takut ketahuan aku langsung bergerak menjauh, bersembunyi darinya.
Dia telah keluar dari kelasku, akupun perlahan masuk kelas berjalan menuju bangkuku. Seketika aku lupa tentang bukuku. Aku mengambil amplop itu ‘sebuah surat’ pikirku. Aku membolak-balikkan surat itu dan mengamatinya. Aku berniat untuk membuka dan membacanya tapi aku teringat buku perpustkaan itu sehingga aku langsung memasukkannya kedalam tasku dan memerikasa bangkuku. Ternyata masih ada disana, aku mengelus dadaku lega.

End Of Kibum

To be continued

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

My Prince Saranghae – Part 2

Author : ciiciiminie

Cast : Minho , Key . all Shinee Member

AUTHOR POV

Semua mata kini menuju kearah seorang gadis yang berjalan menyusuri lorong sekolah tersebut dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Pria – pria yang dilewati oleh gadis itu memandang kagum akan kecantikan dari si gadis, sementara yang wanitanya tidak sedikit yang memandang sirik pada gadis itu, yang tak lain adalah Hye Sun. Hye Sun tetap berjalan dengan senyum riangnya tanpa memperdulikan orang – orang yang memperhatikannya.

Bukan hanya karena wajah cantiknya yang membuat orang kini memandangnya, tetapi melainkan penampilan Hye Sun yang terlihat cukup mencolok dibandingkan dengan siswa lainnya. Seragam sekolah yang berupa  kemeja putih yang dilapisi blazer hijau dan rok yang 15 cm dari lutut yang press body, rambut yang dicat picat dengan extasion pink di beberapa helai rambutnya, 4 buah anting yang berjejer dkuping kanan, dan 3 buah anting dikuping kiri membuat sukses Hye Sun menjadi perhatian di hari pertamanya bersekolah.

Hye Sun POV

“Apa kau kenal dengan murid di sekolah ini yang bernama Minho ???” aku bertanya pada teman sebangkuku yang bernama Ara. Dialah teman pertamaku di sekolah ini.

“Maksudnya Choi Minho ??” Ara bertanya balik yang kubalas dengan anggukan kepalaku. “Iya, dia salah satu murid yang popular disini”

“tidak heran, dia kan cakeppppp . . . seperti pangeran yang ada di dongeng – dongeng” ucapku sambil membayangkan wajah ganteng nan rupawan milik Minho .

“Bagaimana kau bisa mengenalnya ??? Kau kan anak baru” Tanya Ara tak mengerti

“Dia itu pangeranku, dan aku kesini datang untuk menjemput pangeranku” balasku dengan senyuman.

Ara tiba – tiba saja tertawa mendengar ucapanku “hey, mana ada puteri yang menjempu pangeran, yang ada seharusnya pangeran yang menjemput sang puteri” ujarnya masih dengan tertawa.

“Terserah, aku tidak peduli” jawabku dingin. Entah kenpa aku merasa tersinggung dengan ucapan Ara. Dan di hari pertama aku sudah memusuhi orang pertama yang menjadi temanku itu.

@@@@

Aku berjalan mengelilingi sekolah yang luas ini dengan satu tujuan, yaitu menemukan My Prince Choi Minho. Aku ingin menemui untuk memberi roti dan susu seperti biasanya, karena aku tadi tidak menunggunya di jalan yang biasa dilaluinya.

Aku membuka pintu yang bertuliskan perpustakaan diatasnya. Sepertinya hanya ruangan ini yang belum aku masuki di gedung bagian barat ini. Aku masuk kedalam dan menyusuri rak – rak besar yang berisikan buku – buku.

“Aku menemukanmu!” ucapku senang sambil memnadangnya. Matanya yang bulat besar itu seketika juga menjadi bertambah besar, karena terkejut. Aku senang akhirnya aku bisa menemukannya disudut perpustakaan ini.

“Mau apa kau ??” tanyanya masih dengan  nada dinginnya

“tentu saja untuk bertemu denganmu” aku berkata sambil memeluk lengannya yang kokoh. “dan juga memberikan ini” aku meletakan roti dan susu strawberry yang kubawa ketangannya “tadi aku tidak sempat menemui ditempat biasa karena aku harus menemui kepala sekolah. Dan kau tahu sekarang kita satu sekolah” ucapku bangga

“terserah kaulah” Minho lalu berjalan pergi menuju pintu perpusatakaan meninggalkanku sendiri. Aku lalu mengejarnya dan mengandenng tangannya. Awalnya ia berontak, namun akhirnya memlilih diam. Kami lalu berjalan bersama. Aku membalikkan badanku dan memperhatikan sekeliling, aku merasa ada yang memperhatikanku. Tapi, sepertinya hanya perasaanku saja.

^^ ^^ ^^

‘Apaa  – apaan mereka ini ??? Seenaknya aja maen tarik – tarik. Dasar tidak berpendidikan.

“YA! Lepaskan aku” aku berontak, berusaha melepaskan cengkeraman tangan 2 wanita yang tidak aku kenal ini. ‘tanganku perih. Kuku mereka menyakiti kulitku’

“Heh anak baru!” tiba – tiba saja sudah ada seorang yeoja lagi didepanku, dan sepertinya dia otak dari semua ini. “Gag usah belagu yah kalau masih baru disini. Gag usah sok sok gaya deh. Disini selokah bukan tempat buat mejeng” cecarnya

“SO WHAT!!” balasku menantang, ‘siapa dia beani – beraninya ngancem aku’

“KAU  . . .” tangannya kini sudah terangkat hendak menamparku.

“Jessi!” tiba – tiba saja terdengar suara seorang yeoja berteriak “lepaskan dia atau kau akan mendapat masalah dengan pihak sekolah” ancam yeoja tersebut yang tak lain Ara. Dan sepertinya gertakan Ara cukup berhasil, karena mereka lalu pergi meninggalkanku.

“buat apa kau kemari ?” tanyaku ketus

“Aku sudah menolongmu, tidak akah ucapan terima kasih ?” ujarnya lembut

“gag sudi” aku lalu berjalan meninggalkannya di belakangku.

“ini, tanganmu berdarah” Ara menyodorkan tisu kehadapanku. Aku tetap cuek dan melanjutkan jalanku menuju gerbang sekolah  untuk pulang, namun tangannya kini menahanku “lukamu harus dibersihkan kalau tidak nanti infeksi” lalu tiba – tiba saja tangan halus Ara mengusap tanganku yang berdarah akibat kuku dua yeoja tadi. Aku memandang Ara yang masih mengelap tanganku, tiba – tiba saja aku teringat seserorang – seseorang yang selama ini begitu kurindukan, Seserang yang tak akan pernah kutemui lagi.

TBC

buat yang udah baca ni FF dari awal makaih yahh . Buat admin yang juga udah publish ni FF juga makasih banyak *deep bow*. Mungkin ni FF bakal agag lama lanjutannya. Hal ini bukan karena faktor kesengajaan, melainkan karena kesibukkan sekolah aku yang semakin padat mengingat aku sudah duduk di kelas 3. Dan sekali lagi makasih untuk semua reader, admin dan penghuni blog ini. ^____^

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

GRANDPA, GRANDPA – Part 4

Main cast : Key SHINee

Supported cast : SHINee, imaginary character

CHAPTER 4

“Buatkan teh untuk Alexis,” perintah bibi Song pada salah satu pelayan muda saat Alexis datang ke rumahnya. Lex memandang adik ipar ayahnya itu. Bibi Song duduk dengan anggun. Sikapnya angkuh. Lex paling benci orang seperti ini.

Paman Song, yang udah ketularan sifat istrinya itu, duduk di sebelah bibi. Ia bersikap seolah-olah tidak tahu maksud Lex berkunjung.

“Annyeong haseyo,” sapa Lex hormat.

“Wah,” bibi Song tertawa sembari menutup mulutnya. “Keponakanku ini manis sekali. Kukira Margaret tidak pandai pilih sekolah,”

“Ibu saya memang bukan orang Korea, tapi saya cukup beruntung karena seorang bermata biru tidak kalah mental dengan penghuni rumah ini yang hanya bisa bersembunyi di balik harta,” ujar Lex. Tajam menusuk. Rahang paman Song mengeras. Istrinya tidak kalah emosi.

“Jadi dengar, anak manis. Kalau kamu ke sini cuma mau menuntut atas masalah yang dihadapi ayah, yah, kau tahu, krisis masa tua,…”

“Ini rumah kakek. Saya hanya menuntut hak kakek,” ujar Lex menahan emosinya. Dia nggak suka pasangan ini. Dia nggak suka bibi Song mengatakan sesuatu yang jelek seperti itu.

Sabar, Lex…emosi tidak menyelesaikan masalah.

“Kakek merasa nggak nyaman di sini. Saya hanya minta kakek kembali ke…”

“Ayah pergi karena beliau memang ingin pergi,” tegas paman Song. Ia tidak mau didikte oleh anak SMU macam Alexis.

“Terima kasih, tapi saya belum selesai. Saya hanya minta kakek kembali, dan tolong tidak ada lagi di rumah ini yang menyinggung warisan kakek. Karena itu yang menjadi alasan kenapa kakek meninggalkan rumah ini,”

“Orang tua memang mudah merasa tidak nyaman,” bibi Song mengeluh. “…dan anak mudah gampang sekali tergugah,”

“Kakek meninggalkan rumah ini, bukan karena tidak nyaman dengan pembicaraan warisan atau apapun yang kalian pikir membuatnya pergi. Kakek meninggalkan rumah ini agar anak dan menantunya merasa lebih nyaman,” ujar Lex menahan emosinya. “Merasa…lebih…nyaman!”

Terlihat perubahan di wajah paman Song. Tiba-tiba terlintas wajah ayahnya di benaknya. Wajah hangat yang selalu merangkul pundaknya ketika dia merasa gagal. Merasa jatuh. Merasa kalah. Raut wajah yang seolah menyiratkan ketenangan seorang ayah dalam menghadapi masalah. Ketegaran.

“Nggak apa-apa jadi keeper. Kalo tak ada keeper tim lawan akan mudah mencetak gol dan tim-mu kalah. Keeper bukan pelengkap, bukan pembantu. Keeper itu penjaga.”

Itu ucapan ayahnya waktu ia menangis karena hanya terpilih menjadi keeper di tim sepakbola SMP-nya dulu.

“Keluar kamu, Alexis!” bentak paman Song. Lex sudah menduga reaksi pamannya. Ia membungkuk memberi hormat dan melangkahkan kaki keluar. Alexis lega. Setidaknya ia tidak menghadapi paman dan bibinya dengan emosi yang meluap-luap.

Bibi Song memandang suaminya.

“Setelah sekian tahun ini,…” ujarnya. “Akhirnya kau menangis,”

$$$$$$$$$$

“Hyung lagi ngapain?” tanya Tae Min pada Jong Hyun. Sedari tadi ia penasaran ngeliat Jong Hyun sibuk membersihkan bagian bawah sniker kesayangannya.

“Nih, ngebersihin bekas permen karet. Dasar tuh cewek emang nggak sekolahan. Udah dibilangin berkali-kali ‘never litter’, masih aja buang bekas permen karetnya di mobil. Kena sepatuku, nih!” gerutu Jong Hyun sembari mengikis permen karet yang udah terlanjur lengket banget gara-gara baru disadari kemarin.

“Maksud hyung, Reese-noona?”

“Ga usah panggil noona, kalian seumur kok,”

“Emang dia buang bekas permen karet di mobil kita ya? Ya ampun,…sini hyung, aku bantuin,” Tae Min mengambil pinset hendak membantu.

“Aduuuuhhh…susah amat sih lepasnya! Awas tuh si Reese!” Jong Hyun mengikis snikernya dengan kesal.

Jong Hyun emang pembersih. Cowok paling higienis di SHINee. Dia paling nggak suka sama sesuatu yang nggak teratur dan nggak bersih.  Insiden permen karet ini bener-bener bikin dia jengkel. Permen karet itu lengket, susah ngebersihinnya kalo udah lengket, mana niupnya susah lagi. Hihihi. Sebenernya yang paling bikin Jong Hyun sebel sama Reese adalah karena Jong Hyun nggak bisa niup permen karet. Jangankan balon gede, bikin balonnya aja dia nggak bisa.

“Udahlah, beli yang baru aja,” ujar Key sambil mengunyah rotinya. Jong Hyun mendengus.

“Ini sepatu kesayanganku, tahu! Nggak ada sepatu lain yang bisa gantiin,”

“Segitunya,”

“Aku kalo udah sayang sama barang, nggak mau ngegantinya sama yang lain,…aduh…mau pake minyak tanah kali ya baru ilang?”

“Dasar sentimental,” ujar Key. Jong Hyun mendelik sebel. Si Key ini bukannya ngebantuin, malah ngeledekin.

“Kalo udah sayang sama Alexis, emangnya kamu mau nyari yang lain?”

“Loh, kok jadi Alexis yang dicemplungin?”

“Analogi,” sahut Jong Hyun cuek tapi senang karena berhasil membalas Key.

“Alexis kok dianalogiin sama sepatu sniker,”

“Segitunya,” Jong Hyun meniru ucapan Key. “Dasar sentimental”.

Tae Min melerai keduanya. Akhirnya setelah menjalani perjuangan yang cukup melelahkan, bekas permen karet itu bisa lepas juga. Tae Min segera membuangnya ke tempat sampah setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam kertas biar nggak nempel sama sampah yang lain.

Min Ho masuk ke ruang tamu sambil menggenggam ponselnya. Kemarin ponselnya nginep di tangan Jong Hyun gara-gara temannya itu mau buat perhitungan sama Reese, sohibnya Alexis.

“Jong Hyun, kamu bener-bener ngirim SMS ini ke Reese?” tanya Min Ho. Jong Hyun mengangguk.

“Biar rasa tuh cewek,” ujarnya cuek.

“Ah, kejam banget nih SMS,”

“Biarin,”

Key dan Onew ikutan ngebaca inbox dan sent item di ponsel Min Ho. Trus mereka cekikikan. Jong Hyun kelewatan ah. Segitunya dia sentimen sama yang namanya permen karet. Cuma gara-gara nggak bisa niupnya doang. Ckckck.

