My Regret [2.2]

Title: My Regrets

Author: Nisaa~ ^o^

Genre: Family

Main Cast:

–          Lee Jin Ki

–          Lee Ji Hyun

Other Cast:

–          Choi Min Ho

–          Lee Tae Min

–          Han Chae Rin

~ ~ ~

“Umma.. Aku pergi dulu ya..”

Umma menahan tanganku.

“Waeyo,umma?”

“Hati-hati ya… Umma sayang padamu dan Jin Ki…” ucap umma tiba-tiba. Begitu lancar.

Umma mencium keningku dan dipeluknya aku beberapa saat.

“Umma…..” kucium pipi umma. Umma tersenyum dan kembali ke kamarnya. Apa yang terjadi pada umma..?

Tae Min menarik tanganku pelan, “Kkaja, Hyun..”

Aku mengangguk. Seperti biasa, kukunci pintu depan dan pagar. Tampak sebuah taksi sedang menunggu. Aku , dan Min Ho masuk ke dalam taksi. Tae Min duduk di depan disamping supir taksi.

***

Hp Tae Min berdering.

Sms masuk.

“Nomor siapa ini ya?” gumam Tae min. Dibukanya sms nya.

Tae min, tolong sampaikan ini pada Lee Ji Hyun ya.. Aku sangat minta maaf padamu, Ji Hyun.. Aku sangat menyesal… Sangat menyesal.. Dan yang makin membuatku menyesal adalah dongsaengku sendiri tidak mau memaafkanku. Aku tidak bisa terus hidup dalam keadaan seperti ini. Aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan pergi dari kehidupanmu dan kehidupan umma. Aku akan mengakhiri hidupku… aku tidak sanggup hidup dengan perasaan yang tersiksa begini… maafkan aku, hyun… aku selalu menyayangimu dan umma… -Lee Jin Ki-

TaeMin begitu terkejut. Ia langsung menyuruhku membaca sms itu. kubaca sms itu pelan-pelan. Aigo… ini tidak mungkin!!!!

“Annyio… tidak mungkin…. Oppa!!” aku menangis.        “Tenang, Hyun… tenang…” Min Ho mencoba menenangkanku. Ia menarikku dalam pelukannya.

Tae Min buru-buru mengambil hp-nya dan langsung menelpon nomor Jin Ki-oppa.

“Aigoo… ayo, hyung! Angkat telponku!!!!” Tae Min terlihat panik.

“Yoboseyo, Tae Min…” jawab seseorang di sebrang sana.

“HYUNG!!! Apa yang akan hyung lakukan?!”

“Maaf, Tae Min. tapi tolong jangan cegah aku. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini. aku benar-benar tidak bisa.” Suara itu terdengar begitu lemah.

“Hyung! Hyung sekarang ada dimana?”

“Kenapa kau tanyakan hal itu Tae Min? kau tidak berfikir mau menyelamatkanku bukan?” tanyanya datar. Benar-benar seperti orang yang sudah sangat putus asa.

“Aku tanya Hyung ada dimana?!!!”

Ku rebut hp Tae Min.

“Oppa… kumohon jangan tinggalkan aku…!!!! Aku sudah memaafkanmu,oppa!!!!” teriakku pelan sambil menangis.

***

Jin Ki POV

Aku bangun dengan mata yang agak sembab. Ku cuci mukaku lalu aku terdiam sebentar di depan lemari bajuku. Kubuka salah satu lacinya. Kukeluarkan selembar foto. Foto ku bersama Hyun, umma dan appa saat kami pergi jalan-jalan ke Universal Studio di amerika. Saat-saat yang sangat kurindukan. Kuusap foto itu dan kuciumi appa dan umma juga Hyun dalam foto itu. air mataku menetes.

Aku sudah memutuskan. Aku akan mengakhiri semuanya. Kuraih jaketku yang kemarin kupakai. Kemarin aku minta bantuan pada temanku yang juga kuliah di Seoul University untuk mencari tau nomor hp Lee Tae Min, temannya Hyun. Kurogoh saku jaketku. Kukeluarkan kertas kecil yang diberikan temanku kemarin yang isinya nomor hp Tae Min.

Aku mulai mengetikkan pesan singkat untuk Ji Hyun tapi akan kukirim ke nomor Tae Min.

