SNOW FLAKES

Snow Flakes

“Hah hari ini sungguh melelahkan ya hyung”

“ne minho, kau tahu saat kita mencoba dance bagian itu, awww badanku serasa dibanting” jonghyun memeragakan tarian tersebut di tengah jalan

“hyung berhenti memalukan tau, gayamu sudah seperti orang tua” minho segera membekap tubuh jonghyun agar berhenti menarinari tidak jelas.

“haduuu, ara ara, tapi kau terlalu kuat, omo tulangku patah lagi” jonghyun mengusap punggungnya.

“hyung selalu memalukan”

“dasar kau tidak gaul” jonghyun membela diri.

“hyung yang kelakuan ganjil” miho tak mau kalah.

“terserah lah” akhirnya mereka berdua pulang menuju rumah masing-masing.

“besok hyung akan datang lagi? Maksudku latihan” kata minho sebelum berpisah dengan jonghyun

“aniyo, kau tahu sendiri tulangku sudah kau remukkan” kata jonghyun.

“haaah baiklah, aku pulang dulu hyung” akhirnya minho berpisah dengan jonghyun. Jonghyun melanjutkan perjalanan, dengan berjalan sambil menari-nari dia ingin menunjukkan kalau dia keren.

“jonghyun ah, sebentar lagi kau akan menjadi terkenal seperti jaejong sunbae. Uhuy” kata jonghyun sambil cengar-cengir. Namun senyum kepercayaan diri jonghyun lenyap ketika dia melihat musuh bebuyutannya bernama jung myong ra, myong ra adalah seorang yeoja tomboy berambut pendek bertubuh mungil, meski kerap beradu agrumentasi dengan jonghyun tetapi mereka lumayan dekat.

“YA myong ra ah!!kau kerja sambilan lagi!” kata jonghyun dengan nada mengejek myong ra. myong ra menoleh dengan enggan karena ia tahu itu suara jonghyun.

“kau tidak lihat aku sedang mengangkant lobak-lobak ini?? Aaaah aku tidak punya waktu meladenimu” myong ra melanjutkan pekerjaannya. Otak nakal jonghyun mereaksi melihat temannya kesusahan membawa kotak lobak. Jonghyun berlari dan menyerempet bahu myong ra hingga jatuh.

BRUKKK

“YAAAAAA!!! KIM JONGHYUN!!!AWAS KAUUU!!” eum min berteriak kesal karena ia menjatuhkan semua lobakknya.

Jonghyun merasa puas dan menang atas eunmin.

“ye ye ye, aku menang dasar myong ra babo” dia kembali menari-nari tidak jelas dan melupakan sakitnya.

“rumahku jauh sekali sih” jonghyun menggerutu. Di tengah perjalanannya dia terdiam melihat sosok seorang yeoja yang sedang duduk di sebuah etalase toko, dikelilingi banyak bunga.

“yeppuda…” tanpa sadar jonghyun mengatakan kata-kata itu. Dia berjalan dengan pelan-pelan sambil menatap lekat-lekat yeoja yang mengenakan pakaian sederhana namun terlihat anggun itu.

“annyeong, anda mencari sesuatu?” suara lembut yeoja itu membuyarkan lamunan jonghyun.

“a a a a aku ingin bunga berwarna putih itu” jawab jonghyun spontan.

“hihihihi maafkan saya tuan, saya tidak dapat melihat, apa maksud anda bungan lili?” kata yeoja itu ramah.

“mi mi mian, aku tidak tahu. Jangan panggil aku tuan, aku kim jonghyun masih sekolah” kata jonghyun gugup.

“jonghyun shi, kau masih muda. Lee min ji imnida, aku 22 tahun” dia memperkenalkan dirinya.

“noona, berarti noona” kata jonghyun pelan.

“iya, jadi kau mau ambil ini” min ji mengulurkan beberapa tangkai bunga lili.

“ne noona” jonghyun segera mengambil uang di sakunya da memberikannya pada min ji.

“kamsahamnida”

“ne cheonmaneyo” setelah membayar bunga lili tersebut jonghyun pulang dengan wajah seperti seorang yang kehilangan arah.

Sesekali dia melihat bunga lili di tangannya dan berguman

“dia sungguh cantik, aaahhhh” jonghyun tersenyum selama perjalanan pulang.

Seisi rumah pun heran dengan tingkah jonghyun yang setengah melamun lalu senyum-senyum sendiri saat makan malam.

“oppa, jonghyun seperti kerasukan” kata jonghyun noona.

“biar saja lah, dia memang sudah gila dari awal. Aku tidak kaget”

“kau dan dia sama anehnya”

Seluruh keluarga jonghyun kecuali hyungnya heran dengan perubahan jonghyun saat makan malam. Biasanya dia yang paling bersemangat makan dan menghabiskan seluruh makananan di meja makan dan berbicara saat makan hingga sebagian makanan dimulutnya ada yang keluar.

Namun sekarang jonghyun sangat kalem dan tidak banyak bicara. Setelah makan malam seluruh anggota keluarga rapat tentang perilaku jonghyun.

Sedangkan si jonghyun tak henti-hentinya memikirkan min ji. Sesekali ia memandang bunga lili yang sudah di beri tempat vas yang cantik.

‘aku akan menemuimu besok’ kata jonghyun mantap

~~~~

Di kelas jonghyun sudah dihadang oleh myong ra yang menuntut balas dendam atas insiden lobak.

“eh eh eh sebentar lagi ada tontonan menarik myong ra vs jonghyun!!ayo ayo taruhan dibuka” seorang teman sekelas jonghyun memberi pengumuman.

“aku!!!” kata sebagian besar murid di kelas itu, mereka memasang taruhan antara myong ra dan jonghyun.

Myong ra sudah menunggu di depan kelas dengan penuh amarah. Akhirnya seorang yang sudah ditunggu-tunggu datang juga.

Jonghyun datang dengan wajah berseri-seri.

“ayo kita selesaikan masalah ini dengan jantan” myong ra menatap garang jonghyun.

“myong ra sahabatku, aku minta maaf tentang insiden tadi malam ok!!aku masuk dulu bye” sikap jonghyun yang mengalah dan terlihat senang membuat seluruh kelas heran dan kecewa karena taruhan mereka batal.

“dia kenapa ya, apa salah minum obat” myong ra bingung.

Hari ini jonghyun berbeda dengan jonghyun yang sebelumnya. Sekarang dia menjadi seorang namja yang murah senyum dan bersikap rasional. Ini membuat teman sekelasnya makin takut padanya.

Sesekali jonghyun melirik kearah jam yang ada di depan kelasnya

‘aiiisss kenapa jam ini lama sekali sih, apa jam ini rusak ya’ desis jonghyu di sela-sela pelajaran

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu jonghyun datang juga yaitu pulang sekolah!!

Dengan secepat kilat jonghyun melesat meninggalkan kelas dan sekolahnya menuju tempat min ji.

“annyeong noona” jonghyun dengan malu-malu menyapa min ji.

“jonghyun ah, kau datang lagi” balas minji ramah.

“aku tidak sedang ingin membeli bunga, aku ingin menemanimu berjualan” kata jonghyun berterus terang.

“benarkah???kamsahamnida jonghyun ah” min ji tersenyum manis, membuat jonghyun terpesona dan mukanya memerah

‘untung saja dia idak bisa melihat wajahku yang malu sekarang’ kata jonghyun dalam hati.

“jadi apa boleh?” Tanya jonghyun ragu-ragu.

“tentu saja” min ji mempersilahkan jonghyun untuk duduk di sebelahnya. Jonghyun merasa senang bukan main, dia merasa mendapatkan undian. ‘YIPPPIIIEEE’ teriak jonghyun dalam hati.

PIP PIP PiP PIP PIP suara ringtone hp jonghyun berbunyi.

From : MinHoOO

Hyung kemana saja, kau tidak latihan??

“haaaaa” tanpa sadar jonghyun menghela nafas saat membacanya dan langsung menutup hp-nya.

“kau punya janji?” Tanya minji

“ani ani, dia si minho hanya Tanya no hp seorang teman sekelasku” kata jonghyun berpura-pura.

“minho?dia temanmu?”

“iya, dia sangat popular di sekolahnya, dia sangat tampan pula, jika jalan dengannya rasanya aku ingin segera pisah, karena aku kalah tampan” canda jonghyun.

“hihihi kau bisa saja, kau ini lucu ya” puji min ji, lagi-lagi wajah jonghyun sudah mirip cumi rebus saos tomat.

“eeee lucu, mnurut teman sekelasku aku malah seorang yang abnormal, mungkin karena aku bergolongan darah AB”

“memang ada hubungannya yah dengan golongan darah??aku juga AB tetapi aku merasa tidak aneh” kata minji sambil mengambil setangkai mawar putih.

“ini untukmu, aku tidak punya uang untuk membayarmu karena sudah menemaniku. Jadi ini ambilah” minji menyodorka setangkai mawar pada jonghyun.

“untukku? tidak perlu repot aku membantu karena aku mau bukan karena uang.

cantiknya” ketika jonghyun mengatakan cantik itu bukan untuk mawar putihnya tetapi untuk min ji.

“tidak masalah” kata minji.

“aku boleh menemanimu setiap hari?” suara jonghyun menjadi parau karena malu.

“tentu saja, aku senang ada yang menemaniku”

Setelah menemani hampir 3 jam jonghyun akhirnya pamit pulang.

“aku pulang dulu, mau ku Bantu?” Tanya jonghyun.

“aniyo, adikku akan membantu ku beres-beres 1 jam lagi, kau pulanglah sudah malam” min ji menyuruh jonghyun segera pulang.

“baiklah aku pulang dulu, sampai jumpa besok”

“ne”

~~~~~

“hyung kau 1 minggu ini hanya latihan sekali, kau kemana saja” Tanya minho disela-sela latihan.

“aku berada di surgaaaa~” kata jonghyun sambil melamun.

“apa maksudnya ya” minho menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“sudahlah, kau masih kecil” jonghyun bangkit dan berjalan sambil menari-nari ala balet.

“hyung jadi gila” kata minho takut.

Setelah selesai latihan…

“hyuuung ayo pulang” kata minho

“aku ada urusan sebentar ya, jadi kau duluan saja hehehe” minho tau si jonghyun sedang berbohong.

“haaah memang urusan apa sih, yah sudah lah aku pulang dulu” kata minho sambil mengemasi barang-barangnya.

“hati-hati ya jagi” jonghyun mencubit pipi minho.

“iya iya hyung, dasar”

“minji noona” sapa jonghyun senang.

“kau sudah datang, duduklah kau dari mana saja?”Tanya min ji

“aku kerja kelompok hehehe” jonghyun langsung duduk dekat minji

“kau sudang makan?aku bawa makanan untukmu” minji meraba-raba tas yang ada di sampingnya.

“gomawo noona, kau tau saja aku lapar” kata jonghyun terus terang.

“hihihi kau jujur sekali, ini makanlah”

Jonghyun melahap bekal yang dibawa minji untuknya.

“UHUK UHUK” jonghyun tersedak

“pelan-pelan kalau makan” minji menepuk punggung jonghyun.

“minum ya” minji mencari minum.

“uhuk ti tidak usah, aku cari sendiri noona” kata jonghyun.

Seusai makan mereka bercakap-cakap seperti biasa sampai menjelang malam, da toko bunga itu tutup.

“noona aku pulang dulu ya,,annyeong” kata jonghyun sambil tersenyum pada minji.

“iya, annyeong jonghyun hati-hati dijalan”

~at school~

Seluruh kelas lebih dari 1 minggu merasa aneh dengan perubahan yang dialami jonghyun. Jonghyun berubah dari seorang yang ceria bahkan si pengacau menjadi seorang yang pendiam dan murah senyum.

“ya!myong ra ah, kenapa suamimu menjadi aneh. Dia jangan2 selama seminggu terakhir ini kerasukan?”

“mollayeo~ eh si jong bukan suamiku” elak myong ra, tetapi muka myong ra terlihat merah.

“yeeee akui saja kalau kau selalu mengaguminya” ledek teaman-teman myong ra.

“mollaaaaaaa”

~~~~~

“jonghyun ah”

“ne myong ra, wae?” Tanya jonghyun ramah.

“itu ada yang ingin ku katakana” myong ra terlihat gugup.

“katakan saja, apakah sepenting itu sampai-sampai kau tidak mengatakan saat di kelas”

“itu, aku aku aku” myong ra sudah gugup.

“aku suka padamu jonghyun ah” akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut myong ra.

“jjinja? Kau sedang tidak balas dendam kan?” jonghyun dengan ekspresi lebaynya menuduh myong ra sedang bercanda.

“BABO!!!aku serius” myog ra seakan ingin menangis.

“myong ra ah, gomawoyeo, tetapi aku tidak bisa menerimamu, aku yakin kau berhak mendapat yang lebih baik dari jonghyun yang selalu menjahilimu ini” kata jonghyun lembut.

“mianhae myong ra”

“ne jonghyun, aku juga lega akhirnya aku bisa mengatakan ini padamu. Baiklah tidak masalah kita tetap berteman kan. Aku pulang dulu ya” myong ra berusaha tertawa menerima penolakan dari jonghyun. Myong ra berlari sebesa mungkin sambil menahan tangisnya.

“myong ra tunggu..” jonghyun ingin memastikan myong ra baik-baik saja namu tidak terkejar olehnnya.

Jonghyun merasa bersalah pada myong ra karena sudah menolaknya. Jonghyun berniat meminta maaf tetapi myong ra terus saja menjauh dari jonghyun. Dan jonghyun semakin merasa bersalah. Dan itu semua ia ceritakan pada min ji.

“eotteoke noona” jonghyun tidak bersemangat.

“dia pasti sangat sedih ketika kau tolak” kata minji

“ku pikir juga begitu”

“aku tau persaan myong ra. Jadi tunggu saja mungkin suasana hatinya akan berubah seiring dengan berjalannya waktu” kata minji bijak.

“semoga saja noona”

“ayo dong semangat!mana jonghyun yang selalu semangat kenapa kau lesu begini” minji memberi semangat jonghyun tetapi itu hanya menambah semangat jonghyun sedikit.

Hampir satu bula lamanya jonghyun menjaga toko kecil milik minji. Semakin hari ia semakin mengagumi sosok min ji yang sangat anggun. Akhirnnya dia memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada minji hari ini.

Jonghyun membeli seikat bunga lili yang cantik untuk dia berikan pada minji.

Ketika jonghyun sudah hampir sampai di tempat minji dia melihat ada seorang namja yang bertubuh tinggi dan berparas tampan. Namja itu berbisik pada minji dan kontan wajah minji berubah sedih.

“jonghyun ah kau sudah datang?” kata minji.

“perkenalkan ini suami ku, dia choi siwon” kata minji. Kata-kata minji langsung melesat bagai panah kearah jonghyun.

“choi siwon imnida” siwon membungkuk sopa.

“ki ki kim jonghyun imnida” senyum jonghyun. Sambil memasukkan bunga lili ke dalam tasnya.

“jonghyun ah, aku akan menutup toko ini, karena suamiku ingin aku ikut bersamanya menetap di Taiwan. Karena itu aku ingin memberi ini sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan dari ku” minji memberi jonghyun sebuah syal rajutan berwarna putih dan sebuah bros bunga dari kaca berwarna perak.

“ingat aku ya” minji memeluk tubuh jonghyun. Dan jonghyun menangis, ia menangis bukan karena perpisahan melainkan karena minji sudah memiliki suami dan akan pergi ke tempat yang tidak akan terjangkaunya.

“noona baik-baik disana ya” kata jonghyun terisak sambil mebalas pelukan orang yang dia sukai.

“kau juga, aku saying kamu my dongsaeng”…….

Sekarang sifat jonghyun kembali berubah, dia sering menyendiri sambil memandangi syal putih dan bros bunga kecil yang selalu ia kenakan pemberian minji. Sifat jonghyun itu membuat kawatir myong ra. Myong ra selalu memperhatikan jonghyun dan selalu mengikuti jonghyun setelah pulang, myong ra merasa kasihan karena ia tahu semua tentang minji dan jonghyun yang sangat menyukai minji.

Jonghyun pulang menuju rumahnya dengan wajah tertunduk dan tanpa atraksi seperti bernyanyi sendiri dan sebagainya. Sekarang ia pulang dengan sangat tak bersemangat. Dia melihat toko bunga milik minji yang sekarang berganti dengan toko buah dan penjaganya seorang ahjuma yang gendut dan terlihat galak

“beda dengan minji noona” bisik jonghyun.

Hari ini turun salju jonghyun yang mengenakan syal buatan minji merasa sangat merindukan minji. Dan tanpa terasa ia menangis. Dia membuang bros yang minji berikan padanya.

“kenapa ini terjadi padaku” kata jonghyun di tengah-tengah isak tangisnya.

Seseorang berlari kea rah jonghyun..

“myong ra” jonghyun segera menghapus air matanya.

“jonghyun ah ini” myong ra menyodorkan sebuah bros yang sudah di buang jonghyun.

“itu bukan punya ku” kata jonghyun lirih.

“ini milikmu aku yakin sekali, ini pemberian noona itu kan”

“kau tahu dari mana?” jonghyun terbelalak tidak percaya.

“ambillah, ini barang yang paling penting bagimu” myong ra memberikan secara paksa pada jonghyun.

“aku..” jonghyun mulai menangis.

“apa yang kulakukan, padahal ada seseorang yang menyukaiku kenapa aku tidak bisa melihatnya” kata jonghyun menatap myong ra yang berkeringat karena mengejarnya.

Dan jonghyun langsung memeluk myong ra.

“jonghyun!!!” kata myong ra kaget.

“sebentar saja, aku ingin begini, aku juga ingin memiliki perasaan yang sama untukmu myong ra. Apa kau masih menyukaiku?” Tanya jonghyun.

“ne” myong ra membalas pelukan jonghyun.

The end.

By : mikan_junior

P.S: Ehem hem… ehehe.. maaf yah publish baru jam segini… mau bilang sakit takut di omelin.. tapi kenyataannya emang iya. Semalem aku mau schedule ff gak sempet, udah di suruh tidur sama papa ku. Rencananya mau bangun pagi, eh malah gak enak badan. Jadi habis sahur di paksa tidur, baru bangun jam 9 eh kompi lemooott ya ampun. Kalau nanti ada waktu aku publish FF lagi. Tapi kalau enggak mohon maaf yah… *bow* ..

-Lana-

Advertisements