Tochi – Part 3

Jinki pov

Siang ini, aku malas melakukan apapun. Aku hanya berdiam diri dikamar dan mendengarkan musik. Tapi baru dua lagu yang aku dengarkan aku sudah mendengar ketukan pintu.
“oppa!!!” ternyata Siyoung. Aku langsung mematikan Ipodku.
“boleh aku masuk?” tanyanya.
“ehm….silahkan” dia masuk kamarku dan berjalan kearahku.
“ada apa?” tanyaku setelah dia duduk disamping ranjangku.
“tidak ada apa-apa, hanya ingin ngobrol dengan oppa” jawabnya. “boleh Tanya sesuatu oppa?” sambungnya. Aku tau kalau dia kesini untuk mengintrogasiku bukan hanya sekedar ngobrol. “ya!!!” jawabku memperbolehkan dia bertanya.
“apa kekuatanku hanya akan muncul saat aku emosi saja?” tanyanya setengah ragu.
“tidak juga, kau hanya perlu belajar”
“kalau begitu ajarkan aku” pintanya.
“kau tidak perlu belajar dariku, kau hanya perlu yakin pada dirimu sendiri. Hanya….coba seimbangkan antara fikiran dan kekuatanmu. Pasti kau bisa mengontrol kekuatanmu” jelasku. Dia berfikir mencoba memahami apa yang aku katakan.
“kalau begitu apa jenis kekuatanku? Ehm….maksudku. apa aku termasuk api, cahaya, air, udara, suara seperti kalian?” tanyanya lagi. Aku hanya tertawa mendengarnya, ‘sepertinya dia mulai tertarik dengan kekuatannya’.
“aku akan jelaskan semua padamu biar kau tidak banyak Tanya seperti ini?” dia terliahat sangat ingin tahu.
“kau ini bukan Ksatria seperti kami, jadi kekuatanmu tidak sama dengan kami bahkan…. melebihi kami karena kau ini seorang Tochi kekuatanmu setara dengan Saihi fernrir yang bisa mengendalikan semua unsur didunia ini. Tapi bedanya kekuatanmu lebih mengarah pada kebaikan sedangkan Saihi Fenrir sebaliknya” jelasku panjang lebar. Aku bisa melihat ekspresi tidak faham diwajahnya.
“sudahlah……nanti kau akan mengerti sendiri. Sekarang ambilkan aku minuman
Aku sangat haus setelah menjelaskan banyak kepadamu” mencoba menghilangkan kebingungannya. “sudah cepat sana!!!!!” mendorongnya untuk berdiri.
“ih-oppa! Iya-ya akan aku buatkan. Tapi…….ada satu lagi”
“apa?”
“saat melawan Saihi Fenrir, apa yang harus kulakukan” tanyanya untuk yang kesekian kali.
“ehm………….kau hanya perlu bersinar!!!!!” ucapku semakin membuatnya binggung dan dia benar-benar pergi sekarang.

End of Jinki pov

Hyosoo pov

Aku berjalan kedapur untuk membuat mie ramen, entah kenapa aku lagi ingin makan itu sekarang. Tapi aku tidak sengaja melihat Siyoung masuk kekamar Jinki. Aku membiarkannya begitu saja dengan segala fikiran buruk dikepalaku.
Aku memulai untuk memasak tapi fikiranku melayang entah kemana. Aku memotong cabe untuk penyedap, onion dan beberapa sayuran. Fikiranku masih menerawang bahkan aku tidak memperhatikan apa yang aku potong.
~kemarin dengan Kibum,Tadi pulang sekolah dngan Minho, dan baru saja dengan Jinki~ aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menyadarkanku ‘apa yang sudah aku fikirkan. Apapun itu, bukanlah urusanku’ dan sekarang aku merasakan tanganku yang aku potong sendiri.
“auch!” ujarku kesakitan dan tiba-tiba seseorang memegang jariku itu, meletakkan kemulutnya. Menghisap pelan darah dijariku itu. Aku hanya melihatnya terpaku tidak kusangka ternyata kibum yang melakukan itu. ‘aduh jantungku berdetak kencang lagi’ setelah dia melepaskan jariku dia mengambil kotak P3K yang ada didapur. Dan membalut lukaku dengan hati-hati. Dia memperhatikanku yang hanya diam.
“mianhae! Aku sudah lancang” kali ini aku tidak bisa membiarkan diriku tetap diam.
“ah-tidak, justru seharusnya aku yang berterima kasih…
Gomawo!!!!” ucapku. Dia tersenyum dan melihat apa yang aku lakukan tadi, dia meihat potongan-potongan sayur yang berantakan dan air yang sudah mendidih serta sebungkus mie ramen disamping kompor.
“mau kubantu?” tawarnya.’apa yang harus kujawab’
“ahh~ tidak perlu nanti merepotkan” jawabku kikuk. Dia langsung melanjutkan memasak mie ramenku yang tadi sempat terhenti. Dia terlihat ahli dalam hal ini, bahkan sekarang terlihat aku yang membantunya memasak.

End of Hyosoo pov

Your pov.

Aku masih tidak mengerti apa yang dijelaskan Jinki oppa, tapi sepertinya aku harus berusaha keras untuk mengendalikan kekuatanku. ‘menyeimbangkan antara fikiran dan kekuatan’ tapi…..apa maksudnya dengan ‘kau hanya perlu bersianar’ ah….aku bener-bener pusing gara-gara ini. Kenapa dulu dia datang padaku, kenapa tidak membunuh bayi yang lain, dan kenapa ummaku menyelamatkanku? ‘ummaku’ kenapa aku tidak kefikiran ini. Demi ummaku, aku akan mengalahkan Saihi Fenrir itu. Aku akhirnya pergi setelah lama terdiam didepan pintu kamar Jinki.
‘ahh~Jinki oppa kenapa harus aku yang memebuatkannya minuman?’ fikirku dalam perjalanan ke dapur. Untung kamarnya ada dilantai bawah, jadi tidak perlu repot naik turun.
Aku hendak masuk kedapur, tapi tidak jadi. Karena melihat Kibum dan Unnieku. Mereka lagi asyik memasak. Aku tidak mau mengganggu mereka, aku urungkan niatku untuk buat minuman ‘masa bodoh dengan Jinki oppa’.
Aku kembali kekamarku. Tapi saat melewati kamar Minho aku malah kefikiran dia. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku sampai membuatku penasaran dengan apa yang dilakukan minho didalam kamar. Aku berniat mengintipnya dari lubang kunci yang ada dipintu. Aku membungkukkan badanku untuk melihat.
“apa yang kau lakuakan?” Tanya sebuah suara diatas kepalaku yang sangat kukenal. Aku menengok keatas untuk memastikan ‘aduh! Aku mati gaya, mau taruh dimana mukaku?’ aku mengembalikan posisiku menjadi berdiri.
“ehm…..ehm….aku tadi lihat kupu-kupu dipintu!” jawabku cepat setelah berfikir mencari alasan.
“mana?” tanyanya meragukanku. “dasar penguntit” singgungnya. ‘aish~aku ketahuan’.
“aku bukan penguntit” teriakku di mukanya dan berlari masuk kamarku yang memang disamping kamarnya. Membanting pintuku keras-keras.
Aku merosotkan tubuhku, menghela nafas lega. ‘untung aku bisa menghindar’

End of Your pov

Minho pov

“dasar gadis aneh” gumamku didepan pintu. Aku malah tidak jadi keluar dan masuk lagi kekamar. Dan sekarang berbaring di ranjang, memegangi bibirku. Teringat kejadian saat pulang sekolah ‘apa yang sudah aku lakukan tadi pasti membuatnya salah paham, pasti dia mengharap sesuatu yang lebih sekarang’ tapi aku malah terbayang wajahnya dan tanpa aku sadari sebuah senyuman simpul tersemat dibirku.

End of Minho pov

*****

Malam harinya,

Hyosoo pov

Sungguh aku tidak bisa tidur malam ini, wajah Kibum selalu terlintas dianganku. Gelisah tak tentu samapi memejamkan matapun aku tak bisa. Aku akhirnya menyalakan lampu meja kamarku. Bangkit dan duduk di kursi samping ranjangku, aku menopang dagu dan terbawa lamunan. Aku terfikirkan sesuatu ‘surat’ hanya itu yang bisa mengurangi beban fikiranku.
Aku mengambil selembar kertas surat dan tentunya alat tulis. Mencoba menuliskan sedikit perasaanku disana. Kata demi katapun kutulis mengalir begitu saja dikertas itu. Dan saat akan mengakhirinya, aku ragu untuk menulis namaku. Aku menimbang-nimbang, ‘kalau dia tahu perasaanku? Bagaimana dengan persaanya terhadapku? Bukankah dia waktu itu bersama Siyoung. Nanti aku malah membuatnya tidak enak denganku. Dan aku juga harus menghargai persaan Siyoung, kalau memang benar mereka ada hubungan’
Akhirnya aku hanya bisa menulis

Penggemarmu
Mie Ramen

Yang terfikirkan diotakku hanya itu. Aku melipatnya perlahan dan memasukkannya kedalam amplop berwarna merah muda / pink.
Aku mersa beban dihatiku mulai berkuarang. Tersenyum memandangi surat itu di meja dan perlahan mulai tidur.

End of Hyo soo pov

Kibum pov

Hari ini aku berangkat sekolah lebih awal, tidak bersama yang lain karena kemarin bukuku yang kupinjam diperpus tertinggal di bangku sekolah. Aku harus menemukannya sebelum ada orang lain yang menemukannya, atau aku akan didenda oleh pihak perpus.
“kenapa aku kemarin bisa lupa sich?” keluhku sepanjang jalan di bus.
Saat tiba disekolahan, ternyata masih sepi hanya ada beberapa murit. Aku menghela nafas lega ‘semoga tidak ada yang menemukannya’.
Aku berlari dari halaman depan sekolah sampai menuju kelasku. Saat mau masuk kelas aku melihat Hyosoo disamping bangkuku, dengan cepat aku menyembunyikan diriku ingin tahu apa yang dia lakukan disitu. Aku mengintipnya dari jendela. Dia meletakkan sebuah amplop berwarna merah muda di bangkuku, kemudian dia beranjak pergi. Karena takut ketahuan aku langsung bergerak menjauh, bersembunyi darinya.
Dia telah keluar dari kelasku, akupun perlahan masuk kelas berjalan menuju bangkuku. Seketika aku lupa tentang bukuku. Aku mengambil amplop itu ‘sebuah surat’ pikirku. Aku membolak-balikkan surat itu dan mengamatinya. Aku berniat untuk membuka dan membacanya tapi aku teringat buku perpustkaan itu sehingga aku langsung memasukkannya kedalam tasku dan memerikasa bangkuku. Ternyata masih ada disana, aku mengelus dadaku lega.

End Of Kibum

To be continued

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

9 thoughts on “Tochi – Part 3”

  1. Yooo kemarin aku gak baca part 2nya setelah baca jadi aku mengerti ceritanyaa.
    Tp kereeeen! Aku suka cerita fantasy yang ini. Penasaran sm Siyoung-Minho hahaha
    next partnya ditunggu yaa

  2. nanananaaaa…
    key nerima love letter dr si mie ramen. ahehehe. aku suka banget sm caranya hyo soo ngungkapin…
    lanjutannya jgn lama2 yaaa…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s