“Eh, kayak kenal!” Onew nunjuk siaran MTV yang lagi ditonton Key. Mereka menoleh. Bukan MTV dalam negri. Dan kayaknya bukan siaran langsung. Soalnya pake bahasa inggris dan nggak ada tulisan LIVE nya. Seorang cewek berambut ikal sedang ngebawain acara MTV yang bintang tamunya…ya ampun! Justin Bieber! Idola remaja yang lagi naik daun.

“Oh my GOD! Itu kan Reese Terry!” seru Tae Min takjub.

“Iya tuh! Sohibnya Alexis!” sahut Key.

“Ya Tuhan! Dia VJ MTV???”. Jong Hyun cuman bisa bengong nanggepin seruan takjub temen-temennya. Reese? VJ MTV? MTV?

“Oh, orang penting toh,” nggak tahu kenapa cuma itu yang keluar dari mulut Jong Hyun. Dia bener-bener nggak nyangka kalo kemarin dia baru aja ngedamprat abis-abisan tuh VJ MTV. Hihihi.

$$$$$$$$$$

SHINee jalan lagi. Kali ini tanpa tujuan. Mereka suntuk banget kalo cuman ngabisin waktu senggang di depan TV. Lagian Jong Hyun udah capek mempertahankan gengsinya pas diledekin temen-temennya pagi tadi.

“Kim Jong Hyun emang keren, belum ada di antara artis SM yang pernah ngedamprat abis VJ MTV,”

“Reese keren deh!”

“Jadi kamu sukanya sama Alexis atau Reese??”

“Loh kok jadi disuruh milih?” blablablabla…

Jong Hyun berdecak sebal. Akhirnya ia mengajak teman-temannya itu untuk menghabiskan waktunya di luar.

“Kemana kek gitu. Suntuk di rumah mulu,” ujarnya.

Kali ini giliran Key yang bawa mobil. Ia memainkan setirnya membelok ke pelataran halte. Tiba-tiba ia menginjak rem. Matanya tertumbuk pada seorang cewek yang lagi duduk di halte. Ngapain Alexis di halte siang-siang gini?

Hi, Lex!” sapa Key menepikan mobilnya di halte, mumpung belum ada bus yang lewat. Lex tampak terkejut melihat kedatangan SHINee.

Hi!” Lex memasang wajah ceria.

“Mau kemana?” tanya Tae Min dengan senyum polosnya.

“Jengukin grandpa,” jawab Lex.

Need a ride?” Key menawari tumpangan. Kali ini Lex menggeleng. Key turun dari mobilnya nyamperin cewek yang baru-baru ini mampir di kepalanya. Key mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Kamu ada masalah?” tanyanya. Tahu aja, batin Alexis. Ia tersenyum dan menggeleng. Tapi Key bisa menangkap wajah sedihnya.

“Ya udah. Nggak apa-apa kalo nggak mau cerita. Tapi kalo butuh telinga buat cerita dan bahu buat nangis, punya nomorku kan?” Key tersenyum. Lex memandangnya sejenak.

Thanks a lot, that’s a very nice of you,” jawabnya. Jantung Key seakan memompa darahnya lebih cepat. Dia suka banget sama senyumnya Lex. Key beranjak pergi.

“Key!” panggil Lex setelah Key masuk ke dalam mobilnya.

“Hm?”

“Um…gamsahamnida, mannaseo bangapseummnida. Choaheyo,” ujarnya tersenyum. Key melongo untuk beberapa saat. Kayaknya baru kali ini Lex bicara bahasa Korea padanya selain “Nggak tuh,” atau “apa?” atau yang lain yang sekedarnya aja (kecuali pas Key nyamar jadi kakeknya). Dan Lex bilang Choaheyo. Aku suka kamu. Choaheyo…choaheyo…choaheyo…Onew cuman geleng-geleng kepala ngeliat Key nyetir sambil senyam-senyum sendiri. Kadang-kadang mulutnya komat-kamit. Choaheyo,…aku suka kamu.

$$$$$$$$$$

Lex melambaikan tangan ke arah kakeknya beserta penghuni Hamkke lainnya. Pamit pulang, hari ini ia ngobrol dan menangis cukup lama dengan kakeknya. Ingatan Lex kembali berputar ke obrolan mereka tadi. What a nice afternoon with grandpa.

“Kakek senang sekali kamu mau kakek tinggal bersama kalian,”

“Nah! Berarti kakek setuju kan?”

Kakek tertawa.

“Lex, Lex, kau ini masih sama seperti dulu. Tidak pernah mendengarkan orang bicara sampai selesai,”

“Grandpa,…I’m not like that,”

“Tapi kakek mencintai mereka, mereka ibarat teman-teman seperjuangan kakek,”

“Lho? Kakek kan ketemu mereka baru…pas kakek tinggal di hamkke kan?”

“Lucu memang, kami seperti sudah kenal lama. Teman-teman dan kakek itu seperti bolpoin tinta dan tutupnya. Jika mereka tidak ada, maka keringlah kakek,”

“Kakek nggak butuh kami?”

“Lex, jika kakek boleh memilih, kakek akan minta kepada Tuhan, minta dihidupkan kembali setelah mati, agar bisa menikmati waktu lebih lama dengan kalian tanpa harus memilih akan tinggal di mana dan dengan siapa…” mata kakek menerawang. Lex nggak bisa nahan air matanya lagi. Kakek mengelus kepalanya cucunya itu.

“Kakek hanya bisa berharap kalian bisa mencintai kakek meskipun kakek dengan egoisnya menentukan pilihan,”

Lex menangis lagi, kali ini di kamarnya. Reese hanya diam. Dia hafal perangai Lex. Kalo lagi nangis bombay gitu trus ditanya-tanyain, Lex juga nggak bakal ngomong apa-apa. Yang bisa Reese lakukan sekarang hanya memeluk sobatnya itu dan mengelus bahunya.

I’ll be waiting whenever you wanna share, girl…” ujar Reese dengan suara serak. Dia emang nggak bisa liat orang nangis. Apalagi Reese tahu masalahnya. “Every single word. No matter how long it takes” lanjutnya tersenyum. Lex memeluk Reese hingga dirinya tenang. Reese bukan orang yang suka menuntut haknya sebagai sahabat. Itu yang bikin Lex nyaman bersahabat dengannya. That’s what a true friend is for.

$$$$$$$$$$

Malamnya Key nggak bisa tidur. Sejak kejadian di halte tadi ia makin nggak bisa menyingkirkan bayangan Lex dari kepalanya. Lex yang jutek, Lex yang bahasa Koreanya masih limit, Lex yang menangis, Lex yang sayang sama kakeknya, Lex yang jago dance, Lex yang tersenyum, dan Lex yang bilang choaheyo padanya. Aku suka kamu.

Key menutup wajahnya dengan bantal. Wajahnya panas. Jantungnya nggak berhenti berdetak kencang, bahkan saat Lex lagi nggak ada di dekatnya. Dia bahkan nggak peduli saat personil SHINee yang lain menyenandungkan kata choaheyo berkali-kali.

Alexis Song, Alexis Song, Alexis Song, quit driving me insane!

“Aku nggak mau tidur sama Key,” ujar Min Ho. Lama-lama dia ngeri juga ngeliat tingkah Key yang jadi rada nggak beres itu.

“Kita tidur berempat ya,” lanjut Min Ho lagi.

“Ogah, sempit!” tolak Jong Hyun.

“Ayolah,…” rengek Min Ho memohon. Terdengar lagu Cover On My Heartnya Guy Sebastian dari kamar Key dan Min Ho. Nah, si Key emang lagi mellow nih. Min Ho semakin merengek-rengek. Akhirnya dia dibolehin buat numpang tidur di kamar ketiga personil SHINee lainnya.

Key berguling-guling kayak orang mabok pas radio muterin lagu Cover On My Heartnya Guy Sebastian. Padahal tuh lagu kan rada menyayat hati mengiris jantung. Tapi Key nggak peduli. Dia cuman ngambil yang enak-enaknya aja. Enak didenger tuh lagunya. Hehe.

Bicara soal lagu, Lex juga sama. Di kamar hotelnya ia memainkan gitarnya. Gitar SIESS biru donker hadiah dari paman Song pas ulang tahunnya yang keempat belas lalu.

“Nih, katanya kau mau main gitar, ini spesial untuk keponakan paman Song tersayang”

Lex memetik senar dengan posisi nada C mayor. A minor. F dan G mayor. Kemudian terlintas sebuah ide di kepalanya. Lex segera mengambil buku berwarna biru pastelnya dan pulpen. Ia menulis kata-kata yang terlintas di kepalanya. Menyesuaikan dengan kunci gitar. Menulis lagi. Menggenjreng senar gitarnya. Menulis lagi.

Ia mengulang kembali lagu ciptaannya itu. Kemudian menuliskan judulnya dengan pulpen biru berglitter.

THE KEY OF MY HEART

To be continued…

Hehe…gomawo udah baca, penulis berharap tulisan yang mungkin rada geje alias ga jelas ini bisa dinikmati…

Gamsahamnida! ^^

-peppermintlight-

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

In My Room

Cast:

– Lee Jinki (SHINee)

– Kang Yana (OC)

-Lee Taemin (SHINee)

Author: Finka a.k.a FinTaemin

Rating: PG-13

Length: One Shot

Genre: Romance

Disclaimer: I don’t own all the cast, but I do own the story

Annyeong semuanya~ ini ff pertama yang saya publish loooh hehe *ga nanya* ceritanya yaaa terinspirasi dari lagu In My Room-nya SHINee, jadi disarankan bacanya sekalian dengerin tu lagu *halaaah* tapi mian sebelumnya kalo ff ini ga bisa sebagus lagunya, maklum saya pemula *bow* udah ah sekian dari saya. Enjoyyy~

—- — —-

Lee Jinki POV

Aku mematikan mesin mobil dan segera turun. Sekarang aku sudah ada disini. Korea Selatan, Seoul, tepatnya didepan rumah kedua orang tuaku. Setelah kuperhatikan, ternyata hampir tidak ada yang berubah dalam 3 tahun ini. Aku melangkahkan kaki-ku ke depan pintu rumah ini dan menekan bel-nya.

“Jinki-hyung!”, Taemin langsung memelukku sesaat setelah ia membukakan pintu.

“Ya, dongsaeng-ah~ Jangan memelukku seperti ini”, Ucapku. Ia lalu melepaskan pelukannya.

“Jeongmal bogoshipoyo~ Apa hyung tidak merindukanku?”, Tanya Taemin.

“Anni..”, Jawabku, lalu disusul dengan muka bete Taemin.

“Uh, hyung jahat..”

“Aku bercanda Taemin-ah~”, Ucapku sambil mengacak rambutnya. Taemin langsung menyunggingkan senyumnya.

“Ayo masuk!”, Ajak Taemin. Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya memasuki rumah ini.

“Ohya, Mana koper hyung?”, Tanya Taemin seraya menyuguhkan orange juice padaku.

“Hmm.. Ada di mobil. Kau ambilkan ya?”

Ia mengangguk. Aku melemparkan kunci mobilku padanya.

“Hyung tidak lupa membawakanku oleh-oleh kan?”

“Cari saja~”, Ujarku. Ia tersenyum lebar, lalu berlari keluar dari rumah.

Huh.. sepi sekali. Mana Eomma? Aku segera beranjak dari sofa, lalu berjalan menaiki tangga. Langkahku terhenti didepan sebuat pintu. Bukan, bukan pintu kamar Eomma. Tapi kamarku yang lama. Kamar yang menyimpan separuh kenangan dalam hidupku.

Aku menggerakkan tanganku ragu. ‘Krek’  Pintu ini terbuka. Pandanganku terus menjelajahi seluruh bagian kamar ini. Setiap benda yang ada tertutup kain putih. Aku menutup pintu ini rapat, lalu melangkahkan kaki-ku masuk kedalam. Aku tersenyum. Terlalu banyak kenangan yang aku tinggalkan disini..

Aku kembali melangkahkan kaki-ku, kali ini ke arah tempat tidur. Kusibakkan kain putih besar  yang menutupi permukaannya. Aku merbahkan diriku diatas ranjang ini, nyaman.. Pandanganku terhenti pada meja kecil yang ada di sebelah tempat tidur ini. Aku membuka laci kecilnya, dan.. tebak apa yang aku temukan? Pigura, berisikan fotoku dengan sahabatku, Kang Yana. Aku menatap foto itu lekat-lekat. Disitu aku tersenyum lebar sambil melingkarkan tanganku dilehernya, dan dia tersenyum manis seraya menjukkan kedua jarinya yang membentuk ‘V’; Muka kami dipenuhi krim tart ulang tahunku.

Kukeluarkan foto itu dari pigura, dan membaliknya. 14/12/2005, tepat dihari ulang tahunku yang ke-16. Dan hari itu hari terakhirku benar-benar bertemu dengannya..

—- — —-

Kriiing!!!

Aku mematikan alarm yang ada di sebelahku itu, lalu menatap benda bersuara nyaring itu lekat-lekat. Jarum panjang dan pendeknya menyatu, menunjuk ke angka 12. Pukul 12 tengah malam. Aku mengalihkan pandanganku kearah pintu balkon yang tertutup tirai.

Set.. Dul.. Hana!

Kenapa ia belum datang? Aku menghela nafasku, lalu berjalan ke arah pintu itu dan menguncinya. Sudah 3 hari ini Yana tidak datang. Hmm.. mungkin kalian bingung untuk apa dia tengah malam begini datang ke kamarku, biar kuceritakan sedikit tentangnya..

-Flashback-

Darrr!!

Aku terbangun. Suara apa tadi itu? Seperti suara tembakan.

“KYAAAA!! EOMMA!! APPA!!!”

Suara itu.. Itu suaranya kan? Kang Yana, teman baruku. Keluarganya baru pindah kesebelah rumahku 3 hari yang lalu, tepat pada ulang tahun ke 9-ku. Aku takut.. Apa benar itu suara Yana? Aku segera turun dari tempat tidur. Kuberanikan diriku dan segera melompat ke area balkon kamarnya. ‘Krek’ Pintu balkon kamarnya terbuka. Gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang asalnya dari lampu tidur. Aku berjalan menyusuri kamar itu. Tangisannya terdengar semakin jelas. Aku menemukannya. Ia sedang menangis sambil memeluk lututnya di sudut kamar ini.

“Yana-ah..”, Panggilku. Ia mendongak. Aku menatap matanya yang berlinang air mata.

“Uljima..”, Ucapku. Ia hanya diam dan menatapku. Aku memeluknya erat. Ia membenamkan wajahnya didadaku, dan kembali menangis.

“ Tenanglah Yana, aku disini”, Ujarku seraya mengelus lembut rambutnya.

“Eomma.. Appa..”. Suaranya terdengar bergetar. Ada apa dengan Eomma dan Appa-nya??

Drap.. Drap..Drap..

Terdengar suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga.

“Kita harus pergi!”, Ucapku panik. Aku menggenggam tangannya erat, dan berjalan kearah balkon. Ia menatapku bingung.

“Ayo lompat!”

Aku mengangkat tubuhnya, kemudian ikut melompat ke balkon kamarku. Kami berlari dan masuk kedalam.

“Kita.. berhasil..”, Ujarku dengan nafas yang masih terengah-engah. Aku menatap Yana. Wajahnya pucat. Ia terlihat sangat ketakutan.

“Gwenchanayo?”, Tanyaku cemas. Ia menggeleng. Aku segera menarik tangannya dan menaikkannya ke atas tempat tidurku.

“Gomawo Jinki-oppa..”, Ucapnya lalu memejamkan matanya.

‘Krek’ Pintu kamarku terbuka. Eomma berdiri diambang pintu,

“Jinki-ya..”, Panggilnya, lalu menghambur kearahku. Ia memelukku erat.

“Eomma..”

“Keluarga Kang.. Mereka..”, Eomma tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menangis. Yang aku tahu setelah kejadian malam itu, Yana tidak lagi memiliki orang tua.

Sejak saat itu Eomma sudah menganggap Yana sebagai anak sendiri. Setiap hari Eomma selalu datang kerumahnya untuk membawakannya sarapan dan bekal untuk sekolah. Aku juga selalu  menemaninya. Dan satu hal yang paling ia takuti.. Tidur dikamarnya. Jadi tiap malam, Ia datang kekamarku lewat pintu balkon. Tidak.. kami tidak tidur satu ranjang. Ia tidur di tempat tidurku, dan aku di sofa. Eomma tau  itu, Taemin juga. Eomma malah senang melihatku dekat dengannya. Aku juga senang. Entah kenapa, aku menyayanginya lebih dari seorang sahabat.

-End Flashback-

Aku menghela nafasku lagi. Ia benar-benar tidak datang. Terkhir kali aku bertemu dengannya saat perayaan ulang tahunku yang ke-16. Kenapa kau tidak datang, Yana-ah? Bogoshipoyo.. Aku memejamkan mataku dan terlelap.

“Oppa..”

“Jinki-oppa..”

Sayup-sayup kudengar seseorang memanggil namaku. Aku membuka mataku malas. Siapa yang datang tengah malam begini? Ah, apa mungkin Yana?

Buram.. Aku memejamkan mataku lagi, dan membukanya cepat. Pandanganku mulai jelas, Itu.. Yana?

“Yana? Itu kau?”, Tanyaku, lalu segera berjalan menghampirinya yang masih berdiri di ambang pintu balkon.

Ia tersenyum, lalu memelukku erat. Aku terkejut. Sudah berapa lama aku tidak memeluknya? Sepertinya terakhir kali saat kejadian itu.

“Yana-ah, wae geurae?”, Tanyaku hati-hati. Ia menggeleng.

“Bogoshipoyo oppa..”, Ucapnya lalu melepaskan pelukannya.

Aku hanya bisa melongo melihatnya, Tumben sekali ia berkata seperti itu.

“Kau sakit ya?”, Tanyaku. Ia menggeleng lagi. Aku menghela nafasku. Ah, penampilannya juga berbeda.

“Kau.. memakai baju tidur seperti itu? Mana piyama kelincimu?”

Aku heran. Ia memakai baju tidur terusan warna putih polos, mungkin lebih cocok kusebut dress. Aneh.. tidak biasanya Ia berpakaian seperti itu.

“Oppa, ada yang mau kubicarakan denganmu”, Ucapnya pelan, hampir seperti berbisik.

“Mworago?”

Ia kembali diam. Aku menarik tangannya dan mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur,

“Oppa..”

Aku menatapnya. Ia tersenyum, tapi matanya memancarkan kesedihan. Aku cemas, Ia benar-benar tidak seperti biasanya.

“Aku lelah”

“Kalau begitu tidurlah..”, Ujarku sambil tersenyum. Ia mengangguk lalu merebahkan dirinya. Aku menyelimuti tubuhnya.

“Selamat tidur, Yana-ah~”. Baru saja aku beranjak dari tempat tidur, Ia menarik tanganku.

“Jangan pergi..”

“Geundae..”

“Jebal..”, Pintanya. Aku mengangguk lalu duduk disebelah tempat tidur, di lantai yang beralaskan karpet ini.

“Mianhaeyo, Aku selalu merepotkan oppa..”

Aku menoleh, tatapan kami bertemu.

“Anni, kau tidak merepotkanku”, Ucapku lalu mengelus rambutnya.

“Geundae.. Oppa tidak usah khawatir. Aku tidak akan merepotkan oppa lagi”

“Yana-ah, bicaramu aneh..”, Ujarku lalu tertawa hambar.

“Aku.. sudah tidak takut tidur sendiri lagi..”

Aku menghentikan tawaku, lalu menatapnya, “Ng.. Itu bagus bukan? Berarti kau sudah tidak tidur disini lagi?”

Ia mengangguk. Aku menatap matanya dalam-dalam. Mencoba menelisik pikirannya. Tidak terpancar kebohongan sama sekali. Benarkah ini? Tapi kenapa aku merasa sedih?

“Kau hebat..”, Ucapku.

Ia tersenyum. Kali ini senyumannya begitu tulus. Ia memejamkan matanya dan tertidur.

Aku menoleh ke arah jam dinding. 12 tengah malam. Uh? Bukankah tadi.. Mataku terasa berat, dan perlahan mulai menutup. Aku terlelap.

“Selamat tinggal Jinki-oppa.. Saranghae”

—- — —-

“Jinki-hyung.. Ireona..”

Aku membuka mataku perlahan. Uh? Taemin?

“Taemin-ah..”

“Kau mengigau ya hyung? Dari tadi kau terus memanggil nama Yana-noona. Dia kan sudah—“

“Jangan bicara soal itu”

Taemin menggangguk, “Aku tau, hyung pasti sangat merindukannya”

“Tentu..”, Aku tersenyum kecil lalu memandang foto yang sedari tadi kupegang.

Taemin segera beranjak dari tempat tidur. “Aku yakin, Yana-noona menyayangi Jinki-hyung”, Ucapnya sesaat sebelum ia keluar dari kamar ini.

Aku menghela nafasku. Mimpi tadi.. kejadian 3 tahun yang lalu. Saat aku kehilangan sahabat terbaikku, Yana. Kau tau? Paginya, ketika aku terbangun Yana tidak ada. Pintu balkon kamarku juga masih terkunci. Padahal aku yakin Yana datang malamnya. Ketika aku turun, aku mendapati  Eomma sedang menangis sambil memeluk Taemin. Yana sudah tiada, itu yang Ia katakan. Tidak percaya bukan? Awalnya aku juga. Tapi Eomma menjelaskannya. Selama ini Yana mengidap penyakit leukimia. Eomma mengetahuinya sejak lama, bahkan ia yang selalu mengantarkan Yana ke rumah sakit. Malam saat Yana datang ke kamarku, saat itu ia sedang dalam masa koma. Dan tepat pukul 12 tengah malam, Ia meninggal. Begitulah cerita yang kudengar.

Amugeotdo mollatdeon naega neomu miweoseo..

I hate myself, who didn’t know anything..

Dia sahabatku. Dia selalu ada disampingku ketika aku membutuhkannya. Tapi aku? Ia mengidap penyakit parah pun aku tak pernah mengetahuinya.

Booleul kigo bangeul dolleobonda.

I turn on the lights on and look around the room.

Aku kembali memandangi seluruh bagian kamar ini. Terlalu banyak kenangan yang kau tinggalkan di kamar ini Yana..

Heemihagae balgaoneun du nooni meomchoon geot,

Beoliji mothaetdeon saengilseonmul

Geulligo neo, geu modeun geot..

I faintly lit area where my eyes syop at,

Is the birthday present I couldn’t throw away

And everything of you..

Pandanganku berhenti pada sesuatu. Itu.. hadiah terakhir yang ku terima dari Yana. Hadiah ulang tahunku yang ke-16. Aku tak sanggup membuang ini, karena inilah satu-satunya yang tersisa darinya.

Meonji ssain sangja sokaen, Baraejin sajingwa..

Inside the dust covered box, Are faded pictures..

Aku membuka kotak itu. Didalamnya tersimpan foto-fotoku dengannya yang selama ini Ia simpan. Ia menghadiahkan ini untukku. Aku mengambil foto-foto itu satu per satu. Mencoba mengingat kembali seluruh kejadian yang kita lewati bersama..

Nae apae anjaseo, Ootgo itneun neoreul igotsae gadeuryeo haneundae..

I try to lock you in this place, Where you smile while sitting in front of me..

3 tahun lalu aku sudah mencoba melupakanmu. Aku pindah ke LA dan meninggalkan kamar ini. Meninggalkan khayalanku yang selalu menganggapmu masih ada disini dan tersenyum padaku.

Beoligo ddo beoryeodo giyeokeun, Neoreul dashi bulleo nogko.

Even if I throw it and throw away, Memories call for you again.

Tetapi aku tak bisa. Aku sudah mencoba untuk terus membuang semua kenangan yang ada, tapi kenangan itu selalu kembali dalam ingatanku.

Soomgyeonoheun uriae chueoki, Gadeuk nama cause you’re still in my room..

Our hidden memories, Fully remain cause you’re still in my room..

Air mataku mengalir begitu saja.. Kenangan yang tadinya sudah kusimpan rapat-rapat, terputar ulang dalam kepalaku ketika aku ada dikamar ini. Seakan kau masih ada disini.

Cause You were My Sun, The Moon..

Nae jeon buyeotdeon neo

Nae bangae eetneun motdeun geotdeuli, Neol geulliweohanabwa..

Cause You were My Sun, The Moon..

You were my everything

All the things in my room, seem to miss you..

Maafkan aku Yana.. Aku baru menyadari betapa pentingnya kau ketika semuanya sudah terlambat. Kau telah pergi.. Tapi kau tetap segalanya bagiku, dan bagi seluruh bagian kamar ini..

Aku yakin, malam itu kau benar-benar datang untuk menemuiku. Untuk mengucapakan salam perpisahan. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku, Saranghaeyo Yana..

–FIN–

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

SHAWOL and ME PART 3

…………..

Aku berbalik dan langsung menekan tombol geser berkali-kali agar pintu lift segera terbuka. Aku mendengar minho tertawa konyol dibelakangku. Haduh, mengerikan sekali orang ini. disaat pintu lift terbuka, aku berlari keluar karena takut sekali. Tetapi bukannya selamat, malah menabrak orang lain. Tanpa pikir panjang aku langsung membungkuk dan meminta maaf karena tadi benturannya terasa keras sekali. Masih dalam posisi membungkuk, orang yang kutabrak berkata tidak apa-apa. aku menoleh dan….ternyata tiga anggota shinee lainnya. Tetapi aku tidak melihat kehadiran taemin karena mereka memang Cuma bertiga. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
Minho: hei, dia entertainer yang baru masuk di SM hari ini, aku tidak tau namanya tapi ku panggil saja ayan. Dia aneh sih. Haha..
Ha? Tidak salah ngomong? Bukankah kau yang lebih FREAK?
Jong hyun: hei, jangan dibegitukan dong anak barunya..
Key: halo, siapa nama mu? kami tidak perlu mengenalkan diri kan? Hehe…
Saya: he? saya won hee. Ji won hee.
Key: ooh, won hee. Oh ya, selamat datang di SM! Kau harus bekerja keras di sini…
Ah~ key dan jong hyun memang anggota shinee yang paling mantab ramahnya! Aku tersenyum.
Key: oh, onew tidak mau kenalan?
Onew menggeleng. Yah, memang pemalu orangnya.
Key: ah, nanti juga terbiasa dengannya. Hmm, aku mendengar kabar bahwa orang yang baru masuk di SM belum bisa mendapatkan asrama untuk setengah tahun…jadi kau numpang asrama dengan siapa nanti?
Saya: ah, tidak tau. Bu agen yang mengaturnya.
Minho: dengan kami saja laah~ hahahaha…..
Ye, gila!
Jong hyun: agen mu bu dong hwa ya?
Aku mengangguk.
Key: wah, dia agen alternatif kami. Kau pasti akan hebat di tangannya. Hahaha…
Jong hyun: lalu, kau ini penyanyi? Artis? Atau apa?
Saya: hmm, sebisa mungkin semuanya saya lakukan.
Jong hyun: haha, bagus kalau begitu. Sukses ya! Kami harus pergi. Ada pemotretan. Oh, atau kau mau ikut untuk melihat?
Sebuah tangan merangkul ku. Itu membuat bulu kuduk ku berdiri tegak lurus karena itu tangan dari minho. Ia berkata dengan sok cool.
Minho: ayo?
Aku melepaskan rangkulannya. Sok akrab sekali. Aku tersenyum ke member yang lain.
Saya: maaf, tapi saya juga sedang dalam masalah. Terima kasih ya jong hyun-oppa, key-oppa dan…onew-oppa…
Onew tersenyum enggan.
Minho: kok aku tidak sih?
Aku mengernyitkan dahi kemudian pergi meninggalkan mereka. Tepat ketika aku hendak masuk lift, seseorang memanggilku dengan agak berteriak. Saat itu sepertinya aku ingin lari saja. Bu dong hwa lah yang memanggilku. Dia tau jadwal hari ini kacau karena aku. Aku di jewer nya.
Bu dong hwa: ternyata benar kata ibu mu, kau ini susah di atur. Bagaimana kamu ini? ini hari perdana mu disini untuk menjadi artis besar! Kau hampir saja diturunkan tau! Kalau bukan karena bakatmu, kau tidak akan selamat….bla..bla…bla….
Aku menunduk. Malu sekali. Di depan senior, aku sudah sangat memalukan.
Bu dong hwa: sekarang balik kekamar. Aku benar-benar akan membuat perhitungan dan perincian jadwal karena kau benar-benar tidak disiplin!
Aduh, aku malu sekali. Disela-sela kemarahan bu agen, aku berkata,
Saya: bu, anu…
Bu dong hwa: ha? Apa? kamu tidak mendengar saya bicara?
Saya: dengar kok… tapi tolong jangan marah disini…aku malu bu…
Bu dong hwa mendecak.
Bu dong hwa: ya. Biarkan saja biar kamu jera. Lain kali jangan lakukan ini. ayo kembali ke kamar mu.
Sebelum kembali, aku menunduk tanda pamit.
Saya: terima kasih.
Key, Minho, Jong hyun: sampai jumpa lagi. Dadaaah~ (bersamaan)
Aku dan bu dong hwa berlalu. Sejak saat itu aku tidak melihat member shinee berkeliaran di gedung SM. Sepertinya sibuk ditempat lain. Aku pun menjalani hari-hari dengan kerja keras dan serba disiplin. Aku mulai terbiasa dengan itu setelah tiga hari ku lewatkan di SM. Yang penting karirku sukses nantinya. AMIN.

***

Sesuai bocoran dari key oppa, seluruh entertainer pendatang baru tidak mendapatkan asramanya selama setengah tahun lebih karena krisis tempat tinggal sedang melanda di Korea. Korea sempit sih. Huf.
Seluruhnya sudah hampir mendapatkan tumpangan asrama masing-masing. Dan tinggal aku sendiri yang belum ditempatkan dimana pun. Aku menunggu giliranku hingga 10 hari kemudian. Aku sih tidak ambil pusing, tetapi apa aku harus tinggal di gedung ini terus?
Aku melihat kearah langit. Malam ini berawan tetapi bulan tetap terang dengan pancaran sinarnya. Aku mendengar pintu kamar ku terbuka.
Bu dong hwa: ayo cepat kemasi barang2 mu! hati2 jangan sampai benda2 penting tertinggal, ayo…bergerak cepat! Disiplin! Ayo….
Aku keheranan, mengapa mendadak?
Saya: sebentar bu, memangnya ada apa dan mau kemana?
Bu dong hwa: tentu saja pindah ke asrama…ayo cepat… kau harus sudah beres dengan kamar baru mu malam ini. besok ada pemotretan dan fitting baju. Kau harus sudah siap dan tidak boleh lelah! Makanya kau harus tidur cepat malam ini…ayo.
Aku mengemasi barang-barang ku secepat mungkin. Yang ada dalam benakku, aku satu asrama dengan siapa nanti?
Saya: maaf, apa aku satu asrama dengan SNSD atau F(X) atau siapa bu?
Bu dong hwa: maaf ya won hee…
Saya: he? kenapa minta maaf bu?
Bu dong hwa: asrama wanita sudah penuh di tempati member SM lain, jadi…aku terpaksa menaruh mu di asrama lelaki.
Saya: a..apa?? tidak salah??
Bu dong hwa: tenang saja, sudah ku atur. aku akan mengontrol mu seminggu sekali dan…penghuni nya juga baik dan sopan. mereka yang bertemu dengan mu sejak pertama kali kau di sini, tau kan kau?
Saya: hah? siapa mereka itu?
Bu dong hwa: haduh, kau ini masa tidak tau? shinee…
oh, shinee. SHINEEEEEE?????
Saya: HA?? A…apa??
Aku speechless. Pikiran ku seketika menjadi campur aduk. IT’S A GREAT DISASTER.

TBC~

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Welcome To My Dream World – Part 3

Ini terusan ff ku yang kemarin moga pada suka makasih buat yang udah comment ff yang part 1-2 mudah-mudahan masih inget ama ceritanya

SHINee Kingdom with SHAWOLINDO Kingdom part-3 *welcome to My Dream World*

^^

Seperti biasanya putri  Richan gadis manja itu merengek minta sepatu dari orang tuanya

“bukannya Minggu kemarin kamu baru beli high heels kamu?”tanya raja kibum yang mempunyai raja dari kerajaan  shawolindo

“tapi appa aku sudah bosan dengan sepatu itu lagian itu kan sudah lama sekali!!”jawab putri Richan

“sudahlah appa ikuti saja keinginan putri kita!!”ujar ratu hyun young yang selalu memanjakan putrinya

“tuh kan lagi-lagi eomma memanjakan Richan” ujar putri  min gi iri

“Yasuda kamu ini kenapa lagi min gi kalau memang ingin sepatu nanti oppa belikan”ujar pangeran min ho menenangkan

“iya nih eonni udah mau nikah sama jong hyun oppa tapi tetep aja sifat manjanya itu tidak bisa dihilangkan”kata putri Richan kesal

Iya deh chanderella nyebelin”ujar putri min gi sembari menjulurkan lidahnya

^^

”bagaimana ini appa?jonghyun sudah ingin menikah dengan putri min gi dari kerajaan shawolindo dan ririn juga akan menikah dengan pangeran min ho terus anak bungsu kita belum menemukan tuan putrinya aku cemas appa”ujar ratu sun yi pada suaminya raja jinki mereka adalah raja dan ratu di kerajaan Shine

“terus sekarang pangeran taemin ada dimana?”tanya raja jinki

“sedang main sama noona dan hyungnya”ujar ratu sun yi yang kesal karena suaminya tidak menggubris ucapannya

KAMAR PUTRI RIRIN

“noona boleh gak aku minta sepatu ini?”tanya pangeran taemin sambil memainkan sepatu noonanya kini mereka sedang bermain di kamar putri ririn kadang putri ririn sering mendandani pangeran taemin dengan dandanan ala perempuan itu disebabkan putri ririn yang dari dulu memang menginginkan adik perempuan makanya jangan heran kalau pangeran taemin lebih cantik dari putri ririn, tapi untungnya pangeran min ho lebih memilih putri ririn *yaiyalah orang putri ririn cewek*

“aish tidak boleh taeminnie ini kan hadiah dari min ho oppa!!”ujar putri ririn sambil senyam-senyum gaje

“ah noona centil”ujar pangeran taemin kesal

“taeminnie ayo temani hyung memancing!!”ujar pangeran jonghyun yang tiba-tiba muncul di kamar putri ririn

“aish hyung ini mengganggu saja gak mau aku inginnya main sama ririn noona saja hyung saja yang pergi sendiri lagian kita ini kan pangeran kalau mau ikan kan tinggal minta gak usah mancing segala”ujar pangeran taemin dengan kesal, tapi pangeran jonghyun tidak mempedulikannya dan malah menarik tangan taemin sampai halaman istana

“pangeran jonghyun kamu kenapa menarik-narik tangan dongsaengmu?”tanya ratu sun yi yang tidak terima melihat anak bungsunya sekaligus anaknya yang paling cantik ditarik-tarik oleh oppanya

“sudahlah aku sudah bosan melihat eomma dan ririn yang terus-menerus menganggap taeminnie seorang putri, taeminnie itu seorang  bukan perempuan sudah saatnya dia menjadi lelaki sejati karena dia adalah calon raja yang akan menggantikan appa bagaimanapun ririn adalah seorang perempuan dan aku meskipun aku laki-laki tapi aku hanyalah anak selir putri neul rin”ucap pangeran jonghyun dengan berkaca-kaca pangeran jonghyun memang bukan anak dari ratu sun yi tapi anak selir raja jinki yatu putri neul rin tapi bagaimana pun ratu sun yi sudah menganggap pangeran jonghyun sebagai anaknya sendiri dan ratu pun tidak keberatan apabila pangeran jonghyun yang meneruskan tahta raja jinki. Adapun alasan raja jinki mempunyai selir adalah karena ratu sun yi belum bisa mengandung barulah ketika pangeran jonghyun berusia 2tahun ratu melahirkan putri ririn dan 1 tahun kemudian melahirkan pangeran taemin

“sudahlah jonghyun kenapa kamu mengingat hal ini?biar bagaimanapun kamu tetap anak eomma”kata ratu sun yi sembari meneteskan air mata dan pangeran taeminpun ikut-ikutan menangis

“Yasudah ayolah dongsaeng naik ke atas kudamu!!”kata pangeran jonghyun memberi komando, pangeran taemin menatapnya takut-takut

“hyaaaaaa hyung kenapa tidak naik tandu saja seperti ririn noona kalau dia sedang jalan-jalan ke kediaman Minho hyung atau kenapa tidak naik kereta kencana seperti umma dan selir neul rin?”tanya pangeran taemin

“taeminnie kita itu laki-laki apa kamu pernah melihat appa naik tandu atau naik kereta kencana?”tanya pangeran jonghyun sambil menatap dongsaengnya itu

“appa suka naik kuda”kata taemin

“Yasudah tunggu apa lagi?ayo cepat naik!!”perintah pangeran jonghyun tapi pangeran taemin malah melihat kudanya dengan tatapan takut

“tapi bagaimana kalau kudanya gigit?terus kalau kudanya kabur gimana?”tanya pangeran taemin

“kau itu payah sekali jadi orang masa kamu kalah sama putri Richan”ujar pangeran jonghyun mengejek

“putri Richan siapa tuh?selingkuhannya hyung ya?aku bilangin min gi noona ah biar hyung di putusin”kata pangeran taemin balas dendam………..PLETAK…………cambuk kudapun mendarat tepat di kepala pangeran taemin

“kamu itu kalau ngomong kira-kira dong makanya jadi orang gaul dikit putri Richan itu adiknya Minho hyung dan min gi udahlah hyung capek ngomong ma kamu, kamu hyung bonceng saja”kata jonghyun saking kesalnya

“tapi bagaimana cara naiknya?”tanya pangeran taemin polos, pangeran jonghyun menghela napas panjang

“sinih naik ke punggung hyung”dengan hati-hati pangeran taemin naik ke punggung huyungnya. Pangeran jonghyun memacu kudanya lebih cepat sebenarnya alasan dia ke sungai bukan untuk memancing tapi untuk menemui kekasihnya putri min gi tapi tentu saja dongsaengnya tidak tahu karena kalau pangeran taemin tahu dia pasti akan meledek hyungnya

^^^^

”kamu mau kemana min gi?”tanya ratu hyun young yang menyadari bahwa putrinya akan pergi diam-diam

“anu mau mandi ke sungai eomma”ujar putri min gi bohong

“sama Richan juga?”tanya ratu hyun young

“aish anak manja itu mana mungkin mau mandi di sana”ujar putri min gi

“kamu eomma bolehin ke sungai kalau di temani Richan”putri min gi menuju kamar putri Richan dengan langkah gontai dia bingung bagaimana cara membujuk dongsaengnya itu

KAMAR PUTRI RICHAN

Saat putri min gi sudah sampai dia melihat pangeran min ho yang juga ada di sana

“dongsaengku yang baik hati dan tidak sombong mau gak nemenin eonnimu ini?”rayu putri min gi

“kemana?”tanya putri Richan bingung

“ke sungai eonni pengen mandi di sana”kata putri min gi dengan mata berbinar

“gak ah males kecuali kalau sebelum ke sungai eonni beliin aku sepatu baru”kata putri Richan dengan mengajukan syarat

“ih dasar dongsaeng durhaka minta nemenin aja syaratnya bejibun iya deh kita beli sepatu dulu”ujar putri min gi pasrah karena harus merelakan uang tabungannya

“aku gak di ajak nih?”tanya pangeran min ho

“gak oppa di rumah aja”kata putri min gi dia takut oppanya akan tahu kalau dia akan menemui kekasihnya

“oppa waktu itu oppa beliin sepatu buat ririn eonni dimana?aku pengen sepatu yang kayak gitu juga?”tanya putri Richan manja

“oh di toko sung ni ahjumma”akhirnya merekapun pergi meninggalkan istana

“kalian mau kemana?kenapa malah naik kuda?lebih baik naik kereta kencana kan lebih aman “kata raja kibum tentu saja putri min gi ingin naik kuda karena kalau dia naik kereta kencana pasti akan ada orang yang laporan pada appanya sebenarnya appanya juga tidak melarang kalau putri min gi berhubungan dengan pangeran jonghyun tapi bagaimanapun mereka belum sah jadi tidak boleh terlalu dekat

“sudahlah appa tidak apa-apa lagian anak manja ini juga bisa menunggangi kuda”ucap putri min gi seraya menatap putri Richan. Putri Richan malah menjulurkan lidahnya

“Yasudah hati-hati jangan terlalu sering bertengkar”ujar raja kibum sambil tersenyum

^^^

”Chanderella kamu mandi duluan aja ya!eonni mau jalan-jalan sebentar”kata putri min gi berbohong padahal sebenarnya dia akan menemui kekasihnya

“ne baiklah tapi sepatuku?apa harus di copot?”tanya putri Richan karena sepatunya baru dan kebetulan itu adalah sepatu yang sangat diinginkan putri Richan karena sepatu itu benar-benar sama persis dengan sepatu yang diberikan pangeran min ho untuk putri ririn

“kamu simpan  saja disini lagian gak akan ada yang nyuri memangnya kamu rela kalau sepatu barumu ini kebasahan?”tanya putri Min gi akhirnya dengan berat hati putri Richan melepas sepatunya.

