The Oishii Café Show – Part 1

Tittle : The Oishii Café Show

Author : karenagatha

Rating : T (Teen)

Genre : Humor, Friendship, Life

Main Cast : Onew (SHINee),  Jonghyun (SHINee), Key (SHINee), Minho (SHINee), Taemin (SHINee)

Support Cast / Other Cast : Park Seong Jin as Egawa Hirochinomoto / Mr. Smile (The owner of the Oishii Café), Choi Min Hwan (F.T. Island) as Jejung Hirochinomoto (Egawa’s Son), Asaka Yuki, Asai Kanon, Super Junior’s members, and other.

Disclaimer : I don’t own Korean Artist, they belong to their artist management. Everything that happens in this story is just fanfiction. If there is equality of names and events, is just a coincidence. (Aku tidak memiliki Artis Korea, mereka milik manajemen artis mereka. Segala sesuatu yang terjadi dalam cerita ini hanya Fanfiction. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa, hanyalah kebetulan.)

The Oishii Café Show

Part 1

Bagi semua orang kalau dilihat hanya sepintas saja, mencari pekerjaan itu sangatlah gampang. Akan tetapi, jika kita melihat melalui prosesnya, mencari pekerjaan itu sangatlah susah. Meskipun kita orang terkenal atau bukan, juga tetap sajalah susah. Sebab, mencari pekerjaan itu harus sesuai dengan keinginan kita, dan butuh perjuangan yang luar biasa. Dan hal ini, dirasakan oleh kelima lelaki asal Korea Selatan yang tinggal di Jepang, yang semulanya mereka belum saling mengenal. Dan akhirnya, saling mengenal di suatu tempat.

— Onew P.O.V –

Seperti biasa, aku menyiar radio di Fun Radio di Tokyo, Jepang. Tetapi kali ini, aku melihat kru-kru dari Fun Radio tampak sedih. Seusai penyiaran radio kelar, aku lalu bertanya kepada salah satu kru, dan ia berkata, “Onew, hari ini adalah hari terakhirnya penyiaran Radio. Jadi, jika ada kesalahan kami, mohon dimaafkan.”

“Apa? Hari terakhir? Kalian pasti bohongi aku, kan?” tanyaku yang tak percaya.

Mereka semua hanya menunduk saja, dan muncullah seorang direktur utama dari redaksi radio menjelaskan, “Kami tidak membohongimu. Saya sebagai direktur utama di radio ini, sungguh meminta maaf kepada kalian semua. Dan terima kasih atas kerja kerasnya serta dukungannya, sehingga membuat penyiaran radio ini berjalan dengan lancar.”

“Kalau aku boleh tahu, mengapa hari ini adalah hario terakhir penyiaran radio?” tanyaku dengan bingung.

Dirut (Direktur Utama) menghela nafasnya, dan menjawab, “Fun Radio ini bangkrut, sebab, saya terpaksa mengutang pada rentenir sebesar 100 juta Yen, hanya untuk biaya penyiaran radio ini. Karena, keluarga saya sedang dilanda masalah. Jadi, saya terpaksa meminjam biaya pada rentenir. Dan sekarang, saya hanya bisa meminta maaf sebesar-besarnya kepada kalian semua. Saya harap, kalian dapat mengerti, apa yang saya rasakan. Terima kasih, dan silakan mengambil gaji terakhir.”

Bagaimana bisa, dirut Fun Radio bangkrut? Apa yang terjadi padanya?” pikirku dengan perasaan kacau.

Pada akhirnya, kami semua para pekerja mengambil gaji terakhir, dan membawa perasaan pedih di hati. “Semoga, dirut Fun Radio kami, mendapatkan keuntungan kembali,” kata-kata itulah yang sekarang ada di benakku. Kurasa di malam ini adalah hari yang terburuk dari sebelum-sebelumnya bagiku. Keesokan paginya, aku terbangun oleh panggilan dari handphoneku. “Siapa sih nih? Pagi-pagi begini, ada yang menelepon?” pikirku agak kesal.

Kemudian aku langsung mengambil telepon, dan tertera tulisan nama temanku, Jejung. Kuangkat, dan terdengar suaranya yang tampak bingung, “Moshi-moshi (Halo), Onew-san, kudengar tempat kerja kamu itu bangkrut?” tanyanya. “Iya, Fun Radio bangkrut, dan sekarang ini aku mengganggur. Terus, mengapa?” jawabku agak kesal.

“ Turut berduka ya, bagaimana kalau aku ke sana? Di rumahku lagi sepi nih,” ajaknya.

“Ok, ok. Tapi, jangan jam segini ya. Agak siang-an aja, masih ngantuk nih. Ohayou (Pagi),” ujarku yang langsung menutup telepon. Memang sih, perkataanku agak kasar sedikit, tetapi dia sudah membuatku kesal. Setelah menutup telepon, aku langsung tidur lagi sambil menutupi diriku dengan selimut keranjang.

Tak terasa hari sudah siang, aku langsung membangunkan diri. Ketika terbangun, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Aku langsung menuju ke ruang tamu, dan di jendela, aku melihat orang yang mengetuk pintu itu adalah Jejung. Aku membuka pintu dan Jejung berdiri tersenyum sambil membawakan barang seperti makanan.

“Halo,” ucapnya sekilat. “Halo, hmm, apa yang kau bawakan?” tanyaku.

“Oh, ini makanan untuk kamu. Kan kamu belum sarapan, kan?”

Aku hanya menggangguk saja, dan mempersilahkan dia masuk. Aku langsung menuju ke dapur untuk mengambil ocha (teh). “Terima kasih, hmm, bagaimana kalau setelah kamu selesai makan, kita pergi jalan-jalan sebentar,” ajaknya sambil tersenyum.

“Hmm, ide yang bagus. Tapi sayang sekali, aku tak bisa..,” kataku yang belum selesai kelar, “Mengapa? Kamu kan tidak bisa begini terus. Kamu harus cari hiburan,” selanya.

“Bukan itu masalahnya, tetapi aku benar-benar tak bisa. Sebab, aku mau mencari pekerjaan lagi. Jadi, sekarang kamu lebih baik pergi saja dari sini ya. Dan tolong jangan ganggu aku, ok? Satu hal lagi, terima kasih sudah membelikanku makanan. Sampai jumpa,” balasku dan menyingkir Jejung dari rumahku.

Aku lalu makan makanan yang diberikan Jejung, tiba-tiba terdengar suara ringtone yang menunjukkan bahwa ada pesan masuk di handphoneku. Kutinggalkan makananku sebentar, dan kuraih handphoneku. Pesan itu dituliskan oleh Jejung, dan isinya membuatku terkejut.

Onew-san, maaf jika aku bersikap yang membuatku kesal. Aku tahu, aku bukan teman terbaik dari teman-temanmu itu. Akan tetapi, aku sadar apa yang aku lakukan. Dulu, kamu tidak bersikap dingin dan cuek terhadapku. Tetapi, mengapa engkau sekarang berubah 180 derajat? Aku tak habis pikir, mengapa kamu seperti itu. Aku tahu perasaanmu sekarang lagi kacau, tetapi aku melihat dirimu ini sangat butuh hiburan. Oleh sebab itu, aku mengajakmu untuk jalan-jalan. Bukan untuk kesombonganku yang mempunyai uang banyak. Jadi harap mengerti perasaanku, ya. Dan juga maaf, kalau aku menulis pesannya panjang. Sebab, aku ingin sekali menyatakan perasaanku saat ini kepada kamu, sahabatku. Semoga kamu diberi keberuntungan. –Jejung

Melihat isi pesan dari Jejung, membuat hatiku langsung tergerak. Beberapa saat kemudian setelah selesai aku makan, aku bergegas mencari pekerjaan yang cocok buatku. Tapi sampai malam, aku belum juga ketemu pekerjaan. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan mencari pekerjaan dahulu, dan melanjutkannya besok.

***

“Moshi-moshi, Onew-san. Kamu kan sedang membutuhkan pekerjaan baru. Bagaimana kalau bekerja di kafeku?” tanya Jejung lewat handphone.

“Moshi-moshi. Hmm? Kamu sekarang punya kafe? Bukannya dulu kamu gak punya?” tanyaku balik dengan terkejut.

“Hmm, sebenarnya bukan kafeku. Tetapi, kafe ayahku. Ya, kan. Kafe ini baru mau dibuat, dan juga ayahku lagi mencari pegawai kafe. Jadi, bagaimana kalau kamu ikut?” ajaknya kepadaku.

Aku mulai berpikir, antara iya dan tidak. Beberapa menit kemudian, Jejung terus memanggilku dengan suara kebingungan. Akhirnya aku menjawabnya dengan lurus hati, “Baiklah, aku akan mencoba terlebih dahulu.”

“Nah, begitu dong. Jadi, nanti kamu datang ke rumahku saja, ok?”

“Baiklah, aku akan datang besok.”

— Jonghyun P.O.V –

Musik adalah hidupku. Kata-kata itulah adalah ambisiku untuk menjadi seorang musisi yang terkenal. Akan tetapi, aku bingung dengan keluargaku. Mengapa mereka mengirimku untuk kuliah di Jepang dan bukan di Korea. Aku pernah menanyakan pertanyaan itu pada ayahku, dan jawabannya cukup membuatku kaget. “Karena, ayah tak ingin kamu bergaul dengan teman-temanmu itu yang tak tahu asal usulnya,” itulah jawabannya.

Memang sih, aku sangat kesal karena aku dikirim ke Tokyo, Jepang. Akan tetapi, akhirnya sah-sah saja. Sebab, Tokyo adalah kota dunia musik. Aku sudah tiga tahun disini, jadi sudah lumayan bahasa Jepangku. Tapi akhir-akhir ini, pengeluaran biayaku makin lama makin banyak. Sehingga membuatku khawatir akan keluargaku yang mengirimku uang. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja sambilan. Akan tetapi, ternyata mencari pekerjaan itu sangat susah. Harus mencari waktu untuk mencari pekerjaan yang cocok.

Suatu hari, temanku yang kuliah nya juga bersama denganku, mengatakan kepadaku, “Jonghyun-san, kamu pernah cerita sama aku, kalau kamu sedang butuh kerja sambilan. Dan ketika aku sedang jalan-jalan, aku melihat ada poster lowongan kerja di suatu kafe tertempel di tiang listrik. Bagaimana kalau kamu bekerja di situ?”.

“Hmm, ide yang bagus. Tapi, itu ada nama alamatnya kan? Nama alamatnya dimana?” balasku.

“Hmm, nah itu dia..,” dia belum sempat mengatakan dengan kelar, aku sudah langsung menyelanya, “Nah itu dia apaan?” selaku.

“Nah itu dia, masalahnya, aku tak tahu. Sebab, aku tak mencatat nama alamat kafe itu,” katanya yang cengar-cengir.

“Yah, masa gak tahu sih. Ngomong-ngomong, kok pakai cengar-cengir juga. Hmm, kalau gitu, ayo bantuin aku untuk ke kafe itu.”

“Haha, oh ok. Seusai kuliah, ya.”

“Iya, ya, ya.”

***

“Ayo, di mana?” tanyaku kepada temanku di dalam mobilnya.

“Iya, sabar. Ini juga lagi mencari tiang listriknya,” jawabnya.

“Lho? Kok, malah yang dicari tiang listrik sih. Carinya itu poster lowongan kerja.”

“Hmm, kan poster lowongan kerja itu tertempel di tiang listrik. Bagaimana sih kamu ini?”

“Oh iya, maaf. Hahaha, lupa aku,” ujarku dengan tertawa.

Saat kami sedang mencari tiang listrik yang tertempel poster lowongan kerja, tiba-tiba temanku menghentikan mobilnya sambil berkata, “Nah itu dia! Ketemu!”.

“Mana, mana?” tanyaku sambil mencari.

“Itu, ayo kita keluar,” jawabnya sambil menunjuk tiang listrik.

Kami langsung keluar, dan melihat isi poster lowongan kerja di kafe.

[LOWONGAN KERJA]

Dicari karyawan di The Oishii Café yang baru mau dibuka.

Pekerjaan yang sedang dicari :

– Kepala Pelayan

– Pelayan

– Koki

Bagi yang berminat melamar pekerjaan di sini, harap hubungi 3 696 31401 atau datang ke alamat Shinjuku-ku 4 Akatsuki 5-11”.

Seusai membaca isi poster itu, aku langsung mengambil teleponku, dan menelepon pada nomor yang tertera did dalam poster tersebut.

“Moshi-moshi, ada yang bisa saya bantu?” kata penerima telepon.

“Bisa, hmm. Saya mau melamar pekerjaan. Bisakah saya bertemu dengan anda?” tanyaku.

“Bisa. Kamu hanya tinggal pergi ke Shinjuku-ku 4 Akatsuki 5-11, dan saya akan bertemu anda disana.”

“Oh, ok. Terima kasih.”

“Sama-sama, terima kasih.”

— Key P.O.V –

Cita-citaku adalah sebagai seorang koki ternama dan terkenal. Tapi tak tahu mengapa, orang tuaku tak menyetujui impianku itu. “Memangnya ada yang  salah sebagai koki?” tanyaku kepada ibuku.

Dan jawabannya cukup mengecewakan, “Salah! Koki itu pekerjaan khusus untuk perempuan. Ibu tak mau kamu seperti banci! Jadi, harap mengerti ibu!” teriaknya padaku.

“Ibu salah pengertian! Koki itu bukan hanya untuk perempuan saja, akan tetapi juga bisa untuk laki-laki. Tolong, ibu jangan meremahkan suatu pekerjaan,” bantahku.

Dan terjadi peraduan mulut antara aku dan ibuku tentang pekerjaan. Aku tetap bersikeras untuk mengatakan bahwa koki bisa untuk laki-laki. Karena mendengar keributan, ayahku datang dan bertanya apa yang terjadi. Aku langsung memberitahukan bahwa ibuku meremehkan pekerjaan.

Akan tetapi, ibu membantahnya dan mengatakan dia tidak meremehkan, akan tetapi menceramahkan aku, bahwa koki adalah pekerjaan untuk perempuan bukan laki-laki. Akhirnya kami saling berantem lagi. Ayahku merelaikan kami, dan dia telah membuatku kaget. Dia lebih membela ibuku daripadaku. Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi dari rumahku. Juga tak lupa membawa anjing kesayanganku, Coco. Ayahku terus memanggil namaku dan meminta untuk kembali. Tapi aku tak peduli apa yang mereka katakan sekarang.

Kemudian aku bergegas berlari menjauhi mereka, dan pergi ke taman untuk menenangkan hati dan pikiran bersama Coco. Sesampai di taman, orang-orang tampaknya menjauhiku dan sambil melirik anjingku. Mungkin mereka ketakutan pada anjingku yang besar dan cukup menyeramkan. Aku hanya tertawa saja, melihat tingkah laku mereka yang lucu.

“Coco, banyak orang takut padamu,” kataku pada Coco.

“Tapi, meskipun mereka takut padamu. Kau tetap menyayangimu,” kataku dengan senyum.

Ketika sedang bermain-main dengan Coco, tiba-tiba ada yang meneleponku. Kulirik ke handphoneku, ternyata yang meneleponku, Akano, lelaki yang pendiam tetapi aslinya jail selangit.

“Moshi-moshi, Key-san. Maaf kalau ganggu, bisa bantuin aku gak?” ujarnya.

“Moshi-moshi. Ya, bisa. Ada apa sih?” balasku dengan sedikit bingung.

“Ini kan sudah jam 9 pagi, tapi aku belum sarapan. Bisa minta tolong masakin makanan? Bahan-bahannya sudah tersiap di dapur nih. Ibuku lagi pergi arisan dan tidak meninggalkan uang,” jelasnya.

“Oh, begitu. Ok, ok. Tapi, ada syaratnya.”

“Apa itu?”

“Aku bawa anjing kesayanganku ya, si Coco. Boleh kan? Kalau gak mau, ya sudah, gak usah.”

“Hmm, ok deh,” ucapnya dengan suara terbatah-batah.

***

“Sepi banget disini, selain ibumu pergi arisan, pada ke mana lagi yang lainnya?” tanyaku terkejut.

“Hmm, ayahku pergi kerja, kalau adikku pergi sekolah. Jadi hanya aku aja yang di rumah,” jawab Akano yang cemberut.

“Oh, jadi kamu sendiri di rumah? Kasihan, benar. Oh ya, gyōza (pangsit) nya dimana?” tanyaku lagi yang sedang memasak. Di Jepang, pangsit disebut Gyōza, sementara di Korea, pangsit disebut mandu.

“Iya. Ini gyozanya,” ucap Akano sambil menyerahkan gyōzanya dari kulkas.

Beberapa saat kemudian, akhirnya masakanku telah selesai. Akano hendak mencicipi masakanku tetapi aku memarahinya sebab, aku merasa Steam Gyōza, Agedashi Tofu, dan Gyōza Goreng kurang enak kalau tanpa ocha. Kunasihati dia, dan dia hanya diam diri aja. Setelah itu memintanya untuk mengambil ocha dan menaruhkannya ke meja.

Seusai ocha ditaruhkan di meja makan, akhirnya kami makan bersama. Beberapa saat kemudian, aku berpamitan dengan Akano, bahwa ingin membawa Coco pergi jalan-jalan. Sebelum meninggalkan rumahnya, aku meminta Coco untuk mendekati Akano. Dan dia tampak ketakutan, aku hanya tertawa saja.

***

Di pagi hari yang sudah cukup ramai orang-orang, aku membawa Coco untuk berkeliling. Sudah lama aku tak membawanya berkeliling di distrik Minato, Tokyo. Meskipun ini banyak-banyak perusahaan dan perusahaan asing, tetapi aku cinta dengan kota yang indah ini. Sesaat sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ada orang tak sengaja menabrakku dari belakang.

Aku langsung memarahinya untuk berhati-hati, dan dia hanya minta maaf saja. Juga barang-barangnya terjatuh sesaat dia menabrakku. Tanpa sengaja, aku melihat sebuah poster yang aku duga, itu barangnya yang jatuh. Kuambilkan poster itu, dan melihat ada lowongan kerja di The Oishii Café. Juga dari poster ini, tentu saja telah membuatku senang, sebab di The Oishii Café dibutuhkan seorang koki.

“Tolong kembalikan posternya, kak,” kata orang itu.

“Ah, berapa sih ini posternya? Mau kubeli,” ujarku sambil memandang poster.

“Hmm..,” ucapnya sambil berpikir.

“Ah, ini udah kelamaan kamu,” kataku sambil menyerahkan uang 1 Yen.

Setelah menyerahkan, aku langsung bergegas berlari sambil tertawa. Lumayan agak jauh, aku mendengar dia berteriak, “Hey, kembali! Masa Cuma 1 Yen. 1 Yen mah gak bisa beli apa-apa, kembalikan posternya, kak!!”.

Sesudah lumayan jauh darinya, aku menghentikan larianku dengan nafas yang terengah-engah. Aku melihat poster itu lagi, dan melihat ada alamat tertera di poster tersebut.

Shinjuku-ku 4 Akatsuki 5-11?!” ucapku dalam hati dengan terkejut.

Gila! Sekarang ini, aku ada di distrik Minato-ku. Masa harus pergi ke distrik Shinjuku-ku,” pikirku lagi dengan bingung.

Tapi, tak apalah. Yang penting aku dapat pekerjaan,” pikirku lagi dengan tenang.

Lalu kucari mobil taksi, dan munculah taksi di hadapanku. Pintu belakang terbuka dengan sendirinya dan mendapatkan sapaan hangat dari supir taksi.

“Pak, saya mau ke distrik Shinjuku-ku, bisakah?” tanyaku.

“Oh, bisa, dik. Silakan,” jawabnya sambil memasang argometer dari nol, memasang sabuk pengaman, dan menjalankan taksinya.

— Minho P.O.V –

“Minho-san, coba bergaya seperti Michael Jackson,” kata seorang fotografer kepadaku.

“Baiklah, pak,” jawabku sambil bergaya seperti Michael Jackson.

Seusai pemotretan, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Choi Min Ho. Aku adalah seorang model asal Korea Selatan. Aku datang ke Tokyo, untuk pemotretan majalah Jepang dan aku sudah mendapat izin dari badan pengurus warga negara asing untuk bekerja di Jepang. Memang sih, aku cukup terkenal di seluruh dunia, tapi tak tahu mengapa, ada sesuatu yang kurang pada diriku.

Sedari kecil, aku ingin sekali menjadi seorang pelayan kafe atau restoran. Memang banyak orang terkejut mendengar cita-citaku itu. Akan tetapi, aku ingin menjadi seorang pelayan, karena ingin membantu orang dalam pelayanan.

“Minho-san, kamu orangnya aneh ya. Masa kamu cita-citanya menjadi seorang pelayan. Yang benar aja,” kata sahabatku, Shinjiro Ryuji kepadaku.

“Ah, tidak. Aku hanya ingin melayani masyarakat saja. Masa tak boleh, kalau aku menjadi pelayan?” tanyaku.

“Hmm, boleh sih. Tapi, mengapa cita-citamu seperti itu?”

“Kan aku sudah bilang, kalau aku hanya ingin melayani masyarakat saja.”

“Terserah apa kata-katamu. Tapi yang jelas, cita-citamu itu sungguh aneh.”

Itulah kata-kata salah satu sahabatku, Shinjiro Ryuji, yang tak menyetujui cita-citaku untuk menjadi pelayan.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan selain menjadi model. Ternyata mencari pekerjaan itu sangat sulit sekali, ada yang tak bisa menerimaku karena aku seorang model. Dan ada yang tak bisa menerimaku, karena sudah tutup lowongan kerjanya. Juga ada sebagian kafe atau restoran yang aku tolak, karena mereka bilang bahwa aku diminta untuk langsung kerja. Bagiku, orang-orang yang seperti itu, memanfaatkan diriku hanya untuk numpang pamor alias numpang terkenal.

Satu jam kemudian setelah mencari pekerjaan dengan susah payah, aku pergi ke sebuah kafe. Dan tak menyangka, bahwa sahabatku si Ryuji juga berada disitu sedang duduk santai minum kopi. Lalu aku mendekatinya dan menyapanya.

“Wah, halo, Ryuji-san. Kebetulan mau ke kafe ini, dan kamu ada disini. Tadi mau santai sebentar di kafe ini,” kataku kepadanya.

“Wah, halo, Minho-san. Kebetulan juga kita bertemu disini. Haha, bagaimana kabarmu?”

“Hmm, baik, kamu?”

“Baik juga. Oh ya, baru tadi mau telepon. Tahu-tahunya, udah ada disini. Hahaha.”

“Haha, hmm? Emanknya ada apa, Ryuji-san?”

Ryuji lalu memintaku untuk duduk, dan dia menyerahkan sebuah poster. “Apa ini?” tanyaku dengan bingung. “Lihat aja,” jawabnya dengan santai.

Aku melihat poster itu, ternyata poster lowongan kerja di The Oishii Café.

Nama kafenya lucu juga,” pikirku.

Setelah selesai melihat isi poster itu, aku berkata, “Ah, pasti juga mencari pamor juga atau gak, dia gak mau nerima aku.”

“Hmm, jangan berpikir negatif dahulu. Coba saja dulu untuk melamar kerja disana, bagaimana?”

“Hmm, ok deh.”

Keesokan harinya, aku berminat untuk mencoba melamar kerja di The Oishii Café. Tapi tak tahu mengapa, aku selalu memikirkan bahwa pasti tak akan diterima atau pasti numpang pamor atau numpang terkenal aja. Mungkin ini perasaan kekhawatiran.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melamar kerja di The Oishii Café dengan mobilku, dan sambil membawa semangat, meskipun sempat tadi seperti dihantui rasa kekhawatiran.

— Taemin P.O.V –

Mungkin bagi banyak orang, foto itu adalah karya seni yang biasa saja. Tetapi bagiku, itu karya seni yang tidak biasa. Akan tetapi, karya seni yang luar biasa. Banyak yang bilang kalau membuat foto itu sangat gampang, tapi bagiku tidak. Karena, untuk menghasilkan karya seni foto, dibutuhkan sisi yang bagus dan mempunyai makna dalam foto tersebut. Itulah motto hidupku sekarang ini, dan aku sudah berambisi untuk menjadi seorang fotografer.

Menjadi fotografer, tidaklah mudah, harus butuh kerja keras untuk menghasilkan yang terbaik. Itulah kata salah satu temanku, yang telah menjadi senior fotografer. Aku sungguh terobsesi terhadapnya, sehingga banyak yang bilang bahwa aku ini obseser alias tukang obsesi terhadap sesuatu. Tentu hal itu membuatku tertawa. Dan kali ini, temanku yang senior fotografer itu, memintaku untuk melakukan pemotretan di distrik Shinjuku-ku, Tokyo.

“Taemin, saya ingin kamu memfoto distrik Shinjuku-ku. Kan saya sudah memperlihatkan fotografi para fotografer terkenal. Sekarang saya ingin melihat fotografimu. Cukup hanya 20 foto saja, yang kamu foto di Shinjuku-ku. Dan saya akan kasih waktu kamu hanya 2 Minggu. Selamat berjuang,” itulah kata-kata temanku, Kenji.

Dari perjalanan dari Shibuya-ku menuju Shinjuku-ku, kulalui dengan naik kereta api. Sesampai di Shinjuku-ku, aku langsung tersanjung melihat distrik ini, begitu banyak perusahaan-perusahaan berada di distrik ini.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengeluarkan kameraku, dan memotret dengan sisi yang tepat. Dalam hitungan 30 menit, aku sudah mendapat 5 foto yang sisinya cukup bagus. Kemudian setelah memotret, aku langsung berkeliling Shinjuku-ku sambil memotret yang objeknya bagus.

Tak tahu kenapa ini dapat ide darimana, aku terpikir ingin mencoba melamar kerja. Mungkin karena, Shinjuku-ku adalah kota yang perusahaannya banyak, membuatku ingin bekerja. Aku mulai berpikir, ternyata ideku unik juga. Lalu kuputuskan untuk bekerja di Shinjuku-ku hanya sementara waktu saja.

Dan terpaksa aku balik lagi ke rumahku untuk memfoto kopykan surat-surat pentingku, dan membawa KTP serta surat lamaran kerja. Keesokan harinya, aku pergi ke Shinjuku-ku lagi dengan naik kereta api sambil membawa perlengkapan barang-barang yang kutaruh di tas. Sudah berjam-jam bolak balik melamar pekerjaan di Shinjuku-ku, tak berhasil kudapatkan sebuah pekerjaan. Memang sih, mencari pekerjaan itu sangatlah susah. Akan tetapi, aku takkan menyerah, pasti suatu saat aku akan dapat pekerjaan.

Di suatu toko, aku akan melamar kerja. Akan tetapi, mereka lagi tidak ada lowongan kerja. Tak sengaja, aku bertanya, “Maaf, kalau saya boleh tahu. Kira-kira di Shinjuku-ku, ada lowongan kerja gak?”.

Tampaknya dia sedang menelusuriku, “Hmm, kamu tampaknya bukan orang Jepang, ya?” tanyanya dengan curiga.

“Haha, iya. Aku ini warga negara Korea Selatan,” jawabku tertawa kecil.

“Oh, sudah melapor ke badan yang menangani warga negara asing untuk bekerja di Jepang?”

“Sudah. Aku sudah melapornya, dan sudah diberi izin. Memangnya ada apa, ya?”

“Oh, baguslah kalau begitu.”

“Jadi, apakah di Shinjuku-ku ini, ada tempat yang sedang melakukan lowongan kerja?” tanyaku sekali lagi.

“Hmm..,” ucapnya sebentar sambil berpikir, “Oh, ya. Ada!” jawabnya yang cukup mengejutkanku.“Wah, kalau aku boleh tahu? Dimanakah tempatnya?” tanyaku lagi.

“Hmm, tempat itu kafe yang baru mau buka. Nama kafenya itu The Oishii Café, nama yang lucu bukan?” tanyanya yang membuatku tertawa kecil.

Kemudian dia melirik ke samping, dan tampaknya sedang melihat tiang listrik. “Sini, saya mau kasih unjuk ke kamu,” ucapnya.

Aku pun mengikutinya, dan dia menunjukkan sebuah poster lowongan kerja di kafe, yang ternyata kafe itu The Oishii Café. Aku langsung membaca isi poster itu. The Oishii Café sedang membutuhkan seorang kepala pelayan, koki, dan pelayan kafe. Juga tertera alamat kafe tersebut, aku langsung mencatat di kertas.

Kemudian berterima kasih kepada pemilik toko yang memberitahuku tadi. Aku langsung memanggil taksi, dan supirnya membukakan pintu. Dan aku menunjukkan kertas yang berisi alamat.Sesampai di alamat yang tertera di poster tadi, aku langsung membayar uang taksi sesuai argometer, dan seketika itu, aku terkejut melihat ada 4 seorang laki-laki berada di luar kafe.

To Be Continued..

P.S : Mohon maaf, apabila ada kata-kata salah, atau kurang berkenan bagi para pembaca. Semoga cerita ini dapat menghibur para pembaca. Sekali lagi mohon maaf.

P.S: KYAAAA ~ maaf yah Karen bikin kamu nunggu lama ^.^ …. SELAMAT YAH !!! INI FF PERTAMA KAMU, PART SATU OUT TANGGAL SATU DAN FF PERTAMA YANG OUT HARI INI ^O^

-Lana-

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

17 thoughts on “The Oishii Café Show – Part 1”

  1. weizzz…karen teliti banget ngungkapin ceritanya. bahasanya rapi. nama Oishi Cafe lucuuu…! trus pendeskripsian lokasi juga bagus. *hehe. maklum,aku ga kenal jepang,jd bagus banget kalo ada deskripsi lokasi kayak FF di atas*
    nice job!

    1. haha, thx.. 😀
      hehe, gk taw knp timbul ide “Oishii” -_-
      hahaha..
      thx.. 😀

      sama, sebenarnya gk begitu kenal Jepang bgt.. 😀
      cuman nyari” info aj.. 🙂

      hehe..

      thx.. 😀

      sebenarnya, itu ada kesalahan lho, yg mungkin bisa bikin ngakak..

      yg ini.. 🙂

      (Key)

      “Tapi, meskipun mereka takut padamu. Kau tetap menyayangimu,” kataku dengan senyum.

      seharusnya..

      “Tapi, meskipun mereka takut padamu. Aku tetap menyayangimu,” kataku dengan senyum.

      hahaha.. 🙂

      sekali lg..

      Gamsahamnida, eonni.. 😀

  2. hyaaaaa si minho ada aja deeeh udah jadi model terkenal malah mau jadi pelayan wkwk
    ah tp 2min match nih. taemin mau jadi fotografer, nah minho modelnya wawawaaa *abaikan ini out of topic XD*
    ayo go go lanjutannya~

  3. @Dhikae
    gamsahamnida.. 😀
    oh okay, pasti aku lanjutin kok.. 😀

    @Eonni Nina
    haha, iya eonni.. 😀
    thx.. 😀
    haha, boleh.. 😀
    😛
    oh sip, eonni.. 😀

    @tooofu—
    haha..
    si Minho pengen jd pelayan itu, karena ingin membantu orang dalam pelayanan.. 😀 (kan ada di cerita tuh.. :D)

    hehe..

    Gamsahamnida.. 😀

    @Fintaemin
    hahaha.. 😀
    gpp kok, gk OOT, tapi masih nyambung ama ceritanya walaupun agak khayalan dikit, dari kata”mu.. 😀
    hehe..
    Gamsahamnida.. 😀

    @Nisaa~
    hahahaha.. 😀
    Gamsahamnida.. 😀

  4. *Celingak celinguk ke atas smpe bawah*

    RESULT :

    Kokk aku blm komen ya ?? *bingung sndiri*
    Apa hr itu wp ku lagi error ??
    Tapii aku udh baca kokkkk..
    Lanjoott ya onn ^^

    1. *celingak celinguk ke kiri dan ke kanan*
      aman bos..
      wakaka..

      jiah, memang komen nya waktu itu kapan bos?? @_@
      maybe..
      haha, gamsahamnida..
      juga, mianhae karna part 2 nya lambatttttt sekali ini aja udah 7 lembar kutulis part 2.. 😀
      dan baru yg P.O.V nya itu Key..
      yang udah itu, Onew, dan Jonghyun..
      Gilaa!!!!!!!!!
      2 lagi udah panjang banget ini part 2 nya.. –“

  5. wah, part 2 nya kpn di publish,,,,,,, ceritanya bagus lowWwW…..
    Cepet di publish yaaaaaa…….
    hehehe……
    GOMAWO………
    dukung 100 %……. ^_^

    1. haha, kom ku lg agak rusak..
      jd keganggu FF na..
      padahal uda kelar isi na.. T__T
      haha, gomawo.. 😀
      ne.. 😀
      lho?? kok eonni ngomong gomawo?? @_@
      seharusnya aku, eonni..
      hahahaha, gomawo again.. 😀
      btw, mianhae kLo misalkan nanti chapter ke 2 na agak krg bagus sama chapter 1 na.. 😦

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s