LOVE’S WAY – I THINK I [1.2]

I THINK I [1.2]

Main Cast: Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin, SHINee

Support Cast: Super Junior

Habislah tabunganku. Kutatap dompetku yang sudah hampir kosong dan hanya tersisa 100 won saja. Hufft, aku baru saja membeli kamera yang sudah aku inginkan sejak 2 bulan lalu tapi kenapa aku jadi menyesal ya? Aku berjalan keluar dari toko elektronik itu dengan membeli sebuah kamera yang baru. Sepertinya aku harus mencari kerja part time secepatnya.

Aku berjalan di pertokoan yang sangat ramai, hari ini aku pergi sendirian karena saat aku mengajak Hyo Jin dia bilang mau pergi tapi tidak bilang kemana, tumben sekali dia tidak bilang mau kemana, membuatku penasaran saja. Aishh!panas sekali hari ini. Aku melihat pedagang es krim dan sepertinya enak makan es krim panas-panas seperti ini tapi kemudian aku berpikir lagi. Uangku hanya cukup untuk pulang saja. Aigoo, padahal enak sekali makan es krim. Sudahlah lebih baik aku segera pulang sebelum aku melihat makanan yang lain yang membuatku ingin membelinya.

Aku berbalik dan mendapati seseorang menyodorkan es krim padaku.

”Ini…”serunya sambil tersenyum.

Aku sangat kaget melihatnya kenapa dia bisa ada disini. Apa yang Taemin lakukan disini sendirian?

”Gumawo…”seruku sambil mengambil es krim itu dari tangannya. Dia tersenyum kembali.

”Sendiri?”tanyanya.

”Ne…tadi aku ingin mengajak Hyo Jin tapi dia tidak mau…jadilah aku sendiri…kenapa kau disini sendirian?”tanyaku padanya.

”Tadi aku habis mengantar Jin Ki hyung…katanya dia mau bertemu seseorang terus aku jalan-jalan saja dan melihatmu memperhatikan pedagang es krim itu…”jawabnya.

Sebegitu jelaskah wajahku sampai-sampai orang mudah sekali untuk menebakku. Aku berjalan bersama dia di taman dan kami sama sekali tidak berbicara apapun. Sejak kejadiaan di festival itu aku agak sedikit sulit untuk berbicara dengannya, entahlah aku agak sedikit gugup jika di dekatnya. Kami berjalan sampai di sebuah bangku lalu duduk disitu. Aduhh kenapa jadi seperti ini ya?aku bingung mau ngomong apa padanya. Sebaiknya aku bertanya apa saja padanya.

”Taemin-ah..”seruku padanya.

Dia agak sedikit terkejut mendengar namanya disebut namun setelah itu dia tersenyum.

”Mwo?”tanyanya.

”Jin Ki Oppa memangnya kemana?”tanyaku.

Aku sedikit curiga dengan Hyo Jin habis tadi pagi dia buru-buru sekali dan setiap kali aku tanya mau kemana dia pasti mengalihkan pembicaraan dan hanya bilang mau pergi. Jangan-jangan mereka pergi kencan lagi.

”Aku gak tahu…tadi hyung Cuma minta di antar tapi gak bilang mau kemana…aku disuruh mengantarnya sampai disitu…”Taemin menunjuk ke arah sebuah toko.

Berarti bukan, mungkin aku hanya terlalu curiga saja.

Kami pun terdiam lagi, tanya apa ya?aduh susananya jadi tidak enak seperti ini. Aku hanya menundukan kepalaku begitu es krim ku habis dan hanya melihat sepatuku. Aku harus bagaimana.

”Jalan-jalan yuk?”ajaknya.

Aku mendongak dan mendapati matanya langsung menatap mataku. Aigoo mata cokelatnya benar-benar menyihirku, kemudian dia mengalihkan pandangannya dan berdiri.

”Ayo..”ajaknya lagi.

Aku yang masih setengah tersadar dari tatapan matanya itu langsung berdiri dan berjalan bersamanya. Sudahlah semakin kaku saja suasananya. Harus bicara apa? Kami berjalan dalam diam. Benar-benar tidak enak tapi aku juga tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Saat kami melewati sebuah toko, aku melihat orang seperti Hyo Jin, apa aku salah lihat ya?aku berhenti dan memperhatikan lagi. Taemin yang sadar aku berhenti ikut juga berhenti dan memperhatikan.

”Ada apa?”tanyanya begitu dia berdiri disampingku.

”Aku seperti melihat Hyo Jin…”jawabku.

Aku masih terus saja melihat ke dalam, aku yakin itu Hyo Jin tapi ngapain Hyo Jin kesini sendirian lagi.

”Ya..itu kan hyung…”seru Taemin.

Aku segera melihat arah yang ditunjuk Taemin dan ya itu mereka Hyo Jin dan Jin Ki Oppa, benar dugaanku, mereka pergi kencan. Dasar Hyo Jin dia tidak mau cerita tapi aku tahu. Aku akan meledeknya habis-habisan begitu dia sampai di rumah.

”Ayo kesana…hyung!!”seru Taemin sambil melambai ke arah mereka dari luar toko.

Aku menarik tangannya untuk bersembunyi. Kami bersembunyi di belakang mobil sambil sesekali mengintip ke arah mereka. Gawat kalau mereka melihat kami. Semoga tadi mereka tidak melihatnya.

”Kenapa kita tidak kesana?”tanya Taemin sambil hendak berjalan ke arah Hyo Jin dan Jin Ki Oppa yang sudah keluar dari toko tersebut.

”Jangan..”kataku sambil menahan tangan Taemin. Jangan sampai mereka tahu.

Kemudian kutarik tangan Taemin begitu kulihat Hyo Jin dan Jin Ki Oppa berjalan. Taemin yang bingung hanya mengikutiku. Kami terus mengikuti kemana Hyo Jin dan Jin Ki Oppa pergi sambil terus bersembunyi. Pokonya aku harus tahu mereka ngapain. Aku berinisiatif untuk mengikutinya. Hyo Jin hari ini giliranku meledekmu. Aku tersenyum sendiri di dalam hati.

Hyo Jin dan Jin Ki Oppa masuk ke bioskop, segera kutarik tangan Taemin untuk pergi kesana juga. Taemin yang daritadi sudah bingung melihatku sekarang jadi tambah bingung.

”Kita nonton saja…”ajakku padanya. Dia terlihat bingung tapi tetap membeli tiketnya.

”Yang itu saja…di studio 2…”seruku padanya sambil menunjuk poster film yang paling besar. Aku memilih film yang tadi dipilih oleh mereka. Aku tidak tahu film apa itu sepertinya seru juga.

