Pearl In The Soul of Human – Part 1

Pearl In The Soul of Human

Author             : Tsae

Main Cast        : Lee Sungi, Choi Minho, Kim KeyBum, Lee Jinki.

Other Cast       : Jessica, Krystal, Tiffany, Jiyeon.

Genre              : Family, Romance

Type                : Sequel

Cuap2 aja…jangan kesel baca ini FF yah… Peace dlu sbelumnya…

®®®

Cuaca mendung mengawali hari pertamaku naik di kelas 11 KyuJjang High School. Sekolah swasta bertaraf Internasional yang paling bergengsi di Seoul. Waktu menunjukkan jam 8.30 pagi.

Daripada aku naik sepeda, nanti kehujanan. Lebih baik aku naik bus saja…pikirku.

Dari kejauhan tampak bus mengambil ancang-ancang untuk berhenti di halte. Kakiku sudah siap-siap untuk naik tanpa harus memperlihatkan sesuatu di balik rok-ku.

Dihari pertama nggak boleh telat. Kalau sampai aku masuk Bimbingan Konseling, Ayah dan Ibu pasti marah di surga sana. Yap, boleh dibilang orang tuaku meninggal setahun yang lalu. Dan seharusnya sekarang aku tinggal dengan kakak angkatku, tapi ia memilih tinggal di asrama Sekolah Musik sederajat Universitas. Umurnya 20th, empat tahun lebih tua dariku.

Flash Back:

“Oppa, mianhae… aku tidak bisa datang ke Tour Jepangmu….”aku sedikit terisak.

“Hm, kwaencanna…”jawabnya pendek,

“Tapi, Apochi dan Omoni baru saja berangkat. Mereka tak mau ketinggalan pesawat.”

“Ya, aku tahu itu..”

Lee Jinki, Ayahku yang membawanya dari panti asuhan sejak aku berusia 5 tahun. Ayahku sangat berharap mempunyai anak lelaki yang bisa meneruskan karirnya sebagai dokter bedah. Tapi oppa lebih tertarik ke dunia music. Ia dimasukkan ke sekolah music, dan sekarang ia menjadi pianis di orkestranya. Ayahku mengizinkannya, anehnya ia tak memaksa kehendak anak kesayangannya itu. Tapi ujung-ujungnya aku yang dikerahkan agar menjadi dokter. Tapi, aku tidak membenci Oppa-ku…sungguh… aku malah sudah kepalang menyayanginya sebagai abank sendiri. Walaupun sikapnya selalu dingin dan tertutup, aku tetap meyanginya.

“Sungi-a….!!!”Bibi Liem berhenti dengan nafas yang terengah-engah.

“Waegurae??”sambungan telepon masih tersambung dengan Jinki oppa.

“Lihat saja Tv… Bibi takut salah lihat, lebih baik kau pastikan saja…”

Aku menurutinya, kulihat berita hari ini. Aku terkejut bukan main melihat kecelakaan mobil di jalan menuju bandara. Kubesarkan volume tv agar aku bisa mendengar siapa saja korbannya… Dan kudengar nama orang tuaku disebutkan..Kutelan air ludah, tak percaya. Apa maksudnya ini??

“Sungi, kau lihat berita apa di tv?”terdengar suara Jinki oppa di telepon. Aku tak segera menjawabnya, hanya air mata yang kukeluarkan. Bibi Liem hanya memelukku, rasanya hal ini membuatku sakit hati. Aku yatim piatu….

Flash Back End.

Lagi-lagi aku mengeluarkan air mata mengingat hal itu. Terlebih, ada cerita menarik di balik itu. Oppa-ku, tak menitikkan air mata sedikitpun pada upacara kematian ayah-ibu. Beda sekali denganku, yang hampir pingsan melihat mereka berdua menjadi batu pusara. Aku sakit hati…

Bus berhenti, aku keluar dan berjalan cepat menuju sekolah. 15 menit lagi bel masuk. Kuihat para siswa juga buru-buru. Ingin sekali aku menyapa mereka, tapi aku hanya punya 2 teman dekat, Tiffany dan Jiyeon. Kami bisa dekat karena sifat kami sama. Sama-sama kaya anak kecil, cengeng, dan manja. Dulu, ada Ahjumma yang bergossip, mereka berbisik…’cantik-cantik kok idiot’…kita bertiga langsung nangis sejadinya, dan sejak itu kami memutuskan seenggaknya tampilan kami nggak boleh culun. Alhasil, good job lah!! Tampilan kita mengikuti tren. Dan aku menggunakan caraku sendiri agar tak diremehkan orang lain, yaitu langganan peringkat pertama di kelasku.

“Waduh…10 menitan lagi…”kagetku, aku langsung berlari menuju kelas di lantai dua. Untung…gurunya belum dateng dan masih banyak murid-murid yang mengobrol. Berselang waktu seorang guru masuk. Karena ini taun ajaran baru, teman sekelasku berbeda dari kelas 10. Hanya Tiffany, Jiyeon*always together* dan cowok yang suka jailin aku sejak SMP…Minho. Aish, nasib kok begini ya?? Masa setiap taun harus sekelas sama dia??…pikirku.

“Lee Sungi..”absensi dari guru. Itu namaku.

“Hadir..”

Jam pertama diisi dengan pelajaran matematika. Aku harus serius belajar, agar bisa mengikuti pesan ayahku… jadi dokter…

JJJ

“Istirahat pertama harap semua berkumpul di podium sekolah!”pengumuman dari speaker.

Jam 11.00 semua murid keluar menuju podium. Ada apa ya? Akh, mungkin hanya sambutan.

“Para siswa selamat datang kembali di sekolah kita ini…bla…bla…bla. Selanjutnya saya akan mengumumkan suatu prestasi yang menggembirakan untuk sekolah kita. Kemarin klub panah kita mengikuti kejuaraan nasional dan menjadi juara bertahan. Untuk pewakilan klub, dipersilahkan maju ke depan untuk menyerahkan piala.

“Wahhh…”fans club dari Key terpesona.

“Ganteng banget ya, Key!!”kata Tiffany.

“Aku mau banget masuk Key-Go*FC’nya Key, ceritanya*… Tapi langsung ditolak sama Jessica ma adeknya, Krystal.”keluh Jiyeon.

Jessica-Krystal, dua bersaudara yang hanya dibedakan satu tingkatan kelas. Jessica satu angkatan denganku, dan merupakan ketua dari K-Go. Membernya mesti ngejalanin syarat, harus cantik, supel and modis. Yah, kita nggak kemasukin coz nggak punya temen banyak. Jessica juga selalu dekat dengan Key, mereka sekelas… Key, itu orangnya ramah, pantas semua siswi jatuh hati padanya. Permainan panahnya juga penuh penghayatan. Aku kagum padanya… eh, atau suka?? Entahlah…

“Sungi-a…kau melamun…hei, pidatonya udah selsesai…”kata Jiyeon.

“Akh, aniyo… Ok… Kayo!!!”

JJJ

Waktu menunjukkan pukul 16.00. Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Aku bersiap-siap pulang. Tiffany dan Jiyeon berbeda jalur denganku. Jadi aku berpisah dengan mereka. Karena aku ini orangnya lambat, jadi tinggal aku sendiri yang masih merapikan buku ke tasku. Yang lain dengan cepatnya pergi meninggalkan kelas. Saat aku berjalan ke lorong menuju loker sepatu, aku merasakan ada seseorang yang mengikutiku. Tapi tidak ada siapa-siapa… aku berjongkok untuk mengganti sepatu…dan… KLIK!!!

“Aw, warna pink ternyata…”ia memotretnya.

“YA!! Sedang apa kau?”aku geram.

“Kalau di sebarin seru juga..”ia tersenyum jahil.

“Minho-a….aku mohon…hapus fotonya!!!”aku menangis sambil menarik-narik bajunya.

“Siapa suruh jongkok di tempat umum…”

“Aku kan mau pakai sepatu…”

“Yaudah, nih ambil….kalo bisa…”Minho berjalan dengan langkahnya yang panjang. Aku berlari untuk mengimbanginya. Ia termasuk anak klub panah yang notabenenya cowok-cowok tinggi. Sama dengan Key. Setau aku, tinggi Minho 183cm… Aku aja yang punya tinggi 170cm nggak bisa nyamain langkah dia. Eits, culun-culun gini juga, banyak yang ngira aku model. Jessica aja kalah…

“Minho…aku mau pulang..tolong hapus foto itu!!!”

“Ehm, ada syaratnya lah!!”ia berhenti berjalan.

“Kau harus jadi assistantku selama satu bulan…”lanjutnya.

“Mwo??”

“Mau nggak??”

“Hajiman….euh… aku nggak kuat kerja berat..”

“Nggak berat…tenang aja,,,mulai besok, gimana?”

“Tapi janji ya…jangan disebarin fotonya..”

“Iya..udah ah, cengeng banget…dikit-dikit nangis..”aku melap air mataku dengan tangan.

“Minho…mau pulang bareng nggak?”tanyaku.

“Ngapain?”ia menatap aneh.

“Aku takut nih, naik bus jam segini, Minho kan berani…”

“Cuih,males banget bareng ma kamu. nanti aja kapan-kapan kalo aku inget…”ia melenggang pergi.

“YA!!!”aih, aku pulang sendiri. Aku berjalan menuju halte bus, tapi aku melihat seseorang berdiri di kejauhan…sepertinya aku kenal…aku memicingkan mataku, akh Jinki oppa…Orang yang disebut langsung menghilang.

“Mungkin hanya perasaanku saja… Ia sedang apa ya??”

LLL

“Aku bukan kakak kandungmu, tidak sepantasnya kalau aku harus tinggal denganmu. Lagipula, aku sudah dapat beasiswa dan tinggal di asrama gratis. Aku juga mempunyai penghasilan dari orkes. Aku ingin focus di karirku. Aku ingin jadi pianis terhebat. Kau tidak apa-apa kan jika tinggal sendiri? Tunjangan Apochi masih bisa menghidupimu. Dan Bakery milik Omoni juga masih dikelola Bibi Liem.”

“Tapi, aku ingin oppa tiggal disini..”aku menangis lagi.

“Bibi Liem sudah memberi izin aku untuk tinggal di asrama. Ehm…..mungkin aku sesekali akan pulang..Sudahlah hapus air matamu…”

Akh, aku terbangun. Hari itu terulang lagi dimimpiku. Janji itu selalu aku ingat. Tapi ia tak pernah menepatinya. Aku selalu menunggu kedatangannya, tapi hanya berakhir sia-sia. Kadang aku berfikir, mungkin Jinki oppa malu mempunyai adik sepertiku. Dari kecil, aku tak pernah merasakan kasih sayang darinya. Setiap hari aku hanya menerima sikap dingin darinya.

“Aku kesepian…”lagi-lagi aku menangis. Rasanya aku benci kehidupanku sekarang.

Tak lama larut dalam kesedihan. Aku menyadari sudah saatnya aku bersiap-siap berangkat sekolah. Sekarang…aku malas memoles wajahku. Kubiarkan apa adanya. Dan karena aku tidak terburu-buru, aku memutuskan untuk naik sepeda. Kupakai celana pendek di dalam rokku. Yah…sekedar jaga-jaga agar kejadian kemarin tak terulang. Roti tawar berselai strawberry aku selipkan di mulutku. Pagi ini sangat cerah, namun hatiku tak secerah biasanya. Selai Strawberry kesukaanku terasa hambar di lidahku. Pikiranku kacau balau dengan masalah yang ada… ditambah aku harus menjadi Asst. Minho selama satu bulan. Kurang sial apa lagi??

Aku melamun, pandanganku tiba-tiba kosong. Jalanan berbelok, tapi sepedaku malah terus lurus. Aku sadar dengan kesalahanku ini, tapi fikiranku tak bisa kembali tenang. Roda sepeda berputar cepat, tapi aku tak mengeremnya. Sampai pada akhirnya….

BRUKKK!!!

TBC……

Siganture

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

WHY

Tittle           : “Why??”.

Genre                   : Romance, Mystery.

Main Cast   : Shinee, Lee Sun Gi.

Other Cast  : Doojoon Beast, Chansung 2pm, jokwon 2am.

Sebelum ke cerita,  bercuap-cuap seperti biasa. Ini ff aku punya ide pas lagi ngelamun di mobil. Niatnya sih biar nggak ngeliat jalan, coz pak sopirnya ngebut nggak ketulungan *maklum, preman blasteran medan.* jadi daripada takut ngeliat truk-truk pada disiap, yaudah aku merem aja. Eh, malah ketemu ide ff ini. Hhhehhhe*nggak penting, ya?*

Langsung aja deh, cekidot!

●●●

Brukkk!!!

“Panggil ambulance!!! Palli!!!”teriak seseorang.

“Aish, ottoke. . .hujan deras seperti ini tak ada signal. . .”

“Jinja? Hah, kita cari taksi saja untuk membawanya.”

Duarrr!!!!. . . .suara petir yang kencang dan membawaku ke tempat yang sangat gelap. Gelap sekali. . . .

●●●

Onew Pov

“Aish, kenapa rating film ini kurang. . . .”keluhku.

“Sunbae, aneh, padahal mini seriesmu ini sangat bagus. Jalan ceritanya beda dari yang lain. Tapi kenapa sudah 5 episode, tak ada kemajuan.”jelas Asistantku.

“Ottoke? Pasti si tua Bangka itu akan menggantikanku menjadi kru D.”

“Sudah pasti, Mr. So memang selalu menggeser producer yang kurang berhasil. Ah, sudah susah payah kita mendapatkan kru B, eh harus bekerja sama lagi dengan kru magang.”(note : biasanya di tv broadcast ada perbedaan kru gitu. Nah biasanya dikelompokan menurut keahlian, klo masih magang biasanya di kelompok D. . .jadi intinya, perkelompok lah.)

“Aku juga harus bertanggung jawab dengan pihak stasiun tv. Padahal mereka berharap filmku bisa mendahului film sebelumnya.”

“Onew sunbae, lebih baik kita membuat Variety Show saja. . . Minat penontonnya lebih banyak, kan sekarang lagi musim Boyband, Girlband. . . pasti fans mereka nonton.”

“Aku tak mau membuat VS. Terlalu simple, lagipula aku sangat tertarik dengan cerita-cerita Sungi.”aku menunduk.

“Ah, itu sih karena kalian berpacaran. . . Memang sih, Sungi novelis yang hebat. Tapi banyak yang complain, katanya cerita Sungi yang di filmkan bertolak belakang dengan isi novelnya. Ada juga yang bilang terlalu hiperbola.”Doojoon semakin memojokkanku.

“Annyeong. . . .”

“Oh, Sungi~a. . . lama tak bertemu. .”dengan manjanya Doojoon memeluk kekasihku.

“YA!!! Jangan ganjen seperti itu!”marahku.

“Tak apa, Doojoon oppa hanya memelukku. Memangnya kenapa?”ia malah membuatku semakin geram.

“Kau kan pacarku. . . .”kulihat dia hanya tertawa dengan Doojoon, aku sedikit kesal tapi aku malah terpesona melihatnya tertawa.

●●●

Jonghyun Pov

Hari sudah mulai gelap, tapi aku sama sekali tak beranjak dari meja penelitianku. Aku memang masih 24 tahun*umur korea, mian ceritanya umurnya udah segitu…bow*, tapi aku sudah ikut andil di perusahaan penelitian flora. Ini mungkin hobyku dari kecil, dan sekarang aku malah bekerja di pusat penelitian sungguhan.

Kriingg!!!

“Yoboseyo!”jawabku.

“Kau masih menekuni penelitian?”tanya orang yang diseberang sana.

“Hem,”

“Tahukah kau kita punya janji? Coba lihat kalender dan lihat jam berapa sekarang?”aku menurutinya, dan sedikit terkejut melihat sekarang adalah hari terpenting untuk kami berdua.

“Aish, jagiya. . . . Mianhae. . . .”

“Dalam waktu lima menit kau harus sudah ada di café ini.”

Tuut. . . sambungan telepon dimatikan. Sesegera mungkin aku memebereskan projectku dan segera pergi ke tempat yang dimaksud.

Sesampainya disana, aku mendapati seorang perempuan termenung dengan wajah ditekuk.

“Masih kurang lama kau membuatku menunggu. . .”sindirnya.

“Aku kan hanya telat beberapa menit.”

“Ya memang. . . hanya beberapa menit. . .tepatnya 120 menit.”

“Memangya kita janjian jam berapa?”dengan polosnya aku menanyakan hal ini.

“Jam 7 malam, dan kau sadar sekarang jam berapa. . .”

“Ah, mianata. . .aku takkan mengulangnya lagi.”

Itu janjinku. . .tapi tanpa kusadari aku tak pernah menepatinya. Aku selalu terlelap dengan pekerjaanku. Sungi mengerti, tapi ia kelihatan lelah dengan perbuatanku ini. Ini memang kesalahanku, tapi aku tak mau melepasnya. Karena ia wanita yang paling kucintai.

●●●

Key/Kibum POV

“Jagiya, apa minggu-minggu ini kau bisa menemaniku ke taman hiburan?”tanyanya.

“Ah, mian. . . aku sibuk minggu ini. Kapan-kapan saja kita jalan-jalan.”aku masih saja memeriksa berbagai proposal dari sekretarisku.

“Lantas, kapan kencan pertama kita?”ia memelukku dari belakang.

“Nanti aku pikirkan lagi, dan sebagai permintaan maafku, aku akan membelikanmu tas Gucci yang kau bilang mahal itu.”

“Oh,”ia melepas pelukannya dariku. Lalu ia mendesah, seperti tidak senang.

“Waeyo? Kau tidak mau tas? Apa kau mau yang lain? Sebut saja, pasti akan kubelikan, semahal apapun itu.”bukannya terlihat bahagia, ia malah semakin membatu.

“Aku rasa, aku tak butuh tas baru itu. . . .”ia memakai kacamatanya, dan pergi dengan Laptop yang dibawanya untuk menulis.

“Wait!!! Oh aku lupa, mungkin kau butuh laptop baru, kan? Ya benar, kulihat laptopmu sudah lama, kau kan harus banyak menulis, nanti aku belikan laptop baru.”

“Oppa!!! Sekalian saja kau membeli semua novelku. Agar penerbitku untung besar, dan aku bisa tiba-tiba kaya.”katanya sedikit membentak.

“Oh, itu maumu. Baiklah aku akan membelinya. . .”aku malah tersenyum, tak mengerti.

“Arghhh!!”jeritnya dan pergi meninggalkanku.

Aku semakin bingung, dia marah karena apa? Apa salahku? Kenapa ia berteriak? Dan. . . .apa yang harus aku lakukan? Jujur, aku tidak mau kehilangan dia. Sungi~a. . . . nae jongmal saranghaeyo. . . .

●●●

Minho POV

“Oppa, kau haus?”Sungi menawarkan sebotol air mineral.

“Ah, gomawoyo. . .”aku merangkulnya.

“Kau sudah selesai latihan? Setelah ini, kau mau kan mengantarkanku ke kantor penerbit?”

“Hem, baiklah. Tapi tunggu tiga puluh menitan lagi ya. . .”aku kembali ke lapangan. Aku pemain basket timnas. Aku harus berlatih dengan baik, agar membawa nama baik negaraku. Untung Sungi menemaniku, jadi aku sangat bersemangat berlatih.

Latihan sudah selesai, aku kembali duduk di samping pacarku.

“Sungi~a, minum!”perintahku padanya.

“Handuk juga!”

“Tolong kompres kakiku!”aku berulang-ulang menyuruhnya. Ia tampak kelelahan dengan suruhanku.

“Oppa, kau kan sudah janji akan mengantarku ke kantor!!!”

“Minho~gun, kau pasti ikut ke rumahku, kan?”panggil Chansung, anggota basket.

“Ya, tunggu aku sebentar, jangan pergi duluan. . .”aku sedikit tergesa,

“Jagiya, mianhae. . . . aku sudah punya janji dengan Chansung dari dulu sebelum kau memintaku untuk mengantar, jadi aku tidak bisa mengantarmu. . Nanti aku telpon, OK!”aku berlari mengejar Chansung. Kulirik ke belakang, Sungi tampak termenung, aku bukan malah berbalik, tapi malah melanjutkan lariku untuk mengejar teman-temanku.

●●●

Taemin POV

“Apa kau merasakan hal yang sama denganku?”

“Mwo~e.”jawabnya, yang masih dalam rangkulanku.

“Hari yang cerah. . .”

“Ahaah, memang, memang hari ini hari yang cerah. . .”ia mempererat tangannya di pinggangku.

“Ehm, kau jadi objekku saja, ya. .”aku mendudukannya di kursi taman. Lalu aku mempersiapkan kameraku untuk memotretnya.

Jprrrrett!!!….silau saat aku memfoto Sungi.

“Ah, oppa, aku tidak bagus jika di foto. . .”keluhnya.

“Siapa bilang, ini lihat, kau sangat cantik, apalagi di bawah sinar matahari yang paling bagus.”

“Tetap saja,”aku memfotonya dengan asal. Ia sedikit berontak. Tapi aku tidak berhenti memfotonya.

Kringg!!

“Yoboseyo, ah arra, aku segera ke sana.”jawabku.

“Wae gurae?”

“Sungi~a, aku harus datang ke studio. Tapi sepertinya sebentar, kau mau menungguku disini?”tanyaku yang dibalas anggukannya. Sesegera mungkin aku berlari. Aku berharap ini tidak terlalu lama. Aku tahu sifat Sungi, jika ia sudah berjanji, ia takkan melanggarnya. Pasti ia akan selalu menungguku disana.

Hujan tiba-tiba mengguyur kota Seoul, aku semakin kebingungan. Bagaimana keadaan Sungi? Ternyata kerjaanku lama, sudah 3 jam aku menyuruh Sungi untuk menunggu. Dan sekarang malah hujan, ah. . . . mana aku tidak bisa asal keluar dari sini.. .

●●●

Sungi POV

Aku tertawa kering setelah membaca kembali diaryku. . . ah, tidak! Mungkin lebih tepatnya, catatan bersama mantan-mantanku. Setelah dihitung-hitung, aku sudah berpacaran dengan lima orang yang berbeda sifat. Aku merutukki, mengapa dari perjalanan cintaku, tak ada yang berlanjut serius.

ΩΩΩ

Onew POV

“Sunbae, kwaenchanayo?”tanya Doojoon.

“Ne, kwaenchana. . .kita lanjut saja. . .”kami melanjutkan pembuatan film. Saat aku melihat tv kecil untuk melihat hasil shoot, tiba-tiba Nampak seorang perempuan, dan aku sangat mengenalinya.

“Sungi~a. . .”gumanku. Aku berlari menghampirinya, namun ia malah menghindariku dan menjauh dari kerumunan kru. Teriakan Doojoon yang memintaku kembali tak kudengar. Aku harus mengejarnya, ya, aku harus mendapatkannya kembali.

“Sungi~a!!”panggilku. Ia berhenti, dan balik menghadapku.

“Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu. . .”aneh, ia tampak pucat sekali. Dan pakainnya seperti bersinar.

“Ya, aku juga. . . mianhaeyo, dulu aku berkata seperti itu, padahal aku tidak mau putus denganmu. Aku sangat mencintaimu. . .percayalah, aku takkan mengulanginya.”aku memohon, ia hanya tersenyum tipis.

“Oppa, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku juga mencintaimu. Tapi aku lelah jika harus menjadi pelampiasanmu terus. Dulu saat kita putus, aku tak mengatakan keluhanku padamu, karena aku tulus mencintaimu, dan sekarang aku berani mengungkapkannya. . .”

“Terserah, jika kau mau memukulku, pukul saja. Aku telah menyia-nyiakan cinta sejatiku. . . mianhae. . .”jujur, Sungi tampak sangat cantik sekarang, aku tergoda untuk mendekatinya, kami saling berhadapan. Aku ingin merasakan first kiss kami, karena selama ini aku hanya membuatnya lelah. . . Tapi. . . . .

●●●

Jonghyun POV

Aku kembali menekuni penelitianku. Kadang, seharian aku duduk di ruangan ini untuk meneliti. Aku terlalu stress mengingat kejadian saat aku putus dengan Sungi. Aku menyesal selalu membuatnya menunggu. Aku terlalu terobsesi dengan pekerjaan ini, padahal aku sangat mencintai Sungi. Aku ingin dia yang bersanding denganku di pelaminan.

“Oppa,”tiba-tiba aku merasakan dua tangan melingkar di pinggangku. Ah, aku kenal suara ini, apa benar dia? Tapi tidak mungkin.

“Sungi?”tanyaku meyakinkan.

“Hem, kau sudah lupa padaku?”ia menyandarkan kepalanya di punggungku.

“Ah, mianhaeyo. . . .”aku berhenti dengan pekerjaanku.

“Oppa, aku bosan jika harus menunggumu terus. . . Kau tahu itu. . .”nafasnya terasa dipudakku.

“Ya, aku tahu. . . Jongmal mianhae. . . .aku takkan mengulanginya lagi.”

“Oppa, saat kita putus, aku tidak pernah memberti tahumu keluhanku ini. Dan sekarang saat yang tepat.”

Aku berusaha melihat memiringkan kepalaku agar bisa melihatnya. Ia tampak pucat sekali, apa dia sakit?

“Sungi~a, apa aku boleh menciummu?”kudekatkan wajahku padanya, perlahan tapi pasti. Tapi saat kami sudah dekat. . . . Ia. . . .

●●●

Key/Kibum POV

Mobilku berhenti didepan sebuah danau kota. Aku ingin sendiri melihat pemandangan itu di dalam mobilku.

“Oppa, apa keadaanmu baik?”tiba-tiba seorang perempuan berada disampingku. Aku sedikit bingung, ia Sungi. Sejak kapan ia masuk ke mobilku?

“Aku. . . . .tidak baik sejak kehilanganmu.”kataku jujur.

“Oppa, berhentilah menganggap semua hal dapat dibeli dengan uang.”

“Aku sadar, aku selalu mengacuhkanmu. . .tapi aku tulus memberimu benda-benda mahal itu. . .”

“Tapi aku tidak butuh semua itu, aku mencintaimu, jangan kau membuatku seperti memanfaatkanmu. Aku ingin kau mengerti sifatku.”

“Mianhaeyo. . . .”

“Dulu saat kita putus, aku hanya bisa diam. Sekarang aku bisa mengungkapkan semua perasaanku.”

“Aku ingin kita kembali berpacaran. . .”kataku hati-hati. Namun ia hanya tersenyum, kukira itu artinya, ya. Kupegang pipinya yang dingin, kudekatkan wajahnya padaku. Kucoba untuk terpejam. . . . Namun, selang waktu. . . aku tak merasakan apapun. . . .

●●●

Minho POV

Hari ini pertandingan basketku tanpa kehadiran Sungi. Sejak aku putus dengannya, aku tak semangat lagi bermain basket. Tanpanya, aku seperti kerang yang kehilangan mutiaranya. Seperti matahari yang kehilangan cahayanya. Aku yang salah memilih berpisah dengannya, padahal aku tak bisa hidup tampanya.

“Hoorrree!!!!”teriakan penonton membuyarkanku.

“YA!! Minho! Hebat sekali kau, kta menang sekarang. . . .”puji Chansung. Haah? aku merasa aneh, padahal dari tadi aku bermain tidak bersemangat, tapi aku malah bisa memasukkan bola.

“Aku duluan, maaf tak bisa ikut merayakan dengan kalian.”aku langsung melenggang pergi meninggalkan kerumunan di stadion.

Saat ku melewati lorong stadion, kudengar langkah kaki dibelakangku. Aku meliriknya, tapi tak ada siapa-siapa disini. Sepi sekali. . . . aku menyerah dan kembali berjalan. . . .

Ahhhh!!!. . . .kagetku, mendapati Sungi sudah berdiri di depanku.

“Kau kaget, oppa?”tanyanya dengan wajah datar.

“Sungi~a, sejak kapan kau ada di situ? Aish, mengagetkanku saja.”

“Oppa, aku mau bicara sebentar.”

“Ya, aku juga mau bicara padamu. Ah lebih baik aku dulu saja, Sungi aku sangat mencintaimu, aku menyesal dengan keputusanku untuk putus denganmu. Aku harap kita bisa berpacaran lagi.”jelasku panjang lebar.

“Oppa, aku tidak bisa berpacaran denganmu lagi. Kau tak pernah tau isi hatiku sebenarnya. . . aku merasa selama ini kau hanya memanfaatkanku saja. Kau minta tolong aku selalu membantu, tapi kau tak pernah mau dengar jika aku meminta tolong.”ia tersenyum miris.

“Iya, aku tahu itu, jadi aku minta maaf padamu. Dan aku mohon, kau mau memaafkanku. . . .”

“Maaf. . .”ia berbalik pergi, namun aku takkan menyerah. Kutarik lengannya, dan aku dorong ia ke dinding. Tangan kananku menahannya untuk pergi.

“Jagiya, mianhae, aku tidak bisa hidup tanpamu. . .”kudekatkan wajahku padanya, kukira ia akan menghindar, tapi ternyata tidak. Aku anggap ia mau memaafkanku. . . . Namun. . . .tangannya semakin dingin. . .

●●●

Taemin POV

Hari ini, aku memfoto apa saja yang aku anggap bagus jadi objek. Disinilah tempat aku dan Sungi putus. Taman yang sangat indah. . . Aku bertanya-tanya, jika aku mencintanya lantas mengapa aku putus dengannya? Ah, tapi aku sadar, ia tak mendapat perhatian lebih dari orang sepertiku. Aku harus menerimanya, jika ini menguntungkannya. Biarlah ia mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku.

Jprettt!!!!

“Oppa. . . .”aku kenal suara ini, dia Sungi.

“Sedang apa kau disini. . .”

“Aku ingin bilang, aku sangat mencintaimu. . . .”

“Aku juga, tapi hubungan kita sudah berakhir.”

“Oppa, kau tahu aku selalu kehujanan jika menunggumu disini?”tanyanya lagi.

“Aku tahu, maka dari itu, kau tak pantas jadi milikku. . .”

“Oppa. . .”ia memelukku. Aku membalasnya, dan aku mengajaknya untuk duduk di bangku taman.

“Oppa, aku ingin kita berfoto bersama. . . Kali ini saja. . .”aku mengangguk menurutinya, kusiapkan kamera dengan self time. Kami berdua berdekatan. . .aku melihatnya tersenyum. Tapi aku malah menerawang masa lalu, akhirnya saat waktu kamera tinggal 3 detik, kucium bibirnya. . .ia tampak terkejut. Namun hanya tersenyum, dan kurasakan dinginnya bibir Sungi. Apa dia sedang sakit?

“YA! Taemin-a! Kau sedang apa?”tanya Jokwon, temanku.

“Aku sedang berfoto. . .”jawabku jujur.

“Sendiri? Kok bibirmu dimonyong-monyongkan ke samping?”ia mempraktekkannya.

“Aku mencium. . .”kulihat ke samping. Mana Sungi, dimana dia? Atau jangan-jangan?

Dengan sigap aku melihat hasil foto tadi. Ah, aku hanya berfoto sendiri? Kenapa aku ini? Kenapa aku melamun. . .

“Kenapa kau? Habis ngelindur ya? Mimpi nyium siapa emang?”

“Sungi, mantan pacarku. . . tapi sepertinya itu nyata bukan mimpi. . .”

“Mwo~e? Jangan bercanda kau . . .”ia tampak terkejut.

“Maksudmu, aku hanya bermimpi mencium novelis hebat?”aku sedikit terhina. Jokwon tidak tau kalau aku mantan Sungi.

“Bukan itu. . . aduh, Sungi itu. . .”ia tampak gugup melanjutkannya.

……………………………………………..Why???……………………………………………………….

Sungi POV

Aku tertawa kering setelah membaca kembali diaryku. . . ah, tidak! Mungkin lebih tepatnya, catatan bersama mantan-mantanku. Setelah dihitung-hitung, aku sudah berpacaran dengan lima orang yang berbeda sifat. Aku merutukki, mengapa dari perjalanan cintaku, tak ada yang berlanjut serius.

“Sial, aku malah tidak bisa melupakan mereka.”gumanku. Aku berbaring di kasur, kembali teringat masa lalu saat aku putus dengan mereka. Onew, pacar pertamaku, aku merasa sakit hati dengan perkataannya, ia bilang tulisanku kurang bermutu. Ia seperti itu karena melampiaskan kekesalannya pada Mr. So dan rating filmya yang masih kurang. Ia juga bilang, novelku tidak pantas jadi best seller, aih, ia mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu pada kekasihnya. . . Tapi bodohnya aku, aku malah tak bisa melupakannya, beitupun mantan-mantanku yang lain. Padahal saat kami putus, aku tak mengeluarkan keluhanku pada mereka. Dan aku telan masalahku sendiri. Dan sekarang, aku harus mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Bahwa aku sangat jenuh jika terus begitu.

“Hah, lebih baik aku menemui mereka. Aku tak bisa memendam perasaan ini lagi.”aku berniat pergi dengan mobilku.

“Siapa dulu, ya yang aku temui?”aku berfikir keras. Saat itu juga aku berniat untuk menghubungi salah satu dari mereka. Dengan satu tangan aku menyetir.

Dbuk. . .!!

“Aish, sial. . .kenapa handphoneku jatuh?? Bodohnya aku, tak membawa Car Kit.”dengan konsentrasi yang pecah, aku mengambil handphone yang jatuh. Tanpa kusadari jalanan sudah tidak lurus lagi, ada tikungan di depan. Tapi konsentrasiku masih tertuju pada Hpku.

Tidiittt. . . .suara klakson mobil dibelakang membuyarkanku.

“Omo, ARGHHHH!!!”aku lepas kendali. Mobilku menabrak tiang pembatas jalan dengan kencang. Licinnya jalan karena hujan juga memperlancar mobilku menabrak.

Brukkk!!!

“Panggil ambulance!!! Palli!!!”teriak seseorang.

“Aish, ottoke. . .hujan deras seperti ini tak ada signal. . .”

“Jinja? Hah, kita cari taksi saja untuk membawanya.”

Duarrr!!!!. . . .suara petir yang kencang dan membawaku ke tempat yang sangat gelap. Gelap sekali. . . .

●●●

Lima pria berdiri menghadap sebuah batu pusara. Bertuliskan….

Rest in Piece. . Lee Sungi. . .

Mereka menangis dalam diam, tak ada yang angkat bicara. Sedikit terkejut juga, karena di hari meninggalnya, mereka didatangi roh Sungi yang ingin mengucapkan kata-kata terakhir.

“Aku tak kuat melihatnya, menjadi batu besar seperti ini. . .”jelas Kibum.

Mereka berniat meninggalkan makam. Taemin ingin berada di sana lebih lama, tapi ia harus ke Afrika untuk pemotretan Mv F(x).

“Taemin oppa!!!”terdengar suara lembut yang menyatu dengan angin.

“Sun. . .Gi. . .”mulutnya menganga saking tak percayanya. Ia sekarang berada di depannya. . . terlihat empat mantannya yang lain sudah pergi.

“Saranghae, yongwonhi. . .”ia mendekat dan memeluk Taemin. Ia merasakan ini sangat nyata. . .

“Kau yang aku pilih. . .”lanjutnya.

“Hem, dan kau yang aku mau sepanjang hidupku. . .”Taemin membalas pelukannya. . .

……………………………………………The End………………………………………………

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

PLEASE CARE ABOUT ME

TITLE : PLEASE CARE ABOUT ME

MAIN CAST    : JONGHYUN SHINEE, HYUN RI

AUTHOR              : FADIYAH ULFA (OELFA)

PLEASE CARE ABOUT ME

Ini dia hari yang kutunggu berharap semua tak berantakan. Namaku Hyun Ri. Seorang siswa di salah satu universitas terbaik di Seoul.

Hari ini, aku berharap dia menepati janjinya. Ya, selama aku menjalin hubungan dengannya dia tak pernah menepati janjinya untuk bertemu dan sangat cuek tentangku. Sekarang aku sedang menunggunya di café RAINBOW, café yang sangat bersejarah bagi hubunganku dengan dia. Dia adalah Kim Jonghyun. My last first love, I hope.

“Lama sekali dia… Awas saja sampai terlambat…” kesalku karena Jonghyun tak kunjung dating.

1 jam… 2 jam… 3 jam… ku menunggu, dia pun dating dengan tampang tak berdosanya dan juga warna kuning yang merusak pemandangan di rambutnya…

“Hey… sorry ya telat…” katanya santai.

“Apa kamu bilang sorry… Hey, aku menunggu kamu 3 jam disini dan kamu bilang sorry…”kataku yang sudah sangat kesal padanya.

“Sorry… tadi ada kerjaan sebentar… Sorry” kata dia sambil memohon.

“Jadi kamu lebih mementingkan kerjaan kamu ketimbang aku yang menunggu disini selama 3 jam” jelasku panjang lebar.

“Tidak ada kata saying lagi… KITA PUTUS KIM JONGHYUN…” kataku membuat dia kaget.

Akupun pergi meninggalkannya.

“HYUN RI!!!” teriaknya namun aku tak peduli.

“Maafkan aku Hyun Ri… Sebenarnya aku telah menyiapkan sesuatu yang special buat kamu” kata Jonghyun sedih dengan suara yang pelan.

Esoknya, aku bangun dengan perasaan yang sangat kesal. Aku masih mengingat bagaimana ku putuskan Jonghyun.

“Dia benar-benar menjengkelkan. Lebih baik aku pergi berjalan-jalan. Semoga saja si rambut kuning itu*Jonghyun= maksud loe??? Hyun Ri= mang kenapa, marah??? Author= woy…. Berhenti dong… JH= diam loe… Author= hiks…3x* menghilang dari kepalaku selamanya” kataku.

Aku lalu mandi dan memakai baju. Setelah itu sarapan roti lezat ibuku lalu pamit menuju mal. Beberapa saat kemudian, aku tiba lalu cepat masuk karena matahari yang begitu terik. Aku menuju took buku, took music hingga aku melihat sesuatu yang menyakitkan hati.

“Jonghyun dengan cewek lain” kataku… Aku lalu menuju ke mereka dan melabrak Jonghyun dan cewek tersebut.

“Oh… begini Kim Jonghyun sehari-hari…” kataku dengan tatapan sinis.

“Hyun Ri… ngapain kamu disini???” Tanya Jonghyun kaget.

“Kamu itu benar-benar membuatku gila baru putus kemarin sekarang udah dapat yang baru… kamu benar-benar membuatku kesal.” Kataku sambil memukulnya.

“Ouch… sakit tau. Dia itu bukan pacarku… dia itu ____” kata Jonghyun yang langsung ku potong.

“Gue ngak percaya lagi am aloe. Jangan bilang kemarin gue tunggu loe gara-gara cewek ini” kataku masih sambil memukulnya.

“Apaan sich kamu… Apa urusanmu… kitakan udah putus… aku bebas dong…” kata Jonghyun kesal karena di pukul olehku.

“Kamu memang ngak pernah memperdulikan aku…” kataku lalu berlari sambil mengeluarkan air mata. Hatiku sakit ketika ia berkata begitu.

“Hyun Ri… “ teriak Jonghyun menyesal berkata begitu.

Aku berlari menuju taman kota. Aku duduk di sebuah bangku yang dingin. Aku terus menangis mengingat perkataan Jonghyun tadi.

“Kenapa dia tidak peduli… ku kira dengan memutuskan dia, dia akan sadar… Ternyata malah cari pacar yang baru dan melupakan aku dan ulang tahunku ke 17. Ku kira ini akan menjadi the sweet 17 ku tapi menjadi buruk seperti ini.”kataku kesal dan terus menangis.

Sudah jam 10 malam, namun sepertinya aku masih ingin meluapkan semua. Seseorang dating dan langsung memeluk ku… Aku berbalik dan melihat seseorang yang sangat ku cintai meski telah memutuskannya.

“Jognhyun…”kataku tak percaya.

“Selamat Ulang Tahun… Happy sweet 17…” kata dia yang membuatku senang.

“Maaf… tak pernah memperhatikanmu… Aku sedang mencari ini untukmu… Ternyata susah banget mencarinya” kata dia membuatku kaget dengan buku yang sangat sulit ku cari namun dia memberikannya untukku.

“Buku ini…” kataku tak percaya.

“Orang yang tadi kamu lihat adalah penulisnya loe… Seandainya tadi kamu ngak marah-marah, kamu bias dapat TTDnya… untunya dia tidak marah dan masih mau memberikan bukunya…” kata Jonghyun yang sudah duduk disampingku.

“Apa???!!!” Maafkan aku… Aku terlalu egois untuk diperhatikan” kataku.

“Yang penting Hyun Ri tercintaku masih mencintaiku dan menjadi pacarku selamanya…”kata Jonghyun.

“Ah…. Ingat yach…. Gue udah  putusin loe kemarin…. Kim Jonghyun pikun…”kataku mengingatkannya.

“Oh iya kalau begitu… Will you be my girlfriend again, Hyun Ri??” katanya sambil memegang tanganku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“I LOVE U, Hyun Ri saying…” kata Jonghyun.

“ I LOVE U too…” balasku yang lalu memeluknya.

THE END

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF