LOVE’S WAY – LOVELY DAY [1.2]

LOVELY DAY [1.2]

Main Cast: Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin, SHINee

Support Cast: Super Junior

Hye Jin POV

”Hye Jin-ah…cepat!”teriak Hyo Jin dari luar rumah.

Aigoo, ini kan masih pagi, kenapa dia harus buru-buru sih, lagipula hari ini aku tidak ada PR jadi aku tidak mau datang terlalu pagi tapi Hyo Jin memaksaku untuk datang pagi-pagi, dia bilang dia ingin ketemu dengan Jang sonsaengnim. Sudah gila anak ini! Aku buru-buru mengenakan sepatuku dan menghampirinya yang dari tadi sudah tidak sabaran untuk pergi sekolah.

”Ayo berangkat…”serunya.

Di perjalanan ke sekolah sudah kuduga dia pasti akan terus bercerita dengan Jang sonsaengnim. Aigoo! Teman-temanku sudah kehilangan akal sehat mereka. Aku hanya mendengarkannya dan menanggapinya, kalau tidak ditanggapi pasti Hyo Jin akan marah dan kalau dia marah itu sangat menakutkan bisa-bisa dia tidak mau bicara denganku beberapa hari. Kami sampai di sekolah sangat-sangat pagi. Aku menuju kelasku dan disana benar-benar kosong. Aku menghempaskan tas ku ke atas meja dan menyenderkan  kepalaku di meja. Aku masih mengantuk. Tidak ada orang. Menyebalkan sekali Hyo Jin membuatku datang pagi-pagi. Kenapa aku jadi mengantuk ya? Mungkin lebih baik tidur beberapa menit.

Key POV

”Kibum…aku duluan…”seru Minho padaku begitu kami sampai di depan sekolah. Sampai kapan aku harus pergi sekolah bersama dia.

Aku berjalan menuju lokerku mengambil buku yang biasa aku baca dan berjalan menuju kelas. Sampai di kelas aku mendapati Hye Jin sudah datang dan sedang merebahkan kepalanya di mejanya. Tumben anak ini sudah datang. Aku duduk di mejaku dan mulai membaca. Biasanya Hye Jin menyapaku, sedang apa dia?kenapa dari tadi diam saja. Aku menghentikan kegiatan membacaku dan menghampirinya. Ternyata dia tertidur. Dasar anak ini, jam berapa dia baru tidur? Masa jam segini masih mengantuk. Aku berniat membangunkannya tapi saat aku hendak menyentuhnya dia membalikan wajahnya dan langsung menghadapku. Aku begitu tersihir melihat wajahnya saat tidur, dia sangat polos. Tanpa sadar aku terus mengamatinya tidur. Dia sangat cantik bahkan saat tidur, dia tidak tampak seperti cewek kasar saat dia tidur. Aku menyentuh pipinya dan membelainya.

”Saranghae…”seruku sambil berbisik.

Belum pernah aku jatuh cinta pada seorang gadis sebelumnya bagiku mereka hanyalah mainan tapi sejak aku bertemu dengannya aku merasakan  perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya pada gadis lain. Dia seperti telah menahan hatiku. Setiap kali dia tersenyum, setiap kali dia tertawa, setiap kali dia marah selalu membuat hatiku bergetar. Dia juga yang telah membuatku ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Aku menyukainya, tidak, aku mencintainya..sangat mencintainya. Aku akan selalu ada disisinya dan melindunginya.

Aku membelai pipinya sekali lagi dan mendekatkan wajahku ke wajahnya dan mengecup pipinya.

”Saranghaeyo..”bisikku lagi.

Hye Jin POV

Aku membuka mataku perlahan. Sudah berapa lama aku tidur, kok masih sepi ya. Aku mengucek-ucek mataku sambil menguap dan melihat hanya ada Key di depan. OMO pasti dia melihatku sedang tidur!aduh!.

”Sudah bangun?!”serunya mengejek dari bangkunya tanpa menoleh sedikitpun dia masih sibuk membaca bukunya.

Aku berjalan keluar melewatinya dan menjulurkan lidahku padanya. Aku menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku. Aku memandangi cermin di kamar mandi. Apa aku terlihat baru bangun tidur?aku mencuci mukaku sekali lagi dan memastikan bahwa aku tidak terlihat seperti orang yang baru bangun tidur. Tadi sepertinya aku mimpi aneh? Tapi apa ya? Ah sudahlah itu kan hanya mimpi saja. Begitu aku keluar dari kamar mandi, anak-anak sudah banyak yang datang. Dan Wow ramai sekali, begitu kulihat kenapa mereka begitu ramai ternyata ada Siwon sunbae disana. Pantas saja. Pasti itu yang disebut Siwon fans club. Aneh-aneh saja. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berjalan menuju kelasku kembali.

Siwon POV

Aku berusaha tersenyum pada setiap orang yang tersenyum padaku di sepanjang jalan menuju kelasku. Sudah cukup 2 tahun aku menjadi ketua OSIS sangat melelahkan. Aku tidak hanya punya masalah disini saja tapi juga di rumah, rasanya aku ingin buru-buru menyelesaikan SMA ku dan pergi jauh dari sini utnuk kuliah dan Aku juga ingin buru-buru melepaskan jabatanku ini dengan begitu aku tidak perlu beramah tamah dengan setiap orang yang aku temui. Dimana saat aku punya banyak masalah pun aku harus tersenyum sedang hatiku menangis.

”Siwon-ah…”teriak seseorang dari belakang. Saat aku menoleh ternyata itu Heechul, mau apa dia.

Aku terus saja berjalan tidak menanggapinya. Ah ujung-ujungnya kalu bicara dengannya pasti bertengkar.

:”Siwon…siwon…”serunya di depan pintu kelasku dengan wajah sok manisnya, kadang aku berpikir sebenarnya dia harusnya terlahir sebagai wanita bukan sebagai pria, habisnya dia sangat mirip seorang perempuan dibanding dengan laki-laki. Apalagi dia dekat sekali dengan Eunhyuk, bahkan mereka sering disebut pasangan. Dia berjalan menghampiri mejaku.

”Siwon-ah…Kibum mana?” tanyanya. Mau apa dia tanya Kibum? Pasti ada sesuatu.

”Anni aku tidak tahu…belum datang sepertinya…ada urusan apa denganku?”tanyaku langsung, aku yakin pertanyaan tadi hanya basa-basi saja. Apa yang dia inginkan.

”Siapa bilang ada urusan denganmu…”jawabnya langsung.

”Eh…bercanda…begini klub drama kan sebentar lagi mau ada acara pementasan…berhubung kami belum menemukan pemain utama pria yang tepat, kau mau kan…”

”Andwe…aku tidak mau…”potongku. Dan hendak berjalan pergi. Heechul menarik tanganku.

”Ayolah Siwon…tolong aku sekali ini…kau itu orang yang paling cocok memerankan ini…lagipula pemeran wanitanya Cuma Hye Jin kok…Hyo Hoon ga akan marah…”serunya lagi sambil memohon.

Setiap kali mendengar nama Hye Jin aku selalu merasa aneh dengannya, aku merasa seperti sudah sangat dekat dengannya, seperti saat kami makan di kantin entah kenapa aku malah mengajaknya makan bersama padahal kami baru kenal dan kenapa setiap melihatnya aku teringat seseorang, seseorang yang entahlah harus aku benci atau sayang. Seseorang yang tidak pernah akan peduli padaku.

”Mianhe…bukan  karena itu…kau tahu aku sudah sibuk dengan urusan OSIS ditambah lagi dengan urusan latihan drama…mian..”jawabku berusaha menjelaskan.

Heechul terdiam beberapa saat.

”Ne…kalau begitu aku cari yang lain…”serunya sambil cemberut dan berjalan keluar kelas.

”Mianhe Heechulie…semoga Tuhan membantumu!”seruku sambil setengah berteriak.

”Diam kau!Wonnie!jangan bilang Tuhan dihadapanku!”serunya

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar Heechul! Kenapa dia tidak bisa percaya pada Tuhan sekali saja. Orang yang aneh!kapan dia akan sadar!

Key POV

”Keya…”teriak seseorang memanggilku. Aku pun menoleh mencari asal suara yang memanggilku dan aku lihat Heechul hyung berjalan mendekatiku.

Dia berhenti dan memandangiku dari atas sampai bawah dengan tampang mengamati. Apa-apaan dia? Dasar aneh!

”Mwo?”tanyaku padanya yang masih terus saja mengamatiku.

Dia berdehem lalu berjalan pergi. Ada apa dengan dia, sangat aneh sekali.

”Key!”teriak seseorang lagi dan itu Jonghyun.

”Mwo?”tanyaku padanya.

”Ada apa denganmu? Wajahmu seperti itu…”serunya.

”Andwe..”jawabku sambil berjalan pergi. Jonghyun mengejarku.

Hari ini sepertinya banyak orang yang jadi aneh.

Taemin POV

”Hemm…”seseorang berdehem disampingku yang sedang membaca buku di perpustakaan. Aku menoleh melihat siapa yang ada disampingku,

”Ah…hyung…ada apa?” tanyaku pada Heechul hyung.

Dia terdiam dan mengamatiku beberapa waktu. Ada apa dengannya?

”Hyung?”tanyaku lagi. Dia masih tetap terdiam.

”Ne…benar…Taeminnie…” katanya setelah beberapa saat terdiam.

”Hyung…jangan panggil nama itu…itu nama kecilku…”seruku padanya. Aku tidak suka jika dipanggil Taeminnie, itu nama panggilanku waktu aku masih kecil. Berhubung keluargaku dan keluarga Heechul hyung berteman, bahkan waktu aku masih SD aku pernah satu sekolah dengannya.

”Taeminnie…kau kan masih kecil..”serunya sambil mengacak-acak rambutku.

”Oh ya…kau mau kan membantu hyung mu ini…tidak kau harus mau…”lanjutnya. Apa maksudnya.

”Bantu apa?”tanyaku padanya.

”Kau mau kan jadi pemeran utama pria di pementasan selanjutnya…”katanya lagi.

”Anni…mian..”jawabku langsung. Heechul hyung ini sangat aneh.

”Taemin-ah….ayolah…tidak ada yang mau…jebal!”serunya lagi sambil memohon.

Aku berpikir sebentar.

”Kalau kau tidak mau…aku akan bilang pada kakakmu Lee Yunho kalau kau tidak betah disini dan minta pulang ke Australia…kau tahu aku sudah disuruh oleh Yunho hyung untuk mengawasimu disini…”serunya mengancam.

Kenapa harus membawa kakakku segala, ah dia terlalu mengatur hidupku, lebih daripada orang tuaku. Dia yang sudah membuatku pindah sekolah sebanyak 3 kali selama aku di Korea 5 tahun ini. Aku tidak mau pindah. Aku ingin menyelesaikan masa SMA ku disini. Lagian kenapa Yunho menyuruh Heechul hyung mengawasiku memangnya aku anak kecil apa. Kalau sudah begini tidak ada yang bisa kulakukan selain menerima permintaannya.

”Ne…”jawabku lemah.

”Ya..kau mau!bagus!”serunya sambil memelukku.

”Hyung lepaskan!aku malu!”seruku  berusaha melepaskan pelukannya.

Hye Jin POV

Kenapa sih harus pelajaran seni lagi. Arrggh! Bertemu guru itu lagi, menyebalkan sekali, dan yang paling menyebalkan adalah saat dia menyuruhku maju ke depan untuk bernyanyi. Sudah tau aku tidak bisa bernyanyi dia malah menyuruhku bernyanyi lagu Korea dan alhasil seluruh kelas menertawakanku. Tentu saja aku bernyanyi sangat aneh. Ah hari ini aku sial sekali. Aku malas keluar kelas untuk makan di kantin. Aku menelungkupkan wajahku ke meja.

”Hye Jin-ah..kau kenapa?”tanya Rae Na menghampiriku dan mengelus kepalaku.

”Andwe…”jawabku.

”Ke kantin yuk?” ajaknya.

Aku malas sekali keluar kelas tapi perutku lapar, ya sudah aku ke kantin saja.

Setelah makan siang, aku ingin pergi ke perpustakaan dulu.

”Aku duluan ya Rae Na…”seruku dan berjalan pergi.

Baru setengah perjalanan ke perpustakaan aku bertemu dengan Heechul sunbae dan langsung menarikku menuju ruang tetaer.

”Sunbae ada apa?”tanyaku padanya sementara dia terus saja menarik tanganku.

Dia tidak menjawab dan terus menarikku sampai di ruang teater. Disana sudah Donghae Oppa yang seperti biasa menghabiskan waktu istirahat disana. Tapi siapa itu. Itu kan!OMO! itu Taemin! Untuk apa dia disini? Jangan-jangan Heechul sunbae! Ah tidak..tidak…tidak mungkin, jangan sampai deh!

”Nah, ini pasanganmu…”seru Heechul sunbae.

Aku tersentak kaget mendengarnya berbicara seperti itu bisa kulihat Taemin juga sedikit terkejut mendengarnya. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya ternyata itu benar. Pemeran utama pria nya adalah Taemin. Omona! Bagaimana ini? Aduh aku kan sedang berusaha agar jantungku tidak berdegup dengan kencang lagi jika di dekatnya tapi kalau begini bagaimana, mungkin akan lebih parah.

”Kalian sudah saling kenal kan?”kata Heechul sunbae lagi.

”Ne..”jawab Taemin sambil tersenyum dan aku hanya bisa mengangguk dan menundukan wajahku. Aduh bagaimana ini!

”Ok…kalau begitu latihannya di mulai besok ya..”seru Heechul sunbae kepada kami dan kemudian menarik Taemin keluar.

Aku menghela nafas dan duduk di salah satu bangku. Donghae Oppa kemudian menghampiriku.

”Kenapa?” tanyanya sambil mengambil kursi dan duduk disampingku.

”Andwe…”jawabku.

”Sudah makan belum?”tanyanya lagi.

Dia kemudian menyodorkan bekal makan siangnya, pasti hasil masakannya. Pantas jarang sekali aku lihat Donghae Oppa makan di kantin, dia selalu kemari untuk makan bekalnya. Dia mengambil sumpit dan menyumpit bibimbap dan menyuapinya ke mulutku.

”Enak..makanlah…”serunya sambil tersenyum.

Aku ragu sejenak bukan karena makanan yang tidak enak, aku yakin buatan Donghae Oppa pasti enak sekali tapi karena aku sedang malas saja. Tapi akhirnya ku makan juga tidak enak pada Donghae Oppa, nanti dia mengira aku tidak suka makanan buatannya lagi. Aku tersenyum menandakan bahwa makanannya enak. Dia menyumpit lagi dan menyuapi kemulutnya lalu menaruh bekalnya di meja.

”Nah, ada apa?” tanyanya.

Dia selalu saja begitu, membuat hatiku lebih baik dulu baru bertanya ada masalah apa.

”Kenapa harus dengan Taemin..”kataku sambil memanyunkan bibirku.

”Kau tidak suka?”tanyanya lagi.

”Andwe…hanya saja…”jawabku buru-buru.

”Hanya saja…aku menyukainya Oppa…”seru Donghae Oppa  melanjutkan kalimatku dan membuat mukaku merah karena malu. Setelah itu dia malah tertawa.

”Oppa jahat!siapa yang menyukainya!”seruku padanya sambil memukul bahunya. Dia meringis sedikit, memang pukulanku sakit ya. Mianhe Oppa!

”Wajahmu yang bilang!”serunya lagi dan kembali tertawa.

Sebegitu jelaskah wajahku sampai-sampai orang gampang sekali tahu apa yang aku pikirkan dan rasakan. Aku mengambil bekal yang ada di atas meja.

”Aku akan makan semua bekal ini biar Oppa tidak makan siang!” seruku mengancam.

”Makan saja…aku bawa dua kok….”serunya lagi.

Dia tertawa melihatku. Dasar Oppa jahat!

”Oppa kau jahat!” seruku padanya.

”Habiskan bibimbapnya”serunya padaku.

Padahalkan tadi niatku hanya bercanda kenapa sekarang aku harus menghabiskan bibimbapnya. Donghae Oppa mengambil sumpit dan langsung menyuapiku.

”Apa!”teriak Hyo Jin, aku langsung membekap mulutnya. Dasar Hyo Jin sudah kubilang jangan berteriak dia malah seperti itu. Selanjutnya dia malah tertawa.

”Kau dan Taemin!” serunya lalu tertawa lagi. Sepertinya aku salah bercerita dengannya. Sama sekali tidak mennghargaiku.

”Hyo Jin-ah!” seruku padanya dengan wajah cemberut.

”Mian…mian…”katanya.

”Habisnya…kok bisa kebetulan begitu ya…apa Heechul tau….sepertinya dia tidak tahu deh…ya ampun takdir…”lanjutnya.

Aku Cuma bisa memanyunkan bibirku. Pasti dia akan mulai meledekku lagi padahal niatnya aku hanya ingin bercerita saja padanya tapi sepertinya aku salah kalau bercerita dengannya.

”Ya sudah…nikmati saja…tapi seneng kan?” katanya lagi.

”Ya! Bicara denganmu membuang waktu saja!”seruku berjalan pergi ke luar kamar. Kulihat Hyo Jin tertawa melihat tingkahku. Aigoo!

Aku duduk di atas pohon memandangi langit sore, sungguh sangat indah. Mengingatkanku pada hari-hari waktu aku liburan disini dulu, aku sering sekali naik ke atas pohon ini dan bermain diatasnya sampai malam. Aigoo, bagaiamana jadinya nanti saat aku latihan dengannya. Sebenarnya aku kesini untuk menenangkan pikiranku yang masih saja memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat aku mulai latihan dengannya. Hyo Jin malah meledekku terus, lebih baik disini saja daripada di kamar harus mendengar ledekkannya terus. Aku sendiri masih bingung dengan perasaanku padanya. Aku menyukainya tapi aku tidak mau kecewa dengan menyukainya.

”Hye Jin-ah…makan malam…turunlah…”teriak Hyo Jin dari bawah pohon.

”Nanti…”jawabku.

”Turun lah…kau seperti monyet saja…makan dulu…”teriaknya lagi.

”Ne…aku turun..”seruku.

Sampai di bawah dia malah langsung tertawa melihatku pasti dia masih ingat cerita tadi. Dasar Hyo Jin! Akan seperti apa ya besok?

TBC

PS: mian buat yang udah lama nuggu lanjutan ff ini*terlalu percaya diri ada yang nunggu..hehehe*karena lagi sibuk banget jadi baru buat lanjutannya. happy reading and thanks for comment ^^

Novi

This post/FF has written by Novi, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

My Past Future – Part 10

Part 10

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yuna, Lee Jinki (Onew)

Support Cast : Jun, Gaeul

Author: Lana

~Yuna Pov~

Tidak terasa hubunganku dan Donghae oppa sudah berjalan hampir satu tahun, ujian kenaikkan kelasku berjalan dengan sangat baik berkat dorongan dari Donghae oppa. Prestasiku semakin meningkat dan aku berhasil terpilih sebagai kepala dari Bid. Kesiswaan membantu Tae Gun seonsangnim…. Aku selalu ada di nomor urut 2 sebagai 3 besar nilai terbaik di satu angkatan, sedangkan Gaeul selalu menempati peringkat 3. Jun? Dialah yang selalu menduduki peringkat pertama, dan tidak akan tergantikan. Aku salut dengannya, selarut apapun dia pulang, dia pasti menyempatkan diri untuk membaca buku pelajaran besok.

Sampai saat ini aku masih sangat bingung dengan hubungan Gaeul juga Jun. keduanya tidak pernah bertengkar tapi tidak pernah akur. Maksudku, mereka berdua tidak pernah pergi kencan kecuali aku yang mengajak atau Chun Li oppa. Karena itu kami sering melakukan triple date, agak aneh memang melihat keduanya. Tapi yah… begitu lah. Jun memang memperlakukan semua orang sama rata, kecuali aku tentunya.

Kalau kau tidak begitu mengenal Jun, maka saat melihat wajahnya yang terlintas di pikiranmu adalah… Jun seorang pendiam yang tidak perduli pada wanita dan sangat dingin. Jika Jun tidak mengenalmu, maka kata paling banyak yang ia keluarkan kurang lebih 5 kata dalam satu kalimat. Itu kau sudah termasuk orang-orang yang beruntung, kalau dia hanya mmengangguk atau menggeleng maka kau belum beruntung. Tapi kalau kau mengenalnya, kalimat paling banyak dalam satu kali bicara kira-kira 5 kalimat. Mendengarnya bicara lima kalimat saja rasanya sama seperti mendapat uang 1 milyar!

Seolah Jun membangun tiga tembok di hadapannya untuk membatasi orang-orang. Tembok pertama untuk orang-orang yang tidak ia tahu dan tidak ia kenal, tembok kedua untuk orang yang ia tahu tapi tidak ia kenal, dan tembok ketiga adalah untuk orang yang ia kenal tapi tidak dekat dengannya. Aku ada di tembok mana? Dia tidak memberi tembok untukku, kami bicara selayaknya aku bicara dengan Gaeul, Donghae oppa dan Chun Li oppa.. ah juga Haeya unnie. Walaupun awalnya aku merasakan hal yang sama seperti orang-orang dengan tembok tersebut, tapi kini aku tahu kalau Jun itu memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap sesuatu. Mudah tertarik dengan sesuatu yang unik, kreatif, lembut, penyayang, pendengar yang baik, pemberi solusi yang hebat dan romantis!

Aku menjulukinya Softy Ice. Walaupun sangat dingin, hatinya begitu mudah di sentuh dan sangat lembut. Satu lagi yang aku kagumi darinya, matanya! Untuk orang di tembok pertama, saat bicara matanya terlihat kosong… tidak akan terbaca apa yang ia pikirkan, rasakan atau inginkan. Untuk orang di tembok kedua, saat bicara matanya terlihat dingin dan tajam… membuat orang sering lebih memilih untuk tidak menatapnya atau menyingkir karena takut. Untuk orang di tembok ketiga, saat bicara matanya akan terlihat dingin, tapi kau bisa melihat kehangatan dan keperdulian terpancar di matanya. Dan untuk orang di tanpa tembok sepertiku dan orang tuanya… matanya terlihat begitu membara! Matanya akan memikat orang untuk terus menatap matanya, dalam-dalam… karena rasanya sangat nyaman. Di matanya kau akan melihat bahwa dia perduli padamu, itu yang selalu di inginkan orang-orang dan Jun memilikinya.

Ah.. tunggu! Apa tadi aku sedang memujinya?! Gaeul~~~ maaf… aku tidak bermaksud memujinya!

&&&

Seseorang melempar Gaeul dengan gumpalan kertas. “Tolong buang ke tong sampah!” Gaeul menoleh ke belakang, rupanya Yuna yang melempar kertas tersebut. “Cepat buang!” ucap Yuna sambil memasukan kertas berwarna biru ke kantongnya. Gaeul melirik ke bawah, ada dua gumpalan kertas.. warna biru dan merah. “Ah! Dasar kau ini!” Gaeul mengambil kedua kertas tersebut, memasukkan gumpalan biru ke dalam laci dan membuang yang berwarna merah. Diam-diam Gaeul membuka gumpalan kertas yang berwarna biru, di dalamnya tertulis jawaban dari seluruh soal.. dengan pesan di bagian bawah :

P.S: Lain kali belajar ya!

Gaeul tersenyum lalu menyalin jawaban-jawaban tersebut. 15 menit kemudian bel tanda istirahat berbunyi, murid mengumpulkan lembar jawaban mereka.

“Yuna~ kamsahamnida~” Gaeul merangkul sahabatnya. “Ada apa?” Yuna mendesah. “Sudah dua minggu aku tidak melihatnya bermain basket di lapangan. Sudah dua minggu juga dia tidak menghubungiku.” Yuna menatap kosong ke lapangan. “Mungkin gurunya sedang banyak memberi tugas, jadi dia sedang sangat sibuk.”

“Hhh.. tapi biasanya dia menyempatkan untuk mengirim pesan walaupun hanya bilang ‘Bagaimana hari ini? Maaf aku sibuk.’ Tapi sekarang tidak ada sama sekali, ponselku jadi kosong.” Gaeul menyandarkan kepalanya pada kepala Yuna. “Tenanglah, aku yakin dia sedang memiliki sebuah masalah pribadi yang tidak bisa di beri tahukan padamu.” Tutur Gaeul lalu menunjukkan gigi-giginya yang putih dan rata. “Hah.. dasar! Sempat-sempatnya pamer gigi!” Yuna menjitak pelan kepala Gaeul.

“YUNA!” keduanya menoleh serempak. “Yun Hae wae?” Yuna menghampiri teman satu kelasnya itu yang berusaha mengatur nafas. “Donghae-ssi… engh.. Donghae sunbae..hhh.. sedang berkelahi..engh.. di belakang gedung SMA.” Yuna langsung berlari secepat mungkin, Gaeul dan Jun menyusul di belakang. ‘Ada apa? Masalah apa yang membuat sunbae oppa berandal begini?’

Dari kejauhan Yuna melihat beberapa anak mencoba memisahkan, tapi keduanya terlalu emosi. Yuna menerobos kerumunan, seluruh murid yang berteriak-teriak langsung berhenti begitu melihat Yuna. Donghae melepaskan cengkramannya begitu melihat Yuna yang memandanginya dalam diam dan matanya berkaca-kaca.

“Yuna.. dengar.. ini…” Donghae perlahan berjalan mendekati Yuna yang air matanya hampir menetes. “Yuna..-“ Donghae menatap balik Yuna yang menatapnya lekat-lekat, akhirnya air mata Yuna mentes juga. “Oh.. maafkan aku.” Donghae memeluk erat Yuna yang akhirnya melepaskan tangisnya. “Sunbae itu kenapa? Apa yang sunbae lakukan?!” tanya Yuna di sela tangisnya sambil memukul-mukul punggung Donghae.

“Maafkan aku Yuna.. berhenti panggil aku seperti itu.”

“Sunbae jahat!”

“Yuna aku benar-benar minta maaf. Aku akan menjelaskan ini.”

***

“Yuna.” Akhirnya Donghae angkat bicara setelah keduanya duduk dalam diam selama 30 menit. “Aku… hhh… kau percaya denganku kan? Ini… tidak seperti yang kau bayangkan. Belakangan ini aku memiliki beberapa masalah, aku tidak bisa menghubungimu.” Yuna masih terdiam sambil memandangi tanah dengan tatapan kosong. “Harusnya sunbae..-“

“Aku mohon jangan marah, aku minta maaf.” Yuna mendesah lalu melanjutkan kalimatnya. “Aku akan dengan senang hati mendengarkan masalah sunbae oppa. Aku akan berusaha membantu sebisa mungkin, kalaupun tidak bisa membantu setidaknya aku senang jika sunbae oppa merasa lebih lega.” Apakah ini akan menjadi masalah baru? Masalah di keluarganya saja sudah membuat Donghae tertekan bukan main, apalagi kalau Yuna sampai jauh darinya. Satu tetes air mata yang keluar dari mata Yuna menambah satu beban yang menimpa dadanya. Jika ia mengingat masalah yang kini menimpanya ingin sekali ia berteriak sekeras mungkin, berharap masalahnya bisa keluar bersama teriakannya.

“Seberat apapun masalahnya jangan berkelahi.” Lagi-lagi Yuna menangis. “Yuna jangan menangis… aku tidak akan mati begitu saja hanya dengan berkelahi.” Donghae memeluk Yuna, berharap dirinya bisa lebih tenang. “Aku tidak akan memaksa untuk bercerita, tapi jangan tanggung bebanmu sendiri.”

“Yuna… dengar. Aku… aku benar-benar tidak ingin berpisah denganmu, aku bersumpah aku ingin tetap berada di sini bersamamu. Tidak perduli apa kata orang tapi aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun, dan percayalah sampai kapanpun itu cintamu akan tetap ku kunci dalam hatiku. Percaya padaku apapun yang terjadi aku akan terus merindukanmu, mencintaimu dan tetap menunggumu. Jika ada pertemuan maka ada perpisahan, walaupun itu terjadi kau akan tetap jadi cinta pertamaku.” Yuna mempererat pelukannya. “Aku percaya. Tapi aku tidak mau berpisah sekarang, kau tidak bermaksud meninggalkan ku kan?”

“Tidak.. tidak sekarang dan tidak akan pernah aku berniat meninggalkan mu. Kumohon berhentilah menangis, aku tidak bisa membiarkan air matamu itu terbuang begitu saja. Jangan pernah menangis untukku.”

“Yuna~” Donghae melepaskan pelukannya perlahan. “Apakah kau akan memanggilku dengan Donghae oppa? Sekali saja… aku mau mendengarnya.”

“Tidak mau… nanti sunbae oppa pergi!”

“Tidak.. aku ingin sekali mendengar itu, walaupun hanya sekali. Aku ingin mendengarmu memanggil namaku tanpa embel-embel senior. Memangnya ada orang pacaran yang memanggil pacarnya dengan sebutan senior dan junior?” Yuna tersenyum, masih keukuh menolak permintaan Donghae.

***

“Kenapa hari ini hujan deras?” Yuna menyandarkan kepalanya di jendela sambil memandangi keluar jendela. “Seharusnya hari minggu semua orang bisa menikmati liburan bersama pacar dan keluarga.” Yuna mengendus, hari ini ia tidak bisa pergi keluar karena punya jadwal untuk melihat perusahaan ayahnya. “Donghae oppa… apa kau mau mendengarku memanggilmu Donghae oppa?” Yuna menurunkan kakinya dari kursi, lalu menutupi wajahnya dengan bantal.

“Nona.. ada telepon dari Gaeul.” Yuna mengambil ponselnya yang berada di tangan Jun. “Yeoboseoyo. Ada apa Gaeul?”

“Kau ada di mana sekarang?!”

“Di jalan menuju kantor appa. Kenapa?”

“Kau tidak ke rumah pacarmu?”

“Untuk apa?”

“Kau ini kenapa sih?!”

“Apa? Maksudmu itu apa sih?”

“Kau tidak mau mengucapkan selamat tinggal pada pacarmu? Setengah jam lagi dia akan berangkat ke Incheon, lalu terbang ke Amerika.” Mata Yuna langsung berkaca-kaca. “Pak! Ke rumah Donghae! CEPAT!”

Sementara itu…

“Apa kau yakin akan ikut pindah bersama orang tuamu?” tanya Chun Li sambil membantu mengangkat koper Donghae. “Apa yang bisa kulakukan? Kalau boleh jujur aku sama sekali tidak ingin pergi. Bagaimana nasib Yuna?”

“Donghae oppa… kau tidak memberitahu Yuna yah kalau kau mau pindah?” tanya Gaeul polos. “Tidak. Dia lebih baik tidak tahu… aku tidak mungkin melihatnya memandangi kepergianku, aku yakin reaksinya tidak akan biasa. Kalau sampai aku melihat airmatanya aku tidak akan kuat pergi.” ‘Ya tuhan… jadi.. aku salah!’ batin Gaeul.

“Kenapa?” Donghae balik bertanya. “Wah.. kenapa hujannya semakin deras?” Chun Li memandangi keluar. “Gaeul! Apa kau bilang pada Yuna kalau aku hari ini akan pergi?”

“A~… aku..”

“Oh tidak! Cepat bantu aku beres-beres.. lebih cepat!” Donghae memasukkan seluruh barangnya ke mobil. “Umma, appa! Lebih cepat! Kita tidak bisa lama-lama di sini!”

“Maafkan aku, aku tidak tahu.”

“Itu bukan masalahnya sekarang. Aku harus cepat-cepat pergi sebelum Yuna tiba.” Untungnya perabotan rumah dan barang lain sudah di bawa kemarin jadi sekarang mereka hanya mengemasi koper-koper.

“Aku akan merindukan kalian. Chun Li, terima kasih atas segalanya! Sampaikan maafku pada Haeya karena tidak bilang padanya. Gaeul… berikan ini pada Yuna, sampaikan maafku yang sedalam-dalamnya pada Yuna.’

“Apa kemarin Yuna sudah memanggilmu Donghae oppa?” tanya Chun Li sebelum Donghae berbalik. “Belum, dia masih menolak. Sudahlah.. mungkin suatu saat nanti aku baru bisa mendengarnya memanggilku begitu. Walaupun itu adalah harapan terakhirku. Sampai jumpa semuanya. Aku harap kita bisa bertemu lagi.” Donghae menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobil.

“Sampai jumpa!” Donghae membalas lambaian tangan Chun Li dari dalam mobil. Ayah Donghae melambaikan tangan sebelum akhirnya menginjak gas, perlahan mobil tersebut mulai pergi.

“SUNBAE OPPA!!!!” Chun Li dan Gaeul menoleh serempak. Yuna berlari keluar dari sebuah limo. “Donghae! Yuna mengejarmu!” seru Chun Li pada Donghae melalui telepon. “SUNBAE OPPA!!!” Donghae membuka kaca mobil.

“YUNA! YUNA CHAGIYA! SALANGHAEYO! YEONGWONHI. MIANHADA. SORRY, I LOVE YOU!” Donghae buru-buru memasukan kepalanya dan menutup kaca mobil tanpa melihat kebelakang lagi.

“DONGHAE OPPA!!!! DONGHAE OPPA!!! JEBAL GAJI MALAYO (tolong jangan pergi)!! ANDWAEYO (Tidak)!!!” akhirnya Yuna menyerah karena sampai kapanpun mobil Donghae tidak akan berhenti.

“Donghae oppa… salanghaeyo yeongwonhi.”

TBC

P.S: Maksa yak maksa ya???? Ehehehehe… habis waktu itu emang udah mampet, jadilah part 10 ancur gini.. ehehe… Tenang-tenang, di part 11 dan selanjutnya Onew sudah muncul ^o^

Lana

This FF/post has made by Lana and has claim by her signature.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

My Lovely Servant – Part 8

My Lovely servant (part 8)

Main cast       : Key, Yoon eun hye, Lee jinki

Another cast   :Shinee

EUN HYE SIDE

Jujur aku sama sekali tidak pernah berpikir jinki akan bersikap seperti itu, aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa bersikap seperti itu, ucapannya yang dingin selalu berputar ulang di pikiran dan terdengar jelas di telingku. Seharian ini aku hanya diam di kamar dengan alasan sakit, tapi apa besok aku harus tetap sembunyi dan menghindar dari jinki dengan alasan sakit.

TOK TOK TOK

“siapa??????” dengan malas aku menjawab ketukan pintu itu

“ini aku minjung, boleh aku masuk???” tanya suara itu dari balik pintu.

“masuk saja”

“apa yang terjadi?????” aku terkaget dengan pertanyaan minjung

“tidak ada apa-apa aku hanya sedang tidak enak badan”

“benarkah???? Kau tidak perlu berbohong padaku”

‘pernahkah kau merasa, sesuatu seakan menusuk hatimu????”

“mwo????”

“tidak, lupakan saja” ucapku

“ya sudah, aku tidak akan memaksamu bercerita, aku kesini karena ada sesuatu yang mau aku informasikan”

“gaya bahasamu aneh sekali”

“ah kau ini, nona ceyrin sedang ada disini, tapi tuan muda belum mau menemuinya, tuan muda menyuruhku berbohong, inilah itulah”

“kenapa kau ceritakan itu padaku???”

“tidak ada apa-apa cieh, kau kan mengenal nona ceyrin siapa tw kau mau menemuinya”

———-

KEY SIDE

Aku tidak mungkin terus-terusan bersembunyi, aku harus menemuinya, bukankah aku mencintainya, ini adalah kesempatanku.

Gadis itu tidak berubah, tetap anggun dan cantik seperti dulu, dia benar-benar gadis yang sama saat pertama kali aku bertemu dengannya, kenapa bunga selalu menarik perhatiannya.

“apa yang membuatmu menemuiku????” wooww kata-kata yang sangat tidak bersahabat key, tapi berhasil mengalihkan perhatiannya dari bunga-bunga yang ada diruangan ini.

“key, kau sudah pulang??? Aku sudah menunggumu” ucap ceyrin dengan senyum seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami.

“ada yang ingin kau bicarakan denganku???”

“apa aku tidak boleh menemui pacarku????”

“PACAR???? Semenjak kau meninggalkanku aku tidak merasa kalau kita mempunyai hubungan itu”

“benarkah???? Tapi aku dengar dari jonghyun dan minho selama ini kau belum punya pacar baru, itu artinya kau masih menunggukukan????”

“jangan dengarkan mereka, aku punya alasan untuk melakukannya”

“dan aku adalah alasanmu”

“jangan terlalu….” Ada sesuatu yang membuatku tak bisa melanjutkan apa yang ingin ku katakan, aku hanya merasa ada sesuatu yang lembut dibibirku sedikit lembab, dan saat sesuatu itu menjauh aku baru sadar kalau ceyrin menciumku.

“apa amerika mengajarimu ini????” tanyaku menggodanya, entah kenapa rasa marahku tiba-tiba hilang.

“MWO????” tanyanya sambil sedikit melangkah mundur, tapi aku menahanya dengan tanganku yang sekarang ada dipinggangnya. “ kalau amerika tidak mengajarimu, aku yang akan mengajarimu” ucapku kemudian menciumnya a deep kiss.

END OF KEY SIDE

“AAAAAAAA” teriak eun hye dan minjung bersamaan, sontak key dan ceyrin langsung melepaskan diri.

“miane” ucap eun hye sambil membungkukan tubuhnya.

“apa yang kedua orang itu lakukan disini????? Tidak bisakah mereka berciuman di tempat lain” gerutu hati eun hye.

“hey kalian berdua, kenapa membungkuk saja???? Dan satu hal lagi aku tidak membayar kalian untuk mengawasiku jadi cepat pergi” ucap key

“key kamukan tidak perlu sekasar itu” ucap ceyrin sambil mengusap pipi key mencoba mengalihkan perhatian key.

EUN HYE SIDE

“eun hye kwenchana?????? Aku khawatir karna kemarin kau tidak  masuk” ucap eunsung saat aku datang.

“aku tidak apa-apa” sekilas aku melihat jinki yang sedang melihat kearahku, mata kami bertemu tapi kemudian aku mengalihkan pandanganku.

“eunsung boleh kita bertukar tempat??????”

“kenapa, biasanya kau kan duduk disebelah jinki”

“hari ini aku ingin duduk dekat jendela” ya itu hanya alasanku saja.

“baiklah kalau itu maumu” ucap eunsung menyetujui.

Kelasku berakhir 3 jam kemudian.

“eun hye, kita harus bicara” ucap jinki yang menghentikan langkahku

“bicara apa lagi????? Tidak ada yang harus kita bicarakan”

“ada yang harus kita selesaikan” ucap jinki lagi

“apa lagi, semuanya selesai setelah kejadian itu, semuanya selesai saat kau tidak percaya padaku” ucapku tanpa menoleh pada jinki, aku terlalu takut untuk menatapnya.

“sepertinya kita harus benar-benar berbicara” ucap jinki, kemudian aku merasa seseorang menarik tanganku, dan tidak salah itu adalah jinki, dulu dia menolongku saat key menarik tanganku, tapi kenapa sekarang dia melakukannya.

Ternyata jinki membawaku keparkiran kampus, aku tidak mau jinki memaksaku untuk ikut dengannya.

“jinki aku mohon jangan seperti ini, jangan bersikap seperti orang lain”

“eun hye, harus aku yang berkata seperti itu, aku tahu aku salah, waktu itu aku… aku hanya….”

“hanya apa??? Kau hanya  berpikir kalau aku seperti apa yang kau pikirkan???”

“eun hye, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, untuk menjelaskan kenapa aku bersikap seperti itu” ucap jinki yang sekarang memegang kedua bahuku dengan tangannya yang halus.

“jinki, aku hanya perlu waktu” ucapku sambil melepaskan tangan jinki yang bertumpu di pundakku. “aku ke kelas ya” aku mencoba untuk tetap tersenyum padanya.

“EUN HYE SHARANGEYO…..”

Teriakan itu menghentikan langkah kakiku, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku seperti membeku.

“ sarangeyo eun hye-ah” suara itu terdengar melembut, aku tidak berani untuk berbalik kearah jinki, aku takut ini hanya ilusiku.

“eun hye, aku hanya tidak tahu harus bagai mana, aku tidak tahu cara apa yang harus kulakukan untuk mengungkapkan semuanya, aku terlalu takut, aku takut kalau kau tahu perasaanku kau akan menjauh, aku takut kau tidak bisa menerima, bahwa hatiku meminta dan berharap lebih darimu”

STUCK hanya itu yang kurasakan, harusnya aku merasa senang, ya aku senang tapi semakin aku merasa senang semakin jelas bayangan jinki yang tidak mempercayaiku.

“jinki, jujur aku senang mendengarnya, tapi dengan kejadian beberapa hari yang lalu, aku merasa kita belum cukup mengenal, kau belum mengenalku sepenuhnya, aku tidak mau membuatmu kecewa pada akhirnya”

“eun hye, apa separah itu luka dihatimu???”

“aku memang terluka, tapi hari ini kau telah mengobatinya, gomawoo, aku hanya ingin memulainya dari awal” entah apa yang ada dipikiranku, babo bukankah hari ini yang selalu aku tunggu.

“eun hye…..”

“jinki aku kekalas dulu” ucapku kemudian meninggalkan jinki.

END OF EUN HYE SIDE

————–

AUTHOR SIDE

Waktu sudah menunjukan jam 2 pagi. Tapi tidak menghalangi key dan teman-temannya untuk bersenang-senang.

“jadi sekarang kalian…..” ucap jonghyun sambil menunjuk key dan ceyrin bergantian.

“kalian apa????? Sudah jangan diteruskan, itukan bukan hal yang harus dibesar-besarkan” ucap key sambil meminum wiski-nya (bener gk nulisnya gitu?????)

“dibesar-besarkan??? Sepertinya ini bukan hal yang dibesar-besarkan, ini memang hal yang besar, sangat besar malah, kalau ini hal biasa tidak mungkin selama ini kau tidak mencari pacar dan tidak mungkin juga kau berubah jadi orang yang sedikit…….”

“hey minho kenapa sekarang kau jadi banyak bicara???” Tanya key tidak percaya, sontak membuat ke 4 nya  tertawa.

“ceyrin-shi apa kau yakin akan kembali pada key???” Tanya jonghyun menggoda ceyrin.

“aisshh” ucap key sambil melempar salah satu bantal yang disediakan oleh pengelola club.

“ adakah yang harus aku pertimbangkan lagi???” Tanya ceyrin ikut menggoda key.

“ya paling tidak kau harus mempertimbangkan, kalau di hadapanmu ini ada dua lelaki tampan” ucap jonghyun sambil berlaga membersihkan bahu kirinya yang jelas-jelas tidak kotor.

“jonghyun, apa kau mau merasakan pukulanku????” Tanya key yang sepertinya mulai kesal dengan kedua temannya.

“kau lihat ceyrin-shii, semenjak kau meninggalkannya 2 tahun yang lalu key jadi cepat marah” ucap minho yang hanya bisa membuat key geleng-geleng kepala tidak percaya.

Jam setengah empat pagi mereka memutuskan untuk mengakhiri obrolan yang tidak tentu arahnya.

“key, apa kepergianku berdampak sangat buruk padamu???” Tanya ceyrin ditengah perjalanan pulang.

“kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu???”

“tadi sepertinya jonghyun dan minho ingin menunjukan kalau aku orang yang jahat karna meninggalkanmu dan membuatmu berubah” ucap ceyrin sambil memiringkan tubuhnya agar bisa melihat key yang sedang menyetir.

“jangan dengarkan mereka”

“tapi aku mendengarnya dengan jelas” bantah ceyrin

“berpura-puralah kalau kau tidak mendengarnya, arasso???”

“NE key oppa”

“mwo???” Tanya key yang langsung mellihat kearah ceyrin

“mmm tidak bolehkan aku memanggilmu oppa seperti dulu”

“adakah alasanku untuk tidak mengijinkanmu???”

“gomawoo” ucap ceyrin kemudian merangkul tangan kiri key.

“ceyrin, aku sedang menyetir, kau tahu ini sangat tidak aman”

“baiklah-baiklah”

10 menit kemudian

“oppa, apa kau tidak mau bermalam disini????” Tanya ceyrin pada key saat mereka sudah berada di depan gerbang rumah ceyrin.

“aku tidak bisa menginap, besok aku ada kuliah pagi, kalau aku menginap disini pasti kita akan melanjutkan obrolan kita, aku ingin kau istirahat, kalu begitu aku pulang” ucap key sambil mencium dahi ceyrin kemudian masuk ke mobilnya.

“oppa, hati-hati kabari aku kalau kau sudah sampai dirumah”

END OF AUTHOR SIDE

————

EUN HYE SIDE

“kenapa aku belum bisa tidur, apa jinki benar-benar mengatakan kalau dia mencintaiku???” aku terus saja mengulang-ulang pertanyaan itu.

“aaahhhh sepertinya aku harus minum obat tidur” ucapku kemudian mulai melangkahkan kakiku keluar kamar, jam empat pagi aku harus menyusuri rumah besar yang gelap ini dan berjalan kearah dapur. “aisshhhh kenapa rumah sebesar ini sangat menyeramkan ya” aku terus menyusuri ruangan yang hanya disinari lampu-lampu redup, aku tidak mungkin menyalakan lampu, pasti akan ada yang bangun dan sudah pasti itu mengganggu, selain itu aku memang tidak tahu dimana aku harus menyalakan dan mematikan lampu, itukan bukan tugasku. Aku sedikit merinding ketika tiba-tiba aku mendengar langkah kaki “apa dirumah ini ada hantu???? Ya Tuhan lindungi aku” karna takut langkahku mulai tak karuhan, aku tidak tahu kearah mana aku berjalan terlebih rumah ini sangat besar dan TAAAAPPPPP. Aku merasakan punggungku bertabrakan dengan orang lain, sepertinya ini bukan hantu apa jangan-jangan maling, pikiranku mulai tak karuhan, aku memberanikan diri untuk membalikan badan dan

“AAAAAAAAA” aku dan orang itu sama-sama berteriak, sejurus kemudian aku sudah memukulinya.

“YAAA hentikan, hentikan, Aku bilang hentikan…..” orang itu mulai berbicara dan sepertinya aku mengenal suaranya.  O_O aku dalam masalah…….

“Tuan muda” ucapku sambil menghentikan pukulanku yang tidak karuhan tadi. Mudah-mudahan dengan aku memanggilnya tuan muda, key tidak mengenaliku.

“Tuan, aku minta maaf, kalau begitu selamat beristirahat” ucapku sambil membungkukan badan dan mencoba untuk kabur dari Mr.Arogant yang satu ini tentunya.

“hey kau pikir kau bisa kabur” ucap key sambil menarik kerah bajuku dari belakang, sontak aku berhenti berjalan, apa dia bisa membaca pikiranku ya?????.

“a-a-ku ti-tidak berniat kabur tuan”

“a-a-a kalau bukan kabur apa namanya, lari dari kesalahan??? Ayo ikut denganku”

“kemana???”

“Mencari tempat dimana aku bisa menyalakan lampu ruangan ini”

“tapi tuan….”

“tidak ada kata tapi, aku mau melihat siapa orang yang berani memukuliku, kau pikir aku akan melepaskanmu” ucap key.

Sepertinya aku benar-benar dalam bahaya. Tapi apa key benar-benar tidak mengenali suaraku, apa dia juga tidak hafal dengan postur tubuhku, ahhh apa yang kupikirkan sich buat apa key mengingat aku.

“hey dimana tempat menyalakan lampunya????” Tanya key padaku

“ne???”

“heh apa kau tidak mendengarkanku???? Dimana tempat menyalakan lampunya???”

“tuan, aku tidak tahu tempatnya dimana”

“aku tahu kau hanya mencari alasan”

“aku sungguh-sungguh tidak tahu tuan” ucapku meyakinkan

“aishh, kau kan bekerja disini kenapa kau bisa tidak tahu, selama ini apa yang kau lakukan????”

Dasar key menyebalkan, ucapannya membuat darahku naik keubun-ubun, akukan hanya pekerja, sedangkan dia pemilik rumah masa tidak tahu dimana tempat menyalakan lampu rumahnya sendiri.

“hey kenapa kau diam”

“tidak ada apa-apa, aku hanya merasa kalau sedari tadi kita sudah berputar-putar”

“benarkah????” Tanya key, tiba-tiba HPnya berbunyi, key mengambil HPnya dari saku celana dan membaca pesan yang diterimanya, kemudian dia mengetik sesuatu, walaupun tidak jelas tapi aku bisa melihat senyumannya.

“Ahhhhh, kenapa aku bodoh sekali” ucap key tiba-tiba.

“apa kau baru sadar kalau sebenarnya kau bodoh” gumamku, dan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“apa kau bilang????”

“anii, aku tidak berkata apa-apa” ucapku mengelak, eun hye aku rasa sekarang kau lebih bodoh dari mr. Arogan ini.

“tegakan kepalamu!!!!!” perintah key

“ne????”

“sudah lakukan saja”

Mau tidak mau aku harus mengangkat kepalaku, dan aku tidak percaya bahwa sekarang key mengarahkan HPnya ke mukaku,  dan sepertinya wajahku jelas terlihat.

“EUN HYE?????”

“hey key, sepertinya kau sudah lelah dan aku juga harus kembali tidur” ucapku dengan senyuman yang sedikit dipaksakan, tidak tidak bukan sedikit tapi memang dipaksakan.

“pantas sedari tadi perasaanku tidak nyaman, ternyata ada kau”

Aishh orang ini, selalu saja mengeluarkan kata-kata tidak menyenangkan.

“sepertinya ini terlalu pagi untuk kita bertengkar” ucapku mencoba menenangkan diriku sendiri.

“aaahhhh ya ya ya, aku tahu itu, makanya sedari tadi kau hanya bisa mengatakan NE lalu TUAN MUDA, kenapa??? Menghindar dariku ya????”

“ heh Mr. Arogant dengar ya, aku sedang tidak mood untuk bertengkar denganmu, sudah cukup kau menimbulkan masalah dihidupku, mengerti”

“Mr. Arogant??? Tidak bisakah kau menggantinya dengan yang lebih bagus???? Misalnya Mr.Charming atau Mr.Cool dan masalah?????? Dihidupmu???? Ow ya aku ingat, kau sedang bertengkar dengan ROMEO-mu itu????”

“aku rasa semakin lama kau semakin gila” ucapku kemudian bergegas meninggalkan key, tapi karna ruangan yang tidak cukup bercahaya aku menabrak sesuatu dan GELAPPPPPPP.

TBC

Dhy

This post/FF has written by Dhy, and has claim by Dhy signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Love Or Friend – Part 5

Title: Love or Friends –part 5-

Writer: Sun hi a.k.a Bellz [author] Yoora a.k.a Niniez [editor]

Genre: Friendship, Romance

Cast:

Lee Sun hi

Lee Taemin

Kim Soo Yun

Lee Jinki

A/N: Gara-gara aku lagi buntu. Ga punya ide. Jadi, aku suruh aja Bellz buat ngelanjutin ff yang part ini. Hehe. Tapi, tenang aja kok. Aku tetap andil dalam pembuatan cerita ini. Soalnya, masih banyak kata-kata Bellz yang masih harus diubah dan juga aku nambahin banyak kalimat buat melengkapi semuanya^^. Tulisanku dan Bellz beda, jadi readers mungkin bisa membedakan mana tulisanku dan mana tulisan Bellz..

OK.. HAPPY READING ~^^

***

YOORA SIDE

Aku kembali ke foodcourt dengan sejuta pertanyaan di benakku.

“Kau tadi kemana?” tanya Jonghyun padaku.

Aku diam. Aku masih bingung tentang apa yang terjadi, tadi.

“Yoora~” panggil Jonghyun lagi.

“Mana Minho, Key, dan Soo Yun?” tanyaku tak nyambung. Aku sedang malas membahas masalah tadi. Hal itu hanya membuatku bingung dan penasaran.

“Eh? Mereka pulang duluan. Katanya sih ada keperluan mendadak. Untungnya mereka telah membayar semua makanan ini. Haha.”

“Oh.”

“Kau kenapa?” tanya Jonghyun sambil menarik tanganku dan mempersilahkanku duduk. Aku baru sadar kalau dari tadi, aku masih berdiri.

Aku menggeleng pelan. Entah mengapa, aku merasa ada yang tidak beres dengan Taemin tadi. Dan entah mengapa pula, aku merasa akan ada masalah besar di sini.

“Mau melanjutkan makan?” tanya Jonghyun lembut sambil mengelus rambutku.

Sekali lagi, aku menggeleng.

“Lebih baik, kau kuantar pulang ya.”

Aku mengangguk. Lalu, Jonghyun menarikku keluar foodcourt.

***

SUN HI SIDE (20.00 p.m)

Aku memegang kalung silver berbentuk huruf ‘S’. Kalung ini adalah pemberiannya dulu.

Ya.. pemberian seorang pengkhianat yang kini telah menghancurkan hatiku berkeping-keping.

LEE TAEMIN

Dasar orang bodoh! Taemin bodoh! Kalau ia tidak mencintaiku, kenapa ia malah menembakku dulu?

Dan tadi, ia dengan gampangnya bilang, “Mianhae, Sun hi-sshi… aku sama sekali tidak mencintaimu selama ini. Aku mencintai Soo yun.”

SOO YUN!! SOO YUN!! DAN SOO YUN!!

AARGH!

Aku mengacak rambutku.. frustasi..

ONEW SIDE  ( 20.00 p.m)

Shit!

Lee Taemin! Apa maunya anak itu? Puaskah ia sudah membuat Sun hi menangis tadi? Mengapa ia selalu berlindung di balik wajah dinginnya itu?

Argh! Benar-benar menyebalkan! Aku tak tahan melihat Sun hi menangis hanya gara-gara namja tolol itu. Kenapa juga aku tidak menahannya saat Taemin akan mengajaknya bicara!? SIAL!!

Tapi sesaat tadi, ia sempat memanggilku “ oppa”. .ah, senangnya. .berasa melayang di surga sesaat. *sesaat doank, abis itu jatuh dah. .keke~*

Keadaan sun-hi sekarang gimana ya? Apa kutelpon saja? Ehm. .oke deh, aku coba telpon saja. .

Tettottituttattut. .*A/N: ini bunyi keypad yaa.. jangan mikir yang macem-macem loh.. hhe~*

“Yoboseyo , Sun hi”  sapaku saat yeoja itu mengangkat telponnya.

“Yoboseyo. Ooh.. kau onew. .ada apa?” jawabnya. Suaranya bergetar, pasti dia habis menangis lagi.

“ Aish.. Kau menangis lagi? Untuk apa namja tolol itu kau tangisi? Tak ada gunanya!” kataku kesal, hingga tanpa sadar aku menendang kursi di sampingku. Hah~ untungnya aku berbicara dengan Sun hi lewat telepon. Jadinya, aku tak perlu ragu untuk menendang kursi tak berdosa itu.

“Onew! Kau itu kenapa sih? Apa niatmu sebenarnya menelponku? Hah?!” bentak Sun hi. Ku rasa ia marah padaku sekarang. Aish.. Lee Jinki.. kau bodoh sekali!

“Eh.. mm.. bukan begitu kok, maksudku. Aku tidak menjelek-jelekkan Taemin. Tapi.. itu..  aku sedang melihat acara di televisi. Ada yeoja yang sedang menangisi mantan namja-chingunya yang memutuskannya dengan cara sepihak..” jelasku berbohong. Sebenarnya, aku sedikit menyinggungnya. Tapi, aku tak tahu ia merasa tersindir atau tidak.

“Oh.. begitu.. aku kira kau-”

“Aku tidak akan menjelek-jelekkan Taemin, kok. Sungguh.” selaku tegas.

“Kau tak mau menjelek-jelekkanya. Tapi, malah memberinya hadiah bogem mentah, tadi.” goda Sun hi padaku. Huff.. aku jadi teringat kejadian tadi. Entah kenapa, aku merasa kejadian tadi sangat memalukan.

“Eh.. kalau masalah itu-”

“Aku sudah tau, kok. Kau merasa marah, karena sahabatmu ini dikhianati kan? Haha.” sela Sun hi dengan PD-nya. Aku tertawa.

“Kau ini.. narsis sekali, sih. Dasar! Mm.. tadi, aku mendengar kalau suaramu bergetar. Kau habis menangis, tadi?” tanyaku langsung. Keheningan melanda, setelah aku bertanya hal itu.

1 menit..

Hadeh~ gimana ini? Dia marah ya sama aku?

2 menit..

Waduu~ lama amat.. aku lumutan nih~

3 menit..

Hyaa~ pulsaku habis, nanti. Ada counter pulsa ga ya di sekitar sini?

(selingan narasi dari editor)

1 abad kemudian… bercandaa~ akhirnya, otak lemot Sun hi mulai berjalan. Roda di dalam otaknya mulai berputar, karena ternyata tadi roda dalam otaknya ngambek tidak mau jalan. Katanya sih sudah capek berputar terus. *beginilah kalau sang editor mulai ga waras. Reader harus terima akibatnya.. haha~*

(selingan berakhir)

“Kapan?” tanyanya polos.

JDIARRR! GDUBRAK! TOENG TOENG!

(selingan lagi)

Ternyata.. eh.. ternyata.. Walaupun roda di dalam otak Sun hi sudah berjalan. Syarafnya menolak untuk menghubungkan masing-masing bagian otaknya. *langsung dicekek, diiris, dan dibunuh sama Sun hi* *Onew: WOY EDITOR GILA! GA WARAS! Bagian gue jadi dikit tauk!* *editor langsung ngumpet di balik layar (?)*

(selingan end)

“Satu abad yang lalu..” jawabku asal. *editor: tuh kan! Bener..* *Sun hi+Onew: WOY! EDITOR GILA! TERUSIN NIH CERITAAA!* *editor: WOY CAST GILA! AKU TUH GA DAPET PERAN SAMA SEKALI DI SINI TAUK! JADI, AKU NUMPANG TENAR AJAAAA~*

“Eh?”

“Ya bukanlah.. tadi itu loh.. waktu kamu pertama kali ngangkat telepon dari aku..” kataku kesal sambil memutar kedua bola mataku.

“Oh.. itu.. mm.. iya.. aku menangis.. ya.. aku menangis..”

“Kenapa? Kau tak ingat apa nasihatku?”

“Ah, mianhae. .jeongmal mianhae. .hanya saja. .err. .hanya saja. . . .” jawab sun-hi ragu-ragu.

“Hanya apa? Jangan bilang kalau kau masih mencintainya? Benar kan?” kataku semakin kesal.

“Eh. .tidak. .hanya saja. .” jawabnya. Jawaban Sun hi yang seperti ini semakin membuat hatiku sakit. Yeojaku (?)  ini benar-benar terluka.

“ Ah. .ya sudahlah. .lupakan saja. Maafkan aku ya, Sun hi.” Kataku akhirnya.Tidak tega juga aku memarahinya seperti tadi.  “ Kau istirahat saja sekarang, kau pasti lelah kan? Oke, selamat malam.” kataku akhirnya.

“Ne. .gomawo, onew.” Jawab sun-hi.

Hah. . apa yang harus kulakukan besok?

***

SOO-YUN SIDE (keesokan harinya)

“ Sun-hi!! “ teriakku begitu melihat sun-hi masuk gerbang sekolah.

“ Annyeong. .ada apa?” jawab sun-hi.

Tuh kan. .dia lemas seperti itu. .tidak seperti biasanya. .

“Ah, tidak. .hanya saja, kenapa kemarin kau dan onew pulang tanpa memberi kabar pada kami? Taemin juga gitu, dia langsung pulang begitu saja.” tanyaku penasaran. Setelah, aku bertanya demikian – entah kenapa – air muka Sun hi langsung berubah sendu.

“Uhm. .aku hanya merasa tidak enak badan. Makanya aku pulang duluan.” Jawab Sun Hi sekenanya.

“Tapi, kenapa harus sama onew? Tidak sama Taemin? “tanyaku lagi. Ada sesuatu yang tidak beres di sini.

“Haha. .tidak apa. Hanya ada sedikit masalah, jadi Onew mengantarku pulang. Err, aku ke kelas dulu ya. .bye. .” katanya sambil berlari menjauh.

“oh..oke..” aku hanya bisa ber-ohh ria .

Heemm.. benar-benar ada yang tidak beres di sini. Apa kutanyakan pada Taemin ya? Pasti sun-hi jadi kusut begitu gara-gara dia..

Ya sudahlah, ngapain juga aku repot-repot mikirin mereka. Pasti juga masalah pacaran. .

Berhubung dengan pacaran. . .ah, aku teringat lagi dengan hal itu. . . Jonghyun. . . .

Apa kau benar-benar ingin menjauh dariku??

TAEMIN SIDE

Soo-yun. .di mana anak itu. Saat dibutuhkan malah belum datang. .

Benar-benar deh. .

Eh

Tanpa sengaja pandanganku menangkap 2 sosok yeoja yang sedang berbicara di gerbang sekolah. Untuk apa soo-yun bicara dengan sun-hi pagi-pagi seperti ini?

SUN-HI SIDE

Aigoo. .

Kenapa di saat seperti ini harus Soo yun yang menanyakan masalah kemarin? Padahal hari ini aku sedang tidak ingin memikirkan hal itu. Bagaimanapun, Soo-yun lah yang disukai Taemin selama ini. .

“Sun-hi?” seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Deg. . . . “KYAAA!!!” aku berteriak saking kagetnya sampai-sampai hampir saja  aku melempar tasku yang isinya buku setumpuk itu.

“Eh. .eh. .sabar! Jangan main timpuk dulu! Ini aku, onew! Kau masih waras untuk menyadari bahwa ini aku kan? Tasmu itu juga kasihan kalau kau lemparkan ke aku. Ia tidak berdosa kan? Hehe. .” katanya kelabakan. Tapi  dia masih saja sempat bercanda.

Dasar Onew !

Itulah yang aku suka darinya. .

ASTAGA.  Apa yang kupikirkan?

“Hyah! Onew! Kau ini selalu mengagetkan aku. Tak adakah cara lain yang lebih baik untuk memanggilku, hah? “ omelku sedikit kesal.

“Haha..mianhae. . kau melamun sih. .masih kepikiran soal kemarin?” tanya Onew. Kali ini dia mulai serius.

“Ehm, sudah tidak terlalu kupikirkan kok. .aku tak apa-apa sekarang. Aku jamin itu!” kataku sambil tersenyum manis seolah-olah aku memang sudah tak mengurus taemin lagi

padahal. . .

“ Oh. .ya sudahlah. Eh, antarkan aku ambil buku ke Minho, dong. .” ajaknya tiba-tiba.

“ Eh, buat apa? “ tanyaku.

“ Minggu kemarin catatan kimiaku dia pinjam. Hari ini ada kimia kan? Makanya. .udah ah. .gak usah banyak tanya, ikut aja!” kata Onew cepat sambil menggandeng tanganku.

“Eh. .eh. .ya sudah. .tapi. .tanganmu. . “ jawabku bingung. Tangan ini benar-benar membuat pipiku panas. .ya tuhan. .

“Sun-hi sunbae dan Onew sunbae pacaran ya? “ teriak seseorang –yang dipastikan adalah yeoja- dari depan kelasku.

Aish~

Bisa gawat kalau ada yang membuat gossip sembarangan tentang Onew. Walaupun, ia menjengkelkan, tapi kan ia memiliki banyak fans..

-TBC-

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF