The Old Me

Author                  : STORM

Cast                       : Jonghyun, Yoora.

Theme                  : Romance, Life

Type                      : one shot

Summary             : “Pada waktu itu tanpa mata bulat ini, tanpa hidung mancungmu ini. kau sudah berhasil membuatku mencintaimu.” Tangannya menunjuk kedua mataku dan juga hidungku. Senyum terlukis diwajahnya. Senyum yang sangat kurindukan. Senyum yang selalu ingin kulihat. Senyum yang tidak dapat kulihat setahun belakangan ini.

This fucking cuteness value is killing me for sure!

(He Loved) THE OLD ME

Yoora POV

“KAU! APA SAJA KERJAMU??” laki-laki dihadapanku ini melempar kertas- kertas putih ditangannya tepat di wajahku. “hyung tenanglah.” Taemin si maknae mencoba menenangkan hyungnya ini. “bukan salah noona kan?” Taemin mencoba membelaku.

“pergilah sebelum aku berteriak lebih kencang dari ini!” katanya tepat di hadapanku. aku segera membereskan kertas- kertas yang berserakan di kakiku dan pergi meninggalkan ruangan ini.

“Hyung. kapan manager hyung kembali dari Eropa? Sudah setahun dia di sana. Dia ga mau balik ke sini? dia lupa masih punya 5 anak yang harus diurus?” Jonghyun masih dengan emosi tingkat tinggi bertanya pada onew.

“dan kenapa dia harus menyerahkan kita pada perempuan ga becus itu?” onew seperti biasa tidak merespon emosinya. “perempuan itu bahkan tidak mempunyai kepercayaan diri!”

“hyung..sudahlah..kan masih bisa di-reschedule..ga usah marah-marah” kali ini Key yang mencoba menenangkannya.

“perempuan itu sudah hampir setahun kerja dengan kita dan masih….” Sebuah tangan yang besar tiba-tiba menyentuh pundakku. Membuatku mengalihkan perhatian padanya.

“Minho?” aku berdecak melihatnya.

“noona, ngapain berdiri di depan pintu? Ga masuk?” tanyanya sambil memutar kenop pintu.

“ssstttt” aku menaruh telunjuk di bibirku. Menandakan memintanya untuk diam. Minho mengkerutkan jidadnya. Menandakan dia tidak mengerti. Aku langsung menariknya ke atap, tempat yang selalu menjadi favoritku dan Minho bila berbicara dua mata. “Jonghyun marah lagi.” aku menundukkan kepalaku.

“sabar ya noona” Minho mencoba menenangkanku. “memangnya apalagi yang dikeluhkannya?” tanya adikku yang paling tinggi ini.

“schedule kalian ada yang bentrok” aku menjelaskan masalahnya.

“ohhhh…ga apa-apa kok noona. Manager hyung juga kadang suka teledor gitu.” Minho menepuk-nepuk pundakku.

“aku parah banget ya sebagai pengganti manager?” tanyaku padanya.

“ga kok noonaaaaaa…tenang aja..aku juga sedikit heran sama hyungku itu. Biasanya dia nyantai aja kalo ada yang bentrok gitu. Soalnya kan belum terlaksana. Jadi masih bisa di-reschedule kan?” jelas adikku yang tinggi ini. “waktu itu schedule yang dibuat manager hyung juga beberapa kali pernah bentrok. Tapi Jonghyun hyung tidak pernah marah-marah” katanya sambil mengerutkan jidadnya. Seolah sedang berfikir.

“apa dia benci banget ya sama aku?” Aku masih menundukkan wajahku dan memegang teh hangat yang tadi sempat kami ambil sebelum ke sini.

“noona please..hal itu ga mungkin karena kalian berdua kan sahabatan.” Minho meneguk teh ditangannya. “gak masuk akal aja. Kalo dia marah- marah karena ga suka noona” jelasnya lagi. aku mengangguk.

“sudahlahhhhh..tenang saja noona. Aku akan pasang badan untukmu. Kalo Jonghyun hyung marah-marah lagi” katanya sambil menepuk dadanya yang bidang. Aku hanya tersenyum melihat adikku ini. Minho memang sudah seperti adikku sendiri. Dia yang selalu ada untukku bila Jonghyun sudah marah- marah ga jelas seperti ini. dia yang selalu menenangkanku. Sebenarnya member yang lain juga baik padaku. Tapi sepertinya ikatan kakak-adik ini lebih kuat ke Minho hehehe.

“noona jangan lupa nanti aku jemput kau jam 7 ya” katanya sambil berdiri membetulkan celana panjangnya yang agak naik karena duduk bersila tadi.

“emangnya ada apaan jam 7?” tanyaku sambil berdiri.

“gathering SM noona..lupa?”

“oh iya lupa. Sip! jam 7 jemput aku di tempat biasa ya..” kataku sambil menepuk jidadku.

“SIP!” katanya sambil berlalu.

***

Jam 7 lewat 30 menit aku dan Minho tiba di tempat gathering SM. Semua artist manajemennya berkumpul. Dari super junior sampai BoA yang sudah lama tidak berada di Korea pun berkumpul semua. Ruangan yang tadinya besar ini serasa sempit karena banyaknya anak-anak SM yang datang.

“Yoooooraaaaaaaaa” eeteuk oppa langsung menarik tanganku seketika. “ooopppaaaaaa. Wahhh..aku sangat merindukanmu” aku langsung memeluknya erat. Dan meninggalkan Minho sendiri.

“kau, kemana aja? Sibuk ngurus Shinee? Kapan ngurus Suju?” tanyanya sambil merangkul pundakku dan berjalan menuju tempat makanan.

“oppa, kau ga rugi kok aku ga ngurus Suju. Aman malah..” kataku sambil mengambil cemilan.

“kata siapa???” tiba-tiba laki-laki dengan pipi seperti bakpau dipenglihatanku ini datang merangkul bahuku.

“Yesuuunggg oppaaaaa huhuhuhu” aku langsung memberikan piringku pada eeteuk oppa dan memeluk kakak kesayanganku yang lain di Suju ini. setahun di SM membuatku lumayan dekat dengan anggota- anggota SM lainnya.

“oppa mau curhattttttt” kataku sambil menarik tangan Yesung oppa ke sebuah meja yang kosong.

“ya! Yoora!” tiba- tiba eeteuk oppa memanggilku.

“oh iya! Maaf oppa. Hehehe.” kataku.

“kamu kalo ketemu Yesung, langsung dech oppa ditinggal” katanya sambil menundukkan kepalanya.

“hehehe..maaf oppa..ayo kita kesana” aku menarik kedua tangan kakakku menuju sebuah meja yang kosong.

“jadi..mo curhat apa?” Yesung oppa memulai pembicaraan. Aku menarik nafas panjang.

“masalah yang sama?” tanyanya seolah sudah tau hanya dengan mendegarku menarik nafas panjang. aku mengangguk. Yesung dan Eeteuk oppa memang sudah tau masalahku.

“tadi pagi aku kena marah lagi.” keluhku pada mereka.

“ya ampun Yoora..udahlah ga usah dipikirin..mungkin setiap kamu bikin kesalahan kecil, mood jonghyun lagi down. Jadi kamu kena imbasnya dech” eeteuk oppa mencoba menghiburku.

“hyung dicari yang lain tuh. Hallo yoora..bentar yah dipinjem dulu oppanya hehehe” tiba-tiba eunhyuk oppa datang dan membawa oppaku pergi. Aku hanya bisa menaikkan ujung bibirku.

“Yoo kayaknya loe perlu ngomong dech sama Jonghyun. Daripada loe suram terus kayak gini.” Kata oppa ku yang masih tersisa di sampingku.

“aku sih juga mau ngomong. Tapi belum berani Cong.” Kataku sambil memakan cheese cake yang kuambil tadi. Terkadang bila sudah curhat dengan Yesung, kami melupakan hubungan kakak-adik. Kami lebih senang berbicara sebagai teman. Ga sopan memang. Tapi beginilah hubungan kami. Kadang-kadang aja ingat kalo kami beda umur. hahaha

“yahhh..ga akan selesai masalah loe. Dimarahin aja terus. Terus nanti curhat lagi aja ke gue malam-malam buta” katanya.

“itu kan kalo ga da Minho, oppaaa” kataku yang langsung dijejali brownies coklat kesukaanku oleh oppa ku ini.

“dah ngomong. Sekalian dech tuh nyatakan perasaan kau” lanjutnya

“perasaan apa?” aku langsung menjejalinya dengan cheese cake yang lain. Menyumbat mulutnya agar tidak ngomong macam-macam.

“perasaan kalau kau benci sama dia” jelasnya sambil membesarkan matanya. “ya bilanglah kalau kau suka sama Jo….” Seketika ruangan menjadi sepi. Dan suara Yesung oppa menjadi sangat besar. Dan semua mata tertuju pada kami. Aku dan Yesung oppa langsung diam membatu. Tidak lama music mengalun mengalihkan mata yang tertuju pada kami.

“ayo turun. Atau kita akan kena interview” yesung oppa mengajakku turun ke lantai dansa.

Aku mengikuti tarikan tangannya. Dan mulai berdansa mengikuti alunan musik yang sedang dimainkan bersama oppa-oppa ku yang lain.

Belum lama aku berdansa dengan oppa-oppaku yang lain. Seseorang menarik tanganku kuat. “Jonghyun?” aku memandangnya. Aku mencari Yesung oppa di lantai ini. kutatap matanya. Kulihat dia menganggukkan kepalanya. seolah berkata “bicaralah”. Dan tangan kirinya membentuk symbol telefon. Seolah mengatakan “telefon aku segera” aku mengangguk mengerti.

***

“KAU! Bukannya membetulkan schedule kami, malah asyik berdansa dengan para pria” katanya langsung sesampainya kami di atap gedung SM.

“kenapa? cemburu?” kali ini aku tidak diam saja. Yesung oppa benar. Aku harus bicara padanya.

“tidak akan pernah ada rasa cemburu untukmu” jawabnya singkat.

“perbaiki ini dan serahkan padaku secepatnya” katanya sambil melempar jadual latihan dan manggung mereka dihadapanku. dan diapun melangkahkan kakinya kembali.

“Jonghyun!” dia tidak menghiraukan panggilanku.

“Jonghyun!” aku berlari mengejarnya. Tanganku menahannya pergi.

“Apa salahku? Apa yang selalu membuatmu begitu membenciku? Apa yang membuatku selalu memarahiku?” aku bertanya tanpa henti. Pria ini pun menghentikan langkahnya. Dia menatapku dari atas sampai bawah. Dari ujung rambutku sampai ujung kakiku. Tatapannya membuatku takut.

“tanyalah pada dirimu” dia merespondnya singkat. Tapi matanya masih menatapku tajam.

“Jong..” aku kembali menahan langkahnya. “kenapa?” mataku dan matanya akhirnya beradu.

“karena aku membencimu!” dia melepaskan tanganku dari lengannya. Jantungku berhenti mendengarnya mengatakan itu. Sesaat kabut seolah menutupi pandanganku. Pria ini dengan tidak memperdulikanku dan kembali berjalan. Langkahnya membuatku tersadar lagi.

“tapi aku mencintaimu Jong!” teriakku padanya. Jonghyun menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya dan berjalan ke arahku. Pria ini hanya diam membisu di hadapanku. Dan menarik nafas panjang.

“aku..” belum sempat kulanjutkan ucapanku. Jong menyerahkan ku dompet coklatnya.

“hatiku sudah dimiliki oleh gadis yang ada di foto itu” kubuka dompetnya. Kulihat foto yang dia maksud.

“Foto ini?” aku melihat dirinya dengan seorang gadis. Gadis yang sebaya denganku. Dan aku sangat mengenalnya. Sangat. Gadis yang selalu menangis karena diejek oleh teman- temannya. Gadis yang selalu memeluk Jonghyun erat pada saat dia menangis. Gadis yang selalu menyusahkan Jonghyun. Gadis yang selalu membuatnya juga ikut diejek. Dan gadis yang selalu membuat Jonghyun memberikan senyum termanisnya. Senyum yang sudah lama tidak kulihat. Dan karena itulah aku sangat membencinya. Sangat!!

“berikan padaku!” Jonghyun mengambil dompetnya lagi dari tanganku.

“kau masih menyimpannya? Dia sudah mati Jong! mati!” Jonghyun menatapku sinis. Dia memasukkan dompetnya ke kantong celananya.

“dia masih ada di hati dan di pikiranku. Dan aku masih mengharapkan dia kembali dengan bentuk seperti ini.” katanya sambil menunjukkan fotonya lagi.

“jadi karena dirinya kau selalu berteriak padaku?” aku menatapnya tegas.

“kenapa kau tidak bisa menerimaku? Kenapa?” aku mencekram kedua kerah jaketnya.

“karena dia bukan dirimu” jawabnya sambil melepas genggamanku di jaketnya.

“aku..aku..gadis yang sama dengan gadis di foto itu Jong. sama!” Teriakku dihadapannya.

“hah! diliat saja sudah berbeda.” Dia menatapku tajam.

“lihat! gadis ini bahkan tidak mempunyai lipatan dimatanya. Tulang pipinya saja tidak terlihat. Dia..dia bahkan tidak terlihat manis, Jong. lihatlah!” aku mengambil lagi dompetnya dari saku celanananya dan menunjukkan foto itu padanya. Pria ini terdiam. Dia menatapku dengan rasa kasihan dimatanya.

“Maaf aku tidak mencintaimu, Yoora.” Pria ini akhirnya mengeluarkan kata- kata yang kutakutkan. Sudah kuduga ia akan berkata seperti itu. Orang bilang, diterima tidaknya perasaan kita, air mata tetap akan jatuh. Baik karena bahagia ataupun patah hati. Tapi tidak untukku. Tidak ada air mata yang keluar dariku. Aku hanya menarik nafas panjang. Karena sesak menyerang dadaku.

“kau tau Yoora? Jawabanku akan berbeda bila kau menyatakan ini beberapa tahun yang lalu. Karena waktu itu aku sangat, sangat mencintaimu. Aku bahkan rela berbohong pada managerku hanya untukmu.” Entah kenapa sesak ini tidak berkurang mendengar pengakuannya. Sesak ini bertambah. Dada ini menahan sesak yang sangat berat. Berat sekali. Bahkan sekarang ditambah dengan genangan air mata yang sedang kutahan agar tidak jatuh.

“Aku bahkan mencintaimu pada saat kamu tidak sekurus ini. aku mencintaimu pada saat pipimu masih gembul. Kau yang seperti itu berhasil memikat hatiku. tidak seperti sekarang. Wajahmu ini. aku bahkan tidak mengenalimu lagi.” Jonghyun terdiam. Dia mengambil nafas panjang dan melepasnya dengan berat. Sedangkan aku, aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Mencoba untuk tidak menunjukkan air mataku yang sudah deras jatuh dipipiku. Pertahananku runtuh tampaknya.

“Pada waktu itu tanpa mata bulat ini, tanpa hidung mancungmu ini. kau sudah berhasil membuatku mencintaimu.” Tangannya menunjuk kedua mataku dan juga hidungku. Senyum terlukis diwajahnya. Senyum yang sangat kurindukan. Senyum yang selalu ingin kulihat. Senyum yang tidak dapat kulihat setahun belakangan ini.

“Tapi entah kenapa, sejak kau mempunyai ini semua. Aku tidak lagi mencintaimu.” Tangannya yang besar menyentuh lembut pipiku.

“Kau memang cantik sekarang. Aku yakin semua laki-laki akan berpaling padamu bila kau berjalan. Tapi entah kenapa, aku tidak merasa kau cantik. Aku merindukan pipi gembulmu. Aku merindukan mata dengan satu lipatan itu. Di mata itu lah aku sudah jatuh cinta padamu. Di pipi gembulmu itu lah kau berhasil membuat jantungku ini berhenti. Tapi maaf aku tidak dapat menemukan itu didirimu yang sekarang.” Air mata membasahi garis wajahnya yang tegas. Hidungnya memerah. Dapat kurasakan kecewa yang sangat besar dari dirinya.

Aku yang tepat berada didepannya hanya bisa memberikannya air mata. Air mata yang sama. Air mata kekecewaan. Kecewa karena aku begitu bodoh. Kenapa aku bisa melakukan semua ini. kenapa aku tidak sadar bahwa dia mencintaiku dengan tulus. Dia mencintaiku apa adanya. Tanpa embel-embel ‘the cuteness’ di wajahku. Kenapa? Kenapa aku baru sadar sekarang? Air mata ini tidak hanya jatuh deras dipipiku tapi juga dihatiku. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan besar di hatiku.

“Maaf Jong..”

***

Jonghyun POV

Aku berjalan dengan kaki berjinjit. Kulihat sekeliling. Tidak ada orang. “Aman..” kataku dalam hati. Aku kembali berjinjit. Masalahnya adalah lantai di dorm kami ini adalah kayu. Bukan keramik. Jadi suara apapun yang melintasi lantai kayu ini akan terdengar.

Aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu. “aman..” sekali lagi aku menarik nafas lega. “anak-anak ini memang pengertian sekali padaku hahaha..maaf ya aku sudah bohong. hihihi” kataku dalam hati. Kulanjutkan langkah jinjitku ke pintu ke luar. Kuputar kenop pintu dorm ini.

“hyung?”

*BRUK*

sapaan seseorang di belakangku membuatku kaget dan terjatuh.

“hyung ga apa-apa?” tanya sambil membantuku berdiri.

“hyung mau kemana? Katanya sakit?” Taemin adikku yang paling kecil ini membuat usaha jinjit menjijitku gagal.

“he..iya ini aku mau ke dokter.” Jawabku.

“ke dokter kok pake jinjit segala?” tiba- tiba kakakku Onew muncul dari balik tembok.

“he…hyung…” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini.

“boong tuh hyung. pasti mau kabur. Alasan aja dia mau ke dokter.” Key juga ikut muncul dari balik tembok.

“hffff…aku mau jemput yoora nih..maaf ya..habis kalo ga bilang sakit, ga diizinin sama manager.” Kataku jujur.

“yoora? Katanya lagi di luar negeri?” Key langsung excited mendengar kata yoora. Aku memang sudah sering menceritakan yoora pada mereka.

“iya..hari ini dia pulang..” kataku sambil memakai sepatu

“hyung, aku ikut ya..aku mau lihat yoora nih. Selama ini kan cuma denger ceritanya aja.” Taemin memintaku membawanya.

“aku juga. Kalo ga diizinin. Kukasih tau manager nih” ancam Key. Dan aku hanya bisa mengangguk pasrah. Seharusnya ini akan menjadi pertemuanku dan yoora yang sangat mengarubiru. Tapi apa daya. Daripada nanti mereka lapor manager.

***

“hyung…mana yoora noona?” taemin yang sejak tiba di bandara ini sudah menanyakan kehadiran Yoora bertanya untuk kesekian kalinya. Sedangkan aku masih celingak-celinguk mencari sahabatku itu.

“Jonggggggggg…” tiba- tiba gadis dengan rambut pendek sebahu dan agak bergelombang menghampiri kami sambil menyeret koper besarnya.

“saya?” aku tidak yakin dengan yang kulihat. Karena aku tidak mengenal gadis ini.

“iya..kamu mau jemput aku kan?”

“yoora noona?” taemin menebaknya.

“iya..aku yoora. Kau pasti Taemin ya?” gadis yang sangat terlihat asing dimataku ini menyapa Taemin dengan ramahnya.

“gimana sih hyung. masa ga kenal sama teman sendiri? Aku Key, noona. Wahh..noona memang cantik. Begini kok dibilang manis. Ini sih cantik” Key dengan senyum di wajahnya menyapa hangat gadis yang mengaku yoora ini.

“kau benar- benar yoora?” aku bertanya sekali lagi. karena memang dia bukan yoora yang kukenal. Dan gadis ini mengangguk mantap.

“kalau kau mengaku bahwa kau bukan yoora, aku tidak akan bilang pada teman-temanku. Dan akan menyelamatkan reputasimu” kataku sambil menariknya agak jauh dari teman-temanku.

“ya! Kim jonghyun! Kau masih tidak percaya ini aku?” aku menggeleng merespon pertanyaannya.

“apa perlu kuceritakan kejadian di coffee toffee itu? Hah?” Ya tuhan kalau dia tau kejadian itu berarti dia benar-benar yoora.

“kenapa dengan wajahmu?” tanyaku

“aku benar-benar berubah ya?” aku mengangguk. “hanya sedikit diperbaiki dibagian sana sini” katanya dengan senyum mengembang dibibirnya.

Jantungku berhenti berdetak seketika mendengarnya. hatiku menangis seketika. Pikiranku menolak perubahan yang drastis ini. kupikir dia berbeda dengan gadis kebanyakan. Padahal dengan tidak melakukannya. Dia sudah terlihat sangat manis.

Aku tidak tau apa yang kurasakan. Amarah menyelimuti diriku. “Hilang kemana rasa percaya dirimu yoora?” batinku. Sekarang yang ada dipikiranku adalah rasa sesal karena sudah menganggapnya berbeda. Yang ada dimataku adalah rasa kasihan. Dan yang ada dihatiku adalah kebencian.

“ayo pulang” katanya sambil merangkul lenganku. Aku melepaskan rangkulan tangannya dan segera melangkahkan kakiku. Gadis ini hanya melihatku heran.

Sejak saat itu, aku selalu marah- marah padanya. Apalagi sejak managerku bilang akan ada assistant yang menggantikannya selama dia ke Eropa. Dan orang itu adalah Yoora. Rasa benciku semakin memuncak melihatnya setiap hari lalu lalang dihadapanku.

“KAU! APA SAJA KERJAMU??”

“KENAPA KAU SELALU SAJA TIDAK BECUS?”

“HAH! APA YANG BISA KUHARAPKAN DARI ORANG YANG BAHKAN TIDAK PUNYA RASA PERCAYA DIRI SEPERTIMU?”

“CIH! MENJAUHLAH DARIKU!”

Dan kata-kata kasar lainnya yang terucap dari mulutku setiap gadis asing itu berbuat kesalahan. Walaupun kesalahan itu kecil sekali. Tetap saja aku memarahinya sampai dia menangis. dulu akulah yang selalu memeluknya bila dia menangis. tapi sekarang, jangankan memeluk. Melihatnya saja aku sudah kesal duluan.

***

Yoora POV

“aduh gimana ini Yoora? Kamu bisa dimarahi besar-besaran lagi sama Jonghyun” onew oppa terlihat cemas melihat schedule latihan Jonghyun bentrok dengan hari kuliahnya.

“oppa..tenanglah. aku kan sudah biasa.” Key menepuk-nepuk bahuku pelan seolah bilang “tenang saja noona”

Kulihat Minho meletakkan telapak tangannya didadanya. Seolah berkata “aku akan melindungimu noona” dan taemin hanya bisa berkata “noona fighting!” adikku yang satu itu memang selalu…ah..ya begitulah Taeminku tersayang ^^

“ada apaan sih? Kok pada ngumpul di sana?” Jonghyun yang baru datang langsung menghampiri kami. Minho memegang tanganku erat.

“apaan nih?” Jonghyun mengambil kertas putih ditanganku. Dia membacanya. Alis kanan dan kirinya terlihat menyatu. Genggaman Minho semakin kuat di tanganku. Semua dongsaengku menatapku cemas.

“aku akan memperbaikinya Jong” kataku sambil membungkukkan badanku.

“jangan marahi noona hyung” Taemin langsung meminta hyungnya itu.

“ohhh…ga apa-apa..di-reschedule aja” kami yang mendengarnya langsung membelalakkan mata kami. Key langsung menatapku bingung. Aku yang ditatap hanya mengangkat bahuku. Tapi tidak lama senyum terlukis di wajah kami.

“hyung! aku mencintaimu” teriak Taemin

“aku tau!” katanya sambil berjalan.

“aku juga Jong” teriakku yang langsung diberikan tatapan aneh oleh ketiga adikku dan kakakku.

Pria yang sedang berjalan itu langsung menghentikan langkahnya dan memberikanku senyuman termanisnya.

“terima kasih Jong. karena sudah menerimaku kembali sebagai sahabatmu” kataku dalam hati. “aku tidak akan berbuat bodoh lagi.”

***

STORM POV

Every girl is pretty.

No matter if your complexion is white, black, or even tan.

No matter if you have big eyes or small eyes.

No matter if you have pointed noose or not.

And no matter if you are just 150 cm height.

You are pretty with your own grace.

And there always be ‘Jonghyun’ out there who loves you as you are. ^^v

THE END

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

The Day Before My Birthday

Author: Park Shin Yeong a.k.a Gemala (sinta)

Cast: Lee Jinki, Kim Kibum, Kim Iryeong

Genre: Romance, friendship, sad hiks..hiks..

Type: One shoot

n.b: ini ff pertama yang saya buat dengan genre sad…… Hope you like it…… Semoga bisa menguras air mata anda !!!!! *plaak*

Teet….teet….teet….teeeeeeeet

Suara alat pendeteksi detak jantung memecahkan tangis kami semua. Kami kehilangan sosok Kim Kibum oppa, salah satu sahabat kami sejak 1 tahun yang lalu. Sudah seminggu ini dia masuk ke rumah sakit dan mengalami koma. Kibum oppa mengidap penyakit hati stadium lanjut, tapi aku dan Iryeong baru mengetahuinya seminggu yang lalu. Hanya Jinki oppa yang tahu soal penyakit Kibum oppa.

——–Flashback———

”Halo…halo !!! Shinyeong tolong !! tolong aku !!! tolong kibum oppa !!!”tanpa henti kata ”tolong” terus dilontarkan Iryeong kepadaku melalui telpon.

”Iryeong ada apa ??? jelaskan padaku !!!” kataku panik

”Kibum oppa tiba-tiba pingsan !!! Ia kesakitan dan terus memukul-mukul dadanya !!! aduh !!! tolong aku !!!” sekarang Iryeong tidak kuasa menahan tangisnya.

”Aduh!!! Cepat telpon ambulance !!!! Aku dan Jinki oppa akan segera menyusul kesana !!!” aku shock berat mendengarkan kata-kata Iryeong. Tapi aku berusaha untuk tidak panik.

Aku berlari melewati kerumunan orang-orang di mall menuju tempat parkir. Setelah kucari-cari akhirnya kutemukan Jinki oppa.

”Oppa gawat !!! Kibum oppa, dia dia…” aku bingung ingin berkata apa

Setelah mendengar penjelasanku yang belum selesai, Jinki oppa terlihat sangat panik. Ia sepetinya sudah mengerti apa yang terjadi.

”Ayo cepat kita pergi ke rumah sakit !!!” Jinki oppa menarikku masuk ke mobil.

Di dalam mobil………

”Oppa apakah oppa tahu alasan kibum oppa tiba-tiba jatuh pingsan ???”

”Ti..tidak aku tidak tahu !!!”

”Oppa gak usah bohong deh !! karena oppa itu gak berbakat bohong !!!”

”Hmm sebenarnya Kibum mengidap penyakit hati stadium lanjut…” suara jinki melemas meratapi nasib temannya yang satu itu.

———End of Flashback———–

Aku cuma bisa menangis di pelukan Jinki oppa yang juga sangat terpukul atas kepergian sahabatnya Kibum oppa. Mataku langsung tertuju pada sosok yeoja yang duduk di sebelah tempat tidur Kibum oppa. Iryeong sudah tidak bisa berkata-kata lagi, yang dia lakukan hanya menangis, menangis, dan menangis sekuat mungkin.

Bagiku itu wajar, karena Iryeong kehilangan sosok yang sangat ia cintai. Lebih dari apapun. Baru setahun ia bisa memiliki Kibum oppa, dan sekarang orang itu sudah pergi meninggalkannya. Perasaan yang sudah Iryeong pendam selama 3 tahun, hanya terbalas selama 1 tahun.

————-Flashback————-

Aku dan Iryeong sedang duduk di samping kolam ikan kecil di taman kota. Kami sedang menunggu 2 orang spesial.

”Aduh… bagaimana ini !!! jantungku berdetak kencang sekali !! serasa mau copot !!!” kata Iryeong panik

Aku cuma diam sambil memberi makan ikan-ikan kecil di kolam.

”Kenapa kau bisa setenang itu ????”

”Iryeong !! kau tahu, sekarang aku sedang berusaha memperbaiki perasaanku yang tidak karuan !!!” aku kesal karena sejak tadi Iryeong tidak berhenti mengoceh.

”Bagaimana mungkin ???”

”Dengan memberi makan ikan ini, perasaan seseorang akan menjadi tenang” jelasku panjang lebar.

”Hwaa !!” teriakku dan Iryeong kompak.

Ada yang menepuk pundak kami. Ternyata Jinki dan Kibum, orang yang kami tunggu sejak tadi sudah datang.

”Hhe… maaf ya kami terlambat..” kata jinki sambil tersenyum. Senyuman itu semakin membuatku tak bisa bernafas.

”A..ahh tidak apa-apa..” aku berusaha menutupi rasa gugupku

”Ayo kita pergi !!!!” kata kibum dengan nada misterius

”Kita mau kemana sih ???” Iryeong mulai tidak tenang

Kami berempat berjalan menuju ke tengah taman kota.

Aku dan Iryeong tercengang tak percaya melihat taman kecil itu dipenuhi dengan lampu warna-warni yang berkerlap kerlip. Pantulan cahaya lampu membuat air mancur di taman itu terlihat sangat indah.

Jinki dan kibum menarik kami ke jembatan kecil di taman itu. Di bawah jembatan itu ada sungai kecil yang sengaja dibuat. Dan diatas sungai sudah mengapung lilin berbentuk hati yang sangat indah.

”Ada satu lagi…” kata jinki dan kibum.

Jinki menarikku hingga aku sudah sangat dekat dengannya, dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan mendekatkan wajahnya padaku, aku tidak mampu berkata-kata, aku juga tidak mampu menolaknya. Refleks ku tutup mataku dan kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.

Aku tidak tau apa yang terjadi pada Iryeong. Tapi kurasa hal yang sama terjadi padanya.

———————End of Flashback—————-

Kini kibum oppa sudah pergi. Dan sialnya lagi, kibum oppa meninggal pada tanggal 22 Juli, sehari sebelum ulangtahunku. Itu semakin menambah luka yang ada padaku. Tapi aku berusaha tegar demi Iryeong.

Aku dan Iryeong memang memiliki sifat yang berbeda. Aku lebih tenang sementara Iryeong mudah panik. Dia juga sangat sensitif dan mudah menangis. Tapi ia adalah orang paling sabar yang pernah kutemui.

Tanggal 23 Juli, hari pemakaman kibum oppa bertepatan dengan hari ulangtahunku

Semua orang sudah meninggalkan pemakaman, kecuali kami bertiga. Jinki memecahkan keheningan diantara kami.

”Kalian tahu apa kata-kata yang selalu kibum katakan kepadaku ??”

”Apa oppa ??”

”Dia selalu bilang seandainya aku berada dalam 2 pilihan, tetap hidup tapi harus merasakan sakit yang luar biasa seperti sekarang atau mati dengan tenang aku lebih memilih mati saja” jinki oppa mengatakannya dengan mantap

Iryeong menangis semakin kencang sementara aku berusaha menenangkannya.

”Lalu dia berpesan kepadaku suatu saat ketika aku telah pergi kau harus merelakanku. Jangan membuatku berat untuk meninggalkanmu, karena itulah konsekwensinya jika kau mau berteman dengan orang sepertiku, kau harus merasa kehilangan” lanjut jinki

Iryeong terdiam mendengarkan kata-kata jinki oppa.

”Jadi kalian harus merelakannya. Karena itulah yang terbaik untuknya”

”Tapi ini bukan yang terbaik untukku oppa !!!” bentak Iryeong. Aku sangat terkejut, sebelumnya tidak pernah kulihat Iryeong membentak orang lain.

”kau tidak boleh egois Iryeong !! Aku ini sahabatnya, aku juga sedih sama sepertimu !! Tapi apakah kau tega melihat kibum terus menerus kesakitan, berusaha melawan rasa sakitnya sendirian !!!” jinki berusaha menyadarkan iryeong.

”Iryeong dengarkan aku !!! Kalau kau cinta pada kibum oppa, maka kau harus merelakannya, kau harus mendukung semua keputusannya !!” kali ini aku yang berbicara padanya

”Aku merasa ini terlalu cepat dan mendadak !! Belum ada yang bisa kulakukan untuknya !!!” kali ini suara Iryeong melemas

”Ada Iryeong !!! Kau bisa membantunya !! Kau harus membuatnya bahagia dan tenang disana !!! Kau bisa membuatnya bangga telah mencintaimu !!!

”Ya Iryeong !!! Kami disini untuk membantumu !!!” kata jinki memberi semangat.

Iryeong menangis lagi, tapi kali ini tangisan bahagia. Sepertinya ia sudah bisa mengerti.

————–Iryeong POV—————-

Tuhan.. terimakasih engkau telah memberikan sahabat seperti mereka. Saat kibum oppa telah pergi, masih ada mereka disampingku. Mereka benar aku tidak boleh egois, aku harus membuat kibum oppa tenang disana. Saranghae kibum oppa….

—————End of Iryeong POV————-

Akhirnya aku pulang ke rumahku. Aku ingin melepaskan semua penat dikepalaku. Tiba tiba jinki oppa menelponku.

” SAENGIL CUKHA HAMNIDA !!!!” kata jinki oppa dari telpon

”Mwo ?? aku sampai lupa !!! hahaha makasih oppa !!” kataku senang

”Ya… walaupun hari ini kita semua bersedih, tapi aku tidak boleh egois dan melupakan hari ulangtahun chagiya ku tersayang !!!” kata jinki riang

”gomawo oppa saranghaeyo jinki oppa !!!”

”no do saranghae chagiya… good night have a nice dream !!!”

“you too oppa..”

Tadi itu membuat perasaanku sedikit membaik. Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Dan kuharap Iryeong dan Jinki oppa juga begitu.

—————————-

Sudah sebulan sejak meninggalnya kibum oppa. Semua sudah mulai kembali normal. Iryeong sudah kembali bersemangat. Ia memulai hari barunya dengan satu tujuan yaitu menjadi lebih baik dan membahagiakan kibum oppa disana. Iryeong memilih untuk melanjutkan studinya ke California.

3 tahun kemudian………….

Hari ini tanggal 22 Juli, saat yang sama dengan kejadian 3 tahun yang lalu. Tapi kini kami bertiga tidak seperti dulu lagi, kami sudah menjadi orang yang lebih baik. Dan kami terbukiti mampu melewati saat yang sama selama 3 tahun terakhir ini.

Aku dan jinki oppa mendapatkan surat dari Iryeong. Kami tidak terkejut karena ini adalah rutinitas selama 3 tahun terakhir. Aku membukanya dengan riang, tapi saat kubaca kata-kata di surat itu kejadian 3 tahun yang lalu kembali menjadi mimpi buruk yang bertambah buruk………..

To Shinyeong dan Jinki

Hi…

Apa kabar ???

Kabarku sangat baik, bahkan tidak pernah sebaik ini sebelumnya.

Sebagai sahabat yang baik, kalian harus mendukung semua keputusan dan jalan yang kupilih, benar kan ???

Dan aku sudah memilih jalanku

Hari ini, tepat tanggal 22 Juli aku akan mencangkokkan hatiku kepada seorang penderita penyakit hati sama seperti kibum oppa….

Dan mungkin saat kalian sedang membaca surat ini, aku telah tiada atau mungkin masih berada di ruang operasi, siapa yang tahu ???

Tapi kalian jangan mengira aku melakukan ini karena aku telah putus asa, malah aku melakukannya dengan suka rela dan bahagia. Karena aku ingin mati disaat yang sama dengan kibum oppa.

Aku tidak ingin bunuh diri karena itu berarti aku mati sia-sia. Jadi aku memilih untuk mencangkokkan hatiku kepada orang yang membutuhkan. Itu akan membuat kibum oppa bangga, iya kan ???

Aku ingin mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya pada kalian…

Tolong relakan aku perig, sama seperti kalian merelakan kibum oppa untuk pergi…

Sayonara shinyeong…

Sayonara jinki…

From your best friend

Kim Iryeong

Aku tak kuasa menahan tangisku. Jinki oppa segera memelukku dalam. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang memandangku dengan heran. Aku sudah mengalami kehilangan besar. Terjadi di saat yang sama. Aku tahu, aku harus merelakan iryeong agar dia tenang disana. Tapi tidak akan semudah itu….

Tanggal 23 Juli, hari pemakaman Iryeong

Iryeong dimakamkan tepat disamping pemakaman kibum oppa. Semua kejadian 3 tahun yang lalu kembali terbayang. Saat aku berusaha menenangkan Iryeong, tapi sekarang aku tidak bisa menenangkan diriku sendiri.

”Iryeong babo !!! Kau itu sehat kau tidak sakit !!!! kenapa kau lebih memilih mati !!!” aku terus bergumam tidak jelas di dalam hati.

Jinki seolah-olah mengerti perasaanku.

”Tenanglah chagiya… ini adalah yang terbaik untuknya… ingat itu” jelas jinki

”Menurutku tidak !!! dia tidak merasakan sakit seperti kibum oppa !!! jadi dia tidak harus mati !!!

”Mungkin dia tidak merasakan sakit seperti kibum, tapi apakah kau tahu isi hati iryeong bagaimana ??”

”Dia terlihat sangat tegar oppa !!!” aku berusaha menolak kenyataan yang ada

”ayo kita pergi, ada yang harus kau lakukan !!!”

Jinki mengendarai mobilnya menuju ke taman kota. Aku bingung kenapa jinki oppa membawaku kesana.

”Kau ingat ini ???” jinki membawaku ke kolam ikan di taman itu

”Kenapa dengan kolam ini ???” aku tidak berpikir apa-apa

”Aduh… ingatanmu buruk sekali !!! Kau selalu bilang dengan memberi makan ikan ini, perasaan seseorang akan menjadi tenang

Aku tersenyum mendengarkan perkataan jinki oppa.

”Sekarang cepat beri makan ikan ini, agar perasaanmu menjadi tenang !!” perintah jinki oppa

Aku senang karena jinki oppa ada disini bersamaku.

”Oh iya… aku punya hadiah spesial untuk chagiya ku tersayang”

Tanpa segan jinki oppa langsung menciumku dengan sangat lembut dan dalam. Mungkin menurutnya ini akan membuatku lebih tenang, ya… memang benar…. it’s make me feel better

Aku berusaha untuk memejamkan mataku. Aku terlelap dalam tidurku. Tapi aku terbangun di suatu tempat yang aneh. Semuanya putih… Aku bingung dan takut. Dan kali ini jinki oppa tidak ada disampingku.

”Jinki oppa !!!!” aku terus memanggil-manggil namanya

”Aduh… apakah kau tidak bisa hidup tanpa jinki oppa ??” suara yang sangat kurindukan dan mengagetkanku

”Iryeong ??? kibum ???” aku tidak percaya dengan apa yang kulihat

”ya kami kesini untuk mengucapkan selamat padamu HAPPY BIRTHDAY SHINYEONG !!!” kibum dan iryeong berteriak kompak

”Shinyeong maafkan aku karena pergi secara tiba-tiba, tapi kau harus ingat dengan apa yang kau katakan padaku 3 tahun yang lalu bahwa sahabat harus mendukung apapun yang dipilih oleh sahabatnya !!!” jelas iryeong panjang lebar.

Aku mulai menangis lagi

”Sejak kapan kau menjadi cengeng ??? Mana shinyeong yang dulu kukenal ??” giliran kibum yang berceloteh

“Sejak kalian pergi meninggalkanku !!!” aku membela diri

”Tolonglah relakan aku pergi…. Inilah yang membuatku bahagia, bersama kibum oppa untuk selamanya !!!” iryeong memohon padaku

”Baiklah, aku mengerti perasaanmu….. kalian berdua memang tidak dapat dipisahkan !!!” aku tersenyum pada mereka

”Gomawo Shinyeong !!!!” lagi-lagi mereka berteriak

”Kau harus kembali, ini bukan tempatmu !!!” iryeong terlihat serius

”Aku pasti akan merindukan kalian !!!”

”Kamipun pasti begitu, tapi kami akan selalu ada disampingmu !!!” jelas kibum

”Oh iya… maafkan aku karena membuatmu sedih di hari yang seharusnya menjadi hari bahagiamu !!!” jelas iryeong

”Sudah.. jangan membuatku menangis lagi !!! aku benci menangis !!!”

”Baiklah selamat tinggal shinyeong….”

”Salam untuk jinki ya !!!”

—————————-

Aku tersenyum bahagia di dalam tidurku. Ini adalah hadiah terindah karea aku bisa berbicara untuk terakhir kalinya pada mereka. Dan saat bangun nanti jinki oppa sudah menungguku.

THE END

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

LOVE’S WAY – I THINK I [2.2]

I THINK I [2.2]

Main Cast: Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin, SHINee

Support Cast: Super Junior

”Mian tadi aku bilang kalau kita pergi kencan…habis aku tidak tahu jawaban lain kita sedang apa…”katanya begitu kami berjalan di sekitar pertokoan. Oh jadi karena itu, dia hanya tidak tahu harus menjawab apa. Aku agak sedikit kecewa mendengarnya. Kau ini terlalu berharap sih Hye Jin!cepatlah sadar!

”Gwenchanna..”jawabku. Kenapa aku jadi kecewa mendengarnya mungkin karena tadi aku berharap jawaban itu bena-benar tulus tapi ternyata. Ahh sudahlah lupakan!jangan berharap!seruku pada diriku sendiri.

”Itu mereka..”seru Taemin begitu melihat mereka di sebuah kedai.

Ya itu mereka sedang makan, mereka tidak lelah apa berjalan terus, tentu saja tidak mereka kan sedang kencan. Benar…benar… mana mungkin mereka capek.

”Ini minum…”kata Taemin sambil menyodorkan minuman kaleng padaku.

”Gumawo…”seruku dan mengambil minuman itu lalu meminumnya.

”Baru kali ini aku mengikuti orang yang sedang berkencan…capek juga..”serunya.

Aku tersenyum meminta maaf karena malah merepotkannya.

”Oh ya…kenapa kau mau mengikutinya?kau takut terjadi sesuatu pada Hyo Jin noona?”tanyanya lagi.

”Annyong bukan itu hanya balas dendam…”seruku.

Taemin melihatku dengan pandangan bingung, kalau dia bertanya apa tidak akan kujawab karena tidak mungkin aku bercerita kalau Hyo Jin suka sekali meledekku dengannya.

”Balas dendam?”tanyanya lagi.

”Sudahlah..itu rahasia cewek…”seruku sambil tersenyum.

Taemin hanya mengangguk namun masih terlihat bingung. Mereka keluar dari kedai dan berjalan lagi. Ya ampun apa mereka tidak capek. Sekarang mereka masuk ke sebuah toko boneka.

Aku dan Taemin melihatnya dari seberang jalan dan mendapati mereka sedang memilih boneka. Namun tiba-tiba Hyo Jin melihat ke arah kami. Taemin langsung menundukkan kepalaku.

Hyo Jin POV

”Kau mau yang mana?”tanya Jin Ki.

Aku masih terus memperhatikan keluar seperti ada yang melihatku dan itu tampak seperti Hye Jin, seharian ini sudah tiga kali aku melihat orang yang mirip Hye Jin mungkin aku merasa bersalah padanya karena tidak cerita bahwa aku pergi kencan dengan Jin Ki dan membuatnya harus sendirian pergi membeli kamera barunya padahal waktu itu aku pernah berjanji padanya akan mengantarnya. Mianhe Hye Jin. Ucapku dalam hati.

”Hyo Ji-ah..”seru Jin Ki.

”Mian..aku mau yang itu…”seruku sambil menujuk sebuah boneka panda dengan bambu ditangannya. Lucu sekali.

Dia mengambilkannya untukku dan melihat sekilas.

”Kenapa panda?”tanyanya.

”Dia mirip denganmu…lucu…lihat lucu kan…mirip sekali denganmu…”tunjukku pada boneka panda itu.

”Masa kau membandingkanku dengan panda?”serunya sedikit marah sepertinya.

”Ya!maunya apa?panda kan lucu…”seruku lagi.

”Bagaimana dengan kucing…lucu juga kan?”katanya lagi.

”Aku tidak suka kucing..”jawabku.

”Kau kan tahu aku alergi dengan kucing…”lanjutku.

Jin Ki beripikir sebentar sepertinya dia lupa kalau aku alergi kucing. Aku masih ingat waktu aku masih SD, Jin Ki membawa kucingnya ke sekolah dan menujukkannya padaku saat itu aku langsung bersin-bersin seharian dan sejak saat itu aku alergi dengan kucing. Dia lupa hal itu!dasar Jin Ki!aku tidak pernah lupa apa yang dia tidak suka kenapa dia lupa?benar-benar tidak peka.

”Ah ya…”seru Jin Ki.

Akhirnya sadar juga dia.

Dia  membelikanku boneka panda itu lalu kami pergi lagi.

Hye Jin POV

Lucu sekali kencan mereka, pergi ke tempat boneka membeli boneka panda. Hampir saja tadi ketahuan untunglah Taemin langsung tahu Hyo Jin melihat ke arah kami. Kami berjalan mengikuti mereka dari jauh. Saat melihat ke toko boneka tadi mataku tertuju pada sebuah boneka. Boneka beruang kecil warna coklat muda yang mengigatkanku pada masa kecilku. Ayah membelikan boneka itu, padahal sebelumnya aku adalah anak yang tidak terlalu suka boneka karena aku takut pada boneka, tapi hari itu, hari ulang tahunku ayah membelikanku boneka beruang itu. Saat pertama melihatnya aku senang sekali karena boneka itu begitu lucu dan bisa bersuara. Boneka itu menjadi temanku selama aku kecil bahkan sampai aku dewasa pun aku masih menyimpannya di kamarku tapi saat ayah pergi meninggalkan kami dan aku mulai membencinya aku mengembalikan boneka itu pada ayah beserta barang-barang yang pernah ayah berikan padaku. Aku terdiam beberapa saat melihat boneka itu. Aku rindu pada boneka itu lebih tepatnya aku rindu ayah, yah walapun dia telah menyakitiku dan ibu tapi dia tetap ayah yang baik. Dia selalu ada untukku waktu aku masih kecil, membelikanku boneka, membacakan cerita, bermain baseball di akhir pekan, pergi menonton pertandingan. Begitulah kegiatanku dengan ayah waktu kecil. Mungkin sebelum aku marah pada ayah aku adalah anak ayah, aku lebih dekat dengan ayahku dibanding dengan ibuku tapi sejak kejadian itu aku berusaha menghindarinya meskipun dia selalu memintaku menemuinya aku selalu menghindar. Aku jadi ingat kejadian beberapa bulan lalu saat ayah meneleponku, mungkin itu bukan ayah tapi dari suaranya itu dia. Semoga dia tidak akan menghubungiku lagi.

”Kau baik-baik saja?”tanya Taemin yang melihatku termenung.

”Ne…”jawabku dan berjalan.

Taemin mengejarku dan berjalan disisiku.

Hyo Jin POV

”Jin Ki pulang yuk?” ajakku padanya.

Ah hari ini aku benar-bena lelah, pergi nonton, main sepeda, makan. Benar-benar lelah dan senang tentunya karena bersama dia.

Jin Ki mengangguk dan berjalan bersamanya menuju halte bus, namun tiba-tiba dia berhenti di salah satu toko bunga dan membeli bunga.

”Ini untukmu…kau suka sekali bunga lily kan?”katanya.

Ya ampun dia ingat!aku suka sekali bunga lily dan dia masih ingat itu ternyata. Dia tersenyum, aku suka sekali melihatnya tersenyum. Senyumnya sangat tulus.

Tiba-tiba dia mengenggam tanganku dan menatapku langsung di mataku. Apa dia akan mengatakannya? Mana mungkin dia berani.

”Hyo Jin-ah…”serunya.

Aku mengangguk dan menunggu dia bicara, dia sudah sangat serius, dia terus menatapku. Benarkah dia akan bilang itu. Aigoo akhirnya!aku sudah memasang wajah penuh harap.

”Hyo Jin-ah…”katanya lagi.

”Ne..”jawabku.

Dia terdiam beberapa saat kemudian.

”Kita pulang saja yuk…”serunya sambil tersenyum.

Apa dia Cuma mau bilang pulang! Dasar Jin Ki. Selalu saja seperti itu. Aku langsung cemberut dan berjalan meninggalkannya.

”Ya!Hyo Jin-ah!”serunya sambil berlari mengejarku.

Kukira dia akan bilang menyukaiku atau apalah, aku sudah serius ternyata dia hanya bilang ’ayo kita pulang’ sungguh sangat lucu Jin Ki.

”Hyo Jin-ah…”katanya sambil berjalan disampingku.

”Aku sudah serius begitu kau malah bercanda….padahal aku berharap…”seruku padanya.

”Mianhe…berharap apa?”potongnya.

Aku terus saja berjalan dan dia terus mengikutiku disampingnya.

”Jeongmal mianhe Hyo Jin-ah…aku Cuma ingin bercanda saja habisnya kau serius terus…”katanya lagi sambil tersenyum.

Aku berhenti, benar juga untuk apa aku marah, lagian aku saja yang terlalu berharap padanya. Kau tahu kan Hyo Jin, Jin Ki itu seperti apa orangnya!jadi mana mungkin dia bisa seperti itu. Seruku di dalam hati.

”Mianhe..”katanya lagi sambil tersenyum.

Dan jujur setiap melihat senyumnya pasti aku meleleh deh, habis senyumnya selalu tulus dan ya benar Jin Ki tidak akan pernah menyakiti hatiku jadi dia pasti bercanda.

Hye Jin POV

Sepanjang perjalanan aku masih terdiam mungkin gara-gara ingat kejadian yang dulu. Taemin pun diam sepertinya dia tahu suasana hatiku tidak enak tapi semoga dia tidak salah paham mengira aku marah padanya.

”Sudah mau sore…masih mau melanjutkan?”tanyanya menyadarkanku dari lamunanku.

Benar juga hari sudah sore dan aku belum bilang bahwa aku akan pulang sore tadi aku bilang hanya ingin pergi membeli kamera. Sebaiknya aku pulang, aku sedang tidak bernafsu untuk meledek Hyo Jin.

”Ya…aku lupa aku belum bilang kalau mau pulang sore…kita pulang saja…”seruku

Kami berjalan sampai di halte bis dan kami bertemu Hyo Jin dan Jin Ki Oppa. Hyo Jin sangat terkejut melihat kami, begitupun kami. Ya ampun gawat bagaimana kalau Hyo Jin tahu aku mengikuti mereka seharian ini. Aduh apa yang harus aku lakukan? Aku melirik ke arah Taemin tapi dia terlihat tenang-tenang saja.

”Kalian???”seru Hyo Jin dan Jin Ki Oppa berbarengan.

Aku mencoba tersenyum pada mereka.

”Taem…sedang apa kau disini?” tanya Jin Ki Oppa pada Taemin.

”Pergi kencan…”seru Taemin tersenyum.

”Dengan?”tanya Jin Ki Oppa.

Jin Ki oppa ini hanya menguji atau dia benar-benar tidak tahu. Kenapa dia bertanya seperti itu. Sudah jelas-jelas dia bersamaku berarti Taemin pergi kencan denganku, maksudnya pura-pura pergi kencan.

”Hye Jin…”jawab Taemin.

Hyo Jin memperhatikanku dan mengahmpiriku lalu menarik tanganku menjauhi mereka, kemudian bertanya padaku.

”Benar kau pergi kencan dengannya?”tanyanya.

”Ne…”jawabku.

Jawaban itu lebih baik tidak mungkinkan aku jujur padanya kalau aku mengikutinya.

”Kalau kau?”tanyaku padanya.

Pura-pura sebenarnya. Apakah dia akan jujur padaku atau tidak. Dia diam beberapa saat.

”Jangan ketawa dan jangan bilang pada siapapun di sekolah nanti…aku pergi kencan dengan Jin Ki…”katanya.

Ah dia mengaku juga akhirnya. Aku tertawa melihatnya mengaku.

”Sudah kubilang jangan ketawa…atau kau mau aku ledekkin terus sepanjang malam…”ancamnya.

Selalu mendominasi dan mengancam. Itulah Hyo Jin.

”Arasso…aku tidak akan tertawa asal kau tepati janjimu itu…”jawabku.

”Ne…”serunya

Kami pun bersalaman tanda setuju dan kembali menghampiri mereka.

”Ayo pulang…”seru Hyo Jin.

Kami pun pulang naik bis. Di perjalanan kulihat Taemin yang duduk disampingku terus memperhatikanku dan aku berusaha mengalihkan pandanganku setiap kali kami beradu pandang, dia terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu, aku tahu pasti dia ingin tanya aku kenapa tapi aku tidak bisa cerita sekarang. Aku temenung sepanjang perjalanan hanya melihat keluar jendela. Hyo Jin sepertinya merasakan sesuatu yang berbeda, dia terus saja bertanya tentang keadaaku. Rasanya aku ingin pulang dan tidur. Aku meyandarkan kepalaku dan memejamkan mataku. Tak terasa air mataku turun dan aku merasakan seseorang menghapusnya. Taemin. Dia menyandarkanku di bahunya lagi dan mengusa-usap kepalaku. Ini untuk kedua kalinya aku menangis di bahunya. Gumawo Taemin untuk menjadi tempatku bersandar ketika aku sedih.

TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF