LOVE’S WAY – ONE OF A KIND [1.2]

ONE OF A KIND

[1.2]

Author : Novi

”Bangun Hye Jin!”teriak Hyo Jin dikupingku.

”Aigoo..masih ngantuk…”jawabku dengan mata setengah terbuka.

Hyo Jin menarik selimutku dan menepuk-nepuk pipiku.

”Bangun…bangun…”serunya lagi.

Aku berusaha membuka mataku dan mengingat-ingat hari ini hari apa. Saat itu juga aku tersentak kaget. OMO hari ini ada festival, aku harus pura-pura sakit, aku tidak mau ke sekolah menggunakan hanbok itu, pasti aku akan terlihat sangat aneh. Aku kembali menarik selimutku dan memejamkan mataku.

”Ya!Hye Jin!”teriak Hyo Jin lagi.

Aku pura-pura tidak mendengarnya. Ah malas sekali harus ke sekolah hari ini dengan pakaian itu. Kenapa sih harus ada festival budaya segala. Aku sudah menghabiskan tabunganku untuk membeli hanbok itu hanya untuk festival budaya ini saja.

Hye Jin naik ke tempat tidurku dan kembali menarik selimutku.

”Hyo Jin, sepertinya aku sakit”kataku.

”Ah..kau pasti hanya ingin tidak ingin ke sekolah kan?ayo cepat bangun, pakai hanbok itu nggak sebentar, bangun cepat…”seru Hyo Jin sambil menarikku turun dari tempat tidur.

Aku terduduk di lantai kamar dengan wajah sangat kusut menunggu Hyo Jin mandi, Tak lama kemudian Hyo Jin sudah selesai mandi dan sudah mengenakan bawahan haboknya yang berwarna biru. Aku berjalan dengan malas menuju kamar mandi.

”Buka matamu…”seru Hyo Jin.

Dengan takut-takut aku membuka mataku dan melihat pantulan diriku dicermin. Aneh! Aku aneh sekali menggunakan hanbok ini.

”Aneh!”seruku.

Hye Jin mendesah pelan dan tersenyum.

”Kau cantik tau..tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa pada rambutmu habis rambutmu tidak terlalu panjang…”terangnya.

Baguslah untung rambutku pendek, tidak terbayangkan rambutku akan dibentuk seperti wanita korea jaman dulu yang sering aku lihat di drama-drama. Pasti aku akan tampak aneh. Kupandangi Hyo Jin sebentar dan dia sangat cantik menggunakan hanbok warna biru-putih, dia terlihat sangat dewasa dan berhubung rambutnya panjang maka rambutnya bisa dibentuk dan sungguh dia terlihat seperti Putri Korea jaman dulu.

”Kau cantik sekali…”seru ibuku masuk ke dalam kamar.

”Umma…pasti aku terlihat sangat aneh…”kataku.

”Anni…kau sangat catik…tersenyumlah..”katanya sambil merapihkan hiasan rambutku.

”Ayo kita pergi…”sela Hyo Jin.

”Annyeong….kami pergi dulu..”seru kami bersamaan begitu kami keluar dari pintu rumah.

Aku berjalan dengan perlahan-lahan karena aku takut jatuh, memakai pakaian ini membuatku susah untuk berjalan.

”Aduh…Hyo Jin…pelan-pelan jalannyya…”seruku padanya yang sudah berjalan mendahuluiku di depan.

Hyo Jin mundur dan berjalan disampingku.

”Naikkan ke atas rokmu seperti ini baru kau bisa berjalan…”

Hyo Jin menunjukan bagaimana cara berjalan dengan menggunakan hanbok, ternyata harus dinaikkan dulu sedikit di bagian samping baru kau bisa berjalan. Baru tahu aku. Pantas saja dari tadi aku susah berjalan. Di sepanjang perjalanan aku terus berpikir apa yang akan mereka katakan melihatku ya. Ada beberapa orang yang harus kuwaspadai jika melihatku. Key, Heechul sunabe dan Eunhyuk sunbae, mereka semua harus kuhindari karena pasti mereka akan meledekku habis-habisan, sudah terbanyang mereka tertawa terbahak-bahak melihatku menggunakan hanbok. Kami sampai di depan gerbang sekolah dan disana sudah penuh dengan murid-murid dan juga stand-stand dari setiap kelas. Aku melihat kesekeliling mencari 3 sosok yang harus kuhindari, sepertinya tidak ada.

”Kau mau kemana dulu?”tanya Hyo Jin padaku.

”Ke stand kelasku sepertinya….”jawabku sambil mengedarkan pandanganku kesekeliling mencari stand kelasku.

”Dari tadi kau melihat sekeliling terus mencari siapa sih?Taemin?dia datang sedikit telat tadi Jin Ki bilang begitu…”seru Hyo Jin sambil tersenyum mengejek.

”Mwo?”tanyaku dengan pandangan kesal.

Aissh, mulai lagi deh dia. Kenapa sih tidak ada sehari pun dia tidak meledekku. Hyo Jin mulai tertawa dan berlari pergi, dengan pakaian itu dia masih bisa berlari, aku jalan saja sudah susah apalagi berlari. Aku berjalan perlahan-lahan melihat ke setiap stand mencari stand kelasku. Aku terus melihat sekeliling takut ada 3 makhluk itu. Ternyata benar saja baru beberapa langkah memasuki area stand aku melihat dua orang sunbae aneh itu. Aku segera berbalik mencari jalan yang lain agar tidak berpapasan dengan mereka kalau tidak mereka pasti akan meledekku habis-habisan.

”Hye Jin-ah…”

Habislah aku, mereka memanggilku. Mereka berdua kemudian menghampiriku. Aku pun berbalik dan berusaha tersenyum.

”Annyeong sunbae…”sapaku.

Dan saat itu benar-benar habislah aku mereka tertawa terbahak-bahak melihatku. Sudah kuduga pasti reaksi mereka akan seperti itu. Ah rasanya ingin pulang saja. Aku memanyunkan mulutku dan memasang tampang marah. Mereka pikir mereka sendiri tidak aneh. Dasar sunbae-sunbae aneh!

”Jangan marah Hye Jin…kami Cuma bercanda kok…”terang Eunhyuk sunbae begitu melihatku sudah marah.

”Ne…kau cantik kok….”seru Heechul sunbae sambil mengacungkan jempolnya.

Aku masih terus memanyunkan bibirku menandakan aku masih marah.

”Ya…jangan marah dong…lebih baik kau ke stand kelas kami…disana ada Donghae juga kok…”ajak Enhyuk sunbae sambil menarik tanganku.

Benar juga aku ingin melihat Donghae Oppa mengenakan pakaian tradisional pasti dia sangat tampan. Aku sampai di stand kelas Eunhyuk sunbae yang juga stand kelas Donghae Oppa dan Heechul sunbae. Mereka menjual makanan khas korea. Hmm sepertinya enak-enak.

”Annyeong…Donghae Oppa…”seruku begitu melihat dia sedang menjual makanan kepada salah satu pengunjung. Festival ini terbuka untuk umum jadi banyak sekali pegunjung dari sekolah lain dari mulai SMP sampai SMA.

Dia tersenyum melihatku dan aku pun menghampirinya. Oppa tampak sangat tampan dengan pakaian tradisional warna coklat muda.

”Cantik…”pujinya sambil mengamatiku dari atas sampai bawah.

”Oppa juga sangat tampan…”seruku sambil mengacungkan dua jempolku dan tersenyum.

Akhirnya ada juga yang bilang aku tidak aneh mengenakan hanbok, aku memandang tajam ke dua sunbae disampingku, mengingatkan mereka bahwa aku masih marah karena hal tadi. Donghae Oppa tertawa.

”Pasti kau di ledek lagi ya oleh mereka…”

Aku mengangguk dan kulihat dua orang sunbae itu sibuk melakukan hal-hal yang aneh, pura-pura tidak mendengar. Mereka ini!

”Duduklah..”seru Donghae Oppa mempersilahkan aku duduk.

Aku melihat berbagai jenis makanan yang di taruh di atas meja untuk dijual. Bentuknya aneh dan aku tidak kenal, makanan apa itu.

”Let’s Eunhyuk teacher explain you…”seru Eunyhuk sunbae yang memperhatikanku sedang melihat makanan-makanan itu dengan wajah bingung.

Bahasa Inggrisnya lucu sekali sehingga aku pun tertawa.