Pangeran taemin yang sedang bosan karena tidak berhasil memancing ikan satupun akhirnya berkeliling mencari hyungnya yang tadi mengatakan ingin pipis. saat sedang mencari huyungnya pangeran taemin melihat sebuah benda yang sedari dulu diincarnya’SEPATU RIRIN NOONA”

pangeran taemin sangat girang ketika mendapatkan sepatu itu dia kemudian mencopot sepatunya dan kemudian menggantikannya dengan sepatu miliknya “mungkin sepatu bidadari yang ketinggalan”kata pangeran taemin dengan wajah tanpa dosanya

“taeminnie sedang apa kamu disini?itu sepatunya ririn ngapain kamu bawa kesini?nanti dia ngamuk loh”kata pangeran jonghyun sembari menunjuk pada sepatu yang di kenakan dongsangnya

“anniyo hyung ini bukan sepatu milik noona tapi ini sepatu milik bidadari yang ketinggalan”ujar taemin polos sambil mengingat ngingat cerita jaka tarub

“Yasudah terserah kamu sekarang kita pulang lagian kita juga tidak mendapatkan ikan”kata pangeran jonghyun yang sudah puas bertemu dengan putri min gi

^^^

”eonni dari mana saja sih?aku sudah selesai mandi”ujar putri Richan

“Yasudah kita pulang saja lagian eonni sudah mandi tadi di rumah”ujar putri min gi

“dasar aneh kalau begitu untuk apa kita ke sini?”tanya putri Richan marah

“ya tentu melihat pemandangan yang tidak bisa kita lihat di istana”kata putri Min gi sambil tersenyum penuh arti. Putri Richanpun hanya menatap eonninya dengan tatapan heran kemudian dia mendahului eonninya untuk segera mengambil sepatunya

“kyyyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaaa eeeeeooooooooooonnnnnnnnnnniiiiiiiiiiiiiii” teriakan putri Richan mengagetkan eonninya

TBC

Created by: Han Richan

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

My Past Future – Part 7

Chapter 1

Part 7

Main Cast : Yuna, Lee Jinki, Lee Donghae

Support Cast : Gaeul, Jn, SHINee, Super Junior

~Yuna Pov~

It can’t be like this, ya tuhan. What do I do? Kami benar-benar menonton dalam diam, bahkan kami tidak bisa menertawakan adegan lucu. Aku pun terpaksa menahan rasa takut karena tidak enak saja ketakutan dalam keadaan kaku begini. Tapi kami baru satu hari.. bagaimana mungkin sudah berada di situasi seperti ini. Sejak tadi aku tidak benar-benar memerhatikan film yang terputar, karena jika aku benar-benar memperhatikan aku pasti sudah menjerit ketakutan. Bahkan situasi ini lebih canggung jika dibandingkan dengan situasi saat kami baru menjadi pacar. Tapi jujur aku benar-benar tidak suka jika ada orang yang menanyakan hal pribadiku, walaupun kekasihku sendiri. Memangnya aku dan Jun ada apa? Kenapa harus menanyakan itu? Bagiku itu pertanyaan yang cukup sensitive.

Tiba-tiba Donghae oppa menutupi mataku, jujur aku terkejut tapi aku tidak melawan. “Adegan ini bisa membuatmu muntah, aku tahu kau tidak kuat melihat darah.” Aku hanya diam, tidak lama mataku kembali di buka… entah kenapa tiba-tiba air mataku menetes. Terharu? Tidak. Menyesal? Atas apa? Aku tidak tahu ini air mata apa.

~Donghae Pov~

Ini kesalahanku, tidak semestinya aku mempertanyakan hal tersebut sehingga kami tidak akan berada di situasi canggung ini. Tapi aku tidak suka melihat Jun selalu ada di sisinya, bahkan lebih dekat dariku. Bahkan tadi ketika kami baru akan berangkat, aku melihat Yuna menarik lengan Jun dan saat aku ingin menggandeng Yuna ia justru menghindar.

Jika saja hal itu tidak terjadi aku akan tetap memaklumi Jun sebagai sahabat Jun, tapi lain rasanya saat mengalami kejadian itu. Seseorang yang lebih senang di sentuh atau menyentuh laki-laki lain tetapi saat kekasihnya sendiri dia justru menghindar. Itu membuatku ragu atas penerimaan cintaku, apakah ia tulus? Apakah benar yang ia memiliki rasa terhadapku? Lebih besar mana rasanya untukku atau rasanya untuk Jun?

&&&

Tujuan selanjutnya adalah Lotte World yang terletak di daerah Songpa, Seoul, Korea Selatan. “Ayo kita menaiki wahana sesuai pilihan. Masing-masing mendapat jatah memilih wahana, aku orang pertama yang memilih!”

“Oppa curang! Kalau begitu aku yang kedua dan yang ketiga Haeya unni!” seru Gaeul. “Aku keempat saja, berarti yang terakhir kalian berdua.” Donghae setengah bertanya pada keduanya. “Baiklah, kami berdua akan memilih terakhir.” Ucap Yuna akhirnya berusaha menyamarkan hubungannya dan Donghae yang sedang tidak enak.

“Aku mau naik Gyro Drop!” yang lain mengikuti saja, dan tiba-tiba Yuna merasa perutnya mual padahal ia belum menaiki wahana tersebut.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Donghae khawatir begitu keduanya duduk bersebelahan. “Ya… aku baik-baik saja.” Donghae merasa tidak yakin. “Jika kau tidak ingin naik wahana ini aku juga tidak akan naik, aku tidak mau kau sakit.” Yuna tersenyum. “Tidak, aku akan baik-baik saja.” Belt pengaman di turunkan dan terpasang di depan dada mereka. Jantung Yuna berdegup semakin kencang, ia berharap ia bisa berkompromi dengan perutnya agar tidak muntah sekarang.

Permainan di mulai, semua pengunjung yang menaiki wahan tersebut sangat menikmati dan beteriak-teriak untuk memeriahkan suasana. Hanya Yuna satu-satunya orang yang tidak menikmati permainan tersebut, matanya tertutup rapat, tangannya menggenggam pengaman dengan sangat kencang hingga memucat. Donghae merasa tidak tega melihat Yuna ketakutan seperti itu, perlahan ia melepaskan genggaman tangan kanan Yuna pada pengaman dan langsung menautkan jemarinya dan menggengam tangan Yuna dengan erat.

Perlahan Yuna merasa sedikit tenang, dan diam-diam Yuna tersipu malu. Tidak terasa permainan sudah berakhir, pengaman di lepaskan tapi Donghae masih tidak melepaskan tangannya dari Yuna. “Sekarang giliranku! Aku mau naik Gyro Swing!”

“Ayolah Gaeul.. jangan permainan itu, aku bisa muntah.” Tolak Yuna. “Tidak mau.. aku ingin sekali naik itu bersamamu! Kau harus ikut juga!” paksa Gaeul. “Aku saja sudah mual karena naik Gyro Drop tadi.. bisa-bisa aku langsung muntah walaupun permainan belum di mulai.”

“Tapi tidak boleh ada yang tidak ikut permainan.” Tambah Chun Li. “Permainan ini saja. Aku masih mual, aku janji hanya permainan ini saja aku tidak ikut. Ku mohon.” Yang lain saling melempar pandangan. “Baiklah kalau begitu.” Ucap Gaeul akhirnya. “Aku akan tetap di sini bersama Yuna.” Sela Donghae cepat. “Silahkan saja. Kami naik ya!” mereka saling melambaikan tangan.

“Apakah sangat mual?” Tanya Donghae khawatir. “Sudah lumayan, tapi rasanya tidak enak.” Yuna mengelus-elus perutnya. “Ayo cari minum, kau butuh air mineral.” Keduanya berjalan menyusuri Magic Island, dan akhirnya berhenti pada sebuah café kecil untuk beristirahat. “Yuna-ah.”

“Ne?”

“Apakah kau sudah merasa lebih nyaman?”

“Ne.”

“Bisakah kita berhenti merasa canggung? Aku…. Aku tidak suka situasi itu.”

“Ne, aku akan berusaha.”

“Yuna-ah.”

“Ne?”

“Ne.. kau selalu mengucapkan itu.. Ne. Apa kau sudah makan? Ne.. Apakah kau Yuna? Ne.. carilah kata lain. Ne.” Donghae sedikit meledek tapi juga agak kesal. “Ne.. Eh? Kenapa?”

“Ne terlalu baku. Aku akan merasa canggung.”

“Ye.. aku akan mencoba.”

“Bisakah berhenti bicara formal? Kita bukanlah senior dan junior.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Bicaralah seperti saat kau sedang berbicara dengan Gaeul.”

“Aku bilang kan aku akan mencobanya.” Jawab Yuna dengan kalimat informal namun tetap bernada formal. “Tidak akan ada pengaruhnya jika kau tetap menggunakan intonasi itu.”

“Jweosohamnida.” Donghae berdecak kesal. Tidak lama terdengar tangisan seorang anak kecil, Yuna mencari dari mana asal suara tersebut. Ditemukan lah seorang anak laki-laki berumur sekitar 4 tahun menangis sambil berjongkok dan memanggil ibunya.

“Hey.. jangan menangis, ayo berhenti menangis ada noona di sini.” Yuna menggendong anak tersebut, dan tangisannya perlahan mereda. Yuna membawanya ke tempat ia duduk bersama Donghae. “Siapa namamu?” Tanya Yuna sambil menyeka sisa air matanya. “Biar aku yang gendong dia.” Donghae mengambil alih anak tersebut. “Apa yang di lakukan ibunya sih? Bisa-bisanya melupakan anak sendiri.” Omel Yuna sambil merapihkan barangnya. “Sebaiknya kita ke tempat pelaporan kejadian.” Keduanya berjalan pergi. Belum jauh berjalan anak tersebut mulai tertarik untuk memegang rambut panjang dan lembutYuna, sepertinya warna hitamnya begitu memikat anak itu.

“Agh! Aha ha… sakit…!” Yuna berusaha menarik rambutnya dari genggaman anak tersebut, Donghae berusaha membantu hingga akhirnya lepas juga. “Ternyata rambutmu tidak hanya mempesona laki-laki remaja, bahkan anak kecil pun bisa-bisanya terpesona dengan rambutmu itu.” Gurau Donghae sambil terkekeh. “Itu tidak lucu! Sakit tahu.” Yuna memukul pelan lengan Donghae.

***

“Sunbae oppa.. ayo beli es krim.”

“Lebih baik kita mencari yang lain dulu, bisa-bisa kita hanya buang-buang waktu.”

“Tapi aku mau es krim.”

“Iya, aku tahu. Nanti akan aku belikan, tapi kita cari yang lain dulu.”

“Mau es krim.” Ucap Yuna dengan suara pelan dramatis*lebe*. Tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak Yuna, Donghae yang juga hampir terjatuh mengulurkan tangannya ingin membantu Yuna berdiri. Belum sempat Donghae memebantu Yuna berdiri gadis tersebut mulai menangis.

“Hey.. apakah sangat menyakitkan?” bukannya menjawab tangisan Yuna justru semakin keras. “Hushh… berhentilah menangis, orang-orang memperhatikan kita. Apakah ada yang luka?” Donghae berusaha menarik lengan Yuna sebelum akhirnya Yuna menepis tangan Donghae. “Ada apa? Kau ini kenapa? Ayolah… kenapa kau menangis.” Donghae semakin merasa dirinya menciut malu akibat mata mata yang memperhatikan mereka.

“Aku mau es krim!” Yuna kembali menangis.

“Apakah aku sedang berpacaran dengan gadis usia 4 tahun?!” Donghae berdecak lalu mendengus.

Dan pada akhirnya keduanya mencari penjual es krim. Donghae bisa melihat mata Yuna berbinar-binar begitu sang penjual memberikan es krim vanilla yang di minta Yuna, sedangkan Donghae lebih memilih rasa coklat. “Apakah sudah puas?” Tanya Donghae meledek. “Kekeke… kamsahamnida.” Yuna menjilat es krimnya. “Bisakah kita mencari yang lain sekarang?” Yuna mengangguk puas.

&&&

“Aduh.. mereka berdua ini sebenarnya ada dimana sih?!” keluh Chun Li kesal. “Kenapa tidak oppa hubungi saja ponselnya?” Chun Li mengendus. “Jika aku bodoh aku tidak akan berfikir seperti itu, tapi aku pintar. Dan masalahnya sekrang adalah, ponselku tidak bisa menyala karena aku lupa mengisi baterainya semalam!” Chun Li menahan marah. “Bagus sekali! Dan sekarang kita harus mengitari Lotte World yang luasnya lebih dari 2 hektar demi mencari mereka berdua!”

“Jadi sekarang kau menyalahkanku?”

“Tidak! Kau saja yang merasa begitu!”

“Lalu kenapa kau menaikkan nada? Kau marah?!”

“Tidak! Aku pikir oppa yang menaikkan nada! Tidak sadarkah?!”

“Kau ini kenapa sih? Kalau kau tidak mau kita berkeliling mencari kau kan bisa menghubungi ponsel Yuna!”

“Menghubungi dengan apa? Oppa lupa kalau aku tidak punya ponsel?!”

“Berhenti berseru padaku! Apa tidak punya sopan santun? Ha!” Haeya yang sejak tadi diam saja akhirnya angkat bicara. “Hey kalian berdua! Bisakah berhenti berkelahi? Apakah kalian berdua mau membuat malu di depan orang banyak seperti ini?!” Haeya menjewer telinga Gaeul dan Chun Li.

“Hyong, Gaeul-ah jigeum mweo hani (apa yang kau lakukan)?” ketiganya menoleh serentak. “Oh? Jong Rae.” Chun Li mengerutkan alis. “Rae oppa… kenapa oppa ada di sini?” Haeya penasaran siapa laki-laki bertubuh jangkung dengan wajah imut dan dingin yang tiba-tiba menghampiri mereka. “Kenapa kalian berkelahi di sini?” nada bertanyanya terdengar tidak enak, sepertinya dia tidak suka mereka berdua berkelahi.

“Ah tidak.. mungkin kau salah lihat. Bagaimana bisa kau di sini?” Tanya Chun Li berusaha mengelak. “Tadi Donghae hyong menelponku, katanya dia tidak bisa menemukan dimana kalian. Dan katanya ponselmu tidak dapat di hubungi. Kebetulan aku ada di sekitar sini tadi jadi aku langsung ke sini untuk membantunya tapi ternyata aku malah bertemu dengan kalian.”

“Jadi kau tahu dimana dia sekarang?” Tanya Chun Li penuh harap. “Ya. Ikut aku.” Akhirnya mereka semua berjalan mengikuti kemana Jong Rae melangkah. “Hyong!” seru Jong Rae tiba-tiba. Donghae dan Yuna langsung menghampiri mereka.

“Annyeong haseoyo Rae sunbae.” Yuna membungkuk hormat. “Annyeong haseoyo.” Yuna tersenyum pada Jong Rae. “Kalian berdua sudah pernah bertemu?” sambung Gaeul. “Ya.. waktu aku menyerahkan formulir kita, aku di suruh memberikannya langsung kepada ketua.”

“Kalau begitu kau harus tahu kalau Jong Rae adalah kakak kedua ku yang belum pernah kau lihat sama sekali itu.” Yuna terbelalak mendengar penjelasan Gaeul. “Sincayo? Hwuah.. tidak di sangka.”

“Haeya… kau pasti penasaran dia siapa kan?” Haeya mengangguk. “Dia adik yang kemarin aku ceritakan.” Mulut Haeya membulat. “Annyeong haseoyo noona.” Sapa Jong Rae berusaha ramah walaupun wajahnya tetap terlihat dingin. “Apakah kau kekasih adik ku?” tiba-tiba Jong Rae beralih pada Jun yang sejak tadi tidak bicara.

“Aku harap kau laki-laki yang baik.” Jun hanya bisa diam dan diam. Sebenarnya kepribadian Jun dan Jong Rae hampir sama, tukang hemat kata. Tatapanya dingin, mendengar mereka bicara menjadi sebuah kelangkaan yang tidak bisa di cari solusinya, cenderung diam namun berisi, berwawasan luas, berwibawa dan bijaksana. Tubuh mereka sama-sama jangkung, beda 10 cm, dan juga sama-sama kurus.

“Aku harus pergi.” Jong Rae membungkuk lalu pergi begitu saja. “Rae! Terima kasih atas bantuanmu!” seru Donghae tidak lupa berterima kasih.

“Jadi sekarang giliran siapa yang memilih?” Chun Li melirik yang lain. “Aku! Dan aku akan memberikan sebuah tantangan sebelum menaiki ini, karena aku yakin kalian semua tidak mau. Jika di berikan tantangan maka menjadi mau tidak mau.”

“Memang wahana apa?”

“Rahasia! Kalau begitu aku biarkan kalian memilih, tantangan apa yang bisa kalian jalani?” yang lain berfikir keras, tantangan apa yang tidak sulit tapi pasti ada yang tidak bisa. “Dapat!” seru Haeya begitu melihat sebuah spanduk bertuliskan, “Tantangan bagi yang bisa menghabiskan mie super pedas paling banyak dalam waktu 2 menit akan mendapatkan 500.000 won.”. Haeya menunjuk spanduk tersebut. “Ya tuhan! Haeya kau gila? Bagaimana mungkin kita makan makanan pedas pada jam makan siang?” seru Chun Li panik. Mendengar makanan pedas Yuna dengan susah payah menelan ludahnya, mendadak kerongkongannya seperti terisi 1 kg jarum.

“Apa masalahnya? Mau ikut tantangan ini atau tidak? Pilih mana? Terjun dari gedung lantai lima atau makan mie super pedas?” semua berdecak menyerah dan akhirnya menurut. Mereka mencari di mana tantangan itu di adakan, saat tiba di tempat tersebut.. rupanya sebuah rumah makan dan kini di penuhi para pengunjung. Haeya tersenyum licik lalu mengajak yang lain masuk ke dalam rumah makan tersebut.

“Ahjumma! Kami akan melakukan tantangan ini!” Seru Gaeul pada bibi yang berada di dapur. Beberapa pelayan datang membawakan 6 mangkuk besar mie panas dan super pedas.

“Apakah sudah siap?” Tanya salah satu pelayan yang memegang stopwatch. Rasanya mata Yuna seperti di tusuk jarum.. melihat warnanya saja Yuna sudah ingin menangis bagaimana menicipi makanan ini.

“Di mulai dari… sekarang!” Haeya yang ternyata pecinta makanan pedas dengan cepat menyantap mie tersebut. Gaeul tidak mau kalah, begitu juga dengan Chun Li dan Donghae. Sedangkan Jun, tidak bisa mengalhikan perhatiannya dari Yuna… menghindari hal kemarin terjadi Jun mengambil mangkuk Yuna.

Bertepatan dengan itu Donghae berfikir ada apa dengan Yuna, kenapa ia tidak mau memakan mie nya. Tangan Donghae bergerak ingin menarik mangkok Yuna namun kalah cepat dengan tangan Jun yang langsung mengambil mangkuk tersebut dan menumpahkan ke dalam mangkuknya. Donghae menggertakkan rahangnya dengan kesal.

Will Be Continued

***

By: Karlie

Signature

This FF/post has made by Lana & Karlie  and has claim by they signature.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

RAINBOW – PART 10

RAINBOW PART 10

Author            : Wiga

Rating             : PG 15

Cast                : Onew, Kim Kibum, Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Shim Yui, dan Park Nada

Genre             : Friendship, Romance, Action, Sekuel

Cerita sebelumnya:  Onew dan Minho memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Nada. Onew menyatakan cintanya lebih dulu di balkon kampus, Namun Nada tidak memberikan jawaban. Dan Minho menyatakan cintanya di depan ratusan orang saat Ia menang bertanding taekwondo, saat suasana mulai memanas, tiba-tiba Minho membawa Nada pergi..

“ Nada!!! Tunggu!!!” teriak onew sambil berlari ke arah Minho dan Nada, namun minho tidak menghiraukan panggilan onew, Ia melangkah lebih cepat sehingga Nada harus berlari untuk mengimbangi langkah minho.

“ Oppa..kita mau kemana..” tanya Nada pelan.

“ Aku ..” belum selesai Minho berbicara, onew sudah berada di depan nya.

“ Mengapa kau membawanya pergi??” tanya onew terengah-engah sambil mengatur napasnya. tangan nya  langsung menggenggam erat tangan kanan Nada. (Ket: Minho menggenggam tangan kiri Nada).

“ Bukan urusanmu kemana aku membawanya pergi..” kata minho dingin.

Onew memandang minho tajam, Ia menarik tangan Nada ke arahnya, Namun Minho menahannya.

“ Jelas itu urusanku sekarang!! Lepaskan dia..” kata onew berusaha terdengar biasa.

“ Aku tak akan melepaskannya , hyung..  kurasa kau sudah mendengar jelas apa yang tadi ku katakan di depan semua orang.. Sekarang lepaskan tangan mu darinya..” kali ini minho yang berbicara, namun dengan suara yang sedikit mengancam.

Nada memandang keduanya bergantian, Ia sungguh berharap onew dan minho tidak bertengkar lagi seperti beberapa waktu lalu.

“ Oppa..” bisik Nada pelan, namun keduanya mengacuhkannya.

“ Tidak akan kulepaskan!! “ kata onew tajam. ia mengeratkan genggaman tangannya ke Nada, begitu juga minho.

“ Oppa.. Tolong jangan seperti ini… Tanganku sakit..” bisik Nada pelan

“ Nada!!! kau mau ikut dengan ku, atau dengan onew hyung!!” kali ini minho berbicara kepada Nada.

“ Tolong jangan seperti ini oppa.. aku tak mau kalian bertengkar…” bisik nada pelan.

“ Kau harus memilih, Nada..!!!”

“ Yaa!! Kau jangan mendesak dia seperti itu!!!” Kata onew keras.

Baik Minho dan Onew sama-sama tersulut emosi, untungnya Kibum, Jonghyun Taemin dan Yui tiba disana sebelum mereka benar-benar berkelahi.

“ Onew!! Minho!! apa-apaan kalian!!” Jonghyun berusaha menengahi.

“ KALIAN JANGAN IKUT CAMPUR!!!!” Minho membentak teman-temanya.

Air mata Nada mulai menetes.

“ Kalian!!! Aku tak habis pikir!! mengapa kalian hanya mementingkan diri kalian hahhh!!! pikirkan Nada!! Lihat dia!! “ Kata Kibum menarik Nada yang kini menunduk.

“ Ayo Nada kita pergi dari sini..” Kini kibum menarik Nada dan meninggalkan Jinki dan Minho yang terdiam.

Jinki berlari ingin mengejarnya, Namun Jonghyun dan Yui menahannya, Sedangkan Minho berjalan ke parkiran motor. Taemin mengikutinya.

******

“ gomawo oppa..” bisik Nada pelan.

“ ne.. sama-sama.. aku hanya tak habis pikir. mereka bertingkah seperti itu..” sungut Kibum.

Namun Nada hanya menunduk, air mata sudah menggenang di kelopak matanya.

“ Tidak seharusnya mereka mendesakmu… aku benar-benar terkejut saat minho berbicara seperti itu di depan banyak orang.. kurasa Onew hyung juga sudah mengutarakan perasaannya padamu kann??” Kata Kibum panjang lebar, Namun Nada diam saja.. Ia terus menunduk..

“ Yaa.. Nada.. Mengapa kau menunduk..” Kata Kibum, sambil terus melihat Nada.

Ia mengangkat wajah Nada pelan-pelan  dengan kedua tangannya..

“ Aigooo.. Kau menangis… “ bisik Kibum sambil menghapus air mata Nada yang kini sudah tidak terbendung lagi.

“ Ssshhhh… Uljimaaa…” Kini Kibum mengusap kepala nada pelan.

“ Bukan ini yang ku inginkan oppa..” bisik Nada terisak.

“ ne.. aku tau.. sshh uljima..” Kibum membelai kepala Nada pelan, berusaha menenangkan Nada.

“ aku hanya tak ingin mereka berdua bertengkar gara-gara aku..” Kini Nada sudah mulai tenang.

“ Mereka berdua Pabbo, kau tau?? Sudah lah, yang ku khawatirkan sekarang keadaanmu..“ Kata Kibum lega ketika Nada sudah berhenti menangis.

“ Nada.. Diantara mereka berdua, adakah yang kau sukai??” tanya Kibum tiba-tiba.

Seketika muka Nada langsung memerah.

****

“ Mengapa kau menahan ku Yaaaa!!!!” Teriak Jinki keras.

“ Jangan bodoh Onew!! apa kau tidak melihat Nada hampir pingsan gara-gara kau dan minho mendesaknya!! jika kau menyukainya harusnya kau peka keadaanya. Dia kaget!! dia shock!! setelah minho berbicara didepan umum, lalu kau dan minho hampir berkelahi merebutkannya, kau kira bagaimana perasaannya!!!” Bentak Jonghyun kepada Onew.

“ Oppa.. Tolong tenang, tolong pikirkan Nada juga, Apa kau tau mukanya sangat pucat?? dia tidak bisa tidur semalam, dan juga ia belum sarapan pagi ini.. Kalau kalian terlalu mendesaknya, bisa-bisa dia jatuh sakit..” kali ini Yui yang berbicara.

“ Aku hanya.. tidak suka melihat ia bersama Minho..” kata onew pelan.

“ dan Minho pun berpikiran sama seperti mu, dia juga tak suka melihatmu bersama Nada..” gumam Jonghyun.

“ Aku……….”

“ Onew dengar, jika kau bersikap seperti ini terus padanya, lambat laun dia akan menjauh darimu.. beri dia waktu untuk berpikir.. jangan desak dia.. biarkan ia memilih..” kata Jonghyun bijak.

Onew terdiam, menunduk.. Pikirannya hanya tertuju pada Nada.

Dimana Ia sekarang??

Apa yang Ia lakukan bersama Kibum?

****

“ Damitt!! “ teriak Minho sambil menendang batu di depannya.

“ Mengapa Nada diam saja ketika aku menyuruhnya untuk memilih!!!”

“ Siaaalll!!!”

Minho terus saja berjalan sambil memaki.

“ Hyung..” taemin berbisik dibelakang nya, namun Minho mengacuhkannya.

“ Hyung!!!” kini taemin mulai mengeraskan suaranya.

“ YYAAA!!! mengapa kau ikuti aku!!!” bentak Minho.

“ Hyung!!! tenangkan dirimu..!!!” kata tamin keras.

Minho terdiam, tangan nya mengepal, hatinya saat ini penuh dengan emosi, ia benar-benar tak habis pikir, mengapa Nada diam saja saat minho menyuruhnya memilih.

“Bukankah Nada menyukaiku?? harusnya ia tak menolak saat ku membawanya pergi?? harusnya wajahnya tak terlihat bingung saat aku mengutarakan cinta?? Mengapa ??” teriak minho kepada taemin.

“ Aku tau Nada menyukai ku taem, hanya saja Onew selalu menekannya, kau tau Nada itu lemah, dan Onew memanfaatkan kelemahannnya!!!. aku tahu itu taem!!”

“ Hyung!! Anniyo!! itu tidak seperti yang kau pikirkan!! kau dan Onew hyung sama-sama menekannya, kau memaksanya untuk memilih, apa kau tahu tadi dia menangis??.. kalian menyakiti Nada..” keluh taemin, ia berusaha tidak memihak siapapun.

****

Keesokan paginya..

Minho berlari mengelilingi kampus, Ia mencari-cari Nada kesemua tempat.

“ Hey.. Kau lihat Nada??” tanya nya pada MIR, dan Junho, member D’ENCORE.

“ Anni.. jika Junho melihat nada pasti ia langsung mengejarnya dan berlutut di depannya.. Ha Ha Ha..” kata MIR mencoba untuk melucu.

Minho memandang MIR dengan tatapan dingin, “ Tidak lucu..” katanya tajam.

MIR dan Junho lagsung menunduk.

Minho berjalan pelan ke parkiran motor.. “ dimana nada..?” desahnya.

Semua bagian kampus sudah ia cari namun nada tak ditemukan..

****

“ Saya pesan roti yang paling enak disini, ,” kata seorang namja yang berdiri di depan nada.

“ Onew Oppa.. Mengapa ada disini.. “ bisik Nada.

Saat mata mereka berpandangan Nada merasakan detak jantungnya makin cepat.

“ Ya tuhaan, ada apa dengan ku..” kata Nada dalam hati sambil memegang dadanya.

“ Aku ingin membeli roti, semua orang bilang roti di bakery ini paling enak, tentu saja aku harus mencobanya..” kata onew sambil tersenyum.

“ nggg… oppa mau roti yang mana?” tanya Nada gugup kini tangan nya mulai berkeringat.

“ aku ingin roti yang paling enak menurut mu..”

“ nggg… menurutku yang paling enak chocolate bun oppa..” kata Nada pelan, ia menunduk, menghindari tatapan onew, entah mengapa setiap mata mereka bertemu, perasaan nada menjadi tidak karuan.

“ chocolate bun itu apa? bisa kau jelaskan..” tanya onew lagi, matanya lurus menatap mata Nada.

“ enggg… itu, roti yang…” nada mendengar ada getar di dalam suaranya.

“ HYUNGG!!! Sejak kapan kau disini???” seru taemin yang tiba-tiba muncul dari dalam.

“ Heyy, Taeminie..aku sedang ingin makan roti, makanya aku kesini..” jawab onew.

“ aahhhh… mau makan roti atau mau bertemu Nada…” goda Taemin.

Nada merasakan wajahnya memanas,

“ Yaa!!! Nada..! mengapa muka mu memerah..?? haaa, kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian disini..”ucap taemin tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya kepada onew.

Onew tersenyum, ia memandang Nada yang sedang menunduk, memang benar, pipinya memerah.

“ Apakah Ia malu saat Taemin menggodanya?? mengapa sekarang sikap Nada jadi sungkan padaku?? bahkan matanya selalu menghindar dari tatapan ku?? apa kah ini pertanda jika ia menyukai ku?? Tuhan, kuharap semua ini benar..” kata onew dalam hati. matanya terus memandang Nada.

“ Ini oppa, rotinya..” kata Nada pelan, sambil menyerahkan bungkusan kecil padanya.

“ gomawo Nada.. mmm, nanti pulangnya ku jemput ya..”

****

“Aku sudah mencarinya di seluruh penjuru kampus, tapi Ia tetap tidak ada!!!” kata Minho kepada Yui.

“ Tapi tadi pagi Nada bilangnya mau ke kampus, oppa..” kata Yui.

“ Jadi dimana  dia sekarang??” desah Minho sambil mengusap mukanya.

“ Mungkin ke bakery..” kali ini Jonghyun yang berbicara.

“ Tak mungkin!! Taemin bilang hari ini ia tak ada shift!!”Minho makin frustasi.

Tiba-tiba terdengar bunyi mobil Onew.

“ itu!! mungkin mereka!!” seru Kibum.

Ternyata benar, terlihat Taemin keluar mobil, disusul Onew dan Nada.

Melihat pemandangan itu, Minho langsung masuk kamarnya.

****

Nada POV:

I can not help it..

I could’t stop it if I tried

the same old heartbeat fills the emptiness I have inside

Ya tuhaan.. apa yang terjadi dengan ku.. mengapa tiba-tiba perasaan ini muncul lagi.

perasaan yang sama yang kurasakan saat aku bersama Chang Min oppa.

Perasaan yang kini mengisi tempat yang kosong dihatiku..

Entah kenapa kini hanya dia yang ada dipikiranku saat ini.

and I know that I can’t fight love so I won’t complain

coz why would I stop the fire that keeps me going on

Tuhaan.. apakah aku jatuh cinta??

Apakah aku jatuh cinta padanya??

cause when there is you I feel whole

and there’s no better feeling in the world

but without you I’m alone

and I’d rather be in love with you” (Rather be in love-michelle branch)

****

Mihho POV:

Aiissshhhh…

Mengapa selalu Onew dan Nada yang terbayang!! aku tak habis pikir mengapa Nada hari ini bisa pulang bersama Onew?? apakah Onew yang memaksanya??

aku yang salah!! harusnya aku lebih agresif terhadapnya!! aku laki-laki!! aku tidak boleh lemah seperti ini !! “

****

Keesokan paginya:

“ Nada.. hari ini kau mau kemana..” tanya Minho saat Nada memasak bersama Kibum.

“ ngg, aku ada shift di KARA oppa..” jawab Nada pelan.

“ kalau begitu aku yang akan mengantarmu hari ini.”

“ tapi taemin bilang dia ingin pergi bersama ku oppa..” Nada berusaha menolak secara halus.

“ Taemin biarkan saja, aku yang akan mengantarmu,, dan menjemputmu pulang.” kata Minho tegas. Nada menunduk, ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

Kibum memandang Minho dengan tatapan tidak percaya.

“ Ckk.. orang ini.. memanfaatkan kelemahan Nada.. dia tau nada tidak bisa menolak..” sungut Kibum dalam hati.

****

“ Pegangan yang erat,Nada..” Kata minho sambil memakai helmnya.

“ Ne oppa..” jawab Nada pelan, Ia memegang ujung jaket Minho.

“ Bukan seperti itu Nada, jika kau memegang ujung jaket saja, kau bisa terlempar jatuh..” minho segera meraih kedua tangan Nada, kemudian mengalungkannya erat di pinggangnya.

“ peluk aku seperti ini… Dan jangan dilepas..!!!”

****

“ Gomawo oppa..” kata Nada sambil turun dari motor ketika mereka sampai di depan KARA.

“ Jangan lupa, nanti ku jemput pulangnya..” kata Minho, suaranya terdengar seperti perintah.

“ Ne oppa.” jawab Nada pelan, kemudian ia melangkah kedalam KARA, namun baru dua langkah, Minho menarik Nada kedalam pelukannya.

“ Saranghaeyo..jagia..” bisiknya di telinga Nada.

Nada terkejut, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan minho.

“ oppa..”

“ Mianhae, Nada.. tapi apa yang kukatakan kemarin tidak main-main.aku serius saat aku bilang aku mencintaimu dan yang ku ingin kan sekarang, adalah kau menjadi  milikku, Nada” Minho memandang mata Nada tajam.

Nada hanya menunduk.

“ Nanti malam, aku ingin jawabannya dari mu.” kata minho, kemudian ia segera menaiki motornya dan pergi meninggalkan Nada yang masih termenung.

*****

Sepanjang hari ini Nada gelisah, ia terus-terusan memandang jam ditangan nya. berharap waktu berhenti.

“ Apa yang harus ku lakukan?? aku tidak tau cara menolaknya, aku tidak ingin ia sakit hati karena penolakanku, namun aku juga tidak bisa menerimanya.. aku menyukai orang lain. bagaimana ini Tuhan??” desahnya.

****

Sudah satu jam lamanya Nada menunggu Minho, Namun Minho belum datang juga. Nada berkali-kali mengecek hp nya namun tak ada satu pun kabar dari Minho.

“ sshhh… dingin sekali.. apa aku pulang saja yaa.. perutku sungguh lapar.. mengapa jam segini Minho oppa belum datang..” Nada menggumam sendirian.

“ Nada..” terdengar suara namja memanggilnya.

“ Nada.. Kamu sedang apa disini sendirian..??”

Nada menoleh, menyadari siapa yang memanggilnya hatinya kembali bergetar.

“ Onew oppa..”

Onew segera menghampiri Nada.

“Mengapa berdiri sendirian?? apa kau tidak merasa kedinginan??” tanya onew.

“ ngg.. aku…”

“ Kamu menunggu seseorang??”

Nada terdiam sebentar, lalu akhirnya menjawab “ Anni oppa..”

“ Kau tidak menunggu siapa-siapa..? kalo begitu ayo kita pulang.. Kajja!!” kata onew sambil mengulurkan tangan nya ke Nada.

Nada tidak menolaknya, ia menyambut tangan onew dan berjalan disampingnya.

Tes..     Tes..       Tes…

“ Hujan…… “ kata Nada sambil mengadahkan wajahnya kelangit.

“ Ayo cepat Nada.. Halte masih jauh.. Nanti keburu hujannya deras..” seru onew sambil mengeratkan genggaman tangannya kepada Nada dan mulai berlari.

setelah kira-kira 5 menit mereka berlari, perlahan-lahan Nada menurunkan kecepatanya, dadanya terasa sangat sesak, ia mulai kesulitan bernafas.

“ Nada… palli.. sebentar lagi kita sampai halte bus..” seru Onew tidak sabar.

Hujan sudah turun dengan derasnya, membasahi baju yang yang mereka kenakan.

“ hhhhh.. oppa… berhenti, hhhh… aku sudah… tidak kuat lagi…” bisik Nada pelan, namun Onew tidak mendengarnya, ia terus berlari sambil tetap menggandeng tangan Nada.

“ hhhh… oppaa…” akhirnya Nada terjatuh.

‘NADA!!! Nada.. bangun.. kamu kenapa??” tanya Onew panik, sambil berlutut disamping Nada, dan menyandarkan Nada di bahunya.

“ Nadaaa… Kamu kenapa?? tolong buka matamu..” bisik Onew di telinga Nada.

Namun Nada tidak menjawab, hanya dadanya yang terlihat naik turun karena kesulitan bernafas dan bahunya sedikit bergetar karena kedinginan.

Onew menggenggam kedua tangan Nada “ Ya tuhan.. tangan mu dingin sekali..” bisik Onew sambil meniup tangan nada dengan uap hangat dari mulutnya.

“ Yaa Tuhaan… apa yang harus kulakukan.. mengapa nada menjadi seperti ini..” katanya dalam hati, sambil memeluk Nada erat. Onew memandang tubuh nada selama beberapa detik, terlihat kemeja putih Nada basah sehingga terlihat jelas lekuk tubuh Nada. dalam keadaan dingin seperti ini onew merasakan tubuh nya memanas, beberapa kali ia menelan ludahnya.

Perlahan Nada membuka kedua matanya,

“ Oppa…” bisiknya lirih.

Onew memandangnya dengan penuh rasa khawatir.

“ Ya tuhaan.. Nada.. Kamu kenapa?? kamu membuatku sangat ketakutan..” kata Onew sambil memeluk Nada lebih erat.

“ aku.. hhhh.. asmaku.. kambuh… oppa…” bisiknya perlahan, ia mengatur nafasnya pelan-pelan.

“ Mengapa kamu tidak bilang dari awal ,, Nada?? udara dingin pasti membuat asma mu makin parah, lepaskan tasmu…” kata Onew sembari melepaskan jaketnya.

“ oppa mau apa??” tanya Nada pelan.

“ kita pulang sekarang Nada, kan tidak mungkin kita terus disini semalaman.. lihat bajumu sudah basah kuyup.. lepaskan tas mu, dan pakai jaketku..” kata Onew pelan.

sebenarnya jaket Onew pun basah, namun ia tidak rela jika orang lain melihat tubuh Nada yang tampak jelas kini.

Nada menurut, ia melepaskan tas selempangnya, dan dengan dibantu Onew ia memakai jaket. Onew segera memakai tas Nada dan bersiap untuk menggendong nada.

“ oppa… oppa mau apa.. aku bisa jalan sendiri..” kata Nada pelan.

“ Nada, tolong kali ini jangan menolak, aku tak akan membiarkan mu berjalan dalam keadaan seperti ini..” kata Onew tegas.

**********

Saat mereka turun dari bis, Onew tetap memaksa agar Nada mau digendongnya.

“ Nada.. mana mungkin aku tega melihatmu berjalan.. lihat, mukamu sudah sangat pucat.. sudahlah jangan menolak, kajja..” kata Onew, sembari berjongkok didepan Nada, agar Nada mau menaiki punggungnya. Nada perlahan menaiki punggung onew.

Punggung Onew terasa sangat hangat dan nyaman, kemudian Nada menyandarkan kepalanya ke bahu Onew.

“ Oppa…” bisik Nada pelan.

“ hmmm….”

“ mianhae.. aku selalu merepotkan mu..”

“ gwenchana.. aku sama sekali tak keberatan Nada, kau ingat? saat kita dibalkon kampus? aku sudah berjanji untuk melindungi mu dan membuatmu bahagia.. jadi jangan minta maaf.. “

Nada terdiam, ingin sekali ia berterus terang pada Onew, bahwa ia mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Namun ia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan nya, dan juga ia tidak ingin menyakiti perasaan Minho.

“ Nada..”

“ Hmmm…”

“ Kau mengantuk..??” tanya Onew pelan.

“ Sedikit, oppa..”

“ kalau begitu tidurlah, sandarkan kepalamu di bahuku..”

setelah berjalan kurang lebih lima belas menit akhirnya mereka sampai juga di depan dorm mereka, terlihat Minho berdiri di teras, sambil memperhatikan mereka.

**********

Minho POV :

Kulihat Onew dan Nada dari kejauhan,,,

apa-apaan ini?? mengapa Onew menggendong Nada?? mengapa Nada tertidur di bahu Onew?? mengapa Nada basah kuyup dan memakai jaket Onew?? mengapa mereka berdua pulang bersama?? ada apa ini sebenarnya?? kurasakan tanganku bergetar menahan emosi.

aku berjanji menjemput nada jam 7 malam ini, namun begitu aku sampai di KARA, KARA sudah tutup dan Nada pun sudah tidak ada, kupikir karena sebentar lagi hujan, maka Nada pasti pulang bersama taemin.

Tapi taemin pulang sendirian, aku kembali menaiki motor ku menuju KARA, Nada tetap tidak ku temukan. Kini kulihat Ia berdua dengan Onew..

Apa maksudnya ini??

**********

Keesokan paginya, Nada terbangun dengan kepala agak berat. Ia heran mendapati dirinya sudah berganti pakaian.

“ Yui kah yang mengganti pakaian ku??” gumamnya pelan. Nada berusaha bangun dari tempat tidurnya dan memaksakan diri untuk melangkah ke kamar mandi. saat Ia membuka pintu kamarnya terlihat dorm begitu sepi. tampaknya semua orang sudah pergi kuliah.

Setelah nada selesai mandi, dan berganti pakaian, nada kembali merebahkan dirinya diatas tempat tidur, ia memegang keningnya dengan telapak tangan nya.

“ Panas.. seperti nya aku akan sakit..”

“ Tok.. Tok.. Tok..”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.

Nada terbangun.

“ Nuguseyo??”

“ Siapa yang mengetuk pintu kamarku.. bukankah semua orang sudah pergi ke kampus??” desahnya dalam hati.

“ Tok.. Tok.. Tok..” kembali terdengar ketukan.

Nada segera berdiri dan perlahan membuka pintunya.

**********

“ Minho oppa..??” bisik Nada pelan saat melihat sosok namja jangkung dihadapannya.

“ Kau tidak kuliah??” tanya nya lagi. Namun minho hanya terdiam sambil terus memandang Nada. Nada merasa risih karena minho terus memandanginya seperti itu, Ia pun menunduk menghindari tatapan Minho.

“ Kemarin mengapa kau pulang bersama Onew??” akhirnya setelah beberapa saat mereka saling diam, Minho memulai pembicaraan.

“ nngg.. Aku..” Nada bingung harus menjawab apa.

“ Bukan kah sudah kukatakan, aku yang akan menjemputmu pulang..?” kata Minho tajam.

“ Mianhae.. oppa..” bisik Nada pelan sambil tetap menunduk.

“ Yaa!! tatap mataku saat aku berbicara dengan mu!!” bentak minho.

Nada memandang Minho dengan tatapan bersalah, Ia tidak menyangka Minho akan marah besar seperti ini.

“ Oppa.. Mianhaeyo..”

Minho menghela nafasnya sesaat, kemudian ia mendorong Nada masuk kedalam kamarnya dan langsung menutup pintunya.

“ Oppa…” Nada terkejut ketika tiba-tiba Minho mendorongnya, ia sungguh tidak mengerti dengan sikap Minho yang begitu berbeda terhadapnya sekarang.

“ Oppa, aku.. ku rasa..” Nada ingin berbicara namun telunjuk minho menyentuh bibirnya,  Nada langsung terdiam.

“ ssshhh… biarkan aku berbicara dulu…” Kali ini Minho berbicara dengan lembut, membuat Nada semakin tak mengerti.

“ kemarin, saat kau pulang bersama Onew, tahukah kau aku cemburu??”

Nada terdiam..

“ aku tahu, onew memaksamu untuk pulang bersama dengan nya.. iya kan? tatap mataku Nada.. jangan menunduk saat aku sedang berbicara padamu..” kata Minho pelan.

Nada memberanikan diri untuk menatap mata minho, yang menurutnya semakin lama-semakin menakutkan.

“ Nada… jawab pertanyaanku..”

Nada terdiam sebentar, ia mencari kata-kata yang tepat agar tidak membuat minho tersinggung.

“ Nggg.. oppa, kemarin sudah satu jam, aku menunggu mu.. namun kau tak datang, kukira kau lupa, jadi.. saat.. onew oppa mengajakku pulang.. aku.. menerima tawarannya.. Mianhae oppa…” jawab Nada pelan.

Minho kembali terdiam, jawaban yang diucapkan Nada sungguh berbeda dari apa yang diharapkannya. rasa kecewa, rasa jengkel, rasa marah yang sejak kemarin dipendamnya kembali muncul.

“ Kau mencintaiku kan, Nada??”

***********

perasaan Onew gelisah, ia terus menghela nafasnya.

“ Rasanya ada sesuatu yang tidak beres.. tapi apa…” sungutnya dalam hati.

“ Hyung!!!” seru Taemin mencoba mengagetkan onew, Namun tidak berhasil.

“ Yaaa!!! Onew hyung… mengapa melamun?? haa.. kau sedang memikirkan Nada yaa??” ledeknya lagi.

“ Entahlah.. aku hanya merasa ada sesuatu yang salah hari ini.. Namun aku tidak tahu, apa itu..” gumam onew pelan, pandangan nya menerawang.

“ tenang saja Hyung, sakit Nada tidak begitu parah seperti waktu ia terluka oleh Jessica, kata Yui hanya demam saja badannya masih agak panas saat tadi Yui meninggalkannya, tapi tadi Yui meninggalkan obat penurun panas di meja makan, kau tenang saja laah.. Nada kan bukan anak kecil, hyung..” kata Taemin menenangkan Onew.

“ Yaa.. seharusnya begitu, Namun aku merasa gelisah seharian ini.. aku terus memikirkan Nada.. apakah ia baik-baik saja sendirian dirumah?? apakah kompor gas dan pemanas sudah dimatikan?? pintu sudah dikunci?? bagaimana jika ia masih tertidur dan kalian lupa mengunci pintu??” onew terlihat makin cemas.

“ Wwaahh.. kau pasti sangat mencintainya ya.. sampai segitu khawatirnya hyung.. hehe.. tenang saja, Nada tidak sendirian.. Minho hari ini tidak kuliah, pasti dia…” belum selesai Taemin berbicara onew sudah berlari meninggalkan Taemin sendiri.

“ Hyung!!! Yaaaa!!!! mengapa kau meninggalkan aku??” teriak Taemin.

Sementara itu onew berlari sekuat tenaga  menuju parkiran mobil.

“ Yaa Tuhaann… aku baru sadar mengapa dari tadi perasaan ku gelisah.. mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka berdua.. aku benar-benar tidak bisa membayangkannya…”

**********

“ Kau mencintaiku kan, Nada??” bisik Minho tajam. Ia memperpendek jaraknya dengan Nada.Nada melangkah mundur.

“ Nada.. katakan kau mencintaiku..” Minho semakin menyudutkannya ke dinding.

“ Oppa…” bisik Nada, kini ia merasa ketakutan.

“ kau lebih memilihku kan, dibanding onew..” Minho memegang leher Nada, dan perlahan mengusap tengkuknya.

Sakit kepala yang kini dirasakan Nada semakin menjadi-jadi, Ia mencoba untuk menghindari Minho namun tak ada ruang baginya untuk bergerak, Minho benar-benar menyudutkannya dengan sempurna.

“ Oppa.. Tolong jangan seperti ini..” pinta Nada, Ia berusaha menarik tangan Minho dari tengkuknya, namun cengkraman Minho malah semakin kuat.

“ Jawab aku , Nada.. kau mencintaiku kan..” Minho berbisik di telinga Nada, membuat nada sedikit merinding.

“ Oppa… tolong.. “ Kini Nada mencoba mendorong Minho menjauh dari nya.

“ JAWAB AKU NADA!!! JAWAB PERTANYAANKU!!! KATAKAN KAU MENCINTAIKU!! JAWAB!!!” Minho berteriak keras kepada Nada, membuat Nada sedikit terlonjak karena kaget.

“ Oppa…” Air mata nada menggenang, Ia berusaha menahannya agar tidak tumpah.

“ Sadarkah kau , kau telah mempermainkan perasaanku??? “ Kedua tangan Minho memegang erat lengan Nada.

Minho mendekatkan wajahnya kepada Nada, menatap dalam-dalam mata  Nada yang kini nampak ketakutan.

“ Mengapa kau diam saja?? ayo bilang bahwa kau mencintaiku, Nada!!!”

“ Oppa.. Lepas.. tolong jangan seperti ini,,” kata Nada terisak, ia merasa kini lututnya terasa sangat lemas. tangannya mendorong minho sekuat tenaga, Namun minho tidak bergeming, ia tetap ditempatnya.

“ KUMOHON NADA!!! KATAKAN KAU MEMILIHKU!!! KATAKAN KAU MENCINTAIKU!!!” Kini minho sudah kehilangan kendalinya, Dengan satu tangan, ia memeluk nada, dan tangan satunya menarik wajah Nada kearahnya hingga bibir mungil nada menempel tepat di bibirnya.

“ Mmmpphhh.. Oppa.. Andwae..” jerit Nada pelan, tangannya mendorong keras bahu minho, namun minho lebih kuat darinya sekeras apapun Nada mendorong nya, minho tetap tak bergeming.

“ Katakan Nada.. kau mencintaiku kan??” desis Minho saat bibir mereka masih menempel.

Nada menggelengkan kepalanya pelan, berusaha melepaskan bibirnya dari bibir Minho.

“ KATAKAN NADA!!!!” Teriak Minho keras.

Nada mengatupkan kedua tangan nya kewajahnya, Tubuhnya merosot ke lantai karena lututnya gemetar tidak kuat menahan bobot badannya.

“ Yaa!!! Minho!! Apa yang kau lakukan!!!!” Tiba-tiba terdengar terdengar teriakan Kibum dan Onew berbarengan.

Onew segera menghampiri Minho dan hendak melayangkan tinjunya ke arah Minho, Namun Kibum dengan cepat menahannya.

“ Hyung!!! jangan!!! “

“ Yaaa!!! lepaskan aku!!” teriak Onew keras.

“ Apa yang ada di otak mu!! Pabbo!! apa kau tidak sadar Nada sedang sakit!!! apa yang kau lakukan hingga membuatnya menangis!!! Brengsek!! “ teriak Onew kehilangan kendali.

“ Hyung!! sudah!!” Kibum menarik Onew mundur.

“ Sudah Hyung!! Pikirkan keadaan Nada..” bisik Kibum menenangkan onew.

Onew menghela nafasnya, kemudian Ia berlutut di depan Nada, dan mengusap lembut kepalanya.

“ Nada.. kau tidak apa-apa..” bisik Onew pelan.

Namun Nada hanya menggelengkan kepalanya, tangannya tetap menutupi seluruh wajahnya.

“ Nada.. sshh… uljima.. ini aku, kau tidak apa-apa..” Kali ini kibum yang berbicara.

“ aku ingin sendiri.. kumohon.. tinggalkan aku sendiri..” bisik Nada pelan.

*************

“ Aku mohon.. tolong, tinggalkan aku sendiri..” bisik Nada terisak.

Akhirnya Kibum menarik lengan Onew agar menjauh dari Nada, awalnya Onew menolak namun Kibum mengatakan bahwa jika mereka bertiga tetap berada disini, kondisi nada akan semakin down.

dengan berat Onew meninggalkan Nada yang masih menangis, Ia mengelus rambut Nada pelan dan kemudian berdiri menyusul Kibum dan Minho yang sudah keluar terlebih dahulu.

Setelah Kibum menutup pintu kamar Nada, Tiba-tiba Minho mengarahkah tinjunya ke rahang Onew.

“ BUUKK…”

“ YAA!!! MINHO!! APA YANG KAMU LAKUKAN!!!” teriak Kibum.

Onew tidak tinggal diam, walau pun matanya masih berkunang-kunang, Ia mencoba membalas pukulan Minho, kali ini wajah Minho adalah sasarannya.

“ ONEW HYUNG!!! BERHENTI!!!” Kibum berusaha memisahkan mereka berdua, Namun baik Onew dan Minho tampaknya sudah tidak mendengarkannya lagi.

Minho mendorong Onew hingga terjatuh, kemudian Ia duduk diatas perut onew dan mulai memukul wajah onew bertubi-tibi

“ MENGAPA KAU SELALU MENGHALANGIKU!! NADA MENCINTAIKU!! NAMUN KAU TERUS MENEKANNYA!! MENGAPA KAU SELALU MENJAUHKAN KU DARINYA!!!” teriak minho.

Darah sudah mengalir dari hidung dan bibir Onew.

“ HENTIKAN MINHO!!!” Kibum berusaha menarik Minho dari atas tubuh Onew,

“ LEPASKAN AKU KIM KIBUM!!!” teriak Minho.

Onew tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Minho lengah, dengan kakinya ia menendang tubuh Minho hingga terjatuh.

Kali ini onew yang berada diatas minho, Ia meninju perut, rahang, dan wajah minho lebih keras dari sebelumnya.

“ JIKA KAU MENCINTAINYA MENGAPA KAU MEMBUATNYA MENANGIS!!! ASAL KAU TAU!! SAMPAI MATI PUN AKU TAK AKAN MENYERAHKAN NADA PADAMU!! BRENGSEK!!! “

Kibum memegang kedua tangan Onew, Ia berusaha menarik Onew dari atas tubuh Minho.

“ HYUNG!!! HENTIKAN!!! KAU BISA MEMBUNUHNYA!! HENTIKAN!!!” Kibum mulai panik, baik onew maupun minho sudah mengeluarkan darah, namun keduanya tampaknya ingin membunuh satu sama lain.

“ OPPA!!! HENTIKAN!!!!” jerit Nada tiba-tiba, Ia berdiri di pintu kamarnya, menangis dan gemetaran melihat pemandangan yang ada di depannya.

Onew, Minho dan Kibum terdiam ditempat, perlahan Onew berdiri dari tubuh Minho, melangkah mundur menyandar ke tembok dan menyeka darah yang ada di wajahnya.

“ Yaa, Tuhaan.. Mengapa jadi seperti ini..” Ucap Nada terisak. satu tangannya kini memegang dadanya yang mulai sesak.

“ Nada..” Onew melangkah mendekatinya.

“ Mengapa kalian berkelahi??…. hhhhh…. bukankah kita adalah satu keluarga?? hhhhh… tahu kah kalian??? hhhh… hatiku sungguh sakit melihat kalian seperti ini…” tangis Nada semakin kencang bercampur dengan rasa sesak yang kini membuat Nada makin sulit bernafas.

“ Nada… “ Onew berusaha memeluknya namun nada menolaknya.

“ Andwae Oppa… Lepas…” Nada mendorong Onew kuat.

“ Sssshhh… jangan menangis.. Mianhae..” Onew tidak perduli Nada mendorongnya, Ia tetap terus berusaha memeluk Nada.

“ Andwaee Oppa… hhhhh.. Lepas… hhhh”

Onew memeluk Nada, Ia semakin mempererat pelukannya setiap kali Nada mendorongnya.

“ Hyung.. sudahlah.. lepaskan dia…” desah Kibum pelan. Namun Onew bertahan, ia tetap memeluk Nada, hingga akhirnya nada menyerah, Ia terus menangis di pelukan onew.

“ sssshhhh… uljima…” bisik Onew sambil mengusap lembut rambut Nada, dan menyandarkannya di bahunya.

“ tolong jangan seperti ini oppa..” bisik nada sesenggukan.

“ Mianhae.. tak akan kuulangi lagi..”

************

TBC

Signature

This post/FF has written by Wiga, and has claim by Wiga signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF