Like A Dorama

Like a Dorama/Oneshot

Main Cast                    : Kim Chaerim,Choi Minho

Other Cast/Cameo       : Kim So Eun, Junsu 2pm.

Genre                           : Sad

Rating                           : PG 13

Author                         : Tsae

Sebenernya tokoh aslinya Changmin, tapi ff ini nganggur d kompiku, jadi diganti jadi Minho main cast’a.. maaf ya,,ceritanya kaya gini.. Tapi niat aku sih, pengen memperkenalkan cinta beserta tragedy… FF aku yg laen juga pasti add nangis2an, jarang ada yg humor.kekeke, tapi mudah2an pada suka…

ΩΩΩ

“ Nak, bangunlah!! Bibi mau bicara.!”kata-kata bibi membuyarkan lamunanku yang sedang menangis tak henti di depan tubuh dingin Ayahku. Ya, hari ini diadakan upacara kematian Ayahku. Ia meninggal karena serangan jantung. Penyebabnya, kerena ia kaget melihat hasil testku dari rumah sakit. Ia kaget, karena aku punya penyakit yang sama seperti Ibunya, atau Nenekku.

Wae geurae—yo?”(Korea Language: Ada apa?).

“Lihatlah keluar, Nak! Ibumu datang!”terlihat wajah prihatin dari Bibi. Ibuku? Aku tak pernah mengenalnya selama ini. Ayahku bilang, Ibu telah meninggal saat melahirkan aku. Sejak saat itu, aku tidak pernah menyinggungkan keberadaannya lagi. Tapi mengapa sekarang Bibi berbicara seperti itu?

“Bi, Ibu kan sudah—“kata-kataku terpotong ketika Bibi yang tiba-tiba menangis. Aku jadi semakin bingung dibuatnya.

Mianata—Bibi dan Ayahmu menyembunyikan hal ini padamu. Chaerim, Ibumu tidak meninggal, ia hanya bercerai dengan Ayahmu.”katanya lagi.

Aku tertegun mendengarnya. Apa-apaan ini? Sebuah lelucon kah? Mengapa begitu tidak tepatnya, disaat aku sedang berkabung. Atau Bibi dan Ayah tega membohongiku. Ya . . .  Tuhan!!! Aku belum bisa berfikir . . .

“Bibi, apa maksudmu? Tolong jangan bercanda?”kataku meyakinkan.

“Benar, Chaerim. Sudahlah, bibi janji akan menjelaskan semuanya. Tapi sekarang, kau temui dulu Ibumu.”ia malah memalingkan wajahnya dariku. Aku menurutinya, sesegera mungkin aku menyusul keluar. Terlihat diseberang jalan rumahku, ada wanita separuh baya, menunggu dengan senyum tertahan. Apa itu Ibuku? Aku memberanikan diri menghampirinya. Ia terlihat terkejut saat aku sudah ada dihadapnnya.

Nugu—yeyo?”(KL: Siapa anda?)—ia terlihat bingung.

Umma!!!”(KL: Ibu.)—kataku lirih.

“Bukan, aku bukan Ibumu!! Maaf, aku pamit dulu.”tanpa menatap mataku, ia langsung melenggang pergi. Langkahnya dipercepat. Aku mencoba menyusulnya. Ia semakin menjauh dariku. Nafasku terengah-engah, terlebih lagi daya tahan tubuhku yang mulai melemah akibat penyakit yang aku derita.

Umma!”panggilku. Aku yakin itu adalah Ibuku. Karena aku merasakan sesuatu yang mengikat saat melihatnya. Kini aku berjalan ditemani hujan deras yang mengguyur tubuhku. Aku mencoba untuk berlari. Tapi, tiba-tiba aku terjatuh. Aku merasakannya, efek dari penyakitku. Kini syaraf motorikku seperti tak bekerja. Aku seperti lumpuh. Dan terjadi pada kakiku. Tapi aku takkan menyerah menggapai lengan Ibuku. Aku berusaha menyeret badanku dengan kekuatan tangan yang tersisa. Menahan rasa sakit, fisik dan batin.

UMMA!!! AKU SAKIT SEPERTI INI KAU TAK JUGA MAU BERBALIK! BAGAIMANA JIKA AKU MATI NANTI, HEH???”aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku makin kesal, ia hanya berhenti sejenak, tapi langsung pergi lagi. Kini aku sudah tak tahan lagi. Kepalaku terasa sakit, aku megerang kesakitan. Mataku sudah hampir terpejam, tapi aku sempat melihat Minho, kekasihku dengan tergopoh-gopoh menggendongku. Kini aku benar-benar terpejam.

<3<3<3

Flash Back:

“Chaerim~a. . jangan lari-lari seperti itu di pinggir danau! Nanti kau terjatuh!”Minho  hanya bisa mengomel di pinngir kolam.

Wae?? Kau terlalu cerewet! Nanti aku putusin baru tau rasa!”cibirku. (KL:Apa?/informal)

“Aduh, sudahlah. Kau sudah mau naik ke SMA, malu dong lari-larian kaya anak kecil gitu.”ia mulai nyolot.

“Kau cerewet sekali. Seperti Ibu-ibu sa—“benar terjadi. Aku terpeleset, tapi anehnya aku tak bisa menahan. Tubuhku seperti kaku, tak bisa digerakkan sama sekali. Ada apa dengan tubuhku. Padahal seharusnya aku bisa menahan agar aku tidak masuk ke danau. Tapi percuma, sekarang aku hanya bisa terdiam di dalam air. Aku bisa berenang, tapi sekarang percuma saja, tubuhku seakan-akan lumpuh tak berdaya.

Cbyuurrrr!!!

Samar-samar aku melihat Minho menyelam untuk menolongku. Kulihat matanya bersinar di dalam air ini. Dialah penyelamatku.

Sudah seminggu aku terbaring di rumah sakit. Bosan sekali, padahal aku hanya hampir tenggelam, tapi sepertinya Dokter merawatku secara intensif. Seperti merawat pasien stroke saja.

“Chaerim~shhi, kau kan bisa berenang, tapi mengapa kau tak melakukan apa pun?”tanya Dokter Junsu. Ia dokter paling handal se—Seoul, Korea Selatan.

“Entahlah, Dok! Aku juga tak mengerti, tubuhku seperti lumpuh pada saat itu. Aku juga tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.”jawabku jujur.

“Sudah berapa lama kau merasakan keanehan ini?”tanyanya lagi.

“Baru kali itu, Dok? Memangnya ini cukup serius ya, Dok?”akhirnya aku dapat menangkap wajah prihatin dari Dokter Junsu. Apa yang ia sembunyikan?

“Untuk sementara ini, aku belum bisa memastikan keadaanmu sekarang. Kau harus melewati beberapa pemeriksaan lagi, setelah itu aku akan membeitahukan hasilnya. Sekarang, saya mohon pamit.”ia sedikit membungkuk. Kepergiannya diantar oleh Ayahku. Kini Minho giliran mendekatiku.

“Dasar, sudah kubilang jangan lari-larian seperti itu. Kau tidak mau menurutiku.”ini sindirannya yang ke 20 kali. Aku bosan mendengarnya.

“CEREWET!”kututup kupingku. Pura-pura aku tak mendengar omelannya lagi.

“Bandel!!”akhirnya ia menyerah juga.

Saat ini aku masih bisa tertawa riang bercanda dengan Minho. Tapi mungki ini adalah hari terakhirku menjadi periang. Mungkin selanjutnya, hari-hariku hanya dipenuhi oleh isak tangis.

<3<3<3

“Apa?? Tidak mungkin, tidak mugkin penyakit ini penyakit turunan. Pasti Dokter salah diagnosis?”Ayahku tak percaya. Aku pun kini terdiam melihat secarik kertas yang diberikan Dokter padaku. Hanya secarik kertas, dapat membuat Ayahku menagis hebat. Aku hanya bisa diam mematung. Mencoba mencerna kalimat yang tertulis di dalamnya. Berbagai kalimat yang biasa ada pada pelajaran Biologi. Dan terdapat kalimat ALS.

“Mengapa terjadi kepada anakku??”tangis Ayahku.

“Maksud Dokter, aku . . . aku mengidap . . penyakit Low Gehrik?”kataku pelan.

“Ya, penyakit ini dapat menurun. Kau menerimanya dari nenekmu.”katanya.

Mwo~ya??”kagetku. Ingin aku menangis sekarang, tapi ternyata tak bisa. Aku malah ingin tertawa mendengarnya.

“Kenapa . . . Ha—“Ayah tak berhenti berteriak. Ia memegang dada sebelah kirinya. Napasnya terengah-engah, aku takut terjadi sesuatu padanya. Bibi yang sedari tadi disampingku hanya bisa berteriak membangunkannya. Ia tak kuat menahan tangis. Cobaan apa lagi ini?

Ayahku dibawa ke ruang ICU. Dokter Junsu yang masih menolongnya. Karena ia dokter keluarga. Aku dan bibi menunggu di luar. Kudengar teriakan Minho memanggil. Ia baru datang, karena ia masuk sekolah. Tanpa banyak tanya, ia langsung memelukku. Aku menangis dipelukannya. Aku semakin takut dengan cobaan yang menimpaku ini.

“Chaerim, Bibi, sambil menunggu lebih baik kita duduk dulu.”katanya lembut. Kami bertiga duduk di ruang tunggu.

Setelah kami lama menunggu. Akhirnya dokter Junsu keluar.

“Dokter??”tanyaku mengiba.

Choesonghamnida.”sambil membungkuk, ia hanya bicara satu kalimat itu saja. (KL: Maafkan aku/formal)

Otomatis kami terkejut. Bibi menangis histeris di sampingku. Aku menutup mulutku, merasa tak percaya dengan kenyataan ini. Minho semakin memelukku erat. Ayah, mengapa cepat sekali kau meninggalkanku?

Flash Back End.

<3<3<3

Aku terbangun, kulihat langit-langit putih. Lagi-lagi aku bermimpi tentang Ayah. Segera sadar, aku berbalik ke samping, terlihat seseorang tidur terduduk disamping kasurku. Tak salah lagi, dia Minho. Ia menemaniku di rumah.

“Ehm . . . . Kau sudah bangun?”katanya.

“Hem . . .”anggukku. “Sudah berapa lama aku tertidur?”tanyaku.

“Kau tertidur semalaman. Sampai lalat pun tak bisa membangunkanmu.”ia hanya tersenyum. Aku mencoba mengingat kejadian sebelum aku pingsan. Ya, aku bertemu dengan Ibuku. Tapi ia tidak mau menemuiku. Sebegitu hinanyakah diriku, sampai-sampai Ibuku tak mau melihat anaknya sendiri.

“Chaerim, aku punya satu permintaan?”Minho ambil suara dengan tiba-tiba.

“Apa?”aku menanggapinya dengan serius.

“Aku mohon, jangan kau terus murung seperti sekarang ini. Aku tak tega melihatmu seperti ini. Aku merasakan sifatmu berubah drastis. Mana Chaerim yang aku kenal dulu?”ia menatap mataku lekat.

Aku tak kuat membalas tatapannya. Air mataku mulai berlomba untuk keluar. Andai saja Minho tahu bahwa aku tak menginginkan keadaan seperti ini. Aku pun lelah dengan sikap dingin yang selalu aku perlihatkan. Aku ingin kembali seperti dulu, seperti Chaerim yang ceria, yang sangat disukai Minho.

“Chaerim~a? Tatap mataku!”ia memegang tanganku lembut.

“Minho~a. . . . tolong jangan paksa aku!”aku hanya menatapnya lemah. Terlihat ia sangat kecewa.

Arraseo. . .” (KL:Mengerti). Ia lalu beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya ia lelah menemaniku seperti ini. Apalagi besok ia harus kembali bersekolah.

“Minho!!!”panggilku setengah berteriak.

Ne?”(KL: Ya)

“Kau mau pulang, malam-malam begini?”kataku polos.

“Ini bukan malam lagi, sudah jam 5 pagi. Aku ingin numpang mandi disini. Boleh kan?”ia setengah tersenyum.

“Ya bolehlah.”aku memalingkan wajah agar mukaku yang memerah tidak kelihatan.

“Sekalian aku mau numpang makan. Terus pinjam buku paket untuk pelajaran hari. Ini.Terus . . . .”

“YA! Minho. . Apa kau sudah lupa omelanku, heh?”kataku menakuti.

“Eheh, iya aku lupa. Yaudah lah, daripada kamu ngamuk, aku mandi aja. Annyeong!!”ia langsung lari terbirit.

Huft . . . . Akhirnya aku bisa sedikit tersenyum. Minho memang selalu membuatku senang. Aku tak ingin hanya karena penyakit ini, aku berpisah dengannya. Aku ingin Minho lah yang menemaniku di pelaminan nanti. Itu satu-satunya harapanku yang tersisa. Karena harapanku untuk bertemu Ibu, sepertinya hanya khayalan. Ia tak mau menemuiku mungkin untuk selamanya.

Aku mencoba beranjak dari tempat tidur. Kakiku masih terasa ngilu, mungkin karena kemarin. Aku masuk ke kamar mandi. Lima belas menit yang aku perlukan untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku mengenakan seragam sekolahku. Aku tak mau ketinggalan mengikuti Ujian Masuk SMA negeri. Beberapa hari ini aku sudah lama tidak masuk. Padahal aku harus mengikuti rapat anggota, karena aku menjabat President of School (semacam ketua osis) di SMP-ku. Aku turun kebawah, kulihat bibi sedang asyik mengobrol sambil sarapan menemani Minho.

“Bibi punya anak baru ya?”kataku setengah menyindir.

“Kata siapa aku anak barunya bibi? Orang aku calon suami keponakan Bibi Kang.”katanya datar.

“Aku nggak dengar . . . Aku nggak dengar . . .”kataku sambil menutup kuping.

“Chaerim, kau mau masuk sekolah?”tanya Bibi kaget.

“Iya Bi, sekarang kan Ujian Masuk SMA negeri. Masa aku nggak ikut.”

“Memang kamu sudah kuat, Nak?”katanya khawatir.

“Kuat dong, Bi! Aku kan mau masuk SMA negeri favorit.”aku melahap  omelets didepanku dengan satu kali suap .

“Chaerim, lebih baik kau tidak masuk sekolah dulu. Kondisimu kan belum pulih betul. Lagipula kau kan bisa masuk SMA swasta.”katanya tenang. Ini yang aku tidak suka dari Bibiku, dia tahu aku menginginkan untuk bersekolah di sekolah negeri, tapi ia malah mengambil jalan pintas.

“Benar kata Bibimu, lebih baik kau urungkan saja niatmu untuk sekolah di negeri. Sekolah kita kan sudah plus SMA, memang apa salahnya masuk swasta?”kini Minho ikut membenarkan.

“Kalian ini . . . . selalu saja menghalangiku. Aku tidak suka itu.”kataku dingin. Lalu aku beranjak pergi, tapi langkahku berhenti saat Minho angkat bicara.

“Kau selalu keras kepala Chaerim. Apa maksudmu, heh? Kau tidak bisa menilai kekhawatiran bibimu? Bisakah kau menurutinya sebagai penggati ayahmu? Prestasimu sangat bagus di akademi kita ini, kau jangan bertindak seenaknya. Atau kau sengaja pindah sekolah umtuk menjauhiku?”ia mengatukkan gerahamnya. Aku baru lihat ia bisa marah seperti ini. Aku hanya bisa menunduk mendengarnya.

“Ok. . aku akan batalkan Ujian Masuk itu. Tapi bagaimana pun aku harus datang ke sekolah. Masih banyak urusan yang belum aku selesaikan. Apalagi aku Presdir sekolah.”

“Kau memang selalu so’ sibuk.”keluh Minho. Ia langsung menarik tanganku pergi untuk masuk ke mobilnya. Selama menyetir, ia tak pernah  tersenyum. Aku malas melihat sikapnya seperti ini. Kenapa dia? Apa dia iri denganku? Aish, Chaerim . . . jangan berfikir macam-macam, dia kan pacarmu.

<3<3<3

“Hah!! Melelahkan sekali, harusnya aku sudah bebas. Tapi masih harus rapat pergantian jabatan.”keluhku pada So Eun, wakilku.

“Bagaimanapun juga, kita sebagai senior harus bisa menjadi tutor buat mereka.”katanya bijak. Berselang waktu, akhirnya peserta rapat dan calon pengganti masuk ke ruangan.

“Ketua, sudah sampai duluan. . .”kata salah satu calon.

“Tentu, aku harap penggantiku bisa selalu tepat waktu sepertiku.”kataku dengan senyum dingin. Para anggota bingung dengan perubahan sifatku. Termasuk So Eun, ia malah paling terkejut.

“Hei, Chaerim! Ini rapat, bukan tempat pelonco anggota baru. Kau kenapa bisa sedingin ini?”bisik So Eun.

“Aku hanya ingin disiplin selalu ditegakkan mereka.”aku hanya tersenyum kering.

Lalu aku duduk dengan menatap wajah-wajah baru yang akan menggantikan posisiku. Aku merenungi apa kata-kata So Eun tadi, memang aku berubah drastis? Dari segi apa? Tapi, untungnya sambutan di ambil alih So Eun. Aku malas jika harus berpidato.

<3<3<3

Ringtone lagu Linkin Park – Given Up, mengalun di antara orang-orang yang serius berlatih di Dojo.

Yoboseyo . . . Bibi Kang?”jawabya. (KL: Hallo)

“Minho, kau sedang bersama Chaerim?”tanyanya lembut.

Aniyo, wae geureyo?”(KL:Tidak, ada apa?)

“Tidak ada apa-apa, Bibi hanya khawatir.”

“Biarkan saja, Bi! Dia memang keras kepala, lebih baik Bibi istirahat saja di rumah, jangan terlalu mencemaskan Chaerim, sekarang ia terlihat melunjak. Sikapnya berubah 180°.”

“Tapi . . .”

“Bi, nanti aku akan pulang bareng dengannya. Jadi tenang saja.”

“Baiklah, bibi jadi sedikit tenang.”

Bip! Panggilan terputus. Minho memutuskan untuk kembali melanjutkan latihan Taekwondonya. Hari ini ia cukup stress dengan sikap pacarnya. Mungkin dengan ini, ia bisa lebih mendapat pencerahan. Mungkin. . . .

<3<3<3

“So Eun, aku mau ke toilet. Kau duluan saja pulangnya!”kataku.

“Perlu kuantar? Lagipula aku tidak mau pulang sekrang.”jawabnya.

“Tidak usah, aku bisa sendiri.”tanpa mendengar tawaran kedua dari So Eun, aku berjalan masuk ke toilet terdekat. Sepi, ya jelas lah, sekarang sudah jam 5 sore. Mereka kan sudah pulang sejam yang lalu.

Akh, lega rasanya setelah buang air kecil. Tapi aku harus cuci tangan dulu. Saat aku mematut diri di depan kaca. Tiba-tiba tangan kiriku lemas, tak bisa digerakkan. Lalu sekujur tubuhku terasa ngilu. Kupijit-pijit lengan kiriku dengan tangan kanan. Tapi aku malah terjatuh, kakiku mengalami hal yang sama. Aku merintih, dan menyeret tubuhku agar bisa bersandar ke dinding. Kali ini, kudengar ringtone Gummy – There Is No Love. Aish, ponselku ada di samping westafel. Tapi aku tidak bisa meraihnya. Oh God, help me please!!

“Minho!!!!”teriakku sambil menahan sakit. Kuurut kakiku, berharap rasa ngilu ini bisa hilang.

“Minho. . . .”kataku lirih. Air mataku tak bisa menahan untuk keluar.

“Siapa saja . . . Tolong . . . AKU!!”dengan kesal aku memukul-mukuli kakiku.

“SHIT!!!! KAKI TIDAK BERGUNA!!!”jeritku.

BRAK!!! Pintu masuk WC wanita terbuka.

“Chaerim!!!”ia menghampiriku. Tanpa basa basi ia langsung mengendongku di punggungnya. Aku malah semakin ingin menangis didekatnya.

“Kau perlu ke rumah sakit?? Atau kita langsung saja kesana. Kau harus menurutiku!! Ara?”

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Changmin, maafkan aku!! Tak kuat, aku memejamkan mata di punggungnya. Aku takut tidak bisa merasakan kehangatan ini lagi.

<3<3<3

Ting Tong!!

Perempuan paruh baya keluar dari pintu. Akhirnya, aku menemukan alamatnya. Ia menyuruhku untuk duduk. Ia pergi ke dapur, sesaat kemudian ia kembali dengan membawa minuman. Ternyata ia tinggal di rumah yang sederhana. Interiornya masih tradisional. Namun tetap ada juga barang elektroniknya.

Nugu wa hamkke osyotsumnikka?”tanyanya.(KL: Dengan siapa Anda datang?)

“Saya datang sendiri. Oh, iya, perkenalkan. . .naneun Choi Minho imnida. Mannaso bangapsuemnida.”aku membungkuk. (KL: Nama saya Choi Minho. Senang bertemu dengan Anda.)

“Ya, tapi ada perlu anak muda datang kemari?”

“Saya hanya ingin memberikan ini. Tolong luangkan waktu untuk menonton ini. Saya permisi dulu, maaf bila mengganggu anda. Tto poepketsumnida.”aku melenggang pergi dengan perasaan lega. Tak lupa aku menuliskan nomor Hpku di secarik kertas kecil. Ia sangat membutuhkan itu. (KL: Sampai jumpa lagi.)

<3<3<3

Video diputar. . .

Omoni !!! Annyeonghashimnikka?

Apa kau kaget?? Anakmu ini, diberi nama Kim Chaerim. Apa kau masih mengingatku? Setelah pertemuan pertama kita di acara pemakaman Ayah, aku kagum pada kecantikanmu. Dan aku senang, ternyata Umma masih hidup. Tapi, ternyata kau tidak mau bertemu denganku. Aku sempat kesal, apa karena aku sakit, kau tidak mau menemuiku? Atau aku bukan anak yang diharapkan olehmu? Hari ini, disaat aku diberi kesempatan untuk sadar, aku meminta Minho untuk merekamnya.Minho pacarku, tampan kan dia? Walaupun aku hanya bisa terbaring tak berdaya di rumah sakit, tak ada yang bisa degerakkan. Aku lumpuh total sekarang. Apa kau prihatin melihatku? Atau, mungkin kau tidak peduli dengan keadaanku.

Omoni! Ingin rasanya aku bisa membencimu, setelah semua yang kau lakukan padaku. Jujur, lukapun masih berbekas dihatiku. Tapi, aku bingung, aku tidak bisa melakukannya. Rasa dendam pun tak bisa aku simpan untukmu. Aku malah masih berharap, kau mau memelukku, sekali saja. Aku hanya ingin merasakan hangatnya pelukanmu untuk pertama kalinya.

Omoni!!! Hks . . Hks . . .

Maaf, aku bukan anak yang sehat, yang bisa membanggakan orangtuanya. Maaffff!!!

Tut. . . Rekamannya sudah habis. Chaerim menagis sejadi-jadinya di akhir pesan. Begitupun wanita paruh baya yang menonton rekaman itu. Ia mengerang, menyesali perbuatannya. Ia sama sekali tidak tahu penyakit anaknya itu. Ia malah menuruti kata-kata Ayah Chaerim, untuk menghilang dari kehidupannya. Padahal Chaerim sangat membutuhkannya. Ia ingat dengan nomor Hp yang Minho yang ditinggalkan untuknya. Setelah tersambung, Minho langsung memberitahu alamat Rumah Sakit itu.

<3<3<3

Mataku menyipit, berharap bisa melihat siapa saja yang ada di akhir hidupku. Tapi ternyata, orang yang aku harapkan tidak ada. Aku tersenyum miris. Aku hanya terlalu berharap ada dia, belum tentu ia masih mau menemui anaknya yang sudah tidak berdaya. Kulirik Minho, ia mendekat membisikkan sesuatu.

Chagiya . . .Saranghaeyo Yongwonhi. . .”ia begitu lancar mengungkapkannya. (KL: Sayang . . . Aku mencintaimu Selamanya)

“Kam . . .kam . . .sa . .hamnida. . .”jawabku hati-hati.(KL: Terimakasih / formal)

Aku sudah tak kuat, mungkin ini saatnya. Kupejamkan mataku . . .

“Chaerim!!! Bangun nak! Ini Ibumu nak!!! Bangunnnn!!!!”terdengar tangis seorang wanita. Tapi aku tak bisa mebuka mataku kembali. Yang kurasakan hanya kecupan hangat darinya. Aku hanya bisa membalas dengan senyum terakhirku . . . .

Teettttttttt!!!!!!

<3<3<3

Aku Minho, yang pernah merasakan cinta yang sebenarnya. Cinta pertama dan terakhirku. Dan aku baru menyadari takdir hidup yang penuh kesengsaraan batin. Dan di pagi yang cerah ini, aku kembali ke tempat di mana kenangan kami pernah terukir. Di padang rumput yang sudah menguning karena musim gugur. Aku memutuskan untuk merekam tempat itu. Tak terasa sudah setengah tahun ia meninggalkanku. Kapan aku bisa menyusulnya?

Setelah menemukan objek yang bagus, kudekatkan handycam  itu ke mataku. Tapi, aku kaget, Chaerim, . . . benar dia Chaerim kekasihku. Setelah aku melihat dengan mata telanjang, dia tidak ada. Kulihat lagi dengan kamera, dia tersenyum padaku, dengan gaun putih yang cantik. Aku membalas senyumnya, rambutnya yang panjang terlihat anggun diterpa angin. Ia sedikit mendekat ke kamera, kalimat yang ia lontarkan . . . .

“Aku mencintaimu, dan selalu ingin jadi pengantin bersamamu! Tapi sekarang, aku harus pergi. . . Selamat tinggal!!” ia sama sekali tak berhenti tersenyum. Aku kembali melihatnya dengan mata sadar. Ia sudah pergi. . . .

“CHAERIM . . . CALON ISTRIKU YANG PALING CANTIK!!!”teriakku.

End . . . .

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^ (SHINee Toplist)
  • Open page Talk Talk Talk if you want to talk out of topic
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^^

33 thoughts on “Like A Dorama”

  1. ini ff-nya may bukan? **mianhe kalo salah**

    yang jelas : asyik,…ada ff baru,…baca dulu ah! ^^

  2. penyakitnya sm kayak di film my love beside me.
    keren! gw sampe nangis bcnya.
    tp ada satu kalimat yg lupa diedit.
    msh changmin bukan minho.
    tp gpplah, kan bs dibenerin??
    overall bagus!

  3. hiks… T_T

    udah min ho ke rumah aja, ajak yang laen **ditendang satu blog**

    nice ff ^^

    good job, author!

  4. wahh good ff ^.^

    Tpi kayanya itu ada yg lupa d edit yaa,, cuz msh ada nama changminnya..

    tpi keren kok ^.^

    oia bwt author lam knal yaa 🙂

  5. hhuuwwaaaa. . .
    kerrenn nii FF. . .
    nangiis bombbay akKu bcanyah. . .
    katta2 trakhr Minho. . ddaalleeeemm. .
    nice FF!
    ^^

  6. Minhooo! sabar yaaaa -..-
    ff-nya ngena banget deh. keren keren d(^.^)b
    thumbs up buat author (:

  7. huweeeeeeeeeee!!!
    sedihnyaaaa~
    kenapa sih hrs meninggal??
    kasian oppa ku dong *dibom flames
    niiiiiiice ^^

  8. pas minho blg cnta prtama dn trkhirku jdi inget sherina… kekekek
    *comment gapen* -,-
    bgus…
    sad end
    nice ff

  9. @eci: iya…..ini 1st FF’a May…..hehehehe
    @Thia..: lam kenal juga….May imnida…..
    @All: suer…..ini pertama kalinya FF aku di kument …… pas akk tag d FB…..sumpah….gak ada yg kument sama sekali…..makanya akk lebh milih ngetag d blog…seenggaknya bisa sedikit dihargai….*curhat…*
    @Lia: oh klo film itt akk blom nonton….yg pmeran cewenya Ha Jiwon bkan….
    ini penyakit akk riset dari film Starlit *Taiwan*, sama di film Barat…..hehehehe, abis ini penyakit yang pantes buat kisah drma….*alah, lebay.*
    tx ya…..

  10. May .. May ..
    Ini beneran kamu yang ngarang ? *may: maksud lo?*
    baguss bangeeet loh ..
    Sad endingnya ngena ..
    Gak nyangka ternyata kamu bisa ngarang juga ..
    Kk~kk~kk ..

  11. huwee.. T.T
    nice ff, emg ya FF Sad ending tuh thebest bgt
    *maksud lo???*

    tp sayang juga, kasian minho tgl sndr.hehe

    ditunggu FF lainnya,
    yey, smangat..

  12. Bgus chingu jd trharu bc y. . . . .

    Mmpug minho single ak bwa plg aj yh >///<
    *dgmpar istri minho*

  13. oh pengubahan tokoh ya?
    pantesan ada changminnya haha
    tapi btw keren kok ceritanya,
    bener-bener kayak dorama huhu T.T

  14. @Fikan: iya, cingu….di ubah….wah mian yah, add yg lom diedit…hhheheh…..obrol2 itt kuren gravatarnya.a….foto siapeu kah???hhheheh
    @all: makasih bgt………………….and mian yah add yg lom diedit………komapsumnida………

  15. mayy, maaf maaf baru baca ff mu say..
    kau ini suka sekali bikin orang nangis ya?
    hehehe..

    nice ff ^^

    anyway, mayyyyy…suka sama 2pm juga ya??
    wah..sama dong kita..qkqkqkqk

  16. @all: makasih….aku juga udah kirim oneshot judul keduanya……tap mungkin gak terlalu sedih sih…..
    eh, maaf yah…..aku ini emang kurang bisa bikin comedy, padahal aslinya cacingan mulu*sutres maksudnya…hhehehe*
    keep reading my Fanfic chingu….^_^

  17. sebenarnya aku udah baca ini kemaren malem chingu, tapi pas aku komen kok ga bisa – bisa ya . udah 4 kali coba malahan T_______________T
    jadi nya aku komen sekarang ya may 😀

    kekeke~ jadi si chaerim metong ya ~ *dih, najis amat basa gue XD
    bahahaha XD
    ffnya daebak author 😀
    minho minho yang sabar nak, udah pulang kerumah aja aku tunggu *dirajam shawol+flames+author+chaerim*
    jahaha XD nice ff author dd^-^bb
    walopun aku kurang suka sad end, tapi ff sad endnya bagus kok !!

  18. Wahhh..cool..penyakitnya jarang nih, ahhh sad ending . I like it *gaya riyanti ngomong*
    sering2 buat sad ending ya chingu .huehehehe .

    Minhooo oppa..di sini ada yg bsa gantiin jadi calon istrimu loh..lebih cantik dan seksi malah /PLAK *di buang ke pulau komodo sama shawol*
    hahaha .

  19. Huhuhu~ nangis sejadi” nya aku, , ,
    eh tapi itu nama pemerannya sama kaya namaku ya. . Walaupun hanya M & N yg membuatnya berbeda. . .wkwkwk~
    jadi merasakan bahwa itu adalah diriku

  20. ckckck. kesian minho. sini sini aku peluk #ditabok# wkwkwkwk. ceritanya bagusss~~ aku ampe terharu bacanya. cian chaerim. hiks hiks~~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s