”Ya!kau mengejek bahasa inggrisku…”seru Enhyuk sunbae lagi sambil menghampiriku.

”Anni…tadi kan sunbae juga meledekku…sekarang gantian…”kataku dengan senyum jahil.

Kulihat Eunhyuk sunbae cemberut dan berjalan ke pojokkan, ya ampun kasihan sekali wajahnya.

”Mianhe sunbae…Cuma bercanda kok…ayo jelaskan padaku…”bujukku padanya agar tidak marah lagi, aku menghampirinya dan menarik tangannya ke depan meja yang berisi berbagai jenis makanan.

”Eunhyuk tidak mengerti…lebih baik kau langsung mencoba saja…kesini…mau coba..”seru Donghae Oppa yang baru saja melayani seorang pembeli. Aku pun menghampirinya.

”Ya!Donghae!” seru Eunhyuk sunbae kesal dan ikut mengamhapiri Donghae Oppa.

”Ini coba..”Donghae Oppa mengambil sumpit dan menyuapiku.

”Bagaimana?enak?”tanyanya.

Aku mengunyah perlahan, lumayan juga rasanya sepertinya aku kenal makanan ini, apa aku pernah makan ya?mataku beralih pada makanan yang lain dan Donghae Oppa sepertinya memperhatikanku lalu mengambil makanan itu dan menyuapiku lagi.

”Enak….enak….”jawabku dengan mulut penuh makanan. Seharian di stand ini pasti asyik banyak makanan yang enak.

”Kalau yang itu bagaimana?”tanyaku sambil menunjuk makanan yang berwarna merah terang itu, sepertinya lezat. Donghae Oppa kembali mengambil makanan itu dan menyuapiku.

Eunhyuk sunbae yang berada disampingku juga jadi ikut mencoba makanan disitu.

”Kau yang buat ini semua Donghae?”tanya Eunhyuk sunbae sambil menyumpit makanan lagi padahal di mulutnya sudah penuh makanan.

”Ne…”jawab Donghae Oppa sambil tersenyum.

Wow jadi semua ini Donghae Oppa yang membuatnya, enak sekali. Ternyata Donghae Oppa pintar memasak. Tidak menyangka.

”Oppa keren…makanannya enak semua?”pujiku pada Donghae Oppa.

”Nah…yang ini aku memodifikasikan masakan luar dengan masakan korea…cobalah…”seru Donghae Oppa dengan semangat dan menyuapiku lagi.

Aku terdiam. Benar-benar enak, tidak menyangka Oppa begitu pintar memasak, dia bisa menjadi koki terkenal kalau begitu.

”Ya! Daritadi hanya Hye Jin saja yang kau suapi..”seru Eunhyuk sunbae di belakanku.

”Oh…Eunhyuk sunbae mau disuapi juga?”tanyaku kemudian mengambil sumpit dan menyumpit makanan berpura-pura hendak menyupainya tapi belum sampai kemulutnya sumpitnya kuarahkan kemulutku dan memakan makannya. Kulihat Eunhyuk sunbae hanya cemebrut. Aku dan Donghae Oppa pun tertawa melihatnya.

”Heechul sunbae mana?”tanyaku sambil melihat kesekeliling mencari sosok sunbae paling aneh itu, tapi tidak terlihat perasaan tadi masih disini. Eunhyuk sunbae dan Donghae Oppa pun ikut melihat kesekeliling stand mencari Heechul sunbae.

”Mungkin sedang persiapan drama…”kata Donghae Oppa.

Oh ya benar mungkin dia pergi ke ruang teater, Heechul sunbae kan bertanggung jawab terhadap pementasan kali ini. Waktu itu aku ditawari untuk ikut tapi aku menolak, karena kalau aku ikut drama aku tidak bisa menikmati festival ini dan pasti tidak bisa makan makanan seenak ini. Namun tiba-tiba Heechul sunbae masuk ke stand.

”Eunhyuk cepat bantu aku!”serunya.

Sepertinya dia sibuk sekali. Eunhyuk sunbae dengan malas menghampirinya.

”Mwo?”tanyanya.

”Ikut aku cepat!”kata Heechul sunbae lagi sambil menarik tangan Eunhyuk sunbae dan mereka pun menghilang.

”Donghae Oppa tidak ikut?”tanyaku padanya, biasanya dia selalu ikut mereka.

”Anni…aku mau jaga stand saja…”jawabnya sambil merapihkan letak makanan-makanan itu.

Aku mengambil lagi sepotong telur dadar yang ada di priring diam-diam. Aku sudah menghabiskan banyak makanan kali ini. Mianhe Oppa habisnya enak.

”Ya…Hye Jin..habislah makananku…”kata Oppa.

”Mianhe…habis enak…”jawabku sambil tersenyum.

Tak lama kemudian seseorang masuk ke stand dan menghampiri Donghae Oppa, siapa dia?saat kuperhatikan lagi ternyata itu Siwon sunbae. Aigoo, dia tampak sangat berbeda dengan pakaian tradisional. Siwon sunbae terlihat sangat tampan, dia tampak seperti seorang pangeran Korea menurutku. Aku baru sadar Siwon sunbae sangat tinggi begitu melihatnya berdiri disamping Donghae Oppa dan Donghae Oppa jadi terlihat pendek padahal Donghae Oppa lebih tinggi dariku. Pantas saja semua murid-murid perempuan disini tergila-gila padanya. Sangat tampan dan tinggi. Almost perfect.

Dia mengamatiku sekilas dan tersenyum.

”Siwon….ini Hye Jin…”Donghae Oppa mengenalkanku padanya.

Aku tersenyum dan membungkuk.

”Annyeong..joneun Hye Jin-imnida…”

”Annyeong….Siwon-imnida…”dia tersenyum dan membungkuk.

Kenapa setiap bertemu dengan dia selalu perasaan ini yang muncul?kenapa sih aku selalu merasa seperti sudah dekat sekali dengannya. Dia seperti orang yang aku kenal sejak dulu. Donghae Oppa sibuk mengobrol dengan Siwon sunbae entahlah apa yang mereka bicarakan. Sebaiknya aku kembali ke stand kelasku, pasti teman-teman akan marah kalau aku tidak datang. Aku pun berpamitan pada dua sunbae ini.

”Aku duluan ya…annyeong sunbae…”kataku sambil tersenyum dan beranjak dari tempat itu.

Nah ini stand kelasku. Kulihat banyak sekali murid-murid kelasku disana. Stand kelasku berisi kerajinan khas Korea. Aku melongok ke dalam stand mencari sosok orang yang harus kuhindari juga hari ini. Ada dia tidak ya?ah malas sekali kalau ada dia.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dan saat aku menoleh, habislah aku.

”Ngapain kau?”katanya begitu melihatku.

Kemudian dia memperhatikanku dari atas sampai bawah dan benar dugaanku dia juga tertawa. Key!lihat saja kau!

”Aneh sekali kau!”katanya lagi.

”Ya!kau pikir kau juga tidak aneh!”seruku.

”Kalau aku sih tampan!”jawabnya sambil berlalu masuk ke stand.

Dasar cowok yang terlalu percaya diri! Tampan!kasar lebih tepatnya. Tapi memang sih kulihat dia cocok-cocok saja memakai pakain tradisional itu dan kulihat teman-teman yang lain juga terlihat cocok, sedangkan aku tampak sangat aneh.

”Hye Jin kau jaga stand ya?”kata salah satu temanku.

”Ne..”jawabku langsung.

”Sama Key…”lanjutnya.

”Mwo?Mworago?”seruku.

Apa aku harus menjaga stand dengan orang aneh itu. Hah!ujung-ujungnya pasti bertengkar. Aigoo, aku tidak mau kalau dengan dia.

”Ya…Hye Jin ayolah….Cuma sebentar kok…arasso?”katanya lagi sedikit memaksa.

Aku pun mengangguk lemah. Ah sial!kenapa harus bersama dia seharian ini. Bikin emosi saja dekat dengan dia. Sekarang teman-teman sudah banyak yang keluar stand untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. Aigoo!terjebak bersama dia disini. Kulihat dia duduk di pojokkan mengenakan headphonenya dan memejamkan matanya. Apa yang dia lakukan?tidur? dasar babo!dia menyuruhku menjaga stand sendirian begitu. Ah aku kan mau lihat pentas seni. Apalagi Rae Na akan tampil main sitar, aku tidak pernah menyangka kalau temanku yang satu itu pintar bermain sitar. Sepertinya aku baru menyadari bakat teman-temanku hari ini seperti Donghae Oppa yang baru aku sadari pintar memasak. Dasar Key!sekarang aku hanya terududuk sambil melihat orang-orang yang lalu lalang. Ah bosan sekali.

Sudah 30 menit, aku mulai bosan dan Key masih saja tidur dengan enaknya. Aku sudah tidak tahan lagi melihatnya.

”Ya!bangun kau Key!”teriakku pada Key yang sedang tidur. Kulepaskan headphone yang dia pakai.

”Aisshh!Hye Jin!aku mau tidur tau!”teriaknya padaku.

”Enak saja kau!aku disuruh menjaga stand sendiri sedangkan kau tidur!Babo!”teriakku lagi.

”Sudahlah kau saja!aku mau tidur tau!”seru Key lagi dan dia mengambil kembali headphone tadi dari tanganku dan menggunakannya kembali lalu pergi ke pojokkan dan melanjutkan tidurnya kembali.

Aisshh!sial sekali aku hari ini harus seharian bersama cowok aneh ini. Aku duduk di depan meja yang memajang kerajinan tangan yang dibuat sambil berpangku tangan. Pasti ramai sekali di lapangan karena ada pentas seni, aku ingin sekali kesana, sebenarnya bisa saja aku kesana si babo ini sedang tidur pasti dia tidak tahu kalau aku pergi tapi kalau terjadi sesuatu pada stand ini pasti aku yang akan disalahkan oleh anak-anak sekelas.

Tiba-tiba seorang laki-laki masuk, kurasa dia bukan murid karena dia memakai jas dan kurasa dia juga bukan anak dari sekolah lain karena wajahnya sangat dewasa, kurasa dia kuliah atau semacamnyalah, dia terlihat melihat-lihat kerajinan tangan kami. Aku menghampirinya dan menyapanya.

”Annyeonghaseyo…”sapaku tapi dia diam saja dan terus saja berjalan melihat kerajinan yang lain. Sungguh tidak sopan sekali dia.

”Apa ini tidak berseni!”serunya sambil mengambil sebuah kerajinan tangan.

”Mwo?”tanyaku masih berusaha sopan.

”Tidak berseni!ini yang dijual!”katanya lagi.

Ya ampun orang ini sungguh tidak sopan, maunya apa sih?kalau tidak mau beli tidak usah menjelek-jelekkan segala, setidaknya ini hasil karya kami.

Dia mengambil barang yang lain.

”Ini juga!aigoo…sekolah ini memang tidak berseni…harusnya dari dulu aku kesini…”serunya lagi.

Apa sih yang dia bicarakan!

”Ya!kalau tidak mau beli tidak usah seperti itu!”kataku.

Key POV

Berisik sekali sih dia, apa dia masih kesal aku tidak mau membantunya menjaga stand. Apa dia tidak tahu tadi malam aku baru bisa tidur jam 3 pagi, aku mau melanjutkan tidurku lagi. Aigoo, berisik sekali dia. Kulepaskan headphoneku dan melihatnya sedang berdebat dengan sesorang, aku berusaha memfokuskan pandanganku pada orang itu dan aku langsung terkejut melihatnya.

”Mwo!”teriakku begitu melihat pria itu.

Hye Jin benar-benar selalu mencari masalah saja kali ini dengan orang itu. Aku bangun dan segera mengahmpirinya.

”Hye Jin..minta maaf…”kataku padanya.

”Mwo?”tanyanya. Ah dia selalu saja.

Kutarik tangannya untuk membungkuk minta maaf.

”Mianhe seosangnim…”aku meminta maaf atas kelakukan Hye Jin pada pria itu.

”Seosangnim?”seru Hye Jin padaku kemudian dia melihat ke arah pria itu lagi dengan tatapan bingung namun akhirnya dia membungkuk dan minta maaf.

”Jeongmal mianhe seosangnim..”kata Hye Jin.

”Annyeong Key..”katanya padaku sambil tersenyum tipis dan beranjak pergi.

Aku kembali ke tempat dudukku dan mengenakkan headphoneku lagi dan berusaha memejamkan mataku lagi, tapi ternyata tidak bisa. Gara-gara tadi berisik sekali aku jadi tidak mengantuk lagi.

”Key…dia seosangnim?” tanya Hye Jin.

”Ne…dia guru baru disini…Namanya Jang Geun Suk…lulusan amerika mengambil seni…dia akan jadi guru seni yang baru…”jelasku.

Kulihat Hye Jin mengerutkan keningnya.

”Orang seperti dia?kau tahu darimana?”tanya Hye jin lagi.

”Ayah yang bilang…yah walaupun begitu…terima saja…”jawabku.

”Dia sama sepertimu…kasar!”kata Hye Jin lagi.

”Aishh!paling tidak aku tidak pernah menghina hasil karya orang lain…”seruku. Enak saja dia bilang aku kasar.

Aku melepaskan headphoneku dan menghampirinya.

”Kau tidak bosan apa?”tanyaku padanya.

”Ya!aku sangat bosan apalagi kau hanya tidur begitu dan aku disuruh menjaga sendirian!”serunya.

Aku tertawa melihat ekspresi marahnya. Dia sangat lucu jika sedang marah. Itu yang aku suka darinya. Aku senang membuatnya marah, karena dia akan sangat lucu saat itu dan Itu yang membuat aku menyukainya, sangat menyuakinya.

”Kenapa kau tersenyum sendiri?dasar aneh!”katanya lagi.

”Anni..mau lihat pentas seni tidak?”ajakku padanya.

Dia berpikir sebentar.

”Bagaimana dengan standnya?”tanyanya padaku.

”Ditutup saja!”jawabku.

Dia terlihat bingung.

”Ayo pergi…”ajakku sambil menarik tangannya. Kami pun keluar dari stand itu.

Hye Jin POV

”Jangan tarik tanganku!”seruku padanya berusaha melepaskan tangannya yang menarikku.

”Aku bisa jalan sendiri!”lanjutku.

Dia pun melepaskan tangannya dan berjalan disampingku. Masih sulit berjalan menggunakan hanbok ini beberapa kali aku terpeleset karena menginjak roknya dan Key selalu membantuku agar tidak terjatuh. Tapi aku tidak mau terus dipegangi olehnya.

”Hati-hati…”katanya begitu melepaskan pegangannya.

Aishh!rasanya aku ingin ganti baju saja, repot sekali.

Aduh!kepleset lagi. Key kembali membantuku berdiri.

”Sudah kubilang…pegang tanganku…”katanya.

Aku melihatnya beberapa saat dan dengan sedikit ragu aku berpegangan padanya.

Taemin POV

”Apa aku sudah rapih Taem?”tanya Jin Ki hyung padaku.

”Kau tampan hyung”seruku padanya dengan tersenyum.

Gara-gara Jin Ki hyung terlambat bangun dan belum menyiapkan pakaiannya jadilah kami datang terlambat. Selalu saja begitu Jin Ki hyung.

”Kita kemana dulu?”tanyanya padaku.

”Pentas seni dulu…”jawabku sambil berjalan mendahuluinya. Sebenarnya ada satu orang yang ingin aku temui lebih dahulu tapi karena bersama Jin Ki hyung aku tidak bisa menemuinya sekarang tapi dimana dia?

Aku melihat seseorang mirip Hye Jin, saat aku lihat lagi. Ya itu Hye Jin tapi kenapa dia bersama Key hyung. Aku memperhatikan mereka dan kulihat Hye Jin menggandeng tangan Key hyung. Apa mereka sedekat itu?pikirku.

Aishh!kenapa aku harus marah melihatnya, aku bukan siapa-siapanya. Peduli apa aku dengannya.

”Hyung..aku tidak jadi kesana”seruku padanya dan berbalik pergi. Mianhe hyung aku tidak mau kesana. Perasaanku sedang tidak enak.

”Taem!”teriak Jin Ki hyung tapi aku terus saja berjalan. Aku malas kesana.

TBC

p.s: Aku potong lagiyak onn.. kekeke.. kepanjangan soalnya ^^

-Lana-


Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

TOCHI – Part 1

TOCHI

Cast :
Choi Minho SHINee / Incendiu
Kang Siyoung/ you
Kim Key bum SHINee / Dzayn
Lee Jinki/ Onew SHINee / Vady
Kim JongHyun SHINee / Povitrya
Lee Taemin SHINee / Lumina
Shin Hyosoo / me
Nichole / Saihi Fenrir (kalau yang ini aku pake nama girlband cz udah g kepikiran nama korea lagi)

“Cerita ini terinspirasi dari anime jepang PRETEAR, seru aja bayangin kalau yang main itu para member SHINee dan juga ada cerita yang mirip-mirip harpot. Cerita ini agak sedikit menghayal karena memang jauh dari kehidupan nyata.”

Synopsis :
Saat kegelapan menyelimuti bumi, seorang Saihi Fenrir akan datang ke bumi dan berusaha menguasai bumi. Untuk mencegah semua itu terjadi para kesatria langit turun kebumi untuk melindungi dan mempersiapkan seorang Tochi (orang terpilih yang akan menhancurkan Saihi Fenrir)di bumi.

*****

Author pov.

Lima pemuda tampan memandangi seorang gadis yang sedang menaiki sepeda dari langit. Gadis itu baru pulang dari sekolahnya.
“ apa mereka tidak salah pilih orang?”.tanya seorang pemuda yang paling tinggi ragu.
“ne, dia terlihat biasa-biasa saja”. Sahut seorang lagi meremehkan.
“Dzayn, apa yang kau katakana. Dia terlihat begitu manis”. Sela pemuda yang lain lagi.
“aku setuju denganmu Vady, dia sangat manis. Aku rasa menjaga dan mengajarinya tidah akan sulit”. Seorang yang paling pendek menyahut.
“aku rasa dia akan menyenangkan”. Seoarang yang terlihat paling muda dan cute menambahkan.
“pasti kau berfikiran akan mengajaknya bermain Lumina, eh?”. Kata pemuda yang paling tinggi tadi.
“kya…..aku bukan anak kecil lagi, aku hanya merasa dia memang pantas menjadi seorang Tochi”. Kelak Lumina.
“sudahlah,,,,,,saatnya kita menemuinya. Ini tepat hari ulang tahunnya yang ke-17 itu artinya dia terbebas dari lindungan orang tuanya”. Kata Dzayn,
“dan memiliki kekuatan sebagai Tochi”. Sambung Povitrya.
“Saihi Fenrir juga dapat menyakitinya sekarang”.tambah Vady.
“Gatcha……..”. ajak Lumina.

And of Author pov

Your pov

Nanti malam tepat jam 12 nanti aku ulang tahun yang ke-17. aku sangat semangat hari ini bahkan aku sampai tidak mersa mengayuh sepeda.
`ciiitttttttttttttt”.aku menarik rem sepedaku dan terperosot turun dari pedal sepedaku. Lima pemuda dengan pakaian seperti karnaval tahunan mecegatku sekarang . mulutku menganga terbuka. ‘mereka ini makhluk dari mana?’. Mereka semua hanya tersenyum melihat ekspresiku. Aku tersadar dan berusaha mengembalikan diriku yang rasanya berada di alam mimpi tadi.
‘kalian ini siapa? Apa aku punya urusan dengan kalian?”. Tanyaku tegas.
“kau ingin berkenalan satu-satu dengan kami?”. Mereka mendekatiku yang masih dalam keadaan menggagahi sepedaku. Sekarang aku benar-benar takut` jangan-jangan mereka mau bermaksud jahat padaku’. Aku menoleh ke samping kanan dan kiri `kenapa hari ini jalanan sepi ya’.
“apa yang kau cari?”. Tanya cowok yang paling muda itu kepadaku.
“aku………….ehm…maksudku. kalian belum jawab pertanyaan”. Jawabku semakin gugup.
“baiklah akanku perkenalkan padamu satu persatu dari kami”.jawab seorang pemuda yang terlihat agak tua dari yang lain.
“namaku Vady, aku seorang ksatria air dan ini……”menunjuk laki-laki tinggi disampingnya.
”Incendiu, dia ini kesatria api”.cowok yang bernama in…in…apalah itu hanya memasang muka datar.
”yang ini….”kali ini menunjuk pemuda yang satu lagi.
”Dzayn, dia ksatria suara”.sebuah senyum simpul muncul diwajah pemuda yang bernama Dzayn.
”Kalau yang ini Povitrya”.`yang ini lebih susah lagi namanya’. Dia tersenyum padaku.
‘nah,,,kalau yang ini”. Dia mau menunjuk pemuda terakhir tapi gak jadi kerena pemuda itu langsung datang padaku dan menarik tanganku, memaksa untuk berjabat tangan dengannya.
“perkenalkan namaku Lumina, aku kesatria cahaya”.dia tersenyum ceria padaku, aku melepaskan tanganku perlahan.

‘apa-apaan ini, hanya satu yang aku fikirkan tentang mereka…….”orang gila”kali ini aku menucapkannya dan hendak menggenjot sepedaku lagi. Aku melewati mereka berlima tapi,,,,,,,,,,,,,didepanku sekarang sudah ada api yang mencegatku.aku mulai kesal kali ini, memalingkan wajahku kearah mereka berlima tapi mereka sudah tidak ada ‘dimana mereka?’pikrku aku menghela nafas ‘untung mereka sudah pergi’. Aku membalikkan wajahku kedepan.
“kyaa~”mereka berlima sudah ada di depanku lagi.”baiklah……apa mau kalian”. Kataku menyerah.
“kau sama sekali tidak tau apa-apa ternyata…….tapi ayahmu tahu segalanya!”.kata Dzayn.
“ayahku?” tanyaku bingung.
“iya, oleh karena itu ajak kami pulang bersamamu, semua orang akan mengira kami gila berkeliaran dengan pakaian seperti ini”. Jelas pemuda yang namanya paling susah disebut.
“mereka memang benar”.jawabku meurut logika.
“apa kau bilang”. Sahut pemuda yang paling tinggi dengan muka serem.
“aku kan hanya berkata apa yang aku fikirkan……tapi kalau kalian mau ikut pulang denganku. Kalian mau naik apa? Rumahku masih jauh dari sini”.aku sudah tidak tau harus berbuat apa kecuali membawa mereka pulang.
Mereka berlima saling memandangi satu sama lain`sangat mencurigakan’. Aku menatap mereka tak paham. Mereka tersenyum dan dengan bersamaan mereka semua meletakkan tangannya diatas pundak kanan-kiriku.
Aku tidak merasakan apa-apa.hanya……..aneh. aku sekarang sudah berada didepan rumahku`Magic’. Aku terbelalak bingung.
Dua dari mereka Lumina dan namanya yang paling susah menggeretku dan membiarkan sepedaku rubuh begitu saja. Dan tiga lainnya mengikuti masuk kedalam rumahku.

End of your pov

Sedikit cerita :
Setelah umma Kang Siyoung meninggal karena dibunuh Saihi Fenrir, appanya menikah lagi dengan janda kaya raya yang memiliki satu putri seumuran Kang Siyoung. Namanya Shin Hyosoo. Jangan dikira Siyoung appa matre, dia menikahi janda itu karena janda itu yang tergila-gila pada Siyoung appa. Dan juga sangat sayang dengan Siyoung.

~Flash back~
15 tahun yang lalu.
Author pov
“ Kang Siyoung! Kemari sayang !”. seorang perempuan sedang menengadahkan tanganya, mengisyaratkan anaknya untuk berlari kearahnya. Saat anak itu hampir sampai, anak itu seolah akan jatuh. Dia bergegas dan memeluknya, mereka berdua tertawa bahagia.
Tiba-tiba cuaca jadi berubah buruk, awan mulai gelap seperti mau hujan. Perempuan itu terlihat cemas, dia melihat sekitar taman. Orang-orang bergegas pulang dari taman. Diapun juga ingin mengajak anaknya pulang, tapi langkah mereka tertahan saat seorang perempuan muda berpakaian serba hitam berdiri didepan mereka.
“siapa kau?” Tanyanya cemas
“kau tidak perlu tahu siapa aku, aku tidak punya urusan denganmu. Sebaiknya kau cepat menyingkir atau kau akan celaka bersama anakmu” kata perempuat yang baru dating dengan nada santai.
“anakku?……..tidak akan kubiarkan kau melukainya” perempuan itu mundur kebelakang bersama anaknya.
“kalau begitu jangan salahkan aku” perempuan itu menggerakkan tangannya kearah perempuan yang berdiri membelakangi anaknya.
Dia seperti terdorong oleh sesuatu dan terpental jauh dari dari anaknya.
“ini saatnya membunuhmu, menghancurkan jiwa yang tak berdosa adalah kunci untuk menjadi seorang Saihi Fenrir” ucap perempuan itu kapada anak yang sekarang berdiri sendirian tak tahu apa-apa.
“aku akan menghancurkan dunia dengan menjadi Saihi Fenrir dan akan membalas sakit hatiku” dia melakukan sebuah serangan kea rah anak itu tapi mendadak umma dari anak itu menghadang dan memeluk anaknya sampai akhirnya dia yanga menerima serangan itu.

End of Author pov

Your appa pov

Kepergiannya terlalu cepat, rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya dan sekarang aku berada dipemakamannya. Aku meninggalkan Siyoung anakku dirumah bersama dengan keluargaku kami yang menjaganya. Aku berdiri cukup lama disamping makam istriku. aku merasakan kahadiran seseorang.
“kematian istrimu bukanlah takdirnya, tapi kematian istrimu juga yang membawa takdir baru untuk anakkmu”
Aku menatapnya aneh `apa yang pria ini bicarakan, aku masih berkabung dan dia balah berbicara hal-hal aneh seperti itu’
“aku tahu kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan, tapi jika kau menyayangi anakmu tolong dengarkan aku” sungguh aku tidak mengabaikannya kalau itu menyangkut anakku.
“kematian istrimu disebabkan oleh ksatria langit yang sekarang sudah menjadi Saihi Fenrir, itu juga karena istrimu” sungguh aku sama sekali tidak mengerti apa yang pria ini bicarakan tapi aku hanya mendengarkan dalam diam.
“kerena cinta istrimu yang kuat terhadap anakmu memberikan efek yang luar biasa pada Nichole. Dia menjadi seorang Saihi Fenrir yang sangat kuat” sambungnya.
“Terus apa hubungannya dengan anakku?”tanyaku masih tidak mengerti.
“ada, efeknya bukan hanya pada Nichole tapi juga anakmu……
Anakmu juga meneriama kekuatan yang sama besarnya dengan Nichole, hanya dia yang nantinya”jelasnya.
“jadi maksudmu kau ingin dia melawan orang itu, dia masih anak-anak umurnya bahkan kurang dari tiga tahun” bantahku sedikit emosi.
“tidak sekarang, Nichole juga butuh waktu yang tepat saat kegelapan benar-benar menyelimuti bumi, baru dia akan menghancurkan bumi dan itu akan terjadi tepat setelah berumur 17 tahun saat dimana kekuatanya muncul” kali benar-benar panjang ucapannya.
“dan pada saat itu juga aku akan mengirim lima ksatria langit untuk menjaga dan membantu anakmu.
“apakah anakku akan selamat melawannya?”dia tidak menjawab dan hanya tersenyum kemudian menghilang begitu saja.

End of Your Appa pov and ~flash back too~

Your pov

Aku menatap langit-langit kamarku. Aku merenungi apa yang dijelaskan appa dan lima orang aneh tadi.
~kau adalah seorang Tochi yang akan melawan Saihi Fenrir
Nama kami terlalu susah bagimu, panggil saja nama manusia kami
Choi Minho, Kim Kibum, Lee Jinki, Kim Jonghyun dan Lee Taemin.
Kami akan melindungi dan membantumu~

Perkataan mereka masih teringat jelas di kepalaku. Aku memandang jam mejaku, sebentar lagi jam 12, umurku sudah 17 tahun dan kata mereka kekuatanku akan muncul. Aku sungguh penasaran.
`tok’ bunyi jarum jam yang tepat menunjukkan angka 12, aku menunggu apa yang akan terjadi padaku. Hening beberapa saat dan aku samasekali tidak merasakan apapun .`mereka pasti bohong, pasti ini sejenis surprise ultah buatku’ aku mulai tenang dan perlahan tidur.

*****

Esok paginya,
Aku membuka mataku, menguap malas. Aku mengubah posisiku menjadi duduk diranjang sekarang.
“aku yakin mereka kemarin hanya mengerjaiku. Dan pasti sekarang kelima pemuda itu sudah pergi dari rumah ini” ucapku pada diri sendiri.
Aku bergegas masuk kamar mandi dan turun untuk sarapan.

*****
“kya!!!!!!kalian masih disini?” tanyaku kaget saat tiba diruang makan. Mereka berlima sedang duduk di kursi, menikmati hidangan yang ada dimeja.
“Anneyong Siyoung!” sapa Taemin.
“oh..ya…seangil chukka hamnida” sambung Jonghyun.
“tadi, appamu bilang kalau dia akan menyusul ummamu di New York ada pekerjaan mendadak” tambah Jinki
“dia tidak tega membangunkanmu jadi tidak sempat berpamitan denganmu, appamu juga bilang kalau unniemu akan pulang hari ini” sahut Kibum
`huh- apa? Appaku meninggalkanku bersama lima orang aneh dan unnieku yang kurang akrab denganku dan lagi tidak mengucapkan selamat ultah buatku’ pikirku dalam hati
Aku sungguh sangan kesal hatiku rasanya panas sekali dan……….
‘pryang’ aku menoleh kaget,sebuah Vas bunga yang tadinya ada dimeja sekarang pecah dilantai. ‘apa yang terjadi Vas itu jatuh sendiri?’
“sudah kuduga akan seperti ini” kata Minho yang masih asyik dengan sarapannya tanpa melihat kearahku.
“dia tidak bisa mengendalikannya” sambungnya.
“ah hyung……dia belum terbiasa ini baru pertamakali untuknya” bela Taemin. entah kenapa ini orang satu sangat perhatian padaku.
“tapi semalam aku tidak merasakan apapun” ucapku setelah sekian lama terdiam.
“apa?” kali ini Minho menatapku.
“kau berharap akan mersankan sengatan listrik seperti difilm-film yang kau lihat” sambungnya dan kembali fokus pada sarapanya lagi.
“ha…ha..ha…..kau membuatku tertawa Minho” kata Kibum dengan suara tertahan.
“sengatan listrik darimana kau dapat fikiran itu, Siyoung-ah kau tidak mersakan apapun karena kekuatan itu sebenarnya sudah ada sejak dulu” lanjut Kibum dengan nada mulai normal.
“sudahlah…..
Jinki memegang pundakku dan mendudukkanku disamping Minho karena hanya tinggal satu kursi kosong. Minho bahkan tidak melirikku ‘aish…orang ini’ kesalku dalam hati
“makanlah dulu!” suruh Jinki padaku, sikapnya seperti seorang oppa bagiku.

To be continoud

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^ (SHINee Toplist)
  • Open page Talk Talk Talk if you want to talk out of topic
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^^

Like A Dorama

Like a Dorama/Oneshot

Main Cast                    : Kim Chaerim,Choi Minho

Other Cast/Cameo       : Kim So Eun, Junsu 2pm.

Genre                           : Sad

Rating                           : PG 13

Author                         : Tsae

Sebenernya tokoh aslinya Changmin, tapi ff ini nganggur d kompiku, jadi diganti jadi Minho main cast’a.. maaf ya,,ceritanya kaya gini.. Tapi niat aku sih, pengen memperkenalkan cinta beserta tragedy… FF aku yg laen juga pasti add nangis2an, jarang ada yg humor.kekeke, tapi mudah2an pada suka…

ΩΩΩ

“ Nak, bangunlah!! Bibi mau bicara.!”kata-kata bibi membuyarkan lamunanku yang sedang menangis tak henti di depan tubuh dingin Ayahku. Ya, hari ini diadakan upacara kematian Ayahku. Ia meninggal karena serangan jantung. Penyebabnya, kerena ia kaget melihat hasil testku dari rumah sakit. Ia kaget, karena aku punya penyakit yang sama seperti Ibunya, atau Nenekku.

Wae geurae—yo?”(Korea Language: Ada apa?).

“Lihatlah keluar, Nak! Ibumu datang!”terlihat wajah prihatin dari Bibi. Ibuku? Aku tak pernah mengenalnya selama ini. Ayahku bilang, Ibu telah meninggal saat melahirkan aku. Sejak saat itu, aku tidak pernah menyinggungkan keberadaannya lagi. Tapi mengapa sekarang Bibi berbicara seperti itu?

“Bi, Ibu kan sudah—“kata-kataku terpotong ketika Bibi yang tiba-tiba menangis. Aku jadi semakin bingung dibuatnya.

Mianata—Bibi dan Ayahmu menyembunyikan hal ini padamu. Chaerim, Ibumu tidak meninggal, ia hanya bercerai dengan Ayahmu.”katanya lagi.

Aku tertegun mendengarnya. Apa-apaan ini? Sebuah lelucon kah? Mengapa begitu tidak tepatnya, disaat aku sedang berkabung. Atau Bibi dan Ayah tega membohongiku. Ya . . .  Tuhan!!! Aku belum bisa berfikir . . .

“Bibi, apa maksudmu? Tolong jangan bercanda?”kataku meyakinkan.

“Benar, Chaerim. Sudahlah, bibi janji akan menjelaskan semuanya. Tapi sekarang, kau temui dulu Ibumu.”ia malah memalingkan wajahnya dariku. Aku menurutinya, sesegera mungkin aku menyusul keluar. Terlihat diseberang jalan rumahku, ada wanita separuh baya, menunggu dengan senyum tertahan. Apa itu Ibuku? Aku memberanikan diri menghampirinya. Ia terlihat terkejut saat aku sudah ada dihadapnnya.

Nugu—yeyo?”(KL: Siapa anda?)—ia terlihat bingung.

Umma!!!”(KL: Ibu.)—kataku lirih.

“Bukan, aku bukan Ibumu!! Maaf, aku pamit dulu.”tanpa menatap mataku, ia langsung melenggang pergi. Langkahnya dipercepat. Aku mencoba menyusulnya. Ia semakin menjauh dariku. Nafasku terengah-engah, terlebih lagi daya tahan tubuhku yang mulai melemah akibat penyakit yang aku derita.

Umma!”panggilku. Aku yakin itu adalah Ibuku. Karena aku merasakan sesuatu yang mengikat saat melihatnya. Kini aku berjalan ditemani hujan deras yang mengguyur tubuhku. Aku mencoba untuk berlari. Tapi, tiba-tiba aku terjatuh. Aku merasakannya, efek dari penyakitku. Kini syaraf motorikku seperti tak bekerja. Aku seperti lumpuh. Dan terjadi pada kakiku. Tapi aku takkan menyerah menggapai lengan Ibuku. Aku berusaha menyeret badanku dengan kekuatan tangan yang tersisa. Menahan rasa sakit, fisik dan batin.

UMMA!!! AKU SAKIT SEPERTI INI KAU TAK JUGA MAU BERBALIK! BAGAIMANA JIKA AKU MATI NANTI, HEH???”aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku makin kesal, ia hanya berhenti sejenak, tapi langsung pergi lagi. Kini aku sudah tak tahan lagi. Kepalaku terasa sakit, aku megerang kesakitan. Mataku sudah hampir terpejam, tapi aku sempat melihat Minho, kekasihku dengan tergopoh-gopoh menggendongku. Kini aku benar-benar terpejam.

<3<3<3

Flash Back:

“Chaerim~a. . jangan lari-lari seperti itu di pinggir danau! Nanti kau terjatuh!”Minho  hanya bisa mengomel di pinngir kolam.

Wae?? Kau terlalu cerewet! Nanti aku putusin baru tau rasa!”cibirku. (KL:Apa?/informal)

“Aduh, sudahlah. Kau sudah mau naik ke SMA, malu dong lari-larian kaya anak kecil gitu.”ia mulai nyolot.

“Kau cerewet sekali. Seperti Ibu-ibu sa—“benar terjadi. Aku terpeleset, tapi anehnya aku tak bisa menahan. Tubuhku seperti kaku, tak bisa digerakkan sama sekali. Ada apa dengan tubuhku. Padahal seharusnya aku bisa menahan agar aku tidak masuk ke danau. Tapi percuma, sekarang aku hanya bisa terdiam di dalam air. Aku bisa berenang, tapi sekarang percuma saja, tubuhku seakan-akan lumpuh tak berdaya.

Cbyuurrrr!!!

Samar-samar aku melihat Minho menyelam untuk menolongku. Kulihat matanya bersinar di dalam air ini. Dialah penyelamatku.

Sudah seminggu aku terbaring di rumah sakit. Bosan sekali, padahal aku hanya hampir tenggelam, tapi sepertinya Dokter merawatku secara intensif. Seperti merawat pasien stroke saja.

“Chaerim~shhi, kau kan bisa berenang, tapi mengapa kau tak melakukan apa pun?”tanya Dokter Junsu. Ia dokter paling handal se—Seoul, Korea Selatan.

“Entahlah, Dok! Aku juga tak mengerti, tubuhku seperti lumpuh pada saat itu. Aku juga tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.”jawabku jujur.

“Sudah berapa lama kau merasakan keanehan ini?”tanyanya lagi.

“Baru kali itu, Dok? Memangnya ini cukup serius ya, Dok?”akhirnya aku dapat menangkap wajah prihatin dari Dokter Junsu. Apa yang ia sembunyikan?

“Untuk sementara ini, aku belum bisa memastikan keadaanmu sekarang. Kau harus melewati beberapa pemeriksaan lagi, setelah itu aku akan membeitahukan hasilnya. Sekarang, saya mohon pamit.”ia sedikit membungkuk. Kepergiannya diantar oleh Ayahku. Kini Minho giliran mendekatiku.

“Dasar, sudah kubilang jangan lari-larian seperti itu. Kau tidak mau menurutiku.”ini sindirannya yang ke 20 kali. Aku bosan mendengarnya.

“CEREWET!”kututup kupingku. Pura-pura aku tak mendengar omelannya lagi.

“Bandel!!”akhirnya ia menyerah juga.

Saat ini aku masih bisa tertawa riang bercanda dengan Minho. Tapi mungki ini adalah hari terakhirku menjadi periang. Mungkin selanjutnya, hari-hariku hanya dipenuhi oleh isak tangis.

<3<3<3

“Apa?? Tidak mungkin, tidak mugkin penyakit ini penyakit turunan. Pasti Dokter salah diagnosis?”Ayahku tak percaya. Aku pun kini terdiam melihat secarik kertas yang diberikan Dokter padaku. Hanya secarik kertas, dapat membuat Ayahku menagis hebat. Aku hanya bisa diam mematung. Mencoba mencerna kalimat yang tertulis di dalamnya. Berbagai kalimat yang biasa ada pada pelajaran Biologi. Dan terdapat kalimat ALS.

“Mengapa terjadi kepada anakku??”tangis Ayahku.

“Maksud Dokter, aku . . . aku mengidap . . penyakit Low Gehrik?”kataku pelan.

“Ya, penyakit ini dapat menurun. Kau menerimanya dari nenekmu.”katanya.

Mwo~ya??”kagetku. Ingin aku menangis sekarang, tapi ternyata tak bisa. Aku malah ingin tertawa mendengarnya.

“Kenapa . . . Ha—“Ayah tak berhenti berteriak. Ia memegang dada sebelah kirinya. Napasnya terengah-engah, aku takut terjadi sesuatu padanya. Bibi yang sedari tadi disampingku hanya bisa berteriak membangunkannya. Ia tak kuat menahan tangis. Cobaan apa lagi ini?

Ayahku dibawa ke ruang ICU. Dokter Junsu yang masih menolongnya. Karena ia dokter keluarga. Aku dan bibi menunggu di luar. Kudengar teriakan Minho memanggil. Ia baru datang, karena ia masuk sekolah. Tanpa banyak tanya, ia langsung memelukku. Aku menangis dipelukannya. Aku semakin takut dengan cobaan yang menimpaku ini.

“Chaerim, Bibi, sambil menunggu lebih baik kita duduk dulu.”katanya lembut. Kami bertiga duduk di ruang tunggu.

Setelah kami lama menunggu. Akhirnya dokter Junsu keluar.

“Dokter??”tanyaku mengiba.

Choesonghamnida.”sambil membungkuk, ia hanya bicara satu kalimat itu saja. (KL: Maafkan aku/formal)

Otomatis kami terkejut. Bibi menangis histeris di sampingku. Aku menutup mulutku, merasa tak percaya dengan kenyataan ini. Minho semakin memelukku erat. Ayah, mengapa cepat sekali kau meninggalkanku?

Flash Back End.

<3<3<3

Aku terbangun, kulihat langit-langit putih. Lagi-lagi aku bermimpi tentang Ayah. Segera sadar, aku berbalik ke samping, terlihat seseorang tidur terduduk disamping kasurku. Tak salah lagi, dia Minho. Ia menemaniku di rumah.

“Ehm . . . . Kau sudah bangun?”katanya.

“Hem . . .”anggukku. “Sudah berapa lama aku tertidur?”tanyaku.

“Kau tertidur semalaman. Sampai lalat pun tak bisa membangunkanmu.”ia hanya tersenyum. Aku mencoba mengingat kejadian sebelum aku pingsan. Ya, aku bertemu dengan Ibuku. Tapi ia tidak mau menemuiku. Sebegitu hinanyakah diriku, sampai-sampai Ibuku tak mau melihat anaknya sendiri.

“Chaerim, aku punya satu permintaan?”Minho ambil suara dengan tiba-tiba.

“Apa?”aku menanggapinya dengan serius.

“Aku mohon, jangan kau terus murung seperti sekarang ini. Aku tak tega melihatmu seperti ini. Aku merasakan sifatmu berubah drastis. Mana Chaerim yang aku kenal dulu?”ia menatap mataku lekat.

Aku tak kuat membalas tatapannya. Air mataku mulai berlomba untuk keluar. Andai saja Minho tahu bahwa aku tak menginginkan keadaan seperti ini. Aku pun lelah dengan sikap dingin yang selalu aku perlihatkan. Aku ingin kembali seperti dulu, seperti Chaerim yang ceria, yang sangat disukai Minho.

“Chaerim~a? Tatap mataku!”ia memegang tanganku lembut.

“Minho~a. . . . tolong jangan paksa aku!”aku hanya menatapnya lemah. Terlihat ia sangat kecewa.

Arraseo. . .” (KL:Mengerti). Ia lalu beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya ia lelah menemaniku seperti ini. Apalagi besok ia harus kembali bersekolah.

“Minho!!!”panggilku setengah berteriak.

Ne?”(KL: Ya)

“Kau mau pulang, malam-malam begini?”kataku polos.

“Ini bukan malam lagi, sudah jam 5 pagi. Aku ingin numpang mandi disini. Boleh kan?”ia setengah tersenyum.

“Ya bolehlah.”aku memalingkan wajah agar mukaku yang memerah tidak kelihatan.

“Sekalian aku mau numpang makan. Terus pinjam buku paket untuk pelajaran hari. Ini.Terus . . . .”

“YA! Minho. . Apa kau sudah lupa omelanku, heh?”kataku menakuti.

“Eheh, iya aku lupa. Yaudah lah, daripada kamu ngamuk, aku mandi aja. Annyeong!!”ia langsung lari terbirit.

Huft . . . . Akhirnya aku bisa sedikit tersenyum. Minho memang selalu membuatku senang. Aku tak ingin hanya karena penyakit ini, aku berpisah dengannya. Aku ingin Minho lah yang menemaniku di pelaminan nanti. Itu satu-satunya harapanku yang tersisa. Karena harapanku untuk bertemu Ibu, sepertinya hanya khayalan. Ia tak mau menemuiku mungkin untuk selamanya.

Aku mencoba beranjak dari tempat tidur. Kakiku masih terasa ngilu, mungkin karena kemarin. Aku masuk ke kamar mandi. Lima belas menit yang aku perlukan untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku mengenakan seragam sekolahku. Aku tak mau ketinggalan mengikuti Ujian Masuk SMA negeri. Beberapa hari ini aku sudah lama tidak masuk. Padahal aku harus mengikuti rapat anggota, karena aku menjabat President of School (semacam ketua osis) di SMP-ku. Aku turun kebawah, kulihat bibi sedang asyik mengobrol sambil sarapan menemani Minho.

“Bibi punya anak baru ya?”kataku setengah menyindir.

“Kata siapa aku anak barunya bibi? Orang aku calon suami keponakan Bibi Kang.”katanya datar.

“Aku nggak dengar . . . Aku nggak dengar . . .”kataku sambil menutup kuping.

“Chaerim, kau mau masuk sekolah?”tanya Bibi kaget.

“Iya Bi, sekarang kan Ujian Masuk SMA negeri. Masa aku nggak ikut.”

“Memang kamu sudah kuat, Nak?”katanya khawatir.

“Kuat dong, Bi! Aku kan mau masuk SMA negeri favorit.”aku melahap  omelets didepanku dengan satu kali suap .

“Chaerim, lebih baik kau tidak masuk sekolah dulu. Kondisimu kan belum pulih betul. Lagipula kau kan bisa masuk SMA swasta.”katanya tenang. Ini yang aku tidak suka dari Bibiku, dia tahu aku menginginkan untuk bersekolah di sekolah negeri, tapi ia malah mengambil jalan pintas.

“Benar kata Bibimu, lebih baik kau urungkan saja niatmu untuk sekolah di negeri. Sekolah kita kan sudah plus SMA, memang apa salahnya masuk swasta?”kini Minho ikut membenarkan.

“Kalian ini . . . . selalu saja menghalangiku. Aku tidak suka itu.”kataku dingin. Lalu aku beranjak pergi, tapi langkahku berhenti saat Minho angkat bicara.

“Kau selalu keras kepala Chaerim. Apa maksudmu, heh? Kau tidak bisa menilai kekhawatiran bibimu? Bisakah kau menurutinya sebagai penggati ayahmu? Prestasimu sangat bagus di akademi kita ini, kau jangan bertindak seenaknya. Atau kau sengaja pindah sekolah umtuk menjauhiku?”ia mengatukkan gerahamnya. Aku baru lihat ia bisa marah seperti ini. Aku hanya bisa menunduk mendengarnya.

“Ok. . aku akan batalkan Ujian Masuk itu. Tapi bagaimana pun aku harus datang ke sekolah. Masih banyak urusan yang belum aku selesaikan. Apalagi aku Presdir sekolah.”

“Kau memang selalu so’ sibuk.”keluh Minho. Ia langsung menarik tanganku pergi untuk masuk ke mobilnya. Selama menyetir, ia tak pernah  tersenyum. Aku malas melihat sikapnya seperti ini. Kenapa dia? Apa dia iri denganku? Aish, Chaerim . . . jangan berfikir macam-macam, dia kan pacarmu.

<3<3<3

“Hah!! Melelahkan sekali, harusnya aku sudah bebas. Tapi masih harus rapat pergantian jabatan.”keluhku pada So Eun, wakilku.

“Bagaimanapun juga, kita sebagai senior harus bisa menjadi tutor buat mereka.”katanya bijak. Berselang waktu, akhirnya peserta rapat dan calon pengganti masuk ke ruangan.

“Ketua, sudah sampai duluan. . .”kata salah satu calon.

“Tentu, aku harap penggantiku bisa selalu tepat waktu sepertiku.”kataku dengan senyum dingin. Para anggota bingung dengan perubahan sifatku. Termasuk So Eun, ia malah paling terkejut.

“Hei, Chaerim! Ini rapat, bukan tempat pelonco anggota baru. Kau kenapa bisa sedingin ini?”bisik So Eun.

“Aku hanya ingin disiplin selalu ditegakkan mereka.”aku hanya tersenyum kering.

Lalu aku duduk dengan menatap wajah-wajah baru yang akan menggantikan posisiku. Aku merenungi apa kata-kata So Eun tadi, memang aku berubah drastis? Dari segi apa? Tapi, untungnya sambutan di ambil alih So Eun. Aku malas jika harus berpidato.

<3<3<3

Ringtone lagu Linkin Park – Given Up, mengalun di antara orang-orang yang serius berlatih di Dojo.

Yoboseyo . . . Bibi Kang?”jawabya. (KL: Hallo)

“Minho, kau sedang bersama Chaerim?”tanyanya lembut.

Aniyo, wae geureyo?”(KL:Tidak, ada apa?)

“Tidak ada apa-apa, Bibi hanya khawatir.”

“Biarkan saja, Bi! Dia memang keras kepala, lebih baik Bibi istirahat saja di rumah, jangan terlalu mencemaskan Chaerim, sekarang ia terlihat melunjak. Sikapnya berubah 180°.”

“Tapi . . .”

“Bi, nanti aku akan pulang bareng dengannya. Jadi tenang saja.”

“Baiklah, bibi jadi sedikit tenang.”

Bip! Panggilan terputus. Minho memutuskan untuk kembali melanjutkan latihan Taekwondonya. Hari ini ia cukup stress dengan sikap pacarnya. Mungkin dengan ini, ia bisa lebih mendapat pencerahan. Mungkin. . . .

<3<3<3

“So Eun, aku mau ke toilet. Kau duluan saja pulangnya!”kataku.

“Perlu kuantar? Lagipula aku tidak mau pulang sekrang.”jawabnya.

“Tidak usah, aku bisa sendiri.”tanpa mendengar tawaran kedua dari So Eun, aku berjalan masuk ke toilet terdekat. Sepi, ya jelas lah, sekarang sudah jam 5 sore. Mereka kan sudah pulang sejam yang lalu.

Akh, lega rasanya setelah buang air kecil. Tapi aku harus cuci tangan dulu. Saat aku mematut diri di depan kaca. Tiba-tiba tangan kiriku lemas, tak bisa digerakkan. Lalu sekujur tubuhku terasa ngilu. Kupijit-pijit lengan kiriku dengan tangan kanan. Tapi aku malah terjatuh, kakiku mengalami hal yang sama. Aku merintih, dan menyeret tubuhku agar bisa bersandar ke dinding. Kali ini, kudengar ringtone Gummy – There Is No Love. Aish, ponselku ada di samping westafel. Tapi aku tidak bisa meraihnya. Oh God, help me please!!

“Minho!!!!”teriakku sambil menahan sakit. Kuurut kakiku, berharap rasa ngilu ini bisa hilang.

“Minho. . . .”kataku lirih. Air mataku tak bisa menahan untuk keluar.

“Siapa saja . . . Tolong . . . AKU!!”dengan kesal aku memukul-mukuli kakiku.

“SHIT!!!! KAKI TIDAK BERGUNA!!!”jeritku.

BRAK!!! Pintu masuk WC wanita terbuka.

“Chaerim!!!”ia menghampiriku. Tanpa basa basi ia langsung mengendongku di punggungnya. Aku malah semakin ingin menangis didekatnya.

“Kau perlu ke rumah sakit?? Atau kita langsung saja kesana. Kau harus menurutiku!! Ara?”

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Changmin, maafkan aku!! Tak kuat, aku memejamkan mata di punggungnya. Aku takut tidak bisa merasakan kehangatan ini lagi.

<3<3<3

Ting Tong!!

Perempuan paruh baya keluar dari pintu. Akhirnya, aku menemukan alamatnya. Ia menyuruhku untuk duduk. Ia pergi ke dapur, sesaat kemudian ia kembali dengan membawa minuman. Ternyata ia tinggal di rumah yang sederhana. Interiornya masih tradisional. Namun tetap ada juga barang elektroniknya.

Nugu wa hamkke osyotsumnikka?”tanyanya.(KL: Dengan siapa Anda datang?)

“Saya datang sendiri. Oh, iya, perkenalkan. . .naneun Choi Minho imnida. Mannaso bangapsuemnida.”aku membungkuk. (KL: Nama saya Choi Minho. Senang bertemu dengan Anda.)

“Ya, tapi ada perlu anak muda datang kemari?”

“Saya hanya ingin memberikan ini. Tolong luangkan waktu untuk menonton ini. Saya permisi dulu, maaf bila mengganggu anda. Tto poepketsumnida.”aku melenggang pergi dengan perasaan lega. Tak lupa aku menuliskan nomor Hpku di secarik kertas kecil. Ia sangat membutuhkan itu. (KL: Sampai jumpa lagi.)

<3<3<3

Video diputar. . .

Omoni !!! Annyeonghashimnikka?

Apa kau kaget?? Anakmu ini, diberi nama Kim Chaerim. Apa kau masih mengingatku? Setelah pertemuan pertama kita di acara pemakaman Ayah, aku kagum pada kecantikanmu. Dan aku senang, ternyata Umma masih hidup. Tapi, ternyata kau tidak mau bertemu denganku. Aku sempat kesal, apa karena aku sakit, kau tidak mau menemuiku? Atau aku bukan anak yang diharapkan olehmu? Hari ini, disaat aku diberi kesempatan untuk sadar, aku meminta Minho untuk merekamnya.Minho pacarku, tampan kan dia? Walaupun aku hanya bisa terbaring tak berdaya di rumah sakit, tak ada yang bisa degerakkan. Aku lumpuh total sekarang. Apa kau prihatin melihatku? Atau, mungkin kau tidak peduli dengan keadaanku.

Omoni! Ingin rasanya aku bisa membencimu, setelah semua yang kau lakukan padaku. Jujur, lukapun masih berbekas dihatiku. Tapi, aku bingung, aku tidak bisa melakukannya. Rasa dendam pun tak bisa aku simpan untukmu. Aku malah masih berharap, kau mau memelukku, sekali saja. Aku hanya ingin merasakan hangatnya pelukanmu untuk pertama kalinya.

Omoni!!! Hks . . Hks . . .

Maaf, aku bukan anak yang sehat, yang bisa membanggakan orangtuanya. Maaffff!!!

Tut. . . Rekamannya sudah habis. Chaerim menagis sejadi-jadinya di akhir pesan. Begitupun wanita paruh baya yang menonton rekaman itu. Ia mengerang, menyesali perbuatannya. Ia sama sekali tidak tahu penyakit anaknya itu. Ia malah menuruti kata-kata Ayah Chaerim, untuk menghilang dari kehidupannya. Padahal Chaerim sangat membutuhkannya. Ia ingat dengan nomor Hp yang Minho yang ditinggalkan untuknya. Setelah tersambung, Minho langsung memberitahu alamat Rumah Sakit itu.

<3<3<3

Mataku menyipit, berharap bisa melihat siapa saja yang ada di akhir hidupku. Tapi ternyata, orang yang aku harapkan tidak ada. Aku tersenyum miris. Aku hanya terlalu berharap ada dia, belum tentu ia masih mau menemui anaknya yang sudah tidak berdaya. Kulirik Minho, ia mendekat membisikkan sesuatu.

Chagiya . . .Saranghaeyo Yongwonhi. . .”ia begitu lancar mengungkapkannya. (KL: Sayang . . . Aku mencintaimu Selamanya)

“Kam . . .kam . . .sa . .hamnida. . .”jawabku hati-hati.(KL: Terimakasih / formal)

Aku sudah tak kuat, mungkin ini saatnya. Kupejamkan mataku . . .

“Chaerim!!! Bangun nak! Ini Ibumu nak!!! Bangunnnn!!!!”terdengar tangis seorang wanita. Tapi aku tak bisa mebuka mataku kembali. Yang kurasakan hanya kecupan hangat darinya. Aku hanya bisa membalas dengan senyum terakhirku . . . .

Teettttttttt!!!!!!

<3<3<3

Aku Minho, yang pernah merasakan cinta yang sebenarnya. Cinta pertama dan terakhirku. Dan aku baru menyadari takdir hidup yang penuh kesengsaraan batin. Dan di pagi yang cerah ini, aku kembali ke tempat di mana kenangan kami pernah terukir. Di padang rumput yang sudah menguning karena musim gugur. Aku memutuskan untuk merekam tempat itu. Tak terasa sudah setengah tahun ia meninggalkanku. Kapan aku bisa menyusulnya?

Setelah menemukan objek yang bagus, kudekatkan handycam  itu ke mataku. Tapi, aku kaget, Chaerim, . . . benar dia Chaerim kekasihku. Setelah aku melihat dengan mata telanjang, dia tidak ada. Kulihat lagi dengan kamera, dia tersenyum padaku, dengan gaun putih yang cantik. Aku membalas senyumnya, rambutnya yang panjang terlihat anggun diterpa angin. Ia sedikit mendekat ke kamera, kalimat yang ia lontarkan . . . .

“Aku mencintaimu, dan selalu ingin jadi pengantin bersamamu! Tapi sekarang, aku harus pergi. . . Selamat tinggal!!” ia sama sekali tak berhenti tersenyum. Aku kembali melihatnya dengan mata sadar. Ia sudah pergi. . . .

“CHAERIM . . . CALON ISTRIKU YANG PALING CANTIK!!!”teriakku.

End . . . .

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^ (SHINee Toplist)
  • Open page Talk Talk Talk if you want to talk out of topic
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^^