LAST MESSAGE [4.4]

Last Message

Main Cast: Choi Min Ho, Han Song Hyun

Other Cast: Tae Min, Lee Jin Ki, Kim Jong Hyun

Type: Oneshot

Genre: Romance, Friendship, Family

Author: Nisaa~

Song Hyun POV

Kukira oppa akan datang bersama Jin Ki-oppa dan menggunakan kursi roda. Min Ho oppa datang dengan muka yang sangat segar dan ceria.

“Jagiya, kau sudah menunggu lama? Mian ya..” Min Ho-oppa mengelus rambutku.

“Ya,oppa, sebenarnya dokter Ki Bum kemarin bilang apa? Kenapa oppa tampak begitu bugar?”

“Ayo duduk.. Akan kuceritakan..” Min Ho-oppa menarik tanganku ke sebuah bangku, “Dokter Ki Bum sudah menemukan pendonor sumsum tulang belakang untukku dan siang ini aku akan menjalankan operasi nya.”

Aku terkejut mendengarnya, “Jincaa? Aigo, oppa!”

Kupeluk Min Ho-oppa, ia tertawa.

“Ne… Haha.. Jangan berlebihan seperti ini dong, Song Hyunnie…”

“Biar saja,oppa..!” kulepas pelukanku, “Eh, tapi, apa operasinya akan berhasil oppa?”

Min Ho-oppa mengangguk pasti, “Ne.. Tenang saja. Kita pasti bertemu lagi.”

“Umm, oppa.. Bukanny Dokter Ki Bum bilang, transplantasi sumsum tulang belakang akan sulit?”

Min Ho oppa terdiam sejenak, “Aku tidak tau, Song Hyun. Tiba2 saja, Dokter Ki Bum bilang akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang hari ini.”

Aku mengangguk senang, “Lalu, kenapa oppa tidak memberitahu kemarin?”

Min Ho-oppa seperti berfikir, “Hmm.. Kenapa yah?”

“Oppaaa~”

“Haha.. Mian.. Tentu saja karena aku ingin memberi kejutan untukmu.” Min Ho-oppa tersenyum.

Aku tersenyum. Tapi, entah kenapa ada yang mengganjal di hatiku. Aah.. Sudahlah.. Lupakan! Yang penting Min Ho-oppa akan segera sembuh.

“Baiklah,oppa.. Kita ke rumah sakit sekarang.”

“Umm.. Mian, Song Hyun~ah… Dokter Ki Bum bilang hanya boleh ada satu orang keluarga yang menunggui-ku, yaitu Jin Ki-hyung. Selebihnya tidak boleh. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Dokter Ki Bum.”

Aku menghela nafas panjang, “Haah.. Masa menunggu pun tidak boleh..”

Tiba-tiba Min Ho-oppa mencium pipiku, “Sudahlah, Song Hyun.. Nanti kan kita akan bertemu lagi.. Dan saat kita bertemu nanti, aku janji, aku sudah sembuh.”

Pipiku memerah.

“Song Hyun, aku ingin meminta sesuatu padamu..”

“Apapun untukmu,oppa..” aku tersenyum manis.

Min Ho mengelus rambutku, “Aku ingin minta, sehari saja biarkan aku istirahat.. jangan menelponku dan jangan mengirim sms untukku. Satu lagi, jangan pikirkan aku.”

“Tapi…”

Min Ho-oppa dengan cepat menempelkan telunjuknya di bibirku, “Ssst.. Kumohon, jagiya..”

Akhirnya aku mengangguk.

“Gomawo, nanti setelah 24 jam, kau boleh menelpon ku atau Tae Min.. Atau Jin Ki-hyung. Arasso?”

“Ne.. Tapi, untuk apa,oppa?”

“Itu agar nanti aku kangen padamu. Lagipula nanti di ruang operasi, aku tidak bisa menjawab telpon dan smsmu.”

“Alasan macam apa itu, oppa?”

Min Ho-oppa malah membenarkan posisi duduknya. Ia menatap lurus ke arah pepohonan didepannya.

“Umm, sebenarnya bukan itu..”

“Lalu apa?” tanya ku penasaran.

“Jika kau berhasil tidak menelponku atau mengirim sms padaku dan tidak memikirkanku, aku janji aku akan mencintaimu selamanya. Dan aku janji kita akan bertemu lagi dengan perasaan yang lebih dalam. Kau mau melakukannya, Han Song Hyun?”

Aku berusaha mencerna dengan baik perkataan oppa sebelumnya aku mengangguk, “Baiklah… Hanya 24 jam. Begitu 24 jam-mu selesai, aku akan menemui oppa..”

Min Ho oppa tersenyum, “Gomawo, Song Hyun..”

Aku pun ikut tersenyum. Aku akan melakukan permintaan oppa. Walaupun sulit, tapi aku sudah menyanggupinya. Permintaan Min Ho-oppa memang aneh. Seaneh Jin Ki-oppa.

“Baiklah…,Song Hyun, aku sudah berjanji akan menemui Dokter Ki Bum sebelum jam 12.” Min Ho-oppa berdiri dari duduknya.

Aku bangkit dari dudukku, kugenggam tangan oppa erat-erat, “Semoga operasi-nya lancar, oppa…”

Min Ho-oppa tiba-tiba memelukku erat, sangat erat.

“Saranghae, Han Song Hyun.. Jongmal saranghaeyo..”

Tiba-tiba air mataku menetes, “Na do,oppa..”

Min Ho-oppa memelukku dengan penuh kehangatan. Aku tidak ingin Min Ho-oppa melepas pelukannya. Tidak untuk saat ini.

Entah berapa lama kami berpelukan.

“Oppa…” panggilku pelan.

“Sebentar lagi, Song Hyun… Sebentar lagi…” ujarnya. Suaranya sedikit bergetar.

Aku menuruti Min Ho-oppa. Sampai akhirnya ia melepas pelukannya dengan perlahan. Ditatapnya mataku dalam-dalam.

“Jangan pernah menangis untukku, Song Hyun. Tiap butir air mata yang keluar dari matamu ini, seolah jadi duri yang menancap kuat di hatiku. Karena itu, tolong jangan menangis untukku, kapanpun dan dimanapun..” ia menghapus air mata yang mengalir di pipiku.

Aku mengangguk, “Mianhae,oppa…”

“Baiklah, Song Hyun.. Jaga dirimu baik-baik..” dikecupnya keningku lembut, “Saranghae..”

Min Ho-oppa membalikkan badannya. Kutahan tangannya.

“Oppa.. Saranghae…” aku jinjit untuk mengecup pipinya, “Aku sayang dan aku mencintai oppa untuk selamanya.. Karena itu, semoga operasi nya lancar,oppa..”

Min Ho-oppa mengangguk dan ia tersenyum manis. Manis sekali, “Gomawo, jagiya.. 24 jam-nya mulai berlaku saat kau sudah tidak bisa melihatku lagi di taman ini… Aku pergi, Han Song Hyun. Saranghae..”

Min Ho-oppa berbalik menuju gerbang taman. Makin lama punggungnya makin jauh. Hingga akhirnya aku tak bisa melihat lagi punggungnya. Aku menghela nafas panjang. Baiklah, mari mulai 24 jam paling menyulitkan dalam hidupku. Tuhan.. Semoga operasi Min Ho-oppa berjalan lancar…

***

Author POV

“Jam berapa ya?” Song Hyun melihat jam di atas meja belajarnya, “Omonaaa, sudah jam 11…!! Aku ketiduraaaaan!! Aaaaaa…!”

Song Hyun bangun dari tidurnya. Ia buru-buru lari ke kamar mandi di depan kamarnya. Tapi, sepupunya Jong Hyun berhasil masuk lebih dulu.

“YAA,OPPAAAA!!” teriak Song Hyun.

“Song Hyuuun!! Jangan teriak-teriak!” sahut appa dari lantai bawah.

“Ne..Appaaaa!” Song Hyun bersandar di dinding luar kamar mandi, “Oppa! Keluar atau kucincang kau hidup-hidup!”

“Aku tidak takut!” teriak Jong Hyun dari dalam.

Song Hyun terus merutuki Oppa-nya dalam hati.

Tiba-tiba telinga Song Hyun berdengung. Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat tidak enak.

‘Ada apa ini? Kenapa rasanya sama seperti 3 tahun lalu saat aku kehilangan umma..’ batin Song Hyun.

Ia terduduk di lantai sambil terus memegangi telinganya.

“Song Hyun… Aku sudah selesai!” ujar Jong Hyun keras.

Song Hyun tidak menjawab.

“Ya, kau kenapa, Song Hyun?” tanya Jong Hyun.

“Ah.. Anniyo.. Aku mandi dulu… Nanti tolong antarkan aku ke rumah sakit ya, oppa…”

Jong Hyun mengangguk.

***

Song Hyun POV

24 jam-nya Min Ho-oppa sudah selesai. Saat aku akan menelpon Min Ho-oppa, tiba-tiba Jin Ki-oppa mengirimku sms.

Min Ho sudah pulang.. Skarang aku di rumah Min Ho..

Begitu membaca sms Jin Ki-oppa, aku langsung menarik cardigan putihku dari lemari dan buru-buru menuruni tangga. Kucari appa yang sedang ada di taman belakang.

“Appa! Aku pergi ke rumah Min Ho-oppa dulu ya! Dia sudah pulang!” kucium pipi appa.

Appa mengangguk, “Ne.. Kau tidak pergi bersama Jong Hyun?”

Aku menggeleng, “Rumah Min Ho itu dekat,appa…Aku pergi dulu ya, appa..”

***

Author POV

Song Hyun dengan stengah berlari menuju rumah Min Ho. Rumah Min Ho sedkit ramai.

Ia sampai di rumah Min Ho.

Di pintu depan, tampak Jin Ki sedang bersama Appa Min Ho. Song Hyun segera menghampiri Jin Ki.

“Annyong, oppa…ajussi…” tanya Song Hyun bingung. Otaknya masih belum connect.

Jin Ki terdiam.

“Dimana, Min Ho-oppa?”

“Di dalam… dia ada di dalam, Song Hyun…” jawab Appa-nya Min Ho pelan.

Song Hyun segera memasuki rumah.

“Noona…” panggil seseorang dengan suara bergetar.

Ternyata Tae Min.

“Tae Min, dimana Min Ho-oppa?”

Tae Min tak menjawab.

“Apa ia dikamarnya,Tae Min?” tanya Song Hyun lagi.

Tae Min masih terdiam.

“Tae Min!! dimana Min Ho-oppa? Kenapa kau tidak menjawabku?!”

Mata Tae Min berkaca-kaca. Ia menunjuk ke ruangan keluarga rumah ini dengan gemetar.

Song Hyun membalikkan badannya. Disana ada umma-nya Min Ho dan Min Sung-ajumma. Ada Dong Hae-oppa, Eun Hyuk-oppa, Chang Min-oppa, Lee Teuk-oppa, Yun Ho-oppa, Ryeo Wook-oppa dan masih ada beberapa orang lagi. Mereka duduk menghadap sebuah peti yang masih terbuka.

Badan Song Hyun bergetar hebat begitu melihat peti itu. Diatas peti itu ada foto seseorang yang dicarinya saat ini. foto kekasihnya, foto orang yang berharga dalam hidupnya. Foto seorang laki-laki. CHOI MIN HO.

Dengan kaki yang gemetaran, Song Hyun melangkah menuju peti tersebut. Tae Min terpaku ditempatnya. Air matanya mengalir. Menetes satu demi satu.

“Song Hyun…” Dong Hae langsung berdiri begitu melihat Song Hyun.

Song Hyun tidak memperdulikan Dong Hae. ia trus berjalan mendekati peti tersebut. Air matanya menetes satu persatu.

Umma-nya Min Ho berdiri. Matanya tampak sembab, dihampirinya Song Hyun. Dipeluknya Song Hyun erat.

“Song Hyun…”

“Ajumma… itu bukan Min Ho kan? Ajumma…! Tolong katakan dimana Min Ho-oppa…”

Umma Min Ho terisak, “Tenang, Song Hyun…”

“Ajumma, lepaskan… aku ingin bertemu Min Ho-oppa… dimana dia? Dimana, ajumma!” tangis Song Hyun pecah.

Umma Min Ho melepas pelukannya. Min Sung-ajumma segera memeluk Umma Min Ho dan membawanya ke sudut ruangan.

Eun Hyuk berdiri dan menghampiriku, “Song Hyun, tenanglah… Biarkan Min Ho pergi dengan tenang, Song Hyun…”

“ANNYIO!! DIMANA MIN HO-OPPA?!!!”  teriak Song Hyun. Tae Min terduduk melihat Song Hyun.

Dong Hae langsung memeluk Song Hyun, “Min Ho sudah pergi Song Hyun…”

“GOTJIMAL!!!” Song Hyun meronta di pelukan Dong Hae, “Dong Hae-oppa! KATAKAN DIMANA MIN HO-OPPA!!!”

“Dia sudah pergi, Song Hyun… ia sudah pergi… ia sudah meninggalkan kita untuk selamanya..” jelas Dong Hae lembut.

“Apa kau ingin melihatnya…?”  tanya Lee Teuk pelan.

Song Hyun terus menangis.

“Dong Hae, lepaskan Song Hyun…” Lee Teuk memegang bahu Song Hyun dan memapahnya menuju peti yang ada di depan mereka.

Song Hyun menatap tubuh yang ada di depannya. Dipandanginya wajahnya. Ia langsung lemas. Untungnya Lee Teuk menahan badannya, hingga ia tidak jatuh ke lantai. Lee Teuk membiarkannya duduk di depan peti itu.

“Oppa… bangun…” gumam Song Hyun lemah. Air matanya  masih mengalir di pipinya.

Lee Teuk duduk di samping Song Hyun.

“Min Ho-oppa, kau bilang kita akan bertemu lagi…Min Ho-oppa… bangun, oppa…”

Dong Hae tertunduk. Eun Hyuk tampak berusaha menahan air matanya. Min Sung-ajumma dan umma-nya Min Ho menangis.

“Bangun, oppa… jangan tinggalkan aku…oppa…”

***

Song Hyun POV

Semua orang sudah pulang. Umma dan appa-nya Min Ho-oppa sudah pulang. Hanya tinggal aku, Tae Min dan Jin Ki-oppa.

“Min Ho tidak menjalani operasi itu. Itu hanya cerita yang dikarangnya sendiri, Song Hyun, Tae Min… Ketika ia masuk rumah sakit saat kita pulang dari taman itu, dokter Ki Bum sudah mengatakan bahwa umur Min Ho tidak akan lama lagi. Ia bahkan tidak mungkin bisa bertahan lebih dari 2 hari…”

Aku mempererat pelukanku dengan Tae Min. Tae Min terisak. Badannya gemetaran.

“Karena itulah, ia minta agar tidak dirawat di rumah sakit. Ia ingin menghabiskan sisa waktu yang ia miliki dengan berada di rumah. Menjalani kurang dari 24 jam sisa hidupnya dengn normal. Tanpa membiarkan seorangpun tau keadaannya yang sebenarnya. Ia ingin pamit dengan tenang. Min Ho ingin di detik-detik terakhir hidupnya, orang-orang di sekitarnya tersenyum. Ia tidak ingin melihat tangisan dan kesedihan.” jelas Jin Ki-oppa.

“Lalu..kenapa… kenapa ia begitu tenang hari itu, oppa?” isakku.

Jin Ki terdiam, “Song Hyun… mungkin kau merasa saat itu Min Ho tampak tenang, tapi sepanjang malam ia mencoba untuk tidak menangis di hadapanmu. Ia berusaha tampak ceria dan sehat hari itu. Malam itu ia tidak bisa tidur.”

“Kenapa hyung tidak memberi tau kami, Jin Ki-hyung…? Padahal aku kan dongsaengnya…” tanya Tae Min. air matanya masih mengalir.

Jin Ki duduk di belakang kami dan memeluk kami berdua.

“Karena, Min Ho sayang pada kalian. Ia tidak ingin melihat kalian menangis seperti ini, Tae Min, Song Hyun…”

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Hanya terdengar angin musim semi berhembus dan isak tangisku dan Tae Min.

“Song Hyun, Tae Min… kalian bilang kalian akan rela melepas Min Ho, asal Min Ho bahagia… tapi, kenapa begini? Ia pasti sudah menemukan kebahagiaannya. Di tempat dimana tidak ada lagi rasa sakit. Di tempat itu tidak akan ada lagi obat-obatan yang biasa ia makan, tidak ada lagi bau rumah sakit yang ia benci, tidak ada lagi alat-alat kemoterapi yang menyakiti tubuhnya… tapi, Min Ho pasti tidak akan tenang sebelum kalian berhenti seperti ini…” Jin Ki-oppa terus membujuk kami.

Kenapa Jin Ki-oppa bisa setegar ini? Padahal, aku yakin, hatinya pasti sedih… sama seperti ku dan Tae Min…

“A…aku rela,oppa… ta..tapi..kenapa…ke..napa Min Ho-oppa… tidak menga…takan yang se…sebenarnya?” aku terisak, “Bahkan… di detik…detik te..terakhir…hi..dup..nya, aku ti..tidak…ada di…samping…nya…”

Jin Ki-oppa mengeratkan pelukannya, “Aku tidak tau, Song Hyun… aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan Min Ho…tapi, aku mencoba memahami perasaannya… ia pasti sangat sedih…”

Aku mencoba memikirkan perkataan Jin Ki-oppa barusan. Min Ho-oppa… selama 2 tahun ia merasakan sakit. Ia harus di kemoterapi, meminum obat-obatan…

“Selama 1 tahun, ia menyembunyikannya dari umma, appa-nya. Bahkan Tae Min baru mengetahui penyakit Min Ho 5 bulan yang lalu. Aku….aku sendiri baru mengetahui penyakit Min Ho sebulan setelah ia di dinyatakan mengidap penyakit Leukimia mielositik kronis. Dan selama 2 tahun, ia sering demam, berat badannya perlahan berkurang, ia juga lebih cepat merasa letih. Bahkan sejak 2 bulan yang lalu, ia mulai demam tinggi, sesak nafas, pendarahan, sebelum akhirnya Dokter menyatakan bahwa Leukimia yang diderita Min Ho telah berubah menjadi Leukimia mielositik akut…”

“Ke..kenapa aku…tidak pernah…tau…oppa…sering sesak nafas atau… demam?”

“Ia tidak pernah menunjukkan bahwa ia sakit pada orang lain, Song Hyun…” Jin Ki mengelus rambutku pelan.

“Min Ho-hyung…kenapa… kenapa Min Ho-hyung yang harus menerima penyakit itu? kenapa bukan aku saja, hyung?” ratap Tae Min.

Jin Ki hyung terdiam. Air matanya menetes sebutir dan mengenai punggung tanganku. Ia buru-buru menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. Tangannya gemetaran.

“Jin Ki-oppa…” panggilku sambil masih terisak.

Jin Ki-oppa menatapku, “Ne…?”

“Oppa…mian… kau pun jadi menangis… mian,oppa… aku tau, oppa juga pasti berat… kehilangan sahabat yang sudah oppa… oppa anggap dongsaeng… oppa sendiri… mian…”

Jin Ki menggeleng, “Gwenchana, Song Hyun… aku hanya tidak ingin kalian menangis…”

Tae Min memeluk erat Jin Ki-oppa, “Mian…hyung…”

Jin Ki-oppa tersenyum lalu dielusnya rambut Tae Min, “Ne, Tae Min… tolong relakan hyung-mu ya, Tae Min… kumohon, berhenti menangis ya…”

Air mata Tae Min mengalir. Ditatapnya Jin Ki-oppa lama. Ia terdiam.

“Tae Min…”

“Ne,hyung…” Tae Min menghapus air matanya. Dilepasnya pelukanku dan Jin Ki-oppa,“Aku ingin Min Ho-hyung bahagia… mianhae, Jin Ki-hyung, aku egois……”

Jin Ki tersenyum, “Hyung-mu pasti senang, Tae Min…”

“Noona…” panggil Tae Min pelan.

Ia merogoh saku jaketnya. Diambilnya sebuah sapu tangan. Dilap-nya air mataku.

“Noona…aku sudah tidak menangis lagi… sekarang noona juga ya…? Hyung pasti sudah meminta noona untuk tidak menangis kan…?”

“Jangan pernah menangis untukku, Song Hyun. Tiap butir air mata yang keluar dari matamu ini, seolah jadi duri yang menancap kuat di hatiku. Karena itu, tolong jangan menangis untukku, kapanpun dan dimanapun..”

Ternyata Min Ho-oppa sudah memintaku untuk tidak menangisi nya.. jadi maksud perkataannya itu…..tidak menangisinya ketika ia pergi…?

“Noona…air mata noona masih mengalir,…” Tae Min melap air mataku.

Kupeluk Tae Min, “Tae Min… maafkan aku… padahal Min Ho-oppa… Min Ho-oppa memintaku untuk tidak menangis karena dirinya…”

Tae Min tersenyum. Jin Ki-oppa mengelus pelan rambutku.

“Song Hyun, Tae Min… Min Ho menitipkan sesuatu padaku untuk kalian… apa kalian ingin melihatnya…?”

***

Author POV

Annyong, Tae Min dongsaengku… Han Song Hyun yeojachingu-ku dan hyung-ku Lee Jin Ki… sebelumnya aku ingin minta maaf pada kalian… maaf karena aku telah merepotkan kalian selama ini… juga karena aku telah menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Tae Min, Song Hyun… aku yakin Jin Ki-hyung sudah menceritakan semuanya…”

Min Ho terdiam sebentar. Matanya berkaca-kaca.

“Ah… mian… kenapa aku merasa ingin menangis yah… baiklah… aku lanjut ya… Umm… Tae Min, Song Hyun, aku minta maaf, karena pada detik terakhir kehidupanku, aku tidak menceritakan yang sebenarnya. Mianhae… saat itu aku berfikir, aku tidak ingin kalian menangis di akhir hidupku. Aku ingin, saat aku menutup mataku, hanya ada ketenangan. Aku tidak ingin mendengar ada yang menangis… aku egois ya? maafkan hyung, Tae Min… maafkan oppa, Song Hyun…”

Min Ho membenarkan posisi duduknya.

“Aku bohong soal transplantasi sumsum tulang belakang. Saat aku masuk rumah sakit pada hari itu, dokter Ki Bum mengatakan bahwa umurku tidak akan lama lagi… paling lama 2 hari… dan dokter Ki Bum sudah menyerah soal keadaanku. Ia bilang, sel-sel kanker nya berkembang dengan sangat cepat. Bahkan ia baru pertama kali menjumpai jenis Leukimia seperti yang kuderita ini. leukimia kronis yang bisa bertransformasi menjadi leukimia akut.”

Min Ho-oppa berhenti.

“Umm… sudah 2 tahun, awalnya aku merasa tidak punya harapan hidup lagi. Tapi, Jin Ki-hyung yang tanpa sengaja mengetahui penyakitku, terus memberiku semangat untuk menjalani hidupku. 8 bulan setelah aku didiagnosa menderita leukimia mielositik kronis, aku baru menjalani beberapa pengobatan. Itupun baru sebatas obat-obatan saja. Jin Ki-hyung… gomawo untuk motivasi-mu.. aku sangat berterimakasih… aku sayang padamu, hyung… sangat sayang…” air mata Min Ho menetes. Namun dengan cepat ia menghapusnya, “Aigoo.. apa-apaan ini… kenapa aku cengeng begini… haha… Tae Min, kau pasti mentertawaiku karena aku menangis ya… haha..”

“Annyio, hyung… aku tidak mentertawaimu…” gumam Tae Min pelan. Song Hyun meraih tangan kanan Tae Min dan menggenggamnya erat.

“Aku lanjut yah,… dan setelah genap setahun, aku berani memberitahu umma dan appa… mereka sangat terkejut. Bahkan umma nangis berhari-hari di kamarnya. Tapi, pada akhirnya mereka bisa menerimanya. Aku memnita pada umma dan appa, aku yang akan mengurus semuanya. Umma dan appa menentang saat itu, tapi mereka akhirnya dangan berat hati membiarkanku. Mereka membiarkanku mengambil apapun jenis pengobatan yang ingin aku jalankan. Aku tau ini akan berat buat Appa dan Umma, tapi aku tidak ingin membebani mereka, aku tidak ingin melihat mereka bersedih.”

Air mata Min Ho kembali tumpah di pipinya. Bahunya tampak bergetar. Ia menutup wajahnya. Cukup lama ia menangis. Song Hyun dan Tae Min terdiam. Mata mereka berkaca-kaca melihat Min Ho yang menangis. Mereka jarang melihat Min Ho menangis. Bahkan saat di kemoterapi, ia tidak sedikitpun mengeluarkan air mata. Padahal Min Ho sendiri yang bilang, rasanya sangat menyakitkan.

Berbeda dengan Jin Ki. Jin Ki sering melihat Min Ho menangis seperti itu. ia sering melihat Min Ho terisak saat berada di rumah sakit. Namun, Min Ho tidak pernah mau orang melihatnya menangis. Karena ia paling tidak suka melihat air mata.

Setelah beberapa lama, Min Ho mengusap wajahnya. Ia tersenyum, “Mianhae… aku menangis… aku tiba-tiba merasa sangat sedih… mian ya… Tae Minnie, Hyunnie, Jin Ki-hyung… padahal aku tidak ingin menangis…Umm…aku lanjutkan yaa…”

“Kira-kira  3 bulan setelah aku memberitahukan umma dan appa, aku bertemu dengan seorang yeoja… aku bertemu dengannya saat ia baru pindah ke sebuah rumah yang hanya berjarak..umm…6 rumah dari rumahku… yeoja itu begitu mengubah hidupku. Aku semakin merasa aku perlu berjuang menghadapi penyakitku… Yeoja itu sangat baik, ia sangat sopan dan ramah juga menyenangkan diajak berbicara, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih, dan rambutnya hitam panjang. Karena appa nya sering kerja hingga malam, ia sering datng ke rumah. Sekedar bermain dengan Tae Min atau bercerita denganku. Ia sering cerita, sejak umma-nya meninggal, ia kesepian. Ia anak satu-satunya dan appa nya bekerja. Umm… Semakin aku mengenal yeoja itu, aku semakin tertarik padanya.. tanpa kusadari aku jatuh cinta padanya… ”

Pipi Song Hyun bersemu mendengar kata-kata Min Ho.

“dan tepat sebulan setelah aku mengenalnya, kami resmi pacaran. Aku merasa sangat bahagia. Tapi, aku sering berfikir aku jahat. Karena, nanti aku pasti akan meninggalkannya. Ia pasti akan terluka. Namun, lagi-lagi Jin Ki-hyung mencoba menenangkanku. Memberi ku keyakinan. Han Song Hyun, gomawo karena sudah memberiku cinta yang luar biasa. Saranghae, jagiya… aku akan mencintaimu untuk selamanya…” Min Ho tersenyum lembut.

“Hmm… dan pada akhirnya, dongsaengku mengetahuinya. Tae Min, maafkan hyung ya…? Saat itu kira-kira 5 bulan yang lalu  kau baru mengetahuinya… mian, dongsaeng-ku tersayang…hyung menyayangimu. Walaupun hyung sering mengalahkanmu bermain PS, tapi kau jangan dendam padaku ya, Tae Min… haha…Hyung sayang padamu…”

Mata Tae Min berkaca-kaca.

“Bagian terberat hidupku adalah ketika Song Hyun tau tentang penyakitku, dan saat aku tau kalau hidupku tinggal beberapa jam lagi. Satu lagi, ketika aku pamit pada kalian satu persatu.”

“Han Song Hyun, apa kau tau bagaimana perasaanku tiap kali aku melihat kau menangis karena aku? Aku benar-benar membenci diriku saat melihat kau menangis. Apalagi saat kau tau penyakitku ini… maafkan aku karena sering membuatmu menangis, Song Hyun…”

“Oppa tidak perlu minta maaf…” gumam Song Hyu pelan sekali.

“Ketika Dokter Ki Bum mengatakan bahwa hidupku tinggal beberapa jam lagi… 48 atau 50 jam lagi, aku merasa sangat sedih. Aku rasa aku tidak perlu mengatakan kenapa aku sedih. Karena, kalian pasti tau… aku yakin itu… iya kan, hyung…? Dongsaeng? Song Hyun…. jagiya?”

“Dan puncaknya adalah saat aku harus berpamitan pada kalian. Aku tidak pernah ingin melakukannya. Tae Min, maaf pada saat hyung mengajakmu ke taman pagi itu, hyung membohongimu. Hyung bilang akan menjalani transplantasi sumsum tulang belakang. Hyung saat itu tidak sanggup memberitahumu. Umma dan Appa sudah tau. Saat itu mereka segera ingin pulang ke Seoul. Tapi, hyung mencegahnya. Hyung takut kau tau yang sebenarnya Tae Min. makanya, baru 1 jam yang lalu oppa meminta Umma dan Appa pulang… Song Hyun, aku juga bohong padamu…Song Hyun, Tae Min… mianhae,… aku tidak pernah bermaksud membohongi kalian… arghh,,,,”

Tiba-tiba Min Ho tampak kesakitan. Ia memegangi dadanya.

“Ah… Gwenchana… aku tidak apa-apa… kalian jangan panik… aku hanya merasa sedikit sesak. Panggil dokter? Pasti kalian menyuruhku memanggil dokter… annyio… aku tidak akan memanggil dokter…” lanjut setelah Min Ho agak  tenang, “Song Hyun, kumohon, jangan menangis disaat aku sudah pergi… Tae Min, hyung sayang padamu… karena itu, hyung tidak ingin melihatmu menangis. Oia, gapai cita-cita mu… kau bilang, kau ingin menjadi orang terkenal seperti Michael Jackson kan…? Hyung akan selalu menjagamu, Tae Min… janji pada hyung, kau harus jadi orang terkenal…”

“Hmm… Song Hyun, apa kau berhasil mengabulkan permintaanku…? Apa kau ingat? Yang 24 jam itu… ah… kau pasti ingat kan?”

Song Hyun tampak mengangguk pelan. Matanya yang berkaca-kaca dengan cepat dihapusnya.

“Apa kau berhasil, jagiya?” Min Ho terdiam seolah menunggu jawaban dari Song Hyun.

“Aku yakin kau berhasil… nah, sekarang… apa kau bisa melakukannya untuk selamanya?”

Song Hyun terdiam. Kepalanya menggeleng. Min Ho terdiam cukup lama.

“Aku tau jawabanmu. Kau pasti mengatakan tidak. Yah, aku tidak akan memaksamu. Tapi, tolong jangan terus memikirkanku. Kau akan terpuruk. Kau tidak akan bisa mencari kebahagianmu nantinya. Jebal, Hyunnie… ”

Min Ho terdiam. Ia menarik nafas panjang.

“Saranghae, Hyunnie… Jongmal…”

“Jin Ki-hyung, Tae Min-ah, Song Hyunnie… aku sayang kalian… ah ya… tolong berikan cd yang satu lagi pada umma dan appa ya…? Gomawo… Umm… Hyung, tolong sampaikan maafku pada Eun Hyuk, Changmin, Ryeowook, Dong Hae, Lee Teuk, Yun Ho ya? aku tidak sempat pamit pada mereka kan? Haah… Song Hyunnie…tolong sampaikan maafku juga pada Jong Hyun-hyun. juga pada Appa-mu, maaf karena aku sering menyusahkan dan membuat anak perempuan satu-satunya Appa-mu bersedih..”

“Hmmm… kurasa aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan. Maaf, aku mengatakan melalui cara seperti ini. kalau tidak seperti ini, aku tidak akan bisa mengtakn yang sebenarnya. Mungkin saat kalian menonton ini, aku sudah tidak ada lagi…” air mata Min Ho kembali menetes. Buru-buru ia menghapus air matanya. Ia berusaha tersenyum, “Waktuku sudah tidak lama lagi… tapi, dokter Ki Bum malah menyuruhku istirahat…”

Min Ho melirik ke arah dinding. Ia sepertinya melirik ke jam dinding.

“Saranghae, Song Hyunnie…. Jongmal saranghae… Tae Min, Hyung sangat sayang padamu… Jin Ki-hyung, gomawo untuk semuanya… aku sangat berterimakasih padamu, hyung… kau adalah hyung-ku untuk selamanya. Aku menyayangimu, hyung… aku sayang kalian semua… maafkan aku…”

Tangan Min Ho tampak menyentuh layar. Ia tampak seperti akan mematikan rekaman-nya.

Tae Min menangis. Air matanya kembali mengalir. Song Hyun juga tidak mampu lagi menahan air matanya. Dirangkulnya Tae Min.

“Tae Min~ah… uljima…” ujar Song Hyun pelan. Air mata Song Hyun menetes satu persatu.

Jin Ki hanya bisa terpaku menatap layar TV flat yang ada di hadapan mereka. Masih ada wajah Min Ho disana.

“Selamat tinggal semuanya, kita pasti akan bertemu lagi…di ruang dan waktu yang berbeda… saranghaeyo… aku sayang kalian…”

***

PS: Mian kalo jelek n trkesan terburu-buru.. (emg ngebut niih bkinnya… tkut hilang inspirasi di otak… *alasan*) aku jga ga bgtu tau soal leukimia…jadi, kalo ada salah ttg pnyakitnya, harap maklum yaaah…? (satu lagi, leukimia itu gak se-lebay yang di cerita ni,kok… tapi, aku sesuain aja ma critanya… miaaaan!!) oiia, nama Song Hyun ma Jong Hyun mirip yah? Aku ga sengaja… pas jjongie muncul aku baru nyadar… *aneh bg gw yak?* Gomawo udah mau baca… ^o^

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

66 thoughts on “LAST MESSAGE [4.4]”

  1. komentar yg paling telat nih haha
    sedih ya Tuhan… NANGIS NANGIS NANGIS!
    Minho ya Tuhaaaan, tabah banget ni org. ngenes ya perannya ._.v
    DAEBAK! ff nya kewreeen, sumpah terharu banget sama kisahnya~~

  2. Ini ff k2 yg buat ak nangis..
    Sumpah ini dr mulai part 2 kblkg uda nangis dluan..
    Bc last message ny minho makin kejerrr..
    Daebak!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s