Let You Go

Let You Go….

Author : thia a.k.a Thia1324

Cast : Choi min Ho, Kim Ki Bum (key) and Park Jung mi

Genre : romance, oneshoot

Yeahh…. ini ff pertama aku,, jadi Mianhae kalau jelek *gak bakat bikin ff* oia ini ff terinspirasi dari lagu ‘Let You go (a cold heart man)’ by Trax sama drama ‘Thank You’….

* Park Jung MI* PoV……

Angin musim dingin terus berhembus di antara kami berdua, menemani dalam kesunyian yang ada. Yaa, sekarang aku dan dia sedang berdiri di dermaga. Suasana di dermaga  ini sepi karena hari masih pagi, di sini hanya ada aku dan dia.  Aku bingun, sebenarnya ada apa dia mengajakku kemari? Tidak adakah tempat yang lebih romantic selain sebuah dermaga yang sepi dipagi hari  -.-, tapi sepertinya dia akan bicara serius, apa mungkin dia akan melamarku, ahh yang benar saja, ottokahjo aku menjadi gugup >///<.

“jung mi ada yang ingin aku katakan padamu.” Ucapnya dengan nada yang serius, dan matanya menatap kearahku dan membuat jantungku berdetak tak karuan.

“apa yang ingin kau katakan oppa? Katakan saja, aku siap mendengarnya” kataku sambil tersenyum kearahnya. Tapi saat melihat senyumanku dia malah membuang muka dan mengalihkan pandangannya ke arah laut.

“apakah benar kau siap mendengarnya?” tanyanya datar tampa mengalihkan pandangannya dari laut.

“ya, oppa aku sudah siap memangnya apa sih yang akan kau katakan? Membuatku penasaran saja.” Kataku bersemangat.

“baiklah, aku rasa…..” kata-katanya terhenti, wajahnya kini tertunduk ‘sebenarnya dia mau mengatakkan apa? Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak melihat tingkah lakunya’ batinku mulai khawatir dengan sikapnya.

“aku rasa hubungan kita cukup sampai disini saja, aku tidak pantas untukmu. Kau carilah pria yang lebih baik dariku.” Kata-katanya terhenti.  “ Aku akan pergi jauh. Jadi ku harap kau tidak perlu susah payah untuk mencariku…. hanya itu yang ingin aku katakan…mianhae… selamat tinggal park jung mi.” Degg… jantungku rasanya berhenti berdetak mendengar kata-katanya , apa maksudnya? Kenapa dia meminta putus denganku? Apa salahku? siapa saja Tolong sadarkan aku dari mimpi burukku ini.

Aku masih sangat shock dengan apa yang dia katakan. Penglihatanku mulai kabur karena airmata mulai mengalir dari kedua mataku. Aku tidak bisa mengatakkan apa-apa.  Aku melihat dia menatapku, tapi dia tidak mengatakkan apapun dan akhirnya dia berjalan kearahku dan betapa sakitnya ternyata dia tidak menghiraukanku, dia malah berjalan lurus tampa melihat kearahku.  Dia pergi begitu saja meninggalkanku sendiri di dermaga yang sepi ini. Aku masih terdiam di tempatku, ingin aku menahan kepergiannya menanyakan apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba seperti ini? tapi entah mengapa tubuhku tidak mau bergerak dan mulutku terus terkatup rapat, aku malah membiarkan dia pergi begitu saja.

_@@@_

Pagi ini hujan turun, suasana di rumahku benar-benar sepi dan dingin. Aku tinggal sendiri di rumah ini, karena orang tuaku sibuk bekerja di luar negeri dan kakakku park jung soo dia sudah memiliki kehidupannyanya sendiri bersama keluarga barunya. Aku memandang hujan dari jendela besar  yang ada di ruang santai.

“huft… kenapa akhir-akhir ini sering sekali hujan, menyebalkan. Semakin membuat moodku buruk setelah kejadian seminggu lalu.” Gumamku kesal sambil menggambar wajah cemberut dengan jariku di jendela  yang berembun.

Sudah seminggu semenjak kejadian itu, Dia benar-benar menghilang dari kehidupanku. Aku tidak dapat menemukannya, dia menghilang tampa jejak. aku melamun sambil menatap keluar, ingin aku menagis jika mengingat pria itu, pria yang sangat aku cintai, pria yang dingin namun hangat bila sudah mengenalnya, pria yang sudah menjadi kekasihku selama 2 tahun. tapi air mataku rasanya sudah habis kerena selama seminggu aku selalu menangis karena dia.

Ting tong ting tong… tiba-tiba suara bel rumahku berbunyi dan itu membuatku sadar dari lamunanku. Aku berjalan membuka pintu dan ketika aku membukanya aku heran, tumben sekali ada tukang pos ke rumahku.

“annyeong nona. Apakah benar ini kediam nona Park jung mi?” tanya tukang pos itu, aku menatapnya heran kerena dia membawa sebuah kotak di tangannya.

“ya, benar ini rumah park jung mi. Dan aku sendiri park jung mi” kataku sambil mencoba tersenyum kearah tukan pos itu.

“oh syukurlah kalau begitu, anda ada di sini. Ini ada kiriman untuk anda.” Dia memberikan kotak itu. “Dan tolong tanda tangani ini” katanya sambil menyerahkan secarik kertas dan pulpen. Akupun mengambil pulpen itu dan menandatangani kertas itu, lalu aku ambil kotak itu ‘heem apa ya isinya?’ gumamku dalam hati sambil membolak-balikkan kotak itu. “baiklah kalau begitu nona park aku pamit dulu. Kamsahamnida..” tukang pos itu beranjak pergi, tapi aku menahannya. “hey tunggu, Aku hampir lupa menyakannya. Siapa yang mengirim kotak ini?” tanyaku dengan penasaran. “ah maaf nona. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengirim itu.” Aku bingung dengan jawabannya “ya sudah lah kalau begitu gamsahamnida” ucapku sambil tersenyum, tukang pos itupun pergi dari rumahku. Aku menutup pintu dan berjalan ke ruang santai, lalu aku menyimpan kotak itu di meja dan akupun duduk di sofa. Aku memandangi kotak itu, aku belum membukanya karena terlihat dari luarnya tidak ada apa-apanya. Hanya kotak berwarna hitam polos. Setelah aku memandangi kotak itu dengan heran akupun perlahan membukanya. Dan aku tambah heran melihat isinya. Di dalamnya ada sebuah album foto berwarna putih dan sebuah disk. Aku mengambi album foto yang berwarna putih itu, disampul album itu tertulis ‘sweet memory’ aku bingung, sebenarnya siapa yang mengirim barang-barang ini.

Perlahan aku membuka album foto itu, aku kaget melihat foto yang ada dialbum  itu. disana ada fotoku dan seorang pria yang seminggu lalu meninggalkanku, pria yang sangat aku cintai, yaa pria itu adalah choi min ho. Aku membuka lembar demi lembar  album itu, banyak sekali foto kami berdua. Disalah satu foto itu kami berdua sedang tersenyum dengan bahagia dan tangan kami berdua membentuk huruf ‘V’ aku tersenyum melihat foto itu sungguh bahagianya kami saat itu.

tapi tiba-tiba air mataku terjatuh, aku menangis lagi. rasanya sakit bila melihat kebahagian yang tak mungkin terjadi lagi. kenapa kau pergi choi min ho? Kenapa kau mengirim benda-benda ini jika kau ingin meninggalkanku? Apakah kau memberiku  harapan?

Album itu sudah selesai aku lihat, air mataku mulai berhenti setelah melihat fotoku bersama dia. Pandanganku teralih pada disk yang masih berada di dalam kotak, aku mengambil disk itu. Kumasukkan disk itu kedalam dvd player yang ada di laptopku, aku pun menekan tombol play.

Aku melihat sesosok pria yang sangat aku kenal didalam video itu, yaa dia adalah choi minho. aku heran sebenarnya apa yang dia inginkan. Kulihat minho terlihat pucat didalam video itu. Diapun mulai bicara…

“hai annyeong jungmi-ah. Apa kabarmu? Aku selalu berharap kabarmu baik-baik saja. Hmm mungkin kau bingung dengan sikapku ini, akan ku jelaskan padamu semuanya. Dan sebelumnya cheongmal mianhae jungmi-ah karena aku tidak bicara langsung denganmu.” Kata-kata minho berhenti, kulihat dia menghela nafas beratnya. Dia melihat kearahku dengan tatapan yang sendu, dan itu membuatku ingin menangis.

“Jungmi-ah sebenarnya ada satu rahasia yang kau tidak tahu dalam hidupku, yang tahu rahasia ini hanyalah keluargaku dan Kibum sahabatku. Dan kau tahu jungmi rahasia ini sangat menyiksa diriku, dan karena rahasia ini aku jadi membeci diriku sendiri dan aku bersikap dingin pada orang lain.” minho menundukan kepalanya dia terdiam cukup lama, sebenarnya apa yang kau rahasiakan dariku minho-ah? Apakah rahasimu itu sangat menyakitkan? Banyak pertanyaan yang timbul dikepalaku, diapun memulai untuk bicara lagi.

“apakah kau ingin tahu apa rahasiaku? Baiklah aku akan beritahumu.” Lagi-lagi kepalanya tertunduk, dan entah mengapa perasaan ku tidak enak dan rasanya air mataku ingin jatuh lagi.

“sebenarnya aku mengidap penyakit AIDS.” Ucapnya dengan nada yang purau dan kepala masih tertunduk. Aku sangat Shock mendengarnya, aku tidak percaya, kenapa dia bisa mengidap penyakit yang sangat mengerikan itu? Kenapa ya tuhan? Air matakupun mulai mengalir karena hatiku sangat sakit mendengar kata-katanya.

“saat itu aku berumur 16 tahun, aku mengalami kecelakan, aku tertabrak oleh sebuah mobil saat aku akan berangkat sekolah. Akupun dibawa kerumah sakit dan aku kekurangan banyak darah. Hingga ada seseorang yang mendonorkan darah padaku, itu adalah awal di mana hidupku mulai hancur. Ternyata orang yang mendonorkan darah untukku terkena penyakit Aids. Dan semenjak itu aku divonis oleh dokter mengidap penyakit Aids.” Kulihat minho berusaha untuk tetap tegar menceritakan semuanya padaku.

“semenjak itu aku jadi mulai putus asa menjalani hidup ini. Aku bersikap dingin dengan orang lain karena aku tidak mau mereka tertular oleh penyakitku ini. Hingga suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat special, dia gadis sangat baik seperti malaikat, gadis ini memberiku semangat untuk hidup dia adalah Park Jung Mi.” Minho berkata dengan senyumnya yang hangat, tangiskupun semakin kencang dengan perkataannya tadi.

“aku bertemu dengan gadis yang baik hati dan ceria. Awalnya aku sangat terganggu dengan kehadiranmu, karena setiap hari kau selalu mencoba mengajakku mengobrol dan kau selalu bilang ingin menjadi temanku. Aku selalucuek dan dingin terhadapmu. Tapi Kau berbeda dengan orang lain, meskipun aku sering cuek terhadapmu, kau terus berusaha ingin menjadi temanku dan mengajaku mengobrol. akhirnya akupun menerima mu menjadi temanku lama-lama aku jadi tertarik denganmu..” aku tersenyum, tangisku mulai mereda mendengar minho bicara begitu. aku jadi teringat 4 tahun lalu saat pertama kali aku bertemu dengannya di sekolah, aku selalu melihat minho sendirian di kelas, jadi aku bertekad untuk menjadi temannya.

“sudah setahun aku berteman denganmu. Aku sangat nyaman kalau berada di dekatmu. Sampai suatu saat rasa itu muncul. Aku menyukaimu, akupun memberanikan diri untukmengungkapkan perasannku Dan akhirnya kau menjadi yeoja chinguku jung mi-ah.”

“Aku sangat bahagia bisa bersamamu. Tapi sebenarnya aku tidak pantas bersamamu karena aku adalah seorang pengecut yang tidak berani mengungkapkan penyakitku padamu. Aku tidak berani  mengungkapkannya padamu karena aku takut kehilanganmu….” kulihat air mata minho mulai jatuh, air matakupun ikut jatuh melihatnya.

“aku takut jika aku hidup tampa dirimu. Maka dari itu aku menyembunyikan semuanya. Setiap hari aku selalu bertemu denganmu,sebenarnya aku ingin memberi tahumu tentang penyakitku ini. Tapi entah mengapa rasanya sulit sekali untuk mengatakkan itu.” minho berbicara sambil air mata mengalir di kedua pipinya, akupun semakin terisak melihat minho.

“Ah mianhae jungmi-ah aku menangis. Harusnya aku tidak boleh begini.” Minho menyeka air matanya dengan lengannya.

“ahh baiklah jungmi-ah aku rasa cukup untuk memberitahumu. Aku sangat bangga bisa mengenalmu jungmi-ah, aku tidak akan pernah melupakanmu. Oia jungmi-ah berjanjilah padaku untuk tidak menangis  karena aku tidak suka melihat menangis. Cheongmal Gomabseubnida Jungmi-ah. Cheongmal Mianhae. Saranghae Yeongwonhi…” minho tersenyum. Lalu video itupun selesai di putar.

Aku masih saja mengangis. Entah mengapa air mata ini tidak bisa berhenti. Aku sangat sedih mengetahui semua. Ternyata selama ini minho selalu memendam kenyataan ini. Kenapa kau tidak jujur saja minho-ah? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.

Tapi tunggu dulu. Aku masih bingung, sebenarnya sekarang minho ada di mana???

_@@@_

Susana pemakaman hari ini sepi. Aku menatap batu nisan yang bertuliskan ‘Choi Min Ho’ air mataku kini tidak mengalir lagi, karenaaku telah berjanji tidak akan manangis lagi padanya.

“Min ho-ah annyeong? Apa kabarmu disana? Kuharap kau baik-baik saja. Hey lihat aku bawakan blue rose bunga kesukaanmu, aku harap kau senang.” Aku duduk disamping pemakaman minho bicara sendiri pada batu nisan Minho dan mencoba untuk tersenyum, Blue rose adalah bunga kesukan minho, Blue rose ini mempunyai makna bahwa diri kita sangat nyaman dengan seseorang.

Sesudah melihat kiriman dari minho, aku berusaha mencari petunjuk untuk menemukan Minho, dan akhirnya aku menemukan petunjuk itu. Di dalam kardus itu ada secarik kertas. Ternyata yang mengirim benda-benda ini adalah Kibum sahabat minho, dia mengajakku bertemu jika aku sudah melihat isi kirimannya.

Kibum menjelaskan semuanya, minho berpesan padanya bahwa dia harus mengirimkan benda itu kepadaku. Dan kau tahu? rasanya jantungku mau berhenti saat Kibum bilang bahwa Minho sudah meninggal saat 1 hari setelah dia meminta putus denganku.

“Minho-ah… dulu aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau telah pergi. Tapi sekarang aku akan merelakanmu pergi. Aku akan membiarkanmu pergi dengan tenang. Semoga kau baik-baik saja disana. Tunggu aku disana Minho-ah.” Aku menatap kearah langit dan mulai berdiri. aku tersenyum ke arah pemakaman minho.

“Saranghae Yeongwonhi……”

THE END…

Gimana ffnya?? Mian kalau jelek *bow*

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Advertisements

THE MAN WHO CAN’T BE MOVED

Title: The Man Who Can’t be Moved (song fic)

Author: tikaarchie / tika

Cast: Lee Jinki and Shin Hae Rin

Rating : T

Genre: Romance

Disclaimer Hope you’ll enjoy it and don’t forget leave a comment

­­­__________________________________________________________

Going Back to the corner where I first saw you


Gonna camp in my sleeping bag I’m not gonna move


Got some words on cardboard, got your picture in my hand


saying, “if you see this girl can you tell her where I am

***

Kumasukkan apa saja yang kuperlukan ke dalam ranselku, tak lupa kumasukkan sleeping bag yang sudah kubeli beberapa hari yang lalu. Ku ambil foto Hae Rin, foto terakhir yang ku ambil saat pergi berlibur dengannya.. Kubawa uang secukupnya, hari ini aku mencoba mencari Hae Rin lagi setelah berkali-kali aku mencoba bertanya dengan temannya kemana hilangnya Hae Rin. Inilah satu-satunya jalan terakhir menurutku, mencoba mencarinya ke tempat pertama kali bertemu. Aku takkan pergi kemanapun sampai aku bertemu dengan dia.

Hae Rin adalah kekasihku, 1 tahun yang lalu dia menghilang tanpa kabar, tanpa berita yang jelas, meninggalkanku tanpa mengatakan selamat tinggal atau apapun, menggantungkan hubunganku dengannya. Tau kah dia betapa sangat rindunya diriku dengannya ? senyumnya, tawanya, tatapannya, sikapnya yang terkadang dingin namun terkadang manja. 1 tahun terakhir ku habiskan waktu senggangku untuk mencarinya.

***

“permisi ahjumma, apa pernah melihat yeoja ini ?” kuperlihatkan foto Hae Rin ke ahjumma yang berjualan disekitar tempat aku pertama kali bertemu dengan Hae Jin.

“mianhae, aku tak pernah melihatnya. Lagi pula aku baru berjualan disini.” Jelasnya.

“oh.. terima kasih kalau begitu. Saya permisi dulu.” Pamitku.

Ya, tempatku pertama kali bertemu dengan Hae Rin di jalan sekitar pertokoan yang berseberangan dengan taman kota.

Kududukkan badanku dikursi taman sejenak melepas lelah, setelah bertanya ke orang-orang yang ada disekitar taman.

‘Hae Rin dimana engkau sekarang ? aku yakin engkau masih ada di Seoul.’ Batinku.

Kubentangkan selembar koran dan kujadikan alas saat aku duduk. Orang-orang disekitarku menatap keherenan dengan yang kulakukan, duduk dipinggir jalan sambil menaruh papan bertuliskan APA KALIAN PERNAH MELIHAT YEOJA INI dan ada foto Hae Rin.

Hari sudah malam, pemilik dari toko tempat aku duduk diluar menyuruhku untuk pulang. Namun aku masih tetap bersikeras untuk tetap disini. Aku takut kalau sewaktu-waktu melintas di sekitar sini.

***

1 minggu kemudian

Sudah seminggu aku terduduk disini, namun tak ada satupun yang pernah melihat Hae Rin. Para pedagang disekitar tempat aku menunggu sudah kenal denganku, mereka terkadang memberikanku makanan dan sekedar mempersilakanku menggunakan toilet yang ada di toko mereka. Mereka pun sudah tau tentang keberadaanku mencari Hae Rin, sempat mereka menawarkan untuk memasukkan berita tentang Hae Rin di daftar orang pencarian orang hilang. Namun aku tak mau karena itu akan merepotkan dan membuat hal ini menjadi heboh. Tentang aku yang tak akan pergi kemanapun sampai bertemu dengannya saja sudah heboh bahkan sempat masuk berita di koran. Tapi biarkanlah aku menjadi terkenal dan banyak orang yang membaca berita tentang diriku, dengan begitu kuharap Hae Rin tau kalau aku menunggunya. Bahkan para wartawan yang mewawancaraiku pun memberikan julukan untuk diriku, yaitu THE MAN WHO CAN’T BE MOVED.

Aku tak peduli dengan julukan itu atau apalah. Aku tak peduli dengan orang-orang yang datang kesini, sekedar melihat siapa orang yang rela tidak pulang ke rumahnya dan menjadi seorang gelandangan demi seorang yeoja.

***

Hari ini tak banyak orang yang mengerumuniku yang sekedar bertanya tentang yeoja yang kucari. Jadi, hari ini aku bisa sedikit leluasa melihat ke sekitar. Siapa tau ada Hae Rin.

Saat aku sedang memperhatikan sekitar, pandanganku tertahan diseorang yeoja yang duduk di kursi taman yang mengarah ke tempat dudukku. Aku seperti pernah melihat yeoja itu. Hingga terlintas dipikiranku, dia Shin Hae Rin. Yeoja yang selama 1 tahun ini aku cari. Aku pun berdiri dari tempat aku duduk dan menyeberangi jalan. Ku hampiri yeoja itu, kulihat wajah yeoja itu dan benar itu Shin Hae Rin, yeoja yang selama 1 tahun ini aku cari. Aku benar-benar tak kuat lagi menahan rinduku. Langsung kepeluk dia dan tangisku pun pecah.

“Hae Rin, oppa benar-benar rindu denganmu.” Jawabku sambil terisak.

Namun melepaskan pelukanku, aku merasa aneh dengan tingkahnya.

“Apa kau tak rindu denganku ?” tanyaku.

“Mianhae, tapi apa hubunganku denganmu ? aku tak kenal denganmu.” Ucapnya.

Aku benar-benar kaget dengan perkataannya. Apa yang terjadi dengannya selama setahun ini sampai dia lupa dengan ku ?

—-The End—-

Ps : maaf kalo ff nya jelek dan ff ini udah pernah di post di blog lain. Jadi Cuma sekedar mau berbagi aja. Kritik dan sarannya ya ^^

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^

GRANDPA, GRANDPA – Part 2

GRANDPA, GRANDPA

Part 1

Main cast : Key SHINee

Supported cast : SHINee, imaginary character

“APA???!!! Jadi dia nggak balik sampe nih makanan dingin cuman gara-gara menuhin tantangan kamu?!” Jong Hyun berseru nggak percaya. Min Ho terpaksa mengangguk. Dia sendiri cemas. Kok Key nggak balik-balik ya? Kemana tuh anak? Aneh banget kalo dia malah nge-date dadakan sama tuh cewek blasteran (weleh, emang tajem mata si Min Ho, dari jarak jauh dia udah nerka kalo tuh cewek blasteran). Min Ho berkali-kali ganti posisi duduk. Dia ngerasa bersalah udah ngerusak liburan SHINee.

Handphonenya nggak diangkat lagi, ck…” Onew berdecak menutup ponselnya. Si Key juga ada-ada aja sih, mau-maunya nurutin tantangan kayak gitu.

“Kita lapor polisi aja,” usul Tae Min.

“Nggak bisa, mesti 1 x 24 jam dulu baru bisa lapor,” jawab Jong Hyun.

Semua diam.

“Maaf,” ujar Min Ho akhirnya. Semua personil SHINee memandangnya. Kemudian mereka tersenyum dan menepuk pundak sobat mereka itu.

“Nggak ada yang nyalahin kamu,” ujar Jong Hyun.

“Tapi gimana kalo tuh cewek ternyata gembong penculik?” Min Ho masih nggak bisa lepas dari rasa bersalahnya. Yang lain ketawa.

“Mudah-mudahan nggak kecuali dia membuka samarannya,” Onew menenangkan. Min Ho ngerasa sedikit terhibur. Untung hari itu mereka nyamar jadi old man. Coba kalo mereka nyamar jadi cewek pake seragam sekolah? Si Key sukses banget samarannya. *Bletak.

Di tempat lain, Alexis, yang ternyata nama si cewek blasteran itu, ngajak ‘kakeknya’ makan di restoran vegetarian sekaligus restoran organik yang ada di daerah itu. Key masih belum bisa menghilangkan ekspresi malunya karena tadi Alexis nangkep bunyi di perutnya yang nandain kalo Key belom makan siang.

“Grandpa mesti makan yang sehat kayak gini nih. Semua serba seger, mulai dari sayuran sampe buahnya. Emang mahalan sih, Grandpa. Tapi sebanding sama gizinya,” ujar Alexis setelah memesan makanan.

“Gomawo, Alexa…” Key nggak tahu mau ngomong apa.

“Alexis, Grandpa. Lagian Grandpa juga biasanya manggil Lex kok!” ralat Lex tersenyum. Key diam. Kemudian mereka menikmati makanan yang disajikan tanpa suara. Key makan dengan lahap. Otaknya lagi nggak mau mikirin gimana selanjutnya. Key lapar total. Mana hari sudah sore lagi. Akhirnya Key mutusin untuk mencoba perannya sebagai kakek.

“Gimana sekolah kamu, Lex?” tanyanya membuka percakapan.

“Asyik-asyik aja, Grandpa. Cuma kurang seru. Nggak ada saingan. Gampang banget dapet ranking satu. Jadi rada ngebosenin,” ujar Lex di sela-sela makan. Key bersungut dalam hati. Sombong betul sih ini anak?? Key jadi inget susahnya ngebagi waktu antara kuliah dan karirnya di SHINee. Diam-diam dia sirik setengah mampus sama Lex.

“Gimana, Grandpa? Setuju nggak sama usul aku tadi?” tanya Lex.

“Hah? Usul yang mana?”

“Grandpa ikutan aja ke Amerika! Tinggal bareng Mom, Dad, sama Kenny. Lagian Grandpa betah amat sih di panti. Penghuninya kan orangtua semua,”

Ya iyalah orangtua semua, kalo anak muda semua namanya kafe, tahu! Huh!

“Lihat tuh, Grandpa makin kurus deh,” Lex memandang prihatin.

Ya iyalah, aku tuh bukan kakek kamu, tahu! Kamunya aja yang nggak beres! Huh!

“Grandpa masih suka main biola? I miss your violin play!”

Nggak bisa main biola! Aku bisanya nyanyi, sama…nge-dance. Nah lho, mau lihat aku nge-dance? Dasar cerewet! Huh!

Key nggak henti-hentinya ngedumel dalem hati. Ini pasti mimpi buruk. Ya Tuhan…please wake me up.

Tiba-tiba Lex menggenggam tangannya. Untung Key nggak lagi ngunyah. Jantungnya berdegup kencang lagi. Apalagi ketika Lex menatapnya dengan sorot mata birunya.

I love you,” ujarnya.

“HAH??!!” serius nih?? Yes, yes, yes, punya kecengan orang bule!

I love you, Grandpa. Aku cuman pengen Grandpa hidupnya seneng, tinggal di panti jompo itu nggak nyelesain masalah, Grandpa! I’ll be by your side. Just trust me. Please live in America. Kami semua sayang Grandpa,” tutur Lex. Key menangkap kesungguhan di mata gadis itu, meskipun sempat kege-eran tadi. Hihihi.

I’ll be just fine,” ujar Key. Dan refleks ngomong inggrisnya menimbulkan masalah. Lex menatapnya heran.

“Grandpa sejak kapan bisa ngomong bahasa inggris? Hihihi…” kikik Lex. Sejenak. Kemudian wajahnya kembali serius.

“Ngapain tinggal sama orang yang nggak punya rasa tanggung jawab sama sekali. Berapa kali coba the irresponsible couple itu ngejenguk Grandpa di panti?”. Lex berhenti mengaduk makanannya dan mulai mencomot saladnya.

Key terdiam. Mungkin yang dimaksud Lex the irresponsible couple itu paman dan bibinya yang sempat disinggung tadi. Key menduga bahwa ada masalah dalam keluarga Lex.

“Jangan khawatirkan Kakek,” ujar Key.

“Gimana nggak khawatir? Mom dan Dad pindah ke Amerika karena udah nggak tahan lagi sama Auntie. Dan Uncle Song jelas-jelas mengungkit-ungkit soal…oh my GOD…nggak sanggup deh,” tiba-tiba Lex menangis.

“Soal…?” ups, aku kok jadi ikut campur urusan orang sih? But I can’t let a girl cry, batin Key dalam hati. Mumpung lagi jadi kakek, dia ngeberaniin diri buat ngapusin air matanya Lex.

Legacy,…”

“Warisan?” Key menerjemahkan jawaban Lex.

“Kok tahu artinya?”

“Trus…?” Key males banget ngebahas pertanyaan nggak penting Lex soal bahasa inggrisnya. Ia belom siap membongkar penyamarannya.

“Ya nggak cool banget gitu, Grandpa. Masa belom-belom udah ngebicarain warisannya grandpa? Karena itu kan makanya Grandpa milih buat kabur ke Hamkke? Aku tahu kok, Grandpa,” ujar Lex. Key sudah bisa menangkap sebagian dari kisahnya sebagai “grandpa”. Ternyata grandpa-nya Lex memilih untuk tinggal di panti jompo karena anak dan menantunya yang satu itu super duper rese’ dan nyebelin soalnya udah ngungkit-ngungkit soal warisan. Padahal orangtuanya masih ada. Ada juga orang kayak gitu.

“Grandpa udah nggak boleh susah lagi, makanya grandpa tinggal sama kami aja. Mom sama Dad juga bilang gitu kok,”

Okay, baby grand daughter, we’re back to reality. Saya itu bukan kakek kamu. Saya member SHINee, boyband sekaligus grup idola Korea. Namun kata-kata itu hanya bersenandung di hati Key. Dia belum ingin menjelaskan semuanya. Seenggaknya nggak sekarang.

“Kakek pulang dulu ya. Hari mau malam,” Key pamit.

“Grandpa mau kuantar?”

“Nggak usah, nanti kapan-kapan kunjungi Kakek ya? Kakek pasti bakal kangen sama cucunya,” ujar Key lebih bernada menasehati. Ia benar-benar ingin Lex bertemu Grandpa-nya yang betulan.

Okay, Grandpa!”, Lex tersenyum, maniiiiiissss…sekali. Key deg-degan ngeliatnya. Sesaat kemudian cowok cool itu pamit. Tersenyum.

Yeah, at least I got your name, dear grand daughter…

$$$$$$$$$$

Min Ho memeluk Key erat begitu cowok itu menapakkan kakinya di apartemen mereka. Disusul leader Onew dan yang lainnya. Key jadi terharu. Nggak nyangka fans beratnya ternyata ada di apartemennya sendiri (apaaa…’coba).

“Terimakasih, Ya Tuhan! Engkau telah mengantar Key kembali kepada kami,…” Min Ho mengucap syukur. Rasa bersalahnya menguap tergantikan rasa lega.

“Kami kira kamu diculik!” ujar Onew nggak kalah lega. “Untung aku belom nelpon Pak Jung. Bisa abis si Min Ho kena damprat sama dia,”

“Mau aja aku diculik sama cewek sekece Alexis,” Key keceplosan. Padahal dia mau nyimpen kenangan “grandpa bajakan” tadi sendiri. Seperti dugaan, temen-temennya langsung rame.

“Bener kan, tuh cewek kece abis? Mana blasteran lagi!” Min Ho langsung seru-seruan.

Key hanya mengangguk sambil tersenyum. Anggota SHINee yang lain langsung curiga melihat gelagat sohib mereka ini.

“Yah, diculik sehari aja langsung naksir nih ceritanya? Bhuawahahahahaha!” yang lain ketawa ngedenger ucapan Jong Hyun.

“Anak mana, anak mana?” tanya Tae Min bersemangat.

“Anak Mom and Dad,” ujar Key menirukan logat Amerika Lex. Yang lain terbahak ngeliat tingkahnya yang kocak. Mereka lega karena ketakutan mereka Key bakal diculik trus dicuci otak dan dijadiin mutant (heran, pikiran siapa sih ini?) sirna sudah.

Hari yang melelahkan. Selepas makan malam Key langsung tertidur pulas bersama member SHINee lainnya dengan satu tekad buat nggak nyamar jadi old man lagi kalo mau jalan.

$$$$$$$$$$

Hari kedua liburan ini, SHINee ngerencanain buat pergi Youth Zone – tempat nongkrong remaja paling ngetop di Seoul. Di situ semua ada, mulai dari kafe, food court, bowling, zona game, dan lain-lain. Kalo lagi free, SHINee sering main ke sana. Dengan samaran dan bodyguard tentunya, sekedar untuk menghindari kemungkinan nggak bagus. Tapi nyatanya mereka jarang banget pake bodyguard. Mereka lebih sering ditemani asisten dan manajer mereka. Atau malah sendirian kayak hari ini.

Untungnya hari itu Youth Zone lagi nggak terlalu rame. SHINee yang memakai jaket, topi serta kacamata coklat tersenyum bangga pas lagu mereka Amigo yang nge-beat itu mengalun mengiringi sepasang anak muda yang bertanding dance di sebuah dance game. Remaja-remaja lain seusia mereka mengerubungi.

“Eh, itu SHINee!!!” seru seorang dari mereka. SHINee sontak terkejut. Ternyata yang bisa mengelabui pandangan khalayak baru dandanan kemarin aja.

Untunglah remaja-remaja di Youth Zone nggak brutal. Mereka bersikap layaknya fans biasa, jejeritan sedikit wajar, jejingkrakan juga wajarlah. Beberapa dari mereka yang dominan cewek-cewek serta merta menghampiri sembari ngeluarin notes dan pulpen dari tas mereka buat minta tanda tangan. Yang lain ngeluarin ponsel buat foto bareng. SHINee melayani semua permintaan fans mereka dengan senyum. Kayak lagu mereka, fans juga kayak oksigen kan?

Dari dance game itu, dua orang cewek memandang mereka. Yang satu blasteran dan nggak lain nggak bukan adalah Lex, dan yang satu lagi sohibnya dari Amerika yang sengaja dia ajak buat nemenin dia liburan_________Reese Terry.

So,…” Lex memandang mereka angkuh. “Who are those Backstreet Boys?

No idea. Seems everyone admires them. Maybe they’re kinda’ idol group such NSYNC,”

Get real!” Lex mendengus meremehkan.

So do that, Lex,” Reese menatapnya penuh arti. “You’re not a chicken, aren’t ya?

Watch me,

Lex memulai lagi lagu Amigo tadi dan nge-dance sendirian buat nunjukin kalo dia bisa lebih menarik perhatian remaja di sana ketimbang SHINee.

Semua mata tertuju pada cewek itu. Ia menari dengan enerjik. Gerakan-gerakannya nunjukin kalo dia bukan remaja biasa. Min Ho dan Key melongo. Ya ampun, itu kan Alexis???

Tanpa sadar Key nyamperin ke sana, diikuti oleh personil SHINee yang lain. Anak lain tampak semakin bersemangat. Mereka menantikan adanya dance battle di sana. Soalnya Lex dan Reese daritadi nyebelin banget, mereka memonopoli perhatian segenap Youth Zone dengan dance battle mereka.

Tapi SHINee nggak jauh beda. Mereka terkesan sama dance skillnya Lex, apalagi pake lagu mereka. Jadi tersanjung nih, hehehe.

Pas lagu selesai, seisi Youth Zone tepuk tangan. SHINee nggak ketinggalan.

Nice move, Lex!” puji Key tanpa sadar. Kemudian ia terkejut sendiri saat Lex memandang aneh padanya. Astaga! Pake nyebut namanya lagi! Pabo,Key! Key merutuki dirinya sendiri. Untungnya Lex nggak kelihatan ambil pusing. Dia udah biasa tenar kali. Hihihi.

“Oke banget kalo SHINee dance battle bareng mereka!” seru sebuah suara yang berasal dari rombongan remaja yang menonton. Lex tersenyum. Tepatnya menarik sudut kanan bibirnya ke atas. Dia suka tantangan. Namun anggota SHINee berpendapat lain.

“Kami di sini cuman sebentar…”

“Mungkin bukan battle, tapi ngedance bareng,” Key memotong ucapan Onew. Leader SHINee itu mendelik. Aish,…Key bikin ulah lagi deh.

Key naik ke dance floor sebelah kanan sementara Lex di sebelah kiri. Ia tersenyum dan membungkuk memberi hormat. Lex membalasnya.

“Lagu Amigo yang barusan,…” ujar Key. “That’s our song. Thank you for dancing with it, tapi kali ini biar aku yang milihin lagunya,”.

None of my problem. Silakan aja.” Sahut Lex angkuh. Key tersenyum dan ngeswitch theme song (halah kayak film) buat dance battle mereka. Olala. No String Attachednya NSYNC. Lagu berirama ngebeat itu pas banget buat dance battle.

Bagian intro berkumandang. Key dan Lex ngedance dengan enerjik. Nggak cuman ngikutin tanda panah yang diinstruksikan,tapi juga diimprovisasi sedemikian rupa sehingga menciptakan suatu visual dance yang menawan (halah,bahasanya). Semua mata memandang, terpesona, entah siapa yang akan mereka soraki. Key dan Lex sama-sama punya skill yang bagus buat ngedance.

Entah karena dance floornya yang licin atau konsentrasi Lex terpecah, tiba-tiba cewek cantik itu kehilangan keseimbangan dan terpeleset. Dasar Lex emang jago, ia cepat tanggap dan meng-kamuflase gerakan terpeleset itu dengan kaki yang satunya.

Tapi Key tahu Lex hilang keseimbangan. Ia hanya menarik nafas lega pas tahu cewek itu bisa mengatasinya dan nggak jadi terpeleset. Musik selesai dan mereka mengakhirinya dengan gerakan keren.

Semua bertepuk tangan. Key memberi hormat dan turun dari dance floor. Lex nyamperin Reese. Terlihat dia bicara dengan sohibnya itu sembari memegang kaki kanannya.

“Kita jalan lagi,yuk!” ujar Min Ho.

“Kalian duluan aja, nanti aku nyusul,” ujar Key. Jong Hyun hendak buka mulut, tapi member SHINee yang lain memberi isyarat supaya mereka jalan duluan.

Key menghampiri Lex dan Reese yang lagi duduk.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Key khawatir.

“Apanya yang ‘nggak apa-apa’?”

“Kaki kamu,”

“Emang kenapa sama kaki aku?”

Aish, kenapa juga aku mesti repot-repot nanyain, Key membatin.

“Kamu tadi ampir jatuh kan?” ujar Key sabar.

“Nggak tuh,”. Key manyun dengan jawaban cuek Lex. Dasar cewek gengsian. Padahal Key bisa menangkap wajah Lex yang mulai meringis.

Well, I just hurt my ankle, but that’s okay,” ujar Lex, bosan ditanya-tanyain mulu. Trus dia mengamati Key heran.

Have we ever met before?” tanyanya bikin Key gelagapan.

“Ngg…perasaan kamu aja kali,…”

“Trus kok kamu bisa tahu nama aku?”

“Aku asal bilang aja,”

“Nggak mungkin,”

Ih, nih cewek maksa banget sih?

“Ya terserah,” ujar Key akhirnya. Ia menghela nafas lega pas Lex nggak nanya-nanya lagi.

“Kamu mau langsung pulang? Bareng kami aja, Onew nyetir mobil. Ntar sakitnya tambah parah lagi,” Key menawarkan.

“Aku nggak langsung pulang, mau jengukin kakekku sebentar ke Hamkke,” ujar Lex. Reese mengangkat alis mengiyakan.

“Ya udah kami anterin,”

“Nggak usah repot-repot. Selebritis nganterin cewek ntar jadi gosip lagi,” sahut Lex cuek. Key tersenyum geli. Penolakan yang lucu.

“Biarin aja. Biar masuk infotainment sama majalah. Biar tambah ngetop,” candanya. Lex menahan senyumnya.

“Ya udah, tapi jangan harap aku mau balas budi,”

Buset dah nih cewek.

Mereka pun berkumpul setelah Key menelepon anggota SHINee yang lain. Dia minta tolong supaya mereka bersedia mengantar dua cewek ini ke Hamkke.

Onew melajukan mobil ke Hamkke-Light. Reese Terry yang nggak kalah cueknya sama Lex asyik denger lagu di pake headsetnya sambil niup permen karet (Jong Hyun yang cinta kebersihan berkali-kali mengingatkannya supaya nggak buang tuh permen karet di dalam mobil). Sepanjang perjalanan Min Ho nggak henti-hentinya ngajak Lex ngobrol. Sesekali mereka ketawa bareng. Trus Min Ho becandain Lex, gentian Lex yang candain Min Ho. Trus ketawa bareng lagi. Key cemberut. Si Lex kok kena banget ngomong sama Min Ho? Kok sama dia cuek-cuek aja? Hehehe, Key nggak nyadar kalo dia jealous berat. He envies Min Ho.

Key mendelik ke arah Min Ho. Aish, bisa-bisanya Min Ho ngacak-ngacak rambut Lex! Huh! Key manyun sepanjang jalan kenangan. Hehehe.

Tibalah mereka di Hamkke. Lex dan Reese mengucapkan terimakasih sembari membungkukkan badan.

“Ditungguin?” tanya Key.

“Nggak usah deh, hotel kami deket kok. Thank you very much, you guys!” ujar Lex. Key tersenyum. Mobil mereka melaju pulang ke apartemen.

“Senangnya yang abis nganterin tuan putri,” goda Onew dari balik setir mobil. Key cuman diam menatap ke luar jendela. Dia masih jengkel sama Min Ho. Meski dia tahu kalo Min Ho nggak punya maksud jelek. Dan dia yakin Min Ho tahu kalo dia suka sama Lex.

HAH????!!!

Suka sama Lex? Cewek jutek itu??? No way, no way, no way!

“Udah, kalo suka, langsung bilang aja sama Alexis,” ujar Key Baik.

“Halah, ngapain kamu suka sama cewek jutek kayak gitu? Alexis sih menang cantik doang!” sahut Key Jahat nggak mau kalah. Ia meleletkan lidah ke arah Key Baik. Key Baik tetap tersenyum.

“Biar jutek Alexis sebenernya cewek baik kok. Buktinya dia sayang sama kakeknya,”

“Sayang sama kakeknya bukan berarti bisa sayang sama kamu juga kan, Key?” Key Jahat masih sibuk memanas-manasi Key. Key Baik kembali bicara.

“Ya itu contoh konkritnya bahwa Alexis juga makhluk baik kan?”

“Halah, udahlah. Lagian kamu itu seleb, Key! Gimana bisa membagi waktu? Mikir dong pake logika!” potong Key Jahat.

“Cinta kadang nggak kenal logika, kok!” ujar Key Baik.

“Kamu apaan sih daritadi ngomongin cintaaaaa…mulu!” Key Jahat mulai sebal sama Key Baik. Key Baik cuman menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Diem ah!” bentak Key. Key Jahat langsung mengkeret, kemudian ia dan Key Baik menghilang. Hihihi (sebenernya ini cerita apaan yak?).

“Loh? Kok marah?” Onew kaget.

“E-eh, bukan marahin kamu kok! Ini ada nyamuk daritadi rese banget,” ujar Key belaga mengusir nyamuk yang sebenernya nggak ada.

“Mobil pake AC masih ada nyamuk?” tanya Tae Min lugu.

“Nyamuk kutub kali, dongsaeng…” sahut Onew geli.

Key cuman diem aja. Dengan satu pertanyaan yang masih bergema di benaknya.

Aku suka Alexis?

$$$$$$$$$$

To be continued…

Fiuh, mianhe kalo masih banyak kurangnya nih FF. ^^;a

Gomawo ^^

-PeppermintLight-

Signature


This FF has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • Open page LIBRARY if you miss some FF ^.^