My Prince Saranghae – Part 2

Author : ciiciiminie

Cast : Minho , Key . all Shinee Member

AUTHOR POV

Semua mata kini menuju kearah seorang gadis yang berjalan menyusuri lorong sekolah tersebut dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Pria – pria yang dilewati oleh gadis itu memandang kagum akan kecantikan dari si gadis, sementara yang wanitanya tidak sedikit yang memandang sirik pada gadis itu, yang tak lain adalah Hye Sun. Hye Sun tetap berjalan dengan senyum riangnya tanpa memperdulikan orang – orang yang memperhatikannya.

Bukan hanya karena wajah cantiknya yang membuat orang kini memandangnya, tetapi melainkan penampilan Hye Sun yang terlihat cukup mencolok dibandingkan dengan siswa lainnya. Seragam sekolah yang berupa  kemeja putih yang dilapisi blazer hijau dan rok yang 15 cm dari lutut yang press body, rambut yang dicat picat dengan extasion pink di beberapa helai rambutnya, 4 buah anting yang berjejer dkuping kanan, dan 3 buah anting dikuping kiri membuat sukses Hye Sun menjadi perhatian di hari pertamanya bersekolah.

Hye Sun POV

“Apa kau kenal dengan murid di sekolah ini yang bernama Minho ???” aku bertanya pada teman sebangkuku yang bernama Ara. Dialah teman pertamaku di sekolah ini.

“Maksudnya Choi Minho ??” Ara bertanya balik yang kubalas dengan anggukan kepalaku. “Iya, dia salah satu murid yang popular disini”

“tidak heran, dia kan cakeppppp . . . seperti pangeran yang ada di dongeng – dongeng” ucapku sambil membayangkan wajah ganteng nan rupawan milik Minho .

“Bagaimana kau bisa mengenalnya ??? Kau kan anak baru” Tanya Ara tak mengerti

“Dia itu pangeranku, dan aku kesini datang untuk menjemput pangeranku” balasku dengan senyuman.

Ara tiba – tiba saja tertawa mendengar ucapanku “hey, mana ada puteri yang menjempu pangeran, yang ada seharusnya pangeran yang menjemput sang puteri” ujarnya masih dengan tertawa.

“Terserah, aku tidak peduli” jawabku dingin. Entah kenpa aku merasa tersinggung dengan ucapan Ara. Dan di hari pertama aku sudah memusuhi orang pertama yang menjadi temanku itu.

@@@@

Aku berjalan mengelilingi sekolah yang luas ini dengan satu tujuan, yaitu menemukan My Prince Choi Minho. Aku ingin menemui untuk memberi roti dan susu seperti biasanya, karena aku tadi tidak menunggunya di jalan yang biasa dilaluinya.

Aku membuka pintu yang bertuliskan perpustakaan diatasnya. Sepertinya hanya ruangan ini yang belum aku masuki di gedung bagian barat ini. Aku masuk kedalam dan menyusuri rak – rak besar yang berisikan buku – buku.

“Aku menemukanmu!” ucapku senang sambil memnadangnya. Matanya yang bulat besar itu seketika juga menjadi bertambah besar, karena terkejut. Aku senang akhirnya aku bisa menemukannya disudut perpustakaan ini.

“Mau apa kau ??” tanyanya masih dengan  nada dinginnya

“tentu saja untuk bertemu denganmu” aku berkata sambil memeluk lengannya yang kokoh. “dan juga memberikan ini” aku meletakan roti dan susu strawberry yang kubawa ketangannya “tadi aku tidak sempat menemui ditempat biasa karena aku harus menemui kepala sekolah. Dan kau tahu sekarang kita satu sekolah” ucapku bangga

“terserah kaulah” Minho lalu berjalan pergi menuju pintu perpusatakaan meninggalkanku sendiri. Aku lalu mengejarnya dan mengandenng tangannya. Awalnya ia berontak, namun akhirnya memlilih diam. Kami lalu berjalan bersama. Aku membalikkan badanku dan memperhatikan sekeliling, aku merasa ada yang memperhatikanku. Tapi, sepertinya hanya perasaanku saja.

^^ ^^ ^^

‘Apaa  – apaan mereka ini ??? Seenaknya aja maen tarik – tarik. Dasar tidak berpendidikan.

“YA! Lepaskan aku” aku berontak, berusaha melepaskan cengkeraman tangan 2 wanita yang tidak aku kenal ini. ‘tanganku perih. Kuku mereka menyakiti kulitku’

“Heh anak baru!” tiba – tiba saja sudah ada seorang yeoja lagi didepanku, dan sepertinya dia otak dari semua ini. “Gag usah belagu yah kalau masih baru disini. Gag usah sok sok gaya deh. Disini selokah bukan tempat buat mejeng” cecarnya

“SO WHAT!!” balasku menantang, ‘siapa dia beani – beraninya ngancem aku’

“KAU  . . .” tangannya kini sudah terangkat hendak menamparku.

“Jessi!” tiba – tiba saja terdengar suara seorang yeoja berteriak “lepaskan dia atau kau akan mendapat masalah dengan pihak sekolah” ancam yeoja tersebut yang tak lain Ara. Dan sepertinya gertakan Ara cukup berhasil, karena mereka lalu pergi meninggalkanku.

“buat apa kau kemari ?” tanyaku ketus

“Aku sudah menolongmu, tidak akah ucapan terima kasih ?” ujarnya lembut

“gag sudi” aku lalu berjalan meninggalkannya di belakangku.

“ini, tanganmu berdarah” Ara menyodorkan tisu kehadapanku. Aku tetap cuek dan melanjutkan jalanku menuju gerbang sekolah  untuk pulang, namun tangannya kini menahanku “lukamu harus dibersihkan kalau tidak nanti infeksi” lalu tiba – tiba saja tangan halus Ara mengusap tanganku yang berdarah akibat kuku dua yeoja tadi. Aku memandang Ara yang masih mengelap tanganku, tiba – tiba saja aku teringat seserorang – seseorang yang selama ini begitu kurindukan, Seserang yang tak akan pernah kutemui lagi.

TBC

buat yang udah baca ni FF dari awal makaih yahh . Buat admin yang juga udah publish ni FF juga makasih banyak *deep bow*. Mungkin ni FF bakal agag lama lanjutannya. Hal ini bukan karena faktor kesengajaan, melainkan karena kesibukkan sekolah aku yang semakin padat mengingat aku sudah duduk di kelas 3. Dan sekali lagi makasih untuk semua reader, admin dan penghuni blog ini. ^____^

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

GRANDPA, GRANDPA – Part 4

Main cast : Key SHINee

Supported cast : SHINee, imaginary character

CHAPTER 4

“Buatkan teh untuk Alexis,” perintah bibi Song pada salah satu pelayan muda saat Alexis datang ke rumahnya. Lex memandang adik ipar ayahnya itu. Bibi Song duduk dengan anggun. Sikapnya angkuh. Lex paling benci orang seperti ini.

Paman Song, yang udah ketularan sifat istrinya itu, duduk di sebelah bibi. Ia bersikap seolah-olah tidak tahu maksud Lex berkunjung.

“Annyeong haseyo,” sapa Lex hormat.

“Wah,” bibi Song tertawa sembari menutup mulutnya. “Keponakanku ini manis sekali. Kukira Margaret tidak pandai pilih sekolah,”

“Ibu saya memang bukan orang Korea, tapi saya cukup beruntung karena seorang bermata biru tidak kalah mental dengan penghuni rumah ini yang hanya bisa bersembunyi di balik harta,” ujar Lex. Tajam menusuk. Rahang paman Song mengeras. Istrinya tidak kalah emosi.

“Jadi dengar, anak manis. Kalau kamu ke sini cuma mau menuntut atas masalah yang dihadapi ayah, yah, kau tahu, krisis masa tua,…”

“Ini rumah kakek. Saya hanya menuntut hak kakek,” ujar Lex menahan emosinya. Dia nggak suka pasangan ini. Dia nggak suka bibi Song mengatakan sesuatu yang jelek seperti itu.

Sabar, Lex…emosi tidak menyelesaikan masalah.

“Kakek merasa nggak nyaman di sini. Saya hanya minta kakek kembali ke…”

“Ayah pergi karena beliau memang ingin pergi,” tegas paman Song. Ia tidak mau didikte oleh anak SMU macam Alexis.

“Terima kasih, tapi saya belum selesai. Saya hanya minta kakek kembali, dan tolong tidak ada lagi di rumah ini yang menyinggung warisan kakek. Karena itu yang menjadi alasan kenapa kakek meninggalkan rumah ini,”

“Orang tua memang mudah merasa tidak nyaman,” bibi Song mengeluh. “…dan anak mudah gampang sekali tergugah,”

“Kakek meninggalkan rumah ini, bukan karena tidak nyaman dengan pembicaraan warisan atau apapun yang kalian pikir membuatnya pergi. Kakek meninggalkan rumah ini agar anak dan menantunya merasa lebih nyaman,” ujar Lex menahan emosinya. “Merasa…lebih…nyaman!”

Terlihat perubahan di wajah paman Song. Tiba-tiba terlintas wajah ayahnya di benaknya. Wajah hangat yang selalu merangkul pundaknya ketika dia merasa gagal. Merasa jatuh. Merasa kalah. Raut wajah yang seolah menyiratkan ketenangan seorang ayah dalam menghadapi masalah. Ketegaran.

“Nggak apa-apa jadi keeper. Kalo tak ada keeper tim lawan akan mudah mencetak gol dan tim-mu kalah. Keeper bukan pelengkap, bukan pembantu. Keeper itu penjaga.”

Itu ucapan ayahnya waktu ia menangis karena hanya terpilih menjadi keeper di tim sepakbola SMP-nya dulu.

“Keluar kamu, Alexis!” bentak paman Song. Lex sudah menduga reaksi pamannya. Ia membungkuk memberi hormat dan melangkahkan kaki keluar. Alexis lega. Setidaknya ia tidak menghadapi paman dan bibinya dengan emosi yang meluap-luap.

Bibi Song memandang suaminya.

“Setelah sekian tahun ini,…” ujarnya. “Akhirnya kau menangis,”

$$$$$$$$$$

“Hyung lagi ngapain?” tanya Tae Min pada Jong Hyun. Sedari tadi ia penasaran ngeliat Jong Hyun sibuk membersihkan bagian bawah sniker kesayangannya.

“Nih, ngebersihin bekas permen karet. Dasar tuh cewek emang nggak sekolahan. Udah dibilangin berkali-kali ‘never litter’, masih aja buang bekas permen karetnya di mobil. Kena sepatuku, nih!” gerutu Jong Hyun sembari mengikis permen karet yang udah terlanjur lengket banget gara-gara baru disadari kemarin.

“Maksud hyung, Reese-noona?”

“Ga usah panggil noona, kalian seumur kok,”

“Emang dia buang bekas permen karet di mobil kita ya? Ya ampun,…sini hyung, aku bantuin,” Tae Min mengambil pinset hendak membantu.

“Aduuuuhhh…susah amat sih lepasnya! Awas tuh si Reese!” Jong Hyun mengikis snikernya dengan kesal.

Jong Hyun emang pembersih. Cowok paling higienis di SHINee. Dia paling nggak suka sama sesuatu yang nggak teratur dan nggak bersih.  Insiden permen karet ini bener-bener bikin dia jengkel. Permen karet itu lengket, susah ngebersihinnya kalo udah lengket, mana niupnya susah lagi. Hihihi. Sebenernya yang paling bikin Jong Hyun sebel sama Reese adalah karena Jong Hyun nggak bisa niup permen karet. Jangankan balon gede, bikin balonnya aja dia nggak bisa.

“Udahlah, beli yang baru aja,” ujar Key sambil mengunyah rotinya. Jong Hyun mendengus.

“Ini sepatu kesayanganku, tahu! Nggak ada sepatu lain yang bisa gantiin,”

“Segitunya,”

“Aku kalo udah sayang sama barang, nggak mau ngegantinya sama yang lain,…aduh…mau pake minyak tanah kali ya baru ilang?”

“Dasar sentimental,” ujar Key. Jong Hyun mendelik sebel. Si Key ini bukannya ngebantuin, malah ngeledekin.

“Kalo udah sayang sama Alexis, emangnya kamu mau nyari yang lain?”

“Loh, kok jadi Alexis yang dicemplungin?”

“Analogi,” sahut Jong Hyun cuek tapi senang karena berhasil membalas Key.

“Alexis kok dianalogiin sama sepatu sniker,”

“Segitunya,” Jong Hyun meniru ucapan Key. “Dasar sentimental”.

Tae Min melerai keduanya. Akhirnya setelah menjalani perjuangan yang cukup melelahkan, bekas permen karet itu bisa lepas juga. Tae Min segera membuangnya ke tempat sampah setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam kertas biar nggak nempel sama sampah yang lain.

Min Ho masuk ke ruang tamu sambil menggenggam ponselnya. Kemarin ponselnya nginep di tangan Jong Hyun gara-gara temannya itu mau buat perhitungan sama Reese, sohibnya Alexis.

“Jong Hyun, kamu bener-bener ngirim SMS ini ke Reese?” tanya Min Ho. Jong Hyun mengangguk.

“Biar rasa tuh cewek,” ujarnya cuek.

“Ah, kejam banget nih SMS,”

“Biarin,”

Key dan Onew ikutan ngebaca inbox dan sent item di ponsel Min Ho. Trus mereka cekikikan. Jong Hyun kelewatan ah. Segitunya dia sentimen sama yang namanya permen karet. Cuma gara-gara nggak bisa niupnya doang. Ckckck.

“Eh, kayak kenal!” Onew nunjuk siaran MTV yang lagi ditonton Key. Mereka menoleh. Bukan MTV dalam negri. Dan kayaknya bukan siaran langsung. Soalnya pake bahasa inggris dan nggak ada tulisan LIVE nya. Seorang cewek berambut ikal sedang ngebawain acara MTV yang bintang tamunya…ya ampun! Justin Bieber! Idola remaja yang lagi naik daun.

“Oh my GOD! Itu kan Reese Terry!” seru Tae Min takjub.

“Iya tuh! Sohibnya Alexis!” sahut Key.

“Ya Tuhan! Dia VJ MTV???”. Jong Hyun cuman bisa bengong nanggepin seruan takjub temen-temennya. Reese? VJ MTV? MTV?

“Oh, orang penting toh,” nggak tahu kenapa cuma itu yang keluar dari mulut Jong Hyun. Dia bener-bener nggak nyangka kalo kemarin dia baru aja ngedamprat abis-abisan tuh VJ MTV. Hihihi.

$$$$$$$$$$

SHINee jalan lagi. Kali ini tanpa tujuan. Mereka suntuk banget kalo cuman ngabisin waktu senggang di depan TV. Lagian Jong Hyun udah capek mempertahankan gengsinya pas diledekin temen-temennya pagi tadi.

“Kim Jong Hyun emang keren, belum ada di antara artis SM yang pernah ngedamprat abis VJ MTV,”

“Reese keren deh!”

“Jadi kamu sukanya sama Alexis atau Reese??”

“Loh kok jadi disuruh milih?” blablablabla…

Jong Hyun berdecak sebal. Akhirnya ia mengajak teman-temannya itu untuk menghabiskan waktunya di luar.

“Kemana kek gitu. Suntuk di rumah mulu,” ujarnya.

Kali ini giliran Key yang bawa mobil. Ia memainkan setirnya membelok ke pelataran halte. Tiba-tiba ia menginjak rem. Matanya tertumbuk pada seorang cewek yang lagi duduk di halte. Ngapain Alexis di halte siang-siang gini?

Hi, Lex!” sapa Key menepikan mobilnya di halte, mumpung belum ada bus yang lewat. Lex tampak terkejut melihat kedatangan SHINee.

Hi!” Lex memasang wajah ceria.

“Mau kemana?” tanya Tae Min dengan senyum polosnya.

“Jengukin grandpa,” jawab Lex.

Need a ride?” Key menawari tumpangan. Kali ini Lex menggeleng. Key turun dari mobilnya nyamperin cewek yang baru-baru ini mampir di kepalanya. Key mengambil tempat duduk di sampingnya.

“Kamu ada masalah?” tanyanya. Tahu aja, batin Alexis. Ia tersenyum dan menggeleng. Tapi Key bisa menangkap wajah sedihnya.

“Ya udah. Nggak apa-apa kalo nggak mau cerita. Tapi kalo butuh telinga buat cerita dan bahu buat nangis, punya nomorku kan?” Key tersenyum. Lex memandangnya sejenak.

Thanks a lot, that’s a very nice of you,” jawabnya. Jantung Key seakan memompa darahnya lebih cepat. Dia suka banget sama senyumnya Lex. Key beranjak pergi.

“Key!” panggil Lex setelah Key masuk ke dalam mobilnya.

“Hm?”

“Um…gamsahamnida, mannaseo bangapseummnida. Choaheyo,” ujarnya tersenyum. Key melongo untuk beberapa saat. Kayaknya baru kali ini Lex bicara bahasa Korea padanya selain “Nggak tuh,” atau “apa?” atau yang lain yang sekedarnya aja (kecuali pas Key nyamar jadi kakeknya). Dan Lex bilang Choaheyo. Aku suka kamu. Choaheyo…choaheyo…choaheyo…Onew cuman geleng-geleng kepala ngeliat Key nyetir sambil senyam-senyum sendiri. Kadang-kadang mulutnya komat-kamit. Choaheyo,…aku suka kamu.

$$$$$$$$$$

Lex melambaikan tangan ke arah kakeknya beserta penghuni Hamkke lainnya. Pamit pulang, hari ini ia ngobrol dan menangis cukup lama dengan kakeknya. Ingatan Lex kembali berputar ke obrolan mereka tadi. What a nice afternoon with grandpa.

“Kakek senang sekali kamu mau kakek tinggal bersama kalian,”

“Nah! Berarti kakek setuju kan?”

Kakek tertawa.

“Lex, Lex, kau ini masih sama seperti dulu. Tidak pernah mendengarkan orang bicara sampai selesai,”

“Grandpa,…I’m not like that,”

“Tapi kakek mencintai mereka, mereka ibarat teman-teman seperjuangan kakek,”

“Lho? Kakek kan ketemu mereka baru…pas kakek tinggal di hamkke kan?”

“Lucu memang, kami seperti sudah kenal lama. Teman-teman dan kakek itu seperti bolpoin tinta dan tutupnya. Jika mereka tidak ada, maka keringlah kakek,”

“Kakek nggak butuh kami?”

“Lex, jika kakek boleh memilih, kakek akan minta kepada Tuhan, minta dihidupkan kembali setelah mati, agar bisa menikmati waktu lebih lama dengan kalian tanpa harus memilih akan tinggal di mana dan dengan siapa…” mata kakek menerawang. Lex nggak bisa nahan air matanya lagi. Kakek mengelus kepalanya cucunya itu.

“Kakek hanya bisa berharap kalian bisa mencintai kakek meskipun kakek dengan egoisnya menentukan pilihan,”

Lex menangis lagi, kali ini di kamarnya. Reese hanya diam. Dia hafal perangai Lex. Kalo lagi nangis bombay gitu trus ditanya-tanyain, Lex juga nggak bakal ngomong apa-apa. Yang bisa Reese lakukan sekarang hanya memeluk sobatnya itu dan mengelus bahunya.

I’ll be waiting whenever you wanna share, girl…” ujar Reese dengan suara serak. Dia emang nggak bisa liat orang nangis. Apalagi Reese tahu masalahnya. “Every single word. No matter how long it takes” lanjutnya tersenyum. Lex memeluk Reese hingga dirinya tenang. Reese bukan orang yang suka menuntut haknya sebagai sahabat. Itu yang bikin Lex nyaman bersahabat dengannya. That’s what a true friend is for.

$$$$$$$$$$

Malamnya Key nggak bisa tidur. Sejak kejadian di halte tadi ia makin nggak bisa menyingkirkan bayangan Lex dari kepalanya. Lex yang jutek, Lex yang bahasa Koreanya masih limit, Lex yang menangis, Lex yang sayang sama kakeknya, Lex yang jago dance, Lex yang tersenyum, dan Lex yang bilang choaheyo padanya. Aku suka kamu.

Key menutup wajahnya dengan bantal. Wajahnya panas. Jantungnya nggak berhenti berdetak kencang, bahkan saat Lex lagi nggak ada di dekatnya. Dia bahkan nggak peduli saat personil SHINee yang lain menyenandungkan kata choaheyo berkali-kali.

Alexis Song, Alexis Song, Alexis Song, quit driving me insane!

“Aku nggak mau tidur sama Key,” ujar Min Ho. Lama-lama dia ngeri juga ngeliat tingkah Key yang jadi rada nggak beres itu.

“Kita tidur berempat ya,” lanjut Min Ho lagi.

“Ogah, sempit!” tolak Jong Hyun.

“Ayolah,…” rengek Min Ho memohon. Terdengar lagu Cover On My Heartnya Guy Sebastian dari kamar Key dan Min Ho. Nah, si Key emang lagi mellow nih. Min Ho semakin merengek-rengek. Akhirnya dia dibolehin buat numpang tidur di kamar ketiga personil SHINee lainnya.

Key berguling-guling kayak orang mabok pas radio muterin lagu Cover On My Heartnya Guy Sebastian. Padahal tuh lagu kan rada menyayat hati mengiris jantung. Tapi Key nggak peduli. Dia cuman ngambil yang enak-enaknya aja. Enak didenger tuh lagunya. Hehe.

Bicara soal lagu, Lex juga sama. Di kamar hotelnya ia memainkan gitarnya. Gitar SIESS biru donker hadiah dari paman Song pas ulang tahunnya yang keempat belas lalu.

“Nih, katanya kau mau main gitar, ini spesial untuk keponakan paman Song tersayang”

Lex memetik senar dengan posisi nada C mayor. A minor. F dan G mayor. Kemudian terlintas sebuah ide di kepalanya. Lex segera mengambil buku berwarna biru pastelnya dan pulpen. Ia menulis kata-kata yang terlintas di kepalanya. Menyesuaikan dengan kunci gitar. Menulis lagi. Menggenjreng senar gitarnya. Menulis lagi.

Ia mengulang kembali lagu ciptaannya itu. Kemudian menuliskan judulnya dengan pulpen biru berglitter.

THE KEY OF MY HEART

To be continued…

Hehe…gomawo udah baca, penulis berharap tulisan yang mungkin rada geje alias ga jelas ini bisa dinikmati…

Gamsahamnida! ^^

-peppermintlight-

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF