In My Room

Cast:

– Lee Jinki (SHINee)

– Kang Yana (OC)

-Lee Taemin (SHINee)

Author: Finka a.k.a FinTaemin

Rating: PG-13

Length: One Shot

Genre: Romance

Disclaimer: I don’t own all the cast, but I do own the story

Annyeong semuanya~ ini ff pertama yang saya publish loooh hehe *ga nanya* ceritanya yaaa terinspirasi dari lagu In My Room-nya SHINee, jadi disarankan bacanya sekalian dengerin tu lagu *halaaah* tapi mian sebelumnya kalo ff ini ga bisa sebagus lagunya, maklum saya pemula *bow* udah ah sekian dari saya. Enjoyyy~

—- — —-

Lee Jinki POV

Aku mematikan mesin mobil dan segera turun. Sekarang aku sudah ada disini. Korea Selatan, Seoul, tepatnya didepan rumah kedua orang tuaku. Setelah kuperhatikan, ternyata hampir tidak ada yang berubah dalam 3 tahun ini. Aku melangkahkan kaki-ku ke depan pintu rumah ini dan menekan bel-nya.

“Jinki-hyung!”, Taemin langsung memelukku sesaat setelah ia membukakan pintu.

“Ya, dongsaeng-ah~ Jangan memelukku seperti ini”, Ucapku. Ia lalu melepaskan pelukannya.

“Jeongmal bogoshipoyo~ Apa hyung tidak merindukanku?”, Tanya Taemin.

“Anni..”, Jawabku, lalu disusul dengan muka bete Taemin.

“Uh, hyung jahat..”

“Aku bercanda Taemin-ah~”, Ucapku sambil mengacak rambutnya. Taemin langsung menyunggingkan senyumnya.

“Ayo masuk!”, Ajak Taemin. Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya memasuki rumah ini.

“Ohya, Mana koper hyung?”, Tanya Taemin seraya menyuguhkan orange juice padaku.

“Hmm.. Ada di mobil. Kau ambilkan ya?”

Ia mengangguk. Aku melemparkan kunci mobilku padanya.

“Hyung tidak lupa membawakanku oleh-oleh kan?”

“Cari saja~”, Ujarku. Ia tersenyum lebar, lalu berlari keluar dari rumah.

Huh.. sepi sekali. Mana Eomma? Aku segera beranjak dari sofa, lalu berjalan menaiki tangga. Langkahku terhenti didepan sebuat pintu. Bukan, bukan pintu kamar Eomma. Tapi kamarku yang lama. Kamar yang menyimpan separuh kenangan dalam hidupku.

Aku menggerakkan tanganku ragu. ‘Krek’  Pintu ini terbuka. Pandanganku terus menjelajahi seluruh bagian kamar ini. Setiap benda yang ada tertutup kain putih. Aku menutup pintu ini rapat, lalu melangkahkan kaki-ku masuk kedalam. Aku tersenyum. Terlalu banyak kenangan yang aku tinggalkan disini..

Aku kembali melangkahkan kaki-ku, kali ini ke arah tempat tidur. Kusibakkan kain putih besar  yang menutupi permukaannya. Aku merbahkan diriku diatas ranjang ini, nyaman.. Pandanganku terhenti pada meja kecil yang ada di sebelah tempat tidur ini. Aku membuka laci kecilnya, dan.. tebak apa yang aku temukan? Pigura, berisikan fotoku dengan sahabatku, Kang Yana. Aku menatap foto itu lekat-lekat. Disitu aku tersenyum lebar sambil melingkarkan tanganku dilehernya, dan dia tersenyum manis seraya menjukkan kedua jarinya yang membentuk ‘V’; Muka kami dipenuhi krim tart ulang tahunku.

Kukeluarkan foto itu dari pigura, dan membaliknya. 14/12/2005, tepat dihari ulang tahunku yang ke-16. Dan hari itu hari terakhirku benar-benar bertemu dengannya..

—- — —-

Kriiing!!!

Aku mematikan alarm yang ada di sebelahku itu, lalu menatap benda bersuara nyaring itu lekat-lekat. Jarum panjang dan pendeknya menyatu, menunjuk ke angka 12. Pukul 12 tengah malam. Aku mengalihkan pandanganku kearah pintu balkon yang tertutup tirai.

Set.. Dul.. Hana!

Kenapa ia belum datang? Aku menghela nafasku, lalu berjalan ke arah pintu itu dan menguncinya. Sudah 3 hari ini Yana tidak datang. Hmm.. mungkin kalian bingung untuk apa dia tengah malam begini datang ke kamarku, biar kuceritakan sedikit tentangnya..

-Flashback-

Darrr!!

Aku terbangun. Suara apa tadi itu? Seperti suara tembakan.

“KYAAAA!! EOMMA!! APPA!!!”

Suara itu.. Itu suaranya kan? Kang Yana, teman baruku. Keluarganya baru pindah kesebelah rumahku 3 hari yang lalu, tepat pada ulang tahun ke 9-ku. Aku takut.. Apa benar itu suara Yana? Aku segera turun dari tempat tidur. Kuberanikan diriku dan segera melompat ke area balkon kamarnya. ‘Krek’ Pintu balkon kamarnya terbuka. Gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang asalnya dari lampu tidur. Aku berjalan menyusuri kamar itu. Tangisannya terdengar semakin jelas. Aku menemukannya. Ia sedang menangis sambil memeluk lututnya di sudut kamar ini.

“Yana-ah..”, Panggilku. Ia mendongak. Aku menatap matanya yang berlinang air mata.

“Uljima..”, Ucapku. Ia hanya diam dan menatapku. Aku memeluknya erat. Ia membenamkan wajahnya didadaku, dan kembali menangis.

“ Tenanglah Yana, aku disini”, Ujarku seraya mengelus lembut rambutnya.

“Eomma.. Appa..”. Suaranya terdengar bergetar. Ada apa dengan Eomma dan Appa-nya??

Drap.. Drap..Drap..

Terdengar suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga.

“Kita harus pergi!”, Ucapku panik. Aku menggenggam tangannya erat, dan berjalan kearah balkon. Ia menatapku bingung.

“Ayo lompat!”

Aku mengangkat tubuhnya, kemudian ikut melompat ke balkon kamarku. Kami berlari dan masuk kedalam.

“Kita.. berhasil..”, Ujarku dengan nafas yang masih terengah-engah. Aku menatap Yana. Wajahnya pucat. Ia terlihat sangat ketakutan.

“Gwenchanayo?”, Tanyaku cemas. Ia menggeleng. Aku segera menarik tangannya dan menaikkannya ke atas tempat tidurku.

“Gomawo Jinki-oppa..”, Ucapnya lalu memejamkan matanya.

‘Krek’ Pintu kamarku terbuka. Eomma berdiri diambang pintu,

“Jinki-ya..”, Panggilnya, lalu menghambur kearahku. Ia memelukku erat.

“Eomma..”

“Keluarga Kang.. Mereka..”, Eomma tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menangis. Yang aku tahu setelah kejadian malam itu, Yana tidak lagi memiliki orang tua.

Sejak saat itu Eomma sudah menganggap Yana sebagai anak sendiri. Setiap hari Eomma selalu datang kerumahnya untuk membawakannya sarapan dan bekal untuk sekolah. Aku juga selalu  menemaninya. Dan satu hal yang paling ia takuti.. Tidur dikamarnya. Jadi tiap malam, Ia datang kekamarku lewat pintu balkon. Tidak.. kami tidak tidur satu ranjang. Ia tidur di tempat tidurku, dan aku di sofa. Eomma tau  itu, Taemin juga. Eomma malah senang melihatku dekat dengannya. Aku juga senang. Entah kenapa, aku menyayanginya lebih dari seorang sahabat.

-End Flashback-

Aku menghela nafasku lagi. Ia benar-benar tidak datang. Terkhir kali aku bertemu dengannya saat perayaan ulang tahunku yang ke-16. Kenapa kau tidak datang, Yana-ah? Bogoshipoyo.. Aku memejamkan mataku dan terlelap.

“Oppa..”

“Jinki-oppa..”

Sayup-sayup kudengar seseorang memanggil namaku. Aku membuka mataku malas. Siapa yang datang tengah malam begini? Ah, apa mungkin Yana?

Buram.. Aku memejamkan mataku lagi, dan membukanya cepat. Pandanganku mulai jelas, Itu.. Yana?

“Yana? Itu kau?”, Tanyaku, lalu segera berjalan menghampirinya yang masih berdiri di ambang pintu balkon.

Ia tersenyum, lalu memelukku erat. Aku terkejut. Sudah berapa lama aku tidak memeluknya? Sepertinya terakhir kali saat kejadian itu.

“Yana-ah, wae geurae?”, Tanyaku hati-hati. Ia menggeleng.

“Bogoshipoyo oppa..”, Ucapnya lalu melepaskan pelukannya.

Aku hanya bisa melongo melihatnya, Tumben sekali ia berkata seperti itu.

“Kau sakit ya?”, Tanyaku. Ia menggeleng lagi. Aku menghela nafasku. Ah, penampilannya juga berbeda.

“Kau.. memakai baju tidur seperti itu? Mana piyama kelincimu?”

Aku heran. Ia memakai baju tidur terusan warna putih polos, mungkin lebih cocok kusebut dress. Aneh.. tidak biasanya Ia berpakaian seperti itu.

“Oppa, ada yang mau kubicarakan denganmu”, Ucapnya pelan, hampir seperti berbisik.

“Mworago?”

Ia kembali diam. Aku menarik tangannya dan mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur,

“Oppa..”

Aku menatapnya. Ia tersenyum, tapi matanya memancarkan kesedihan. Aku cemas, Ia benar-benar tidak seperti biasanya.

“Aku lelah”

“Kalau begitu tidurlah..”, Ujarku sambil tersenyum. Ia mengangguk lalu merebahkan dirinya. Aku menyelimuti tubuhnya.

“Selamat tidur, Yana-ah~”. Baru saja aku beranjak dari tempat tidur, Ia menarik tanganku.

“Jangan pergi..”

“Geundae..”

“Jebal..”, Pintanya. Aku mengangguk lalu duduk disebelah tempat tidur, di lantai yang beralaskan karpet ini.

“Mianhaeyo, Aku selalu merepotkan oppa..”

Aku menoleh, tatapan kami bertemu.

“Anni, kau tidak merepotkanku”, Ucapku lalu mengelus rambutnya.

“Geundae.. Oppa tidak usah khawatir. Aku tidak akan merepotkan oppa lagi”

“Yana-ah, bicaramu aneh..”, Ujarku lalu tertawa hambar.

“Aku.. sudah tidak takut tidur sendiri lagi..”

Aku menghentikan tawaku, lalu menatapnya, “Ng.. Itu bagus bukan? Berarti kau sudah tidak tidur disini lagi?”

Ia mengangguk. Aku menatap matanya dalam-dalam. Mencoba menelisik pikirannya. Tidak terpancar kebohongan sama sekali. Benarkah ini? Tapi kenapa aku merasa sedih?

“Kau hebat..”, Ucapku.

Ia tersenyum. Kali ini senyumannya begitu tulus. Ia memejamkan matanya dan tertidur.

Aku menoleh ke arah jam dinding. 12 tengah malam. Uh? Bukankah tadi.. Mataku terasa berat, dan perlahan mulai menutup. Aku terlelap.

“Selamat tinggal Jinki-oppa.. Saranghae”

—- — —-

“Jinki-hyung.. Ireona..”

Aku membuka mataku perlahan. Uh? Taemin?

“Taemin-ah..”

“Kau mengigau ya hyung? Dari tadi kau terus memanggil nama Yana-noona. Dia kan sudah—“

“Jangan bicara soal itu”

Taemin menggangguk, “Aku tau, hyung pasti sangat merindukannya”

“Tentu..”, Aku tersenyum kecil lalu memandang foto yang sedari tadi kupegang.

Taemin segera beranjak dari tempat tidur. “Aku yakin, Yana-noona menyayangi Jinki-hyung”, Ucapnya sesaat sebelum ia keluar dari kamar ini.

Aku menghela nafasku. Mimpi tadi.. kejadian 3 tahun yang lalu. Saat aku kehilangan sahabat terbaikku, Yana. Kau tau? Paginya, ketika aku terbangun Yana tidak ada. Pintu balkon kamarku juga masih terkunci. Padahal aku yakin Yana datang malamnya. Ketika aku turun, aku mendapati  Eomma sedang menangis sambil memeluk Taemin. Yana sudah tiada, itu yang Ia katakan. Tidak percaya bukan? Awalnya aku juga. Tapi Eomma menjelaskannya. Selama ini Yana mengidap penyakit leukimia. Eomma mengetahuinya sejak lama, bahkan ia yang selalu mengantarkan Yana ke rumah sakit. Malam saat Yana datang ke kamarku, saat itu ia sedang dalam masa koma. Dan tepat pukul 12 tengah malam, Ia meninggal. Begitulah cerita yang kudengar.

Amugeotdo mollatdeon naega neomu miweoseo..

I hate myself, who didn’t know anything..

Dia sahabatku. Dia selalu ada disampingku ketika aku membutuhkannya. Tapi aku? Ia mengidap penyakit parah pun aku tak pernah mengetahuinya.

Booleul kigo bangeul dolleobonda.

I turn on the lights on and look around the room.

Aku kembali memandangi seluruh bagian kamar ini. Terlalu banyak kenangan yang kau tinggalkan di kamar ini Yana..

Heemihagae balgaoneun du nooni meomchoon geot,

Beoliji mothaetdeon saengilseonmul

Geulligo neo, geu modeun geot..

I faintly lit area where my eyes syop at,

Is the birthday present I couldn’t throw away

And everything of you..

Pandanganku berhenti pada sesuatu. Itu.. hadiah terakhir yang ku terima dari Yana. Hadiah ulang tahunku yang ke-16. Aku tak sanggup membuang ini, karena inilah satu-satunya yang tersisa darinya.

Meonji ssain sangja sokaen, Baraejin sajingwa..

Inside the dust covered box, Are faded pictures..

Aku membuka kotak itu. Didalamnya tersimpan foto-fotoku dengannya yang selama ini Ia simpan. Ia menghadiahkan ini untukku. Aku mengambil foto-foto itu satu per satu. Mencoba mengingat kembali seluruh kejadian yang kita lewati bersama..

Nae apae anjaseo, Ootgo itneun neoreul igotsae gadeuryeo haneundae..

I try to lock you in this place, Where you smile while sitting in front of me..

3 tahun lalu aku sudah mencoba melupakanmu. Aku pindah ke LA dan meninggalkan kamar ini. Meninggalkan khayalanku yang selalu menganggapmu masih ada disini dan tersenyum padaku.

Beoligo ddo beoryeodo giyeokeun, Neoreul dashi bulleo nogko.

Even if I throw it and throw away, Memories call for you again.

Tetapi aku tak bisa. Aku sudah mencoba untuk terus membuang semua kenangan yang ada, tapi kenangan itu selalu kembali dalam ingatanku.

Soomgyeonoheun uriae chueoki, Gadeuk nama cause you’re still in my room..

Our hidden memories, Fully remain cause you’re still in my room..

Air mataku mengalir begitu saja.. Kenangan yang tadinya sudah kusimpan rapat-rapat, terputar ulang dalam kepalaku ketika aku ada dikamar ini. Seakan kau masih ada disini.

Cause You were My Sun, The Moon..

Nae jeon buyeotdeon neo

Nae bangae eetneun motdeun geotdeuli, Neol geulliweohanabwa..

Cause You were My Sun, The Moon..

You were my everything

All the things in my room, seem to miss you..

Maafkan aku Yana.. Aku baru menyadari betapa pentingnya kau ketika semuanya sudah terlambat. Kau telah pergi.. Tapi kau tetap segalanya bagiku, dan bagi seluruh bagian kamar ini..

Aku yakin, malam itu kau benar-benar datang untuk menemuiku. Untuk mengucapakan salam perpisahan. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku, Saranghaeyo Yana..

–FIN–

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

27 thoughts on “In My Room”

  1. FF nya keren! hiks,hiks!

    aku suka scene yg yana pake dress putih trus kayak pamit gitu. ya ampuuunnn…total banget scene yg satu itu!

    nice FF. good job, author! ^^

  2. saenggg ku t’sayang.. jeongmal gomawo ya.. *bow*
    ff nya bagusss bgtt.. onni ampe menitikkan air mata..
    walaupun gk bs brsama jinki oppa,, tp aku ttep sayang koq sama oppa.. *dijitak shawol*
    banyak tepuk tangan bwt saeng ku yg brbakat ini..^^

    1. Ih seremmmmmmmmm……………………. tp kurent………………….. ini klo di film’in d bioskop rame ………
      autornya Finka………….kita pnah talking2 kan????ehhehehehehheh *SKSD*
      ehehehehheheheh
      D tunggu krya slanjutnya….ohohooh

  3. perasaan udah komen tapi kok g ada??
    komen lagi deh yaa
    ehm
    huweeeeeeeeeeeeeee gileeee beneerrrr!!!
    author bisaan banget deh ya bikin ff nya
    sampe pengen nangis saya T~T
    tadi saya pikir yang namanya yana itu lana, taunya salah baca hehe
    niiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiice buangeeeeetttt ^^

  4. @all: HUAAAAA mianhaeeee aku baru online gasadar kalo ff ini udah di publish..
    Jeongmal gomawo semuanyaaaaaa *bow* aku kira ff ini bakal dilewatin aja gaada yang baca hueeeee ternyata ada.. makasih banyaaaaak ><

  5. aseek dah pinki walopun belom bisa ngebayangin bener tapi keren cuy ceritanya!! congrats yah debutnya,muahmuahmuah!

  6. huhuhuhu, ff-nya baguuuuus. author sukses bikin aku nangiiiiis huhuhuhuhu.
    aku suka bagian Yana bilang “aku sudah tidak takut tidur sendiri,” itu bener-bener ngenaaaaa. huhuhu.
    author daebak!

  7. Daebak!!!
    Mantap sekali alur ceritanya, bikin nyesek karena sedih. Jadi ternyata lagu In My Room itu begitu toh ceritanya,
    lanjutkan FF mu yang lain!!!

  8. omooo, author tanggung jawab bikin reader pada nangis! *abaikan*
    Onew oppa kasiaaann.. sedih banget! menyentuh! lirik lagu In My Room masuk banget sama ff ini. like this! ^^

  9. huhuu.. jinki~~ sabar ya sayang^^ #dirajam MVP# huehehe. ceritanya baguss!! keren!! dalem banget hiks hiks. cian jinki. /pukpukpuk/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s