Tae min, tolong sampaikan ini pada Lee Ji Hyun ya.. Aku sangat minta maaf padamu, Ji Hyun.. Aku sangat menyesal… Sangat menyesal.. Dan yang makin membuatku menyesal adalah dongsaengku sendiri tidak mau memaafkanku. Aku tidak bisa terus hidup dalam keadaan seperti ini. Aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan pergi dari kehidupanmu dan kehidupan umma. Aku akan mengakhiri hidupku… aku tidak sanggup hidup dengan perasaan yang tersiksa begini… maafkan aku, hyun… aku selalu menyayangimu dan umma… -Lee Jin Ki-

Aku menangis saat mengetik sms ini. Bahkan rasanya aku tak sanggup mengetiknya. Setelah kutekan tombol send, aku langsung mengenakan jaketku. Aku tidak mengunci pintu apartemenku. Karena aku tak mau orang panik mencari kunci-nya nanti. Aku mulai berjalan menuju tangga darurat yang menhubungkan ke atap. Aku berjalan pelan. Air mataku menetes satu persatu sepanjang jalan.

Kubuka pintu atap pelan-pelan. Angin berhembus dan langsung menerpaku. Seolah mengusirku untuk kembali ke dalam apartemen. Tapi percuma… Chae Rin, jagiya… maafkan aku… aku bahkan belum sempat pamit padamu. Aku mencintaimu… Hyun, aku tidak tau harus melakukan apalagi… aku benar-benar putus asa saat ini. benar-benar putus asa. Aku mulai berjalan menuju tepi atap gedung ini. tiba-tiba hp-ku berdering. Ternyata Lee Tae Min.

“Yoboseyo, Tae Min…” jawabku pelan.

“HYUNG!!! Apa yang akan hyung lakukan?!” Suara Tae Min terdengar panik.

“Maaf, Tae Min. tapi tolong jangan cegah aku. Aku sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini. aku benar-benar tidak bisa.” Jawabku lemah.

“Hyung! Hyung sekarang ada dimana?” desak Tae Min.

“Kenapa kau tanyakan hal itu Tae Min? kau tidak berfikir mau menyelamatkanku bukan?” tanyaku pelan.

“Aku tanya Hyung ada dimana?!!!” ia sedikit berteriak.

“Oppa… kumohon jangan tinggalkan aku…!!!! Aku sudah memaafkanmu,oppa!!!!” terdengar suara yang sudah agak serak. Suara JI HYUN!!!

“Ji… Ji Hyun?” tanyaku terkejut.

“Oppa… jangan tinggalkan aku… oppa… maafkan aku…” ia menangis. Apa benar ini Ji Hyun…?

“Ji Hyun… ini benar-benar kau?” suaraku bergetar.

“Ne… ini aku,oppa… maafkan aku,oppa… tolong jangan tinggalkan aku… aku sayang oppa… aku tidak mau oppa pergi…” isaknya.

Aku menangis mendengarnya, “Hyuun… aku tidak akan meninggalkanmu… aku tidak akan meninggalkanmu…”

“Jinca,oppa?”

“Ne… kau sudah memaafkan oppa… dan kau sudah meminta oppa untuk tidak meninggalkanmu. Oppa tidak akan meninggalkanmu , Hyun…”

“Oppa janji?” suaranya bergetar.

Aku mengangguk. Air mataku masih mengalir, “Ne… Oppa janji, Hyun…”

“Oppa jangan menangis… Aku akan kesana… oppa sekarang ada dimana?”

“Di atap apartemen oppa di Yongsan-gu, hyun…”

***

Ji Hyun POV

Kubuka pintu atap apartemen mewah ini. tampak seorang pria sedang berdiri membelakangiku. Ia menghadap ke pemandangan kota Seoul didepannya. Angin berhembus cukup kuat disini. Min Ho melepas genggaman tangannya. Kutatap matanya. Ia mengangguk.

Aku berjalan selangkah, “Oppa…”

Pria itu berbalik menghadapku, “Ji Hyun? Apa itu kau Ji Hyun?”

Aku langsung berlari menghampirinya, “Opaaaa….!”

Kupeluk erat orang yang ada di depanku ini. Aku meyesal telah menganggapnya sebagai seorang pembunuh. Aku sadar sekarang, semua itu adalah takdir Tuhan. Umur appa memang hanya sampai pada hari itu dan hal itu telah di tulis sejak lama oleh Tuhan. Nyawa manusia adalah milik Tuhan, maka suatu saat Tuhan pasti akan mengambilnya kembali dengan cara yang tidak kita duga.

“Maafkan oppa, hyun… kalau saja nyawa oppa bisa diberikan pada appa, pasti sudah sejak lama oppa memberikannya, hyun… maafkan, oppa… maaf,hyun…” Ujar Oppa. Oppa menangis.

“Annyio, oppa… jangan terus-terusan menyalahi dirimu. Ini semua takdir,oppa… bukan oppa yang membunuh appa. Tuhan yang menciptakan appa dan Tuhan juga yang mengambil appa dari kita. Maafkan Hyun,oppa… Hyun terus-terusan menyalahkan Oppa selama ini…” tangisanku kian kencang.

Oppa memelukku lebih erat, “Tidak, Hyun… kau tidak salah apa-apa. Oppa memang pantas disalahkan atas kejadian itu. oppa benar-benar menyesal.”

Kulepaskan pelukanku, ku tatap mata oppa, tampak penyesalan yang begitu mendalam pada matanya, “Oppa dengar aku. Aku memang awalnya menyalahkan oppa yang sudah menabrak appa. Tapi aku sadar, kalau saja Tuhan memang tidak mengkehendaki appa meninggal, appa tidak akan meninggal,oppa.”

“Oppa…” kuhapus airmata oppa. Oppa memegang tanganku. Digenggamnya erat.

“Kau mau memaafkanku, hyun?”

Air mataku kembali menetes, “Kenapa oppa bertanya seperti itu? Aku sudah memaafkan,oppa… sungguh.”

Jin Ki-oppa tersenyum.

“Lalu, apa oppa mau memaafkanku yang sudah menganggap oppa……”

Oppa meletakkan telunjuknya di bibirku. Di hapusnya air mataku, “Tidak ada yang perlu oppa maafkan, hyun. Jadi, kau jangan minta maaf pada oppa.”

“Terimakasih,oppa…” kupeluk oppa dengan erat, “Aku rindu padamu, oppa…”

***

Jin Ki POV

Terimakasih, Tuhan… dongsaengku telah mau memaafkanku. Aku begitu senang. Rasanya beban yang selama 5 tahun ini selalu menghantuiku berkurang. Tinggal satu hal yang belum kulakukan. Aku akan minta maaf pada umma sekali lagi. Umma yang frustasi sejak appa meninggal dan aku meninggalkan rumah. Aku akan merawat umma bersama Hyun.

Saat ini kami sedang di perjalanan menuju rumah. Rumah… begitu banyak kenangan di dalamnya. Walaupun appa dulu orang yang cukup kaya, appa sengaja membeli rumah yang tidak terlalu mewah tapi cukup besar. Dengan halaman yang agak luas. Aku akan kembali ke rumah. Memulai hidup bersama Hyun dan umma.

Kami sampai di rumah. Hyun membuka pagar rumah. Min Ho ikut masuk. Tapi, Tae Min sudah pulang duluan. ia bilang yeojachingu-nya ingin bertemu dengannya. Kuseret koperku yang cukup besar.

“Umma… aku pulaang…!” Hyun membuka pintu. Tak terdengar jawaban. Ada perasaan yang kurang enak dalam hatiku. Aku tidak tau apa. Hyun langsung berlari ke kamar umma.

Ji Hyun POV

Aku merasa ada sesuatu yang terjadi. Hatiku merasa tidak enak. Aku langsung berlari ke kamar Umma. Kubuka pintu kamar umma. Terkunci.

“Umma!!! Apa umma ada di dalam???!!! Umma buka pintunya!!!!!” aku langsung berteriak.

Jin Ki-oppa dan Min Ho langsung menhampiriku.

“Waeyo, Hyun??” tanya Min Ho dengan wajah yang agak panik.

“Hyun, kau kenapa???” Jin Ki-oppa menatapku.

“Oppa… kumohon… apa kau bisa mendobrak pintu ini? Min Ho, apa kau bisa? Aku mohon, umma ada di dalam. Aku tidak tau apa yang umma lakukan di dalam. Biasanya umma tidak pernah mengunci pintu kamarnya ini!!”

Jin Ki-oppa mengangguk, “Arasso… ayo, Min Ho…”

“Ne, hyung…”

“Hana…dul… set…!!” mereka mencoba mendobrak pintunya. Sementara aku, kupejamkan mataku erat-erat. Aku terus berdoa dalam hati. Semoga umma tidak melakukan apa-apa.

“BRAAKKK!!!” terdengar bunyi yang kuat.

Ternyata Jin Ki-oppa dan Min Ho berhasil mendobrak pintunya. Aku langsung masuk ke kamar. Terdengar bunyi kran hidup di kamar mandi yang pintunya terbuka. Aku masuk ke kamar mandi. Air melimpah-limpah di lantai. Di dalam bak mandi terkulai sesosok wanita dengan bibir membiru yang sangat berharga dalam hidupku.

“UMMAAAAAAA!!!!!!!!!!!” teriakku kencang langsung kupeluk tubuh yang sudah dingin itu.

Min Ho menghampiriku. Menarikku dalam pelukannya. Aku meronta dalam pelukan Min Ho. Tapi aku tidak bisa melepas pelukannya.

Jin Ki-oppa langsung terduduk lemas di lantai kamar mandi, “Umma… Umma…Maafkan aku…”

***

Jin Ki POV

8 bulan setelah pemakaman umma… Aku berkali-kali menangis membaca surat itu. surat yang tergeletak di kasur umma. Surat dengan tinta hitam dan terdapat tulisan yang luntur. Umma menangis. Ya… umma pasti menangis saat menulis surat ini. Kenapa umma tega meninggalkan kami…?

Entah berapa lama aku menangis di makam umma. Kalau saja saat itu Chae Rin tidak memintaku pulang, mungkin aku akan lebih lama menangis di makam umma. Ji Hyun tampak  begitu histeris. Ia menyalahkan dirinya. Ia terus berkata ia penyebab semua ini. Ia penyebab umma sampai frustasi. Tapi, Min Ho dan Tae Min terus membujuknya. Min Ho terus berada di samping Ji Hyun untuk menjelaskan dan membuat Ji Hyun mengerti.

Butuh waktu sampai sebulan untuk membuat Ji Hyun tenang dan menerima semuanya. Berkat Min Ho juga sekarang ia sudah mulai melupakan bahwa ia penyebab semuanya. Min Ho selalu ada di sampingnya. Saat ia menangis, Min Ho datang untuk menenangkannya. Sekarang, Ji Hyun sudah kembali ceria.

“Oppa, sampai kapan oppa akan menangis di taman seperti ini?” Hyun duduk disebelahku. Hyun benar-benar mengejutkanku.

“Padahal Chae Rin-onnie memintamu kemari untuk menemaninya. Kenapa oppa malah menangis begini…?”

Ne…Hari ini, Chae Rin mengajakku dan Hyun Ji ketaman. Saat ini ia sedang membeli minuman di minimarket depan taman ini.

“Annyio, hyun… oppa sudah bisa menerima kepergian umma..Hyun, apa saat itu umma sungguh-sungguh sudah memaafkan oppa? ”

Hyun tersenyum, “Umma pasti sudah memaafkan oppa… kalau umma tidak memaafkan oppa, mana mungkin umma menyuruhku untuk tidak menyalahkan oppa. Lagipula, umma tidak pernah menyalahkan oppa. Percayalah,oppa…”

Kuhela nafas panjang. Kata-kata hyun terasa seperti angin penyejuk bagiku. Kucium kening Hyun, “Gomawo, dongsaeng…”

“Oppa… nanti Chae Rin-onnie marah loh…” goda Ji Hyun.

“Tidak akan… mana mungkin dia marah pada dongsaengku.”

“Ya! Dari jauh, hyung dan Hyun terlihat seperti orang yang sedang berpacaran.” Ujar seseorang di belakang kami.

Kulihat ke belakangku. Hyun juga.

“Min Ho… kenapa kau ada disini?”

“He..he.. Hyung… annyonghaseo… aku sengaja kemari untuk bertemu dengan Hyun.”

Ji Hyun POV

“Ya! Dari jauh, hyung dan Hyun terlihat seperti orang yang sedang berpacaran.” Aku trkejut mendengar suara itu. Kenapa Min Ho bisa kemari?

Kulongokkan kepalaku kebelakang. Dan benar saja, Min Ho ada di belakang kami. Kaus warna putih, jaket hitam dan celana jeans hitam plus sneaker biru. Kenapa aku deg-deg-an melihat Min Ho?? Aiish… Hyun, kendalikan bunyi detak jantungmu… jangan sampai Min Ho mendengarnya.

Min Ho… kenapa kau ada disini?” tanya Jin Ki-oppa.

“He..he.. Hyung… annyonghaseo… aku sengaja kemari untuk bertemu dengan Hyun.” Min Ho duduk disebelahku.

“Aku?” tanyaku sedikit grogi. Aduuuh… kenapa ini???

“Ne~~ Aku bosan di rumah. Tae Min sedang sibuk bersama Hye Rin.” Jawab Min Ho.

Jadi,, aku hanya pelarian…? Karena Tae Min tidak ada makanya dia kemari??? Uugh…kenapa rasanya jawaban Min Ho begitu menusuk perasaanku…?

Aku hanya diam. Jin Ki-oppa menatapku.

“Hyuun…” panggil Jin Ki-oppa pelan.

Aku menoleh ke arah Jin Ki-oppa, “Ne…”

“Aku mau menyusul Chae Rin dulu ya… dia lama sekali.” Aku tau Jin Ki-oppa hanya ingin meninggalkanku dan Min Ho berdua.

“Hyun, kenapa kau diam?” tanya Min Ho setelah Jin Ki-oppa pergi.

“Anniyo…”

Min Ho menarik nafas panjang, “Maaf, hyun… bukan itu alasanku datang kemari.”

Aku menoleh kearahnya, “Mwo?”

Min Ho membisikkan sesuatu di telingaku, “Saranghae…”

“Min Ho… maafkan aku…” Ujarku pelan.

Min Ho menatapku dalam, “Itu artinya, aku ditolak ya? Baiklah… Aku hanya ingin kau bahagia, Hyun. Karena, aku benar-benar mencintaimu sejak dulu…”

Min Ho terdiam sejenak. Ia bangkit dari duduknya.

“Aku pulang dulu ya, Hyun… Terimakasih sudah mau mendengar pernyataanku.”

Min Ho melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah aku langsung mengejarnya dan memeluknya dari belakang.

“Hyun…”

“Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku belum selesai bicara…!”

Min Ho terdiam, “Bicaralah…”

Aku semakin mengeratkan pelukanku, “Min Ho, maafkan aku karena aku selalu menyusahkanmu…membuatmu repot… Padahal aku mencintaimu, tapi aku selalu merepotkan dan membuatmu susah… maafkan aku…”

“Hyun… jinca?”

“Ne… makanya dengarkan dulu kata-kataku…” kulepas pelukanku.

Min Ho menatap mataku lalu dipeluknya aku, “Gomawo, Hyun… kau tidak pernah membuatku susah… aku janji tidak akan membuatmu menangis ataupun sedih…”

“Gomawo, Min Ho… Jongmal gomawo…”

Jin Ki POV

Benar dugaanku, Min Ho pasti akan menyatakan perasaannya pada Hyun. Rasanya aku senang melihat dongsaengku bahagia. Karena, aku tau Hyun juga mencintai Min Ho.

Chae Rin memanggilku dari sebrang jalan, “Oppa…!”

Kusebrangi jalan itu. Chae Rin tersenyum.

“Kenapa lama sekali, Chae Rin?”

“Mianhae, oppa… antri…”

Aku tersenyum. Kuelus rambut Chae Rin lembut.

“Oia, oppa… umma tadi menelponku. Katanya baju pengantinnya sudah diantar ke rumahku… undangannya juga sudah disebar,oppa…”

Aku tersenyum, “Baiklah, nanti kita ke rumahmu… aku ingin bertemu dengan calon mertua-ku…”

Chae Rin memeluk lenganku, “Kkaja,oppa… kita kembali ke taman…”

Kurangkul Chae Rin dengan perasaan bahagia. Bahagia karena Hyun dan Chae Rin…

Appa, Umma… maafkan aku… aku janji akan menjaga Hyun dengan baik…

Appa, Umma… jeongmallo saranghaeyo….

***

Hyun-ku tercinta… maafkan umma ya… umma tidak bisa jadi umma yang baik dalam hidupmu. Umma selalu meyusahkanmu, merepotkanmu dengan keadaan umma yang begini. Umma ingin mengakhiri semuanya, umma tidak ingin menyusahkanmu lagi. Umma tidak mau jadi beban untukmu. Umma mohon, jangan terus menyalahkan oppa-mu lagi. Umma ingin kalian berdua bisa bahagia dan jangan saling menyalahkan diri kalian sendiri. Umma sayang kalian berdua. Umma menyayangimu, Jin Ki…Ji Hyun… maafkan umma… Jin Ki, Ji Hyun, jeongmallo saranghaeyo…

–End–

***

Akhirnya selesai juga… Ni FF pertama yang ku-publish… Maaf yah, ceritanya geje bgt.. atau mungkin ada yang aneh… *semuanya aneh…!* Sebenarnya siiy, aku ga bisa bkin oneshot FF, karena kalo aku mau bkin oneshot FF, ujung-ujungnya pasti panjang… *curcol* Mohon comment-nya yah… and tengkiyu udah mau baca FF-ku yang aneh ini… ^ ^ Gomawooo… ^o^ Jongmal Gomawooo….!!

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

48 thoughts on “My Regret [2.2]”

  1. ngghhhh.. jadi pengen banget punya kakak kayak jinki yang sayang banget sama adeknya. apalagi ditambah minho yang selalu care sama Hyun. Author top deeeh d(^.^)b

  2. ABAAAAANG JINKI LO KEREN BANGET DAHH…. MINHO OPPA… nado saranghae… *reader stresss*

    THOR GOD JOB THOR!!!!

  3. Aq gag tau mesti coment apa…..
    Pokokx keren lah ni ff na…..bisa bkin aq terharu skaligus bahagia…..hehehe…..anneyong

    1. waduuuh… nangis ya? aku ga nyangka nih ff bisa bkin org nangis atw trharu….
      tapi, pas bkin ni ff, aku juga nangis kok… ampe meler2… hhe… GOMAWOOOO!! 🙂

  4. AAAAHHH kereeeeeeeeeeen *heboh*

    daebak daebak daebaak ff nya

    mau banget punya kakak macem jinki, pacar juga boleh /plak

    hehe, author daebaak :DD

    1. Jongmal gomawo udah mau baca and komen,,,,,

      berlinang air mata? hehe… ak jga pas bikinnya…. skali lagi gomawoo…:)

    1. makasiiih….

      kalo umma nya gak mati, endingnya kurang berasaa… hhe… pas awal bkin ni ff, aku udh memutuskan… *apa seeeeh* kalo ibunya bkal mati… hhe… mian kalo gak sesuai endingnya…
      gomawo udah baca and komen… 🙂

  5. akhirnya hyun maapkeun abang jinki juga..
    good..good..

    tapi kenapa ummanya pake acara mati nis?
    kan kesian..jadi anak yatim piatu dah mereka berdua..

    nisa~~~kenapa kau merebut abang minho~~~
    hua~~~~onnie cemburu~~~
    *lupakan komen geje inih*

    tapi keseluruhannya keren~~~
    nisa hwaiting!!

    1. Gomawoooo, onnie dah baca ff ak…..

      ide pertama tuh, aku pgen bkin cerita yang ibunya mati karena frustasi…
      hhahaha.. mknya gtuuu…

      aiish, onnie…. kan aku dongsaengnya minoo… hahaha.. ngarep.com
      gppalah, onnie…. hhe…

      Makasih, onnie… hwaiting!

  6. Hweekkk…aku mau nangis bacanya plus dengar lagu The Name I Loved jadi tambah sedihkan.

    FFnya Daebak

    Good jod Author .

  7. huaaa…huaaa….hiks…..hiks….hiks……

    Sedih bgt…… Author daebak banget…… ^________________^

    terus berkarya thor….. Gb

  8. aaa~~~ kerenn aku suka sm ceritanya. bromancenya menyentuh banget. huhuhu. sukur deh sekarang mereka udah bisa hidup bahagia semua. i like that^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s