LOVE = PAIN ?????

LOVE = PAIN ?????

Author : dhy
Main cast :Kim jonghyun (Jjong) & han min young

Ketika cinta itu hadir semua orang berharap yang terbaik, semua orang berharap untuk bisa bersama selamanya. Tapi kenyataan yang ada adalah cinta tidak sesimpel dan semudah itu, bersama tidak cukup dengan cinta, beriringan tidak cukup dengan saling menyayangi. Cinta adalah hal yang rumit tapi tetap dinanti, dinanti olehku, dinanti olehnya dan mungkin dinanti olehmu. Ini adalah kisahku dan kerumitan cinta.

@@@
“aku Cuma gak mau bikin kamu terus-terusan sakit seperti ini, aku sakit saat kamu sakit” sekuat tenaga aku menahan tangis, berharap seseorang yang berada di line telepon tidak menyadari kesedihanku.
“semuanya gak bakal berjalan baik, kalau kamu terus-terusan berfikir kalau kamu bakal terus nyakitin aku” ucap Jjong oppa dari line telepon, suaranya tetap sama.
“trus aku harus gimana???”
“Han Min Young , aku mau kamu tegas, tegas”
“kenapa harus aku??? Kenapa aku yang harus mutisin semuanya” aku sedikit berteriak.
“karna aku gak mau memaksakan kehendakku, aku gak bisa nahan kamu untuk tetep ada buat aku, aku gak bisa maksa kamu tetep disampingku, jadi apapun yang kamu pilih sekarang aku bakal nerima itu, Tanya hatimu!!!!!”
“oppa, kalaupun kita tetap bersama, aku gak bisa janji apa-apa”
“aku tahu itu, makanya aku mau kamu ambil keputusan sekarang, min young sharangeyo” suara jjong oppa terdengar begitu lirih
“oppa…..”
“min young, aku sudah siap kalaupun kita harus berpisah, dan sepertinya kita memang harus berpisah” suara tegar jjong oppa terdengar sangat menyakitkan.
“oppa apa sekarang kita sudah berpisah????” tanyaku, aku sudah tidak bisa menahan tangisku “oppa aku tidak suka kenyataan ini, aku benar-benar tidak menyukai ini, aku sayang oppa, kenapa kita gak bisa melanjutkan semuanya????”
“hey, jangan menangis, aku juga tidak pernah membayangkan semua ini”
“oppa, aku sayang oppa, maaf buat semua masalah yang aku buat, maaf buat rasa sakit yang oppa rasain gara-gara ulahku”
“yaa han min young, apa yang kau bicarakan??? Kamu tidak pernah membuatku sakit, aku yang harusnya minta maaf”
“oppa setelah ini, apa oppa akan membenciku???” tanyaku pada pria yang sangat kucintai itu.
“hey jangan bodoh, aku tidak mungkin membenci orang kucintai”
“apa oppa akan menyapaku, kalau kita bertemu????”
“tentu, kenapa tidak, hey sudah cepat tidur, besok kamu harus bangun pagi, jangan terlambat”
“kalau aku terlambat, aku akan menyalahkan oppa” ucapku membuat jjong oppa tertawa, tawa yang mengisyaratkan kesedihan.
“hey aku tidak mau, kau menyalahkanku, kau harus tidur sekarang”
“oppa sarangeyo”
“nado sarange”
“oppa aku akan menutup telepon, oppa harus jaga kesehatan, jangan tidur larut”
“ea aku tahu, ow ya focus pada studymu, kita lihat siapa yang lebih unggul, yang kalah harus mendapatkan hukuman, kita akan bertemu saat study kita selesai, jaga kesehatanmu”
@@@

Masih bingung dengan apa yang terjadi???????
Masih bingung kenapa kami harus berpisah?????
Aku sudah bilang kalau cinta itu rumit, cinta itu sakit……..

@@@
“min young, aku menyukai seseorang” ucap jjong pada sahabatnya yang sedang asik menghapus papan tulis kelas.
“benarkah oppa????? Oppa benar-benar jatuh cinta????” Tanya min young yang sudah beralih konsentrasi dari menghapus papan tulis.
“kenapa kau bertanya seperti itu????”
“aku tidak percaya, kenapa bisa secepat itu oppa jatuh cinta lagi, oppakan baru aja putus”
“hey aku bukan baru menyukainya, aku sudah lama menyukainya”
“benarkah???” Tanya min young tidak percaya sambil mengemut lollipopnya
“ea, aku sudah lama menyukainya”
“apa aku mengenalnya????”
“ea, kau mengenalnya”
“wahhhhhh, beri tahu aku siapa orangnya”
“rahasia” ucap jjong
“kalau tidak mau memberi tahu, kenapa bercerita”
“memangnya salah kalau aku bercerita”
“ea tidak salah”
@@@

“oppa setiap hari kau selau bercerita tentang gadis itu, kapan kau akan memberi tahuku siapa dia”
“hari ini aku akan memberitahumu satu hal lagi” ucap jjong
“apa lagi??? Apa kau sudah berniat memberi tahuku siapa dia”
“anni…..” ucap jjong sambil menggelengkan kepalanya
“lalu apa?????”
“dia sahabatku?????”
“sahabat????”
Jjong hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“kemarin kau bilang aku mengenalnya, lalu hari ini kau bilang dia sahabatmu, oppa boleh aku bertanya satu hal?????”
“apa?????”
“apa dia satu sekolah dengan kita???”
“yupz” ucapnya
“apa dia pernah sekelas dengan kita????”
“baca bukumu, sebentar lagi guru datang dan kita ada test” ucap jjong sambil meninggalkan min young di bangkunya.
“oppa jawab dulu pertanyaanku”

@@@
“min young, apa hubunganmu dengan jjong naik satu tingkat????” Tanya hye na pada min young yang asik mencorat-coret buku tulisnya.
“mwo??? Apa maksudmu???
“apa kalian memutuskan berkencan?????”
“tidak, memang ada apa???”
“sepertinya jjong menyukaimu?????”
Min young hanya tertawa mendengarnya.
“hye na, apa kau sakit??????? Kenapa pertanyaanmu aneh sekali”
“ahhhhh kau ini, harusnya aku yang betanya padamu, kau sakit atau tidak sampai-sampai tidak merasakan aura cinta yang dipancarkan jjong”
“aishhh kau terlalu berlebihan, kalau pun aura cinta itu ada, itu semua karena jjong oppa sedang jatuh cinta”
“benarkah?????? Jjong jatuh cinta??? Siapa gadis itu?????”
“jjong oppa belum mau cerita”

@@@

“min young, aku boleh bertanya satu hal??????”
“oppa sejak kapan kau bertanya sebelum bertanya” ucap min young pada jjong.
“mmm apa yang bakal kamu lakuin kalau gadis yang aku suka itu kamu”
“wahh aku mengerti pertanyaan oppa, oppa sedang merencanakan untuk memberi tahu gadis itu tentang perasaan oppa ya????
“sudah jawab saja”
“aku akan jawab kalau oppa mau menjawab pertanyaanku”
“ea ea, apa pertanyaanmu”
“apa gadis itu pernah sekelas dengan kita?????”
“ne”
“benarkah??????? Sepertinya aku tahu siapa, kapan rencana oppa memberi tahunya?????”
“setelah test kelulusan”
“ohhhhh”
“heh sekarang jawab pertanyaanku tadi”
“ehm ehm kalau aku jadi gadis itu, pasti aku bakal bingung banget, soalnya akukan udah nyaman banget sama oppa”
“trus kira-kira keputusan kamu apa??????”

@@@

“aku suka sama kamu”
“mwo????? Oppa aku ngerti kalau oppa mau belajar buat bilang suka sama gadis oppa itu, tapi gak gini caranya, akukan kaget”
“aku serius, gadis itu kamu”
Min young hanya tertawa
“oppa jangan bercanda, gak lucu”
“aku gak bilang ini lucu, aku serius, aku gak bisa nunggu sampe test kelulusan selesai”
“oppa…….”
“min young, kali ini aku serius”
“oppa tapi aku…….”
“aku tahu kamu belum punya perasaan sama kaya aku, aku janji bakal nunggu”
“oppa, oppa janji bakal bikin aku sayang sama oppa, kaya oppa sayang sama aku”
“aku janji”

@@@
“oppa maafin aku, aku sibuk akhir-akhir ini”
“sesibuk itu sampe gak bisa aktifin handphone”
‘gak gitu juga, aku Cuma…..”
“aku gak minta apa-apa, aku Cuma pengen kamu care sama komunikasi, min young komunikasi itu penting”

@@@
From : jjong oppa
Min young, aku kangen kamu, gak bisakah kita ketemu??????

To : Jjong oppa
Oppa, aku gak bisa izin buat ketemu oppa, oppakan tahu hubungan kita belum dapet izin, aku juga gak bisa ninggalin kerjaan aku.

From : jjong oppa
Tapi…….
Semenjak kita lulus 2 bulan yang lalu, aku belum pernah ketemu kamu……..
Apa kamu gak kangen sama aku???????

To : JJong oppa
Miane…….

@@@

Bingung dengan semuanya?????????
Itu semua yang terjadi padaku HAN MIN YOUNG.
Mungkin aku belum cukup dewasa, untuk merasakan semuanya atau mungkin aku yang tidak bersikap dewasa.
Jjong oppa adalah anugrah untukku…………..
Dicintai jjong oppa adalah hadiah terindah untukku……….
Dan melihatnya bahagia adalah harapanku…..
Dicintai dan mencintai adalah pilihan, walaupun semuanya berakhir seperti ini aku tidak pernah menyesal mencintai orang sebaik jjong oppa.
Aku dan jjong oppa hanya tinggal menunggu takdiryang berjalan.
Apa kami akan bersama nantinya atau menjalani hidup kami masing-masing.

THE END

Dhy

This post/FF has written by Dhy, and has claim by Dhy signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Me Againts The Orange – Part 1

Author : Eci a.k.a peppermintlight

Starring : Kim Jong Hyun SHINee, Choi Min Ho SHINee, Lee Jin Ki (Onew) SHINee, imaginary character

Type : Series

Genre : friendship, teen romance

PART 1

“Na Raaammm!!!” terdengar suara Umma memanggilku dari bawah tangga. Aku yang lagi asyik ngegambar jantung buat PR Biologiku membuka pintu kamar dan menyahut dari atas tangga. Nggak sopan sih, tapi tanggung bener mau turun ke bawah.

“Umma mau bikin brownies nih! Kamu nggak sibuk kan? Jaga toko dulu sana,” ujar Umma.

Aku menghela nafas. Oh my GOD…, aku bukannya nggak mau bantuin Umma jaga toko. Tapi masalahnya barang yang dijual di toko kami tuh cuma sejenis. Jeruk. Iya, kami punya toko jeruk. Aneh ya? Yang ada itu biasanya toko buah dengan segala macam buah yang dijual. Tapi aku nggak bohong kok, kami punya toko JERUK. Toko jeruk terbesar di wilayah kami. Hebatnya kalo aku boleh bangga, toko yang dikelola oleh segenap keluargaku ini menjual segala jenis jeruk. Jeruk mandarin, jeruk bali yang diimpor langsung dari Indonesia, jeruk Sunkist, dan lain-lain (emang ada berapa jenis jeruk di planet ini ya?).

Masalahnya, aku nggak suka jeruk. Baunya aja bikin sesak nafas. Aku pernah dicekokin alias terpaksa makan jeruk pas aku lagi sakit, dan tuh jeruk nggak pernah sukses masuk ke lambung. Ya iyalah, sebelum masuk, lambungku udah nolak duluan. Lambungku emang sehati sama manusianya, sama-sama nggak terima jeruk.

“Emang Appa kemana, Umma? Ini kan hari minggu?” aku mencoba berargumen demi nggak nyiumin bau jeruk.

“Appa kamu pergi mancing sama temen lamanya,” jawab Umma.

“Jin Ki oppa mana? Suruh dia aja, Umma. Kerjaannya pacaran mulu tuh, kalo bisa suruh ceweknya juga yang jaga toko, itung-itung orientasi buat calon mantu gitu loh, Umma,” ujarku ngaco. Umma mendelik.

“Emang iya si Jin Ki gitu?” tanyanya. Aku yang ngerasa dapet angin langsung ngomporin Umma, mumpung kakakku satu-satunya itu lagi di ruangan ini.

“Umma nggak tahu sih, dia ngapain aja di kamar. Paling juga telpon-telponan tuh sama cewek barunya,”

“Cewek baru?”

“Iya, Umma…” hihihi, abis tuh si Jin Ki. Sori, oppa, sekali-kali aku pengen menikmati asyiknya balas dendam. Gara-gara Jin Ki seminggu kemarin aku disuruh jaga toko tiap balik dari sekolah, soalnya dia ngaduin ke Umma kalo aku pernah nutup toko sehari penuh lantaran pengen santai. Sekarang rasain, oppaku sayang…, tukang ngadu sih. Hihihi.

“Ah, udah deh nanti aja kita ngebahas Jin Ki. Sekarang kamu turun gih, jaga toko sana, nanti Umma sisain brownies setengah loyang buat kamu sendiri. Deal ya, nggak pake bantah,” yaaaahhhh…Umma ternyata nggak terpengaruh. Tapi aku nggak bisa nolak janji brownies setengah loyang itu.

Dengan muka males banget aku melangkahkan kakiku ke toko kami yang letaknya di sebelah rumah. Bau jeruk menyambutku. Ya Tuhan…, aku mengambil tisu dan menempelkannya ke hidung. Kalo bisa milih mendingan aku jadi asisten instruktur di lab biologi sekolahku deh. Biologi emang pelajaran favoritku. Biarpun kerjaannya ngebedah-bedah plus ngawetin reptil, itu masih lebih baik daripada disuruh jaga toko jeruk.

Satu jam berlalu. Aku masih bertahan. Syukurlah perjuanganku nyium bau jeruk sepadan sama pembeli dan pelanggan yang datang ke toko kami. Hari Minggu emang rame gini. Bukannya sombong, toko jeruk keluargaku ini emang udah ngetop banget. Udah punya nama gitu loh. Udah punya image. Soalnya kami ngejual jeruk yang segar dan asli tanpa bahan pengawet. Eh, kok malah promosi sih?

Tiba-tiba sebuah mobil pick-up bermuatan kardus-kardus berhenti tepat di depan toko. Aku berdiri hendak menyambut entah siapa dan ada keperluan apa mobil itu brenti di sini.

“Kami nganterin jeruk pesanan Tuan Lee,” ujar supirnya. Aku membungkuk memberi hormat pada supir paruh baya itu meskipun aku tahu aku lagi dalam bahaya. Sepuluh dus jeruk? Lagi??? Masih seger lagi, baunya sampe masuk ke toko. Aduuuuuuhhhhhhhhhhh…!

Seorang namja (kayaknya sih namja ya, meskipun rambut semi kriwelnya itu rada gondrong, tapi kayaknya itu namja deh. Namja bukan sih?) turun dari mobil dan membuka topinya.

Seketika aku sadar kalo keajaiban dunia tuh sebenernya ada delapan, buktinya sekarang aku lagi ngagumin salah satunya yang baru aja ngebuka topinya satu detik yang lalu. Ya Tuhaaannn…, pangeran dari planet mana ini? Cakepnyaaaaaaaaa…, mulutku menganga sejenak pas dia tersenyum, memberi salam, dan menyapaku.

“Kami dari distributor jeruk Nam Gi. Saya pegawai baru. Annyeonghaseyo,” ucapnya sembari membungkuk. Lima detik, sepuluh detik. Aku masih bengong, serius! Aku bener-bener kayak tugu memandangi pangeran keturunan neptunus ini tersenyum manis.

“Annyeonghaseyo…” ulangnya.

Ini detik kedua belas.

“Annyeong…?” ia melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku. Aku tersentak.

“Hah??! Oh…i…iya, a…a…a…” wadooohhh…ngomong ‘annyeonghaseyo’ kok jadi susah amat sih? Organ tubuhku, berkoordinasilah, jangan cuman ngeliat namja secakep itu kalian jadi bekerja sendiri-sendiri.

“Saya Choi Min Ho, pegawai baru. Mohon bantuannya,” ujarnya. Aku cuman manggut-manggut bego nanggepin namja berjudul Choi Min Ho itu. Tuhan Maha Penyayang. Dia memberikan balasan yang lebih indah, padahal aku jaga toko dengan terpaksa tadi. Ya Tuhan, ampuni aku.

“Jadi barangnya mau ditaruh di mana,…”

“Lee Na Ram,” ujarku cepat. Dia ngegantungin kalimatnya itu supaya aku nyebutin namaku kan?

“Lee Na Ram,” ulangnya. Bergema mengusik gendang telingaku. “Mau ditaruh di mana jeruknya?” ulangnya lagi. Ups, jangan sampe dia pikir aku punya kelainan pendengaran.

“Lima dus ditaruh di sana, limanya lagi di pinggir sini, gomawo,” ujarku bersikap profesional. Pak supir turun hendak membantu. Tapi Min Ho menahannya.

“Biar aku aja, Pak. Nanti Bapak capek,” ujarnya. Pak supir mengangguk ngerasa terharu. Akhirnya ia masuk lagi ke dalam mobil. Min Ho mengangkat dua dus sekaligus. Mataku nggak lepas-lepas memandangnya. Choi Min Hoooo…kamu tuh gentle banget siiihhh…? Aku terkesima ngeliatin posturnya yang kurus tinggi dan model rambut semigondrongnya yang cool itu. Mondar-mandir dia mindah-mindahin dus-dus berisi jeruk itu dari mobil ke tempat sesuai instruksiku. Olala,…dia ngangkutnya tiga-tiga lagi. Tipe aku banget nih, pekerja keras, tapi nggak ninggalin kesan cakep dan cool. Aku ngusap idungku, memastikan kalo nggak mimisan merhatiin Choi Min Ho.

Jin Ki oppa tiba-tiba udah ada di toko. Astaga, kenapa urat rajin kakakku muncul justru di saat aku lagi ingin menikmati hidupku hari ini? Dan yang bikin aku kaget setengah sendok teh, Jin Ki menyapa Min Ho seolah ia dan Min Ho sama-sama keturunan neptunus. Eeehhhhh…oppa minggir deh, ngerusak pemandangan aja nih, si Jin Ki.

“Ini Choi Min Ho, temanku satu kampus,” ujar Jin Ki. Lagi-lagi Min Ho menyuguhkan senyuman mautnya. Kayaknya aku masih bisa tahan lima belas menit lagi sebelum bener-bener kolaps ngeliat senyumnya.

“Ya udah, kerjain PR aja gih kamu, biar aku yang jaga toko, aku mau ngobrol barang setengah jam lagi sama Min Ho. Mumpung dia lagi nggak ada pesanan lagi,” ujar Jin Ki nyebelin banget.

“Loh, kenapa aku harus masuk ke dalem? Umma sendiri kok yang nyuruh jaga toko,” aku mengelak. Nggak akan kubiarkan Jin Ki ngerusak hariku.

“Edew, sejak kapan tuan putri bisa tahan jagain toko jeruk?” ledek Jin Ki. Terus dengan sadisnya dia nyeritain kelemahanku sama jeruk ke Min Ho. Choi Min Ho ketawa renyah. Fiuh…merdu banget suara ketawanyaaa…

“Adikku ini emang kayak alien,” sambungnya lagi. Oh yeah, kucekik kau, Jin Ki oppa! Min Ho ketawa lagi.

“Jangan gitu, Jin Ki. Na Ram manis kok. Nggak tahan jeruk itu bukan kelemahannya, tapi keunikannya,”. Oke, kubatalkan jadwal mencekik Jin Ki begitu mendengar pujian Min Ho yang mengalun bagai seruling surga.

Akhirnya Min Ho pamit. Sayang banget, padahal aku masih mau denger suaranya. Pas mobil pick-up itu udah bener-bener pergi aku nyamperin Jin Ki.

“Oppa…,”panggilku sayup-sayup tak sampai.

“Apa?” tanya Jin Ki galak.

“Choi Min Ho tuh cakep banget ya? Cakeeeepppp…banget! Mirip sama Jin Ki oppa,” ujarku. Jin Ki melengos, udah tahu niat di balik pujianku.

“Nggak bakal aku comblangin dia sama kamu,” sambarnya sadis.

“Aku nggak minta dicomblangin kok,…” ujarku nahan jengkel.

“Mulai sekarang kalo lagi nggak sekolah, biar aku aja yang jaga toko. Kalo Jin Ki oppa mau, jadwalnya oppa kasih ke aku aja. Ya? Ya? Please, oppa…” aku memohon. Jin Ki tampak berpikir. Nggak lama kemudian ia mengangguk. Aku bersorak.

“Jeongmal gomawo, Jin Ki oppa!” ucapku sembari menggamit tangannya. Choi Min Ho, ketemu lagi ya!

$$$$$$$$$$

Di dalam mobil pick-up aku nggak bisa nahan senyum. Ini hari pertamaku kerja di sini, dan kebetulan hari minggu. Dan pengalaman kerja pertama kali ini bener-bener menyenangkan. Gimana nggak nyenengin kalo ada lawakan gratis minggu pagi?

Aku emang pengen banget nyari uang sendiri. Semua ini berawal dari appa yang tiba-tiba pelit banget dan nggak mau beliin aku laptop baru buat kuliahku. Beliau bilang, “pake aja tuh komputer, kalo kamu udah punya laptop, nanti siapa yang pake komputer? Mubazir kan? Cari uang susah, Min Ho. Appa cuma nggak mau terlalu banyak mandiin kamu sama uang,”.

Waktu itu aku nggak bisa nangkep maksud nasihat appa. Aku sebel banget. Makanya aku nekat jadi loper koran. Niatnya sih biar appa malu anaknya tiba-tiba nganterin koran di perumahan elit di sini. Nyatanya appa malah muji-muji aku. Dan ternyata, uang yang terkumpul (jelas nggak cuman dari nganter koran sana-sini aja) dan appa bersedia nambahin sisanya karena beliau senang banget, kebeli deh tuh laptop. Aku nggak percaya, di antara uang appa, ada juga uang hasil keringatku sendiri di laptop biru donker itu.

Sejak saat itu, aku bertekad buat nyari uang sendiri. Selain masih minta uang sama appa, aku juga mau menikmati uang hasil keringat sendiri. Dan inilah part time ku. Nyari pengalaman di tempat pendistribusian buah-buahan.

Salah satu koneksi kerja appa ngenalin aku sama pemilik agensi artis. Tapi aku nolak. Nanti-nanti aja deh jadi artis. Aku orangnya rada males sih. Bisa tepar kalo ngadepin jadwal-jadwal selebriti yang bejibun.

Hari ini sebenernya aku libur. Tapi karena petugas shift nya nggak masuk, aku dimintai tolong. Aku nggak nolak, karena toh aku lagi bored banget di kamarku.

Aku dan Han ahjussi mesti nganterin sepuluh dus jeruk ke sebuah toko jeruk yang udah punya nama alias udah ngetop di tengah kota. Han ahjussi yang membawa mobil, sementara aku duduk di sampingnya, sekalian merhatiin arah, siapa tahu aku disuruh nganterin lagi sendirian. Soalnya aku belum kenal sama toko jeruk yang satu itu.

Yeoja yang lagi ngejagain toko jeruk tadi itu lucu banget deh sumpah. Dia terang-terangan bengong ngeliatin aku dari ujung rambut sampe ujung kaki dan balik lagi sampe ke ujung rambut. Beneran lho! Sekitar sepuluh detik salamku cuman dikacangin aja. Trus dia kaget dan langsung nyebutin namanya. Lee Na Ram. Iya namanya Lee Na Ram.

Risih sebenernya. Tapi aku ngerasa Na Ram merhatiin aku terus. Rada grogi juga. Tapi berhubung Na Ram lucu dan ngegemesin, nggak apa-apa deh. Hehe.

Daaaannn…ternyatanya lagiiii…ternyata Na Ram itu adiknya Lee Jin Ki, temanku satu kampus. Wah, dunia emang sempit. Aku ngobrol sebentar dengan Lee Jin Ki dan pamit.

Hahaha. Aku masih ingat bener wajah Na Ram di toko tadi. Imut dan cantik, persis boneka cenderamata Korea yang pake hanbok (emang ada? *penulis ngarang indah*), tapi melongo aja ngeliatin aku. Polos bener sih tuh anak? Hahaha.

Udah ah, kok jadi ngebayangin Lee Na Ram terus? Aku merogoh ponsel di saku jaketku dan menelepon Shim Yong Mi, yeoja yang udah tiga bulan ini jadi pacarku.

“Yeoboseyo?” sahutnya dari seberang. Oh, Yong Mi,…jeongmal bogoshipo. Sehari aja nggak dengar suaranya aku bisa stres.

“Annyeong, jagiya,” ujarku. “Nggak kangen sama aku?”. Terdengar suara aneh di telepon. Aku nggak mau curiga, tapi tetep aja telingaku menangkap suara selain suara Yong Mi. Suara namja.

“Oh…ha…hai, Min Ho! Apa kabar?”. Hah? Min Ho? Apa kabar? Kok formal banget kata-katanya? Biasanya dia nggak pernah manggil namaku. Dia manggil ‘sayang’ atau apalah. Trus ngapain dia nanyain kabar? Basi banget sih?

“Kangen kamu aja sih. Tapi kayaknya kamu lagi sibuk ya?” aku mencoba berpikir positif. Aku cuma ingin hubungan ini sehat.

“Iya, aku sibuk banget nih. Ntar sore aja ya? Bye, Min Ho!” ujarnya kemudian menutup sambungan telepon. Aku heran. Selama ini dia juga minta kalo hubungan kami dirahasiain. Katanya sih biar nggak rame-ramean aja.

Dia sibuk, Min Ho…dia sibuk. Oke. Jangan berpikiran macam-macam lagi.

$$$$$$$$$$

“Skak mat!!!” hahaha! Aku menang lagi! Aku ketawa ngakak ngeliat muka Jin Ki yang kelabakan karena rajanya udah nggak bisa kemana-mana lagi. Ahehehe. Jin Ki nggak kapok-kapok main catur sama aku. Lagian Kim Jong Hyun dilawan.

“Ah! Nggak bisa nih! Pasti ada sabotase! Ulang, ulang, ulang!” Jin Ki nggak terima. Aku mengibaskan kerah bajuku.

“Males ah kalo main menang mulu,” ujarku.

“Soooommmbbboooonnggggg…kamu, Jong Hyun!” gerutu Jin Ki dengan mulut menganga lebar. “Na Raaaaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmm…!!! Ambilin brownies! Buruan!” teriak Jin Ki. Na Ram, adiknya Jin Ki yang masih SMU itu nongol dari balik kamarnya di lantai dua.

“Bisa nggak ya, nggak teriak-teriak? Aku lagi nonton nih! Berisik!” tukasnya galak. Aku tersenyum geli. Yeah, Na Ram dan Jin Ki emang rajin banget memparodikan Tom and Jerry, tapi aku bisa ngeliat kekompakan dalam setiap pertengkaran itu.

“Hai, oppa!” sapa Na Ram ramah. Aku mengangguk dan tersenyum. Senyum paling manis yang bisa kuberikan pada Lee Na Ram yang selama ini selalu menghiasi mimpi indahku.

Nggak tahu juga sih kenapa aku bisa suka sama adiknya Jin Ki itu. Padahal masih banyak yeoja di kampusku yang cantik dan modis. Sementara Na Ram…cantik juga sih. Semodis-modisnya dia tetep aja anak SMA. Tapi Na Ram beda. Bedanya Na Ram udah kusaksikan sendiri pas kejadian waktu itu.

Aku nggak bisa naik kuda. Beneran deh, deket-deket kuda aja lututku gemetar. Jadi waktu itu kami liburan ke peternakan pamanku. Cuma bertiga. Aku, Jin Ki, dan Na Ram. Kami ditawarin buat nyobain naik kuda. Jin ki dan Na Ram dengan semangat empat lima langsung berebut naik ke punggung kuda di ranch pamanku itu. Kemudian mereka berkuda keliling-keliling ranch.

Aku sirik banget ngeliatin mereka senang-senang. Kemudian aku berpikir, emang apa susahnya sih naik kuda? Kan tinggal naik aja. Lagian kan kami berkudanya cuman di ranch aja. Mudah-mudahan aman deh.

Trus aku nekat masuk ranch dan nyamperin kuda hitam pamanku. Biar keren gitu, padahal paman udah ngelarang kami buat dekat-dekat apalagi mengendarai si kuda hitam. Tapi biarin deh. Tarik aja tali kekangnya kalo dia macem-macem. Bereslah, Kim Jong Jyun.

Aku menepuk si kuda hitam kemudian menaikinya. Terdengar seruan pamanku. Dan yang kuingat, si kuda hitam meringkik keras sembari setengah berdiri. Aku kaget setengah mati. Bisa kurasakan keringatku mulai mengalir satu persatu. Si kuda hitam berlari kalap membawaku yang pucat pasi di punggungnya.

Kudengar suara Jin Ki, Na Ram, dan paman. Kuda itu melangkahi ranch dan berlari keluar. Saat itu kurasa tamatlah riwayatku. Kuda itu berlari kencang.

Hah? Sejak kapan Lee Na Ram dan kudanya berani keluar dari ranch? Aku menengok ke belakang. Na Ram dan kudanya berusaha mengejarku. Setelah ia berhasil mensejajarkan langkah kudanya dengan kudaku, ia mengulurkan tangannya hendak menggapai surai kudaku. Kemudian ia melompat naik ke atas punggung kudaku dan memposisikan dirinya di depanku.

Na Ram menarik tali kekang kudaku. Si kuda hitam masih kalap. Ia meringkik keras sehingga aku terpaksa memeluk pinggang ramping Lee Na Ram supaya nggak jatuh. Dua menit kemudian si kuda hitam lebih tenang. Ia hanya mengibaskan surainya. Na Ram mengendalikan kuda hitam kami agar berbalik menuju ranch diikuti kudanya tadi.

Aku masih belum bisa meredakan degup jantungku. Takut? Bener. Deg-degan tiba-tiba? Tepat sekali. Nggak tahu kenapa tiba-tiba detak jantungku jadi nggak beraturan karena Na Ram duduk tepat di depanku. Dekat sekali. Aku bisa mencium aroma lemon dan mint dari rambut panjangnya.

Kami kembali ke ranch. Di sana Jin Ki dan paman udah nungguin dengan muka cemas. Mereka menarik nafas lega setelah tahu Na Ram membawaku juga.

“Syukurlah kamu selamat! Kan Paman sudah bilang, si Ripperton nggak boleh dinaiki pemula! Bandel banget sih!” omel Paman. Tapi aku nggak merhatiin. Pandanganku tertuju pada Na Ram yang masih ada di atas punggung Ripperton. Ia masih mengendalikan Ripperton yang emang galak bener.

Aku kagum. Dengan badan seramping itu Lee Na Ram bisa ngendaliin kuda segalak Ripperton dan nyelamatin nyawaku. Kemudian Na Ram turun dan Jin Ki mengacak rambutnya.

“Kamu tuh bikin cemas aja, Na Raaaaammm…!” ujarnya. Na Ram tersenyum.

“Bakal lebih cemas lagi kalo Jong Hyun oppa sampe kenapa-napa,”

DEG! Ya Tuhan,…jantungku berdegup kencang lagi pas ngedenger kata-katanya barusan.

Yepz, sejak kejadian itu aku bener-bener nggak bisa ngilangin bayangan wajah Lee Na Ram dari kepalaku. And maybe it’s only a matter of time to express my feeling that I’m so into her. Itu tekadku.

“Skak mat lagiiiii…!” sorakku.

“Kau curang, Kim Jong Hyuuuuuuuuuuuuuuunnnnnnnnnnn…!!!”

TO BE CONTINUED

-peppermintlight-

Signature

This post/FF has written by SF3SI Freelance Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Nothing Impossible

Nothing Impossible

Author                        : Keylieon a.k.a Liahimeyy

Main cast        : All SHINee Member, Kim Yourin

Support cast  : –

Annyeong ^_^

Ini ff One Shoot perdana aku gituloo…hehe

INI FF SPECIAL RAMADHAN…haha gaje..

SEBELUMNYA AKU MINTA MAAF *bow*

AKU GA ADA MAKSUD BUAT NYINGGUNG KARLIE ONN ATAU RYUI OPPA YANG *ALHAMDULILLAH* JADI MUALAF…AKU BIKIN FF INI MURNI KARENA AKU INGIN BIKIN SESUATU YANG BERBEDA DI BULAN RAMADHAN INI..hehe

TRUS AKU NGEBUAT JINKI OPPA ATHEIS DISINI…ITUPUN AKU GA PUNYA MAKSUD APA APA…INI SEMUA AKU LAKUIN CUMAN BUAT NGEDUKUNG FF INI…

SEKALI LAGI MAAF, YAH…*bow sampe nyium tanah*

Happy Reading ^_^

Menjadi seorang idola memang sangat melelahkan. Membahagiakan para SHINee World di dunia adalah tugas kami, para idola. Nah…sekarang aku akan bertanya padamu. Apakah kau tahu siapa aku ? Tidak tahu ? Uuh..sungguh keterlaluan sekali..aku adalah Leader SHINee ONEW. Leader yang lembut dan baik hati. Selalu tersenyum kepada siapapun dan sangat ramah. Itulah image yang dikenal oleh para fansku. Kenyataannya ? Aku yakin kalian akan tahu sendiri.

Choi Minho POV

Hari ini tidak ada jadwal untuk kami. Dengan kata lain, kami free..kami bebas melakukan apapun sesuka hati kami. Seperti biasa, setiap pagi kami berkumpul di meja makan dan menikmati sarapan  yang telah dibuatkan oleh Kibum.

“ Onew hyung mana ? ” Taemin bertanya padaku. Aku hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.

“ Tadi aku sudah membangunkannya, tapi dia tetap tidur seperti mayat yang sudah berusia 70 hari ” ujar Jonghyun hyung, mulutnya sibuk mengunyah roti panggang yang berselai coklat kacang.

“ Jinja ? Berarti ia tidak akan sarapan bersama kita ? kalau begitu, aku mau duduk disini, ah..” seru Taemin. Ia mengambil tempat duduk di sebelahku, yang merupakan tempat duduk yang biasa digunakan oleh Onew hyung.

“ Kau akan mati bila duduk disitu ” sergahku.

“ Ani..aku yakin Onew hyung..”

“ Yaa !! Lee Taemin !! Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau menempati tempat dudukku ?! ” Onew hyung tiba-tiba datang dan menarik kerah belakang baju Taemin.

“ Mi, mianhae, hyung..kukira hyung tidak akan ikut sarapan bersama kami ” Taemin berbicara tanpa sedikitpun menatap mata Onew hyung. Ia terlihat sangat ketakutan.

“ Cih~ berani-beraninya kau ! ” Onew hyung tiba-tiba memukul Taemin, tepat di wajahnya.

Aku dan Jonghyun hyung langsung menarik Onew hyung, dan Kibum menarik Taemin. Bisa kulihat Taemin mengeluarkan air matanya.

“ Sudahlah, hyung. Kau terlalu berlebihan ” ujar Jonghyun hyung, tangannya menepuk-nepuk pundak Onew hyung.

“ Kenapa ? Kau berani membela dia, hah ?! ” bentak Onew hyung. Jonghyun hyung langsung menundukkan kepalanya. Sepertinya ia juga tidak berani melawan Onew hung.

Onew hyung melepaskan diri dari cengkraman kami dengan mudah dan langsung kembali ke kamarnya dengan mata yang membelalak. Aku terus menatap punggung Onew hyung sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Akhir-akhir ini ia selalu bersikap seperti ini. Bersikap egois dan selalu marah-marah tak jelas. Ada apa dengannya ? Dulu ia tak pernah seperti ini. Kemana Onew hyung yang dulu kami kenal ?

Kim Kibum POV

Lee Taemin. Kini ia sedang menangis di pundakku. Aku tak habis pikir pada apa yang telah terjadi barusan. Onew hyung..kali ini ia benar-benar keterlaluan. Setelah ia membuang buku diaryku yang dikarenakan berwarna Pink – warna yang tak ia sukai –, menampar Jonghyun hyung yang salah membeli makanan, mengusir orang tua Minho yang waktu itu pernah mengunjungi dorm kami, dan sekarang ia memukul Taemin yang telah menempati tempat duduknya. Apa yang ada di dalam pikirannya ? Apa ia sudah gila ?

Lee Jinki POV

Hari ini akan ada fanmeeting. Kami berlima akan dihadapkan kepada para fans kami, SHINee World. Tersenyum, itu adalah kunci dari acara ini. Di sepanjang perjalanan, hanya hening yang tercipta. Tak ada yang berani angkat bicara setelah insiden waktu itu.

“ Sudah sampai ” ucap seorang pria yang telah berumur sekitar 40 tahun-an. Ia adalah sopir kami.

Seketika itu pula, kami turun dari mobil dengan memakai kaca mata hitam yang kami miliki. Kami berjalan dengan diiringi oleh beberapa bodyguard kami. Beberapa wartawan sibuk mengambil gambar kami dari berbagai sudut. Aku mengambil tempat duduk di pinggir sebelah kanan. SHINee World, mereka kini ada di hadapanku. Aku terus tersenyum. Sangat melelahkan. Tiba-tiba perhatianku terfokus kepada seorang wanita. Ia sangat berbeda dengan gadis yang lainnya. Ia memakai sebuah penutup kepala berwarna putih yang dililitkan dengan sedemikian rupa sehingga membentuk hasil yang sangat indah. Bajunya sangat tertutup dan tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Satu-satunya anggota tubuh yang terlihat jelas adalah wajah dan kedua tangannya. Ia sangat…cantik

Aku terus memperhatikannya hingga acara ini selesai. Ingin sekali aku mengetahui namanya. Aku bermaksud untuk mengejarnya, namun gagal. Ia telah menghilang dari kedua mataku.

Ya tuhaaan..siapa dia ?

—————————

Hari ini kami tidak ada jadwal lagi. Kami mengisi jadwal kosong kami dengan kegiatan kami masing-masing. Aku akan mengisi waktu luangku ini dengan berjalan-jalan di taman kota.

“ Mau kemana, hyung ? ” Taemin bertanya padaku.

“ Bukan urusanmu ” jawabku singkat. Bisa kudengar suara Key yang mendekati Taemin dan menghiburnya. Aku yakin mereka telah membenciku sekarang. Tapi seperti biasa, aku tak peduli.

^ Di Taman Kota ^

Hari ini di taman kota sangat sepi sekali. Aku duduk di kursi panjang dan mulai menyalakan ipodku. Aku memejamkan mataku, aku sangat merindukan ketenangan ini.

“ Oppa, oppa…apakah oppa adalah salah satu anggota SHINee ? ”

Aku membuka kedua mataku. Kulihat ada seorang gadis kecil yang sedang menarik-narik jaketku. “ Umm…iya. Namamu siapa adik manis ? ”

“ Kim Youmin ” jawabnya. Ia tersenyum. Ia terlihat sangat manis dengan mata besar dan lesung pipinya.

“ Youmin, sedang apa kau disana ? Ayo kita pulang ” seorang wanita yang memakai penutup kepala berwarna biru datang menghampiri kami. Ya tuhan, ia adalah gadis yang aku cari.

“ Eonni…aku bertemu dengan pangeran ” ucap gadis kecil yang bernama Youmin tadi.

“ Youmin-ah, ayo kita pulang. Aduh, maaf doengsaengku telah lancang kepada anda ” ucap wanita cantik itu seraya membungkukkan badannya. Ia pun langsung menarik Youmin dan membawanya pergi dari hadapanku.

“ Tunggu ” aku memegang tangan wanita itu. Berharap  agar ia tidak pergi meninggalkanku.

“ Ah, maaf . Tolong lepaskan. ” ucap wanita itu, namun aku tak melepaskannya.

Aku membuka kacamata dan topiku. “ Aku SHINee Leader Onew. Apakah kau mengenalku ? ”

“ Oppa…” gadis itu menatapku dengan tatapan tak percaya. Namun ia kembali berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Akhirnya akupun melepaskannya.

“ Kenapa ? Kau penggemarku, kan ? Kau tidak suka padaku ? ” tanyaku. 2 detik kemudian aku baru menyadari betapa bodohnya pertanyaanku ini.

“ Ne, aku memang penggemarmu, oppa. Namun hukum agamaku telah melarangku untuk melakukan kontak fisik dengan orang yang bukan muhrim ” ucapnya. Ia terlihat seperti orang yang ketakutan. Aku tidak mengerti. Apakah aku terlihat seperti orang jahat ?

“ Baiklah, aku tak akan menyentuhmu. Tapi dengan satu syarat, kau harus mau makan siang denganku ” tawarku.

“ Ne..” jawabnya. Ia tersenyum. Sangat manis sekali.

—————————

“ Siapa namamu ? ” tanyaku ketika sepiring beef steak telah mendarat di mejaku.

“ Kim yourin imnida ” jawabnya.

“ Kau tahu ? Menurutku kau tidak seperti orang Korea ” ungkapku hati-hati, takut menyinggung perasaannya.

Ia tersenyum. “ Aku memang keturunan Indonesia-Korea, oppa…”

“ Indonesia-Korea ? ” tanyaku kaget.

Ia mengangguk. “ Ibuku orang Indonesia dan ayahku orang Korea. Aku mengikuti agama ibuku, agama Islam ” ucapnya, sambil menunjuk pada penutup kepalanya yang berwarna biru. Kau tahu ? Itu salah satu warna kesukaanku.

“ Oh..Eh, kau benar-benar tak mau makan ? ” tanyaku lagi.

Ia menggeleng cepat. “ Aku sedang berpuasa, oppa. Sekarang kan bulan Ramadhan ” jawabnya.

“ Puasa ? Bulan Ramadhan ? “

“ Ne..di bulan Ramadhan, kami sebagai umat Islam diharuskan untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari ” jelasnya

“ Jadi itu yang dinamakan puasa ? Wah…sangat menyengsarakan sekali ” seruku.

Ia hanya tersenyum. “ jika di laksanakan dengan niat, maka berpuasa akan terasa sangat menyenangkan ”

“ Yourin-ah, apakah kau mau menceritakan agamamu itu ? Umm..aku atheis…” ucapku sedikit malu.

Ia tersenyum lagi. Kali ini benar-benar manis. Ia memperlihatkan sederet gigi putihnya.

—————————

Lee Taemin POV

“ Aku pulang ”

Aku menengok ke arah suara. Onew hyung. Aku tak berani menatapnya lama-lama. Kualihkan pandanganku ke film yang sedang kutonton bersama Minho hyung.

“ Taemin, ini untukmu. ” Onew hyung menyodorkan sebuah bungkusan yang bertuliskan Wonder Bakery.

“ Ini…”

“ Cheese cake..kesukaanmu ” ucap Onew hyung sambil mengacak-ngacak rambutku. Ia tersenyum. Ia memperlihatkan senyuman yang sudah lama tak kulihat.

“ Sudah, ya..” Kini ia tersenyum kepada Minho hyung dan pergi menuju kamarnya.

Aku dan Minho hyung saling bertatapan.

“ Ada apa dengannya ? ” tanya kami berbarengan.

—————————

Lee Jinki POV

Kim Yourin. Hari ini aku telah belajar banyak darinya. Ia telah mengenalkan aku pada tuhannya yang ia sebut Allah. Ia juga mengajarkanku tentang rukun Islam dan rukun Iman. Ia bilang bahwa akan ada hari akhir, dimana bumi yang kita tinggali ini akan hancur hanya dalam hitungan detik. Ia juga bilang bahwa ada surga dan ada juga neraka. Ketika mendengar itu, hatiku terasa bergetar. Nanti aku akan dimasukkan kemana ? Surga ? atau neraka ?

Kim Jonghyun POV

“ AAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRGHHHHHH…”

Ada apa itu ? Onew hyung ? Kenapa ia berteriak seperti itu ?

Aku langsung melarikan tubuhku menuju asal suara yang aku yakini adalah kamar Onew hyung. Kulihat Minho, Taemin, dan Kibum berdiri mematung disana.

“ Ada apa ? ” tanyaku panik. Minho, Taemin, dan Key tak menjawab. Mereka tak mengalihkan pandangannya dari Onew hyung. Onew hyung..ia berguling-guling di lantai, meremas kepalanya sambil tak henti-hentinya berteriak.

“ Kenapa kalian diam saja ?! ” bentakku. Aku menghampiri Onew hyung dan mencoba untuk membantunya berdiri.

“ AAARRRGGHH…LEPASKAN AKUUU !!!! ” Onew hyung berteriak dan menepis tanganku. Dari situlah aku baru mengetahui mengapa Minho, Taemin dan Key diam saja tanpa melakukan apapun.

Kami tak dapat melakukan apa-apa. Yang bisa kami lakukan hanyalah terdiam, meratapi apa yang sedang dirasakan oleh Onew hyung.

—————————

“ Hyung, kau kenapa ? sebaiknya kita ke dokter, hyung ” ucapku penuh cemas, setelah merasa yakin bahwa rasa sakit yang diderita Onew hyung telah hilang.

“ Ani..aku baik-baik saja ” jawabnya. Mukanya terlihat sangat pucat.

“ Bagaimana mungkin baik-baik saja ? Tadi keadaanmu benar-benar memprihatinkan, hyung ” kali in Key yang angkat bicara.

“ Sudahlah..aku hanya sedikit pusing. Apakah tadi aktingku terlalu berlebihan ? Hahaha ” Onew hyung tertawa. Tawanya terdengar sangat garing. Kriuk-kriuk

Tiba-tiba Onew hyung menarik tanganku dan menatap jam tanganku dengan mata yang membelalak  “ Yaa ~ sekarang sudah jam setengah 1 siang ! Kenapa kalian tidak memberitahuku ? Hari ini aku ada janji dengan seseorang ! Ah..sial ! ” ia berkata dengan dengan tempo cepat, lalu mengambil jaket yang tergeletak di atas sofa, dan sejurus kemudian langsung pergi tanpa berpamitan pada kami.

—————————

Lee Jinki POV

Aku memencet bel rumah yang bercat biru beberapa kali. Lama. Tak ada jawaban. Aku sudah memutuskan untuk pulang, sebelum seseorang membukakan pintu untukku.

“ Oppa…”

“ Yourin ” ucapku. Aku sangat senang bisa bertemu dengannya lagi.

“ Silahkan masuk..”

Rumahnya sangat nyaman sekali. Cat warna hijau nampak mendominasi bangunan ini. Banyak foto-foto yang bertengger manis di dinding yang bercat warna biru langit itu.

“ Rumahmu sepi sekali..” ucapku sambi terus mengedarkan pandanganku ke segala arah.

“ Eomma sedang pergi mengunjungi nenek, Youmin ikut bersamanya ” jawab Yourin.

“ Tidak ada yang terlewat ? ” tanyaku.

“ Maksud oppa ? Oh..appa..ia sudah meninggal setahun yang lalu..” jawab Yourin lirih.

“ Oh, mian..aku tak bermaksud..”

“ Tidak apa-apa..aku mengerti ” potongnya. “ Mau minum apa, oppa ? ” lanjutnya lagi setelah aku duduk di sebuah sofa yang cukup nyaman untuk diduduki.

“ Ah..tidak usah. Kau kan sedang berpuasa, mana mungkin aku minum di depan orang yang sedang berpuasa. Lagipula, saat ini aku juga sedang mencoba untuk berpuasa sepertimu ” aku tertawa kecil.

“ Baguslah oppa ” ia kembali tersenyum sambil duduk tepat di sebelahku. Tangannya sibuk memindah-mindahkan channel TV.

Selanjutnya kami terdiam dalam hening. Mata kami terfokus pada acara berita yang sedang kami tonton.

PADA HARI JUM’AT TANGGAL 13 SEPTEMBER 2016, SEBUAH BOM BESAR MELEDAK DI SEBUAH HOTEL SSS DI NEGARA XXX. BOM TERSEBUT BERHASIL MERENGGUT RATUSAN NYAWA DAN RIBUAN ORANG TERLUKA PARAH. TELAH DIDUGA BAHWA PELAKU PEMBOMAN TERSEBUT ADALAH SEORANG TERORIS YANG BERNAMA JAMALUDDIN. BERIKUT INI ADALAH DATA DARI TERSANGKA PELAKU PEMBOMAN.

“ Pakaian itu..apakah teroris itu orang Islam ? ” tanyaku tiba-tiba. Yourin mengangguk pelan.

Aku menghela nafas panjang. Aku tak percaya pada semua ini. “ Kau tahu, Yourin ? Sepupuku sedang berlibur di negara dan sekaligus menginap di hotel itu !! Tak kusangka..ternyata agama yang sempat aku percayai ini adalah agama TERORIS !! ” bentakku.

“ Tapi, oppa..ini tidak seperti yang kau pikirkan ! Tak semua umat beragama islam itu teroris ! ” Yourin berkata dengan suara yang agak ditinggikan.

“ Tapi setidaknya agama lain lebih mulia daripada agama yang dianut oleh TERORIS itu !! ” bentakku kasar. Pikiranku benar-benar kacau. “ Selamat tinggal, Yourin ” ucapku sebelum aku pergi meninggalkan Yourin yang tengah menahan tangisannya.

—————————

Sudah hampir 1 bulan aku tak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Teroris yang beragama islam itu telah membunuh sepupuku. Tapi apakah yang aku lakukan ini benar ? Apakah aku pantas berkata seperti itu pada Yourin ? Apakah aku pantas menghina agama yang telah dianutnya ?

Terengtengteng..terengtengteng..terengtengteng..

Handphoneku berbunyi. Segera aku mengambil handphoneku yang tergeletak di meja yang berada di samping tempat tidurku.

From : Kim Yourin ^_^

Oppa…

Sudah 1 bulan kita tidak berjumpa ^_^

Apa kau masih ingat padaku ?

Hah…aku yakin kau masih marah padaku, oppa T_T

Tapi tak apa…

Aku hanya ingin berpamitan padamu…

Besok aku akan berangkat ke Aussie, aku akan study disana…

Aku tahu ini memang tidak penting dan hanya akan memenuhi inboxmu saja, tapi..

Jika kau…umm..mau menemuiku untuk yang terakhir kalinya, aku akan take off jam 10.00 di Incheon Airport…

Aku akan menunggumu,

Annyeong ^_^

Aku menatap layar handphoneku lama. Apakah aku harus menemuinya ? Atau aku akan mempertahankan keegoisanku padanya ?

Ah..baiklah..sudah kuputuskan..

Aku memejamkan mataku, mencoba untuk menenangkan segala pikiran yang telah membebaniku.

Sial ! Kepalaku…

Kali ini rasa sakitnya lebih hebat dari biasanya. Aku terguling dari tempat tidurku. AAARRGGH…ya tuhan…jangan siksa aku lebih dari ini…

Aku mencoba untuk berdiri dan meraih kertas yang berada di atas meja di samping tempat tidurku. Lalu dengan tangan bergetar, kugoreskan tinta di atas kertas yang telah kuambil tadi. Kurasakan air mataku menetes dan membasahi kertas yang berada di hadapanku.

Apakah harus berakhir seperti ini ?

—————————

Choi Minho POV

“ Benar-benar membosankan ” Jonghyun hyung melemparkan remote yang sedari tadi dipegangnya.

“ Onew hyung mana ? Masih belum bangun ? ” tanya Taemin padaku.

Aku berdiri dan melenggang pergi ke kamar Onew hyung “ Aku akan membangunkannya ”

Aku mengetuk pintu kamar Onew hyung.

“ Hyung, bangun..bolehkah aku masuk ? ” tanyaku, masih dengan tangan yang mengetuk pintu.

Tak ada jawaban.

“ hyung, aku masuk ya ” aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamarnya.

Tidak ada. Kamar Onew hyung kosong. Onew hyung tak ada di sana. Kemana dia ? Aku mengeluarkan handphoneku dan mencoba untuk menghubungi dirinya.

Torettorettorettorettorettoret

Sial, Onew hyung tidak membawa handphonenya. Aku menghampiri meja Onew hyung dan menatap handphone Onew hyung yang tergeletak bebas di atas meja kayu. Namun perhatianku teralih pada sebuah kertas yang dilipat dan diganjal oleh buku diary berwarna pink.

Aku mengambil dan mencoba untuk membaca isi surat itu.

Tak terasa, air mataku menetes.

Kim Kibum POV

“ Ya, Minho ! Apakah kau melihat gelang silver pemberian dari fansku ? ” aku menghampiri Minho yang sedang berada di kamar Onew hyung. Namun Minho tidak meresponku. Ia berdiri mematung di depan meja Onew hyung. Tubuhnya membelakangiku sehingga aku tidak dapat melihat apa yang sedang dilakukannya. Oh iya, disana hanya ada Minho. Kemana Onew hyung ?

Aku mencoba untuk mengagetkan Minho dengan menepuk pundaknya secara tiba-tiba. Namun gagal, ia kembali tidak meresponku. Aku melihat ia sedang membaca sebuah surat dan…ia menangis.

Jonghyun POV

Kenapa lama sekali Minho membangunkan Onew hyung ? Dan…apakah ini tidak terlalu sepi ? Aku bangkit dari tempat dudukku.

“ Mau kemana, hyung ? ” tanya Taemin tiba-tiba.

“ Ke kamar Onew hyung ” jawabku singkat.

“ Aku ikut ” taemin mengikutiku dari belakang.

Ketika aku memasuki kamar Onew hyung, aku mengedarkan pandangan ke ruangan itu. Onew hyung tidak ada. Yang ada hanya Minho yang sedang duduk di pinggir kasur Onew hyung sambil memegang kepalanya, dan Key yang sedang menutup matanya dengan tangan kanannya. Keduanya terlihat sedang menangis.

“ Kalian kenapa ? ” tanyaku pada keduanya. Mereka berdua tidak menjawab, namun Key menyodorkan sebuah kertas yang telah kucel dan basah karena air mata. Aku mengambil surat itu dan membacanya bersama Taemin.

Brain cancer.

Aku tidak tahu kenapa tuhan memberikan penyakit ini padaku.

Kalian pasti sangat membenciku karena aku telah bersikap kasar pada kaiian akhir-akhir ini.

Maafkan aku, saat itu pikiranku benar-benar kacau. Aku sangat tertekan. Aku iri pada kalian yang masih mempunyai umur yang panjang, dan waktu yang amat sangat banyak.

Sedangkan aku ? Aku sangat menderita dengan pemikiran ‘ apakah aku akan mati besok ? ’

Entah mengapa…firasatku mengatakan bahwa aku akan mati pada hari ini juga.

Tapi aku senang..

Setidaknya, tuhan masih sayang padaku sehingga tidak membiarkan aku merasakan sakit lebih lama lagi.

Kalian tahu ? Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin…

Aku sangat menyayangi kalian, lebih  daripada rasa sayangku terhadap diriku sendiri.

Aku mencintai kalian, selamat tinggal…

Jangan cari aku di bandara, karena aku tidak ada di sana.

– Lee Jinki –

—————————

Lee Jinki POV

Aarrgh…kepalaku…

Rasa sakit di kepalaku makin menjadi. “ AAAAAAARRRGGHH….” Aku menjerit layaknya orang kesetanan. Semua orang yang berada disini, di Incheon Airport..memandangiku dengan tatapan aneh. Aku berjalan terhuyung-huyung di tengah kerumunan orang. Sial..pandanganku sudah mulai kabur.

Ya tuhaan…Tolong jangan ambil nyawaku sekarang…tidak sebelum aku bertemu dengan Yourin..aku ingin mengatakan perasaanku padanya..

Bandara ini sangat luas. Yourin..dimana kau ?

Kim Yourin POV

Jam 09.50. Jinki oppa tak juga datang. Apakah ia benar-benar tak mau menemuiku sekalipun ini adalah hari terakhir aku berada di Korea ? Apa sebenci itukah kau padaku, oppa ? Aku terus mengedarkan pandanganku, berharap akan ada Jinki oppa yang berlari untuk menyusulku.

“ 5 menit lagi. Kau sudah siap, Yourin-ah ? ” tanya eomma padaku.

“ Ne, eomma..” jawabku lirih.

Aku menoleh ke belakang, namun hasilnya tetap sama. Jinki oppa tidak ada. Aku menyerah. Mungkin memang benar Jinki oppa membenciku. Aku melangkahkan kakiku. Bersiap untuk pergi meninggalkan Korea, tempat dimana cinta pertamaku muncul. Selamat tinggal, Jinki oppa..

“ Kim Yourin !! ” teriak seorang namja.

Aku berbalik, dan aku mendapati seorang namja yang berpakaian serba putih dan mengenakan peci hitam di kepalanya.

“ Jinki oppa…” aku menangis, tak percaya pada apa yang sedang kulihat sekarang. Ia terlihat sangat..tampan.

“ Assalammu’alaikum, Yourin-ah ” ucapnya. Lucu sekali ia mengatakannya.

“ Oppa..kau tidak membenciku ? ” tanyaku padanya. Ia tidak menjawab dan hanya tersenyum.

Tiba-tiba Jinki oppa seperti kehilangan keseimbangannya. Ia terjatuh di tengah-tengah kerumunan orang. Aku segera berlari menghampirinya.

“ Jinki oppa !! kau kenapa ? ” aku terduduk dan memeluk Jinki oppa. Kulihat hidungnya terus-terusan mengeluarkan darah. Aku terus menyeka darahnya dengan lengan bajuku. Air mataku turun dengan derasnya. “ SESEORANG !! TOLONG PANGGILKAN AMBULAAAANCE !!! ” aku menjerit tak karuan.

“ Yourin-ah…” tiba-tiba Jinki oppa terbangun dan mengelus pipiku dengan jari-jari tangannya. “ Kenapa kau memelukku ? Kita kan bukan muhrim ? ” lanjutnya, ia tertawa lemas.

“ Aku tak peduli. Yang aku pikirkan hanya oppa…”

Ia menatap mataku sangat dalam, lalu menarik kepalaku dan berbisik di telingaku “ Saranghae yongwonhi, yourin-ah…”

Tangisanku makin pecah. “ Nado..saranghae…”

“ Itu dia !! ONEW HYUNG !!! ” teriak 4 orang namja yang aku yakini adalah Jonghyun, Minho, Key, dan Taemin. Mereka adalah orang-orang yang aku idolakan selama ini. Mereka berlari menghampiri kami.

“Onew hyung, Onew hyung, bangun !! ” teriak Taemin. Semuanya menangis, sama sepertiku.

“ Bodoh, kenapa kalian kesini ? ” tanya Jinki oppa.

“ Tentu saja untuk melihatmu ! Kenapa kau tidak memberitahukan penyakitmu kepada kami ? ” sekarang key yang berbicara sambil berteriak.

“ Aku tak ingin kalian cemas. Ah..sudahlah..kalian jangan menangis..jangan membuatku semakin berat untuk meninggalkan kalian..” ucap Jinki oppa. Hidungnya kembali mengeluarkan darah.

Kini tak ada yang berbicara. Yang keluar hanya air mata yang tak kunjung berhenti. Aku yakin mereka sama sepertiku, merasa sakit dengan melihat keadaan orang yang kita sayangi seperti ini. Jinki oppa makin terlihat lemah. Ia membuka dan menutup matanya dengan gerakan yang sangat lambat.

“ Oppa..” panggilku.

Ia menggenggam tanganku dengan erat “Asyhadu Allaa ilaahailallaah ” ucapnya dengan terbata-bata. “ wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullaah..” lanjutnya lagi. Tiba-tiba ia menutup matanya dan melepaskan genggamannya dari tanganku.

“OPPPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA……!!! JINKI OPPAAAAAAAAAA………….!!! ” jeritku. Aku terus memanggil-manggil nama Jinki oppa, namun nihil..ia telah meninggalkan kami untuk selamanya..

– FIN –