HEART

Main cast: Minho, Ryeowook.
Support cast: Taemin, Onew

***

Langit itu, kelak akan selalu ku pandangi setiap aku merindukan seseorang yang sekarang ada di sampingku ini…
Sekarang masih ada banyak waktu untuk ku genggam tangannya dengan erat…
Biarkan aku melupakan sejenak kesepian yang akan
Membuat ku menangis kelak….
Tuhan…
Kelak apa bisa aku harus hidup tanpa orang yang sekarang ada di sampingku ini…?

“Ri rin…”
“mmm..”. Aku menjawab sekenanya
“apa kau masih mengingat janjimu padaku?”
“Nee…”. Kumohon jangan bertanya apa.
“Apa kau bisa mengatakannya?. Aku takut kau lupa.”. Dia menoleh kebelakang.

Seperti biasa, pagi ini aku mengajaknya jalan-jalan ditaman rumah sakit. Aku adalah seorang suster dan laki-laki yang sedang duduk dikursi roda ini adalah tunanganku, dia bernama Wooki. Aku terus mendorong kursi rodanya dan diam tidak mempedulikan pertanyaan bodohnya lagi.
Aaaahh mana mungkin aku lupa jika kamu terus mengingatkannya. Dia memandangiku lagi dengan matanya yang semakin sayu, ada lingkar hitam dibawahnya. Kulihat wajahnya semakin pucat di setiap hari yang kita habiskan.
Dia masih memandangiku yang lama terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Tangannya memeluk tanganku hangat kemudian menggenggamnya semakin erat.
“Mmmm.. aku janji aku akan bahagia dan tersenyum melihatmu kelak diatas sana..”. Jawabku mengalah.
“Gomawoo..”. Dia kembali menatap kedepan. “Gomawooo..”.katanya lagi, aah suaranya semakin pelan saja, aku takut suara itu takkan kudengar lagi.
Aku berhenti dikursi panjang dan duduk dihadapannya.
Tuhan, mianhae jika aku tidak bisa menepati janjiku ini padanya. Kau juga pasti tahu kelak aku akan bagaimana jika dia tidak ada disini lagi.
“Ri rin…”. Dia memecahkan keheningan yang terjadi.
“Nee..” aku tersenyum kecut.
“Saranghaeyoo..”. Wajahnya terlihat tanpa expresi .
“Kalimat itu sudah kudengar ribuan kali. Tenanglah Oppa.. aku tahu kau mencintaiku.” Aku berusaha menghiburnya.
“Anniyoo.. kupastikan suatu saat kau akan merindukan kata ini dari mulutku..”. Dia tersenyum menggodaku.
“Oppa.. berhentilah bercanda ! kau harus berusaha untuk hidup! Aku yakin kau akan sembuh ..” katakku agak keras. Aku selalu merasa kesal jika putus asanya sudah kambuh seperti ini.
Dia diam .Mulutnya tak bergerak lagi. Matanya menatap kosong. Aku takut apa dia tersinggung dengan perkataanku barusan?.
“Oppa mianhae..”. Ucapku lirih. Aku menarik tangannya.
“Gwenchana.. Oh.. ya.. kau sudah mengecek pasienmuh itu..?”. Expresinya berubah, dia tersenyum tulus. Aku tahu dia ingin mengalihkan pembicaraan.
“Pasien yang mana?”. Tanyaku bingung. Pagi ini aku memang harus memeriksa beberapa pasien.
“Pasienmuh itu..”. Wooki Oppa menunjuk sesuatu dibelakangku. Aku menoleh kebelakang dan menangkap Minho berjalan kekamarnya dengan selang infuse yang masih menempel ditangan kirinya.
Heuuhh.. dia lagi, dia adalah pasien paling menyebalkan dirumah sakit ini, tapi aku merasa kasihan dengan penyakit yang dia derita. Kanker hati! Sudah stadium tiga. Aku harap dia menemukan pendonor hati untuknya karena itulah satu-satunya harapan untuk bisa tetap hidup.
“Ooh Minho.. nanti saja.. aku tidak ingin cepat-cepat memeriksa pasien yang menjengkelkan itu.. “. Dengusku kesal.
“Wae..? dia juga pasienmu juga kan?”.
“Nee.. aku tahu.. tapi aku malas memeriksanya Oppa.. Dia egois! Sok kuat. Sudah tahu sedang sakit tapi masih pura-pura tidak memerlukan bantuanku… !!>,<”
Oppa menghela nafas panjang, kemudian mengacak-acak rambutku. “Kelak jika kau merindukanku, datanglah padanya dan kau akan menemukan sesuatu milikku ada dalam dirinya..”
“Maksudmu?”. Aku sangat bingung.
“Sebentar lagi kau akan tahu suster cantiikk..”. Dia mencubit pipiku keras.
“Kau ini pasti sedang pura-pura sakit! Kalau kau benar-benar sakit kau pasti tak bisa mencubit pipiku sekeras ini..” Aku mengusap-usap kedua pipiku yang panas.
“Haahaa.. sudahlah sanah..! kau harus memeriksanya! Apalagi katamu kemarin dia habis Kemo..”. Wooki Oppa tersenyum manis. Aku baru tahu dia mempunyai senyuman semanis itu. Padahal kami sudah berpacaran dua tahun lebih. AAhh.. andaikan penyakit itu tidak menggerogotinya pasti sekarang kami sedang sibuk menyiapkan sesuatu untuk pernikahan kami.
Aku membalas senyumannya. “Nee.. tapi aku temani kau kekamar ya..”. Bujukku. Entahlah akhir-akhir ini aku tidak mau melepaskannya sedetikpun. Aku selalu menginap dirumah sakit untuk menjaganya.
“Anniyyooo..aku bisa sendiri kok! Nanti bagaimana omongan suster-suster yang lain jika terus terusan kau yang mengurusi pasien setampanku ini! Mereka semua pasti cemburu!..” dia memainkan matanya.
“Kauu inii..! tapi mereka kan tahu kalau kau tunanganku!”. Seruku tak mau kalah.
“Sudahlah aku tidak apa-apa kau tinggal sendiri.. nanti jika aku memerlukan bantuan aku akan memintanya ke suster yang lain..”. Dia meyakinkanku.
“Ya.. sudah.. kau harus janji jika kau perlu bantuan.. panggil aku atau suster yang lain ya..?”. Tanyaku masih khawatir.
“Nee.. kau juga harus janji..”
“Janji? Apa?”
“Janji untuk bahagia saat aku melihatmu diatas sana..”
Aaahh janji itu lagi. Aku meninggalkannya setelah terpakasa mengangguk.

Aku masuk ke kamar Minho dengan beberapa obat yang telah kubawa. Tapi aku tidak menemukannya di tempat tidur. Pasti dia sedang ada dikamar mandi karena tadi aku benr-benar melihatnya masuk kekamar.
“Minhoo.. kau ada didalam?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban.
“Minhoo..”. aku memanggilnya lagi.
“Aku ada disini”.
“Kau ada didalam..?”. tanyaku memastikan.
“Nee.. huueekk… aarrgghhtt..”
Wajahku menegang. Dia terlihat sedang kesakitan, ini pasti karena efek Kemoterapy itu.
“Gwenchana..?” aku belum berani membuka pintu.
“Gwenchanayoo.. pergilah..!”
“Minho? Kau benar benar tak apa?”
Diam sejenak. “Pergilah! Aku benar tidak apa-apa.. aku hanya.. huekk.. mual sedikit…”.
“kau kira aku bodoh! Aku sudah dua tahun lebih menjadi seorang suster. Aku tahu keadaanmu sekarang! Kau harus cepat ditangani…!”. Seruku agak teriak berharap pasien egois ini mendengarnya.
Tidak ada respon dari dalam. Aku semakin khawatir dan memutuskan untuk membukanya.
“Minhoo! Dasar bodoh!kau ingin mati..? kau sedang sekarat! Penyakitmu sedang kumat, kau masih mempunyai kesempatan untuk hidup!”. Aku mencercanya habis-habissan. Aku menemukannya sedang terpuruk di salah satu dinding kamar mandi. Wajahnya sangat pucat, keringat dingin mengalir dikening dan dahinya. Dia berupaya bangkit tapi sia sia.
“Pergi..!”. Serunya lemah. Tangan kanannya memegang erat perut bagian bawah kanan. Penyakitnya benar-benar sedang kumat.
“Diamlah..! aku seorang suster yang harus membantumu! Simpan dulu sifat egoismu itu!”
“Ku bilang pergi ri riin..!” dia berusaha membentakku tapi aku tidak peduli, aku terus saja masuk dan berusaha memapahnya keluar dari kamar madi. “Uhhukk…hueekk..”. Darah segar keluar dari mulutnya.
“Aku bisa sendiri”. Dia masih mempertahankan sifat egonya.
“Terserah apa katamu! Aku hanya menjalankan tugasku sebagai suster.Jika kamu mati aku pasti harus tanggung jawab karena membiarkanmu seperti ini..!”
Setelah berusaha payah, akhirnya aku berhasil membawa Minho ketempat tidurnya dan membaringkannya.
Belum satu menit dia berbaring, mendadak dia merasakan mual yang amat sangat. Tangan kanannya menutup mulutnya erat dan tangan kirinya terus memeras perut.
“Jangan ditahan! Kau harus mengeluarkannya!” aku memberinya wadah untuk dia muntahkan.
Dia muntah hebat. Darah terus keluar dari mulutnya. Wajahnya terlihat lelah, keringat membasahi semua badannya. Tangan kiriku memegang wadah itu dan tangan Kananku memijit tekuknya, itulah yang sering Umma lakukan jika aku sedang masuk angin, tapi ini ceritanya lain. Yang dia muntahkan adalah darah. Aku sadar ada yang tidak beres dengannya. Aku harus memanggil dokter. Kuputuskan meninggalkannya sendiri untuk mencari dokter karena aku hanya seorang suster yang tidak tahu benar dengan penyakitnya.
“Brruukkk”.
Aku menubruk seseorang dikoridor rumah sakit saat sedang lari menuju ruang dokter.
“Ri chan.. ada apa? Sepertinya kau sedang buru-buru?” aku heran melihat temanku itu lari membawa alat-alat medis mengikuti dokter Taemin yang sudah lebih dulu lari.
“Wooki..wookii..wookii Ri riin..”. Ri Chan berusaha mengatur nafasnya
Aaah kenapa dengan tunanganku itu. Keringat dingin mulai menyergap tubuhku.
“Waeyoo? Ada apa dengannya?”
“Dia sedang sekarat aku dan Dokter Taemin sedang berusaha membantunya bernafas, dia terlihat sesak nafas. Mungkin penyakitnya kumat. Aahh sudahlah aku harus cepat-cepat!”
Ri Chan kembali lari meninggalkanku yang diam ditempat. Tuhan.. bagaimana ini?. Sekarang aku ingin ada disampingnya tapi bagaimana dengan Minho?. Aaah sudahlah Wooki sedang ditangani, aku harus mencari dokter untuk menangani Minho.
Aku berlari menuju kamar Minho dengan dokter Onew sambil membawa peralatan medis yang harus dibawa.
“Minho harus segera di operasi..”. Ucap dokter Onew setelah memriksa Minho yang tertidur karena diberi obat bius.
“Nee.. tapi Dok apakah sudah ada pendonor hatinya?”
“Yaa.. Minho adalah pasien yang beruntung, dia sudah mempunyai pendonor itu..”
Syukurlah! Dia memang beruntung. Andaikan Wooki seberuntung dia. Aaahh aku pasti bahagia. Oo iyaa.. kenapa aku bisa sepabo ini, bagaimana sekarang keaadaan Wooki. Aku segera mohon ijin untuk keluar kamar pada dokter Onew.

Hatiku benar-benar tidak akan tenang jika belum melihat Wooki.
Aku berlari kekamarnya, kemudian aku menemukan Ri Chan baru keluar dari kamar Wooki.
“Bagaimana?”
Ri Chan mengelengkan kepala.
“Maksudnya?”. Jantungku terasa berdegup kencang.
Tak ada harapan lagi. Sebentar lagi dia akan meninggalkan kita.
Seketika aku kehilangan tenaga untuk berdiri. Aku terjatuh dilantai. Oppa…
Ri Chan duduk disampingku.
“Ri riin…”. Tubuhku dirangkul kedalam pelukannya. Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Apa hanya berakhir seperti ini?. Singkat sekali. Kukira ini semua takkan terjadi. Oppa hanya bercanda akan meninggalkanku. Dia tidak mungkin meninggalkanku.
Tubuhku bergetar menahan tangis. AAhh.. kenapa kau akan benar-benar pergi..
“Wooki Oppa akan segera menjalani operasi..”
“Operasi?”. Aku melepaskan pelukan Ri Chan “Operasi apa?”
“dia bilang ingin mendonorkan Hatinya untuk seseorang.”
“Nugu?”. Tanyaku cepat
“Minho..”
Aku menggelengkan kepala. “Anniyoo tidak mungkin.. tidak mungkin Oppa melakukannya..kau pasti salah dengar Ri Chan..”
“Anniyoo Ri Riin.. kau tahu apa alasannya?”
Sekali lagi aku menggelengkan kepala.
“Karena dia bilang tidak mau meninggalkanmu sepenuhnya. Dia mau hatinya masih bisa kau sentuh didunia ini. Hati Wooki Oppa yang selama ini dia pakai untuk menyayangimu.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. “Kenapa bisa seperti ini?”
Ri Chan mengajakku menghampiri Oppa dengan alat-alat yang masih menempel ditubuhnya. Dia tersenyum melihatku.
“Bagaimana keadaanmu..?”. tanyaku lirih.
Tangannya perlahan mendarat dipipiku. Aaahh.. pipiku terasa hangat, dia menghapus air mataku.
“Uljimaa…!”
“Tidak bisa.. air mataku terus keluar. Hatiku sakit melihat kau seperti ini…”. Aku menggenggam tangannya yang hangat itu.
“Ssstt.. “. Dia meletakkan jari telunjuknya dibibirku. “Jangan seperti ini… kau harus ingat janjimu itu..”
Janji itu.. Sumpah! Aku tidak pernah ingin berjanji seperti itu.
“Kenapa kau ingin mendonorkan hatimu untuk Minho..?” Aku mencari sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan, dan aku teringat dengan donor hati itu. Aku tidak terima dengan semua ini. Bukannya aku tidak mau Minho sembuh, tapi apa harus Hati tunanganku yang menggantikan hatinya?.
“Dengan begitu.. aku bisa tenang karena aku akan selalu merasa kau ada didekatku… Aku tidak mau meninggalkanmu seutuhnya..”. Suaranya semakin pelan terdengar.
“Tapi..”
“Aaah sudahlah.. aku ngantuk.. aku ingin tidur. Sebentar lagi aku juga harus mendonorkan hatiku, jadi aku harus siap-siap..”
Dia menutup kedua kelopak matanya. Hening… aku dan Ri Chan tertegun melihat wajahnya yang pucat pasi. Dia sudah tidak memakai pendektesi jantung. Hanya alat pernafasan dan selang infuse yang menempel.
“Oppa..”. Aku menggoyangkan tubuhnya. Rasa takut itu mulai menyergapku.
“Wooki Oppa..”. Aku memanggilnya lagi. Tak ada respon darinya.
“Oppa..”
Ri Chan segera memriksanya, sementara aku masih menggoyangkan badannya, air mataku terus keluar.
“Oppa…hikss.. buka matamu…”. Aku hampir putus asa membangunkannya.
Kulihat kedua kelopak mata itu terbuka. Dia tersenyum samar menatapku.
“Kau kira aku sudah mati..? diamlah Ri Rin aku benar-benar ingin tidur…”
AAhh, aku menghela nafas lega. “Kau ini.. aku benar benar takut…”
“Jangan takut, hatiku takkan kubawa mati, jadi kau bisa memilikinya ..”.
Belum sempat aku berbicara, dia sudah menutup kedua matanya lagi. Oppa.. berjanjilah kedua mata itu terbuka lagi untukku..

***
Dan kedua mata itu tak terbuka lagi untuk selama-lamanya..
“.. aku janji aku akan bahagia dan tersenyum melihatmu kelak diatas sana..”.
“Anniyoo.. kupastikan suatu saat kau akan merindukan kata ini dari mulutku..”.
Dan aku memang merindukan kata itu keluar dari mulutnya.
Dinginnya angin menusuk tubuhku. Hening… sangat hening. Sekarang kami sedang berdua. Aku tersenyum padanya tanpa aku tahu apa dia membalas senyumanku atau merasa kasihan melihatku seperti ini.
Air mataku meleleh. Pipiku terasa hangat, andaikan tanganmu disana mendarat dipipiku dan mengusap air mata ini. Aku bahagia…!! Iya… aku mencoba menepati janji itu. Tapi tak seperti ini. Aku selalu merasa sakit saat aku merindukan mu. Aku merindukanmu Ryeowook. .Tidak pernah aku merasakan rindu yang seperti ini, karena kamu tak pernah meninggalkanku seperti ini.
Bisakah kamu bangun sebentar saja. Aku ingin mendengar suaramu, senyumanmu. Aku janji aku takkan pernah bosan mendengar kau mengucapkan Saranghaeyo padaku, kau boleh mengucapkan seribu kali lagi, asal kau bisa bangun dan duduk disampingku.
Sentuhan tangan seseorang mendarat dibahuku dari belakang, sesaat jantungku berdegup kencang. Aku menoleh kebelakang. Tapi dia tiba-tiba sudah ada disampingku.
“Kamu. Sedang apa disini..?”.
Minho terlihat bingung melihatku dan sesaat kemudian dia melihat batu nisan. Wajahnya berubah menjadi murung saat dia memperhatikan huruf-huruf yang membentuk nama Ryeowook.
“Kau mengenalnya.?” Dia terlihat terkejut.
“Dia tunanganku..”. Jawabku datar. Aku masih tidak bisa terima salah satu organ Oppa sudah menjadi miliknya. Setelah operasi itu selesai, aku putuskan untuk mengundurkan diri sebagai suster dan tidak pernah bertemu lagi dengan Minho.
“Mwo? Jadi Ryeowook itu orang yang setiap pagi kau bawa jalan jalan di taman rumah sakit dulu?”
Aku menganngguk. “Bagaimana kedaanmu..?”. Sebenarnya aku enggan bertanya, tapi aku penasaran melihat wajahnya yang begitu bugar. Selama ini aku hanya tahu wajahnya selalu pucat dan tidak ada semangat. Syukurlah kalau apa yang dilakukan Oppa untuk mendonorkan hati padanya tidak sia-sia.
“Semakin baik.”. Jawabnya datar tanpa menoleh ke arahku. Benar dugaanku.
“Gomawo” katanya tiba-tiba.
“Jangan berterima kasih untukku. Aku tidak member i hatiku untukmu”
“Kau membenciku?”
Minho mungkin menangkap nada bicaraku yang tidak ada semangat berbicara padanya.
“Entahlah.. mungkin ya.. tapi aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku ingin marah tapi aku tidak tahu apa alasannya. Atau mungkin aku tidak rela diatas sana Oppa kehilangan salah satu miliknya yang begitu penting untukku dan untuknya. Kau tahu…”. Aku menunjuk kearah dadanya “Jantungnya sudah rusak dan sekarang hatinya pun k au rebut..” Ucapku agak keras diakhir kalimat.
“Aku mengerti perasaan mu..”
“Anni.. kau tidak akan pernah tahu perasaanku..” Elakku. Aku menatapnya tajam, dan kemudian menatap batu nisan Oppa.
“Baiklah.. tapi aku merasakan apa yang Wooki rasakan saat ini..”
Diam. Aku menoleh padanya
“Aku merasakan hati ini senang dan merasakan kelegaan yang aku sendiri juga tidak tahu. Mungkin kelegaan karena hatinya akhirnya ada didekatmu…”
Hhh.. aku tersenyum kecut. “Kau kira aku sepabo itu..? kau sama saja dengan Oppa yang menganggap semua rasa itu berasal hanya dari sebuah organ yang bernama hati. Hati hanya organ yang sama saja seperti ginjal, usus, jantung, tangan atau apalah.. perasaan itu ada pada suatu tempat yang aku sendiri atau dokter Taemin dan dokter Onew pun tidak tahu dimana letaknya. Hati hanya sebagai symbol!, kau juga pernah mengidap kanker hati, tapi apa karena itu kau tidak bisa merasakan cinta pada seseorang karena Hatimu sedang rusak..?”
Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berbicara sepanjang ini tapi aku hanya ingin mengeluarkan semua yang menyesakkan setiap nafasku.
“Kau benar.. saat aku mengidap penyakit itu, aku masih bisa mencintaimu dan perasaan saat ini bukan perasaan Wooki tapi perasaanku sendiri..”
Aku tersentak kaget mendengarnya .
“Maksudmu..?”
“Saranghaeyo..” dia menatapku dalam.
Aku memang merindukan kata itu, tapi tidak untuk keluar dari mulut namja lain. Aku merindukan kata itu keluar dri mulut Wooki Oppa, tunanganku.
“Jangan seenaknya bicara..”. Aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
“Kenapa? Aku sudah menyukaimu sejak aku dilarikan ke rumah sakit hanya kau yang perhatian padaku. Orang tuaku saja tidak pulang dari luar negri untuk sekedar menengokku..”
“Aku perhatian padamu karena aku seorang suster..”. Sergahku, aku mencoba bersikap tenang.
“Aku tahu.. tapi aku selalu merasa kesal jika aku melihat kau sedang bersama dengan tunanganmu ini..”. Dia menatap gundukan tanah merah yang didalamnya terdapat jasad Wooki. “Aku selalu bersikap egois padamu dan pura-pura tidak membutuhkan orang lain.. tapi ternyata aku tidak bisa lepas darimu dan aku tidak bisa berhenti menyukaimu.. aku ingin kau..”
“Berhenti!!!” Bentakku aku memotong omongan gilanya” Sudahlah sebaiknya kau pulang!! Biarkan aku disini. Jangan kau kira kalau hati Wooki Oppa sekarang ada didalam tubuhmu aku akan menerimamu. Sekarang kau pergi..!!!”. Tangisku pecah. Apa-apaan ini orang yang telah merebut Hati tunanganku berani menembakku. Wooki Oppa pasti membenciku.
“Baiklah.. aku pergi.. kau harus tahu.. aku tidak pernah menginginkan hati ini. Dulu aku justru senang akan mati. Di dunia ini aku merasa sendiri dan Tuhan menciptakanku tanpa alasan dan jika aku mati, aku berharap aku mempunyai teman diatas sana”
Perlahan Minho melangkahkan kakinya meninggalkanku yang masih duduk disebelah kuburan Wooki Oppa. Aku menyenderkan kepalaku di batu nisan. Apa kau melihatnya dari atas sana Oppa.. aaahh aku sungguh merindukanmu..
“Kelak jika kau merindukanku, datanglah padanya dan kau akan menemukan sesuatu milikku ada dalam dirinya..”
Kata-kata Oppa saat itu seakan berbisik ditelingaku lagi. Sekarang aku memang merindukanmu..
Aku menatap punggung Minho yang semakin menjauh dari pandanganku. Hening, suasana hening hanya ada suara angin yang mempermainkan rambutku. Benarkah harus begitu? Aku bertanya pada diriku sendiri, lalu aku mengangguk. Kuputuskan mengejarnya.
“Minhoo..!!!”. Teriakku. Dia menoleh kebelakang.
“Ri riin..”. dia tersenyum kecil.
“Boleh mmm…” aku tak berani melihat wajahnya.” aku memelukmu..?”. tanyaku ragu-ragu.
“Hhh..?”. Minho terlihat bingung dan kemudian “Tentu saja..”. Dia merentangkan tangannya dan aku langsung jatuh dalam pelukannya.
Aku semakin mengeratkan pelukannya. Bagiku ini adalah cara untuk melepaskan rinduku pada Wooki Oppa, karena dengan begitu aku bisa merasakan kehangatan hatinya.
‘Minho.. mianhae aku memperalatmu seperti ini… tapi mungkin aku bisa berjanji akan berusaha mencintaimu.. yang pasti bukan karena Hati Wooki Oppa ada dalam tubuhmu tapi karena ada rasa yang siap kau berikan untukku’
Dan biarkan juga takdir yang memisahkan kita.. tak peduli kau ada di sampingku untuk berapa lama….. peduli ku hanya ingin kau tahu… aku tak kan pergi dari hati mu…….

FIN

Farissa

This post/FF has written by Farissa, and has claim by Farissa signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

34 thoughts on “HEART”

  1. Aku yang prtmaaaa??
    Aigo~~ senengnyaaa..! Lg sepi ya..?
    Blm bca tp dah komen dluan.. Maap ya author.. Saiia bca dlu ah… *senyam senyum geje* 😉

  2. *jaringan bkin bete..!*
    gyaa.. Mino trnyta suka ri rin… Waah… Mantap crtanya.. 🙂 romantis… He..he..
    Author, slam knal yah… ^^

  3. huwaaaaaaaaaa makin banjiiiirrr!!! 😥
    gimana iniiii?
    bengkak lah mataku besok!!
    kalo aku jadi ri rin, pengen benci terus sama minhooo tapi nya g bisaaaa!!
    niiiiiiiiiiiiice!

  4. bagus bagus bagus….,,,
    .
    ff.nya pnuh prasaan banget,,,
    jadi pengent ngikut nangis,,
    hiks hiks,,

    w0okiie baegh bget yah,,
    udh mau mati tp sempet ajha pake’ acr donor2 jg…

    otherside,,,
    nais ef ef.!

  5. Yc ampyun senengnya q nemu n bca ff nie,wookie oppa n minho oppa mereka b2 biasku,ini bner2 ff 1 tntang k2 biasku yg q baca,q ga bkal bosen bca ff nie,mskipun sdih cz wookie oppanya mninggal tpi q tetep sneng karna endingnya breng minho oppa,

  6. sedih wookie oppa mati… Huaa
    annyeong author.. Aku reader bru disini.. Sinta imnida, 16 yo
    i love ff ! ! Hehe saranghaeo . .

  7. mian telat komen…
    sedih banget di awalnya, tapi akhirnya so sweet..
    huhu..aku sampe nangis bacanya..
    keren bgt..daebak..DAEBAK

  8. ya ampun.. baru baca.. sedih tapi romantis abis :’)
    untung akhirnya happ-end 😀
    tapi wookie~ ya ampun. aku elf juga, jadi sedih deh. baiknya.. hahaha
    ZZANG!!! huakakakakak..
    keren banget, thor 😀

  9. Huaaaaaaa benar-benar cerita yang sangat menyentuh ._.

    Tapi tumben aku kok ngga nangis yaaaa ;____;
    ini authornya jago banget deh bikin ff sedih~
    Authornya The Name I Loved juga kan?
    Itu ff bikin nangis sumpah ㅠ.ㅠ

    Kenapa pake cast Ryeowook? jarang bgt loh aku nemuin ff yg castnya Ryeowook muahahaha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s