Saat aku dan Taemin berjalan menuju studio 2, Hyo Jin dan Jin Ki Oppa berbalik ke belakang. Segera kutarik tangan Taemin untuk bersembunyi. Hufft semoga mereka tidak melihat.

Hyo Jin POV

Sepertinya tadi aku melihat Hye Jin? Apa aku salah lihat ya?. Mungkin aku salah lihat tadi dia bilang dia mau pergi sih tapi masa dia kesini, sendirian lagi lagipula kudengar dia mau pergi membeli kamera baru tidak mungkin pergi ke bioskop.

”Hyo Jin-ah..kenapa?”tanya Jin Ki.

”Andwe…”jawabku buru-buru.

Hari ini aku pergi kencan dengan Jin Ki ini pertama kalinya kami pergi kencan habisnya dia tidak pernah berani mengajakku, kan tidak mungkin aku yang mengajaknya. Padahal sebenarnya aku sedikit berharap padanya, aku sudah satu sekolah dengannya sejak SD dan kami sangat dekat, dia baik dan selalu membantuku oleh sebab itu aku sangat menyukainya tapi aku heran dia itu tidak pernah peka. Jangankan untuk bilang ’aku menyukaimu’, mengajakku pergi saja tidak berani. Kemarin saat dia mengajakku juga sangat lucu. Dia menungguku latihan sampai selesai dan mengantarku pulang, di sepanjang perjalanan dia hanya diam saja, aku merasa aneh saat itu tidak biasanya dia diam terus dan wajahnya sangat tegang, dia hanya memanggil namaku beberapa kali tapi saat ditanya apa dia malah terdiam. Akhirnya saat sampai di depan rumahku dia memanggilku lagi lalu kutanya ada apa dia masih saja diam ,aku sudah sangat kesal saat itu dan berbalik menuju rumah. Dia langsung menahan tanganku dan akhirnya bilang bahwa dia ingin mengajakku kencan besok dan saat itu wajahnya sangat tegang dan gugup. Karena aku kesal ternyata yang ingin dia bilang dari tadi adalah hal itu. Aku pura-pura berpikir dan bilang bahwa aku akan sms dia kalau aku mau pergi kencan dengannya. Saat itu aku agak sedikit kasihan padanya habis wajahnya benar-benar sangat kecewa tapi biarlah, habisnya hanya bilang itu saja susah sekali padahal dia tidak perlu setakut itu aku tidak mau pergi dengannya, aku pasti mau. Aku baru bilang padanya bahwa aku mau pergi kencan dengannya tadi pagi ditelepon dan dia sangat terkejut. Aku bilang padanya tidak boleh ada yang tahu dan tidak usah membawa mobilnya dan kami akan bertemu di taman kota. Aku berusaha menyembunyikan ini dari Hye Jin tapi sepertinya dia sangat pintar tapi untung aku masih bisa berakting gara-gara waktu itu aku sering main dengan Heechul dan Eunhyuk, mereka mengajariku sedikit tentang bagaimana berakting yang baik, tidak percuma juga aku punya teman yang aneh seperti mereka. Akhirnya Hye Jin percaya dan semoga Jin Ki tidak bilang pada Taemin.

”Ini…”seru Jin Ki sambil memberikan dua gelas minuman dan dia memegang popcorn nya.

Aku mengambilnya dan berjalan masuk ke dalam studio dan mengambil tempat duduk.

Hye Jin POV

Aku langsung menarik tangan Taemin begitu kulihat mereka sudah masuk, kami pun masuk dan duduk di tempat kami, kami mengambil tempat duduk di atas. Aku penasaran film apa ini.

Baru 5 menit filmnya mulai, aku sudah mengantuk. Film apa ini tidak ada seru-serunya sama sekali. Apa ini film yang Hyo Jin suka? Ya ampun selera filmnya sungguh buruk. Aku benar-benar mengantuk maka aku pun menyandarkan kepalaku di kursi, mungkin aku tidur saja sampai filmnya habis, kulihat Taemin juga sepertinya tidak terlalu suka film ini tapi dia masih menonton tidak sepertiku yang mulai mengantuk. Mataku semakin berat dan akhirnya aku benar-benar tertidur.

Tiba-tiba tangan Taemin menyentuh kepalaku dan menyadarkan kepalaku di bahunya. Omo! Jantungku langsung berdegup kencang. Ya ampun, apa yang harus aku lakukan, bangun? Tapi itu malah akan membuatku malu. Aduh bagaimana ini?aku masih pura-pura memjamkan mataku padahal sebenarnya aku tidak tidur, aku takut dia tahu aku tidak tidur dan itu akan membuatku malu dan bisa dipastikan bahwa kami tidak akan bisa berbicara dengan santai lagi setelah ini karena aku pasti akan diam saja. Aku berusaha untuk tidur lagi. Tidurlah!ayo tidur!lebih baik jika aku tidur!

”Hye Jin-ah..”panggil Taemin sambil mengusap pipiku dan bisa kurasakan pipiku memanas setelah di sentuh olehnya.

Aku berusaha membuka mataku perlahan, rasanya silau sekali. Sudah berapa lama aku tidur?sepertinya filmnya sudah selesai. Saat aku sudah membuka mataku, aku kaget karena wajah Taemin hanya beberapa senti dari wajahku dan saat itu aku hanya bisa terdiam. Aigoo, kenapa aku ini! Dia memperhatikanku dengan bingung.

”Gwenchanna?”tanyanya begitu wajahnya menjauh dariku.

”Andwe…”jawabku langsung.

Aku melihat banyak orang yang sudah keluar berarti filmnya sudah selesai, aku langsung mencari mereka, Hyo Jin dan Jin Ki Oppa dan mendapati mereka sudah turun tapi kemudian menengok ke arah mereka. Gawat!! Aku segera menundukkan kepala Taemin dan bersembunyi di balik kursi. Begitu aku yakin mereka sudah keluar aku melongok ke atas. Fuihh!syukurlah semoga mereka tidak lihat.

”Oh…jadi kau ingin mengikuti mereka kencan..”seru Taemin begitu kami turun dan menuju pintu keluar.

Aigoo!dia tampan, baik dan pintar tapi kenapa dia baru sadar kalau daritadi aku mengikuti mereka. Benar-benar aneh. Ya sudahlah, aku segera menarik tangan Taemin kembali untuk mengejar mereka.

Hyo Jin POV

”Jin Ki…kau merasa tidak dari tadi kita seperti diikuti?”tanyaku padanya begitu kami keluar dari bioskop.

”Oh ya…aku tidak merasa seperti itu…”jawabnya.

Jelas saja, kapan sih dia itu peka. Orang aneh!

”Kau tidak bilang pada siapa-siapa kan?”tanyaku lagi, siapa tahu dia bilang kepada Taemin kalau akan pergi kencan dan dia mengikuti kami.

”Anni….”Jawab Jin Ki.

Mungkin aku saja yang terlalu khawatir karena tadi aku seperti melihat Taemin dan Hye Jin di bisokop. Mungkin aku salah orang. Kami berhenti untuk membeli minum.

”Hyo Jin-ah…kita mau kemana lagi?”tanya Jin Ki sambil memberikan minuman coklat yang tadi aku minta. Aku berpikir apa ya yang asik dilakukan berdua, aku mengedarkan pandangan kesekeliling dan melihat sepeda. Sepertinya asyik bermain sepeda disekitar taman ini, taman ini cukup luas pasti asyik.

Langsung kutarik tangan Jin Ki menuju tempat penyewaan sepeda itu.

”Kita naik sepeda saja…”seruku padanya begitu kami sampai di tempat itu.

Kulihat wajah Jin Ki langsung berubah, apa dia msaih belum bisa naik sepeda juga. Aigoo, padahal aku sudah bilang padanya untuk belajar sepeda waktu SMP. Aku langsung mengambil salah satu sepeda dan membawanya ke jalan di taman.

”Kau masih belum bisa naik sepeda?”tanyaku padanya.

”Ne..aku sudah belajar dengan Taemin tapi masih belum bisa juga…”jawabnya dengan wajah sedih, kasihan sekali.

”Baiklah…aku yang akan mengajarimu naik sepeda..”kataku pada Jin Ki

Dan bisa kulihat dia sangat terkejut mendengarnya dan buru-buru menggeleng.

”Andwe…”serunya.

”Sudah naik…aku akan mengajarimu..”seruku lagi.

Dia tetap saja diam tidak mau naik sepeda, susah sekali sih orang ini. Aku sudah berbaik hati mau mengajarinya tapi dia malah seperti itu.

”Kalau kau tidak mau aku ajari…aku pulang…”seruku sambil berbalik pulang.

”Jangan..jangan…”serunya sambil menahan tanganku.

”Aku mau…”katanya lagi.

Aku pun tersenyum mendengarnya dan dia pun segera naik ke atas sepeda itu.

Hye Jin POV

Aku mengikuti mereka sampai ke taman dan sekarang kulihat mereka mau naik sepeda. Aneh sekali pasangan ini, main sepeda. Kulihat Jin Ki Oppa tidak mau. Kenapa tidak mau?apa dia tidak bisa naik sepeda.

”Hyung tidak bisa naik sepeda…”kata Taemin yang duduk disampingku, kami melihat mereka dari bangku di dekat pohon.

”Benarkah?”tanyaku. Masa Jin Ki Oppa tidak bisa naik sepeda, lucu sekali. Yah walaupun aku juga tidak bisa tapi akan tetap saja aneh masa tidak bisa naik sepeda.

”Ne..”jawab Taemin sambil tersenyum.

”Dia sedang belajar sekarang…”lanjutnya.

Aiogoo, Hyo Jin malah mengajarinya naik sepeda, lucu sekali. Kulihat beberapa kali Jin Ki Oppa terjatuh namun Hye Jin terus saja menyuruhnya lagi dan lagi. Pasangan yang aneh.

”Kita ikuti mereka naik sepeda…”kata Taemin

Aku Cuma bisa nyengir mendengarnya. Aduh aku kan tidak bisa naik sepeda juga.

”Jangan bilang kau juga tidak bisa naik sepeda?”tanyanya.

Aku pun mengangguk dan dia langsung tertawa begitu tahu aku tidak bisa naik sepeda, jahat sekali. Aku langsung memanyunkan mulutku mendengarnya tertawa.

”Mian…jangan marah…”serunya sambil mengacak-ngacak rambutku dan menarikku menuju tempat penyewaan sepeda lalu meminjam sepeda yang ada boncengannya di belakang.

”Ayo naik..”serunya.

Aku pun naik di belakang pelan-pelan. Aku takut jatuh. Sebenarnya aku dulu bisa naik sepeda tapi pada suatu hari aku terjatuh dan membuat kakiku robek dan harus di operasi, sejak saat itu aku tidak mau lagi naik sepeda dan juga takut dengan darah. Sampai sekarang aku tidak pernah menyentuh sepeda, mungkin gara-gara itu aku jadi  lupa bagaimana caranya naik sepeda.

”Pegangan…”katanya lagi.

Aku berpegangan erat ke pinggangnya dan kami mengikuti mereka di belakang.

Hyo Jin POV

”Wow…Jin Ki kau bisa…benar kan?aku guru yang hebat…”seruku senang melihatnya sudah bisa, begitu dia turun dari sepedanya aku langsung menghampirinya dan memeluknya.

”Gumawo Hyo Jin-ah..”katanya begitu kulepaskan pelukanku

”Kita makan yuk…”ajakku padanya lalu kugandeng tangannya.

Kami pun pergi menuju salah satu kedai yang ada di pinggir jalan.

Hye Jin POV

”Mau coba?”tanyanya padaku begitu kami kembali lagi ke tempat semula.

”Andwe”jawabku langsung.

Aku tidak mau dan tidak akan pernah mencobanya lagi

Dia tertawa mendengar jawabanku.

”Kemana mereka?”tanyanya sambil melihat kesekeliling mencari Hyo Jin dan Jin Ki Oppa.

Aku jadi ikutan mencari mereka. Wah aku kehilangan mereka nih.

”Mungkin pergi makan…”seru Taemin.

Kami pun pergi dari taman mencari kemana mereka pergi tidak menyangka di jalan kami berpapasan dengan Key dan Yu Ri. Ah malasnya kenapa sih harus bertemu mereka di tempat seperti ini, sebenarnya lebih kepada Yu Ri kalau Key sih tidak terlalu masalah. Key yang melihat ke arahku tersenyum tipis dan langsung menatap Taemin dengan pandangan yang aneh.

”Kalian sedang apa disini?”tanya Yu Ri pada kami dengan tampangnya yang seperti itu, sangat sinis.

Aku malas menjawabnya.

”Kencan…”jawab Taemin dan itu membuatku sangat terkejut. Apa yang dia bilang barusan, pergi kencan! Aku menatap ke arahnya dengan pandangan bingung dan bertanya tapi dia malah menggenggam tanganku.

Bisa kulihat Key sangat terkejut mendengar jawaban Taemin dan menatapku sekilas lalu beralih pada Taemin dan terus menatapnya, kenapa sih mereka ini?

”Ayo..”ajak Taemin padaku dan kemudian menarikku pergi.

Kenapa sih sikap dia selalu seperti itu kalau bertemu Key? Memangnya ada apa dengan dia dan Key. Aku melihat Key menatap tajam kearah Taemin.

TBC

P.S: maap onn.. sig belon di kirim ama Zika onn.. ekekeke~

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

GRANDPA, GRANDPA – PART 3

Main cast : Key SHINee

Supported cast : SHINee, imaginary character

CHAPTER 3

“Alexis! yeonghoneul bachilkkeyo
Alexis! jebal nal bada jwoyo
Alexis! dalkomhi jom deo dalkomhage
Soksagyeo naui serenade”

Key sebel ngedenger seisi apartemen terus-terusan nyanyiin lagu Juliette mereka yang ‘Juliette’nya diganti sama nama Alexis. Sebenernya Key suka banget sama lagu yang punya judul asli Deal With It, dinyanyiin sama Corbin Bleu dan dinyanyiin ulang dengan keren oleh mereka ini. Tapi kentara banget mereka lagi ngeledekin Key yang lagi ‘teridentifikasi punya rasa’ (bahasa apa ini??) sama Lex. Aish, mereka kok seenaknya aja menarik kesimpulan?

“Alexis! yeonghoneul bachilkkeyo
Alexis! jebal nal bada jwoyo
Alexis! dalkomhi jom deo dalkomhage
Soksagyeo naui serenade”

“Berisik!” tukas Key, yang lebih ditujukan ke Jong Hyun yang dengan suara emasnya bikin improvisasi di sana-sini dan nggak lupa menekankan nama Alexis sebagai pengganti Juliette. Hihihi. Jong Hyun pura-pura nggak dengar dan melanjutkan nyanyiannya di dapur.

“Tae Min tolong ya!” kini giliran Tae Min yang kena sasaran.

“Sori, hyung. Abisnya kalo nggak ikutan nggak asyik sih…” ucap Tae Min polos. Kemudian melanjutkan nyanyiannya. Key cuma bisa manyun.

Alexis Song memang sedang stick di kepalanya. Key mencoba mengalihkan pikirannya dengan dengerin musik. Tapi dasar tuh penyiar radio lagi cerdas, dia muterin easy listening love songs pas apartemen mereka lagi diguyur hujan. Dan pas tuh penyiar muterin Crazy Love-nya Michael Buble, Key matiin radionya. Anak-anak SHINee yang lain memperparah ledekan mereka.

“E-eh, nonton reality show yang kemarin nggak? Yang temanya Family Sweet Family itu,” Onew membuka percakapan. Yang lain nampak tertarik.

“Nggak nonton, hyung. Emang bagus ya?” tanya Min Ho.

“Bagus banget. Ngingetin sama my mom and dad di rumah…,” ujar Onew menirukan logat Alexis yang diceritain Key tempo hari.  Mereka ketawa ngakak.

“Aku juga kangen sama my brotha’ and sista’. What do you guys think they’re doin’ right now? Do you think they miss me, too?” sambung Jong Hyun.

Chill, buddy…, I’m pretty sure they miss us badly,” mereka ngakak lagi. Key cuman bisa manyun tanpa bisa membalas ledekan mereka. Terselip rasa tersinggungnya. Ngapain sih mereka ngeledekin logat Alexis? Bukan salahnya Lex kalo dia nggak lancar bahasa koreanya. Hihihi.

Akhirnya Tae Min ngasih isyarat buat ketiga hyung-nya supaya nggak becanda lagi, soalnya kalo Key ngambek, sarapan mereka bisa terancam. Cuman Key yang bangunnya paling pagi dan paling rajin bikin sarapan.

“Key, aku ada ide!” ujar Onew.

“Apa?” Key bertanya tanpa minat.

“Kamu telpon si Alexis, bilang kalo dia mau jenguk kakeknya lagi,kamu mau nganterin,”

Sebenernya ide Onew tuh bagus. Tapi Key lagi nggak punya nyali buat ngajakin Alexis. Abisnya tuh cewek cuek banget sih. Key takut dikacangin nanti. Eh lagian kan dia nggak punya nomornya Alexis.

“Nih nomornya,” ujar Min Ho seakan bisa membaca pikiran Key. Ia meraih handphonenya dan mencari nomor Lex. Key tambah manyun. Ouw…jadi obrolan yang bikin dia jealous setengah mati kemarin itu ada acara tuker nomor handphonenya? Huh!

“Ayo buruan!” ucapan Min Ho (karena udah pegel nyerahin hapenya tapi nggak disambut-sambut sama Key) membuyarkan lamunannya. Mau nggak mau Key mendial nomor Alexis.

Speaking,” terdengar suara khas Lex dari sana. Key diam sebentar. Menarik nafas.

“Hi, Lex!”

Who’s speaking?”

“Ini…uhm…ini Key,”

Jeda.

“Oh, how is it going, Key?”.

Tumben basa-basi. Mau nggak mau Key tersenyum senang. Kapan lagi denger Lex basa-basi gini. Hihihi.

We’re all fine. Kamu mau jengukin kakek kamu lagi? Mau aku anterin nggak?” Key nggak percaya dia udah ngajakin Alexis. Ya udahlah, udah terucap.

“Boleh aja,”

Thanks GOD!

“Jam sepuluh di halte ya!” ujar Key bersemangat. Nggak lama kemudian pembicaraan berakhir. Key sumringah. Nggak peduli temen-temennya cekikikan ngeliat tingkahnya. Gini toh, Key yang sedang falling in love.

Sebenernya tuh halte letaknya nggak jauh dari apartemen mereka. Tapi jam setengah sepuluh Key udah siap dengan kunci mobil. Dia nggak mau buat Alexis menunggu. Taelaaa…

Mobil melaju melewati perempatan jalan menuju halte. Halte kosong setelah bus kesekian melaju pergi. Key menunggu.

Lima menit.

Dua puluh menit.

Key nggak mau ngebiarin cewek nunggu, tapi bukan berarti dia suka nunggu. Apalagi nunggunya lama.

“Hi,” kekesalan Key langsung cair begitu ngedenger suara yang dikenalnya. Dia menoleh dan tertegun. Cewek blasteran bermata biru langit itu tampak menawan dengan cardigan yang menutupi t-shirt baby tee nya, dipadukan dengan jeans pensil sobek-sobek (gaya Lex banget tuh) dan sniker sewarna dengan t-shirtnya.

Sorry for letting you wait…

“Oh, aku nggak nunggu lama kok,” hihihi, Key udah lupa dengan kekesalannya. Apalagi setelah Lex tersenyum manis. Oh my God, Oh my God,…if it’s just a dream, please don’t wake me up…

Key melajukan mobilnya ke Hamkke. Sepanjang jalan Lex nggak banyak ngomong. Mungkin perbendaharaan bahasa Koreanya agak payah. Hihihi. Kok jadi ikutan nyinggung?

Mobil belok ke pelataran parkir Hamkke. Dari kejauhan terlihat orang-orang tua yang sedang bercengkrama. Pemandangan sejuk. Key menyusul Lex yang udah duluan setelah nge­-lock mobilnya.

Lex terlihat berbincang-bincang dengan kakek dan nenek di sana. Kemudian seorang kakek berusia sekitar enam puluhan muncul dan menyapanya riang. Lex memeluknya. Mungkin itu kakeknya Lex, pikir Key. Ia memperhatikan kakeknya Lex. Sosok yang hangat. Kebayang betapa memalukannya seandainya memang betul anak dan menantunya tega bicara soal warisan padahal dia belum kemana-mana.

“Grandpa, ini Key, teman,” Lex memperkenalkan Key. Key membungkuk memberi hormat. Kakek Lex tertawa dan mengangguk-angguk. Semakin diperhatikan, kakek Lex emang mirip sama Key pas lagi nyamar. Kakeknya nggak begitu tinggi, dan termasuk mungil jika dibandingkan dengan beberapa temannya yang berpostur tinggi. Pantesan Lex bisa salah ngenalin kakeknya. Tapi tetep aja kesalahan Lex itu kebangetan. Mungkin karena udah lama nggak ketemu kakeknya kali ya, makanya bisa keliru. Hihihi.

Tiba-tiba seorang ibu seusia kakek Lex mencoleknya. Key menoleh.

“Kau artis ya? Aku pernah melihatmu di televisi,” ujar ibu itu. Key terkejut. Bingung mau jawab apa. Kalo bohong nggak enak juga. Orang tua.

“Oh, iya, Bu…” ucapnya tersenyum.

“Wah, Song Ha Neul, cucumu yang cantik ini berpacaran dengan selebriti,” nggak tahu gimana tiba-tiba kakek dan nenek dari Hamkke pada bermunculan. Key salah tingkah. Separuhnya seneng karena dibilangin pacarnya Lex.

“Tak apa kalau cucuku bahagia,” ujar kakek Lex tertawa. Hangat sekali.

He’s not, Grandpa. We’re just friends,” Lex meralat. Setelah berbincang-bincang sebentar (dan Key kedapetan interview dadakan dari kakek dan nenek di situ lantaran status selebriti yang disandangnya), mereka pamit. Lex mendaratkan ciuman ke pipi kakeknya. Keliatan banget tuh cewek sayang sama kakeknya. Ia melambaikan tangannya dan get in the car.

“Pokoknya aku harus ngeluarin Grandpa dari Hamkke,” ujar Lex di perjalanan pulang.

“Tapi aku lihat kakek kamu fine-fine aja di sana,” tanggap Key sembari memutar setir mobil.

He won’t be as fine as he’s home! Lebih enak di rumah sendiri kan?”

“Iya sih. Tapi ketimbang di rumah makan ati melulu?”

“Di rumahku maksudnya. Di Amerika,”

“Kamu yakin? Itu berarti kakek mesti menyesuaikan lagi sama keadaan di sana. Kalo nggak cocok gimana? Kayaknya kakek kamu lebih nyaman di Hamkke deh,”

Ouw yeah??! It’s none of your business, anyway?” Lex mulai panas. Key kaget. Lah kok dia jadi ketus sih? Key memandangnya selintas. Lex cemberut. Key bisa melihat sedikit pantulan wajahnya di jendela.

“Aku nggak mau ngerusak hari ini, itu aja,” ujar Key berusaha cuek.

Mianhe,” akhirnya Lex minta maaf. Perbendaharaan baru Lex, ‘minta maaf’. Key senang mendengarnya. Tapi ia berusaha cuek. Jeda. Nggak ada yang bicara. Lex menghela nafas jengkel.

Oh come on, Key. I said sorry!” tukasnya.

“Oh, tadi minta maaf ya? Sori nggak denger,” sahut Key pura-pura cuek.

“Iya, minta maaf!” tukas Lex kesal.

“Dimaafin,”

Lex mendelik.

“Cuma gitu aja?”

“Kan mintanya tadi cuma ‘maaf’? Nggak minta es krim kan tadi?” kali ini Key belaga budeg. Sukses. Lex komat-kamit nggak tahu mau ngomong apa lagi. Key sialan! umpatnya dalam hati. Key geli sendiri.

“Dimaafin, Alexis,…” ucapnya lembut. Lex memandangnya. Kaget. Mukanya tiba-tiba panas. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Oh my GOD,…does something happen? Because suddenly I can hear my own heartbeat, batinnya. Cepat –cepat ditepisnya rasa deg-degan itu. Dia cuma nggak mau tenggelam dalam pesona Key. I’m Alexis Song, the coolest girl in my era, lagi-lagi Lex membatin. Dia teringat Derek Houston, idola di sekolahnya di Amerika. Bahkan Reese Terry sahabatnya pun tergila-gila pada kapten sepakbola tim sekolahnya itu. Tapi Lex tidak. Dan syukurlah, karena ternyata Derek yang brengsek itu memang player, baik di tim sepakbola maupun di pergaulannya. Reese selamat sebelum sempat pergi kencan dengannya.

“Di mukaku ada kepitingnya ya?” pertanyaan Key barusan mengagetkan Lex. Yah, ketahuan banget daritadi Lex mandangin Key terus. Nyoba ngebandingin Key sama Derek kali. Hihihi.

“I…iya,”

“HAH?”

“Maksudnya enggak! Lagian ngapain juga bisa ada kepiting di muka kamu? Ridiculous!

“Ooooo…” Key membulatkan bibirnya.

Ia memberhentikan mobilnya di halte tempat mereka bertemu tadi. Lex menolak keras pas Key nawarin buat nganterin sampe ke depan hotel. Dia nggak mau sampe ke-gap media.

“Kalo emang nggak ada apa-apa, ngapain takut?” tanya Key.

“Ya aku belum siap aja,”

“Belum siap apa?”

“Belum siap tenar,”,…gurauan Lex tadi masih bergema di telinga Key di perjalanan pulang.

Nanti juga tenar kok, Lex. Nanti pas aku sendiri yang ngebawain mawar ke kamu…

$$$$$$$$$$

Kamu tuh nyebelin banget ya! Aku kan udah pake bahasa inggris buat ngingetin “NEVER LITTER!”!  Tapi kamu masih aja buang permen karet kamu di mobil! Grrrghhh!!!

Reese masih berusaha mengartikan SMS dengan tulisan Hangul itu di ponselnya. Covergirl salah satu majalah remaja di Amerika yang juga sahabat karib Alexis itu sudah berusaha membuka-buka kamus bahasa Korea milik Alexis. Sampe sekarang kata-kata yang dia ngerti cuman “NEVER LITTER” doang. Itu sih dia tahu, “JANGAN MENCEMARI”, tapi emangnya dia mencemari apaan?

Ceritanya berawal dari Min Ho yang meminta nomor ponselnya dan Alexis dan Alexis memberikannya sekaligus bersamaan dengan nomor Reese. Kemudian Alexis menyimpan nomor Min Ho di ponselnya dan Reese. Kebetulan ponsel mereka berdua mendukung fasilitas hangul, jadi nggak masalah kalo nerima SMS pake karakter hangul.

Alexis masuk ke kamar begitu Reese butuh pertolongan. Ia segera memberikan ponselnya ke Alexis.

Gimme the meaning directly!” ujar Reese. Alexis membaca dan mengerutkan dahinya.

Who sent you this?”

Oh, should I reply your question? That must be from one of that Backstreet Boys!” Reese memutar bola matanya.

This sender got angry ‘cuz you throw away your bubble gum in their car,” Alexis menerjemahkan. Reese membelalakkan matanya. Ia baru ingat kejadian tempo hari. Ia sengaja membuang bekas permen karetnya di mobil SHINee karena sebel setengah mati sama Jong Hyun yang merepet. Padahal ia sudah menutup kedua telinganya dengan headset. Tuh cowok nggak stop-stopnya ngingetin dia soal “JANGAN BUANG BEKAS PERMEN KARET DI DALAM MOBIL”.

Please deh, cowok-cowok seantero Amerika rela mati buat jadi pacar seorang Reese Amanda Terry, idola remaja sekaligus covergirl di salah satu majalah remaja ngetop di sana plus VJ baru MTV. Sementara mereka sibuk ngelakuin banyak cara buat nyari perhatian Reese, eh…si Jong Hyun malah sibuk berkicau soal kebersihan dan bagaimana kita sebagai generasi muda menjaga kehigienisan bumi. Belom lagi ceramah soal penggunaan sterofoam. Nyebelin banget!

Did you?” Lex menginterogasi. Reese hanya mengangkat alis mengiyakan. Lex menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pantesan aja si Jong Hyun ngamuk,” gumam Lex.

So…that’s him? The half-blondie guy who was talking much about hygiene?”

Who else? Don’t do that anymore, alright?” Lex mengingatkan. Reese tersenyum dan mengangguk. Sebenernya dia juga nggak suka buang sampah sembarangan. Dia cuman mau ngerjain Jong Hyun aja.

Reese mengambil ponselnya dan iseng-iseng membalas SMS Jong Hyun dengan kalimat mautnya yang bisa bikin cowok klepak-klepek kayak ikan keracunan limbah deterjen.

Sorry, tell me what I gotta do. Or don’t you wanna have a dinner with me?

Never sleep until you reply,

-Reese-

Message sent.

Nggak berapa lama kemudian ponsel Reese bergetar. Reese nggak sabar membukanya.

You wish!!!

-Kim Jong Hyun-

Reese membelalakkan matanya nggak percaya. Nggak sopan banget sih nih orang??? Reese Terry? Covergirl majalah remaja paling ngetop di Amerika? Ditolak? DITOLAK???

Reese lemas. Harga dirinya selama ini kayak nguap gitu aja. Kalah sama bekas permen karet. Sementara Derek Houston memohon buat makan malam dengannya bahkan sampe berlutut, si Jong Hyun bisa-bisanya nolak dia, pake SMS lagi! Aaaaaaaaaaaaarrrgghhhh!!! Kim Jong Hyun jerk!!! You’re gonna regret it, hygiene freak! Reese ngedumel dalam hati.

Are you sick?” tanya Lex yang baru aja mandi. Reese hanya menggeleng.

Watch me, Kim Jong Hyun…!

$$$$$$$$$$

P.S: MAAF YAH KEMAREN AKU SALAH PUBLISH… EHEHEHEHEE……..

NANTI YANG PART 4 AKU PUBLISH LAGI KOK… KKKKK… MAAF ARIESTY ONN…. ehehehe…

Poor Relationship Between TaeKey

Title : “Poor Relationship Between TaeKey”

Genre : Family, Humor.

Type : One Shot

Cast : Taemin, Key, Minho, Onew.

Other Cast : Taeyeon as TaeKey’s Mom

P.S. : FF ini terinspirasi dari salah satu komik buatan Ayumi Shiina. Cuma ngambil secara garis besar. Alur cerita, tokoh, dan detilnya saya ubah.

Author : Diyawonnie_MinhOnew


+++++++


Key : Annyeong, Almighty Key imnida^^/

Taemin (TM) : Annyeong, Taemin imnida^^/

Key : Aku ingin bercerita mengenai sesuatu. Kalian mau mendengarkannya, kan ? Ceritanya tentu saja mengenai aku dan Taeminnie. Aku ingin mengaku dosa bahwa dulu aku hampir saja membunuhnya.

TM : Aaahhh… Tentang itu? Hyung, jika aku mengingatnya, rasanya aku juga ingin membunuhmu.

Key : Aku kan sudah minta maaf. Aku juga sudah dihukum Taeyeon-eomma dan Onew-appa. Takkan kuulangi lagi. Lagipula karena hal itu kita bisa sedekat ini, kan ?

TM : Aigoo, terserahmu saja. Ayo, sekarang ceritakan! Mereka mulai mual mendengar ocehanmu.

Key : Baiklah. Kalian, dengarkan baik-baik, ya!

+++++++

AKU sangat menyayangi adikku, Taemin. Namun dia amat sangat membenciku. Dia membenciku jauh sebelum aku hampir membunuhnya. Saking bencinya, sekali pun ia tak pernah memanggilku dengan sebutan ‘hyung’.

Dulu aku masih kelas tiga SMA, sedangkan dia kelas satu SMA. Kami satu sekolah, karena appa dan eomma menginginkanku menjaga Taemin yang sering sakit-sakitan.

Karena sifat over protective-kulah ia membenciku. Benci untuk selalu kuikuti. Ia juga membenciku yang terlalu lebay. Walaupun ia jauh lebih sering jatuh sakit, tetapi sikap tubuhnya sangat lelaki sekali. Sedangkan aku, bersikap sangat ceria atau lebih tepatnya terlewat over-akting terutama di hadapan banyak orang. Maka dari itu ia malu memiliki hyung sepertiku. Terlebih lagi aku menyukai hal-hal yang anak gadis sukai, salah satunya memasak!

TM : Hyung, kau bicara terlalu banyak!

Key : Ahahaha, baiklah… Langsung ke point-nya kalau begitu…

Aku senang sekali memasak dan mencoba berbagai resep baru. Suatu hari, aku mencoba membuat ddokbokki. Ingin sekali membuat yang spesial untuknya, karena tujuanku adalah meluluhkan hati Taemin, maka aku campurkan seluruh bahan yang ada di kulkas ke dalam masakanku.

Saat itu aku ingin sekali ia memuji keahlianku dalam memasak dan bisa menerima hobiku ini. Tapi…

TM : Tapi kau hampir saja membunuhku! Nappeun!!!

Key : Hyaaa! Biarkan aku saja yang bicara. Kau diam!

“Taemin-ah, bermain games  lebih enak sambil ngemil. Akan kubuatkan ddokbokki,” ujarku riang.

“Tak perlu!”

“Kau harus mencobanya! Ini spesial kubuatkan untukmu.”

Aku pun mulai memasak. Saat itu rasanya bahagia sekali, karena ia tetap berada di ruang tengah bermain game. Biasanya ia selalu saja menghindar bersembunyi di kamar. Jadi kupikir, ia ingin mencicipi masakanku.

TM : Hey, hey, hey. Saat itu hyung yang memaksaku makan…

Key : Aku tak peduli. Sepertinya kau memang tergoda dengan ddokbokki-ku.

TM : Aku takkan pernah tertarik dengan racun yang kau buat.

Key : (Menutup telinga) Nanana… Tak dengar, tak dengar…

“Sudah jadi. Ayo, cepat dimakan!”

“Apaan, nih? Ddokbokki kan berwarna merah. Kenapa ini hijau lumutan seperti ini?”

“Kumasukkan sedikit jus bayam dan paprika. Rasanya pasti enak. Ayo, cepat dimakan!”

“Tak mau! Aku hanya ingin makan masakan eomma.”

“Eomma sedang sibuk mencuci baju. Sini kusuapi,” aku menyendok ddokbokki-nya, “Aaaa~”

Taemin mati-matian menolak. Ia berlari mengelilingi meja dan aku dengan setia mengejarnya dengan sesendok ddokbokki yang ada di tangan kananku. Ia berteriak-teriak mengancamku jika berani mendekatinya. Dan aku masih tak menyerah. Hingga akhirnya ia terjatuh.

“Kibum, jangan mendekat!” ia menggerak-gerakkan kakinya bermaksud menendangku, “Aku tak bisa makan bayam. Kumohon jangan paksa aku!”

“Sayuran sangat baik bagi tubuhmu,” kakinya berhasil kutaklukan dengan cara mendudukinya, “Buka mulutmu! Aaaaa~”

“Andwae! Eommaaa, appaaa…”

Key : Ekspresimu saat itu buruk sekali -___-

TM : Hentikan komentarmu itu dan lanjutkan saja ceritanya!

Aku menutup hidungnya agar ia tak bisa bernapas dan membuka mulutnya sebagai pengganti meraup oksigen. Tapi ia tetap menutup mulutnya. Ah, aku lupa kalau ia bisa bertahan menahan napas hingga satu menit lebih. Jadi, sudah kuputuskan untuk menunggunya membuka mulut.

Satu menit berlalu…

“Hyaaa, Kunciii!” teriaknya dan secepat kilat menutup mulutnya lagi.

“Taemin-ah, buka mulutmu! Aku ingin kau memakan sayuran. Aku takkan seperti eomma yang pasrah saja melihatmu menghindari sayuran.”

“Ku…,” ujarnya dan menutup mulutnya lagi, tak lama kemudian membukanya lagi, “…mohon jangan…,” menutup lagi lalu, “…bayammm!”

HAP!

Ddokbokkinya kini sudah berada di dalam mulutnya. Aku berhasil! Setelah itu, kututup mulutnya rapat-rapat menggunakan tanganku agar ia tak bisa memuntahkannya. Taemin-ah, setelah ini kau pasti akan menyembahku berterima kasih karena baru merasakan kalau bayam itu rasanya luar biasa enak.

“Mmmhhh…,” gumamnya tak jelas seraya mengangkat tangan kanannya. Itu kebiasaannya jika sedang memanggil eomma.

TM : Saat itu wajahku pasti sudah membiru. Apa kau tak dapat membedakannya?

Key : Sama sekali tidak. Oh, Taem… Kau pasti sangat menderita saat itu.

TM : Bayi baru berojol gejrot juga tahu, Hyung!

“Enak, kan ? Kuambil lagi ya,” aku beranjak menjauhinya menuju piring yang berada di meja, namun ketika aku berbalik, “TAEMIN-AH!!!”

Ia tergeletak pingsan dengan wajah membiru. Aku berteriak-teriak kesetanan meminta bantuan. Eomma muncul dari halaman belakang dan ikut-ikutan menjerit. Aku segera menelepon rumah sakit meminta agar ambulans segera datang.

Taemin dilarikan ke rumah sakit ditemani appa yang sebelumya kutelepon untuk segera pulang. Aku diam di rumah untuk menemani eomma yang masih menggigil ketakutan.

“KAU APAKAN DONGASENGMU, HAH?!” jeritnya.

Aku ditampar berulang kali oleh Taeyeon-eomma. Ternyata Taemin alergi tingkat tinggi dengan bayam dan aku tak pernah mengetahuinya. Aku benar-benar merasa gagal menjadi seorang hyung. Sejak hari itu, sebagai hukuman, selama seminggu aku tidur di halaman luar di kandang anjing.

Beberapa minggu kemudian Taemin pulang dari rumah sakit. Aku menyambutnya dengan gembira, namun ia malah semakin membenciku. Dan parahnya lagi, ia selalu menampakkan mimik ketakutan saat melihatku. Sejak saat itu, terbentang jurang yang sangat dalam di antara kami.

TM : Kata-katamu lebay!

Key : Diam!

“Taemin-ah, aku baru saja membuat puding. Kau mau mencoba?”

Ia berlari ketakutan saat mendengarnya dan mengadukan hal tersebut pada eomma. “Jangan kauberikan masakanmu pada Taemin!” teriak eomma.

Ohhh Taengoo-eomma… Perkataanmu benar-benar menghancurkan hatiku. Padahal aku hanya ingin membuat dongasengku gembira karena puding buatanku.

+++++++

Di sekolah…

“Taemin-sshi, kau pasti senang sekali memiliki hyung seperti Key-oppa. Ia pandai sekali memasak. Kau pasti sering mencicipi masakannya. Ia juga selalu membantuku ketika aku sedang ada kelas memasak,” ujar seorang gadis bernama Song Yukka. Dialah salah satu penyebab mengapa Taemin membenciku. Yukka adalah cinta pertamanya sejak TK, dan ia sangat dekat denganku. Taemin mengira Yukka menyukaiku. Ah, babo!

“He? Sama sekali tak enak! Dia bawel sekali mirip ibu-ibu PKK, dan hobi memasaknya itu membuatku muak! Dia selalu memaksaku mencicipi masakannya.”

“Benarkah? Kalian akrab sekali kalau begitu?”

“Mwo? Ani…” sergah Taemin.

“Key-sunbae orangnya baik sekali. Ia selalu membantu kami ketika kesulitan dalam kelas memasak. Dia hebat sekali juga sangat tampan. Ah, Key-sunbae…,” ujar Kim Ye Bin dengan mata amat berbinar.

Kemudian pria besar bernama Choi Minho mendekati kami, “Apanya yang hebat? Badannya kurus, kecil, penakut, feminin, dan seperti bocah ingusan saja kalian puji sampai seperti itu. Hanya memiliki wajah tampan saja tetapi pengecut. Ya kan , Taemin-sshi?”

“Minho-sshi, kau berisik sekali! Aku tahu kalau kau cemburu mendengar Yukka memujinya. Iya ‘ kan ?” sungut Ye Bin.

“Bu-bukannya begitu! Maksudku, kalau dia jelek ya jelek saja. Kenapa harus dipuji sampai segitunya?”

Saat itu aku sedang berada di sekitar mereka. DAN AKU MENDENGAR SEMUANYA. Membuatku muak saja!

TM : Hahaha… Ini bagian yang kusuka.

Key : Ini bagian yang kubenci!

Minho mulai berteriak, “Hyungnya Taemin itu sama sekali nggak ada bagusnya. Feminin, cempreng, suka menggosip, liar, kejam…”

BUK!

Key : Ini baru bagian yang kusuka^^

TM : Aku terpaksa!-_-

Key : Karena kau menyayangiku.

TM : Hyung apaan, sih? Bikin aku mual saja!

Taemin menendang perut Minho dan membuatnya tersungkur jauh. “JANGAN SEKALI-SEKALI MENJELEKKAN HYUNG-KU!”

“Kau juga menjelekkannya tadi.”

“Tapi kalau orang yang bilang, aku marah!”

“Kau…” Minho menendang balik Taemin. Ia melemparnya ke ujung lapangan sekolah.

Kulihat Taemin bangkit, menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Napasnya memburu karena marah. Ia berlari menghampiri Minho , namun aku memeluknya dari belakang. Kucegah ia untuk melakukannya.

“Key-Keybum?!”

Aku menyingkirkannya ke samping lapangan, lantas berjalan menghampiri Minho .

BUK!

Kupukul dia tepat di wajah tampannya, “Kalau berani melukai dongsaengku lagi, akan kubalas seratus kali lipat!”

Minho mengusap pipinya dan balas memukulku. Aku memang nekat memukulnya. Padahal aku sama sekali tak pandai bela diri. Minho menendangku, melemparku ke ujung lapangan. Hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Taemin. Dia juga menginjak kakiku.

“Sunbae-ku yang terhormat, karenamulah wajah tampanku ini ternoda. Kali ini kumaafkan. Jangan pernah berani melawanku! Arasseo?!”

+++++++

“Sudah tahu tak bisa berantem masih saja nekat,” protes Taemin. Saat itu kami sedang dalam perjalanan pulang. Ia menggendongku di punggungnya.

“Aku tak suka melihatmu dianiaya olehnya…”

“Kaupikir aku juga suka melihatmu diperlakukan seperti itu?” Taemin menghela napas sejenak, “Aku kesal kau diejek olehnya. Makanya aku memukulnya.”

“Benarkah?”

“Ne… Hyu-Hyung…”

Aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Dia memanggilku dengan sebutan ‘hyung’? Oh Tuhan, aku tak salah dengar ‘ kan ?

“Kau menyebutku ‘hyung’? Taemin-ah, katakan sekali lagi!”

“Shiro!”

“Cih, pelitnya. Oh ya, harus kuluruskan kalau pria yang disukai Yukka itu adalah kau, bukan aku.”

“Benarkah? Ah, gomawoyo, Hyung!” Taemin berlari sambil menggendongku dan tak henti-hentinya meneriaki kata ‘hyung’.

TM : Kau berlebihan. Nyatanya tak seperti itu.

Key : Oh ya, kau melakukannya.

TM : Aniyo!

Key : Taemin, kau melakukannya.

TM : Cih… Hyung, sebaiknya kau minum dulu! Mulutmu sudah mulai berbusa karena kebanyakan bicara.

Key : Baiklah aku akan menutupnya. Ehm…ehm… Cerita tadi adalah sejarah yang perlu kucatat sebagai hari yang paling membahagiakan bagiku…

TM : Aku tidak…

Key : Aku tak bicara padamu.

TM : Kau bicara saja sendiri! (Balik badan ngambil PMP-nya)

Key : Terima kasih sudah mendengarkan. Aku senang kalian masih setia sampai akhir. Semoga terhibur. Have a great day, annyeong^^/ (noleh ke belakang) Hyaaa, Taemin-ah, kau tak ingin pamit pada mereka?

TM : Jamkkaman-yo (nge-pause gamenya) Annyeong… Terima kasih semuanyaaa^^/

End

P.S: HEEEEYYYY… ayolaaahhh… aku udah bela-belain nih ngurus SF3SI di tengah2 kesibukan aku. Masa SF3SI tetep sepi gini sih?? Aku patah hati niihhh… yang ngevote juga sedkit banget T.T dari urutan 3 turun ke nomor urut 9.. sedihnyaaaa… ayolah komen kek, vote kek atau apa kek yang bisa bikin blog ini rame T.T … pleaseeeeeee

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF