OBSESSION – PART 2

OBSESSION

PART 2

Author: Wiga

Cast    : Lee Jinki, Kim Kibum, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Choi Minho, Shim Yui, Park Nada

Genre  : Sekuel, Friendship, Romance, Mistery, Angst

Rating : NC 17

seoul high school 05.00 pagi..

“ clik.. clik.. clik..”

aku berusaha sekuat tenaga membuka pintu ini dengan kawat kecil di tangan ku. aiisshh, rasanya begitu sulit, namun ini tetap harus aku lakukan.

“ clik.. clik.. clik”

ku putar beberapa kali kearah kanan dan kiri, namun kawat yang kupegang kini macet.

aku paksa putar ke kiri dua kali dan.. Klik!!

pintu nya terbuka.

perlahan aku masuk dan menutup pintunya, kunyalakan sakelar lampu dan seketika ruangan yang gelap menjadi terang benderang.

kuarahkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini.

ditengah ruangan, ada sebuah meja besar dengan 8 kursi yang mengelilinginya, kemudian 1 buah rak buku besar dengan susunan buku yang rapi dan teratur di pojok kiri ruangan, lemari besar di pojok kanan. schedule harian yang ditempel manis pada karton berwarna-warni tergantung di dinding, dispenser kecil di sudut, dua buah komputer beserta printernya, dan satu tempat sampah mungil di belakang pintu.

Ruangan ini sangat tertata dengan baik dan juga bersih, pantas saja Nada ku sering menghabiskan waktunya disini.

jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.10. aku tidak boleh membuang-buang waktu ku. ku keluarkan kamera video mini dari tasku. ku pasang tombol on dan ku letakkan diatas lemari. Appa ku pernah bilang, video recorder ini bisa merekam gambar dan suara dengan kualitas yang bagus selama lebih dari 30 jam.

“ hhh.. hhh…hhh..”

selesai sudah…

**************

Hari ini Nada memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah walaupun kondisinya masih sangat lemah. Perutnya masih terasa sangat sakit jika Ia bergerak. terkadang ia meringis pelan ketika seseorang menyenggolnya.

Nada berjalan tertatih-tatih menuju locker, untuk mengambil laptop dan bekal makan siangnya. hari ini Ia berencana menghabiskan waktu istirahat di ruang club jurnalisnya ketimbang berdesak-desakkan di kantin.

saat Nada membuka pintu locker,Ia terkejut saat menemukan surat yang tergeletak di dalamnya. perlahan Ia mengambil surat itu dan membaca isinya pelan-pelan.

Dear Park Nada..

Aku hanya ingin kau tahu..

Bahwa sakit harus dibalas dengan sakit..

darah harus digantikan dengan darah..

aku pastikan..

lukamu, darahmu dan rasa sakitmu..

mereka pasti akan membayarnya..

saranghae..

baby..

Lagi-lagi Nada terhenyak membaca surat ditangan nya. cepat-cepat Ia buang surat itu ke tempat sampah. Ia buru-buru mengambil laptop dan bekal makan siangnya, lalu berjalan secepat mungkin ke ruang club jurnalistik.

“ Yaa Tuhan, siapa yang terus-terusan mengirimiku surat seperti ini..? dan mengapa orang ini tahu bahwa aku terluka bukan karena terjatuh?? apakah orang ini melihat ku saat hye jun dan kawan-kawannya memukuli aku dibelakang gedung?? tapi mengapa orang ini berbicara tentang balas dendam.. siapa orang ini sebenarnya..” gumam Nada dalam hati.

*****************

di club jurnalistik.

Nada sedang menikmati makan siangnya sambil sesekali mengedit artikel tentang “wawancara singkat dengan Kim Kibum” di laptop nya.

“ ooohhh….” tiba-tiba Nada merintih pelan. perutnya yang memar kembali terasa sangat sakit. Nada menyandarkan punggungya ke kursi, mengusap-usap perutnya agar rasa sakitnya berkurang. Ia mengeluarkan salep penghilang rasa sakit dari kantongnya.

Dengan ragu-ragu Ia menoleh ke kanan dan ke kiri.

“ Pintu dan jendela tertutup rapat..” gumamnya.

Perlahan tangan kirinya membuka kancing seragamnya satu demi satu. sedang tangan kanannya membuka tutup salep itu dengan cepat.

sesekali Ia merintih menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.

Nada baru berhasil membuka tiga kancing teratas nya.. tiba-tiba..

“ BRRAAKK…!! “ Pintu menjeblak terbuka.

“ YAAA!!! BITCH!!! Sudah ku peringatkan kau agar tidak dekat-dekat dengan Lee Jinki, mengapa kamu masih nekat!!” Hye Jun mendadak masuk kedalam ruangan bersama kedua teman yeojanya. berteriak sambil menjambak rambut nada dan menariknya ke belakang.

Nada tidak sempat mengancingkan kembali kemejanya ia hanya menggenggam erat kemejanya agar bagian dadanya tertutup.

“ aahhh… sakit Hye Jun.. ku mohon lepaskan…” rintihnya, air matanya menetes karena tak kuat menahan rasa sakit.

“ Aku tak segan – segan menyiksamu jika kau terus-terusan mendekati Lee Jinki!!” bentak Hye Jin.

“ aku tidak pernah mendekatinya.. aku bersumpah…” kata Nada terisak pelan.

Tiba-tiba Hye Jun mengepalkan tangan nya dan menekan perut Nada dengan tangannya.

“ Ya.. Tuhann.. Hye Jun.. apa yang kamu lakukan?? sakiiiiiiiiit Hye Jun-aa…” Nada menjerit pelan saat Hye Jun menekan tepat di bagian perutnya yang sakit.

“ bagaimana rasanya?? “ kata hye jun sinis.

“ kumohon hye jun.. ss ssakit ss ssekali.. kumohon lepaskan tangan mu,,” kata Nada lemah, tangan nya mulai gemetar.

“ TING.. TONG.. TING.. TONG.. TING..”

tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai.

“ sial…” kata seorang teman hye jun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.

“ Dengar gadis bodoh!! sekali lagi aku melihatmu dekat-dekat dengan Lee Jinki.. kupastikan kau akan berakhir dirumah sakit!! ARASSO!!” Hye Jun menyentakkan kepala Nada kasar, dan langsung berbalik keluar ruangan, diikuti oleh kedua temannya.

Nada mengatupkan kedua tangan di wajahnya, dan mulai menangis, Ia memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran dikelas, Ia memilih untuk menenangkan dirinya di ruangan ini.

Tak seorang pun menyadari bahwa kejadian tersebut telah terekam dengan sempurna di video recorder.

**************

“ hhh… hhh… kamu cantik sekali jagia…”

aku menatap layar komputerku dalam-dalam.

terlihat baby ku sedang menikmati makan siangnya sambil sesekali menatap layar laptopnya.

“ hhh.. hhh.. hhh.. baby…”aku mendekatkan wajahku ke arah layar untuk menegaskan dengan seksama apa yang kulihat.

Nada kembali merintih pelan dan memegangi perutnya.

“ hhh.. hhh… baby, sakitkah rasanya…?? bertahanlah sayang.. “ aku mengusap wajah nada  yang tertera pada layar komputer.

tiba-tiba kulihat Nada mulai membuka kancing kemejanya yang paling atas..

“ baby, apa yang kamu lakukann…”

satu kancing lagi..

“ enggghhhh baby…” aku dapat mendengar dengan jelas, kini suaraku berubah menjadi erangan.

satu kancing lagi, terlihat jelas bra berwarna merah muda yang menutupi kulit putihnya,

“ baby.. don’t stop baby… “

“ hhh.. hhh… hhh..”

aku tak berkedip melihat baby ku.. ..

““ BRRAAKK…!! “

“ YAAA!!! BITCH!!! Sudah ku peringatkan kau agar tidak dekat-dekat dengan Lee Jinki, mengapa kamu masih nekat!!”

tiba-tiba masuk lah tiga yeoja berbadan besar yang tak ku kenal.

salah satu dari mereka mulai berteriak-teriak dan menyiksa Nada dengan kejam.

“ hhh baby.. akhirnya kutemukan mereka yang menyakitimu..”

***************

“ hhh… hhh… hhh…”

“ Pisau, sarung tangan, lakban, tali, dan obat tidur..”

aku memasukkan semua perlengkapan yang ku butuhkan ke dalam tas sekolah ku. akan ku buat mereka menyesal telah menyakiti Nada ku..

“ baby… ini hadiah untuk mu…”

aku mengecup foto nada sekilas sebelum berangkat ke sekolah.

***************

06.00 Seoul High School

“Park Nada..

walaupun aku tahu ini bukan ulang tahun mu..

tapi aku ingin memberimu sebuah kejutan..

aku hanya ingin kau tahu…

aku sangat mencintaimu…

saranghae Park Nada…”

Nada terdiam membaca surat tanpa nama di tangannya.

Ia menghela nafasnya dan kemudian membuang surat itu ketempat sampah.

****************

19.10 Sore..

Atap sekolah..

“ LEPASSSSS!!!!! LEPASKAN AKU!!!!!!” yeoja itu meronta sambil menangis.

“ Tangan ku sakit.. tolong lepaskan aku…” Dia merintih lagi.

aku mengunci kedua tangan nya dibelakang punggungnya, dia tidak bisa berontak lagi..

“ hhh… hhh… Apa saat Nada memohon.. kau melepaskannya..” bisikku ketus. selangkah demi selangkah kuarahkan kaki ku ke tepi gedung ini, sangat menguntungkan, atap gedung ini tidak ada  pembatasnya.

“ tolong.. jangan.. ku mohon.. aku tidak menyakiti Nada, Hye Jun yang melakukannya..” dia mulai menangis.

“ tapi kau tidak menghentikan apa yang dilakukan hye jun kan??” aku sudah tiba di tepian.

“ aku menyesaaaalll.. ku mohon,,,” dia merengek seperti anak kecil.

“ penyesalan mu terlambat.. goodbye..” aku mendorongnya keras.

Kulihat ia terjatuh dan kemudian menghantam tanah.

Darah merembes dari kepalanya..

“ hhh… hhh… selesai satu baby,,”

*****************

19.25 Sore..

Belakang gedung sekolah.

perlahan yeoja itu membuka kedua matanya.

“ mmmmhhh mmmppphhh mmppphhhhh…..” dia berusaha menjerit namun tak ada suara yang keluar karena mulutnya sudah ku plester dengan lakban.

“ Hye Jun…. nama mu tak sebagus sikapmu pada baby ku..” aku mendekatinya.

dia mulai meronta berusaha untuk melepaskan diri, namun sia-sia karena kedua tangan dan kakinya sudah kuikat erat.

“ mmmmppphhhh… mmmppphhhh..” air matanya mengalir keluar.

aku mengusapkan ujung pisau ke pipinya..

“ mengapa menangis.. hhh.. hhh.. hhh..apakah kamu takut kematian??” bisikku pelan.

dia mengangguk pelan.. matanya memohon padaku untuk tidak berbuat macam-macam dengan pisau yang saat ini sedang ku pegang.

“ hhh.. hhh.. hhh..saat Nada menangis, apakah kamu berhenti menyakitinya?? kurasa tidak.. aku tahu semuanya…” kini aku mengarahkan pisau itu ke perutnya.

“ mmmpppphhhh…. mmppphhhhh…. mmmmpppphhhhh” dia mulai menjerit dan meronta-ronta lagi.

“ hhh.. hhh… hhh..sekarang kau harus merasakan apa yang Nada rasakan..” aku berkata dingin.

“ mmmmppphhhh… mmmppphhhh”

“ terima lah BITCH!!!” aku menghunuskan pisau ini di perutnya dan tidak sampai disitu.

ku tarik perlahan pisau itu hingga semua organ dalam perutnya keluar..

gadis itu berhenti bergerak.

tinggal satu lagi, baby..

****************

19.40 sore..

di Toilet Yeoja..

“ apa yang telah kau lakukan pada teman-temanku…tolong lepaskan aku… aku mohon,,,” yeoja itu menangis tersedu-sedu memohon untuk dilepaskan.

“hhh.. hhh.. hhh… apa saat Nada ku memohon pada kalian, kalian mendengarnya?? kalian melepaskannya??” aku berbisik kejam, kemudian tersenyum sinis melihat yeoja itu yang berdiri ketakutan. kakinya berpijak diatas sebuah bangku kecil. sementara itu tangan nya terikat ke belakang.

“ tolong aku.. aku belum mau mati…..” tangisnya makin kencang, kulihat kakinya gemetaran.

“ tapi sayangnya, aku menginginkanmu mati…” aku berkata sambil menendang keras bangku tempat dia berpijak.

bangku itu terjatuh, sehingga yeoja itu tidak punya tempat untuk berpijak. tali yang terjerat dilehernya tertarik erat,kakinya meronta-ronta mencari pijakan.

“ kkkkhhh….” kulihat yeoja itu berusaha berbicara, namun ajal sudah lebih dulu menjemputnya..

“ hhh… hhh… hhh…. selesai sudah..” bisikku tajam. aku memotong tali yang mengikat pergelangan tangannya, lalu kuselipkan bungkusan plastik yang telah kupersiapkan ditangannya dan kuletakkan pisau yang berlumuran darah tepat dibawah kakinya.

**************

Keesokan harinya seluruh surat kabar lokal, menyiarkan berita yang sama:

“ DITEMUKAN TEWAS!! 3 SISWI SEOUL HIGH SCHOOL”

pada jam 22.00 waktu korea , penjaga sekolah telah menemukan jenazah 3 siswi dari sekolah elit SEOUL HIGH SCHOOL (SHS). jenazah pertama teridentifikasi sebagai siswi bernama Kim Sangra , ditemukan di samping gedung dengan kondisi mengenaskan. tulang tengkorak retak dan tulang leher patah, diduga korban dijatuhkan dengan sengaja dari lantai 8 SHS. Kemudian Jenazah kedua yang di identifikasi sebagai Lee Hye Jun di temukan tewas di belakang gedung SHS dengan luka sayatan panjang di sepanjang perutnya. dan siswi terakhir adalah Kang Ri Jin ditemukan tewas bunuh diri ditoilet wanita.

Dugaan sementara dari Kepala Unit Kriminal Seoul Utara adalah adanya motif jual beli kokain. beberapa bukti menyebutkan terdapat beberapa gram kokain yang ditemukan di tangan Kang Ri Jin. Polisi menduga Kang Ri Jin menghabisi nyawa kedua temannya sebelum akhirnya menghabisi nyawanya sendiri… (bersambung ke hal 18)

Nada menjatuhkan koran yang sedang dibacanya. Ia sama sekali tidak percaya bahwa kata-kata yang tertulis disurat tersebut menjadi kenyataan. sambil menahan rasa sakit di perutnya Ia berjalan tergesa-gesa menuju lockernya.

Ia menabrak beberapa siswa yang berjalan berlawanan arah dengan nya, berkali-kali Ia mengucapkan mianhaeyo dengan pelan kepada orang-orang yang ditabraknya.

Kini Ia sudah berada di depan lockernya, dengan sangat perlahan Ia membuka pintu lockernya.

ada satu surat di dalamnya..

Dear Nada…

Bagaimana??

Kamu senang melihat mereka semua mati mengenaskan??

tidak usah berterimakasih kepadaku..

aku seperti ini karena aku ingin selalu melindungimu..

ku harap tak kan ada lagi yang menyakitimu..

Saranghae Jagia..

Saranghae..

ps: aku tahu kau selalu membuang surat dariku, Nada..

“Orang ini benar-benar psycho.. . eotteoke??” bisik Nada cemas.

***********

“ hhh.. hhh… hhh…”

Kulihat Nada terbaring di ruang UKS.

dia tidak bergerak, kurasa dia tertidur..

tanpa menimbulkan suara, ku langkahkan kakiku menuju sisi tempat tidurnya. Ia terlihat sangat cantik saat ia tertidur.

“ hhh.. hhh.. hhh..”

kusibakkan sedikit rambutnya pelan, lalu aku menundukkan kepalaku untuk mengecup keningnya.

“ mmmhhhh…. baby..” bisikku pelan.

aku mulai tidak bisa menahan diriku untuk melakukan hal yang lebih jauh padanya. kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

“ hhh.. hhh.. hhh..”

ini adalah saat-saat yang ku nantikan seumur hidupku, berada disatu ruangan dengan Nada. dengan gadis yang sangat kucintai.

aku bersumpah, aku tidak akan menyia-nyiakan moment ini.

perlahan aku mengusap pipinya dengan ujung jari ku..

“ hhh.. hhh..hhh..”

lalu jari ku turun ke bibir mungilnya, terlintas hasratku untuk menciumnya, melumatnya dan memasukkan lidahku ke dalam nya. namun aku harus sedikit bersabar,,

jika terlalu terburu-buru pasti dia akan terbangun dan berteriak.

aku melanjutkan aktivitas tangan ku, dari bibir Nada, jari-jari ku kini beralih ke lehernya.

ku usap pelan tengkuknya beberapa kali, dan makin lama semakin turun ke dadanya.

“ nnggg…” Baby ku mengerang pelan. wajahnya tampak menikmati semua perlakuanku.

“ hhh.. hhh..hhh..”

aku tidak bisa menahan diriku lagi, kurasakan tubuhku mulai menegang.

aku melepaskan kemeja yang ku kenakan dan membuangnya kesembarang tempat.

udara siang hari yang begitu panas membuat tubuhku berkeringat di beberapa bagian.

kemudian aku mengarahkan tanganku ke kancing kemejanya. dengan sangat perlahan aku membuka kancing kemejanya satu persatu.

“ hhh… baby…” aku mendesah hebat saat aku berhasil membuka seluruh kancing kemejanya. terlihat sebuah bra berwarna biru muda berenda yang menutupi dadanya.

bentuk dada yang sangat indah, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sangat serasi dengan bentuk badannya yang mungil.

perlahan aku mulai naik keatas tempat tidur, mendekap erat tubuhnya. bibirku bergerak disekitar lehernya, menciumi setiap inchi kulit putihnya. semakin lama semakin turun kedadanya. dan..

“ KRIIIIIINNNGGG”

“ hhh… hhh… hhh…”

aku terbangun dari mimpi ku.. mimpi yang sama setiap hari..

“ enngg…” aku mengerang pelan.

tubuhku basah bermandikan keringat,, entahlah.. walaupun hanya mimpi, namun bagiku terasa sangat nyata.

***********

Keesokan harinya Nada tidak menemukan selembar surat pun dilockernya. Ia merasa sedikit lega. ia berjalan pelan menuju ruangan favoritenya, perutnya kini sudah tidak sesakit kemarin.

Ia mengeluarkan kunci ruangan itu dari kantung blazernya, namun alangkah terkejutnya Ia ketika pintu itu langsung terbuka ketika Ia memegang kenopnya.

“ aneh.. mengapa pintunya terbuka, kurasa aku mengunci pintunya kemarin..” desah Nada dalam hatinya.

Perlahan Ia masuk ke dalam,

tak ada yang berubah..

keadaan ruangan itu masih sama seperti saat terakhir kali Ia meninggalkannya.

namun ada satu yang berbeda..

diatas meja terdapat sebuah surat..

Nada membuka surat itu dan membaca isinya.

Dear Park Nada..

aku bisa melihat wajahmu dari tempat dimana aku berada..

aku pun bisa mencium harum tubuhmu..

merasakan lembutnya tangan mu..

aku begitu menginginkan dirimu..

Seutuhnya…

tidak lama lagi Nada…

bersabarlah sebentar lagi..

Saranghae baby..

“ Andwaeeeeeeeee!!!!!!” jerit Nada keras.

*************

19.30 sore

Kelas Intensif

“ Nada.. akhir-akhir ini kulihat kamu banyak melamun.. kamu kenapa?? sakit??” tanya Yui pelan.

“ ngg.. Anniyo.. aku tidak apa-apa..” jawab Nada pelan, Ia terus berusaha mengerjakan soal dibukunya untuk mengalihkan pikirannya tentang surat-surat terror itu.

“ deg”

Tiba-tiba Nada merasakan perasaan aneh yang sering melandanya akhir-akhir ini.

Ia menengok ke belakangnya, Ia merasa seseorang terus memperhatikannya.

Namun dibelakangnya hanya ada Jinki, Taemin, Jonghyun, Kibum dan Minho.

“ Tidak.. tidak mungkin orang yang menerorku adalah salah satu dari mereka.. tak mungkin salah satu dari mereka menyukai ku..” gumamnya pelan.

“ Heyy.. Kamu ngomong apa??” tanya Yui heran melihat Nada menggumam sendiri.

“ eehh.. Anni.. aku.. ngg… tidak ngomong apa-apa…” Nada berusaha mengelak.

“ nada.. kurasa kamu agak kurusan..” kali ini terdengar suara Kibum berujar kencang dari belakang.

“ Mungkin kamu stress, kamu terlalu banyak megambil kegiatan.. anggota klub memasak, ketua klub jurnalistik, belum lagi wakil BK yang kerjaanya sangat banyak..” Jinki ikut bersuara.

“ Hey.. Aku ada ide.. bagaimana kalau minggu depan kita liburan ke paradise island?? appaku punya satu villa disana, letaknya persis di belakang pantai.. bagaimana.. kita bertujuh refreshing??” seru Yui girang.

“ Ide bagus Yui, aku juga lama-lama jenuh dengan aktivitas sekolah..” kata Taemin pelan.

“ ok.. aku ikut..” Minho menimpali.

“ aku sih ayo aja..” kata Jinki.

“ cool, kamu bagaimana nada??” tanya Kibum kepada Nada.

Nada terdiam, Ia berpikir sejenak mungkin dirinya memang butuh refreshing.

“ aku.. ngg.. ikut..” kata nada pada akhirnya.

****************

Nada memasukkan buku-bukunya kedalam tasnya. Ia bergegas untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 24.00 malam. Ia berjalan perlahan menyusuri koridor yang gelap menuju toilet yeoja yang berada di sebelah tangga.

“ kreeek..”

Nada menuju wastafel untuk membasuh mukanya.

“ tok.. tok.. tokk…” terdengar bunyi suara langkah kaki menuju kearahnya. Nada segera membalikkan badannya.

tak ada siapa-siapa disana.

“ hhh, mungkin hanya perasaan ku saja..” bisiknya pelan. kembali ia menunduk untuk membasuh mukanya kembali dengan air yang mengalir dari wastafel.

“ tok.. tok.. tok…” suara langkah itu terdengar lagi, semakin lama semakin jelas.

Nada menoleh kebelakang, namun tak ada sia-siapa.

tiba-tiba tengkuknya terasa dingin..

Nada buru buru memakai tasnya dan segera berjalan keluar.

“ krreeek”

ketika Ia membuka pintu, tiba-tiba muncul sesosok yeoja berwajah pucat, dengan rambut terurai kusut menutupi sebagian wajahnya dan tali melingkar dilehernya, matanya memandang mata Nada nanar. seragam yeoja itu sama seperti seragamnya hanya lebih lusuh.

“ Nadaa.. “ yeoja itu berbisik sambil mengarahkan tangan nya ke arah Nada.

“ Kyaaaaaaaaaaaaa!!!!” Nada berteriak kencang, Ia melangkah mundur menjauhi yeoja itu.

“ kau yang membuat aku mati…” yeoja itu bergerak perlahan mendekati Nada, kedua tangannya mengarah keleher nada.

“ Andwae… bukan aku yang membunuhmu…” bisik Nada pelan, air matanya tumpah, tangan dan kaki nya gemetaran. ia mundur selangkah demi selangkah.

yeoja itu terus bergerak, Ia semakin dekat dengan nada yang kini sudah terpojok di sudut toilet.

“ kau tau..? toilet ini adalah tempat dia membunuhku.. dan sekarang.. kau harus mati disini Nada.. hiii.. hiii.. hiiii…” yeoja itu tertawa melengking, membuat bulu kuduk Nada kembali meremang. Suara lengkingan nya begitu menyeramkan.

“ Dia?? Dia siapa?? siapa yang membunuhmu..” kata Nada terisak, tangan yeoja itu kini sudah berada di depannya. Nada tidak bisa bergerak kemana-mana lagi, tak ada ruang baginya untuk melarikan diri.

“ kau harus mati…!!!!” tangan yeoja itu mencengkeram erat sekeliling leher Nada.

“ Andwaeeeeeeee!!! Andwaeeeeee!!” jerit Nada, Ia berusaha berontak namun yeoja didepannya makin mencengkram erat lehernya.

Nada mulai kehabisan napas.

“ andhhhh…anndhhh…”

“ Kau harus mati bitch…”

“ ANDWAAEEEEEEEE!!!!!!!!”

*************

“ ANDWAAEEEEEEEE!!!!!!!!” Nada menjerit, Ia terbangun dari tidurnya” kedua tangan nya memegangi lehernya, nafasnya terengah-engah, dan air mata mengalir dipipinya.

Ia melihat kesekeliling ruangan, memastikan bahwa ruangan ini adalah kamarnya, bukan toilet yeoja.

“ Ya Tuhaaann.. aku takut.. mimpi itu menyeramkan sekali..” bisik nada sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya dan mulai menangis. Ia dapat merasakan kedua tangan nya bergetar hebat.

jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 01.30 pagi, Namun Nada tak berani untuk memejamkan kedua matanya. Ia takut mimpi buruk itu akan datang lagi jika Ia tertidur.

Perlahan Nada berjalan kemeja belajarnya, Ia menyalakan laptopnya dan mulai mengetik hingga pagi hari.

***************

“ hhh… hhh… hhh…

sebentar lagi baby…

sebentar lagi kau akan menjadi milikku..

utuh…”

***************

TBC

P.S: Adakah yang kaget??? Ada? Ada?? Pasti ada… terkesan buru-buru gak??? Kalo iya.. anda salah ^^

Kan sebentar lagi kita masuk ke bulan Ramadhan, bulan di mana kita harus menahan segala nafsu. Walaupun aku gak ikut menjalankan bulan Ramadhan mohon doakan agar nafsu saia bisa berkurang(?)

Nah.. untuk itu maka FF ini niiihhh.. yang udah masuk ke NC-17 *kayaknya Wiga onn lagi pengen* *Plaakk!!!!!* terpaksa harus berada di dua pilihan.. out sebelum bulan ramadhan atau sesudah lebaran. Kalau out sesudah lebaran kelamaan kalo sebelum ramadhan kecepetan. Tapi cepat lebih baik dari pada kelamaan ^^. Maka dari itu.. dengan ini kami menyatakan bahwa kemerdekaan indonesia (?)

*ralat* Maka dari itu… part ini out sebelum ramadhan.. dan nanti pada hari rabu tanggal 11 Agustus semua FF NC yang ada di sini akan di tiadakan selama satu bulan. Begitu ramadhan barulah semua FF NC ataupun PG 15 kita munculkan kembali daaan… xixixi.. yang merasa ‘doyan’ baca itu pasti sangat bahagia karena eh karena…. Wiga onn bakal publish FF NC setelah lebaran *plakk* wkwkwk.. masih belom yakin juga siihhhh… tapiiiii.. silahkan menunggu saja yak.. kkkk

Sekian dari Ashyta ^o^

Signature

This post/FF has written by Wiga, and has claim by Wiga signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Love You Forever – Part 6

Author:  Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Rate: PG15

Casts:

-Lee Hyojin

-Kim Sora

-Young Mincha

-SHINee

-member DBSK

“Aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacarku?” pinta seorang pria pada gadis yang ada di hadapannya. Tampak gadis itu mengangguk pelan, lalu tersenyum menambah paras ayunya.

“Beneran, nih? Serius? Thanks, ya!!” teriak pria itu yang ternyata adalah Minho.

“Nggak usah teriak-teriak kaleeeee’….,” ucap Sora, sang gadis, dengan pipi bersemu merah.

“Uwaaaah, lucunya! Hehehe….,” kata Minho sambil mencubit pipi Sora dan segera merangkulnya mengajak pergi dari tempat itu. *sebenernya mau bilang pipi tembem Sora, tapi pasti dia ngamuk.*

“Sora, kamu tuh cantik, imut, pinter, kenapa kok mau jadian ama Minho? Dia kan berandal,” ucap salah seorang teman Sora.

“hahaha…. Namanya juga cinta,” jawab Sora sambil tertawa. *makan tuh cinta* *author digorok*

“Sora, aku nggak ngerti ini maksudnya apa,” ujar Sungmin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Akhirnya Sora menjelaskan isi proposal yang ditunjukkan oleh Sungmin kepadanya. Setelah Sungmin benar-benar paham, Sungmin tersenyum puas.

“Oh, begitu ternyata. Hehe….,” ucapnya lalu mengacak rambut Sora dan memeluknya.

“Waaaa…. Sungmiiiiiin…. Rambutku jadi berantakan nih jadinya,” jerit Sora sambil berusaha merapikan rambutnya.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan. Dan mereka terus saja bercanda dengan riang tanpa beban.

“Berani-beraninya dia mendekati Sora. Perlu diberi pelajaran rupanya!” desis pemilik sepasang mata tersebut.

Tiga hari berlalu sejak saat itu, Sungmin tak pernah lagi datang ke sekolah. Desas-desus mengatakan kalau dia pindah dari sekolah tersebut. Tak ada yang mengetahui alasan kepindahannya selain dirinya dan seseorang dan Tuhan, tentu saja.

‘Sungmin kok pindah sih? Jadi sepi deh! Sahabatku ngilang deh satu! Nggak ada kabar pula,’ batin Sora sedih.

Minho yang melihat kekasihnya termenung di pinggir lapangan ingin menghampirinya. Namun beberapa langkah sebelum dia tiba, tampak seorang pria mendekati Sora. Ia pun terpaku di tempat itu tanpa berniat untuk beranjak dari situ.

“Sora! Kok ngelamun sih?” tanya pria tersebut setelah berhasil menyadarkan Sora dari lamunannya.

“Kok, aneh ya, kak?? Sungmin kok pindah nggak pamitan ama aku, sahabatnya?” tanya Sora dengan wajah sendu, lalu merebahkan kepalanya di pundak Park Yoochun, kakak kelasnya.

“Sebenernya oppa tau alasannya, tapi kamu pasti nggak percaya! Aku cuma mau bilang, Sungmin memilih pindah dari sekolah ini karena dia tidak bisa untuk menjauhimu atas perintah seseorang. Siapa orang itu, Aku nggak ada hak untuk mengatakannya padamu, lebih baik kau cari tau sendiri,” kata Yoochun pada Sora.

‘Sial! Dia bisa menjadi penghalang! Nggak peduli dia kakak kelas, aku harus menghajarnya,’ pikir Minho saat itu.

“Sora! Gawat! Minho! Dia ngajak ribut Kak Yoochun *kok gw ngetiknya jadi aneh sendiri y?* !!” seru Ryeowook pada Sora yang sedang termenung di pinggir jendela.

Sora pun segera berlari mengikuti langkah Ryeowook menuju TKP. Di sana, dia bisa melihat, wajah Yoochun yang babak belur akibat pukulan-pukulan dari Minho yang sengaja tidak dibalasnya. Sengaja dibiarkannya adik kelasnya itu melampiaskan semuanya padanya.

“Hentikan!” jerit Sora keras. Minho seakan membatu menyadari kehadiran Sora. Sora melangkah mendekati Minho dan Yoochun. Tanpa ada yang menyangka, Sora mendorong Minho menjauh dari Yoochun, dan membopong Yoochun menuju UKS lalu mengobati luka-luka kakak kelasnya tersebut dengan hati-hati.

“Sora… ja.. ngan.. mena.. ngis,” ucap Yoochun seraya mengusap air mata Sora dengan ibu jarinya.

“Kenapa kakak nggak bales dia tadi? Kenapa kakak diem aja? Paling nggak kan kakak bisa melindungi wajah kakak,” sahut Sora sambil terisak dan membalut luka di tangan Yoochun dengan perban.

“Nggak ada untungnya buat kakak bales dia. Itu nggak akan menyelesaikan masalah. Karena itu kakak diem aja,” jawab Yoochun memaksakan sebuah senyuman.

“Maafin aku, kak! Gara-gara aku, kakak dan Sungmin jadi korban,” ujar Sora sambil membungkukkan badannya sedikit.

“Sudahlah! Ini bukan salahmu, dia saja yang masih kekanakan!” kata Yoochun sambil menepuk kepala Sora pelan.

Sementara itu di lain tempat, Minho merutuk dirinya sendiri.

“Aaaargh, pasti Sora akan membenciku setelah ini!” ucapnya sambil memukulkan tangannya pada tembok putih di belakang sekolah. “Tidak, itu tidak boleh terjadi!”

“Sora, maafkan aku! Aku janji nggak akan ngulangin hal itu lagi,” pinta Minho dengan nada yang terdengar sangat meyakinkan. Sora melihat ke arah kekasihnya itu dengan pandangan ragu.

“Aku janji!” ucap pria itu pasti. Sora pun akhirnya memaafkan Minho dan memberinya kesempatan kedua. Tapi ternyata itu semua hanya janji saja. Karena di belakang Sora, Minho tetap melanggarnya tanpa sepengatahuan Sora. Semua cowok yang dekat dengan Sora, entah teman satu sekolah, kakak kelas, mau pun siswa sekolah lain, pernah dihajar oleh Minho hingga mereka perlahan tapi pasti mulai menjauhi Sora.

Hingga akhirnya, saat pulang dari mini market dekat rumahnya, Sora melihat Taemin, sahabatnya sejak kecil selain Sungmin, dipukuli seorang siswa yang dilihat dari seragamnya, satu sekolah dengan Sora. Sora pun berjalan mendekati mereka.

“Minho?” desis Sora tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang yang memukuli sahabatnya adalah kekasihnya sendiri, Minho. PLAKK…. Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Minho menimbulkan bekas kemerahan.

“Apa yang kamu lakukan, hahh?! Mana janjimu? Pantas belakangan ini aku dikucilkan oleh teman-teman cowok, ternyata kamu penyebabnya! Mulai sekarang kita putus! Jangan ganggu aku lagi!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sora menghampiri Taemin yang terkapar karena ulah Minho.

“Aku ngelakuin semua ini karena aku sayang sama kamu! Aku~” ucapan Minho terputus karena dipotong oleh Sora.

“Kalo kamu sayang sama aku, kamu nggak bakal nyakitin aku! Aku nyaris nggak punya temen gara-gara kamu! Itu yang kamu bilang sayang?? Dan saat sahabatku ini baru pulang dari kanada, kamu malah menghajarnya??! Kamu hampir menghancurkan persahabatan kami!” teriak Sora sambil menepis tangan Minho yang berusaha menyentuhnya. Setelah itu, Sora berlalu dari tempat itu dengan memapah Taemin menuju rumahnya (rumah Sora, rumah Taemin kan ceritanya di kanada) tanpa mempedulikan Minho yang berteriak frustasi di belakangnya.

“Sora? Taemin kenapa? Bawa ke kamarku aja,” seru Key begitu membukakan pintu untuk Sora.

“Minho,” jawab Sora dingin, singkat, dan kurang jelas sih sebenernya, tapi cukup membuat Key paham. *Petakk*

“Kak, aku udah nggak kuat. Teman-temanku semua menjauhiku! Aku nggak punya teman di sini! Tapi ayah dan ibu jelas nggak bakal bolehin aku pindah sendirian. Aku harus gimana, kak?” ucap Sora pada Key di kamar Sora, setelah mereka membiarkan Taemin istirahat di kamar Key setelah diobati.

“Kamu yang sabar, ya! Orang tua kita harus tahu hal ini! Bukan maksud lapor, tapi siapa tahu mereka bisa memberikan jalan keluar,” jawab Key lembut.

Setelah mereka menceritakan semuanya pada orang tua mereka dengan Taemin sebagai bukti, akhirnya orang tua mereka memutuskan untuk pindah dari kota itu mengurus perusahaan mereka yang ada di kota lain, sedangkan Taemin kembali ke kanada.

Di sekolah Sora yang baru tidak ada seorang pun yang tahu tentang masa lalu Sora, selain Key, tentunya. Tapi Sora tetap saja takut akan bayangan Minho yang masih menghantuinya hingga menyebabkan dia mulai menjaga jarak terhadap semua cowok di sekitarnya kecuali Key, kakaknya. Dan tanpa sadar tidak mau tersentuh oleh mereka sedikit pun. Dia takut Minho mengawasinya dari jauh dan akan menghajar teman-teman barunya itu.

~~~

“Kyaaaaaaa……….,” jerit Sora saat merasa ada yang menyentuhnya di saat dia teringat masa lalunya yang kelam yang ingin dia kubur dalam-dalam.

“Hehh…. Tereak-tereak!! Masih pagi nih, udah ngelamun aja, dasar!” kata sebuah suara yang tampaknya masih kaget dengan jeritan Sora. Merasa mengenal suara tersebut Sora langsung menoleh dan segera memeluknya begitu menyadari Mincha yang ada di kamarnya sekarang, bersama dengan Onew.

“Hikz, Kak! Kenapa dia harus muncul lagi? Aku udah mulai bisa melupakannya, kenapa harus muncul lagi?? Gara-gara dia aku jadi terkesan menghindar dari teman-teman kita yang cowok. Hikz,” curhat Sora sambil terisak. Mincha menoleh ke arah Onew dan mengatakan untuk tunggu di luar. Dia akan menenangkan gadis kecil, sahabatnya itu.

“Sssshh, sudahlah! Udah cantik gini, kok nangis! Ayo, kita ke rumah Hyojin dulu, di sana baru kita akan berusaha mencari jalan keluarnya bersama! Hyojin sudah memintaku untuk memaksamu datang walau cuma sebentar! Ayo,” paksa Mincha sambil menarik tangan Sora agar berdiri.

Sementara itu di rumah Hyojin.

“Hyoooo, bentar lagi mereka datang!” teriak Key dari ruang santai.

“Iya, ini aku masih buatin minum untuk kita semua!” jawab Hyojin sambil berteriak juga.

“Hehh!! Kalian ini! Ini masih pagi, jangan teriak-teriak! Aku masih ngantuk,” ucap Jonghyun kesal sambil keluar dari kamar tamu.

“Kak, mandi dulu! Teman-temanku bentar lagi datang,” perintah Hyojin galak pada Jonghyun.

Jonghyun hanya menggumam tak jelas menanggapi perintah Hyojin lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya.

“Hai, Sora! Apa kabar? Oh, iya kata kakakmu yang gila ini, kamu ada janji dengan seseorang ya? Siapa??” tanya Hyojin bertubi-tubi begitu Mincha, Sora, dan Onew baru saja masuk ke dalam rumahnya.

“STOP!! Hyo! Aku bingung mo jawab yang mana??” Sora menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang masih akan terlontar.

“Kabar baik, udah agak mendingan lah. Nanti aku ada janji dengan sahabatku dulu. Key juga kenal kok,” jawab Sora cepat melihat wajah Hyojin yang cemberut.

“Siapa??” tanya Key yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Sora.

“Taemin,” jawab Sora singkat.

“Hahh?? Ngapain dia ke sini? Kok nggak bilang aku sih?” tanya Key cerewet. Sora hanya bisa merutuk dalam hati. Kenapa dia punya kakak dan sahabat seperti Key dan Hyojin?? Sama-sama cerewetnya.

“Dia pindah ke sini, tapi papi maminya tetep di Kanada sana! Dia di sini numpang di rumah kita! Makanya aku janji mau jemput dia, kakakku sayaaaang,” jawab Sora.

“Jam berapa emang pesawatnya dateng?” tanya Mincha pelan.

“2 jam lagi.. Aku jemput dia sendirian nggak apa kok, naik taxi.. Hehe…,” ucap Sora terkekeh sambil garuk-garuk kepala, padahal dalem hati berharap ada yang mau nganterin dia.

“Kuanterin… Pokoknya kakak antar, kakak temenin… Ntar kalo tau-tau si Minho itu datengin kamu gimana?” kata Key khawatir.

“Tunggu.. Tunggu.. Minho kamu bilang? Apa Choi Minho?” tanya Mincha hati-hati.

“Kamu kok bisa kenal sama dia? Emank dia siapamu, Cha?” tanya Key balik, menyiratkan kalo itu memang Minho yang dia maksud. Sora yang juga penasaran memandang Mincha minta penjelasan.

“Apa benar dia sekasar itu? Teganya dia menyakiti sahabatku! Awas aja besok kalo dia ke rumah, kulabrak habis-habisan,” Mincha seolah bicara pada dirinya sendiri. Yang lain hanya memandangnya heran.

“Cha, apa dia Minho yang di telepon kemaren?” tanya Onew sambil menyentuh pundak Mincha pelan. Dan hanya dijawab dengan anggukan. “Jadi dia sepupumu?” tanya Onew lagi dan lagi-lagi dijawab dengan anggukan lemah oleh Mincha.

“Nanti kita bicarakan lagi! Sekarang aku dan Sora akan menjemput Taemin dulu! Nanti kuajak dia kemari,” pamit Key lalu menarik tangan Sora untuk cepat pergi.

Setelah kedua kakak beradik itu pergi, Hyojin beranjak menuju kamar tamu meninggalkan Mincha yang masih shock dan Onew yang sibuk menenangkannya di base camp mereka, lalu kembali lagi dengan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Jonghyun.

“Onew, Mincha! Ada yang ingin aku kenalkan pada kalian,” ucap Hyojin membuat Onew dan Mincha mendongak menatapnya.

“Jinki?”/”Jonghyun?” pekik Onew dan Jonghyun bersamaan membuat Mincha bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya pria itu?

“Kamu kok bisa ada di sini?” tanya Onew pada Jonghyun.

“Liburan lah! Kamu ndiry? Pindah ke sini langsung punya pacar?? Hmm?” goda Jonghyun membuat pipi Onew bersemu merah. *Mincha kan masih bingung, jadi nggak ikutan malu*

“Yeee, sebelum aku pindah ke Seoul dulu itu juga aku udah ngincer dia! Maunya sih dulu tuh kujadiin pacar, ternyata ortuku nyuruh aku pindah. Jadi sekarang aku balik lagi ke sini yaaa jadian ma dia. Hehehe,” jelas Onew lalu menggenggam tangan Mincha yang masih nggak connect juga.

“Kak, kenalin! Ini Mincha! Cha, ini Jonghyun, temen mainku dari kecil! Dia lagi liburan ke sini,” Hyojin berinisiatif mengenalkan Mincha dan Jonghyun karena menyadari bahwa Onew nggak cepat mengenalkan mereka berdua.

“Salam kenal!” ucap Jonghyun yang dibalas dengan anggukan sekilas oleh Mincha.

“Aku permisi ke depan dulu sebentar,” pamit Mincha pada semua yang ada di situ.

“Halo! Minho! Besok siang pulang sekolah, aku tunggu di tempat biasa! Aku mau bicara penting!” ucap Mincha tanpa menyadari kehadiran Hyojin di belakangnya.

“Mau bicara apa? Nanti sore aja aku ke rumahmu!” terdengar samar suara di telepon menjawab.

“Aku mau bicara penting. Tentang Sora!”ucap Mincha tegas.

“Ka… kamu kenal Sora? Nanti sore aja aku ke rumahmu. Akan kujelaskan semuanya.”

“Nanti sore, aku akan menemani Sora di rumahnya, karena kakaknya akan menginap di rumah pacarnya. Jangan macam-macam kamu,” tolak Mincha penuh ancaman.

“Ya ya ya…. Baiklah! Sepertinya dia sudah menceritakannnya padamu~”

“Besok. Tempat biasa.” potong Mincha langsung memutuskan sambungan.

“Cha!” seseorang menepuk pundaknya, membuatnya terlonjak kaget.

“Eh, Hyo! Sudah dari tadi?” tanya Mincha tergagap. Gawat, berarti dia tau janjiku.

“Udaaah, nggak usah kamu tutup-tutupin. Kamu juga kan perlu dengar pengakuan dari sepupumu itu. Sora nggak perlu tau, aku nggak bakal bilang pada yang lainnya. Sekarang ayo, masuk! Barusan Key telpon, dia bilang, mereka bentar lagi sampai,” ajak Hyo pada Mincha yang sudah pucat saja membayangkan Hyojin akan marah padanya.

“Cha? Wajahmu kok pucat gitu? Kuantar pulang ya?” tanya Onew khawatir.

***

Mincha POV~

“Cha? Wajahmu kok pucat gitu? Kuantar pulang ya?” tanya Onew khawatir.

Aku menggeleng lemah. Sejak kemarin aku belum makan, masih tak percaya saja kalo pria yang kunanti selama ini telah datang di hadapanku, resmi sebagai kekasihku. Dan sekarang kurasakan kepalaku semakin sakit. Tiba-tiba kurasakan semuanya gelap.

“Untuk sementara ini, dia tidak apa-apa. Dia hanya kurang istirahat dan banyak pikiran. Kalo bisa jaga dia baik-baik,” samar-samar terdengar suara seseorang yang asing bagiku.

“Terima kasih, dok!” kata sebuah suara yang kuyakini milik Hyojin.

“Tak apa. Ini sudah tugas saya. Mari, saya permisi dulu,” ucapnya lagi.

Perlahan kubuka kedua mataku. Rasanya berat sekali. “Nghh…” rintihku.

“Cha? Akhirnya, kamu sadar,” ujar Onew yang ternyata terus ada di sisiku dari tadi. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Kudapati Onew, Hyojin, Jonghyun, Key, Sora dan seorang lagi yang aku tak tau namanya.

“Aku kenapa?” tanyaku bingung sambil memegang kepalaku, menyangganya dengan tangan kiriku.

“Kamu tadi pingsan, kata dokter kamu kurang istirahat,” jawab Hyojin lalu menggenggam tanganku, memberiku semangat.

“Kuantar pulang ya! Nggak usah menginap di rumah Sora dulu. Kan sudah ada Key dan Taemin yang menjaganya,” tawar Onew padaku.

“Taemin? Siapa?” tanyaku lagi.

“Nih, Taemin,” jawab Sora seraya menggandeng Taemin mendekat ke arahku.

“Loh? Sora, bukannya kamu~”

“Anti cowok? Dia sahabatku dari kecil, ga mungkin aku anti ama dia! Besok aku jelasin deh, sekarang kakak pulang aja dulu! Istirahat yang banyak biar besok bisa masuk sekolah,” potong Sora.

“Lalu Hyojin, bagaimana?” tanyaku masih loading.

“Kan ada Jonghyun, sayaaaaang,” kali ini Onew yang menjawab,”Ayo, pulang!”

“Heh! Mau anter Mincha naek apa, kamu? Nggak ada cerita! Ku antar kalian berdua,” ujar Key lalu dengan cepat mengeluarkan kembarannya (*Baca: Kunci).

“Loh? Loh? Kenapa nih adekku tersayang?” tanya seorang pria dari depan pintu, begitu melihatku dipapah oleh Onew dan Key dengan wajah yang pucat.

“Kak, aku pulang ya! Cuma nganter Mincha aja. Mari,” pamit Key setelah menyerahkanku pada Yoochun, kakakku. “Istirahat, Cha!” ujarnya sebelum benar-benar menghilang masuk ke dalam mobilnya.

“Kamu kenapa, Cha? Kok pucet banget?” tanya Bang Yoochun khawatir.

“Nggak apa, kak! Kemaren aku mau makan, nungguin kakak nggak pulang, jadinya belum makan deh ampe sekarang. Mungkin karena itu,” jawabku jujur.

“Cha! Aku pulang aja, ya! Lagipula sudah ada kakak kamu! Istirahat yang bener,” ucap Onew lalu mengecup keningku lembut yang sukses membuat pipiku bersemu merah. Karena dia melakukannya di depan Yoochun yang shock melihat adeknya dicium di hadapannya. “Kak, aku pamit ya! Titip Mincha!” ucapnya pada kakakku lalu beranjak dari rumahku.

“Siapa? Siapa itu tadi? Berani-beraninya~” omelan Yoochun terputus saat kuusap tangannya pelan.

“Sudahlah kak! Nggak apa-apa! Dia yang kemaren nemenin aku pas kakak nggak ada di rumah,” kataku dengan wajah cemberut.

“Ah, maaf, Cha! Kemaren itu, kakak ngerjaen tugas di rumah temen kakak. Jadi sekalian nginap di sana deh! Maaf, ya!” pintanya dengan wajah menyesal.

“Ya ya ya…. Kumaafkan! Tapi suapin maem dulu,” pintaku manja.

“Haaa?? Nggak ada makanan, Cha!” ucapnya memelas. Tapi aku bersikap seolah tak peduli. “Iya,, iya! Kuambilkan sereal di dapur,” katanya akhirnya membuatku tersenyum penuh kemenangan.

“Itu tadi siapa sih, Cha?” tanya Yoochun sambil menyuapiku sereal yang baru diambilnya.

“Menurut kakak?” tanyaku balik setelah berhasil menelan sereal itu.

“Sebenernya sih, kakak mau jawab pacar kamu. Tapi bukannya selama ini kamu bilang nggak mau pacaran dulu?” balasnya.

“Dia itu cowok yang aku ceritakan dulu. Sekarang dia udah balik dari Seoul demi aku. So, dia pacarku sekarang,” jawabku tenang tapi ternyata malah membuat kakakku itu melotot kaget. “Apaan sih? Serem tauk!” ucapku sambil mencubit pipinya,

“Hah?? Serius?” tanyanya lagi. Perasaan kebanyakan tanya deh nih orang.

“Apanya? Kalo wajah kakak nyeremin? Iya! Serem banget,” jawabku asal yang menyebabkan aku mendapat pukulan telak di kepalaku membuatku meringis sakit.

“Sembarangan aja! Cakep-cakep gini dibilang nyeremin! Kakak tuh nanyanya serius, kamu udah punya pacar??” tanya si abang.

“Ih! Napa sih emang? Nggak usah shock gitu, coba!” kataku kesal.

“Akhirnyaaaa…. Adekku punya cowok juga! Kemaren-kemaren aku sempet ngira kamu nggak normal, nggak mau punya pacar,tap~” belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, aku sudah menghujaninya dengan cubitan-cubitan kecil di sekujur tubuhnya. Tak kupedulikan teriakan kesakitannya sampai akhirnya dia berhasil menangkap kedua tanganku sehingga aku tak bisa berkutik lagi. Aku memanyunkan bibirku sebal.

“Udah! Sekarang kamu tidur aja dulu! Teman-teman kakak bentar lagi datang, mau ngelanjutin tugas besar,” katanya lalu merebahkanku di ranjangku yang empuk dan menyelimutiku lalu menyerahkan boneka keroppi besar kesukaanku setelah itu keluar dari kamarku untuk menyambut teman-temannya.

Kupejamkan kedua mataku dan aku mulai memimpikan kenangan-kenangan masa lalu hingga akhirnya aku bermimpi Onew akan pergi meninggalkanku lagi.

“Onew…. Onew….,” desisku dalam mimpiku.

“Oneeeeeew, jangan tinggalin aku lagiii!” teriakku hingga akhirnya aku terbangun dengan wajah penuh dengan keringat.

BRAKK!

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar dan kakakku dan teman-temannya masuk ke dalam kamarku. Yoochun langsung menghampiriku dan segera memelukku menenangkanku. Aku terisak dalam pelukannya.

“Ssshh, tenanglah! Kamu mimpi apa, sih? Kakak ampe kaget!” katanya sambil mengusap lembut punggungku.

“Hikz, Onew mana? Aku mau ketemu Onew!” kataku lirih. Saat Yoochun akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, hapeku berbunyi menandakan telepon masuk. Aku segera mengangkatnya begitu melihat nama yang tertera di layar hapeku.

“Halo! Onew?” ucapku cepat.

“Halo? Cha? Kamu kenapa? Perasaanku nggak enak!”

“Aku…. Aku…. Kamu…. Hikz…,” ucapku terbata-bata nggak jelas.

“Kamu nangis? Kenapa? Aku ke sana sekarang!”

Kemudian sambungan terputus sebelum aku sempat mengiyakan.

“Kamu istirahat dulu, ya!” Aku dapat melihat kecemasan yang terpancar dari wajah Yoochun.

“Iya! Wajahmu udah pucat banget! Hehh, Yoochun! Ambil air buat mengompres adikmu,” perintah salah seorang teman Yoochun yang kutahu bernama Jaejoong.

Saat Yoochun pergi mengambil air kompresan, dapat kurasakan tubuhku menggigil hebat. Aku kembali mengigau menyebut nama Onew terus menerus. Yunho, Jaejoong, Junsu, dan Changmin bingung melihatku seperti ini. Tiba-tiba aku merasakan kehangatan menyelimuti tubuhku, ingin kubuka kedua mataku untuk melihat apa itu, namun rasanya berat sekali.

“Tenanglah, aku sudah di sini!” ucap seseorang menenangkanku.

“Onew?!” ucapku lirih nyaris tak terdengar.

“Ya ampun! Cha! Demammu tinggi sekali!” ucap suara itu lagi dengan panik setelah kurasakan sebuah tangan menyentuh keningku. “Kamu tidur aja, ya, Cha! Aku di sini kok!” lanjut Onew lalu menggenggam tanganku dengan erat lalu mengecup punggung tanganku.

Akhirnya aku pun terlelap kembali, dan sempat mendengar bisikan-bisikan kecil sebelum akhirnya benar-benar senyap.

***

TBC

Maaf yeeee, Tambah nggak nyambung lagi, part yang ini. Kkkk…… Author lagi bener-bener stress tingkat tinggi….

Freelance author

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF